Anda di halaman 1dari 18

DASAR-DASAR UMUM PERKAWINAN

Dibuat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Agama (II)

Oleh :
Kelompok 1

ABDUH SAFTAR (NIM : 150301011)


FAJAR AL FALAQ (NIM : 150301005)
MAULANA AL KHALI U.I (NIM : 150301)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SAMUDRA
LANGSA
2016
1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah Swt. Yang telah memberikan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul
Dasar-dasar Umum Perkawinan yang merupakan salah satu tugas dalam mata
kuliah Agama (II) di Fakultas Pertanian program studi Agroteknologi Universitas
Samudra.
Penulis menyadari, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena
keterbatasan ilmu yang dimiliki penulis, maka segala saran dan kritik pembaca
yang bertujuan untuk perbaikan sangatlah diharapkan, terutama dari para Ulama,
Ustadz/Ustadzah, ahli agama, dan dosen yang bersangkutan.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada blogger
yang kami jadikan sebagai sumber referensi dan pihak lain yang bersangkutan.
Akhirnya, salam hangat dan terima kasih yang teristimewa kepada
kelompok 1 yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini, semoga
bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Langsa,

Maret 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR...............................................................................................
i
DAFTAR ISI.............................................................................................................
ii
BAB I

PENDAHULUAN....................................................................................

1
1.1 Latar

Belakang

1
1.2 Rumusan

Masalah

2
BAB II

PEMBAHASAN.......................................................................................

2
2.1
Pengertian
Perkawinan
...................................................................................................................
2
2.2
Hukum
Melakukan
Perkawinan
...................................................................................................................
4
2.3
Tujuan
Perkebunan
...................................................................................................................
5
2.4
Prinsip-prinsip
Perkawinan
...................................................................................................................
6
2.5

Rukun

dan

Syarat

Sah

Perkawinan

...................................................................................................................
8
2.6
Hikmah
Perkawinan
...................................................................................................................
11

BAB III PENUTUP................................................................................................


12
3.1 Kesimpulan..........................................................................................
12
3.2 Saran....................................................................................................
13

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................
14................................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Perkawinan adalah sunatullah, atau hukum alam di dunia yang dilakukan

oleh setiap mahluk yang Allah jadikan secara berpasang-pasanga, sebagaimana


firman Allah dalam surat Yasin ayat 36.
Manusia adalah makhluk yang Allah ciptakan lebih mulia dari makhluk
yang lainnya sehingga Allah telah menetapkan adanya aturan dan tata cara secara
khusus sebagai landasan untuk mempertahakan kelebihan derajat yang namanya
makhluk manusia dibanding dengan jenis makhluk lainnya.
Begitu pula dengan pandangan mahasiswa sekarang yang mengira bahwa
perkawinan hanya ilmu praktek yang tidaklah harus dipenuhi oleh teori-teori yang
mengikat sehingga menyusahkan praktek perkawinan itu sendiri.
Islam

menganjurkan

perkawinan,

islam

tidak

mengajarkan

hidup

membujang yang banyak diyakini para rahib. Allah menegaskan dalam al-quran
yang artinya : kawinilah wanita-wanita yang kalian senangi dua, tiga atau
empat.(QS. An-nisa4:3).
Nikah disyariatkan Allah seumur dengan perjalanan hidup mmanusia, sejak
nabi Adam dan Hawa di surga adalah ajran pernikahan pertama dalam islam.
Setelah di tentukan pilihan pasangan yang akan di nikahi sesuai dengan kriteria
yang di tentukan, Langkah selanjutnya adalah penyampaian kehendak untuk
menikahi pilihan yang telah ditentukan. Penyampaian kehendak untuk di nikahi
seseorang itu di namai KHITBAH atau dalam bahasa indonesianya di namakan
Peminangan.
Untuk mengetahui tentang perkawinan lebih detail lagi, maka kami
membuat makalah yang berjudul Dasar-dasar Umum Perkawinan.

1.2
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Rumusan Masalah

Apa pengertian perkawinan?


Apa hukum melakukan perkawinan?
Apa tujuan perkawinan?
Apa prinsip-prinsip perkawinan?
Apa rukun dan syarat sah perkawinan?
Apa hikmah perkawinan?
.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Perkawinan
Kata perkawinan menurut istilah hukum Islam sama dengan kata "nikah"

dan kata "zawaj". Nikah menurut bahasa adalah menghimpit, menindih atau
berkumpul. Nikah mempunyai arti kiasan yakni "wathaa" yang berarti "setubuh"
atau "akad" yang berarti mengadakan perjanjian pernikahan. Dalam kehidupan
sehari-hari nikah dalam arti kiasan lebih banyak, sedangkan dipakai dalam arti
sebenarnya jarang sekali dipakai saat ini.1
Pengertian perkawinan menurut para ahli :
a. Ahmad Ashar Bashir
Pernikahan adalah melakukan suatu akad atau perjanjian untuk mengikatkan diri
antara seorang laki-laki dan wanita untuk menghalalkan hubungan kelamin antara
kedua belah pihak, dengan dasar sukarela dan keridhaan kedua belah pihak untuk
mewujudkan suatu kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa kasih sayang
dan ketentraman dengan cara-cara yang diridhai oleh Allah.
b. Mahmud Yunus
Pernikahanialah akad antara calon laki istri untuk memenuhi hajat jenisnya
menurut yang diatur oleh syariat. Dalam hal ini, aqad adalah ijab dari pihak wali
perempuan atau wakilnya dan kabul dari calon suami atau wakilnya.
c. Sulaiman Rasyid
Pernikahan merupakan akad yang menghalalkan pergaulan dan membatasi hak
dan kewajiban seta bertolong-tolongan antara seorang laki-laki dan seorang
perempuan yang antara keduanya bukan muhrim.
d. Abdullah Sidiq
Penikahan adalah pertalian yang sah antara seorang lelaki dan seorang
perempuan yang hidup bersama (bersetubuh) dan yang tujuannya membentuk
keluarga dan melanjutkan keturunan, serta mencegah perzinaan dan menjaga
ketentraman jiwa atau batin.
1Dikutip dari http://www.pengertianpakar.com/2015/03/pengertian-dan-tujuan-pernikahan.html#_

Pengertian Pernikahan atau Perkawinan dalam UU No. 1 Tahun 1974


Tentang Perkawinan, Pernikahan adalah sebuah ikatan lahir batin antara seorang
pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan untuk membentuk
keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal yang didasarkan pada
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dalam Kompilasi Hukum Islam No. 1 Tahun 1991 mengartikan perkawinan
adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqa ghaliidhan untuk
menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.
Dari pengertian pernikahan atau perkawinan yang diungkapkan para pakar
diatas tidak terdapat pertentangan satu sama lain, karena intinya secara sederhana
dapat ditarik kesimpulan bahwa Pengertian Pernikahan atau Perkawinan adalah
perjanjian antara calon suami dan calon isteri untuk membolehkan bergaul sebagai
suami isteri guna membentuk suatu keluarga.

2.2

Hukum Melakukan Perkawinan

1. Wajib
Jika antara diantara pasangan itu secara usia, ekonomi, biologis, dan psikis
sudah mampu untuk menjalankan pernikahan, maka keduanya harus menjalankan
pernikahan. Hal ini dilakukan untuk mencegah perzinahan antara keduanya,
sehingga mereka wajib hukumnya untuk menikah.
2. Sunah
Jika antar kedua pasangan sudah mampu secara ekonomi, usia, biologis dan
psikis tetapi keduanya masih mampu menahan diri dan bisa mengendalikan hawa
nafsu maka keduanya disunahkan untuk menikah. Tetapi meskipun disunahkan
untuk menikah, kedua tetap dianjurkan untuk menikah karena keduanya sudah
mampu.
3. Makruh
Makruh ini artinya keduanya tidak dianjurkan untuk melakukan pernikahan,
karena laki-laki sebagai kepala keluarga tidak bisa memberikan nafkah
keluarganya. Ketidakmampuan ini yang menjadikan pernikahan itu tidak
dianjurkan.
4. Mubah
4

Artinya, pasangan itu sebenarnya belum boleh menikah, tetapi tidak ada alasan
yang bisa mencegah mereka untuk menikah. Jadi pernikahan itu boleh dilakukan,
boleh tidak dilakukan.
5. Haram
Jika antar kesua pasangan menikah maka mereka akan mendapatkan dosa.
Contohnya seperti menikah dengan saudara kandung, dengan ibu/bapaknya
sendiri,

saudara

sesusuan,

pernikahan

beda

agama,

dll.

Laman

islamnyamuslim.com juga mengatakan bahwa pernikahan beda agama haram


hukumnya karena hal ini tidak sesuai dengan firman Allah SWT yang sudah
dituliskan dalam Al Quran.
2.3 Tujuan Perkawinan
1. Tujuan Pernikahan Sakinah (tenang)
Salah satu dari tujuan pernikahan atau perkawinan adalah untuk memperoleh
keluarga yang sakinah. Sakinah artinya tenang, dalam hal ini seseorang yang
melangsungkan pernikahan berkeinginan memiliki keluarga yang tenang dan
tentram. Dalam Tafsirnya Al-Alusi mengatakan bahwa sakinah adalah merasa
cenderung kepada pasangan. Kecenderungan ini merupakan satu hal yang wajar
karena seseorang pasti akan merasa cenderung terhadap dirinya.
Apabila kecenderungan ini disalurkan sesuai dengan aturan Islam maka yang
tercapai adalah ketenangan dan ketentraman, karena makna lain dari sakinah
adalah ketenangan. Ketenangan dan ketentraman ini yang menjadi salah satu dari
tujuan pernikahan atau perkawinan. Karena pernikahan adalah sarana efektif
untuk menjaga kesucian hati agar terhindar dari perzinahan.
2. Tujuan Pernikahan Mawadah dan Rahmah
Tujuan pernikahan yang selanjutnya adalah untuk memperoleh keluarga yang
mawadah dan rahmah. Tujuan pernikahan Mawadah yaitu untuk memiliki
keluarga yang di dalamnya terdapat rasa cinta, berkaitan dengan hal-hal yang
bersifat jasmaniah. Tujuan pernikahan Rahmah yaitu untuk memperoleh keluarga
yang di dalamnya terdapat rasa kasih sayang, yakni yang berkaitan dengan hal-hal
yang bersifat kerohanian.
Mengenai pengertian mawaddah menurut Imam Ibnu Katsir ialah al mahabbah
(rasa cinta) sedangkan ar rahmah adalah ar-rafah (kasih sayang). Mawaddah
adalah

makna

kinayah

dari

nikah

yaitu

jima

sebagai

konsekuensi

dilangsungkannya pernikahan. Sedangkan ar rahmah adalah makna kinayah dari


keturunan yaitu terlahirnya keturunan dari hasil suatu pernikahan. Ada juga yang
5

mengatakan bahwa mawaddah hanya berlaku bagi orang yang masih muda
sedangkan untuk ar-rahmah bagi orang yang sudah tua.
Implementasi dari tujuan pernikahan mawaddah wa rahmah ini adalah sikap
saling menjaga, saling melindungi, saling membantu, saling memahami hak dan
kewajiban masing-masing. Pernikahan adalah lambang dari kehormatan dan
kemuliaan. Fungsi pernikahan diibaratkan seperti fungsi pakaian, karena salah
satu fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat. Aurat sendiri bermakna sesuatu
yang memalukan, karena memalukan maka wajib untuk ditutup. Dengan demikian
seharusnya dalam hubungan suami istri, satu sama lainnya harus saling menutupi
kekurangan pasangannya dan saling membantu untuk mempersembahkan yang
terbaik.
2.4 Prinsip-prinsip Perkawinan
1. Prinsip Perkawinan Menurut UU 1 Tahun 1974 2
a. Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Untuk
itu suami istri perlu saling membantu dan melengkapi agar masing-masing
dapat mengembangkan pribadinya, membantu dalam mencapai kesejahteraan
spiritual dan material.
b. Dalam Undang-Udang ini dinyatakan bahwa suatu perkawinan adalah sah
bilamana

dilakukan

menurut

hukum

masing-masing

agamanya

dan

kepercayaannya itu, dan disamping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat


menurut perturan perundang-undangan yang belaku, pencatatan tiap-tiap
perkawinan adalah sama halnya denagn pencatatan peristiwa-peristiwa penting
dalam kehidupan seseorang, misalnya kelahiran, kematian yang dinyatakan
dalam surat-surat keterangan, suatu akte resmi yang juga dimuat dalam daftar
pencatatan.
c. Undang-undang ini menganut asas monogami, hanya apabila dikehendaki oleh
yang bersangkutan, karena hukum dan agama dari yang bersangkutan
mengijinkannya, seorang suami dapat beristri lebih dari seorang. Namun
demikian perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang istri, meskipun
hal itu dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan hanya dapat dilakukan
apabila dipenuhi berbagai persyaratan tertentu dan diputuskan oleh Pengadilan
Agama.
2 Diakses di http://masroni-wardi.blogspot.com/2012/04/prinsip-prinsip-perkawinan-menurut.html

d. Undang-Udang ini mengatur prinsip, bahwa calon sumai istri itu harus masak
jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan, agar supaya dapat
mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir dengan perceraian,
dan mendapat keturunan yantg baik dan sehat, untuk itu harus dicegah adanya
perkawinan antara calon suami istri yang masih dibawah umur, karena
perkawinan itu mempunyai hubungan dengan masalah kependudukan, maka
untuk mengerem lajunya kelahiran yang lebih tinggi, harus dicegah terjadinya
perkawinan antara calon suami istri yang masih dibawah umur. Sebab batas
umur yang lebuh rendah bagi seorang wanita untuk kawin, mengakibatkan laju
kelahiran yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan batas umur yang lebih
tinggi, berhubungan dengan itu, maka Undang-Udang Perkawinan ini
menentukan batas umur untuk kawin baik bagi pria maupun bagi wanita, ialah
19 tahun bagi pria dan 16 tahun bagi wanita.
e. Karena tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan
kekal dan sejahtera, maka Undang-Undang ini menganut prinsip untuk
mempersukar tejadinya perceraian. Untuk memungkin perceraian harus ada
alasan-alasan tertentu (pasal 19 Peraturan Pemerintah N. 9 tahun 1975) serta
harus dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama bagi orang Islam dan
Pengadilan Negeri bagi golongan luar Islam.
f. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami
baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam pergaulan bermasyarakat,
sehingga dengan demikian segala sesuatu dalam keluarga dapat dirundingkan
dan diputuskan bersama suami istri.
2. Prinsip Perkawinan dalam Islam
a. Harus ada persetujuan secara suka rela dari pihak-pihak yang mengadakan
perkawinan. Caranyanya adalah diadakan peminangan terlebih dahulu untuk
mengetahui apakah kedua belah pihak setuju untuk melaksanakan perkawinan
atau tidak.
b. Tidak semua wanita dapat dikawini oleh seorang pria, sebab ada ketentuan
c.

larangan-larangan perkawinan antara pria dan wanita yang harus diindahkan.


Perkawinan harus dilaksanakan dengan memenuhi persyaratan-persyaratan
tertentu, baik yang menyangkut kedua belah pihak maupun yang berhubungan

dengan pelaksanaan perkawinan itu sendiri.


d. Perkawinan pada dasarnya adalah untuk membentuk satu keluarga atau rumah
tangga tentram, damai, dan kekal untuk selam-lamanya.
7

e.

Hak dan kewajiban suami istri adalah seimbang dalam rumah tangga, dimana
tanggung jawab pimpinan keluarga ada pada suami.

2.5Rukun dan Syarat Sah Perkawinan


1. Rukun nikah
a. Pengantin lelaki (Suami)
b. Pengantin perempuan (Isteri)
c. Wali
d. Dua orang saksi lelaki
e. Ijab dan kabul (akad nikah)
2. Syarat Sah Nikah
a. Syarat bakal suami
Islam
Lelaki yang tertentu

Bukan lelaki mahram dengan bakal isteri

Mengetahui wali yang sebenar bagi akad nikah tersebut

Bukan dalam ihram haji atau umrah

Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan

Tidak mempunyai empat orang isteri yang sah dalam satu masa

Mengetahui bahawa perempuan yang hendak dikahwini adalah sah


dijadikan isteri

b. Syarat bakal isteri

Islam

Perempuan yang tertentu

Bukan perempuan mahram dengan bakal suami

Bukan seorang khunsa

Bukan dalam ihram haji atau umrah

Tidak dalam idah

Bukan isteri orang

c. Syarat wali

Islam, bukan kafir danmurtad

Lelaki dan bukannya perempuan

Baligh

Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan

Bukan dalam ihram haji atau umrah

Tidak fasik

Tidak cacat akal fikiran,gila, terlalu tua dan sebagainya

Merdeka

Tidak ditahan kuasanya daripada membelanjakan hartanya

d. Syarat-syarat saksi

Sekurang-kurangya dua orang

Islam

Berakal

Baligh

Lelaki

Memahami kandungan lafaz ijab dan qabul

Dapat mendengar, melihat dan bercakap

Adil (Tidak melakukan dosa-dosa besar dan tidak berterusan melakukan


dosa-dosa kecil)

Merdeka

e. Syarat ijab

Pernikahan nikah ini hendaklah tepat

Tidak boleh menggunakan perkataan sindiran

Diucapkan oleh wali atau wakilnya

Tidak diikatkan dengan tempoh waktu seperti mutaah(nikah kontrak)

Tidak secara taklik(tiada sebutan prasyarat sewaktu ijab dilafazkan)


Contoh bacaan Ijab: Wali/wakil Wali berkata kepada bakal suami:"Aku

nikahkan/kahwinkan engkau dengan Diana Binti Daniel dengan mas kawinnya


sebanyak 25 Juta dibayar tunai".
f. Syarat qabul

Ucapan mestilah sesuai dengan ucapan ijab

Tiada perkataan sindiran

Dilafazkan oleh calon suami atau wakilnya (atas sebab-sebab tertentu)

10

Tidak diikatkan dengan tempo waktu seperti mutaah(seperti nikah kontrak)

Tidak secara taklik(tiada sebutan prasyarat sewaktu qabul dilafazkan)

Menyebut nama calon isteri

Tidak diselangi dengan perkataan lain


Contoh sebutan qabul(akan dilafazkan oleh calon suami):"Aku terima

nikah/perkahwinanku dengan Diana Binti Daniel dengan mas kawinnya sebanyak


25 Juta dibayar tunai" atau "Aku terima Diana Binti Daniel sebagai isteriku".
2.6 Hikmah Perkawinan
1. Pemenuhan Kebutuhan Biologis. Naluri seks adalah naluri yang paling kuat dan
keras yang selamanya menuntut adanya jalan keluar. Dan kawin adalah jalan
alami dan biologis yang paling baik dan sesuai untuk menyalurkan dan
memuaskan naluriah seks ini.
Dari Abu Hurairah : pernah Nabi saw bersabda: " Sesungguhnya perempuan itu
menghadap dengan rupa setan dan membelakangi dengan rupa setan pula. Jika
seseorang diantaramu tertarik kepada seorang perempuan, hendaklan ia datangi
istrinya, agar nafsunya bisa tersalurkan". (HR. Muslim, Abu Daud dan Turmudzi).
2. Membentuk keluarga mulia. Kawin adalah jalan terbaik untuk membuat anakanak menjadi mulia, memperbanyak keturunan, melestarikan hidup manusia serta
memelihara nasab yang oleh Islam sangat diperhatikan. Sebagaimana sabda
Rasulullah :" kawinlah dengan perempuan pecinta lagi bisa banyak anak, agar
nanti aku dapat membanggakan jumlahnya yang banyak di hadapan para nabi
pada hari kiamat nanti. "
3. Naluri kasih sayang. Tumbuhnya naluri kebapakan dan ke-ibuan yang saling
melengkapi, tumbuh perasaan cinta, ramah, dan sayang dalam suasana hidup
dengan anak-anak.
4. Menumbuhkan tanggung jawab. Adanya rasa tanggung jawab yang dapat
mendorong ke arah rajin bekerja, bersungguh-sungguh dan mencurahkan
perhatian.

11

5. Pembagian tugas. Adanya pembagian tugas istri mengurusi dan mengatur


rumah tangga, membimbing dan mendidik anak-anak, sementar si suami bekerja
di luar rumah.
6. Memperteguh

silaturahim.

Dapat

membuahkan

tali

kekeluargaan,

mempertreguh kelanggengan rasa cianta antara keluarga dan memperkuat


hubungan

kemasyarakatan.

7. Menunddukkan pandangan. Islam mendorong untuk menikah. Menikah itu


lebih menundukkan pandangan, lebih menjaga kemaluan, lebih menenangkan jiwa
dan lebih menjaga agama. Imam al-Bukhari telah mengeluarkan dari Abdullah ra,
ia berkata: kami bersama Nabi saw lalu beliau bersabda: Siapa saja diantara
kalian yang sanggup menikah maka hendaklah dia menikah, sesungguhnya itu
lebih menundukkan pandangan, lebih menjaga kemaluan, dan siapa saja yang
tidak mampu maka hendaklah dia berpuasa karena puasa itu perisai baginya.

12

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Pernikahan atau perkawinan adalah melakukan suatu akad atau perjanjian

untuk mengikatkan diri antara seorang laki-laki dan wanita untuk menghalalkan
hubungan kelamin antara kedua belah pihak, dengan dasar sukarela dan keridhaan
kedua belah pihak untuk mewujudkan suatu kebahagiaan hidup berkeluarga yang
diliputi rasa kasih sayang dan ketentraman dengan cara-cara yang diridhai oleh
Allah. Ada 5 hukum melakukan perkawinan, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh,
haram tergantung dengan kondisi orang yang akan menikah. Agar bisa menikah,
kita harus memenuhi syarat sah dan rukun nikah.

3.2

Saran
Penulis menyarankan agar pembaca menerapkan aturan-aturan dalam

pernikahan bila hendak menikah, sesuai dengan pembahasan dalam makalah ini.

13

DAFTAR PUSTAKA

http://www.jadipintar.com/2013/06/Hukum-danHikmah-Perkawinan-MenurutIslam.html
http://www.vemale.com/topik/pernikahan/30934-hukum-melaksanakanpernikahan-dalam-islam.html
http://www.pengertianpakar.com/2015/03/pengertian-dan-tujuanpernikahan.html#_
http://inasukarno.blogspot.co.id/p/rukun-syarat-sah-nikah.html
http://sabanhukum.blogspot.com/2012/03/makalah-data-hukum-perdataislam.html
http://masroni-wardi.blogspot.com/2012/04/prinsip-prinsip-perkawinanmenurut.html

14