Anda di halaman 1dari 5

Sejarah Kota Kupang

Written by Super User


Created: 26 August 2015

Legenda Koepang bukanlah sebuah cerita fantasi atau dongeng pengantar tidur yang biasa
dilakukan untuk anak-anak kecil di kampung. Akan tetapi koepang tempo doeloe adalah sebuah legenda
bermakna sejarah karena peristiwa-peristiwa yang dialami penduduk pemula disuatu lokasi negeri yang
sepi diliputi hutan belukar adalah sebuah peristiwa sejarah yang berproses dari masa ke masa sampai
terbentuknya nama koepang. Negeri yang sepi tersebut, awalnya hanya terdapat dua kampung
tradisional yaitu kampung kaisalun dan kampung Bani Baun. Kedua kampung itu dihuni oleh
sekelompok orang bersama pemimpin adatnya yang mengaku sebagai suku bangsa helong yang datang
dari negeri seberang laut. Kata Helong berasal dari dua suku kata, kata He yang berarti Jual dan kata
Lo yang berarti Tidak. Jika digabung berarti Tidak Jual. Pengertian umumnya yaitu pengorbanan atau
rela berkorban. Falsalah hidup Helong dari leluhurnya, bersedia berkorban dan tidak rela diganggu oleh
lingkungannya dan mereka akan berbalik membalas kalau sampai diganggu
Data lain menyebutkan bahwa Timor telah dihuni manusia sejak 13.500 tahun silam, oleh
sekelompok kecil penduduk , hidup dari berburu dan mengumpulkan hasil hutan. Sekurang-kurangnya
terdapat dua kelompok yang mendarat di pulau Timor yaitu kelompok etnik berbahasa Tetun, Dawan
dan Buna mendarat di pantai selatan pulau Timor dan kelompok etnik berbahasa Helong mendarat di
ujung Timur pulau Timor, daratan yang luas itu oleh para leluhur orang Helong menamakannya Nusa
Timu. Terdapat tiga tempat yang sangat berkesan ketika para leluhur Helong menemukan Nusa Timu.
Tempat itu dijadikan lambang abadi yakni ; Bandar Tutuala (Tutu-fala) dan pulau La-Co (La-Kon). Di
tempat tersebut terpatrei motto : PENGORBANAN , PERMUSYAWARATAN , DAN PENGABDIAN. Motto ini
menjadi falsafah hidup peninggalan nenek moyang orang Helong.
Kelompok Satu berjumlah sebelas kepala keluarga yaitu Nuh-Natun; Lai-Kait; Lai-Daat; Lai-Lopo;
Siki-Timu; Lisi-Lena; Lisi-Laihulu; Kla-Peka; Lai Biti; Lai Nai Sono dan Lai-Nusa. Kelompok satu dibawah
pimpinan Lai-Kait. Ada saat pelepasan kelompok karena jurusan atau route yang ditempuh berbeda
maka oleh raja Helong dibuat acara pelepasan yang disebut SAO artinya melepas pergi atau berpisah.
Tempat diadakan acara pelepasan berdekatan dengan sumber mata air, sehingga lokasi tersebut diberi
nama Ui-Sao; Ui berarti air ; Sao berarti melepas pergi (berpisah). Penyebutan air menurut bahasa
Helong yaitu Ui namun karna pengaruh bahasa Rote menjadi Oe sehingga nama tempat itu dikenal
dengan nama Oesao. Kelompok satu berjalan lewat tanah datar arah matahari terbenam yakni dari
Uisao tiba disuatu lokasi untuk mencari minum. Mereka membuat alat untuk minum dari daun lontar
yang dinamakan Sapat atau Hai, sehingga lokasi tersebut dinamakan Uisapat saat ini dikenal
dengan Oesapa. Setelah melanjutkan perjalanan kelompok satu bertemu dengan anggota rombongan
Lai-topan yang sudah lama tinggal menetap di kaisalun dan Buni Baun. Atau Buni Baun berarti
terlindung (tersembunyi dan aman). Di lokasi ini dulu kala terdapat gua (liang). Lokasi Buni Baun

berkembang menjadi kampung yang disebut Buin Baun. Saat ini kampung itu dikenal dengan nama
Bonipoi.

Kelompok Dua berjumlah dua puluh empat kepala keluarga, yaitu Solini; Hlena Sabu; PutisLulut; Belis-Mau; Is-Mau; Lai-Silap; Buit-Lena; Lasi-Kodat; Tiu-Muli; Hlena-Mui; Lai-Bahas; Lai-Kuni;
Buit-Bissi; Bis-Tolen: Koe-Slulat; Bilis-Tolen; Bi-Musuh; Bal-Mae; Bal-Somang dan Mes-Tuni. Kelompok ini
dipimpin langsung oleh Lissin-Bissing (Lissin Lai Lai Bissi). Menempuh daratan berbukit. Rombongan
tersebut beristirahat sambil makan disebut Ka, sedang bekal yang dibawa untuk dimakan selama
perjalanan disebut Biti, lokasi untuk makan bersama dekat dengan sumber air yang berlimpah yang
ditandai dengan nama Ui-Ka-Biti. Tempat itu sekarang dinamakan Oekabiti. Kemudian rombongan
meneruskan perjalan melalui kampung Batulesa, Uibatu, Tapa, Uitalu, dan Naioni. Dari Naioni
rambongan tiba di kampung Petu (berasal dari kata Pentu artinya pantat kering). Di tempat tersebut
suara yang diteriakkan akan memantul kembali (Echo) dari sebuah batu yang disebut Batu Fala
artinya batu bersuara, saat ini dikenal dengan nama Fatukoa dalam bahasa Timor, Fatukoa artinya Batu
Berteriak.
Pada perjalanan selanjutnya Kelompok satu bertemu dengan Kelompok Dua dikampung Liliba.
Kampung ini diberi nama Liliba karena terdapat kali (sungai yang aliran airnya sangat deras, tidak ada
jembatan sehingga anggota rombongan takut menyeberang). Kata Li-liadalah sebuah isyarat artinya
takut-takut; Ba artinya air yang mengalir, dengan demikian Liliba diartikan Takut Menyebarang
Banjir Air Kali yang Deras. Ditempat itu Lissin lai Bissi memberikan tempat tinggal pada keluarga
Lasikodat. Tempat itu ditunjuk mulai dari Uibatu sampai Pantai Tenau termasuk Bolok. Keluarga
Nusnatun diberi tempat bernama Tuak Natun (Wilayah Bakunase Batu Plat). Sebagai tanda peringatan
atau kenangan bagi leluhur orang Helong maka pada masa pemerintahan Bupati Kupang W.CH. Oematan
di kampong Bonipoi, disampaing Barat Gereja Katolik diberi nama jalan Jalan Semau. Nama Buni
Baun (Buin Baun) sangat popular bagi orang-orang Helong sehingga pada peristiwa adat sering
dimunculkan syair-syair adat. Demikian pula orang-orang Helong dari Semau yang ingin datang ke
Koepang, dikatakannya mau ke Buin Baun.

Berselang beberapa generasi Lissin Bissing (Lissin lai bissin) bermukim di Boni Baun. Periode
berikutnya rombongan Lais-kodat (Lasi Kodat) menyusul, namun memilih tinggal diujung Tanjung

(Lokasi Kantor Syah Bandar dan Mercusuar). Saat itu masyarakat memiliki dan mengakui tiga raja, yaitu
Lain Kopan, Lissin Bissing dan Lais Kodat (Raja muda). Itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya
Kampung Kupang Tempo Doeloe. Dari kisah ini terungkap bahwa Lai Kopan adalah Raja Pertama. Tugas
utamanya telah merintis payung koordinasi kehidupan kemasyarakatan, pemerintahan dan perdagangan
tradisional serta keamanan lingkungan bagi warganya. Raja kedua adalah yaitu Lissin Bissing (Lissin Lai
Bissi) dinobatkan menggantikan bapaknya Lai Bissi untuk memimpin tiga puluh lima kepala keluarga dan
anggotanya. Namun setibanya di Buni Baun, statusnya sebagai Raja menempati urutan kedua setelah
Lai Topan (Lai Kopan) yang sudah lebih dulu diakui masyarakatnya sebagai Raja.
Data menunjukkan Raja Lissin Bissing dan putra mahkota Bissig lissin memangku jabatan pada
masa prasejarah. Setelah itu disusul Raja KoEn Lai Bissi yang bergelar KoEn Am Tuan (KoEn Besar).
Tergolong masa peralihan dari prasejarah memasuki masa sejarah. Menurut catatan pada masa
kekuasaan KoEn Lai Bissi dan periode kekuasaan raja-raja selanjutnnya berjumlah 15 orang dan
semuanya dari keturunan Lissin Bissin. Demikian pula pada masa VOC/Pemerintahan Hindia Belanda
terdapat 10 orang Raja dari keturunan Lissin Bissin diantaranya yaitu Manas Bissi IV (1816-1826)
kemudian Manas Klomang Bissilisin urutan raja ke-6 tahun 1872 1882. Saat itu Raja Manas Klomang
Bissilisin memperkenalkan sonaf Kai salun dengan anam Sonaf 3. Setelah Raja Manas Klomang Bissilisin,
Jabatan sebagai Raja dipangku Leo Manas Bissilisin ( 1882 1885 ) lalu Dean Manas Bissilisin (18851908)
lalu Soleman Pallo Bissilisin (19081911) dan urutan Raja ke-10 dijabat oleh Salmun Pallo Bissilisin
(19111917). Sesuai dengan penerapan system politik pemerintahan Belanda maka periode berikutnya
jabatan Raja diturunkan menjadi Fettor. Pada masa prasejarah didaratan Timor bagian Indonesia
terdapat 4 bahasa Daerah yaitu :

Bahasa Marae atau Buna, berdiam di Belu bagian Timur Laut berbatasan dengan Negara Timor
Leste.

Bahasa Tetun, di Belu sebagian Timor Tengah Utara

Bahasa Dawan, di Timor Tengah Selatan dan sebagian Timor Tengah Utara.

Bahasa Helong, masyarakatnya menempati Pulau Semau, Koepang Tengah (Kolhua, Bi Upu,
Uihani, Uilautsala, Kuan Boke, Bismarak); Koepang Barat (Bolok, Binael, Alak, Boenana, Uimatnunu,
Uilesa, dan sebagian Toblolong dan Klaibe).

Menurut Memorie Resident Karthaus pada abad ke 17 berturut-turut tiba Koepang, 4 rombongan suku,
yaitu :

Suku Pitais yang dari Takaeb dan Pasi (Swapraja Fatuleu). Kepalanya diangkat sebagai Raja
Koepang selaku Fettor. Diberi tempat kediaman di Polla (Oepura).

Suku Amaabi dari Amanuban. Rombongan Amaabi diterima baik oleh Raja Koepang dan diberi
tempat tingat di dekat Kebon Raja di Bonipoi (Sebelah Gereja Katolik). Kelompok ini membentuk
kerajaan Amaabi Tambaring.

Suku Taebenu, berasal dari pegunungan Mollo. Kepala suku diterima baik oleh Raja, diberi
tempat kediaman di Baumata, kemudian membentuk kerajaan Taebenu.

Suku Sonbai, diutus oleh Sonbai Besar (Di Paeneno Oenam). Kepalanya bernama Baki Bena
Sonbai. Rombongan diterima baik oleh Raja, diberi tempat di bukit sebelah Barat Benteng Portugis
(Sekarang Nunhila). Kemudian pindah ke Bakunase dan membentuk kerajaan Sonbai kecil.

Awalnya Koepang Tempo Doeloe, bagi orang Helong dinamakan Kai Salun-Buni Baun. Hal ini
diketahui lewat sejarah dan asal-usul kota Koepang. Adalah Raja Koen Bissi ll atau Koen Am Tuan
memerintah warganya untuk membangun pagar batu disekeliling pagar istana. Pagar batu tersebut
adalah batu Alam bersusun keatas berlapis empat. Kondisi tersebut menurut bahasa Helong yaitu
PAN. Oleh rakyat atau warga yang ini berurusan atau menemui Raja Koen ditempat yang disebut PAN,
sehingga sering disebut KOENPAN. Dalam perkembangan penggunaan bahasa (ucapan) secara
etimologis kata KoenPan berubah menjadi Koepang, selanjutnya dengan ejaan baru maka
disesuaikan lagi menjadi KUPANG. Sebagai tanda penghormatan terhadap leluhur Lai Bissi yakni
moyang dari KoEn Lai Bissi maka oleh pemerintah Kabupaten Kupang menggantikan nama Kampung Cina
menjadi Kelurahan Lai Bissi Kopan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 1978 tanggal 18 September 1978 Kupang
diresmikan menjadi Kota Administrasi Kupang oleh Menteri Dalam Negeri Amir Mahmud. Selanjutnya
melalui Undang Undang No. 5 tahun 1996 tanggal 25 April 1996, Kupang diresmikan sebagai Kota Madya
Daerah Tingkat II. Jabatan Walikota pertama dipegang oleh S. K. Lerik.
Sesuai dengan ketentuan perundang undangan, pada tahun 2007 dilakukan pemilihan langsung
oleh rakyat yang dimenangkan Drs. Daniel Adoe sebagai Walikota dan Drs. Daniel Hurek sebagai
Wakilnya, periode 2007-2012. Proses yang sama dilaksanakan pada periode 2012-2017, yang
dimenangkan pasangan Walikota Jonas Salean, SH dan Wakil Walikota dr. Hermanus Man. Pasangan
tersebut menampilkan Visi Mewujudkan Kota Kupang sebagai kota berbudaya, modern, produktif dan
nyaman berkelanjutan.
Sumber : Koepang Tempo Doeloe, Pengarang: Drs. Ishak Arries Luitnan

http://kupangkota.go.id/index.php/profil/sejarah-kota-kupang

Kota Kupang berawal dari sebuah kerajaan di pesisir teluk Kupang hingga sekarang
menjadi ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur. Banyak penulis media elektronik
yang telah mengupas sejarah Kota Kupang ini sejak jaman kerajaan sampai
terbentuknya menjadi kotamadya pada tahun 1996.
Kota Indonesia Awal/ Tradisional
Masa ini boleh dikatakan masa terbangunnya kerja sama antara suatu daerah
dengan orang luar daerah dan orang asing. Dikatakan demikian karena pada masa
ini, aktvitas perdagangan antar daerah terjadi serta adanya upaya kerjasama dari

orang-orang asing. Kota Kupang yang dikenal sebagai kota cendana menarik
pedagang dari daerah sekitar seperti Alor, Sumba, Larantuka, dan daerah-daerah
Indonesia Bagia barat lainnya.
Aktivitas ini meramaikan pelayaran di pelabuhan teluk Kupang. Apalagi teluk
Kupang merupakan area perdagangan cendana dan sembako pada jaman itu,
Kondisi ini membawa perubahan spasial yakni timbul permukiman baru sebagai
temapat tinggal sementara para pedagangan yang diatur oleh raja Helong sebagai
pemimpin teluk Kupang.
Tahun 1518, Portugis mendarat di teluk Kupang. Kedatangan mereka diterima
dengan baik oleh raja Teluk Kupang (Raja Helong). Raja menghibahkan tanah pada
mereka sebagai tempat tinggal. Perluasan permukiman pun terjadi. Mulailah
Portugis berkarya di tanah ini. Tahun 1640-an. Seorang misionaris Pater Antonio de
Sau Jacinto menjalankan misi Katoloknya dengan dibaptiskan Raja Helong dengan
nama Don Duarte, sedangkan permaisurinya dibaptiskan dengan nama Dona Maria.
Jalinan kerjasama tersebut melahirkan kontrak tertanggal 29 Desember 1645 yakni
Jacinto diperbolehkan