Anda di halaman 1dari 26

PENDAHULUAN

Berpikir merupakan ciri utama manusia, yang membedakan


manusia dengan makhluk lain. Dengan dasar berpikir ini,
manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh akal dapat
memikirkannya. Berpikir disebut juga sebagai proses bekerjanya
akal. Manusia dapat berpikir karena manusia berakal. Dengan
demikian,

akal

merupakan

intinya,

sebagai

sifat

hakikat,

sedangkan makhluk sebagai genus yang merupakan hakikat dzat


sehingga manusia dapat dijelaskan sebagai makhluk yang
berakal.
Akal merupakan salah satu unsur kejiwaan manusia untuk
mencapai kebenaran, selain rasa untuk mencapai keindahan dan
kehendak untuk mencapai kebaikan. Dengan akal inilah manusia
dapat berpikir untuk mencari kebenaran hakiki. Berpikir banyak
sekali macamnya, namun secara garis besar dapat dibedakan
antara berpikir alamiah dan berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah yang
dimaksudkan ialah pola penalaran tentang panasnya api yang
dapat membakar jika dikenakan pada kayu, pasti akan terbakar.
Berpikir

ilmiah

yang

dimaksudkan

adalah

dua

hal

yang

bertentangan penuh tidak dapat sebagai sifat hal tertentu pada


saat yang sama dalam satu kesatuan.
Dua macam berpikir ini yang akan dibahas disini ialah
berpikir ilmiah dan khususnya tentang sarana, yaitu sarana
ilmiah. Bagi seorang ilmuwan penguasaan sarana berpikir ilmiah
merupakan suatu keharusan, dan bahkan mutlak perlu karena
tanpa penguasaan sarana ilmiah tidak akan dapat melaksanakan
kegiatan ilmiah yang baik.
Sarana

ilmiah

pada

dasarnya

merupakan

alat

yang

membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus

ditempuh. Pada langkah tertentu biasanya sarana-sarana berpikir


ilmiah ini seyogyanya telah menguasai langkah-langkah dalam
kegiatan ilmiah tersebut. Dengan jalan ini seorang ilmuwan akan
sampai pada hakikat sarana yang sebenarnya bagi suatu ilmu
sebab sarana merupakan alat yang membantu dalam mencapai
tujuan tertentu. Dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai
fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara
menyeluruh.
Sarana berpikir ilmiah mutlak perlu dipelajari dan dikuasai
bagi seorang ilmuwan karena sarana berpikir ilmiah merupakan
alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan
materi pengetahuannya berdasarkan metode-metode ilmiah.
Sarana berpikir ilmiah yang akan dibahas selanjutnya adalah
bahasa ilmiah, matematika dan statistika.
BAHASA
Keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuan
berfikirnya melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa.
Ernst

Cassirer

menyebut

manusia

sebagai

mahluk

yang

mempergunakan symbol (Animal symbolicum), yang secara


generik mempunyai cakupan yang lebih luas daripada mahluk
yang berfikir (homo sapiens). Sebab dalam kegiatan berfikirnya
manusia

mempergunakan

symbol.

Tanpa

mempunyai

kemampuan berbahasa maka kegiatan berfikir secara sistematis


dan teratur tidak akan dapat dilakukan. Dengan menguasai
bahasa maka manusia akan menguasai pengetahuan. Selain itu
tanpa

kemampuan

bahasa

manusia

tidak

mungkin

mengembangkan kebudayaannya , sebab tanpa mempunyai


bahasa maka akan hilang juga kemampuan untuk meneruskan
nilai

nilai

budaya

dari

generasi

satu

ke

generasi

yang

selanjutnya.

Manusia dapat berfikir dengan baik karena memiliki bahasa.


Tanpa bahasa manusia tidak akan dapat berfikir secara rumit dan
abstrak seperti apa yang kita lakukan dalam kegiatan ilmiah.
Demikian juga tanpa bahasa maka kita tidak akan dapat
mengkomunikasikan

pengetahuan

kita

kepada

orang

lain.

Binatang tidak diberkahi dengan bahasa yang sempurna seperti


manusia, oleh sebab itu binatang tidak dapat berfikir dengan
baik dan mengakumulasikan penegtahuannya lewat proses
komunikasi seperti kita mengembangkan ilmu.
Bahasa membuat manusia berfikir secara abstrak dimana
obyek obyek yang faktual ditransformasikan menjadi simbol
simbol

bahasa

yang

bersifat

abstrak.

Dengan

adanya

transformasi ini maka manusia dapat berfikir mengenai sesuatu


objek tertentu meskipun objek tersebut secara factual tidak
berada di tempat dimana kegiatan berfikir itu dilakukan. Bahasa
memberikan kemampuan untuk berfikir secara teratur dan
sistematis. Tranformasi objek factual menjadi symbol abstrak
yang

diwujudkan

lewat

perbendaharaan

kata

kata

ini

dirangkaikan oleh tata bahasa untuk mengemukakan suatu jalan


pemikiran atau ekspresi perasaan. Kedua aspek bahasa ini yakni
aspek Informatif dan emotif keduanya tercermin dalam bahasa
yang kita gunakan. Artinya jika kita berbicara maka pada
hakikatnya informasi yang kita sampaikan mengandung unsur
unsur emotif, demikian juga kalau kita menyampaikan perasaan
maka expresi itu mengandung unsur unsur informatif. Ini berati
bahasa selalu mengandung kedua aspek tersebut meskipun
kadang dapat dipisahkan seperti musik dapat dianggap sebagai
bentuk dari bahasa, dimana emosi terbebas dari informasi,
sedangkan buku telpon itu memberikan kita informasi tanpa
emosi
Jika kita lihat lebih jauh maka sesungguhnya bahasa

mengkomunikasikan tiga hal yakni: buah pikiran, perasaan dan


sikap.

Atau

seperti

menyatakan

bahwa

yang

disampaikan

bahasa

dalam

oleh

Kneller

kehidupan

yang

manusia

mempunyai fungsi simbolik, emotif dan afektif. Fungsi simbolik


dari bahasa menonjol dalam komunikasi ilmiah sedangkan fungsi
emotif menonjol dalam komunikasi estetik. Komunikasi dengan
mempergunakan bahasa akan mengandung unsur simbolik dan
emotif. Dalam komunikasi ilmiah sebenarnya proses komunikasi
harus

terbebas

dari

unsur

emotif

ini,

agar

pesan

yang

disampaikan bisa diterima secara reproduktif, artinya identik


dengan pesan yang dikirimkan. Namun dalam prakteknya hal ini
sulit untuk dilaksanakan, dan inilah salah satu kelemahan bahasa
sebagai sarana komunikasi ilmiah dimana bahasa mempunyai
kecenderungan emosional.
Apakah Sebenarnya Bahasa?
Pertama

tama

bahasa

dapat

kita

cirikan

sebagai

serangkaian bunyi. Dalam hal ini kita mempergunakan bunyi


sebagai alat untuk berkomunikasi. Manusia mempergunakan
bunyi sebagai alat komunikasi yang utama paling utama
meskipun kita juga bisa menggunakan isyarat. Komunikasi
dengan mempergunakan bunyi disebut juga dengan komunikasi
verbal,

dan

manusia

yang

bermasyarakat

dengan

alat

komunikasi bunyi disebut juga sebagai masyarakat verbal.


Kedua, bahasa merupakan lambang dimana rangkaian bunyi
ini membentuk sebuah arti tertentu. Rangkaian bunyi yang kita
kenal sebagai kata melambangkan suatu objek tertentu. Manusia
mengumpulkan lambang lambang ini dan menyusun apa yang
kita kenal sebagai perbendaharaan kata kata. Perbendaharaan
ini pada hakikatnya merupakan akumulasi pengalaman dan
pemikiran mereka. Artinya dengan perbendaharaan kata kata
yang mereka punyai maka manusia dapat mengkomunikasikan

segenap pengalaman dan pemikiran mereka. Hal ini lah yang


menyebabkan

bahasa

terus

berkembang

yakni

karena

disebabkan pengalaman dan pemikiran manusia yang juga


berkembang. Bahasa diperkaya oleh seluruh lapisan masyarakat
yang mempergunakannya baik itu para ilmuwan, pendidik, ahli
politik bahkan pencopet sekalipun mengembangkan bahasa yang
khas untuk kelompoknya. Yang paling menonjol biasanya adalah
para remaja yang memperkaya perbendaharaan bahasa dengan
semangat mereka yang kreatif dan lugu.
Adanya bahasa ini

memungkinkan kita untuk memikirkan

sesuatu dalam benak kepala kita, meskipun obyek yang sedang


kita pikirkan tersebut tidak berada didekat kita. Manusia dengan
kemampuannya berbahasa memungkinkan untuk memikirkan
sesuatu masalah secara terus menerus. Perbedaan pendidikan
antara manusia dengan binatang terutama terletak dalam
tujuannya. Manusia belajar agar berbudaya sedangkan binatang
belajar untuk mempertahankan jenisnya. Karena tikus tidak
memiliki bahasa seperti kita, maka seekor ibu tikus harus
membawa anaknya kepada seekor kucing dan menunjukkan
pada waktu itu juga bahwa mahluk itu berbahaya. Jadi dengan
bahasa bukan saja manusia dapat berfikir secara teratur namun
juga dapat mengkomunikasikan apa yang sedang dia fikirkan
kepada orang lain. Bukan itu saja, dengan bahasa kita dapat
mengekspresikan sikap dan perasaan kita.
Lewat

bahasa

manusia

menyusun

sendi

sendi

yang

membuka rahasia alam dalam berbagai teori seperti elektronik,


termodinamik, relativitas dan quantum. Menurt Francis Bacon
pengetahuan adalah kekuasaan, dan dengan kekuasaan ini
manusia mencoba mengerti hidupnya. Manusia tidak mau lagi
dikuasai alam, dia bangkit dan menguasainya. Disamping
pengetahuan manusia mencoba memberi arti kepada semua

gejala fisik yang dialaminya.

Kejadian sehari hari yang penuh

dengan ketawa dan air mata, kelahiran dan kematian semuanya


dirangkai dengan bahasa menjadi sesuatu yang koheren dan
mempunyai

arti.

Kita

membaca

puisi

dan

sastra

yang

mengungkapkan nilai nilai estetika dalam hidup kita, atau kita


memadukannya dengna seni suara dimana kita bernyanyi,
menangis dan merayakan hidup lewat kata kata, karena tanpa
estetika ini maka semua kehidupan akan menjadi steril.
Seni

merupakan

kegiatan

estetik

yang

banyak

mempergunakan asek emotif dari bahasa baik itu seni suara


ataupun sastra. Dalam hal ini bahasa bukan saja dipergunakan
untuk mengemukakan perasaan itu sendiri melainkan juga alat
untuk

memperlihatkan

perasaan

yang

ekspresif.

Bahasa

dipergunakan secara plastic, seperti kita membuat patung dari


tanah

liat,

dimana

komunikasi

yang

terjadi

mempunyai

kecenderungan yang emotif.


Komunikasi ilmiah mensyaratkan bentuk komunikasi yang
sangat lain dengan komunikasi estetik. Komunikasi ilmiah
bertujuan

untuk

menyampaikan

informasi

yang

berupa

pengetahuan. Agar komunikasi ilmiah ini berjalan dengan baik


maka bahasa yang dipergunakan harus terbebas dari unsur
unsur emotif. Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif,
artinya

bila

sipengirim

komunikasi

menyampaikan

sesuatu

informasi maka si penerima informasi tersebut harus menerima


informasi yang serupa. Hal ini untuk mencegah apa yang
dinamakan sebagai suatu salah informasi, karena bila suatu
informasi yang diterima berbeda maka akan menghasilkan
proses berfikir yang berbeda pula. Oleh sebab itu maka proses
komunikasi ilmiah harus bersifat jelas dan objektif yakni terbebas
dari unsur unsur emotif.

Kekurangan Bahasa
Sebagai sarana komunikasi ilmiah maka bahasa mempunyai
beberapa kekurangan. Kekurangan ini terletak pada peranan
bahasa itu sendiri yang bersifat multifungsi yakni sebagai sarana
komunikasi emotif, afektif, dan simbolik.
Dalam komuniaksi ilmiah kita ingin mempergunakan aspek
simbolik saja tanpa ada kaitan emotif dan afektif, namun
kenyataannya hal ini tidak mungkin karena bahasa verbal mau
tidak mau mengandung ketiga unsur yang bersifat emotif,
afektif, dan simbolik. Ini merupakan salah satu kekurangan
bahasa sebagai sarana komunikasi ilmiah karena masih memiliki
kecenderungan

emosional.

Bahasa

ilmiah

pada

hakikatnya

haruslah bersifat obyektif tanpa mengandung emosi dan sikap


(antiseptic dan reproduktif).
Kekurangan yang kedua terletak pada arti yang tidak jelas
dan eksak yang dikandung oleh kata kata yang membangun
bahasa. Terkadang suatu kata tertentu dalam bahasa memiliki
definisi yang panjang dan tetap tidak memberikan arti yang jelas
terhadap hakikat ilmu yang sebenarnya. Contohnya kata cinta
jika

kita

ingin

memberikan

definisi

untuk

kata

ini

akan

memberikan pengertian yang sangat panjang yaitu hubungan


antara ibu dan anak, ayah dan anak, kakek dan nenek, dua orang
kekasih, perasaan pada

tanah air dan ikatan pada

rasa

kemanusiaan yang besar. kelemahan lain terletak pada sifat


majemuk ( pluralistik) dari bahasa. Sebuah kata kadang kadang
mempunyai lebih dari satu arti yang berbeda. Contohnya kata
ilusi yang bisa diartikan sebagai angan angan ataupun khayalan.
Selain

itu

bahasa

juga

mempunyai

beberapa

kata

yang

memberikan arti yang sama. Contohnya pengertian tentang


usaha kerjasama yang terkoordinasi dalam mencapai suatu
tujuan

tertentu

dapat

diartikan

sebagai

administrasi,

manajemen, pengelolaan dan tata laksana. Sifat majemuk dari


bahasa ini sering menimbulkan apa yang disebut dengan
kekacauan semantik, dimana dua orang yang berkomunikasi
mempergunakan

sebuah

kata

yang

sama

namun

untuk

pengertian yang berbeda. Atau sebaliknya dua kata yang


berbeda untuk kata yang sama.
Kelemahan yang ketiga

ialah bahasa sering bersifat

berputar putar (sirkular) dalam mempergunakan kata kata


terutama dalam memberikan definisi. Contohnya kata data
yang kita artikan sebagai bahan yang diolah menjadi informasi,
sedangkan informasi yaitu keterangan yang didapat dari data.
Tak dapat dihindarkan lagi bahwa dalam memberikan definisi
maka sebuah kata tergantung kepada kata kata yang lain. Selain
itu kata pengelolaan misalnya didefinisikan sebagai kegiatan
yang

dilakukan

dalam

sebuah

organisasi.

Sedangkan

organisasi didefinisikan sebagai suatu bentuk kerja sama yang


merupakan wadah dari kegiatan pengelolaan. Dalam masalah
bidang ilmu-ilmu sosial masalah definisi ini makin tambah rumit,
sebab seperti apa yang dikatakan Max Weber, ahli-ahli ilmu
sosial cenderung untuk selalu membikin definisi baru mengenai
suatu

objek

penelaahan

ilmu-ilmu

sosial,

sebab

mereka

menganggap definisi yang dibikin oleh orang lain sebagai sikat


gigi bekas. Hal ini tidak ada salahnya selama kata kata yang
dipergunakan itu sudah mempunyai pengertian yang jelas dan
bukan bersifat berputar putar.
Kelemahan bahasa yang keempat adalah konotasi yang
bersifat emosional. Masalah bahasa ini menjadi bahan pemikiran
yang sungguh-sungguh dari para ahli filsafat modern. Pengkajian
filsafat, termasuk pengkajian hakikat ilmu, pada dasarnya
merupakan analisis logico-linguistik. Bagi aliran filsafat tertentu,
seperti filsafat analitik, maka bahsa bukan saja merupakan alat

bagi berfilsafat dan berfikir, namun juga merupakan bahan


dasar dan dalam hal tertentu merupakan hasil akhir dari filsafat.
Ahli filsafat seperti Henri Bergson (1859-1941) membedakan
antara pengetahuan yang bersifat absolut yang didapat tanpa
melalui bahasa dan pengetahuan yang bersifat relative yang
didapat lewat perantaraan bahasa. Pengetahuan yang hakiki
bukan didapat lewat penalaran melainkan lewat intuisi (tanpa
sadar kita sudah mendapatkan pengetahuan)

MATEMATIKA
Matematika sebagai Bahasa
Matematika

adalah

bahasa

yang

melambangkan

serangkaian makna dari serangkaian pertanyaan yang ingin kita


sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artifisial
yang

mempunyai

arti

setelah

sebuah

makna

diberikan

kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya kumpulan rumusrumus yang mati. Yang paling sukar untuk menjelaskan kepada
seseorang yang baru belajar matematika.
Bahwa

verbal

seperti

telah

kita

lihat

sebelumnya

mempunyai beberapa kekurangan yang sangat mengganggu.


Untuk mengatasi kekurangan yang terdapat pada bahasa maka
kita berpaling kepada matematika. Dalam hal ini dapat kita
katakan bahwa matematika adalah bahasa yang berusaha untuk
menghilangkan sifat kabur, majemuk dan emosional dari bahasa
verbal. Lambang-lambang dari matematika dibuat secara artifisal
dan individual yang merupakan perjanjian yang berlaku khusus
untuk masalah yang kita kaji.

Sebuah objek yang sedang kita

telaah dapat kita lambangkan dengan apa saja sesuai dengan


perjanjian kita. Umpamanya bila kita sedang mempelajari
kecepatan jalan kaki seorang anak maka objek kecepatan jalan

kaki seorang anak tersebut dpat kita lambangkan dengan x.


Dalam hal ini maka hanya mempunyai satu arti yakni kecepatan
jalan kaki seorang anak .

Lambang x tidak bersifat majemuk

sebab x hanya melambangkan

tidak mempunyai pengertian

yang lain. Maka pernyataan matematika mempunyai sifat yang


jelas, spesifik dan informatif dengan tidak menimbulkan konotasi
yang bersifat emosional.
Sifat kuantitatif dari Matematika
Matematika

mempunyai

kelebihan

lain

dibandingkan

dengan bahasa verbal. Matematika mengembangkan bahasa


numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran
secara

kuantitatif.

Dengan

bahasa

verbal

bila

kita

membandingkan sebuah obyek yang kita bandingkan dengan


dua obyek yang berlainan umpamanya gajah dan semut maka
kita mengalami kesukaran dalam mengemukaan hubungan itu.
Kemudian jika sekiranya kita ingin mengetahui berapa besar
gajah bila dibandingkan dengan semut maka dengan bahasa
verbal kita tidak dapat mengatakan apa-apa.
Bahasa verbal hanya mampu mengemukakan pernyataan
yang bersifat kualitatif. Demikian juga maka penjelasan dan
ramalan

yang

diberikan

oleh

ilmu

dalam

bahasa

verbal

semuanya bersifat kualitatif. Kita bisa mengetahui bahwa logam


kalau dipanaskan akan memanjang. Namun kita tidak bisa
mengatakan

dengan

tepat

berapa

besar

pertambahan

panjangnya. Hal ini menyebabkan penjelasan dan ramalan yang


diberikan bahasa verbal tidak bersifat eksak, menyebabkan daya
perdiktif dan kontrol ilmu kurang cermat dan tepat.
Untuk mengatasi masalah ini matematika mengembangkan
konsep pengembangkan konsep pengukuran.lewat pengukuran,
maka kita dapat mengetahui dengan tepat berapa panjang
10

sebatang logam dan berapa tambah panjangnya kalau logam itu


di panaskan dengan mengetahui hal ini maka pernyataaan ilmiah
yang berupa pernyataan kualitatif seperti sebatang logam kalau
dipanaskan akan memanjang dapat di ganti dengan pernyataan
matematik yang lebih eksak umpamanya:
P1=p0 (1 + n1)
Sifat kuantitatif dari matematika ini meningkatkan daya
predikat dan control ilmu. Ilmu memberikan jawaban yang lebih
bersifat eksak yang memungkinkan pemecahan masalah secara
lebih

tepat

dan

cermat.

Matematika

memungkinkan

ilmu

mengalami perkembangan dari tahap kualitatif ke kuantitatif.


Perkembangan ini merupakan suatu hal yang imperatif bila kita
menghendaki daya prediksi dan control yang lebihtepat dan
cermat dari ilmu. Beberapa disiplin keilmuan, terutama ilmu-ilmu
social, agak mengalami kesukaran dalam perkembangan yang
bersumber pada problema teknis dan dalam pengukuran.

Matematika: Sarana Berpikir deduktif


Berpikir deduktif adalah proses pengambilan kesimpulan
yang didasarkan kepada premis-premis yang kebenarannya telah
ditentukan. Untuk menghitung jumlah sudut dalam segitiga
berdasarkan kepada premis bahwa kalau terdapat dua garis
sejajar maka sudut-sudut yang terbentuk kedua garis sejajar
tersebut dengan garis ketiga adalah sama. Premis yang kedua
adalah bahwa jumlah sudut yang terbentuk oleh sebuah garis
lurus adalah 180 derajat.
Kedua premis itu kemudian kita terapkan dalam berpikir
deduktif untuk menghitung jumlah sudut-sudut dalam segitiga.
Dalam hal ini kita melihat bahwa segitiga ABC kalau kita tarik

11

garis melalui titik A yang sejajar dengan BC maka pada titik A


dapat

didapatkan

tiga

sudut

yakni

yang

ketiga-tiganya

membentuk suatu garis lurus. Mempergunakan premis yang


pertama

maka

kita

bisa

mengambil

kesimpulan

dimana

membentuk sebuah garis lurus. Sedangkan berdasarkan remis


kedua yang mengatakan bahwa jumlah sudut dalam sebuah
garis lurus adalah 1800 maka , yang merupakan jumlah sudutsudut dalam sebuah segitiga, adalah 180 derajat. Dengan
demikian maka secara deduktif dapat dibuktikan bahwa jumlah
sudut-sudut dalam sebuah segitiga adalah 180 derajat.
Jadi

dengan

contoh

seperti

di

atas

secara

deduktif

matematika menemukan pengetahuan yang baru berdasarkan


premis-premis yang tertentu. Pengetahuan yang ditemukan ini
sebenarnya hanyalah merupakan konsekuensi dari pernyataanpernyataan

ilmiah

yang

telah

kita

temukn

sebelum

nya.

Meskipun tak pernah ada kejutan dalam logika namun


pengetahuan yang didapatkan secara deduktif ini sungguh
sangat

berguna

dan

memberikan

kejutan

yang

sangat

menyenangkan. Dari beberapa premis yang telah kita ketahui


keberadaannya dapat dikemukakan pengetahuan-pengetahuan
lainnya yang memperkaya perbedaharaan ilmiah kita.

Perkembangan Matematika
Ditinjau dari perkembanganyna maka ilmu dapat dibagi
dalam tiga tahap yakni tahap sistematika, komparatif dan
kuantitatif. Pada tahap sistematika maka ilmu mulai menggolonggolongkan obyek empiris ke dalam kategori-kategori tertentu.
Penggolongan ini memungkinkan kita untuk menemukan ciri-ciri
yang

bersifat

umum

dari

anggota-anggota

yang

menjadi

kelompok tertentu. Ciri-ciri yang bersifat umum ini merupakan

12

pengetahuan bagi manusia dalam mengenali dunia fisik.


Dalam

tahap

yang

kedua

kita

mulai

melakukan

perbandingan antara objek yang satu dengan objek yang lain,


kategori yang satu dengan kategori yang lain, dan seterusnya.
Kita

mulai

mencari

hubungan

yang

didasarkan

kepada

perbandingan antara di berbagai objek yang kita kaji. Tahap


selanjutnya adalah tahap kuantitatif di mana kita mencari
hubungan sebab akibat tidak lagi berdasarkan perbandingan
melainkan berdasakan pengukuran yang eksak dari objek yang
sedang kita selidiki.
Memang tidak semua ahli filsafat setuju dengan pernyataan
bahwa matematika adalah pengetahuan yang bersifat deduktif.
Immanuel Kant (1724-1804) umpamanya berpendapat bahwa
matematika merupakan pengetahuan sintetik a priori di mana
eksistensi matematika tergantung kepada dunia pengalaman
kita.
Pada dasarnya, menurut akal sehat sehari-hari, kebenaran
matematka tidak ditentukan oleh pembuktian secara empiris,
melainkan kepada proses penalaran deduktif. Jika seseorang
memasukkan bebek dua ekor pada pagi hari, kemudian dia
memasukkan bebek dua ekor lagi pada siang hari, maka pada
malam dia akan mengharapkan jumlah bebek semuanya menjadi
empat

ekor.

verifikasi

Sekiranya

dan

menyimpulkan

pada

jumlahnya
ada

sesuatu

malam

hanya

hari

tiga

yang

dia

ekor,

salah

melakukan
segera

secara

dia

empiris

dibandingkan dengan penalaran rasionalnya, sebab apapun yang


terjadi jumlahnya harus empat ekor.

Kecuali tentu saja:

bebeknya ada yang lari lewat kolong rumah; ada pencuri selagi
dia tidur; atau ada bebek yang ngumpet belum ketemu.
Demikian juga jika bebek-bebek itu beberapa bulan kemudian

13

bukan lagi empat melainkan lima maka masalah itu bukan lagi
termasuk matematika melainkan ilmu beternak bebek dan
sebangsanya.
Griffits dan Howson (1974) membagi sejarah perkembangan
matematika menjadi empat tahap. Tahap pertama dimulai
dengan matematika yang berkembang pada peradaban Mesir
Kuno dan daerah sekitarnya seperti Babylonia dan Mesopotamia.
Waktu itu matematika telah dipergunakan dalam perdangangan,
pertanian, bangunan dan usaha mengontrol alam seperti banjir.
Matematika mendapat momentum baru dalam peradaban
Yunani

yang

sangat

memperhatikan

aspek

esteti

dari

matematika. Dapat dikatakan bahwa peradaban Yunani inilah


yang meletakkan dasar matematika

sebagai cara berpikir

rasional dengan menetapkan berbagai langkah dan definisi


tertentu. Babak perkembangan matematika selanjutnya terjadi di
Timur di mana pada sekitar tahun 1000 bangsa Arab, India, dan
Cina

mengembangkan

ilmu

hitung

dan

aljabar.

Mereka

mendapatkan angka nol dan cara penggunaan desimal serta


mengembangkan kegunaan praktis dari ilm hitung dan aljabar
tersebut. Waktu perdagangan antara Timur dan Barat pada Abad
Pertengahan maka ilmu hitung dan aljabar ini telah dipergunakan
dalam transaksi pertukaran.
Gagasan-gagasan orang Yunani dan penemuan ilmu hitung
dan aljabar itu dikaji kembali dalam zaman Renaissance yang
meletakkan

dasat

bagi

kemajuan

matematika

modern

selanjutnya. Ditemukanlah di antaranya kalkulus diferensial yang


memungkinkan kemajuan ilmu yang cepat di abad ke-17 dan
revolusi industri di abad ke-18.
Bagi dunia keilmuan matematika berperan sebagai bahasa
simbolik yang memungkinkan terwujudnya komunikasi yang
14

cermat dan tepat. Matematika dalam hubungannya dengan


komnikasi ilmiah mempunyai peranan ganda, kata Fehr, yakni
sebagai ratu dan sekaligus pelayanan ilmu. Di satu pihak,
sabagai ratu matematika merupakan bentuk tertingi dari logika,
sedangkan

di

lain

pihak,

sebagai

pelayan

matematika

memberikan bukan saja sistem pengorganisasian ilmu yang


bersifat logis namun juga pernyataan-pernyataan dalam bentuk
model

matematik.

Matematika

bukan

saja

menyampaikan

informasi secara jelas dan tepat namun jugasingkat. Suatu rumus


yang jika ditulis dengan bahasa verbal memerlukan kalimat yang
banyak

sekali,

dimana

makin

banyak

kata-kata

yang

dipergunakan maka makin besar pula peluang untuk terjadinya


salah informasi dan salah interpretasi, maka dalam bahasa
matematk cukup ditulis dengan model yang sederhana sekali.
Matematika

sebagai

bahasa

mempunyai

ciri,

sebagaimana

dikatakan Morris Kline, bersifat ekonomis dengan kata-kata.

Beberapa Aliran dalam Filsafat Matematika


Dalam bagian terdahulu telah disebutkan dua pendapat
tentang matematika yakni dari Immanuel Kant (1724-1804) yang
berpendapat bahwa matematika merupakan pengetahuan yang
bersifat

sintetik

apriori

di

mana

eksistensi

matematika

tergantung dari pancaindera serta pendapat dari aliran yang


disebut

logistik

yang

berpendapat

bahwa

matematika

merupakan cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat


ditentukan tanpa mempelajari dunia empiris.
Akhir-akhir

ini

filsafat

Kant

tentang

matematika

ini

mendapat momentum baru dalam aliran yang disebut intuisionis


dengan eksponen utamanya adalah seorang ahli matematika
berkebangsaan Belanda bernama Jan Brouwer (1881-1966). Di

15

samping dua aliran ini terdapat pula aliran ketiga yang dipelopori
oleh David Hilbert (1862-1943) dan terkenal dengan sebutan
kaum formalis.
Kaum formalis menolak anggapan kaum logistik yang
menyatakan bahwa konsep matematika dapat direduksikan
menjadi konsep logika. Mereka berpendapat bahwa banyak
masalah-masalah

dalam

bidang

logika

yang

tidak

ada

hubungannya dengan matematika. Bagi mereka matematika


merupakan pengetahuan tentang struktur formal dari lambang.
Kaum

formalis

menekankan

kepada

aspek

formal

dari

matematika sebagai bahasa perlambang dan mengusahakan


konsistensi dalam penggunaan matematika sebagai bahasa
lambang.
Pengetahuan kita tentang bilangan, kata Frege, merupakan
pengertian rasional yang bersifat apriori, yang kita pahami lewat
mata penalaran (the eye of reason) yang memandang jauh ke
dalam struktur hakikat bilangan. Hal ini ditentang oleh kaum
intuisionis yang menyatakan lewat Brouwer bahwa intuisi murni
dari

berhitung

merupakan

titik

tolak

tentang

matematika

bilangan. Hakikat sebuah bilangan harus dapat dibentuk melalui


kegiatan intuitif dalam berhitung dan menghitung. Dengan
demikian maka pernyataan George Cantor (1845-1918) yang
menyatakan bahwa lebih banyak bilangan nyata dibandingkan
bilangan

asli

ditolak

oleh

kaum

intuisionis.

Hal

ini

menyebabkanbanyak sekali bagian dari matematika yang secara


kumulatif

telah diterima harus ditolak, dan matematika itu

sendiri harus ditulis kembali secara rumit sekali.


Kiranya dari pembahasan di atas nampak jelas bahwa tidak
satupun

dari

sepenuhnya

ketiga

aliran

dalam

filsafat

berhasil

dalam

usahanya.

matematika

Walaupun

ini

demikian

16

perbedaan pandangan ini tidak melemahkan perkembangan


matematika

malah justru sebaliknya di

mana satu aliran

memberi inspirasi kepada aliran-aliran lainnya. Kaum logistik


mempergunakan sistem simbol yang diperkembangkan oleh
kaum formalis dalam kegiatan analisisnya. Kaum intuisionis
memberikan titik tolak dalam mempelajari matematika dalam
perspektif

kebudayaann

memungkinkan

suatu

masyarakat

diperkembangkannya

tertentu

filsafat

yang

pendidikan

matematika yang sesuai. Ketiga pendekatan dalam matematika


ini,

lewat

pemahamannya

masing-masing,

memperkukuh

matematika sebagai sarana kegiatan berpikir deduktif.

Matematika dan Peradaban


Sekitar
mempunyai

3500

tahun

simbol

S.M.

yang

bangsa

Mesir

melambangkan

Kuno

telah

angka-angka.

Pengetahuan tentang matematika pada waktu itu dianggap


keramat. Para pendeta sengaja menyembunyikan pengetahuan
tentang matematika untuk mempertahankan kekuasaan mereka.
Hal ini tidak jauh beda bednya dengan situasi peradaban kita,
seperti yang dikeluhkan Soedjatmoko, bahwa seorang pegawai
sering menyimpan informasi tertentu, karena dalam anggapan
tradisional

monopoli

atas

informasi

merupakan

sumber

kekuasaan.
Matematika tidak dapat dilepaskan dari perkembangan
peradaban manusia. Penduduk kota yang pertama adalah
makhluk yang berbicara(talking animal), kata Lancelot Hogben,
dan penduduk kota kurun teknologi ini adalah makhluk yang
berhitung (calculating animal) yang hidup dalam jaringan
angka-angka: takaran resep makanan, jadwal kereta api, angka

17

pengangguran, tilang, pajak, rampasan perang, uang lembur,


taruhan, skor biljar, kalori, timbangan bayi, temperatur klinis,
curah hujan, cerah matahari, spedometer, indikator baterai,
meteran gas,

suku bunga bank, ongkos angkut kapal, tingkat

kematian, potongan, lotere, panjang gelombang dan tekanan


ban. Tanpa matematika maka pengetahuan akan berhenti pada
tahap kualitatif yang tidak memungkinkan untuk meningkatkan
penalarannya lebih jauh. Singkatnya, bagi bidang keilmuan
modern, matematika adalah sesuatu yang imperatif: sebuah
sarana untuk meningkatkan kemampuan penalaran deduktif.
Analog dengan pernyataan Bertrand Russell tentang hubungan
antara logika dan matematika mungkin kita bisa berkata, Ilmu
kualitatif adalah masa kecil dari ilmu kuantitatif, ilmu kuantitatif
merupakan masa dewasa ilmu kualitatif; di mana ilmu yang
sehat, seperti juga kita manusia, adalah terus tumbuh dan
mendewasa.
Semoga perkembangan matematika tidak menimbulkan
dikhotomi dalam cara berpikir dan mengembangkan dua pola
kebudayaan dalam masyarakat. Kerangka pemikiran seorang
ilmuwan bagaimanapun rumit dan dalamnya seyogyanya mampu
dikomunikasikan dengan kata-kata yang sederhana. Angka tidak
bertujuan menggantikan kata-kata; pengukuran sekedar unsur
dalam menjelaskan persoalan yang menjadi pokok analisa
utama.

Teknik

penghalang

matematika

untuk

yang

tinggi

mengkomunikasikan

bukan

merupakan

pernyataan

yang

dikandungnya dalam kalimat-kalimat yang sederhana. Kebenaran


yang merupakan fondasi dasar dari tiap pengetahuan; apakah itu
ilmu, filsafat atau agama semuanya mempunyai karakteristik
yang sama: sederhana dan jelas; transparan bagai kristal kaca.

STATISTIKA

18

Sekitar tahun 1645, Chevalier de Mere, seorang ahli matematika amatir,


mengajukan beberapa permasalahan mengenai judi kepada seorang ahli
matematika Prancis Blaise Pascal (1623-1662). Tertarik dengan permaslahan yang
berlatar belakang teori ini dan kemudian mengadakan korespondensi dengan ahli
matematika Prancis lainnya Piere de Fermat (1601 1665 ), dan keduanya
mengembangkan cikal bakal teori peluang.
Peluang yang merupakan dasar dari teori statistika, merupakan konsep
baru yang tidak dikenal dalam pemikiran Yunani kuno, Romawi bahkan Eropa
dalam abad pertengahan. Teori mengenai kombinasi bilangan sudah terdapat
dalam aljabar yang di kembangkan sarjana muslim namun bukan dalam lingkup
teori peluang.Begitu dasar-dasar peluang ini dirumuskan maka dengan cepat
bidang telaahan ini berkembang.
Statistika

merupakan

sekumpulan

metode

dalam

memperoleh

pengetahuan untuk mengelolah dan menganalisis data dalam mengambil suatu


kesimpulan kegiatan ilmiah. Untuk dapat mengambil suatu keputusan dalam
kegiatan ilmiah diperlukan data-data, metode penelitian serta penganalisaan harus
akurat.
Yang menjadi dasar teori statistika adalah peluang. Konsep statistika
sering dikaitkan dengan distribusi variabel yang ditelaah dalam suatu populasi.
Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan
yang ditarik. Yang pada pokoknya didasarkan pada asas yang sederhana, yakni
semakin besar contoh yang diambil maka makin tinggi pula tingkat ketelitian
kesimpulan tersebut. Statistika juga memberikan kemampuan kepada kita untuk
mengetahui apakah suatu hubungan kausalitas antara dua faktor atua lebih bersifat
kebetulan atau benar-benar terkait dalam suatu hubungan yang bersifat empiris.
Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah maka statistika membantu kita untuk
melakukan generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara
lebih pasti dan bukan secara kebetulan.
Statiska bukan merupakan sekumpulan pengetahuan mengenai objek
tertentu

melainkan

merupakan

sekumpulan

metode

dalam

memperoleh

19

pengetahuan. Metode keilmuan, sejauh apa yang menyangkut metode, sebenarnya


tak lebih dari apa yang dilakukan seseorang dalam mempergunakan pikiranpikiran tanpa ada sesuatu pun yang membatasinya.
Penguasaan statistika mutlak diperlukan untuk dapat berpikir ilmiah
dengan sah sering kali dilupakan orang. Berpikir logis secara deduktif sering
sekali dikacaukan dengan berpikir logis secara induktif. Kekacauan logika inilah
yang menyebabkan kurang berkembangnya ilmu dinegara kita. Kita cenderung
untuk berpikir logis cara deduktif dan menerapkan prosedur yang sama untuk
kesimpulan induktif.
Statistika merupakan sarana berpikir yang diperluaskan untuk memproses
pengetahuan secara ilmiah. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah, maka
statistika

membantu

kita

untuk

mengeneralisasikan

dan

menyimpulkan

karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadi secara kebetulan.
Statiska Dan Berfikir Induktif
Statistika merupakan bagian dari metode keilmuan yang dipergunakan
dalam mendiskripsikan gejala dalam bentuk angka-angka, baik melalui hitungan
maupun pengukuran. Dengan statistika kita dapat melakukakn pengujian dalam
bidang keilmuan sehingga banyak masalah dan pernyataan keilmuan dapat
diselesaikan secara faktual.
Pengujian statistika adalah konsekuensi pengujian secara emperis. Karena
pengujian statistika adalah suatu proses pengumpulan fakta yang relevan dengan
rumusan hipotesis. Artinya, jika hipotesis terdukung oleh fakta-fakta emperis,
maka hipotesis itu diterima sebagai kebenaran. Sebaliknya, jika bertentangan
hipotesis itu ditolak. ...Maka, pengujian merupakan suatu proses yang diarahkan
untuk mencapai simpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat
individual. Dengan demikian berarti bahwa penarikan simpulan itu adalah
berdasarkan logika induktif.
Pengujian statistik mampu memberikan secara kuantitatif tingkat kesulitan
dari kesimpulan yang ditarik tersebut, pada pokoknya didasarkan pada asas yang

20

sangat sederhana, yakni makin besar contoh yang diambil makin tinggi pula
tingkat kesulitan kesimpulan tersebut. Sebaliknya, makin sedikit contoh yang
diambil maka makin rendah pula tingkat ketelitiannya. Karakteristik ini
memungkinkan kita untuk dapat memilih dengan seksama tingkat ketelitian yang
dibutuhkan sesuai dengan hakikat permasalahan yang dihadapi. Selain itu,
statistika juga memberikan kesempatan kepada kita untuk mengetahui apakah
suatu hubungan kesulitan antara dua faktor atau lebih bersifat kebetulan atau
memang benar-benar terkait dalam suatu hubungan yang bersifat emperis.
Pengujian statistik mengharuskan kita untuk menarik kesimpulan yang
bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Umpamanya jika kita
ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di sebuah tempat,
maka nilai tinggi rata-rata yang dimaksud merupakan sebuah kesimpulan
umum yang ditarik dalam kasus-kasus anak umur 10 tahun di tempat itu. Dalam
hal ini kita menarik kesimpulan berdasarkan logika induktif.
Logika induktif, merupakan sistem penalaran yang menelaah prinsipprinsip penyimpulan yang sah dari sejumlah hal khusus sampai pada suatu
kesimpulan umum yang bersifat boleh jadi. Logika ini sering disebut dengan
logika material, yaitu berusaha menemukan prinsip penalaran yang bergantung
kesesuaiannya dengan kenyataan. Oleh karena itu kesimpulan hanyalah
kebolehjadian, dalaam arti selama kesimpulan itu tidak ada bukti yang
menyangkalnya maka kesimpulan itu benar.
Logika induktif tidak memberikan kepastian namun sekedar tingkat
peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik suatu kesimpulan dan
kesimpulannya mungkin benar mungkin juga salah. Misalnya, jika selama bulan
November dalam beberapa tahun yang lalu hujan selalu turun, maka tidak dapat
dipastikan bahwa selama bulan November tahun ini juga akan turun
hujan. Kesimpulan yang dapat ditarik dalam hal ini hanyalah mengenai tingkat
peluang untuk hujan dalam tahun ini juga akan turun hujan. Maka kesimpulan
yang ditarik secara induktif dapat saja salah, meskipun premis yang dipakainya
adalah benar dan penalaran induktifnya adalah sah, namun dapat saja
kesimpulannya salah. Sebab logika induktif tidak memberikan kepastian namun
21

sekedar tingkat peluang.


Penarikan kesimpulan secara induktif menghadapkan kita kepada sebuah
permasalahan mengenai banyaknya kasus yang harus kita amati sampai kepada
suatu kesimpulan yang bersifat umum. Jika kita ingin mengetahui berapa tinggi
rata-rata anak umur 10 tahun di Indonesia, umpamanya, bagaimana caranya kita
mengumpulkan data sampai pada kesimpulan tersebut. Hal yang paling logis
adalah melakukan pengukuran tinggi badan terhadap seluruh anak 10 tahun di
Indonesia. Pengumpulan data seperti ini tak dapat diragukan lagi akan
memberikan kesimpulan mengenai tinggi rata-rata anak tersebut di negara kita,
tetapi kegiatan ini menghadapkan kita kepada persoalan tenaga, biaya, dan waktu
yang

cukup

banyak.

Maka

statistika

dengan

teori

dasarnya teori

peluang memberikan sebuah jalan keluar, memberikan cara untuk dapat menarik
kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari
populasi. Jadi untuk mengetahui tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di Indonesia
kita tidak melakukan pengukuran untuk seluruh anak yang berumur tersebut,
tetapi hanya mengambil sebagian anak saja.
Untuk berpikir induktif dalam bidang ilmiah yang bertitik tolak dari
sejumlah hal khusus untuk sampai pada suatu rumusan umum sebagai hukum
ilmiah, menurut Herbert L.Searles [1956], diperlukan proses penalaran sebagai
berikut :
a.

Mengumpulan fakta-fakta khusus


Metode khusus yang digunakan observasi [pengamatan] dan
eksperimen. Observasi harus dikerjakan seteliti mungkin, eksperimen terjadi
untuk membuat atau mengganti obyek yang harus dipelajari.

b.

Dalam induksi ialah perumusan hipotesis


Hipotesis merupakan dalil sementara yang diajukan berdasarkan
pengetahuan yang terkumpul sebagai petunjuk bagi peneliti lebih lanjut.
Hipotesis ilmiah harus memenuhi syarat sebagai berikut: harus dapat diuji
kebenarannya, harus terbuka dan dapat meramalkan bagi pengembangan
konsekuensinya, harus runtut dengan dalil-dalil yang dianggap benar,
hipotesisi harus dapat meenjelaskan fakta-fakta yang dipersoalkan.
22

c.

Dalam hal ini penalaran induktif ialah mengadakan verifikasi.


Hipotesis adalah sekedar perumusan dalil sementara yang harus
dibuktikan atau diterapkan terhadap fakta-fakta atau juga diperbandingkan
dengan fakta-fakta lain untuk diambil kesimpulan umum. Statistika mampu
memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik
tersebut, yakni makin banyak bahan bukti yang diambil makin tinggi pula
tingkat ketelitian kesimpulan tersebut. Demikian sebaliknya, makin sedikit
bahan bukti yang mendukungnya semakin rendah tingkat kesulitannya.
Memverifikasi adalah membuktikan bahwa hipotesis ini adalah dalil yang
sebenarnya. Ini juga mencakup generalisasi, untuk menemukan hukum atau
dalil umum, sehingga hipotesis tersebut menjadi suatu teori.

d.

Teori dan hukum ilmiah, hasil terakhir yang diharapkan dalam induksi ilmiah
adalah untuk sampai padahukum ilmiah.
Persoalan yang dihadapi oleh induksi ialah untuk sampai pada suatu
dasar yang logis bagi generalisasi dengan tidak mungkin semua hal diamati,
atau dengan kata lain untuk menentukan pembenaran yang logis bagi
penyimpulan berdasarkan beberapa hal untuk diterapkan bagi semua hal.
Maka, untuk diterapkan bagia semua hal harus merupakan suatu hukum
ilmiah yang derajatnya dengan hipotesis adalah lebih tinggi.

Karakter Berfikir Induktif


Kesimpulan yang dapat ditarik secara induktif adalah meskipun premis
yang dipakai adalah benar dan penalaran induktifnya adalah sah, namun
kesimpulannya mungkin saja salah. Logika induktif tidak memberikan kepastian
namun sekadar tingkat peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik.
Statistika merupakan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk menarik
kesimpulan secara induktif berdasarkan peluang yang ada. Dasar dari teori
statistika adalah teori peluang.
Berikut adalah pengertian dari metode berpikir induktif menurut Ahli filsafat:
induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat
umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif
dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang

23

lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri
dengan pernyataan yang bersifat umum.

PENUTUP
Dalam melaksanakan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan
sarana berpikir ilmiah yang memungkinkan seorang ilmuwan
melakukan penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Sarana
berpikir ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu
kegiatan ilmiah secara baik dalam berbagai langkah. Pada

24

langkah tertentu diperlukan sarana tertentu pula sehingga


penguasaan

sarana

berpikir

ilmiah

bagi

seorang

ilmuwan

merupakan suatu hal yang bersifat imperatif.


Sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang
berbeda

dengan

metode

ilmiah

dalam

mendapatkan

pengetahuannya. Dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah


pada dasarnya ilmu menggunakan penalaran induktif dan
deduktif, dan sarana berpikir ilmiah tidak menggunakan cara
tersebut.

Berdasarkan

pengetahuan

tersebut

perbedaan
jelas

bahwa

cara
sarana

mendapatkan
berpikir

ilmiah

bukanlah ilmu melainkan sarana ilmu, yang berupa bahasa,


logika, matematika, dan statistik. Fungsi sarana berpikir ilmiah
untuk membantu proses metode ilmiah, baik secara deduktif
maupun induktif.
Dalam penalaran ilmiah bahasa merupakan sarana umum
digunakan dalam seluruh proses berpikir ilmiah karena bahasa
merupakan

alat

berpikir

dan

alat

komunikasi

untuk

menyampaikan jalan pikiran kepada orang lain. Penalaran ilmiah


menyadarkan diri pada proses logika deduktif dan logika induktif
karena

ditinjau dari

gabungan
Matematika

antara

segi

berpikir

merupakan

pola

dipikirnya

deduktif

sarana

dan

penting

ilmu

merupakan

berpikir
berpikir

induktif.
deduktif,

sedangkan statistik mempunyai peranan penting dalam berpikir


induktif. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik didukung oleh
penguasaan berpikir dengan baik pula.

25

DAFTAR PUSTAKA
Suriasumantri, Jujun S. 2003. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar
Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan

26