Anda di halaman 1dari 36

Mutiara Balaghah




BAB I
TASHBIH1
(PENYERUPAAN)

Tashbih (menyerupakan) menurut pendapat ulama ahli Bayan adalah


adanya persekutuan (berserikatnya) dua perkara (yakni mushabbah
dan mushabbah bih) dalam suatu makna (wajah shabah) dengan
menggunakan alat (adat Tashbih) yang datang kepadamu.
A. Pengertian
1. Secara Bahasa
Tashbih merupakan cara pertama yang ditunjukkan oleh tabiat
untuk menjelaskan suatu makna. Menurut pengertian bahasa,
2

maknanya adalah
: Menggambarkan atau memisalkan.
2. Secara Istilah
Menurut ulama Ilmu Bayan, Tashbih adalah3 :

2
3

Tashbih mempunyai posisi yang istimewa dalam Ilmu Balagah, karena tashbih bisa
menjelaskan makna yang samar dan memberikan pemahaman terhadap makna yang sulit
dimengerti, dapat menambah keluhuran dan kejelasan beberapa makna, dapat
menghasilkan makna bertambah kukuh dan utama, dan menghiasinya dengan kemuliaan
serta keagungan. Jadi tashbih itu merupakan suatu macam bentuk sastra yang luas
kerangkanya, luas langkahnya, banyak isinya, bercabang-cabang ujungnya, sulit
lintasannya, samar penemuannya, halus penggunaannya dan penuh manfaatnya.
al-Hashimi, Jawa>hir al-Bala>ghah. 156.
Ibid.

Mutiara Balaghah

Menyamakan suatu hal kepada hal yang lain dalam suatu makna 4
dengan menggunakan perabot yang diketahui.5
Menurut Al-Alamah Syekh Ahmad Damanhuri dalam kitab Syarh Hilyatu
Lubbil Mashun, yang dimaksud tashbih adalah :

Petunjuk (penjelasan) menyamakan suatu hal dengan hal yang lain dalam
suatu makna dengan menggunakan perabot (adat) tashbih khusus seperti
huruf kaf, baik diungkapkan (dilafadkan atau tersurat) 6 atau dikirakirakan (tersirat)7.


Seperti ucapan anda :

: Ilmu pengetahuan






itu seperti cahaya dalam hal memberikan petunjuk.

Lafaz
adalah mushabbah (


) , yang diserupakan atau

disamakan. Dan lafaz


) , yang
adalah mushabbah bih (


diserupai. Lafaz





) , segi
adalah wajah shabah (
) adalah perabot Tashbih (

penyerupaan, dan kaf (


) ,
perabot, piranti atau sarana untuk menyerupakan.

Rukunnya (unsur/elemen) tashbih ada empat, yaitu wajah shabah, alat

Maksudnya Tashbih ialah :
















.

Menyerupakan (tashbih) adalah menunjukkan bahwa suatu hal atau beberapa hal
menyamai lainnya dalam satu sifat atau lebih, dengan menggunakan satu dari beberapa
perabot penyerupaan.
Dengan definisi di atas maka mengecualikan persekutuan dalam suatu benda.

: Zaid dan Bakar berserikat dalam satu
Contoh :




rumah . Bentuk ini tidak dinamakan tashbih

) , ka-anna (
Adat Tasbih adakalanya : Berupa huruf : kaf (

) . Dan


adakalanya berupa isim, seperti : mitslu (
) - syibhun (
) - mumatsilun (


)
( - maatsala (


. Adakalanya berupa fiil : yusybihu (

) -(
) syaabaha (
) - yuhaki(


) . Dan lafaz yang dikeluarkan darinya atau
) - yudhariu (



sinonimnya (lafad-lafad yang berbeda tetapi mempunyai makna yang sama).


Contoh adat tasbih yang dilafadkan :

. Yang dikira




kirakan :



Shekh Ahmad Damanhuri, Sharh{ H{ilyatu Lubbi al-Mas{u>n. 135.

Bab I : Tashbih

Tashbih dan dua sisinya (mushabbah dan mushabbah bih).


Rukun (elemen wajib) tashbih ada empat macam, yaitu :
1. Mushabbah (sesuatu yang diserupakan)
2. Mushabbah bih (Sesuatu yang diserupai)

)

Kedua unsur ini disebut dua sisi tashbih (

3. Wajah shabah (titik persamaan, sifat yang terdapat pada kedua pihak itu)
4. Adat tashbih (huruf atau kata yang menyatakan penyerupaan), baik
diucapkan atau tidak diucapkan.8

PASAL 1
TENTANG MUSHABBAH DAN MUSHABBAH BIH

Fasal ini menerangkan tentang kedua ujung Tashbih (mushabbah dan


mushabbah bih). Keadaan kedua ujung Tashbih ada tiga macam, yaitu :
1. Keduanya bersifat h{issi (dapat dilihat panca indra)
2. Keduanya bersifat aqli
3. Keduanya berbeda (salah satunya h{issi dan yang lainnya aqli)

Pada pasal ini terdapat beberapa pembahasan, yaitu :


A. Pembagian dua sisi Tashbih menjadi Hissi dan Aqli9
Dua ujung Tashbih, yaitu mushabbah dan mushabbah bih, adakalanya :
1. Keduanya Hissi (
) 10, artinya dapat dirasakan dengan salah


satu dari panca indra lahir. Contoh :
8
9
10

Ibid.
Jawa>hir al-Bala>ghah. 156
Perlu dimengerti bahwa dari hal yang hissi itu ada yang tidak dapat dicapai dengan
panca indra, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan, dan perabaan, namun
bisa dirasakan materinya saja dan tashbih macam ini disebut disebut dengan khayalan (

) , seperti ucapan pemyair :


Seolah-olah buih-buih yang bundar yang ada di bagian atas arak, laksana bintang-bintang
mutiara yang ada di langit permata akik
Bahwa bintang-bintang mutiara dan langit permata akik, tidak bisa dilihat dengan panca
indra. Sebab hanya berupa khayalan dan tidak nyata. Namun materinya, yaitu mutiara dan
akik, dapat ditemukan secara tersendiri.

10

Mutiara Balaghah



: Anda seperti matahari dalam

cahayanya.
Dan seperti menyerupakan pipi dengan bunga mawar.
Juga seperti ucapan penyair :

Seolah-olah bunga syaqik yang merah, tatkala condong ke bawah


atau ke atas, laksana bendera-bendera yaqut yang dikibarkan di
atas tombak-tombak dari Zabarjad.
Bahwasanya bendera, mutiara, zabarjad dan tombak, adalah
termasuk benda yang ada wujudnya (nyata). Tetapi mushabbah
(bendera yaqut, tombak zabarjad) yang materi atau bahannya dari itu
bukan merupakan barang yang wujud dan tidak bisa dilihat dengan
panca indra.

2. Keduanya Aqli (
) , artinya dapat ditemukan dengan akal.

Contoh :

: Ilmu pengetahuan itu laksana kehidupan.







: Sesat dari kebenaran itu laksana






buta.

: Kebodohan itu laksana kematian



Termasuk Tashbih Aqli suatu hal yang materinya tidak dapat diketahui
dengan salah satu dari panca indra lahir, tetapi bisa diketahui secara
akal. Masuk di dalam aqli tersebut suatu yang wahmi, yaitu suatu hal
yang materinya tidak bisa diketahui dengan salah satu dari panca indra,
tetapi seandainya dalam kenyataannya ada, maka dapat diketahui
dengannya.Tasbih macam ini disebut Tashbih Wahmi11, seperti ucapan
penyair :

Apakah mereka akan membunuhku, sedangkan pedang Musyrifi


sebagai teman berbaringku. Dan anak panah yang berwarna biru,
laksana taring-taring hantu.

11

Hal-hal yang Wijdaniyat, artinya jenis rasa dalam batin, seperti lapar, dahaga dan
semisalnya, adalah disamakan dengan aqli. Jawa>hir al-Bala>ghah hlm. 157.

11

Bab I : Tashbih

Bahwasanya taring-taring hantu bukan merupakan hal yang terwujud,


begitu juga materinya. Tetapi hanyalah sebagai khayalan.
3.

Mushabbah bersifat hissi dan mushabbah bih aqli, seperti :



: Dokter yang jahat itu laksana kematian


4. Mushabbah bersifat aqli dan mushabbah bih hissi, seperti :

: Ilmu pengetahuan itu laksana cahaya

PASAL 2
WAJAH SHABAH

Wajah shabah ialah suatu sifat (yang disengaja) untuk menyekutukan


mushabbah dan mushabbah bih pada sifat tersebut12. Wajah shabah ada
dua macam : yaitu yang berada dalam hakikat dan yang di luar hakikat.

A. Pengertian



.

Wajah shabah adalah sifat khusus yang dituju untuk menunjukkan


persamaan dua sisi Tashbih13.
Contohnya seperti sifat pemurah atau dermawan (
) dalam

contoh :
: Khalil itu (kedermawanannya) seperti Hatim.

B. Pembagian Wajah Shabah


Wajah Shabah dilihat dari hakikat dua ujung tashbih ( mushabbah dan
mushabbah bih) ada dua macam14, yaitu :
12
13
14

Wajah shabah hendaknya lebih kuat dalam mushabbah bih daripada mushabbah. Bila tidak
demikian, maka tak ada faedahnya dalam tashbih.
Jawa>hir al-Bala>ghah. 164.
Sharh{ H{ilyatu Lubbi al-Mas{u>n. 137.

12

Mutiara Balaghah

1. Wajah Shabah Dakhili


Wajah shabah yang termasuk pada hakikat mushabbah dan mushabbah


bih, seperti :
: Baju ini seperti ini; yakni



menyerupakan baju dengan baju lainnya, sebab sama-sama dari katun
dan sebagainya. Karena katun atau yang lainnya masuk pada
hakekatnya mushabbah dan mushabbah bih, bukan sifat eksternal
(amrun kharij, faktor lain) yang menetap pada keduanya.
2. Wajah Shabah Khariji
Wajah shabah yang di luar hakikat itu, yakni tidak termasuk jenis atau
bagiannya, tetapi merupakan sifat yang melekat pada keduanya.
: Zaid itu seperti harimau keberaniannya.
Seperti lafad :


Keberanian itu tidak termasuk hakikat Zaid atau harimau, melainkan
diluar keduanya, sebab keberanian itu adalah sifat yang melekat pada
pada keduanya, bukan zat (fisik).

Wajah shabah khariji terbagi menjadi dua macam, yaitu :


1. Khariji bersifat hakiki, yakni yang tampak jelas dengan panca
indra atau akal.
2. Khariji bersifat idhafi (penyandaran) atau nisbi (penisbatan).

Dari bait di atas dapat simpulkan15 bahwa :


1. Khariji bersifat hakiki itu ada dua macam, yaitu :
a. Khariji hakiki hissi, yakni setiap sifat yang dapat dirasa atau
diraba dengan panca indera, contoh : rupa, bentuk, ukuran, gerak,
suara, penciuman, suara halus atau kasar, dingin atau panas, basah,
kering, ringan atau berat dan sebagainya.
b. Khariji hakiki aqli, yakni setiap sifat yang dapat dibuktikan
dengan akal tidak dengan panca indra, contoh : kondisi, jiwa, emosi,
kecerdasan, ilmu, marah, sabar, murah hati, kikir, berani, penakut,
dan semua gharizah (bakat atau tabiat).
2. Khariji bersifat Nisbi atau idhafi, yaitu pengertian (makna) yang
berkaitan (mutaalliq) dengan dua sisi tasbih (yakni : mushabbah dan
mushabbah bih), seperti : Meniadakan penghalang (hijab) dalam
15

Ibid.

13

Bab I : Tashbih

penyerupaan hujah dengan matahari dalam persamaan terangnya.


Hujah (alasan) akan dapat menghilangkan penghalang yang merintangi
pengertian, dan matahari bisa menerangi bila tidak ada penghalang,
seperti halnya awan dan gunung. Meniadakan penghalang (hijab)
bukan merupakan sifat yang melekat pada hujjah atau matahari, tetapi
merupakan sifat yang melekat di antara keduanya (hanya ada
keterkaitan).

Wajah shabah (ditinjau dari tersusun dan tidaknya) itu dibagi tiga,
yaitu:
1. Wajah shabah mufrad (tunggal).
2. Wajah shabah muallaf atau murakkab(tersusun)
3. Wajah shabah mutaaddid (banyak).
Dan masing-masing dari tiga wajah tersebut dapat diketahui dengan hissi
dan aqli. Sedangkan Tashbih yang wajah shabah-nya menggunakan
kebalikannya (kebalikan mushabbah dan mushabbah bih) itu bertujuan
untuk memperindah perkataan atau mentertawakan.

Berdasar bait di atas, dapat disimpulkan bahwa wajah shabah ditinjau


dari tersusun dan tidaknya terbagi tiga bentuk, yaitu16 :
1. Wajah shabah mufrad (tidak tersusun)
Wajah shabah mufrad terbagi dua, yaitu :
a. Mufrad Hissi, yaitu wajah shabah tunggal yang bisa ditemukan




dengan panca indra. Contoh :






: Pakaian ini seperti pakaian ini (yang lain), sama-sama berwarna
kuning17.
b. Mufrad Aqli, maksudnya wajah shabah tunggal yang bisa ditemukan


dengan akal. Contoh :

: Ilmu






pengetahuan itu seperti cahaya dalam hal memberikan petunjuk 18.

16

17

Ibid. 138
Dalam contoh tersebut ada penyerupaan baju dengan baju lainnya dipandang dalam segi
warnanya.

14

Mutiara Balaghah

2. Wajah Shabah Muallaf atau murakkab (yakni wajah shabah yang berupa
satu bentuk/keadaan yang tersusun dalam akal dari beberapa hal)
Wajah Shabah Muallaf atau murakkab dibagi menjadi dua :
a. Wajah Shabah Muallaf atau murakkab Hissi, maksudnya wajah
shabah murakkab yang bisa ditemukan dengan panca indra. Contoh :

Bintang kejora telah tampak di waktu fajar, engkau saksikan


laksana dompolan anggur putih dalam bentuknya, yang panjang
bijinya tatkala mengembang
Menyerupakan bintang kejora pada tangkai anggur yang putih
mengembang. Wajah shabahnya ialah keadaan bentuk bintang kejora
yang beruntai keputih-putihan dari kumpulan bulatan kecil, sehingga
tampak seperti untaian anggur putih yang sedang berbunga.
b. Wajah Shabah Muallaf atau Murakkab Aqli, maksudnya wajah
shabah murakkab yang bisa ditemukan dengan akal atau anganangan.
Sebagaimana firman Allah SWT :


Perumpamaan
orang-orang
yang
dipikulkan
kepadanya
Taurat,
Kemudian
mereka
tiada
19
memikulnya adalah seperti keledai yang membawa
kitab-kitab yang tebal. (QS. al-Jumah : 5)
Wajah shabahnya ialah keletihan dan kelelahan yang dilakukannya
tidak menghasilkan manfaat yang besar. Wajah shabah dalam ayat
tersebut itu tidak secara jelas tampak nyata dilihat mata, tetapi akal
pikiran atau angan-angan sehatlah yang dapat melihatnya dengan
jelas.
3. Wajah shabah mutaaddid (yaitu lebih dari satu atau banyak).
Wajah shabah mutaaddid dibagi menjadi tiga, yaitu :

18

19

Dalam contoh tersebut ada penyerupaan ilmu dengan cahaya, yang sama-sama berfungsi
sebagai penerang. Ilmu yang menerangi akal pikiran, sedangkan cahaya menerangi sesuatu
yang bersifat lahir. Menerangi adalah hal yang bersifat aqli.
Maksudnya: tidak mengamalkan isinya, antara lain tidak
membenarkan kedatangan Muhammad s.a.w.

15

Bab I : Tashbih


a. Wajah shabah mutaaddid hissi, contoh :

: Buah ini seperti buah yang ini









di dalam warna, rasa dan baunya.
Dalam contoh di atas ada penyerupaan suatu buah dengan buah
lainnya dalam 3 (tiga) macam wajah shabah, yaitu : warna, rasa dan
baunya. Ketiga sifat itu bisa digapai indera (hissi)




b. Wajah shabah mutaaddid aqli, contoh :



: Laki-laki ini seperti laki-laki yang



ini di dalam ilmunya, bijaksananya, dan sifat pemalunya. Dalam
contoh tersebut ada penyerupaan seorang laki-laki dengan laki-laki
lainnya dalam 3 (tiga) macam wajah shabah, yaitu : ilmunya,
kebijaksanaannya, dan sifat pemalunya. Ketiga hal itu hanya bisa
tidak bisa digapai indera, hanya bisa diangankan (aqli)
c. Wajah shabah mutaaddid mukhtalifi (berbeda dari segi hissi dan




aqli), contoh :

:
Laki-laki
ini
seperti
matahari
di
dalam

ketampanan wajahnya dan kesempurnaan kemuliaannya.


Dalam contoh tersebut ada penyerupaan seorang laki-laki dengan
matahari ditinjau dari sisi kemanfaatannya kepada yang lainnya.
Yang dimaksudkan ialah, bahwa manfaat matahari tampak (hissi),
sedang manfaat laki-laki yang berilmu, tampak jelas dalam pandangan
akal sehat.
Wajah Shabah Tadha>dut (Perlawanan antara mushabbah dan
mushabbah bih)
Terkadang wajah shabah itu berupa sifat yang bertolak belakang atau
berlawanan antara mushabbah dan mushabbah bih, kemudian hal yang
berlawanan tersebut diposisikan pada posisi yang seolah-olah memiliki
keserasian, setelah itu sesuatu yang memiliki sifat berlawanan tersebut
diserupakan pada mushabbahnya. Wajah shabah semacam ini disebut dengan
Tadha>dut (saling berlawanan). Tujuannya untuk memperindah
perkataan (tamlih) atau tahakkum (menghina atau mentertawakan



mushabbah). Contoh :
: Laki-laki yang kikir ini


seperti Hatim. Dalam contoh tersebut ada penyerupaan laki-laki yang kikir
dengan Hatim yang seorang pemurah atau dermawan).

16

Mutiara Balaghah

:










Fasal
TENTANG ALAT TASBIH, FAEDAH
DAN PEMBAGIAN TASBIH

PASAL 3
BEBERAPA ALAT (PERABOT) TASBIH

dan lafadz yang



Adat Tashbih adalah huruf

-
-
menyerupainya. Hukum asal dalam adat Tashbih yang seperti kaf itu
berdampingan dengan mushabbah bih (lafad yang diserupai), untuk
selain yang menyerupai kaf itu hukumnya adalah kebalikannya (yakni
berdampingan dengan mushabbah atau lafad yang diserupakan).
Ketahuilah dan ingatlah.

A. Pengertian
Perabot Tashbih ialah : Lafaz-lafaz yang menunjukkan makna

) , lafaz Ka-anna (
menyamai, seperti huruf Kaf (

) , lafaz

17

Bab I : Tashbih


Mitslu (
) , lafaz Syib-hu (
) dan lafaz-lafaz yang lain yang






,
,
dan lafaz yang keluar dari lafaz

, atau lafaz lain yang semakna20.

dan lafaz

mempunyai makna menyamai. Seperti lafaz-lafaz :

Terkadang perabot Tashbih tersebut dibuang. Contoh :



: Pasukan telah berjalan cepat

) ,

seperti kecepatan banjir. Contoh di atas diperkirakan : (



artinya seperti cepatnya banjir.
B. Pembagian Adat Tashbih
Dalam keterkaitannya dengan lafad yang menyertainya, adat tasbih itu
ada beberapa bentuk, di antaranya 21 :
1. Berdampingan dengan mushabbah bih.
Maksudnya adalah alat Tashbih yang tidak masuk kecuali pada salah
satu unsur (rukun) Tashbih serta lafad yang dimasuki dibaca jer.
Pada asalnya perabot Tashbih yang berdampingan dengan mushabbah
bih adalah Kaf (seperti), Mitslu (seperti) dan Syibhu
(serupa/mirip), nahwu .
Keadaan perabot Tashbih yang berdampingan dengan mushabbah bih
adakalanya :
: Zaid seperti macan
a. Secara lafaz, contoh :

b. Secara takdir (kira-kira), contoh :









: Atau seperti sifatnya orang yang kehujanan. Taqdirnya



adalah



c. Berdampingan dengan selain mushabbah bih. Seperti firman Allh
SWT :



Dan
berilah
perumpamaan
kepada
mereka
(manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang
kami turunkan dari langit, Maka menjadi subur
karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi,

20
21

Jawa>hir al-Bala>ghah. 167.


Sharh{ H{ilyatu Lubbi al-Mas{u>n. 140

18

Mutiara Balaghah

Kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering


yang diterbangkan oleh angin. dan adalah Allah,
Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Kahfi :45).
Yang dimaksudkan adalah menyerupakan kehidupan
dunia yang subur dan segar pada awalnya, namun
semua itu berangsur-angsur hilang hingga musnah
pada akhirnya. Demikian itu diserupakan dengan
tumbuh-tumbuhan yang semakin baik disebabkan air,
lalu kesuburannya bertambah-tambah, namun secara
berangsur-angsur menjadi kering, lalu diterbangkan
oleh angin dan akhirnya menjadi sesuatu yang
musnah sama sekali22.
2. Berdampingan dengan mushabbah
Maksudnya adalah alat tashbih yang tidak masuk kecuali pada salah
satu unsur (rukun tashbih) serta lafad yang dimasuki tidak dibaca jer.
Seperti perabot tashbih Ka-anna23 (seolah-olah), Shaabaha (mirip),
Maatsala (menyamai) dan lafaz yang semakna, seperti ucapan
penyair :

Seolah-olah bintang kejora itu telapak tangan yang mengukur


kegelapan, untuk melihat apakah malam itu panjang, ataukah malam
itu telah terlihat.
Terkadang fiil yang mendekati makna Tashbih dinilai mencukupi,
tanpa perlu menyebutkan perabot Tashbih, tetapi tetap tidak dianggap
sebagai perabot Tashbih. Apabila fiil tersebut mengandung arti yakin,
maka berfaedah mendekatkan penyerupaan. 24
22

23

Ibid. 167.

Lafaz Ka-anna (
) artinya seolah-olah, berfaedah tashbih (menyerupakan) jika

khabarnya berupa isim jamid (kata benda/zat) , seperti :





:


Seolah-olah laut itu kaca cermin yang jernih. Dan berfaedah ragu-ragu atau syak jika
: Seakan-akan Anda itu


khabar-nya berupa isim musytaq (
) , seperti

orang yang faham. Dan seperti ucapan penyair :

Seolah-olah anda itu tersusun dari seluruh jiwa. Karena itu Anda menjadi kekasih bagi
.seluruh jiwa tersebut
24
Jawa>hir al-Bala>ghah. 167.

19

Bab I : Tashbih



Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan
yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah
mereka: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan
kepada kami". (QS.al-Ahqaf : 24).
Apabila fiil yang mengandung arti menyerupakan itu
) , maka berfaedah menjauhkan
mengandung makna keraguan (



penyerupaan. Contoh :



: Saya mengira gajah

itu adalah gunung. Atau seperti ucapan syair :

Mereka adalah kaum yang bila memakai baju besi, maka anda
mengira mereka adalah awan-awan yang dirantai di atas bulan.

PASAL 4
FAEDAH (GHAYAH) TASHBIH

Faedah atau tujuan dari Tashbih yaitu :


1. Menjelaskan keadaan sifat mushabbah
2. Menjelaskan ukuran keadaan mushabbah
3. Menjelaskan kemungkinan wujudnya mushabbah
4. Menyampaikan atau menetapkan keadaan mushabbah di hati
pendengar.
5. Menghiasi mushabbah supaya disenangi.
6. Menjelekkan mushabbah agar dibenci (tidak disukai)
7. Memperhatikan atau mementingkan mushabbah bih

20

Mutiara Balaghah

8. Mengagungkan atau memuji mushabbah


9. Memandang aneh kepada mushabbah
10. Menyangka mushabbah lebih unggul dari mushabbah bih dalam
wajah shabahnya, hal ini disebut dengan Tashbih maqlub.
Sebagian besar faedah-faedah Tashbih kembali kepada mushabbah. Faedah
tersebut adakalanya 25 :
1. Untuk menjelaskan keadaan mushabbah, yaitu ketika kondisi mushabbah
belum diketahui sifatnya sebelum dibuat Tashbih. Setelah dibuat
Tashbih, maka akan diketahui sifat tersebut.
Seperti menyerupakan selembar baju dengan baju lainnya, mengenai
rupa, kehalusan dan sebagainya, yang belum diketahui oleh lawan
bicara. Atau seperti ucapan penyair :

Tatkala ia memenuhi hajatnya, maka ia melipat


dirinya. Seolah-olah tulang-tulangnya diciptakan dari
rotan.
Penyair menyerupakan tulang-tulang perempuan yang memenuhi
hajatnya dengan rotan. Ini untuk menjelaskan keadaan tulangnya
memang lentur atau lunak.
2. Untuk menjelaskan kadar kekuatan dan kelemahan dari keadaan
mushabbah (






) , yaitu ketika keadaan
mushabbah telah diketahui sifatnya secara global sebelum dibuat
Tashbih, sedangkan Tashbih menjelaskan kadar sifat tersebut. Seperti
menyerupakan baju hitam dan burung gagak dalam hal sangat hitamnya.
Dan seperti menyerupakan air dengan es dalam hal dinginnya. Atau
seperti ucapan penyair :

Seolah-olah jalannya seorang wanita dari rumah tetangganya


laksana lewatnya segumpal awan, tiada perlahan dan tiada
terburu-buru.
Juga seperti ucapan penyair :
25

Jawa>hir al-Bala>ghah. 168-170. Lihat pula Sharh{ H{ilyatu Lubbi alMas{u>n. 140

21

Bab I : Tashbih

Di dalamnya terdapat empat puluh dua unta yang bisa


diperah susunya, yang warnanya hitam kelam seperti gagak
berwarna hitam.
Penyair menyerupakan unta-unta yang hitam dengan hitamnya burung
gagak. Ini untuk menjelaskan kadar hitamnya unta.
3. Untuk menjelaskan kemungkinan wujudnya mushabbah, dan bahwa hal


itu bisa dicapai (


) 26. Misalnya








mushabbah sesuatu yang langka wujudnya dan tidak mungkin wujud,
kemudian didatangkan tasbih sebagai petunjuk (dalil) bahwa perkara
tersebut mungkin terjadi.

Jika Kamu dapat melebihi para manusia, sedangkan


kamu adalah bagian dari mereka, maka sesungguhnya
minyak kasturi adalah sebagian dari darah kijang. 27
4. Untuk menetapkan keadaan mushabbah di hati pendengar dengan
menampakkan keadaannya yang lebih jelas di dalamnya (


26

Di samping itu juga ada faedah untuk menjelaskan mungkinnya keadaan



mushabbah (

) , yaitu ketika disandarkan kepada mushabbah sesuatu hal


yang dianggap aneh, yang keanehannya tidak bisa hilang kecuali dengan menuturkan hal
yang membandinginya. Seperti uacapan penyair :

27

Aduhai celakanya, jika ia melihat. Dan jika ia berpaling.


Jatuhnya anak panah dan mencabutnya, Adalah sangat
menyakitkan.
Penyair menyerupakan pandangan seorang wanita dengan jatuhnya anak panah, dan
menyerupakan berpalingnya dengan mencabut anak panah tersebut. Hal demikian untuk
menunjukkan kemungkinan wanita tersebut bisa menyakitkan hati dengan kedua sikapnya.
Artinya : Tidaklah aneh jika kamu dapat mengungguli para manusia, meski juga
bagian dari mereka. Sebab ada yang menyerupaimu, yaitu minyak misik (minyak kasturi),
ia bagian daripada darah kijang namun dapat melebihi seluruh darah yang lain. Pada

contoh ini terdapat penyerupaan terhadap keadaan orang yang disanjung (
)




dengan keadaan minyak kasturi (


) . Penyerupaan tersebut secara kandungan

) . Tashbih dhimni ialah : Tashbih yang didalamnya tidak
makna saja (


ditetapkan musybbah dan mushabbah bih dalam suatu bentuk tashbih dari bentuk-bentuk
yang telah dikenal. Tetapi keduanya hanya dilirik maknanya dalam susunan kalimat. Hal
itu untuk memberikan faedah bahwa hukum yang disandarkan kepada mushabbah adalah

suatu hal yang mungkin. Termasuk contoh yang lain ialah :






:


Orang mukmin itu cermin bagi orang mukmin lainnya

22

Mutiara Balaghah


) , yaitu seperti ketika





keadaan yang disandarkan kepada mushabbah membutuhkan kepada


penetapan dan penjelasan. Seperti menyerupakan orang yang tidak ada
kelebihan dalam usahanya, diserupakan dengan orang yang menulis di
atas air. Atau seperti ucapan penyair :

Sesungguhnya hati itu, bila rasa cintanya telah hilang,


laksana kaca pecahnya tak bisa ditambal.
Penyair menyerupakan hati yang telah berbalik benci dengan kaca
pecah. Tujuannya untuk menegaskan betapa sulitnya mengembalikan
hati kepada rasa senang dan rasa cinta seperti semula.
5. Untuk menghias dan memperindah mushabbah supaya disenangi, seperti
menyerupakan muka yang hitam dengan mata kijang jantan yang
biasanya disukai orang.
6. Untuk menjelekkan atau menganggap buruk terhadap mushabbah (
) , agar dibenci (tidak disukai), seperti menyerupakan





muka yang bopeng (penuh jerawat) dengan kotoran kering yang dipatuk
ayam. Atau seperti ucapan penyair lain :

Dan bila ia berisyarat sambil bicara, seolah-olah dia


itu kera yang tertawa, atau perempuan tua yang
menampar pipinya.
7. Untuk menekankan pentingnya mushabbah bih. Contohnya orang yang
sedang lapar menyerupakan muka yang bulat dan bersinar bak purnama
dengan sekeping roti. Tashbih yang demikian ini disebut juga dengan :
Badi izhhar al-mathlub (Menampakkan sesuatu yang dicari).
8. Untuk memuji, menyanjung atau menganggap baik terhadap (


) , mushabbah. Seperti menyerupakan laki-laki yang tidak

dikenal dengan laki-laki yang dikenal di tengah-tengah masyarakat. Atau
seperti uacapan penyair :

23

Bab I : Tashbih

Seolah-olah anda itu matahari, sedangkan para raja adalah


bintang-bintang. Bila matahari telah terbit, maka tidak satu
bintangpun yang tampak.
9. Untuk menganggap baik lagi baru (

) . Adakalanya mushabbah
ditampakkan dalam bentuk yang tidak mungkin secara lazimnya 28, seperti
menyerupakan arang yang di dalamnya terdapat bara yang menyala,
dengan lautan misik yang dihadapkan kepada emas.
10. Rujhan, maksudnya untuk menyangka mushabbah lebih unggul dari
mushabbah bih dalam wajah shabahnya. Hal ini disebut juga dengan
Tashbih Maqlub (penyerupaan terbalik), seperti kata syair dibawah ini :

Telah tampak waktu subuh, kecemerlangannya


laksana muka khalifah ketika menerima pujian.
Yakni : Seolah-olah muka khalifah itu lebih benderang dari
kecemerlangan cahaya subuh.

PASAL 5
PEMBAGIAN DUA UJUNG TASHBIH DENGAN
MELIHAT SEGI MUFRAD DAN MURAKKAB

Tashbih dengan memandang kedua ujungnya (mushabbah dan


mushabbah bih) dibagi empat, yang bisa diketahui dari sisi mufrad
dan murakkab

Pembagian dua ujung Tashbih, yaitu mushabbah dan mushabbah bih dengan
melihat segi Mufrad dan Murakkab itu adakalanya 29 :
1. Menyerupakan sesuatu yang Mufrad (bentuk tunggal) dengan yang
Mufrad pula. (



) .

28

Dan adakalanya karena jarangnya kehadiran mushabbah bih di dalam hati ketika
dikemukakannya mushabbah. Seperti ucapan penyair :

29

Lihatlah kepadanya, seperti sampan dari perak yang


telah dimuati oleh muatan dari ikan Anbar.
Sharh{ H{ilyatu Lubbi al-Mas{u>n. 142.

24

Mutiara Balaghah


Contoh : Menyerupakan pipi dengan bunga mawar.
:
Pipinya seperti kembang mawar. Wajah shabahnya ialah : sama-sama
menawan.
Dalam Kitab Jawa>hir al-Bala>ghah bentuk ini adakalanya 30 :
a. Keduanya bentuk mufrad yang mutlak (tanpa qoyyid), seperti :

: Cahayanya seperti matahari.




b. Keduanya muqayyad31 (


) .


Seperti :



: Orang yang

berusaha dengan hal yang tiada faedahnya, seperti orang yang


menulis di atas air.
c. Keduanya berbeda (


) .

Seperti :
: Gigi depannya seperti mutiara

yang dirangkai. Atau contoh :


: Mata yang
berwarna biru itu seperti mata tombak

Dan seperti :



: Belajar di


masa kecil seperti mengukir di atas batu.
2. Menyerupakan Mufrad dengan Murakkab (


)

Seperti ucapan syair :

Seakan-akan bunga mawar merah itu, ketika


merunduk ke bawah dan menjulang ke atas karena
ditiup angin, seperti bendera yakut yang
dibentangkan di ujung tombak batu Jamrut
(Zabarjad32)
Pada syair di atas ada penyerupakan bunga mawar dengan bendera dari
yakut yang dibentang di atas ujung tombak dari Zabarjad. Wajah
shabahnya ialah keadaan yang membuktikan suatu keindahan yang samasama elok kelihatannya.
Atau seperti ucapan al-Khansa33:
30
31

32
33

Jawa>hir al-Bala>ghah. 157.


Bentuk taqyid-nya bisa dengan idha>fah, sifat, mafu<l bih, h}a>l, zharaf
atau dengan lainnya. Dan disyaratkan dalam qayid itu hendaknya mempunyai pengaruh
dan kesan pada wajah shabah.
Zabarjad adalah batu permata yang berwarna hijau.
Seperti kata penyair lain :

25

Bab I : Tashbih

Orang yang putih bercahaya, para pemberi petunjuk


mengikutinya. Seolah-olah ia sebuah bendera yang
ada api di atasnya.
3. Menyerupakan Murakkab dengan Murakkab.
Maksudnya adalah menyerupakan sesuatu yang berbentuk susunan
kalimat dengan sesuatu yang tersusun pula. Dengan gambaran bahwa
tiap-tiap dari mushabbah dan mushabbah bih terdapat suatu sifat
(keadaan) yang merupakan hasil dari beberapa susunan yang terkumpul
sehingga menjadi satu kesatuan34. Contoh ucapan penyair :



Seakan-akan beterbangannya debu dan pedang-pedang


kita di atas kepala-kepala kita, laksana malam yang
bertebaran bintang-bintangnya.
Penyair menyerupakan beterbangannya debu dengan bintang-bintang di
berbagai kawasan yang berbeda-beda di malam hari yang gelap gulita,
dan menyerupakan pedang yang gemerlapan karena memercikkan api
dengan bintang-bintang yang berjatuhan.
4. Menyerupakan lafal Murakkab dengan Mufrad (



) . Seperti

menyerupakan siang hari yang diterangi pancaran sinar matahari yang
terang benderang, dicampuri dengan tanaman yang menghampar tumbuh
di tempat yang tinggi (mushabbah), dengan malam yang diterangi
pancaran cahaya rembulan (mushabbah bih). Wajah shabahnya ialah

34

Dan taman yang tanamannya bukan bunga mawar, ibarat


pohon yang warna bunganya merah, yang diberi tanda
dengan minyak Ambar.
Dalam Jawa>hir al-Bala>ghah diterangkan bahwa, Tasbih murakkab apabila
bagian-bagiannya dipisah, maka menjadi hilanglah yang dimaksudkan dari keadaan
mushabbah bih. Seperti susunan tashbih yang bisa dilihat dalam kata penyair berikut, di
mana penyair menyerupakan bintang-bintang yang bercahaya di tengah-tengah langit,
dengan mutiara-mutiara yang ditaburkan di atas permadani berwarna biru. Syair tersebut
adalah :

Seakan-akan bentuk bintang-bintang ketika bercahaya. laksana


mutiara-mutiara yang ditaburkan di atas permadani berwarna biru.
) ,
Sebab, kalau anda mengatakan : (



maka tashbih masih juga bisa diterima, tetapi apa yang dimaksudkan dengan keadaan
mushabbah bih telah tiada.

26

Mutiara Balaghah


sama-sama kurang terang35. Atau contoh :




: Air
yang asin itu seperti racun.

PASAL 6
PEMBAGIAN DUA UJUNG TASHBIH DENGAN
MELIHAT BILANGAN (TAADUD-NYA)

Tashbih dengan memperhatikan bilangan (Taadud-nya) dua juznya


(mushabbah dan mushabbah bih) terbagi menjadi empat, yaitu :
Tashbih malfuf, Tashbih mafruq, Tashbih taswiyah dan Tashbih
jama.

Tashbih dengan memperhatikan bilangan (Taadud-nya) dua juz-nya


(mushabbah dan mushabbah bih) terbagi menjadi empat36, yaitu :
)
1. Tashbih Malfuf (


Maksudnya mendatangkan beberapa mushabbah terlebih dahulu dengan
menggunakan huruf athaf dan sebagainya, lalu mushabbah bihnya, atau
sebaliknya. Atau bisa diartikan :

Mengumpulkan masing-masing ujung keduanya dengan semisalnya,


seperti mengumpulkan mushabbah dengan mushabbah, dan mushabbah
bih dengan mushabbah bih. Gambarannya adalah pertama kali
mengemukakan beberapa mushabbah, lalu selanjutnya menghadirkan
beberapa mushabbah bih37.
Seperti mensifati burung elang (rajawali) yang suka memangsa burungburung lain, sebagaimana dalam syair di bawah ini:

35

36
37

Menurut Shekh Saduddin at-Taftazani, bahwa tanaman dengan daun-daunnya yang


berwarna hijau itu mengurangi pancaran sinarnya sehingga menjadi kurang terang (gelap).
Lebih lanjut lihat Syekh Makhluf. H}ashiyah Makhluf. 142.
Sharh{ H{ilyatu Lubbi al-Mas{u>n. 142.
Jawa>hir al-Bala>ghah. 159.

27

Bab I : Tashbih

Hati-hati burung dalam keadaan basah dan kering di dalam


sarangnya, tampak seperti anggur dan kurma busuk.38
Penyair menyerupakan hati burung yang basah dengan anggur yang enak
dimakan, dan menyerupakan hati burung yang kering karena lapar
dengan kurma busuk yang menjijikkan.

2. Tashbih Mafruq (
)

Maksudnya mendatangkan mushabbah dan mushabbah bih, lalu
mushabbah dan mushabbah bih lain. Atau bisa diartikan :

Mengumpulkan setiap mushabbah bersama mushabbah bih39.


Seperti ucapan penyair :

Semerbak bau harum wanita itu laksana minyak


kasturi, dan wajah-wajah seperti dinar, dan jarijarinya seperti dahan pohon merah yang halus
(pohon Anam).
3. Tashbih Taswiyah40 (

)

Berbilangnya mushabbah (mushabbah-nya banyak), bukan mushabbah


bih-nya (mushabbah bih-nya hanya satu )41
Seperti ucapan syair :

Rambut kekasih yang terurai ke pelipis dan


keadaanku, keduanya laksana beberapa
malam.
38

Atau seperti ucapan penyair :

39
40

41

Waktu malam, bulan purnama dan


batang pohon, laksana rambut, wajah
dan bentuk tubuh.

Atau seperti :

: Zaid seperti bulan dan Amar seperti matahari,


atau :

: Salah seorang Zaid seperti matahari, dan seorang



lagi seperti bulan.
Ibid.
Dinamakan dengan Tasbih Taswiyah karena mempersamakan antara beberapa
mushabbah dalam susunan tasbih.
Ibid.

28

Mutiara Balaghah

4. Tashbih Jamak (
)

Berbilangnya mushabbah bih (mushabbah bih-nya banyak), bukan


mushabbah (mushabbah-nya hanya satu)42
Seperti ucapan syair :

Seolah-olah kekasih tersenyum dengan


menampakkan gigi seperti mutiara yang
dirangkai rapi, atau seperti hujan air beku atau
bunga Uqhuwan43.

PASAL 7
PEMBAGIAN TASHBIH DENGAN MELIHAT WAJAH
SHABAH

Tashbih dengan memperhatikan wajah shabah-nya ada dua,


pertama : Tashbih tamtsil, apabila wajah shabahnya diambil dari
sesuatu yang berbilangan (banyak), kedua : Tashbih ghairu tamtsil,
apabila wajah shabahnya diambil dari sesuatu yang tidak berbilangan
(banyak)

Pembagian Tashbih dengan Melihat Wajah Shabah


A. Tashbih dengan melihat wajah shabah (dari sisi Tarkib wa adamihi :
(tersusun dan tidaknya ) terbagi menjadi dua44 :

1. Tashbih Tamtsil (
) , yaitu :

Tashbih yang wajah shabahnya berupa gambaran atau sifat yang


diambil dari hal yang berbilang (banyak).

42
43

44

Ibid.
Maksud syair di atas ialah seolah-olah sang kekasih tersenyum dengan
menampakkan gigi-gigi seperti mutiara yang dirangkai, atau seperti hujan beku. Penyair
menyerupakan gigi depan sang kekasih dengan tiga macam hal, yaitu : mutiara, hujan air
beku (air yang membeku menjadi es) dan bunga Uqhuwan, yaitu bunga yang tumbuh
semerbak baunya yang dikelilingi daun putih dan tengahnya berwarna kuning.
Sharh{ H{ilyatu Lubbi al-Mas{u>n. 143. Atau Jawa>hir al-Bala>ghah. 165.

29

Bab I : Tashbih

Seperti ucapan penyair :

Tiadalah seseorang itu, kecuali seperti bulan dan


cahayanya. Ia menempati sebulan penuh, kemudian
menghilang
Pada bait di atas, wajah shabahnya adalah cepatnya binasa (

) . Penyair mengambilnya dari keadaan-keadaan cahaya bulan


yang cukup banyak. Sebab kemunculan pertama berupa bulan sabit (
) , kemudian menjadi bulan purnama ( ) , lalu berkurang, dan
selanjutnya lenyap45.
2. Tasyibih Ghairu Tamtsil (
) , yaitu :

Tashbih yang wajah shabahnya tidak berupa gambaran atau sifat


yang diambil dari hal yang berbilang (banyak).

Contohnya seperti :
: Wajahnya seperti bulan purnama.



Atau seperti :





:



Orang shalih dimasa ini laksana belerang merah. Wajah shabah
contoh di atas adalah dalam segi kelangkaannya (fil izzah) yang
tidak disebutkan46 dan hanya tersusun dari satu wajah shabah
(tunggal).47
Dan seperti ucapan penyair :

Janganlah anda mencari pangkat dengan alat


(kemampuan) yang anda miliki. Pena sastrawan
tanpa tulisan laksana alat pemintal.
Wajah shabah-nya adalah Sedikitnya faedah (

) dan
48
macam itu tidak diambil dari hal yang berbilang (banyak) .


45
46

47
48

Jawa>hir al-Bala>ghah. 166


Dari sudut pandang tidak disebutkannya wajah shabah (yaitu lafad Izzati) maka contoh ini
juga termasuk Tasbih Mujmal.
Sharh{ H{ilyatu Lubbi al-Mas{u>n. 144.
Ibid.

30

Mutiara Balaghah

Tashbih ditinjau dari wajah shabah, (dari sisi menyebutkan wajah shabah
atau tidak) juga dibagi dua, yaitu : Tashbih mujmal dan Tashbih
mufasshal. Tashbih mujmal dibagi dua : Mujmal Khafi dan Mujmal Jali.
Tashbih dengan melihat wajah shabah (dari sisi disebutkan atau tidaknya)
terbagi menjadi dua49:

1. Tashbih Mujmal (


) , yaitu :

Tashbih yang wajah shabahnya tidak disebutkan dalam rangkaiannya.




Seperti :

: Ilmu tata bahasa

dalam perkataan adalah seperti garam dalam makanan.
Atau ucapan Penyair :

Sesungguhnya dunia itu seperti rumah yang


tenunannya terbuat dari sarang laba-laba.
Tashbih Mujmal dibagi menjadi dua50, yaitu :
a. Tashbih Mujmal Khafi (samar-samar).
Adalah Tashbih yang wajah shabahnya tidak disebutkan dalam
rangkaiannya dan wajah shabahnya sulit dipahami, kecuali oleh
orang yang cerdik (khusus).

Seperti ucapan sebagian ulama :






: Mereka (para putra khalifah) derajatnya seperti seuntai
kalung yang direndam, yang tidak diketahui manakah ujungnya
(Maksudnya tidak diketahui sisi atas atau bawahnya) 51.
b. Tashbih Mujmal Jali.
Adalah Tashbih yang wajah shabahnya tidak disebutkan dalam
rangkaiannya dan wajah shabahnya mudah dimengerti setiap orang.
: Zaid seperti singa (dalam keberaniannya).
Seperti :



2. Tashbih Mufashal (
) , yaitu :

Tashbih yang wajah shabahnya disebutkan dalam rangkaiannya.


Seperti ucapan penyair :

49
50
51

Ibid.
Sharh{ H{ilyatu Lubbi al-Mas{u>n. 144.
Maksudnya para putra khalifah, kemuliaannya sejajar dengan untaian kalung yang
susunan (rangkaian) juz-juznya sangat serasi.

31

Bab I : Tashbih

Gusinya (gigi seri) sang kekasih dan


air mataku laksana mutiara di dalam
beningnya.52
Atau seperti contoh53 :
:Watak Farid laksana
a.



angin sepoi-sepoi (dalam segi kehalusannya)
b.



: Dan tangannya seperti
lautan (dalam segi kedermawanannya).

c.




: Dan perkataannya seperti
mutiara (dalam segi kebaikannya) 54.

Dan sebagian dari Tashbih, dengan memperhatikan wajah shabahnya


juga terbagi dua, yaitu : Tashbih qorib, ialah Tashbih yang jelas
wajah shabah-nya, dan kebalikannya dinamakan Tashbih gharib
ialah Tashbih yang tidak jelas wajah shabah-nya)

B. Tashbih dengan melihat wajah shabah (dari sisi jelas dan tidaknya)
terbagi menjadi dua55:
1. Tashbih Qarib56 (
) , yaitu :

52
53

54

Ibid.
Ibid. 166.
Dan juga ucapan Ibnu Ruumy :

55

56

Dialah orang yang menyerupai bulan purnama, kebaikan, cahaya dan


pemberiannya, dan menyerupai dahan kelunakannya, kekuatan dan
kelurusannya.
Sharh{ H{ilyatu Lubbi al-Mas{u>n. 144. Atau Jawa>hir alBala>ghah. 166.
Dalam istilah Kitab Jawa>hir al-Bala>ghah dan Sharh{ H{ilyatu Lubbi alMas{u>n disebut Tashbih Qarib Mubtadzal

32

Mutiara Balaghah

Tashbih yang mana berpindahnya hati dari mushabbah ke mushabbah


bih dalam rangkaiannya tidak membutuhkan kepada beratnya
berpikir, karena wajah shabah-nya telah tampak jelas sejak semula.
Contohnya seperti menyerupakan pipi dengan bunga mawar dalam
hal kemerah-merahannya ,
: Pipinya seperti bunga
mawar. Atau seperti menyerupakan wajah dengan bulan purnama

dalam hal bercahaya dan bundarnya,
: Wajahnya

seperti bulan purnama.
2. Tashbih Gharib57 (
) , yaitu :

Tashbih yang dalam berpindahnya hati dari mushabbah ke


mushabbah bih membutuhkan pemikiran dan kehalusan pikiran,
karena wajah shabah-nya memang samar (tidak tampak jelas) dalam
permulaan pemikiran.
Seperti ucapan penyair :

Sang mentari itu bagaikan cermin yang berada di telapak


tangan orang yang lumpuh, sebagaimana engkau melihatnya
tampak di atas gunung.
Menurut Syekh Saduddin al-Jurjani, mushabbah bih pada contoh di
atas yang berupa cermin di telapak tangan orang yang lumpuh, sangat
jauh dari angan-angan (fikru), di mana mushabbah bih untuk dipindah
ke hati tidak bisa segera difaham karena langkanya mushabbah bih
(nudrah).
Wajah shabah dalam contoh di atas adalah keadaan yang dicapai
berupa bentuk bundar dan bercahaya, gerakan yang cepat disertai
bergeraknya cahaya, bergerak-geraknya cahaya yang tidak menentu
karena gerakan kaca tersebut, sehingga anda dapat melihat cahaya
seolah-olah sengaja berkembang sehingga memenuhi sisi-sisi bundaran,
kemudian tampak lagi cahaya, lalu kembali suram.
Apabila kita berpikir tentang keadaan matahari ketika terbit maka
keadaannya tidak ubahnya cermin yang dipegang oleh tangan orang
yang lumpuh dalam semua keterangan yang telah disebutkan di atas.
57

Biasa juga disebut Tashbih Baid Gharib.

33

Bab I : Tashbih

Dari gambaran di atas, sulit mencari wajah shabahnya, sebab banyak


tafshil-nya 58.




"


"

(Ketidak jelasan wajah shabah-nya) disebabkan banyaknya perincian


(tafshil) atau karena jarang ditemukan di dalam hati (pikiran), seperti
murakkab aqli.

Faktor-faktor sulitnya mengetahui wajah shabah.


Faktor-faktor sulitnya mengetahui wajah shabah disebabkan beberapa hal 59,
di antaranya adalah :
1. Banyaknya perincian ( Tafshil).
Contohnya menyerupakan matahari dengan cermin yang berada di tangan
orang yang lumpuh. Seperti keterangan di atas.
2. Langkanya (jarangnya) wujudnya mushabbah bih di dalam hati.
Hal ini disebabkan tiga faktor, yaitu :
a. Mushabbah bihnya bersifat wahmi.
Mushabbah bih yang materinya tidak dapat diketahui dengan salah
satu dari panca indra lahir, tetapi bisa diketahui secara akal. Tetapi
seandainya dalam kenyataannya ada, maka dapat diketahui
dengannya.
Seperti ucapan penyair :

Apakah dia akan membunuhku, sedangkan pedang


Musyrifi (Yaman) sebagai teman berbaringku. Dan anak
panah yang berwarna biru, laksana taring-taring hantu.

Bahwasanya taring-taring hantu bukan merupakan hal yang


terwujud, begitu juga materinya. Tetapi hanyalah sebagai anganangan.
b. Mushabbah bihnya bersifat Murakkab Khayali
Mushabbah bih merupakan suatu hal yang tidak dapat didapat atau
dicapai dengan panca indra, yaitu : penglihatan, pendengaran,
58
59

Syekh Makhluf. Makhluf. 144.


Sharh{ H{ilyatu Lubbi al-Mas{u>n. 144.

34

Mutiara Balaghah

penciuman, perasaan, dan perabaan, namun bisa diketahui materinya


saja.
Seperti ucapan penyair :

Seolah-olah bunga mawar yang merah, tatkala condong ke


bawah atau ke atas, laksana bendera-bendera mutiara yang
dikibarkan di atas tombak-tombak dar Zabarjad.
Bahwasanya bendera, mutiara, zabarjad dan tombak-tombak, adalah
termasuk benda yang ada wujudnya. Tetapi penyerupaan yang materi
atau bahannya dari itu bukan merupakan barang yang wujud dan
tidak bisa dilihat dengan panca indra.
c. Wajah Shabah Muallaf atau Murakkab Aqli.
Maksudnya wajah shabah murakkab (tersusun) yang bisa ditemukan
dengan akal.
Sebagaimana firman Allah SWT :


Perumpamaan
orang-orang
yang
dipikulkan
kepadanya
Taurat,
kemudian
mereka
tiada
memikulnya adalah seperti keledai yang membawa
kitab-kitab yang tebal. (QS. al-Jumah : 5)
Wajah shabahnya ialah, keletihan dan kelelahan yang dilakukannya
tidak menghasilkan manfaat yang besar. Wajah shabah dalam ayat
tersebut itu tidak secara jelas tampak nyata dilihat mata, tetapi akal
pikiran atau angan-angan sehatlah yang dapat melihatnya dengan
jelas.

PASAL 8
PEMBAGIAN TASHBIH DENGAN MELIHAT PERABOT
(ADAT-NYA)

35

Bab I : Tashbih

Tashbih dengan memandang alat Tashbih dibagi dua, yaitu : Tashbih


muakkad, bila membuang alat Tashbih dan Tashbih mursal, bila tidak
membuang alat tasbih (menyebutkannya).

A. Tashbih dengan melihat perabot )adat)-nya (dari sisi disebutkan atau


tidaknya adat Tashbih) terbagi menjadi dua macam 60, yaitu :
) , yaitu :
1. Tashbih Muakkad (


Tashbih yang dibuang perabot atau adat-nya.

Contoh :
: Zaid seperti harimau61.

) 62, yaitu :
2. Tashbih Mursal (


Tashbih yang di dalamnya masih menyebutkan perabotnya.


Dinamakan Tashbih mursal, karena dilepaskan dari makna takid atau
pengukuhan, dengan menyebutkan adat tasbih yang pada dhahir-nya
menunjukkan bahwa mushabbah bukanlah mushabbah bih (dua hal
yang berbeda).
Seperti ucapan penyair :

Sesungguhnya dunia itu seperti rumah yang


tenunannya terbuat dari sarang laba-laba.
60

61

Sharh{ H{ilyatu Lubbi al-Mas{u>n. 145.


Atau seperti contoh ucapan penyair :

62

Anda laksana bintang, dalam keluhuran dan cahayanya. Beberapa mata menjadi
terang, terhadap anda, Di sebelah timur dan baratnya.

Dalam Jawa>hir al-Bala>ghah. Hal. 168 ditambah Tashbih Baligh (

) , yaitu :

Tashbih yang perabot serta wajah shabahnya dibuang. Seperti ucapan penyair :

Selesaikanlah hajat-hajat kalian dengan segera, sesungguhnya usia


kalian, (laksana) bepergian dari beberapa bepergian.
Termasuk contoh dari tashbih baligh ialah masdar yang menjelaskan macam (


: Ia telah





) yang di mudhaf-kan, seperti :


menipu seperti tipuan seekor kancil.
Termasuk tashbih baligh ialah diidhafah-kannya mushabbah bih kepada mushabbah.
Contoh :



: Fulan menggunakan kesehatan seperti halnya
pakaian.

36

Mutiara Balaghah

Termasuk contoh dari Tashbih Muakkad ialah tashbih yang mushabbah


bihnya diidhafah-kan kepada mushabbah63. Seperti ucapan penyair :

Angin itu bermain-main dengan beberapa dahan pohon.


Sedangkan sore hari yang seperti emas telah berlalu di atas air
seperti perak.




Perkiraan syair di atas ialah :




Sebagian dari Tashbih, yaitu Tashbih maqbul, bila memenuhi tujuan


Tashbih dan Tashbih mardud, yang merupakan kebalikannya Tashbih
maqbul (bila tidak menuhi tujuan Tashbih)
B. Pembagian Tashbih dengan Melihat Tujuannya
Tashbih dengan melihat tujuannya terbagi menjadi dua64, yaitu :

1. Tashbih Hasan Maqbul (

)


Tashbih yang telah dapat memenuhi tujuan-tujuan yang telah


disebutkan terdahulu.
Keadaan telah dapat memenuhi tersebut adakalanya65 :
a. Mushabbah bih lebih dikenal daripada mushabbah dalam
hubungannya pada wajah shabah jika tujuannya untuk
menjelaskan keadaan mushabbah, atau menjelaskan kadarnya.
b. Mushabbah bih merupakan sesuatu yang lebih sempurna pada
wajah shabah, jika dimaksudkan untuk menyamakan hal yang
bernilai kurang dengan hal yang bernilai sempurna.
c. Atau keadaan mushabbah bih di dalam menjelaskan
kemungkinan wujud bisa diterima ketetapannya dan diketahui
oleh mukhathab, jika tujuannya menjelaskan kemungkinan
sesuatu yang wujud.

63
64

65

Jawa>hir al-Bala>ghah. 166.


Sharh{ H{ilyatu Lubbi al-Mas{u>n.
Bala>ghah. 171.
Ibid.

37

145.

Atau

Jawa>hir

al-

Bab I : Tashbih

Dan inilah yang lebih banyak dalam beberapa macam Tashbih.


Sebab yang demikian itu berlaku sesuai dengan keindahan, dan
berjalan sesuai dengan kehalusan dan kesempurnaan.
2. Tashbih Qabih Mardud (
)

Tashbih yang tidak memenuhi tujuan yang diharapkan, karena tidak


adanya wajah shabah yang menghubungkan antara mushabbah dan
mushabbah bih, atau ada wajah shabahnya tetapi jauh.
: Zaid seperti harimau dalam segi
Contoh :





baunya tidak enak.
Menyerupakan orang dengan harimau karena sama-sama baunya
tidak enak dianggap penyerupaan yang jauh.
Segi Kesempurnaan Bentuk Tashbih

Tashbih yang yang paling Balaghah (memiliki nilai sastra Arab) adalah
Tashbih yang dibuang wajah shabah dan alat Tashbih-nya.

Pada uraian ini akan dikemukakan tentang segi kesempurnaan bentuk


Tashbih dan sebagian daripadanya yang telah diambil dari orang Arab dan
para sastrawan baru. Segi kesempurnaan bentuk Tashbih itu muncul dari
kenyataan bahwa Tashbih itu membawa anda berpindah dari keadaan sesuatu
menuju sesuatu yang lain yang baru dan indah yang menyerupainya. Atau
memindahkan kepada suatu gambaran yang baik yang menyamainya. Setiap
kali perpindahan itu cukup jauh dan sedikit tergores dalam hati, atau
bercampur dengan khayalan sedikit atau banyak, maka bentuk Tashbih akan
lebih mengherankan hati dan lebih menarik kekagumannya.66
66


Apabila anda mengucapkan :
: Si Fulan



menyerupai Fulan dalam ketinggian tubuhnya. Atau anda mengatakan :


: Bumi itu menyerupai bola dalam bentuknya.



Maka dalam bentuk tashbih macam itu tidak ada kesan dalam nilai sastra yang sempurna.
Sebab segi penyerupaannya amat jelas dan tidak memerlukan untuk melihat kepada
keindahan dan upaya sastra. Di samping itu memang kosong dari khayalan. Tashbih
macam ini bertujuan untuk menjelaskan dan mendekatkan serta memudahkan pemahaman.
Ini yang terbanyak dipakai dalam ilmu pengetahuan dan kesenian.
Termasuk macam bentuk tashbih yang indah ialah ucapan penyair al-Mutanabbi :

38

Mutiara Balaghah

Segi kesempurnaan tashbih dari bentuk susunan kalimat berbeda-beda


tingkatannya 67.
A. Tashbih yang paling tinggi nilai sastranya 68 (Balaghah-nya).
1. Tashbih yang membuang wajah shabah dan adat tasbih-nya.

Contoh :
: Zaid itu harimau.
2. Tashbih yang membuang wajah shabah dan adat tasbih serta
mushabbah-nya.

Contoh :
: Harimau. (Yang menempati mengkhabarkan Zaid)
B. Tashbih tengah-tengah nilai sastranya 69 (Balaghah-nya).
1. Tashbih yang membuang wajah shabah
: Zaid seperti harimau
Contoh :


2. Tashbih yang membuang adat tasybih


Contoh :




: Zaid itu harimau, sama
dalam keberaniannya
3. Tashbih yang membuang wajah shabah serta mushabbah-nya
: Laksana harimau (ketika memberikan khabar
Contoh :


Zaid)
4. Tashbih yang membuang adat tasbih serta mushabbah-nya


Contoh :




: Harimau dalam keberaniannya.
(Ketika mengkhabarkan Zaid)
C. Tashbih yang paling rendah nilai sastranya 70 (Balaghah-nya).

67

68

69

70

Semoga aku binasa seperti kebinasaan puing-puing rumah. Jikalau aku tidak
berdiri padanya. Seperti berdirinya orang yang kikir, yang kehilangan cincinnya
di tanah berdebu.
Penyair mendoakan dirinya dengan kebinasaan ketika ia tidak berdiri melihat puing-puing
rumah. Ia bermaksud mengingatkan keadaan orang yang ada ketika itu, kemudian ia ingin
menggambarkan keadaan berdirinya, lalu ia mengatakan : Seperti berdirinya orang kikir
yang kehilangan cincinnya di tanah berdebu. Ia menyerupakan orang yang lupa, bingung,
sedih, menundukkan kepalanya, dan melakukan perbuatan berpindah dari satu tempat ke
tempat lain dalam kegundahan dan kebingungan, diserupakan dengan keadaan orang kikir
yang kehilangan cincin berharga di tanah berdebu . Lihat Jawa>hir al-Bala>ghah.
171.
Sharh{ H{ilyatu Lubbi al-Mas{u>n. 145.
) . Sebab
Yang paling sempurna adalah tashbih baligh (


didasarkan pada pengakuan bahwasanya mushabbah dan mushabbah bih itu merupakan
sesuatu yang tunggal (satu kesatuan). Demikianlah yang perlu dimengerti dengan cermat.
Karena dengan membuang salah satu dari dua hal, yaitu perabot tashbih atau wajah
shabahnya saja, maka naiklah derajat tashbih tersebut dan bisa menguatkan untuk
menyatukan mushabbah dan mushabbah bih.
Bentuk tashbih yang paling rendah tingkatannya dalam kesempurnaannya ialah
tashbih yang rukun-rukunnya secara keseluruhan disebutkan semuanya. Sebab

39

Bab I : Tashbih

1. Tashbih yang menyebutkan wajah shabah dan adat tasbih-nya serta


mushabbah-nya.
: Zaid seperti harimau

Contoh :






dalam keberaniannya.
2. Tashbih yang menyebutkan wajah shabah dan adat tasbih-nya tanpa
mushabbah-nya.
: Seperti harimau dalam

Contoh :







keberaniannya. (ketika mengkhabarkan Zaid)
Bentuk-bentuk lafadz Tashbih71.
Orang Arab dan Sastrawan moderen telah memilih bentuk-bentuk
tashbih sebagai berikut :
1. Orang dermawan (
) .
) diserupakan dengan laut dan hujan (

) diserupakan dengan harimau (


2. Pemberani (


)

3. Wajah yang tampan (







) diserupakan dengan matahari (

)
) dan bulan (





4. Keberanian yang menembus segala hal (





)
) diserupakan dengan pedang (

5. Orang yang luhur kedudukannya (



) diserupakan


dengan bintang (
)

6. Orang yang penyantun dan tetap pendiriannya (
)




diserupakan dengan gunung (
)

7. Lamunan-lamunan yang kosong (

) diserupakan

dengan impian-impian (
)

8. Muka yang bercahaya (




) diserupakan dengan dinar (


) diserupakan dengan malam (
9. Rambut yang hitam (



)

10. Air yang jernih (



)

) diserupakan dengan perak (

) diserupakan dengan gelombang laut (


11. Waktu malam (

71

kesempurnaan tashbih itu didasarkan atas diakuinya mushabbah itu sebagai keadaan dari
mushabbah bih. Sedangkan wujudnya perabot tashbih dan wajah shabah secara bersamaan,
adalah menghalang-halangi pengakuan tersebut.
Jawa>hir al-Bala>ghah. 175-176.

40

Mutiara Balaghah

12. Bala tentara (


) diserupakan dengan laut yang pasang (


13. Kuda yang cepat larinya (
) diserupakan dengan angin (
)
dan kilat (
)
14. Bintang-bintang (
) diserupakan dengan mutiara (


) dan
bunga (
)
15. Gigi yang putih (

) diserupakan dengan hujan es gunung besar


)
atau intan (

16. Perahu-perahu besar (
) diserupakan dengan gunung-gunung


besar (
)

17. Saluran-saluran air (

) diserupakan dengan ular-ular yang

melilit (

)



) diserupakan dengan siang hari (
18. Rambut uban (

)
19. Mengkilapnya pedang dan belang putih di dahi kuda (




-) diserupakan dengan bulan sabit (




)
20. Penakut atau pengecut (

) diserupakan dengan burung Suari (
21.
22.
23.
24.
25.
26.


)
) dan lalat (

Orang yang keji (

)
) diserupakan dengan musang (

Orang yang kurang akal (


) diserupakan dengan kupu-kupu (
)


) diserupakan dengan pasak (paku) (
Orang yang hina (
)
) diserupakan dengan besi (
Orang yang keras hati (


)
dan batu besar (

)

Orang yang bodoh ( ) diserupakan dengan keledai (
)


Orang yang kikir (
) diserupakan dengan tanah yang tidak subur
(




)

Di samping itu tokoh-tokoh bangsa Arab telah dikenal dengan tingkah


lakunya yang terpuji, kemudian sebutan-sebutan di atas menjadi nama diri
(Alam). Dengan demikian berlakulah Tashbih pada mereka itu. Maka orang
yang selalu menepati janji (

) diserupakan dengan al-Samaual (

) .72 Orang yang dermawan (





) diserupakan dengan Hatim
72

Dia adalah As-Samual bin Hayyan al-Yahudi. Dia dijadikan oleh pepatah dalam hal
penepatan janji. Ia termasuk penyair Jahiliyah, meninggal tahun tahun 62 H.

41

Bab I : Tashbih


(
) 73,
) . Orang yang adil (
) diserupakan dengan Umar (


orang yang penyantun (

) diserupakan dengan Al-Ahnaf (
) 74

) diserupakan dengan Sahban (
orang yang fasih (




) , orang
75

yang ahli pidato (


) diserupakan dengan Qass ( (


) diserupakan dengan Amr bin Madi Kariba
Orang pemberani (


(
) . Orang yang bijaksana (



) , diserupakan





) 76, orang yang cerdik (
dengan Luqman (


) diserupakan
dengan Iyas (
) .
Sementara itu orang-orang yang lain terkenal dengan sifat-sifat tercela,
kemudian berlakulah Tashbih dengan mereka itu. Dalam hal ini orang yang


susah bicara (
) diserupakan dengan Baaqil (
) 77, orang yang


dungu (

) diserupakan dengan Habannaqah (
) 78, orang yang

79
menyesal (

) diserupakan dengan Al-Kusai (
) , orang

80

yang kikir (
) diserupakan dengan Maadir : (
) , orang yang

mengejek (


) 81 dan
) diserupakan dengan Huthayuah (
73

74

75

76
77

78

79

80

81

Dia Amirul Mukminin, khalifah kaum Muslimin dan salah seorang pendahulu yang
masuk islam. Ia terkenal keadilannya, kerendahan hatinya dan zuhudnya. Dan Allah
sungguh telah memenangkan Islam melalui dia.
Dia adalah Ahnaf bin Qais, pemimpin para tabiin. Dia seorang pemberani.
Penyantun dan dihormati kaumnya. Jika ia marah, 100.000 pedagang tiada yang berani
bertanya mengapa ia marah. Wafat tahun 67 H.
Dia adalah Quss bin Saidah Al-Ayaadi, seorang orator Arab. Dia dijadikan perumpamaan
dalam kefasihan dan kebijaksanaan.
Dia seorang bijak bestari yang terkenal ucapan dan perbuatannya yang terpuji.
Dia seorang yang susah bicara. Pada suatu saat ia membeli seekor kijang seharga 11
dirham. Ia ditanya tentang harganya, lalu ia mengulurkan jari-jari telapak tangannya yang
bermaksud menghitung bilangan 10, dan ia mengeluarkan lidahnya untuk
menyempurnakan bilangan menjadi 11, tiba-tiba kijangnya lari. Dengan demikian dia
dijadikan perumpamaan dalam hal kesulitan bicara.
Ia bergelar Abul Wadaat, Yazib bin Tsarwan Al-Qaisi. Dia dijadikan perumpamaan
dalam kedunguan.
Ia adalah Ghamid bin Harits. Pada suatu saat ia pergi berburu dengan 5 buah anak
panah, ia mendapatkan lima ekor keledai. Pada saat itu ia mengira bahwa setiap kali
memanah ia luput. Maka ia marah dan mematahkan busurnya. Setelah pagi hari, ia
melihat keledai tergeletak sedangkan anak panahpun berlumuran darah. Maka ia menyesal
karena mematahkan busurnya itu dan menggigit ibu jarinya hingga terputus.
Merupakan julukan seseorang dari Bani Hilal, sedangkan nama dirinya adalah
Mukhariq. Ia terkenal kikir dan keji.
Seorang penyair Muhadhram, ia dikenal sebagai pengejek berat. Hampir tak
seorang pun selamat dari ejekannya. Ia mengejek ibunya, ayahnya dan dirinya sendiri. Ia
mempunyai koleksi syair (Diwan Syair). Wafat pada tahun 30 H.

42

Mutiara Balaghah

) diserupakan dengan Al-Hajjaj (


orang yang keras hati (


) 82.

82

Dia adalah Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi, seorang gubernur di Iraq dan Khurasan
(Iran) dibawah pemerintahan Abdul Marwan. Kemudian di bawah pemerintahan Walid.
Dia termasuk salah seorang penguasa Arab. Ia mempunyai keanehan dalam hal hukuman
dan pembunuhan yang tidak pernah didengar semisalnya. Wafat di kota Wasith pada tahun
97 H. Lihat al-Balaghatu al-Wadhihah.

43