Anda di halaman 1dari 31

DASAR

PSIKOFARMAKOLOGI

anisa

Sejarah Psikofarmakologi
Pada

awalnya psikofarmakologi dikenal


dengan istilah Pharmacopsychologie,
yaitu pada th 1883 dimana Kraepelin
melakukan percobaan di Laboratorium
dengan menggunakan alkohol dan kafein.
Th 1931, W. Freeman menulis jurnal
tentang psychochemistry.
Th 1935 menulis paper yg mirip dengan
konsep modern sekarang yg berjudul
Psychopharmacology Of Sodium amytal
in Catatonia.


Istilah

Psychopharmacology baru
digunakan secara umum dalam publikasi
pada th 1960 oleh Ross and Cole dalam
paper mereka yg berjudul
Psychopharmacology.
Th 1920 D.Macht pertamakali
menggunakan istilah penuh
psychopharmacology seorang
farmakologist yg menjelaskan perbedaan
antara psychopharmacotherapy dgn
psychopharmacology.

Pendahuluan
Psychopharmacology

adalah ilmu
yg mempelajari tentang
pemakaian obat dalam
mengatasi gangguan mental.
Seorang ahli harus memahami
tentang prinsip farmakokinetik
(apa yg dilakukan tubuh terhadap
obat) dan farmakodinamik (apa
yg dilakukan obat terhadap
tubuh).


Obat

psikoterapi bekerja dengan


mengontrol gejala.
Psikofarmakologis klinis
utamanya terfokus pada
penggunaan obat obatan untuk
mengatasi tingkah laku abnormal
pada manusia.

Aksi Farmakokinetik Obat


Yaitu menggambarkan Apa yang
dilakukan tubuh terhadap obat.
Meliputi ;
- Absorpsi
- Distribusi
- Metabolisme
- Ekskresi

Distribusi &Bioavailabilitas
Obat
Distribusi

obat di otak ditentukan oleh ;


- Aliran darah otak
- Sawar darah otak
- Afinitas obat terhadap Reseptornya

Semakin aliran darah otak, semakin


kelarutan obat dalam lemak & semakin
afinitas Reseptor semakin bagus
efek aksi terapetik obat tersebu

Metabolisme & Eksresi


Metabolisme

biasanya
menghasilkan metabolik yang
inaktif yang siap untuk di
ekskresi.
Hati tempat metabolisme
utama
Empedu, feses, urine jalur
ekskresi utama
Obat Psikotropik juga diekskresi
keringat, air liur, air mata &

...
Ada

4 parameter penting yg berkaitan


dgn metabolisme & ekskresi obat yaitu ;
1. Waktu untuk mencapai konsentrasi
plasma puncak.
2. Waktu paruh obat
jumlah waktu yg diperlukan u/
metabolisme & ekskresi hingga
mengurangi konsentrasi partikel obat
dalam plasma menjadi setengah.

...
3. First-past effect (metabolisme
prasistemik)
metab.awal dari pemakaian
obat oral yg memasuki sirkulasi
portal dalam hati &
menggambarkan fraksi obat yg
diabsopsi yg mencapai sirkulasi
sistemik.
4. Clearance

Aksi Farmakodinamik Obat


Yaitu

menggambarkan apa yang


dilakukan obat terhadap tubuh

Meliputi

;
- Aksi molekuler obat
- Kurva Dosis-Respons
- Indeks terapetik
- Toleransi, ketergantungan dan
withdrawal symtoms

Konsep Dasar Farmakologi


Site

of action : lokasi dalam


tubuh dimana obat
mengeluarkan efek
terapeutiknya.
Mechanism of action :
menjelaskan bagaimana obat
menghasilkan efeknya.

Konsep Biologi
Kebanyakan

obat dalam
psikofarmakologi mempengaruhi
manusia dengan mempengaruhi
komunikasi antar neuron dalam
otak.
Untuk mengerti efek ini, harus
dipahami tentang sel membran
dan struktur protein khusus pd
membran yg mengatur aliran
substansi dan informasi dalam
dan keluar sel.


Memahami

ttg bagaimana
regulasi ini dapat menghasilkan
sinyal listrik yg melewati neuron.
Bagaimana sinyal listrik dapat
dikirim diantara neuron pada
sinaps.
Dimana neurotransmitter
dilepaskan dari satu sel untuk
mempengaruhi reseptor pada sel
lainnya.

Lobus Otak
Lobus

Frontal : pikiran, gerakan


tubuh,ingatan, emosi,moral.
Lobus Parietal : rasa, sentuhan,
orientasi
Lobus Temporal : penciuman,
pendengaran, ingatan, ekspresi
emosional
Lobus Occipital : bahasa,
interpretasi visual
Merupakan lobus lobus pada

Neurotransmitter
Merupakan

substansi kimiawi yg
dihassilkan dalam neuron u/ membantu
transmisi informasi.
Dibutuhkan dalam prporsi tepat untuk
menerima dan melewatkan informasi
(relay).
Major neurotransmitter memegang
peranan dalam penyakit mental.
Major neurotransmitter memegang
peranan dalam aksi dan efek samping
dari obat obat psikotropik.

Obat - Obat
Neurotransmitter
Dopamin

: mengontrol prgerakan
kompleks,motivasi, kognisi,
mengatur respon emosional.
Norepinephrin : perhatian,
belajar, memori,tidur, kesadaran.
Epinephrin : respon berjuang
Serotonin : makan, tidur, bangun,
regulasi suhu, kontrol nyeri,
seksual, regulasi emosi.


Histamin

: kewaspadaan, kontrol
sekresi lambung,stimulasi jantung,
respon alergi perifer.
Asetilkolin : siklus tidur dan bangun,
sinyal otot untuk menjadi waspada.
Glutamat : meningkatkan memori dan
pembelajaran.
GABA : memodulasi neurotransmitter
lainnya, mngakibatkan neurotoksisitas
bila kadarnya terlalu berlebihan.

Prinsip Psikofarmakologi
Prinsip
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

yg memandu pemakaian obat :


efek pada simptom target
Dosis adequat u/ waktu yg cukup
Dosis paling rendah dibutuhkan u/
maintenance
Dosis yg lebihrendah u/ pasien yg lebih muda
Tapering u/ mencegah rebound atau
withdrawal
Follow up
Penyederhanaan regimen u/ meningkatkan
komplians.

Klasifikasi
Psikofarmakologi

secara garis
besar dibagi atas 4 kategori,
yaitu :
a. Obat antipsikotik
b. Obat anti depresan
c. Obat anti mania (mood
stabilizer)
d. Obat anti anxietas

Mekanisme
Mekanisme

bagaimana obat psikotropik


menhasilakn efek terapeutik masih kurang
diapahami.
Penjelasan standar terfokus pada cara obat2an
tsb merubah konsentrasi sinaptik dari dopamin,
serotonin, norepinephrin, GABA atau asetilkolin.
Perubahan ini dikatakan akibat dari antagonist
atau agonist, terlibat dengan reuptake
neurotransmitter, pelepasan neurotransmitter
yg besar, atau inhibisi enzym.
Beberapa obattertentu terkait dengan
pengaturan atau kombinasi dari aksi aksi ini.

Index Terapi
Suatu

ukuran relatif dari


toksisitas atau keamanan obat.
Rasio antara median dosis toksik
dan median dosis efektif.

Overdosis
Keamanan

dalam overdosis
selalu menjadi pertimbangan
dalam pemilihan obat.
Hampir semua obat2 baru
memiliki margin lebar pada saat
digunakan overdosis.

Dosis, Durasi dan


Monitoring
Dosis

efektiv secara klinik tergantung pada


karakteristik obat dan faktor pasien, seperti
sensitivitas dan kemampuan untuk
metabolisa obat, penggunaan bersama
dengan obat lain dan adanya riwayat
paparan obat sebelumnya.
Berapa lama pasien konsumsi obat
tergantung dari penyakitnya, lamanya
gejala, riwayat keluarga, toleransi dan
manfaat obat terhadap pasien.
Tetap memantau kemungkinan terjadinya
efek samping pemakaian obat lama.

Laboratorium
Tes

laboratorium darah harus


berdasarkan kondisi klinis pasien
dan obat yg digunakan.
Umumnya pada pemakaian
obatpsikotik tidak dibutuhkan tes.
Belum ada pemeriksaan
laboratorium terkini yg dapat
mengkonfirmasi diagnosa
gangguan mental.

Gagal Terapi
Rencana

terapi awal seharusnya sudah


mengantisipasi bila pengobatan tidak efektif.
Strategi langkah selanjutnya harusnya sudah
dipikirkan sejak awal terapi.
Periksa apakah dignosa sdh benar. Apakah
gejalanya terkait dgn gangguan awal.
Apakah dosis obat sdh cukup u/ waktu
tertentu. Apakah terdapat farmakokinetik
atau farmakodinamik terkait interaksi dgn
obat lain yg digunakan pasien. Apakah
pasien meminum obatnya sesuai anjuran
atau tidak.

Resistensi Pengobatan
Beberapa

pasien gagal untuk


merespon pengobatan. Banyak
faktor yg menyebabkan
terjadinya kegagalan ini.
Beberapa strategi yg dapat
digunakan : kombinasi obat,obat
dosis tinggi, dan menggunakan
obat obat baru.

Toleransi, Ketergantungan dan


Withdrawal Symptom
Toleransi

: seorang yg menjadi
kurang responsif terhadap obat.
Timbulnya toleransi dapat
dikaitkan dengan munculnya
ketergantungan . Obat
dibutuhkan untuk melanjutkan
terapi agar dapat mencegah
timbulnya gejala putus obat
(withdrawal symptom)

Kombinasi Psikoterapi &


Farmakoterapi
Banyak

psikiatri yg percaya bahwa


pasien lebih baik ditangani dengan
kombinasi pengobatan dan psikoterapi.
Penelitian telah menunjukkan bahwa
hasil kombinasi terapi lebih baik
dibanding terapi saja.
Pada saat farmakoterapi dan
psikoterapi digunakan bersamaan,
pendekatannya harus terkordinasi,
terintegrasi dan sinergis.

Populasi Khusus
Anak

anak
Ibu hamil
Usia lanjut
Pasien dengan penyakit fisik

Efek Samping
Extrapyramidal

Syndrome
a. Erly EPS : dystonia,
pseudoparkinsonism, akathisia.
b. Late EPS : tardive dyskinesia
. Neuroleptik Malignant Syndrome
: hipertemia, rigiditas,
perubahan kesadaran,
ketidakstabilan otonom.