Anda di halaman 1dari 62

1

I
KEADAAN UMUM PERUSAHAAN

1.1

Identitas Perusahaan
Nama Perusahaan

: PT. Agro Investama (AI)

Pimpinan Perusahaan : Ir. H. Yudi Guntara Noor


Direktur Utama

: Asep Barli, S.E

Bentuk Perusahaan

: Perseroan Terbatas

Waktu Pendirian

: Januari 2015

Jenis Komoditi Usaha : Pembibitan Domba Garut


Kantor Pusat

: Jalan Dipati Ukur No. 71 Bandung

Letak Peternakan

: Jalan Raya Malangbong Km 5, Desa Mekar Asih,


Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa
Barat.

1.2

Sejarah Singkat Perusahaan


PT. Agro Investama (AI) merupakan anak perusahaan dari PT. Citra Agro

Buana Semesta (CABS) yang bergerak dibidang pembibitan Domba Garut yang
berlokasi di Jalan Raya Malangbong Km 5, Desa Mekar Asih, Kecamatan
Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Perusahaan ini berdiri pada Januari
tahun 2015 dengan Direktur Utama Asep Barli, S.E dan Singgih Cahyadi N. S.Pt
sebagai Manager. PT. AI didirikan untuk memenuhi kebutuhan bibit yang
diperlukan dalam rangka menjaga ketersediaan dan eksistensi Domba Garut.
Selain pembibitan Domba Garut, PT. AI juga bergerak dalam bidang perkebunan
sayur, sapi perah, dan sapi trading.
Domba Garut (Ovis aries) merupakan hewan ruminansia kecil, hewan
pemamah biak, dan hewan mamalia yang menyusui anaknya. Domba Garut
merupakan salah satu plasma nutfah khas di Indonesia dengan karakteristik fisik
yang unik, yang tidak dimiliki oleh ras domba lain di dunia. Domba Garut
merupakan hasil persilangan Domba Merino (Australia), Domba Kaapstad atau

2
Kaapche (Afrika), dan Domba Jawa Ekor Gemuk (Indonesia) yang dirintis pada
tahun 1854 oleh Adipati Limbangan di Kabupaten Garut. Pada Tahun 1926,
domba Garut diindikasikan telah memiliki keseragaman karakteristik fisiologis,
yang dicirikan dengan warna tubuh dominan hitam, putih, dan kombinasi hitam
dan putih.
Terdapat 2 tujuan usaha dalam pemeliharaan Domba Garut di PT. AI,
yaitu untuk pembibitan dan penggemukan domba. Domba Garut yang memiliki
kualitas baik dan memenuhi kriteria indukan/ pejantan maka akan dipelihara
untuk dijadikan sebagai bibit. Sedangkan Domba Garut yang tidak memiliki
keunggulan baik dari segi reproduksi maupun produksinya maka akan
digemukkan dan dijual. Meskipun memerlukan waktu yang relatif lama, usaha
pembibitan Domba Garut tetap dipilih menjadi usaha utama yang dikembangan
oleh PT. AI karena apabila usaha ini dijalankan dengan perhitungan dan
manajemen usaha yang baik, maka pembibitan domba tidak kalah menguntungkan
dibandingkan dengan usaha penggemukan domba.

1.3

Bidang Usaha
Unit usaha yang berada di PT. Agro Investama antara lain :

1.

Unit Pembibitan Domba Garut, Malangbong.


Merupakan bagian dari perusahaan yang bergerak di bidang pembibitan

domba garut. Domba garut yang berada di perusahaan ini terbagi menjadi 2
bagian yaitu domba pembibitan dan domba penggemukan. Domba pembibitan
merupakan domba garut yang dipelihara kemudian dijadikan bibit. Sedangkan,
domba penggemukan adalah domba garut yang dipelihara kemudian digemukkan.
Domba penggemukan merupakan domba garut yang tidak lolos seleksi domba
bbit. Dapat dilihat perbedaannya dari telinga yaitu lebih panjang daripada domba
pembibitan.
2.

Unit Sapi Perah, Malangbong.


Merupakan bagian dari perusahaan yang bergerak dibidang sapi perah.

Sapi perah yang dipelihara merupakan jenis sapi perah Fries Holland (FH). Susu

3
hasil pemerahan di unit ini dijual dalam bentuk susu murni dan dijual kepada
masyarakat sekitar maupun kepada pegawai peternakan.
3.

Unit Trading Sapi Impor, Cikalong, Tasikmalaya.


Merupakan bagian dari perusahaan PT. Agro Investama yang bergerak

dalam penjualan sapi potong impor tanpa adanya proses penggemukan terlebih
dahulu. Sapi yang dijual yang diimport dari Australia.
4.

Unit Sayuran, Pangalengan.


Merupakan bagian dari perusahaan yang bergerak dibidang pertanian.

1.4

Lokasi Perusahaan
a. Topografi dan Kondisi Tanah
Perusahaan ini terletak pada lokasi yang strategis, karena dekat dengan

jalan raya dan sarana transportasi untuk input maupun output sangat lancar serta
sumber daya alam dan sumber daya manusia juga mendukung. Keadaan topografi
peternakan pembibitan domba garut merupakan daerah dataran tinggi yang
terletak di dekat kaki Gunung Cakra Buana, dengan demikian ketinggian sekitar
600 meter di atas permukaan laut. Dengan keadaan tanah berbukit dan kemiringan
sekitar 20-30%. Temperatur lingkungan berkisar antara 20-300C dengan
kelembaban sekitar 70-80%.
b. Sumber Air
Sumber air yang digunakan berasal dari sumur artesis yang diangkat
kepermukaan dengan menggunakan pompa air listrik. Air yang diperoleh dari
sumber air, ditampung pada tangki penampungan, kemudian dialirkan ke masingmasing kandang dengan menggunakan pipa paralon dan selang air.
c. Jarak ke Jalan Raya
PT. Agro Investama terletak di jalur Jalan Raya Malangbong-Wado KM 5,
tepatnya di Desa Mekar Asih, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa
Barat. Jarak dari pusat kota Malangbong kurang lebih 5 KM untuk ke kandang
Agro I yaitu kandang pembibitan domba garut. Jarak lokasi peternakan ke jalan
raya sekitar 100 meter.

4
d. Jarak ke Pemukiman
Jarak dari kandang pembibitan domba garut yang terletak di kandang Agro
I ke pemukiman penduduk yang terdekat sekitar 300 meter, yang dibatasi dengan
pagar tembok dan sebagian tanaman rumput.

1.5

Struktur Organisasi
Sturktur organisasi yang diterapkan oleh PT. Agro Investama yang

bergerak dibidang pembibitan domba garut masih sederhana. Hal ini dikarenakan
pada bidang pembibitan domba garut masih terbilang baru, sebab PT. Agro
Investama yang bergerak dibidang pembibitan domba garut baru berdiri pada
bulan Januari tahun 2015 yang lalu. Berikut ini adalah struktur organisasi PT.
Agro Investama dibidang pembibitan domba garut :

Gambar 1. Struktur Organisasi Perusahaan


Sumber : PT. Agro Investama, 2016

5
1.6

Wilayah Kerja
Pada perusahaan ini terdapat dua manajer yang membawahi bidang

masing-masing, yaitu manajer farm yang membawahi pengawas kandang dan


anak kandang serta bertanggung jawab atas segala permasalahan yang ada di
kandang. Sementara itu, manajer keuangan bertugas dan bertanggung jawab atas
segala keuangan perusahaan. Perusahaan ini mempunyai tiga wilayah garapan
usaha, yaitu dibidang perkebunan sayur, pembibitan domba garut, dan
penggemukan sapi trading.

1.7

Bangunan dan Peralatan Kandang

1.7.1

Bangunan Kandang
Bangunan dan lahan yang berada di PT. Agro Investama Pembibitan

Domba Garut Malangbong memiliki luas 60.000 m2 terdiri dari :


a. Bangunan mess.
Bangunan mess memiliki luas 256 m2, yang terdiri dari ruang tamu, ruang
administrasi produksi, mushola, kamar tidur pegawai, dapur serta toilet.
b. Bangunan perkandangan domba.
Bangunan perkandangan memiliki luas 994.95 m2, terdiri dari kandang
domba, tempat pakan, tempat chopper, tempat penimbangan dan tempat
pemotongan.
c. Bangunan perkandangan pejantan memiliki luas 8,48 m2.
d. Lahan Rumput
Lahan rumput grazing terdapat 16 lahan dan lahan rumput produksi
terdapat 8 lahan.
Bangunan kandang domba pembibitan dan domba penggemukan terdapat
10 unit dengan sistem kandang semi terbuka. Berikut adalah pembagian kandang
di PT. Agro Investama setiap pen:
1. Pen proses kawin
2. Pen jantan sayur

6
3. Pen betina sayur
4. Pen induk melahirkan
5. Pen induk menyusui
6. Pen induk bunting
7. Pen petet
8. Pen jajalon
9. Pen anak domba berumur 0 - 3 bulan umur 0-1 bulan
10. Pen anak domba berumur 0 - 3 bulan umur 1-3 bulan
1.7.2

Peralatan Kandang
Peralatan yang digunakan di PT. Agro Investama adalah sebagai berikut :

1. Tempat pakan berbahan plastik yang berbentuk cekung


2. Tempat minum berbahan plastik dengan bentuk persegi
3. Tempat penampungan limbah berupa kolong kandang yang menampung
limbah seperti feses, urin, dan sisa pakan
4. Alat penerangan di kandang menggunakan lampu yang dialirkan melalui
listrik
5. Truk pakan untuk mengangkut pakan
6. Timbangan kecil untuk menimbang konsentrat yang akan di masukkan ke
dalam karung
7. Timbangan besar untuk menimbang hijauan yang sudah dikarungkan dan
menimbang ternak untuk mengukur berat badan
8. Mesin Pencacah Pakan (Mesin Chopper), Mesin Pemotong Rumput, dan
Sabit
9. Peralatan kebersihan seperti sapu lidi, sekop, slang.
10. Peralatan kesehatan, vitamin, dan obat-obatan.

7
II
TATALAKSANA PEMBERIAN PAKAN DOMBA GARUT
DI PT. AGRO INVESTAMA DESA MEKAR ASIH
KECAMATAN MALANGBONG KABUPATEN GARUT

CHAIRUNNISA
200110130266

2.1. Abstrak
Pembibitan domba garut merupakan salah satu upaya untuk
mempertahankan populasi domba garut yang ada. Tatalaksana pemberian pakan
berpengaruh terhadap perkembangan domba yang dipelihara. Pakan yang
diberikan berupa hijauan pakan ternak dan konsentrat sebagai pakan tambahan.
Kebutuhan pakan domba berbeda-beda bergantung pada jenis kelompok domba
yang dipelihara. Jumlah domba yang diamati sebanyak 682 ekor yang terbagi
menjadi 8 kelompok domba. Praktek Kerja Lapangan yang dilaksanakan di PT.
Agro Investama mulai tanggal 4 Januari sampai dengan 30 Januari 2015,
bertujuan untuk mengetahui tatalaksana pemberian pakan pada seluruh kelompok
domba dan bahan apa saja yang digunakan sebagai pakan. Metode pengumpulan
data dilakukan dengan metode observasi, melakukan wawancara berupa tanya
jawab dengan kepala farm, kepala kandang, serta data diperoleh dari catatan yang
diarsipkan oleh perusahaan dan langsung melakukan praktek kerja lapangan.
Berdasarkan hasil pengamatan selama Praktek Kerja Lapangan, dapat
disimpulkan bahwa tatalaksana pemberian pakan pada domba pembibitan yang
berada di PT. Agro Investama memiliki perbedaan pada setiap periode hidup
domba, serta jenis hijauan yang digunakan antara lain rumput gajah mini, Rumput
Taiwan, rumput Brachiaria decumbens, African star grass, dan gamal.
Kata Kunci : Tatalaksana, Pakan, Hijauan, Pembibitan, Domba Garut

8
2.2. Latar Belakang
Domba merupakan salah satu ternak ruminansia yang mempunyai potensi
untuk dikembangbiakkan, baik di daerah dataran tinggi maupun dataran rendah.
Domba biasanya dipelihara atau diternakkan untuk diambil daging dan wollnya.
Lain halnya dengan domba garut yang dipelihara sebagai hobi untuk diadu
ketangkasannya, tetapi ada pula peternakan domba garut yang bergerak dibidang
pembibitan atau budidaya.
Pembibitan atau budidaya domba garut merupakan salah satu upaya untuk
mempertahankan populasi domba garut yang ada. Domba garut yang dipelihara
untuk dijadikan bibit harus sangat diperhatikan dalam hal kesehatan dan
lingkungan kandangnya. Selain itu tatalaksana pemberian pakan, jenis pakan,
frekuensi pemberian pakan serta jumlah pakan yang diberikan berpengaruh
terhadap perkembangan domba yang dipelihara.

2.3. Tujuan
Maksud dan tujuan Praktek Kerja Lapangan di PT. Agro Investama ini yaitu
sebagai berikut :
1. Mengetahui jenis bahan pakan yang digunakan pada usaha pembibitan
domba garut di PT Agro Investama.
2. Mengetahui tatalaksana pemberian pakan berdasarkan periode hidup
domba di PT. Agro Investama.

2.4. Metode Pengamatan


Metode yang dilakukan dalam pengamatan ini adalah observasi secara
langsung dengan melakukan wawancara berupa tanya jawab dengan kepala farm,
kepala kandang, serta data diperoleh dari catatan yang diarsipkan oleh perusahaan,
dan ikut langsung dalam Praktek Kerja Lapangan (PKL). Pengamatan dilakukan
terhadap pakan, peralatan penunjang manajemen pakan, tempat penyimpanan
pakan, dan tatalaksana pemberian pakan. Peralatan penunjang yang digunakan
selama pengamatan adalah alat tulis, buku, dan kamera digital.

9
2.5. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Pakan bagi ternak domba dari sudut nutrisi merupakan salah satu unsur yang
sangat penting dalam menunjang kesehatan, pertumbuhan dan reproduksi ternak.
Makanan sangat esensial bagi ternak domba karena makanan yang baik akan
menjadikan ternak sanggup melaksanakan kegiatan serta fungsi proses ilmiah
tubuh secara normal. Dalam batas minimal, makanan bagi ternak domba berguna
untuk menjaga keseimbangan jaringan tubuh dan membuat energi, sehingga
mampu melakukan peran dalam proses metabolisme (Murtidjo, 1993).
Sukria dan Krisna (2009) dan Wanapat dkk. (2009) menyatakan bahwa
komposisi kimia bahan makanan ternak sangat beragam karena bergantung pada
varietas, kondisi tanah, pupuk, iklim, lama penyimpanan, waktu panen dan pola
tanam. Pengaruh iklim dan kondisi ekologi menurut Sajimin dkk. (2000) sangat
menentukan ketersediaan hijauan sebagai pakan ternak di suatu wilayah sehingga
hijauan makanan ternak tidak dapat tersedia sepanjang tahun. Pada musim
penghujan produksi hijauan berlimpah dan sebaliknya di musim kering atau
kemarau hijauan sebagai sumber pakan ternak harus menghilang. Ketersediaan
hijauan secara kuantitas dan kualitas juga dipengaruhi oleh pembatasan lahan
tanaman pakan karena penggunaan lahan untuk tanaman pakan masih bersaing
dengan tanaman pangan.
Kebutuhan

ternak

ruminansia

terhadap

pakan

dicerminkan

oleh

kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat


tergantung pada jenis ternak, umur, fase, pertumbuhan (dewasa, bunting,
menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya
(temperatur, kelembaban, nisbah) serta berat badannya. Jadi setiap ternak yang
berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda (Kartadisastra, 1997).
Pemeliharaan domba yang efisien dan ekonomis untuk maksud pembibitan,
penggemukan, peningkatan persentase kelahiran dan cepat tumbuh berpangkal
pada pemberian pakan. Memang dalam hal ini, jumlah pakan dan mutu pakan
yang baik tidak bisa merubah tubuh domba yang secara genetic bertubuh kecil
menjadi domba yang besar tetapi pemberian pakan dalam jumlah dan mutu yang

10
rendah tidak akan mampu menumbuhkan karkas sesuai dengan sifat genetik yang
dimiliki ternak tersebut. Kebutuhan pakan yang dimaksud adalah zat makanan
seperti lemak, protein, karbohidrat, vitamin-vitamin, mineral dan air (Soeparno,
1994).
Produktivitas ternak dapat ditentukan melalui faktor bahan makanan yang
meliputi jumlah dan kualitas pakan. Kebutuhan nutrien setiap ternak bervariasi
antar jenis dan umur fisiologis ternak. Kebutuhan nutrisi ternak dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu jenis kelamin, tingkat produksi, keadaan lingkungan, dan
aktivitas fisik ternak (Haryanto, 1992). Kebutuhan nutrien ternak dapat
dikelompokkan menjadi komponen utama yaitu energi, protein, mineral dan
vitamin. Zat-zat makana tersebut berasal dari pakan yang dikonsumsi oleh ternak.
Tatalaksana pemberian pakan di PT. Agro Investama dilakukan berdasarkan
penggolongan kelompok domba, yaitu pakan domba proses kawin, domba
bunting, domba pejantan, domba menyusui, domba siap melahirkan, domba
penggemukan jantan, domba penggemukan betina menyusui, jajalon, petet, dara,
dan anak domba berumur 0 - 3 bulan.

2.5.1. Jenis Hijauan dan Pakan Tambahan


Hijauan yang ditanam dan diberikan sebagai pakan untuk domba yang
dipelihara di PT. Agro Investama berupa rumput dan legume, antara lain sebagai
berikut :
a.

Rumput Taiwan
Rumput gajah (Penissetum pupureum) cv. Taiwan memproduksi hijauan 55

ton/ha per panen dengan pemberian pupuk Urea 200 kg/ha, 150 kg/ha, 100 kg/ha
pertahun dengan selang 6 bulan (Sari, 2012). Pada perawatan rumput gajah
penyiraman dilakukan tiap kali lahan menjelang kering, bibit yang dibutuhkan
sebanyak 1700 stek /ha, jarak penanaman 40 x 60 cm, awal pemanenan umur 50
hari, pemanenan selanjutnya tiap 40 hari. Rumput gajah memiliki kandungan
nutrisi sebagai berikut : PK 9,66%, SK 30,86%, LK 2,24%, Abu 15%, TDN 51%
(Sari, 2012).

11
b.

Rumput Gajah Mini


Rumput gajah mini (Pennisetum purpureum cv. Mott) atau sering disebut

juga rumput odot (bahasa Sunda) merupakan jenis rumput unggul yang
mempunyai produktivitas dan kandungan zat gizi yang cukup tinggi serta
memiliki palatabilitas yang tinggi bagi ternak ruminansia. Tanaman ini
merupakan salah satu jenis hijauan pakan ternak yang berkualitas dan disukai
ternak. Rumput ini dapat hidup diberbagai tempat, tahan lindungan, respon
terhadap pemupukan, serta menghendaki tingkat kesuburan tanah yang tinggi.
Rumput gajah mini tumbuh merumpun dengan perakaran serabut yang kompak,
dan terus menghasilkan anakan apabila dipangkas secara teratur (Syarifuddin,
2006 dalam Langi, 2014). Produksi hijauan rumput gajah mini pada umur
pemotongan 40 hari sebesar 85,27 ton/ha, pada umur pemotongan 50 hari sebesar
131,6 ton/ha, dan pada umur pemotongan 60 hari sebesar 178,14 ton/ha (Polakitan
dan Agustinus, 2009).
Berdasarkan hasil uji analisis lab, kandungan nutrisi, rumput odot juga
memiliki persentase protein yang tinggi, yaitu dalam kisaran 17-19% dan Total
Digestable Nutrient mencapai 64,31% dari bahan kering ditambah lagi persentase
lignin hanya 2,5% dari bahan kering. Hal ini menunjukkan potensi Rumput Odot
sebagai hijauan pakan ternak mampu mencukupi kebutuhan nutrisi ternak. Karena
itu rumput odot sangat baik sebagai pakan ternak untuk pemeliharaan jangka
panjang (lebih dari 6 bulan) baik dengan hanya menggunakan pakan hijauan saja
ataupun untuk penggemukan yang dipadukan dengan pakan konsentrat
(Purwawangsa dan Putera, 2014).
c.

Rumput Brachiaria Decumbens


Rumput ini berasal dari Arika daerah timur yaitu Uganda, Rwanda,

Tanzania dan lain-lain. Di Indonesia rumput ini dikenal dengan nama rumput BD.
Rumput BD tidak tahan pada lingkungan yang ternaungi, sehingga tidak cocok
untuk dikembangkan berintegrasi dengan perkebunan Rumput ini memiliki
kualitas yang baik seperti dilaporkan dari hampir semua negara yang pernah
melakukan percobaan dengan rumput ini. Dengan pengolahan tanah yang baik,

12
pemupukan yang tepat serta interval potong yang cocok rumput bede dapat
menghasilkan produksi segar 171 ton/ha/tahun dengan produksi kering 36,1
ton/ha/tahun dengan interval potong 6 minggu (Siregar, 1987).
Kandungan protein kasarnya 6,1-10,1%, tergantung pada pemupukan
nitrogen yang digunakan. Serat kasarnya bisa mencapai 37%. Ditanam untuk
padang gembala permanen dan sebagai penutup tanah untuk menahan erosi dan
gulma. Dapat digunakan sebagai hay dan untuk menekan nematoda pada sistem
tanaman pangan (Dwinarto dkk, 2013). Kandungan Nutrisi Rumput Signal
(Bachiaria decumbens) sebagai berikut air 55,09%; abu 9,89%; PK 13,56%; LK
1,92%; SK 31,69%; Ca 0,82% dan P 0,28% (Hasil Pengujian di BPMPT Tahun
2009-2012 dalam Dwinarto dkk, 2013).
d.

African Star Grass


African star grass adalah jenis rumput yang tumbuh dan dapat beradaptasi

dengan baik di daerah tropis. African star grass dapat berkembang dengan stolon.
Rumput ini baik digunakan untuk padang penggembalaan atau pastura, namun
perlu dilakukan pengelolaan yang intensif dengan cara membuat paddocks dan
rotasi. Paddocks digunakan sebagai pastura kurang lebih selama 3-4 hari dan
diistirahatkan selama 21-28 hari (Gonzalez dkk., 2010).
African star grass dapat berproduksi sebanyak 47,0-55,6 ton/ha/tahun,
dengan pemberian 150 atau 300 kg nitrogen/ha/tahun dan interval pemanenan
selama 21 hari (Miller dkk., 2010). Rumput ini dapat tumbuh dengan baik di
daerah dengan curah hujan 500-1200 mm. Rumput ini tidak dapat tumbuh pada
tanah yang tergenang dan kekurangan nitrogen. Kandungan nutrien African star
grass adalah 32% bahan kering; 3,4% abu; 0,6% lemak kasar; 9,6% serat kasar;
15,4% BETN; dan 2,8% protein kasar (Hartadi dkk., 1986). Menurut Miller dkk.
(2010), DE atau Digestible Energy dari rumput African star adalah 10,66 MJ per
kg bahan kering, satu joule sama dengan 0,24 kal, maka 10,66 MJ sama dengan
2,56 Mkal.

13
e.

Gamal
Gamal (Gliricidia sepium) adalah nama sejenis perdu dari kerabat polong-

polongan (suku Fabaceae alias Leguminosae). Sering digunakan sebagai pagar


hidup atau peneduh, perdu atau pohon kecil ini merupakan salah satu jenis
leguminosa multiguna yang terpenting setelah lamtoro (Leucaena leucocephala)
(Dwinarto dkk, 2013). Penggunaan gamal oleh PT. Agro Investama sebagai pakan
domba diberikan pada waktu tertentu seperti pada musim kemarau, dimana
rumput yang berproduksi kurang mencukupi kebutuhan hijauan yang dibutuhkan
oleh domba.
Produksi hijauan tanaman gamal sangat bervariasi dan akan sangat
bergantung pada umur dan ukuran tanaman serta keadaan lingkungan.
Pemotongan yang terlalu sering akan mengurangi produksi hijauan pada tahuntahun berikutnya. Chadhokar (1982) menyarankan agar pemotongan pertama
dilakukan pada saat tanaman telah berumur dua atau tiga tahun dengan frekuensi
pemotongan sebanyak 1 atau 2 kali setahun. Sistem ataupun cara tersebut sangat
membantu proses pertumbuhan kembali tanaman tersebut. Hasil penelitian yang
dilakukan oleh Chadhokar (1982) menunjukkan bahwa produksi hijauan segar
akan berkurang dengan makin tingginya tingkat waktu pemotongan, dan untuk
mendapatkan produksi hijauan yang terbanyak maka disarankan agar interval
pemotongan dilakukan setiap 3 bulan.
Pemotongan dengan interval setiap 3 bulan sekali akan memberikan
produksi sebanyak 1.289 kg hijauan segar per sekali potong per 400 m (jarak
tanam 0,45 m dan ditanam sepanjang sisi luasan tanah seluas 1 ha. Kandungan
bahan kering hijauan gamal dapat mencapai 26,4% (Rangkuti, dkk. 1983), dan ini
berarti produksi bahan kering hijauan dapat mencapai 340 kg per sekali potong
per 400 m atau dapat mencapai 2.835,6 kg per ha per sekali potong. Perbandingan
bagian tanaman yang dapat dihasilkan dengan tingkat pemotongan yang berbeda
telah pula dilaporkan oleh Chadhokar (1982). Demikian pula dengan komposisi
kimia zat-zat makanan yang terdahulu mendapatkan bahwa kandungan protein
kasar daun gamal adalah sebesar 27% dari bahan kering (1 ; 5).

14
Daun-daun gamal mengandung banyak protein dan mudah dicernakan,
sehingga cocok untuk pakan ternak, khususnya ruminansia (sebaiknya dilayukan
dahulu sebelum diberikan). Daun-daun dan rantingnya yang hijau juga
dimanfaatkan sebagai mulsa atau pupuk hijau untuk memperbaiki kesuburan
tanah. Kandungan Nutrisi Gamal (Gliricidia sepium) adalah sebagai berikut : air
80,95%; abu 9%; PK 30,88%; LK 4,77%; SK 21,87%; Ca 1,42% dan P 0,33%
(Hasil Pengujian di BPMPT Tahun 2009-2012 dalan Dwinarto dkk, 2013).
f.

Ampas Tahu
Industri tahu merupakan salah satu industri yang memiliki perkembangan

pesat. Terdapat 84 ribu unit industri tahu di Indonesia dengan kapasitas produksi
mencapai 2,56 juta ton per tahun (Sadzali, 2010). Ampas tahu yang terbentuk
besarannya berkisar antara 25-35% dari produk tahu yang dihasilkan (Kaswinarni,
2007). Ampas tahu dapat dijadikan sebagai bahan pakan sumber protein karena
mengandung protein kasar cukup tinggi berkisar antara 23-29% (Mathius &
Sinurat, 2001) dan kandungan zat nutrient lain adalah lemak 4,93% (Nuraini,
2009) dan serat kasar 22,65% (Duldjaman, 2004).
Kandungan nutrisi yang terdapat dalam ampas tahu bervariasi, hal ini antara
lain disebabkan oleh perbedaan varietas dari kedelai yang digunakan sebagai
bahan dasar pembuatan tahu. Ampas tahu juga mengandung unsur-unsur mineral
mikro yaitu Fe sebanyak 200-500 ppm, Mn sebanyak 30-100 ppm, Cu sebanyak
5-15 ppm, Co kurang dari 1 ppm, Zn lebih dari 50 ppm. Kadar air ampas tahu
segar sekitar 84,5%. Kadar air yang tinggi dapat menyebabkan umur simpan yang
pendek. Ampas tahu basah tidak tahan disimpan dan menjadi busuk setelah 2-3
hari. Ampas tahu kering mengandung air sekitar 10,0-15,5 % sehingga umur
simpannya lebih panjang dibandingkan dengan ampas tahu segar (Noor, 2012).

2.5.2. Kebutuhan Pakan Domba


Kebutuhan ternak domba akan dicerminkan oleh kebutuhan terhadap nutrisi,
jumlah nutrisi setiap harinya sangat tergantung pada jenis ternak, umur, fase
(pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusu), kondisi tubuh (normal, sakit) dan

15
lingkuangan hidupnya serta berat badannya. Jadi setiap ternak yang berbeda
kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda (Tomazewska dkk., 1993).
Konsumsi bahan kering (BK) dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya : 1)
faktor pakan,meliputi daya cerna dan palabilitas, 2) faktor ternak yang meliputi
bangsa, jenis kelamin, umur dan kondisi kesehatan ternak (Lubis, 1993).
Kebutuhan harian zat-zat nutrisi untuk ternak domba dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kebutuhan Harian Zat Makanan untuk Domba
BB

BK

ME

TDN

Protein

Ca

(Kg)

(Kg)

Mcal

(Kg)

Total

(g)

(g)

0,14

2,8

0,6

0,61

51

1,91

1,4

10

0,25

2,5

1,01

1,28

81

2,3

1,6

15

0,36

2,4

1,37

0,38

115

2,8

1,9

20

0,51

2,6

1,8

0,5

150

3,4

2,3

25

0,62

2,5

1,91

0,53

160

4,1

2,8

30

0,81

2,7

2,44

0,67

204

4,8

2,3

%BB

Sumber : NRC, 1995


Pakan yang diberikan pada domba yang dipelihara di PT. Agro Investama
berupa hijauan dan konsentrat dengan perbandingan 60 : 40. Pakan tersebut
diberikan bergantung pada kebutuhan ternak sesuai dengan kelompoknya masingmasing. Pakan diberikan secara adlibitum pada pagi, siang dan sore hari. Adapula
beberapa kelompok domba yang tidak diberi pakan pada pagi hari, karena
kelompok domba tersebut akan diumbar pada lahan yang sudah ditentukan.
Berikut penjelasan pakan yang diberikan sesuai dengan kelompok domba :
a.

Pakan Domba Proses Kawin


Domba proses kawin merupakan domba yang dalam masa kosong (kering)

atau sedang tidak bunting maupun menyusui. Kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan
berbeda dengan kebutuhan nutrisi domba yang lain. Berikut adalah hitungan
kebutuhan pakan yang diberikan pada domba proses kawin di PT. Agro
Investama:

16
Tabel 2. Pemberian Pakan Domba Proses Kawin
BB
(Kg)

Kebutuhan DMI
%BB

Kebutuhan Asfeed

DMI

Kons
HPT
(Kg)
(Kg)
35
4
1,4
0,56
0,84
Sumber : PT. Agro Investama, 2016

Kons
(Kg)
0,66

HPT
(Kg)
6

Pemberian
Asfeed
Kons
HPT
(kg)
(kg)
0,4
3,3

Frekuensi pemberian pakan pada domba proses kawin sebanyak 3 kali


dalam sehari, yaitu pada pagi, siang dan sore hari. Adapun lebih jelas pemberian
pakan pada domba proses kawin disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Frekuensi Pemberian Pakan Pada Domba Proses Kawin
Jenis Domba

Pagi
(09.00 WIB)
Proses Kawin
HPT
Sumber : PT. Agro Investama, 2016
b.

Pemberian Pakan
Siang
(14.00 WIB)
HPT + Konsentrat

Sore
(16.00 WIB)
HPT + Konsentrat

Pakan Domba Bunting


Pada pemeliharaan domba yang sedang bunting, peternak harus dapat

memahami bahwa anak di dalam kandungan merupakan bagian dari tubuh induk.
Dalam periode kebuntingan tiga bulan yang pertama, pertumbuhan janin masih
agak lambat. Oleh karena itu, jumlah kebutuhan pakan untuk keperluan anak di
dalam kandungan juga belum banyak. Berikut adalah hitungan kebutuhan pakan
yang diberikan pada domba bunting di PT. Agro Investama :
Tabel 4. Pemberian Pakan Domba Bunting
Kebutuhan
DMI
BB
%BB DMI
(Kg)
Kons
HPT
(Kg)
(Kg)
40
4
1,6
0,64
0,96
Sumber : PT. Agro Investama, 2016

Kebutuhan Asfeed
Kons
(Kg)
0,75

HPT
(Kg)
6,86

Pemberian
Asfeed
Kons
HPT
(kg)
(kg)
0,5
3,3

Frekuensi pemberian pakan pada domba bunting sebanyak 3 kali dalam


sehari, yaitu pada pagi, siang dan sore hari. Adapun lebih jelas pemberian pakan
pada domba bunting disajikan pada Tabel 5.

17
Tabel 5. Frekuensi Pemberian Pakan Pada Domba Bunting
Jenis Domba

Pagi
(09.00 WIB)
Betina Bunting
HPT
Sumber : PT. Agro Investama, 2016

c.

Pemberian Pakan
Siang
(14.00 WIB)
HPT + Konsentrat

Sore
(16.00 WIB)
HPT + Konsentrat

Pakan Domba Menyusui


Selama menyusui (1-6 minggu setelah melahirkan) kebutuhan induk akan

zat nutrisi sangat tinggi, karena dibutuhkan untuk memproduksi air susu bagi
anaknya. Selama masa menyususi selain pakan hijauan perlu diberikan pakan
konsentrat. Berikut adalah hitungan kebutuhan pakan yang diberikan pada domba
menyusui di PT. Agro Investama :
Tabel 6. Pemberian Pakan Domba Menyusui
Jenis
Domba

BB
(Kg)

%
BB

DMI

Kebutuhan
DMI
Kons HPT
(Kg) (Kg)

Betina
40
4
1,6
0,64
Garut
Betina
30
4
1,2
0,48
Sayur
Sumber : PT. Agro Investama, 2016

Kebutuhan
Asfeed
Kons
HPT
(Kg)
(Kg)

Pemberian
Asfeed
Kons
HPT
(kg)
(kg)

0,96

0,75

6,86

0,5

6,6

0,72

0,56

5,14

0,4

5,7

Frekuensi pemberian pakan pada domba menyusui sebanyak 3 kali dalam


sehari, yaitu pada pagi, siang dan sore hari. Adapun lebih jelas pemberian pakan
pada domba menyusui disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Frekuensi Pemberian Pakan Pada Domba Menyusui
Jenis Domba

Pagi
(09.00 WIB)
Betina Menyusui
HPT
Sumber : PT. Agro Investama, 2016

Pemberian Pakan
Siang
(14.00 WIB)
HPT + Konsentrat

Sore
(16.00 WIB)
HPT + Konsentrat

18
d.

Pakan Domba Penggemukan


Domba penggemukan yang berada di PT. Agro Investama merupakan jenis

domba lokal dan domba garut jantan yang tidak masuk kedalam kriteria untuk
diseleksi. Domba lokal yang dipeliharan untuk penggemukan merupakan domba
sisa yang dijual pada saat sebelum hari raya Idul Adha pada tahun 2015 yang lalu.
Namun, domba lokal tersebut juga harus diberi pakan agar pertumbuhan dan
pertambahan bobot badannya tetap meningkat. Berikut adalah hitungan kebutuhan
pakan yang diberikan pada domba penggemukan jantan di PT. Agro Investama :
Tabel 8. Pemberian Pakan Domba Penggemukan
BB
(Kg)

%
BB

BK
DMI

Kons
HPT
(Kg)
(Kg)
30
4
1,2
0,48
0,72
Sumber : PT. Agro Investama, 2016

Asfeed
Kons
(Kg)
0,56

HPT
(Kg)
5,14

Pemberian
Asfeed
Kons
HPT
(kg)
(kg)
0,4
2,8

Frekuensi pemberian pakan pada domba penggemukan jantan sebanyak 3


kali dalam sehari, yaitu pada pagi, siang dan sore hari. Adapun lebih jelas
pemberian pakan pada domba penggemukan jantan disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Frekuensi Pemberian Pakan Pada Domba Penggemukan
Jenis Domba

Pagi
(09.00 WIB)
Lokal dan Garut
HPT
Sumber : PT. Agro Investama, 2016

e.

Pemberian Pakan
Siang
(14.00 WIB)
HPT + Konsentrat

Sore
(16.00 WIB)
HPT + Konsentrat

Pakan Domba Jantan dan Betina Muda


Domba jantan muda yang dipelihara di PT. Agro Investama dibagi menjadi

2 kelompok, yaitu domba jantan muda yang siap untuk diseleksi menjadi domba
pembibitan atau biasa disebut dengan jajalon (dalam bahasa sunda) dan domba
muda lepas sapih atau biasa disebut petet (dalam bahasa sunda). Sedangkan
domba betina muda hanya terdiri dari 1 kelompok saja yaitu domba dara. Jajalon
merupakan domba muda berumur sekitar 1 tahun atau lebih yang sedang

19
memasuki masa pertumbuhan untuk nanti dijadikan sebagai bibit domba tangkas.
Petet merupakan domba jantan berumur sekitar 3 bulan, yang baru lepas sapih
dari induknya. Sedangkan dara merupakan domba betina muda yang berumur
sekitar 3 bulan atau lebih yang sudah lepas sapih dari induknya. Ketiga kelompok
domba ini juga memerlukan nutrisi yang cukup untuk kebutuhan pokok dan
produksinya. Maka dari itu kebutuhan nutrisinya pun perlu dijaga dan dipenuhi.
Berikut adalah hitungan kebutuhan pakan yang diberikan pada ketiga kelompok
domba tersebut di PT. Agro Investama :
Tabel 10. Pemberian Pakan Jajalon, Petet, dan Dara

Sumber : PT. Agro Investama, 2016


Frekuensi pemberian pakan pada domba jajalon, petet, dan dara sebanyak 3
kali dalam sehari, yaitu pada pagi, siang dan sore hari. Adapun lebih jelas
pemberian pakan pada domba jajalon, petet, dan dara disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Frekuensi Pemberian Pakan Pada Jajalon, Petet dan Dara
Pemberian Pakan
Jenis Domba
Pagi
Siang
Sore
(09.00 WIB)
(14.00 WIB)
(16.00 WIB)
Jajalon
HPT
HPT + Konsentrat Ampas Tahu + Konsentrat
Petet
HPT
HPT + Konsentrat Ampas Tahu + Konsentrat
Dara
HPT
HPT + Konsentrat Ampas Tahu + Konsentrat
Sumber : PT. Agro Investama, 2016

2.5.3. Lahan Penggembalaan


Padang penggembalaan adalah tempat atau lahan yang ditanami rumput
unggul dan atau legume (jenis rumput/ legume yang tahan terhadap injakan
ternak) yang digunakan untuk menggembalakan ternak (Yunus, 1997). Usaha

20
padang

penggembalaan adalah suatu bentuk usaha peternakan (ternak

ruminansia) yang menggunakan padang penggembalaan, dengan landasan


kapasitas tampung (carrying capacity) (Reksohadiprodjo, 1985). Fungsi padang
penggembalaan adalah untuk menyediakan bahan makanan bagi hewan yang
paling murah, karena hanya membutuhkan tenaga kerja sedikit, sedangkan ternak
menyenggut sendiri makanannya di padang penggembalaan. Rumput yang ada
didalamnya dapat memperbaiki kesuburan tanah.
Syarat padang penggembalaan yang baik adalah produksi hijauan tinggi dan
kualitasnya baik, persistensi biasa ditanam dengan tanaman yang lain yang mudah
dikembangbiakkan. Padang penggembalaan yang baik mempunyai komposisi
botani 50 % rumput dan 50 % legume. Besarnya kadar air dan bahan kering yang
harus dimiliki oleh suatu padangan adalah 70 80 % untuk kadar air dan bahan
keringnya 20 30 % (Susetyo, 1981).
Tipe padang penggembalaan yang digunakan di PT. Agro Investama yaitu
tipe padang penggembalaan buatan (Temporer), karena padang penggembalaan
sudah ada campur tangan manusia dalam pengolahan dan penanaman lahan
padang

penggembalaan

tersebut.

Hal

ini

sesuai

dengan

pernyataan

Reksohadiprojo (1994) bahwa tanaman-tanaman makanan ternak dalam padangan


telah ditanam, disebar dan dikembangkan oleh manusia. Padangan dapat menjadi
padangan permanen atau seling dengan tanaman pertanian.
Kapasitas tampung adalah kemampuan padang penggembalaan untuk
menghasilkan hijauan makanan ternak yang dibutuhkan oleh sejumlah ternak
yang digembalakan dalam luasan satu hektar atau kemampuan padang
penggembalaan untuk menampung ternak per hektar (Reksohadiprodjo, 1985).
Kapasitas tampung juga dapat diartikan sebagai kemampuan padang rumput
dalam menampung ternak (Susetyo, 1980) atau jumlah ternak yang dapat
dipelihara per satuan luas padang penggembalaan (Subagiyo dan Kusmartono,
1988).
Kelompok domba yang digembalakan atau di umbar pada PT. Agro
Investama antara lain domba bunting, domba proses kawin, domba menyusui

21
yang umur anak domba sudah lebih dari 1 bulan, jajalon, petet dan dara.
Penggembalaan dilakukan pada jam 9 pagi hingga jam 12 siang. Waktu tersebut
digunakan dengan asumsi bahwa rumput pada lahan sudah tidak berembun atau
sudah kering. Lahan-lahan di PT. Agro Investama ada yang digunakan sebagai
lahan untuk rumput produksi dan lahan rumput gembala. Jenis hijauan yang
digunakan untuk lahan rumput gembala adalah rumput Brachiaria decumbens,
African Star Grass, rumput gajah mini, dan gamal. Tanaman gamal ditanam
disekitar pagar untuk membatasi lahan gembala antara lahan yang satu dengan
lahan yang lain. Sedangkan lahan yang digunakan sebagai lahan produksi jenis
hijauan yang ditanam yaitu Rumput Taiwan.
Kecukupan

zat

makanan

yang

diberikan

dari

hijauan

diladang

penggembalaan ini belum mencukupi kebutuhan zat makanan harian tiap


kelompok domba. Hal ini dikarenakan kandungan bahan kering yang ada didalam
hijauan sangatlah sedikit sebab pada saat ini memasuki musim hujan, sehingga
mengakibatkan kandungan air didalam hijauan lebih banyak. Kekurangan zat
makanan dari lahan penggembalaan dicukupi dengan memberi hijauan pakan
dikandang sesuai dengan kebutuhan pada tiap kelompok domba.

2.6. Kesimpulan
Setelah melakukan pengamatan mendalam mengenai manajemen pakan
yang dilakukan di PT. Agro Investama, maka diperoleh kesimpulan sebagai
berikut :
1.

Jenis-jenis hijauan maupun legume yang ditanam untuk dijadikan pakan


domba pada usaha pembibitan ini antara lain rumput gajah mini atau odot,
Rumput Taiwan, rumput Brachiaria decumbens, African star grass dan
gamal. Hijauan dan legume tersebut ditanam dilahan milik sendiri. Hijauan
tersebut ada yang ditanam sebagai hijauan untuk produksi dan ada pula yang
ditanam sebagai rumput gembala.

22
2.

Pemberian pakan pada usaha pembibitan domba garut yang berada di PT.
Agro Investama dilakukan secara adlibitum pada pagi, siang dan sore hari.
Namun, ada beberapa kelompok domba yang pada pagi hari tidak diberi
pakan, karena kelompok domba tersebut akan diumbar pada lahan yang
sudah ditentukan. Kecukupan zat makanan dipenuhi dari hijauan dilahan
gembala dan pemberian hijauan dikandang.

23
Daftar Pustaka
Chadhokar, P. A. 1982. Gliricidia maculata : A promising legume fodder plant.
World Anim. Rev., 44 : 36 - 43.
Duldjaman, M. 2004. Penggunaan ampas tahu untuk meningkatkan gizi pakan
domba lokal. MEDIA PETERNAKANJournal of Animal Science and
Technology, 27(3)
Dwinarto, Bondan., E. Bogassara, Anastasia W. A, S.pt., Sunarwan, Ikhsan A.
2013. Buku Hasil Uji Bahan Pakan dan Hijauan Pakan Ternak. Balai
Pengujian Mutu dan Sertifikasi Pakan Bekasi. Bekasi.
Gonzalez, F. L., Flores, J. G. E., Nova, F. A., Angel, G. Y., Morales, P. H.,
Loperena, R. M., Beltran, P. E., and Ortega, O. A. C,. 2010. Agronomic
Evaluation and Chemical Composition of African Star Grass (Cynodon
plectostachyus) in the Southern Region of the State of Mexico. Tropical
and Subtropical Agroecosystems.
Hartadi, H., Reksohadiprodjo, S., dan Tillman, A. D., 1986. Tabel Komposisi
Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Haryanto, B. 1992. Pakan domba dan kambing. Prossiding sarasehan usaha
Ternak Domba dan Kambing Menyongsong Era PJPT II. Ikatan Sarjana
Ilmu-Ilmu Peternakan Indonesia (ISPI) Cabang Bogor dan Himpunan
Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Cabang Bogor,
Bogor.
Kartadisastra, H.R. 1997. Penyediaan dan Pengolahan
Ruminansia. Kanisius. Yogyakarta.

Pakan Ternak

Kaswinarni, F. 2007. Kajian Teknis Pengolahan Limbah Padat dan Cair Industri
Tahu. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Semarang.
Langi, Perinal Rapa. 2014. Pengaruh Pemberian Pupuk Mikoriza Terhadap
Kandungan Protein Kasar dan Serat Kasar Rumput Gajah Mini dan
Rumput Benggala. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Hasanuddin.
Makassar.
Lubis, D. A. 1993. Ilmu Makanan Ternak. PT Pembangunan. Bogor.
Mathius, I. W., & Sinurat, A. P. 2001. Pemanfaatan bahan pakan inkonvensional
untuk ternak. Wartazoa, 11(2), 20-31.
Miller, R. C., French, D. L., McDonald, D. C., and Jennings, P. G., 2010. Yield
and Nutritive Value of African Star Grass and Tifton 85 Bermuda Grass
Pastures on Commercial Dairy Farms in Jamaica. www.jddb.gov.jm.

24
Murtidjo, B.A. 1993. Memelihara Domba. Kanisius. Yogyakarta.
Noor, Tami Fara Dilla. 2012. Pemanfaatan Tepung Ampas Tahu Pada Pembuatan
Produk Cookies (Chocolate Cookies, Bulan Sabit Cookies, dan Pie
Lemon Cookies). Proyek Akhir. Universitas Negeri Yogyakarta.
Yogyakarta.
NRC. 1995. Nutrien Requirement of Sheep. Sixth Revised Edition. National
Academy of Science, Wasington DC.
Nuraini. 2009. Performa Broiler dengan Ransum Mengandung Campuran Ampas
Sagu dan Ampas Tahu yang Difermentasi dengan Neurospora crassa.
Media Peternakan 32 (3): 196-203
Polakitan, Derek., Agustinus Kairupan. 2009. Pertumbuhan dan Produktivitas
Rumput Gajah Dwarf (Pennisetum purpureum cv. Mott) Pada Umur
Pemotongan Berbeda. Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian,
mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Utara.
Purwawangsa, H., dan B. W. Putera. 2014. Pemanfaatan Lahan Tidur Untuk
Penggemukan Sapi. Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan. Vol. 1
No. 2, Agustus 2014: 92-96. ISSN : 2355-6226.
Rangkuti, M., I .W. Mathius dan J. E. van Eys. 1983. Penggunaan Gliricidia
maculata oleh Ruminansia Kecil : Konsumsi, Kecernaan dan
Performans. Pertemuan Ilmiah Ruminansia Kecil. Bogor.
Reksohadiprodjo, S. 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik.
BPFE. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Reksohadiprojo, S. 1994. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik.
BPFE. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Sajimin, Kompiang IP, Supriyanti, Lugiyo. 2000. Pengaruh Pemberian
BebagaiCara dan Dosis Bacillus sp Tehadap Produktivitas dan
Kualitas
Rumput Panicum Maximum. Prosiding Seminar Nasional
Peternakan dan Veteriner.Bogor 18-19 September 2000. Bogor.
Puslitbang Peternakan DepartemenPertanian.
Sadzali, Imam. 2010. Potensi Limbah Tahu Sebagai Biogas. Jurnal UI Untuk
Bangsa Seri Kesehatan, Sains, dan Teknologi 1 (12) :62-69
Sari, Rica Mega. 2012. Produksi dan Nilai Nutrisi Rumput Gajah cv. Taiwan
yang Diberi Dosis Pupuk N, P, K Berbeda dan Tanaman CMA Pada

25
Lahan Kritis Tambang Batu Bara. Thesis. Program Studi Ilmu
Peternakan Program Pascasarjana. Universitas Andalas. Padang.
Siregar, M.E. 1987. Produktivitas dan Kemampuan Menahan Erosi Species
Rumput dan Leguminosa Terpilih Sebagai Pakan Ternak yang Ditanam
Pada Tampingan Teras Bangku di DAS Citanduy. Ciamis.
Soeparno. 1994. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadjah Mada Universitas Press,
Yogyakarta.
Subagyo I, Kusmartono 1988. Ilmu Kultur Padangan. Nuffic, Fakultas
Peternakan. Universitas Brawijaya. Malang
Sukria, A. H dan Krisna. R. 2009. Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan
di Indonesia. IPB Press : Bogor.
Susetyo, S. 1980. Padang Penggembalaan. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Susetyo, I. Kismono dan B. Suwardi. 1981. Hijauan Makanan Ternak. Direktorat
Jenderal Peternakan Departemen Pertanian : Jakarta
Tomazewska M.W., I.M. Mastika., A. Djajanegara., S. Gardiner., dan T.R.
Wiradarya. 1993. Produksi Kambing dan Domba di Indonesia. Sebelas
Maret University Press, Surakarta.
Yunus, M. 1997. Pengaruh Umur Pemotongan dan Spesies Rumput Terhadap
Produksi, Komposisi Kimia, Kecernaan In Vitro dan In Sacco. Tesis.
Program Pascasarjana. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

26
III
SISTEM PERKANDANGAN DAN TATALAKSANA PEMELIHARAAN
DOMBA GARUT DI PT. AGRO INVESTAMA MALANGBONG
(Oleh : Etya Nurrimas Gustiarani)
200110130333

3.1

Abstrak

Praktek Kerja Lapangan dilakukan di Kandang Pembibitan Domba Garut


milik PT. Agro Investama yang berlokasi di Jalan raya Malangbong-Wado KM. 5
Desa Mekar Asih, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Dalam kegiatan ini
dilakukan observasi/ studi mendalam selama 25 hari kerja mengenai Sistem
Perkandangan dan Tatalaksana Pemeliharaan Domba Garut dengan objek
kandang, perawatan, dan kesehatan domba. Metode yang dilakukan yaitu dengan
melakukan pengamatan langsung dilapangan, wawancara mendalam, serta
pengumpulan data.
Kata kunci : Domba Garut, Kandang, Perawatan Domba, Kesehatan.
3.2

Pendahuluan
Usaha peternakan domba di Indonesia umumnya mengarah pada dua pola,

yaitu usaha penggemukan dan usaha pembibitan (penghasil bakalan). Masih


sedikitnya perusahaan peternakan yang bergerak di bidang pengembangan ternak
domba menjadikan PT. Agro Investama tertarik untuk mendalami usaha
pembibitan ini meskipun dalam prosesnya memerlukan periode waktu yang cukup
lama. Terdapat banyak manfaat yang dihasilkan dari usaha pembibitan domba,
salah satunya untuk menjaga ketersediaan populasi domba. Selain itu, pembibitan
juga menjadi sarana untuk terus menigkatkan mutu genetik domba di Indonesia.
Dalam perkembangannya, selain bibit yang berkualitas tentu sistem pemeliharaan
dan sistem perkandangan juga mengambil peran penting dalam keberhasilan
pembibitan domba. Maka dari itu, perlu kajian mendalam mengenai bagaimana

27
sistem pemeliharaan domba yang baik untuk dijadikan bibit di PT. Agro
Investama.
3.3

Tujuan
Adapun tujuan dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan pada

komoditas domba adalah


1.

Untuk mengetahui bagaimana sistem perkandangan domba di PT. Agro


Investama.

2.

Untuk mengetahui bagaimana tatalaksana pemeliharaan domba di PT. Agro


Investama.

3.4

Metode Pengamatan
Metode yang digunakan dalam studi mendalam adalah melalui

pengamatan langsung dilapangan serta wawancara mendalam kepada staff dan


anak kandang. Pengamatan langsung di lapangan menyangkut hal-hal yang
berkaitan dengan studi mendalam yang akan diambil atau data-data yang
mendukung pembahasan masalah terkait. Teknik wawancara dilakukan untuk
mengetahui hal-hal apa saja yang tidak dapat dilakukan melalui pengamatan tetapi
berdasarkan pengalaman dalam memelihara Domba Garut. Melalui metode
tersebut diharapkan data-data yang dikumpulkan dapat dijadikan bahan yang
mendukung dalam pembuatan laporan hasil studi mendalam.
3.5

Hasil dan Pembahasan

3.5.1

Sistem Perkandangan
Terdapat tiga faktor utama dalam suatu usaha peternakan yang sangat

penting yaitu Breeding, Feeding dan Management. Ketiga faktor ini satu sama
lain harus selalu berhubungan dan saling menunjang. Salah satu manajemen yang

28
perlu diperhatikan yaitu manajemen perkandangan. Kandang merupakan salah
satu aspek penting dalam pemeliharaan domba karena perkandangan merupakan
faktor yang cukup menentukan bagi kelancaran usaha ternak tersebut terutama
dalam

pembibitan

domba.

Kandang

yang

baik

dapat

membantu

dan

mempermudah para tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaannya dengan lebih


efektif dan efisien, membantu dalam meningkatkan konversi pakan dan laju
pertumbuhan serta kesehatan ternak.
a)

Kandang Lemprak
Kandang lemprak milik PT. Agro Investama merupakan kandang

karantina sementara yang digunakan untuk anak domba berumur 0 - 3 bulan yang
tidak disusui induknya maupun anak domba yang sakit. Atap kandang ini terbuat
dari terpal sedangkan dinding kandang terbuat dari bilik bambu. Tipe kandang ini
dipilih agar resiko anak domba terperosok kedalam celah lantai dapat berkurang
karena alas kandang berupa tanah yang dilapisi rumput. Namun, alas kandang
berupa tanah ini menyebabkan kotoran maupun air minum yang tumpah dapat
membuat lantai tanah menjadi basah dan becek sehingga menjadikan kondisi yang
lembab. Kondisi lembab ini menyebabkan domba menjadi tidak nyaman dan sakit
serta banyak anak domba sering tidak terselamatkan (mati).
Sesuai dengan pendapat Ludgate (2006) kandang lantai tanah memiliki
kelebihan yaitu biaya pembuatan lebih murah, konstruksi kandang lebih
sederhana, resiko kecelakaan dapat dihindari dan kandang tidak memikul beban
yang berat dari ternak, sedangkan kelemahannya yaitu kebersihan kurang
terjamin, kebersihan ternak kurang terjamin, lantai becek dan lembab, kuman
penyakit, parasit dan jamur berkembang subur yang menyebabkan kesehatan
ternak kurang terjamin.

29
Banyaknya resiko yang dapat ditimbulkan dari kandang ini menjadikan
kandang lemprak jarang digunakan oleh peternak kecil maupun peternakan skala
besar. Oleh karena itu kandang lemprak ini hanya digunakan sementara oleh PT.
Agro Investama yang selanjutnya akan diperbaiki dan secara berkala anak domba
akan dipindahkan ke dalam kandang koloni sehingga angka kematian anak domba
dapat ditekan. Seperti kita ketahui, PT. Agro Investama merupakan perusahaan
peternakan yang bergerak dalam usaha pembibitan sehingga akan lebih baik
apabila angka mortalitasnya rendah. Jika kandang lemprak terus digunakan
dikhawatirkan akan meningkatkan angka kematian anak domba yang tentunya
akan berakibat buruk terhadap citra dari PT. Agro Investama sebagai pusat
pembibitan.
b)

Kandang Koloni
Kandang koloni merupakan kandang utama di PT. Agro Investama.

Kandang ini bertipe panggung dengan tinggi panggung 1,5 m. Tipe ini dipilih
karena kandang panggung memilik keunggulan yaitu kandang relatif lebih bersih
karena kotoran dan air kencing jatuh kebawah, lantai kandang lebih kering dan
tidak becek, kuman penyakit, parasit dan jamur yang hidup di lantai kandang
dapat ditekan perkembangannya. Sesuai dengan pendapat Mulyono (2011) bahwa
fungsi kandang dibuat panggung adalah untuk menghindari ternak kontak
langsung dengan tanah yang mungkin tercemar penyakit dan ventilasi kandang
yang lebih bagus.
Kandang ini terdiri atas 40 pen dengan luas kandang 60,3 m x 16,5 m x 5
m dan ukuran pen 6 m x 3 m x 1 m dengan kepadatan 20 betina dan 1 jantan
untuk setiap pennya. Terdapat kelebihan dari kandang koloni milik PT. Agro
Investama yaitu model kandang yang dapat dirubah karena pembatas kandang

30
dapat dibongkar pasang sehingga dalam aplikasinya ada beberapa kandang yang
disatukan untuk 1 kelompok domba. Kelompok domba yang berada di kandang
ini yaitu :
Tabel 12. Kelompok Domba di PT. Agro Investama.
KELOMPOK
Induk / Dara Proses Kawin
Jantan penggemukan
Jajalon (jantan bibit)
Petet (anak >3 bulan)
Induk Siap Melahirkan
Induk Menyusui (anak <1 minggu)
Induk Menyusui (bukan bibit)
Anak domba berumur 0 - 3 bulan (umur <3
bulan, tidak diasuh oleh induk)
Karantina
Induk Menyusui (anak <1bulan
Induk Menyusui (anak <3 bulan
Induk Bunting

PEN
1 sampai 7
8 sampai 10
12 sampai 14
15 sampai 17
18-28
19-29
20
22
23
24 sampai 27
31 sampai 35
36 sampai 40

Material yang digunakan pada konstuksi kandang ini yaitu besi sebagai
dinding dan juga pembatas kandang yang dibuat seperti tralis, alas kandang
berupa kayu yang dipasang bercelah untuk memudahkan kotoran terjatuh ke lantai
kandang, atap yang terbuat dari asbes dengan tipe monitor untuk memudahkan
sirkulasi udara dalam kandang, dan lantai berlapis semen dengan kemiringan 100
agar memudahkan dalam pengaliran limbah dan proses pembersihan kotoran.
Posisi atau arah kandang ini dibuat membujur dari arah barat timur agar seluruh
cahaya matahari dapat menyinari kandang. Hal ini dilakukan karena sinar
matahari

berguna

untuk

membunuh

bibit

penyakit,

membantu

proses

pembentukan vitamin D dan mengurangi kelembaban kandang. Sesuai dengan


pernyataan Sudarmono dan Sugeng (2009), bahwa sinar matahari pagi sangat

31
penting untuk kesehatan domba karena membantu proses pembentukan vitamin D
dan sebagai desinfektan, serta mempercepat pengeringan kandang yang basah atau
lembab sehingga dapat membunuh mikroorganisme yang ada di kandang.
Selain itu, sisi kanan kandang dilapisi oleh tirai berupa terpal yang
berfungsi sebagai windbreaker dan lokasi kandang berjarak 200 m dari
pemukiman dan jalan raya. Hal ini sesuai dengan pendapat Rianto (2004) bahwa
ada beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kandang,
yaitu:
1.

Kandang hendaknya dibuat dari bahan yang murah tetapi kuat, serta mudah
didapatkan dari daerah sekitar.

2.

Pertukaran udara di dalam kandang dapat berlangsung dengan baik.

3.

Sinar matahari dapat masuk ke dalam kandang.

4.

Kandang mudah dibersihkan.

5.

Kandang terletak jauh dari tempat tinggal.

6.

Lingkungan kandang bersih dan kering.

7.

Tidak banyak dilewati lalu lintas umum.

c)

Kandang Individu
Kandang ini merupakan jenis kandang yang disekat-sekat dan hanya

cukup untuk 1 ekor domba. Kandang ini digunakan untuk pejantan karena pada
dasarnya pejantan Domba Garut tidak bisa disatukan, apabila disatukan maka
domba akan saling serang sebagaimana tingkah laku alamiah dari Domba Garut
yang gemar berkelahi. Kandang ini terdiri dari 12 ruang dengan ukuran masingmasing ruang yaitu 1,65 m x 0,95 m x 1,6 m. Apabila dibandingkan dengan
literatur, ukuran kandang ini masih belum sesuai karena menurut Rianto dan
Purbowati (2009), luas kandang yang diperlukan untuk seekor domba jantan

32
pemacek adalah 2 m x 1,5 m. Hal ini menyebabkan pejantan terbatas dalam
melakukan pergerakan karena ruang gerak yang terlalu kecil.
Material yang digunakan sebagai bahan kandang yaitu kayu tisuk karena
bahan ini lebih kokoh dan kuat untuk menahan serudukan domba. Selain itu pintu
kandang dibuat dengan sistem pintu slot atau bisa dibongkar pasang untuk
memudahkan pada saat untuk mengeluar masukkan domba. Bahan atap yang
digunakan yaitu asbes dengan model atap gable karena bentuk kandang yang
terbuka sehingga sirkulasi udara tetap terjaga. Kandang ini juga dibuat tipe
panggung agar memudahkan dalam pembersihan kotoran domba namun masih
terdapat kekurangan seperti tidak adanya saluran limbah sehingga kotoran
menggenang di lantai kandang dan posisi kandang yang membujur selatan utara
sehingga cahaya matahari hanya menyinari sebagian sisi kandang.
d)

Peralatan Kandang
Terdapat beberapa peralatan kandang yang harus selalu ada dan

dibutuhkan dalam sebuah lokasi kandang domba. Berbagai peralatan tersebut


adalah sebagai berikut :
1.

Tempat pakan untuk kandang koloni terbuat dari plastik (tong) yang
berukuran 1 m x 45 m x 0,25 cm dan berbentuk cekung. Hal ini bertujuan
untuk memudahkan dalam proses pembersihan. Setiap 1 pen terdiri dari 5
tempat pakan dengan kapasitas 1 tempat pakan yaitu 4-5 ekor domba. Tempat
pakan ini diletakkan didepan masing-masing pen dan dapat dibongkar pasang
sehingga dapat dipindahkan sesuai kebutuhan. Sedangkan tempat pakan
untuk kandang individu berbahan plastik dengan ukuran 45 cm x 20 cm x 10
cm dan dalam 1 kandang terdapat 1 tempat pakan.

33
2.

Tempat minum berbahan plastik dengan bentuk persegi dengan ukuran


panjang 40 cm dan diameter 35 cm. Setiap pen memiliki 1 buah tempat
minum.

3.

Alat kesehatan berupa jarum suntik, suntikan untuk oral, alat bedah (cutter,
jarum operasi dan benang jait) obat-obatan baik berupa tablet atau cair dan
lain-lain.

4.

Milk feeder atau tempat untuk menyimpan susu dengan rubber nipple (dot)
untuk anak domba berumur 0 - 3 bulan yang tidak disusui oleh induknya.
Susu pengganti yang diberikan berupa susu sapi. Milk feeder ini dapat
menampung 8 liter susu dan dapat digunakan oleh 8 ekor domba.

5.

Timbangan untuk menimbang pakan dan atau domba.

6.

Mesin chopper untuk mencacah rumput agar berukuran kecil.

7.

Mesin pemotong rumput untuk membasmi gulma dan arit untuk memanen
hijauan.

8.

Alat penjepit dan tambang untuk handling domba.

9.

Peralatan perawatan ternak berupa alat pemasang eartag, alat cukur bulu, alat
potong kuku dan alat pembentuk tanduk.

10. Sapu lidi untuk membersihkan kandang.


11. Karung untuk mengangkut pakan yang telah di chopper.
12. Selang untuk mendistribusikan air dari kran ke tempat minum masing-masing
pen.
13. Tempat penampungan limbah berupa bunker.
14. Sumber listrik dan sumber air berupa sumur arthesis.
15. Bambu sebagai pembatas lahan grazing.

34
3.5.2

Tatalaksana Pemeliharaan Domba


Perawatan merupakan salah satu bagian daripada pemeliharaan ternak

yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Berikut beberapa perawatan yang sering
dilakukan di PT. Agro Investama yaitu :
a)

Pemeliharan Anak Domba (Umur 0 - 3 bulan)


Pemeliharaan anak domba betina hanya berupa memandikan sekitar 1

bulan sekali dan dijemur dibawah sinar matahari pagi agar anak domba sehat dan
terbebas dari penyakit. Sedangkan untuk pemeliharaan anak domba jantan selain
dimandikan juga dilakukan pembutrikan. Pembutrikan merupakan pemotongan
bulu disekitar tanduk khusus untuk domba garut jantan. Bulu disekitar tanduk
dipotong sampai bersih karena bulu disekitar tanduk tersbut akan tumbuh dengan
baik dan cepat sehingga dapat menghambat dari pada pertumbuhan tanduk, karena
tanduk dan bulu akan berebutan makanan, sehingga dengan dilakukan
pembutrikan ini tanduk akan tumbuh dengan cepat. Setelah anak domba berumur
>3 bulan (petet) maka akan dilakukan pemasangan identitas berupa eartag.
b)

Pemeliharaan Induk (Umur > 10 bulan)


Ternak yang tidak pernah dimandikan maka bulunya akan kotor dan

lembab terutama domba yang tidak pernah dicukur bulunya. Keadaan seperti ini
merupakan tempat yang baik untuk bersarangnya kuman penyakit, parasit dan
jamur yang dapat membahayakan terhadap kesehatan ternak. Tujuan memandikan
ternak yaitu untuk menjaga kesehatan ternak dari kuman penyakit, parasit dan
jamur yang bersarang dalam bulu. Ternak yang dimandikan tampak lebih bersih,
menarik dan lebih sehat. Memandikan domba dilakukan setiap 1 bulan sekali.
Pada betina seluruh bulu akan dicukur namun sebelum dicukur domba
dimandikan terlebih dahulu agar dalam pelaksanaan pencukuran lebih mudah.

35
Pencukuran dilakukan 3 bulan sekali atau pada saat bulu sudah terlihat lebat.
Setelah itu dilakukan pemotongan kuku. Pemotongan kuku merupakan langkah
preventif terhadap kemungkinan terjangkitnya penyakit kuku akibat banyak
terselipnya kuman-kuman penyakit pada sela-sela kuku.
c)

Pemeliharaan Jantan (Umur > 1 tahun)


Seperti pemeliharaan pada betina, pemeliharaan jantan juga berupa

memandikan, memotong kuku dan pencukuran bulu. Namun untuk jantan, pada
saat pencukuran bulu maka akan disisakan pada bagian leher (jenggot) dan
punggung bagian depan untuk menambah kesan kejantanan dan keindahan
domba. Sebelum dicukur domba dimandikan terlebih dahulu agar dalam
pelaksanaan pencukuran lebih mudah. Pencukuran dilakukan 3 bulan sekali atau
pada saat bulu sudah terlihat lebat. Pada jantan juga dilakukan perbaikan tanduk,
namun kegiatan ini jarang dilakukan. Perbaikan tanduk hanya akan dilakukan jika
terdapat domba jantan yang tanduknya tidak simetris atau tanduknya rapat sampai
menusuk ke lehernya, maka tanduk tersebut segera untuk diperbaiki. Perbaikan
tanduk dilakukan pertama kali pada saat ternak mencapai umur minimal 1 tahun.
Sesuai dengan pendapat Mulyono (2011), bahwa ternak membutuhkan
perawatan agar dapat tumbuh dengan baik yang akhirnya dapat berproduksi secara
maksimal. selain pemberian pakan, adapun perawatan yang lain yaitu seperti
memandikan, mencukur bulu, dan memotong kuku.
3.5.3

Manajemen Kesehatan Domba


Domba yang sehat sangat penting untuk menghasilkan bibit domba yang

baik dan berkualitas. maka dari itu dilakukan pengontrolan penyakit yaitu dengan
adanya karantina selama 2 minggu sebelum domba masuk kedalam kandang

36
koloni. Selama 2 minggu tersebut domba akan diberika antibiotik, obat cacing dan
vitamin. pemberian obat ini hanya 1 kali kecuali domba tersebut dalam
pemeliharaan sakit maka akan diberikan obat yang sesuai dengan penyakit yang
diderita. jenis penyakit yang biasa menyerang yaitu bloat, cacingan, sakit mata,
gangguan pencernaan, gangguan pernafasan, diare, pilek, dan orf.
Selain pemberian obat saat karantina, tindakan prefentif lainnya yang
dilakukan yaitu berupa sanitasi baik pada kandang maupun pada pekerja.
Kandang dibersihkan setiap satu minggu sekali. Sanitasi pekerja dilakukan dua
kali sehari (mandi) yaitu sebelum dan sesudah melakukan aktivitas di kandang.
Sanitasi pekerja dilakukan agar kebersihan dan kesehatan pekerja dapat terjaga
sehingga terhindar dari kuman penyakit yang mungkin berasal dari domba yang
sedang sakit. Sesuai dengan pendapat Sarwono (2005), bahwa kegiatan
pengendalian penyakit meliputi sanitasi kandang, sanitasi peralatan, sanitasi
lingkungan perkandangan, dan sanitasi pekerja. Pengedalian penyakit merupakan
salah satu bagian daripada pemeliharaan ternak yang tidak dapat diabaikan begitu
saja (Kartadisastra, 1997).
3.6

Kesimpulan dan Saran

3.6.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Sistem perkandangan yang berada di PT. Agro Investama yaitu sistem


koloni dengan tipe panggung untuk induk dan bibit, sistem individu
dengan tipe panggung untuk pejantan dan kandang lemprak untuk
karantina anak domba yang sakit.
2. Tatalaksana pemeliharaan domba di PT. Agro Investama yaitu
memandikan dan pembutrikan pada anak domba, memandikan, mencukur

37
bulu dan memotong kuku pada induk, serta memandikan, mencukur bulu,
memotong kuku, dan pembentukan tanduk pada pejantan.
3.6.2

Saran
Sebaiknya kandang lemprak tidak lagi digunakan sebagai kandang

karantina anak domba yang sakit karena memiliki resiko tinggi terhadap kematian
domba. Apabila akan digunakan maka kandang lemprak harus diperbaiki dan
lebih disesuaikan lagi fungsinya sebagai kandang karantina anak domba yang
sakit agar mengurangi kematian anak domba akibat kandang yang tidak sehat
(lembab). Selain itu perlu dilakukan pemberian vaksin agar dapat menekan angka
kematian domba.

38
DAFTAR PUSTAKA

Kartadisastra, H.R. 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak


Ruminansia. Cetakan kesatu. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Ludgate, P. J. 2006. Sukses Beternak Kambing dan Domba. Papas Sinar Sinanti.
Jakarta.
Mulyono, S. 2011. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Rianto, Edy. 2004. Kandang Kambing. Bahan penyuluhan disampaikan dalam
rangka pengabdian kepada masyarakat di Kel. Beji, Kec. Ungaran, Kab.
Semarang 5-6 September 2004. Universitas Diponegoro: Semarang.
Rianto, E. dan Purbowati, E. 2009. Beternak Domba Lokal. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Sarwono, B. 2005. Beternak Kambing Unggul. Cetakan Ke VIII. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Sudarmono , A S dan Sugeng, Y B .2009. Domba : Pemeliharaan, Perbaikan
Produksi, Prospek Bisnis, Analisis Penggemukan. Penerbit Penebar
Swadaya. Jakarta.

39
IV
SISTEM PEMASARAN TERNAK DOMBA DI PT. AGRO INVESTAMA
MALANGBONG, GARUT
(Oleh: Risa Gunawan 200110130334)

4.1

Abstrak

Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan di PT. Agro Investama (AI) yang
berada di Jalan Raya Malangbong Wado KM 5, Desa Mekar Asih Kecamatan
Malangbong Kabupaten Garut. Perusahaan ini bergerak dikomoditas domba.
Praktek kerja lapangan dilaksanakan selama 25 hari kerja yaitu pada tanggal 04
Januari hingga 31 Januari 2015. Pengamatan difokuskan untuk mengetahui
bagaimana sistem pemasaran ternak domba garut yang dilakukan di perusahaan
PT. Agro Investama yang masih dalam tahap pembaharuan. Produk yang
dipasarkan berupa domba penggemukan dan domba pembibitan yang dipasarkan
ke PT. BCA (Berkah Citra Agro), pasar hewan, yayasan, bandar, dan konsumen
langsung. Sistem pemasaran terdiri dari dua tahap yaitu sistem penjualan hidup
dan sistem yang sudah dipotong berupa daging. Untuk domba pembibitan belum
dijual secara hidup, karena belum memenuhi target. Harga domba yang
dipasarkan sesuai dengan kualitas dan bobot badan domba. Pemasaran domba di
PT. Agro Investama menggunakan transportasi Delivery Order (DO) yaitu
diantarkan menggunakan mobil. Pemasaran domba di PT. Agro Investama
dilakukan ke daerah Garut,
Malangbong, Leles, Bandung, Majalengka,
Purwakarta hingga Karawang.
Kata Kunci : Ternak Domba Garut, Pemasaran, Distribusi

4.2

Pendahuluan
Peluang usaha ternak domba di Indonesia sangat terbuka lebar, karena

permintaan bakalan domba untuk penggemukan hingga permintaan domba muda


untuk kebutuhan konsumsi semakin bertambah. Selain itu, beternak domba juga
sangat penting untuk menjaga ketersediaan populasi domba. Domba merupakan
ternak yang mudah beradaptasi dan perkembangbiakannya cepat dimana seekor

40
domba dapat beranak sekali kelahiran menghasilkan 2-4 ekor anak dan 3 kali
beranak dalam 2 tahun.
PT. Agro Investama (AI) adalah suatu perusahan perdagangan yang
bergerak dibidang peternakan pembibitan Domba Garut berdiri Januari 2015,
dengan alamat Jalan Raya Malangbong Wado KM 5, Desa Mekar Asih
Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut. Sistem pemeliharaan yang digunakan
oleh perusahaan tersebut adalah semi intensif yaitu dengan cara pemeliharaan
sebagian waktu dikandangkan dan sebagian waktu digembalakan. Sistem ini
merupakan sistem pertama yang dilakukan oleh perusahaan.
Populasi Domba Garut terbesar di Indonesia tentunya ada di wilayah
provinsi Jawa Barat dengan lokasi daerah penyebaran antara lain: Garut,
Majalengka, Kuningan, Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Bandung, Sumedang,
Indramayu dan Purwakarta. Hampir sebagian orang lebih mengenal hewan ternak
Domba Garut identik dengan domba aduan yang berlaga di arena adu
ketangkasan. Namun, untuk perusahaan ini domba garut sudah tidak diadukan
lagi.
Namun yang patut dikhawatirkan pada kondisi saat ini adalah populasi
Domba Garut berkualitas yang kian menyusut dan dapat terancam punah dimana
bertolak belakang dengan sifat profilik yang dimilikinya. Kurangnya perhatian
serius terhadap sektor usaha pembibitan menjadikan populasi Domba Garut
unggulan agak sukar ditemukan. Dan ini pula yang menjadikan hewan ternak
Domba Garut untuk kebutuhan ibadah kurban kian mahal harganya.
Domba garut yang berada di PT. Agro Investama (AI) terbagi menjadi 2
yaitu domba penggemukan dan domba pembibitan. Domba penggemukan dijual
secara bobot hidup untuk kebutuhan idul kurban, pasar, dan konsumen sendiri.
Sedangkan domba pembibitan belum dijual secara hidup karena belum mencapai
target. Sedangkan permintaan konsumen terhadap domba pembibitan cukup
tinggi.

41
4.3

Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan yang diharapkan dari penulisan laporan

praktek kerja lapangan ini adalah sebagai berikut:


1. Mengetahui dan memahami sistem pemasaran domba yang dilakukan di
PT. Agro Investama Pusat Pembibitan Domba Garut.
2. Mengetahui prosedur pemasaran domba yang dilakukan di PT. Agro
Investama Pusat Pembibitan Domba Garut.
3. Mengetahui kepuasan konsumen terhadap pembelian domba di PT. Agro
Investama Pusat Pembibitan Domba Garut.
4. Mengetahui keputusam pemasaran terhadap domba di PT. Agro Investama
Pusat Pembibitan Domba Garut

4.4

Metode Pengamatan
Teknik pengamatan untuk pengumpulan data yang digunakan dalam

penulisan laporan praktek kerja lapangan ini, antara lain:


1. Pengamatan dan partisipasi secara langsung dalam aktivitas perusahaan
setiap harinya di PT. Agro Investama terhadap proses penjualan bobot
hidup kepada konsumen dan proses pemotongan domba secara paksa
untuk penjualan berupa karkas.
2. Metode diskusi dan wawancara dengan Pengawas Bantuan Perusahaan
yaitu Pak De Iwan, Manajer Farm yaitu Pak Singgih Cahyadi N S.Pt,
Pengawas Kandang yaitu Pak Moch. Rizka A, Manajer Keuangan yaitu
Pak Rudi Kurniawan H Amd, Manajer Operasional yaitu Pak Ujang
Ruhiyat dan Karyawan Perusahaan.
3. Studi literatur untuk mengkaji hasil pengamatan yang telah diperoleh di
lapangan.

42
4.5

Hasil Pengamatan dan Pembahasan

4.5.1

Pemasaran
PT. Agro Investama komoditas pembibitan domba garut merupakan salah

satu perusahaan besar yang hasil usahanya adalah domba pembibitan dan domba
penggemukan. Perusahaan ini sudah memasarkan produknya melalui yayasan,
pasar yaitu daerah Malangbong, Majalengka, Leles, bandar, meat shop BCA
(Berkah Citra Agro), hingga konsumen langsung. Pemasaran tersebut dilakukan
untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan PT. Agro Investama.
Menurut Stanton (2001), definisi pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari
kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga,
mempromosikan dan mendistribusikan barang atau jasa yang memuaskan
kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial. Sehingga
perusahaan harus memiliki arah untuk memuaskan konsumen dengan tujuan
memperoleh laba. Maka, suatu perusahaan bertanggung jawab secara penuh
tentang kepuasan produk yang ditawarkan supaya mendapatkan tanggapan yang
baik dari konsumen.
Produk peternakan domba yang dipasarkan PT. Agro Investama terdapat 2
bagian yaitu sebagai berikut :
1) Domba berdasarkan bobot hidup
2) Daging domba dan hasil samping berupa kulit, jeroan, kepala, kaki. Untuk
kulit dijadikan jaket sehingga dipasarkan ke industri jaket kulit yang ada di
Garut. Adapula pemasaran rumput produksi yang dijual ke perusahaan PT.
CABS (komoditas sapi potong) untuk dijadikan pakan dengan harga jual
Rp. 250/kilogram. Kemudian limbah seperti feses dan urin yang diberikan
ke petani di daerah sekitar Malangbong untuk dijadikan pupuk kandang.
Sebelum melakukan transaksi penjualan, PT. Agro Investama melakukan
pembelian domba dari pasar. Domba yang di beli adalah domba penggemukan
betina dan domba penggemukan jantan. Penyediaan awal domba penggemukan
sekitar 301 ekor, domba penggemukan yang terjual 167 ekor saat idul kurban,
permintaan tersebut relatif rendah karena pembeli lebih memilih beli sapi potong

43
yang kisaran harga lebih murah. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai
berikut.
Tabel 13. Data Penjualan Domba PT. Agro Investama
Tahap

Tanggal

Pembeli

Keterangan

Ekor Jumlah

25-May-15

Dede Dedi

Domba

40

Rp. 53,320,000

29-May-15

Dede Dedi

Domba

26

Rp. 32,050,000

31-Jul-15

Dede Dedi

Domba

32

Rp. 25.000,000

47

Rp. 35,300,000

Domba Pembibitan

20

Rp. 31,200,000

Domba Anak Betina

Penggemukan
4

3-Aug-15

Dede Dedi

Domba
Penggemukan

15-Oct-15

Asep R

Jumlah
Sumber

167

Rp. 176,870,000

: PT. Agro Investama, 2015

Terlihat dalam Tabel 13 bahwa penjualan dilakukan pencatatan atau


dokumentasi perhitungan sebagai tanda bukti pembelian berupa faktur (invoice).
Faktur merupakan salah satu dokumen dasar yang digunakan untuk tagihan yang
harus dibayar oleh konsumen juga sebagai bukti pencatatan bagi perusahaan
penjual dan perusahaan pembeli.

4.5.2

Sistem Pemasaran
Pemasaran domba yang dilakukan oleh PT. Agro Investama yaitu menjual

domba kepada lembaga tata niaga seperti yayasan, pasar hewan (Malangbong,
Majalengka, dan Leles), bandar (Malangbong dan Bandung), dan PT. Berkah
Citra Agro (meat shop). Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan para konsumen
perorangan yang membeli dalam jumlah kecil pun dapat membeli domba tersebut.
Penjualan adalah kegiatan yang termasuk dalam proses pemasaran. Secara khusus,
pemasaran dapat didefinisikan sebagai telaah terhadap aliran produk secara fisis
dan ekonomik, dari produsen melalui pedagang perantara ke konsumen.

44
Pemasaran melibatkan banyak kegiatan yang berbeda, yang menambah nilai
produk pada saat produk bergerak melalui sistem tersebut (Downey dan Erickson,
1987).
Sistem pemasaran domba PT. Agro Investama terbagi menjadi 2 sistem
yaitu sebagai berikut :
1. Domba Penggemukan
Sistem pemasaran domba penggemukan dilakukan dengan bobot hidup.
Sistem pemasaran tersebut di bagi 2 skala yaitu skala kecil dan skala besar.
Untuk skala kecil harga perekor yaitu Rp. 1.400.000 Rp. 2.650.000. sedangkan
untuk skala besar rata-rata pembelian sebanyak 60 ekor, 20 ekor dan paling
sedikit 10 ekor. Untuk harga skala besar relatif lebih murah dari pada skala kecil.
Adapun harga bobot hidup domba penggemukan perkilogram yaitu pada Tabel 2.
Tabel 14. Harga Bobot Hidup Domba Jantan Perkilogram
No.

Bobot Hidup Domba Jantan

Harga Domba Penggemukan

Penggemukan (Perekor)

(Perkilogram)

1.

15 s/d <20 kilogram

Rp. 85.000,00

2.

>20 s/d <25 kilogram

Rp. 80.000,00

3.

>25 s/d 35 kilogram

Rp. 75.000,00

Sumber

: PT. Agro Investama, 2016

Sesuai dengan Tabel 2, bahwa perhitungan bobot hidup perkilogram


domba penggemukan yang beratnya ringan harganya lebih mahal, sedangkan
bobot hidup yang relatif besar memilki murah. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa semakin berat bobot hidup domba penggemukan perekor, maka harga
domba penggemukan yang dijual semakin murah.
2. Domba Pembibitan
Sistem pemasaran domba pembibitan yaitu berupa daging, karena domba
tersebut di potong sendiri lalu di jual ke perusahaan PT. Berkah Citra Agro
(BCA). Karena PT. BCA merupakan salah satu anak perusahaan dari PT. CABS

45
yang menjual daging, baik daging domba atau pun daging sapi. Domba
pembibitan yang di afkir biasanya domba bibit yang dipotong paksa, sudah tidak
berproduksi lagi, atau umurnya yang sudah tua. Berikut adalah harga penjualan
domba pembibitan afkir yang di pasarkan oleh PT. Agro Investama.
Tabel 15. Harga Penjualan Domba Pembibitan Afkir PT. AI
No.

Keterangan

Harga

1.

Karkas, kilogram

Rp. 90.000

2.

Kepala, satuan

Rp. 35.000 Rp. 50.000

3.

Jeroan, kilogram

Rp. 25.000

4.

Kulit, lembar

Rp. 70.000

Sumber

: PT. Agro Investama, 2016


Terlihat dalam Tabel 15 bahwa harga daging yang dipasarkan relatif

sama dengan harga pasar. Harga domba yang dipasarkan sesuai dengan kualitas
domba. Kualitas daging domba dipengaruhi oleh sistem pemeliharaan dan
perlakuan seperti : pemberian pakan, tatalaksana dan perawatan kesehatan.
Sedangkan hal-hal yang mempengaruhi kualitas daging domba pada saat ternak
dipotong adalah perdarahan, pengulitan, dan kontaminasi (Murtidjo, 1993). Hal
ini sesuai dengan pendapat Manajer Operasional yaitu Pak Ujang Ruhiyat saat
memotong paksa domba pembibitan yang diafkir.

4.5.3

Prosedur Pemasaran
Alur pemasaran yang biasa dilaksanakan PT. Agro Investama ada 2 alur

pemasaran yaitu sebagai berikut :

46
1. Jalur Pemasaran Domba penggemukan
Sumber Pembelian
Pasar Malangbong

Penggemukan selama 3
bulan
Penjualan
Umur 6 bulan 1 tahun

Konsumen
Masyarakat, Bandar,
Yayasan
2. Jalur Pemasaran Domba pembibitan Afkir
Pengafkiran
(Potong paksa, tidak produktif
lagi, umur sudah tua)

Penjualan
PT. BCA (Berkah Citra
Agro) dalam bentuk karkas

Konsumen
Sumber : PT. Agro Investama, 2016

47
Jalur pertama yaitu alur pemasaran domba penggemukan biasanya
dilakukan pembelian domba penggemukan di pasar hewan yang berada didaerah
Malangbong, Garut. Kemudian dilakukan penggemukan selama 3 bulan di
kandang Pembibitan Domba Garut PT. Agro Investama. Setelah domba
penggemukan berumur minimal 6 bulan atau maksimal 1 tahun, domba
penggemukan di jual.
Penjualan dilakukan ke konsumen langsung yaitu sistem retail (eceran).
Selain itu, penjualan dilakukan ke Bandar, pasar hewan dan yayasan. Penjualan
domba penggemukan hasil penggemukan PT. Agro Investama dilakukan ke
daerah Garut seperti Malangbong dan leles. Adapula daerah Bandung,
Purwakarta, Karawang, hingga Majalengka.
Menurut Mursid (2006), saluran ditribusi adalah lembaga penyalur yang
mempunyai kegiatan untuk menyalurkan barang atau jasa dari produsen sampai
konsumen, sedangkan menurut Simamora (2003), saluran pemasaran adalah
organisasi yang terkait satu sama lain dan terlibat dalam penyaluran produk mulai
dari produsen sampai konsumen.
Jalur kedua yaitu alur pemasaran domba pembibitan biasanya dilakukan
pengafkiran. Domba pembibitan yang diafkir adalah domba yang dipotong paksa
yaitu domba pembibitan yang sudah tidak berproduksi lagi atau umur yang sudah
tua. Setelah dilakukan pemotongan, daging domba tersebut disimpan di freezer
untuk di awetkan, sedangkan pengawetan kulit domba menggunakan garam dan
disimpan diruangan khusus penimbunan kulit domba.
Proses penjualan daging domba pembibitan yaitu di jual ke perusahaan
daging PT. BCA (meat shop) daerah Ciliwung, Bandung, dan untuk kulit domba
dijual ke industri jaket kulit yang ada di Garut. Domba pembibitan dalam bobot
hidup belum dijual karena belum mencapai target. Target domba pembibitan di
PT. Agro Investama yaitu 1200 ekor. Untuk selanjutnya petet yang kurang bagus
(jantan) dijadikan domba penggemukan lalu dijual untuk kurban. Menurut Kotler
(2005) produsen yang mampu membentuk saluran pemasaran sendiri seringkali

48
bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan meningkatkan investasi
dalam bisnis pokoknya.
4.5.4

Distribusi
Pemasaran domba di PT. Agro Investama untuk mendistribusikan domba

yang telah terjual menggunakan sistem Delivery Order (DO) dan menggunakan
alat transportasi seperti mobil dengan jenis dan daya muat sebagai berikut:
Tabel 16. Keadaan Transportasi PT. Agro Investama
No.

Jenis Angkutan

Jumlah

Daya Muat Ternak


(ekor)

1.

Mobil Pick up 2 lantai

25-40

2.

Mobil Pick up 1 lantai

20-25

3.

Mobil Engkel

25-40

Sumber

: PT. Agro Investama, 2015

Daya muat ternak terhadap alat transportasi menyesuaikan besar atau


kecilnya bobot domba yang akan di DO (Delivery Order).
4.5.5

Kepuasan Konsumen
Kepuasaan konsumen yang telah membeli domba di PT. Agro Investama

baik berupa hidup maupun sudah berupa daging, terdapat kelebihan dan
kekurangan yaitu sebagai berikut :
1. Kelebihan :
a. Daging domba menghasilkan karkas bagus.
b. Harga domba relatif murah, karena pembelian tersebut sekaligus
diantarkan (delivery order) tanpa meminta ongkir (ongkos kirim).
2. Kekurangan :
a. Domba yang sudah diantarkan terkadang ada yang tertukar, sehingga
tidak sesuai dengan permintaan konsumen.

49
b. Lama pengiriman untuk daerah yang jauh seperti daerah Karawang
dan Purwakarta. Atau pemberian alamat konsumen yang kurang jelas.

4.5.6

Keputusan Pemasaran
Sistem pemasaran domba di PT. Agro Investama, Malangbong

mendapatkan keputusan pemasaran bahwas sebagai berikut :


1. Lama pemeliharaan merupakan faktor utama dalam memasarkan domba.
Pemasaran akan dilakukan setelah domba telah mengikuti proses
penggemukan selama 3 bulan untuk domba penggemukan, atau domba
tersebut dapat dijual setelah berumur 6 bulan sampai dengan 1 tahun.
2. Peristiwa pemasaran domba penggemukan dilakukan pada saat waktu
tertentu seperti Idul Adha, Aqiqah, dan untuk dijadikan bakalan
penggemukan.
3. Pemotongan paksa yaitu domba pembibitan yang sudah di afkir, biasanya
domba yang sudah tidak berproduksi. Kemudian dipasarkan dagingnya ke
PT. BCA (meat shop), atau konsumen langsung.

4.6

Kesimpulan dan Saran

4.6.1

Kesimpulan
Berdasarkan uraian hasil pengamatan dan pembahasan dari laporan

praktek kerja lapangan di PT. Agro Investama adalah sebagai berikut:


1. PT. Agro Investama memasarkan domba penggemukan dan domba
pembibitan. Sistem pemasaran domba penggemukan dilakukan dengan
penjualan secara hidup. Sedangkan sistem pemasaran domba pembibitan
yang telah di afkir berupa karkas, kepala, jeroan dan kulit.
2. Prosedur pemasaran yang dilakukan PT. Agro Investama pada umumnya
adalah alur pemasaran pada domba penggemukan yang digemukkan

50
terlebih dahulu kemudian dijual kepada konsumen. Disamping terdapat
pula alur pemasaran domba pembibitan yang di afkir kemudian dijual ke
PT. Berkah Citra Agro untuk dipasarkan ke konsumen. Distribusi
pemasaran domba menggunakan sistem delivery order.
3. Kelebihan terhadap kepuasan konsumen yang telah membeli domba di PT.
Agro Investama adalah domba yang menghasilkan karkas bagus dengan
harga yang relatif murah. Sedahkan kekurangan kepuasan konsumen
adalah pengiriman domba yang lama dan terkadang tertukar.
4. Keputusan pemasaran domba garut di PT. Agro Invesstama yaitu lama
pemeliharaan, waktu pemasaran domba penggemukan, dan pemotongan
paksa domba pembibitan afkir.
4.6.2

Saran
Adapun saran yang saya ingin sampaikan yaitu PT. Agro Investama

dibidang pembibitan domba garut perlu meningkatkan populasi ternak domba


garut baik berupa domba pembibitan dan domba penggemukan. Pemeliharaan
domba pembibitan dan penggemukan domba penggemukan harus lebih efektif
dan efisien. Karena domba yang memiliki bibit unggul dan bobot badan yang
optimal akan mempengaruhi tingkat penjualan yang akan berdampak pada
keuntungan perusahaan. Pengiriman domba delivery order harus memiliki alamat
konsumen yang jelas supaya proses pengiriman tepat waktu. Domba garut yang
akan dikirim ke konsumen harus didata secara jelas agar tidak terjadi kesalahan
pembelian domba atau domba yang dibeli oleh konsumen tertukar dengan
konsumen lain.

51

DAFTAR PUSTAKA
Downey, W. David dan Erickson, Steven P., 1987. Manajemen Agribisnis, Edisi
Kedua. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Kotler, Philip. 2005. Manajemen Pemasaran. Edisi kedelapanbelas. Jilid 2. PT.
Indeks Kelompok Gramedia. Jakarta
Mursid. 2006. Manajemen Pemasaran. Bumi Aksara. Jakarta
Murtidjo, Bambang Agus. 1993. Memelihara Domba. Kanisius. Yogyakarta
Simamora. 2003. Memenangkan Pasar dengan Pemasaran Efekif dan Profitabel.
PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Stanton, William J. 2001. Prinsip Pemasaran. Erlangga. Jakarta.

52
Lampiran 1. Domba Garut yang Dipelihara di PT. Agro Investama.

Domba Penggemukan Jantan

Domba Penggemukan Betina

Domba Garut Pejantan

Domba Garut Betina

53
Lampiran 2. Kandang Domba di PT. Agro Investama.

Kandang koloni.

Tata letak kandang koloni.

Kandang individu.

Kandang lemprak.

54
Lampiran 3. Peralatan Kandang di PT. Agro Investama.

(1) Tempat pakan, (2) Tempat minum,


(3) Timbangan, (4) Milk feeder.

Alat penjepit domba.

(1) Alat kesehatan, (2) Alat cukur bulu,

Mesin chopper.

(3) Alat pemasang eartag,


(4) Saluran limbah.

55
Lampiran 4. Tatalaksana Perawatan Domba di PT. Agro Investama.

Memandikan domba.

Mencukur bulu domba.

Memotong kuku domba.

Menyikat tanduk domba pejantan.

56
Lampiran 5. Peta Lahan Hijauan Pakan Ternak

57
Lampiran 6. Hijauan, Konsentrat dan Pemberian Pakan

Rumput Taiwan

Rumput Brachiaria decumbens

Rumput Gajah Mini

Gamal

58

Ampas Tahu

Konsentrat

Proses Pengaritan Rumput

Rumput Taiwan Sebelum Dicacah

59

Proses Pencacahan Rumput Taiwan

Rumput Taiwan Setelah Dicacah

Penimbangan Konsentrat

Pemberian Konsentrat dan Ampas Tahu

60

Pemberian Hijauan

Lahan Penggembalaan

Proses Pengeluaran Domba Grassing

Domba Grassing di Lahan


Penggembalaan

61
Lampiran 7. Pemotongan Domba Pembibitan Afkir

Proses Penyembelihan

Proses Pengulitan

Kulit Domba

Karkas Domba

62
Lampiran 8. Proses Pembelian Domba Penggemukan

Proses Jual Beli Domba

Penimbangan Hidup