Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Jaringan transmisi merupakan media yang digunakan untuk
menyalurkan energi listrik dari pembangkit menuju gardu induk. Sistem
transmisi energi listrik di Indonesia pada umumnya terdiri dari jaringan
SUTET 275 kV yang digunakan di Sumatra dan 500 kV yang digunakan
di Jawa, jaringan SUTT 70 kV dan 150 kV digunakan di Jawa, Sumatra,
Kalimantan dan Sulawesi, serta SKTT 150 kV yang digunakan untuk
menyalurkan energi listrik ke Pulau Madura dan Bali. Penggunaan
tegangan tinggi pada jaringan transmisi dimaksud untuk mereduksi energi
yang hilang selama proses penyaluran menuju gardu induk.
Sistem transmisi dengan tegangan kerja sebesar 70 kV di Pulau Jawa
secara bertahap akan digantikan dengan sistem 150 kV. Pelaksanaan
uprating tegangan pada jaringan transmisi akan dimulai secara bertahap,
oleh sebab itu PLN unit Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B)
sedang giat melaksanakan studi lapangan terkait uprating tegangan.
Apabila hal demikian dilakukan maka perlu dilakukan perubahan
peralatan terkait daya isolasi pada tegangan tinggi serta kapasitas
peralatan.
Gardu Induk Blimbing terdiri dari transformator 1 70/20 kV dengan
daya 20 MVA, transformator 2 70/20 kV dengan daya 30 MVA, dan
transformator 3 70/20 Kv dengan daya 30 MVA. Ketiga buah
transformator tersebut dihubungkan dalam busbar dan ketiganya
mendapatkan suplai tegangan 70 kV dari gardu induk Sengkaling dan
trafo IBT Kebon Agung. Ketiga buah transformator yang ada melayani
sebelas penyulang yaitu, penyulang Mojolangu, penyulang Singosari,
penyulang Pandanwangi, penyulang Telkom GH, penyulang Mawar,
penyulang Wendit, penyulang Asahan, penyulang Glintung, penyulang
Bentul, penyulang Telkom, dan penyulang Baru Karya Timur. Sebagian

besar penyulang tersebut melayani wilayah Malang kota, sehingga


diperlukan keandalan pelayanan yang tinggi bagi konsumen.
Uprating tegangan mengandung arti yaitu penetapan kenaikan
tegangan dalam suatu sistem. Perencanaan uprating tegangan pada GI
Blimbing membutuhkan pengkajian beberapa peralatan dimulai dari
transformator yang semula memiliki tegangan kerja sisi incoming sebesar
70/20 kV diganti dengan transformator yang memiliki tegangan kerja
150/20 kV, isolator peralatan, perhitungan jarak antar penghantar,
pemilihan arrester dan jarak perlindungan arrester, peralatan metering CT
dan PT, wave trap, peralatan proteksi dan pemisah.
Ketika dilakukan uprating tegangan dari sistem 70 kV menuju 150 kV
diperlukan pergantian transformator, karena hal ini berkaitan dengan
kemampuan isolasi penghantar trafo. Apabila trafo mendapatkan suplai
tegangan lebih tinggi dibanding tegangan yang tertera pada name plate,
maka akan mengakibatkan isolasi pada belitan terbakar akibat adanya
tegangan tembus.
Isolator berperan memisahkan peralatan yang bertegangan dengan
bagian peralatan yang lain agar terhindar dari bahaya tegangan sentuh.
Secara teori, apabila terjadi kenaikan tegangan, maka dibutuhkan
kemampuan isolasi peralatan yang lebih tinggi. Dalam kawat transmisi
udara digunakan sebagai media isolasi antar penghantar, sehingga apabila
terjadi kenaikan tegangan maka dibutuhkan pengaturan jarak antar fasa
yang lebih jauh lagi.
Arrester dalam gardu induk berperan vital terhadap perlindungan
akibat adanya surja hubung dan surja petir. Arrester yang terpasang
hendaknya memperhatikan hal hal sebagai berikut, kekuatan isolasi dari
peralatan listrik yang harus dilindungi dan karakteristik impuls arrester,
dan tegangan tertinggi sistem, tegangan ini terjadi apabila terjadi
gangguan kawat ketanah. Tegangan tertinggi yang mungkin terjadi dalam
sistem apabila sistem tersebut tidak diketanahkan, sistem diketanahkan
dengan kumparan petersen, sistem yang diketanahkan dengan impedansi,

sistem yang diketanahkan efektif, dan sistem yang diketanahkan tidak


efektif tentu memiliki besaran tegangan yang berbeda, sehingga pemilihan
arrester perlu diperhatikan. Jarak penempatan arrester juga berpengaruh
terhadap perlindungan trafo tenaga. Berdasarkan teori, jarak penempatan
arrester terbaik adalah dengan meletakkan arrester sedekat mungkin
dengan trafo tenaga, akan tetapi dalam kondisi lapangan hal ini sulit
dilakukan.
Circuit breaker adalah peralatan yang berperan untuk memutuskan
dan menghubungkan sirkit listrik baik dalam keadaan berbeban ataupun
tanpa beban ketika kondisi normal ataupun gangguan. Circuit breaker
dihubungkan dengan relay relay proteksi guna keperluan perlindungan
jika terjadi gangguan, hal ini perlu dilakukan mengingat peralatan pada
gardu induk memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Jika suatu gardu induk
menggunakan sistem double busbar, penempatan circuit breaker berada
diantar disconnecting switch (pemisah). Penempatan circuit breaker yang
berada diantar DS memiliki tujuan untuk mempermudah petugas gardu
ketika melakukan prawatan pada peralatan.
Gardu induk Blimbing memegang peran vital terhadap ketersediaan
energi listrik khusunya di sebagian wilayah Malang kota dan beberapa
Industri besar lain. Berdasarkan pemaparan pengaruh uprating tegangan
terhadap kemampuan isolasi peralatan, maka disusun tugas akhir dengan
judul, ANALISIS PERUBAHAN SISTEM KELISTRIKAN AKIBAT
UPRATING TEGANGAN 70 KV MENJADI 150 KV PADA GARDU
INDUK BLIMBING.
1.2

Rumusan Masalah
Sesuai latar belakan yang telah dijelaskan, maka pembahasan akan
lebih ditekankan pada :
1. Bagaimana kondisi pembebanan pada GI Blimbing sebelum
dilaksanakan uprating tegangan dan daya serta perencanaan
pembebanan tahun mendatang ?

2. Bagaimana spesifikasi trafo, DS saluran, DS pentanahan CB,


Arrester, busbar, luas penghantar sisi tegangan tinggi, CT, PT, ,dan
jarak arrester terhadap trafo ?
3. Bagaiman kondisi pembebanan setelah dilakukan uprating
tegangan dan daya dengan menggunakan simulasi ETAP ?
1.3

Batasan Masalah
Batasan-batasan masalah yang ditentukan dalam pengerjaan Laporan
Akhir ini adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan uprating tegangan dan daya hanya untuk GI
Blimbing.
2. Membahas mengenai kondisi peramalan beban dan spesifikasi
peralatan yang dibutuhkan setelah dilakukan uprating tegangan
dan daya.
3. Perencanaan

peralatan

dilakukan

pada

peralatan

yang

mendapatkan pengaruh akibat uprating pada sisi tegangan tinggi.


4. Membahas mengenai jarak perlindungan arrester terhadap trafo.
5. Membahas relay proteksi terhadap gangguan internal trafo setelah
dilakukan uprating tegangan dan daya.
6. Tidak membahas mengenai model pentanahan yang dibutuhkan
setelah adanya uprating tegangan.
1.4

Tujuan
Tujuan dari penulisan Laporan Akhir ini adalah:
1. Mengetahui kondisi pembebanan pada GI Blimbing sebelum
dilaksanakan uprating tegangan dan daya serta perencanaan
pembebanan tahun mendatang.
2. Memahami spesifikasi trafo, DS saluran, DS pentanahan CB,
Arrester, busbar, luas penghantar sisi tegangan tinggi, CT, PT, dan
jarak arrester terhadap trafo.
3. Memahami kondisi pembebanan setelah dilakukan uprating
tegangan dan daya dengan menggunakan simulasi ETAP.

1.5

Sistematika Penulisan
Agar penulis Tugas Akhir dapat tersusun dengan judul yang telah
disebutkan diawal, maka pokok-pokok bahasan ialah sebagai berikut :

BAB I.

BAB II.

PENDAHULUAN
Berisi latar belakang,

perumusan

masalah,

tujuan

penelitian, batasan masalah dan sitematika penulisan.


TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini berisi tentang teori-teori yang menjadikan
landasan dalam kegiatan penelitian. Digunakan sebagai
landasan berfikir untuk melaksanakan penelitian dan
digunakan

sebagai

pedoman

untuk

melaksanakan

BAB III.

penelitian.
METODE PENELITIAN
Pada bab ini membahas tindakan yang dilakukan untuk

BAB IV.

pengumpulan dan pengolahan data.


ANALISA
Membahas tentang inti pada batasan masalah dan tujuan

BAB V.

penelitian.
PENUTUP
Bab ini berisi rangkuman hasil penelitian yang ditarik dari
analisis data serta pembahasannya. Saran berisi tentang
perbaikan-perbaikan atau masukan dari peneliti untuk
perbaikan yang berkaitan dengan penelitian.