Anda di halaman 1dari 31

1

ASKEP MOLLA HIDATIDOSA


Untuk Memenuhi Mata Kuliah Keperawatan Maternitas I

Di susun oleh :
Agni Fujiawati

P17320312001

Angelirene Adelweis

P17320312007

Sherly Melinda

P17320312066
Tingkat II B

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG


PROGRAM STUDI KEPERAWATAN BOGOR
2014

KATA PENGANTAR
Puji serta syukur kehadirat Alah SWT karena atas karunia-Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktu yang telah ditentukan. Penulisan makalah ini
diberi judul : Askep perdarahan pada hamil muda : molla hidatidosa.
Terimakasih kepada ibu Wardiah Hamid APPd, dan semua dosen yang telah
membimbing kami agar terselesaikannya makalah ini dengan baik. Semua teman-teman
seperjuangan yang terus memberi dukungan kepada kami.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan, baik dari segi isi maupun penulisan kata-kata yang digunakan. Oleh karena itu,
segala kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan isi makalah
ini dikemudian hari. Semoga bisa di gunakan untuk pembaca untuk menambah pengetahuan.

Bogor, 25 Maret 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................1
A.

Latar Belakang.................................................................................1

B.

Tujuan.............................................................................................. 1

BAB II TEORI................................................................................................ 2
A.

PENGERTIAN.................................................................................... 2

B.

ETIOLOGI.......................................................................................... 2

C.

PATOFISIOLOGI.................................................................................3

D.

TIPE-TIPE MOLLA.............................................................................. 3

E.

TANDA DAN GEJALA.........................................................................3

F.

PEMERIKSAAN PENUNJANG............................................................4

G.

PENATALAKSANAAN MEDIS..............................................................4

H.

PENATALAKSANAAN PERAWATANPERDARAHAN PADA AWAL

KEHAMILAN......................................................................................................... 4
I.

KOMPLIKASI....................................................................................7

ASKEP MOLLA HIDATIDOSA..........................................................................8


A.

Pengkajian....................................................................................... 8

B.

Diagnosa Keperawatan..................................................................12

C.

Intervensi Keperawatan.................................................................13

D.

Implementasi keperawatan...........................................................19

E.

Evaluasi......................................................................................... 19

BAB III PENUTUP........................................................................................ 20


A.

Kesimpulan.................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 21

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mola Hidatidosa merupakan bagian dari penyakit tropoblas dan dimasukan
dalam Gestasional Trophoblastic Disease. Sel trofoblas hanya ditemukan pada wanita hamil,
apabila ditemukan pada wanita tidak hamil pada teratoma ovarium disebut Non Gestasional
Trophoblastic Disease. Pada umumnya kehamilan diharapkan berakhir dengan sempurna
tetapi sering kali terjadi kegagalan, maka dapat kita simpulkan bahwa penyakit trofoblas
dimana Mola Hidatidosa termasuk di dalamnya pada hakekatnya adalah kegagalan konsepsi
kehamilan.
Mola Hidatidosa yang dikenal awam sebagai hamil anggur, mempunyai frekuensi
insiden yang cukup tinggi. Frekuensi insiden di Asia menunjukan lebih tinggi daripada di
negara barat. Di Indonesia 1:51 sampai 1:141 kehamilan, di Jepang 1: 500 kehamilan, di USA
1:1450 sementara itu di Inggris 1:1500. Secara umum sebagian besar negara di dunia 1: 1000
kehamilan. Hal ini mungkin dikarenakan sebagian besar negara Asia mempunyai jumlah
penduduk yang masih di bawah garis kemiskinan ( status sosio ekonomi yang rendah ) yang
menyebabkan tingkat gizi yang rendah khususnya defisiensi protein, asam folat dan karoten.
Menurut penelitian umur memegang peranan, umur di bawah 20 tahun dan diatas 40 tahun
mempunyai resiko lebih tinggi menderita kehamilan mola ini.
Mola yang termasuk jinak dapat berubah menjadi tumor trofoblas yang ganas. Mola
ini kadang masih mengandung vilus di samping trofoblas yang berproliferasi dan dapat
mengadakan invasi yang umumnya bersifat lokal dan dinamakan mola destruens ( jenis
vilosum ) selain itu, terdapat pula tumor trofoblas tanpa stroma yang umumnya tidak hanya
berinvasi pada uterus saja tapi dapat menyebar ke organ lain dinamakan koriokarsinoma. Hal
ini akan dijelaskan lebih lanjut.

B. Tujuan
1. Mengerti pengertian dari molla hidatidosa
2. Dapat menyebutkan tanda dan gejala
3. Mengetahui komplikas dari molla hidatidosa
4. Mengerti askep tentang molla hidatidiosa

5.

BAB II

6.

TEORI

7.

A PENGERTIAN
8. Mola hidatidosa merupakan salah satu dari tiga jenis neoplasma trofoblastik
gestasional (ACOG, 1993). Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana
hampir seluruh vili korialisnya mengalami perubahan hidrofik. Ada dua jenis
yang berbeda ; komplet atau klasik, mola dan mola sebagian, yang bisa menjadi
bagian dari penyakit trofoblastik (depetrillo,dkk., 1987).
9. Mola hidatidosa terjadi pada satu dari setiap 1200 kehamilan di amerika serikat,
tetapi insinden yang lebih tinggi bisa terlihat di asia dan di daerah tropis (berman,
disaia, 1989). Paling sering terjadi pada wanita yang ovulasinya distimulasi
dengan klomifen (clomid), pada wanita dari golongan sosioekonomi rendah, dan
wanita yang berada di kedua ujung masa reproduksi untuk mengalami kehamilan
mola kedua empat sampai lima kali lebih tinggi dari resiko kehamilan mola
pertama.
10.

C.

ETIOLOGI

11. Penyebab dari mola belum sepenuhnya diketahui dengan pasti tetapi ada
beberapa dugaan yang bisa menyebabkan terjadinya mola :
1. Faktor ovum memang sudah patologik, tetapi terlambat untuk dikeluarkan
2. Imunoselektif dari trofoblas
3. Keadaan sosioekonomi yang rendah
4. Malnutrisi, defisiensi protein, asam folat, karoten, vitamin, lemak hewani
5. Paritas tinggi
6. Umur, resiko tinggi kehamilan dibawah 20 atau diatas 40 tahun
7. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas
8. Suku bangsa ( ras ) dan faktor geografi yang belum jelas
12.
13.
14.
15.
16.

D.

PATOFISIOLOGI

E.

TIPE-TIPE MOLLA

17.

18. Mola komplet atau klasik terjadi akibat fertilisasi sebuah telur yang intinya telah
hilang atau tidak aktif. Mola meyerupai setangkai buah anggur putih. Vesikelvesikel hidropik (berisi caiaran) bertumbuh dengan cepat, menyebabkan rahim
menjadi lebih besar dari usia kehamilan yang seharusnya. Biasanya mola tidak
mengandung janin, plasenta, membran amniotik atau air ketuban. Darah maternal
tidak memiliki plasenta. Oleh karena itu, terjadi perdarahan ke dalam rongga
rahim dan timbul perdarahan melalui vagina. Pada sekitar 3% kehamilan, mola

ini berkembang menjadi kariokarsinoma (suatu neoplasma ganas yang bertumbuh


dengan cepat). Potensi untuk menjadi ganas menjadi ganas pada kehamilan mola
sebagian jauh lebih kecil di banding kehamilan mola komplet (scott, dkk., 1990)
19.

F.TANDA DAN GEJALA


20. Pada tahap awal kehamilan tanda dan gejala kehamilan mola tidak dapat
dibedakan dari tanda dan gejala kehamilan normal. Dan di tandai :
1.

perdarahan pervagina, dan berwarna coklat tua (menyerupai jus buah prum) atau
merah terang.

2.

Rasa mual dan muntah yang berlebihan.

3.

Uterus biasanya lebih besar dari pada yang diharapkan dari usia kehamilannya
dan perabaan terasa seperti adonan.

4.

Bunyi jantung janin tidak terdengar.

5.

Scanning ultrasonik menunjukan gambaran berbintik-bintik yang jelas.

6.

Jika diukur serum HCG, kadarnya sangat tinggi.

7.

Anemia akibat kehilangan darah.


21.

G.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan sonde uterus (hanifa)


2. Tes acosta sison. Dengan tang abortus, gelembung mola dpat dikeluarkan.
3. Peningkatan kadar beta hCG darah atau urin.
4. Ultrasonografi menunjukan gambaran badai salju (snow flake pattern)
5. Foto toraks ada gambaran emboli udara.
6. Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis..
22.

H.

PENATALAKSANAAN MEDIS

23. - Terapi mola hidatidosa ada 3 tahapan, yaitu :


24.

1.Perbaikan keadaan umum.


25.

a. Koreksi dehidrasi.

26.

b. Transfusi darah bila ada anemia (Hb 8 gr% atau kurang).

27.

c. Bila ada gejala pre eklamsia dan hiperemesis gravidarum,

diobati sesuaidengan protokol penanganan dibagian obstetri.

28.

d. Bila ada gejala-gejala tirotoksikosis, dikonsul ke

bagian penyakit dalam.


29.

2. Pengeluaran jaringan mola dengan cara kuretase

dan histerektomi.Kuretase pada pasien mola hidatidosa :


30.

a. Dilakukan setelah pemeriksaan persiapan selesai

(pemeriksaan darah rutindan kadar beta HCG dan foto toraks),


kecuali bila jaringan mola telahkeuar spontan.
31.

b.Bila kanalis servikalis belum terbuka maka dilakukan pemasa

nganlaminaria dan kuretase dilakukan 24 jam kemudian.


32.

c. Sebelum melakukan kuretase, sediakan darah 500 cc dan

pasang infusdengan tetesan oxytosin 10 IU dalam 500 cc D5%.


33.
34.

d.Kuretase dilakukan 2x dengan interval minimal 1 minggu.

3. Histerektomi.

35. Syarat melakukan histerektomi :


a. Umur ibu 35 tahun atau lebih.
b. Sudah memiliki anak 3 orang atau lebih.
36.

I. PENATALAKSANAAN PERAWATANPERDARAHAN PADA


AWAL KEHAMILAN.
37. Pada waktu penerimaan pasien dirumah sakit, perawat memperoleh riwayat
keluhan utama ibu, sakit, perdarahan, dan menstruasi terakhir untuk menentukan
perkiraan lama gestasi. Kelompok data awal ini meliputi tanda vital, hasil akhir
kehamilan sebelumnya, jenis dan lokasi sakit, kuantitas, dan sifat pendarahan,
alergi, dan status emosi. Tidak jarang ibu merasa cemas dan takut terhadap apa
yang mungkin terjadi pada dirinya pada kehamilannya.
38. Jika diduga ada inkompetensia serviks, pengkajian meliputi menggali perasaan
ibu tentang kehamilannya dan pemahamannya tentang inkompetensia serviks.
Juga penting untuk mengevaluasi sistem pendukung ibu. Karena diagnosis
inkompetensia serviks biasanya tidak ditegakan sampai ibu kehilangan satu atau
lebih kehamilan, ia mungkin merasa bersalah atau menyalahkan kehilangan ini.
39. Perawat harusmenduga kemungkinan adanya kehamilan ektopik pada seorang ibu
yang terlambat menstruasi, mengeluarkan bercak, dan nyeri panggul, dan
memiliki riwayat infeksi panggul, memakai IUD, atau oprasi pada tuba. Jika ibu

mengalami perdarahan internal, dari hasil pengkajian akan ditemukan vertigo,


nyeri bahu, hipotensi, dan takikardia. Setiap pasien yang diduga mengalami
kehamilan ektopik harus segera di rujuk ke dokter untuk konfirmasi diagnosis
dan intervensi medis.
40. Pada pemeriksaan fisik kehamilan ektopik, akan ditemukan rasa nyeri unilateral
di tuba dan ovarium dan sering teraba massa di adneksa. Dari hasil tes
labolaturium, ditemukan kadar hCG yang rendah. Pemeriksaan ultrasonografi
pada ibu beresiiko akan mungkin diagnosis yang lebih dini sehingga menurunkan
mortalitas dan morbiditas akibat kondisi in (de crespigny, 198)
41. Pemeriksaan kehamilan urine yang negatif atau setiap minggu positif adalah ciri
khas abortus. Kehilangan darah yang persisten sangan memungkinkan terjadinya
anemia. Jika ada sepsis, suhu tubuh akan lebih dari 38 drajat C dan hitung sel
darah putih lebih besar dari 12.000/mm3. Pemeriksaan endokrin menunjukan
bahwa titer hCG, ekstrogen, dan progesteron rendah atau tidak ada jika abortus
sudah terjadi.
42. Setelah memeriksa pasien, perawatan berfokus untuk menstabilisasi keadaan ibu.
Aspek psikososial dipusatkan pada makna kehilangan bagi ibu dan keluarganya.
Penjelasan seksama diberikan sesuai komplikasi, prosedur yang mungkin
dilakukan, dan implikasi yang mungkin terjadi di masa depan .
43. Ibu harus di beritahu bahwa abortus spontan sering terjadi dan biasanya tidak
berkaitan dengan perilaku. Jika ibu merokok, minum alkohol atau memakai obat
terlarang ia harus diberi tahu bahwa hal tersebut akan meningkatkan resiko
keguguran di awal kehamilan. (deutchman,1989;glass, golbus,1989).
44. Perawat megaskan kembali penjelasan yang diberikan dokter dan menjalankan
program yang di berikan. Invus intravena dimulai, tes laboratorium dilakukan,
dan mungkin dilakukan tes ultrasonografi. Tes laboratorium meliputi hitung darah
lengkap, jenis darah, faktor Rh, dan pemeriksaan silang, serta urinalisis.
Pemeriksaan sianr-x dan EKG dilakukan, jika diperlukan. Ketidakseimbangan
eletrolit, cairan, dan darah segera dikoreksi.
45. Jika akan melakukan D&C, perawat harus menjelaskan kembali penjelasan yang
sudah diberikan, menjawab setiap pertanyaan, dan menyiapkan pasien untuk
menjalani prosedur ini. Dilatasi dan kuretase adalah prosedur operasi dimana
serviks didilatasi dan satu batang kuret dimasukan untuk menggaruk dinding
rahim dan mengeluarkan isi rahim. Perawatan praoperasi dan pasca operasi

diperlukan untuk wanita yang memerlukan intervensi operasi pada abortus


spontan.
46. Analgesik atau anastesi diperlukan untuk prosedur ini. Pemberian IV oksitosin,
10U dalam infus 500ml di perlukan untuk menginduksi atau mempercepat aborsi.
Setelah mengevakuasi rahim, 10 sampai 20U oksitosin dalam 1000ml infus bisa
diberikan untuk mencegah perdarahan.
47. Produk ergot, seperti ergonovin, yang mengontraksi rahim dan serviks,
merupakan kontraindikasi sampai rahim dikosongkan untuk menghindari retensi
sisa jaringan. Sisa jaringan janin atau plasenta merupakan predisposisi relaksasi
rahim dan infeksi pada masa nifas. Tiga atau empat dosis ergonovin 0,2 mg per
oral atau intramuskular setiap empat jam, bisa diberikan bila ibu dalam keadaan
normotensif. Antibotik di berikan jika perlu. Tranfusi diperlukan untuk renjatan
atau anemia. Jika ibu memeliki Rh negatif dan belum mengalami isoimunisasi, ia
diberi suntikan imun globin Rh(D) secara intramuskular dalam eaktu 72 jam
setelah abortus. Dosis yang umum dipakai untuk globin imun Rh(D) untuk
gestasi kurang dari 12 minggu adalah 50g; jika lebih dari 12 minggu, 300g.
48. Untuk ibu dengan inkompetensia serviks, implementasi rencana perawatan di
tentukan oleh penatalaksanaan medis. Apabila penatalaksanaan dilakukan secara
konservatif, ibu harus mengerti pentingnya tirah baring di rumah dan perlunya
observasi dan supervisi ketat. Instruksi mencakup tirah baring, pembatasan
aktivitas, dan tanda-tanda bahaya yang harus di laporkan. Tokolitik harus
diberikan sebagai profilaksis untuk mencegah kontraksi rahim dan di latasi
serviks yang lebih lanjut. Ibu harus di beri tahu pentingnya memakai obat
totolitik oral yang di programkan, respons yang di harapkan, dan kemungkinan
efek samping yang potensial, jika pemantauan di rumah di jalankan, ibu harus di
ajar untuk memakai pemantauan melalui telepon ke pusat pemantauan. Perawat
yang bertugas di pusat pemantauan memeriksa catatan hasil pengkajian,
menjawab pertanyaan, memberi dukungan emosional, dan melaporkan informasi
kepada dokter yang merawat ibu tersebut. (robichaux,dkk., 1990).
49. Jika penatalaksanaan perdarahan kehamilan dini tidak berhasil dan janin lahir
sebelum ia dapat hidup di luar rahim, beri konseling tetang kelahiran bayi. Jika
bayi lahir prematur, ibu perlu di beri dukungan dan petunjuk seperlunya.
Pemeriksaan lanjutan harus dapat mengkaji keadaan fisik dan pemulihan

emosional ibu. Rujukan ke kelompok pendukung lokal atau konseling disediakan


jika di perlukan.
50.

J. KOMPLIKASI
1. Anemia
2. Syok
3. Infeksi
4. Eklampsia, dan
5. Tirotoksikosis

51. ASKEP MOLLA HIDATIDOSA


52.
53.

A PENGKAJIAN
1) IDENTITAS
54. Nama Ibu :

63.

55.

Umur :

64.

56.

Pendidikan :

65.

57.

Suku bangsa :

66.

Nama Suami :

58.

Agama :

67.

Umur :

59.

Pekerjaan :

68.

Pendidikan :

60.

Alamat :

69.

Agama :

61.

Status perkawinan :

70.

Pekerjaan :

62.

Tanggal Pengkajian :

2)

10

3)
4) DATA SUBJEKTIF
A. Keluhan utama :
5)

Adanya perdarahan pervaginam.

B. Riwayat kesehatan sekarang :


6)

Perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus

lebih besar dari usia kehamilan, mual dan muntah.


C. Riwayat Kehamilan Sekarang :
7)

ANC (Ante Natal Care)

................teratur/tidak.......................
8)

Di Periksa
: ........................................................

9)

Imunisasi
: ......................................................

10)

Usia Kehamilan
: .........................................................

D. Riwayat Menstruasi :
11)

Menarche

............

siklus

.............

lamanya

..........

teratur/tidak................
12)

Jumlah

: .......... warna ............... disminorhe : .............................

E. Riwayat Kesehatan / Penyakit yang lalu :


13)

Penyakit : DM, Jantung, Endokrin, dll.

14)

Alergi : .................................................

11

15)

Merokok dan obat-obatan : ......................

F. Riwayat Penyakit Keluarga :


16)

Kaji apakah keluarga klien pernah ada yang mengalami

penyakit yang sama atau tidak. dan buat genogram keluarga.


G. Riwayat Currate :
17)

Apakah klien pernah melakukan currate, kapan, dan dimana

proses currate dilakukan.


H. Pola Kehidupan sehari-hari :

Pola makan
18)

Diet kebiasaan :

19)

.......................................................................................

20)

Perubahan dalam pola makan :

21)

tidak

nafsu

makan

akibat

mual

muntah..........................

Kenyamanan, aktivitas dan istirahat


22)

Perubahan istirahat, tidur.

23)

insomnia, sensitifitas meningkat,

24)

otot lemah, gangguan koordinasi,kelelahan berat

25)

Buang Air Besar


26)

Dampak kehamilan terhadap pola eliminasi

27)

Frekuensi BAB : perubahan dalam feces (cair)

dan

12

28)

Nyeri/ rasa panas saat BAB

29)

Perdarahan

30)

Konstipasi

Buang Air Kecil


31)

Frekuensi BAK : lebih banyak

32)

Kesulitan berkemih

Personal hyegine
33)

Frekuensi Mandi : ........................x/hari

34)

Frekuensi gosok gigi : ..................x/hari

35)

Perawatan payudara : ............................

36)

Vulva hyegine : ....................................

37)
38) PEMERIKSAAN FISIK

a. Secara Umum

Tanda-tanda Vital
39) Tekanan darah

: ..................................................mm/Hg

40) Suhu

: ........................................................C

41) Nadi

: ................................................... x/menit

42) Pernapasan

: ................................................... x/menit

43) Berat Badan

: ................................................. kg

b. Secara Head To Toe

Kepala
44) Rambut
45) Muka

: ................................................................
: Terlihat pucat

13

46) Mata / Konjungtiva

: ......................................................

47) Hidung

: ................................................................

48) Mulut

: ................................................................

Leher
49) Inpeksi

: ................................................................

50) Palpasi

: ................................................................

51) Auskultasi

: ................................................................

Dada
52) Payudara membesar : ..........................................................

53) Puting susu

: ......................................................

54) Kebersihan

: ......................................................

Abdomen
55) Inspeksi
56)

Straiae Gravidarum

: gelembung molla yang

keluar
57) Auskultasi
58)

DJJ

: tidak terdengar

59)

Bising Usus

: terdengar

60) Palpasi
-

uterus lembek dan membesar tidak sesuai kehamilan

adanya fenomena harmonika kalau darah dan gelembung mola


keluar maka tinggi fundus uteri akan turun lalu naik lagi karena
terkumpulnya darah baru.

Tidak teraba bagian-bagian janin dan balotemen yang gerak


janin

61) Perkusi
62) ..................................................................................................

Ekstermitas
63) Kekuatan Otot
: .......................................................................
64) Reflek Patela : .................................................................
65) Reflek Babinski
: .................................................................

14

66) Edema

: ...................................................................

67) Pemeriksaan Laboratorium


a. Hb

: ...................................

b. Urine

: positif

c. USG

: badai salju tanpa disertai kantong gestasi atau janin

d. Gol. Darah : ..................................


68) Data Penunjang therapy
a.

Kalau pendarahan banyak dan keluar jaringan mola, atasi syok dan
perbaiki keadaan umum penderita dengan pemberian cairan dan tranfusi
darah. Tindakan pertama adalah melakukan manual digital untuk
pengeluaran sebanyak mungkin jaringan dan bekuan darah: barulah
dengan tenang dan hati-hati evakuasi sisanya dengan kuretase.

b.

Jika pembukaan kanalis servikalis masih kecil :


1.

Pasang beberapa gagang laminaria untuk memperlebar pembukaan


selama 12 jam.

2. Setelah itu pasang infus D5% yang berisi 50 satuan oksitosin


( pitosin atau sintosinon ), cabut laminaria, kemudian setelah ini
lakukan evaluasi isi kavum uteri dengan hati-hati, pada kuretase
pertama ini, keluarkan jaringan sebanyak mungkin, tak usah terlalu
bersih.
3.

Kalau perdarahan banyak, berikan tranfusi darah dan lakukan


tampon utero vaginal selama 24 jam.

c. Bahan jaringan dikirim untuk pemeriksaan Histopatologik dalam 2 porsi :


1. Porsi 1 : Yang dikeluarkan dengan canam ovum.
2. Porsi 2 : Yang dikeluarkan dengan kuretase.
d.

Berikan obat-obatan: Antibiotika, uterus tonika dan perbaikan keadaan


umum penderita.

e. 7 10 hari sesudah kerokan pertama, dilakukan kerokan kedua untuk


membersihkan sisa-sisa jaringan, dan dikirim lagi hasilnya untuk
pemeriksaan laboratorium.
f. Kalau mola terlalu terlalu besar dan takut perforasi bila dilakukan kerokan,
ada beberapa institusi yang melakukan Histerotomia untuk mengeluarkan
isi rahim (molla).

15

g. Histerektomi total dilakukan pada mola resiko tinggi (High Risk Mola),
usia lebih dari 3 tahun, paritas 4 atau lebih dan uterus yang sangat besar
(mola besar), yaitu setinggi pusat atau lebih.
69)

K.Diagnosa Keperawatan
70)

Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus mola hidatidosa

adalah :
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan, mual dan muntah
yang berlebihan.
2. Nyeri berhubungan dengan uterus sekunder terhadap pengeluaran maternal
menyerupai buah anggur.
3. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri
5. Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
6. Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah
7. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase
8. Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya
perdarahan
71)

16

72)

L. Intervensi Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan, mual dan muntah
yang berlebihan.
73)

Tujuan :

74)

Klien akan menunjukan voleme cairan kembali adekuat dengan kriteria

75)

Klien mengatakan sudah tidak perdarahan lagi.

Klien mengatakan mual muntah sudah hilang

Intervensi :

76) Rencana keperawatan


78)

Mandiri :

1. Observasi terhadap kehilangan darah


yang berlebihan.
2. Catat intake dan output.

77) Rasional
79) Kehilangan

banyak

dapat menyebakan anemia


80) Agar

volume

cairan

bisa

kembali adekuat
81) Peningkatan

3. Ukur suhu setiap 4 jam sesuai indikasi.

darah

terjadi

akibat

suhu

dapat

penurunan

volume cairan
4. Kaji turgor kulit, kekeringan kulit dan
mukosa mulut.
83)

82) Indikator

keadekuatan

sirkulasi volume cairan

Kolaborasi :

5. Beri obat Homeostatikum sesuai dengan

84) Terapi obat membantu proses

17

program dokter.
6. Pantau Hb dan Ht.
85)

penyembuhan lebih cepat


86) Untuk menentukan pemberian
terapi selanjutnya

87)
2. Nyeri berhubungan dengan uterus sekunder terhadap pengeluaran maternal
menyerupai buah anggur
88)

Tujuan:

89)

Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang dengan kriteria:

90)

Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang

Ekspresi wajah tenang

TTV dalam batas normal

18

91)

Intervensi:

92) Rencana keperawatan


1. Kaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri
yang dirasakan klien

93) Rasional
94) Mengetahui tingkat nyeri yang
dirasakan

sehingga

membantu

dapat

menentukan

intervensi yang tepat


95) 2. Observasi tanda-tanda vital
tiap 8 jam

97) Perubahan
terutama

tanda-tanda vital
suhu

dan

nadi

merupakan salah satu indikasi


96)

peningkatan nyeri yang dialami


oleh klien

98) 3.

Anjurkan

klien

untuk

melakukan teknik relaksasi

100) Teknik relaksasi dapat membuat klien


merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat
mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri

99)

sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri


yang dirasakan

1. Beri posisi yang nyaman

101)

Posisi

yang

dapat

nyaman

menghindarkan

penekanan pada area luka/nyeri


2. Kolaborasi pemberian analgetik

103)

Obat-obatan

analgetik

akan memblok reseptor nyeri


102)

sehingga

nyeri

dipersepsikan
104)
105)

2) Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan

tidat

dapat

19

106)
-

Tujuan:

Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri dengan kriteria:

Kebutuhan personal hygiene terpenuhi

Klien nampak rapi dan bersih

107)

108)

Intervensi :

Rencana keperawatan

a. Kaji kemampuan klien dalam memenuhi


rawat diri

109)
110)

Rasional

Untuk

mengetahui

tingkat
kemampuan/ketergantungan
klien

dalam

merawat

diri

sehingga dapat membantu klien


dalam

memenuhi

kebutuhan

hygienenya
111)

2. Bantu klien dalam

112)

Kebutuhan hygiene klien

memenuhi kebutuhan sehari-

terpenuhi tanpa membuat klien

hari

ketergantungan pada perawat

113)

3. Anjurkan klien untuk

melakukan

aktivitas

sesuai

kemampuannya

114)

Pelaksanaan

aktivitas

dapat membantu klien untuk


mengembalikan kekuatan secara
bertahap

dan

menambah

kemandirian dalam memenuhi


kebutuhannya
115)

4.Anjurkan

keluarga

klien untuk selalu berada di


dekat

klien

dan

membantu

116)

Membantu

kebutuhan

klien

memenuhi
yang

tidak

20

memenuhi kebutuhan klien

terpenuhi secara mandiri


117)

118)
119)

3)Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri

120)

Tujuan:

121)

Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu dengan

kriteria :

Klien dapat tidur 7-8 jam per hari

Konjungtiva tidak anemis

122)

123)

Intervensi:

Rencana keperawatan

a. Kaji pola tidur

124)
125)
pola

Rasional

Dengan
tidur

mengetahui
klien,

memudahkan

akan
dalam

menentukan

intervensi

selanjutnya
b. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan
tenang

126)

Memberikan

kesempatan pada klien untuk


beristirahat

3. Anjurkan

klien

sebelum tidur

minum

susu

hangat

127)

Susu

mengandung

protein yang tinggi sehingga


dapat merangsang untuk tidur

21

4. Batasi jumlah penjaga klien

129)

Dengan jumlah penjaga

klien
128)

yang

dibatasi

maka

kebisingan di ruangan dapat


dikurangi sehingga klien dapat
beristirahat

5. Memberlakukan jam besuk

131)

Memberikan

kesempatan pada klien untuk


130)

beristirahat

6. Kolaborasi dengan tim medis pemberian


obat tidur Diazepam

132)

Diazepam

berfungsi

untuk merelaksasi otot sehingga


klien dapat tenang dan mudah
tidur

133)
2)

Gangguan rasa nyaman: hipertermi berhubungan dengan proses infeksi


134)

Tujuan:

i. Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas dengan kriteria:

Tanda-tanda vital dalam batas normal

Klien tidak mengalami komplikasi


135)

136)
a. Pantau

Intervensi:

Rencana keperawatan

suhu

menggigil/diaphoresis

klien,

perhatikan

137)
139)

Intervensi

Suhu

diatas

normal

menunjukkan terjadinya proses


infeksi,

pola

demam

dapat

22

138)

membantu diagnose

b. Pantau suhu lingkungan

141)

Suhu

ruangan

harus

diubah atau dipertahankan, suhu


140)

harus mendekati normal

c. Anjurkan untuk minum air hangat dalam


jumlah yang banyak
d. Berikan kompres hangat

142)

Minum banyak dapat

membantu menurunkan demam


144)

Kompres hangat dapat

membantu penyerapan panas


143)

sehingga

dapat

menurunkan

suhu tubuh
2. Kolaborasi pemberian obat antipiretik

146)

Digunakan

mengurangi
145)

demam

untuk
dengan

aksi pada hypothalamus

147)
148)

5) Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan

149)

Tujuan:

150)

Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang dengan kriteria:

Ekspresi wajah tenang

Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya

151)
152)
153)

Intervensi:

23

154)

Rencana keperawatan

1. Kaji tingkat kecemasan klien

155)
157)

Mengetahui

mana
156)

2. Beri

Rasional
sejauh

kecemasan

tersebut

mengganggu klien

kesempatan

pada

klien

untuk

mengungkapkan perasaannya

158)

Ungkapan

perasaan

dapat memberikan rasa lega


sehingga

mengurangi

kecemasan
3. Mendengarkan

keluhan

klien

dengan

empati

159)

Dengan mendengarkan

keluahan klien secara empati


maka

klien

akan

merasa

diperhatikan
4. Jelaskan pada klien tentang proses penyakit
dan terapi yang diberikan

160)

Menambah pengetahuan

klien sehingga klien tahu dan


mengerti tentang penyakitnya

b. Beri dorongan spiritual/support

162)

Menciptakan

ketenangan
161)

batin

sehingga

kecemasan dapat berkurang

163)
164)

6) Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah

165)

Tujuan:

166)

Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi dengan kriteria:

Nafsu makan meningkat

24

Porsi makan dihabiskan

167)

Intervensi:

168)

Rencana keperawatan

1. Kaji status nutrisi klien

169)
171)

Rasional

Sebagai

awal

untuk

menetapkan rencana selanjutnya


170)
2. Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi
sering

172)
sedikit

Makan

sedikit

tapi

sering

demi
mampu

membantu untuk meminimalkan


anoreksia
3. Anjurkan untuk makan makanan dalam
keadaan hangat dan bervariasi

173)
dan

Makanan yang hangat


bervariasi

menbangkitkan

dapat

nafsu

makan

klien
4. Timbang berat badan sesuai indikasi

175)

Mengevaluasi

keefektifan
174)

5. Tingkatkan

atau

kebutuhan

mengubah pemberian nutrisi


kenyamanan

lingkungan

176)

Sosialisasi waktu makan

termasuk sosialisasi saat makan, anjurkan

dengan orang terdekat atau

orang terdekat untuk membawa makanan

teman

yang disukai klien

pemasukan dan menormalkan

dapat

fungsi makanan
177)
178)

7) Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase

meningkatkan

25

179)
-

Tujuan:

Klien akan terbebas dari infeksi dengan kriteria:

Tidak tampak tanda-tanda infeksi

Tanda-tanda Vital dalam batas normal

180)

Intervensi:

181)

Rencana keperawatan

1.

Kaji

adanya

tanda-tanda infeksi

182)
184)

Rasional

Mengetahui

adanya

gejala awal dari proses infeksi

183)
2. Observasi TTV

186)

Perubahan

vital

sign

merupakan salah satu indikator


185)

dari terjadinya proses infeksi


dalam tubuh

3. Observasi daerah kulit yang mengalami

188)

Deteksi

dini

kerusakan (luka, garis jahitan), daerah yang

perkembangan

infeksi

terpasang alat invasif (infus, kateter)

memungkinkan

untuk

melakukan
187)

segera

tindakan
dan

dengan

pencegahan

komplikasi selanjutnya
4. Kolaborasi

dengan

tim

pemberian obat antibiotic

medis

untuk

190)

Anti

biotik

dapat

menghambat pembentukan sel


bakteri, sehingga proses infeksi

189)

tidak terjadi. Disamping itu


antibiotik juga dapat langsung

26

membunuh sel bakteri penyebab


infeksi
191)
192)

8) Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya

perdarahan
193)
-

Tujuan:

Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi


dengan kriteria:

Hb dalam batas normal (12-14 g%)

Turgor kulit baik, vital sign dalam batas normal

Tidak ada mual muntah

194)
195)
196)

197)
1. Awasi

Intervensi

Rencana keperawatan

tanda-tanda

vital,

kaji

warna

kulit/membran mukosa, dasar kuku

198)
200)

Rasional

Memberika

tentang

informasi

derajat/keadekuatan

perfusi jaringan dan membantu


199)

menentukan

intervensi

selanjutnya
2. Selidiki

perubahan

tingkat

kesadaran,

202)

Perubahan

dapat

menunjukkan ketidak adekuatan

27

keluhan pusing dan sakit kepala

perfusi serebral sebagai akibat


tekanan darah arterial

201)
3. Kaji

kulit

terhadap

dingin,

pucat,

203)

Vasokonstriksi

berkeringat, pegisian kapiler lambat dan

respon

nadi perifer lemah

penurunan volume sirkulasi dan


dapat

simpatis

adalah

terjadi

terhadap

sebagai

efek

samping vasopressin
4. Berikan cairan intravena, produk darah

205)

Menggantikan

kehilangan
204)

daran,

mempertahankan

volume

sirkulasi
5. Penatalaksanaan

pemberian

obat

207)

antikoagulan tranexid 500 mg 31 tablet

Obat

berfungsi

anti

kagulan

mempercepat

terjadinya pembekuan darah /


206)

mengurangi perarahan

208)

M.

Implementasi keperawatan

209) Tanggal
213) .......................

210) No. DX
214) .......................

211) Jam
215) .......................

212) Implementasi
216) .......................

..

...

......

.....

217)

N.Evaluasi
218)
220)

Evaluasi
S : ..............................

221)

O : ................................

222)

A : .............................

223)

P : ...............................

224)

I : ...............................

219)
226)

Paraf

28

225)

E : ..............................
227)
228)

229) BAB III


230) PENUTUP
231)

A Kesimpulan
232)

Hamil mola adalah suatu kehamilan dimana setelah fertilisasi hasil

konsepsi tidak berkembang menjadi embrio tetapi terjadi poliferasi dari vili
koriales disertai dengan degenerasi hidropik. Uterus melunak dan berkembang
lebih cepat dari usia gestasi yang normal, tidak dijumpai adanya janin, kavum
uteri hanya terisi oleh jaringan seperti rangkaian buah anggur. Mola berasal
dari bahasa latin yang berarti massa dan hidatidosa berasal dari kata Hydats
yang berarti tetesan air.
233)

Mola hidatidosa adalah kehamilan yang berkembang tidak wajar

( konsepsi yang patologis) dimana tidak ditemukan janin dan hampir seluruh
vili korialis mengalalami perubahan hidropik. Dalam hal demikian disebut
Mola Hidatidosa atau Complete mole sedangkan bila disertai janin atau
bagian janin disebut sebagai Mola Parsialis atau Partial mole.
234)
235)

29

236) DAFTAR PUSTAKA


237)
238)

Bobak, Lowdermik, Perry, 1999. Maternity Nursing, Fifth

Edition. New York: J.B. Lippincott Company.


239)

Farrer, Helen. 2001. Perawatan Maternitas edisi 2 . Jakarta:

EGC
240)

Yohana, yovita, & yessica, 2011. Khamilan & persalinan.

Jakarta: Garda Media


241)

242)

http/MOLA HIDATIDOSA.Jurnal Bidan Diah.html