Anda di halaman 1dari 5

I.

Latar Belakang
World Trade Organization (WTO) atau Organisasi Perdagangan Dunia merupakan satu-satunya
badan internasional yang secara khusus mengatur masalah perdagangan antar negara. Terbentuknya
WTO diawali dengan dibentuknya GATT (the General Agreement on Tarrifs and Trade).

Latar belakang berdirinya organisasi perdagangan tidak terlepas dari peristiwa sejarah yaitu Perang
Dunia II (PD II). Pada saat itu, Negara sekutu khususnya Amerika Serikat dan Inggris memprakarsai
pembentukan organisasi ekonomi internasional untuk mengisi kebijakan-kebijakan ekonomi
internasional. Tujuan pertama dari prakarsa tersebut mengeluarkan undang-undang yang mensyaratkan
kewajiban timbal balik untuk pengurangan-pengurangan tarif dalam perdagangan .
Tujuan kedua memberikan kerangka hukum untuk mencegah konflik seperti pada saat peristiwa PD I
dan PD II. Pada saat PD II seluruh negara menggunakan sistem ekonomi proteksionistis sehingga
mengakibatkan terhambatnya hubungan ekonomi internasional. Upaya untuk menata hubungan ekonomi
internasional dilakukan melalui diselenggarakannya konferensi di Bretton Woods, AS. Konfrensi ini
menghasilkan dibentuknya lembaga Bank Dunia (International Bank Recontruction and Development
/IBRD) dan International Monetary Found (IMF). Meskipun awalnya konfrensi ini membahas
persoalan-persoalan moneter mulai disadari perlunya insiatif-inisiatif pengaturan mengenai perdagangan
barang-barang,
Pada tahun 1945 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) didirikan dan mulai menyelenggarakan konferensikonferensi yang bertujuan untuk merancang suatu Piagam Organisasi Perdagangan Internasional (ITO).
Perjanjian ITO disetujui dalam UN Conference on Trade and Development (Konfrensi PBB untuk
Perdagangan dan Pembangunan) di Havana, Maret 1948. Namun karena kongres AS sebagai

inisiator International Trade Organisation (ITO) gagal mencapai kesepakatan


tentang bentuk organisasi dan sistem operasi ITO, maka pembentukan ITO pun
dibubarkan

Sebelumnya, pada tahun 1947 sejumlah negara telah merundingkan aturan-aturan

perdagangan internasional yang kemudian diwadahi oleh the General Agrement On Tariffs And Trade
(GATT). Pada mulanya GAT merupakan suatu persetujuan multilateral yang mensyaratkan pengurangan
secara timbal balik tarif yang berada dibawah naungan ITO. GATT muncul sebagai kesepakatan antara
pihak swasta dan negara untuk mengurangi tarif perdagangan dan menempatkan seluruh negara
secara sejajar dalam hubungan perdagangan. Setelah ITO dibubarkan, GATT
dinyatakan sebagai organisasi internasional yang dan menerapkan GATT sebagai perjanjian
internasional yang mengikat. Namun GATT hanya tampil sebagai sebuah kesepakatan untuk
mengurangi hambatan perdagangan antar negara seperti tarif, bukan sebagai organisasi perdagangan
internasional.
Dalam perjalanannya GATT telah melakukan beberapa perundingan sejak
kemunculannya di tahun 1947, perundingan GATT di Uruguay, Round Marrakesh
(1986-1994) menjadi perundingan yang paling menentukan perkembangan GATT
di masa yang akan datang sekaligus menjadi perundingan terakhir bagi GATT.
Dalam perundingan ini dihasilkan suatu kesepakatan baru untuk membentuk WTO.
Kelemahan GATT ialah, sedikitnya negara yang berpartisipasi dalam negosiasi terutama negara
maju yang terus memberlakukan proteksionisme untuk mendukung produsen domestik dan hanya
mengambil keuntungan dari perdagangan bebas; serta adanya perselisihan perdagangan karena tidak
adanya pihak ketiga yang mewadahi permasalahan tersebut, seperti konflik antara negara
berkembang yang dirugikan dan selalu kalah oleh negara maju. Walaupun GATT mencoba
membantu proses penyelesaian masalah namun GATT tidak memiliki otoritas untuk
memberlakukan hasil rekomendasi panel, hal inilah yang menginspirasi pembentukan World
Trade Organization (WTO).
Dalam proses perumusannnya terdapat pertentangan mengenai pembentukan organisasi ini.Amerika
Serikat lebih menghendaki pendekatan kontraktual daripada pendekatan organisasional. Sebab delegasi
AS khawatir kongres akan menolak pendirian organisasi internasional serta keseluruhan hasil Uruguay
Round seperti kongres menolak hasil konfrensi Havana untuk mendirikan International Trade
Organization (ITO). Sedangkan dari pihak negara-negara berkembang khawatir dengan adanya
organisasi baru ini akan terdapat tindakan-tindakan yang hanya akan menguntungkan negara maju dan
kuat sehingga akan sangat merugikan negara-negara berkembang dan lemah.
Dikhawatirkan juga WTO hanya akan merupakan alat dan sarana untuk memaksakan kehendak serta
kebijaksanaan dari negara-negara maju dan kuat saja.
Namun secara umum negara-negara berkembang memang menghendaki adanya
suatu institusi perdagangan internasional yang kuat dalam arti dapat
mengamankan secara seimbang antara hak dan kewajiban serta antar
kepentingan negara-negara anggota. Dengan adanya pertentangan-pertentangan
antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang, akhirnya pada
tanggal 14 Januari 1994 WTO resmi dibentuk.

WTO (World Trade Organization) sebagai rezim perdagangan internasional tidak terlepas dari
sejarah pemberlakuan tarif di Amerika Serikat (AS). Awalnya, Presiden Alexander Hamilton tahun
1791 meminta kongres untuk membantu biaya proteksi impor sampai infant industry AS tumbuh

dan mapan (Carbaugh, 2007: 181). Sehingga secara berangsur-angsur sampai tahun 1820an,
proteksionisme mulai diberlakukan di AS, walaupun secara praktek mendapat kecaman namun
pemberlakuan tarif terus meningkat dari tahun ke tahun terutama akibat perang sipil. Pemberlakuan
tarif tinggi diperlukan untuk biaya perang, sehingga tarif terus meningkat dan tak kunjung
berkurang. Sehingga sebagai solusi, pebisnis mempekerjakan buruh murah dari luar negeri. Tahun
1909 ketika pemberlakuan tarif Payne Aldrich yang mencapai 40,8% menjadi turning
point perlawanan terhadap proteksionisme (Carbaugh, 2007: 182). Sehingga tahun 1913 dibawah
tarif Underwood menurun menjadi 27%, sehingga liberalisasi perdagangan dianggap menjadi tipe
perdagangan yang sesuai bagi AS sampai pecahnya Perang Dunia I (PD I) walaupun pemberlakuan
tariff tetap dilakukan.
Proteksionisme AS kembali meningkat sejak diberlakukan The Smoot-Hawley
Act tahun 1930, dengan rata-rata pemberlakuan tarif mencapai 53%. Kongres AS pun mendapat
protes besar-besaran dari negara lain yang memasarkan produknya ke AS. The Smoot-Hawley
Act mencoba mengalihkan permintaan nasional terhadap produk impor untuk mendorong
produksi domestik (Carbaugh, 2007: 183). Karena protes tidak ditanggapi oleh AS, maka
sejumlah negara yang mengadakan perdagangan dengan AS merespon dengan kebijakan yang
sama terhadap produk AS. MisalnyaThe Wais Tariffs di Spanyol pada anggur, botol dan jeruk
AS, Swiss memboikot produk AS karena pemberlakuan tarif atas produknya yaitu sepatu dan
jam tangan, Kanada memboikot produk makanan AS, serta Italia, Mexico, Kuba, Australia dan
negara lainnya yang melakukan perdagangan dengan AS. Sehingga proteksionisme AS
mengakibatkan turunnya ekspor AS dan berdampak pada tingginya pengangguran. Akhirnya
perdagangan luar negeri AS runtuh pada tahun 1932, dan AS dibawah presiden Roosevelt
hendak mencanangkan liberalisasi perdagangan melalui perjanjian perdagangan.
Dampak buruk respon luar negeri terhadap ekspor AS dan great depression membuat AS
memperbaiki kebijakannya. Tahun 1934 kongres menetapkan Reciprocal Trade Agreements
Act yang membawa liberalisasi perdagangan terdiri dari negosiasi wewenang dan pengurangan
umum (Carbaugh, 2007: 184). Kebijakan ini berdampak pada perbaikan kesepakatan bilateral
terkait tarif antar negara. Reciprocal Trade Agreements Act dalam pengurangan tarif

memberlakukan Most Favored Nation (MFN) clause berupa kesepakatan antar dua negara
dalam pemberlakuan tarif. Namun AS mengganti kebijakan MFN dengan normal trade
relation pada tahun 1998 yang bertujuan memberlakukan tarif berbeda bagi negara yang
diinginkan sebagai instrumen kebijakan luar negeri (Carbaugh, 2007: 184).
Sebagai respon dari peristiwa great depression tahun 1930, AS dan sekutunya
hendak membuat aturan mengenai arus perdagangan pasca PD II yang diimplementasikan pada
terbentuknya GATT pada tahun 1947. GATT muncul sebagai kesepakatan antara pihak
pengontrak (swasta) dan negara untuk mengurangi tarif perdagangan dan menempatkan seluruh
negara secara sejajar dalam hubungan perdagangan (Carbaugh, 2007: 187). GATT berprinsip
pada

percepatan

liberalisasi

perdagangan

yang

berasaskan

non-diskriminasi

guna

mewujudkan normal trade relation(NTR) dan national treatment. Dalam pelaksanaan NTR,
layaknya menerapkan comparative advantage sebagai pola perdagangan untuk mencapai
efisiensi

global.

Sedangkan national

treatment diimplementasikan

dalam

kerjasama

perdagangan regional. Perlu diingat bahwa GATT tampil sebagai sebuah kesepakatan untuk
mengurangi hambatan perdagangan antar negara seperti tarif, bukan sebagai organisasi
perdagangan internasional.
Kelemahan GATT ialah sedikitnya negara yang berpartisipasi dalam negosiasi terutama
negara maju yang terus memberlakukan proteksionisme untuk mendukung produsen domestik
dan hanya mengambil keuntungan dari perdagangan bebas (Carbaugh, 2007: 186). Kemudian
adanya perselisihan perdagangan karena tidak adanya pihak ketiga yang mewadahi
permasalahan tersebut, seperti konflik antara negara berkembang yang dirugikan dan selalu
kalah oleh negara maju. Walaupun GATT mencoba membantu proses penyelesaian masalah
namun GATT tidak memiliki otoritas untuk memberlakukan hasil rekomendasi panel, hal ini
menginspirasi pembentukan WTO (Carbaugh, 2007: 186). GATT mengharuskan anggotanya
menggunakan tarif daripada kuota untuk melindungi industri domestik karena kuota dinilai
mampu menimbulkan distorsi perdagangan dan bentuk dari diskriminasi antar produsen, serta
tidak dapat diprediksi. Padahal pemberlakuan kuota mampu menciptakan keseimbangan neraca
pembayaran, meningkatkan perkembangan ekonomi dan mendukung program agrikultur
domestik seperti kebijakan VER (voluntary export-restraint) yang pengaplikasiannya
menggunakan kuota.

1 Januari 1995 dimana putaran Uruguay mempengaruhi transformasi GATT yang


merupakan perjanjian perdagangan menjadi WTO yaitu sebuah organisasi perdagangan
(Carbaugh, 2007: 188). Walaupun terbentuknya WTO memiliki akar dari GATT namun WTO
memiliki sejumlah kebijakan dan kewenangan lebih luas dari GATT, sehingga WTO memiliki
legitimasi atas seluruh anggotanya. WTO yang membawa sistem perdagangan multilateral,
pertama kali mengatur perdagangan jasa, intellectual property dan investasi (Carbaugh, 2007:
188). WTO mengatur kesepakatan-kesepakatan antar negara anggota terutama mengakomodasi
kebijakan yang bersifat sensitif yang mungkin dikesampingkan era GATT seperti agrikultur dan
tekstil. Saat ini WTO beranggotakan 154 negara, di mana 117 anggota merupakan negara
berkembang. Tujuan perjanjian-perjanjian WTO adalah untuk membantu produsen barang dan
jasa, eksportir dan importir dalam melakukan kegiatannya (kemlu.go.id, 2015). Sejak tahun
2001, WTO menjadi wadah negosiasi sejumlah perjanjian baru di bawah Doha Development
Agenda (DDA) dengan badan tertinggi Konferensi Tingkat Menteri (KTM) yang dilaksanakan
setiap dua tahun sekali. Model pengambilan keputusan dilakukan dengan cara konsensus
olehGeneral Council yang memiliki beberapa badan dibawahnya yang berfungsi mengawasi
penerapan perjanjian di negara anggota.
Prinsip dasar WTO adalah mengupayakan keterbukaan batas wilayah,
memberikan

jaminan

atas Most-Favored-Nation

principle (MFN) dan

perlakuan

non-

diskriminasi oleh dan di antara negara anggota, serta komitmen terhadap transparansi dalam
semua kegiatannya (kemlu.go.id, 2015). Dengan begitu diharapkan mampu mendorong
pembangunan yang berkelanjutan sehingga tercipta kesejahteraan dan stabilitas dalam negara
anggotanya. Maka diperlukan adanya keselarasan antara kebijakan nasional dan internasional
dalam menciptakan pasar terbuka agar diharpkan pencapaian yang demikian. KTM Doha tahun
2001 memandatkan negara anggota untuk melakukan putaran perundingan dengan tujuan
membentuk tata perdagangan multilateral yang berdimensi pembangunan (kemlu.go.id, 2015).
Sehingga perdagangan internasional mampu dimanfaatkan sebagai sumber pendanaan
pembangunan misalnya terkait isu pertanian yang bagi negara berkembang mempengaruhi
stabilitas ekonomi dan sosial berbeda dengan negara maju yang menganggapnya sebagai isu
politik.