Anda di halaman 1dari 4

PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP

OBAT GENERIK

Oleh :
ARPAWI RAMON, SH
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
Kalimantan Selatan

Disampaikan pada Acara Pertemuan Revitalisasi Pemberian


Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan di ruang
penginapan SMKN 4 Banjarmasin, yang diselenggarakan oleh
Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Selatan.

Tanggal 9 s/d 10 Maret 2015.

MENURUT
MASYARAKAT
Obat generik adalah obat dari
pemerintah untuk
ketersediaan/kebutuhan obat bagi

Dikarenakan obat generik disosialisasikan

warga
yang
berobat
digenerik
puskesmas.
harganya
murah,
maka obat
dianggap
Obat
generik
adalah
obat yang
obat murahan
dan
rendah mutunya.
Apabila masyarakat yang berobat dan dokter

tersedia di puskesmas, sebelum

memberikan resep obat generik, sepertinya

dirujuk
ke mempunyai
rumah sakit.
pasien tidak
pilihan untuk
Obat
generik
sama dengan
memperoleh
obattidak
yang mutunya
lebih baik dari
obat generik.
obat
paten.Hal ini tidak sejiwa dengan UndangUndangobat
Perlindungan
Konsumen
Resep
generik
ragu (UUPK) Nomor 8
Thn 1999 pasal 4 ayat 2
mengkonsumsinya
karena
tidak
: Hak untuk memilih barang
dan/atau
jasa
tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi
manjur.
serta jaminan yang dijanjikan.
Masyarakat
tidak paham khasiat

Masyarakat sepertinya bingung untuk berobat di

obat
generik,
karena
petugas
Puskesmas,
karena
selalu mendapat
resep obat
generik, apakah hal ini karena dokternya tidak
kesehatan
menginformasikan bahwa

kompeten atau obatnya yang tidak standar?


obat
Pemberian
resepadalah
obat generik
harus
terinci dan
generik
obat
murah.

Masyarakat
obat
dapat dipahamimenganggap
oleh pasien/keluarga
agar tidak
terjadi komplain/ malpraktek.

MENURUT YLKI
Pengawasan terhadap penyelenggaraan
Perlindungan Konsumen serta penerapan
peraturan perundang-undangannya
diselenggarakan oleh pemerintah dan
masyarakat dalam hal ini Lembaga Perlindungan
Konsumen Swadaya Masyarakat/LPKSM (UU PK
Nomor 8 Tahun 1999).
Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009,
pasal 182 ayat (4) Menteri Kesehatan dalam
melaksanakan pengawasan mengikut-sertakan
masyarakat.

Undang-undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun


1999 yang memiliki aspek legal, menyatakan bahwa
konsumen berhak mendapatkan informasi untuk
keamanan, ketepatan dan kerasionalan obat,
Sedangkan Undang-undang Kesehatan Nomor 36 Tahun
2009, juga mengatur hak-hak konsumen. Oleh karena itu
sudah seharusnya para tenaga kesehatan melakukan
tugas atau pekerjaannya secara profesional dan tanpa

PENGAWASAN

melupakan fungsi sosialnya.

# Wassalam Terima-Kasih #
Nomor Telephone Pengaduan : 0813 4512 5005

PENUTUP