Anda di halaman 1dari 4

PENDAHULUAN

Saluran kemih (termasuk ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra) dapat mengalami
trauma karena luka tembus (tusuk), trauma tumpul, terapi penyinaran dan pembedahan. Gejala
yang paling banyak ditemukan adalah terdapatnya darah pada urin (hematuria), berkurangnya
proses berkemih dan nyeri. Beberapa trauma dapat menyebabkan nyeri tumpul, pembengkakan,
memar, dan jika berat dapat menurunkan tekanan darah (syok).2
Trauma uretra jarang terjadi dan sebagian besar sering terjadi pada laki-laki yang biasanya
berhubungan dengan fraktur pelvis atau straddle type falls. Trauma uretra jarang terjadi pada
wanita. Bagian-bagian uretra dapat mengalami laserasi, transeksi, atau kontusio. Penanganannya
berdasarkan berat ringannya trauma
TUJUAN

ANATOMI FISIOLOGI URETRA


Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urin keluar dari kandung kemih melalui
proses miksi. Secara anatomis uretra di bagi menjadi dua bagian yaitu uretra posterior dan uretra
anterior. Pada pria, organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan cairan mani.
Uretra di lengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada perbatasan kandung
kemih dan uretra, serta sfingter uretra eksternal yang terletak pada perbatasan uretra anterior dan
posterior. Sfingter uretra interna terdiri atas otot polos yang di persyarafi oleh sistemik simpatis
sehingga pada saat kandung kemih penuh, sfingter ini terbuka. Singter uretra eksterna terdiri atas
otot bergaris di persarafi oleh system somatic yang dapat di perintahkan sesuai dengan keinginan
seseorang. Pada saat BAK, sfingter ini terbuka dan tetap tertutup pada saat menahan urine.
Panjang uretra wanita kurang lebih dari 3-5 cm, sedangkan uretra pada pria dewasa
kurang lebih 23-25 cm. perbedaan panjang inilah yang menyebabkan keluhan hambatan
pengeluaran urin lebih sering terjadi pada pria. Uretra posterior pada pria terdiri atas uretra pars
prostatika yaitu bagian uretra yang dilingkupi oleh kelenjar prostat dan uretra pars membranasea.
Pada bagian posterior lumen uretra prospatika, terdapat suatu tonjolan verumontanum, dan
dibelah proksimal dan distal dari verumontanum ini terdapat Krista urtralis. Bagian akhir dari vas
deferens yaitu kedua diktus ejakulatorius terdapat di pinggir kiri dan kanan verumontanum,
sedangkan sekresi kelenjar prostat bermuara di dalam duktus prostatikus yang tersebar di uretra
prostatika.

TRAUMA URETRA

Trauma uretra adalah trauma yang terjadi akibat cedera yang berasal dari luar dan cedera
iatrigenik akibat instrumentasi pada uretra.
JENIS
Secara klinis terdapat dua jenis trauma uretra, yaitu anterior dan posterior. hal ini karna keduanya
menunjukkan perbedaan dalam hal etiologi trauma, tanda klinis, pengelolaan, serta prognosisnya.
1. Etiologi
Trauma uretra terjadi akibat cedera yang berasal dari luar (eksternal) dan cedera
iatrogenik akibat instrumentasi pada uretra. Trauma tumpul yang menimbulkan fraktur
tulang pelvis menyebabkan ruptura uretra pars membranasea, sedangkan trauma tumpul
pada selangkangan atau straddle injury dapat menyebabkan ruptura uretra pars bulbosa.
Pemasangan kateter atau businasi pada uretra yang kurang hati-hati dapat menimbulkan
robekan uretra karena false route atau salah jalan; demikian pula tindakan operasi
transuretra dapat menimbulkan cedera uretra iatrogenik.
2. Usia
Berkaitan dengan usia, trauma urethra berkaitan dengan fraktur pelvis yang tersering
pada remaja muda usia dibawah 15 tahun. Sugesti disebabkan karena terdapat perbedaan
fraktur pelvis pada anak-anak dan dewasa. Pada anak muda, 56% kasus fraktur pelvis
beresiko tinggi untuk terjadinya trauma uretra. Pada dewasa, hanya 24% yang beresiko
tinggi menjadi trauma uretra.
3. Gambaran Klinis
Kecurigaan adanya trauma uretra adalah jika didapatkan perdarahan per-uretram, yaitu
terdapat darah yang keluar dari meatus uretra eksternum setelah mengalami trauma.
Perdarahan per-uretram ini harus dibedakan dengan hematuria yaitu urine bercampur
darah. Pada trauma uretra yang berat, seringkali pasien mengalami retensi urine. Pada
keadaan ini tidak boleh dilakukan pemasangan kateter, Karena tindakan pemasangan
kateter dapat menyebabkan kerusakan uretra yang lebih parah.
ETIOLOGI
1. Trauma uretra terjadii akibat cedera yang berasal dari luar dan cedera iartogenik akibat
intrumentasi pada uretra.
2. Trauma tumpil yang menimbulkan fraktur tulang pelvis menyebabkan ruptur uretra pars
membranasea, sedangkan trauma tumpul pada selangkang atau staddle injury dapat
menyebabkan ruptur uretra pada bulbosa.
3. Pemasangan kateter pada uretra yang kurang hati-hati dapat menimbulkan robekan uretra
karena salah jalan (false route).
4. Intervensi operasi trans-uretra dapat menimbulkan cedera uretra iotrogen.
GAMBARAN KLINIS

1. Terdapat pendarahan per-uretra yaitu darah yang keluar dari meatus uretra eksternum
setelah mengalami trauma (harus di bedakan dengan hematuria , yaitu urin bercampur
darah).
2. Padat rauma uretra yang berat, pasien tidak dapat miksi sehingga terjadi retensi urin.
3. Diagnosa di tegakkan melalui uretra, sehingga dapat diketahui adanya ruptur uretra dan
lokasinya.
Catatan ; pada keadaan trauma uretra yang berat, pemasangan kateter tidak dapat
diperbolehkan karena dapat menyebabkan kerusakan uretra yang lebih parah.

GEJALA DAN TANDA


Pendarahan dari uretra
Hematom perineal; mungkin hanya di sebabkan trauma bulbus kavernosus.
Retensi urin
Jika hanya terjadi memar mukosa uretra, penderita masih dapat kencing meskipun nyeri,
tetapi jika ruptur, terjadi spasme m. spinchter urethrae externum sehingga timbul retensi
urin.
bila kandung kemih terlalu penuh, terjadi ekstravasasi sehingga timbul nyeri hebat dan
kedalam umum penderita memburuk.
Pemeriksaan pembantu:
1. Rectal toucher.
Bila ruptur terjadi di pars membranacea, maka prostat tak akan teraba; sebaliknya
akan teraba hematom berupa masa lunak dan kenyal.
2. Uretrogam.
Untuk menentukan lokasi ruptur.
PENATALAKSANAAN
Jika penderita dapat kencing dengan mudah, cukup observasi saja.
Jika sulit kencing atau terlihat ekstravasasi pada uretrogam usahakan memasukkan
kateter foley sampai kandung kemih; hati-hati akan terjadinya kekeliruan yaitu kateter
tergulung saja diantara kandung kemih dan diafragma urogenital setelah kateter berhasil
masuk kandung kemih, tinggalkan selama 14-20 hari.
Jika kateter gagal dipasang, lakukan pembedahan. Dalam keadaan darurat cukup dibuat
sitostomi untuk menjamin aliran urin, caranya:
Setelah dilakukan anestesi (lokal/umum) dan a atau antisepsis daerah operasi, lakukan
syatan vertikal secukupnya (3-4 cm) didaerah suprapubik. Setelah otot-otot dipisahkan
akan tampak dinding kandung kemih. dinding kandung kemih ditembus sedistal
mungkin. Dimasukkan kateter Foley, balonnya dikembangkan. Luka dinding kandung
kemih dijahit sedemikan sehingga kateter terjepit erat. Luka operasi ditutup lapis demi
lapis.

PASCA BEDAH:
Kandung kemih dibilas dengan larutan antiseptik (KMNO4 encer) setiap hari. Berikan
antibiotika dosis tinggi (PP 1,5 juta U/hari).
Setelah keadaan umum membaik, dapat dipikirkan operasi untuk menyambung kembali
uretra.
Setiap pendrita dengan trauma uretra harus diperiksa atau diawasi secara teratur selama
sekurang-kurangnya 3-4 tahun untuk diagnosa dini striktur uretra. Hal ini dapat dilakukan
ulangan pemeriksaan untuk tahun pertama tiap bulan ke 1,3,6,9 dan 12 sedangkan untuk
tahun berikutnya setiap 6 bulan.

Anda mungkin juga menyukai