Anda di halaman 1dari 70

Makalah Kebakaran Hutan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu Negara tropis yang memiliki wilayah hutan terluas di dunia
setelah Brazil dan Zaire. Hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia, karena
dilihat dari manfaatnya sebagai paru-paru dunia, pengatur aliran air, pencegah erosi dan banjir
serta dapat menjaga kesuburan tanah. Selain itu, hutan dapat memberikan manfaat ekonomis
sebagai penyumbang devisa bagi kelangsungan pembangunan di Indonesia. Karena itu
pemanfaatan hutan dan perlindungannya telah diatur dalam UUD 45, UU No. 5 tahun 1990, UU
No 23 tahun 1997, UU No. 41 tahun 1999, PP No 28 tahun 1985 dan beberapa keputusan
Menteri Kehutanan serta beberapa keputusan Dirjen PHPA dan Dirjen Pengusahaan Hutan.
Hutan yang seharusnya dijaga dan dimanfaatkan secara optimal dengan memperhatikan aspek
kelestarian kini telah mengalami degradasi dan deforestasi yang cukup mencenangkan bagi
dunia Internasional, faktanya Indonesia mendapatkan rekor dunia guiness yang dirilis oleh
Greenpeace sebagai negara yang mempunyai tingkat laju deforestasi tahunan tercepat di
dunia, Sebanyak 72 persen dari hutan asli Indonesia telah musnah dengan 1.8 juta hektar hutan
dirusakan per tahun antara tahun 2000 hingga 2005, sebuah tingkat kerusakan hutan sebesar
2% setiap tahunnya.
Hal ini dikarenakan pengelolaan dan pemanfaatan hutan selama ini tidak memperhatikan
manfaat yang akan diperoleh dari keberadaan hutan tersebut, sehingga kelestarian lingkungan
hidup menjadi terganggu. Penyebab utama kerusakan hutan adalah kebakaran hutan.
Kebakaran hutan terjadi karena manusia yang menggunakan api dalam upaya pembukaan
hutan untuk Hutan Tanaman Industri (HTI), perkebunan, dan pertanian. selain itu, kebakaran
didukung oleh pemanasan global, kemarau ekstrim yang seringkali dikaitkan dengan pengaruh
iklim memberikan kondisi ideal untuk terjadinya kebakaran hutan.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1

Pengertian dan manfaat hutan di Indonesia

1.2.2

Kerusakan hutan dan penyebabnya yang terjadi di Indonesia

1.2.3

Kebakaran hutan dan jenis-jenisnya

1.2.4

Penyebab dan dampak kebakaran hutan

1.2.5

Pencegahan dan penaggulangan kebakaran hutan

1.2.6

Beberapa kasus kebakaran hutan

1.3 Tujuan

1.3.1

Mengetahui pengertian dan manfaat hutan di Indonesia

1.3.2

Mengetahui kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia dan penyebabnya

1.3.3

Mengetahui pengertian dan jenis-jenis kebakaran hutan

1.3.4

Mengetahui penyebab dan dampak kebakaran hutan

1.3.5

Mengetahui cara pencegahan dan penaggulangan kebakaran hutan

1.3.6

Mengetahui beberapa kasus kebakaan huta

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Hutan
Hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang
didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya
tidak dapat dipisahkan (Undang undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan). Sedangkan
menurut Ensiklopedia Indonesia, hutan adalah suatu areal yang dikelola untuk produksi kayu
dan hasil hutan lainnya dipelihara bagi keuntungan tidak langsung atau dapat pula bahwa
hutan sekumpulan tumbuhan yang tumbuh bersama.
Pemanfaatan sekaligus perlindungan hutan di Indonesia diatur dalam UUD 45, UU No. 5 tahun
1990, UU No 23 tahun 1997, UU No. 41 tahun 1999, PP No 28 tahun 1985 dan beberapa
keputusan Menteri Kehutanan serta beberapa keputusan Dirjen PHPA dan Dirjen Pengusahaan
Hutan. Menurut beberapa peraturan tersebut,hutan merupakan sumberdaya alam yang tidak
ternilai karena didalamnya terkandung keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah,
sumber hasil hutan kayu dan non-kayu, pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta
kesuburan tanah, perlindungan alam hayati untuk kepentingan ilmu pengetahuan, kebudayaan,
rekreasi, pariwisata dan sebagainya.
2.2 Hutan di Indonesia
Luas hutan di Indonesia berkisar 122 juta hektar, yang persebarannya di Pulau Jawa hanya
sekitar 3 juta Ha, terdiri atas 55% hutan produksi dan 45% hutan lindung. Persebaran hutan di
Indonesia kebanyakan berjenis hutan hujan tropis yang luasnnya mencapai 89 juta hektar.
Daerah-daerah hutan hujan tropis antara lain terdapat di pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa
Barat, Sulawesi Utara, dan Irian. Hutan hujan tropis anggotanya tidak pernah menggugurkan
daun, liananya berkayu, pohon-pohonnya lurus dapat mencapai rata-rata 30 meter.
2.3 Manfaat Hutan di Indonesia
2.3.1
Kekayaan Keanekaragaman Hayati yang Tinggi sebagai Paru-paru Dunia Jamur dan
bakteri tersebut dapat membantu proses pembusukan pada hewan dan tumbuhan secara
cepat. Dengan demikian hutan hujan tropika tidak saja ditandai dengan pertumbuhan yang

baik tetapi juga tempat pembusukan yang baik. Keanekaragaman hayati ditandai dengan
kekayaan spesies yang dapat mencapai sampai hampir 1.400 spesies, Brasil tercatat
mempunyai 1.383 spesies. Di daerah tropika tumbuhan berkayu mempunyai dominasi yang
lebih besar daripada daerah lainnya.
2.3.2
Hutan Sebagai Pengatur Aliran Air
Penguapan air ke udara hingga terjadi kondensasi di atas tanah yang berhutan antara lain
disebabkan oleh adanya air hujan, dengan ditahannya (intersepsi) air hujan tersbut oleh tajuk
pohon yang terdiri dari lapisan daun, dan diuapkan kembali ke udara. Sebagian lagi menembus
lapisan tajuk dan menetes serta mengalir melalui batang ke atas permukaan serasah di hutan.
2.3.3

Pencegah Erosi dan Banjir

Erosi dan banjir adalah akibat langsung dari pembukaan dan pengolahan tanah terutama di
daerah yang mempunyai kemiringan permukaan bumi atau disebut juga kontur yang curam.
Keduanya dapat bersumber dari kawasan hutan maupun dari luar kawasan hutan, misalnya
perkebunan, tegalan, dan kebun milik rakyat.
2.3.4

Menjaga Kesuburan Tanah

Kesuburan tanah sebagian besar dalam bentuk mineral, seperti unsur-unsur Ca, K, N, P, dan
lainnya, disimpan pada bagian dari vegetasi yang ada di atas tanah, misalnya pada batang,
dahan, ranting, daun, bunga, buah, dan lain-lain. Dengan demikian dengan adanya kerapatan
hutan pada hutan tropika dapat menjaga kesuburan tanah.
2.4 Kerusakan Hutan di Indonesia
Kerusakan hutan (deforestasi) masih tetap menjadi ancaman di Indonesia. Menurut data laju
deforestasi (kerusakan hutan) periode 2003-2006 yang dikeluarkan oleh Departemen
Kehutanan, laju deforestasi di Indonesia mencapai 1,17 juta hektar pertahun.Bahkan jika
melihat data yang dikeluarkan oleh State of the Worlds Forests 2007 yang dikeluarkan The UN
Food & Agriculture Organization (FAO), angka deforestasi Indonesia pada periode 2000-2005 1,8
juta hektar/tahun. Laju deforestasi hutan di Indonesia ini membuat Guiness Book of The
Record memberikan gelar kehormatan bagi Indonesia sebagai negara dengan daya rusak hutan
tercepat di dunia.
Dari total luas hutan di Indonesia yang mencapai 180 juta hektar, menurut Menteri Kehutanan
Zulkifli Hasan (Menteri Kehutanan sebelumnya menyebutkan angka 135 juta hektar) sebanyak
21 persen atau setara dengan 26 juta hektar telah dijarah total sehingga tidak memiliki
tegakan pohon lagi. Artinya, 26 juta hektar hutan di Indonesia telah musnah. Selain itu, 25
persen lainnya atau setara dengan 48 juta hektar juga mengalami deforestasi dan dalam
kondisi rusak akibat bekas area HPH (Hak Penguasaan Hutan). Dari total luas hutan di Indonesia
hanya sekitar 23 persen atau setara dengan 43 juta hektar saja yang masih terbebas dari
deforestasi (kerusakan hutan) sehingga masih terjaga dan berupa hutan primer.

Laju deforestasi hutan di Indonesia paling besar disumbang oleh kegiatan industri, terutama
industri kayu, yang telah menyalahgunakan HPH yang diberikan sehingga mengarah pada
pembalakan liar. Penebangan hutan di Indonesia mencapai 40 juta meter kubik per tahun,
sedangkan laju penebangan yang sustainable (lestari berkelanjutan) sebagaimana
direkomendasikan oleh Departemen Kehutanan menurut World Bank adalah 22 juta meter
kubik meter per tahun. Penyebab deforestasi terbesar kedua di Indonesia, disumbang oleh
pengalihan fungsi hutan (konversi hutan) menjadi perkebunan. Konversi hutan menjadi area
perkebunan (seperti kelapa sawit), telah merusak lebih dari 7 juta ha hutan sampai akhir 1997.
Deforestasi (kerusakan hutan) memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat dan
lingkungan alam di Indonesia. Kegiatan penebangan yang mengesampingkan konversi hutan
mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan yang pada akhirnya meningkatkan peristiwa
bencana alam, seperti tanah longsor dan banjir.
Dampak buruk lain akibat kerusakan hutan adalah terancamnya kelestarian satwa dan flora di
Indonesia utamanya flora dan fauna endemik. Satwa-satwa endemik yang semakin terancam
kepunahan akibat deforestasi hutan misalnya lutung jawa (Trachypithecus auratus), dan merak
(Pavo muticus), owa jawa (Hylobates moloch), macan tutul (Panthera pardus), elang jawa
(Spizaetus bartelsi), merpati hutan perak (Columba argentina), dan gajah sumatera (Elephant
maximus sumatranus).

2.5 Kebakaran Hutan


Kebakaran hutan merupakan salah satu penyebab kerusakan hutan yang memiliki dampak
negatif. Kebakaran hutan, kebakaran vegetasi, atau kebakaran semak, adalah sebuah
kebakaran yang terjadi di alam liar, tetapi juga dapat memusnahkan rumah-rumah dan lahan
pertanian disekitarnya. Selain itu, kebakaran hutan dapat didefinisikan sebagai pembakaran
yang tidak tertahan dan menyebar secara bebas dan mengonsumsi bahan bakar yang tersedia
di hutan,antara lain terdiri dari serasah, rumput, cabang kayu yang sudah mati, dan lain-lain.
Istilah Kebakaran hutan di dalam Ensiklopedia Kehutanan Indonesia disebut juga Api Hutan.
Selanjutnya dijelaskan bahwa Kebakaran Hutan atau Api Hutan adalah Api Liar yang terjadi di
dalam hutan, yang membakar sebagian atau seluruh komponen hutan. Dikenal ada 3 macam
kebakaran hutan, Jenis-jenis kebakaran hutan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.
Api Permukaan atau Kebakaran Permukaan yaitu kebakaran yang terjadi pada lantai
hutan dan membakar seresah, kayu-kayu kering dan tanaman bawah. Sifat api permukaan
cepat merambat, nyalanya besar dan panas, namun cepat padam. Dalam kenyataannya
semua tipe kebakaran berasal dari api permukaan.
2.
Api Tajuk atau Kebakaran Tajuk yaitu kebakaran yang membakar seluruh tajuk tanaman
pokok terutama pada jenis-jenis hutan yang daunnya mudah terbakar. Apabila tajuk hutan
cukup rapat, maka api yang terjadi cepat merambat dari satu tajuk ke tajuk yang lain. Hal
ini tidak terjadi apabila tajuk-tajuk pohon penyusun tidak saling bersentuhan.
3.
Api Tanah adalah api yang membakar lapisan organik yang dibawah lantai hutan. Oleh
karena sedikit udara dan bahan organik ini, kebakaran yang terjadi tidak ditandai dengan
adanya nyala api. Penyebaran api juga sangat lambat, bahan api tertahan dalam waktu yang
lama pada suatu tempat.

2.6 Kebakaran dan Pembakaran


Kebakaran dan pembakaran merupakan sebuah kata dengan kata dasar yang sama tetapi
mempunyai makna yang berbeda. Kebakaran indentik dengan kejadian yang tidak disengaja
sedangkan pembakaran identik dengan kejadian yang sengaja diinginkan tetapi tindakan
pembakaran dapat juga menimbulkan terjadinya suatu kebakaran. Penggunaan istilah
kebakaran hutan dengan pembakaran terkendali merupakan suatu istilah yang berbeda.
Penggunaan istilah ini sering kali mengakibatkan timbulnya persepsi yang salah terhadap
dampak yang ditimbulkannya.
Kebakaran-kebakaran yang sering terjadi digeneralisasi sebagai kebakaran hutan, padahal
sebagian besar (99,9%) kebakaran tersebut adalah pembakaran yang sengaja dilakukan maupun
akibat kelalaian, baik oleh peladang berpindah ataupun oleh pelaku binis kehutanan atau
perkebunan, sedangkan sisanya (0,1%) adalah karena alam (petir, larva gunung berapi). Saharjo
(1999) menyatakan bahwa baik di areal HTI, hutan alam dan perladangan berpindah dapat
dikatakan bahwa 99% penyebab kebakaran hutan di Indonesia adalah berasal dari ulah
manusia, entah itu sengaja dibakar atau karena api lompat yang terjadi akibat kelalaian pada
saat penyiapan lahan. Bahan bakar dan api merupakan faktor penting untuk mempersiapkan
lahan pertanian dan perkebunan (Saharjo, 1999). Pembakaran selain dianggap mudah dan
murah juga menghasilkan bahan mineral yang siap diserap oleh tumbuhan. Banyaknya jumlah
bahan bakar yang dibakar di atas lahan akhirnya akan menyebabkan asap tebal dan kerusakan
lingkungan yang luas. Untuk itu, agar dampak lingkungan yang ditimbulkannya kecil, maka
penggunaan api dan bahan bakar pada penyiapan lahan haruslah diatur secara cermat dan hatihati. Untuk menyelesaikan masalah ini maka manajemen penanggulangan bahaya kebakaran
harus berdasarkan hasil penelitian dan tidak lagi hanya mengandalkan dari
terjemahan textbook atau pengalaman dari negara lain tanpa menyesuaikan dengan keadaan
lahan di Indonesia (Saharjo, 2000).
2.7 Penyebab Kebakaran Hutan
Kebakaran hutan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain sebagai berikut:
1. Sambaran petir pada hutan yang kering karena musim kemarau yang panjang.
2. Kecerobohan manusia antara lain membuang puntung rokok sembarangan dan lupa
mematikan api di perkemahan.
3. Aktivitas vulkanis seperti terkena aliran lahar atau awan panas dari letusan gunung
berapi.
4. Tindakan yang disengaja seperti untuk membersihkan lahan pertanian atau membuka
lahan pertanian baru dan tindakan vandalisme.
5. Kebakaran di bawah tanah/ground fire pada daerah tanah gambut yang dapat menyulut
kebakaran di atas tanah pada saat musim kemarau.

2.8 Kerugian yang ditimbulkannya


Kebakaran hutan akhir-akhir ini menjadi perhatian internasional sebagai isu lingkungan dan
ekonomi khususnya setelah terjadi kebakaran besar di berbagai belahan dunia tahun 1997/98
yang menghanguskan lahan seluas 25 juta hektar. Kebakaran tahun 1997/98 mengakibatkan
degradasi hutan dan deforestasi menelan biaya ekonomi sekitar US $ 1,6-2,7 milyar dan biaya

akibat pencemaran kabut sekitar US $ 674-799 juta. Kerugian yang diderita akibat kebakaran
hutantersebut kemungkinan jauh lebih besar lagi karena perkiraan dampak ekonomi
bagikegiatan bisnis di Indonesia tidak tersedia. Valuasi biaya yang terkait dengan emisi karbon
kemungkinan mencapai US $ 2,8 milyar (Tacconi, 2003).
Hasil perhitungan ulang kerugian ekonomi yang dihimpun Tacconi (2003), menunjukkan bahwa
kebakaran hutan Indonesia telah menelan kerugian antara US $ 2,84 milayar sampai US $ 4,86
milyar yang meliputi kerugian yang dinilai dengan uang dan kerugian yang tidak dinilai dengan
uang. Kerugian tersebut mencakup kerusakan yang terkait dengan kebakaran seperti kayu,
kematian pohon, HTI, kebun, bangunan, biaya pengendalian dan sebagainya serta biaya yang
terkait dengan kabut asap seperti kesehatan, pariwisata dan transportasi.
2.9 Dampak Kebakaran Hutan
2.9.1

Dampak Kebakaran Hutan terhadap Lingkungan Biologis

Yang dimaksud dengan lingkungan biologi yaitu segala sesuatu di sekitar manusia yang berupa
organisme hidup selain dari manusia itu sendiri seperti hewan, tumbuhan, dan decomposer.
Dampak yang ditimbulkan dari adanya kebakaran hutan khususnya terhadap lingkungan biologis
antara lain sebagai berikut:
1.

Terhadap flora dan fauna

Kebakaran hutan akan memusnahkan sebagian spesies dan merusak kesimbangan alam sehingga
spesies-spesies yang berpotensi menjadi hama tidak terkontrol. Selain itu, terbakarnya hutan
akan membuat Hilangnya sejumlah spesies; selain membakar aneka flora, kebakaran hutan
juga mengancam kelangsungan hidup sejumlah binatang. Berbagai spesies endemik (tumbuhan
maupun hewan) terancam punah akibat kebakaran hutan. Selain itu, kebakaran hutan dapat
mengakibatkan terbunuhnya satwa liar dan musnahnya tanaman baik karena kebakaran,
terjebak asap atau rusaknya habitat. Kebakaran juga dapat menyebabkan banyak spesies
endemik/khas di suatu daerah turut punah sebelum sempat dikenali/diteliti.
Beberapa dampak kebakaran tehadap hewan dan tumbuhan antara lain sebagai berikut:

BANGSA BINATANG

Kebakaran hutan akan mengakibatkan banyak binatang yang akan kehilangan tempat tinggal
yang digunakan untuk berlindung serta tempat untuk mencarimakan. Dengan demikian, hewan
yang tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan baru setelah terjadinya kebakaran tersebut
akan mengalami penurunan jumlah bahkan dapat mengalami kepunahan.
Contoh dampak kebakaran hutan bagi beberapa hewan antara lain sebagai berikut:

Geobin : seluruh daur hidupnya di dalam tubuh tanah (Ciliophora, Rhizopoda &
Mastigophora, dll)
Geofil : sebagian daur hidupnya di dalam tubuh tanah (serangga)

BANGSA TUMBUHAN

Kehidupan tumbuhan berhubungan erat dengan hutan yang merupakan tempat hidupnya.
Kebakaran hutan dapat mengakibatkan berkurangnya vegetasi tertentu.
Contoh dampak kebakaran hutan terhadap tumbuhan adalah sebagai berikut:

Tumbuhan tingkat tinggi (akar pohon, semak atau rumput)


Tumbuhan tingkat rendah (bakteri, cendawan dan Ganggang)

Terjadinya kebakaran hutan akan menghilangkan vegetasi di atas tanah, sehingga apabila
terjadi hujan maka hujan akan langsung mengenai permukaan atas tanah, sehingga
mendapatkan energi pukulan hujan lebih besar, karena tidak lagi tertahan oleh vegetasi
penutup tanah. Kondisi ini akan menyebabkan rusaknya struktur tanah
1.

Terhadap keanekaragaman hayati

Kebakaran hutan membawa dampak yang besar pada keanekaragaman hayati. Hutan yang
terbakar berat akan sulit dipulihkan, karena struktur tanahnya mengalami kerusakan.
Hilangnya tumbuh-tumbuhan menyebabkan lahan terbuka, sehingga mudah tererosi, dan tidak
dapat lagi menahan banjir. Karena itu setelah hutan terbakar, sering muncul bencana banjir
pada musim hujan di berbagai daerah yang hutannya terbakar. Kerugian akibat banjir tersebut
juga sulit diperhitungkan.
1.

Terhadap mikroorganisme

Kebakaran hutan dapat membunuh organisme (makroorganisme dan mikroorganisme) tanah


yang bermanfaat dalam meningkatkan kesuburan tanah. Makroorganisme tanah misalnya:
cacing tanah yang dapat meningkatkan aerasi dan drainase tanah, dan mikroorganisme tanah
misalnya: mikorisa yang dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara P, Zn, Cu, Ca, Mg, dan
Fe akan terbunuh. Selain itu, bakteri penambat (fiksasi) nitrogen pada bintil-bintil akar
tumbuhan Leguminosae juga akan mati sehingga laju fiksasi ntrogen akan menurun.
Mikroorganisme, seperti bakteri dekomposer yang ada pada lapisan serasah saat kebakaran
pasti akan mati. Dengan temperatur yang melebihi normal akan membuat mikroorganisma
mati, karena sebagian besar mikroorganisma tanah memiliki adaptasi suhu yang sempit. Namun
demikian, apabila mikroorganisme tanah tersebut mampu bertahan hidup, maka ancaman
berikutnya adalah terjadinya perubahan iklim mikro yang juga dapat membunuhnya. Dengan
terbunuhnya mikroorganisme tanah dan dekomposer seperti telah dijelaskan di atas, maka
akan mengakibatkan proses humifikasi dan dekomposisi menjadi terhenti.
1.

Terhadap organisme dalam tanah

Kebakaran hutan biasanya menimbulkan dampak langsung terhadap kematian populasi dan
organisme tanah serta dampak yang lebih signifikan lagi yaitu merusak habitat dari organisme
itu sendiri. Perubahan suhu tanah dan hilangnya lapisan serasah, juga bisa menyebabkan
perubahan terhadap karakteristik habitat dan iklim mikro. Kebakaran hutan menyebabkan
bahan makanan untuk organisme menjadi sedikit, kebanyakan organisme tanah mudah mati
oleh api dan hal itu dengan segera menyebabkan perubahan dalam habitat, hal ini

kemungkinan menyebabkan penurunan jumlah mikroorganisme yang sangat besar dalam


habitat. Efek negatif ini biasanya bersifat sementara dan populasi organisme tanah akhirnya
kembali menjadi banyak lagi dalam beberapa tahun.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisika, kimia dan biologi tanah pada hutan dan
hutan yang sudah dibuka pada daerah Buffer Zone dan Resort Sei Betung pada Taman Nasional
Gunung Leuser Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat. Penelitian ini dilakukan di
Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,
Medan. Yang dimulai pada bulan April hingga Mei 2011. Penelitian ini mengambil 12 titik
sampel tanah sebagai bahan penelitian, yaitu 6 sampel pada hutan asli dan 6 sampel pada
hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian. Metode yang digunakan adalah Survei Bebas
tingkat survei semi detail dan analisis data kandungan bahan organik tanah dengan metode
Walkley and Black, hara Nitrogen total tanah dengan metode Kjeldhalterm, Tekstur tanah
dengan metode Hidrometer, pH tanah dengan metode Elektrometri, Kapasitas Tukar Kation
(KTK) dengan metode Ekstraksi NH4OAc pH 7 serta nisbah C/N tanah. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kandungan bahan organik digolongkan dalam 4 kriteria, yakni sangat
rendah dan rendah (pada tanah hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman
musiman dan tahunan), sedang dan tinggi (pada tanah hutan alami). N-total tanah digolongkan
dalam 3 kriteria, yakni rendah (pada tanah hutan alami), sedang dan tinggi (pada tanah hutan
alami dan hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman musiman dan tahunan).
Rasio C/N tanah digolongkan dalam 4 kriteria, yakni sangat rendah (pada tanah hutan yang
sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman musiman dan tahunan), rendah, sedang dan
tinggi (pada tanah hutan alami). pH tanah digolongkan dalam 3 kriteria, yakni sangat masam,
masam dan agak masam. Tekstur tanah lebih dominan lempung berpasir. Kapasitas Tukar Kation
tanah digolongkan dalam 1 kriteria, yakni rendah (pada tanah hutan alami dan hutan yang
sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman musiman dan tahunan)
2.9.2
Menteri Kesehatan RI, 2003 menyatakan bahwa kebakaran hutan menimbulkan
polutan udara yang dapat menyebabkan penyakit dan membahayakan kesehatan manusia.
Berbagai pencemar udara yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan, misalnya : debu dengan
ukuran partikel kecil (PM10 & PM2,5), gas SOx, NOx, COx, dan lain-lain dapat menimbulkan
dampak negatif terhadap kesehatan manusia, antara lain infeksi saluran pernafasan, sesak
nafas, iritasi kulit, iritasi mata, dan lain-lain.
Selain itu juga dapat menimbulkan gangguan jarak pandang/ penglihatan, sehingga dapat
menganggu semua bentuk kegiatan di luar rumah. Gumpalan asap yang pedas akibat kebakaran
yang melanda Indonesia pada tahun 1997/1998 meliputi wilayah Sumatra dan Kalimantan, juga
Singapura dan sebagian dari Malaysia dan Thailand. Sekitar 75 juta orang terkena gangguan
kesehatan yang disebabkan oleh asap. (Cifor,2001).
Gambut yang terbakar di Indonesia melepas karbon lebih banyak ke atmosfir daripada yang
dilepaskan Amerika Serikat dalam satu tahun. Hal itu membuat Indonesia menjadi salah satu
pencemar lingkungan terburuk di dunia pada periode tersebut (Applegate, G. dalam CIFOR,
2001).

Dampak kebakaran hutan 1997/98 bagi ekosistem direvisi karena perubahan perhitungan luas
kebakaran yang ditemukan. Taconi, 2003 menyebutkan bahwa kebakaran yang mengakibatkan
degradasi hutan dan deforestasi menelan biaya ekonomi sekitar 1,62-2,7 miliar dolar. Biaya
akibat pencemaran kabut asap sekitar 674-799 juta dolar; biaya ini kemungkinan lebih tinggi
karena perkiraan dampak ekonomi bagi kegiatan bisnis di Indonesia tidak tersedia. Valuasi
biaya
yang
terkait
dengan
biayanyamencapai2,8 miliar dolar.
2.10

emisi

karbon

menunjukkan

bahwa

kemungkinan

Pencegahan Kebakaran Hutan di Indonesia

Upaya untuk menangani kebakaran hutan ada dua macam, yaitu penanganan yang bersifat
represif dan penanganan yang bersifat preventif. Penanganan kebakaran hutan yang bersifat
represif adalah upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengatasi kebakaran hutan
setelah kebakaran hutan itu terjadi. Penanganan jenis ini, contohnya adalah pemadaman,
proses peradilan bagi pihak-pihak yang diduga terkait dengan kebakaran hutan (secara
sengaja), dan lain-lain.
Sementara itu, penanganan yang bersifat preventif adalah setiap usaha, tindakan atau
kegiatan yang dilakukan dalam rangka menghindarkan atau mengurangi kemungkinan
terjadinya kebakaran hutan. Jadi penanganan yang bersifat preventif ini ada dan dilaksanakan
sebelum kebakaran terjadi. Selama ini, penanganan yang dilakukan pemerintah dalam kasus
kebakaran hutan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, lebih banyak didominasi oleh
penanganan yang sifatnya represif. Berdasarkan data yang ada, penanganan yang sifatnya
represif ini tidak efektif dalam mengatasi kebakaran hutan di Indonesia.
Hal ini terbukti dari pembakaran hutan yang terjadi secara terus menerus. Sebagai contoh :
pada bulan Juli 1997 terjadi kasus kebakaran hutan. Upaya pemadaman sudah dijalankan,
namun karena banyaknya kendala, penanganan menjadi lambat dan efek yang muncul
(seperti : kabut asap) sudah sampai ke Singapura dan Malaysia. Sejumlah pihak didakwa
sebagai pelaku telah diproses, meskipun hukuman yang dijatuhkan tidak membuat mereka
jera. Ketidakefektifan penanganan ini juga terlihat dari masih terus terjadinya kebakaran di
hutan Indonesia, bahkan pada tahun 2008 ini.
Oleh karena itu, berbagai ketidakefektifan perlu dikaji ulang sehingga bisa menghasilkan upaya
pengendalian kebakaran hutan yang efektif.
Menurut UU No 45 Tahun 2004, pencegahan kebakaran hutan perlu dilakukan secara terpadu
dari tingkat pusat, provinsi, daerah, sampai unit kesatuan pengelolaan hutan. Ada kesamaan
bentuk pencegahan yang dilakukan diberbagai tingkat itu, yaitu penanggungjawab di setiap
tingkat harus mengupayakan terbentuknya fungsi-fungsi berikut ini :
1.

Mapping : pembuatan peta kerawanan hutan di wilayah teritorialnya masing-masing. Fungsi


ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, namun yang lazim digunakan adalah 3 cara berikut:
pemetaan daerah rawan yang dibuat berdasarkan hasil olah data dari masa lalu
maupun hasil prediksi.

pemetaan daerah rawan yang dibuat seiring dengan adanya survai desa (Partisipatory Rural
Appraisal)
pemetaan daerah rawan dengan menggunakan Global Positioning System atau citra satelit
2.

Informasi : penyediaan sistem informasi kebakaran hutan.

Hal ini bisa dilakukan dengan pembuatan sistem deteksi dini (early warning system) di setiap
tingkat. Deteksi dini dapat dilaksanakan dengan 2 cara berikut :
o analisis kondisi ekologis, sosial, dan ekonomi suatu wilayah
o pengolahan data hasil pengintaian petugas
3.

Sosialisasi : pengadaan penyuluhan, pembinaan dan pelatihan kepada masyarakat.

Penyuluhan dimaksudkan agar menginformasikan kepada masyarakat di setiap wilayah


mengenai
bahaya
dan
dampak,
serta
peran
aktivitas
manusia
yang
seringkali memicu dan menyebabkan kebakaran hutan. Penyuluhan juga bisa menginformasikan
kepada masayarakat mengenai daerah mana saja yang rawan terhadap kebakaran dan upaya
pencegahannya.
Pembinaan

merupakan kegiatan yang mengajak masyarakat untuk dapat meminimalkan

intensitas terjadinya kebakaran hutan.


Sementara, pelatihan bertujuan untuk mempersiapkan masyarakat, khususnya yang tinggal di
sekitar wilayah rawan kebakaran hutan,untuk melakukan tindakan awal dalam merespon
kebakaran hutan.
4.

Standardisasi : pembuatan dan penggunaan SOP (Standard Operating Procedure).


Untuk memudahkan tercapainya pelaksanaan program pencegahan kebakaran hutan maupun
efektivitas dalam penanganan kebakaran hutan, diperlukan standar yang baku dalam
berbagai hal berikut :
Metode pelaporan

Untuk menjamin adanya konsistensi dan keberlanjutan data yang masuk, khususnya data yang
berkaitan dengan kebakaran hutan, harus diterapkan sistem pelaporan yang sederhana dan
mudah dimengerti masyarakat. Ketika data yang masuk sudah lancar, diperlukan analisis yang
tepat sehingga bisa dijadikan sebuah dasar untuk kebijakan yang tepat.

Peralatan

Standar minimal peralatan yang harus dimiliki oleh setiap daerah harus bisa diterapkan oleh
pemerintah, meskipun standar ini bisa disesuaikan kembali sehubungan dengan potensi
terjadinya kebakaran hutan, fasilitas pendukung, dan sumber daya manusia yang tersedia di
daerah.

Metode Pelatihan untuk Penanganan Kebakaran Hutan

Standardisasi ini perlu dilakukan untuk membentuk petugas penanganan kebakaran yang
efisien dan efektif dalam mencegah maupun menangani kebakaran hutan yang terjadi. Adanya
standardisasi ini akan memudahkan petugas penanganan kebakaran untuk segera mengambil
inisiatif yang tepat dan jelas ketika terjadi kasus kebakaran hutan
5.

Supervisi : pemantauan dan pengawasan kepada pihak-pihak yang berkaitan langsung


dengan hutan. Pemantauan adalah kegiatan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya
perusakan lingkungan, sedangkan pengawasan adalah tindak lanjut dari hasil analisis
pemantauan. Jadi, pemantauan berkaitan langsung dengan penyediaan data,kemudian
pengawasan merupakan respon dari hasil olah data tersebut. Pemantauan, menurut
kementerian lingkungan hidup, dibagi menjadi empat, yaitu :
Pemantauan terbuka : Pemantauan dengan cara mengamati langsung objek yang diamati.

Contoh : patroli hutan


Pemantauan tertutup (intelejen) : Pemantauan yang dilakukan dengan cara penyelidikan

yang hanya diketahui oleh aparat tertentu.


Pemantauan pasif : Pemantauan yang dilakukan berdasarkan dokumen, laporan, dan

keterangan dari data-data sekunder, termasuk laporan pemantauan tertutup.


Pemantauan aktif : Pemantauan dengan cara memeriksa langsung dan menghimpun data di
lapangan secara primer. Contohnya : melakukan survei ke daerah-daerah rawan kebakaran
hutan. Sedangkan, pengawasan dapat dilihat melalui 2 pendekatan, yaitu :

o Preventif : kegiatan pengawasan untuk pencegahan sebelum terjadinya perusakan


lingkungan (pembakaran hutan). Contohnya : pengawasan untuk menentukan status ketika
akan terjadi kebakaran hutan
o

Represif : kegiatan pengawasan yang bertujuan untuk menanggulangi perusakan yang

sedang terjadi atau telah terjadi serta akibat-akibatnya sesudah terjadinya kerusakan
lingkungan.
Untuk mendukung keberhasilan, upaya pencegahan yang sudah dikemukakan diatas, diperlukan
berbagai pengembangan fasilitas pendukung yang meliputi :
1.

Pengembangan dan sosialisasi hasil pemetaan kawasan rawan kebakaran hutan


Hasil pemetaan sebisa mungkin dibuat sampai sedetail mungkin dan disebarkan pada
berbagai instansi terkait sehingga bisa digunakan sebagai pedoman kegiatan institusi yang
berkepentingan di setiap unit kawasan atau daerah.
2.
Pengembangan
organisasi
penyelenggara
Pencegahan
Kebakaran
Hutan
Pencegahan Kebakaran Hutan perlu dilakukan secara terpadu antar sektor, tingkatan dan
daerah. Peran serta masyarakat menjadi kunci dari keberhasilan upaya pencegahan ini.
Sementara itu, aparatur pemerintah, militer dan kepolisian, serta kalangan swasta perlu
menyediakan fasilitas yang memadai untuk memungkinkan terselenggaranya Pencegahan
Kebakaran Hutan secara efisien dan efektif.
3.
Pengembangan sistem komunikasi

Sistem komunikasi perlu dikembangkan seoptimal mungkin sehingga koordinasi antar tingkatan
(daerah sampai pusat) maupun antar daerah bisa berjalan cepat. Hal ini akan mendukung
kelancaran early warning system, transfer data, dan sosialisasi kebijakan yangberkaitan
dengan kebakaran hutan

2.11

Penanggulngan Kebakaran Hutan di Indonesia

Penanggulangan hutan di Indonesia telah di atur dengan jelas di dalam Peraturan Menteri
Kehutanan Nomor: P.12/Menhut-Ii/2009 Tentang Pengendalian Kebakaran Hutan. Adapun upaya
penanggulangan yang dimaktub tersebut antara lain:
1.
Memberdayakan sejumlah posko yang bertugas menanggulangi kebakaran hutan di semua
tingkatan. Pemberdayaan ini juga harus disertai dengan langkah pembinaan terkait tindakan
apa saja yang harus dilakukan jika kawasan hutan telah memasuki status Siaga I dan juga
Siaga II.
2.
Memindahkan segala macam sumber daya baik itu manusia, perlengkapan serta dana pada
semua tingkatan mulai dari jajaran Kementrian Kehutanan hingga instansi lain bahkan juga
pihak swasta.
3.
Memantapkan koordinasi antara sesame instansi yang saling terkait melalui dengan
PUSDALKARHUTNAS dan juga di lever daerah dengan PUSDALKARHUTDA tingkat I dan SATLAK
kebakaran lahan dan juga hutan.
4.
Bekerjasama dengan pihak luar seperti Negara lainnya dalam hal menanggulangi kebakaran
hutan. Negara yang potensial adalah Negara yang berbatasan dengan kita misalnya dengan
Malaysia berama pasukan BOMBA-nya. Atau juga dengan Australia bahkan Amerika Serikat.
Upaya penanggulangan kebakaran hutan ini tentunya harus sinkron dengan upaya pencegahan.
Sebab walau bagaimanapun, pencegahan jauh lebih baik dari memanggulangi. Ada beragam
cara yang bisa dilakukan dalam rangka mencegah kebakaran hutan khususnya yang disebabkan
oleh perbuatan manusia seperti membuang punting rokok di wilayah yang kering, kegiatan
pembukaan lahan dan juga api unggun yang lupa dimatikan. Upaya pencegahannya adalah
dengan meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya mereka yang berhubungan langsung
dengan hutan. Masyarakat ini biasanya tinggal di wilayah hutan dan memperluas area
pertaniannya dengan membakar. Pemerintah harus serius mengadakan sosialisi agar hal ini bisa
dicegah.
Pada dasarnya upaya penanggulangan kebakaran hutan juga bisa disempurnakan jika
pemerintah mau memanfaatkan teknologi semacam bom air. Atau bisa juga lebih lanjut
ditemukan metode yang lebih efisien dan ampuh menaklukkan kobaran api di hutan. Langkah
yang paling baik adalah dengan mengikutsertakan para perangkat pendidikan agar merancang
teknologi maupun metode yang membantu pemerintah di level praktis. Sokongan dana dari
pemerintah akan membuat program tersebut lebih baik dan terarah.
2.12
2.12.1

Beberapa Kasus Kebakaran Hutan yang Terjadi Didunia


Kebakaran Hutan di Riau

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali menangkap seorang petani saat
membersihkan lahan dengan cara membakar di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Penangkapan
dilakukan saat BNPB melakukan patroli.
Kejadiannya beberapa hari lalu saat tim melakukan patroli udara dan darat, kata Humas
BNPB Agus Wibowo di Pekanbaru, Minggu (21/7) seperti dikutip Antara.

Dia menjelaskan, pelaku yang teriindikasi sebagai petani pemilik lahan di Kabupaten Siak ini
diamankan oleh tim pemantau yang terdiri atas pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI),
masyarakat dan Polri.
Sampai saat ini patroli masih terus berjalan dengan dikoordinir Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) Riau, katanya
Dengan tertangkapnya seorang pelaku pembakar hutan ini, maka total jumlah pembakar lahan
perorangan ada sebanyak 25 orang. Saat ini Polda Riau juga tengah melakukan penyelidikan
terhadap 12 kasus dan 5 kasus penyidikan dengan tersangka 24 orang dan satu korporasi.
Sebanyak 24 tersangka tersebut merupakan pelaku pembakar hutan maupun individu yang
memang ingin memperluas lahan dengan menyuruh membakar hutan.
Hingga saat ini dilaporkan situasi di Riau semakin kondusif meskipun pada peristiwa
pembakaran hutan tersebut dua orang dicatat meninggal yang mana satu orang bahkan turut
terbakar.
Sementara untuk kasus pembakaran hutan yang melibatkan perusahaan perkebunan di Provinsi
Riau masih menggantung. Sejauh ini Polda Riau belum juga menetapkan tersangka pada kasus
yang terindikasi melibatkan sebuah perusahaan perkebunan, PT Adei Plantation (AP). Untuk
memperkuat dugaan itu, Polda Riau berencana mengambil keterangan saksi ahli.
Saksi ahli yang rencana didatangkan ada beberapa, di mana menurut informasi kepolisian saksi
tersebut dari pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan akademisi.
Polda Riau sebelumnya juga telah memeriksa sebanyak 16 saksi dari kalangan karyawan dan
pejabat perusahaan diduga pembakar lahan.
2.12.2

Kebakaran Hutan di Sydney

Langit di atas pelabuhan kota Sydney berubah menjadi memerah pada Kamis kemarin akibat
kebakaran hutan di sebagian besar area di negara bagian New South Wales (NSW), Australia.
Menurut laporan petugas pemadam kebakaran, terdapat hampir 100 titik api yang ada di
Australia bagian tenggara itu.
Kantor berita BBC, Kamis 17 Oktober 2013, melansir, sebanyak 200 rumah diperkirakan ikut
terbakar dalam insiden tersebut. Jumlah itu masih dapat terus bertambah, karena petugas
pemadam kebakaran hingga kini masih menghitung.
Akibat kebakaran tersebut, satu orang dilaporkan tewas saat sedang berusaha melindungi
rumahnya di Danau Munmorah di Central Coast agar tidak ikut terbakar. Korban tewas adalah
pria berusia 63 tahun dan meregang nyawa akibat serangan jantung pada Kamis sore waktu
setempat. Tiga pemadam kebakaran terluka.

Dugaan sementara, kebakaran disebabkan suhu udara yang sangat panas dan angin kencang.
Kendati suhu udara dan kecepatan angin sudah mulai menurun, namun kebakaran masih terus
terjadi di pinggiran kota Sydney.
Menurut laporan BBC, sekitar dua ribu petugas pemadam kebakaran dikerahkan ke seluruh
negara bagian untuk mengendalikan si jago merah. Namun, masih banyak titik api yang di luar
kendali mereka.
Wakil Kepala Layanan Pemadam Kebakaran Pedesaan NSW, Rob Rogers, mengatakan ini
merupakan kondisi kebakaran terparah yang pernah dia lihat dalam satu dekade terakhir. Ada
ribuan kilometer area yang terbakar api dan harus kami padamkan, ujar Rogers.
Hal serupa turut diperkuat kesaksian petugas pemadam kebakaran lainnya yang menyebut
ketinggian api mencapai 20 hingga 30 meter.
Perdana Menteri, Tony Abbott, yang mengetahui soal bencana ini, berkunjung ke daerah Blue
Mountain, area terparah yang terkena bencana. Abbott mengaku salut terhadap upaya para
petugas
pemadam
kebakaran.
Orang-orang ini adalah sosok yang pada hari biasa bersama-sama mendukung dan melindungi
sesama warga Australia, ungkap Abbott.
Untuk sementara ini, api memang dapat dikendalikan, namun suhu panas diprediksi akan
kembali melanda NSW mulai pekan depan. Menurut laporan Dailymail, kebakaran hutan kerap
terjadi di Negeri Kangguru saat suhu udara tinggi.
Aksi kebakaran terparah lainnya pernah terjadi di tahun 2009 silam yang menyebabkan 173
orang tewas dan melalap dua ribu rumah di Negara Bagian Victoria.

2.12.3

Kebakaran Hutan di California

Kebakaran hutan di California telah menghanguskan lebih dari 100 bangunan, termasuk 11
rumah, dan menghanguskan areal hutan seluas 155 kilometer persegi.
Petugas pemadam kebakaran yang berjuang mengatasi kebakaran besar di negara bagian
California yang telah menghanguskan hutan luas di salah satu taman nasional terkenal
mengatakan mereka seharusnya akan memadamkan kebakaran itu sepenuhnya minggu ini.
Dinas Kehutanan Amerika memperkirakan yang disebut Lingkar Kebakaran di Taman Nasional
Yosemite dan sekitarnya akan dipadamkan 100 persen hari Jumat. Hingga Kamis tengah hari,
kebakaran itu 84 persen dipadamkan dan telah menghanguskan 104.000 hektar lahan.
Jay Millier, ekolog senior kebakaran hutan hari Kamis memberitahu Associated Press kebakaran
besar itu telah membuat wilayah mirip permukaan bulan yang dinuklir di pegunungan Sierra
Nevada yang lebih besar dari wilayah manapun yang pernah terbakar dalam ratusan tahun. Dia

mengatakan tidak ada lagi yang tersisa di hampir 40 persen wilayah lokasi kebakaran kecuali
lahan hangus.
Pemerintah Amerika pekan lalu mengatakan Lingkar Api itu disebabkan oleh seorang pemburu
yang tidak dapat mengendalikan api unggun ilegal yang dinyalakannya pada tanggal 17 Agustus.
Dinas Kehutanan Amerika mengatakan belum ada orang yang ditahan dalam kasus itu.
Kebakaran itu telah menghanguskan lebih dari 100 bangunan, termasuk 11 rumah, dan
membuat area seluas 155 kilometer persegi dalam keadaan mati semuanya.

KEBAKARAN HUTAN

Oleh : Kelompok 11
1.

Zelika Anugerah Sari.

2.

Selyana Putri Pratiwi.

3.

Muhammad Rivandi.

Dari : Kls IX-D , SMP.N. 250 Jakarta (2015)

Kata Pengantar
Puji syukur kita panjatkan kehadiran Allah Yang Maha Esa. Karna ata
berkat rahmat dan karunianya, karya ilmiah sederhana ini dapat diselesaikan
dengan baik. Karya ilmiah ini berjudul Kebakaran Hutan. Dengan membuat karya

ilmiah ini saya berharap kita dapat menambah wawasan tentang Kebakaran
hutan, Agar hal ini dapat dicegah atau ditangani dengan baik oleh kita.

Sebagai seorang pelajar yang masih dalam peroses belajar, saya menyadari
bahwa penulisan karya ilmiah ini masih banyak kekurangannya dari segi teknik
penulisan agar dapat membuat karya ilmiah sederhana yang tampak sempurna.

Harapan saya, semoga karya ilmiah yang sederhana ini dapat memberi
kesadaran tersendiri bagi generasi muda bahwa pentingnya menjaga,
memlihara, dan melestarikan negeri kita tercinta yaitu Republik Indonesia.

Jakarta, Februari 2015

Tim Penulis

II

Daftar Isi
Judul

Kata pengantar ................


Daftar Isi ....

II
III

BAB I (pendahuluan) ...

01

1.1
01

Latar Belakang Masalah ..

1.2
01

Permasalahan ...

1.3
01

Tujuan Penulisan .

1.4
01

Metode Penulisan .

1.5
02

Manfaat Penulisan ...

1.6
02

Sistematika Penulisan

BAB II (pembahasan)

02

2.1 Pengertian Kebakaran Hutan

02

2.2 Sebab Sebab Kebakaran Hutan ..


2.3 Akibat Kebakaran Hutan ..

02
03

2.4 Upaya Pencegahan Kebakaran Hutan


BAB III (penutupan) .........

03
04

3.1 Kesimpulan

04

3.2 Saran

04

Daftar Pustaka .

05

III

BAB 1
(Pendahuluan)

1.1

Latar Belakang Masalah

Kebakaran hutan adalah suatu keadaan dimana hutan dilanda api yang
mengakibatkan kerugian ekosistem dan terancamnya kelestarian lingkungan.
Kebakaran hutan sering terjadi di Negara yang berhutan tropis yaitu di Negara
Brazil, Zaire, dan Indonesia. Kebakaran hutan biasa terjadi saat musim kemarau.
Kebakaran Hutan menyebabkan kerugian kekayaan alam yang sangat besar,
karna hutan merupakan paru paru dunia.

Kebakaran hutan rata rata disebabkan oleh kelalaian manusia, ada yang
menyebutkan hampir 90% kebakaran hutan yang disebabkan manusia,
sedangkan 10% disebabkan oleh alam itu sendiri. Contoh factor karna manusia:
membuat api ditengah hutan pada saat musim kemarau, seharusnya manusia
sadar dan dapat berpikir secara logika bahwa semua benda dimusim kemarau
rentan terbakar. Contoh factor karena alam: musim kemarau yang
berkepanjangan.

Oleh sebab itu saya tertarik untuk mengangkat tema Kebakaran hutan dalam
bentuk karya tulis ilmiah sederhana.

1.2

Permasalahan

latar belakang masalah tersebut, permasalahan ini dapat dirumuskan sebagai


berikut:
Bagaimana cara mencegah Berdasarkan terjadinya kebakaran hutan?

1.3

Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan karya tulis ini adalah untuk memberi penjelasan dan upaya
pencegahan kebakaran hutan.

1.4

Metode Penulisan

Dalam penulisan karya tulis ini saya menggunakan metode kajian pustaka,
artinya data dan informasi diperoleh dari membaca artikel dan buku.

Halaman 01

1.5

Manfaat Penulisan

Karya tulis ini diharapkan dapat bermanfaat agar yang membaca dapat
menambah wawasan tentang kebakaran hutan dan agar dapat mengetahui
Penyebab, Dampak, dan Upaya Kebakaran hutan.

1.6

Sistematika Penulisan

v Bab 1 =
Berisi pendahuluan yang menjelaskan Latar belakang masalah,
Permasalahan, Tujuan penulisan, Manfaat penulisan dan Sistematika penulisan.

v Bab 2 = Dalam BAB ini dibahas tentang Pengertian, Sebab sebab, Akibat, dan
upaya pencegahan Kebakaran Hutan.

v Bab 3 = Merupakan BAB penutup yang terdiri atas Kesimpulan dan Saran.

BAB 2
(Pembahasan)

2.1 Pengertian Kebakaran Hutan

Kebakaran huatan adalah suatu kondisi kerusakan ekosistem berupa


hamparan lahan berisi seumber daya alam yang didominasikan pepohonan. Yang
dilanda api sehingga berakibat kerugian ekoistem, terancamnya keletarian
lingkungan dn kerugian yang berdampak pada daerah yang berada disekitarnya.
Kebakaran hutan merupakan factor lingkungan dari api yang menimbulkan
dampak negatif.
Sedangkan menurut kamus kehutanan, Departemen Kehutanan Republik
Indonesia. Kebakaran hutan didefinisikan sebagai, Kebakaran yang tidak
disebabkan oleh unsur kesengajaan karena factor alam misalnya musim kemarau
yang terlalu lama. Sedangan dalam istilah Ensiklopedia kehutanan Indonesia
Kebakaran hutan disebut juga Api Hutan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Kebakaran hutan adalah kejadian terbakarnya


kawasan hutan baik dalam luasan yang besar maupun kecil.

2.2 Sebab Sebab Kebakaran Hutan

Bagaimana Kebakaran hutan bias terjadi? Dibawah ini ada faktor faktor
yang menyebabkan Kebakaran hutan yang sering kita temui, antara lain :
Halaman 02

1.

Faktor Alam

a.
Terjadinya gesekan dari bahan bakar kering, sehingga menyebabkan materi
tersebut menjadi panas dan akhirnya memunculkan api sebagai sumber
kebakaran.
b.
Sambaran petir pada hutan yang kering pada musim kemarau yang
berkepanjangan.
c.
Aktivitas Vulkanis seperti terkena aliran lahar panas (magma) atau terkena
awan panas dari letusan gunung berapi.
2.

Faktor Manusia

a.

Tindakan yang disengaja seperti untuk membuka lahan pertanian baru.

b.
Kecerobohan manusia seperti membuang punting rokok yang masih
menyala.
c.

Membakar sampah kering didekat hutan.

2.3 Akibat Kebakaran Hutan

Akibat akibat (dampak) yang disebabkan oleh Kebakaran hutan :

1.

Terbunuhnya / Musnahnya flora dan fauna , sehingga terancam punah.

2.
Kekeringan yang ditimbulkan dapat menyebabkan kerusakan pada
tanahnya menjadi tidak subur. Kecuali jika terbakar karna lahar panas.
3.
Berkurangnya bahan baku Industri Perkayuan, Mebel(furniture ),dsb. Yang
dapat penyebabkan ribuan pekerja menjadi pengangguran.
4.

Rusaknya habitat flora dan fauna yang hampir punah.

5.

Menyebabkan polusi udara yang berkepanjangan.

6.

Meningkatnya penderita penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA)

7.
Meningkatnya Penyakit Kanker Paru Paru, yang dapat menyebabkan
kematian bagi sipenderita.
8.

Menyebabkan kekeringan pada saat musim kemarau.

2.4

2.4.1

Upaya Pencegahan Kebakaran Hutan

Pemantauan Kondisi Rawan Kebakaran Hutan .

Kondisi yang rawan yang dimaksud yang paling mudah dicirikan dengan adanya
penumpukan penumpukan bahan bahan yang mudah terbakar didalam hutan
terutama pada musim kemarau.
Tumpukan tumpukan bahan ini mudah dijumpai di areal bekas tebangan, areal
hutan yang dirambah, dan areal yang disiapkan untuk lading, kebun /
permukiman.
Halaman 03

2.4.2

Membuat Tempat - Tempat Penampungan Air .

Tempat penampungan atau embung dibuat dilokasi lokasi yang berdekatan


dengan kawasan hutan yang rawan Kebakaran hutan.

2.4.3

Penyuluhan .

Penyuluhan dalam rangka pencegahan kebakaran yang bertujuan meningkatkan


kepeduian masyarakat terhadap masalah Kebakaran hutan dalam arti
masyarakat menjadi tahu akan bahaya dan mampu berperan dalam mencegah
Kebakaran hutan.

BAB 3
(Penutup)

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan diatas, Kebakaran hutan adalah salah


satu kerusakan lingkungan yang tidak mempunyai dampak positif sama sekali.
Banyak kerugian kerugian yang diakibatkan dari Kebakaran hutan ini yaitu
musnahnya flora dan fauna, polusi udara, dan berkurangnya sumber daya alam.
Masih banyak yang dapat kita lakukan dari pada melakukan hal bodoh tersebut.
Kegiatan reboisasi / penanaman pohon kembali salah satunya cara pencegahan.

3.2 Saran

Saran penulis tentang pencegahan terjadinya Kebakaran hutan antara


lain :

v Masyarakat sekitar diharapkan tidak melakukan penebangan pohon secara liar


karena itu salah sat penyebab Kebakaran hutan.

v Minta petunjuk kepada dinas kehutanan setempat tentang cara pembukaan


lahan tanpa bakar.

Halaman 04

Daftar Pustaka

Ratnawati, Karia. 2008. Waspadai Bencana Alam. Bandung: CV. Mutiara


Ilmu Bandung.
Setiawan, Wawan. 2010. Bersahabat Dengan Bencana Alam. Bandung: CV.
Jabal Rohmat.
-------------- (2006) . Makalah Kebakaran Hutan. Diakses pada tanggal 0
februari 2015, dari
(http://himka1polban.wordpress.com/chemlib/makalah/makalah-kebakaranhutan/.)
-------------- (2010) . Kerusakan Hutan. Diakses pada tanggal 07 februari 2015,
dari ( https://alamendah.org/2010/03/09/kerusakanhutan )
-------------- (2010) . Penyebab dan Dampak Kebakaran Hutan. Diakses pada
tanggal 08 februari 2015, dari
(http://id.wikipedia.org/wiki/kebakaran_liar)

-------------- (2011) . Penyebab Kerusakan Hutan. Diakses pada tanggal 08


februari 2015, dari
(https://ww.flickr.com/photos/crustmania.)
-------------- (2012) . Pengertian dan Definisi Kebakaran Hutan. Diakses pada
tanggal 08 februari 2015, dari
(http://pengertiandefinisi.blogspot.com/2012/04/pengertian-dan-definisi-kebakaran-hutan.html)

KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada
penulis. Sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang sangat sederhana ini. Dalam kesempatan ini
penulis mengambil judulKEBAKARAN HUTAN.
Adapun tujuan Penulis menyusun karya tulis ini sebagai persyaratan mengikuti (UN) 2015 khususnya pelajaran
BAHASA Indonesia. Selama pembuatan karya tulis ini penulis telah mendapatkan bantuan berupa bimbingan
ataupun petunjuk dari beberapa pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan
terimakasih kepada Ibu Atik Sugiartik, S.Pd, selaku guru Bahasa Indonesia yang telah membing Penulis
sehingga Penulis dapat menyelesaikan tugas karya ilmiah ini.
Semoga isi karya tulis ini menambah pengetahuan atau pengalaman bagi para pembaca dan bagi penulis
khususnya, Amin.
Tangerang, April 2014
Irma Yanti

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Hutan sebagai paru-paru dunia juga penyumbang oksigen dan keanekaragaman hayati terbesar di muka
bumi.Terdapat berbagai jenis flora dan fauna didalamnya.Hutan adalah bentuk kehidupan yang tersebar di
seluruh dunia yang dapat ditemukan baik di daerah tropis maupun daerah beriklim dingin.Sebagai fungsi
ekosistem, hutan berperan sebagai lumbung air, penyeimbang lingkungan, dan mencegah timbulnya pemanasan
global.
Hutan Indonesia merupakan hutan terluas ke-3 di dunia setelah Brazil dan Zaire. Luas hutan di Indonesia
diperkirakan mencapai 120,35 juta hektar atau sekitar 63 persen luas daratan. Penyebaran hutan di Indonesia
hampir berada di seluruh wilayah nusantara, termasuk Provinsi Riau. Sebagian besar wilayah hutan Provinsi
Riau merupakan lahan gambut yang sangat berpotensi untuk pertumbuhan kelapa sawit.Dari luasan total lahan
gambut di dunia sebesar 423.825.000 ha, sebanyak 38.317.000 ha terdapat di wilayah tropika. Sekitar 50% dari
luasan lahan gambut tropika tersebut terdapat di Indonesia yang tersebar di pulau-pulau Sumatra, Kalimantan,
dan Papua, sehingga Indonesia menempati urutan ke-4 dalam hal luas total lahan gambut sedunia, setelah
Kanada, Uni Soviet, dan Amerika Serikat.Indonesia memiliki lahan gambut terluas diantara negara tropis lainnya,
yaitu sekitar 21 juta ha, yang tersebar luas terutama di pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua (BB Litbang
SDLP, 2008 dalam Agus dan Subiksa, 2008). Lahan gambut Riau menempati urutan ke-2 terbanyak setelah
provinsi Papua.
Oleh karena itu, banyak perusahaan-perusahaan baik swasta asing maupun dalam negeri yang berminat dan
tertarik terhadap lahan gambut di Provinsi Riau dan kemudian melakukan kerjasama untuk membangun
perkebunan kelapa sawit yang akan diolah menjadi minyak. Namun tidak semua perusahaan yang menaati
peraturan pemerintah terutama dalam hal pengelolaan lahan untuk pembangunan sehingga timbulah tindakan
illegal yang dilakukan oleh perusahaan tersebut yang hanya dapat memberikan keuntungan sepihak. Misalkan,
pembukaan lahan yang dilakukan dengan carapembakaran hutan.
Dengan semakin banyaknya lahan yang dibakar maka akan meningkatkan kadar asap dari kebakaran itu sendiri.
Apalagi asap yang ditimbulkan dari pembakaran lahan gambut yang dinilai sangat sulit dalam upaya
penyelesaiannya. Dikarenakan, saat musim kemarau tiba permukaan tanah gambut cepat sekali kering dan
mudah terbakar, dan api di permukaan juga dapat merambat ke lapisan dalam yang relatif lembab. Oleh
karenanya, ketika terbakar, kobaran api tersebut akan bercampur dengan uap air di dalam gambut dan
menghasilkan asap yang sangat banyak.
Kebakaran hutan dapat didefinisikan sebagai sebuah kebakaran yang terjadi di alam liar, tetapi juga dapat
memusnahkan rumah-rumah dan lahan pertanian disekitarnya. Kebakaran hutan sangat rawan terjadi ketika
musim kemarau.
Adapun beberapa penyebab terjadinya kebakaran hutan antara lain: Pembakaran lahan yang tidak
terkendali, kurangnya penegakan hukum terhadap perusahaan yang melanggar peraturan pembukaan lahan,
aktivitas vulkanisme, dan kecerobohan manusia.
1.

Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada karya tulis ilmiah ini dapt kita simpulkan dari latar belakang masalah diantaranya
adalah
1.

:
Apa

sajakah

penyebab

terjadinya

kebakaran

hutan

2.

Bagaimana

3.

Apa

sajakah

dampak
upaya

kebakaran
untuk

hutan

mencegah

terhadap
dan

lingkungan

menanggulangi

dan

kebakaran

alam

hutan

4. Bagaimana cara memadamkan kebakaran hutan ?


1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan disusunnya makalah ini antara lain:
1.

Mengetahui penyebab terjadinya kebakaran hutan

2.

Mengetahui dampak dari kebakaran hutan terhadap lingkungan dan alam

3.

Mengetahui upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan

4.

Mampu mengendalikan kebakaran hutan

1.4 Metode Penelitian


Data penulisan makalah ini diperoleh dari buku tentang, Majalah Remaja Selain itu, tim penulis juga memperoleh
data dari internet.
1.5 Kegunaan Penelitian
Bagi Penulis :
1.

Melatih kemampuan Penulis dalam mengembangkan informasi yang didapat dari berbagai sumber
terpercaya.

2.

Melatih Penulis agar bertanggungjawab menyelesaikan tugas yang telah ditugaskan kepada Penulis.

3.

Melatih ketelitian Penulis dalam menyusun karya tulis ilmiah ini.

4.

Dan juga melatih kesabaran Penulis dalam menyusun karya tulis ilmiah.

Bagi Pembaca :
Menambah pengetahuan dan keterampilan. Dan juga sebagai sumber referensi tentang kebakaran hutan yang
Penulis tuangkan dalam karya ilmiah ini.
1.6 Sistematika Penulisan
Dalam karya tulis ilmiah ini disusun sistematika sebagai berikut :
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Penelitian

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Metode Penelitian

Kegunaan Penelitian

Sistematika Penulisan

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Definisi dan Penyebab Terjadinya Kebakaran Hutan
2.2 Akibat Kebakaran Hutan Terhadap Lingkungan Dan Alam

Sekitar

2.3 Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan


2.4 Cara Memedamkan Kebakaran Hutan
BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi dan Penyebab Terjadinya Kebakaran Hutan
Kebakaran hutan (kebakaran vegetasi, atau kebakaran semak), adalah sebuah kebakaran yang terjadi di
alam liar, tetapi juga dapat memusnahkan rumah-rumah dan lahan pertanian disekitarnya. Penyebab umum
termasuk petir, kecerobohan manusia, dan pembakaran.
Kebakaran hutan dalam bahasa Inggris berarti api liar yang berasal dari sebuah sinonim dari Api Yunani,
sebuah bahan seperti-napalm yang digunakan di Eropa Pertengahan sebagai senjata maritime. Musim kemarau
dan pencegahan kebakaran hutan kecil adalah penyebab utama kebakaran hutan besar. Namun, sebab utama
dari kebakaran hutan adalah pembukaan lahan yang meliputi:
1.

Pembakaran lahan yang tidak terkendali sehingga merembet ke lahan lain


Pembukaan lahan tersebut dilaksanakan baik oleh masyarakat maupun perusahaan. Namun bila pembukaan

lahan dilaksanakan dengan pembakaran dalam skala besar, kebakaran tersebut sulit terkendali. Pembukaan
lahan dilaksanakan untuk usaha perkebunan, HTI, pertanian lahan kering, sonor dan mencari ikan. pembukaan
lahan yang paling berbahaya adalah di daerah rawa/gambut.
1.

Penggunaan lahan yang menjadikan lahan rawan kebakaran, misalnya di lahan bekas HPH (Hak
Penguasaan Hutan) dan di daerah yang beralang-alang.

2.

Dalam beberapa kasus, penduduk lokal juga melakukan pembakaran untuk memprotes pengambilalihan lahan mereka oleh perusahaan kelapa sawit.

3.

Kurangnya penegakan hukum terhadap perusahaan yang melanggar peraturan pembukaan lahan.

4.

Tingkat pendapatan masyarakat yang relatif rendah, sehingga terpaksa memilih jalan alternatif yang
mudah, murah dan cepat untuk pembukaan lahan.

5.

Aktivitas vulkanis seperti terkena aliran lahar atau awan panas dari letusan gunung berapi.

6.

Kecerobohan manusia antara lain membuang puntung rokok secara sembarangan dan tanpa
mematikan apinya terlebih dahulu.

2.2 Akibat Kebakaran Hutan Terhadap Lingkungan Dan Alam Sekitar


Akibat yang ditimbulkan dari kebakaran liar antara lain:
1.

Menyebarkan emisi gas karbon dioksida ke atmosfer yang mengakibatkan gangguan di berbagai segi
kehidupan masyarakat antara lain pendidikan, agama dan ekonomi. Hal ini mengganggu kegiatan
keagamaan dan mengurangi kegiatan perdagangan/ekonomi. Gangguan asap juga terjadi pada sarana
perhubungan/transportasi yaitu berkurangnya batas pandang. Banyak pelabuhan udara yang ditutup pada
saat pagi hari di musim kemarau karena jarak pandang yang terbatas bisa berbahaya bagi penerbangan.
Sering terjadi kecelakaan tabrakan antar perahu di sungai-sungai, karena terbatasnya jarak pandang.

2.

Terbunuhnya satwa liar dan musnahnya tanaman baik karena kebakaran, terjebak asap atau rusaknya
habitat.
3. Menyebabkan banjir selama beberapa minggu di saat musim hujan dan kekeringan di saat musim
kemarau.

3.

Kekeringan yang ditimbulkan dapat menyebabkan terhambatnya jalur pengangkutan lewat sungai dan
menyebabkan kelaparan di daerah-daerah terpencil.

4.

Kekeringan juga akan mengurangi volume air waduk pada saat musim kemarau yang mengakibatkan
terhentinya pembangkit listrik (PLTA) pada musim kemarau.

5.

Musnahnya bahan baku industri perkayuan, mebel/furniture. Lebih jauh lagi hal ini dapat mengakibatkan
perusahaan perkayuan terpaksa ditutup karena kurangnya bahan baku dan puluhan ribu pekerja menjadi
penganggur/kehilangan pekerjaan.

6.

Meningkatnya jumlah penderita penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan kanker paru-paru.
Hal ini bisa menyebabkan kematian bagi penderita berusia lanjut dan anak-anak. Polusi asap ini juga bisa
menambah parah penyakit para penderita TBC/asma.

2.3 Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan


Sejak kebakaran hutan yang cukup besar yang terjadi pada tahun 1982/83 yang kemudian diikuti rentetan
kebakaran hutan beberapa tahun berikutnya, sebenarnya telah dilaksanakan beberapa langkah, baik bersifat
antisipatif (pencegahan) maupun penanggulangannya.
1.

Upaya Pencegahan

Upaya yang telah dilakukan untuk mencegah kebakaran hutan dilakukan antara lain (Soemarsono, 1997):
(a) Memantapkan kelembagaan dengan membentuk dengan membentuk Sub Direktorat Kebakaran Hutan dan
Lembaga non struktural berupa Pusdalkarhutnas, Pusdalkarhutda dan Satlak serta Brigade-brigade pemadam
kebakaran hutan di masing-masing HPH dan HTI;

(b) Melengkapi perangkat lunak berupa pedoman dan petunjuk teknis pencegahan dan penanggulangan
kebakaran hutan;
(c) Melengkapi perangkat keras berupa peralatan pencegah dan pemadam kebakaran hutan;
(d) Melakukan pelatihan pengendalian kebakaran hutan bagi aparat pemerintah, tenaga BUMN dan perusahaan
kehutanan serta masyarakat sekitar hutan;
(e) Kampanye dan penyuluhan melalui berbagai Apel Siaga pengendalian kebakaran hutan;
(f) Pemberian pembekalan kepada pengusaha (HPH, HTI, perkebunan dan Transmigrasi), Kanwil Dephut, dan
jajaran Pemda oleh Menteri Kehutanan dan Menteri Negara Lingkungan Hidup;
(g) Dalam setiap persetujuan pelepasan kawasan hutan bagi pembangunan non kehutanan, selalu disyaratkan
pembukaan hutan tanpa bakar.
2.

Upaya Penanggulangan
Disamping melakukan pencegahan, pemerintah juga nelakukan penanggulangan melalui berbagai kegiatan

antara lain (Soemarsono, 1997):


(a) Memberdayakan posko-posko kebakaran hutan di semua tingkat, serta melakukan pembinaan mengenai halhal yang harus dilakukan selama siaga I dan II.
(b) Mobilitas semua sumberdaya (manusia, peralatan & dana) di semua tingkatan, baik di jajaran Departemen
Kehutanan maupun instansi lainnya, maupun perusahaan-perusahaan.
(c) Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait di tingkat pusat melalui PUSDALKARHUTNAS dan di tingkat
daerah melalui PUSDALKARHUTDA Tk I dan SATLAK kebakaran hutan dan lahan.
(d) Meminta bantuan luar negeri untuk memadamkan kebakaran antara lain: pasukan BOMBA dari Malaysia
untuk kebakaran di Riau, Jambi, Sumsel dan Kalbar; Bantuan pesawat AT 130 dari Australia dan Herkulis dari
USA untuk kebakaran di Lampung; Bantuan masker, obat-obatan dan sebagainya dari negara-negara Asean,
Korea Selatan, Cina dan lain-lain.
3.

Peningkatan Upaya Pencegahan dan Penanggulangan


Upaya pencegahan dan penanggulangan yang telah dilakukan selama ini ternyata belum memberikan hasil

yang optimal dan kebakaran hutan masih terus terjadi pada setiap musim kemarau. Kondisi ini disebabkan oleh
berbagai faktor antara lain:
(a) Kemiskinan dan ketidak adilan bagi masyarakat pinggiran atau dalam kawasan hutan.
(b) Kesadaran semua lapisan masyarakat terhadap bahaya kebakaran masih rendah.
(c) Kemampuan aparatur pemerintah khususnya untuk koordinasi, memberikan penyuluhan untuk kesadaran
masyarakat, dan melakukan upaya pemadaman kebakaran semak belukar dan hutan masih rendah.

(d) Upaya pendidikan baik formal maupun informal untuk penanggulangan kebakaran hutan belum memadai.
Hasil identifikasi dari serentetan kebakaran hutan menunjukkan bahwa penyebab utama kebakaran hutan
adalah faktor manusia dan faktor yang memicu meluasnya areal kebakaran adalah kegiatan perladangan,
pembukaan HTI dan perkebunan serta konflik hukum adat dengan hukum negara, maka untuk meningkatkan
efektivitas dan optimasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan perlu upaya penyelesaian
masalah yang terkait dengan faktor-faktor tersebut.
Di sisi lain belum efektifnya penanggulangan kebakaran disebabkan oleh faktor kemiskinan dan ketidak
adilan, rendahnya kesadaran masyarakat, terbatasnya kemampuan aparat, dan minimnya fasilitas untuk
penanggulangan kebakaran, maka untuk mengoptimalkan upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran
hutan di masa depan antara lain:
1.

Melakukan pembinaan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pinggiran atau
dalam kawasan hutan, sekaligus berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya
kebakaran hutan dan semak belukar.

2.

Memberikan penghargaan terhadap hukum adat sama seperti hukum negara, atau merevisi hukum
negara dengan mengadopsi hukum adat.

3.

Peningkatan kemampuan sumberdaya aparat pemerintah melalui pelatihan maupun pendidikan formal.
Pembukaan program studi penanggulangan kebakaran hutan merupakan alternatif yang bisa ditawarkan.

4.

Melengkapi fasilitas untuk menanggulagi kebakaran hutan, baik perangkat lunak maupun perangkat
kerasnya.

5.

Penerapan sangsi hukum pada pelaku pelanggaran dibidang lingkungan khususnya yang memicu atau
penyebab langsung terjadinya kebakaran.

2.4 Cara Memedamkan Kebakaran Hutan


perlatan yang diperlukan:
1.

Mesin Pompa bertekanan tinggi untuk pencucian kendaraan/mobil merek Yuen Liang buatan Taiwan
atau merek lain berikut dengan mesin penggerak.

2.

Drum penampungan air, dapat diisi dengan air pompa Hitachi atau Ember.

3.

Selang bertekanan yang dapat disambung secara praktis. Panjang selang 100 meter.

4.

Tongkat penyemprot/Stik Semprot.

5.

Masker Penahan Debu dan Asap.

6.

Sepatu Both.

Cara kerja pemadaman api pada hutan, lahan dan kebun:


1.

Tentukan titik sasaran, dimana kebakaran terjadi. Selidiki, apakah lokasi tersebut sedang terjadi
kebakaran atau telah lama terjadi kebakaran. Bila sedang terjadi kebakaran, ditemukan adanya api yang
menyala-nyala. Dan bila bekas terjadinya kebakaran ditemukan kawah-kawah api yang dapat
menenggelamkan kaki kita bila terinjak. Dampaknya kaki akan melepuh.

2.

Persiapkan pompa bertekanan berikut drum air secara berdekatan. Isilah drum dengan air yang cukup
dan berkelanjutan.

3.

Pasanglah selang bertekanan sesuai keperluan. Bila lokasi kebakaran jauh, selang dapat disambung,
hingga 5 (lima) sambungan atau sepanjang 500 meter. Keistimewaan selang ini adalah tidak mudah terlipat,
tidak menyangkut apabila ditarik, tenaga yang diperlukan untuk menarik sangat ringan.

4.

Pasanglah Tongkat Semprot/Stik Semprot. Apabila sedang terjadi kebakaran, aturlah stik semprot
dengan cara mengabut. Kabut yang dibuat akan memadamkan api secara luas dan mengurangi panas yang
menyengat. Bila memadamkan bekas kebakaran, aturlah stik dengan bentuk menembak. Air akan masuk ke
dalam kawah hingga ke lapisan bawah, api akan padam segera.

5.

Gunakan Sepatu Both dalam tiap-tiap kegiatan pemadaman. Sepatu Both mampu menahan panas
pada kaki dan menghindari kaki mengalami pelepuhan oleh panas.

6.

Untuk mengatasi gangguan pernapasan, gunakan Masker Standar. Asap dan debu dapat disaring,
sehingga petugas pemadam dapat bertahan lama menghadapi api.

7.

Saat melakukan pemadaman, di garis depan harus dilakukan secara bergantian. Aturlah waktu yang
tepat, sehingga petugas di garis depan dapat bekerja dengan baik.

8.

Fungsikan petugas pemantau dan penghubung yang menginformasikan kepada petugas pemadam,
kapan maju atau mundur melakukan pemadaman.

9.

Persiapkan air minum yang segar bagi petugas yang memerlukannya.

10.

Persiapkan petugas gawat darurat jika diperlukan.

11.

Kebakaran yang baru terjadi akan segera padam apabila dilakukan dengan pengabutan. Panas yang
ditimbulkan berkurang karena butir-butir uap air yang ditembakan menyerap panas. Petugas yang bekerja
pada lini depan dapat bertahan dalam waktu yang cukup lama. Efektifitas pemadaman akan berlangsung
baik.

12.

Pemadaman kawah api pada lahan gambut bekas terjadinya kebakaran dilakukan dengan mengatur
stik semprot seperti laju peluru. Air yang ditembakkan akan masuk pada kawah-kawah yang dalam dan akan
memadamkan api secara baik.
BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Hutan merupakan sumberdaya alam yang tidak ternilai harganya karena didalamnya terkandung
keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah, sumber hasil hutan kayu dan non-kayu, pengatur tata
air, pencegah banjir dan erosi serta kesuburan tanah, dan sebagainya. Karena itu pemanfaatan dan
perlindungannya diatur oleh Undang-undang dan peraturan pemerintah.
Kebakaran merupakan salah satu bentuk gangguan terhadap sumberdaya hutan dan akhir-akhir ini makin
sering terjadi. Kebakaran hutan menimbulkan kerugian yang sangat besar dan dampaknya sangat luas, bahkan
melintasi batas negara. Di sisi lain upaya pencegahan dan pengendalian yang dilakukan selama ini masih belum
memberikan hasil yang optimal. Oleh karena itu perlu perbaikan secara menyeluruh, terutama yang terkait
dengan kesejahteraan masyarakat pinggiran atau dalam kawasan hutan.
3.2 Saran

Melihat dari akibat kebakaran hutan diatas, maka dari itu kita sebagai manusia hendaknya bisa menjaga
hutan dengan sebaik-baiknya, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
DAFTAR PUSTAKA
http://niasrait.blogspot.com/2014/02/karya-tulis-pelestarian-hutan-untuk.html
http://www.slideshare.net/IqbalM99/karya-ilmiah-kebakaran-hutan
https://erlinustantina.wordpress.com/2012/10/16/karya-tulis-ilmiah/
http://roockiez.blogspot.com/2012/11/contoh-karya-ilmiah.html
Waliadi, Suhada, dan Dedi. 2005. Mengelola Bencana Kebakaran Lahan dan Hutan. Palangkaraya: CARE
International Indonesia

MAKALAH PENANGGULANGAN BENCANA Kebakaran Hutan Di Kalimantan Tengah


MAKALAH PENANGGULANGAN BENCANA
Kebakaran Hutan Di Kalimantan Tengah

Disusun oleh:
Madalena Frani Martins Gama Dias
23.1162
H2- Kebijakan Publik

INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI


KAMPUS CILANDAK

Bab I
Pendahuluan

1.1

Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu Negara tropis yang memiliki wilayah

hutan terluas di dunia setelah Brazil dan Zaire. Hal ini merupakan suatu
kebanggaan bagi bangsa Indonesia, karena dilihat dari manfaatnya sebagai
paru-paru dunia, pengatur aliran air, pencegah erosi dan banjir serta dapat
menjaga kesuburan tanah. Selain itu,

hutan

dapat memberikan manfaat

ekonomis sebagai penyumbang devisa bagi kelangsungan pembangunan di


Indonesia. Karena itu pemanfaatan hutan dan perlindungannya telah diatur
dalam UUD 45, UU No. 5 tahun 1990, UU No 23 tahun 1997, UU No. 41 tahun
1999, PP No 28 tahun 1985 dan beberapa keputusan Menteri Kehutanan serta
beberapa keputusan Dirjen PHPA dan Dirjen Pengusahaan Hutan. Hutan yang

seharusnya dijaga dan dimanfaatkan secara optimal dengan memperhatikan


aspek kelestarian kini telah mengalami degradasi dan deforestasi yang cukup
mencenangkan bagi dunia Internasional, faktanya Indonesia mendapatkan rekor
dunia guiness yang dirilis oleh Greenpeace sebagai negara yang mempunyai
tingkat laju deforestasi tahunan tercepat di dunia, Sebanyak 72 persen dari
hutan asli Indonesia telah musnah dengan 1.8 juta hektar hutan dirusakan per
tahun antara tahun 2000 hingga 2005, sebuah tingkat kerusakan hutan sebesar
2% setiap tahunnya.
Masalah kebakaran hutan telah menjadi isu nasional yang patut mendapat
perhatian serius dari pemerintah. Kejadian ini terjadi setiap tahun secara
berulang, khususnya di di Pulau Kalimantan. Perlu dipahami bahwa, instansi
pemerintah

dan

masyarakat,

termasuk

petani,

perusahaan-perusahaan

perkebunan dan HTI, merupakan mata rantai yang tidak terputus yang terkait
langsung dengan kebakaran hutan ini. Dampak kebakaran hutan yang paling
menonjol adalah terjadinya kabut asap yang merugikan kesehatan masyarakat
dan terganggunya sistem transportasi sungai, darat, laut, dan udara serta
mempengaruhi sendi-sendi perekonomian lainnya.
Hal ini dikarenakan pengelolaan dan pemanfaatan hutan selama ini tidak
memperhatikan manfaat yang akan diperoleh dari keberadaan hutan tersebut,
sehingga kelestarian lingkungan hidup menjadi terganggu. Penyebab utama
kerusakan hutan adalah kebakaran hutan. Kebakaran hutan

terjadi

karena

manusia yang menggunakan api dalam upaya pembukaan hutan untuk Hutan
Tanaman Industri (HTI), perkebunan, dan pertanian. selain itu, kebakaran
didukung oleh pemanasan global, kemarau ekstrim yang seringkali dikaitkan
dengan pengaruh iklim yang memberikan kondisi ideal untuk terjadinya
kebakaran hutan.
Persepsi dan pendapat masyarakat yang berkembang tentang peristiwa
kebakaran yang sering terjadi belakangan ini adalah bahwa kebakaran tersebut
terjadinya di dalam hutan semata, padahal sesungguhnya peristiwa tersebut
dapat saja terjadi di luar kawasan hutan. Seharusnya kebakaran hutan dan lahan
dipandang sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam sistem
pengendaliannya. Kebakaran hutan di Indonesia pada saat ini dapat dipandang
sebagai peristiwa bencana regional dan global. Hal ini disebabkan karena
dampak dari kebakaran hutan sudah menjalar ke negara-negara tetangga dan
gas-gas hasil pembakaran yang diemisikan ke atmosfer (seperti CO2) berpotensi
menimbulkan pemanasan global. Kebakaran hutan di Indonesia tidak hanya
terjadi di lahan kering tetapi juga di lahan basah seperti lahan/hutan gambut
seperti halnya di Kalimantan tengah, terutama pada musim kemarau, dimana
lahan basah tersebut mengalami kekeringan. Pembukaan lahan gambut berskala
besar

dengan

membuat saluran/parit telah

menambah

resiko terjadinya

kebakaran di saat musim kemarau. Pembuatan saluran/ parit telah menyebabkan


hilangnya air tanah dalam gambut sehingga gambut mengalami kekeringan yang
berlebihan di musim kemarau dan mudah terbakar. Terjadinya gejala kering tak
balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat seperti arang menyebabkan
gambut tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air.
1.2 Rumusan Masalah
1.

Pengertian dan manfaat hutan

2.

Kerusakan hutan dan penyebabnya terjadinya kebakaran hutan

3.

Penyebab dan dampak kebakaran hutan di Kalimantan Tengah

4.

Pencegahan dan penaggulangan kebakaran hutan di Kalimantan Tengah


1.3 Tujuan

1.

Mengetahui pengertian dan manfaat hutan di Indonesia

2.

Mengetahui penyebab kerusakan hutan yang terjadi di Kalimantan Tengah

3.

Mengetahui pengertian dan jenis-jenis kebakaran hutan

4.

Mengetahui penyebab dan dampak kebakaran hutan

5.

Mengetahui cara pencegahan dan penaggulangan kebakaran hutan.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Hutan
Hutan

adalah

sebuah

kawasan

yang

ditumbuhi

dengan

lebat

oleh pepohonan dantumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayahwilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida (carbon
dioxide

sink), habitathewan,

modulator arus

hidrologika,

serta

pelestari tanah,

dan

merupakan salah satu aspekbiosfer Bumi yang paling penting.


Hutan adalah bentuk kehidupan yang tersebar di seluruh dunia. Kita dapat
menemukan hutan baik di daerah tropis maupun daerah beriklim dingin, di dataran rendah
maupun di pegunungan, di pulau kecil maupun di benua besar. Hutan merupakan suatu
kumpulan tumbuhan dan juga tanaman, terutama pepohonan atau tumbuhan berkayu lain,
yang menempati daerah yang cukup luas. Pohon sendiri adalah tumbuhan cukup tinggi
dengan masa hidup bertahun-tahun. Jadi, tentu berbeda dengan sayur-sayuran atau padipadian yang hidup semusim saja. Pohon juga berbeda karena secara mencolok memiliki
sebatang pokok tegak berkayu yang cukup panjang dan bentuk tajuk (mahkota daun) yang
jelas. Suatu kumpulan pepohonan dianggap hutan jika mampu menciptakan iklim dan
kondisi lingkungan yang khas setempat, yang berbeda daripada daerah di luarnya. Jika kita

berada di hutan hujan tropis, rasanya seperti masuk ke dalam ruang sauna yang hangat dan
lembap, yang berbeda daripada daerah perladangan sekitarnya. Pemandangannya pun
berlainan. Ini berarti segala tumbuhan lain dan hewan (hingga yang sekecil-kecilnya), serta
beraneka unsur tak hidup lain termasuk bagian-bagian penyusun yang tidak terpisahkan dari
hutan. Hutan sebagai suatu ekosistem tidak hanya menyimpan sumberdaya alam berupa
kayu, tetapi masih banyak potensi non kayu yang dapat diambil manfaatnya oleh
masyarakat melalui budidaya tanaman pertanian pada lahan hutan. Sebagai fungsi
ekosistem hutan sangat berperan dalam berbagai hal seperti penyedia sumber air,
penghasil oksigen, tempat hidup berjuta flora dan fauna, dan peran penyeimbang
lingkungan, serta mencegah timbulnya pemanasan global. Sebagai fungsi penyedia air bagi
kehidupan hutan merupakan salah satu kawasan yang sangat penting, hal ini dikarenakan
hutan adalah tempat bertumbuhnya berjuta tanaman
Undang-Undang No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, mendefinisikan
hutan sebagai suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi
sumberdaya alam hayati yang didominasi jenis pepohonan dalam persekutuan
dengan lingkungannya, yang satu dengan lain tidak dapat dipisahkan. Hutan
merupakan suatu masyarakat tumbuh-tumbuhan dan hewan yang hidup dalam
lapisan dan permukaan tanah, yang terletak pada suatu kawasan dan
membentuk suatu ekosistem yang berada dalam keadaan keseimbangan
dinamis.

2.2

Manfaat Hutan
Sejak jaman nenek moyang manusia, hutan telah dijadikan sebagai lahan

untuk mencari nafkah hidup. Sejak itu pula telah ada kearifan lokal manusia
untuk melindungi dan melestarikan hutan dan lingkungannya sehingga hutan
tetap menjadi primadona penopang kehidupan mereka.
Hutan diketahui memiliki manfaat yang langsung maupun tidak langsung bagi
kehidupan manusia, seperti yang dikemukakan sebagai berikut.
1.

Manfaat langsung
a. Sumber bahan/konstruksi bangunan (rumah, jembatan, kapal, perahu, bantalan
kereta api, tiang listrik, plywood, particle board, panel-panel dll).
b. Sumber bahan pembuatan perabot rumah (meubel, ukiran, piring, senduk,
mangkok dll).
c. Sumber bahan pangan (sagu, umbian, sayuran, dll).
d. Sumber protein (madu, daging, sarang burung, dll).
e. Sumber pendukung fasilitas pendidikan (pinsil dan kertas).

f.

Sumber bahan bakar (kayu api, arang dll).

g. Sumber oksigen (pernapasan manusia, respirasi hewan)


h. Sumber pendapatan (penjualan hasil hutan kayu dan non kayu)
i.

Sumber obat-abatan (daun, kulit, getah, buah/biji)

j.

Habitat satwa (makan, minum, main, tidur)

2.

Manfaat tidak langsung


a. Pengatur sistem tata air (debit air, erosi, banjir, kekeringan)
b. Kontrol pola iklim (suhu, kelembaban, penguapan)
c. Kontrol pemanasan bumi
d. Ekowisata (rekreasi, berburu, camping dll)
e. Laboratorium plasma nutfah (taman nasional, kebun raya dll)
f. Pusat pendidikan dan penelitian
g. Sumber bahan pendukung industri-industri kimia (pewarna, terpen, kosmetik,
obat-obatan, tekstil dll).
h. Menghasilkan devisa lewat program CDM dan REDD.
Hutan merupakan suatu masyarakat tumbuh-tumbuhan dan hewan
yang hidup dalam lapisan dan permukaan tanah, yang terletak pada suatu
kawasan dan membentuk suatu ekosistem yang berada

dalam keadaan

keseimbangan dinamis. Dengan demikian berarti berkaitan dengan prosesproses yang berhubungan yaitu:
1.

Hidrologis,
artinya hutan merupakan gudang penyimpanan air dan tempat menyerapnya air
hujan maupun embun yang pada akhirnya akan mengalirkannya ke sungaisungai yang memiliki mata air di tengah-tengah hutan secara teratur menurut
irama alam. Hutan juga berperan untuk melindungi tanah dari erosi dan daur
unsur haranya.

2.

Iklim,
artinya komponen ekosistern alam yang terdiri dari unsur-unsur hujan (air), sinar
matahari (suhu), angin dan kelembaban yang sangat mempengaruhi kehidupan
yang ada di permukaan bumi, terutama iklim makro maupun mikro.

3.

Kesuburan tanah.
artinya tanah hutan merupakan pembentuk humus utama dan penyimpan unsurunsur mineral bagi tumbuhan lain. Kesuburan tanah sangat ditentukan oleh
faktor-faktor seperti jenis batu induk yang membentuknya, kondisi selama dalam
proses pembentukan, tekstur dan struktur tanah yang meliputi kelembaban,
suhu dan air tanah, topografi wilayah, vegetasi dan jasad jasad hidup. Faktor-

faktor inilah yang kelak menyebabkan terbentuknya bermacam-macam formasi


hutan dan vegetasi hutan.
4.

Keanekaragaman genetic.
Artinya hutan memiliki kekayaan dari berbagai jenis flora dan fauna. Apabila
hutan tidak diperhatikan dalam pemanfaatan dan kelangsungannya, tidaklah
mustahil akan terjadi erosi genetik. Hal ini terjadi karena hutan semakin
berkurang habitatnya.

5.

Sumber daya alam.


Artinya hutan mampu memberikan sumbangan hasil alam yang cukup besar bagi
devisa negara, terutama di bidang inciustri. Selain itu hutan juga memberikan
fungsi kepada masyarakat sekitar hutan sebagai pemenuhan kebutuhan seharihari. Selain kayu juga dihasilkan bahan lain seperti damar, kopal, gondorukem,
terpentin, kayu putih dan rotan serta tanaman obat-obatan.

6.

Wilayah wisata alam.


Artinya hutan mampu berfungsi sebagai sumber inspirasi, nilai estetika, etika
dan sebagainya.
Penyelenggaraan kehutanan tersebut bertujuan untuk kemakmuran rakyat yang
berkeadilan dan berkelanjutan dengan:
1.

menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang

proporsional;
2.

mengoptimalkan aneka fungsi hutan yang meliputi fungsi konservasi,

fungsi lindung, dan fungsi produksi untuk mencapai manfaat lingkungan, sosial,
budaya, dan ekonomi, yang seimbang dan lestari;
3.

meningkatkan daya dukung daerah aliran sungai;

4.

meningkatkan

kemampuan

untuk

mengembangkan

kapasitas

dan

keberdayaan masyarakat secara partisipatif, berkeadilan, dan berwawasan


lingkungan sehingga mampu menciptakan ketahanan sosial dan ekonomi serta
ketahanan terhadap akibat perubahan eksternal; dan
5.

menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Sampai saat ini manusia tergantung dari hutan bahkan semakin dirasakan
manfaatnya terutama, Hutan merupakan paru-paru dunia (planet bumi)
sehingga perlu kita jaga karena jika tidak maka hanya akan membawa dampak
yang buruk bagi kita di masa kini dan masa yang akan datang.
1. Manfaat/Fungsi Ekonomi
- Hasil hutan dapat dijual langsung atau diolah menjadi berbagai barang yang
bernilai tinggi.
- Membuka lapangan pekerjaan bagi pembalak hutan legal.

- Menyumbang devisa negara dari hasil penjualan produk hasil hutan ke luar
negeri.
2. Manfaat/Fungsi Klimatologis
- Hutan dapat mengatur iklim
- Hutan berfungsi sebagai paru-paru dunia yang menghasilkan oksigen bagi
kehidupan.

3. Manfaat/Fungsi Hidrolis
- Dapat menampung air hujan di dalam tanah
- Mencegah intrusi air laut yang asin
- Menjadi pengatur tata air tanah

4. Manfaat/Fungsi Ekologis
- Mencegah erosi dan banjir
- Menjaga dan mempertahankan kesuburan tanah
- sebagai wilayah untuk melestarikan kenaekaragaman hayati
2.3

Pengertian dan Definisi Kebarakan Hutan


Kebakaran hutan merupakan suatu faktor lingkungan dari api yang memberikan

pengaruh terhadap hutan, menimbulkan dampak negatif maupun positif. kebakaran hutan
yang terjadi adalah akibat ulah manusia maupun faktor alam. Penyebab kebakaran hutan
yang terbanyak karena tindakan dan kelalaian manusia. Ada yang menyebutkan hampir
90% kebakaran hutan disebabkan oleh manusia sedangkan hanya 10% yang disebabkan
oleh alam. Pengertian dan definisi lain yang diberikan untuk Kebakaran Hutan adalah suatu
keadaan dimana hutan dilanda api sehingga berakibat timbulnya kerugian ekosistem dan
terancamnya kelestarian lingkungan. Upaya pencegahan Kebakaran Hutanmerupakan
suatu usaha Perlindungan Hutan agar kebakaran hutan yang berdampak negatif tidak
meluas.
Menurut Kamus Kehutanan, Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Kebakaran Hutan
(Wild Fire Free Burning, Forest Fire) didefinisikan sebagai :
Kebakaran

1.

yang

tidak

disebabkan

oleh

unsur

kesengajaan

yang

mengakibatkan kerugian. Kebakaran terjadi karena faktor-faktor:

alam (misalnya musim kemarau yang terlalu lama)

manusia (misalnya karena kelalaian manusia membuat api di


tengah-tengah hutan di musim kemarau atau di hutan-hutan yang mudah
terbakar.

2.

Bentuk Kerusakan

areal hutan negara.

Hutan yang

disebabkan

oleh

api

di

dalam

Istilah Kebakaran hutan di dalam Ensiklopedia Kehutanan Indonesia disebut juga Api Hutan.
Selanjutnya dijelaskan bahwa Kebakaran Hutan atau Api Hutan adalah Api Liar yang terjadi
di dalam hutan, yang membakar sebagian atau seluruh komponen hutan. Dikenal ada 3
macam kebakaran hutan, Jenis-jenis kebakaran hutan tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1.
Api Permukaan atau Kebakaran Permukaan yaitu kebakaran yang
terjadi pada lantai hutan dan membakar seresah, kayu-kayu kering dan tanaman
bawah. Sifat api permukaan cepat merambat, nyalanya besar dan panas, namun
cepat padam. Dalam kenyataannya semua tipe kebakaran berasal dari api
permukaan.
2.

Api

Tajuk atau Kebakaran

Tajuk yaitu

kebakaran

yang

membakar

seluruh tajuk tanaman pokok terutama pada jenis-jenis hutan yang daunnya
mudah terbakar. Apabila tajuk hutan cukup rapat, maka api yang terjadi cepat
merambat dari satu tajuk ke tajuk yang lain. Hal ini tidak terjadi apabila tajuktajuk pohon penyusun tidak saling bersentuhan.
3.

Api Tanah adalah api yang membakar lapisan organik yang dibawah

lantai hutan. Oleh karena sedikit udara dan bahan organik ini, kebakaran yang
terjadi tidak ditandai dengan adanya nyala api. Penyebaran api juga sangat
lambat, bahan api tertahan dalam waktu yang lama pada suatu tempat.
Kebakaran dan Pembakaran
Kebakaran dan pembakaran merupakan sebuah kata dengan kata dasar yang sama
tetapi mempunyai makna yang berbeda. Kebakaran indentik dengan kejadian yang tidak
disengaja sedangkan pembakaran identik dengan kejadian yang sengaja diinginkan tetapi
tindakan pembakaran dapat juga menimbulkan terjadinya suatu kebakaran. Penggunaan
istilah kebakaran hutan dengan pembakaran terkendali merupakan suatu istilah yang
berbeda. Penggunaan istilah ini sering kali mengakibatkan timbulnya persepsi yang salah
terhadap dampak yang ditimbulkannya.
Kebakaran-kebakaran yang sering terjadi digeneralisasi sebagai kebakaran hutan,
padahal sebagian besar (99,9%) kebakaran tersebut adalah pembakaran yang sengaja
dilakukan maupun akibat kelalaian, baik oleh peladang berpindah ataupun oleh pelaku binis
kehutanan atau perkebunan, sedangkan sisanya (0,1%) adalah karena alam (petir, larva
gunung berapi). Saharjo (1999) menyatakan bahwa baik di areal HTI, hutan alam dan
perladangan berpindah dapat dikatakan bahwa 99% penyebab kebakaran hutan di
Indonesia adalah berasal dari ulah manusia, entah itu sengaja dibakar atau karena api
lompat yang terjadi akibat kelalaian pada saat penyiapan lahan. Bahan bakar dan api
merupakan faktor penting untuk mempersiapkan lahan pertanian dan perkebunan (Saharjo,
1999). Pembakaran selain dianggap mudah dan murah juga menghasilkan bahan mineral
yang siap diserap oleh tumbuhan. Banyaknya jumlah bahan bakar yang dibakar di atas
lahan akhirnya akan menyebabkan asap tebal dan kerusakan lingkungan yang luas. Untuk
itu, agar dampak lingkungan yang ditimbulkannya kecil, maka penggunaan api dan bahan

bakar pada penyiapan lahan haruslah diatur secara cermat dan hati-hati. Untuk
menyelesaikan masalah ini maka manajemen penanggulangan bahaya kebakaran harus
berdasarkan

hasil

penelitian

dan

tidak

lagi

hanya

mengandalkan

dari

terjemahan textbook atau pengalaman dari negara lain tanpa menyesuaikan dengan
keadaan lahan di Indonesia (Saharjo, 2000).

2.4

Penyebab dan dampak kebakaran hutan di Kalimantan Tengah


Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia meningkat selama sepuluh tahun

terakhir ini, sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia (yang disengaja atau
karena lalai) juga karena kondisi yang sangat kering sebagai pengaruh terjadinya
perubahan iklim global/makro yang melanda wilayah Indonesia.

Unsur iklim/cuaca.
Kebakaran hutan dan lahan, dapat pula terjadi pada musim hujan yang
disebabkan karena kejadian alam yaitu halilintar/petir menyambar pohon yang
bertajuk dalam keadaan basah (pohon pinus) sehingga menimbulkan kebakaran
tajuk yang hebat pada hutan pinus. Dengan adanya iklim ekstrim seperti yang
terjadi beberapa waktu yang lalu di Kalimantan Tengah dimana musim kemarau
dan penghujan tidak menentu yaitu bila musim kemarau/kering tiba dan sangat
panas yang memungkinkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, sebaliknya
bila musim hujan terjadi longsor dan banjir. Beberapa unsur penyebab terjadinya
kebakaran hutan dan lahan adalah panas, bahan bakar dan udara/oksigen. Pada
prinsipnya, pengendalian kebakaran hutan dan lahan adalah menghilangkan
salah satu atau lebih dari unsur-unsur tersebut. Penyebaran api bergantung
kepada bahan bakar/vegetasi tanaman dan cuaca. Bahan bakar berat seperti log,
tonggak dan cabang-cabang kayu dalam keadaan kering bisa terbakar, meski
lambat tetapi menghasilkan panas yang tinggi. Bahan bakar ringan seperti
rumput, ranting kering, daun-daun pinus dan serasah, mudah terbakar dan cepat
menyebar, yang selanjutnya dapat menyebabkan kebakaran hutan/lahan yang
besar.
Unsur-unsur cuaca yang penting yang mempengaruhi kebakaran hutan
dan lahan adalah angin, kelembaban dan suhu. Angin yang bertiup kencang
meningkatkan pasokan udara sehingga mempercepat penyebaran api. Pada
kasus kebakaran besar, angin bersifat simultan. Semakin besar kebakaran,
tiupan angin semakin kencang akibat perpindahan massa udara padat di sekitar
kebakaran ke ruang udara renggang di tempat kebakaran. Kadar air/kelembaban
bahan

bakar

juga

penting

untuk

dipertimbangkan

dalam

pengendalian

kebakaran hutan dan lahan. Pada keadaan normal, api menyala perlahan pada
malam hari karena kelembaban udara diserap oleh bahan bakar. Udara yang

lebih kering pada siang hari dapat menyebabkan kebakaran yang cepat. Oleh
sebab itu, secara teknis pada malam hari akan lebih mudah mengendalikan
kebakaran hutan/lahan daripada siang hari.

Ulah manusia
Dalam banyak kasus, kebakaran hutan juga berawal dari kesengajaan
manusia melakukan pembakaran hutan dan lahan yang akan dipergunakan
untuk hutan tanaman industri (HTI), perkebunan, ladang, penggembala/pemburu
yang ingin merangsang tumbuhnya rumput, pengusir lebah dari sarangnya oleh
peternak lebah/pengumpul madu dan para perambah hutan. Pembakaran juga
dilakukan pada lahan pertanian/perkebunan untuk membersihkan daun kering
tanaman, sisa-sisa panen serta limbah tanaman pada calon lokasi lahan
perkebunan/pertanian dalam kegiatan persiapan lahan. Karena kebakaran
biasanya dilakukan pada musim kemarau dan kurang diawasi sehingga api
mudah merambat kekawasan hutan dan lahan sekitar yang menyebabkan
kerugian baik ekologis maupun ekonomis.

Konflik social.
Penyebab sosial, umumnya berawal dari suatu konflik antara para pemilik
modal industri perkayuan maupun pertambangan, dengan penduduk asli yang
merasa kepemilikan tradisional (adat) mereka atas lahan, hutan dan tanah
dikuasai oleh para investor yang diberi pengesahan melalui hukum positif
negara. Akibatnya kekesalan masyarakat dilampiaskan dengan melakukan
pembakaran demi mempertahankan lahan yang telah mereka miliki secara turun
temurun. Pada situasi seperti ini, masalah kemiskinan dan ketidak adilan menjadi
pemicu kebakaran hutan dan masyarakat tidak akan mau berpartisipasi untuk
memadamkannya.
Ex. Kebakaran Hutan Yang Terjadi di Kalimantan Tengah
Saturday, 04 October 2014, 14:36 WIB
PALANGKARAYA, KOMPAS.com --Pemerintah Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, untuk sementara
meliburkan seluruh aktivitas sekolah sejak Jumat (3/10). Kebijakan itu dipicu polusi udara akibat asap yang berasal dari
kebakaran hutan dan lahan yang sudah mencapai level berbahaya.
"Siswa sekolah semua tingkatan mulai hari ini sampai dengan Senin (6/10) diliburkan," kata Kepala Dinas Pendidikan
Pemuda dan Olahraga Palangka Raya Norma Hikmah di Palangka Raya, kemarin. Ia meng ungkapkan, surat edaran resmi
dari Wali Kota Palangka Raya Nomor 394 Tahun 2014 sudah diberikan ke masing-masing sekolah.
Wali Kota Palangka Raya HM Riban Satia juga mengingatkan seluruh peserta didik yang ada di wilayah Palangka Raya
untuk tidak melakukan aktivitas berlebihan di luar sekolah. "Peserta didik diharap kan selalu memakai masker (penutup
hidung) apabila melakukan aktivitas, baik di luar sekolah dan se bagainya. Dan, tidak diperkenankan kegiatan belajar
mengajar di luar ruang kelas," kata Riban Satia.
Sementara itu, Polda Jambi mem bentuk tim khusus untuk meng antisipasi kebakaran lahan dan hutan serta untuk
mengatasi kabut asap yang kian pekat mencemari udara. Kapolda Jambi Brigjen Bambang Sudarisman mengatakan, tim
terpadu ini dibentuk mulai dari tingkat polda hingga polres. Selain polisi, tim terpadu ini juga akan melibatkan TNI serta
instansi terkait lainnya.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho

mengatakan, titik panas (hotspot) masih tersebar di brbagai daerah. "Di Kali mantan Tengah dan Sumatra Selatan,
hotspotsulit mati karena pembakaran masih terus dilakukan," ujarnya, Kamis (2/10).
Kepala BNPB Syamsul Maarif telah memerintahkan para deputi BNPB untuk mendampingi BPBD melakukan pemadaman
titik api.
BNPB telah mengerahkan 2.200 personel TNI dan 1.050 personel Polri untuk membantu BPBD, Manggala Agni, dalam
pemadaman darat. Satgas udara, BNPB, bersama BPBD saat ini masih melakukan water bombingdari udara dan
melakukan modifikasi cuaca di Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimatan Barat, dan Kalimantan Tengah.
rep:Dyah Ratna Meta Novia
/antara, ed:fitriyan zamzami

Kutipan berita di atas merupakan salah satu bencana yang baru-baru ini
terjadi di Kalimantan Tengah.

Pada saat kebakaran yang tidak diinginkan

merusak hutan dan aset lainnya, masyarakat lokal seringkali dianggap dan
dicurigai

sebagai

penyebab

karena

mereka

membakar

hutan

sewaktu

menyiapkan lahan untuk kegiatan pertanian. Kalaupun tidak dipersalahkan,


masyarakat lokal cenderung dipandang sebagai korban yang tidak berdaya, yang
harus menanggung dampak negatif dari kebakaran hutan dan/atau lahan.
Berbagai penelitian yang dilakukan di seluruh dunia menunjukkan bahwa
persepsi

ini

perlu

ditinjau

kembali

karena

masyarakat

lokal

melakukan

pengelolaan kebakaran dalam berbagai situasi dan untuk berbagai alasan yang
berbeda. Bahkan masyarakat lokal seringkali menjadi yang terbaik dalam
mengelola atau mencegah kebakaran pada skala lokal. Masyarakat lokal pun
mempunyai peran yang semakin penting dalam manajemen kebakaran di
negara-negara yang pemerintahannya memiliki keterbatasan untuk menangani
kebakaran hutan.
Keberhasilan

pelibatan

masyarakat

dalam

manajemen

kebakaran

bergantung pada berbagai faktor. Motivasi masyarakat untuk mengelola


kebakaran dipengaruhi oleh seberapa besar ketergantungan mereka dan/atau
hak yang mereka miliki untuk menggunakan dan memiliki akses terhadap
sumber-sumber daya hutan. Meskipun demikian, penting untuk disadari bahwa
masyarakat tidak dapat memberikan solusi lengkap dalam menangani kebakaran
hutan yang berbahaya. Pihak-pihak lain yang terlibat, termasuk pemerintah dan
sektor swasta, harus ikut memainkan peranan penting, khususnya dalam
persiapan menghadapi dan memadamkan kebakaran yang luas. Berkaitan
dengan penggunaan api untuk pertanian oleh masyarakat, perlu dibedakan
antara api yang bermanfaat dan api yang membahayakan. Bagi masyarakat, api
merupakan

satu-satunya

alat

yang

tersedia

untuk

menyiapkan

lahan.

Penggunaan api biasanya mampu dikendalikan dan skalanya pun kecil. Perlu
dipahami bahwa api menjadi masalah jika penggunaannya lepas kendali.
Kebakaran hutan yang tidak disengaja berawal dari musim panas yang
berkepanjangan. Pada musim panas sumber-sumber air menjadi kering termasuk
hutan terjadi kehilangan air karena proses evapotranspirasi. Batang, ranting, dan
daun yang kering merupakan sumber bahan bakar yang potensial untuk
terjadinya kebakaran hutan. Bila ada pemicu seperti terjadinya gesekan antara
batang atau ranting pohon akan menimbulkan api, kemudian kebakaran akan
menyebarluas dengan cepat. Hal ini menjadi lebih parah jika terjadi pada lahanlahan gambut seperti beberapa daerah di Indonesia. Seperti Kebakaran hutan di
Kalimantan Tengah yang mempunyai lahan gambut. Gambut merupakan batu
bara muda sumber bahan bakar yang potensial bila terjadinya kebakaran hutan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebakaran hutan seperti :

Bahan bakar (ukuran, susunan, volume, jenis, kandungan air/kimia)

Cuaca (angin, suhu udara, curah hujan, tanah, kelembaban nisbi)

Waktu (21.00-06.00 lambat)

Topografi (kemiringan, arah lereng, medan)

Proses Kebakaran yang berperan didalamnya seperti : udara, bahan bakar


dan panas (suhu tinggi) menimbulkan nyala Api menjalar

Penyebaran kebakaran dan panas yang terjadi melalui konduksi, radiasi,


dan konveksi.
Kebakaran merupakan faktor ekologi potensial yang mempengaruhi
hampir seluruh ekosistem darat, walaupun hanya terjadi pada frekwensi yang
kecil. Pengaruh api terhadap ekosistem ditentukan oleh frekwensi, intensitas dan
tipe kebakaran yang terjadi serta kondisi lingkungan. Api yang terjadi di dalam
hutan dapat menimbulkan kerusakan yang besar, tetapi dalam kondisi tertentu
pembakaran dapat memberikan manfaat dalam pengelolaan hutan.
Kebakaran hutan merusak hampir seluruh komponen hutan, sehingga tujuan
pengelolaan dan fungsi hutan tidak tercapai. Asap tebal yang terjadi akibat
kebakaran hutan juga menimbulkan gangguan terhadap kehidupan yang lebih
luas. Luka-luka pada pohon dan pohon-pohon yang lemah akibat kebakaran
memberikan peluang lebih tinggi kepada penyebab kerusakan lain terutama
hama dan penyakit.

Dampak kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan Tengah


Kebakaran

hutan/lahan

gambut

secara

nyata

berpengaruh

terhadap

terdegradasinya kondisi
lingkungan, kesehatan manusia dan aspek sosial ekonomi bagi masyarakat.
1.

Terdegradasinya kondisi lingkungan


Perubahan kualitas fisik gambut (penurunan porositas total, penurunan kadar
air tersedia, penurunan permeabilitas dan meningkatnya kerapatan lindak);

Perubahan kualitas kimia gambut (peningkatan pH, kandungan N-total,


kandungan fosfor dan kandungan basa total yaitu Kalsium, Magnesium, Kalium,
dan Natrium, tetapi terjadi penurunan kandungan C-organik);

Terganggunya proses dekomposisi tanah gambut karena mikroorganisme yang


mati akibat kebakaran;

Suksesi atau perkembangan populasi dan komposisi vegetasi hutan juga akan
terganggu (benih-benih vegetasi di dalam tanah gambut rusak/terbakar)
sehingga akan menurunkan keanekaragaman hayati;

Rusaknya siklus hidrologi (menurunkan kemampuan intersepsi air hujan ke


dalam tanah, mengurangi transpirasi vegetasi, menurunkan kelembaban tanah,
dan meningkatkan jumlah air yang mengalir di permukaan (surface run off).
Kondisi demikian menyebabkan gambut menjadi kering dan mudah terbakar,
terjadinya sedimentasi dan perubahan kualitas air serta turunnya populasi dan

keanekaragaman ikan di perairan. Selain itu kerusakan hidrologi di lahan gambut


akan menyebabkan jangkauan intrusi air laut semakin jauh ke darat;

Gambut menyimpan cadangan karbon, apabila terjadi kebakaran maka akan


terjadi emisi gas karbondioksida dalam jumlah besar. Sebagai gas rumah kaca,
karbondioksida berdampak pada pemanasan global. Berdasarkan studi ADB,
kebakaran gambut 1997 menghasilkan emisi karbon sebesar 156,3 juta ton (75%
dari total emisi karbon) dan 5 juta ton partikel debu.

2.

Kesehatan manusia

Ribuan penduduk dilaporkan menderita penyakit infeksi saluran pernapasan,


sakit mata dan batuk sebagai akibat dari asap kebakaran. Kebakaran gambut
juga menyebabkan rusaknya kualitas air, sehingga air menjadi kurang layak
untuk diminum.

3.

Aspek sosial ekonomi

Hilangnya sumber mata pencaharian masyarakat yang masih menggantungkan


hidupnya pada hutan (berladang, beternak, berburu/menangkap ikan);

Penurunan produksi kayu;

Terganggunya kegiatan transportasi;

Terjadinya protes dan tuntutan dari negara tetangga akibat dampak asap
kebakaran;

Meningkatnya pengeluaran akibat biaya untuk pemadaman.

Penyebab kebakaran hutan di Kalimantan Tengah


Lebih dari 99% penyebab kebakaran hutan dan lahan gambut adalah akibat ulah
manusia, baik yang sengaja melakukan pembakaran ataupun akibat kelalaian
dalam menggunakan api. Hal ini didukung oleh kondisi-kondisi tertentu yang
membuat rawan terjadinya kebakaran, seperti gejala El Nino, kondisi fisik
gambut yang terdegradasi dan rendahnya kondisi sosial ekonomi masyarakat.

1.

Unsur iklim/cuaca.
Kebakaran hutan dan lahan, dapat pula terjadi pada musim hujan yang
disebabkan karena kejadian alam yaitu halilintar/petir menyambar pohon yang
bertajuk dalam keadaan basah (pohon pinus) sehingga menimbulkan kebakaran
tajuk yang hebat pada hutan pinus. Dengan adanya iklim ekstrim seperti yang
terjadi beberapa waktu yang lalu di Kalimantan Tengah dimana musim kemarau

dan penghujan tidak menentu yaitu bila musim kemarau/kering tiba dan sangat
panas yang memungkinkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

2.
a.

Penyebab kebakaran oleh manusia dapat dirinci sebagai berikut:


Pembakaran vegetasi. Kebakaran yang disebabkan oleh api yang berasal dari
pembakaran vegetasi yang disengaja tetapi tidak dikendalikan pada saat
kegiatan, misalnya dalam pembukaan areal HTI dan perkebunan serta penyiapan
lahan pertanian oleh masyarakat.

b.

Aktivitas dalam pemanfaatan sumber daya alam. Kebakaran yang disebabkan


oleh api yang berasal dari aktivitas manusia selama pemanfaatan sumber daya
alam, misalnya pembakaran semak belukar yang menghalangi akses mereka
dalam pemanfaatan sumber daya alam serta pembuatan api untuk memasak
oleh para penebang liar dan pencari ikan di dalam hutan. Keteledoran mereka
dalam memadamkan api dapat menimbulkan kebakaran.

c.

Penguasaan lahan. Api sering digunakan masyarakat lokal untuk memperoleh


kembali hak-hak mereka atas lahan.

3.

Penyebab konflik social yang pada umumnya berawal dari suatu konflik antara
para

pemilik

modal

industri

perkayuan

maupun

pertambangan,

dengan

penduduk asli yang merasa kepemilikan tradisional (adat) mereka atas lahan,
hutan dan tanah dikuasai oleh para investor yang diberi pengesahan melalui
hukum positif negara. Akibatnya kekesalan masyarakat dilampiaskan dengan
melakukan pembakaran demi mempertahankan lahan yang telah mereka miliki
secara turun temurun.

Faktor

pendukung

kerawanan

terjadinya

kebakaran

hutan

di

Kaliamnatan Tengah
1.

Kerawanan terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut tertinggi terjadi pada
musim kemarau dimana curah hujan sangat rendah dan intensitas panas
matahari tinggi. Kondisi ini pada umumnya terjadi antara bulan Juni hingga
Oktober dan kadang pula terjadi pada bulan Mei sampai November. Kerawanan
kebakaran semakin tinggi jika ditemukan adanya gejala El Nino;

2.

Pembuatan kanal-kanal dan parit di lahan gambut telah menyebabkan gambut


mengalami pengeringan yang berlebihan di musim kemarau dan mudah
terbakar;

3.

Areal rawa gambut merupakan lahan yang miskin hara dan tergenang air setiap
tahunnya, sehingga kurang layak untuk pertanian. Untuk

2.5

Pencegahan dan penaggulangan kebakaran hutan di Kalimantan

Tengah
A.

Peran Pemerintah
Penanganan Kebakaran hutan, lahan dan kebun menjadi sorotan di dalam
negeri tapi juga dunia luar. Dalam penanganan Kebakaran hutan, lahan dan
kebun

permerintah

Republik

Indonesia

telah

melakukan

upaya-upaya

peningkatan efektivitas kesiapsiagaan terhadap bencana kebakaran hutan, lahan


dan kebun. Untuk kesiapsiagaan bencana kebakaran hutan dan lahan wilayah
Kalimantan pada tanggal 31 Juli 2013 sudah dilaksanakan Rapat Koordinasi Siaga
Darurat Bencana Kebakaran Lahan dan Hutan Wilayah Kalimantan. Rapat dihadiri
segenap stakeholder dan kementerian terkait diantaranya Gubernur Kalimantan
Tengah, Kepala BNPB, Deputi I Menkokesra Bidang Lingkungan Hidup dan
Kerawanan Sosial, perwakilan dari BPPT, Kemenhut, Kementan, BMKG, TNI,
POLRI, dan perwakilan dari Provinsi Kalbar, Kalsel, Kaltim serta dihadiri oleh
Bupati se Kalimantan Tengah.
Rapat koordinasi tersebut menghasilkan beberapa langkah aksi penting guna
memasuki musim kemarau dimana posko di daerah rawan kebakaran harus
segera bergerak agar dapat mengantisipasi kebakaran yang meluas dan
mencegah dampak asap yang dapat ditimbulkan. Saat ini baik sarana/prasarana
dan regu/personel dari berbagai elemen sudah siap di posko Kalimantan Tengah.
Berikut lokasi Posko darurat kebakaran:

Landasan Udara Halim Perdana Kusuma untuk wilayah Pusat

Provinsi Sumatera Selatan untuk wilayah Sumatera

Provinsi Kalimantan Tengah untuk wilayah Kalimantan

Pada tingkat Internasional terutama di tingkat ASEAN dalam penanganan


Kebakaran Hutan Lahan dan Kebun telah dilaksanakan pertemuan Ministerial
Steering Commite (MSC) ke-2 Technical Task Force (MTTF),
pertemuan

dan

ASEAN Sub-Regional Technical Working Group (TWG) on

Transboundary Haze Pollution ke-15 di Kuala Lumpur, Malaysia 15 17


Juli 2013.
Pertemuan

tersebut

membahas

tentang

rencana

aksi

Indonesia

dalam

menangani bencana kebakaran dan asap lintas batas serta pengembangan


teknologi

monitoring

hotspot.Dalam

pertemuan

tersebut

Indonesia

menyampaikan upaya-upaya nyata dalam pencegahan dan penanggulangan


kebakaran hutan dan lahan yang berakibat terjadinya asap lintas batas di
Provinsi Riau. Upaya-upaya tersebut, antara lain:

Melakukan monitoring hot spot harian di seluruh wilayah Indonesia,

khususnya di 9 (sembilan) provinsi rawan kebakaran yaitu di Provinsi Aceh,


Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan
Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
-

Diseminasi informasi kepada seluruh pemangku kepentingan.


Pembentukan satgas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan serta

bencana asap di 9 (sembilan) provinsi rawan kebakaran. termasuk pendirian


pusat komando bencana kebakaran dan asap lintas batas di Landasan udara
Halim Perdana Kusuma.
-

Melaksanakan tanggap darurat nasional dengan pengerahan personel TNI,

POLRI, BNPB/BPBD, Manggala Agni. Membangun partisipasi masyarakat dalam


pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Untuk memberikan efek jera kepada
pelaku pembakaran hutan dan lahan dilakukan penegakkan hukum secara serius
dan terpadu.
Proses ratifikasi ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP),
saat ini telah sampai pada tahap pengajuan kembali ke DPR untuk mendapat
persetujuan. Walaupun proses ratifikasi sedang dilakukan, Indonesia sudah
melaksanakan pokok-pokok yang tertuang dalam AATPH tersebut
Sebagai tindak lanjut upaya penanganan Kebakaran hutan, lahan dan kebun
dilaksanakan Rakor Menteri Tentang Tindak Lanjut Penanggulangan Bencana
Asap Akibat Kebakaran Lahan dan Hutan tanggal 27 Juni 2013 di Kementerian
Kehutanan. Terdapat 2 (dua) agenda yang dibahas dalam pertemuan tersebut.
Agenda yang pertama adalah pembentukan satgas pengendalian kebakaran
hutan dan lahan serta Bencana asap di 8 Provinsi, dilanjutkan dengan agenda
yang kedua yaitu evaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan serta
bencana asap di Provinsi Riau.
Dalam rapat tersebut juga dibahas permasalahan yang timbul dalam upaya
pengendalian kebakaran hutan dan lahan, antara lain:
1.

Dibutuhkan volume air yang sangat banyak untuk pemadaman kebakaran

di lahan gambut, sedangkan kejadian kebakaran terjadi pada saat musim


kemarau dengan ketersediaan air yang terbatas.
2.

Pemerintah Daerah tidak memiliki pasukan dan sarana prasarana yang

memadai untuk pemadaman kebakaran lahan dan kebun. Selama ini Manggala
Agni yang bertugas memadamkan kebakaran di kawasan hutan dijadikan ujung
tombak dalam pemadaman kebakaran lahan dan kebun. Pada pertemuan
tersebut juga disepakati pembentukan brigade pengendalian kebakaran lahan
dan kebun.

Rapat koordinasi menghasilkan beberapa rumusan yang perlu ditindaklanjuti


dalam upaya penanganan kebakaran hutan, lahan dan kebun, diantaranya
adalah:
1.

Perlunya mengalokasikan anggaran (APBN/APBD) yang memadai dalam upaya


pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan di sekitar kementrIAN
/ LEMBAGA.

2.

Perlu segera dibentuk SKPD yangkhusus menangani kebakaran hutan dan lahan
yang memiliki sumbsr daya, sarana, prasarana, dan pemberdayaan yang
memadai di kabupaten/kota yang rawan kebakaran.

3.

Diperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Bulan Agustus sampai


September 2013 untuk itu perlu segera dilakukan sosialisasi kepada pemda dan
masyarakat. Sosialisasi dilakukan di 7 (tujuh) provinsi lain yang diperkirakan
akan terjadi kebakaran lahan dan hutan.

4.

Dalam upaya kesiapsiagaan ke depan perlu penyediaan pesawat untuk water


bombing dan

penyemai

hujan.

Karena

itu

rapat

menyetujui

agar

BNPB

melakukan usulan inisiatif baru untuk mendukung kesiapsiagaan tersebut.


5.

Dalam rangka pelaksanaan Inpres No. 16 Tahun 2011 Tentang Peningkatan


Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan perlu dibuat masterplan terpadu lintas
Kementerian dengan anggaran satu pintu, dimana BNPB diharapkan dapat
menjadi leading sektor.
Demikian serangkaian Kegiatan upaya peningkatan efektivitas penanganan
kebakaran hutan. Lahan dan kebun yang telah dilaksanakan baik oleh
Kementerian Pertanian bersamaan dengan kementerian lembaga terkait

Dalam menindak lanjuti hal tersebut diatas, Jakarta pada tanggal 17 April
2014. Berdasarkan prediksi Fire Danger Rating System(FDRS) dan curah hujan
yang menurun yang diinfokan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
(BMKG), maka kebakaran lahan dan hutan berpotensi terjadi pada 8 Provinsi
rawan (Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan
Barat, Kalimantan

Tengah,

Kalimantan Timur,

Kebakaran tersebut berpeluang

Kalimantan

Selatan).

lebih menyebar dalam periode yang lebih

panjang, karena dipicu oleh fenomena el nino sedang. Untuk itu Kementerian
Lingkungan Hidup menyelenggarakan Lokakarya Pencegahan Kebakaran Hutan
dan Lahan yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 16 -17 April 2014.
Beberapa isu terkait pencegahan karhutla dan operasionalisasinya dibahas pada
lokakarya ini, diantaranya :

1.

Penguatan kapasitas Masyarakat Peduli APi (MPA) dalam pencegahan karhutla


di daerah rawan karhutla untuk bergerak aktif terlibat dalam pencegahan dan
penanggulangan karhutla seperti patroli dan pemadaman dini.

2.

Peningkatan kemampuan pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) khususnya di


lahan gambut dan pelibatan masyarakat dalam pengelolaan lahan gambut
berkelanjutan.

3.

Mengembangkan desa bebas asap.

4.

Menyebarluaskan dan mengopersionalkan Indeks Standar Pencemar Udara


(ISPU)

dan

Sistem

Peringkat

Bahaya

Kebakaran

(SPBK)

sebagai

kriteria

kesiapsiagaan di tingkat lokasi kejadian kebakaran hutan dan lahan


5.

Melakukan sosialisasi dan kampanye.

6.

Audit lingkungan terhadap perusahaan yang terindikasi tidak taat terhadap


peraturan perundangan di bidang lingkungan hidup.

7.

Pemberian insentif untuk implementasi pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB).

8.

Menentukan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan.

9.

Memetakan lahan konsesi perusahaan kehutanan dan perkebunan.

10. Memperkuat implementasi sistem peringatan dini.

Dalam arahan nya pada lokakarya tersebut, Menteri Lingkungan Hidup,


Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA, mengatakan,Perlu diperhatikan tiga hal dan
upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan yaitu adanya early warning
system yang baik, pelibatan masyarakat dalam penanganganan kebakaran
hutan dan lahan serta penegakan hukum.
Kecenderungan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selalu
berulang tiap tahun, dan dalam satu tahun terjadi dua puncak karhutla yaitu
Maret-April (periode I) dan Juli-Agustus (periode II). Karhutla periode I pada tahun
2014 terjadi lebih awal yaitu Februari. Kejadian karhutla tersebut perlu menjadi
rujukan untuk menghadapi periode II.
Dalam kaitan tersebut, maka perlu disusun rencana operasionalisasi
pencegahan yang mampu mengurangi resiko karhutla periode II, dengan tetap
mengacu kepada beberapa peraturan yang tersedia seperti Inpres No 16 tahun
2011 tentang peningkatan Pengendalian Kebakaran hutan dan Lahan. Dalam
Inpres

tersebut

terdapat

beberapa

instruksi

kepada

KLH

antara

lain

meningkatkan kuantitas dan kualitas SDM dalam Pengendalian Kebakaran Hutan


dan lahan serta meningkatkan kinerja PPNS akibat kebakaran hutan dan lahan.

Keberhasilan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan


lahan merupakan implementasi di lapangan yang konsisten dari hasil kerja
sama pemerintah daerah, pemerintah pusat, pengusaha dan masyarakat yang
dituangkan dalam suatu rencana aksi.

Menetapkan Kebijakan
Peraturan dan perundangan yang berkaitan dengan pencegahan dan
penanggulangan kebakaran hutan dan lahan diatur dalam UU No. 5 tahun1990,
UU No. 5 tahun 1994, UU No. 23 tahun 1997, UU No. 41 tahun 1999 dan PP No. 4
tahun 2001. Langkah-langkah dan upaya-upaya dalam rangka penanggulangan
kebakaran kebakaran hutan dan lahan terdiri dari:
1.

Pemasyarakatan tindakan pencegahan dan penanggulangan(pemadaman)


melalui kegiatan penyuluhan yang terkoordinasi seperti penggunaan media
cetak, elektronik dan sebagainya;

2.

Pelarangan kegiatan pembakaran dan pemasyarakatan kebijakan penyiapan


lahan tanpa bakar (PLTB);

3.

Peningkatan keterampilan dan kemampuan sumber daya manusia baik yang


berasal dari instansi pemerintah maupun perusahaan;

4.

Pemenuhan dan pengadaan peralatan pemadaman kebakaran sesuai dengan


standar yang ditetapkan;

5.

Melakukan kerjasama teknik dengan negara-negara donor;

6.

Peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan;

7.

Menindak tegas setiap pelanggar hukum/peraturan yang telah ditetapkan;

8.

Peningkatan upaya penegakkan hukum.

Tanggung Jawab Terhadap Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan


Kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan asap menyakitkan bagi makhluk hidup merupakan tanggung
jawab kita bersama. Berdasarkan UU No. 41 tahun 1999 dan PP No. 4 tahun 2001, kebakaran hutan dan lahan
di seluruh Indonesia merupakan tugas dan tanggung jawab setiap warga, dunia usaha, pemerintah provinsi,
pemerintah kabupaten, dan pemerintah pusat.
Setiap orang berkewajiban mencegah kebakaran hutan dan lahan;
Pemerintah bertanggung jawab terhadap pengendalian kebakaran hutan di hutan Negara;
Penanggung jawab usaha (perorangan, badan usaha milik swasta/ Negara/daerah, koperasi, yayasan)
bertanggung jawab terhadap pengendalian kebakaran di lokasi usahanya;
Pengendalian hutan pada hutan hak dilakukan oleh pemegang hak.

Surat edaran dari Polresta Palangka Raya Nomor : SE/101/IX/2013 memuat bahwa membakar hutan tanpa ijin,

diancam pidana penjara 15 tahun dan denda Rp 5 Miliar dengan Pasal 78 ayat (3) huruf d, Undang-Undang
Nomor 41 tahun 2009.
Hal ini bisa kita lihat pada Peraturan Daerah (Perda) Kota Palangka Raya Nomor 7 Tahun 2003, dimana barang
siapa yang membakar lahan dan hutan akan tersangkut Pasal 21 dengan diancam pidana kurungan enam bulan
atau denda maksimal Rp 5 Juta,
Sanksi dan Denda Penyebab Kebakaran Hutan
Tindakan hukum bagi para penyebab kebakaran secara tegas telah diatur dalam UU No. 41 tahun 1999 dalam
pasal 78 ayat 3, 4 dan 11, yaitu :
Sengaja membakar hutan : Pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak 5 milyar rupiah.
Kelalaian sehingga menyebabkan kebakaran hutan : Pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling
banyak 1,5 milyar rupiah.
Membuang benda yang dapat menyebabkan kebakaran hutan : Pidana penjara paling lama 3 tahun dan denda
paling banyak 1 milyar rupiah.

Membentuk Lembaga-lembaga / Instansi Terkait Penanggulangan


Bencana Kebakaran Hutan
Instansi-instansi pemerintah yang terkait dengan kegiatan pencegahan dan
penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (PPKHL), yaitu :

Sektor Kehutanan, yaitu: Departemen Kehutanan;

Sektor Pertanian, yaitu : Departemen Pertanian;

Sektor Lingkungan, yaitu : Kementerian Negara Lingkungan Hidup;

Sektor Manajemen Bencana, yaitu : Bakornas PBP;

Sektor Lain, yaitu: Departemen Dalam Negeri, BMG, LAPAN, BPPT.

Sektor Kehutanan
Sebagian besar kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan lahan berkaitan
dengan kegiatan pengusahaan hutan, pemanfaatan lahan oleh masyarakat dan
kegiatan konversi lahan lainnya.
Departemen Kehutanan
Masalah kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menjadi semakin penting sejak
terjadinya kebakaran 1997/1998. Di tingkat Nasional, bagian/unit Departemen
Kehutanan yang menangani masalah kebakaran telah mengalam beberapa
perubahan seiring dengan meningkatnya ancaman dan peristiwa kebakaran.
Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) merupakan
unit Departemen Kehutanan yang mempunyai wewenang dalam menangani
masalah kebakaran hutan, unit ini bertanggung jawab langsung pada Menteri
Kehutanan

dan

mempunyai

direktorat

khusus

yang

menangani

masalah

kebakaran hutan, yaitu Direktorat Penanggulangan Kebakaran Hutan. Direktorat


ini mempunyai 4 subdirektorat, yaitu: Sub Direktorat Pengembangan Sistem
Pengendalian Kebakaran, Sub Direktorat Deteksi dan Evaluasi, Sub Direktorat
Pencegahanndan Pemadaman dan Sub Direktorat Dampak Kebakaran. Di tingkat
daerah, tanggung jawab masalah kebakaran secara teknis umumnya ditangani
oleh Dinas Kehutanan tingkat Propinsi dan Kabupaten.

Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan Nasional (PUSDALKARHUTNAS)


PUSDALKARHUTNAS merupakan organisasi non struktural yang dibentuk oleh
Departemen Kehutanan untuk menangani secara khusus masalah kebakaran.

Melalui organisasi ini, diharapkan masalah kebakaran hutan dapat ditangani


secara

komprehensif

dan

memudahkan

koordinasi

resmi

antar

seksi

di

Departemen dan diantara lembaga terkait di tingkat propinsi dan kabupaten di


seluruh

Indonesia.

PUSDALKARHUTNAS

dikepalai

oleh

DIRJEN

PHKA

dan

beranggotakan Sekretaris Jenderal dan seluruh DIRJEN lainnya di dalam


Departemen Kehutanan, Dewan Direksi BUMN Kehutanan, Staf Ahli Menteri VI
dan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI). Adapun fungsi dan tugas utama
dari PUSDALKARHUTNAS, yaitu:

Merumuskan dan memberikan arahan kebijakan operasional usahausaha


pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan;

Mengkoordinasikan upaya-upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran


hutan secara terintegrasi di tingkat nasional;

Mengawasi pelaksanaan program-program dalam kerangka kerja kebijakan


operasional yang ditetapkan Menteri;

Merencanakan cara dan peralatan yang diperlukan untuk mengendalikan


kebakaran hutan.

Fungsi dan tugas utama PUSDALKARHUTLA yaitu melakukan koordinasi


dengan Satkorlak Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (PBP)
dan menetapkan kebijakan serta langkah-langkah yang akan diambil dalam
rangka operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Sedangkan fungsi dan
tugas utama POSKOLAKDALKARHUTLA adalah menyusun rencana kegiatan
operasi, menyelenggarakan koordinasi horisontal dan vertikal, memegang
komando

operasi

lapangan

dan

membuat

laporan

pelaksanaan

operasi.

Kemudian SATLAKDALKARHUTLA bertugas melaksanakan operasi pengendalian


kebakaran, membuat laporan operasi dan menggerakkan tenaga bantuan
masyarakat.

Sektor Pertanian
Di tingkat Nasional, bagian/unit Departemen Pertanian yang bertanggung jawab
dalam menangani masalah kebakaran yang terjadi di lahan adalah Direktorat
Perlindungan Perkebunan. Direktorat ini bertanggung jawab langsung kepada
Direktur Jenderal Bina Produksi Perkebunan. Di dalam direktorat ini belum ada
divisi khusus yang bertanggung jawab dalam hal penanganan kebakaran yang
terjadi di perkebunan atau lahan pertanian lainnya.

Sektor Lingkungan
Terjadinya kebakaran hutan dan lahan berakibat pada turunnya kondisi
lingkungan. Pengelolaan lingkungan di Indonesia menjadi tanggung jawab
Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Dalam rangka meningkatkan keefektifan
dan

fungsi

kegiatan

pengawasan

dan

pengendalian

lingkungan

maka

dibentuklah Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) dibawah


koordinasi

Kementerian

Negara

lingkungan

Hidup

dan

bertanggungjawab

langsung pada Presiden. Bapedal tidak mempunyai unit atau bagian khusus yang
menangani masalah kebakaran hutan dan lahan.
Sehingga pada tahun 1995 dibentuklah lembaga non struktural Tim Koordinasi
Nasional Kebakaran Lahan (TKNKL) yang terfokus pada manajemen kebakaran
lahan. TKNKL dikepalai oleh Dirjen PHPA. Terjadinya kebakaran hebat tahun 1997
mendasari dikeluarkannya Keputusan No.40/MenLH/1997 tentang pembentukan
Tim Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (TKNPKHL)
dimana ruang lingkupnya lebih luas dan mempunyai wewenang yang lebih kuat.
TKNPKHL dibawah pimpinan Menteri Negara Lingkungan hidup dan sebagai ketua
pelaksana adalah Dirjen PHKA.

Sektor Manajemen Bencana


Badan koordinasi nasional penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi
(Bakornas PBP) merupakan badan koordinasi non structural dan hanya berfungsi
apabila aksi multi-sektoral diperlukan selama terjadinya bencana, misalnya
bencana kebakaran hutan dan lahan. Badan ini dikepalai oleh Wakil Presiden RI
dan anggotanya terdiri dari 9 orang Menteri, Pimpinan TNI dan Kepolisian, serta
para Gubernur dari propinsi yang terkena bencana.

Sektor Lain
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), LAPAN, BPPT, Departemen Transmigrasi,
Badan SAR Nasional, Kepolisian, TNI merupakan instansi instansi terkait lainnya
yang ikut bertangung jawab dalam manajemen pengendalian kebakaran hutan
dan lahan. Data dan informasi tentang keadaan lingkungan, hotspot (titik panas)
yang dihasilkan oleh LAPAN sangat diperlukan dalam upaya pencegahan
terutama dalam kegiatan peringatan dini terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Selain pada saat pencegahan, instansi instansi tersebut diatas juga ikut terlibat
dalam upaya
pemadaman dan penanganan paska kebakaran.

B.

Peranan

Masyarakat

Terhadap

Kelestarian

Hutan

dan

Reboisasi

Penanggulanagn Bencana Kebakaran Hutan


Selain

pemerintah, masyarakat

juga

harus

berperan

aktif

dalam

melakukan pelestarian dan penghijauan hutan kembali (reboisasi). Tanpa peran


serta dan dukungan masyarakat maka kelestarian hutan juga tidak dapat
dikendalikan. Berikut ini beberapa peran serta masyarakat yang cukup penting
dalam pelestarian hutan di indonesia:
-Menanamkan Kesadaran Pentingnya Hutan
Seperti yang telah diuraikan diatas. Maka hutan sebagai paru-paru dunia dan
bumi ini bergantung pada hutan sebagai penjaga suhu bumi agar tetap stabil
(global warming). Dimana jika hutan ini habis maka suhu bumi tidak stabil
sehingga kerusaka ekosistem yang lain akan susul-menyusul.
Masyarakat harus tahu hal itu dan sejak dini anak-anak dan remaja harus didik
untuk sadar lingkungan dan kelestarian hutan. Orang tua dan guru harus terus
mengkampanyekan pentingnya hutan agar tertanam dalam bawah sadar mereka
bahwa kerusakan hutan akan juga merusak kelangsungan hidup manusia.
Jika kesadaran itu sudah tumbuh maka, masyarakat akan saling bekerja sama
menjaga

kelestarian

hutan

dan

segera

melapor

atau

mencegah

dengan sendirinya jika ada orang-orang yang hendak merusak atau menebang
pohon-pohon di hutan di sekitar mereka.
-Menghilangkan Kebiasaan Ladang Berpindah-Pindah
Bagi

masyarakat

petani

harus

dihindari

pembukaan

lahan

hutan

untuk

pembuatan ladang yang berpindah-pindah. Ini juga penyebab kerusakan hutan


yang mungkin masih sering terjadi terutama di daerah-daerah terpencil.
-Kebiasaan Menanam Pohon
Masyarakat

terutama

generasi

muda

diharapkan

mempunyai

kebiasaan

menanam pohon dilingkungan tempat tinggalnya. Baik dipekarangan rumah atau


dipinggir-pinggir jalan desa. Kebiasaan ini perlu dipupuk sejak dini. Memang sulit
hal ini diterapkan didaerah perkotaan. Tapi kebiasaan ini masih bisa diterapkan di
desa-desa dan digalakan untuk masyarakat desa.
-Menjaga Lingkungan Hidup, menghemat Air Bersih dan Daur Ulang
Masyarakat juga diminta untuk menjaga lingkungan tempat tinggal dengan
menjaga kebersihan lingkungan. Menghemat penggunaan air bersih dan tidak
mencemari sumber-sumber air bersih seperti sungai dan danau dan lain-lain.
Masyarakat juga harus kreatif memanfaatkan teknologi daur ulang untuk

menjadikan sampah sampah organik sebagai pupuk dan juga menggunakan


kertas daur ulang untuk menghindari penggunaan kertas.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1

Kesimpulan
Keberadaan hutan makin hari makin menyusut luasnya yang dikarenakan oleh
beberapa sebab. Salah satunya yang dapat dikatakan paling dahsyat adalah kebakaran
hutan. Kebakaran hutan dapat mengakibatkan musnahnya atau berkurangnya hutan dalam
waktu yang relative singkat. Seperti halnya di wilayah lain, di Sulawesi Tengah pun pada
musim kemarau terjadi kebakaran hutan, walaupun tidak sebesar seperti di Kalimantan atau

di Sumatera. Kebakaran hutan terutama terjadi pada daerah-daerah yang berdekatan


dengan komunitas masyarakat yang aktifitasnya berhubungan dengan hutan.
Kebakaran hutan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain sebagai berikut:
1.

Sambaran petir pada hutan yang kering karena musim kemarau yang panjang.

1.

Kecerobohan manusia antara lain membuang puntung rokok sembarangan dan


lupa mematikan api di perkemahan.

2.

Aktivitas vulkanis seperti terkena aliran lahar atau awan panas dari letusan
gunung berapi.

3.

Tindakan yang disengaja seperti untuk membersihkan lahan pertanian atau


membuka lahan pertanian baru dan tindakan vandalisme.

4.

Kebakaran di bawah tanah/ground fire pada daerah tanah gambut yang dapat
menyulut kebakaran di atas tanah pada saat musim kemarau.

Pada umumnya, penyebab utama kebakaran hutan adalah manusia, baik yang secara
sengaja membersihkan lahan perkebunannya dengan menggunakan jasa api, maupun
aktifitas lain yang tidak disengaja seperti pencari rotan, penebang pohon dan pengemudi
angkutan kayu yang membuang puntung rokok sembarangan, api unggun dari peserta
camping/wisata alam yang meninggalkan tempat perapiannya tanpa mematikan api terlebih
dahulu dan lain lain. Bahaya kebakaran hutan dan lahan menimbulkan asap yang
mengganggu aktifitas kehidupan manusia, antara lain berdampak pada mewabahnya
penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) dan menganggu sistem transportasi darat
dan udara. Dampak yang paling besar adalah musnahnya plasma nutfah serta
mengakibatkan menurunnya kualitas dan kuantitas hutan yang pada akhirnya merusak
ekosistem lingkungan. Untuk mengatasi terjadi kebakaran hutan bukanlah sesuatu yang
mudah, untuk itu upaya yang baik adalah melakukan antisipasi dan pencegahan kebakaran
hutan, mengingat penaggulangan kebakaran hutan memerlukan dana dan tenaga yang
sangat besar. Upaya pencegahan kebakaran hutan akan dapat terlaksana apabila
mendapat dukungan berbagai pihak, terutama dari masyarakat desa yang berada di sekitar
hutan. Untuk itu perlu dilakukan internalisasi pemahaman tentang bahaya kebakaran hutan
dan keterampilan teknik pemadaman kebakaran hutan pada masyarakat. Beberapa
pengetahuan dan keterampilan yang perlu disampaikan kepada masyarakat meliputi aspekaspek sebagai berikut: (1) Kebijakan dan ketentuan tentang pencegahan dan pengendalian
kebakaran hutan; (2) Partisipasi masyarakat dan pengorganisasian Pemadam Kebakaran;
(3) Partisipasi masyarakat dan pengorganisasian Pemadam Kebakaran; dan (4) Upaya
pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan.
Menteri
menimbulkan

Kesehatan
polutan

RI,
udara

2003
yang

menyatakan
dapat

bahwa

kebakaran

menyebabkan

penyakit

hutan
dan

membahayakan kesehatan manusia. Berbagai pencemar udara yang ditimbulkan


akibat kebakaran hutan, misalnya : debu dengan ukuran partikel kecil (PM10 &
PM2,5), gas SOx, NOx, COx, dan lain-lain dapat menimbulkan dampak negatif
terhadap kesehatan manusia, antara lain infeksi saluran pernafasan, sesak
nafas, iritasi kulit, iritasi mata, dan lain-lain.
Selain itu juga dapat menimbulkan gangguan jarak pandang/ penglihatan,
sehingga dapat menganggu semua bentuk kegiatan di luar rumah. Gumpalan
asap yang pedas akibat kebakaran yang melanda Indonesia pada tahun
1997/1998 meliputi wilayah Sumatra dan Kalimantan, juga Singapura dan
sebagian dari Malaysia dan Thailand. Sekitar 75 juta orang terkena gangguan
kesehatan yang disebabkan oleh asap. (Cifor,2001).
Gambut yang terbakar di Indonesia melepas karbon lebih banyak ke atmosfir
daripada yang dilepaskan Amerika Serikat dalam satu tahun. Hal itu membuat
Indonesia menjadi salah satu pencemar lingkungan terburuk di dunia pada
periode tersebut (Applegate, G. dalam CIFOR, 2001).
Dampak kebakaran hutan 1997/98 bagi ekosistem direvisi karena perubahan
perhitungan luas kebakaran yang ditemukan. Taconi, 2003 menyebutkan bahwa
kebakaran yang mengakibatkan degradasi hutan dan deforestasi menelan biaya
ekonomi sekitar 1,62-2,7 miliar dolar. Biaya akibat pencemaran kabut asap
sekitar 674-799 juta dolar; biaya ini kemungkinan lebih tinggi karena perkiraan
dampak ekonomi bagi kegiatan bisnis di Indonesia tidak tersedia. Valuasi biaya
yang

terkait

dengan

emisi

karbon

menunjukkan

bahwa

kemungkinan

biayanyamencapai2,8 miliar dolar.


Kebakaran hutan secara nyata berpengaruh terhadap terdegradasinya kondisi
lingkungan, kesehatan manusia dan aspek sosial ekonomi bagi masyarakat.
Terdegradasinya kondisi lingkungan

Perubahan kualitas fisik gambut (penurunan porositas total, penurunan kadar


air tersedia, penurunan permeabilitas dan meningkatnya kerapatan lindak);

Perubahan kualitas kimia gambut (peningkatan pH, kandungan N-total,


kandungan fosfor dan kandungan basa total yaitu Kalsium, Magnesium, Kalium,
dan Natrium, tetapi terjadi penurunan kandungan C-organik);

Terganggunya proses dekomposisi tanah gambut karena mikroorganisme yang


mati akibat kebakaran;

Suksesi atau perkembangan populasi dan komposisi vegetasi hutan juga akan
terganggu (benih-benih vegetasi di dalam tanah gambut rusak/terbakar)
sehingga akan menurunkan keanekaragaman hayati;

Rusaknya siklus hidrologi (menurunkan kemampuan intersepsi air hujan ke


dalam tanah, mengurangi transpirasi vegetasi, menurunkan kelembaban tanah,
dan meningkatkan jumlah air yang mengalir di permukaan (surface run off).
Kondisi demikian menyebabkan gambut menjadi kering dan mudah terbakar,
terjadinya sedimentasi dan perubahan kualitas air serta turunnya populasi dan
keanekaragaman ikan di perairan. Selain itu kerusakan hidrologi di lahan gambut
akan menyebabkan jangkauan intrusi air laut semakin jauh ke darat;

Gambut menyimpan cadangan karbon, apabila terjadi kebakaran maka akan


terjadi emisi gas karbondioksida dalam jumlah besar. Sebagai gas rumah kaca,
karbondioksida berdampak pada pemanasan global. Berdasarkan studi ADB,
kebakaran gambut 1997 menghasilkan emisi karbon sebesar 156,3 juta ton (75%
dari total emisi karbon) dan 5 juta ton partikel debu.
Kesehatan manusia

Ribuan penduduk dilaporkan menderita penyakit infeksi saluran pernapasan,


sakit mata dan batuk sebagai akibat dari asap kebakaran. Kebakaran gambut
juga menyebabkan rusaknya kualitas air, sehingga air menjadi kurang layak
untuk diminum.

Aspek sosial ekonomi

Hilangnya sumber mata pencaharian masyarakat yang masih menggantungkan


hidupnya pada hutan (berladang, beternak, berburu/menangkap ikan);

Penurunan produksi kayu;

Terganggunya kegiatan transportasi;

Terjadinya protes dan tuntutan dari negara tetangga akibat dampak asap
kebakaran;

Meningkatnya pengeluaran akibat biaya untuk pemadaman.


Dari dampak yang terjadi tersebut, adapun upaya untuk menangani
kebakaran hutan ada dua macam, yaitu penanganan yang bersifat represif dan
penanganan yang bersifat preventif. Penanganan kebakaran hutan yang bersifat
represif adalah upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengatasi
kebakaran hutan setelah kebakaran hutan itu terjadi. Penanganan jenis ini,
contohnya adalah pemadaman, proses peradilan bagi pihak-pihak yang diduga
terkait dengan kebakaran hutan (secara sengaja), dan lain-lain.
Sementara itu, penanganan yang bersifat preventif adalah setiap usaha,
tindakan atau kegiatan yang dilakukan dalam rangka menghindarkan atau
mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan. Jadi penanganan yang

bersifat preventif ini ada dan dilaksanakan sebelum kebakaran terjadi. Selama
ini, penanganan yang dilakukan pemerintah dalam kasus kebakaran hutan, baik
yang

disengaja

maupun

tidak

disengaja,

lebih

banyak

didominasi

oleh

penanganan yang sifatnya represif. Berdasarkan data yang ada, penanganan


yang sifatnya represif ini tidak efektif dalam mengatasi kebakaran hutan..
Hal ini terbukti dari pembakaran hutan yang terjadi secara terus menerus.
Sebagai contoh : pada bulan Juli 1997 terjadi kasus kebakaran hutan. Upaya
pemadaman sudah dijalankan, namun karena banyaknya kendala, penanganan
menjadi lambat dan efek yang muncul (seperti : kabut asap) sudah sampai ke
Singapura dan Malaysia. Sejumlah pihak didakwa sebagai pelaku telah diproses,
meskipun

hukuman

yang

dijatuhkan

tidak

membuat

mereka

jera.

Ketidakefektifan penanganan ini juga terlihat dari masih terus terjadinya


kebakaran di hutan Indonesia, bahkan pada tahun 2008 ini.
Oleh karena itu, berbagai ketidakefektifan perlu dikaji ulang sehingga bisa
menghasilkan upaya pengendalian kebakaran hutan yang efektif.
Menurut UU No 45 Tahun 2004, pencegahan kebakaran hutan perlu
dilakukan secara terpadu dari tingkat pusat, provinsi, daerah, sampai unit
kesatuan pengelolaan hutan. Ada kesamaan bentuk pencegahan yang dilakukan
diberbagai

tingkat

itu,

yaitu

penanggungjawab

di

setiap

tingkat

harus

mengupayakan terbentuknya fungsi-fungsi berikut ini :


1.

Mapping : pembuatan peta kerawanan hutan di wilayah teritorialnya masingmasing. Fungsi ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, namun yang lazim
digunakan adalah 3 cara berikut:

pemetaan daerah rawan yang dibuat berdasarkan hasil olah data dari masa lalu
maupun hasil prediksi.

pemetaan daerah rawan yang dibuat seiring dengan adanya survai desa
(Partisipatory Rural Appraisal)

pemetaan daerah rawan dengan menggunakan Global Positioning System atau


citra satelit

2.

Informasi : penyediaan sistem informasi kebakaran hutan.


Hal ini bisa dilakukan dengan pembuatan sistem deteksi dini (early warning
system) di setiap tingkat. Deteksi dini dapat dilaksanakan dengan 2 cara
berikut :
o analisis kondisi ekologis, sosial, dan ekonomi suatu wilayah
o pengolahan data hasil pengintaian petugas

3.

Sosialisasi

pengadaan

penyuluhan,

pembinaan

dan

pelatihan

kepada

masyarakat.
Penyuluhan dimaksudkan agar menginformasikan kepada masyarakat di setiap
wilayah mengenai bahaya dan dampak, serta peran aktivitas manusia yang
seringkali memicu dan menyebabkan kebakaran hutan. Penyuluhan juga bisa
menginformasikan kepada masayarakat mengenai daerah mana saja yang rawan
terhadap kebakaran dan upaya pencegahannya.
Pembinaan

merupakan kegiatan yang mengajak masyarakat untuk dapat

meminimalkan intensitas terjadinya kebakaran hutan.


Sementara, pelatihan bertujuan untuk mempersiapkan masyarakat, khususnya
yang tinggal di sekitar wilayah rawan kebakaran hutan,untuk melakukan
tindakan awal dalam merespon kebakaran hutan.
4.

Standardisasi

pembuatan

dan

penggunaan

SOP

(Standard

Operating

Procedure).
Untuk memudahkan tercapainya pelaksanaan program pencegahan kebakaran
hutan maupun efektivitas dalam penanganan kebakaran hutan, diperlukan
standar yang baku dalam berbagai hal berikut :

Metode pelaporan
Untuk menjamin adanya konsistensi dan keberlanjutan data yang masuk,
khususnya data yang berkaitan dengan kebakaran hutan, harus diterapkan
sistem pelaporan yang sederhana dan mudah dimengerti masyarakat. Ketika
data yang masuk sudah lancar, diperlukan analisis yang tepat sehingga bisa
dijadikan sebuah dasar untuk kebijakan yang tepat.

Peralatan
Standar minimal peralatan yang harus dimiliki oleh setiap daerah harus bisa
diterapkan oleh pemerintah, meskipun standar ini bisa disesuaikan kembali
sehubungan dengan potensi terjadinya kebakaran hutan, fasilitas pendukung,
dan sumber daya manusia yang tersedia di daerah.

Metode Pelatihan untuk Penanganan Kebakaran Hutan


Standardisasi ini perlu dilakukan untuk membentuk petugas penanganan
kebakaran yang efisien dan efektif dalam mencegah maupun menangani
kebakaran hutan yang terjadi. Adanya standardisasi ini akan memudahkan
petugas penanganan kebakaran untuk segera mengambil inisiatif yang tepat dan
jelas ketika terjadi kasus kebakaran hutan

5.

Supervisi : pemantauan dan pengawasan kepada pihak-pihak yang berkaitan


langsung dengan hutan. Pemantauan adalah kegiatan untuk mendeteksi

kemungkinan terjadinya perusakan lingkungan, sedangkan pengawasan adalah


tindak lanjut dari hasil analisis pemantauan. Jadi, pemantauan berkaitan
langsung dengan penyediaan data,kemudian pengawasan merupakan respon
dari hasil olah data tersebut. Pemantauan, menurut kementerian lingkungan
hidup, dibagi menjadi empat, yaitu :

Pemantauan terbuka : Pemantauan dengan cara mengamati langsung objek


yang diamati. Contoh : patroli hutan

Pemantauan tertutup (intelejen) : Pemantauan yang dilakukan dengan cara


penyelidikan yang hanya diketahui oleh aparat tertentu.

Pemantauan pasif : Pemantauan yang dilakukan berdasarkan dokumen,


laporan, dan keterangan dari data-data sekunder, termasuk laporan pemantauan
tertutup.

Pemantauan aktif : Pemantauan dengan cara memeriksa langsung dan


menghimpun data di lapangan secara primer. Contohnya : melakukan survei ke
daerah-daerah rawan kebakaran hutan. Sedangkan, pengawasan dapat dilihat
melalui 2 pendekatan, yaitu :
Preventif :

kegiatan

pengawasan

untuk

pencegahan

sebelum

terjadinya

perusakan lingkungan (pembakaran hutan). Contohnya : pengawasan untuk


menentukan status ketika akan terjadi kebakaran hutan
Represif :

kegiatan

pengawasan

yang

bertujuan

untuk

menanggulangi

perusakan yang sedang terjadi atau telah terjadi serta akibat-akibatnya sesudah
terjadinya kerusakan lingkungan.
Untuk mendukung keberhasilan, upaya pencegahan yang sudah dikemukakan
diatas, diperlukan berbagai pengembangan fasilitas pendukung yang meliputi :
1.

Pengembangan dan sosialisasi hasil pemetaan kawasan rawan kebakaran hutan


Hasil pemetaan sebisa mungkin dibuat sampai sedetail mungkin dan disebarkan
pada berbagai instansi terkait sehingga bisa digunakan sebagai pedoman
kegiatan institusi yang berkepentingan di setiap unit kawasan atau daerah.

2.

Pengembangan

organisasi

penyelenggara

Pencegahan

Kebakaran

Hutan

Pencegahan Kebakaran Hutan perlu dilakukan secara terpadu antar sektor,


tingkatan dan daerah. Peran serta masyarakat menjadi kunci dari keberhasilan
upaya pencegahan ini. Sementara itu, aparatur pemerintah, militer dan
kepolisian, serta kalangan swasta perlu menyediakan fasilitas yang memadai
untuk memungkinkan terselenggaranya Pencegahan Kebakaran Hutan secara
efisien dan efektif.
3.

Pengembangan sistem komunikasi

Sistem komunikasi perlu dikembangkan seoptimal mungkin sehingga


koordinasi antar tingkatan (daerah sampai pusat) maupun antar daerah bisa
berjalan cepat. Hal ini akan mendukung kelancaran early warning system,
transfer data, dan sosialisasi kebijakan yangberkaitan dengan kebakaran hutan
Meskipun kebijakan mengenai pengendalian kebakaran hutan dan lahan
telah banyaktersedia dan rinci, tetapi dapat dikatakan bahwa peraturanperaturan tersebut masih kurang memadai dan bersifat sektoral. Peraturan
tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang ada pada umumnya
dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan dimana kekuatan hukumnya relatif
lemah, karena hanya dapat berlaku dalam wilayah kerja Departemen Kehutanan
saja, sementara kebakaran tidak hanya terjadi di hutan tetapi juga di lahan.
Bahkan di beberapa daerah, kebakaran cenderung diakibatkan oleh adanya
penggunaan api dalam kegiatan sektor pertanian termasuk di dalamnya yang
dilakukan oleh perusahaan perkebunan dan belakangan ini, bahkan mulai marak
dilakukan dalam kegiatan pertambangan
1.

Secara mendasar perambahan hutan menyeybabkan ketidak seimbangan alam


(kerusanan hutan) menyebabkan terjadinya kebakaran pada lahan gambut dan
bukan gambut. Disusul oleh perkembangan pengelolaan lahan yang tidak
memperhatikan

prinsip-prinsip

konesrvasi

dan

dorongan

ekonomi

juga

memperparah terjadinya kebakaran lahan danhutan.


2.

Setiap upaya peningkatan pemanfaatan lahan untuk keperluan pemenuhan


kebutuhan pangan (seperti pemanfaatan ex-lahan gambut) hendaknya difikirkan
aspek konservasi yang tidak menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dan
lahan, sehingga koordinasi vertikal dan horizontal menjadi sangat penting
adanya
Provinsi Kalimantan Tengah telah memiliki Peraturan Daerah No. 5 Tahun
2003 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan atau Lahan, yang melarang
adanya

pembakaran

hutan

dan

atau

lahan,

serta

ketentuan

mengenai

pengendalian kebakaran. Peraturan Daerah ini juga mengatur mengenai


peningkatan

kesadaran

Gubernur/Bupati/Walikota

masyarakat.
meningkatkan

Pasal

23

kesadaran

ayat

menyebutkan

masyarakat

termasuk

aparatur akan hak dan tanggungjawab serta kemampuannya untuk mencegah


kebakaran hutan dan atau lahan. Sedangkan ayat 2 menyebutkan, peningkatan
kesadaran masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan
dengan mengembangkan nilai-nilai dan kelembagaan adat serta kebiasaankebiasaan masyarakat tradisional yang mendukung perlindungan hutan dan atau
lahan. Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2003 ini kemudian diatur secara teknis
melalui Keputusan Gubernur Kalimantan Tengah No. 78 Tahun 2005 tentang
Petunjuk Teknis Pengendalian Kebakaran Hutan dan atau Lahan di Provinsi

Kalimantan Tengah. Selain itu, diterbitkannya Surat Keputusan Gubernur


Kalimantan Tengah tentang Pembentukan Pos Simpul Kendali Operasi (Posko)
Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan yang diperbaharui tiap
tahun. Masyarakat Dayak sesungguhnya memiliki tradisi yang kuat dalam hal
pemeliharaan lingkungan dan penanggulangan kebakaran. Falsafah hidup
masyarakat Dayak yang bersumber dari simbol Batang Garing, yang diwujudkan
dalam upacara adat manyanggar dan memapas lewu merupakan kearifan lokal
dengan prinsip memelihara keseimbangan hubungan antar manusia; hubungan
manusia dengan alam semesta dan hubungan dengan Sang Pencipta. Wujud
kearifan lokal ini dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, yang sejalan dengan
konsep pembangunan berkelanjutan. Dalam kehidupan masyarakat Dayak, hutan
bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga untuk memenuhi
fungsi ritual. Terganggunya fungsi hutan dalam kehidupan masyarakat ini, akan
mendorong munculnya konflik sosial. Terkait pemeliharaan lingkungan dan
penanggulangan kebakaran, masyarakat Dayak memiliki tradisi dan hukum adat
yang mengatur mengenai tata cara membuka lahan, yang jika menimbulkan
kebakaran secara tidak terkendali akan mendapat denda adat. Tradisi dan hukum
adat ini juga mengatur mengenai cara-cara melakukan pembersihan lahan untuk
mengatasi kebakaran secara terkendali. Sejalan dengan perkembangan zaman,
di mana makin banyak perusahaan yang membuka lahan untuk perkebunan dan
pertambangan,

serta

meluasnya

wilayah

pengembangan

pertanian

dan

perkebunan oleh penduduk, mendorong terjadinya peningkatan kebakaran hutan


dan lahan. Pada saat yang bersamaan, budaya dan tradisi masyarakat tidak
dapat lagi secara efektif menanggulangi kebakaran hutan dan lahan yang
berlangsung dalam skala yang sangat luas. Upaya-upaya untuk menanggulangi
kebakaran ini dengan demikian menjadi penting untuk terus dikembangkan,
melalui penguatan kembali tradisi masyarakat dan pendekatan-pendekatan
modern untuk menanggulangi kebakaran. Pelibatan masyarakat merupakan
faktor kunci, karena mereka tinggal di dalam dan di sekitar kawasan hutan dan
lahan gambut yang secara cepat mendeteksi adanya potensi kebakaran, serta
secara cepat dapat menanggulangi kebakaran. Partisipasi masyarakat ini
sekaligus

membangun

kesadaran

untuk

menghindari

pola

pembukaan/pembersihan lahan dengan cara membakar .Masyarakat juga


didorong untuk berpartisipasi dalam mengawasi lingkungan sekitar mereka guna
menghindari

kegiatan-kegiatan

yang

melawan

hukum,

yaitu

kegiatan

pembukaan lahan dengan cara membakar baik oleh perorangan nmaupun


perusahaan.

3.2
1.

Saran
Perlu adanya kemauan politik (political will), seperti melakukan investasi
berupa penelitian untuk mencari inovasi baru (teknologi tepat guna) yang dapat
digunakan untuk memberikan alternatif tidak membakar kebun/semak, seperti
teknologi Tanpa Olah Tanah (TOT) berikut alat-alat pendukungnya, teknologi
pembusukan (decomposed), teknologi pemanfaatan lahan gambut sebagai
media tanaman, dll untuk meningkatkan efisiensi dan nilai tambah produk
pertanian.

2.

Perlu ada deregulasi dan sinkronisasi peraturan-peraturan yang ada, untuk


menghindari terjadinya saling melempar tanggungjawab, khususnya status
hukum kepemilikan lahan dan penggarapan lahan. Perlu ada law enforcement
secara tegas dan konsekuen terhadap para pelaku dan pihak yang menyebabkan
terjadinya

kebakaran,

termasuk

pencegahan

timbulnya

biaya

transaksi

(transaction cost) yang dapat menyebabkan semakin leluasanya pihak tertentu


melakukan pembakaran.
3.

Perlu difikirkan adanya instrumen kebijakan berbasis ekonomi (economic-based


policies) seperti: (a) memberikan insentif kepada sekelompok atau seseorang
yang mempu menjaga kawasannya dari kebakaran dan memberikan disinsentif
kepada

yang

menciptakan

tidak

mampu

program-program

menjaga
yang

kawasannya
dapat

dari

kebakaran,

menghambat

(b)

dilakukannya

pembakaran hutan dan lahan dan menyebarluaskan kepada masyarakat, seperti


mengedepankan upaya pencegahan pembakaran dengan kredit usahatani atau
kredit ketahanan pangan (KKP), kredit P4K atau kegiatan program PRIMATANI.

I. Pendahuluan
Hutan merupakan sumberdaya alam yang tidak ternilai karena didalamnya
terkandung keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah, sumber hasil hutan kayu dan
non-kayu, pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta kesuburan tanah, perlindungan alam
hayati untuk kepentingan ilmu pengetahuan, kebudayaan, rekreasi, pariwisata dan sebagainya.
Karena itu pemanfaatan hutan dan perlindungannya telah diatur dalam UUD 45, UU No. 5 tahun
1990, UU No 23 tahun 1997, UU No. 41 tahun 1999, PP No 28 tahun 1985 dan beberapa keputusan
Menteri Kehutanan serta beberapa keputusan Dirjen PHPA dan Dirjen Pengusahaan Hutan. Namun
gangguan terhadap sumberdaya hutan terus berlangsung bahkan intensitasnya makin meningkat.
Kebakaran hutan merupakan salah satu bentuk gangguan yang makin sering terjadi. Dampak
negatif yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan cukup besar mencakup kerusakan ekologis,
menurunnya keanekaragaman hayati, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas tanah,
perubahan iklim mikro maupun global, dan asapnya mengganggu kesehatan masyarakat serta
mengganggu transportasi baik darat, sungai, danau, laut dan udara. Gangguan asap karena

kebakaran hutan Indonesia akhir-akhir ini telah melintasi batas negara.


Berbagai upaya
pencegahan dan perlindungan kebakaran hutan telah dilakukan termasuk mengefektifkan perangkat
hukum (undang-undang, PP, dan SK Menteri sampai Dirjen), namun belum memberikan hasil yang
optimal. Sejak kebakaran hutan yang cukup besar tahun 1982/83 di Kalimantan Timur, intensitas
kebakaran hutan makin sering terjadi dan sebarannya makin meluas. Tercatat beberapa kebakaran
cukup besar berikutnya yaitu tahun 1987, 1991, 1994 dan 1997 hingga 2003. Oleh karena itu perlu
pengkajian yang mendalam untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan.
Tulisan ini
merupakan sintesa dari berbagai pengetahuan tentang hutan, kebakaran hutan dan
penanggulangannya yang dikumpulkan dari berbagai sumber dengan harapan dapat dijadikan
sebagai bahan masukan bagi para peneliti, pengambil kebijakan dan pengembangan ilmu
pengetahuan bagi para pencinta lingkungan dan kehutanan.
II. Kebakaran Hutan dan Faktor
Penyebabnya Api sebagai alat atau teknologi awal yang dikuasai manusia untuk mengubah
lingkungan hidup dan sumberdaya alam dimulai pada pertengahan hingga akhir zaman Paleolitik,
1.400.000-700.000 tahun lalu. Sejak manusia mengenal dan menguasai teknologi api, maka api
dianggap sebagai modal dasar bagi perkembangan manusia karena dapat digunakan untuk
membuka hutan, meningkatkan kualitas lahan pengembalaan, memburu satwa liar, mengusir satwa
liar, berkomunikasi sosial disekitar api unggun dan sebagainya (Soeriaatmadja, 1997). Analisis
terhadap arang dari tanah Kalimantan menunjukkan bahwa hutan telah terbakar secara berkala
dimulai, setidaknya sejak 17.500 tahun yang lalu. Kebakaran besar kemungkinan terjadi secara
alamiah selama periode iklim yang lebih kering dari iklim saat itu. Namun, manusia juga telah
membakar hutan l ebih dari 10 ribu tahun yang lalu untuk mempermudah perburuan dan membuka
lahan pertanian. Catatan tertulis satu abad yang lalu dan sejarah lisan dari masyarakat yang tinggal di
hutan membenarkan bahwa kebakaran hutan bukanlah hal yang baru bagi hutan Indonesia
(Schweithelm, J. dan D. Glover, 1999). Menurut Danny (2001), penyebab utama terjadinya
kebakaran hutan di Kalimantan Timur adalah karena aktivitas manusia dan hanya sebagian kecil yang
disebabkan oleh kejadian alam. Proses kebakaran alami menurut Soeriaatmadja (1997), bisa terjadi
karena sambaran petir, benturan longsuran batu, singkapan batu bara, dan tumpukan srasahan.
Namun menurut Saharjo dan Husaeni (1998), kebakaran karena proses alam tersebut sangat kecil
dan untuk kasus Kalimatan kurang dari 1 %. Kebakaran hutan besar terpicu pula oleh munculnya
fenomena iklim El-Nino seperti kebakaran yang terjadi pada tahun 1987, 1991, 1994 dan 1997
(Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan UNDP, 1998). Perkembangan kebakaran tersebut
juga memperlihatkan terjadinya perluasan penyebaran lokasi kebakaran yang tidak hanya di
Kalimantan Timur, tetapi hampir di seluruh propinsi, serta tidak hanya terjadi di kawasan hutan tetapi
juga di lahan non hutan. Penyebab kebakaran hutan sampai saat ini masih menjadi topik perdebatan,
apakah karena alami atau karena kegiatan manusia. Namun berdasarkan beberapa hasil penelitian
menunjukkan bahwa penyebab utama kebakaran hutan adalah faktor manusia yang berawal dari
kegiatan atau permasalahan sebagai berikut: 1. Sistem perladangan tradisional dari penduduk
setempat yang berpindah-pindah. 2. Pembukaan hutan oleh para pemegang Hak Pengusahaan
Hutan (HPH) untuk insdustri kayu maupun perkebunan kelapa sawit. 3. Penyebab struktural, yaitu
kombinasi antara kemiskinan, kebijakan pembangunan dan tata pemerintahan, sehingga
menimbulkan konflik antar hukum adat dan hukum positif negara. Perladangan berpindah merupakan
upaya pertanian tradisional di kawasan hutan dimana pembukaan lahannya selalu dilakukan dengan
cara pembakaran karena cepat, murah dan praktis. Namun pembukaan lahan untuk perladangan
tersebut umumnya sangat terbatas dan terkendali karena telah mengikuti aturan turun temurun
(Dove, 1988). Kebakaran liar mungkin terjadi karena kegiatan perladangan hanya sebagai kamuflasa
dari penebang liar yang memanfaatkan jalan HPH dan berada di kawasan HPH. Pembukaan hutan
oleh pemegang HPH dan perusahaan perkebunan untuk pengembangan tanaman industri dan
perkebunan umumnya mencakup areal yang cukup luas. Metoda pembukaan lahan dengan cara
tebang habis dan pembakaran merupakan alternatif pembukaan lahan yang paling murah, mudah
dan cepat. Namun metoda ini sering berakibat kebakaran tidak hanya terbatas pada areal yang
disiapkan untuk pengembangan tanaman industri atau perkebunan, tetapi meluas ke hutan lindung,
hutan produksi dan lahan lainnya. Sedangkan penyebab struktural, umumnya berawal dari suatu
konflik antara para pemilik modal industri perkayuan maupun pertambangan, dengan penduduk asli
yang merasa kepemilikan tradisional (adat) mereka atas lahan, hutan dan tanah dikuasai oleh para
investor yang diberi pengesahan melalui hukum positif negara. Akibatnya kekesalan masyarakat
dilampiaskan dengan melakukan pembakaran demi mempertahankan lahan yang telah mereka miliki
secara turun temurun. Disini kemiskinan dan ketidak adilan menjadi pemicu kebakaran hutan dan
masyarakat tidak akan mau berpartisipasi untuk memadamkannya. III. Kerugian dan Dampak
Kebakaran Hutan 3.1. Areal hutan yang terbakar Beberapa tahun terakhir kebakaran hutan terjadi
hampir setiap tahun, khususnya pada musim kering. Kebakaran yang cukup besar terjadi di

Kalimantan Timur yaitu pada tahun 1982/83 dan tahun 1997/98. Pada tahun 1982/83 kebakaran telah
menghanguskan hutan sekitar 3,5 juta hektar di Kalimantan Timur dan ini merupakan rekor terbesar
kebakaran hutan dunia setelah kebakaran hutan di Brazil yang mencapai 2 juta hektar pada tahun
1963 (Soeriaatmadja, 1997). Kemudian rekor tersebut dipecahkan lagi oleh kebakaran hutan
Indonesia pada tahun 1997/98 yang telah menghanguskan seluas 11,7 juta hektar. Kebakaran terluas
terjadi di Kalimantan dengan total lahan terbakar 8,13 juta hektar, disusul Sumatera, Papua Barat,
Sulawesi dan Jawa masing-masing 2,07 juta hektar, 1 juta hektar, 400 ribu hektar dan 100 ribu hektar
(Tacconi, 2003). Selanjutnya kebakaran hutan Indonesia terus berlangsung setiap tahun meskipun
luas areal yang terbakar dan kerugian yang ditimbulkannya relatif kecil dan umumnya tidak
terdokumentasi dengan baik. Data dari Direktotar Jenderal Perlindungan hutan dan Konservasi Alam
menunjukkan bahwa kebakaran hutan yang terjadi tiap tahun sejak tahun 1998 hingga tahun 2002
tercatat berkisar antara 3 ribu hektar sampai 515 ribu hektar (Direktotar Jenderal Perlindungan hutan
dan Konservasi Alam, 2003). 3.2. Kerugian yang ditimbulkannya Kebakaran hutan akhir-akhir ini
menjadi perhatian internasional sebagai isu lingkungan dan ekonomi khususnya setelah terjadi
kebakaran besar di berbagai belahan dunia tahun 1997/98 yang menghanguskan lahan seluas 25
juta hektar. Kebakaran tahun 1997/98 mengakibatkan degradasi hutan dan deforestasi menelan biaya
ekonomi sekitar US $ 1,6-2,7 milyar dan biaya akibat pencemaran kabut sekitar US $ 674-799 juta.
Kerugian yang diderita akibat kebakaran hutan tersebut kemungkinan jauh lebih besar lagi karena
perkiraan dampak ekonomi bagi kegiatan bisnis di Indonesia tidak tersedia. Valuasi biaya yang terkait
dengan emisi karbon kemungkinan mencapai US $ 2,8 milyar (Tacconi, 2003).
Hasil
perhitungan ulang kerugian ekonomi yang dihimpun Tacconi (2003), menunjukkan bahwa kebakaran
hutan Indonesia telah menelan kerugian antara US $ 2,84 milayar sampai US $ 4,86 milyar yang
meliputi kerugian yang dinilai dengan uang dan kerugian yang tidak dinilai dengan uang. Kerugian
tersebut mencakup kerusakan yang terkait dengan kebakaran seperti kayu, kematian pohon, HTI,
kebun, bangunan, biaya pengendalian dan sebagainya serta biaya yang terkait dengan kabut asap
seperti kesehatan, pariwisata dan transportasi. 3.3. Dampak Kebakaran Hutan Kebakaran hutan yang
cukup besar seperti yang terjadi pada tahun 1997/98 menimbulkan dampak yang sangat luas
disamping kerugian material kayu, non kayu dan hewan. Dampak negatif yang sampai menjadi isu
global adalah asap dari hasil pembakaran yang telah melintasi batas negara. Sisa pembakaran selain
menimbulkan kabut juga mencemari udara dan meningkatkan gas rumah kaca. Asap tebal dari
kebakaran hutan berdampak negatif karena dapat mengganggu kesehatan masyarakat terutama
gangguan saluran pernapasan. Selain itu asap tebal juga mengganggu transportasi khususnya
tranportasi udara disamping transportasi darat, sungai, danau, dan laut. Pada saat kebakaran hutan
yang cukup besar banyak kasus penerbangan terpaksa ditunda atau dibatalkan. Sementara pada
transportasi darat, sungai, danau dan laut terjadi beberapa kasus tabrakan atau kecelakaan yang
menyebabkan hilangnya nyawa dan harta benda. Kerugian karena terganggunya kesehatan
masyarakat, penundaan atau pembatalan penerbangan, dan kecelakaan transportasi di darat, dan di
air memang tidak bisa diperhitungkan secara tepat, tetapi dapat dipastikan cukup besar membebani
masyarakat dan pelaku bisnis. Dampak kebakaran hutan Indonesia berupa asap tersebut telah
melintasi batas negara terutama Singapura, Brunai Darussalam, Malaysia dan Thailand. Dampak
lainnya adalah kerusakan hutan setelah terjadi kebakaran dan hilangnya margasatwa. Hutan yang
terbakar berat akan sulit dipulihkan, karena struktur tanahnya mengalami kerusakan. Hilangnya
tumbuh-tumbuhan menyebabkan lahan terbuka, sehingga mudah tererosi, dan tidak dapat lagi
menahan banjir. Karena itu setelah hutan terbakar, sering muncul bencana banjir pada musim hujan
di berbagai daerah yang hutannya terbakar. Kerugian akibat banjir tersebut juga sulit diperhitungkan.
Analisis dampak kebakaran hutan masih dalam tahap pengembangan awal, pengetahuan tentang
ekosistem yang rumit belum berkembang dengan baik dan informasi berupa ambang kritis perubahan
ekologis berkaitan dengan kebakaran sangat terbatas, sehingga dampak kebakaran hutan sulit
diperhitungkan secara tepat. Meskipun demikian, berdasarkan perhitungan kasar yang telah diuraikan
diatas dapat disimpulkan bahwa kebakaran hutan menimbulkan dampak yang cukup besar bagi
masyarakat sekitarnya, bahkan dampak tersebut sampai ke negara tetangga. IV. Upaya Pencegahan
dan Penanggulangan Kebakaran Hutan
Sejak kebakaran hutan yang cukup besar yang terjadi
pada tahun 1982/83 yang kemudian diikuti rentetan kebakaran hutan beberapa tahun berikutnya,
sebenarnya telah dilaksanakan beberapa langkah, baik bersifat antisipatif (pencegahan) maupun
penanggulangannya. 4.1.
Upaya Pencegahan Upaya yang telah dilakukan untuk mencegah
kebakaran hutan dilakukan antara lain (Soemarsono, 1997): (a)
Memantapkan kelembagaan
dengan membentuk dengan membentuk Sub Direktorat Kebakaran Hutan dan Lembaga non
struktural berupa Pusdalkarhutnas, Pusdalkarhutda dan Satlak serta Brigade-brigade pemadam
kebakaran hutan di masing-masing HPH dan HTI; (b)
Melengkapi perangkat lunak berupa
pedoman dan petunjuk teknis pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan; (c)

Melengkapi perangkat keras berupa peralatan pencegah dan pemadam kebakaran hutan; (d)
Melakukan pelatihan pengendalian kebakaran hutan bagi aparat pemerintah, tenaga BUMN dan
perusahaan kehutanan serta masyarakat sekitar hutan; (e)
Kampanye dan penyuluhan melalui
berbagai Apel Siaga pengendalian kebakaran hutan; (f)
Pemberian pembekalan kepada
pengusaha (HPH, HTI, perkebunan dan Transmigrasi), Kanwil Dephut, dan jajaran Pemda oleh
Menteri Kehutanan dan Menteri Negara Lingkungan Hidup; (g)
Dalam setiap persetujuan
pelepasan kawasan hutan bagi pembangunan non kehutanan, selalu disyaratkan pembukaan hutan
tanpa bakar. 4.2.
Upaya Penanggulangan Disamping melakukan pencegahan, pemerintah juga
nelakukan penanggulangan melalui berbagai kegiatan antara lain (Soemarsono, 1997): (a)
Memberdayakan posko-posko kebakaran hutan di semua tingkat, serta melakukan pembinaan
mengenai hal-hal yang harus dilakukan selama siaga I dan II. (b)
Mobilitas semua sumberdaya
(manusia, peralatan & dana) di semua tingkatan, baik di jajaran Departemen Kehutanan maupun
instansi lainnya, maupun perusahaan-perusahaan. (c)
Meningkatkan koordinasi dengan instansi
terkait di tingkat pusat melalui PUSDALKARHUTNAS dan di tingkat daerah melalui
PUSDALKARHUTDA Tk I dan SATLAK kebakaran hutan dan lahan. (d)
Meminta bantuan luar
negeri untuk memadamkan kebakaran antara lain: pasukan BOMBA dari Malaysia untuk kebakaran di
Riau, Jambi, Sumsel dan Kalbar; Bantuan pesawat AT 130 dari Australia dan Herkulis dari USA untuk
kebakaran di Lampung; Bantuan masker, obat-obatan dan sebagainya dari negara-negara Asean,
Korea Selatan, Cina dan lain-lain. 4.3.
Peningkatan Upaya Pencegahan dan Penanggulangan
Upaya pencegahan dan penanggulangan yang telah dilakukan selama ini ternyata belum
memberikan hasil yang optimal dan kebakaran hutan masih terus terjadi pada setiap musim kemarau.
Kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain: (a)
Kemiskinan dan ketidak adilan bagi
masyarakat pinggiran atau dalam kawasan hutan. (b)
Kesadaran semua lapisan masyarakat
terhadap bahaya kebakaran masih rendah. (c)
Kemampuan aparatur pemerintah khususnya
untuk koordinasi, memberikan penyuluhan untuk kesadaran masyarakat, dan melakukan upaya
pemadaman kebakaran semak belukar dan hutan masih rendah. (d)
Upaya pendidikan baik
formal maupun informal untuk penanggulangan kebakaran hutan belum memadai. Hasil identifikasi
dari serentetan kebakaran hutan menunjukkan bahwa penyebab utama kebakaran hutan adalah
faktor manusia dan faktor yang memicu meluasnya areal kebakaran adalah kegiatan perladangan,
pembukaan HTI dan perkebunan serta konflik hukum adat dengan hukum negara, maka untuk
meningkatkan efektivitas dan optimasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan
perlu upaya penyelesaian masalah yang terkait dengan faktor-faktor tersebut. Di sisi lain belum
efektifnya penanggulangan kebakaran disebabkan oleh faktor kemiskinan dan ketidak adilan,
rendahnya kesadaran masyarakat, terbatasnya kemampuan aparat, dan minimnya fasilitas untuk
penanggulangan kebakaran, maka untuk mengoptimalkan upaya pencegahan dan penanggulangan
kebakaran hutan di masa depan antara lain: a.
Melakukan pembinaan dan penyuluhan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat pinggiran atau dalam kawasan hutan, sekaligus berupaya
untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan dan semak belukar.
b.
Memberikan penghargaan terhadap hukum adat sama seperti hukum negara, atau merevisi
hukum negara dengan mengadopsi hukum adat. c.
Peningkatan kemampuan sumberdaya aparat
pemerintah melalui pelatihan maupun pendidikan formal. Pembukaan program studi penanggulangan
kebakaran hutan merupakan alternatif yang bisa ditawarkan. d.
Melengkapi fasilitas untuk
menanggulagi kebakaran hutan, baik perangkat lunak maupun perangkat kerasnya. e.
Penerapan
sangsi hukum pada pelaku pelanggaran dibidang lingkungan khususnya yang memicu atau penyebab
langsung terjadinya kebakaran. V. Penutup Sebagai penutup tulisan ini dapat dikemukakan
beberapa hal sebagai berikut: 1.
Hutan merupakan sumberdaya alam yang tidak ternilai harganya
karena didalamnya terkandung keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah, sumber hasil
hutan kayu dan non-kayu, pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta kesuburan tanah, dan
sebagainya. Karena itu pemanfaatan dan perlindungannya diatur oleh Undang-undang dan peraturan
pemerintah. 2.
Kebakaran merupakan salah satu bentuk gangguan terhadap sumberdaya hutan
dan akhir-akhir ini makin sering terjadi. Kebakaran hutan menimbulkan kerugian yang sangat besar
dan dampaknya sangat luas, bahkan melintasi batas negara. Di sisi lain upaya pencegahan dan
pengendalian yang dilakukan selama ini masih belum memberikan hasil yang optimal. Oleh karena itu
perlu perbaikan secara menyeluruh, terutama yang terkait dengan kesejahteraan masyarakat
pinggiran atau dalam kawasan hutan. 3.
Berbagai upaya perbaikan yang perlu dilakukan antara
lain dibidang penyuluhan kepada masyarakat khususnya yang berkaitan dengan faktor-faktor
penyebab kebakaran hutan, peningkatan kemampuan aparatur pemerintah terutama dari Departemen
Kehutanan, peningkatan fasilitas untuk mencegah dan menanggulagi kebakaran hutan, pembenahan
bidang hukum dan penerapan sangsi secara tegas. Daftar Pustaka Danny, W., 2001. Interaksi Ekologi
dan Sosial Ekonomi Dengan Kebakaran di Hutan Propinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Paper

Presentasi pada Pusdiklat Kehutanan. Bogor. 33 hal. Direktotar Jenderal Perlindungan Hutan dan
Konservasi Alam. 2003. Kebakaran Hutan Menurut Fungsi Hutan, Lima Tahun Terakhir. Direktotar
Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Jakarta. Dove, M.R., 1988. Sistem Perladangan
di Indonesia. Suatu studi-kasus dari Kalimantan Barat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
510 hal. Soemarsono, 1997. Kebakaran Lahan, Semak Belukar dan Hutan di Indonesia (Penyebab,
Upaya dan Perspektif Upaya di Masa Depan). Prosiding Simposium: Dampak Kebakaran Hutan
Terhadap Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Tanggal 16 Desember 1997 di Yogyakarta. hal:1-14.
Soeriaatmadja, R.E. 1997. Dampak Kebakaran Hutan Serta Daya Tanggap Pengelolaan Lingkungan
Hidup dan Sumberdaya Alam Terhadapnya. Prosiding Simposium: Dampak Kebakaran Hutan
Terhadap Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Tanggal 16 Desember 1997 di Yogyakarta. hal: 36-39.
Schweithelm, J. dan D. Glover, 1999. Penyebab dan Dampak Kebakaran. dalam Mahalnya Harga
Sebuah Bencana: Kerugian Lingkungan Akibat Kebakaran dan Asap di Indonesia. Editor: D. Glover &
T. Jessup Saharjo dan Husaeni, 1998. East Kalimantan Burns. Wildfire 7(7):19-21. Tacconi, T., 2003.
Kebakaran Hutan di Indonesia, Penyebab, biaya dan implikasi kebijakan. Center for International
Forestry Research (CIFOR), Bogor, Indonesia. 22 hal
Sumber: http://forester-untad.blogspot.co.id/2013/01/makalah-kebakaran-hutan-dan-cara.html
Konten adalah milik dan hak cipta forester untad blog