Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Perkembangan, perubahan, dan ketidakpastian mewarnai kehidupan
lingkungan bisnis. Dibutuhkan suatu sistem informasi yang mampu menangkap,
menciptakan, dan mengelola informasi internal maupun eksternal secara dini,
sehingga manajemen memiliki pengetahuan untuk mendeteksi secara efektif
kapan perubahan kondisi membutuhkan tanggapan strategis. Penggunaan sistem
informasi diharapkan dapat memberikan manfaat yang besar dalam dunia bisnis
yang sangat kompetitif tersebut. Tidak mengherankan jika keputusan atas
investasi sistem informasi menjadi suatu hal yang penting dalam organisasi dan
merupakan faktor penentu kesuksesan perusahaan.
Pengembangan sistem informasi menjadi suatu hal yang sangat penting.
Perkembangan dunia usaha saat ini sudah berkembang pesat di bidang industri
dagang maupun jasa telah menimbulkan berbagai macam masalah yang dihadapi
dan harus dipecahkan oleh pihak manajemen. Dalam hal ini manajemen dituntut
mampu mengelola serta menjalankan perusahaan seefektif mungkin agar dapat
bertahan dalam persaingan dunia usaha, lebih dalam menghadapi era globalisasi
dewasa ini.
Kesuksesan pengembangan sistem informasi sangat tergantung pada
kesuksesan harapan antara sistem analisis, pemakai (user), sponsor, dan customer.
Pengembangan

sistem

informasi

memerlukan

suatu

perencanaan

dan

implementasi yang hati-hati untuk menghindari adanya penolakan terhadap sistem

yang dikembangkan, karena perubahan dari sistem manual ke sistem


komputerisasi tidak hanya menyangkut perubahan teknologi tetapi juga perubahan
perilaku dan organisasional.
Dukungan daripada manajemen puncak memegang peranan yang sangat
penting dalam setiap tahap siklus pengembangan sistem dan keberhasilan
implementasi Sistem Informasi Akuntansi. Dukungan tersebut penting tidak hanya
untuk alokasi sumber daya yang diperlukan untuk pengembangan tersebut, namun
yang terpenting memberikan strong signal bagi karyawan bahwa suatu perubahan
yang dilakukan merupakan sesuatu yang penting, Raghunathan (1998), dikutip
Komara (2005). Kemampuan teknik personal terhadap Sistem Informasi
Akuntansi berpengaruh kepada kualitas desain dan kinerja Sistem Informasi
Akuntansi, Huff dan Munro (1985), dikutip Komara (2005-839). Keterlibatan
pemakai pada tiap tahap pengembangan sistem informasi tentunya akan
berpengaruh pada tingkat kepuasan pemakai atas sistem yang dikembangkan, Ives
dan Olson (1984, dikutip Komara (2005-837).
Masih banyak penyelewengan yang terjadi pada Bank Umum sehingga
dapat mempengaruhi kinerja SIA dalam menghasilkan informasi keuangan.
Dengan adanya penyelewengan maka informasi keuangan yang dihasilkan tidak
akurat. Menghasilkan informasi keuangan yang akurat dan berkualitas, diperlukan
juga faktor-faktor yang mendukungnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja
SIA juga dapat diprediksikan faktor-faktor tersebut yang menyebabkan
penyelewengan informasi keuangan dan faktor-faktor yang paling kuat
mempengaruhi kinerja SIA, maka hal tersebut yang paling mudah digunakan
untuk membantu memanipulasi informasi keuangan. Sistem informasi dalam bank

sangat penting, peneliti ingin mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat
mempengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi di Bank Umum yang ada di
Kota Banda Aceh agar menghasilkan informasi yang relevan, efektif dan berguna
bagi bank dalam pengambilan keputusan yang lebih baik.
Perusahaan dalam mengikuti dan mengembangkan Sistem Informasi
Akuntansi harus mengusahakan keberadaan program pelatihan dan pendidikan
bagi pemakai Sistem Informasi Akuntansi. Karena dengan pelatihan dan
pendidikan, pengguna bisa mendapatkan kemampuan untuk mengidentifikasikan
persyaratan informasi mereka dan kesungguhan serta keterbatasan sistem
informasi dan kemampuan ini dapat mengarah pada peningkatan kinerja,
Montazemi (1988), dikutip Komara (2005).
Dengan adanya Sistem Informasi Akuntansi tersebut diharapkan
informasi yang dihasilkan lebih berkualitas sesuai dengan kebutuhan dari para
pemakai informasi. Serta mampu meningkatkan kinerja Sistem Informasi
Akuntansi, dimana kinerja Sistem Informasi Akuntansi dapat diukur dengan
kepuasan pemakai atas pemakaian Sistem Informasi Akuntansi, Widodo (2005).
Kinerja sistem informasi dikatakan baik jika informasi yang diterima
memenuhi harapan pemakai informasi dan mampu memberikan kepuasan bagi
pemakainya. Kinerja tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang meliputi
keterlibatan pemakai dalam pengembangan Sistem Informasi Akuntansi,
kemampuan teknik personal Sistem Informasi Akuntansi, dukungan manajemen
puncak

serta

keberadaan

program

pelatihan

Widyaningrum (2007).

dan

pendidikan

pemakai,

Almilia dan Briliantien (2007) yang melakukan penelitian pada Bank


Umum Pemerintah yang ada di wilayah Surabaya dan Sidoarjo menemukan
bahwa hanya dukungan manajemen puncak yang berpengaruh signifikan terhadap
kinerja sistem informasi akuntansi sedangkan formalisasi pengembangan sistem
informasi, keterlibatan pemakai dalam pengembangan sistem, kemampuan teknik
personal sistem informasi, ukuran organisasi, dan lokasi departemen sistem
informasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja sistem informasi
akuntansi. Kusuma, Kang Cindy (2010) yang melakukan penelitian pada 57
koperasi di wilayah Batu menyimpulkan bahwa kinerja sistem informasi
akuntansi koperasi wilayah Batu dipengaruhi oleh partisipasi pemakai sistem
informasi, kemampuan pemakai sistem informasi, pelatihan dan pendidikan
pemakai sistem informasi.
Penelitian

ini

bertujuan

untuk

mengetahui

faktor-faktor

yang

mempengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi pada Bank Umum di wilayah


Banda Aceh. Penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu dalam 2 (dua) hal,
yaitu (1) Perbedaan pada obyek penelitian. Kedua, penelitian ini mengembangkan
penelitian yang lain dengan menambahkan dua variabel independen, yaitu konfilk
afektif dan konflik kognitif yang diduga tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap kinerja sistem informasi akuntansi.
Berdasarkan uraian yang dipaparkan di atas, peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul Faktor Faktor Yang Mempengaruhi
Kinerja Sistem Informasi Akuntansi Pada Bank Umum Di Kota Banda
Aceh.
1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka yang


menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
a. Apakah faktor keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan SIA,
dukungan manajemen puncak, formalisasi pengembangan sistem, program
pendidikan dan pelatihan pemakai, ukuran organisasi, kemampuan teknik
personal, konlik kognitif dan konflik afektif berpengaruh terhadap kinerja
b.

sistem informasi akuntansi?


Apakah keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan sistem informasi

c.

akuntansi berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi akuntansi?


Apakah dukungan manajemen puncak berpengaruh terhadap kinerja sistem

d.

informasi akuntansi?
Apakah formalisasi pengembangan sistem berpengaruh terhadap kinerja

e.

sistem informasi akuntansi?


Apakah program pendidikan dan pelatihan pemakai berpengaruh terhadap

f.

kinerja sistem informasi akuntansi?


Apakah ukuran organisasi berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi

g.

akuntansi?
Apakah kemampuan teknik personal berpengaruh terhadap kinerja sistem

h.

informasi akuntansi?
Apakah konflik kognitif berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi

i.

akuntansi?
Apakah konflik afektif berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi

akuntansi?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan perumusan masalah yang telah
diuraikan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui, menganalisis, menguji dan memberikan bukti empiris tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi.
1.4. Kegunaan Hasil Penelitian
1.4.1 Kegunaan Praktis (Operasional)
1) Bagi perusahaan

Dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi perusahaaan


mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja sistem informasi
akuntansi sehingga dapat digunakan oleh manajer perusahaan dalam
pengambilan keputusan.
1.4.2 Kegunaan Akademis (Teoritis)
1) Bagi Penulis
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan penulis
mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja sistem informasi
akuntansi. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi pengalaman yang
sangat berarti bagi penulis dalam merumuskan, menganalisis, dan
meneliti masalah dengan ilmu yang telah didapat di perguruan tinggi.

2) Bagi Mahasiswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan untuk
menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi.
3) Bagi Penelitian Selanjutnya
Bagi penelitian selanjutnya yang ingin mengembangkan penelitan ini,
kelemahan-kelemahan atau keterbatasan-keterbatasan yang ditemukan
dalam penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan atau peluang
bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian ini.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN,
DAN HIPOTESIS
2.1. KAJIAN PUSTAKA
2.1.1 Sistem Informasi Akuntansi
Menurut (Mulyadi, 2010:5) dalam bukunya yang berjudul Sistem
Akuntansi menyatakan bahwa Sistem adalah jaringan prosedur yang dibuat
menurut pola yang terpadu untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pokok
perusahaan sedangkan prosedur adalah suatu urutan kegiatan klerikal, biasanya
melibatkan beberapa orang dalam satu departemen atau lebih yang dibuat untuk
menjamin penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi secara
berulang-ulang.
Informasi adalah hasil pengolahan data yang memberikan arti dan
manfaat. Jadi, informasi merupakan hasil dari pengelolaan data, akan tetapi tidak
semua hasil dari pengelolaan tersebut bisa menjadi informasi, hasil pengelolaan
data yang tidak memberikan makna atau arti serta tidak bermanfaat bagi seseorang
bukanlah merupakan informasi bagi orang tersebut ( Susanto, 2008:38).
Pengertian akuntansi yang dikemukakan oleh James M. Reeve, et al
(2009:4) menyatakan bahwa: suatu sistem informasi yang menyediakan laporan
untuk para pemangku kepentingan mengenai aktivitas dan kondisi ekonomi
perusahaan.
Sistem informasi akuntansi didefinisikan oleh Bodnar dan Hopwood
(2010:1) sebagai An Accounting Information System (AIS) is a collection of
resources, such as people and equipment, designed to transform financial and
other data into information yang artinya, sistem informasi akuntansi adalah
kumpulan sumber daya, seperti orang dan peralatan, yang dirancang untuk
mengubah data keuangan dan data lainnya menjadi informasi. Informasi ini
kemudian dikomunikasikan kepada berbagai pengambil keputusan. Sistem

informasi akuntansi melakukan transformasi ini untuk menentukan sistem dasar


mereka manual atau komputerisasi secara menyeluruh. Menurut Mulyadi
(2001:3), sistem informasi akuntansi adalah organisasi formulir, catatan, dan
laporan yang dikoordinasi sedemikian rupa untuk menyediakan informasi
keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan
perusahaan. Sedangkan sistem informasi akuntansi menurut Romney dan
Steinbart (2012:30) adalah sistem yang mengumpulkan, merekam, menyimpan,
dan memproses data akuntansi dan data lainnya untuk menghasilkan informasi
bagi para pengambil keputusan.
2.1.2 Sistem Informasi Akuntansi Perbankan
Definisi bank menurut PSAK No. 31 tahun 2004 adalah lembaga yang
berperan sebagai perantara keuangan antara pihak yang memiliki kelebihan dana
dengan pihak yang memerlukan dana, serta sebagai lembaga yang berfungsi untuk
memperlancar lalu lintas pembayaran.
Menurut Kasmir (2010), bank dibagi menjadi beberapa jenis dilihat dari
segi fungsinya :
1. Bank Sentral
Fungsi bank sentral ini diatur oleh undang-undang nomor 23 tahun 1990
tentang Bank Indonesia. Tujuan Bank Indonesia seperti yang tertuang
dalam undang-undang RI nomor 23 tahun 1999 bab III pasal 7 adalah
2.

untuk mencapai dan memelihara kestabilan rupiah.


Bank Umum
Pengertian bank umum menurut Undang-undang nomor 10 tahun 1998
adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan
atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa

3.

dalam lalu lintas pembayaran.


Bank Pengkreditan Rakyat

Pengertian BPR menurut Undang-undang nomor 10 tahun 1998 adalah


bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau
berdasarkan prinsip syariah dalam kegiatannya tidak memberikan jasa
dalam lalu lintas pembayaran. 4
Belakangan ini, dalam dunia perbankan semakin banyaknya transaksi yang
beragam jenisnya yang menuntut kecermatan dan tepatnya penyajian data
transaksi baik kepada pihak intern maupun pihak ekstern, sehingga diperlukan
suatu sistem informasi termasuk sistem informasi akuntansi yang efektif dan tepat
untuk memenuhi kebutuhan informasi. Selain itu, kebijakan moneter pemerintah
menekankan kebutuhan-kebutuhan khusus untuk mengidentifikasikan secara rinci
baik sumber-sumber dana bank maupun alat likuiditas bank, maka dibutuhkan
suatu sistem informasi akuntansi. Sistem informasi akuntansi di bank akan
menghasilkan laporan keuangan yang dibutuhkan untuk dipakai oleh para
pemakai informasi dalam membuat sebuah keputusan (Prabowo, 2013).
2.1.3 Kinerja Sistem Informasi Akuntansi
Kinerja merupakan kualitas dan kuantitas dari suatu hasil kerja (output)
individu maupun kelompok dalam suatu aktivitas tertentu yang diakibatkan oleh
kemampuan alami atau kemampuan yang diperoleh dari proses belajar serta
keinginan untuk berprestasi, sedangkan kinerja sistem informasi akuntansi itu
sendiri adalah kualitas dan kuantitas dari kumpulan sumberdaya baik manusia
maupun peralatan yang diatur untuk mengubah data akuntansi menjadi sebuah
informasi akuntansi untuk pengambilan keputusan (Irawati, 2011). Kinerja sistem
informasi dikatakan baik jika informasi yang diterima memenuhi harapan
pemakai informasi dan mampu memberikan kepuasan bagi pemakainya (Ilat
Et,al : 2008).

2.1.4 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Sistem Informasi


a.

Akuntansi
Keterlibatan Pemakai Dalam Pengembangan Sistem
Pemakai sistem informasi akuntansi yang dilibatkan dalam proses

pengembangan sistem informasi akuntansi akan menimbulkan keinginan dari


pemakai untuk menggunakan SIA sehingga pemakai akan merasa lebih memiliki
sistem informasi yang digunakan sehingga kinerja sistem informasi akuntansi dari
sistem yang digunakan menjadi meningkat. Pemakai sistem informasi akuntansi
dinilai sebagai orang yang paham mengenai seluk beluk sistem informasi
akuntansi yang digunakannya. Berbagai kendala teknis maupun non teknis pasti
dialami oleh pemakai sistem. Oleh sebab itu pemakai harus dilibatkan dalam
proses pengembangan suatu sistem. Partisipasi pemakai untuk mencapai
keberhasilan sistem diharapkan akan meningkatkan komitmen dan keterlibatan
pemakai dalam pengembangan sistem, sehingga pemakai dapat menerima dan
menggunakan sistem informasi yang dikembangkan dan akhirnya dapat
meningkatkan kepuasan pemakai.
Keterlibatan pemakai yang semakin sering akan meningkatkan kinerja
Sistem Informasi Akuntansi, dikarenakan adanya hubungan yang positif antara
keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan sistem informasi dalam kinerja
system informasi akuntansi (Almilia dan Briliantien, 2006).
b.

Program pelatihan dan pendidikan pemakai


Menurut Achmad (1982:4), Pendidikan itu merupakan kegiatan proses belajar

mengajar yang sistem pendidikannya senantiasa berbeda dan berubah-ubah, dari


masyarakat yang satu kepada masyarakat yang lain. Pendapat lain tentang pengertian

10

pendidikan dikemukakan oleh Sahertian (2000:1) adalah usaha sadar yang sengaja
dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Nitisemito (1996:86) menyatakan bahwa pemberian pelatihan ditujukan


agar para karyawan dapat menguasai pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya
sehingga terwujudlah efisiensi dan efiktifitas dalam pelaksanaan tugasnya.
Menurut Hariandja (2007:169), pelatihan lebih ditekankan pada peningkatan
kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang spesifik pada saat ini.
Pelatihan dan pendidikan disini adalah pelatihan yang diselenggarakan
oleh pihak perusahaan untuk memperkenalkan sistem kepada karyawannya.
Dengan pelatihan dan pendidikan, pengguna bisa mendapatkan kemampuan untuk
mengidentifikasi

persyaratan

informasi

mereka

dan

kesungguhan

serta

keterbatasan SI dan kemampuan ini dapat mengarah pada peningkatan kinerja


(Montazemi,1998 dalam Komara, 2004).

c.

Dukungan Manajemen Puncak


Manajemen puncak juga memiliki kekuatan dan pengaruh untuk

mensosialisasikan

pengembangan

sistem

informasi

yang

memungkinkan

pengguna untuk berpartisipasi dalam pengembangan sistem dan akan berpengaruh


pula pada kepuasan pengguna. Dukungan yang diberikan manajemen puncak
kepada sistem informasi akuntansi merupakan faktor yang penting dalam
mencapai kesuksesan sistem informasi yang berkaitan dengan aktivitas. Bentuk
bantuan yang diberikan oleh pemimpin dapat berupa dukungan pimpinan kepada
bawahan. Bila manajemen puncak memberikan dukungan penuh dalam
pengembangan sistem informasi dan dukungan tersebut dapat diterima oleh

11

pengguna informasi, maka akan memberikan kepuasan terhadap pengguna


informasi tersebut. (Fitri, 2012).
Pimpinan bagian merupakan orang yang paling berpengaruh dalam hal
pengambilan keputusan. Partisipasi pemakai dalam pengembangan sistem akan
meningkat dengan adanya dukungan dari pimpinan bagian. Dukungan tersebut
penting, tidak hanya alokasi sumber daya yang diperlukan untuk pengembangan
tersebut, namun yang terpenting memberikan strong signal (sinyal kuat) bagi
karyawan bahwa suatu perubahan yang dilakukan merupakan sesuatu yang
penting (Nopitasari, 2012).

d.

Kemampuan Teknik Personal Sistem Informasi Akuntansi


Kemampuan teknik pemakai yang baik akan mendorong pemakai untuk

menggunakan sistem informasi akuntansi sehingga kinerja sistem informasi


akuntansi lebih tinggi. Pemakai sistem informasi yang memiliki kemampuan
teknik baik yang diperolehnya dari pendidikan atau dari pengalaman
menggunakan sistem akan meningkatkan kepuasan dalam menggunakan sistem
informasi akuntansi, sehingga akan terus menggunakannya dalam membantu
menyelesaikan pekerjaannya karena pemakai memiliki pengetahuan dan
kemampuan memadai.
Fishbein dan Ajzen (1975) dalam Jogiyanto (2007) mendefinisikan
keterlibatan pemakai sebagai kepercayaan dan menunjukkan sejauh mana
seseorang percaya bahwa suatu sistem memiliki dua karakteristik, yaitu
kepentingan dan relavansi personal. Dalam keterlibatan pemakai, suatu sistem
akan dihubungkan pada dua atribut, yaitu kepentingan dan relavansi personal.
Dengan semakin banyaknya para pemakai yang ikut terlibat dalam proses

12

pengembangan sistem, maka akan meningkatkan kinerja dari sistem informasi


akuntansi tersebut. Hal ini dikarenakan setiap personel yang terlibat dalam proses
pengembangan sistem akan melaksanakan perannya dengan penuh tanggung
jawab dan secara terus menerus akan selalu melakukan perubahan dalam proses
pengembangan sistem.
e.

Formalisasi Pengembangan Sistem Infomasi Akuntansi


Formalisasi pengembangan sistem informasi berarti pemberitahuan akan

tahap-tahap dari proses pengembangan sistem yang tercatat secara sistematik, dan
secara aktif melakukan penyesuaian terhadap catatan (Almilia dan Briliantien,
2007). Dalam pengembangan sistem informasi, memerlukan adanya formalisasi
untuk meningkatkan kinerja sistem informasi akuntansi. Fung Jen (2002)
mengemukakan bahwa semakin tinggi tingkat formalisasi pengembangan sistem
informasi di perusahaan akan meningkatkan kinerja sistem informasi akuntansi.
f.

Ukuran Organisasi
Dalam suatu organisasi yang berukuran besar, tentunya memiliki sistem

informasi yang lebih baik jika dibandingkan dengan organisasi yang berukuran
kecil. Semakin besar ukuran suatu organisasi, maka akan memiliki karyawan yang
lebih banyak untuk pengoperasian sistem informasi akuntansi yang pada
gilirannya akan dapat meningkatkan kinerja sistem informasi suatu perusahaan.
Fung Jen (2002) mengemukakan bahwa semakin besar ukuran organisasi akan
meningkatkan kinerja sistem informasi akuntansi.
Akses terhadap sumber daya, skala ekonomi dan aliansi rangkaian nilai
secara umum berasosiasi dengan perusahaan besar dan akan membatasi
perusahaan kecil untuk berkompetisi dengan inovator teknologi informasi yang
berskala besar (Kettinger et al, 1994 dalam Bandi, 2006).

13

g.

Konflik Kognitif
Konflik kognitif dapat bermanfaat untuk memecahkan masalah dan

mendorong ke arah perbaikan pengambilan keputusan. Manfaat yang dapat


diperoleh dari konflik kognitif berasal dari potensinya untuk menyediakan
kesempatan untuk interaksi dengan dialectically style, berdebat, mempertahankan
argumen yang dimiliki melawan argumen lain dalam organisasi (Mitroff dan
Emshoff, 1979; Janis, 1982; Schweiger dan Sandberg, 1989; Chenhall, 2004
dalam Latifah dan Sabeni, 2007).

h.

Konflik Afektif
Konflik afektif cenderung melibatkan persepsi yang mengancam posisi

seseorang di dalam suatu kelompok, pertikaian, frustasi dan friksi antara pribadi
seseorang dengan 6 nilai dan norma yang ada (Petersen, 1983; Ross, 1989 dan
Amason, 1996 dalam Latifah dan Sabeni, 2007). Konsekuensi yang tidak
diinginkan dari konflik afektif di antaranya memperlambat komunikasi dan proses
kognitif, mengurangi kekohesifan kelompok dalam menerima ide baru, dan usaha
saling menjatuhkan di antara para manajer (Robbins, 1989 dan Pelled, 1996 dalam
Latifah dan Sabeni, 2007).
2.1.5 Penelitian Terdahulu
Terdapat beberapa penelitian sebelumya yang berkaitan dengan penelitian
ini yaitu pengaruh kapabilitas personal dan dukungan manajemen puncak
terhadap kinerja sistem informasi akuntansi pt. tirta mumbul jaya abadi singaraja
yang dilakukan oleh Biwi, Arzia et. al (2015), menyimpulkan bahwa hasil
penelitian yang dilakukan yaitu kapabilitas personal berpengaruh terhadap kinerja

14

sistem informasi akuntansi, dan dukungan manajemen puncak berpengaruh


terhadap kinerja sistem informasi akuntansi.
Penelitian yang dilakukan oleh Raflis, Riri Yulianty (2013) dengan judul
pengaruh pelatihan dan dukungan manajemen puncak terhadap penerapan sistem
informasi akuntansi (studi empiris pada perusahaan bumn di kota padang) hasil
penelitian ini didapat bahwa Pelatihan dan dukungan manajemen puncak secara
bersama-sama atau simultan berpengaruh signifikan positif terhadap penerapan
Sistem Informasi Akuntansi.
Penelitian yang dilakukan oleh Dewi, Sang Ayu Nyoman Trisna et al
(2013) dengan judul pengaruh dukungan manajemen puncak, kualitas sistem,
kualitas

informasi,

pengguna

aktual

dan

kepuasan

pengguna

terhadap

implementasi sistem informasi keuangan daerah di kota denpasar hasil penelitian


ini didapat bahwa dukungan manajemen puncak berperan pada implementasi
sistem informasi keuangan daerah, kualitas sistem tidak berpengaruh pada
implementasi sistem informasi keuangan daerah,kualitas informasi berpengaruh
pada implementasi sistem informasi keuangan daerah, pengguna aktual tidak
berpengaruh pada implementasi sistem informasi keuangan daerah, kepuasan
pengguna berpengaruh pada implementasi sistem informasi keuangan daerah.
Prabowo, galang rahadian et al (2014) dalam penelitian mereka dengan
judul faktor faktor yang mempengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi
(studi

kasus

pada

lingkungan

pemerintahan

kabupaten

temanggung)

menyimpulkan bahwa dari penelitian yang dilakukan, Tidak berpengaruh positif


dan signifikan antara keterlibatan pemakai dalam pengembangan SIA terhadap

15

kinerja sistem informasi akuntansi secara individual. Tidak berpengaruh positif


dan signifikan antara kemampuan teknik personal terhadap kinerja sistem
informasi akuntansi secara individual. Tidak berpengaruh positif dan signifikan
antara dukungan pimpinan bagian terhadap kinerja sistem informasi akuntansi
secara individual. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara program
pelatihan dan pendidikan pemakai terhadap kinerja sistem informasi akuntansi
secara individual.
Penelitian yang dilakukan Wicaksono, Purbo Adi ( 2012), dengan judul
Analisis pengaruh partisipasi, pelatihan dan keahlian pemakai terhadapkinerja
sistem informasi akuntansi (Studi Survei Pada Koperasi Di Kabupaten Magetan)
hasil penelitian ini di dapat bahwa partisipasi pemakai berpengaruh kinerja sistem
informasi,pelatihan pemakai berpengaruh terhadap kinerja sisteminformasi
akuntansi, keahlian pemakaiberpengaruh terhadap kinerja sistem informasi
akuntansi.
Penelitian yang dilakukan oleh Santa,Puput Gio (2014), dengan judul
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi
(studi kasus pada bank jateng di kabupaten sragen) hasil penelitian ini didapat
bahwa keterlibatan pemakai sistem informasi akuntansi berpengaruh signifikan
positif terhadap kinerja sistem informasi akuntansi, program pelatihan dan
pendidikan berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja sistem informasi
akuntansi, kemampuan pengguna sistem informasi akuntansi berpengaruh
signifikan positif terhadap kinerja sistem informasi akuntansi, dukungan
manajemen puncak berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja sistem

16

informasi akuntansi, formalisasi pengembangan sistem informasi akuntansi


berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja sistem informasi akuntansi.
Penelitian yang dilakukan oleh Gustiyan,Hary (2014) dengan judul
analisis faktor - faktor yang mepengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi
pada bank perkreditan rakyat (bpr) ditanjung pinang dengan hasil penelitian
Secara parsial dengan nilai signifikansi 5% hanya keterlibatan pemakai dalam
pengembangan system informasi akuntansi dan program pelatihan dan pendidikan
pemakai yang berpengaruh terhadap kinerja sisitem informasi akuntansi.
Sedangkan kemampuan teknik personal sistem informasi, Dukungan manajemen
puncak, formalisasi pengembangan system informasi dan kualitas informasi tidak
berpengaruh trhadap kinerja system informasi akuntansi. Secara simultan dengan
tingkat signifikansi 5% keterlibatan pemakai dalam pengembangan sistem,
kemampuan teknik personal sistem informasi, Dukungan manajemen puncak,
formalisasi pengembangan system informasi dan program pelatihan dan
pendidikan pemakai dan kualitas informasi berpengaruh terhadap kinerja system
infomasi akuntansi.
Tabel 2.1
Hasil Peneltian Terdahulu
No
.
1

Penelitian dan

Judul Penelitian

Hasil Penelitian

Tahun Penelitian
Biwi,Arzia. et

pengaruh kapabilitas

kapabilitas personal

al (2015)

personal dan

berpengaruh terhadap

dukungan manajemen

kinerja sistem informasi

17

puncak terhadap

akuntansi, dan dukungan

kinerja sistem

manajemen puncak

informasi akuntansi

berpengaruh terhadap

pt. tirta mumbul jaya

kinerja sistem informasi

Raflis, Riri

abadi singaraja
pengaruh pelatihan

akuntansi
Pelatihan dan dukungan

Yulianty (2013)

dan dukungan

manajemen puncak secara

manajemen puncak

bersama-sama atau

terhadap penerapan

simultan berpengaruh

sistem informasi

signifikan positif terhadap

akuntansi (studi

penerapan Sistem

empiris pada

Informasi Akuntansi.

perusahaan bumn di
3

Dewi, Sang Ayu

kota padang)
pengaruh dukungan

Dukungan manajemen

Nyoman Trisna

manajemen puncak,

puncak berperan pada

et al (2013)

kualitas sistem,

implementasi sistem

kualitas informasi,

informasi keuangan

pengguna aktual dan

daerah, Kualitas sistem

kepuasan pengguna

tidak berpengaruh pada

terhadap implementasi implementasi sistem


sistem informasi

informasi keuangan

keuangan daerah di

daerah,Kualitas informasi

kota denpasar

berpengaruh pada
implementasi sistem

18

informasi keuangan
daerah, Pengguna aktual
tidak berpengaruh pada
implementasi sistem
informasi keuangan
daerah, Kepuasan
pengguna berpengaruh
pada implementasi sistem
informasi keuangan
daerah.
4

Prabowo, galang faktor faktor yang

Tidak berpengaruh positif

rahadian et al

mempengaruhi kinerja

dan signifikan antara

(2014)

sistem informasi

keterlibatan pemakai

akuntansi (studi kasus

dalam pengembangan SIA

pada lingkungan

terhadap kinerja sistem

pemerintahan

informasi akuntansi secara

kabupaten

individual. Tidak

temanggung)

berpengaruh positif dan


signifikan antara
kemampuan teknik
personal terhadap kinerja
sistem informasi akuntansi
secara individual. Tidak
berpengaruh positif dan

19

signifikan antara dukungan


pimpinan bagian terhadap
kinerja sistem informasi
akuntansi secara
individual. Terdapat
pengaruh positif dan
signifikan antara program
pelatihan dan pendidikan
pemakai terhadap kinerja
sistem informasi akuntansi
secara individual.
5

Wicaksono,

Analisis pengaruh

partisipasi pemakai

Purbo Adi

partisipasi, pelatihan

berpengaruh kinerja sistem

(2012)

dan keahlian pemakai

informasi,pelatihan

terhadapkinerja sistem

pemakai berpengaruh

informasi akuntansi

terhadap kinerja sistem

(Studi Survei Pada

informasi akuntansi,

Koperasi Di

keahlian pemakai

Kabupaten Magetan)

berpengaruh terhadap
kinerja sistem informasi
akuntansi.

20

Santa,Puput Gio

Analisis faktor-faktor

keterlibatan pemakai

(2014)

yang mempengaruhi

sistem informasi akuntansi

kinerja sistem

berpengaruh signifikan

informasi akuntansi

positif terhadap kinerja

(studi kasus pada bank sistem informasi


jateng di kabupaten

akuntansi, program

sragen

pelatihan dan pendidikan


berpengaruh signifikan
positif terhadap kinerja
sistem informasi
akuntansi, kemampuan
pengguna sistem informasi
akuntansi berpengaruh
signifikan positif
terhadap kinerja sistem
informasi akuntansi,
dukungan manajemen
puncak berpengaruh
signifikan positif terhadap
kinerja sistem informasi
akuntansi, formalisasi
pengembangan sistem
informasi akuntansi
berpengaruh signifikan

21

positif terhadap kinerja


sistem informasi
akuntansi.

Gustiyan,Hary
(2014)

analisis faktor - faktor

Secara parsial dengan nilai

yang mepengaruhi

signifikansi 5% hanya

kinerja sistem

keterlibatan pemakai

informasi akuntansi

dalam pengembangan

pada bank perkreditan

system informasi

rakyat (BPR)

akuntansi dan program

ditanjung pinang

pelatihan dan pendidikan


pemakai yang berpengaruh
terhadap kinerja sisitem
informasi akuntansi.
Sedangkan kemampuan
teknik personal sistem
informasi, Dukungan
manajemen puncak,
formalisasi pengembangan
system informasi dan
kualitas informasi tidak
berpengaruh trhadap
kinerja system informasi

22

akuntansi. Secara simultan


dengan tingkat signifikansi
5% keterlibatan pemakai
dalam pengembangan
sistem, kemampuan teknik
personal sistem informasi,
Dukungan manajemen
puncak, formalisasi
pengembangan system
informasi dan program
pelatihan dan pendidikan
pemakai dan kualitas
informasi berpengaruh
terhadap kinerja system
infomasi akuntansi.

23

2.2. KERANGKA PEMIKIRAN


2.2.1. Pengaruh Keterlibatan Pemakai Dalam Pengembangan Sistem
terhadap kinerja Sistem Informasi Akuntansi
Keterlibatan

pemakai

dalam

pengembangan

sistem

sangat

berpengaruh terhadap kinerja Sistem Informasi Akuntansi. Sebagaimana yang


telah diketahui bahwa keterlibatan pemakai adalah salah satu unsur penting dalam
menggunakan sistem informasi akuntansi yang biasanya dikenal dengan user.
Kinerja sistem tanpa adanya keterlibatan user tidak akan berjalan dengan baik.
Begitu pun dengan kinerja sistem informasi akuntansi, sehingga user atau
pemakai sangat penting dalam pengembangan sistem.
Thjai Fung Jen (2002) Berpendapat bahwa keterlibatan pemakai yang
semakin sering akan meningkatkan kinerja SIA dikarenakan adanya hubungan
yang positif antara keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan sistem
Kinerja SIA.

2.2.2. Pengaruh program pelatihan dan pendidikan pemakai terhadap


kinerja Sistem Informasi Akuntansi
Program pelatihan dan pendidikan bagi pemakai merupakan salah satu
cara yang digunakan untuk mengembangkan skill dan kemampuan para pemakai
dalam mengoperasikan sistem informasi akuntansi. Semakin berkualitasnya
program pelatihan dan pendidikan yang diberikan kepada pemakai semakin baik
kinerja sistem informasi akuntansi.
Riset Holmes dan Nicholls (1988) menunjukkan bahwa pelatihan formal
berpengaruh terhadap penyiapan informasi akuntansi.

24

2.2.3. Pengaruh dukungan manajemen puncak terhadap kinerja sistem


informasi akuntansi
Dengan adanya dukungan manajemen puncak yang besar terhadap
pengoperasian Sistem informasi akuntansi akan meningkatkan kinerja Sistem
Informasi Akuntansi.
Thjai Fung Jen (2002) dalam Almilia dan Briliantien (2007) berpendapat
bahwa semakin besar yang diberikan manajemen puncak akan meningkatkan
kinerja SIA dikarenakan adanya hubungan yang positif antara dukungan
menejemen puncak dalam proses pengembangan dan pengoprasian SIA dengan
kinerja SIA.
2.2.4. Pengaruh teknik personal sistem informasi terhadap kinerja sistem
informasi akuntansi
Teknik personal sistem informasi yang dimiliki oleh setiap orang sangat
penting dalam penerapan sistem informasi akuntansi. Sehingga dengan adanya
kemampuan teknik personal pemakai dapat membuat desain sistem yang akan
meningkatkan kinerja sistem informasi akuntansi.
Thjai Fung Jen (2002) dalam Almilia dan Briliantien (2007) berpendapat
bahwa semakin tinggi kemampuan teknik personal SIA akan meningkatkan
kinerja SIA dikarenakan adanya hubungan yang positif antara kemampuan teknik
personal SIA dengan kinerja SIA.
2.2.5. Pengaruh formalisasi pengembangan sistem informasi terhadap
kinerja sistem informasi akuntansi
Formalisasi pengembangan sistem

informasi

akuntansi

dapat

mempengaruhi penerapan Sistem Informasi Akuntansi karena formalisasi


merupakan suatu penugasan dalam menjalankan sistem informasi akuntansi.
Tjhai (2002) dalam Almilia dan Briliantien (2007) berpendapat bahwa
semakin tinggi tingkat formalisasi pengembangan sistem informasi di perusahaan

25

akan meningkatkan kinerja Sistem Informasi Akuntansi dikarenakan adanya


hubungan yang positif antara formalisasi pengembangan sistem dengan kinerja
Sistem Informasi Akuntansi.
2.2.6. Pengaruh ukuran organisasi terhadap kinerja sistem informasi
akuntansi
Dalam menerapkan Sistem informasi akuntansi dalam suatu organisasi,
ukuran organisasi tersebut harus diperhatikan. Semakin besarnya suatu organisasi,
maka semakin baik pula kinerja sistem informasi akuntansi..
Tjhai Fung Jen (2002) berpendapat bahwa semakin besar ukuran
organisasi akan meningkatkan kinerja sistem informasi akuntansi dikarenakan
adanya hubungan positif antara ukuran organisasi dengan kinerja sistem informasi
akuntansi.
2.2.7. Pengaruh konlik kognitif terhadap kinerja sistem informasi
akuntansi
Dalam penerapan sistem informasi akuntansi, konflik kognitif dapat
menjadi suatu alternatif dalam melakukan perbaikan terhadap masalah yang
biasanya timbul dalam organisasi, sehingga konflik kognitif ini dapat berpengaruh
terhadap penerapan sistem informasin akuntansi.
(Mitroff dan Emshoff, 1979; Janis, 1982; Schweiger dan Sandberg, 1989;
Chenhall, 2004 dalam Latifah dan Sabeni, 2007). Konflik kognitif dapat
bermanfaat untuk memecahkan masalah dan mendorong ke arah perbaikan
pengambilan keputusan. Manfaat yang dapat diperoleh dari konflik kognitif
berasal dari potensinya untuk menyediakan kesempatan untuk interaksi dengan
dialectically style, berdebat, mempertahankan argumen yang dimiliki melawan
argumen lain dalam organisasi.

26

2.2.8. Pengaruh konflik afektif terhadap kinerja sistem informasi


akuntansi
Konflik afektif yang terjadi dalam organisasi biasanya dapat membuat
pertikaian yang dapat menghambat proses berjalannya sistem informasi akuntansi
dengan baik. (Robbins, 1989 dan Pelled, 1996 dalam Latifah dan Sabeni, 2007).
Konsekuensi yang tidak diinginkan dari konflik afektif di antaranya
memperlambat komunikasi dan proses kognitif, mengurangi kekohesifan
kelompok dalam menerima ide baru, dan usaha saling menjatuhkan di antara para
manajer.

Keterlbatan pemakai dalam


pengembangan sistem

Program pelatihan dan


pendidikan pemakai

Dukungan manajemen
puncak

Kemampuan teknik personal


sistem informasi
Kinerja sistem
informasi akuntansi
Formalisasi pengembangan
sistem informasi

Ukuran organisasi
Konflik
Konflik kognitif
afektif

27

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran


2.3. HIPOTESIS
Berdasarkan latar belakang dan tinjauan kepustakaan, maka hipotesis yang
diajukan adalah sebagai berikut:
1. Keterlibatan pemakai dalam pengembangan sistem informasi akuntansi
2.

berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi akuntansi.


Program pelatihan karyawan dan pendidikan pemakai berpengaruh

3.

terhadap sistem informasi akuntansi.


Dukungan manajemen puncak berpengaruh terhadap kinerja sistem

4.

informasi akuntansi.
Kemampuan teknik personal sistem informasi berpengaruh terhadap

5.

kinerja sistem informasi akuntansi


Formalisasi pengembangan sistem informasi berpengaruh terhadap kinerja

6.

sistem informasi akuntansi.


Ukuran organisasi berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi

7.

akuntansi.
Konflik kognitif tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja sistem

8.

informasi akuntansi.
Konflik afektif tidakm berpengaruh signifikan terhadap kinerja sistem
informasi akuntansi.

28

29

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Desain Penelitian
Menurut Sekaran (200:152), desain penelitian merupakan cakupan
beberapa aspek sehingga data yang diperlukan dapat dikumpulkan dan dianalisis
untuk memperoleh solusi, yaitu desain penelitian yang meliputi serangkaian
pilihan pengambilan keputusan rasional, isu-isu yang berkaitan dengan keputusan
mengenai tujuan studi (eksploratif, diskriptif,pengujian hipotesis), letaknya (yaitu
konteks studi), jenis yang sesuai untuk penelitian (jenis investigasi,tingkat
manipulasi dan kontrol peneliti, tingkat intervensi peneliti). Aspek temporal
(horizon waktu), dan level analisis data (unit analisis), adalah integral pada desain
penelitian.
Sifat studi dilakukan dalam penelitian ini adalah pengujian hipotesis. Studi
yang termasuk dalam pengujian hipotesis biasanya bersifat menjelaskan hubungan
tertentu, atau menentukan perbedaan antara kelompok atau kebebasan dua atau
lebih faktor dalam suatu situasi (Sekaran, 2006:162). Penelitian yang dilakukan
adalah penelitian yang bersifat asosiatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk
mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Jadi pada penelitian ini ada
variabel

dependen

(yang

dipengaruhi)

dan

variabel

independen

(yang

mempengaruhi). Penelitan ini dilakukan untuk memgatahui dan membuktikan


antara hubungan keterlibatan pemakai dalam pengembangan sistem informasi
akuntansi, program pelatia dan pendidikan pemakai, dukungan manajemen
puncak, kemampuan teknik personal sistem informasi, formalisasi pengembangan

30

sistem informasi, ukuran organisasi, konflik kognitif, konflik afektif sebagai


variabelm independen, dan kinerja sistem informasi akuntansi sebagai variabel
dependen.
Tingkat intevensi dalam penelitian ini adalah intervensi minimal. Peneliti
tidak memiliki kemampuan untuk ikut mempengaruhi kondisi dalam perusahaan
dalam hal kinerja karyawan. sedangkan situasi penelitian dilakukan dalam situasi
yang tidak diatur. Unit penelitian ini adalah individu, yaitu karyawan pengguna
sistem informasi akuntansi di Bank Umum yang ada di Kota Banda Aceh.
Kesatuan data yang dikumpulkan dalam penelitian adalah data primer yang
diperoleh dari kuisioner yang diberikan kepada karyawan yang menggunakan SIA
di Bank Umum yang ada di Kota Banda Aceh. Horizon waktu yang digunakan
dalam penelitian ini adalah cross-sectional. Cross sectional adalah penelitian yang
mengumpulkan semua data menjadi satu dalam periode hari,minggu,bulan, atau
tahun untuk menjawab pertanyaan (Sekaran 2006:177).

3.2. Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau
subjek yang memepunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya ( Sugiono, 2008 : 96
). Penentuan populasi berbeda dengan unit analisis. Unit analisis bisa pada tingkat
individual, kelompok atau organisasi. Jika unit analisis adalah individual, maka
populasi data akan menentukan siapa dan berapa individu yang diteliti. Kumpulan

31

populasi merupakan semua elemen dalam populasi dimana sampel diambil


( Sekaran, 2006 : 122 ).
Sampel adalah sebagian dari populasi, sehingga penelitian terhadap sampel
dan pemahaman tentang sifat atai karakteristik akan membuat kita dapat
merealisasikan sifat atau karakteristik tersebut pada elemen populasi ( Sekaran,
2006 : 123 ). Peneliti dapat melakukan penelitian terhadap semua elemen populasi
( penelitian sensus ), namun juga dapat meneliti sebagian dari elemen populasi
( Penelitian sampel ).
Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan pengguna sistem pengguna
Sistem Informasi Akuntansi pada Bank Umum yang ada di Banda Aceh. Bank
Umum yang ada di Banda Aceh berjumlah 5 bank. Penelitian dilakukan pada
Bank Umum pemerintah karena pada bank bank tersebut memiliki jumlah
nasabah yang termasuk banyak, sehingga kinerja karyawan menjadi perhatian
dalam permasalahan pelayanan sampai pada pengolahan data nasabah. Untuk
populasi dan sampel pengguna Sistem Informasi Akuntansi pada Bank Umum
dapat dilihat pada tabel 3.1.
Tabel 3.1
Populasi Penelitian
No
1
2
3
4
5

Nama Bank
Populasi
Bank Aceh
96
BTN ( Bank Tabungan Negara )
37
BNI ( Bank Negara Indonesia )
72
BRI ( Bank Rakyat Indonesia )
63
Bank Mandiri
74
Jumlah Populasi
342
Sumber: Bank Perwakilan Banda Aceh, 2015 ( data diolah )

32

Sampel
22
8
16
14
17
77

Karakteristik yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah para


karyawan pengguna Sistem Informasi dari semua tingkat jabatan dan dipilih
secara acak. Berikut adalah metode penarikan sampel :
a.

Penarikan sampel berdasarkan rumus Slovin (Umar, 2005:78) dengan


rumus :
n=

N
1+ N x ( e2 )

Keterangan :
n

: Ukuran sampel

: Ukuran populasi

: Konstanta

: Persen kelonggaran ketidaktelitian karena pengambilan sampel yang


masih dapat ditolerir, ditentukan (5 %)

3.3. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data


Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui penelitian lapangan (field
research). Penelitian lapangan ini dilakukan untuk memperoleh data primer yang
diperlukan dari responden dengan cara membagikan kuesioner. Pembagian
kuesioner dilakukan dengan cara mengantar langsung kuesioner kepada responden
dan memberikan waktu untuk responden mengisinya. Kuesioner yang telah diisi
oleh responden akan dikumpulkan kembali secara langsung oleh peneliti.

33

3.4. Operasional Variabel


Variabel adalah apapun yang membedakan atau membawa variasi pada
nilai. Nilai bisa berbeda pada waktu yang berbeda untuk objek atau orang yang
sama atau nilai dapat berbeda dalam waktu yang sama untuk objek atau orang
berbeda (sekaran,2006:115)
Dalam penelitian ini terdapat dua variable yang diteliti, yaitu variable
terikat dan variable bebas. Variable terikat dalam penelitian ini adalah kinerja
karyawan, sedangkan variable bebasnya adalah kepemimpinan, kepuasan kerja,
dan tingkat efektivitas sistem informasi akuntansi.
Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert,
yaitu skala yang menunjukkan tingkat persetujuan dari responden. Menurut
jogiyanto (2007) skala likert ini digunakan untuk mengukur respon subjek
kedalam lima point skla dengan interval yang sama. Sekaran (2006) mengatakan
skala likert didesain untuk menelaah seberapa kuat subjek setuju atau tidak setuju
dengan pernyataan pada skala 5 titik dengan susunan sebagai berikut :

No
1
2
3
4
5

Keterangan
Sangat Tidak Setuju
Tidak Setuju
Kurang Setuju
Setuju
Sangat Setuju

Skor
1
2
3
4
5

Respon terhadap sejumlah item yang berkaitan dengan konsep variable


tertentu yang kemudian disajikan pada tiap responden (sekaran,2006).

34

3.4.1 Variabel Terikat


3.4.1.1.

Kinerja Sistem Informasi Akuntansi

Kinerja SIA diukur dari sisi pemakai dengan membagi kinerja sistem
informasi akuntansi kedalam dua bagian yaitu kepuasan pemakai informasi dan
pemakai sistem informasi sebagai pengganti variable kinerja SIA (Tjhai dalam
Almilia dan Briliantien, 2007), diukur berdasarkan indicator:
a. Mampu membantu departemen berfungsi dengan baik.
b. Sistem penting dalam kesuksesan kerja.
c. Meningkatkan kepuasan kerja.
d. Memberikan informasi yang dibutuhkan.
e. Senang menggunakan sistem yang ada.
f. Mampu mengerjakan tugasnya lebih mudah dan lebih efisien.
g. Memberikan kontribusi dalam pencapaian tujuan dan misi organisasi.
h. Tertarik untuk menggunakan sistem yang ada.
i. Sistem telah dilengkapi dengan informasi yang akurat dan reliable.
j. Penyesuaian pada berbagai kondisi baru.

3.4.2 Variabel bebas

35

3.4.2.1.

Keterlibatan Pemakai dalam Proses Pengembangan Sistem

Sistem informasi yang dikembangkan melibatkan para pemakai akan


memberikan kepuasan bagi para pemakai dan pemakai tersebut akan berusaha
untuk menggunakan SIA yang diterapkan di perusahaannya (Tjhai dalam Almilia
dan Briliantien, 2007). Variable ini diukur dengan indicator sebagai berikut:
a. Partisipasi dalam pengembangan sistem.
b. Pendapat dan atau usulan dalam pengembangan sistem.
c. Pengaruh dalam pengembangan sistem.
d. Keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan sistem informasi.
e. Tukar menukar informasi.

3.4.2.2.

Program Pelatihan dan Pendidikan Pemakai

Pelatihan dan pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan SDM


dan tidak saja menambah pengetahuan, akan tetapi juga meningkatkan
keterampilan bekerja, dengan demikian akan meningkatkan produktivitas kerja.
Menurut Payaman Simanjuntak (2005) pendidikan dan pelatihan merupakan
salah satu faktor yang penting dalam pengembangan sumber daya manusia.
Kemudian Tjhai Fung Jen (2002) berpendapat bahwa kinerja sistem informasi
akuntansi akan lebih tinggi apabila program-program pelatihan dan pendidikan
pemakai diperkenalkan.
Variable ini diukur dengan indicator sebagai berikut:

36

a. Mengikuti pelatihan dan pendidikan.


b. Keuntungan mengikuti pelatihan dan pendidikan.
c. Pendidikan terakhir.

3.4.2.3.

Dukungan Manajemen Puncak

Dukungan manajemen puncak dalam proses pengembangan sistem


informasi dan pengorganisasian sistem informasi dalam perusahaan dalam
perusahaan akan meningkatkan keinginan pemakai untuk menggunakan sistem
informasi yang ada dan merasa puas dalam menggunakan sistem tesebut (Tjhai
dalam Alminia dan Briliantien, 2007). Menurut Ani hidayati variable ini diukur
dengan indicator sebagai berikut:
a.
b.
3.4.2.4.

Kepemimpinan direktif
Kepemimpinan supportive
Kemampuan Teknik Personal Sistem Informasi

Pemakai sistem informasi akuntansi yang baik akan meningkatkan


kepuasannya dalam menggunakan sistem informasi akuntansi sehinggan akan
terus menggunakannya dalam membantu menyelesaikan pekerjaannya karena
pemakai memiliki pengetahuan dan kemampuan yang memadai.
Variable ini diukur dengan indicator sebagai berikut:
a. Pengalaman menggunakan sistem.
b. Kemampuan spesialis.

37

c. Kemampuan umum.

3.4.2.5.

Formalisasi Pengembangan Sistem Informasi

Pengembangan

sistem

informasi

yang

diformalisasikan

akan

meningkatkan kinerja atau kesuksesan sistem informasi (Tjhai dalam Almilia dan
Briliantien, 2007). Menurut Ani hidayati variable pengembangan sistem
informalisasi yang diformalisasikan diukur dengan indicator sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
3.4.2.6.

Laporan proyek
Dokumentasi pengembangan
Teknik dan waktu pencatatan
Biaya pengembangan
Pengendalian SI
Ukuran Organisasi

Ukuran organisasi perusahaan yang semakin besar dengan didukung oleh


sumber daya yang semakin besar akan menghasilkan sistem informasi yang lebih
baik sehingga pemakai akan merasa puas untuk menggunakan sistem informasi
akuntansi yang ada dan akan lebih sering menggunakan sistem yang diterapkan
dalam perusahaan Firman (2005) dalam Firmansyah (2009).
Untuk mengukur variable ukuran organisasi ini, peneliti menggunakan
indicator pertanyaan dari penelitian terdahulu yang dijadikan sebagai pertanyaan
kuesioner pada penelitian ini. Indicator yang digunakan adalah: Jumlah Pegawai.

38

3.4.2.7.

Konflik Kognitif

Konflik Kognitif dapat bermanfaat untuk memecahkan masalah dan


mendorong ke arah perbaikan pengambilan keputusan. Manfaat yang diperoleh
dari konflik kognitif berasal dari potensinya untuk menyediakan kesempatan
untuk interaksi dengan dialegctical style, berdebat, mempertahankan argument
yang memiliki melawan argument lain dalam organisasi (Mitroff dan Emshoff,
1979, Janis, 1982; Swhweiger dan Sandlerg, 1989 dalam Chenhall, 2004).
Indicator yang digunakan adalah:
a. Perbedaan ide.
b. Perbedaan pandangan.
c. Perbedaan pendapat.
d. Perbedaan cara menyelesaikan tugas.

3.4.2.8.

Konflik Efektif

Konflik efektif cenderung melibatkan persepsi yang mengancam posisi


seseorang di dalam suatu kelompok, pertikaian, frustasi dan firksi antara pribadi
seseorang dengan nilai norma yang ada (Petersen, 1983; Ross, 1989 dan Amason,
1996 dalam Chenhall, 2004).
Indicator yang digunakan adalah:
a. Perseteruan antar tim kerja.

39

b. Ketegangan tim kerja.


c. Marah saat bekerja.
d. Konflik emosional.
e. Tidak nyaman.
f. Gangguan oleh rekan kerja.

Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel


Variabel
Variabel Dependen
Kinerja sistem
informasi
akuntansi

Indikator

Skala

a. Mampu membantu departemen berfungsi Ordinal


dengan baik.
b. Sistem penting dalam kesuksesan kerja.
c. Meningkatkan kepuasan kerja.
d. Memberikan informasi yang dibutuhkan.
e. Senang menggunakan sistem yang ada.
f. Mampu

mengerjakan

tugasnya

lebih

mudah dan lebih efisien.


g. Memberikan kontribusi dalam pencapaian
tujuan dan misi organisasi.
h. Tertarik untuk menggunakan sistem yang
ada.
i.Sistem telah dilengkapi dengan informasi
yang akurat dan reliable.
j.Penyesuaian pada berbagai kondisi baru.
Variabel Independen
Keterlibatan
a. Partisipasi dalam pengembangan sistem.

40

Ordinal

pemakai dalam b. Pendapat


pengembangan
sistem

dan

atau

usulan

dalam

pengembangan sistem.
c. Pengaruh dalam pengembangan sistem.
d. Keterlibatan

pemakai

dalam

proses

pengembangan sistem informasi.


Program

e. Tukar menukar informasi.


a. Mengikuti pelatihan dan pendidikan.

pelatihan dan

b. Keuntungan

pendidikan
pemakai
Dukungan
manajemen
puncak
Kemampuan

mengikuti

pelatihan

Ordinal
dan

pendidikan.
c. Pendidikan terakhir.
a. Kepemimpinan direktif
b. Kepemimpinan supportive
a. Pengalaman menggunakan sistem.

Ordinal

Ordinal

teknik personal b. Kemampuan spesialis.


sistem
informasi
Formalisasi

c. Kemampuan umum.

a.
b.
pengembangan
c.
sistem
d.
e.
informasi
Ukuran
a.

Laporan proyek
Dokumentasi pengembangan
Teknik dan waktu pencatatan
Biaya pengembangan
Pengendalian SI

Ordinal

Jumlah pegawai

Rasio

organisasi
Konflik

a. Perbedaan ide.

kognitif

b. Perbedaan pandangan.

Ordinal

c. Perbedaan pendapat.
d. Perbedaan cara menyelesaikan tugas
Konflik afektif a. Perseteruan antar tim kerja.
b. Ketegangan tim kerja.
c. Marah saat bekerja.
d. Konflik emosional.
e. Tidak nyaman.
f. Gangguan oleh rekan kerja.

41

Ordinal

3.5. Metode Analisis dan Rancangan Pengujian Hipotesis


Sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui pengaruh
keterlibatan pemakai dalam pengembangan sistem, program pelatihan dan
pendidikan pemakai, dukungan manajemen puncak, kemampuan teknik personal
sistem informasi,

formalisasi pengembangann

sistem informasi,

ukuran

organisasi, konflik kognitif dan konflik afektif terhadap kinerja sistem informasi
akuntansi.
Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda
(Multiple Regretion Analysis) yang diolah dengan program SPSS (Statistical
Package For Social Science). Analisis regresi linier adalah suatu teknik untuk
membangun model matematis yang dapat digunakan untuk menganalisis pengaruh
satu atau beberapa variabel independen terhadap variabel dependen (Rahmalia,
2010). Persamaan regresi yang digunakan dipenelitian ini adalah :
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6 + b7X7 + b8X8 + e
Dimana :
Y = kinerja sistem informasi akuntansi
a = Konstanta
X1 = keterlibatan pemakai dalam pengembangan sistem
X2 = program pelatihan dan pendidikan pemakai
X3 = dukungan manajemen puncak

42

X4 = kemampuan teknik personal sistem informasi


X5 = formalisasi pengembangann sistem informasi
X6 = ukuran organisasi
X7 = konflik kognitif
X8 = konflik afektif
b1, b2, b3, b4, b5, b6, b7, dan b8 = koefisien regresi variabel X1, X2, X3, X4, X5 , X6,
X7, X8
e= error term

3.6. Uji Kualitas Data


3.6.1.
Uji Validitas Data
Validitas data penelitian ditentukan oleh proses pengukuran yang kuat.
Suatu instrument pengukuran dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila
instrument tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Dalam uji validitas
hanya instrument yang terdiri dari beberapa item dan yang diukur dengan skala
likert. Ketentuan validitas data dapat menggunakan korelasi pearson. Hasil
korelasi tersebut dibandingkan dengan
Apabila

rhitung

positif dan

rhitung

> dari

rtabei.

rtabei>

pada tingkat signifikansi 0,05.

maka instrument tersebut valid dan

sebaliknya jika rhitung negatif dan r < dari rtabei maka instrumen tersebut tidak valid.
3.6.2.

Uji Reabilitas

43

Pengujian reabilitas ini menggunakan koefisien Cronbach Alpha. Jika dari


hasil perhitungan diperoleh r alpha positif dan > dari r tabel untuk instrument
penelitian yang digunakan dinilai reliabel. Sebaliknya jika r alpha negatif atau r
alpha < daripada r tabel, maka instrument yang digunakan dinilai tidak reliabel.

3.6.3.
3.6.3.1.

Uji Asumsi Klasik


Uji Normalitas

Menurut Ghozali (2011:110), uji normalitas bertujuan menguji apakah


dalam model regresi, variabel penggangu atau residual memiliki distribusi normal.
Data dikatakan normal jika nilai sebaran berada di sekitar garis diagonal dan
mengikuti arahgaris diagonal.

3.6.3.2.

Uji Multikolonieritas

Menurut Ghozali (2011:105), uji multikorelitas bertujujuan untuk menguji


apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Uji
multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan
asumsi klasik multikolinearitas yaitu adanya hubungan linear antar variabel
independen dalam model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model
regresi adalah tidak adanya multikolinearitas.

3.6.3.3.

Uji Heteroskedastisitas

44

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi


terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang
lain. Uji Heteroskedastisitas dalam penelitian ini diukur dengan metode plot.
Berdasarkan gambar scatterplot menunjukkan adanya titik-titik yang menyebar di
atas dan di bawah sumbu Y, serta tidak membentuk pola, sehingga model regresi
tidak terjadi heteroskedastisitas

3.6.3.4.

Uji Autokorelasi

Menurut Ghozali (2011:110), uji autokerelasi bertujuan mmenguji apakaah


dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada
periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Cara yang
dapat digunakaan untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dengan uji
Durbin-watson (DW test). Uji Durbin-Watson mensyraratkan adanya interept
(konstanta) dalam model regresi dan tidak ada variabel lagi antara variabel
indeppenden.

3.7. Metode Analisis dan rancangan Pengujian Hipotesis


Setelah melakukan pengukuran variabel dalam penelitian ini, tahap
selanjutnya yang akaan dilakukan adalah pengujian hipotesis secara statistik ini
dilakukan untuk melihat diterimanya atau ditolak hipotesis yang diajukan.
Pengujin pengaruh tersebut dilakukan melalui uji parsial dan simultan oleh karena
itu penelitian ini menggunakan metode survei.
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, maka rancangan pengujian
hipotesis harus dilakukan terlebih dahulu. Rancangan pengujian hipotesis dalam

45

penelitian ini adalah dengan menguji pengaruh keterlinatan pemakai dalam


pengambangaan sistem (X1), program pelatihan daan pendidikan pemakai (X2),
dukungan manajemn puncak (X3), kemampuan teknik personal istem informasi
(X4), formalisasi pengembaangan ssisstem inormasi (X5), ukuran organisasi (X6),
konflik kognitif (X7), konflik afektif (X8) terhadap kinerja sistem informasi
akuntansi (Y), maka penelitian ini dilakukan dengan cara meregres kedelapan
variabel, baik variabel dependen maupun independen

3.7.1

Uji Parsial (Uji Statistik t)

Uji t digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen secara


parsial terhadap variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan satu arah (one
tail) dengan tingkat keyakinan 95% dan dilakukan uji signifikansi.kemudian
membandingkan nila t hitung dengan t tabel, kriteria pengambilan keputusan
adalah sebagai berikut :
1.

Apabila t hitung > t tabel dan tingkat signifikansi <0,05 maka H a


ditolak (H0 diterima), yang bererti secara parsial variabel

2.

independen berpengaru signifikan terhadap variabel dependen.


Apabila t hitung < t tabel dan tingakat singnifikansi > 0,005 maka
Ha diterima (H0 ditolak), yang berarti secara parsial variabel
independen tidak berpengaruh signifikansi terhadapa variabel
dependen.

3.7.2

Uji Koefisien Determinasi

46

Uji koefisien determinasi (R^) digimakan untuk mengukur seberapa besar


variasi dalam variabel independen dalam menjelaskan bersama-sama variabel
dependen. Nilai determinasi

adalah antara nol sampaai satu Semakin besar

koefisien determinasi semakin baik variabel independen dalam menjelaskan


variabel dependennya.

3.7.3

Uji signifikansi Simultan (Uji-F)

Uji F dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua variabel


yang dimasukkan dalam model regresi mempunyai pengaruh secara bersamasama terhadap variabel dependen.
Adapun prosedur pengujiannya adalah setelah melakukan perhitungan
terhadap F hitung kemudian membandingkan nilai F hitung dengan f tabel,
kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :
1.

Apanila F hitung < F tabel dan tingkat signifikansi >0,05 maka H, ditolak
(H0 diterima), yang berarti secara simultan semua variabel independen

2.

berpengaruh signifikan terhadap ariabel dependen.


Apabila F hitung < F tabel dan tingkat signifikansi > 0,05 maka H

diterima (H0 ditolak),yang berarti secara simultan semua variabel


independen tidak berpengaruh signifikan terhadap vaariaabel dependen.

47