Anda di halaman 1dari 25

PENCEMARAN

Pendahuluan
Perekonomian dalam masyarakat modern merupakan hal tidak dapat
dipisahkan dari aspek kehidupan yang lainnya. Sehingga kemajuan suatu negara
selalu dinilai dari tingkat pertumbuhan ekonominya. Karena pandangan yang
demikian, maka setiap negara berusaha untuk terus meningkatkan pertumbuhan
ekonominya. Dalam pandangan negara, dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi
maka pertumbuhan atau kemajuan dibidang lainnya secara otomatis akan ikut
terdorong ke arah yang lebih baik.
Dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, selalu terjadi benturan antara
kepentingan ekologi dan kepentingan ekonomi. Prinsip ekonomi yang berusaha untuk
mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya,
merupakan hal yang bertentangan azas lingkungan. Pada prinsip ekonomi yang
demikian, semua sumberdaya yang masih berupa barang mentah selalu diberi harga
murah bahkan ada yang sama sekali tidak diberi harga. Air, udara, dan sinar Matahari
selalu dianggap sebagai barang gratis. Dengan pandangan ekonomi yang demikian,
maka eksploitasi sumberdaya alam secara besar-besaran untuk pembiayaan
pertumbuhan ekonomi menjadi sesuatu yang dapat dibenarkan (oleh kalangan politisi
bukan oleh kalangan ekologis). Padahal secara ekologis prinsip tersebut sangat keliru
dan dapat membawa dampak yang sangat besar terhadap lingkungan.
Dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi dibutuhkan sumberdaya alam yang
besar. Kebutuhan tersebut akan semakin bertambah jika pertumbuhan penduduk juga
besar dan ada perubahan pola konsumsi yang boros. Pada sisi lain peningkatan
pertumbuhan ekonomi juga akan menghasilkan limbah yang dikembalikan ke alam.
Adanya limbah tentunya dapat menyebabkan perubahan tatanan lingkungan, seperti
tercemarnya air, udara, tanah, serta punahnya berbagai jenis flora dan fauna.
Pencemaran
Telah menjadi ketentuan bahwa sumberdaya alam akan berubah sifat kimia dan
fisikanya selama kita gunakan, dan sebagian perubahan tersebut tidak dapat balik. Zat
sisa dengan sifat kimia dan fisika yang sudah tidak dapat dimanfaatkan sebagai
sumberdaya tentunya akan dilepas ke udara, air, atau ke tanah. Dalam batas tertentu
alam mampu menyerap berbagai sisa tersebut dan mengelolanya sehingga tidak

membahayakan terhadap bentuk kehidupan. Namun jika bahan sisa yang kita buang
berjumlah besar dan secara terus-menerus, maka kita akan melampaui batas
kemampuan alam dalam membersihkannya. Kemampuan alam akan mencapai titik
jenuhnya. Bahan sisa tersebut akhirnya menumpuk dan akan menimbulkan masalah
pencemaran yang membahayakan.
Kesadaran Manusia terhadap masalah pencemaran belum terlalu lama
munculnya. Pada waktu-waktu sebelumnya, manusia tidak menyadari jika apa yang
mereka lakukan terhadap alam dapat membahayakan dirinya sendiri dan
lingkungannya. Ada beberapa hal menarik yang muncul setelah Manusia mencoba
untuk mempelajari pencemaran.
1. Ternyata tingkat pencemaran terus meningkat mengikuti deret ukur
2. Kita tidak akan pernah tahu sampai dimana batas atas pertumbuhan pencemaran
3. Jikapun ternyata kita berusaha untuk mengendalikan pencemaran tersebut, maka
upaya tersebut tetap selalu dibawah batas yang seharusnya. Oleh karena itu secara
tidak sengaja kita akan mencapai batas kemampuan alam dalam menyerap zat
pencemar.
4. Zat-zat pencemar akan menyebar keseluruh dunia. Akibat-akibat yang buruk juga
muncul pada tempat yang jauh dari asal zat pencemar tersebut.
Banyak

zat pencemar yang sudah kita ketahui hingga saat ini. Namun

demikian, mungkin masih banyak zat lain yang kita buang sebagai limbah yang
berpotensi sebagai zat pencemar yang berbahaya. Pertumbuhan penduduk yang cepat
dan keinginan untuk cepat mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang diidamkan
telah memacu berbagai kegiatan Manusia. Yang paling menonjol adalah peningkatan
kegiatan pertanian, industri, dan kemajuan teknologi. Jika akan kita bahas satu persatu
mungkin tidak akan pernah cukup dalam buku ini. Kita akan membahas yang dinilai
penting untuk diketahui, agar kita dapat memahaminya dan berusaha sedapat mungkin
untuk berpartisipasi dalam menekan pertumbuhannya.
1. Pencemaran udara
Hal yang paling jelas memacu dihasilkannya zat pencemar adalah penggunaan
tenaga. Dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi diperlukan jumlah tenaga yang
besar untuk meningkatkan produktivitas. Jika dulu dalam kegiatan ekonomi yang
menjadia andalan adalah tenaga Manusia, hewan, air, dan angin, sekarang kegiatan
ekonomi ditunjang oleh mesin-mesin bertenaga besar yang hampir tidak punya lelah.
Sekarang hampir 97% tenaga untuk industri berasal dari hasil pembakaran bahan

bakar fosil (minyak bumi, batubara, dan gas alam). Pembakaran diatas akan
melepaskan zat-zat polutan berupa karbondioksida (CO2), kabonmonoksida (CO),
sulfurdioksida (SO2), nitrogendioksida (NO2), debu, dan sebagainya. Zat-zat polutan
tersebut secara langsung telah mengubah konsentrasi gas yang ada di atmosfer,
terutama CO2. Dari ketiga bentuk bahan bakar tersebut, pembakaran minyak bumi
memiliki andil terbesar dalam meningkatkan kadar CO2 di atmosfer. Dari hasil
pengamatan terhadap kenaikan konsentrasi CO2, ternyata pembakaran bahan bakar
minyak bumi selama 30 tahun memberi jumlah CO 2 yang lebih besar dibandingkan
jumlah yang dihasilkan pembakaran batubara selama 200 tahun.
Dewasa ini CO2 yang dilepas dari kegiatan Manusia akibat pembakaran bahan
bakar kira-kira 20 milyar ton per tahun. Meskipun tumbuhan hijau yang ada didaratan
dan makhluk berfotosintesis dilaut mampu menyerap CO2 untuk mengembalikannya
ke bentuk senyawa organik hasil fotosintesis, namun kemampuan itu terbatas sekali.
Mungkin hanya setengah bagian itu saja yang dapat terserap oleh kegiatan
fotosintesis. Selebihnya secara terus-menerus akan meningkatkan kadar CO 2 di
atmosfer.
a. Pemanasan global
Jika waktu terjadinya revolusi industri pada tahun 1850 dapat dijadikan batas
untuk melihat besarnya peningkatan CO2 diatmosfer, maka kita akan melihat betapa
banyaknya buangan gas yang tersebut. Pada waktu itu konsentrasi CO 2 di atmosfer
sekitar 290 bagian per-sejuta (atau 0,029%). Sekarang, 150 tahun kemudian,
konsentrasinya telah mencapai 350 bagian per-sejuta (atau 0,035%). Jika
pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan pola konsumsi tetap tidak
terkendali, 100 tahun yang akan datang komnsentrasi CO2 akan mencapai 580 bagian
per-sejuta (atau 0,058%). Jika diperhatikan jumlah tersebut merupakan kelipatan dua
jumlah CO2 sebelum terjadinya revolusi industri. Jika keadaan tersebut tercapai, maka
suhu permukaan Bumi akan meningkat rata-rata 4,5 oC. Kenaikan suhu ini akan
berdampak luas pada kehidupan Manusia. Akan terjadi perubahan iklim yang sangat
ekstrim, meningkatnya tinggi permukaan air laut, terganggunya siklus dan
ketersediaan air hujan, muncul kekeringan, menurunnya produksi pertanian,
menyebarnya hama dan penyakit tanaman, serta kebakaran. Dampak ini akan
memberikan beban yang sangat besar pada kehidupan social ekonomi masyarakat.
Negara maju, dengan kekayaan dan kemajuan teknologinya, mungkin dapat mengatasi
masalah tersebut dengan baik. Tapi bagi negara miskin atau berkembang, mereka

tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengantisipasi keadaan tersebut


secara baik.
Negara miskin atau negara berkembang yang mengandalkan sector pertanian
dalam system ekonominya, tentu akan mendapat pengaruh yang besar sekali. Pada
satu sisi kenaikan suhu akan mengurang jumlah curah hujan, pada sisi lain kenaikan
suhu akan meningkatkan penguapan pada tumbuhan. Akibatnya akan banyak tanaman
yang menderita kekeringan. Kenaikan suhu juga akan meningkatkan populasi
serangga, yang menjadi hama bagi tanaman. Keadaan ini, kekeringan dan ledakan
hama secara langsung tentunya akan menurunkan produksi pertanian.
Pemanasan global juga akan menyebabkan mencairnya salju-salju dipeguningan
tinggi dan mencairkan es yang terdapat didaerah kutub. Pencairan ini secara langsung
akan meningkatkan tinggi permukaan air laut. Hasil analisis dan perhitungan
memperkirakan, bahwa pemanasan global akan menyebabkan kenaikan permukaan
laut lebih dari 60 cm pada abad 21. Jika hal ini terjadi akan banyak pulau-pulau kecil
yang tenggelam dan akan banyak daratan ditepi benua yang juga tenggelam. Akan
terjadi pengurangan luas daratan yang sangat besar dari peritiwa ini.
Kenaikan suhu permukaan Bumi akibat peningkatan kadar CO 2 di atmosfer
tersebut dinamakan efek rumah kaca. Lapisan CO2 di atmosfer memiliki sifat seperti
kaca. Lapisan ini dapat dilewati oleh radiasi cahaya Matahari, tapi lapisan ini akan
menahan radiasi panas yang dipantulkan atau dilepas permukaan Bumi. Secara normal
kondisi ini sebenarnya menguntungkan kehidupan di Bumi, sebab dengan adanya
lapisan ini permukaan Bumi tetap hangat dengan rata-rata suhu sekitar 15 oC. Jika
tidak ada lapisan ini, maka radiasi panas yang dilepaskan permukaan Bumi akan
langsung hilang di angkasa. Keadaan ini dapat menyebabkan permukaan Bumi secara
terus menerus kehilangan panas sehingga suhunya hanya 18 oC. Tetapi dengan makin
meningkatnya lapisan CO2 tersebut, maka makin banyak panas yang terjebak pada
lapisan ini, karena pelepasannya ke angkasa jadi semakin sulit. Kondisi tersebut
secara langsung akan meningkat suhu permukaan Bumi. Karena gas tersebut secara
relatif menyebar merata di atmosfer, maka efek kenaikan suhu yang terjadi di
permukaan Bumi juga terjadi secara merata. Peningkatan suhu yang bersifat meluas
dan merata diseluruh bagian permukaan Bumi tersebut dinamakan sebagai
pemanasan global.
Selain CO2 ada beberapa gas lain yang juga memiliki sifat yang hampir sama
dengan CO2, yaitu sama-sama menahan radiasi panas yang lepas dari permukaan

Bumi dan memberikan efek rumah kaca. Gas-gas tersebut antara lain gas metan
(CH4), klorofluorokarbon (CFCs) atau gas freon dan nitrogen oksida. Kenaikan
konsentrasi gas-gas ini relatif lebih kecil dibandingan kenaikan konsentrasi CO 2 di
atmosfer. Namun demikian gas-gas ini memberikan efek peningkatan suhu yang lebih
besar dibandingkan efek yang ditimbulkan CO2 persatuan molekulnya. Dalam jumlah
yang sama, metan dapat menyebabkan kenaikan suhu 25 kali lebih kuat dibandingkan
kenaikan suhu yang disebabkan CO2. Sedangkan CFCs dapat menyebabkan
peningkatan suhu 10 000 kali dibandingkan kenaikan suhu yang disebabkan CO2.
Gas metan terutama dihasilkan dari proses pembusukan sisa tanaman yang
terjadi pada tanah lembab (Lumpur). Proses pembusukan tidak terjadi secara
sempurna, karena adanya air atau lumpur yang menutupi proses tersebut dari udara
akan, mengurangi kebutuhan oksigen proses pembusukan tersebut. Keadaan tersebut
disebut sebagai anaerob. Sistem pembuangan sampah yang tidak baik, pertanian
sawah dan proses pencernaan sapi (peternakan) merupakan penyumbang utama gas
metan. Gas metan adalah gas yang mudah terbakar dan dapat dijadikan bahan bakar.
Jika kita dapat mengumpulkan dan memanfaatkan gas ini dengan baik, maka
pencemaran metan yang terburuk sesungguhnya dapat dicegah. Pertambahan
penduduk dan ekspansi ekonomi dunia yang sangat cepat tentunya secara langsung
akan meningkatkan konsentrasi metan di atmosfer.
Gas klorofluorokarbon atau freon bukan gas alam, gas ini buatan Manusia. Gas
ini dibuat secara sintetik dan digunakan dalam industri, terutama untuk system
pendingin (AC dan kulkas), sebagai gas pendorong (propelan) penyemprotan, dan
industri busa spons. Peningkatan gaya hidup masyarakat modern yang menggunakan
AC, kulkas, obat anti nyamuk, cat, hair-spray dengan gas penyemprot, dan
menggunakan material busa spons untuk keperluan rumah tangga, telah meningkatkan
produksi gas ini secara tajam. Berdasarkan data, pada tahun 1989, Amerika Serikat
merupakan pengguna CFCs terbesar (30% dari total produksi yang ada). Negaranegara Eropah menggunakan 30% dan Jepang 15%. Perkiraan produksi CFCs dunia
adalah sebesar 12 juta ton, dengan perincian 48% dihasilkan negara-negara Eropah,
31% dihasilkan Amerika serikat, 9% dihasilkan Jepang, 3% dihasilkan Kanada, dan
10% dihasilkan oleh negara-negara lainnya.
b. Penipisan lapisan ozon

Peningkatan jumlah CFCs di atmosfer tidak hanya menimbulkan efek rumah


kaca. Peningkatan CFCs juga diduga sebagai penyebab kerusakan lapisan ozon di
atmosfer, tepatnya dilapisan stratosfer. Ozon adalah molekul gas dengan tiga atom O
(O3). Ozon terjadi karena reaksi kimia yang terjadi diatmosfer. Sebenarnya
konsentrasi gas ini di atmosfer tidak terlalu banyak. Setiap satu juta satuan molekul
udara hanya ada 3 sampai 4 molekul ozon saja. Meskipun demikian terdapat kira-kira
4,5 triliyun kilogram ozon di Gas ini memiliki arti yang sangat penting bagi
kehidupan di muka Bumi. Lapisan ozon mampu menahan radiasi ultra-violet yang
dipancarkan Matahari. Ultra-violet memiliki panjang gelombang 280-320 nanometer.
Dengan panjang gelombang yang demikian, radiasi ini memiliki efek merusak system
biologi yang sangat besar. Radiasi ini dapat menyebabkan kulit terbakar, kanker kulit,
kebutaan, kematian dan mutasi pada jasad mikro. Dengan adanya lapisan ozon jumlah
radiasi ultra-violet yang mencapai permukaan Bumi sudah tidak memiliki pengaruh
yang nyata bagi makhluk hidup.
Sejak tahun 1983 sekelompok ilmuwan Inggris mengamati terjadinya
penurunan konsentrasi ozon yang sangat drastis di atas Antartika, sehingga
membentuk suatu lubang besar. Pada bulan Oktober 1989 penurunan konsentrasi ozon
tersebut sudah mencapai 50%. Terjadi penurunan yang sangat tajam, sebab hasil
pengukuran tahun 1985, penurunannya baru 40%. Dari hasil penelitian tersebut,
penurunan konsentrasi ozon berhubungan dengan peningkatan konsentrasi gas CFCs
di atmosfer. CFCs memiliki kestabilan yang tinggi dan dapat bertahan lama di
atmosfer. Ketika mencapai lapisan stratosfer, karena pengaruh ultra-violet CFCs dapat
melepas atom klorin yang menyusunnya. Atom klorin selanjutnya akan mengambil
satu atom O dari O3, sehingga ozon akan terurai menjadi O2 dan klorin yang bereaksi
dengan atom O akan menjadi ion hipoklorid. Ion tersebut akan menangkap satu atom
O lagi dari molekul ozon yang lain. Selanjutnya kedua atom Oksigen yang ditangkap
oleh klorin akan dibebaskan menjadi O2 dan klorin kembali bebas untuk menyerang
molekul ozon yang lainnya. Dengan cara berulang demikian, akan banyak molekul
ozon yang terurai kembali menjadi O2. Berdasarkan perhitungan setiap satu atom
klorin dapat menghancurkan 100 000 molekul ozon. Dengan cara demikian lapisan
ozon mengalami penipisan.

c. Hujan asam

Hujan asam adalah hujan yang titik-titik airnya mengandung asam sulfat dan
asam nitrat. Hujan asam saat ini merupakan masalah yang serius pada banyak tempat.
Meskipun mungkin didalam air hujan tidak terlalu banyak asam yang terlarut, namun
ia dapat merusak atau membakar daun dan akumulasi asam-asam tersebut ditanah
dapat menyebabkan perubahan sifat kimia tanah dan air (penurunan pH). Tanah yang
memiliki pH rendah akan berpengaruh terhadap semua bentuk kehidupan ditanah,
termasuk untuk kelangsungan hidup akar tanaman. Akar tanaman akan mengalami
kematian. Disamping itu pH rendah juga akan menyebabkan pembebasan hara-hara
mikro. Hara mikro dalam jumlah besar justru akan bersifat meracun bagi tumbuhan,
terutama Aluminium. Karena sifat yang demikian hujan asam dapat menyebabkan
kehilangan panen sampai mencapai 40%. Disamping dibidang pertanian, penurunan
pH pada sumber air juga dapat menyebabkan kehancuran bidang perikanan. Swedia
telah kehilangan daerah stok ikan seluas 20 000 km 2. Hujan asam juga telah
menghancurkan banyak hutan di Eropah. Hujan asam juga menyebabkan kerusakan
pada bangunan dan patung-patung sebagai hasil karya seni yang tinggi. Hujan asam
menyebabkan pelapukan pada material bangunan yang terbuat dari karbon, besi, batu,
pasir, dan kalsium karbonat. Kerugian yang ditimbulkan oleh peristiwa hujan asam
sangat besar, mencapai milyaran dolar.
Salah satu asam yang menyebabkan hujan asam adalah asam nitrat. Asam
nitrat ini dibentuk sebagai hasil reaksi fotokimia senyawa nitrogen oksida. Nitrogen
oksida tersebut berasal dari sisa pembakaran batu bara, minyak bumi dan gas alam.
Setiap tahunnya dihasilkan kira-kira 50 juta ton nitrogen oksida. Amerika Serikat
diperkirakan menghasilkan 10 juta ton gas tersebut, dari pembangkit listrik sekitar 4
juta ton, dari kegiatan industri 4,8 juta ton, dan dari kegiatan rumah tangga dan
pembangkit pemanas komersial sekitar 1,2 juta ton.
Asam lain yang menyebabkan hujan asam adalah asam sulfat. Asam ini berasal
dari reaksi fotokimia gas sulfuroksida. Secara keseluruhan gas ini lebih banyak
dihasilkan oleh kegiatan gunung api 67%. Kegiatan pembakaran bahan bakar,
terutama batubara, menyumbang sekitar 33% sulfuroksida yang dilepaskan ke
atmosfer sebagai gas buang. Banyaknya gas buang ini yang dilepaskan ke atmosfer
setiap tahunnya mencapai 1,5 juta ton.
Asam nitrat dan asam sulfat yang terbentuk di atmosfer oleh reaksi fotokimia
akan terlarut dalam titik-titik air hujan dan akan turun menjadi hujan asam. Karena
sewaktu di atmosfer asam nitrat dan asam sulfat tersebut dapat terbawa kemana-mana

oleh angin, dampak hujan asam menjadi suatu yang ironis. Daerah yang terkena
hujan asam biasanya berada jauh dari asal sumber pencemarannya. Misalnya daerah
di bagian selatan Norwegia, sebagian Swedia bagian barat, dan Skotlandia merupakan
daerah yang paling parah terkena hujan asam. Namun demikian sumber pencemaran
yang menyebabkan hujan asam bukan berasal dari daerah tersebut, melainkan diduga
berasal dari Inggris. Demikian juga gas buang sulfuroksida yang dihasilkan Amerika
Serikat, ternyata menyebabkan hujan asam di Kanada. Karena tingginya kegiatan
industri negara-negara Eropah yang menggunakan batubara, menyebabkan banyak
tempat di Jerman, Belanda, Prancis, Inggris dan Belgia terkena hujan asam. Akibat
nyata dari akibat hujan asam pada negara-negara tersebut adalah hancurnya kawasan
hutan Black Forest.
d. Pencemaran partikel debu
Selain dalam bentuk gas, pencemaran udara juga dapat disebabkan oleh partikel
debu dan saat ini pencemaran tersebut telah menjadi masalah yang serius. Keberadaan
partikel debu di atmosfer dapat selama beberapa jam sampai beberapa bulan,
tergantung dari ukuran partikel debu itu sendiri. Ukuran partikel debu antara 0,0002
sampai 500 mikron. Makin besar ukurannya, makin sebentar ia berada di atmosfer.
Keberadaan debu di atmosfer juga sangat dipengaruh oleh gerakan udara dan
konsentrasi debu. Jumlah partikel debu di atmosfer sangat bervariasi, dari beberapa
ratus hingga 100 000 per sentimeter kubik. Didaerah perkotaan pencemaran partikel
debu sudah sangat tinggi sekali, dapat mencapai 60 sampai 2000 mikrogram permeterkubik udara.
Secara alamiah ada sekitar 800 sampai 2000 juta ton partikel debu yang
lepaskan ke atmosfer oleh letusa gunung berapi, penghembusan debu dan tanah halus
oleh angin (aeolus), dan penguapan partikel garam dari lautan. Ada beberapa kegiatan
Manusia yang menghasilkan pencemar dalam bentuk debu. Pembakaran batubara,
minyak bumi, gas alam, dan kayu, prosesing industri, pembakaran hutan, dan
pembakaran pertanian menghasilkan debu sekitar 200 sampai 450 juta ton setiap
tahunnya. Zat penyusun partikel debu sangat bervariasi, dari bahan organic,
komponen nitrogen, komponen sulfur, berbagai logam, dan material radioaktif.
Partikel anorganik
Partikel anorganik pada debu terutama berasal dari oksida logam. Secara umum
partikel debu jenis ini merupakan sisa pembakaran bahan bakar fosil (yang
mengandung logam). Partikel besioksida akan terbentuk selama pembakaran batubara

yang mengandung pyrit. Sedangkan partikel kalsium karbonat yang terdapat pada
batubara akan diubah menjadi kalsium oksida. Partikel penting yang berasal dari
pembakaran adalah timah hitam (Pb = plumbum atau disebut juga sebagai timbal).
Meskipun saat ini penggunaan timah hitam untuk menaikkan nilai oktan bensin telah
dibatasi, namun pencemaran timah hitam masih menjadi perhatian serius. Dari hasil
pengukuran, pada jalan yang sibuk dapat terbentuk 1000-4000 mg Pb per kilogram
udara. Timah hitam dapat mempengaruhi kesehatan secara serius. Pengaruh Pb
terutama pada system enzim yang mempengaruhi sintesis butir darah merah, sehingga
dapat menyebabkan anemia. Amerika Serikat sejak tahun 1975 diperkirakan telah
melepaskan 200 000 ton Pb ke atmosfer setiap tahunnya.
Partikel anorganik debu yang penting lainnya adalah asbestos. Asbestos
merupakan serat mineral silikat yang memiliki ketahanan yang sangat tinggi. Partikel
tidak dapat hancur hingga waktu yang lama. Asbestos merupakan bahan tambang
yang digunakan sebagai baku material yang banyak digunakan pada perkerjaan
konstruksi dan anti api. Penggunaan asbestos dalam kehidupan sehari-hari dapat
menimbulkan resiko tinggi terhadap kesehatan.
Partikel asbestos dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. Partikel ini jika
terhisap oleh system pernapasan, dapat menempel pada rongga hidung, tenggorokan,
dan pada dinding paru-paru. Partikel yang menempel pada dinding paru-paru dapat
bertahan selama bertahun-tahun, dan tidak ada satupun cara efektif untuk
mengeluarkannya. Partikel ini dapat menyerang alveolar dan menyebab kerusakan
pada paru-paru. Berdasarkan penelitian diperoleh petunjuk bahwa ada hubungan
antara resiko terkena kanker paru-paru dengan jumlah partikel asbestos yang tersebar
di atmosfer.
Dari hasil penelitian Selikoft dari Stanford Research Institute menemukan
hubungan sinergi antara kebiasaan merokok dan penghisapan debu asbestos sebagai
penyebab kanker. Para perokok memiliki resiko terserang kanker paru-paru lemabelas
kali lebih tinggi dibandingkan kelompok bukan perokok. Perokok yang juga terhisap
debu asbestos memiliki resiko terserang kanker paru-paru lebih berat lagi, yaitu
delapan kali lebih tinggi dibanding resiko perokok. Dari segi pendanaan kesehatan ini
tentunya membutuhkan anggaran yang sangat besar. Kondisi ini juga akan
menimbulkan banyak kerugian karena hilangnya produktivitas kerja dan kehadiran
ditempat kerja.
Partikel organic

Partikel debu yang disusun oleh partikel organic memiliki variasi yang sangat
luas. Senyawa benzen merupakan fraksi material yang penting dari pertikel organic
debu. Komponen terpenting dari organic debu adalah hidrokarbon aromatik polisiklik
(PAH), karena material ini secara alami bersifat karsinogenik (pemicu munculnya
kanker). Debu di daerah perkotaan dapat memiliki komponen PAH mencapai 20
mikrogram permeter kubik. PAH umumnya ditemukan sebagai partikel padat dan
melekat pada partikel jelaga. Jelaga sendiri sebenarnya merupakan hasil kondensasi
komponen PAH. Selain PAH, pada permukaan jelaga juga terdapat logam-logam berat
bersifat toksik seperti Berilium, Cadmium, Cromium, Mangan, Nikel, dan Vanadium.
Kenaikan jumlah debu diatmosfer juga dapat mengurangi jarak pandang dan
daya tembus cahaya Matahari. Secara langsung kondisi ini tentunya akan sangat
membahayakan system navigasi dan akan berpengaruh terhadap absorpsi radiasi
Matahari oleh tanaman. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut tentunya dapat
berpengaruh terhadap formasi awan, hujan dan iklim.
2. Pencemaran air
Air merupakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (renewable).
Meskipun demikian dengan adanya gejala pemanasan global, diperkirakan akan
terjadi perubahan siklus air yang berdampak luas pada ketersediaan air di berbagai
tempat. Keadaan tersebut akan semakin diperparah oleh besarnya bahan pencemar
yang dibuang Manusia ke badan air, sehingga akan menurunkan kualitas air dan
menurunkan kemampuan air dalam membersihkan dirinya sendiri. Sumber
pencemaran air terutama berasal dari buangan rumah tangga, buangan industri,
pertanian, pertambangan, dan tingginya kadar muatan tersuspensi karena erosi.
a. Pencemaran bahan organic
Pengaruh bahan pencemar terhadap badan air yang paling mudah diamati
adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada sungai. Banyak sungai yang terdapat
diberbagai belahan dunia ini cenderung mengalami penurunan kualitas air. Hal
tersebut disebabkan oleh banyaknya bahan buangan yang dimasukkan kedalam
sungai. Sebagai petunjuk adanya penurunan kualitas air dapt dilihat dari nilai pH,
kebutuhan oksigen biologis (BOD), dan kebutuhan oksigen kimia (COD).
Secara alamiah kelarutan oksigen dalam air (DO) hanya sekitar 4-6 ppm (part
per million = bagian persejuta). DO memiliki peran yang penting bagi kehidupan
dalam air, karena inilah sumber oksigen utama untuk system pernapasan makhluk air.

Penurunan nilai DO selalu dijadikan indeks nilai polusi air. Penurunan DO dapat
disebabkan oleh penggunaan oksigen untuk proses penghancuran buangan material
organic dari rumah tangga, industri makanan, buangan sisa prosesing hasil pertanian,
dan sebagainya. Proses penghancuran semua material tersebut dilakukan oleh
aktivitas mikrobiologi yang sangat membutuhkan oksigen. Untuk menghancurkan
satu milligram bahan organic (senyawa karbon) dibutuhkan oksigen sebanyak 2,67
miligram. Jika makin banyak sampah yang harus dihancurkan didalam air, maka
semakin banyak oksigen yang diperlukan. Karena kebutuhan oksigen secara langsung
diambil dari oksigen terlarut, maka proses diatas akan menyebabkan penurunan kadar
oksigen secara tajam. Jika kadar oksigen menjadi sangat rendah atau habis (anoksia),
hal ini dapat menyebabkan matinya kehidupan di air.
Selain bahan organic alami, ada juga bahan organic sintetik, seperti minyak,
plastik, serat, bahan elastis, pelarut, detergen, cat, insektisida, bahan aditif makanan,
dan produk farmasi. Produksi senyawa sintetik ini dari tahun ke tahun jumlahnya
meningkat secara tajam. Peningkatan tersebut tentunya juga akan meningkatkan
jumlah buangannya ke badan air. Kehadiran bahan organic sintetik di dalam badan air,
selain akan mengurangi kelarutan oksigen juga akan mengubah sifat fisik air seperti
rasa, bau, dan warna.
Minyak adalah bentuk polusi yang paling luas di laut. Polusi minyak makin
meningkat dari tahun ke tahun dengan makin meningkatnya penggunaan minyak
sebagai basis teknologi. Sumber polusi minyak adalah tumpahan atau kebocoran
tanker di laut, tumpahan minyak selama eksplorasi dan penambangan minyak lepas
pantai, kebocoran system jaringan pipa minyak yang melewati badan air. Minyak
karena berat jenisnya lebih rendah dari air, keberadaannya di air selalu dilapisan
permukaan. Lapisan ini dapat menempel pada bulu burung-burung air ketika burung
terjun ke air sewaktu menangkap ikan. Kejadian ini dapat menyebabkan burung
menjadi tidak dapat terbang kembali, karena bulu-bulunya basah oleh minyak, dan
kondisi ini dapat menyebabkan burung-burung mengalami kematian. Lapisan minyak
dipermukaan juga dapat mereduksi daya tembus cahaya Matahari ke dalam laut. Hal
ini akan menurunkan laju fotosintasis tumbuhan dan fitoplakton laut. Akibatnya
terjadi penurunan DO pada air laut dan terjadi penurunan produktivitas bahan pangan.
Lapisan minyak pada permukaan laut juga akan membatasi sentuhan udara dan air
secara langsung. Keadaan ini tentunya akan mengurangi kebolehjadian larutanya
oksigen ke badan air, sehingga akan mengurangi DO. Jika terjadi kerusakan

kehidupan laut pada skala yang luas, maka akan terjadi kerusakan sumber hayati laut
yang didalamnya termasuk rantai makanan Manusia.
b. Pencemaran bahan an-organik
Bahan pencemar an-organik yang utama adalah logam. Logam akan
berpengaruh pada kesetimbangan

reaksi kimia

pada makhluk

hidup dan

kesetimbangan pH di dalam air. Logam dapat menjadi toksik dan mampu merusak
ekosistem aquatik.
Bahan an-organik domestik
Bahan an-organik domestik (berasal dari rumah tangga) adalah polifosfat yang
berasal dari pemakaian detergen. Detergen merupakan bahan pencemar fosfat utama
dalam air. Kelimpahan unsur fosfat di dalam air secara langsung akan menaikkan
ketersediaan hara bagi pertumbuhan ganggang. Adanya kelimpahan fosfat akan
menyebabkan ledakan pertumbuhan ganggang (eutrofikasi). Eutrofikasi akan
menyebabkan penurunan DO, peningkatan biaya prosesing air baku, dan proses
pendangkalan.
Bahan an-organik pertanian
Revolusi hijau sebagai upaya Manusia untuk meningkatkan ketersediaan bahan
pangan dalam menghadapi laju pertumbuhan penduduk telah membawa banyak
konsekuensi. Selain telah menurunkan keragaman sumberdaya hayati, terutama jenisjenis padi-padian dan gandum, revolusi hijau juga telah meningkatkan penggunaan
irigasi, pupuk, dan pestisida.
Penggunaan pupuk, terutama pupuk nitrogen, telah meningkat secara tajam dan
terkesan boros. Pemborosan tersebut, selain disebabkan karena mempertinggi biaya
produksi, juga karena ternyata efisiensi penggunaan pupuk ini relatif rendah. Tidak
semua pupuk yang diberikan ke lahan pertanian dapat digunakan oleh tanaman.
Sebagian pupuk tersebut hanyut dan masuk ke badan air, sehingga menyebabkan
pencemaran. Bahan pencemar yang utama dari pupuk nitrogen adalah senyawa nitrat.
Sama seperti dengan senyawa fosfat, kenaikan jumlah nitrat di dalam air sedikit saja
akan mampu menunjang pertumbuhan ganggang secara maksimal, sehingga
menimbulkan peristiwa eutrofikasi.
Pencemaran senyawa nitrat pada air minum dapat menyebabkan
metamoglobinemia yaitu peristiwa terikatnya senyawa nitrat pada butir darah merah,
sehingga menghalangi butir darah merah dalam mengangkut oksigen ke seluruh
tubuh. Keadaan tersebut dapat terjadi jika kandungan nitrat dalam air minum melebihi

10 ppm. Nitrat yang terminum dan masuk ke dalam sistem pencernaan akan diubah
menjadi senyawa nitrit. Senyawa nitrit ini yang akan berikatan dengan butir darah
merah (haemoglobin) membentuk metamoglobin. Metamoglobin dapat menyebabkan
kematian, karena tidak lancarnya suplai oksigen keseluruh tubuh.
Selain penggunaan pupuk, revolusi hijau juga membutuhkan pestisida sebagai
pengendali hama dan penyakit tanaman. Pestisida adalah bahan kimia beracun yang
mampu mempengaruhi proses kerja metabolisme dalam tubuh. Karena permintaannya
yang meningkat, produksi pestisida meningkat lebih dari 2 milyar kilogram setiap
tahunnya. Sama seperti penggunaan pupuk, penggunaan pestisida juga tidak efisien,
karena sulitnya menentukan konsentrasi efektif pestisida pada setiap kondisi lapang.
Akibatnya banyak pestisida yang terbuang percuma dan berdasarkan perhitungan
dapat mencapai angka 35%. Sisa yang terbuang tentunya akan memasuki lingkungan
non-target, misalnya masuk ke tanah dan badan air sehingga dapat mencapai ke
prasarana umum lainnya seperti daerah perikanan, danau, sumber air minum, air
tanah, dan lainnya. Karena mengandung bahan racun, banyak kematian yang
ditimbulkan dari pencemaran pestisida ini. Menurut catatan WHO, sedikitnya 500
000 orang keracunan pestisida setiap tahunnya, dan sedikitnya dapat menyebabkan
kematian 5000 orang. Perkiraan tersebut belum termasuk dampak lain yang
ditimbulkannya, seperti timbulnya kanker, keguguran, bayi-bayi cacat dan meninggal
sewaktu dilahirkan.
Di Indonesia juga terjadi peningkatan penggunaan pupuk dan pestisida dalam
mengejar target swasembada pangan. Selama berlangsungnya program BIMAS antara
tahun 1970-1980 pemakaian pupuk nitrogen meningkat menjadi 3-4 kali lipat dan
penggunaan pestisida meningkat lebih dari enam kali. Penggunaan pupuk meningkat
dari rata-rata 6 kg perhektar pada tahun 1960 menjadi lebih dari 240 kg per hektar
sawah pada tahun 1986. Sedang peningkatan penggunaan pestisida meningkat dari
4300 ton pada tahun 1979 menjadi 14400 ton pada tahun 1983 dan meningkat lagi
menjadi 18000 ton pada tahun 1987. Dapat kita bayangkan berapa banyak dampak
yang ditimbulkannya. Jika dulu kita masih dapat dengan mudah menemukan burung
gelatik, sekarang hampir tidak pernah kita menyaksikan burung yang cantik tersebut.
Jika dulu kita masih dengan mudah melihat kunang-kunang diwaktu malam, sekarang
hampir semua anak-anak SMP tidak pernah tahu seperti apa kunang-kunang tersebut.
Bahan an-organik industri

Tidak ada industri yang tidak mempunyai hasil samping yang dibuang sebagai
limbah. Umumnya limbah industri mengandung bahan-bahan berbahaya, terutama
jika terdiri dari unsur logam-logam berat. Logam berat meskipun jumlahnya relatif
sedikit, namun jika kandungannya melebihi ambang batas yang dipersaratkan, maka
logam berat tersebut dapat berubah menjadi racun yang mematikan. Berbahayanya
logam berat juga karena sifat logam berat yang dapat terakumulasi. Meskipun
masukannya sedikit, namun dalam jangka panjang konsentrasinya dapat meningkat
sehingga tetap dapat menjadi racun yang mematikan. Sifat meracun logam berat
tersebut disebabkan karena logam berat memiliki pengaruh yang menghambat
kegiatan fisiologis tubuh. Antara lain dapat terikat pada membran sel dan menghambat
proses transportasi pada membran. Beberapa logam berat yang penting sebagai bahan
pencemara adalah air raksa (hidrargium), Arsaenikum (As), Cadmium (Cd), Cuprum
(Cu), dan Plumbum (Pb) atau timah hitam.
Air raksa adalah logam berat yang mendapat perhatian besar sejak terjadinya
insiden Minamata pada tahun 1953 di Jepang. Akibat pembuangan limbah yang
mengandung Hg keteluk Minamata, menyebabkan terjadi akumulasi Hg pada hewan
laut yang berada di teluk tersebut. Kandungan Hg pada tubuh ikan dapat meningkat
sepuluh kali lipat dari kandungan Hg pada air. Mengkonsumsi makanan yang
mengandung Hg secara terus menerus ternyata juga meningkatkan akumulasi Hg pada
tubuh. Didalam tubuh Hg diakumulasi pada jaringan lemak. Sampai di batas tertentu
Hg dapat mengganggu kerja fisiologis tubuh dan menyebabkan kematian.
Kegiatan Manusia yang paling banyak menggunakan Hg adalah proses
elektrolitik yang menggunakan Hg sebagai electrode, pada industri alat-alat listrik
(lampu Hg, baterai dan lainnya), dari kegiatan penambangan emas, juga dari industri
pertanian yang menggunakan fungisida. Dari semua kegiatan tersebut, diperkirakan
sekitar 5000 ton Hg pertahunnya mencemari lingkungan. Hg dalam bentuk Hg o sangat
tidak toksik. Tapi dalam bentuk metil-Hg akan memiliki toksisitas yang sangat tinggi.
Terbentuknya metil-Hg berasal dari adanya aktivitas bakteri.
Arsenikum (As) umumnya diginakan sebagai bahan baku untuk insektisida,
fungisida, dan herbisida. Pada semua senyawa kimia tersebut As bersifat sangat
toksik. Cara kerja As dalam menghambat kerja fisiologis adalah dengan cara
menyerang system enzim dan dapat menggumpalkan protein.
Cadmium (Cd) di alam selalu terdapat bersama mineral seng. Panambangan
seng tentu juga akan mengangkat Cd. Pemisahan dan membuang Cd tentunya akan

menimbulkan racun. Pencemaran Cd juga dapat terjadi karena pengelolaan batu


baterai bekas yang tidak baik. Jika Cd terhisap atau termakan, Cd dapat menyebabkan
berbagai macam penyakit, antara lain tulang rapuh, kerusakan ginjal, anemia, dan
kanker.
3. Pencemaran tanah
Praktek pertanian untuk memperoleh hasil maksimal yang dilakukan pada saat
ini telah memberikan tekanan begitu besar terhadap tanah. Akibat dari tekanan yang
besar tersebut diperkirakan akan banyak terjadi peristiwa erosi, peningkatan salinitas
akibat penggunaan pupuk yang tidak terkendali dan praktek penggenangan air pada
tanah dengan irigasi, akan meningkat jumlah lahan kritis. Salinitas adalah peristiwa
peningkatan kadar garam pada lahan sehingga meningkatkan potensial osmotic tanah
dan menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik. Menurut laporan lebih
dari 10% dari total lahan dengan irigasi telah mengalami penurunan kesuburan yang
nyata karena penggenangan dan 10% lainnya mengalami kemunduran kesuburan
karena proses salinitas. Semua itu adalah akibat usaha intensifikasi pertanian tanpa
memandang batas-batas daya dukung tanah.
Akibat yang serius dari masalah tekanan terhadap tanah adalah masalah erosi.
Terbukanya permukaan tanah karena hilangnya vegetasi penutup, akibat penebangan
hutan dan pemanenan berat, akan menyebabkan hilangnya pelindung tanah dari
hantaman titik air hujan dan hembusan angin. Yang paling menderita dalam peristiwa
ini adalah lapisan tanah atas. Padahal kita tahu bahwa lapisan tanah atas sangat
penting dalam praktek pertanian, karena yang dapat mendukung pertumbuhan
tanaman dengan baik adalaha lapisan tanah atas ini. Jika hanya dilihat dari hantaman
satu titik air hujan saja mungkin tidak memberikan arti apa-apa. Namun akumulasi
dari jumlah dan besarnya butir yang menghantam tanah, tentu akan menghasilkan
gaya yang sangat besar. Besarnya gaya tersebut tentu sangat berpotensial untuk
menghancurkan dan memindahkan partikel tanah melalui proses penghanyutan.
Peristiwa ini yang umumnya menyebabkan terjadinya erosi tanah. Akibat erosi tanah
yang demikian, sejumlah besar tanah subur akan terkikis dari lahan setiap tahunnya.
a. Erosi dan lahan kritis
Akibat erosi, Kolumbia setiap tahunnya diperkirakan telah kehilangan 400 juta
ton tanah suburnya, Ethiopia kehilangan 1 milyar ton, dan India kehilangan sekitar 6
milayar ton. Di Iowa bagian selatan Amerika Serikat, erosi diperkirakan telah

menghilangkan setengah dari lapisan tanah atas daerah tersebut. Khusus di Indonesia,
pulau Jawa memiliki laju erosi tanah yang paling tinggi, yaitu lebih dari 200 ribu ton
pertahun. Berdasarkan data dari Pusat Penelitian Tanah, laju erosi tanah tahun 1911
sebesar 1,1 mm pertahun. Kemudian meningkat menjadi 6,3 mm pertahun pada tahun
1970. Berarti ada peningkatan hampir 6 kali selama kurun waktu 59 tahun. Hal ini
terjadi karena begitu luasnya tanah yang terbuka dan begitu besarnya tekanan praktek
pertanian di pulau Jawa. Akibat dari peristiwa tersebut, luas lahan kritis di Indonesia
terus meningkat mencapai 43 juta hektar. Kondisi tersebut belum memperhitungkan
akibat dari penjarahan hutan dan pembakaran hutan yang marak dalam beberapa tahun
belakangan ini.
Apabila laju hilangnya lapisan tanah subur tetap berlangsung seperti yang
terjadi pada saat ini, sepertiga lahan pertanian akan musnah hanya dalam waktu 20
tahun. Setiap tahunnya sekitar 200 000 kilometer persegi lahan pertanian mengalami
penurunan nilai ekonomi hingga ketitik nol. Artinya lahan pertanian tersebut telah
kehilangan produktivitasnya dan proses ini jika terus berlanjut, akan berpotensi
memperluas gurun. Gurun akan meluas dengan kecepatan 600 000 kilometer persegi
atau kira-kira dua kali luasnya Belgia, setiap tahunnya. Gurun dalam hal ini tidak
diartikan sebagai gurun yang terdiri dari hamparan pasir, tapi dipandang sebagai lahan
yang tidak lagi mampu mendukung kehidupan diatasnya. Akibat dari proses ini, dunia
diperkirakan akan kehilangan hasil pertanian sekitar 26 milyar dolar setiap tahunnya.
b. Perluasan gurun
Perluasan gurun mendapat perhatian yang serius dari dunia internasional sejak
terjadinya peristiwa musim kering yang panjang di daerah Sahel, yang menyebabkan
kematian ribuan penduduk dan jutaan hewan. Selain karena perubahan iklim yang
tidak terduga, kejadian ini sangat dipengaruhi oleh intensifikasi pertanian yang tidak
terkendali. Akibat intensifikasi pertanian yang berlebihan, tanah pertanian cepat
berubah menjadi lahan kritis. Selanjutnya karena dipicu oleh perubahan iklim yang
menjadi kering, lahan kritis berubah menjadi gurun. Ada beberapa faktor yang
mendorong percepatan proses penggurunan, yaitu:
1. Aktivitas pertanian yang berlebihan
2. Penggundulan hutan
3. Aktivitas penggembalaan yang berlebihan
4. Irigasi yang tidak terencana dengan baik
Aktivitas pertanian berlebihan

Aktivitas pertanian yang berlebihan dapat menyebabkan penurunan jumlah


bahan organic dan hara tanah secara cepat. Jika hal tersebut berlangsung terusmenerus dalam jangka waktu yang lama, akan menyebabkan tanah akan kehilangan
kesuburan. Akhirnya tanah menjadi tandus dan mengarah kepembentukkan gurun.
Irigasi yang tidak baik dan penggenangan
Air adalah zat yang sangat dibutuhkan dalam praktek pertanian. Lebih dari 80%
bagian tanaman tersusun oleh air. Air diperlukan tanaman untuk mengangkut hara dari
dalam tanah, untuk membentuk tekanan turgor agar tanaman dapat tegak, untuk
penguapan agar tanaman tidak meningkat suhunya sewaktu tepapar sinar Matahari,
dan untuk membantu proses metabolisme. Demikian pentingnya air bagi tanaman,
sehingga untuk meningkatkan produktivitas pertanian salah satu aspek yang perlu
mendapat perhatian adalah pengairan atau irigasi. Selama berlangsungnya revolusi
hijau, irigasi bersama kegiatan lainnya telah berhasil meningkatkan pertumbuhan
serelia menjadi enam kali lipat. Namun demikian tanpa perencanaan dan manajemen
yang baik, system irigasi dapat mengubah lahan menjadi gurun. Saat ini sekitar 500
000 hektar lahan beririgasi sedang mengalami proses penggurunan, dan pada saat
yang sama juga sedang disiapkan lahan irigasi yang baru dengan luas yang sama.
Penggenangan dapat menyebabkan garam yang terlarut dalam air tidak dapat
tercuci dan dapat terserap pada tanah yang tergenang. Akumulasi yang terus-menerus
dapat menyebabkan penggaraman pada tanah. Contoh yang dapat diambil untuk
peristiwa tersebut adalah proyek irigasi Mussayeb di Irak, yang dimulai tahun 1953.
Diluar perhitungan yang ada, ternyata 60% lahan yang mendapat irigasi dari proyek
ini mengalami peristiwa penggaraman. Hal yang sama juga terjadi di Pakistan,
Australia, Rusia, Jordania, dan Algeria. Akibat penggaraman tersebut tanah akhirnya
tanah tidak dapat ditumbuhi oleh tanaman dan berproses membentuk gurun.
Penggembalaan
Kegiatan lain yang sangat kuat mendorong proses penggurunan adalah
penggembalaan. Tekanan kegiatan penggembalaan pada tanah terutama pada bentuk
pemadatan tanah dan over grassing (pemanenan rumput secara berlebihan) sehingga
permukaan tanah selalu terbuka.
Secara umum ada tiga tipe jenis penggembalaan: nomaden, menetap, dan ranch.
Penggembalaan nomaden bersifat tradisional, terutama dipaktekkan di Timur Tengah
dan Afrika, yang umumnya berdaerah kering (arid). Karena sifatnya yang nomaden,

kegiatan penggembalaan sepwerti ini mampu mengeksploitasi wilayah yang sangat


luas.

Karena

adanya

kenaikan

jumlah

hewan

yang

digembalakan

dapat

mengakibatkan wilayah penggembalaan tidak mampu lagi mendukung kegitan


tersebut. Akibatnya tanah-tanah menjadi terbuka sehinga kemungkinan terjadinya
erosi (oleh air dan angin) secara berlebihan menjadi lebih besar.
Di Nigeria antara tahun 1938 sampai 1961 terjadi kenaikan jumlah sapi sampai
4,5 kali lipat. Jumlah ini masih terus bertambah, hingga pada tahun 1970 jumlahnya
telah mencapai 3,5 juta ekor. Pada saat yang sama terdapat 9 juta ekor kambing dan
domba, serta sejumlah besar unta dan keledai. Keadaan ini menyebabkan kerusakan
wilayah sepanjang jalur penggembalaan. Setelah rumput menghilang, biasanya selalu
diikuti oleh erosi yang parah. Keadaan yang sama juga terjadi di wilayah Sahel, Irak,
dan India. Situasi seperti ini semakin dipersulit dengan adanya kekeringan yang
berkepanjangan, seperti yang terjadi di wilayah Sahel sekitar tahun 70an hingga 80an,
yang makin memicu pembentukan gurun dari tanah-tanah kritis bekas padang
penggembalaan. Sebagai gambaran betapa parahnya keadaan wilayah Sahel dapat
dilihat dari laporan yang dibuat UNEP. UNEP memperkirakan, akibat pertanian dan
penggembalaan yang berlebihan disekitar Sahel, menyebabkan gurun Sahara
bertambah luasnya sekitar 1,5 juta hektar per tahun. Hal ini berarti, dalam sepuluh
tahun luas gurun Sahara akan bertambah setara dengan luas Cekoslowakia.
Peternakan dengan system ranch ternyata juga tidak lebih baik akibatnya
dibandingkan dengan system nomaden. Akibat penggembalaan yang berlebihan,
sekitar 64 000 kilometer persegi tanah di daerah cekungan Gascoyne Australia Barat
rusak akibat kegiatan ranch yang berlebihan selama 60 tahun. Hal yang sama juga
terjadi di Afrika, Amerika Serikat dan Canada.
Kesadaran baru
Manusia telah mampu memperoleh berbagai penemuan dan pengetahuan yang
banyak menolong dirinya dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada. Namun
dibalik itu semua, banyak kegagalan yang tidak pernah disadari secara langsung.
Berbagai kegiatan yang dilakukan Manusia ternyata menghasilkan berbagai limbah
dan perubahan tatanan lingkungan yang mengancam perubahan planet bumi secara
radikal. Semua kegiatan Manusia telah mengakibatkan tekanan yang sangat besar
terhadap tanah, air, udara, lautan dan sumberdaya alam lainnya yang ada di planet ini.
Tekanan tersebut pada satu sisi berupa permintaan sumberdaya alam yang berlebihan

dan pencemaran yang di sebabkan gaya hidup dari kelompok yang relatif makmur.
Akumulasi dari tekanan tersebut akhirnya membuat masalah lingkungan yang
mengancam kehidupan semua spesies yang ada di muka Bumi termasuk Manusia
sendiri.
Meskipun keadaan tersebut terlambat disadari, namun saat ini telah muncul
langkah-langkah positif untuk mengantisipasi masalah-masalah diatas. Tahun 1962
Rachel Carsons telah menyadarkan kita, bahwa penggunaan DDT racun yang
digunakan untuk pengendalian serangga) ternyata telah berdampak buruk. Jika pada
awal penemuannya, formula ini membawa harapan yang besar pada Manusia dalam
upaya pengendalian serangga pengganggu. Meskipun pada awalnya, serangga
pengganggu yang menjadi target racun ini dapat dikendalikan, namun termakannya
serangga yang terkena racun oleh burung menyebabkan banyak burung juga
mengalami kematian. Akibat kematian burung burung ini yang menyebabkan musim
semi yang seharusnya riang dengan kicauan burung, menjadi sunyi senyap, silent
spring. Belakangan juga diketahui bahwa serangga yang menjadi target DDT, karena
berbagai proses biologis akhirnya ada yang tahan atau kebal terhadap racun tersebut.
Keturunannya tidak dapat lagi dikendalikan dengan DDT dan bahkan populasi
meningkat secara pesat (peristiwa resurjensi) dan menimbulkan kerugian yang sangat
besar.
Pada tahun 1968 sebuah konferensi internasional di Amerika Serikat
mengkritik dengan tajam bantuan luar negeri negara maju kepada negara berkembang,
yang menurut mereka justru telah menghancurkan lingkungan. Kepincangan kerjasama tersebut terletak pada ketidak seimbangan posisi tawar antara kedua negara.
Dalam praktek pinjaman luar negeri tersebut, kelompok negara maju yang sudah
mapan perekonomiannya justru memperoleh keuntungan yang lebih banyak
dibandingkan apa yang mereka berikan kepada negara berkembang atau negara
miskin. Negara berkembang atau negara miskin karena ketidakmampuannya, akhirnya
terpacu mengekploitasi sumber daya alamnya secara berlebihan uantuk pelunasan
hutang-hutangnya.
Kesepakatan global dan jalan panjang yang harus dilalui
Sebagai lembaga internasional, pada tahun 1972 PBB mengambil inisiatif untuk
mengadakan konferensi lingkungan hidup di kota Stockholm Swedia. Pada saat ini
pertama kali diperkenalkan konsep pembangunan terintegrasi. Salah satu prinsip dari

konsep tersebut adalah: bahwa untuk mencapai manajemen penggunaan sumberdaya


alam yang rasional dan untuk memperbaiki lingkungan, negara harus menggunakan
pendekatan terintegrasi dan terkoordinasi dalam rencana pembangunannya, untuk
memastikan bahwa pembangunannya berjalan seimbang dengan kewajiban untuk
memelihara dan memperbaiki lingkungan demi kepentingan seluruh rakyatnya. Satu
hal yang paling penting dari konferensi tersebut adalah: bahwa lingkungan tidak lagi
merupakan masalah satu negara, melainkan telah menjadi masalah internasional.
Konferensi ini juga sepakat untuk mendirikan satu badan PBB khusus untuk
lingkungan. Badan tersebut kemudian dinamakan United Nations Environmental
Programme (UNEP) yang bermarkas di Nairobi Kenya.
Pada kenyataannya, hasil konferensi Stockholm tidak berhasil mengatasi
permasalahan yang dihadapi dunia. Negara maju tetap saja menganut pola konsumsi
yang mewah dan boros akan sumberdaya alam, serta menghasilkan sejumlah besar
polutan yang mencemari lingkungan. Negara maju tidak serius dalam mengurangi
polutannya. Negara maju bahkan melakukan praktek-praktek kurang terpuji. Dengan
alasan alih teknologi negara maju memindahkan industri-industri yang berpotensi
menghasilkan polutan ke negara-negara berkembang. Sedang negara berkembang,
karena beban hutang luar negerinya yang membengkak, tetap meningkatkan
eksploitasi sumberdaya alamnya. Akibatnya, di negara berkembang selain terjadi
kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumberdaya alam tidak terkendali, juga
terjadi peningkatan pencemaran lingkungan.
Tidak terkendalinya berbagai masalah lingkungan, menyebabkan PBB
membentuk sebuah komisi khusus untuk menelaah masalah lingkungan, yaitu komisi
dunia untuk lingkungan dan pembangunan (world commission on environment and
development). Komisi ini bertugas mempelajari tantangan lingkungan dan
pembangunan menjelang tahun 2000 dan cara-cara penanggulangannya. Kerangka
acuan yang digunakan oleh komisi ini adalah:
1. Mengusukan strategi lingkungan jangka panjang untuk mencapai pembangunan
terlanjutkan pada tahun 2000 dan sesudahnya.
2. Menyarankan agar keprihatinan terhadap lingkungan dapat disalurkan dalam kerja
sama antar negara berkembang dan negara maju dengan tingkat tahapan
pembangunan ekonomi dan social yang berlainan menuju tercapainya sasaran
bersama dan saling mendukung yang memperhitungkan hubungan antar
penduduk, sumberdaya, lingkungan, dan pembangunan.

3. Mengajukan jalan dan cara agar masyarakat dunia dapat menangani lebih efektif
masalah lingkungan
4. Merumuskan persepsi bersama tentang masalah lingkungan jangka panjang dan
usaha menanggi masalah proteksi dan meningkatkan lingkungan, agenda kerja
jangka panjang untuk dasawarsa yang akan datang, dan sasaran aspiratif bagi
masyarakat dunia.
Komisi ini telah menyelesaikan tugasnya pada tahun 1987 dan mengumumkan
hasil kerjanya dalam laporan yang berjudul Our Common Future (hari depan kita
bersama). Laporan ini bertemakan pembangunan berkelanjutan (sustainable
development). Menurut definisi komisi ini, pembangunan berkelanjutan adalah
pembangunan yang berusaha memenuhi kebutuhan hari ini tanpa mengurangi
kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dengan
demikian, pembangunan berkelanjutan berwawasan jangka panjang yang meliputi
jangka waktu antar generasi. Pembangunan diharapkan tidak bersifat serakah untuk
kepentingan diri sendiri, melainkan memperhatikan juga kepentingan anak cucu
dengan berusaha meninggalkan sumberdaya yang cukup dan lingkungan yang sehat,
yang dapat mendukung kehidupan mereka dengan sejahtera.
Dunia perlu merancang strategi untuk mengubah pola pembangunan masa kini
menuju suatu system pembangunan yang berkelanjutan. Dari hasil kerja komisi telah
disusun poin-poin persaratan kebijakan lingkungan dan pembangunan yang
berkelanjutan yang mencakup:
1. Menggiatkan kembali pertumbuhan
2. Mengubah kualitas pertumbuhan
3. Memenuhi kebutuhan dasar berupa pekerjaan, pangan, enerji, air dan sanitasi
4. Memastikan dicapainya jumlah penduduk yang berlanjut
5. Menjaga kelestarian dan meningkatkan sumberdaya
6. Mereorientasikan teknologi dan mengelola resiko
7. Menggabungkan lingkungan dan ekonomi dalam pengambilan keputusan.
Selanjutnya dalam upaya untuk mengembangkan strategi pembangunan
berkelanjutan, IUCN, UNEP, dan WWF mengusulkan agar kegiatan pembangunan
didasarkan pada berbagai prinsip berikut:

1. Membatasi dampak kegiatan Manusia dalam pembangunan sampai tingkat yang


masih berada dalam batas kemampuan biosfer untuk mendukungnya
2. Memelihara sumberdaya hayati bumi dengan sebaik-baiknya
3. Menggunakan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui pada batas yang tidak
melebihi sumberdaya pengganti yang dapat diperbaharui
4. Perlunya upaya pemerataan dalam memeperhitungkan untung rugi pemanfaatan
sumberdaya baik di dalam maupun antar negara
5. Perlu upaya peningkatan penggunaan teknologi guna memperoleh manfaat yang
lebih efisien dari persediaan sumberdaya yang ada
6. Menggunakan kebijakan ekonomi yang lebih sesuai guna meningkatkan
kemampuan alam sebagai pendukung kualitas hidup yang lebih baik
7. Menggunakan pendekatan lintas sektoral secara dini dalam pengambilan
keputuasan
8. Mengembangkan nilai budaya yang mendukung tercapainya pembangunan yang
berwawasan lingkungan.
Akhirnya konsep pembangunan berkelanjutan menjadi kesepakatan global yang
ditandatangani pada Konferansi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil
pada tahun 1992. Namun demikian, dengan pesatnya pembangunan sebagai tuntutan
peningkatan kebutuhan Manusia, menimbul berbagai macam permasalahan dari
meningkatnya kemiskinan, konflik social, kesenjangan akses pada sumberdaya alam,
kurang berperannya pihak terkait dalam pengelolaan lingkungan, degradasi
sumberdaya, dan sebagainya. Hingga menjelang sepuluh tahun KTT Bumi Rio, pada
tahun 2002, kondisi lingkungan dan social di planet Bumi semakin menurun. Hal
tersebut

ditandai

dengan

makin

meningkatnya

jumlah

penduduk

miskin,

meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca, menurunnya (punahnya) keanekaragaman


hayati, meningkatnya kerusakan hutan akibat konversi ke hutan tanaman industri atau
ke lahan pertanian atau ke pertambangan.
Oleh karena itu diperlukan komitmen yang jelas agar pembangunan
berkelanjutan dapat dilaksanakan secara konsisten di planet Bumi. Untuk itu tiap
negara perlu melakukan evaluasi terhadap kemajuan, tantangan, dan hambatan dalam
mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan selama 10 tahun sejak KTT bumi.
Menyusun strategi dan rencana aksi untuk periode 2002-2012 bagi pembangunan
berkelanjutan. Semua hasil kerja tersebut dibawa untuk bahan pembicaraan pada

konferensi tingkat tinggi pembangunan berkelanjutan atau World Summit on


Sustainable Development (WSSD) di Johannesburg, Afrika Selatan. Dalam konferensi
tersebut Agenda 21 yang menjadi jiwa konferensi Rio dievaluasi dan direvitalisasi
pelaksanaannya.

Daftar Pustaka
Amsyari, F. 1992. Dasar-Dasar dan Metode Perencanaan Lingkungan dalam
Pembangunan Nasional. Widya Medika, Jakarta.
Anonimuos. 1982. Undang-Undang Republik Indonesia No. 4 Tahun 1982
Tentang Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 12.
Anonimous. 1991. Some Aspect of Sustainable Development. (Ed. Louise Grenier).
Proceeding of THE UCE Workshop on Sustainable Development.
Anonimous. 1993. Neraca Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nasional 1993.
Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup dan Yayasan
Pengembangan Statistik Indonesia.
Bernoit, R.J. 1987. Whats Wrong with the Environment ?. Dalam Frances, S.S.
(eds.) Environmental Science. The New York Academy of Science.
Brundland, G.H., M. Khalid, S. Agnelli, S.A. Al-Athel, B. Chiazero, L.M. Fandika, V.
Hauff, I. Lang, M. Shijun, M.M. de Botero, N. Singh, P.N. Netto, S. Okita,
S.S. Ramphal, W.D. Ruckleshaus, M. Sahnoun, E. Salim, V. Sokolov, J.
Stanovnil dan M. Strong. Hari Depan Kita Bersama. Komisi Dunia untuk
Lingkungan dan Pembangunan. P.T. Gramedia, Jakarta.
Choulen, E.T. 1990. Environmental Protection. Dalam
Environmental Science (2nd Edition). Mc Graw Hill.

Encyclopedia

of

Chiras, D.D. 1985. Environment Science, A Framework for Decision Making. The
Benjamin-Cummings Publishing Company, Menlo Park, USA.
de Blij, H.J. 1982. Human Geography Culture, Society and Space. Jhon Wiley &
Sons, New York.
Djajadiningrat, S.T. 1992. Konsep Pembangunan Berkelanjutan yang
Berwawasan Lingkungan. Dalam Membangun Tanpa Merusak
Lingkungan. 20 Tahun Gerakan Lingkungan. Kantor Menteri Negara
Kependudukan dan Lingkungan Hidup Indonesia.
Grainger, A. 1984. Disertification. International Institute for Environment and
Development.

Heer, D.M. 1985. Masalah Kependudukan di Negara Berkembang. Bina Aksara,


Jakarta.
Meadow, D.H., D.L. Meadow, J. Randers dan W.W. Behrens III. 1980. Batas-Batas
Pertumbuhan. P.T. Gramedia, Jakarta.
Miller, G.T. Jr. 1985. Environmental Science; An Introduction. Words Warth
Publishing Company, Belmont California.
Ramulu, S.V.S. 1982. Chemistry of Herbicides. Oxford and IBH Publishing Co.,
New Delhi.
Weir, D. dan M. Schapiro. 1985. Lingkaran Racun Pestisida. Sinar Harapan,
Jakarta.