Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Tubuh manusia sebagian besar tersusun oleh cairan. Terdapat berbagai jenis cairan di dalam
tubuh. Cairan itu dapat berupa air, mineral, darah, dan lain sebagainya. Diperlukan suatu
mekanisme untuk mengatur seluruh hal tersebut. Tanpa adanya mekanisme yang mampu
mengatur cairan di dalam tubuh maka metabolisme cairan dalam tubuh akan kacau.
Di dalam tubuh terdapat sistem yang disebut Renin Angiotensin Aldosterone System
(RAAS). Sistem renin angostensin aldoserone berfungsi untuk mengatur semua metabolisme
cairan di dalam tubuh. Kerja sistem ini diawali dengan diekskresikannya enzim renin. Enzim
renin disekresi oleh sel juktaglomelural di ginjal.
Renin, secreted in response to stimuli which compromise kidney perfusion, increases plasma
angiotensin and this stimulates aldosterone secretion. (Laragh, Baer, Brunner, Buhler, Vaughan :
1972).
Angiotensinogen dari hati akan bergabung dengan renin dan akan membentuk angiotensin I.
Angiotensin I ditambah dengan ACE dari paru-paru akan membentuk Angiotensin II.
Angiotensin II akan menstimulasi disekresikannya aldosterone. Semua jenis cairan tersebut
memiliki peran masing-masing dalam mengatur cairan di dalam tubuh. Contohnya adalah
angiotensin II yang berperan untuk mengatur tekanan darah. Weir dan Dzau (1999) menyatakan
Angiotensin II plays a central role in the regulation of systemic arterial pressure through its
systemic synthesis via the renin-angiotensin-aldosterone cascade..
Renin angiotensin aldosterone system mengatur garam dan air dalam tubuh, tekanan darah,
dan keseimbangan potassium dalam tubuh. Dengan adanya sistem renin angiotensin aldosterone
dalam tubuh maka semua sistem metabolisme cairan dalam tubuh akan berjalan lancar. Apabila
1

sistem renin angiotensin aldosterone tidak dapat bekerja secara maksimal, maka akan terjadi
banyak gangguan di dalam tubuh dan akan menyebabkan penyakit di dalam tubuh.

1.2 Rumusan Masalah


- Apa itu Renin Angiotensin Aldosterone System ?
- Bagaimana mekanisme kerja Renin Angiotensin Aldosterone System ?
- Apa saja dampak Renin Angiotensin Aldosterone System bagi tubuh ?

1.3 Tujuan
- Mengetahui apa itu Renin Angiotensin Aldosterone System.
- Mengetahui mekanisme kerja Renin Angiotensin Aldosterone System.
- Mengetahui apa dampak Renin Angiotensin Aldosterone System bagi tubuh.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Renin Angiotensin Aldosterone System


2

Renin Angiotensin Aldosteron System (RAAS) adalah suatu sistem/mekanisme hormon


yang mengatur keseimbangan tekanan darah dan cairan dalam tubuh. Peranan renin angiostensin
sangat penting pada hipertensi atau gangguan ginjal. Bila ginjal rusak akan banyak
mengeluarkan renin. Nama renin pertama kali di temukan oleh Tigerstredt dan Bergman
( 1898) untuk zat presor yang di ekskresikan dari ginjal kelinci. Pada taun 1975 Page dan
Helmer berpendapat

bahwa renin adalah enzim yang berkerja pada protein, dan

angiostensinogen untuk melepas angiostensin. Pada tahun 1991 Rosivsll berpendapa bahwa
renin disekresi oleh sel juxtaglomelurar yang terdapat pada dinding arteriol afferen ginjal,
sebagai kesatuan dari bagian macula densa satu unit nefron . Menurut Guyton dan Hall ( 1997 ),
renin adalah enzim dengan protein kecil yang dilepaskan oleh ginjal bila tekanan arteri turun
sangat rendah. Menurut Klabunde (2007) pengeluaran renin dapat disebabkan aktivasi saraf
simpatis , penurunan tekanan arteri ginjal disebabkan oleh penurunan tekanan sistemik arteri
ginjal, dan penurunan asupan garam ke tubulus distal.

2.2 Mekanisme kerja Renin Angiotensin Aldosterone System

Mekanisme kerja dari RAAS dapat dimulai dari 3 proses:


1. Penurunan volume darah yang menyebabkan terjadi penurunan tekanan darah di
glomerulus. (hipotensi/renal artery stenosis)
2. Stimulasi sel juxtaglomerular oleh saraf simpatis
3. penurunan konsentrasi osmotic cairan tubular di macula densa.(penurunan kadar sodium)
3 proses diatas dapat merangsang sel-sel jukstaglomerular di ginjal untuk melepaskan enzim
renin, kemudian renin ini akan bersirkulasi ke seluruh tubuh yang kemudian akan bertemu
dengan angiotensinogen yang diproduksi di hati untuk melepaskan enzim angiotensin

I. Angiotensin I yang dinduksi oleh ACE (Angiotensin Converting Enzyme) menjadi teraktivasi
dan berubah menjadi Angiotensin II. Karena jumlah Angiotensin I meningkat, maka jumlah
Angiotensin II turut meningkat. Angiotensin I akan berubah menjadi Angiotensin II setelah
diubah oleh Angiotensin Converting Enzim (ACE) yang dihasilkan oleh endotelium pembuluh
paru.
Angiotensin II yang terbentuk akan berikatan dengan AT Receptor. Angiotensin II akan
menyebabkan beberapa efek, yaitu :
1. Vasokontriksi di seluruh tubuh terutama di arteriol yang akan meningkatkan tahanan
perifer total sehingga terjadi peningkatan tekanan arteri.
2. Menurunkan eksresi garam dan air sehingga meningkatkan volume ekstra sel yang
menyebabkan peningkatan tekanan arteri juga.
3. Merangsang sekresi aldosteron di kalenjar adrenal yang kemudian meningkatkan
reabsorpsi garam dan air oleh tubulus ginjal.
4. Merangsang central nervous system untuk menjadi haus sehingga kelenjar pituitary
posterior mengeluarkan hormon vasopresin (ADH) yang akan menstimulasi reabsorpsi
air di ductus collectivus dan peningkatan tonus simpatis, meningkatkan cardiac output.
Angiotensin II dapat berubah menjadi Angiotensin III (suatu heptapeptid) yang juga mempunyai
peranan biologik, dimana potensinya 20-30% dibanding Angiotensin II (AII). Oleh karena paru
mempunyai vascular bed yang luas diperkirakan selain merupakan tempat utama produksi ACE
juga tempat utama perubahan Angiotensin I menjadi Angiotensin II (Johnston, 1996). Penelitian
selanjutnya menunjukkan bahwa ACE sama dengan enzim Kinase II dan enzim ini bertanggung
jawab terhadap degradasi dari bradikinin yang merupakan suatu vasodilator dapat digambarkan
seperti :

PERANAN ANGIOTENSIN CONVERTING ENZYME (ACE)

Enzim yang mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II disebut dengan Angiotensin


Converting Enzyme (ACE) (Sargowo, 1999). Perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II
tidak saja terjadi di paru-paru, namun ACE ditemukan pula di sepanjang jaringan epitel
pembuluh darah (Oates, 2001). Rangkaian dari seluruh sistem renin sampai menjadi
angiotensin II dikenal dengan Renin Angiotensin Aldosteron System (RAAS). Sistem tersebut
memegang peranan penting dalam patogenesis hipertensi baik sebagai salah satu penyebab
timbulnya hipertensi, maupun dalam perjalanan penyakitnya (Ismahun, 2001). RAAS
merupakan sistem hormonal yang kompleks berperan dalam mengontrol sism kardiovaskular,
5

ginjal, kelenjar andrenal, dan regulasi tekanan darah. Sistem RAAS tidak berperan sebagai
sistem hormonal, tetapi dapat berperan sebagai (Kramkoowski, et al. 2006).

Salah satu obat yang digunakan untuk mengembalikan tekanan darah pada penderita
hipertensi yaitu ACE-inhibitor. ACE-inhibitor merupakan obat unggulan untuk penyakit
kardiovaskular, terutama dalam memperbaiki fungsi dan anatomi pembuluh darah arteri,
memperbaiki fungsi endotel, meregresi tunika media, meregresi dan menstabilkan plak
aterosklerosis (Soemantri, et al. 2007). Obat-obatan yang termasuk dalam ACE inhibitor tersebut
bekerja dengan menghambat efek angiotensin II yang bersifat sebagai vasokonstriktor.
Selanjutnya ACE menyebabkan degradasi bradikinin menjadi peptida inaktif atau dalam
pengertian bradikinin tidak diubah. Dengan demikian peranan ACE pada hipertensi yaitu
meningkatkan kadar bradikinin yang memberikan kontribusi sebagai vasodilatator untuk ACE6

inhibitor. Akibat vasodilatasi maka menurunkan tahanan pembuluh peripheral, preload dan
afterload pada jantung sehingga tekanan darah dapat diturunkan (Sargowo, 1999; Taddei, et al.
2002).
PERANAN ACE ( ANGIOTENSIN CONVERTING ENZYME ) DI OTAK
Angiotensinogen merupakan molekul prkursor untuk angiotensin I, II, III enzim renin,
angiotensin converting enzim (ACE) dan aminopeptidase A dan N yang seluruhnya dapat
disintesis di dalam otak. Reseptor-reseptor angiotensin AT(1), AT(2), dan AT(4) juga disintesis di
dalam otak. Reseptor AT(1) ditemukan di beberapa bagian otak, seperti paraventrikular
hipothalamus, nukleus supraoptik, lamina terminalis, nukleus parabrachial lateral, dan medula
ventrolateral yang diketahui mempunyai fungsi regulasi sistemkardiovaskular dan/atau
keseimbangan eletrolit dan cairan tubuh. Studi immunohistokimia dan neuropharmakologi dapat
menjelaskan bahwa angiotensinergic saraf digunakan angiotensin II dan/atau angiotensin III
sebagai neurotransmiter atau neuromodulator di dalam bagian-bagian otak tersebut.
Angiotensinoen disintesis terutama pada astrocytes, tetapi proses dimana angiotensin II
menghasilkan atau menggabungkan dengan neuron untuk digunakan sebagai neurotransmiter
masih belum jelas. Reseptor AT(4) serupa dengan insulin-regulated aminopeptidase ( IRAP ) dan
berperan dalam mekanisme memory. Angiotensinergic pada saraf dan peptida-peptida
angiotensin penting dalam fungsi saraf dan mempunyai peranan penting homeostasis, khususnya
yang berhubungan dengan fungsi kardiovasculer, osmoregulasi dan termoregulasi (McKinley, et
al. 2003).
Peranan angiotensin II sangat penting pada sistem kardiovaskular dan homeostatic yang
dapat mengaktifkan reseptor-reseptor spesifik terutama angiotensin II tipe 1 (AT1) yang
berlokasi di dalam peripheral dan otak. Fakta memperlihatkan bahwa renin angiotensin system

(RAS) di dalam otak penting untuk menjaga tekanan darah normal dan perkembangan pada
hipertensi. Baru-baru ini telah diketahui keberadaan ACE2 di dalam otak berperan sebagai enzim
yang memodulasi aktivitas RAS otak selama perkembangan hipertensi neurogenic (Lazartigues,
2007).
Peranan reseptor AT1 yaitu menjaga keseimbangan cairan tubuh, tekanan darah, siklus
hormon reproduksi, dan perilaku seksual. Reseptor AT2 mempunyai peranan pertumbuhan
pembuluh darah (varcular) dan kontrol aliran darah. Reseptor AT4 terdistribusi pada neocortex,
hippocampus, cerebelum, struktur ganglia basalis, dan beberapa jaringan periheral. Reseptor AT4
berperan dalam kemampuan memory, regulasi aliran darah, pertumbuhan neurit, angiogenesis
dan fungsi ginjal (Wright and Harding, 1997).

Peran ACE di Otak

Dalam mekanisme ini ada beberapa hormon yang mempunyai peran penting, diantaranya
adalah:
1. Renin : suatu enzim protein yang dilepaskan oleh ginjal bila tekanan arteri turun.
2. Angiotensin : merupakan enzim yang dibagi menjadi; angiotensin 1( enzim yang
mempunyai sifat vasokonstriktor ringan tapi dapat bertahan lama dalam darah);
angiotensin II (enzim yang mempunyai sifat vasokonstriktor kuat tapi hanya 1-2
menit dalam darah karena diinaktivasi angiotensinase ).
3. Angiotensinogen : pengubah renin menjadi angiotensin 1.
4. Angiotensin converting enzim (ACE) : enzim pengubah angiotensin 1 menjadi 2.
5. Aldosteron : hormon steroid golongan mineralkortikoid yang dihasilkan oleh korteks
adrenal yang mempunyai fungsi untuk meningkatkan absorpsi natrium dan
9

meningkatkan sekresi kalium oleh sel epitel ginjal terutama sel prinsipal di sel tubulus
kolektivus.
2.3 Dampak Renin Angiotensin Aldosterone System Bagi Tubuh
Renin Angiotensin Aldosterone System menimbulkan beberapa efek terhadap tubuh itu
sendiri. Beberapa efek dari Renin Angiotensin Aldosterone System Bagi Tubuh adalah sebagai
berikut :
1. Efek Angiotensi II ( AII ) pada Sistem Kardiovaskuler
Efek AII perifer yang berperan dalam sistem kardiovaskuler berhubungan dengan beberapa
target organ yaitu jantung, pembuluh darah, adrenal, ginjal dan sistem saraf. AII mempunyai efek
langsung pada pembuluh darah yaitu berupa vasokonstriksi dan perubahan struktur yang
menyebabkan kenaikan resistensi sehingga menambah kenaikan tekanan darah, disamping itu
AII merangsang kelenjar korteks adrenalin menyebabkan pelepasan aldosteron dimana
aldosteron ini mempunyai efek retsnsi natrium dan cairan yang menyebabkan penambahan
cairan ekstraseluler hal ini juga akan menambah peningkatan tekanan darah. AII juga
merangsang pelepasan non adrenalin dalam sistem saraf simpatis dan katekolamin dari medulla
adrenalin. Efek lain dari AII juga berhubungan dengan kenaikan sekresi vasopresin dan
endothelin, mempengaruhi pusat rasa haus dan keinginan untuk minum, keniakan tonus arteri
koroner juga hipertropi miosit dan proliferasi fibroblas serta inotropik dan kronotropik.
Pemberian subpressor dose AII menyebabkan efek kenaikan tekanan darah ringan dan pelanpelan tanpa diikuti adanya kenaikan retensi garam dan cairan sekresi aldosteron dan kenaikan
cairan ekstraseluler juga tidak terlihat adanya mekanisme kompensasi yaitu kenaikan aktivitas
simpatik, sekresi atrial natriuretic factor (ANF) serta kenaikan produksi vasodilator
prostaglandin. Sedangkan pemberian presor dose AII akan terjadi efek kenaikan tekanan darah
10

secara mendadak dan nyata disertai dengan meningkatnya retensi garam dan cairan juga
kenaikan sekresi aldosteron sehingga terjadi kenaikan volume cairan ekstraseluler diikuti dengan
kenaikan curah jantung.

11

2.

Efek Angiotensin II pada Hipertensi

Angiotensin II adalah mediator utama dari RAS yang bekerja secara berikatan dengan
reseptor-reseptornya yang terletak pada setiap jaringan. Peran yang pasti dari angiotensin II pada
hipertensi adalah komplek dan tidak selengkapnya dimengerti, meskipun hal ini terbukti bahwa
sedikit peningkatan AII plasma dapat meningkatkan tekanan darah.

12

Efek sistemik jangka pendek dari RAS diantaranya vasokontriksi, positif kronotropik

dan

aritmogenik pada jantung dan efek aldosteron yang berpengaruh pada resorbsi na trium dan air di
ginjal. Sedangkan efek kronis dari peningkatan aktivitas RAS pada jaringan berhubungan erat
dengan terjadinya hipertensi intraglomeruler, hipertrofi vaskuler dan miokard, perubahan
metabolik dan disfungsi endotel.

3.

Efek Kardioprotektif dari ACE1 dan AIIRA


Aktivasi RAS yang secara kronis dan berlebihan pada pengobatan terhadap gagal jantung

(HF) dapat menyebabkan efek penghilangan dalam jangka pendek ataupun panjang, yang mana
efek penghilangan tersebut akibat aksi fisiologis dari AII yang memiliki pengaruh dalam
homeostasis kardiovaskuler-vasokonstriksi, vaskuler hipertropi dan pelepasan aldosteron.
Penurunan kerja AII merupakan cara yang logis dalam terapi HF dan sering dilakukan dengan
pemakaian ACE inhibitor yang secara sistematis memblokade AI AII, atau melalui blokade
reseptor AT1, namun demikian saat ini diketahui bahwa AII dapat dibentuk melalui kerja
13

chymase pada jaringan lokal, termasuk jantung yang tidak tergantung dengan ACE. Untuk itu
inhibisi lebih sempurna terhadap AII perlu dilakukan, yang secara teoritis dilakukan dengan
pemakaian AIIRA.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Renin Angiotensin Aldosterone System ( RAAS ) termasuk complex feedback ( umpan
balik kompleks ) yang berfungsi dalam homeostasis ( menjaga keseimbangan tubuh ).
Penurunan dalam tekanan darah dan volume darah akan memicu pembebasan renin dari
juxtaglomerular apparatus (JGA). Kemudian tekanan dan volume darah yang disebabkan
oleh berbagai kerja angiotensin II dan aldosteron akan mengurangi pelepasan renin.
Angiotensin II berperan penting untuk meningkatkan tekanan darah ( terjadinya hipertensi ).
Sebagian besar penderita hipertensi diobati secara medis dengan pemberian obat hipertensi
14

(Obat - obatan diuretik umumnya mengatur asupan garam dan air pada ginjal yang dapat
menurunkan volume darah ). Jadi angiotensin II sangat diperlukan untuk vasokonstriksi.
Selain itu, Angiotensin II dibentuk di paru-paru dengan penambahan dari angiotensin I
ditambah ACE ( Angiotensin Converting Enzyme ).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

Retrieved

from

https://pharma.bayer.com/en/research-and-development/research

focus/cardiovascular/raas/index.php ( Accessed : 31 Oktober 2015 ).


Anonim. Sistem Renin.http://www.scribd.com/doc/62018682/Sistem-renin#scribd ( Accessed :31
Oktober 2015 ).
Hernawati.http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/197003311997022HERNAWATI/FILE_6.pdf ( Accessed : 31 Oktober 2015 ).

15

Laragh JH, Baer L, Brunner HR, Buhler FR, Vaughan JE. Renin, angiotensin and aldosterone
system in pathogenesis and management of hypertensive vascular disease. 1972.
Sargowo, Djanggan. POWERFUL COMBINATION TO ACHIEVE BP CONTROL Current
Update

On

Hypertension

Management.

Retrieved

from

http://djanggan.lecture.ub.ac.id/files/2012/04/AIIRA-KARDIOPROTEKTIFbaru.pdf ( Accessed : 31 Oktober 2015 ).


Weir MR, Dzau VJ. The renin-angiotensin-aldosterone system: a specific target for hypertension
management. 1999.

16