Anda di halaman 1dari 21

HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN

PERMASALAHAN TANAH ULAYAT DI WILAYAH KABUPATEN


KUTAI KARTANEGARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

Kelompok 8 :
Nadhia Maharany S.

(135060601111003)

Dwi Rahmawati

(135060601111012)

Wage Roro Yuli Hayati

(135060601111027)

Riatno Nanda Rahayu

(135060601111045)

Arthur Seiriseviera Rontini

(135060620111001)

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH & KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016

BAB I

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Tanah

mempunyai

arti

penting

bagi

kehidupan

bangsa

Indonesia. Hal ini dikarenakan bahwa Negara Indonesia merupakan


negara agraris, sehingga setiap kegiatan yang dilakukan oleh
sebagian besar rakyat Indonesia senantiasan membutuhkan dan
melibatkan soal tanah. Fungsi dari tanah sendiri adalah sebagai
sarana untuk mencari penghidupan (pendukung mata pencaharian) di
berbagai

bidang

seperti

pertanian,

perkebunan,

peternakan,

perikanan, industri maupun yang dipergunakan sebagai tempat untuk


bermukim dengan didirikannya perumahan sebagai tempat tinggal.
Tanah

juga

menjadi

faktor

pendukung

utama

kehidupan

dan

kesejahteraan masyarakat. Selain itu fungsi tanah tidak hanya


terbatas pada kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga tempat tumbuh
kembang sosial, politik dan budaya seseorang maupun suatu
komunitas masyarakat. Tanah sebagai salah satu unsur penting dalam
pelaksanaan

pembangunan

nasional

yang

harus

dikelola

dan

digunakan secara maksimal agar dapat memberikan manfaat yang


sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Pembangunan nasional
harus berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Dewasa ini, banyak sekali terjadi permasalahan tanah di
Indonesia, salah satunya adalah permasalahan tanah ulayat di
Kabupaten

Kutai

Kartanegara

Provinsi

Kalimantan

Timur.

Permasalahan ini ditandai sejak tanggal 21 Januari 1960 bertempat di


Istana Sultan Kutai dari Kepala Daerah Istimewa Kutai kepada Aji
Raden Padmo sebagai Bupaten Kepala Daerah Kutai yang pertama.
Peristiwa ini telah menutup sejarah pemerintahan Kerajaan Kutai
Kertanegara yang telah berusia 660 tahun, sehingga secara yuridis
formal berpengaruh pada sistem pemilikan tanah di daerah ini yang
harusnya
Indonesia,

berdasarkan
bukan

lagi

Peraturan

Pemerintah

berdasarkan

Peraturan

Negara

Republik

Kerajaan

kutai

Kartanegara. Hal ini yang menyebabkan masalah pertanahan di


JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-2

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur, sejalan


dengan

pembangunan

daerah

yang

semakin

meningkat

dan

memerlukan tanah yang luas maka semakin banyak terjadi sengketa.


Sengketa terjadi dikarenakan adanya kepentingan akibat jual beli atas
tanah termasuk tanah adat dan hak-hak atas tanah yang ada
diatasnya.
Peralihan akibat jual beli tanah adat dikarenakan saat ini
semakin meningkatnya untuk pembangunan sementara tanah negara
dapat dikatakan hampir tidak tersedia lagi. Di kalangan masyarakat
awam sebagian menafsirkan tanah adat sebagai kepemilikan yang
mengarah kepada kepemilikan individual. Sesungguhnya bahwa
tanah adat adalah hak bersama seluruh masyarakat hukum adat,
sehingga erat kaitannya antara hukum tanah nasional, hukum adat
dan masyarakat hukum adat.
Hal

ini

yang

menyebabkan

terhambatnya

pertumbuhan

investasi dan ketenangan berusaha di Kabupaten Kutai Kartanegara


Provinsi Kalimantan Timur. Oleh karena itu perlu adanya kajian pola
penguasaan, kepemilikan dan penggunaan tanah adat dan tanah
ulayat secara tradisional.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana problematika konflik Tanah Ulayat di Kabupaten
Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur?
2. Siapa saja pihak yang terlibat dalam konflik Tanah Ulayat di
Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur?
1.3 Tujuan
Tujuan dari laporan ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk

mengetahui

problematika

konflik

Tanah

Ulayat

di

Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur.


2. Untuk mengetahui pihak yang terlibat dalam konflik Tanah
Ulayat di Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan
Timur.
JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-3

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

1.4 Manfaat
Manfaat dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan
manfaat, sebagai berikut.
1. Diharapkan hasil penilitan ini dapat digunakan sebagai
bahan masukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan
memberikan sumbangan dalam memperbanyak referensi
ilmu di bidang sengketa tanah adat khususnya dalam
penyelesaian permasalahan tanah ulayat di di Kabupaten
Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur.
2. Dapat memberikan jalan keluar terhadap permasalahan yang
timbul atau yang dihadapi dalam permasalahan kepemilikan
tanah ulayat di

Kabupaten

Kutai Kartanegara

Provinsi

Kalimantan Timur.
3. Diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan
acuan

dan

sumbangan

bagi

pihak-pihak

yang

berkepentingan dalam permasalahan kepemilikan tanah


ulayat di Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan
Timur.

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-4

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1

Teori Konflik

Teori konflik merupakan teori yang digunakan untuk mengkaji


faktor dalam pembahasan permasalahan baik timbulnya, mekanisme
dan pola penyelesaian konflik. Fisher et,al (2001) menyebutkan ada
enam teori yang mengkaji dan menganalisis penyebab terjadinya
konflik, yaitu:
1. Teori hubungan masyarakat, adalah teori yang menyebutkan bahwa
penyebab terjadinya konflik adalah oleh polarisasi (kelompok yang
berlawanan) yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan
diantara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat.
2. Teori negosiasi prinsip, adalah teori yang menganggap bahwa
penyebab terjadinya sengketa adalah dikarenakan posisi-posisi
yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang sengketa
oleh pihak-pihak yang mengalami konflik.
3. Teori identitas, adalah asumsi mengenai terjadinya konflik yang
disebabkan karena identitas yang terancam, yang sering berakar
pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak
diselesaikan.
4. Teori kesalahpahaman, adalah teori yang beranggapan bahwa
sengketa terjadi disebabkan tidak sesuainya cara-cara dalam
komunikasi di antara berbagai budaya yang berbeda.
5. Teori transformasi konflik, yaitu teori yang berasumsi bahwa konflik
terjadi disebabkan masalah-masalah ketidak setaraan dan ketidak
adilan yang muncul sebagai masalah-masalah sosial, budaya dan
ekonomi.
6. Teori kebutuhan manusia, yaitu teori yang brasumsi bahwa
sengketa disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia, baik fisik,
mental dan sosial yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Keamanan,
identitas, pengakuan, partisipasi dan otonomi sering menjadi inti
diskusi dalam teori tersebut.

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-5

2016

2.2

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

Bentuk-Bentuk Konflik Penguasaan Lahan

Berhubungan dengan konflik penguasaan lahan, terdapat teori


yang berhubungan mengenai bentuk-bentuk konflik yang terjadi.
Pengelompokan konflik tersebut menurut Fuad & Maskanah terbagi ke
dalam lima ruang konflik, yaitu:
1. Konflik data, terjadi ketika seseorang mengalami kekurangan
informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan yang
bijaksana, mendapat informasi yang salah, tidak sepakat mengenai
data yang relevan, menerjemahkan informasi dengan cara yang
berbeda atau memakai tata cara pengkajian yang berbeda.
2. Konflik kepentingan, disebabkan oleh persaingan kepentingan yang
dirasakan atau yang secara nyata memang tidak bersesuaian.
Konflik kepentingan terjadi karena masalah yang mendasar atau
substantif (misalnya uang dan sumberdaya), masalah tata cara
(sikap

dalam

menangani

masalah)

atau

masalah

psikologis

(persespsi atau rasa percaya, keadilan, rasa hormat).


3. Konflik hubungan antar manusia, terjadi karena adanya emosiemosi negatif yang kuat, salah persepsi, salah komunikasi atau
tingkah laku negatif yang berulang (repetitif). Masalah-masalah ini
sering

menimbulkan

konflik

yang

tidak

realistis

atau

yang

sebenarnya perlu terjadi.


4. Konflik nilai, disebabkan oleh sistem kepercayaan yang tidak
bersesuaian baik yang hanya digunakan manusia untuk memberi
arti pada hidupnya. Sehingga konflik nilai terjadi ketika seseorang
berusaha untuk memaksakan suatu sistem nilai kepada orang lain
atau mengklaim suatu sistem nilai yang ekslusif dan di dalamnya
tidak dimungkinkan adanya percabangan kepercayaan.
5. Konflik struktural, terjadi ketika adanya ketimpangan

untuk

melakukan akses dan kontrol terhadap sumberdaya, pihak yang


berkuasa dan memiliki wewenang formal untuk menetapkan
kebijakan umum, biasanya memiliki peluang untuk meraih akses
dan melakukan kontrol sepihak terhadap pihak lain.

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-6

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

BAB III
ISI DAN PEMBAHASAN
2.3

Tinjauan Global Konflik Pola Ruang Kabupaten

Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur


Sebelum membahas hal khusus mengenai permasalahan
tanah ulayat di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, penulis akan
menjelaskan

permasalahan

mendasar

Kabupaten Kutai Kartanegara.


ketidaksesuaian
perubahan

pola

yang

ruang

dilakukan

yang

sedang

terjadi

di

Permasalahan tersebut mengenai


yang

sedang

stakeholder

terjadi

terkait

baik

karena

maupun

karena

perubahan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah khususnya


menteri kehutanan.
Pada Tabel 3.1 merupakan permasalahan terkait pola ruang di
Kabupaten

Kutai

Kehutanan,

yaitu

Kartanegara
perubahan

berupa

perubahan

SK

SK/554/Menhut-II/2013

Menteri
menjadi

SK/718/MenhutiII/2014 tentang Hutan Provinsi Kalimantan Timur dan


Kalimantan Utara. Terdapat perubahan atas pola ruang baik area
penggunaan lain (APL), hutan lindung (HL), hutan produksi (HP),
hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) dan hutan produksi
terbatas (HPT) sehingga hal ini dapat disebut sebagai sebuah
permasalahan inkonsistensi ketetapan perundang-undangan yang
ada. Surat keputusan yang menjadi dasar penggunaan lahan pada
hal ini menunjukkan telah mengalami konflik, sesuai dengan teori
pada bab II konflik ini disebut sebagai konflik data.

Kondisi

selanjutnya akan menimbulkan ketidaksesuaian antara peraturan


yang ada dan implementasi di lapangan akibat adanya celah yang
dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun swasta seperti pada
Gambar 3.2.
Adanya inkonsistensi peraturan yang telah diterbitkan oleh
pemerintah, dapat mengakibatkan permasalahan salah satunya
mengenai konflik tanah ulayat yang akan dijelaskan pada bahasan
JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-7

2016

selanjutnya.

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

Dalam

proses

penyusunan

SK

Menhut

tersebut

sebenarnya tanpa ada tinjauan eksisting di lapangan dan hanya


melalui perundingan yang tidak sepenuhnya dalam perundingan
tersebut melibatkan kontribusi perwakilan instansi daerah maupun
pihak yang paham betul akan kondisi eksisting. Permasalahan yang
mengakibatkan terjadinya hal ini juga dikarenakan batas wilayah
dalam

peta

Rupa

Bumi

Indonesia

(RBI)

sebagai

dasar

batas

administrasi dalam pemetaan wilayah di Indonesia masih bersifat


indikatif atau belum pasti dan sebagian besar atas dasar batas
ekologi seperti sungai, jalan dan sebagainya.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Tabel 3.1 Perubahan SK 554 terhadap SK 718


Persen (%) dari
SK 554
SK 718
LUAS (HA)
luas kabupaten
APL
HL
0.59
0.0004
HP
13530.32
0.0085
HPT
835.81
0.1652
HL
APL
10.22
0.4414
HP
226.74
0.0008
HPT
4404.65
0.1758
HP
APL
11766.74
0.0510
HL
22.36
0.0000
HPT
4686.99
0.3655
KSA/KPA
1358.80
0.0003
HPK
APL
0.76
0.0214
HL
9743.16
0.2218
HP
8.59
0.8944
HPT
APL
570.59
0.0002
HL
5912.04
0.0104
HP
23843.94
0.0004
KSA/KPA
HP
5.75
0.0085
TUBUH AIR
HP
276.14
0.1652
Total
77204.20
2.3571

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-8

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

Gambar 3. 1 Peta Perubahan SK Menhut 554 ke SK 178


Sumber:

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-9

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

Gambar 3. 2 Peta Perubahan Pola Ruang Kabuapaten Kutai Kartanegara


Sumber:

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-10

2016

2.4

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

Permasalahan Tanah Ulayat di Wilayah Kabupaten

Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur


A. Kronologis Konflik Lahan
Hak ulayat merupakan hak penguasaan atas wilayah adat,
karena ulayat artinya adalah wilayah dan hak ulayat mengacu kepada
wilayah adat tempat masyarakat adat memiliki wewenang mengatur
tanah yang ada di wilayah tersebut sesuai dengan hukum adat
mereka. Hingga saat ini belum ada kesamaan paham mengenai
konsep tanah adat, baik antara pemerintah dan masyarakat adat,
maupun antar masyarakat adat sendiri. Ada yang menganggap
bahwa

seluruh

kawasan

yang

masuk

dalam

lingkup

wilayah

administrasi suatu masyarakat adat (lembaga adat) otomatis masuk


kategori tanah adat. Pendapat lain, bahwa tanah adat adalah lahan
komunal untuk kepentingan bersama dimana sistem kepemilikan,
pemanfaatan, dan pengalihan harus diatur oleh adat/lembaga adat.
Jika kita merujuk pada definisi tanah adat yang dikemukakan
oleh Imam Sudiyat (1981), Sumardjono (2001) dan Peraturan Menteri
Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 5 Tahun 1999,
maka di lokasi penelitian, lahan yang dapat dikategorikan sebagai
tanah adat sudah sangat sempit, khususnya di 15 desa lokasi
penelitian, karena umumnya tanah sudah dimiliki secara perorangan.
Sistem pembukaan dan pemanfaatan lahan tidak harus seijin adat,
pengalihan lahan biasanya melalui transaksi jual-beli dengan pemilik
sebelumnya. Dalam hal ini Lembaga Adat atau Hukum Adat tidak
mengatur penguasaan, pemanfaatan dan pengalihan lahan. Namun
jika merujuk pada Berger (2006) serta konsep akademis atau tenurial
dan kondisi aktual sekarang, tanah adat masih ada hampir di semua
lokasi penelitian karena tata cara kepemilikan seperti: siapa yang
duluan membuka lahan otomatis menjadi pemiliknya, tanda tapal
batas,

pewarisan,

pengelolaan

lahan

dan

jual

beli

masih

menggunakan tata cara kebiasaan atau adat yang berlaku secara


turun-temurun pada masyarakat yang bersangkutan. Tanah adat
JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-11

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

tersebut dikuasai dalam bentuk hak kolektif kelompok kerabat, hak


kolektif keluarga, maupun pribadi. Dari konsep bahwa tanah adat
adalah hak milik komunal, maka keberadaan tanah adat di desa-desa
yang sudah pernah dibuka sebagai ladang atau kebun juga sudah
sangat sempit karena hanya sedikit sekali wilayah/lahan yang betulbetul dimanfaatkan untuk kepentingan komunal. Tanah komunal yang
tersisa hanya kawasan hutan yang belum pernah dibuka dan kawasan
tertentu misalnya lahan untuk kuburan, dll. yang jumlahnya sedikit.
Ditinjau dari sudut pandang tanah ulayat atau wilayah adat, status
tanah ulayat ini semakin kabur dan makin sempit karena sebagian
tanah ulayat terpecah menjadi milik pribadi, atau menjadi milik desa
lain karena adanya pemekaran atau pengembangan desa. Pola-pola
kepemilikan lahan di Kutai Kartanegara menunjukkan kecendrungan
bahwa hubungan antara pribadi dengan tanahnya semakin kuat,
sebaliknya hak-hak masyarakat secara komunal terhadap tanah
semakin lemah. Hal ini pula yang menyebabkan semakin kaburnya
pengertian tanah adat. Dari hasil survei lapangan yang dilakukan oleh
Pulungan (2014) di 15 desa yang dijadikan sebagai lokasi penelitian
diperoleh permasalahan pertanahan pada berbagai tingkatan yang
dapat dirangkum sebagai berikut:
1. Tapal batas antara Kabupaten Kutai Kartanegara dengan Kabupaten
tetangga misalnya dengan Kutai Barat masih ada yang bermasalah,
belum ada kesepakatan resmi batas batas wilayah. Dalam situasi
ini, desa-desa yang kebetulan berada di perbatasan tersebut
mendapat

masalah

dengan

desa

tetangga.

Masalah

antar

kabupaten menjadi masalah antar desa


2. Ada beberapa desa, misalnya Desa Seliki di Kecamatan Muara
Badak yang memiliki dokumen penyerahan tanah adat yang ada
dalam wilayah desa tersebut. Namun karena yang menyimpan
dokumen tersebut sudah meninggal sehingga sulit bagi pihak lain
untuk melacak dokumen tersebut. Akibatnya tanah sedikit demi
sedikit dikuasai oleh perorangan.
JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-12

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

3. Pembentukan desa baru (pemekaran desa) dalam kawasan desa


yang lama sehingga tanah ulayat yang dikuasai oleh desa yang
lama menjadi kabur atau berkurang karena sebagian sudah
diberikan/ diambil oleh desa baru (pemekaran);
4. Batas wilayah yang tidak diijinkan adanya kegiatan pembukaan
lahan, baik untuk pribadi maupun pemerintah seperti Kawasan
Budidaya Kehutanan (KBK), Hutan Lindung, Hutan Pendidikan,
Taman Hutan Raya belum banyak diketahui oleh masyarakat karena
tanda batas juga kurang jelas, ada yang berupa peta dan koordinat
saja yang kurang dipahami oleh masyarakat. Bahkan seperti pada
Gambar

3.3

kawasan

Tahura

dideliniasi

pada

kawasan

permukiman yang telah lama ada sebelum kawasan Tahura


tersebut diteapkan, dan batas sebagian besar hanya berupa
bangunan gedung saja dan minim sekali terdapat patok resmi.

Gambar 3. 3 Permukiman Pada Kawasan Tahura dengan Batas Area Tahura


Berupa Bangunan SD

5. Lahan ditelantarkan atau tidak diamanfaatkan dalam waktu yang


terlalu

lama

sehingga

pemilik

aslinya

sulit

diidentifikasi.

Permasalahan yang biasanya berhubungan dengan pemilikan lahan


adalah karena berlakunya sistem siapa yang pertama mengelola
berarti dia yang memiliki. Kedua, adalah batas tanah yang kurang
jelas karena tidak ada bukti tertulis. Di sinilah pengurus biasanya
memanggil kedua belah pihak yang bersengketa untuk dilakukan
musyawarah. Jika sengketa tanah tidak bisa diselesaikan dengan
musyawarah, maka kedua belah pihak akan mendapat putusan
dimana tanah yang menjadi objek sengketa akan diambil alih oleh
desa, atau diambil dengan paksa oleh pengurus lembaga adat,
sehingga semua sengketa dapat diselesaikan dan tidak pernah ke
JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-13

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

pengadilan. Untuk konfik dengan perusahaan berkaitan dengan


ganti rugi lahan, dilakukan dengan musyawarah.
B. Faktor Penyebab Konflik
Terjadi dua masalah utama pada konflik lahan di Kabupaten
Kutai Kertanegara yaitu permasalahan lahan antara masyarakat dan
perusahaan, kedua antara masyarakat dengan pendatang. Berikut
merupakan faktor-faktor penyebab konflik lahan di Kabupaten Kutai
Kertanegara.
1. Perusahaan membeli lahan yang cukup luas dari warga, namun
setelah dibeli, dibiarkan begitu saja dalam keadaan kosong tanpa
ada tanda batas yang jelas, misalnya pagar atau patok, bahwa
lahan tersebut sudah ada yang menguasai. Akibatnya lahan
tersebut kembali dikuasai warga dan menuntut ganti rugi kedua
kalinya dari perusahaan. Dalam beberapa kasus, perusahaan tidak
dapat

menunjukkan

bukti

(dokumen)

otentik

bahwa

lahan

tersebut sudah dibeli dari masyarakat sehingga menimbulkan


masalah antara perusahaan dan masyarakat. Copy dokumen
transakasi

lahan

tersebut

tidak

diberikan

kepada

Kantor

Kecamatan atau Kantor Desa/Lurah.


2. Konflik akibat pembuangan limbah perusahaan yang mengganggu
masyarakat sekitar, misalnya limbah batu bara, minya atau gas
yang menyebabkan polusi air dan udara.
3. Penggusuran tempat-tempat keramat atau Makam tanpa seijin
ahli waris, dan tidak ada kompensasi yang wajar pada ahli waris.
4. Permasalahan sengketa ganti rugi lahan masyarakat setempat
dengan pihak perusahaan kelapa sawit terjadi karena adanya
pihak-pihak tertentu yang mencari keuntungan untuk kepentingan
pribadi.
5. Masyarakat tidak mengetahui bahwa lahan yang selama ini
diusahakan

dan

dikuasai

ternyata

masuk

dalam

Kawasan

Budidaya Kehutanan (KBK) karena tidak ada sosialisasi kepada


masyarakat tentang batas-batas KBK dan KBNK.
6. Izin Usaha yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten, baik
untuk

Perusahaan

Besar

Swasta

(PBS)

untuk

perkebunan,

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-14

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

Perusahaan Tambang seringkali tidak ada (tidak pernah) ada


arsipnya di Kantor Kecamatan atau di Kantor Kepala Desa,
sehingga wajar masyarakat tidak tahu kalau areal tertentu sudah
dikuasai

perusahaan

yang

pada

akhirnya

menimbulkan

perselisihan.
7. Kebun plasma yang dijanjikan perusahaan perkebunan tidak
dipenuhi oleh pihak perusahaan.
8. Besarnya ganti rugi lahan dari perusahaan kepada masyarakat
dianggap terlalu kecil dibandingkan keinginan pemilik lahan.
Dengan

kata

dibandingkan

lain,

ganti

dengan

rugi

hasil

yang

yang

diterima

diterima

terlalu

jika

kecil

lahan

itu

masyarakat usahakan sendiri sebagai lahan pertanian.


9. Orang tua (ayah atau ibu) menjual tanah keluarga tanpa
mengajak keluarga (isteri dan anak-anak) berunding terlebih
dahulu. Akibatnya, setelah orangtua meninggal, tanah itu dituntut
oleh anakanaknya sebagai ahli waris. Intinya, penjual tidak
memberitahukan kepada seluruh anggota keluarga/ahli waris
bahwa tanah tersebut sudah dijual.
10. Lahan ditinggalkan cukup lama dengan hanya membuat tanda
berupa tanaman keras, misalnya pohon durian, kelapa, pohon
langsat, dll. Karena ditinggal terlalu lama, maka lahan tersebut
ditumbuhi

dengan

belukar

dan

digarap

orang

lain

karena

dianggap sebagai tanah tak bertuan. Setelah pemilik awal


kembali, terjadi perselisihan antara pemilik lama dan pemilik baru.
Di kalangan suku Bugis di Muara Badak, ada istilah bahwa
sertifikat atas lahan adalah kapak atau parang. Artinya, siapa
yang sudah membuka satu lahan dengan menggunakan kapak
atau parang, berarti dialah pemilik lahan tersebut. Hal ini sama
dengan suku Dayak Kenyah di Sungai Bawang dan juga mungkin
bagi suku-suku lainnya di Kutai Kartanegara.
11. Sistem kepemilikan lahan pada umumnya dimulai pada waktu
lahan dibuka untuk berladang atau kegiatan pertanian lainnya.
Dengan adanya kegiatan berladang yang berpindah-pindah maka
lahan

yang

dikuasai

sesorang

juga

terpisahpisah

sehingga

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-15

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

menyulitkan bagi yang bersangkutan untuk mengurus Sertifikat


lahan yang dimiliki.
12. Tanaman keras atau pohon buah yang dijadikan sebagai bukti
kepemilikan lahan tidak ditanam sepanjang garis batas lahan yang
dimiliki atau tidak mengelilingi lahan, tetapi hanya bagian tengah
saja sehingga sering timbul selisih batas tanah dengan tetangga.
C. Stakeholder Terkait Konflik Lahan
Setiap konflik akan terjadi pola, yaitu keuntungan bagi
stakeholder yang satu otomatis kerugian bagi stakeholder yang
lainnya. 30 Dengan demikian, dalam teori yang berkaitan dengan
konflik, maka perlu juga memahami dan menilai konflik yang terjadi
dari segi stakeholder yang terlibat terkait dengan kepentingannya.
Ada

empat

jenis

stakeholder

yang

dapat

diperkirakan

dalam

menunjang analisis konflik (Hasanah, 2008) yaitu :


1. Mereka yang menuntut untuk memperoleh perlindungan hukum;
2. Mereka yang mempunyai kunci kekuatan politik;
3. Mereka yang mempunyai kekuasaan dan dapat menjegal
kesepakatan yang sudah dirundingkan;
4. Mereka yang mempunyai tuntutan moral untuk mendapatkan
simpati dari publik.
Good government yang merupakan konsep baru sebagai
alternatif

dalarn

menghadapi

kebutuhan

premecahan

berbagai

permasalahan, yang semua dipopulerkan oleh Word Bank dan UNDP


telah diaplikasikan pada berbagai institusi dan level penrerintahan.
Governance

yang

swasta/perusahaan

memilikii
dan

tiga

masyarakat

domain.
telah

Yakni

pemerintah,

berkernbang

dengan

berbagai variannya (Mandar, 2004).


Apabila konsep good governance diterapkan pada institusi
swasta

maka

ia

menjadi good corporate governance. Apabila

diterapkan pada masyarakat ia berwujud masyarakat madani. Dan


apabila diterapkan pada tataran pemerintahan lokal maka ia menjadi
Local Good Governance. Ketiga domain governance atau disebut juga
pilar

good

governence

merupakan

stakeholders

yang

saling

berinteraksi satu sama lain baik dalam bentuk konllik maupun


JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-16

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

kerjasama. Apabila interaksi dari ketiga pilar ini tidak harmonis, maka
ia akan menjadi konflik, tetapi apabila interaksi itu harmonis, maka ia
menjadi

kerjasama.

Yang

paling

penting

dalam

pengelolaan

kepentingan publik adalah merubah konflik menjadi kerjasama.


Akan tetapi apabila meninjau kasus pada permasalahan tanah
ulayat pada Kabupaten Kutai Kartanegera, pihak atau stakeholder
terkait yang dapat diidentifikasi sebagai penimbul konflik, yaitu:
1. Masyarakat sendiri, hal ini dikarenakan masyarakat tidak menjaga
ketetapan turun temurun generasi mereka sebelumnya sehingga
kesepakatan bersama yang telah ditanamkan menjadi kabur.
Permasalahan pembagian warisan juga tidak mengikuti prosedur,
dikarenakan pihak yang seharusnya menerima hak waris tidak
tahu akan transaksi jual beli yang dilakukan oleh pewarisnya.
2. Pemerintah setempat baik tingkat desa maupun kecamatan,
dikarenakan pemerintah pada tingkat terkecil tersebut tidak dapat
membukukan catatan kepemilikan tanah dengan baik hal ini
dibuktikan

dengan

tidak

adanya

arsip

catatan

sebagian

kepemilikan yang ada pada wilayah administratifnya.


3. Pihak swasta yang membuka usaha seringkali menimbulkan
pencemaran

hingga

mengganggu

kenyamanan

masyarakat

sekitar. Selain itu, pihak swasta juga melakukan ganti rugi yang
tidak

sepadan,

bertentangan

serta

dengan

perubahan
budaya

guna

masyarakat

lahan

seringkali

terutama

saaat

mengembangkan lahan pada area yang dianggap sakral.


4. Kementrian kehutanan, dimana dalam penetapan keputusan tidak
meninjau lokasi secara eksisting atau pun dengan melibatkan
dinas-dinas terkait di daerah sehingga terjadinya ketidaksesuaian
ketetapan dapat terjadi.
5. Pemerintah secara umum, yaitu sebagai pembuat kebijakan telah
menyebabkan biasnya suatu peraturan. Penyediaan peta sebagai
dasar penentuan kebijakan juga belum sepenuhnya diatasi
meskipun kendala utamanya adalah masalah pendanaan. Selain
itu

SKPD

yang

sebenarnya

koordinasi dengan baik

saling

serta

terkait

kurangnya

tidak

melakukan

sosialisasi

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

dengan
I-17

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

masyarakat terkait kebijakan dan perubahan yang telah ada.


Pemerintah dalam hal ini juga memberikan kesan dalam menindak
menunggu terjadi konflik yang telah belangsung lama bukan
tindakan tegas pada awal pelanggaran terlihat dan terjadi.

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-18

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

BAB IV
SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah di jabarkan pada bab-bab
sebelumnya, dapat diperoleh kesimpulan bahwa:
1. Permasalahan utama terkait lahan sebenarnya adalah sebuah
bentuk

inkonsistensi

ketetapan

yang

ditetapkan

oleh

pemerintah.
2. Indonesia belum memiliki dasar yang kuat terkait batas wilayah
dalam peta yang menjadi acuan perencanaan atau ketetapan
perundangan.
3. Masyarakat belum memegang mekanisme peraturan baik hak
waris maupun ketetapan adat.
4. Pihak swasta tidak memahami pentingnya kondisi lingkungan
baik terkait sosial, ekonomi dan lingungan.
5. Pemerintah menimbulkan konflik baru melalui ketetapan yang
dibuat dalam undang-undang atau peraturan serta kurang
melakukan sosialisasi dan koordinasi.
Berdasar pada pembahasan juga dapat disimpulkan terjadi
konflik yang sesuai dengan teori konflik berupa teori kesalah
pahaman dan teori transformasi konflik.

Teori kesalahpahaman

terjadi melalui ketidaktahuan masyarakat atas staatus lahan yang


diklaimya telah dibeli orang lain dan penguasaan lahan oleh
masyarakat dikarenakan ketidaktahuan kalau lahan tersebut sudah
ada

yang

memiliki.

Kesesuaian

dengan

teori

transformasi

dikarenakan konflik yang terjadi diakibatkan oleh hak masyarakat


yang tidak dipenuhi oleh pihak swasta berupa kecilnya ganti rugi
serta jaminan atas pengelolaan lingkungan yang juga tidak dipenuhi.
Berdasarkan sumbernya, konflik tanah ulayat menonjol akibat konflik
data, yaitu adanya ketidaksinkronan peraturan lama dan yang baru,
pencatatatan yang tidak baik, serta sumber data sebagai penetapan
yang masih bersifat indikatif.

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-19

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

Daftar Pustaka
Berger, Peter. 2004. Piramida Kurban Manusia: Etika Politik dan
Perubahan Sosial. Jakarta: LPES.
Fisher, S.; D.I. Abdi; J. Ludin; R. Smith; S. Williams. 2001. Mengelola
Konflik:

Kemampuan

Kartikasari;

M.D.

&

Strategi

Tapilatu;

R.

Untuk

Bertindak.

Maharani

&

S.

D.N.

N.
Rini

(Penterjemah). Jakarta; The British Council.


Fuad, F. H. & S. Maskanah. 2000. Inovasi Penyelesaian Sengketa
Pengelolaan Sumberdaya Hutan. Bogor: Pustaka Latin.
Hasanah, Yulia. 2008. Konflik Pemanfaatan Sumberdaya Tanah Ulayat
Baduy Pada Kawasan Hutan Lindung (Studi Kasus : Masyarakat
Baduy Dalam dan Baduy Luar, Desa Kanekes - Kecamatan
Leuwidamar,

Kabupaten

Lebak,

Propinsi

Banten).

Skripsi.

Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat


Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Imam Sudiyat. 1981. Hukum Adat Sketsa Asas. Yogyakarta: Liberty
Mandar, A., Purwo S. & Kaho, J. R. 2004. Konsensus Sebagai Pilar
Utama Good Governance Dalam Pengelolaan Tanah Ulayat Di
Kabupaten

Kuantan

Singingi

Provinsi

Riau.

Manusia

dan

Lingkungan, Vol. XI, No. I, Maret 2004, hal. 40-46


Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional. 1999.
Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Pedoman Penyelesaian
Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat.
Menteri Kehutanan. 2014. Keputusan Menteri Kehutanan Republik
Indoensia Nomor SK.718/Menhut-II/2014 tentang Hutan Provinsi
Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Pulungan, M. S. 2014. Permasalahan Tanah Ulayat di Wilayah
Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Jurnal
Bina Praja, Vol. 6 No. 3, September 2014: 227-240.
Soemarjono, Maria S. W. 2001. Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi
& Implementasi. Kompas. Jakarta
JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-20

2016

[HUKUM ADMINISTRASI PERENCANAAN]

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

I-21