Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH

OTOPSI
(Pemeriksaan Penunjang dan Pemeriksaan Khusus)

Oleh
Gede Vendi Cahyadi Riandika
H1A 010 006

Pembimbing
dr. Arfi Syamsun, Sp.KF, M.Si, Med

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN ILMU FORENSIK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2015

Pemeriksaan Penunjang saat autopsi


1..1.

Sediaan histopatologi dari masing-masing organ.


Dari tiap organ diambil sediaan sebesar 2 x 2 x1 cm kubik dan difiksasi dalam formalin

10%.Organ yang diambil adalah: paru-paru, hati, limpa, pankreas, otot jantung, arteri
koronaria, kelenjar gondok, ginjal, prostat, uterus, korteks otak, basal ganglia dan dari bagian
lain yang menunjukkan adanya kelainan (Hoediyanto dan Hariadi, 2010).
Pemeriksaan toksikologi (Hoediyanto dan Hariadi, 2010)

1..2.

Lambung dan isinya.


Seluruh usus dan isinya dengan membuat sekat dengan ikatan-ikatan pada

pada usus setiap jarak sekitar 60 cm.


Darah, yang berasal dari sentral (jantung) dan yang berasal dari perifer (v.
jugularis; a.femoralis, dan sebagainya), masing-masing 50 ml dan dibagi dua, yang

satu diberi bahan pengawet dan yang lain tidak diberi bahan pengawet.
Hati, sebagai tempat detoksifikasi , diambil sebanyak 500 gram.
Ginjal, diambil keduanya yaitu pada kasus keracunan logam berat khususnya

atau bila urine tidak tersedia.


Otak, diambil 500 gram. Khusus untuk keracunan chloroform dan sianida,
dimungkinkan karena otak terdiri dari jaringan lipoid yang mempunyai kemampuan

untuk meretensi racun walaupun telah mengalami pembususkan.


Urine, diambil seluruhnya. Karena pada umunya racun akan diekskresikan melalui
urine, khususnya pada test penyaring untuk keracunan narkotika, alkohol dan

stimulan.
Empedu, diambil karena tempat ekskresi berbagai racun.
Pada kasus khusus dapat diambil: jaringan sekitar suntikan, jaringan otot, lemak di
bawah kulit dinding perut, rambut, kuku dan cairan otak.
Prinsip pengambilan sampel pada kasus keracunan adalah diambil sebanyak-

banyaknya setelah kita sisihkan untuk cadangan dan untuk pemeriksaan histopatologik. Pada
pemeriksaan intoksikasi, digunakan alkohol dan larutan garam jenuh pada sampel padat atau
organ. NaF 1% dan campuran NaF dan Na sitrat digunakan untuk sampel cair. Sedangkan

natrium benzoate dan phenyl mercuric nitrate khusus untuk pengawet urine (Hoediyanto
dan Hariadi, 2010).
1..3.

Pemeriksaan bakteriologi.
Dalam hal ada dugaan sepsis diambil darah dari jantung dan sediaan limpa untuk

pembiakan kuman. Permukaan jantung dibakar dengan menempelkan spatel yang dipanaskan
sampai merah, kemudiaan darah jantung diambil dengan tabung injeksi yang steril dan
dipindah dalam tabung reagen yang steril. Permukaan limpa dibakar dengan cara tersebut di
atas dan dengan pinset dan gunting yang steril diambil sepotong limpa dan dimasukkan
dalam tabung reagen yang steril dan kedua tabung dikirim ke laboratorium bakteriologi
(Hoediyanto dan Hariadi, 2010).
1..4.

Sediaan apus bagian korteks otak, limpa dan hati.


Mungkin perlu dilakukan untuk melihat parasit malaria. Sediaan hapus lainnya adalah

dari tukak sifilis atau cairan mukosa.


1..5.

Darah dan cairan cerebrospinalis diambil untuk pemeriksaan analisa biokimia.

1..6.

Pemeriksaan urine dan feces.

1..7.

Usapan vagina dan anus, utamanya pada kasus kejahatan seksual.

1..8.

Cairan uretra.

1..9.

Test apung paru

Test apung paru ini dikerjakan pada korban bayi dengan untuk mengetahui apakah bayi
yang diperiksa itu pernah hidup. Untuk melakukan test ini, persyaratannya mayat harus segar.
Tahap-tahapan tes ini yaitu:

Keluarkan alat-alat dalam rongga mulut, leher dan rongga dada dalam satu kesatuan,
pangkal dari esofagus dan trakea boleh diikat.

Apungkan seluruh alat-alat tersebut pada bak yang berisi air

Bila terapung, lepaskan organ paru-paru baik yang kiri maupun yang kanan

Apungkan kedua organ paru-paru tadi, bila terapung lanjutkan dengan pemisahan
masing-masing lobus

Apungkan semua lobus tersebut, catat mana yang tenggelam dan mana yang terapung

Lobus yang terapung diambil sebagian, yaitu tiap-tiap lobus 5 potong dengan ukuran
5 mm x 5 mm dari tempat yang terpisah dan perifer.

Apungkan ke 25 potongan kecil-kecil tersebut, bila terapung, letakkan potongan


tesebt pada dua karton, dan lakukan penginjakan dengan menggunakan berat badan,
kemudian dimasukkan kembali ke dalam air.

Bila terapung berarti test apung positif, paru-paru mengandung udaara, bayi tersebut
pernah dilahirkan hidup.

Bila hanya sebagaian yang terapung, kemungkinan terjadi pernafasan partial, bayi
tetap pernah dilahirkan hidup (Idries,1997).

Test Pada Pneumothoraks


Pada trauma di daerah dada, ada kemungkinan jaringan paru robek sedemikian rupa
sehingga terjadi mekanise ventil di mana udara yang masuk ke paru-paru akan diteruskan
ke dalam rongga dada dan tidak dapat keluar kembali, sehingga terjadi akumulasi udara
dengan akibat paru-paru akan kolaps dan korban akan mati.
Diagnosa pneumothoraks yang fatal dapat ditegakkan berdasarkan test ini, bila test ini
tidak dilakukan, diagnosa sifatnya hanya dugaan. Adapun tahapan test ini yaitu:

Buka kulit dinding dada pada bagian yang tertinggi dari dada, yaitu sekitar iga ke 4
dan 5 (udara akan berada pada tempat yang tertinggi)

Buat kantung, dari kulit dada tersebut mengelilingi separuhnya dari daerah iga 4
dan 5(sekitar 10 x 5 cm)

Pada kantung tersebut kemudian diisii air, dan selanjutnya tusuk dengan pisau, adanya
gelembung udara yang keluar berarti ada pneumothoraks, dan bila diperiksa paruparunya, paru-paru tersebut tampak kolaps

Cara lain: setelah dibuat kantung, kantung ditusuk dengan spuit besar dengan jarum
besar yang berisi air separuhnya pada spit tersebut, bila ada pneumothoraks, tampak
gelembung-gelembung udara dalam spuit tadi (Idries,1997).

Test Alpha Naphthylamine


Test ini dilakukan untuk mengetahui adanya butir-butir mesiu khususnya pada pakaian
korban penembakan. Adapun tahapan prosesnya yaitu:

Kertas saring Whatman direndam dalam larutan alpha-naphthylamine, dan


keringkan dalam oven, hindari jangan sampai terkena inar matahari

Pakaian yang akan diperiksa yaitu yang diduga mengandung butir-butir mesiu
dipotong dan di atasnya diletakkan kertas saring yang telah diberi alphanaphthylamine.

Di atas kertas saring yang mengandung alpha-naphthylamine tadi ditaruh lagi


kertas saring yang dibasahi oleh aquadest

Keringkan dengan cara menyetrika tumpukan tersebut, yaitu kain yang akan
diperiksa, kertas yang mengandung alpha-naphthylamine dan kertas saring yang
basah

Test yang positif akan terbentuk warna merah jambu (pink color), pada kertas
saring yang mengandung alpha-naphthylamine. Bintik-bintik merah jambu tadi
sesuai dengan penyebaran butr-butir mesiu pada pakaian (Idries,1997).

Daftar Pustaka

Hoediyanto dan Hariadi. 2010. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Edisi
Tujuh. Departeman Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga : Surabaya.
Idries,AM. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Binarupa aksara, Jakarta