Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS METODA PENGUKURAN PENYIMPANGAN GEOMETRIK

MENGGUNAKAN UNIVERSAL BRIDGE, CARRIAGE DAN SPIRIT LEVEL PADA


BEDWAYS MESIN BUBUT
Mohamad Fauzia, Meerza Maulana Akhmadb
Program Studi Teknik dan Sistem Produksi Politeknik Manufaktur Negeri Bandung
a
Email : fauzi@polman-bandung.ac.id; muh.fauzi1962@gmail.com
b
Email : mrzmln@rocketmail.com
ABSTRAK
Merupakan hal yang penting pada suatu mesin memiliki elemen mesin dengan karakteristik geometrik yang ideal.
guideways/slideways/bedways adalah salah satu contoh elemen mesin yang penting pada mesin bubut. Fungsi utama
dari bedways adalah untuk memastikan bahwa alat potong atau alat mesin dari elemen operasi bergerak sepanjang jalur
yang telah ditentukan. Namun dari hasil pengujian kualitas fungsional yang selama ini ada pada umumnya mengabaikan
sampai seberapa jauh penyimpangan geometrik sebuah mesin dapat diperbolehkan. Sedangkan status mesin-mesin yang
berada di Politeknik Manufaktur Negeri Bandung banyak yang telah melampaui umur teknis mesin. Oleh karena itu
timbul pemikiran untuk memperbaiki kinerja mesin agar lebih maksimal yaitu dengan cara memperbaiki geometrik
bedways mesin tersebut dengan metoda perbaikan yang tepat. Pengujian ini dilakukan pada bedways mesin bubut
Weiler Praktikant 800R (BU 09, BU 10, BU 11 dan BU 12) di Politeknik Manufaktur Negeri Bandung dengan
menggunakan metoda universal bridge.
Berdasarkan hasil pengambilan data, ditentukan langkah rekomendasi perbaikan mesin tersebut adalah dengan
menentukan teknik perbaikannya, seperti besar pemakanan, acuan proses permesinan dll. Dengan adanya rekomendasi
perbaikan ini diharapkan proses perbaikan mesin menjadi lebih terencana.
Kata-kata kunci :
1.

Bedways, Penyimpangan geometrik, Universal bridge, Metoda perbaikan.

PENDAHULUAN

Mesin bubut adalah mesin akurat dan presisi serta


harus diperlakukan dengan hati-hati. Membersihkan
dan memelihara dengan rutin akan membantu untuk
memastikan bahwa mesin bubut akan bertahan umur
penggunaan dan akurasinya selama bertahun-tahun.
Namun sering kali terjadi kesalahan operasional, baik
kesalahan pada setting, kesalahan proses pembubutan,
serta kesalahan pemeliharaan atau perawatan. Hal
tersebut dapat memberikan dampak buruk pada
penurunan performa mesin. Resiko kerja juga akan
semakin bertambah disebabkan mesin-mesin tersebut
telah melewati umur teknis mesin. Hal ini dapat
dimaklumi mengingat status mesin-mesin yang dimiliki
Polman Bandung tidak seluruhnya adalah mesin baru.
Guideways/slideways/bedways adalah salah satu
contoh elemen mesin yang penting mesin bubut.
Fungsi utama dari bedways adalah untuk memastikan
bahwa alat potong atau alat mesin dari elemen operasi
bergerak sepanjang jalur yang telah ditentukan serta
membawa benda kerja bersama dengannya. Dan semua
bagian yang bergerak seperti bedways akan mengalami
keausan yang dapat menurunkan ketepatan, kecepatan
dan efisiensi kerja, bahkan pergerakannya tidak lancar.
Oleh karena itu, pada kegiatan tugas akhir ini akan
dilakukan analisa penyimpangan geometrik bedways
akibat keausan pada mesin bubut Weiler Praktikant
800R (BU 09, BU 10, BU 11 dan BU 12) di Polman
Bandung menggunakan metoda universal bridge.
Sehingga dapat diketahui metoda perbaikan yang tepat
dari penyimpangan geometrik bedways tersebut agar
dapat dijamin keakuratan dan kepresisiannya.

2.

METODOLOGI

2.1 Identifikasi Mesin


Kegiatan identifikasi fungsi mesin dilakukan
dengan tujuan mengetahui dan memahami fungsi serta
hubungan konstruksi dari setiap bagian-bagian mesin.
Berikut ini adalah gambar dari mesin bubut Weiler
Praktikant 800R:

Gambar 1 Mesin bubut Weiler Praktikan 800R


Keterangan gambar :
1. Headstock.
2. Switch ON/OFF.
3. Feed gear box.
4. Pengatur kecepatan putar.
5. Spindle.

6. Bedways mesin.
7. Eretan atas
8. Eretan melintang.
9. Eretan memanjang.
10. Tailstok.

2.2 Prosedur Pengujian


Adapun prosedur yang dilakukan dalam
melakukan pengujian penyimpangan geometrik
bedways mesin adalah persiapan alat-alat yang akan

digunakan untuk melakukan pengukuran seperti dial


indicator, spirit level dan universal bridge untuk
pengujian kerataan dan kesejajaran bedways serta
levelling mesin.
Beberapa alat bantu lain seperti kunci pas untuk
mengatur kerataan mesin dan universal bridge,
penggaris untuk membantu membagi-bagi titik
pengukuran, spidol untuk menandai titik-titik yang
telah di bagi untuk tempat uji. Dan juga kain untuk
membersihkan bedways yang akan dilakukan
pengujian.
2.3 Penyelarasan (Levelling)
Sebelum berbagai tes pada setiap elemen mesin
dilakukan, sangat penting bahwa mesin harus dipasang
benar-benar pada bidang horisontal dan vertikal. Dalam
bidang horisontal, kedua arah memanjang dan
melintang sama-sama penting. Jika setiap bed bubut
tidak terpasang benar-benar horisontal, bed akan
mengalami defleksi, sehingga menghasilkan sebuah
bengkokan sederhana dan tekanan yang tidak
diinginkan akan terjadi. Jika bed tidak terpasang benarbenar horisontal dalam arah melintang, puntiran akan
terjadi. Dengan demikian pergerakan saddle tidak bisa
dalam garis lurus dan silinder geometris yang benar
tidak dapat dihasilkan.

Kerataan dari bed mesin pada arah memanjang


dan melintang umumnya diuji oleh spirit level yang
sensitif. Saddle ditempatkan kira-kira di tengah dari
kaki-kaki penopang bed. Spirit level ini kemudian
ditempatkan pada posisi a atau b (tabel 1), yang
menjamin kerataan dalam arah memanjang. Hal ini
telah mewakili sepanjang bed. Untuk tes pada arah
melintang perata ditempatkan pada bagian jembatan
(posisi b) untuk menjangkau guideways depan dan
belakang. Levelling lebih baik diambil pada arah
memanjang dan melintang secara bersamaan sehingga
efek dari penyesuaian dalam satu arah juga dapat
diamati satu sama lain.
Pembacaan pada arah melintang berfungsi untuk
melihatkan suatu puntiran pada bed. Dapat dicatat
bahwa dua guideways dapat sempurna sama rata pada
arah memanjang, tapi mungkin tidak sejajar satu sama
lain. Hal ini terlihat oleh tes pada arah melintang.
Kelurusan dari bed pada arah memanjang juga dapat
ditentukan
dengan
metode
lain,
misalnya,
menggunakan straight edge, autocollimators atau
dengan metode kawat kencang. Tapi tes pada arah
melintang dapat dilakukan hanya dengan spirit level.
Penyelarasan melintang mungkin dapat diletakkan pada
arah mana saja, tapi tidak ada puntiran yang dapat
ditoleransi.

Tabel 1 Form levelling mesin bubut

2.4 Pengambilan Data


Tujuan dari pengujian bedways mesin ini adalah
untuk mengukur kerataan dan kesejajaran bedways
tersebut. Dalam proses pengujian yang dilakukan untuk
mengukur nilai keausan bedways pada Tugas Akhir ini
menggunakan beberapa metoda. Adapun metodametoda yang dilakukan adalah metoda pengukuran
keausan bedways dengan universal bridge, metoda
pengukuran keausan bedways dengan carriage, metoda
pengukuran kemiringan slideway flat carriage.dengan
spirit level.
3.1.1 Metoda pengukuran keausan bedways
menggunakan universal bridge
Pada metoda ini proses pengukuran dilakukan
dengan menggunakan spirit level dan dial gauge.
Kedua alat tersebut dipasang pada alat bantu yaitu
universal bridge yang akan diletakkan pada bidang
luncur tailstock/carriage mesin, dimana kaki-kaki dari
alat tersebut bisa menyesuaikan dengan profil
permukaan yang akan diperiksa.

Sebelum dilakukan proses pengambilan data,


universal bridge harus di levelling pada posisi/titik
awal dimulainya pergerakan pengukuran, sehingga
bedways pada posisi tersebut di asumsikan sama rata.
Dimana seperti yang dapat terlihat di gambar 2, posisi
a untuk mengetahui kerataan pada arah memanjang dan
posisi b untuk mengetahui kerataan pada arah
melintang. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui arah
dan besar puntiran yang terjadi pada bedways tersebut
ketika universal bridge digeser.

Gambar 2 Levelling pada universal bridge

Hal utama yang perlu diperhatikan pada


penggunaan alat ini adalah penempatan alat yang
sesuai dengan bedways mesin. Pada saat peletakan
universal bridge sesuaikan posisi kaki-kaki dengan
dimensi dan bentuk landasan. Pada proses pengambilan
data dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali agar
didapatkan nilai rataratanya, sehingga data yang
diambil terjamin keakuratannya. Berikut ini adalah
standar langkah-langkah pengujian:
1. Bed dilakukan levelling terhadap pondasinya. Spirit
level ditempatkan di atas slideways tailstock untuk
memeriksa permukaan arah memanjang. Carriage
diposisikan di tengah mesin antara headstock dan
tailstock, kemudian spirit level ditempatkan di atas
eretan melintang untuk memeriksa permukaan arah
melintang.
2. Tailstock dilepas dari bedways mesin. Kemudian
carriage diposisikan paling ujung sebelah kanan.
3. Kaki-kaki dari universal bridge disama ratakan
terlebih dahulu di atas meja kerataan.
4. Universal bridge diletakan di atas slideways
carriage dan diposisikan pada titik awal dimulainya
pengukuran, yaitu di ujung sebelah kanan
bersebelahan dengan carriage. Universal bridge
dilakukan levelling di atas slideways menggunakan
spirit level yang ditempatkan di atas universal
bridge pada arah memanjang dan melintang.
5. Slideways carriage diperiksa kesejajarannya
dengan memasang dial indicator pada universal
bridge. Dial indicator disentuhkan pada permukaan
slideway flat dari tailstock terlebih dahulu,
kemudian permukaan slideway V dari tailstock.
Universal bridge digeser sepanjang 660 mm dengan
jarak yang sama tiap segmennya sebesar 30 mm
kemudian data diambil. Kesejajaran dari slideway
carriage harus relatif terhadap slideway tailstock.
Kesejajarannya harus berada dalam nilai 0,02/1000
mm.
6. Slideways carriage diperiksa puntirannya dengan
menggunakan spirit level yang dipasang di atas
universal bridge. Universal bridge digeser
sepanjang 660 mm dengan jarak yang sama tiap
segmennya sebesar 30 mm kemudian data diambil.
Puntirannya harus berada dalam nilai 0,02/1000
mm.

Gambar 2 Posisi pengukuran pada bedways


3.1.2 Metoda pengukuran keausan bedways
menggunakan carriage
Metoda
pengukuran
keausan
bedways
menggunakan carriage adalah metoda pemeriksaan

standar pada kondisi bedways yang dikeluarkan oleh


pabrik pembuat mesin tersebut. Di dalam salah satu
kegiatan
kalibrasi
pada
kegiatan
preventive
maintenance yang dilakukan di Polman Bandung,
pemeriksaan kondisi bedways dari mesin bubut
menggunakan metoda carriage. Nilai dari hasil
pengukuran menggunakan metoda carriage ini yang
nantinya akan dibandingkan dengan nilai dari hasil
pengukuran menggunakan universal bridge.

Gambar 4 Pengukuran keausan bedways


menggunakan carriage
Sebelum dilakukan proses pengambilan data
dengan metoda ini, tailstock dilepas dari mesin dan
carriage digeser ke ujung paling kanan dari mesin.
Pada metoda ini proses pengukuran dilakukan dengan
menggunakan dial gauge.yang diletakkan diatas
carriage. Selanjutnya beri tanda pada bidang slideways
yang akan diuji. Pengukuran dilakukan sepanjang 660
mm disetiap 30 mm dan dimulai dari sebelah kanan
mesin (gambar 2). Pada proses pengambilan data
dilakukan pengulangan sebanyak 4 kali agar
didapatkan nilai rataratanya, sehingga data yang
diambil terjamin keakuratannya. Pengambilan data
dilakukan pada bidang slideway flat dan slideway V.
Dan penyimpangan geometrik bedways yang diizinkan
adalah sebesar 0,02 mm dalam jarak pengukuran
sepanjang 1000 mm.
Tabel 2 Form pemeriksaan bidang luncur mesin
bubut

3.1.3 Metoda pengukuran kemiringan slideway flat


carriage menggunakan spirit level
Pada metoda ini data yang diambil adalah data
nilai kemiringan slideway flat dari carriage. Sebelum
melakukan pengambilan data, mesin bubut sebaiknya
dilakukan levelling kembali setelah pengujianpengujian yang dilakukan sebelumnya. Kemudian
carriage digeser ke ujung paling kiri dari mesin
tersebut. Pada metoda ini proses pengukuran dilakukan
dengan menggunakan spirit level.yang diletakkan
diatas parallel pad presisi. Pengukuran dilakukan
sepanjang 1125 mm dengan tiap segmennya 125 mm
dan dimulai dari sebelah kanan mesin (gambar 5).

Selanjutnya beri tanda pada bidang slideway yang akan


diuji. Pada aktualnya, pergeseran spirit level akan
terhalang oleh carriage, sehingga spirit level harus
diangkat terlebih dahulu dan carriage digeser ke
sebelah kanan kemudian pengambilan data dapat
kembali dilanjutkan. Pada proses pengambilan data
dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali agar
didapatkan nilai rataratanya, sehingga data yang
diambil terjamin keakuratannya.

Gambar 6 Grafik penyimpangan geometrik bedways


BU 09 menggunakan universal bridge

Gambar 5 Posisi pengukuran pada slideway flat


carriage menggunakan spirit level
3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Pengujian Penyimpangan Geometrik Bedways


Menggunakan Universal Bridge
Dari pengujian penyimpangan geometrik bedways
dengan menggunakan universal bridge didapatkan nilai
total kerataan antara penyimpangan slideway bidang
flat dan V dari carriage secara horisontal. Hasil
pengukuran dan rata-rata nilai penyimpangan
geometrik bedways dapat dilihat pada tabel 3, 4, 5 dan
6 untuk masing-masing mesin BU 09, BU 10, BU 11
dan BU 12.

Tabel 4 Data nilai hasil pengukuran kerataan bedways


BU 10 menggunakan universal bridge

Tabel 3 Data nilai hasil pengukuran kerataan bedways


BU 09 menggunakan universal bridge

Gambar 7 Grafik penyimpangan geometrik bedways


BU 10 menggunakan universal bridge

Tabel 5 Data nilai hasil pengukuran kerataan bedways


BU 11 menggunakan universal bridge

Gambar 9 Grafik penyimpangan geometrik bedways


BU 12 menggunakan universal bridge
3.2 Pengujian Penyimpangan Geometrik Bedways
Menggunakan Carriage
Dari pengujian penyimpangan geometrik bedways
dengan menggunakan carriage didapatkan nilai total
kerataan antara penyimpangan slideway bidang flat dan
V dari carriage secara horisontal. Hasil pengukuran
dan rata-rata nilai penyimpangan geometrik bedways
dapat dilihat pada tabel 8, 9, 10 dan 11 untuk masingmasing mesin BU 09, BU 10, BU 11 dan BU 12.
Tabel 7 Form pemeriksaan bidang luncur mesin bubut

Gambar 8 Grafik penyimpangan geometrik bedways


BU 11 menggunakan universal bridge
Tabel 6 Data nilai hasil pengukuran kerataan bedways
BU 12 menggunakan universal bridge

Tabel 8 Data nilai hasil pengukuran kerataan bedways


BU 09 menggunakan carriage

Tabel 10 Data nilai hasil pengukuran kerataan bedways


BU 11 menggunakan carriage

Gambar 10 Grafik penyimpangan geometrik bedways


BU 09 menggunakan carriage
Tabel 9 Data nilai hasil pengukuran kerataan bedways
BU 10 menggunakan carriage

Gambar 12 Grafik penyimpangan geometrik bedways


BU 11 menggunakan carriage
Tabel 11 Data nilai hasil pengukuran kerataan bedways
BU 12 menggunakan carriage

Gambar 11 Grafik penyimpangan geometrik bedways


BU 10 menggunakan carriage

Jawab : 1000 mm = 0,16 mm/m


125 mm = x
x = 0,02 mm/m
Hasil perhitungan dan pembentukan gambar
diatas kemudian diolah untuk mendapatkan hasil akhir
nilai yang diingkinkan yaitu nilai keasusan terbesar
pada lembah yang terlihat di grafik gambar 14. Adapun
hasil pengolahan data sebagai berikut.
Tabel 13 Hasil
pengolahan
data
pengukuran
kemiringan slideway flat carriage BU 09

Gambar 13 Grafik penyimpangan geometrik bedways


BU 12 menggunakan carriage
3.3 Pengujian Penyimpangan Geometrik Slideway
Flat Carriage Menggunakan Spirit Level
Pengujian ini dilakukan untuk meyakinkan nilai
dari hasil pengujian penyimpangan geometrik bedways
dengan menggunakan universal bridge. Adapun salah
satu data hasil pengujian sebagai berikut.
Tabel 12 Data pengukuran kemiringan slideway flat
carriage BU 09

Nilai diatas didapatkan dari hasil perhitungan


dibawah ini.

Nilai data diatas adalah nilai aktual kemiringan


dari toleransi panjang 1000 mm. Namun nilai-nilai
tersebut harus diolah terlebih dahulu untuk
mendapatkan nilai keausan dari slideway flat carriage
mesin bubut. Sehingga dilakukan perhitungan
perbandingan segitiga. Adapun salah satu perhitungan
perbandingan segitiga dari hasil pengukuran
kemiringan diatas adalah sebagai berikut.

Dari data diatas dapat dibuatkan grafik nilai


keausan. Berikut ini adalah grafik yang didapatkan.

Gambar 14 Grafik hasil pengolahan data pengukuran


kemiringan slideway flat carriage BU 09

Perhitungan Tinggi Penyimpangan Dalam 125 mm


Dik : Toleransi panjang
= 1000 mm
Tinggi penyimpangan
= 0,16 mm/m
Panjang jarak pengukuran = 125 mm
Dit
:x

Pengolahan data yang sama dilakukan pada hasil


data pengukuran penyimpangan geometrik slideway
flat carriage pada BU 10, BU 11 dan BU 12. Berikut
adalah grafik hasil pengolahan data nilai keasusan yang
didapatkan.

Gambar 15 Grafik hasil pengolahan data pengukuran


kemiringan slideway flat carriage BU 10

Gambar 16 Grafik hasil pengolahan data pengukuran


kemiringan slideway flat carriage BU 11

Gambar 17 Grafik hasil pengolahan data pengukuran


kemiringan slideway flat carriage BU 12

Pada grafik dari hasil 4 pengukuran bedways


mesin bubut Weiler Praktikant 800R (BU 09, BU 10,
BU 11 dan BU 12) dengan menggunakan carriage,
nilai keausan yang dihasilkan rata-rata lebih kecil dan
lebih merata dibandingkan dengan hasil pengukuran
dengan menggunakan universal bridge. Hal ini
mungkin dapat diakibatkan oleh kedua permukaan
yang bergesekan antara slideways dan saddle. Bidang
yang terlalu panjang dan bergelombang dapat
mempengaruhi besarnya nilai keausan yang dihasilkan
dari pengukuran tersebut. Sehingga tidak akan terlihat
jelas kedalaman keausan yang sebenarnya dari
slideways tersebut.
Pada grafik hasil pengolahan data pengukuran
kemiringan slideway flat carriage menggunakan spirit
level yang terlihat pada gambar 14, 15, 16 dan 17,
dapat memberikan kepastian nilai keausan terbesar
yang diperoleh terhadap hasil dari pengujian universal
bridge. Hal tersebut menyatakan bahwa pengujian yang
dilakukan dengan menggunakan universal bridge
masih belum akurat. Asumsi yang diperoleh adalah
ketika terjadi penurunan bidang slideway flat yang
menjadi tumpuan dari salah satu sisi kaki universal
bridge, salah satu sisi kaki yang menumpu di slideway
V akan ikut turun dari titik sentuh awalnya untuk
mengkompensasi jarak antar kaki-kaki yang tetap. Hal
ini dapat dilihat pada gambar 18. Sehingga dial gauge
akan lebih tertekan dan menghasilkan nilai yang lebih
besar. Namun penggukuran kemiringan dengan
menggunakan spirit level ini tidak bisa dilakukan pada
bidang slideway V.

Tabel 14 Nilai keausan terbesar penyimpangan


geometrik slideway flat carriage
Mesin bubut 09
0,0362 mm
Mesin bubut 10
0,0163 mm
Mesin bubut 11
0,0145 mm
Mesin bubut 12
0,040 mm
3.4 Analisa Hasil Pengujian Bedways
Jika dilihat pada masing-masing grafik dari hasil
4 penggukuran bedways mesin bubut Weiler Praktikant
800R (BU 09, BU 10, BU 11 dan BU 12) dengan
menggunakan universal bridge, jarak penyimpangan
geometrik permukaan bedways BU 09 lebih pendek
dibandigkan dengan BU 10, BU 11 dan BU 12. Selain
itu BU 10, BU 11 dan BU 12 menghasilkan kedalaman
keausan yang lebih dalam dibandingkan BU 09. Hal ini
mengingat bahwa mesin bubut Weiler Praktikant 800R
BU 09 digunakan pada pembuatan salah satu
komponen produksi ragum. Sehingga benda yang
diproses pada mesin ini adalah tetap dari segi material,
dimensi maupun prosesnya. Tidak menutup
kemungkinan juga bahwa perawatan dan pelumasan
dari BU 09 lebih terjaga didalam ruang produksi
ragum. Sedangkan BU 10, BU 11 dan BU 12
digunakan untuk progam pratik mahasiswa. Dengan
demikian benda yang diproses pada tiap-tiap mesin ini
berbeda-beda.

Gambar 18 Ilustrasi dari kompensasi kaki-kaki universal


bridge terhadap keausan bedways
3.5 Metoda Perbaikan Bedways Mesin
Berdasarkan data hasil pengukuran dapat
ditentukan metoda dan langkah-langkah perbaikannya
yang
harus
dilakukan
guna
memperbaiki
penyimpangan geometrik yang terjadi pada bedways.
Nilai keausan terbesar pada permukaan bedways mesin
bubut BU 09, BU 10, BU 11 dan BU 12 tidak lebih
dari 0,2 mm. Sehingga perbaikan yang akan dilakukan
adalah dengan cara scraping. Namun sebelum
melakukan perbaikan pada bedways mesin bubut,
sangatlah penting untuk menentukan slideways yang
akan dijadikan acuan sebagai pengendalian dan awal
perbaikan pada permukaan bedways. Slideways dari
tail-stock (3, 4 & 6) biasa diambil sebagai landasan
acuan. Berikut ini adalah metoda dan langkah-langkah
perbaikan dengan metoda scraping:
Namun sebelum melakukan perbaikan pada
bedways mesin bubut, sangatlah penting untuk
menentukan slideways yang akan dijadikan acuan
sebagai pengendalian dan awal perbaikan pada
permukaan bedways. Slideways dari tailstock (3, 4 & 6)

biasa diambil sebagai landasan acuan. Berikut ini


adalah metoda dan langkah-langkah perbaikan dengan
metoda scraping:
1. Levelling Bed:
Bed dilakukan levelling terhadap pondasinya
sepanjang slideways tailstock. Spirit level
ditempatkan pada slideways tailstock dan spirit
level memeriksa pada arah permukaan memanjang
dan juga pada arah permukaan melintang.
2. Mempersiapkan landasan acuan:
Slideways tailstock (3, 4 & 6) diambil sebagai
landasan. Disarankan untuk memeriksa landasan
slideway ini dan di scrap bila perlu, terhadap rack
guide permukaan 11 & 12. Landasan untuk dial
indicator ditempatkan pada slideways tailstock
(atau pada universal bridge yang dipasang pada
slideways tailstock) dan dial disentuhkan pada
permukaan 11 terlebih dahulu, kemudian
permukaan 12. Universal bridge digeser sepanjang
slideways dan data diambil, yang mana harus
berada dalam 0.03 mm dari keseluruhan panjang
bed. Puntiran dari slideways tailstock juga harus
diperiksa dengan spirit level yang ditempatkan pada
universal bridge dan harus berada dalam nilai
0,02/1000 mm.
3. Slideway flat (utama) (2) di scrap terhadap straight
edge dari akurasi kelas II dengan nillai keakurasian
10-12 titik/inci2 kemudian kesejajarannya terhadap
slideways 3, 4, & 6 diperiksa dengan dial indicator
yang dipasang di universal bridge dan ditempatkan
pada slideways tailstock. Kesejajarannya harus
berada dalam nilai 0,02/1000 mm.
4. Slideway V/prisma (utama) (7 & 8) juga di scrap
kemudian kesejajaran dan puntirannya dari
slideway 2, 7 & 8 diperiksa dengan spirit level yang
dipasang di universal bridge dan ditempatkan pada
slideway 2, 7 & 8. Kesejajaran dan puntiran harus
berada dalam nilai 0,02/1000 mm.
5. Kesejajaran dari slideway 7 & 8 harus relatif
terhadap slideway 3, 4 & 6, yang mana diperiksa
dengan menempatkan dial indicator di universal
bridge dan diletakan pada slideway 2,7 & 8. Dial
indicator disentuhkan pada slideway 3, 4 & 6, dan
universal bridge digeser sepanjang bedways.
Kesejajarannya harus berada dalam nilai 0,02/1000
mm.
6. Sebagai wadah oli dibuat sepanjang bedways
dengan cara di scrap agar memperlambat kecepatan
aus sehingga menambah umur kerja dari bedways
tersebut.

Gambar 19 Potongan melitang bedways mesin bubut

Ket.:

4.

2, 7 & 8 - slideways flat & V untuk carriage,


6, 3 & 4 - slideways flat & V untuk tailstock,
1 & 10 Clamping plate guides, 11& 12 Rack
fixing guides,
5 & 6 Control guides.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diambil


kesimpulan sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil pengukuran kerataan bedways
dengan menggunakan universal bridge di bidang
slideway flat dihasilkan:
a.) Nilai keausan tertinggi pada BU 09 sebesar
0,007 mm di titik 600 mm. Dan di bidang
slideway V dihasilkan nilai keausan
tertinggi sebesar 0,05 mm di titik 630 mm.
b.) Nilai keausan tertinggi pada BU 10 sebesar
0,170 mm di titik 600 mm. Dan di bidang
slideway V dihasilkan nilai keausan
tertinggi sebesar 0,116 mm di titik 630 mm.
c.) Nilai keausan tertinggi pada BU 11 sebesar
0,137 mm di titik 600 mm. Dan di bidang
slideway V dihasilkan nilai keausan
tertinggi sebesar 0,092 mm di titik 630 mm.
d.) Nilai keausan tertinggi pada BU 12 sebesar
0,107 mm di titik 570 mm. Dan di bidang
slideway V dihasilkan nilai keausan
tertinggi sebesar 0,07 mm di titik 630 mm.
2. Pada hasil pemeriksaan kesejajaran, keausan pada
bedways dari BU 10, BU 11 & BU 12 di bidang
front slideways (dekat dengan operator) terjadi
lebih besar dibanding dengan rear slideway
(berseberangan
dengan
operator)
yang
menyebabkan terjadinya puntiran kearah depan.
Dan pada bedways dari BU 09 di bidang rear
slideway terjadi lebih besar dibanding dengan front
slideways yang menyebabkan terjadinya puntiran
kearah belakang.
3. Nilai keausan terbesar pada permukaan bedways
mesin bubut BU 09, BU 10, BU 11 dan BU 12
tidak lebih dari 0,2 mm. Sehingga perbaikan yang
akan dilakukan adalah dengan cara scraping.
4. Nilai rata-rata keausan yang dihasilkan dari
pengukuran dengan menggunakan carriage terlihat
lebih kecil dan merata dibandingkan dengan
menggunakan universal bridge.
5. Nilai keausan terbesar yang diperoleh dari hasil
pengolahan data pengujian kemiringan slideway flat
carriage menggunkan spirit level adalah 0,04 mm
pada BU 12.
6. Pengujian yang dilakukan dengan menggunakan
universal bridge masih belum akurat. Hal ini
disebabkan oleh kompensasi dari jarak kaki-kaki
universal bridge ketika terjadi penurunan bidang
bedways.
7. Langkah-langkah perbaikan bedways dengan
metoda scraping guna memperbaiki penyimpangan
geometrik yang terjadi pada mesin bubut Weiler
Praktikant 800R (BU 09, BU 10, BU 11 dan BU
12) adalah sebagai berikut:

1.) Menentukan
slideway
acuan
sebagai
pengendalian dan awal perbaikan pada
bedways. Slideway yang dipilih sebagai
bidang acuan adalah slideways dari tailstock.
2.) Levelling pada bed pada arah permukaan
memanjang dan juga pada arah permukaan
melintang dengan menggunakan spirit level.
3.) Slideways tailstock diperiksa kesejajaran dan
puntirannya terhadap rack guide dengan
menggunakan dial indicator dan spirit level
yang ditempatkan di universal bridge.
4.) Slideway flat (utama) di scrap terhadap
straight edge dari akurasi kelas II dengan
nillai keakurasian 10-12 titik/inci2 kemudian
kesejajarannya terhadap slideways tailstock
diperiksa dengan dial indicator yang dipasang
di universal bridge dan ditempatkan pada
slideways tailstock.
5.) Slideway V/prisma (utama) juga di scrap
kemudian kesejajaran dan puntirannya dari
slideways carriage diperiksa dengan spirit
level yang dipasang di universal bridge dan
ditempatkan pada slideway tailstock.
6.) Kesejajaran slideway V dari carriage harus
relatif terhadap slideway tailstock, yang mana
diperiksa dengan menempatkan dial indicator
di universal bridge dan diletakan pada
slideway carriage. Dial indikator disentuhkan
padasalah satu permukaan slideway tailstock,
dan universal bridge digeser sepanjang
bedways.
7.) Sebagai wadah oli dibuat sepanjang bedways
dengan cara di scrap agar memperlambat
kecepatan aus sehingga menambah umur kerja
dari bedways.
5.

SARAN

Dalam pengerjaan tugas akhir ini tentu masih


terdapat beberapa kekurangan. Berikut ini adalah saran
guna mengembangkan tugas akhir ini:
1. Perlu dilakukan proses perbaikan bedways guna
memperbaiki penyimpangan geometrik yang
terjadi pada mesin sehingga kinerja mesin dapat
lebih maksimal lagi.

2.

Perlu dilakukan pengujian penyimpangan


geometrik pada slider yang lain, seperti slideways
pada hubungan antara bedways dengan sadle,
dovetail pada hubungan antara sadle dengan
eretan melintang, dan dovetail pada hubungan
antara eretan melintang dengan eretan atas. Hal
ini untuk mengetahui penyimpangan geometrik
secara menyeluruh sehingga dapat diketahui
pengaruh terhadap produk yang diproses pada
mesin-mesin tersebut.

6.

DAFTAR PUSTAKA

1. Wirjomartono, Sri Hardjoko Martawirya, Yatna


Yuwana. 1985. Mesin Perkakas. Bandung:
Institut Teknologi Bandung.
2. Rochim, Taufiq. 2001. Spesifikasi, Metrologi &
Kontrol Kualitas Geometrik Jilid 1. Bandung:
Institut Teknologi Bandung.
3. Rochim, Taufiq. 2006. Spesifikasi, Metrologi &
Kontrol Kualitas Geometrik Jilid 2. Bandung:
Institut Teknologi Bandung.
4. Darto, 2002. Kumpulan bahan kuliah pengetesan
mesin perkakas. ITB: Bandung.
5. Nasril, 2004. Pengetesan kondisi dan ketelitian
mesin perkakas. ITB: Bandung.
6. H. P. Garg. 1976. Industrial Maintenance. New
Delhi: S. Chand & Company Ltd.
7. Schlesinger, Georg. 1978. Testing Machine Tools
8th editions. Oxford: Pergamo Press Ltd.
8. ASM Handbook Vol 01. 1990. Properties and
Selection: Irons, Steels, and High-Performance
Alloys. ASM International.
9. ASM Handbook Volume 4. 1991. Heat Treating.
ASM International.
10. Hazma, Sri Nur Y. 2006. Bahasa Indonesia Ilmiah
dan Tata Tulis Laporan. Bandung: Politeknik
Manufaktur Bandung.
11. Colioni, Pablo. 2010. Alignment Tests on Lathe
(Metrology).
http://what-whenhow.com/metrology/alignment-tests-on-lathemetrology/. 20 Juni 2015.
12. Government of Tamilnadu. 2011. General
Machinist Theory. Chennai: Free Textbook
Programme.