Anda di halaman 1dari 6

LO 1 PROSES PENUAAN PADA RONGGA MULUT

Perubahan fisiologis Proses Menua


Perubahan-perubahan didalam rongga mulut, karena proses penuaan
sebagian berhubungan dengan perubahan-perubahan local dan systemic,
psychologik seseorang hendaknya tidak ditentukan berdasarkan umur
biologinya. faktor-faktor yang menjadi salah satu pertimbangan dalam
mengevaluasi seseorang yang berdasarkan keadaan biologinya adalah
kapasitas mentalnya, kapasitas berbagai fungsi organ-organnya, responnya
terhadap stress, serta penampilannya.[10]
Atrofi dan kematian sel akan menyebabkan perubahan fisik dan mental
individu. Perubahan fisik menyebabkan terjadi penurunan kinerja
organ/sistem dalam tubuh. Penurunan kinerja tubuh pada lansia merupakan
hal yang fisiologis. Namun adanya faktor lingkungan yang berperan besar
pada kinerja tubuh maka proses patologis ikut berperan. Untuk menentukan
penyebab perubahan pada lansia perlu diperhatikan riwayat dari perubahan,
yang meliputi kecepatan, lamanya, besarnya, dan letak/tempat perubahan.
[11]
Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa penuaan dapat dibedakan menjadi
:
a) penuaan yang normal (fisiologis)
b) penuaan karena penyakit (patologis)
Penting untuk membedakan antara kejadian yang merupakan tanda
penuaan normal dengan yang disebabkan oleh penyakit yang biasanya lebih
sering terjadi pada orang lanjut usia. Perubahan yang benar disebabkan oleh
usia harus memenuh kriteria berikut :

Perubahan yang terjadi karena usia tidak harus bersifat merusa

Perubahan berlangsung secara progresif

Perubahan terjadi pada seluruh anggota spesies

Perubahan bersifat irreversible.

Perubahan klinis pada rongga mulut akibat proses penuaan


Gambaran klinis yang dapat dilihat adalah mukosa tampak licin mengkilap (tidak
ada stippling pada gingiva), pucat, kering, mudah mengalami iritasi dan
pembengkakan,
mudah terjadi pendarahan bila terkena trauma (lebih parah jika terdapat kelainan
sistemik) serta elastisitasnya berkurang. Ini karena pertambahan usia menyebabkan
sel
epitel pada mukosa mulut mengalami penipisan, berkurangnya keratinisasi,
berkurangnya
vaskularisasi, serta penebalan serabut kolagen pada lamina propia.6,7,11 Antara
perubahan

klinis yang dapat terjadi adalah :


2.4.1 Jaringan flabby
Pada kasus resorbsi tulang alveolar, sering terjadi pada pasien yang sudah lama
kehilangan gigi sehingga mengakibatkan linggir alveolar menjadi datar atau
jaringan
lunak sekitarnya menjadi flabby. Menurut Boucher (cit. Damayanti) jaringan flabby
merupakan respon dari jaringan ikat yang mengalami hiperplasia yang awalnya
diakibatkan oleh trauma atau luka yang tidak dapat ditoleransi yang terjadi pada
residual
ridge. Makin tebal jaringan hiperplastik yang terbentuk, makin besar pula derajat
jaringanflabby. Biasanya terjadi pada penderita yang lama tidak memakai gigitiruan
atau dapat
juga terjadi pada penderita yang menggunakan gigitiruan yang tidak pas.6
2.4.2 Kelenjar saliva
Fungsi kelenjar saliva yang mengalami penurunan merupakan suatu keadaan
normal pada proses penuaan manusia. Manula mengeluarkan jumlah saliva yang
lebih sedikit pada keadaan istirehat, saat berbicara, maupun saat makan. Keadaan
ini disebabkan oleh adanya perubahan atropi pada kelenjar saliva sesuai dengan
pertambahan umur yang akan menurunkan produksi saliva dan mengubah
komposisinya sedikit. Xerostomia merupakan simtom, bukan suatu penyakit. Salah
satu penyebab xerostomia adalah kelainan dalam produksi saliva, adanya
penyumbatan atau gangguan pada kelenjar saliva sehingga menghambat
pengaliran saliva ke rongga mulut, Sjogrens Syndrome dan efek negatif dari
radioterapi akibat pengobatan kanker. Selain itu,penyakit-penyakit sistemis yang
diderita pada usia lanjut dan obat-obatan yang digunakan untuk perawatannya
dapat menyebabkan xerostomia pada manula. Xerostomia adalah salah satu faktor
yang penyebab berkurangnya sensitifitas taste buds, pasien tidak dapat memakai
gigitiruan sebagian / gigitiruan penuh, serta mengakibatkan sensasi mulut terbakar
pada manula. Fungsi utama dari saliva adalah pelumasan, buffer, dan perlindungan
untuk jaringan lunak dan keras pada rongga mulut. Jadi, penurunan aliran saliva
akan mempersulit fungsi bicara dan penelanan, serta menaikkan jumlah karies gigi,
dan meningkatkan kerentanan mukosa terhadap trauma mekanis dan infeksi
microbial
2.4.3 Lidah dan pengecapan
Orang tua biasanya mengeluh tidak adanya rasa makanan, ini dapat disebabkan
bertambahnya usia mempengaruhi kepekaan rasa akibat berkurangnya jumlah
pengecap pada lidah. Permukaan lidah ditutupi oleh banyak papilla pengecap
dimana terdapat empat tipe papilla yaitu papilla filiformis, fungiformis,
sirkumvalata, dan foliate. Sebagian papilla pengecap terletak dilidah dan beberapa
ditemukan pada palatum. epiglottis, laring dan faring. Pada manusia terdapat
sekitar 10,000 putik kecap, dan jumlahnya berkurang secara drastis dengan
bertambahnya usia.7,14,15
Kesulitan untuk menelan (Dysphagia) biasanya muncul pada manula dan perlu di
berikan perhatian karena populasi manula semakin meningkat setiap tahun. Dalam
system pencernaan, terdapat beberapa fase penting yang berkait erat dengan
rongga mulut yaitu pengunyahan, pergerakan lidah dan kebolehan membuka serta
menutup mulut (bibir). Sistem pencernaan di rongga mulut menunjukkan

penurunan fungsi dengan meningkatnya umur. Robbins dkk (cit. Al-Drees)


menyatakan bahwa fungsi penelanan (berkaitan dengan tekanan) menurun dengan
meningkatnya umur sehingga manula terpaksa bekerja lebih keras untuk
menghasilkan efek tekanan yang adekuat dan dapat menelan makanan, seterusnya
akan meningkatkan resiko untuk berkembangnya dysphagia.Fungsi penelanan pasti
akan mengalami penurunan pada manula walaupun mempunyai rongga mulut yang
sehat. Aksi pergerakan lidah akan berubah dengan meningkatnya umur. Perubahan
yang terjadi adalah perlambatan dalam mencapai tekanan otot dan pergerakan
yang efektif pada lidah, gangguan pada ketepatan waktu kontraksi otot lidah
sehingga menganggu fungsi pencernaan di rongga mulut secara keseluruhannya.
Akibat gangguan pada sistem pencernaan dan kehilangan sensori pengecapan
sehingga menyebabkan kehilangan selera makan, manula kehilangan berat badan
merupakan keadaan umum yang sering terjadi.

Proses Penuaan Jaringan Rongga Mulut


1. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang proses penuaan jaringan lunak rongga
mulut.
Proses penuaan jaringan lunak rongga mulut.
a. Mukosa
Terjadi perubahan struktur, fungsi, dan elastisitas jaringan mukosa mulut.
- Mukosa tampak tipis, mengkilat dan hilangnya lapisan yang menutupi dari sel
berkeratin. Hal tersebut menyababkan rentan terhadap iritasi mekanik, kimia, dan
bakteri.
- Mukosa mulut lemah dan mudah terluka oleh makanan kasar atau gigi tiruan yang
longgar.
- Epitel mudah terkelupas dan jaringan ikat dibawahnya sembuh dengan lambat.
- Mukosa mulut terlihat pucat, kering, kemunduran lamina propia, keratinisasi
berkurang, vaskularisasi berkurang menyebabkan memburuknya nutrisi dan pemberian
oksigen ke jaringan.
- Perubahan pada keseimbangan jaringan membran mukosa menyebabkan terjadinya
atropi, hilangnya stippling, penipisan epitel, menurunnya kelenturan jaringan ikat.
- Pada lap epitel kemampuan mitosis berkurang dgn pergantian epitel yg lambat.
Proses keratinisasi berlangsung lambat dan lapisan epitel menjadi tipis rentan
terhadap jejas.
- Hal tsb dapat disebabkan karena terjadi perubahan pada sintesis protein, perubahan
respon terhadap faktor pertumbuhan, atau karena perubahan vaskularisasi pada
mukosa mulut (akibat arteriosclerosis).
- Pada lamina propria dan submukosa perubahan yg mirip dgn lapisan dermis kulit.
Serat elastin dan kolagen bertambah tebal dan memadat.
- Terjadi penurunan sistem imun dari mukosa mulut rentan terhadap infeksi dan
proses penyembuhan luka menjadi terlambat.
- Perubahan mukosa mulut pada lansia akibat faktor lokal (status gigi-geligi,
pemakaian gigi palsu, konsumsi tembakau, sekresi saliva) dan penyakit sistemik.
- 95% dari kanker mulut terjadi pada orang berusia lebih dari 40 tahun.

- Pada lansia, mulai terlihat kerutan-kerutan pada muka akibat kulit mulai melentur
jaringan hipodermis tidak kencang lagi perlekatannya dengan otot/tulang akibat mulai
kehilangan berat badan.
- Pada usia sangat lanjut kerutan dapat semakin meluas akibat hilangnya dimensi
vertikal setelah kehilangan gigi-geligi.
b. Lidah
- Papilla pengecap di ujung lidah menurun jumlahnya.
- Berkurangnya gigi geligi seiring proses penuaan menyebabkan lidah terlihat lebih
besar, tampak bercelah, dan beralur (fissured tongue).
- Menurunnya sensitivitas pengecapan, berkurangnya taste bud di daerah papilla
circumvallata.
- Pergerakan lidah berkurang karena kehilangan proses tonus otot dan terdapat juga
penurunan serabut otot.
c. Kelenjar saliva
- Kelenjar saliva menurun produksinya, enzim ptyalin menurun sehingga fungsi lidah
membantu melicinkan makanan berkurang dan proses penelanan lebih sukar.
- Aliran saliva yang menurun menyebabkan mukosa mulut menjadi kering.
- Perubahan penurunan produksi kelennjar saliva yang biasa terjadi adalah adanya
penumpukan jaringan ikat dan jaringan penyambung atau fibrous yang bertambah pada
kelenjar saliva.
- Gangguan berkurangnya produksi saliva yaitu terjadinya gangguan pengecapan,
menurunnya kelenturan mukosa, rasa terbakar dan keirng pada mukosa mulut
(xerosthomia), meningkatnya karies gigi, kesukaran pemakaian protesa sehingga
menyebabkan iritasi protesa.
- Degenerasi epitel saliva, atrofi, hilangnya sel asini dan fibrosis terjadi dengan frekuensi
dan keparahan yang meningkat sejalan dengan meningkatnya usia.
- Perubahan ini luasnya bervariasi pada seluruh kelenjar saliva manusia.
- Kelenjar individu tertentu, seperti parotis, tidak menunjukkan penurunan fungsi akibat
usia, sementara kelenjar submandibula menunjukkan adanya penurunan kecepatan
aliran saliva pada usia tua.
- Secara umum, saliva non stimulasi (istirahat) secara keseluruhan menurun volumenya
pd usia tua, sdgkn saliva yg distimulasi tidak menurun.
- Kecepatan biosintesis protein me nurun karena sel-sel asini atrofi jumlah protein dlm
saliva menurun.
- Pada pars terminalis kelenjar saliva, sel-sel asini digantikan oleh jaringan lemak,
terutama kelenjar parotis.
- Sedangkan pd kelenjar submandibularis dan kelenjar saliva minor banyak ditemukan
jaringan fibrosa.
- Pada lansia sering ditemukan keadaan mulut kering (xerostomia) lebih karena
patologis, seperti akibat penyakit sistemik (Sjogrens syndrome), obat-obatan yg
dikonsumsi (antihipertensi, antidepresi, diuretik, antihistamin), dan terapi kanker
(kemoterapi dan radioterapi.
d. Ligamen periodontal
- Berkurangnya fibroblast dan strukturnya lebih irregular, berkurangnya produksi
matriks organik.
- Serat kolagen menjadi lebih tebal serta jumlah pembuluh darah mengalami

penurunan.
- Kalsifikasi serat-serat kolagen yang menyebabkan berkurangnya lebar ligamen
periodontal.
- Seiring bertambahnya usia, ligamen periodontal akan mengalami perubahan derajat
selularitas.
- Struktur ligamen periodontal yang mengalami penuaan berupa reduksi matriks organic
ligamen serta penurunan aktivitas mitotic sel. Hal tersebut menyebabkan ligamen
periodontal menjadi kurang reaktif.
- Pada ligamen periodontal dapat terjadi arteriosklerosis meningkat, fibroplasias, dan
mukopolysakarida.
e. Gingiva
- Keratinisasi epitel gingiva menipis. Keadaan ini berarti permeabilitas terhadap antigen
bakteri meningkat, resistensi terhadap trauma fungsional berkurang.
- Pada gingiva terjadi resesi, atropi, hilangnya bintil-bintil permukaan(rate peg),
berkurangnya jaringan ikat, turunnya oksidasi dan metabolisme jaringan.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang proses penuaan jaringan keras rongga
mulut.
Penuaan jaringan keras.
a. Gigi
Email
Secara umum :
Email aus akibat pengunyahan.
Warna lebih gelap karena penambahan bahan organik atau warna dentin yg terlihat
karena menipisnya lapisan email.
Permeabilitas email menurun karena mengecilnya mikro pori email (celah diantara
molekul pembentuk kristal) tidak bisa dimasuki oleh bbrp zat, contoh Ca, tapi dpt
dimasuki oleh mineral yg lebih kecil dari Ca, mis F.
Kandungan air di email menurun.
Komposisi permukaan email berubah, seperti penambahan kandungan fluor pada
lingkungan mulut insidens karies berkurang
Dan juga terjadi atrisi, abrasi dan erosi.
- Atrisi
Hilangnya suatu subtansi gigi secara bertahap akibat pengunyahan. Penyebabnya
adalah proses pengunyahan didukung oleh kebiasaan buruk seperti mengunyah sirih.
- Erosi
Melarutnya email gigi dan asam disebabkan hilangnya jaringan keras dan tida
melibatkan bakteri. Penyebabnya adalah makanan dan minuman yang mengandung
asam, asam yang timbul akibat gangguan pencernaan, dan asam dengan PH < 5,5.
Erosi dimulai dari adanya pelepasan ion kalsium, jika hal ini berlanjut maka akan
menyebabkan kehilangan dari prisma enamel dan dilanjutkan dengan adanya porositas.
Porositas menyebabkan kekerasan lapisan enamel gigi berkurang.
- Abrasi
Terkikisnya lapisan email gigi karena faktor mekanik. Disebabkan oleh cara menyikat
gigi yang tidak tepat, kebiasaan buruk seperti mengunyah tembakau, menggunakan
tusuk gigi yang berlebihan di antara gigi dan penataan gigi tiruan lepasan yang

menggunakan cengkeram.
Abrasi disebabkan oleh gaya friksi (gesekan) langsung antara gigi dan objek eksternal,
atau karena gaya friksi antara gigi yang berkontak dengan benda abrasive.
Abrasi yang disebabkan oleh penyikatan gigi dengan arah horizontal dan dengan
penekanan berlebihan adalah bentuk yang paling sering ditemukan.
Gambaran klinis biasanya terlihat sebagai cekungan tajam di daerah sepertiga bawah
mahkota gigi, didekat gusi, dengan takikan berbentuk V pada bagian gingiva dari aspek
fasial gigi. Bila abrasi terjadi akibat penggunaan tusuk gigi, selah, atau takikan ini dapat
terjadi di celah gigi. Gigi yang paling sering terkena adalah gigi premolar dan caninus.
Selain mengganggu penampilan, abrasi gigi dapat menyebabkan gigi menjadi
hipersensitif. Pada sebagian orang, di daerah tersebut akan terasa ngilu bila terkena
minuman dingin atau bila ada hembusan angin.
Dentin
Reaksi kompleks dentin pada proses penuaan ialah terjadinya pembentukkan:
- Dentin Sekunder, yang merupakan kelanjutan dentinogenesis serta reduksi jumlah
odontoblas
- Dentin Tersier, respon rangsangan dan odontoblast berdesakan serta tubulus dentin
bengkok
- Dentin Sklerotik, karies terhenti/ berjalan sangat lambat dan tubulus dentin
menghilang
- Dead Tracks (Sal. Mati), tubulus dentin kosong.
Pulpa
- Rongga pulpa berkurang besarnya karena pembentukan dentin sekunder atau
pembentukan dentin sbg mekanisme pertahanan pulpa (dentin reparatif).. Pada orang
tua tidak jarang bahwa pulpanya sama sekali hilang akibat dari rangsangan eksterna
yang terus menerus atau dari satu kali rangsangan yang lebih kuat, misalnya setelah
trauma.
- Peningkatan kalsifikasi jaringan pulpa
- Penurunan komponen seluler dan vaskuler
- Peningkatan kolagen jaringan pulpa
- Dapat terjadi pengapuran yg tidak teratur pulp stones
- Terjadi pengurangan jumlah dan penurunan kualitas dari dinding pembuluh darah dan
saraf vaskularisasi dan inervasi pulpa mesnurun reaktifitas pulpa berkurang.
b. Tulang alveolar
- Setelah tanggalnya gigi geligi, tulang alveolar di sekitar gigi geligi dan soketnya
perlahan-lahan akan teresorpsi pada kedua belah rahang. Rahang akan saling
berhubungan lebih dekat satu sama lain saat mulut ditutup. Di rahang atas resorpsi
tulang alveolar dapat berkembang lebih jauh pada region pipi.
- Terjadi resorbsi dari processus alveolaris, terutama setelah pencabutan gigi.
- Resorbsi tulang alveolar menyebabkan pengurangan jumlah tulang akibat kerusakan
tulang karena adanya peningkatan osteoklast (fungsinya : perusakan tulang) sehingga
terjadi proses osteolisis dan peningkatan vaskularisasi