Anda di halaman 1dari 25

PENATALAKSANAN KANKER RONGGA MULUT

REFERAT

Oleh
Bagus Satrio Pambudi
NIM 122011101020

Dokter Pembimbing
dr. Primanto Bhakti Leksmana. Sp.B

SMF BEDAH RSD. DR. SOEBANDI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016

PENATALAKSANAN KANKER RONGGA MULUT


i

REFERAT
Disusun untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik
di SMF ilmu bedah RSD dr. Soebandi Jember

Oleh
Bagus Satrio Pambudi
NIM 122011101020

Dokter Pembimbing
dr. Primanto Bhakti Leksmana. Sp.B

SMF BEDAH RSD. DR. SOEBANDI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ...................................................................................
i
HALAMAN JUDUL.......................................................................................
ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................
iii
BAB 1. PENDAHULUAN .............................................................................
1
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................
2
2.1 Definisi ......................................................................................
2
2.2 Anaomi Rongga Mulut ............................................................
2
2.3 Epidemiologi .............................................................................
4
2.4 Etiologi dan Faktor Resiko .....................................................
5
2.5 Paofisiologi ...............................................................................
7
2.6 Manifestasi Klinis ....................................................................
7
2.7 Klasifikasi .................................................................................
8
2.8 Diagnostik ................................................................................. 10
2.9 Penatalaksanaan ...................................................................... 14
2.10 Prognosis.................................................................................... 22
BAB 3. KESIMPULAN ................................................................................. 23
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................
ii

24

iii

BAB 1. PENDAHULUAN
Tumor ganas rongga mulut atau lebih sering disebut sebagai kanker rongga
mulut meliputi semua malignansi yang muncul dari perbatasan kulit-mukosal
bibir atas dan bawah sampai ke perbatasan palatum durum-palatum molle di
bagian atas dan garis sirkumvalatae di bagian bawah. Organ tubuh yang dimaksud
meliputi bibir atas dan bawah, selaput lendir mulut, bagian atas trigonum
retromolar, lidah bagian 2/3 depan, dasar mulut, serta palatum durum
(Reksoprawiro, 2003; dan Soepardi, 2007).
Oral squamous cell carcinoma merupakan bentuk yang paling umum dari
kanker rongga mulut. Adapun faktor resiko terjadinya kanker rongga mulut dibagi
menjadi 2 kelompok, yaitu; yang terdefinisikan dengan jelas (well-established)
sebagai penyebab (merokok, konsumsi alkohol, dan adanya lesi potensial
malignan) dan faktor yang mungkin memiliki kontribusi terjadinya kanker rongga
mulut seperti infeksi virus dserta defisiensi unsur makanan (Laronde, 2008; Wolff,
2012).
Penegakan diagnosis kanker mulut hampir sama seperti pada penyakit
lainnya, mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
terutama pemeriksaan histopatologi sebagai gold standard. Adapun Five-years
survival rate untuk stadium dini 82% sedangkan untuk semua stadium 61 %.
Permasalahannya adalah lebih dari setengah kanker rongga mulut sudah
mengalami metastase baik itu regional maupun jauh pada saat terdeteksi. Hal ini
akan mengurangi 5-years survival rate menjadi kurang dari 50 % untuk kanker
dasar mulut dan lidah (Tciptoningsih, 2014).

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi
Kanker rongga mulut merupakan tumor ganas yang terdapat pada rongga
mulut, mulai dari perbatasan kulit-selaput lendir bibir atas dan bawah sampai ke

perbatasan palatum durum-palatum mole di bagian atas dan garis sirkumvalata di


bagian bawah. Organ tubuh yang dimaksud meliputi bibir atas dan bawah, selaput
lendir mulut, bagian atas trigonum retromolar, lidah bagian dua pertiga depan,
dasar mulut, serta palatum durum (Reksoprawiro, 2003; dan Soepardi, 2007).
2.2 Anatomi Rongga Mulut
Rongga mulut merupakan sebuah bagian tubuh yang terdiri dari bibir,
lidah bagian oral (dua pertiga bagian anterior dari lidah), dasar mulut, trigonum
retromolar, mukosa bukal, gingiva, dan palatum durum. Osteum mandibula dan
maksila adalah bagian tulang yang membatasi rongga mulut (Kimple, 2014; dan
Tciptoningsing, 2014).

2.2.1 Bibir
Bibir atau disebut juga labia, adalah lekukan jaringan lunak yang
mengelilingi bagian terbuka dari mulut. Bibir terdiri dari otot orbikularis oris yang
dilapisi oleh kulit pada bagian eksternal dan membran mukosa pada bagian
internal. Secara anatomi, bibir dibagi menjadi dua bagian yaitu bibir bagian atas
dan bibir bagian bawah. Bibir bagian atas terbentang dari dasar hidung pada
bagian superior sampai ke lipatan nasolabial pada bagian lateral dan batas bebas
dari sisi vermilion pada bagian inferior. Sedangkan bibir bagian bawah terbentang
dari sisi vermilion pada bagian superior sampai ke komisura pada bagian lateral
dan mandibula pada bagian inferior. Permukaan bibir bagian dalam dari bibir atas
maupun bawah berlekatan dengan gusi pada masing-masing bagian bibir oleh
sebuah lipatan yang berada di bagian tengah dari membran mukosa yang disebut
frenulum labial (Tciptoningsing, 2014).
2.2.2 Palatum
Palatum merupakan sebuah dinding atau pembatas yang membatasi rongga
mulut dengan rongga hidung sehingga membentuk atap bagi rongga mulut.
Palatum secara anatomis dibagi menjadi dua bagian yaitu palatum durum
(palatum keras) dan palatum mole (palatum lunak). Palatum durum terletak di
bagian anterior dari atap rongga mulut. Palatum durum merupakan sekat yang
terbentuk dari tulang yang memisahkan rongga mulut dan rongga hidung. Palatum
durum dibentuk oleh tulang maksila dan tulang palatina yang dilapisi oleh
membran mukosa. Bagian posterior dari atap rongga mulut dibentuk oleh palatum
mole. Palatum mole merupakan sekat berbentuk lengkungan yang membatasi
bagian orofaring dengan nasofaring. Palatum mole terbentuk dari jaringan otot

yang sama halnya dengan paltum durum, juga dilapisi oleh membran mukosa
(Tciptoningsing, 2014).
2.2.3 Lidah
Lidah tersusun dari otot lurik yang dilapisi oleh membran mukosa. Lidah
beserta otot-otot yang berhubungan dengan lidah merupakan bagian yang
menyusun dasar dari rongga mulut. Lidah dibagi menjadi dua bagian secara lateral
oleh septum mediana. Lidah menempel pada tulang hyoid pada bagian inferior,
prosesus styloid dari tulang temporal dan mandibula (Taufiqurrahman, 2014).
Setiap bagian lateral dari lidah memiliki komponen otot-otot ekstrinsik
dan intrinsik yang sama. Otot ekstrinsik lidah terdiri dari otot hyoglossus, otot
genioglossus dan otot styloglossus. Otot-otot tersebut berasal dari luar lidah
(menempel pada tulang yang ada di sekitar bagian tersebut) dan masuk kedalam
jaringan ikat yang ada di lidah. Otot-otot eksternal lidah berfungsi untuk
menggerakkan lidah dari sisi yang satu ke sisi yang berlawanan. Selain itu, otototot ekstrintik juga berfungsi sebagai pembentuk dari dasar rongga mulut dan
mempertahankan agar posisi lidah tetap pada tempatnya.Otot-otot intrisik lidah
berasal dari dalam lidah dan berada dalam jaringan ikat lidah. Otot ini berfungsi
untuk mengubah bentuk dan ukuran lidah pada saat berbicara dan menelan. Otot
tersebut terdiri atas otot longitudinalis superior, otot longitudinalis inferior, otot
transversus linguae, dan otot verticalis linguae. Frenulum lingualis merupakan
lipatan membran mukosa yang menghubungkan lidah bagian ventral dengan dasar
rongga mulut (Taufiqurrahman, 2014).
2.3 Epidemiologi
Insidensi kanker rongga mulut di Indonesia belum di ketahui secara pasti.
Frekuensi relatif insidensi kanker rongga mulut di Indonesia diperkirakan sebesar
1,5% - 5% Kanker rongga mulut lebih banyak terdapat pada laki-laki daripada
perempuan dengan perbandingan 3:2 2:1, hal ini erat kaitannya dengan
kencenderungan laki-laki untuk merokok dan minum alkohol. Angka kejadian
kanker rongga mulut di India sebesar 20 - 25 per 100.000 atau 40% dari seluruh
kanker, sedangkan di Amerika dan Eropa sebesar 3-5 per 100.000 atau 3-5% dari
seluruh kanker. Di Amerika Serikat pada tahun 1987, disebutkan bahwa setiap

tahun terdapat 17.400 pasien baru kanker rongga mulut, 95% terdapat pada
mereka yang berusia diatas 40 tahun dengan rata-rata usia 60 tahun. Sekitar 95%
kanker rongga mulut merupakan karsinoma sel skuamosa dan paling sering
mengenai lidah (40%), dasar mulut (15%), serta bibir (13%) (Reksoprawiro,
2003; dan Soepardi, 2007).
2.4 Etiologi dan Faktor Resiko
Penyebab pasti dari kanker rongga mulut tidak dapat diketahui, tidak ada
penyebab tunggal yang menyebabkan kanker rongga mulut. Faktor merokok dan
alkohol disebut-sebut sebagai penyebab utama. Penting diketahui bahwa kejadian
kaker rongga mulut berhubungan erat dengan lamanya kontak antara zat
karsinogen dengan selaput lendir rongga mulut. Selain merokok dan konsumsi
alkohol, terdapat berbagai faktor resiko yang berhubungan dengan kanker rongga
mulut, seperti memamah sirih atau tembakau, infeksi HPV (Human Papilloma
Virus), jenis kelamin, usia, nutrisi, dan penurunan sistem imun (Laronde, 2008;
Wolff, 2012; dan Chi, 2015).
a. Merokok
Insidensi lesi premalignant pada rongga mulut meningkat seiring dengan
jumlah rokok yang dikonsumsi. Odd ratio kejadian kanker rongga mulut antara
perokok dan bukan perokok adalah sebesar 19,8. Kombinasi merokok dan
konsumsi alkohol memberikan efek multiplikasi dan meningkatkan angka tersebut
menjadi 177. Asap rokok, sebagai suatu zat yang menyebabkan iritasi, secara teori
mengakitkan reaksi inflamasi pada selaput lendir rongga mulut dan meningkatkan
permeabilitas selaput lendir. Paparan secara terus-menerus, memungkinkan
adanya penyerapan zat karsinogen yang terkandung dalam asap tembakau
kedalam selaput lendir rongga mulut (Wolff, 2012).
b. Alkohol
Serupa dengan merokok, insidensi lesi premalignant pada rongga mulut
meningkat seiring dengan jumlah alkohol yang dikonsumsi secara oral. Odd ratio
kejadian kanker rongga mulut antara peminum alkohol dan bukan peminum
alkohol adalah sebesar 5,5. Kombinasi merokok dan konsumsi alkohol
memberikan efek multiplikasi dan meningkatkan angka tersebut menjadi 177.
Alkohol mengakibatkan terjadinya reaksi pembakaran pada selaput rongga mulut,

mengakibatkan terjadinya proses inflamasi yang meningkatkan permeabilitas


selaput lendir rongga mulut (Wolff, 2012).
c. Tembakau
Konsumsi tembakau dalam bentuk lain, seperti betel quid dan gutka juga
meningkatkan resiko terjadinya kanker rongga mulut. Betel quid dan gutka
merupakan kebiasaan penduduk asia tenggara dan beberapa negara lainnya berupa
kegiatan memamah buah pinang yang dibalut dengan daun sirih dan tembakau.
d. Human Papilloma Virus (HPV 16)
Infeksi HPV, terutama pada tonsil lidah, tonsil palatum, palatum molle,
dan dasar lidah merupakan faktor resiko yang berhubungan erat dengan insidensi
kanker rongga mulut. Terdapat lebih dari 120 serotipe HPV yang telah terdeteksi,
namun hanya dua serotipe yang dikaitkan dengan insidensi kanker rongga mulut,
yaitu HPV-16 dan HPV-18. Sekitar 90% kanker rongga mulut dengan infeksi HPV
positif menunjukkan adanya infeksi dari HPV-16 (Laronde, 2008).
e. Nutrisi yang buruk
Diet tinggi buah dan sayuran menurunkan kejadian lesi premalignant dan
keganasan pada rongga mulut. Konsumsi vitamin C dan karoten yang banyak
terdapat pada buah dan sayuran berwarna kuning kemerahan menurunkan
insidensi kanker rongga mulut (Laronde, 2008).
f. Penurunan sistem imun dan kelainan genetik
Kanker rongga mulut lebih sering dijumpai pada orang-orang dengan
sistem kekebalan tubuh yang lemah. Sistem kekebalan tubuh yang lemah dapat
disebabkan oleh kelainan kongenital, acquired immunodeficiency syndrome
(AIDS) , dan obat-obatan tertentu (imunosupressan). Kelainan genetik juga
memegang peranan, kelainan genetik yang dimaksud adalah anemia fanconia dan
diskeratosis kongenital (Laronde, 2008).
2.5 Patofisiologi
Sel-sel kanker terbentuk dari sel-sel normal yang mengalami perubahan
kromosomal akibat pajanan zat karsinogen. Transformasi tersebut mengakibatkan
suatu kecacatan gen yang diikuti dengan ekspansi klonal. Kecacatan gen yang
dimaksud menyebabkan deregulasi pertumbuhan sel dan kematian sel, meliputi
ekspresi berlebihan dari onkogen, serta inaktivasi dari TSGs (tumor suppressor
genes). Kombinasi dari kedua hal tersebut mengakibatkan pertumbuhan sel yang

tidak terkontrol dan infiltrasi sel kanker yang mengakibatkan kerusakan sel
normal di sekitarnya (Mehrotra, 2006; dan Scully, 2016).
Pada karsinoma sel skuamosa rongga mulut, perubahan TSGs terjadi
akibat defek pada kromosom 3, 9, 11, dan 17. Normalnya, TSGs berperan dalam
mengendalikan pertumbuhan sel, namun dengan adanya mutasi pada kromosom
tersebut, fungsi TSGs dalam menghambat sinyal pertumbuhan sel menjadi hilang.
TSGs yang paling sering teridentifikasi mengalami kelainan pada keganasan
adalah tp16 yang terletak pada kromosom 9 dan tp53 pada kromosom 17
(Mehrotra, 2006; dan Scully, 2016).
Selain kerusakan pada gen TSGs, karsinoma sel skuamosa rongga mulut
juga dapat terjadi akibat kerusakan pada gen yang berperan dalam memicu
pertumbuhan sel. Perubahan pada onkogen mengakibatkan pertumbuhan sel yang
tidak terkendali. Onkogen yang paling sering terlibat adalah epidermal growth
factor receptor (EGFR), cyclin D1 (PRAD1) yang terletak pada kromosom 11 dan
gen harvey ras (H-ras) yang terletak pada kromosom 17 (Mehrotra, 2006; dan
Scully, 2016).
2.6 Manifestasi klinis
Manifestasi klinis dari kanker rongga mulut merupakan akibat dari
pertumbuhan sel kanker yang meliputi gangguan massa dan gangguan fungsional
pada rongga mulut. Lesi pada selaput lendir rongga mulut dengan asal yang tidak
jelas dan berdurasi lebih dari 2 minggu harus dicurigai sebagai tanda awal dari
keganasan pada rongga mulut (Wolff, 2012; Feller, 2012; dan Chi, 2015), hal ini
meliputi:
a. Bintik merah atau putih (eritroplakia dan leukoplakia) pada selaput lendir
rongga mulut.
b. Defek atau ulkus pada selaput lendir rongga mulut.
c. Pembengkakan pada rongga mulut.
d. Gigi goyah, dapat melibatkan lebih dari satu gigi tanpa disertai adanya
e.
f.
g.
h.
i.
j.

kelainan periodontal sebelumnya.


Terasa adanya benda asing yang persistent didalam mulut unilateral.
Nyeri.
Disfagia.
Kesulitan berbicara.
Berkurangnya mobilitas dari lidah, lidah kaku
Kebas pada bibir, lidah, dan gigi.

k.
l.
m.
n.

Perdarahan pada rongga mulut tanpa sebab yang jelas.


Pembengkakan KGB leher.
Fetor ex ore
Perubahan posisi gigi saat oklusi.

2.7 Klasifikasi
Klasifikasi kanker rongga mulut ditentukan melalui stadium yang
didasarkan pada sistem TNM UICC (Union for International Cancer Control)
2002. Tatalaksana dari kanker rongga mulut sangat tergantung dari stadium.
Untuk melukiskan beratnya proses keganasan pada rongga mulut, dapat dipakai
luas ekstensi kanker sebagai ganti dari klasifikasi stadium (Reksoprawiro, 2003;
Kimple, 2014; dan Chi, 2015).

Tabel 2.1 Stadium karsinoma rongga mulut berdasarkan sistem TNM UICC 2002
Stadium

Tis

N0

M0

T1

N0

M0

II

T2

N0

M0

III

T3
T1
T2
T3

N0
N1
N1
N1

M0
M0
M0
M0

IV A

T4
Tiap T

N0,N1
N2

M0
M0

IV B

Tiap T

N3

M0

IV C

Tiap T

Tiap N

M1

TNM KETERANGAN

T0

Tidak ditemukan tumor

TIS

Tumor in situ

T1

2 cm

T2

>2 cm - 4 cm

T3

> 4 cm

T4

Terdapat infiltrasi ke jaringan sekitar tumor primer

N0

Tidak terdapat metastase regional

N1

KGB Ipsilateral singel, 3 cm

N2a

KGB Ipsilateral singel, >3 - 6 cm

N2b

KGB Ipsilateral multipel, < 6 cm

N2c

KGB Bilateral /kontralateral, < 6 cm

N3

KGB > 6 cm

M0

Tidak ditemukan metastasis jauh

M1

Terdapat metastasis jauh

Tabel 2.2 Klasifikasi kanker rongga mulut berdasarkan luas ekstensi


NO

LUAS EKSTENSI

Kanker In Situ

Kanker lokal

Ekstensi lokal

Metastasis jauh

Ekstensi lokal disertai metastasis jauh

2.8 Diagnostik
2.8.1 Pemeriksaan Klinis

10

a.

Anamnesa
Anamnesa dengan cara kuesioner terhadap penderita atau keluarganya
(Reksoprawiro, 2003), meliputi :
1. Keluhan
2. Perjalanan penyakit
3. Faktor etiologi dan risiko
4. Pengobatan apa yang telah diberikan
5. Respon terhadap pengobatan

b.

Pemeriksaan fisik
1. Status general
Ditentukan keadaan umum pasien serta kemungkinan adanya
metastase melalui pemeriksaan umum dari kepala sampai kaki
(Reksoprawiro, 2003).
2. Status lokal
Kelainan dalam rongga mulut diperiksa dengan cara inspeksi palpasi
menggunakan spatel lidah dan penerangan lampu senter atau lampu
kepala. Seluruh rongga mulut dilihat, mulai bibir sampai orofaring
posterior. Palpasi lesi rongga mulut dilakukan dengan memasukkan satu
atau dua jari ke dalam mulut. Apabila ditemukan adanya lesi, untuk
menentukan kedalamannya dilakukan perabaan bimanual dengan cara
memasukkan satu atau dua jari ke dalam rongga mulut dan jari-jari lainnya
meraba lesi dari luar mulut (Reksoprawiro, 2003).
Untuk melakukan inspeksi pada lidah dan orofaring, ujung lidah
pasien dibalut dengan kasa berukuran 2 x 2 cm. Lidah kemudian dipegang
dengan tangan kiri pemeriksa dan ditarik keluar dari rongga mulut,
diarahkan kekanan dan kekiri untuk melihat permukaan dorsal, ventral,
serta lateral lidah. Ditentukan ada tidaknya tumor, lokasi tumor, bentuk
tumor, berapa besarnya dalam cm, berapa luas infiltrasinya, dan
bagaimana operabilitasnya (Reksoprawiro, 2003).
3. Status regional
Inpeksi palpasi secara teliti tidak hanya dilakukan pada regio mulut
saja, tetapi pada regio leher juga. Ditentukan apakah terdapat pembesaran
kelenjar getah bening pada leher ipsilateral atau kontralateral. Apabila
ditemukan adanya pembesaran kelenjar getah bening, tentukan lokasinya,

11

jumlahnya, ukurannya (yang terbesar), dan mobilitasnya (Reksoprawiro,


2003).

2.8.2 Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan toluidine blue
Untuk mempermudah terlihatnya sel kanker pada pemeriksaan, dapat
digunakan larutan toluidine blue yang memberikan warna biru pada sel
kanker. Larutan toluidine blue terdiri dari toluidine chlorida 1 gr, asam
asetat 10 cc, alkohol absolut 4,2 cc, dan aquadest 100 cc. Pembacaan hasil
pemeriksaan dilakukan setelah 24 jam pasca pewarnaan. Pemeriksaan ini
memiliki sensitivitas dan spesifisitas sebesar 90% (Reksoprawiro, 2003).
Menurut Mashberg tehnik pewarnaan rongga mulut dengan
toluidine blue adalah sebagai berikut:
1. Berkumur dengan larutan asam asetat 1%
2. Berkumur dengan air
3. Berkumur dengan larutan toluidine blue 1%
4. Berkumur dengan larutan asam asetat 1%
5. Berkumur dengan air
b. Pemeriksaan radiologis
X-foto polos
1. X-foto mandibula AP, lateral, Eisler, panoramik, oklusal, dikerjakan
pada tumor gingiva, mandibula atau tumor yang melekat pada
mandibula
2. X-foto kepala lateral dan Waters dikerjakan pada tumor gingiva,
maksila atau tumor yang lekat pada maksila
3. X-foto Hap dikerjakan pada tumor palatum durum
4. X-foto thorax, dikerjakan untuk mengetahui adanya metastase paru
Imaging
1. USG hepar, dikerjakan untuk melihat ada tidaknya metastase di hepar
2. CT-scan atau MRI, dikerjakan untuk menilai luas ekstensi tumor
lokoregional
3. Pemeriksaan Positron Emission Tomography (PET)
4. Scan tulang, dikerjakan untuk melihat ada tidaknya metastase ke
tulang
c. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium rutin, seperti darah lengkap, urine
lengkap, SGOT/SGPT, alkali fosfatase, BUN/kreatinin, albumin, globulin,

12

serum elektrolit, dan faal hemostasis digunakan untuk menilai keadaan


umum dan sebagai persiapan operasi pasien (Reksoprawiro, 2003).
d. Pemeriksaan sitologi
Pemeriksaan sitologi merupakan pemeriksaan penunjang untuk
mengetahui abnormalitas suatu jaringan pada tingkat seluler. Pembacaan
hasil dari pemeriksaan sitologi didasarkan pada skala papanicoleau
Pemeriksaan sitologi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu FNAB dan
sitologi eksfoliatifa. Sitologi eksfoliatifa dari spesimen kerokan atau
inprint tumor primer dikerjakan pada lesi yang superfisial (Reksoprawiro,
2003).
e. Pemeriksaan histopatologi
Semua penderita kanker rongga mulut atau diduga kanker rongga
mulut harus diperiksa secara histopatologis dengan teliti. Spesimen
pemeriksaan diambil dari hasil biopsi tumor, bisa melalui biopsi eksisi,
maupun biopsi insisi (Reksoprawiro, 2003).
Biopsi eksisi dikerjakan apabila ukuran tumor masih kecil (<1 cm).
Eksisi yang dikerjakan berupa eksisi luas seperti pada tindakan
pembedahan definitif (1 cm dari tepi tumor). Biopsi insisi atau biopsi
cakot (punch biopsy) dikerjakan apabila ukuran tumor besar (>1 cm) atau
apabila tumor dalam keadaan inoperabel, biopsi ini dilakukan dengan
menggunakan tang aligator (Reksoprawiro, 2003).
Sebagian besar kanker rongga mulut ( 90%) berasal dari selaput
lendir rongga mulut yang merupakan karsinoma epidermoid atau
karsinoma sel skuamosa dengan diferensiasi baik, diferensi sedang,
diferensiasi

jelek

histopatologis

atau

anaplastik.

didapatkan

suatu

Apabilaila
gambaran

pada

pemeriksaan

rabdomiosarkoma,

fibrosarkoma, malignant fibrohistiocytoma atau tumor ganas jaringan


lunak lainnya, perlu diperiksa dengan teliti apakah tumor tersebut
merupakan tumor primer rongga mulut ataukah suatu tumor ganas dari
jaringan lunak pipi, kulit atau tulang yang mengadakan invasi ke rongga
mulut (Reksoprawiro, 2003).
2.9 Penatalaksanaan

13

Menurut Reksoprawiro (2003), penanganan kanker rongga mulut


sebaiknya dilakukan secara multidisipliner dan melibatkan beberapa bidang
spesialis yaitu :
oncologic surgeon
plastic & reconstructive surgeon
radiation oncologist
medical oncologist
dentists
rehabilitation specialists
Hal yang harus diperhatikan dalam penanganan kanker rongga mulut
adalah eradikasi dari tumor, pengembalian fungsi dari rongga mulut, serta aspek
kosmetik/penampilan penderita. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan
dalam penentuan terapi kanker rongga mulut meliputi umur penderita, keadaan
umum penderita, fasilitas yang tersedia, kemampuan dokter, dan pilihan penderita
(Reksoprawiro, 2003).
Untuk lesi yang kecil (T1-T2), tindakan pembedahan saja atau radioterapi
saja dapat memberikan angka kesembuhan yang tinggi, dengan catatan bahwa
radioterapi saja pada lesi T2 memberikan angka kekambuhan yang lebih tinggi
daripada tindakan pembedahan saja. Untuk lesi T3 dan T4, terapi kombinasi
pembedahan dan radioterapi memberikan hasil yang paling baik. Neo-adjuvant
radioterapi

dan

atau

kemoterapi

sebelum

tindakan

pembedahan

dapat

dipertimbangkan dan diberikan pada kanker rongga mulut yang locally advanced
(T3,T4) (Tciptoningsing, 2014).
Untuk karsinoma rongga mulut T3 dan T4, penanganan N0 dapat dilakukan
deseksi leher selektif atau radioterapi regional pasca bedah. Sedangkan untuk N 1-3
yang didapatkan pada setiap ukuran T, deseksi leher radikal harus dilakukan.
Apabila memungkinkan, eksisi luas tumor primer dan deseksi leher tersebut harus
dilakukan secara en-block. Pemberian radioterapi regional pasca bedah
bergantung terhadap hasil pemeriksaan patologis metastase kelenjar getah bening
tersebut (Prelec, 2014; dan Tciptoningsing, 2014).
2.9.1 Terapi Kuratif
Menurut Reksoprawiro, 2003, terapi kuratif untuk kanker rongga mulut
diberikan pada kanker rongga mulut dengan stadium I, II, dan III.
1. Terapi utama

14

Terapi utama untuk kanker rongga mulut stadium I dan II adalah


pembedahan atau radioterapi saja yang mempunyai kelebihan dan kekurangannya
masing-masing. Untuk stadium III dan IV yang masih operabel, terapinya berupa
kombinasi pembedahan dan radioterapi pasca bedah. Namun apabila ditemukan
adanya metastase pada KGB regional untuk berapapun grade T yang terdeteksi,
terapi utama yang diberikan adalah kombinasi pembedahan dengan reseksi leher
radikal yang diikuti dengan radioterapi pasca bedah (Reksoprawiro, 2003; dan
Tciptoningsih, 2014).
Pada terapi kuratif haruslah diperhatikan kebenaran dari prosedur yang
dilakukan, fungsi mulut untuk bicara, makan, minum, menelan, dan bernafas tetap
baik, serta kosmetis yang cukup setelah dilakukan pembedahan. Peran kemoterapi
dalam penanganan kanker rongga mulut tidak terlalu signifikan, kemoterapi hanya
digunakan sebagai neo-adjuvant pre-operatif untuk mempertegas batas dari tumor
atau adjuvan post-operatif untuk tindakan sterilisasi apabila terdapat kemungkinan
adanya mikro metastasis (Reksoprawiro, 2003).
a. Pembedahan
Indikasi operasi:
1) Tumor operabel.
2) Usia penderita relatif muda.
3) Keadaan umum baik.
4) Tidak terdapat ko-morbiditas yang berat.
Hal yang harus diperhatikan pada pembedahan kanker rongga mulut ialah:
1) Eksisi luas dari tumor.
Apabila memungkinkan, harus dilakukan eksisi luas sepanjang 1-2
cm dari tepi luar margin tumor. Batas garis eksisi dengan tepi luar
margin tumor secara histopatologi yang kurang dari 1 mm disebut
sebagai positive resection margin, 1-5 mm disebut sebagai narrow
resection margin, lebih dari 5 mm disebut sebagai safe resection
margin. Apabila dalam melakukan eksisi dicurigai adanya positive
atau narrow resection margin, harus dilakukan terapi tambahan
berupa radioterapi atau kemoterapi pasca pembedahan (Wolff,

2012).
Apabila tumor menginvasi tulang, dilakukan eksisi luas yang
disertai reseksi pada tulang yang terinvasi.

15

2) Diseksi KGB regional (RND atau modifikasinya) harus dilakukan


apabila terdapat metastase pada KGB regional (N1). Diseksi KGB
harus dikerjakan secara enblok dengan tumor primer apabila
memungkinkan (Soepardi, 2007).
3) Rekonstruksi defek yang terjadi akibat tindakan pembedahan.
b. Radioterapi
Radioterapi dapat diberikan secara interstisial atau eksternal.
Tumor yang eksofitik dengan ukuran kecil akan memberikan hasil terapi
yang lebih baik daripada tumor yang endofitik dengan ukuran besar
(Reksoprawiro, 2003).
Indikasi radioterapi:
1) Tumor inoperabel.
2) T1,2 pada bibir dan bukal.
3) Keganasan pangkal lidah.
4) Usia penderita relatif tua.
5) Pasien menolak operasi.
6) Terdapat ko-morbiditas yang berat.
Radioterapi dapat diberikan dengan cara:
1) Teleterapi : Ortovoltase, Cobalt60, atau Linec dengan dosis total sebesar
5000-7000 rads (50-70 Gy).
2) Brakiterapi: implantasi intratumoral jarum Irridium192 atau Radium

226

dengan dosis 2000-3000 rads (20-30 Gy).


Dosis total radioterapi sebesar 50 70 Gy diberikan dalam dosis
yang terfraksi. Setiap fraksi terdiri dari dosis harian sebesar 1,8 - 2,0 Gy
yang diberikan setiap hari selama lima kali dalam seminggu dalam jangka
waktu 5 - 7 minggu (conventional dose), >10 Gy dalam seminggu
(accelerated dose), atau 1,1 1,2 Gy dua kali sehari (hyperfractionated
dose) (Wolff, 2012).
2. Terapi tambahan
Terapi tambahan berupa radioterapi, pembedahan, atau kemoterapi
diberikan pada kasus tertentu keganasan rongga mulut. Radioterapi tambahan
diberikan pasca eksisi tumor dengan ukuran T3 dan T4, pada eksisi yang
radikalitasnya diragukan, atau terjadi kontaminasi lapangan operasi oleh sel

16

kanker. Radioterapi pra-bedah diberikan pada kasus yang operabilitasnya


diragukan atau pada kasus yang inoperabel (Reksoprawiro, 2003).
Pembedahan tambahan dikerjakan pada kasus keganasan rongga mulut
yang terapi utamanya berupa radioterapi, dimana setelah dilakukan radioterapi
tumor menjadi operabel atau pada tumor residif yang muncul setelah radioterapi
(Reksoprawiro, 2003).
Kemoterapi diberikan pada kasus keganasan rongga mulut yang curiga
kontaminasi sel kanker pada tempat lain ketika dilakukan pembedahan, kanker
stadium III atau IV atau pada tumor residif yang muncul setelah dilakukan
pembedahan dan atau radioterapi (Reksoprawiro, 2003).

2.9.2 Terapi Paliatif


Menurut Reksoprawiro (2003), erapi paliatif adalah terapi yang bertujuan
untuk memperbaiki kualitas hidup dan mengurangi keluhan penderita terutama
untuk penderita yang sudah tidak dapat disembuhkan lagi. Terapi paliatif
diberikan pada penderita kanker rongga mulut yang:
1. Kanker dengan stadium IV yang telah menunjukkan metastase jauh.
2. Terdapat ko-morbiditas yang berat dengan harapan hidup yang pendek.
3. Terapi kuratif gagal.
4. Usia sangat lanjut.
Keluhan yang perlu dipaliasi antara lain:
1. Loko regional
a) Ulkus di mulut/leher
b) Nyeri
c) Sukar makan, minum, menelan
d) Mulut berbau
e) Anoreksia
f) Fistula oro-kutan
2. Sistemik:
a) Nyeri
b) Sesak nafas
c) Sukar bicara
d) Batuk-batuk
e) Badan mengurus
f) Badan lemah
1. Terapi utama
1. Tanpa metastases jauh:

17

Radioterapi dengan dosis 5000-7000 rads (50 70 Gy).


Kalau perlu dikombinasikan dengan pembedahan

2. Terdapat metastase jauh:


Kemoterapi
Kemoterapi yang dapat dipakai antara lain:
1) Karsinoma epidermoid
Obat-obat yang dapat dipakai adalah Cisplatin, Methotrexate,
Bleomycin, Cyclophosphamide, Adryamycin, dengan angka remisi
sebesar 20-40%.
2) Adeno karsinoma
Obat-obatan yang dapat dipakai diantaranya adalah Flourouracil,
Mithomycin-C, Ciplatin, Adyamycin, dengan angka remisi sebesar
20-30%.
2. Terapi tambahan
Dilakukan tindakan pembedahan, radioterapi, atau kemoterapi lanjutan
apabila diperlukan.
Adapun anjuran terapi untuk kanker rongga mulut berdasarkan
Reksoprawiro (2003) adalah sebagai berikut:
Tabel 2.2 Pilihan terapi pada kanker rongga mulut berdasarkan klasifikasi TNM
Stad

T.N.M.

Operasi

Radioterapi

Khemoterapi

T1.N0.M0

Eksisi
radikal

atau

Kuratif,
50-70 Gy

Tidak
dianjurkan

II

T2.N0.M0

Eksisi
radikal

atau

Kuratif,
50-70 Gy

Tidak
dianjurkan

III

T3.N0.M0
T1-3.N1.M0

Eksisi
radikal

dan

Post operatif,
30-40 Gy

dan

Khemoterapi

IVA

T4N0-1.M0
Tiap T.
N2.M0

Eksisi
radikal

dan

Post operatif,
30-40 Gy

dan

Khemoterapi

18

IVB

Tiap T.
N3.M0
operabel

Eksisi
radikal

- inoperabel

Paliatif,
50-70 Gy

Stad

T.N.M.

Operasi

Radioterapi

Khemoterapi

IVC

TiapT.
tiapN. M1

Paliatif

Paliatif

Paliatif

Residif lokal

Pembedah atau
an untuk
residif
post RT

RT untuk
residif post
op

Metastase

Tidak
dianjurkan

Tidak
dianjurkan

dan

Post operatif,
30-40 Gy

dan

dan

Khemoterapi

Khemoterapi

Khemoterapi

a. Karsinoma bibir
T1 : eksisi luas atau radioterapi
T2 : eksisi luas, namun apabila lesi mengenai komisura oris, radioterapi
akan memberikan kesembuhan dengan fungsi dan kosmetik yang
lebih baik
T3,4 : eksisi luas, deseksi suprahioid, dan radioterapi pasca bedah
b. Karsinoma bukal
T1,2 : eksisi luas, namun apabila mengenai komisura oris, radioterapi
memberikan kesembuhan dengan fungsi dan kosmetik yang lebih
baik
T3,4 : eksisi luas, deseksi supraomohioid, dan radioterapipasca bedah
c. Karsinoma lidah
T1,2 : eksisi luas atau radioterapi
T3,4 : eksisi luas, deseksi supraomohioid, dan radioterapi pasca bedah
d. Karsinoma palatum
T1 : eksisi luas sampai dengan periost
T2 : eksisi luas sampai dengan tulang dibawahnya
T3 : eksisi luas sampai dengan tulang dibawahnya, diseksi
supraomohioid, dan radioterapi pasca bedah

19

T4 :

maksilektomi infrastruktural parsial/total tergantung luas lesi,

diseksi supraomohiod, dan radioterapi pasca bedah


e. Karsinoma ginggiva
T1,2 : eksisi luas dengan mandibulektomi marginal
T3 : eksisi luas dengan mandibulektomi marginal,
T4 :

supraomohioid, dan radioterapi pasca bedah


eksisi luas dengan mandibulektomi

segmental,

diseksi
diseksi

supraomohioid, dan radioterapi pasca bedah


f. Karsinoma dasar mulut
T1 : eksisi luas atau radioterapi
T2 : eksisi luas apabila tidak melekat pada periosteum, eksisi luas
dengan mandibulektomi marginal apabila melekat pada periosteum
T3,4 : eksisi luas dengan mandibulektomi marginal, diseksi
supraomohioid, dan radioterapi pasca bedah
g. Karsinoma trigonum retromolar
T1,2 : eksisi luas dengan mandibulektomi marginal
T3 : eksisi luas dengan mandibulektomi

marginal,

diseksi

supraomohioid, dan radioterapi pasca bedah


eksisi luas dengan mandibulektomi

segmental,

diseksi

T4 :

supraomohioid, dan radioterapi pasca bedah

2.10 Prognosis
Faktor prognostik paling signifikan untuk outcome terapi pada keganasan
rongga mulut adalah keterlibatan KGB servikal. Pada pasien dengan KGB
servikal positif, angka harapan hidup 5 tahun berkurang menjadi 50%
dibandingkan dengan tidak adanya keterlibatan KGB servikal. Prognosis jauh
lebih buruk pada pasien dengan keterlibatan KGB multipel atau adanya ECE
(extracapsular extension). Lokasi metastasis jauh tersering adalah paru (66%),
tulang (22%), dan hati (9,5%) (Tciptoningsing, 2014).

20

BAB 3. KESIMPULAN
Kanker rongga mulut meliputi semua malignansi yang muncul dari
perbatasan kulit-mukosal bibir atas dan bawah sampai ke perbatasan palatum
durum-palatum molle di bagian atas dan garis sirkumvalatae di bagian bawah.
Organ tubuh yang dimaksud meliputi bibir atas dan bawah, selaput lendir mulut,
bagian atas trigonum retromolar, lidah bagian 2/3 depan, dasar mulut, serta
palatum durum.
Squamous cell carcinoma merupakan bentuk yang paling umum dari
kanker rongga mulut. Adapun faktor resiko terjadinya kanker rongga mulut dibagi
menjadi 2 kelompok, yaitu; yang terdefinisikan dengan jelas sebagai penyebab
(merokok, konsumsi alkohol, dan adanya lesi potensial malignan) dan faktor yang
mungkin memiliki kontribusi terjadinya kanker rongga mulut (infeksi virus,
defisiensi unsur makanan).
Untuk penatalaksanaan dari kanker rongga mulut bergantung terhadap
stadium TNM. Terapi utama untuk kanker rongga mulut stadium I dan II adalah
pembedahan atau radioterapi saja yang mempunyai kelebihan dan kekurangannya
masing-masing. Untuk stadium III dan IV yang masih operabel, terapinya berupa
kombinasi pembedahan dan radioterapi pasca bedah. Namun apabila ditemukan
adanya metastase pada KGB regional untuk berapapun grade T yang terdeteksi,

21

terapi utama yang diberikan adalah kombinasi pembedahan dengan reseksi leher
radikal yang diikuti dengan radioterapi pasca bedah.
Faktor prognostik paling signifikan untuk outcome terapi pada keganasan
rongga mulut adalah keterlibatan KGB servikal. Pada pasien dengan KGB
servikal positif, angka harapan hidup 5 tahun berkurang menjadi 50%
dibandingkan dengan tidak adanya keterlibatan KGB servikal. Prognosis jauh
lebih buruk pada pasien dengan keterlibatan KGB multipel atau adanya ECE
(extracapsular extension). Lokasi metastasis jauh tersering adalah paru (66%),
tulang (22%), dan hati (9,5%).

DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society. What are the risk factors for oral cavity and
oropharyngeal cancers?. 2014 [22 April 2016]; Available from:
http://www.cancer.org/cancer/oralcavityandoropharyngealcancer/detailedg
uide/oral-cavity-and-oropharyngeal-cancer-risk-factors.
Cancer Research. Lets Beat Cancer Sooner. UK: Cancer Research. 2014 [22 April
2016];
Available
from:
http://www.cancerresearchuk.org/aboutcancer/type/mouth-cancer/treatment/types/treatment-by-stage-for-mouthcancer#cis.
Chi, A. C., Day, T. A., dan Neville, B. W. 2015. Oral Cavity and Oropharyngeal
Squamous Cell CarcinomaAn Update. CA: A Cancer Journal for
Clinicians, 65(5):401421.
Feller, L & Lemmer, J. 2012. Oral Squamous Cell Carcinoma: Epidemiology,
Clinical Presentation and Treatment. Journal of Cancer Therapy, 3(1):263268.
Kimple, Welch, Zevallos, dan Patel. 2014. Oral Cavity Squamous Cell Carcinoma
An Overview. OHDM, 13(3):877-882.
Laronde, Hislop, Elwood, dan Rosin. 2008. Oral Cancer: Just the Fact. JCDA,
74(3): 269-272.
Mehrotra, R. & Yadav, S. 2006. Oral squamous cell carcinoma: Etiology,
pathogenesis and prognostic value of genomic alterations. Indian Journal
of Cancer, 43(2): 60-66.

22

Reksoprawiro. 2003. Protokol Penatalaksanaan Kasus Bedah Onkologi 2003. Sub


Bagian/SMF Bedah Onkologi, Kepala & Leher Bagian/SMF Ilmu Bedah
FK UNPAD/Perjan RSHS.
Prelec, J. & Laronde, D. M. 2014. Treatment modalities of oral cancer. Canadian
Journal of Dental Hygiene (Can J Dent Hyg), 48(1):13-19.
Soepardi, Iskandar, Bashiruddin, dan Restuti. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi Keenam. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Halaman 163-173, 191-193.
Scully, C. Cancers of the Oral Mucosa. Medscape. 2016 [24 April 2016]; Availabe
from http://emedicine.medscape.com/article/1075729-overview#a5.
Taufiqurrahman. 2014. Metastasis Leher Tersembunyi pada Karsinoma Lidah T1T2. Jurnal Kesehatan Andalas, 3(3):549-562.
Tjiptoningsih, U. M. 2014. Tata Laksana Radiasi pada Kanker Palatum Durum.
CDK-213, 41(2):113-117.
Wolff, K. D., Follmann, M., dan Nast, A. 2012. The Diagnosis and Treatment
of Oral Cavity Cancer. Deutsches rzteblatt International (Dtsch Arztebl
Int), 109(48): 829-835.