Anda di halaman 1dari 17

Makalah Dasar Budidaya Tanaman

Panen dan Pasca Panen

Oleh :
Nama

: Irwandi Panggabean

Nim

: 1550402011111192

Kelas

:M

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakangan
Yang menjadi pokok dari suatu budidaya pertanian adalah hasil
produksi(panen) yang sesuai dengan yang diharapkan. Hasil produksi budidaya
pertanian dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan
papan. Seiring dengan pertumbuhan populasi manusia yang tinggi maka secara
otomatis kebutuhan akan pangan juga semakin tinggi. Untuk itu dibutuhkan hasil
produksi pertanian yang terus meningkat.
Hasil panen yang didapatkan harus dijamin mutu dan kualitas hingga
sampai ketangan konsumen maka dari itu harus diperlukan penanganan pasca
panen yang baik untuk menjamin mutu dan kualitas suatu produk pertanian.
Penanganan pasca panen mencakup pengeringan, pendinginan, pembersihan,
pensortiran, penyimpanan, dan pengemasan. Diperlukannya tahap-tahap tersebut
untuk memilih buah atau hasil panen yang sesuai dengan standar pasar atau layak
jual.
1.2 Rumusan Masalah
Yang menjadi rumusan masalah pada makalah ini adalah
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)

Bagaimana menentukan waktu panen yang tepat?


Bagaimana cara mempercepat panen?
Bagaimana cara penen yang efisien?
Bagaimana prakiraan hasil panen?
Bagaimana terjadinya kehilangan hasil panen?
Apa yan dimaksud dengan pembuangan sisa-sisa tanaman?
Apa saja faktor-faktor prapanen yang mempengaruhi mutu dan fisiologi
pasca panen?
Apa yang dimaksud dengan pasca panen ?
Apa keuntungan dari penanganan pasca panen?
Apa saja faktor penanganan pasca panen?
Apa saja tahapan penanganan pasca panen?

1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui saat panen yang tepat
b. Untuk mengetahui cara percepatan panen
c. Untuk mengetahui cara panen
d. Untuk mengetahui hasil prakiraan panen
e. Untuk mengetahui terjadinya kehilangan hasil panen
f. Untuk mengetahui pengertian pembuangan sisa-sisa tanaman.
g. Untuk mengetahui faktor-faktor prapanen yang mempengaruhi mutu dan
fisiologi pascapanen

h. Untuk mengetahui cara penanganan pasca panen yang baik


i. Supaya dapat mengerti penanganan pasca panen yang efisien
j. Supaya dapat mengetahui keuntungan dari penanganan pasca panen yang
baik

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Menentukan Waktu Panen yang Tepat


Menentukan saat panen adalah menetapkan saat panen yang tepat sehingga
tidak terjadi atau paling tidak mengurangi kendala yang mungkin nanti dihadapi
pada saat panen atau pasca panen. Kegiatan ini perlu dilakukanan dengan
pertimbangan-pertimbangan yang berkaitan dengan iklim, kematangan hasil dan
faktor-faktor lain seperti ketersediaan peralatan, perlengkapan, tenaga kerja dan
pengangkutan hasil produksi. Kegiatan ini penting dilakukan bagi petani, baik
untuk tanaman semusim (tanaman pangan dan hortikultura) maupun tanaman
tahunan (tanaman buah-buahan dan tanaman industri).
Jika petani tidak menentukan saat panen dari usaha pertaniannya maka
kemungkinan petani akan menghasilkan produksi yang tidak maksimal, baik
kualitas maupun kuantitasnya. Akibatnya keuntungan petanipun akan menjadi
tidak maksimal. Kegiatan penentuan saat panen ini umumnya petani tidak
melakukan, namun sesungguhnya dengan tanpa disadari bahwa beberapa petani
telah melakukan kegiatan ini.
Suatu tanaman dikatakan siap panen ketika memiliki ciri-ciri yang
dianggap sebagai hasil yang sesuai dengan standar yang berlaku disuatu negara
atau dengan kata lain bahwa suatu tanaman dikatakan layak panen telah
memenuhi suatu syarat yang disepakati oleh para ahli.
Sebagaimana diuraikan diatas bahwa ada beberapa kriteria yang sebaiknya
diikuti untuk menentukan saat panen. Hal ini tergantung dari apakan hasil
produksi akan langsung dijual atau akan dijadikan benih. Namun secara umum
kriteria yang biasa digunakan bagi para petani adalah sebagai berikut
1. Indikator visual
Paling banyak dipergunakan, baik pada komoditas buah mauapun sayuran
Dasarnya adalah perubahan warna, ukuran, dan lain-lain.
Kelemahan indikator ini adalah sangat subyektif, keterbatasan dari indra
penglihatan manusia dan sering salah sehingga pemanenan terkadang
dilakukan terlalu muda/awal atau terlalu tua/sedah lewat panen
2. Indikator fisik
Sering digunakan, khususnya pada beberapa komoditas buah
Indikatornya yang digunakan ialah muda tidaknya buah dilepaskan dari
tangkai buah dan dengan uji ketegaran buah(penetrometer). Uji ketegaran
buah lebih obyektif, karena dapat dikuantitatifkan . pinsip uji ini adalah buah
ditusuk dengan suatu alat, besarnya tekanan yang diperlukan untuk menusuk
buah menunjukkan ketegaran buah.
Semakin besar tekanan yang diperlukan, buah semakin tegar dan proses
pengisian buah sudah maksimal/masak fisiologis dan siap penen.

3.

Indikator Kimiawi
Sebagian produksi diambil sebagai sampel untuk dilakukan analisis kimia di
laboratorium. Dari hasil analisis tersebut akan dapat menentukan sifat

kimiawi dari hasil produksi yang sedang diuji dan barulah dapat ditentukan
apakah tanaman sudah bisa dipanen atau menunggu beberapa hari lagi sesuai
dengan persyaratan kualitas produksi yang dikehendaki.
4. Indikator fisiologis
Indikator utama : laju respirasi
Sangat baik diterapkan pada komditas yang bersifat klimakterik
Saat komoditas nmencapai masak fisiologis, respirasinya mancapai
klimakterik(paling tinggi), sehingga mencapai laju respirasi suatu komoditas
sudah mencapai klimakterik dan siap dipanen.
5. Komputasi
Yang dihitung adalah jumlah dari suhu rata-rata harian selama satu siklus
hidup tanaman(derajad hari) mulai dari penanaman sampai masak
fisiologis.
Dasar yang digunakan adalah adanya korelasi positif antara suhu
lingkungan dengan pertumbuhan tanaman.
Dapat diterapkan baik pada komoditas buah maupun sayur.
6. Berdasarkan umur tanaman
Pada umumnya adalah tanaman semusim atau tanaman yang hanya satu
kali periode produksi langsung mati. Kelemahan penentuan saat panen
berdasarkan umur adalah bahwa umur tanaman (mulai sebar benih sampai
panen) sangat dipengaruhi oleh lingkungan sehingga sangat bervariasi. Pada
umur tertentu ternyata tanaman belum siap panen, padahal seharusnya sudah
harus dipanen. Misalkan jagung manis dapat dipanen setelah umur 70 hari
sejak tanam, semangka 64 80 hari sejak tanam, dan lain-lain.
2.2. Cara mempercepat panen
Pada beberapa tanaman penghasil minyak biji seperti: bunga matahari di daerah
sedang, biji masak sebelum daun-daun tanaman mengalami penuaan atau mati
semuanya dan hal ini menyulitkan panen secara mekanis. Untuk memudahkan
panen, proses penuaan dapat dipercepat dengan perlakuan tertentu.
Alternative lain adalah dengan menggunakan bahan kimia untuk
mempercepat proses penuaan tanaman yang berarti pula mempercepat kemasakan
biji.Sebagai contoh, penggunaan Diquat yang telah banyak dikenal sejak
pertengahan tahun 1960. Kelebihan bahan ini selain pengaruhnya cepat terlihat,
juga sedikit efek negatifnya terhadap tanah dan hasil panen dari residu bahan
tersebut. Cara lainnya adalah dengan membuat bakteri pemacu pertumbuhan
(PGPR).
PGPR (Plant growth-promoting rhizobacteria) adalah bakteri pemacu
pertumbuhan tanaman.
Bakteri yang terdapat dalam PGPR adalah sejenis bakteri yang biasa hidup di akar
tanaman. Mikroorganisme ini hidup berkoloni di sekitar akar tanaman dan
membantu memacu pertumbuhan tanaman.

PGPR ini pertama kali diteliti oleh Kloepper dan Schroth tahun 1978. Mereka
menemukan bahwa keberadaan bakteri yang hidup di sekitar akar ini mampu
memacu pertumbuhan tanaman jika diaplikasikan pada bibit/benih. Tidak hanya
itu, tanaman nantinya akan beradaptasi terhadap hama dan penyakit.
Bagaimana bakteri PGPR dapat menyebabkan terpacunya pertumbuhan?
Bakteri PGPR mampu mengikat nitrogen bebas dari alam atau istilahnya
fikasi nitrogen bebas. Nitrogen bebas diubah menjadi amonia kemudian
disalurkan ke tanaman. Bakteri akar ini juga mampu menyediakan beragam
mineral yang dibutuhkan tanaman seperti besi, fosfor, atau belerang. PGPR juga
memacu peningkatan hormon tanaman. Peningkatan hormon tanaman inilah yang
secara langsung mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
2.3. Cara Penen yang baik
Cara panen berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman. Tanaman biji-bijian
memerlukan cara panen yang baik agar kehilangan biji di lapang tidak terlalu
besar. Pada tanaman ubi-ubian, cara panen sudah barang tentu berbeda. Untuk
mempermudah proses pemanenan, tanaman ubi-ubian ditanam dengan sistem
guludan. Cara panen untuk tanaman sayuran lebih banyak menggunakan tenaga
manusia, selain untuk menjaga mutu hasil panen juga karena nilai jual hasil panen
yang relatif tinggi srehingga penggunaan tenaga manusia masih tetap dapat
dipertahankan karena secara ekonomis masih layak.
Hal utama yang perlu diperhatikan pada pemanenan untuk mendapatkan hasil
panen yang baik ada 2 yaitu :
a. Menentukan waktu panen yang tepat, yaitu menentukan kematangan yang
tepat dan saat panen yang sesuai, dapat dilakuakan berbagai cara, yaitu :
Cara visual/penampakan : misal dengan melihat warna kulit, bentuk buah,
ukuran, perubahan bagian tanaman seperti daun mengering dll.
Cara Fisik : misal dengan perabaan, buah lunak, umbi keras, buah mudah
dipetik, dll.
Cara Komputasi : misal menghitung umur tanaman sejak tanam atau umur buah
dari mulai bunga mekar.
Cara Kimia : misal melakukan pengukuran/analisi kandungan zat atau senyawa
yang ada dalam komoditas, seperti : kadar gula, kadar tepung, kadar asam,
aroma, dll.

b. Melakukan penanganan panen yang baik, yaitu menekan kerusakan yang dapat
terjadi. Dalam suatu usaha pertanian (bisnis) cara-cara panen yang dipilih
perlu diperhitungkan, disesuaikan dengan kecepatan atau waktu yang
diperlukan (sesingkat mungkin) dan dengan biaya yang rendah.

Penanganan Panen yang Baik Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada
penanganan panen:
1. Lakukan persiapan panen dengan baik. Sipakan alat-alat yang dibutuhkan,
tempat penampungan hasil dan wadah-wadah panen, serta pemanen yang
terampil dan tidak ceroboh.
2. Pada pemanenan, hindari kerusakan mekanis dengan melakukan panen secara
hati-hati. Panen sebaiknya dilakukan dengan tangan atau menggunakan alat
bantu yang sesuai. Misalnya tomat dan cabai dipetik dengan tangan, bawang
merah dicabut dan pada kentang tanah disekitar tanaman dibongkar dengan
menggunakan cangkul dan umbi dikeluarkan dari dalam tanah. Hindari,
kerusakan atau luka pada umbi saat pembongkaran.
3. Memperhaitkan bagian tanaman yang dipanen. Misal tomat dipanen tanpa
tangkai untuk menghindari luka yang ada diatasnya. Cabai petik dengan
tangkainya, bawang merah dicabut dengan menyertakan daunnya yang
mengering, kentang dipanen umbinya, dilepaskan dari tangkai yang masih
menempel, jagung sayur dipanen berikut kelobotnya.
4. Gunakan tempaat atau wadah panen yang sesuai dan bersih, tidak meletakkan
hasil panen diatas tanah atau dilantai dan diusahakan tidak menumpuk hasil
panen tidak terlalu tinggi.
5. Hindari tindakan kasar pada pewadahan dan usahakan tidak terlalu banak
melakukan pemindahan wadah.
6. Sedapat munkin pada waktu panen pisahka buah atau umbi yang baik dari buah
atau umbi yang luka, memar, atau yang kena penyakit atau hama, supaya
kerusakan tersebut tidak menulari buah atau umbi yang sehat.
2.4. Prakiraan Hasil Panen
Petani yang baik selalu mencatat semua hal yang terkait dengan usaha
taninya, terutama dalam kaitannya dengan semua kebutuhan input produksi dan
prakiraan hasil panen yang akan didapat.
Terlebih lagi pada sistem pertanian yang intensif dewasa ini, setiap
penambahan input produksi harus dipertimbangkan peranannya dalam
peningkatan hasil panen. Oleh karena itu prakiraan hasil panen perlu dibuat.
Selain itu prakiraan hasil panen diperlukan untuk menentukan kapasitas alat
pengering, kapasitas penyimpanan dan kebutuhan pasar. Prakiraan hasil secara
akurat memang sulit dilakukan di lapang, namun estimasi dapat dilakukan dengan
metode percontohan (sampling).

2.5. Kehilangan Hasil Panen


Kehilangan hasil di lapang dapat terjadi sebelum panen, sebagai akibat
dari serangan hama dan penyakit, cuaca yang tidak menguntungkan, atau karena
saat panen yang terlambat.

Sebagai contoh, karena keterlambatan panen kehilangan hasil banyak terjadi


sebagai akibat terbawa angin atau jatuh ke tanah karena polong sudah pecah
sebelumdipanen.
Besarnya kehilangan hasil pada saat panen bervariasi tergantung pada jenis
tanaman, kondisi lahan dan cara panen. Apalagi pada sistem produksi pertanian
yang maju sekarang ini, dimana dengan biaya produksi yang tinggi kehilangan
hasil panen sekecil apapun sebaiknya dihindari. Kehilangan hasil juga bisa terjadi
pada waktu pengangkutan hasil dari lapang ke tempat penjemuran atau
penyimpanan.
2.6. Pembuangan sisa-sisa Tanaman
Pembuangan sisa-sisa tanaman merupakan tahap akhir dari serangkaian
proses produksi di lapang. Namun sering petani mengabaikan pekerjaan ini,
sehingga tidak jarang mendatangkan masalah bagi penanaman berikutnya atau
masalah bagi kesuburan tanah dalam jangka panjang. Dalam banyak kasus, sisasisa tanaman yang tertinggal di lapang karena tidak mempunyai nilai ekonomi
tinggi untuk diangkut sebagai hasil panen, dapat menjadi sarang hama.
Alternatif lain bila sisa panen tidak diangkut dari lapang ialah dibakar. Dengan
cara ini lebih praktis dan sekaligus dapat memberantas gulma sehingga
mempermudah penanaman berikutnya, namun kerugian besar sebenarnya telah
diaalami yaitu hilangnya sumber bahan organik tanah.
2.7. Faktor-Faktor Prapanen Yang Mempengaruhi Mutu dan Fisiologi Pasca
Panen
Lamanya penyinaran, respirasi, evaporasi, komposisi kimia, penampakan
luar, struktur anatomi, pembusukan, mutu rasa, perilaku dan sifat-sifat pascapanen
lainnya. Sebagian mencerminkan cara pembudidayaan dan keadaan lingkungan
sebelumnya yang berpengaruh terhadap hasil. Disamping varietas dan kemasan,
kondisi prapanen ini dapat digolongkan dalam faktor-faktor lingkungan dan
budidaya.
Faktor lingkungan mencakup suhu, kelembaban, cahaya, tekstur tanah,
angin, ketinggian tempat dan curah hujan. Yang termasuk faktor budidaya adalah
nutrisi mineral, pengolahan tanah, pemangkasan, penjarangan, penyemprotan
dengan bahan-bahan kimia, benih atau bibit, jarak tanam, dan drainase. Faktorfaktor ini mempengaruhi perolehan mutu tinggi pada saat panen. Tetapi tidaklah
mungkin untuk menentukan andil masing-masing faktor itu terhadap kualitas.
Selain itu, satu sifat, misalnya ukuran, mungkin dipengaruhi oleh beberapa
persyaratan pertumbuhan, namun telah diketahui bahwa satu faktor dapat bersifat
dominan dan menimbulkan pengaruh yang besar terhadap faktor-faktor lainnya.
Oleh karena faktor-faktor tersebut di atas beragam, maka Wilkinson
(1970) menyatakan, bahwa cuplikan dalam percobaan-percobaan penyimpanan
harus luas dan dilakukan pada beberapa musim.

Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor prapenen yang mempengaruhi Mutu


dan Fisiologi Pasca Panen, yaitu :
1. Suhu
Untuk kebanyakan buah-buahan dan sayur-sayuran, makin tinggi suhu selama
masa pertumbuhan, makin dini pula waktu panennya. Bagi buah-buahan
diperlukan hari-hari panas dan malam-malam dingin selama pertumbuhan untuk
perkembangan warna yang penuh pada saat masak.
Metabolisme dan komposisi buah dipengaruhi oeh suhu. Tomat yang ditanam
pada suhu malam 670C mempunyai laju respirasi lebih tinggi daripada yang
ditanam pada suhu 570C atau 620C. Jadi makin tinggi suhu pad musim panas,
makin rendah kandungan TZT buah tomat (Total Zat terlarut).
2. Cahaya
Lama penyinaran, intensitas dan mutu cahaya mempengaruhi mutu buah pada
waktu pemanenan. Pad tomat buah-buahan yang terlindung oleh dedaunan pada
masa pemasakan menghasilkan warna merah yang lebih intensif dari pada buah
yang terkena sinar matahari langsung di lapangan. Buah-buahan yang terkena
sinar matahari langsung mempunyai bobot lebih kecil, asam-asam serta cairan
buah lebih sedikit daripada buah yang keteduhan.
Variasi jarak tanam mempengaruhi mutu buah dan sayuran yang berupa buah,
antara lain makin rapat penanaman makin kurang rasa manis buahnya. Begitu pula
pada sayuran yang berupa daun, daunnya lebih lebar dan lebih tipis. Perbedaan
panjang hari dan mutu sinar mempengaruhi fisiologi hasi, misalnya bawang
merah beriklim hari pendek tidak akan menghasilkan umbi yang besar bila
ditanam pada daerah beriklim hari panjang. Demikian pula dengan pembentukan
zat warna biru pada bunga (antosianin) seperti pada kubis atau terong ungu, yang
dikendalikan oleh cahaya gelombang pendek di daerah biru dan lembayung.
Gangguan-gangguan fungsional mungkin juga dipengaruhi oleh cahaya.
Pada percobaan penaungan pada jeruk besar, Pantastico(1968) menunjukan
adanya penurunan kerusakan oleh pendinginan yang dilakukan kemudian. Namun
gangguan ini terutama merupakan gejala yang dikendalikan oleh suhu.
3. Perawatan
Pemberian air pada tanaman harus mencukupi untuk menjamin hasil yang
berkualitas tinggi. Kekurangan kelembababan dalam tanah selama beberapa hari
saja dapat berakibat buruk bagi tanaman. Sebaliknya, curah hujan berlebihanpun
dapat menimbulkan kerugian-kerugian.
Air tanah mungkin ada hubungannya dengan tekstur tanah, Chandler (1965)
menyatakan buah-buah pada pohon yang tumbuh pada tanah berpasir atau
berkerikil menjadi masak lebih awal daripada yang tumbuh di tanah berlempung.
Pada tanah dengan pengaturan yang buruk, ruang-ruangnya terisi oleh air
sehingga aerasinya berkurang.
Angin dapat merusak daun sayuran atau menimbulkan luka gerakan pada buah.

Kecepatan angin yang sedang dapat menimbulkan cacat bekas luka pada jeruk,
kalau buah-buahnya bergesekan dengan ranting atau duri-duri (Smooth dkk,
1971).
2.8. Definisi dari pasca panen
Penanganan pasca panen adalah tindakan yang disiapkan atau dilakukan pada
tahapan pascapanen agar hasil pertanian siap dan aman digunakan oleh konsumen
dan atau diolah lebih lanjut oleh industri.
Definisi pasca panen menurut pasal 31 UU No.12/1992, adalah suatu kegiatan
yang meliputi pembersihan, pengupasan, sortasi, pengawetan, pengemasan,
penyimpanan, standarisasi mutu, dan transportasi hasil budidaya pertanian.
Penanganan pasca panen (postharvest) sering disebut juga sebagai pengolahan
primer (primary processing) merupakan istilah yang digunakan untuk semua
perlakuan dari mulai panen sampai komoditas dapat dikonsumsi segar atau
untuk persiapan pengolahan berikutnya. Umumnya perlakuan tersebut tidak
mengubah bentuk penampilan atau penampakan, kedalamnya termasuk berbagai
aspek dari pemasaran dan distribusi.
Pengolahan (secondary processing) merupakan tindakan yang mengubah hasil
tanaman ke kondisi lain atau bentuk lain dengan tujuan dapat tahan lebih lama
(pengawetan), mencegah perubahan yang tidak dikehendaki atau untuk penggunaan lain.
Ke dalamnya termasuk pengolahan pangan dan pengolahan industri.
Penanganan pasca panen bertujuan agar hasil tanaman tersebut dalam kondisi baik
dan sesuai/tepat untuk dapat segera dikonsumsi atau untuk bahan baku pengolahan.

2.9. Keuntungan penangan pasca panen yang baik


Penanganan pasca panen yang baik atau efisien memiliki keuntungan yang
lebih. Dibanding dengan melakukan usa ha peningkatan produksi , melakukan
penanganan pasca panen yang baik mempunyai beberapa keuntungan antara lain:
Jumlah pangan yang dapat dikonsumsi lebih banyak.
Lebih murah melakukan penanganan pasca panen (misal dengan penangan
yang hati-hati, pengemasan) dibanding peningkatan produksi yang membu
tuhkan input tambahan (misal pestisida, pupuk, dll).
Risiko kegagalan lebih kecil. Input yang diberikan pada peningkatan produksi
bila gagal bisa berarti gagal panen. Pada penanganan pasca panen, bila gagal
umumnya tidak menambah kehilangan.
Menghemat energi. Energi yang digunak an untuk memproduksi hasil yan g
kemudian hilang dapat dihemat.
Waktu yang diperlukan lebih singkat (pengaruh perlakuan untuk peningkatan
produksi baru terlihat 1 3 bulan kemudian, yaitu saat panen; pengaruh
penanganan pasca panen dapat terlihat 1 7 hari setelah perlakuan).
Meningkatkan nutrisi. Melakukan penanganan pasca panen yang baik dapat
mencegah kehilangan nutrisi, berarti perbaikan nutrisi bagi masyarakat.
Mengurangi sampah, terutama di kota kota dan ikut mengatasi masalah
pencemaran lingkungan.

2.10. Faktor-faktor penanganan pasca panen


Untuk menerapkan penanganan pasca panen hasil pertanian secara baik dan
benar, maka perlu diketahui faktor - faktor yang mempengaruhinya.
Faktor - faktor yang mempengaruhinya adalah :
a. Faktor Biologi
1. Respirasi
Respirasi merupakan suatu proses pemecahan unsur organik (karbohidrat,
protein dan lemak) menjadi energi. Pemecahan substrat dasar ini menggunakan
oksigen dan menghasilkan karbondioksida.
2. Produksi Etilen
Etilen merupakan hormon tanaman berbentuk gas yang mempengaruhi
proses fisiologis tanaman, dihasilkan secara alami dari metabolisme tanaman,
serta oleh jaringan dalam tanaman dan mikroorganisme.
Untuk mencegah pematangan yang begitu cepat maka hindari
penyimpanan dengan produk yang mempunyai produksi etilen tinggi.
3. Perubahan Komposisi Kimia
Perubahan komposisi kimia terjadi pada saat perkembangan dan masa
kematangan, dimana perubahan komposisi ini masih terus berlangsung setelah
panen. Perubahan komposisi yang terjadi antara lain pada klorofil, karotenoid,
antosianin, karbohidrat, lemak, protein dan asam amino, dimana perubahan ini
dapat mempengaruhi mutu hasil pertanian.
4. Transpirasi
Kehilangan air merupakan penyebab utama dari kerusakan hasil
pertanian yang akan menyebabkan penurunan kesegaran hasil pertanian.
Kehilangan air dapat menyebabkan penyusutan secara kualitas dan kuantitas
hasil pertanian (kekerutan, pelunakan, hilangnya kerenyahan dan susut bobot).
b. Faktor Lingkungan
1. Suhu
Suhu merupakan faktor eksternal yang sangat mempengaruhi laju
penurunan mutu hasil pertanian sebab berpengaruh terhadap reaksi biologi.
Pengontrolan suhu dalam rangka pengendalian laju respirasi dari produk sangat
penting sehubungan dengan usaha memperpanjang umur simpan dari
komoditas yang disimpan.
2. Kelembaban
Laju kehilangan air dari hasil pertanian sangat tergantung dari defisit
tekanan uap yang dihasilkan antara komoditi dan udara sekeliling yang
dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban.
3. Komposisi Atmosfir
Secara umum, efek komposisi atmosfir tergantung dari jenis komoditi,
kultivar, umur fisiologis, tingkatan O2 dan CO2, suhu dan lamanya
penyimpanan.
2.11. Tahapan Pasca Panen
a) Pemanenan
Untuk menentukan saat panen yang tepat diperlukan petunjuk untuk
mengetahui waktu pemanenan komoditi hasil pertanian. Penentuan waktu panen
hasil pertanian yang siap di panen dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :

Visual : melihat warna kulit, ukuran, masih adanya sisa tangkai putik, adanya
dedaunan tua di bagian luar yang kering dan penuhnya buah
Fisik : mudahnya buah terlepas dari tangkai / adanya tanda merekah, ketegaran
dan berat jenis
Analisis Kimia : mengukur kandungan zat padat, asam, perbanding zat padat
dengan asam dan kandungan zat pati.
Perhitungan jumlah hari setelah bunga mekar dalam hubungannya dengan
tanggal berbunga dan unit panas.
Metoda Fisiologis : pengukuran pola respirasi (perbandingan antara CO2 dan
O2).
Pada pemanenan hasil pertanian harus dilakukan secara hati - hati jangan
sampai terjatuh, tergores, memar, dan sebagainya, karena luka yang disebabkan
oleh hal tersebut akan menyebabkan terjadinya pembusukan akibat peningkatan
laju respirasi.
Untuk menghidari kerusakan hasil pertanian pada saat pemanenan perlu
diperhatikan hal - hal berikut :
Jangan sampai hasil pertanian hasil panen terjatuh
Gunakan alat panen (gunting, pisau yang tajam
Wadah / Keranjang penampung hasil panen harus kuat, permukaan bagian
dalamnya halus dan mudah dibersihkan.
b) Pengumpulan
Lokasi pengumpulan/penampungan harus didekatkan dengan tempat
pemanenan agar tidak terjadi penyusutan atau penurunan kualitas akibat
pengangkutan dari dan ke tempat penampungan yang teralu lama/jauh.
Perlakuan/tindakan penanganan dan spesifikasi wadah yang digunakan harus
disesuaikan dengan sifat dan karakteristik komoditi yang ditangani.
c) Sortasi
Hasil pertanian setelah dipanen perlu dilakukan sortasi dan pembersihan,
dengan cara memisahkan hasil pertanian yang berkualitas kurang baik (cacat,
luka, busuk dan bentuknya tidak normal) dari hasil pertanian yang berkualitas
baik. Pada proses sortasi ini dapat sekaligus dilakukan proses pembersihan
(membuang bagian bagian yang tidak diperlukan). Pembersihan dapat dilakukan
dengan pisau / parang.
Selama sortasi harus diusahakan agar terhindar dari kontak sinar matahari
langsung karena akan menurunkan bobot / terjadi pelayuan dan meningkatkan
aktivitas metabolisme yang dapat mempercepat proses pematangan / respirasi.

d) Pembersihan / Pencucian
Untuk menghindari kerusakan yang tinggi pada hasil pertanian, sebaiknya
segera dilakukan pencucian agar hasil pertanian terbebas dari kotoran, hama dan
penyakit. Pencucian menggunakan air bersih yang mengalir untuk menghindari
kontaminasi.
Pencucian dengan air juga berfungsi sebagai pre-cooling untuk mengatasi
kelebihan panas yang dikeluarkan produk saat proses pemanenan. Pencucian hasil
pertanian dapat menggunakan alat seperti sikat yang lunak.

Hasil pertanian yang telah dicuci selanjutnya ditiriskan agar terbebas dari sisa air
yang mungkin masih melekat dan ditempatkan pada tempat tertentu. Untuk
mempercepat penirisan dibantu dengan kipas angin.
e) Grading
Setelah sortasi dan pembersihan selesai, selanjutnya dilakukan penggolongan /
pengkelasan (grading). Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil pertanian
yang bermutu baik dan seragam dalam satu golongan / kelas yang sama sesuai
standar mutu yang telah ditetapkan atau atas permintaan konsumen.
Penggolongan / pengkelasan dilakukan berdasarkan berat, besar, bentuk / rupa,
warna dan bebas dari penyakit dan cacat lainnya.
Grading dapat dilakukan di tempat panen / tempat pengumpulan. Untuk
memudahkan pekerjaan penggolongan di tempat pengumpulan, sebaiknya
menggunakan meja yang bertepi. Pada tempat tersebut dilengkapi pula dengan
peralatan lainnya, misal timbangan, alat pencuci, alat penirisan / pengeringan, dll.
Selama grading harus diusahakan terhindar dari kontak sinar matahari langsung
karena akan menurunkan bobot / terjadi pelayuan dan meningkatkan aktivitas
metabolisme yang dapat mempercepat proses pematangan / respirasi.
f) Pengemasan
Pengemasan berfungsi untuk melindungi/mencegah komoditi dari kerusakan
mekanis, menciptakan daya tarik bagi konsumen dan memberikan nilai tambah
produk serta memperpanjang daya simpan produk, sehingga dalam pengemasan
harus dilakukan dengan hati - hati agar tehindar dari suhu dan kelembaban yang
ekstrim (terlalu tinggi / terlalu rendah), goncangan, getran, gesekan dan tekanan
yang tinggi terhadap kemasan hasil pertanian tersebut.
Pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pengemasan adalah :
Kemasan harus memberi perlindungan terhadap sifat mudah rusak dari hasil
pertanian yang menyangkut ukuran, bentuk kontruksi dan bahan yang dipakai.
Kemasan harus cocok dengan kondisi pengankutan dan harus dapat diterima
oleh konsumen.
Harga dan tipe / bentuk kemasan harus sesuai dengan nilai hasil pertanian yang
dikemas. Di Indonesia pengemasan hasil pertanian pada umumnya
menggunakan keranjang, karung, dus karton dan plastik.
Tiga kategori yang biasa dipergunakan dalam penentuan kemasan adalah :
Kemasan konsumen / unit packaging (kemasan primer) yaitu kemasan yang
digunakan membungkus yang diterima langsung konsumen. Bahan kemasan
yang biasa digunakan kertas / kantong plastik polyetilen (PE). Selain itu, juga
dapat digunakan plastik film PVC / PE dalam sistem Modified
AtmospherePackaging (MAP). Secara tradisional di Indonesia juga biasa
digunakan berbagai dedaunan segar / kering untuk kemasan konsumen ini.
Kemasan transportasi (kemasan sekunder) yaitu kemasan yang digunakan untuk
menyatukan beberapa kemasan konsumen yang digunakan untuk melindungi
dan memudahkan dalam penanganan (handling). Biasanya kemasan ini
dipergunakan oleh pedagang retail berbentuk kotak - kotak tertutup dari kayu,
corrugated atau solid fibreboard dan kantong plastik / kertas dengan berbagai
susunan dan bentuk.
Kemasan pengisi (kemasan tersier), merupakan bagian dari kemasan yang
berfungsi untuk mencegah terjadinya benturan antar sayur selama penanganan
dan untuk menghindari guncangan selama transportasi dan distribusi.

Jenis bahan yang biasa digunakan sebagai bahan pengisi, misalnya : potongan
dedaunan kering, jerami, kertas serta bahan khusus lainnya (stereofoam) dibuat
dengan bentuk dan ukuran disesuaikan dengan produk.
Beberapa contoh pengemasan hasil pertanian yang umum digunakan adalah :
Keranjang : terbuat dari bambu, daun kelapa dan daun pandan. Biasanya
berbentuk persegi dan bulat. Kelemahannya adalah kurang kuat sehingga tidak
mampu melindungi dari tekanan.
Namun, pengemas ini masih dipertahankan mengingat harganya lebih murah.
Untuk mengatasi kelemahan adalah dengan memberi unsur bahan penguat pada
sisinya.
Untuk meminimalkan kerusakan, saat ini telah banyak digunakan keranjang
plastik yang mempunyai kekuatan lebih besar, permukaan yang halus dan mudah
dibersihkan sehingga dapat dipaki ulang.
Karung : dalam bentuk karung goni, karung kertas, karung kain, karung plastik
dan rajut. Umumnya penggunaan karung untuk mengepak hasil pertanian pada
pengangkutan jarak dekat. Pengemasan dengan karung sebaiknya dilakukan
untuk hasil pertanian yang bertekstur keras yang tidak memerlukan penyusunan
hasil pertanian.
Peti karton : untuk pengangkutan, sebaiknya digunakan peti karton tebal. Pada
pemasaran loka, kurang cocok digunakan karena harganya relatif mahal, selain
itu kekuatannya tidak sebaik peti kayu tetapi lebih kuat dari karung goni. Peti
karton mempunyai bobot yang ringan sehingga akan mempermudah
pembongkaran dan dinding petinya halus. Ukuran peti karton yang standar untuk
masing - masing hasil pertanian belum ada.
Plastik : digunakan untuk pengemasan dengan volume kecil untuk pasar
supermarket. Penggunaan plastik dengan pengaturan komposisi udara bertujuan
untuk mempertahankan umur simpan hasil pertanian agar tetap segar sampai di
konsumen.
g) Penyimpanan dan Pendinginan
Penyimpanan dilakukan untuk mempertahankan daya simpan komoditi dan
melindungi produk dari kerusakan serta terkait erat dengan kebijakan distribusi
dan pemasaran seperti pengankutan, pengeringan, penjualan dan pengolahan.
Ruang penyimpanan umumnya tidak mampu untuk mendinginkan hasil pertanian
secara cepat, sehingga perlu dilakukan prapendinginan. Tujuan prapendinginan
untuk menghilangkan dengan cepat panas dari lapang sebelum penyimpanan /
pengangkutan, terutama penting bagi hasil pertanian yang mudah rusak.
Prapendinginan dapat dilakukan berbagai cara yaitu :
Pendinginan dengan udara (dingin) yang mengalir (air cooling)
Pendinginan dengan air (hydro cooling) yaitu dengan merendam dalam air
dingin mengalir atau dengan pencucian dengan air dingin
Pendinginan dengan cara kontak dengan es (ice cooling), yaitu dengan
menaburkan hancuran es ke dalam tumpukan hasil pertanian atau dengan
menaruh es di atas tumpukan peti kemas
Pendinginan dengan vacum (vacuum cooling), dilakukan dengan cara bahan
didinginkan dan dimasukan dalam ruang tertutup kemudian tekanan
diturunkan sehingga akan terjadi penguapan air dari bahan.

Setelah prapendinginan kemudian hasil pertanian disimpan pada ruang


penyimpanan. Hal - hal yang harus diperhatikan dalam ruang penyimpanan :
Sirkulasi udara dalam ruang penyimpanan harus baik, sehingga suhu ruang
penyimpanan merata.
Sanitasi dalam ruang penyimpanan perlu dilakukan sehingga terhindar dari
kapang, cendawan dan lainnya
Purifikasi udara dianjurkan jika ruangan berbau tidak enak / karena terdapat
bahan - bahan beruap yang mungkin merusak bahan / merangsang kerusakan
bahan
Penyimpanan dengan memodifikasi komposisi udara untuk mengurangi
kerusakan hasil pertanian dan memperpanjang umur simpan hasil pertanian,
mengatasi gangguan fisiologis, menghambat respirasi dan menghambat
kehilangan air pada hasil pertanian
Beberapa cara penyimpanan dengan memodifikasi komposisi udara, yaitu :
Controlled Atmosphere Storage (CAS) : penyimpanan dengan pengendalian
atmosfer yang disekeliling produk diatur konsentrasinya (CO2 dinaikkan dan
O2 diturunkan disertai pengendalian udara di sekeliling produk secara
kontinyu dengan peralatan khusus).
Modified Atmosphere Storage (MAS) : penyimpanan dimana tingkat
konsentrasi gas O2 lebih rendah dan tingkat konsentrasi gas CO2 lebih tinggi
dibandingkan udara normal yang dilakukan dengan pengaturan pengemasan
yang akan menghasilkan kondisi tertentu melalui interaksi penyerapan dan
pernafasan produk yang disimpan.
Low Pressure Storage (LPS) : pengaturan tekanan di sekeliling produk yang
disimpan, dimana tekanan tersebut lebih rendah dari tekanan atmosfer normal.
Produk disimpan dalam kontainer dengan suhu dan tekanan rendah yang
konstan. Penurunan tekanan dalam sistem penyimpanan ini mengakibatkan
suplai O2 untuk respirasi menurun, sehingga terjadi penurunan kecepatan
respirasi, produksi etilen dan gas lainnya yang dihasilkan oleh produk serta
menghambat / melemahkan jasad renik. Sehingga dapat mengakibatkan
pematangan dan pelayuan terhambat.
h) Transportasi
Pengangkutan hasil pertanian menuntut penanganan yang cepat dan dapat
dilakukan dengan tiga cara : pengangkutan melalui jalan darat (dipikul, sepeda,
pedati, kendaraan bermotor, kereta api), pengangkutan melalui laut (perahu dan
kapal laut) dan pengangkutan melalui udara (pesawat udara).
Hasil pertanian akan tetap dalam kondisi prima, segar dan baik dikonsumsi oleh
masyarakat bila penanganan pasca panen dilaksanakan secara baik, benar dan
tepat tanpa harus melupakan peranan proses sebelum panen yang juga sangat
mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan.
Diharapkan dalam melakukan kegiatan pasca panen dapat menjamin
konsistensi dalam menekan kehilangan hasil produk pada setiap rantai
penanganan pasca panen dan meningkatkan mutu produk, sehingga dapat
meningkatkan nilai ekonomis dan daya saing produk.

BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Hasil panen yang didapatkan harus dijamin mutu dan kualitas hingga sampai
ketangan konsumen maka dari itu harus diperlukan penanganan pasca panen yang
baik untuk menjamin mutu dan kualitas suatu produk pertanian. Adapun yang
menjadi tujuan dari adanya kegiatan pasca panen ialah sebagai berikut :
1. Mengurangi susut (jumlah dan mutu) pada tiap rantai penanganan.
2. Mempertahankan mutu (yang diinginkan konsumen).
3. Memperpanjang masa simpan (shelf life) sehingga dapat meningkatkan
ketersediaan/pasokan di lokasi manapun dan sepanjang waktu.
4. Mencegah kerusakan fisiologis dan mikrobiologis.