Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr wb
Puji Syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang dimana atas
nikmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan laporan akhir dengan tema
Problema Tiga Titik. Juga kepada asisten dan teman teman yang sudah
membantu dalam pengerjaan laporan ini baik secara langsung maupun tidak.
Disamping itu semua penulis mengharapkan kritik dan saranya terhadap
laporan praktikum ini sehingga penulis dapat melakukan koreksi terhadap
pembuatan laporan ini. Yang dimana akan penulis jadikan pelajaran dalam
pembuatan laporan selanjutnya.
Demikian laporan ini penulis buat dengan harapan dapat diterima dan
dijadikan bahan penilaian pada mata kuliah praktikum Geologi Struktur.
Wassalamualaikum wr wb

Bandung, Kamis 2 Juni 2016

Dhiatiko Dhaifullah Habibi


10070114075

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR........ i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I

PENDAHULUAN.............................................................................
1.1 Latar Belakang............................................................
1.2 Maksud dan Tujuan...................................................................
1.2.1 Maksud.............................................................................
1.2.2 Tujuan...............................................................................

1
1
1
1
1

BAB II

LANDASAN TEORI........................................................................
2.1 Pemetaan Geologi.....................................................................
2.2 Problema Tiga Titik....................................................................
2.3 Hubungan Metode Tiga Titik Dengan Peta Geologi...................

2
2
3
4

BAB III TUGAS DAN PEMBAHASAN........................................................ 5


3.1 Tugas........................................................................................ 5
3.2 Pembahasan............................................................................. 5
BAB IV ANALISA........................................................................................ 10
BAB V

KESIMPULAN................................................................................ 12

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kerak bumi tersusun atas berbagai macam batuan yang dimana tidak
sema daerah memiliki kesaam apada setiap batuanya. Suatu tempat tentunya
memiliki jenis batuan tertentu yang ada pada daerahnya. Hal itu dapat
bergantung pada kondisi daerahnya maupun keadaan iklimnya. Untuk dapat
mengenali keadaan litologi atau jenis batuan yang tersebar diasuatu daerah
maka para ahli melakukan survey lapangan lalu menggambarkanya pada bidang
datar yang biasa disebut dengan pemetaan geologi.
Untuk mengetahui sebaran batuan di suatu daerah tentunya kita dapat
menggunakan peta geologi. Peta geologi dibuat berdasarkan pemetaan secara
langsung dengan bantuan data hasil survey ke lapangan. Dalam pembuatanya
terdapat beberapa metode, diantaranya adalah metode satu titik, metode dua titik
dan metode tiga titik. Metode metode ini digunakan pada kondisi tertentu
menyesuaikan dengan kelengkapan data yang ada.

1.2

Maksud dan Tujuan

1.2.1

Maksud
Maksud dibuatnya laporan akhir Probloema Tiga Titik ini adalah untuk

dijadikan bahan belajar bagi pembaca maupun penulis dalam memahami materi
tentang unsur unsur penting dalam melakukan pemetaan geologi terutama pada
pengolahan dengan metode tiga titik.
1.2.2

Tujuan
Mengetahui pengertian peta geologi
Memahami prosedur pemetaan geologi
Memahami prosedur pemetaan geologi metode tiga titik

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1

Pemetaan Geologi
Pemetaan geologi dalam definisi adalah suatu kegiatan mencari data

mengenai informasi-informasi geologi permukaan dan menghasilkan suatu


bentuk laporan berupa peta geologi yang dapat memberikan gambaran
mengenai penyebaran dan susunan batuan (lapisan batuan), serta memuat
informasi gejala-gejala struktur geologi yang mungkin mempengaruhi pola
penyebaran batuan pada daerah tersebut.

Sumber : jelajahduniamu.blogspot.com

Gambar 2.1
Kegiatan Pemetaan Geologi

Dalam pengerjaan peta serta pendataan yang diambil saat dilakukan


kegiatan pemetaan geologi akan menentukan ketelitian dari hasil kegiatan
tersebut. Skala peta tersebut mewakili intensitas dan kerapatan data singkapan
yang diperoleh yang diperoleh. Tingkat ketelitian peta geologi ini juga dipengaruhi
oleh tahapan eksplorasi yang dilakukan.

Pada tahapan eksplorasi awal,

pengumpulan data (informasi singkapan) dapat dilakukan dengan menggunakan


palu dan kompas geologi, serta penentuan posisi melalui orientasi lapangan atau
dengan cara tali-kompas.
Namun dalam tahapan eksplorasi lanjut s/d detail, pengamatan singkapan
dapat diperluas dengan menggunakan metode-metode lain seperti uji sumur, uji
parit, maupun bor tangan atau auger, sedangkan penentuan posisi dilakukan

dengan menggunakan alat ukur permukaan seperti pemetaan dengan plane


table atau dengan teodolit
2.2

Problema Tiga Titik


Probema tiga titik merupakan salah satu cara memetakan suatu

singkapan menjadi sebaran berdasarkan kedudukan yang terbentuk pada daerah


kontur yang searah bidang lapisan atau mengikuti kontur searah dengan dipnya.
Kegiatan ini seperti memetakan suatu singkapan-singkapan yang terbentuk
hingga menjadi suatu model yang dapat diambil dan dihitung dengan baik karena
sudah mebentuk ruang. Kegiatan ini seperti memetakan suatu singkapansingkaan yang terbentuk hingga menjadi suat model yang dapat diambil dan
dihitung dengan baik karena sudah mebentuk ruang.

Sumber : scribdassets.com

Gambar 2.1
Ilustrasi Keadaan 3 Titik

Dengan kondisi demikian maka pemodelan menjadi acuan yang penting


agar perhitungan cadangan yang dimodelkan dapat jelas karenamemiliki bentuk
yang mudah dihitung baik secara satuan luas ataupun satuan volume.
Dalam pembuatanya kita dapat menggunakan bantuan kontur struktur
karena memanfaatkan keadaan endapan yang berlapisa secara horizontal
dengan kemiringan tertentu. Kontur struktur merupakan garis top lapisan yang
menghubungkan ketinggian elevasi yang sama. Kontur struktur ini akan
menggambarkan sebaran dibawah permukaan.prinsip pengerjaanya adalah jika
kita memiliki dua titik dengan ketinggian berbeda maka kita dapat menentukan
titik di ketinggian berikutnya.

Sumber: gprgindonesia.wordpress.com

Gambar 2.2
Contoh Nilai Kontur Terhadap Kedudukan

2.3 Hubungan Metode Tiga Titik Terhadap Peta Geologi


Pemetaan geologi merupakan suatu kegiatan pengumpulkan data-data
hasil survey lapangan berdasarkan analisis geologi pada analisa permukaan
dimana

menghasilkan

suatu

bentuk

laporan

berupa

peta

yang

dapat

memeberikan gambaran berupa peta tentang susunan perlapisan batuan pada


suatu daerah. Selain itu biasanya peta geologi juga memuat suatu bentuk
perubahan permukaan lapisan batuan akibat adanya gejala sturktur yang terjadi
dan menggambarkannya pula dalam peta kedalam bentuk lapisan yang
terpotong, tergeser atau dengan lambang adanya pergerakan. Yang terpenting
data dalam peta geologi juga memuat pola-pola penyebaran batuan akibat
struktur atau biasa disebut zona mineralisasi.

Sumber: rocksic.blogspot.com

Gambar 2.3
Contoh Hasil Pemodelan Geologi

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keteliatian dari suatu peta


geologi. Ketelitian peta geologi tergantung pada beberapa aspek diantaranya :

Ketelitian pengamatan lapangan


Penggunaan skala
Hal-hal tersebut diatas sangat mempengaruhi ketelitian dari peta geologi.

Pengamatan lapangan tentu merupakan faktor utama dari ketelitian tersebut.


Kesalahan pengamatan di lapangan tentu akan menghasilkan output yang salah
pula. Sedangkan skala jika semakin kecil maka informasi yang digambarkan
pada peta akan semakin mendetail.
Dalam metode tiga titik sebaran batuan yang berada dibawah permukaan
digambarkan seperti penggambaran metode topografi permukaan namun pada

sebaran garis kontur strukturnya ditarik secara linear yang menandakaan eadaan
kontur yang rata namun memiliki kemiringan. Garis cropline dari batas sebaran
akan didapatkan ketika elevasi kontur struktur bertemu dengan garis topografi
dengan elevasi yang sama.

BAB III
TUGAS DAN PEMBAHASAN
3.1 Tugas
1. Buatlah permodelan batubara dari data hasil pengeboran yang diberikan
asisten serta buatlah penampang dari sebaran batubara tersebut.
Sertakan data statistika dari ketbalan batubara di daerah tersebut.

3.2

Pembahasan
Lapisan Batubara Roof dengan metode metode tiga titik Seam 13

Sumber: Data Hasil Praktikum Lab. Geologi

Foto 3.1
Lapisan Batubara Roof

Lapisan Batubara Roof terkena struktur sesar Seam 13

Sumber: Data Hasil Praktikum Lab. Geologi

Foto 3.2
Lapisan Batubara Yang Terkena Struktur Roof

Lapisan Batubara Floor dengan metode tiga titik Seam 13

Sumber: Data Hasil Praktikum Lab. Geologi

Foto 3.3
Lapisan Batubara Floor

Lapisan Batubara Floor terkena struktur sesar Seam 13

Sumber: Data Hasil Praktikum Lab. Geologi

Foto 3.4
Lapisan Batubara Yang Terkena Struktur Floor

Peta Ketebalan Lapisan Batubara Seam 13

Sumber: Data Hasil Praktikum Lab. Geologi

Foto 3.5
Peta Kedalaman Lapisan Batubara

Data Statistika
Seam 13

inte
rval

P
a
n
j
a
n
g
D
a
t
a
0
,
1
5
0
9
0
9

Tabel 3.1
Data Statistik Ketebalan Seam 13

Fi.

0,

0,

0,

X
r
a
t
a
r
a
t
a
0
,
2
6
8
3
3
3

(Xi
X)
^2

0,
03
93
36
11
0,
03
93
36
11
0,
03
93
36

0
,
0
1
0
7
2
8

Std
dev

0,1
035
762
05

E
r
r
o
r

M
o
d
u
s

0
,
0
0
0
2
3
3

5
,
7
3
3
3
3
3

M
e
d
i
a
n

5
,
7
1
0
7
1
4

10

Juml
ah

0,

0,

0,

1,

Sumber : Pengolahan Data Asistensi Praktikum Geologi Struktur 2016

11
0,
03
93
36
11
0,
03
93
36
11
0,
03
93
36
11
0,
23
60
16
67

11

Grafik 3.1
Titik Variasi Ketebalan

Grafik 3.2
Grafik Frekuensi Ketebalan

Seam 15

Tabel 3.2
Data Statistik Ketebalan Seam 15

In
vt
er
va
l

Pa

(X

0,0

0,

0,

0,0
067
034
48

Std
dev

Erro
r

Mo
dus

Med
ian

0,0
033
517
24

0,0
001
117
24

3,5
942
857
14

3,4
466
666
67

12

Ju
ml
ah

0,

0,

0,

0,

0,

Sumber : Pengolahan Data Asistensi Praktikum Geologi Struktur 2016

Grafik 3.3
Titik Variasi Ketebalan

Grafik 3.4
Grafik Frekuensi Ketebalan

13

Seam 19

Tabel 3.3
Data Statistik Ketebalan Seam 19

Invte
rval

X
i

0
,
0
6
0
0
0
0
,
0
5
8

P
a
n
j
a
n
g
d
a
t
a
0
,
1
3

F
i
.
X
i

0
,
1
8
0
0
0
0
,
1
1
7

X
r
a
t
a
r
a
t
a
0
,
2
1
2
5
6
3

(
X
i
X
)
^
2
0
,
0
0
3
6
0
0
,
0
0
3

0
,
0
0
0
7
2
6

S
t
d
d
e
v

0
,
0
0
0
3
6
3

E
rr
o
r

1
,
7
2
8
2
E
0
5

2,

Med
ian

2,60
583
333
3

14

9
6
0
,
0
6
2
9
2
0
,
0
6
1
8
9
0
,
0
6
0
8
5
0
,
0
4
9
8
1

9
2
0
,
7
5
5
0
9
0
,
0
6
1
8
9
0
,
0
6
0
8
5
0
,
0
9
9
6
2

4
8
0
,
0
0
3
9
6
0
,
0
0
3
8
3
0
,
0
0
3
7
0
0
,
0
0
2
4
8

15

Jumla
h

0
,
3
5
4
4
3

1
,
2
7
5
3
8

0
,
0
2
1
0
5

Sumber : Pengolahan Data Asistensi Praktikum Geologi Struktur 2016

Grafik 3.5
Titik Variasi Ketebalan

Grafik 3.6
Grafik Frekuensi Ketebalan

BAB IV
ANALISA

Dari data hasil pengeboran diketahui terdapat tiga lapisan batu

bara dimana masing masing dinamakan dengan seam 13, seam 15 dan
seam 19. Dari arah kemiringan yang didapatkan dari penampang
diketahui seam 13 merupakan lapisan batubara yang terendapkan
terlebih dahulu dilanjutkan dengan pengendapan seam 15 dan yang
terakhir seam 19. Secara tampak atas seam 13 beradadi daerah paling
barat daya diikuti seam 15 dan seam 19 di daerah timur laut dari sebaran

ketiga batubara tersebut.


Melalui elevasi tiap batubara yang diketahui pada setiap titik bor
didapatkan rekonstruksi permodelan dari keadaan kontur struktur batu
bara. Dari permodelan ini diketahui keadaan batubara yang memiliki arah
strike ke arah barat laut dengan arah downdip menuju ke timur laut. Dari
keadaan kontur yang seperti itu maka ditarik beberapa garis penampang
yang terbagi menjadi dua yaitu searah dengan strike dan tegak lurus
dengan strike. Dari penampang yang diambil tegak lururs dari arah strike
dapat dihitung besar dip dari tiap seam dimana didapatkan besar dip dari
tiap seam berkisar di angka 17o. keadaan tersebut menunjukan keadaan
kemiringan lapisan batubara yang tidak terlalu terjal namun tidak landau
pula.

Dalam

penganalisaan

hasil

penampang

didapatkan

keadaan lapisan yang dimana pada titik tertentu lapisan batubara


mengalami penaikan lalu kembali menurun sesuai nilai kemiringannya.
Dari hal tersebut maka dilakukan pengkorelasian dengan sebaran lapisan
batubara secara tampak atas. Dari hal tersebut diketahui pada zona
penampang tersebut memotong garis offset yang dimana merupakan
sesar mendatar. dari hasil analisa tersebut ditarik kesimpulan bahwa
keadaan batubara yang tidak biasa tersebut merupakan pengaruh dari
struktur tersebut.

Dari data bor juga kita mendapatkan angka setiap


ketebalan dari lapisan batubaranya. Dari data tersebut diketahui seam 13
memiliki ketebalan yang relative lebih tebal dari seam yang lainya dimana
16

rata rata ketebalanya sebesar 5,6 meter, lalu seam 15 memiliki ketebalan
rata rata 3,49 meter dan seam 19 memiliki ketebalan rata rata dari
batubara sebesar 2,68 meter. Dari data ketebalan tersebut dilakukan
analisis lebih lanjut. Salah satunya adalah mengetahui variasi dari
ketebalan dimana ingin diketahui apakah ketebalan dari lapisan
batubaranya homogeny atau komleks. Maka di cari nilai simpangan baku
dan standar deviasi dari data ketebalan tersebut. Didapatkan nilai
simpangan baku sebesar 0,0019 dimana angka ini mengartikan
simpangan yang paling baku dari nilai rata rata ketebalanya menyimpang
sebesar 0,0019. Setelah itu didapakan nilai standar deviasi yaitu sebesar
0,00099 dimana angka ini menunjukan bahwa simpangan rata rata yang
dialami data dari nilai rata rata ketebalanya hanya sebesar 0,00099
meter. Dari hasil tersebut maka ditarik kesimpulan bahwa laisan
batubaranya bersifat sedikit bervariasi sehingga jika dalam parameter
kondisi geologi dapat dimasukan dalam golongan sederhana.

17

BAB V
KESIMPULAN

Pemetaan geologi dalam definisi adalah suatu kegiatan mencari

data mengenai informasi-informasi geologi permukaan dan menghasilkan suatu


bentuk laporan berupa peta geologi yang dapat memberikan gambaran
mengenai penyebaran dan susunan batuan (lapisan batuan), Metode tiga titik
meruapakan salah satu metode penentuan sebaran dari data singkapan hasil
survey lapangan.

Probema tiga titik merupakan salah satu cara memetakan suatu


singkapan menjadi sebaran berdasarkan kedudukan yang terbentuk pada daerah
kontur yang searah bidang lapisan atau mengikuti kontur searah dengan dipnya.
Kegiatan ini seperti memetakan suatu singkapan-singkapan yang terbentuk
hingga menjadi suatu model yang dapat diambil dan dihitung dengan baik karena
sudah mebentuk ruang. Dalam metode tiga titik sebaran batuan yang berada
dibawah permukaan digambarkan seperti penggambaran metode topografi
permukaan namun pada sebaran garis kontur strukturnya ditarik secara linear
yang menandakaan eadaan kontur yang rata namun memiliki kemiringan. Garis
cropline dari batas sebaran akan didapatkan ketika elevasi kontur struktur
bertemu dengan garis topografi dengan elevasi yang sama

18

DAFTAR PUSTAKA

Geost,

http://lewigeo.blogspot.co.id/. (Diakses pada 25 Mei 2016)


Hebby.
April
2011.
Geology
Struktur.
http://geologiinter.

Lewi.

Februari

2013.

Problema

Tiga

Titik.

blogspot.co.id/2011/04/geologi-struktur.html. (Diakses pada 25 Mei 2016)

Erwyne. Desember 2011. Pemetaan Geologi. http://erwyne-dc.blog


spot.co.id/2011/12/pemetaan-geologi.html. Diakses pada 17 Mei 2016

LAMPIRAN