Anda di halaman 1dari 25

BAB III

DASAR TEORI
3.1 Jaringan Tegangan Menegah
Pada pendistribusian tenaga listrik ke pengguna tenaga listrik di suatu
kawasan, penggunaan sistem Tegangan Menengah sebagai jaringan utama adalah
upaya utama menghindarkan rugi-rugi penyaluran (losses) dengan kualitas
persyaratan tegangan yang harus dipenuhi oleh PT PLN Persero selaku pemegang
Kuasa Usaha Utama sebagaimana diatur dalam UU ketenagalistrikan No 30 tahun
2009.
Dengan ditetapkannya standard Tegangan Menengah sebagai tegangan
operasi yang digunakan di Indonesia adalah 20 kV, konstruksi JTM wajib
memenuhi kriteria enjinering keamanan ketenagalistrikan, termasuk didalamnya
adalah jarak aman minimal antarafasa dengan lingkungan dan antarfasa dengan
tanah, bila jaringan tersebut menggunakan saluran udara atau ketahanan isolasi
jika menggunakan kabel udara pilin tegangan menengah atau kabel bawah tanah
tegangan menengah, serta kemudahan dalam hal pengoperasian atau pemeliharaan
jaringan dalam keadaan bertegangan PDKB (Pekerjaan Dalam Keadaan
Bertegangan) pada jaringan utama. Hal ini dimaksudkan sebagai usaha menjaga
keandalan kontinyuitas pelayanan konsumen.
Ukuran dimensi konstruksi selain untuk pemenuhan syarat pendistribusian
daya, juga wajib memperhatikan syarat ketahanan isolasi penghantar untuk
keamanan pada tegangan 20 kV.
Lingkup Jaringan Tegangan Menengah pada sistem distribusi di Indonesia
dimulai dari terminal keluar (outgoing) pemutus tenaga dari transformator
penurun tegangan Gardu Induk atau transformator penaik tegangan pada
Pembangkit untuk sistem distribusi skala kecil, hingga peralatan pemisah/proteksi
sisi masuk (incoming) transformator distribusi 20 kV - 231/400 V.

3.2 Komponen Jaringan Tegangan Menegah


Konstruksi

Jaringan

Distribusi

Teg a n g a n

Menegah

m e r u p a k a n r a n g k a i a n komponen yang terpasang membentuk satu kesatuan


26

dalam konstruksi JTM .Komponen jaringan distribusi adalah semua material yang
terpasang padakonstruksi jaring distribusiMaterial distribusi Saluran Udara
Tegangan Menengah ( SUTM ), terdiri dari 2(dua) bagian, yaitu ; material
distribusi utama (MDU) dan material pelengkap. Disebut dengan material
distribusi utama karena, material tersebut fungsinya sangat penting pada
konstruksi , sehingga merupakan bagian yang tidak bisa tergantikan. Sedangkan
disebut material pelengkap, karena merupakan bagian pelengkap untuk
menunjang pemasangan material distribusi utama pada suatu konstruksi.
3.2.1

Material Distribusi Utama

MDU pada Jaringan Distribusi Tegangan Menengah meliputi tiang, trafo


isolator, penghantar / kawat, kabel seta travers (cross arm).
3.2.1.1

Tiang

Sebagai

penyangga

kawat agar berada di atas tiang dengan jarak

aman sesuai dengan ketetentuan.. Terbuat dari bahan yang kuat menahan beban
tarik maupun tekan yang berasal dari kawat ataupun tekanan angin.
Menurut bahannya tiang listrik terdiri dari :

Tiang Besi
Tiang Beton
Tiang kayu
Tiang besi : dari bahan baja ( steel ) terdiri dari 2 atau 3 susun pipa dengan
ukuran berbeda bagian atas lebih kecil dari bagian di bawahnya, setiap pipa
disambung, bagian yang lebih kecil dimasukkan ke dalam bagian yang lebih
besar sepanjang 50 cm dipasang pen dan dilas. Spesifikasi Tiang besi yang
dapat dipergunakan pada Saluran Udara Tegangan Menengah , sesuai SPLN
54 : 1983

Tabel 3.1 Spesifikasi Tiang besi


Panjang tiang
(m)
8
9

Keterangan
Penopang JTR (strut pole)
JTR (berlaku untuk kelistrikan desa dengan beban kerja

27

100 daN)
10

JTM 6 kv

11

JTM 6 kv sirkit tunggal, dengan panjang gawang 40 m

12

JTM 20 kv atau JTM 6 kv sirkit ganda

13

JTM 20 sirkit tunggal dengan panjang gawang 60 m

14

JTM 20 kv sirkit ganda

15

Ukuran khusus

16

Ukuran khusus

(Sumber: Sistem Distribusi Tenaga Listrik . Jakata: Diklat PT PLN (PERSERO))


Tabel 3.2 Contoh Spesifikasi Tiang Besi untuk SUTM dengan panjang 11 m
Beban kerja (da n)

100

200

350
165,

114,3

165,2

190,7

C
B

5.6
6

4
4,5
7

Tebal pipa (mm)

Panjang bagian-bagian tiang

C
B

500

800

1200

190,7

216,3

267,4

267,4

318,5

355,6

318,5

355,6

406,4

4,5
8

6
8

6
8

12

2500
2500

2500
2500

2500
2500

2500
2500

2500
2500

6000

6000

6000

6000

6000

Lenturan pada beban kerja (mm)

196

144

142

108

106

Tebal selongsong (mm)


Panjang selongsong (mm)
Berat tiang (kg)

7
600
306

7
600
446

9
600
564

8
600
700

12
600
973

Diameter bagian-bagian tiang


(mm)

(mm)
TT

2
190,
7
267,

(Sumber: Sistem Distribusi Tenaga Listrik . Jakata: Diklat PT PLN (PERSERO))


-

Tiang beton : dari bahan campuran semen, pasir dan batu split, dicor dengan
kerangka besi baja.
Bentuk tiang beton ada 2 ( dua ) macam, yaitu berbentuk profil H dan
berbentuk bulat.

28

Gambar 3.1 Konstruksi Tiang Beton H

Tabel 3. 3 Spesifikasi Tiang Beton H


Ukuran
L
Tinggi

Bottom

Beban

Top

Rencana

(bag atas) mm

(bag bawah)
mm

(dan)

200

165

110

315

235

9
11

500
200

200

125

320

250

11
11

350
500

200
230

125
145

320
410

13
13

350
500

200
230

125
145

342
442

Tiang (m)

Ukuran (mm)
C

15

55

52

72

250
310

15
15

55
65

55
60

85
95

272
340

15
15

55
65

55
60

85
95

(Sumber: Sistem Distribusi Tenaga Listrik . Jakata: Diklat PT PLN (PERSERO))

Tiang beton berbentuk bulat lebih banyak digunakan karena mempunyai


kekuatan yang sama di setiap sisinya.

29

Gambar 3.2 Konstruksi Tiang Beton Bulat

Tabel 3.4 Spesifikasi Tiang Beton Bulat


UKURAN
L
TINGGI
TIANG (M)
9
9
11
11
11
13
13

BEBAN
RENCANA
(daN)
200
500
200
350
500
350
500

DIAMETER
Da

Db

170

290

190
190
190
190
190

337
337
337
363
363

Tebal
(MM)
42
60
42
50
60
50
60

(Sumber: Sistem Distribusi Tenaga Listrik . Jakata: Diklat PT PLN (PERSERO))


-

Tiang kayu : dari kayu yang tahan perubahan cuaca ( panas, hujan ) dan
tidak mudah rapuh oleh bahan-bahan lain yang ada didalam tanah, tidak
dimakan rayap atau binatang pangerat. Pada saat ini tiang kayu sudah jarang
digunakan lagi dengan alasan ekonomis, yaitu tiang dari bahan beton lebih
murah harganya. Spesifikasi tiang kayu yang dapat digunakan pada jaringan
distribusi harus memenuhi SPLN 115:1995 tentang Tiang kayu untuk jaringan
distribusi

3.2.1.2

Isolator

30

Fungsi utamanya adalah sebagai penyekat listrik pada penghantar terhadap


penghantar lainnya dan penghantar terhadap tanah. Tetapi karena penghantar yang
disekatkan tersebut mempunyai gaya mekanis berupa berat dan gaya tarik yang
berasal dari berat penghantar itu sendiri, dari tarikan dan karena perubahan akibat
temperatur dan angin, maka

isolator harus mempunyai kemampuan untuk

menahan beban mekanis yang harus dipikulnya.


Bahan isolator untuk SUTM adalah porselin / keramik yang dilapisi glazur
dan gelas, tetapi yang paling banyak adalah dari porselin ketimbang dari gelas,
dikarenakan udara yang mempunyai kelembaban tinggi pada umumnya di
Indonesia isolator dari bahan gelas permukaannya mudah ditempeli embun.
Berdasarkan beban yang dipikulnya isolator dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :

Isolator tumpu ( pin insulator )


Beban yang dipikul oleh isolator berupa beban berat penghantar, jika
penghantar dipasang di bagian atas isolator ( top side ) untuk tarikan dengan
sudut maksimal 2 dan beban tarik ringan jika penghantar dipasang di bagian
sisi ( leher ) isolator untuk tarikan dengan sudut maksimal 18 . Isolator
dipasang tegak-lurus dii atas travers.

Gambar 3.3 Isolator pin

Isolator tarik ( Strain insulator )


Beban yang dipikul oleh isolator berupa beban berat penghantar
ditambah dengan beban akibat pengencangan ( tarikan ) penghantar, seperti
pada konstruksi tiang awal / akhir, tiang sudut , tiang percabangan dan tiang
penegang. Isolator dipasang di bagian sisi Travers atau searah dengan tarikan
penghantar. Penghantar diikat dengan Strain Clamp dengan pengencangan
mur - bautnya.

31

Gambar 3.4 Isolator tarik

3.2.1.3

Penghantar

Berfungsi untuk menghantarkan arus listrik. Penghantar untuk saluran


udara biasanya disebut kawat yaitu peghantar tanpa isolasi ( telanjang ),
sedangkan untuk saluran dalam tanah atau saluran udara berisolasi biasanya
disebut dengan kabel.
Penghantar yang baik harus mempunyai sifat :
-

Konduktivitas / Daya Hantar Tinggi


Kekuatan Tarik Tinggi
Fleksibilitas Tinggi
Ringan
Tidak Rapuh

Logam Murni
BCC

: Bare Copper Conductor

AAC

: All Aluminium Conductor

Logam Campuran
AAAC
Logam Paduan
Copper Clad Steel
Aluminium Clad Steel
Kawat Lilit Campuran
ACSR

: All Aluminium Alloy Conductor


: Kawat Baja Berlapis Tembaga
: Kawat Baja Berlapis Aluminium.
: Aluminium Cable Steel Reinforced

Tabel 3.5 Perbandingan Konduktor

32

Jenis Penghantar

Tahanan Jenis

Kekuatan. Tarik

Penghantar

Putus
2

Berat Jenis
(gr / mm 3)

(.mm / m)

( Kg / mm )

Tembaga Murni (BCC)

0, 0175

40

8, 96

Aluminium Murni (AAC)

0, 297

20

2,7

Aluminium Campuran (AAAC)

0, 036

35

2,72

(Sumber: Sistem Distribusi Tenaga Listrik . Jakata: Diklat PT PLN (PERSERO))

3.2.1.4
Kabel
Kabel dan pemasangannya
- Kabel tanah dipasang di dalam tanah
- Kabel instalasi dipasang di dalam pipa direntang di langit-langit
- Kabel fleksibel dipasang di panel kontrol dan instrumen
Konstruksi kabel
Kabel tanah
- Berinti satu atau banyak dan berkawat satu atau banyak
- Berisolasi, berperisai, berselubung untuk kabel TR
- Berisolasi, berperisai, berselubung, berpenghantar listrik untuk kabel
TM
Kabel instalasi
- Berinti satu atau banyak dan berkawat satu atau banyak
- Berisolasi
- Berisolasi dan berselubung
- Kabel fleksibel
- Berinti satu atau banyak dan berkawat banyak halus

Gambar 3.5 Kabel Inti Tunggal dan Inti Tiga

3.2.1.5

Travers / Cross Arm


33

Berfungsi untuk tempat pemasangan isolator. Beberapa konstruksi SUTM


di Jawa Tengah travers tidak diperlukan dikarenakan isolator langsung dipasang
pada tiang. Bahannya dari besi baja dilapisi galvanis berbentuk kanal U berukuran
10 x 5 x 5 cm dengan ketebalan 5 mm atau berbentuk persegi panjang berukuran
7,5 x 7,5 x 7,5 x 7,5 cm dengan , ketebalan 5 mm.
Berdasarkan besarnya sudut tarikan kawat ukuran panjangnya dibedakan menjadi
3 yaitu:

Panjang 1800 mm untuk sudut tarikan dari 00 s/d 180

Panjang 2662 mm untuk sudut tarikan dari 180 s/d 600

Panjang 2500 mm untuk sudut tarikan dari 600 s/d 900


Pemasangan travers pada tiang diikat dengan klem dan mur-baut, tetapi

pada tiang beton tidak diperlukan klem, karena baut langsung bisa menembus
tiang dan travers. Untuk menjaga agar travers tidak miring setelah dibebani
isolator dan kawat, maka dipasang konstruksi berupa besi penyangga atau berupa
plat simpul.
3.2.2 Material Pelengkap
a. Pengikat Konduktor Pada Isolator Tumpu
Ada dua cara pengikatan hantaran, yaitu menggunakan kawat pengikat
dari bahan sama dengan penghantarnya (binding wire) dan menggunakan
bahan yang sudah jadi (preformed) terbuat dari aluminized stee.

b. Kawat skur dan pengikatnya


Kawat skur juga disebut guy wire atau lebih umum disebut seling,
sedangkan pengikatnya disebut preform spiral grip bahannya dari kawat baja
galvanis. Preform spiral grip hanya boleh digunakan sekali saja, sebab bila
dibuka kembali perekatnya sudah kurang berfungsi.
c. Material Sambungan Penghantar
Joint Sleeve

: Berfungsi untuk menyambung kawat

Repair Sleeve

: Berfungsi untuk memperkuat kembali kawat yang


sebagian uratnya ada yang putus.

34

Parallel Groove Clamp

: Berfungsi untuk menyambung kawat tetapi tidak


ada beban tarikan, misalnya sambungan pada tiang
penegang, sambungan percabangan.

Taping Clamp

: Berfungsi untuk penyadapan dari saluran ke


peralatan listrik lainya

Joint dan repair sleeve pengencangannya dengan cara dipres edangkan


parallel groove clamp diikat dengan mur baut.
3.3 Gangguan Penyulang
Jaringan tenaga listrik yang terganggu harus dapat segera diketahui dan
dipisahkan dari bagian jaringan lainnya secepat mungkin dengan maksud agar
kerugian yang lebih besar dapat dihindarkan. Gangguan pada jaringan tenaga
listrik dapat terjadi diantaranya pada pembangkit, jaringan transmisi atau di
jaringan distribusi. Penyebab gangguan tersebut tersebut dapat diakibatkan oleh
gangguan sistem dan non sistem.
3.3.1
Gangguan Sistem
Gangguan sistem adalah gangguan yang terjadi di sistem tenaga listrik
seperti pada generator, trafo, SUTT, SKTT dan lain sebagainya. Gangguan sistem
dapat dikelompokkan sebagai gangguan permanen dan gangguan temporer.
Gangguan temporer adalah gangguan yang hilang dengan sendirinya bila PMT
terbuka, misalnya sambaran petir yang menyebabkan flash over pada isolator
SUTT. Pada keadaan ini PMT dapat segera dimasukan kembali, secara manual
atau otomatis dengan Auto Recloser. Gangguan permanen adalah gangguan yang
tidak hilang dengan sendirinya, sedangkan untuk pemulihan diperlukan perbaikan,
misalnya kawat SUTT putus.
Macam-macam faktor gangguan diantaranya:
Faktor Eksternal
Gangguan yang berasal dari alam misalnya karena binatang diantaranya gigitan

tikus pada kabel, burung, dll.


Faktor Internal
Gangguan dari peralatan itu sendiri misalnya faktor umur komponen peralatan

yang sudah tua.


Human Error
Gangguan yang disebabkan oleh kesalahan penanganan oleh manusia
(operator) seperti pentanahan (grounding) yang kurang baik.

35

3.3.2
Gangguan Non Sistem
PMT terbuka tidak selalu disebabkan oleh terjadinya gangguan pada
sistem, dapat saja PMT terbuka oleh karena relai yang bekerja sendiri atau kabel
kontrol yang terluka atau oleh sebab interferensi dan lain sebagainya. Gangguan
seperti ini disebut gangguan bukan pada sistem,selanjutnya disebut gangguan
nonsistem. Jenis gangguan non-sistem antara lain :
kerusakan komponen relai
kabel kontrol terhubung singkat
interferensi / induksi pada kabel kontrol.
3.3.3
Gangguan SUTM
Berdasarkan lama gangguan yang terjadi:
1. Gangguan Transient (temporer)
Merupakan gangguan yang hilang dengan sendirinya atau hanya
bersigat sementara.Misalnya ranting pohon yang basah membuat hubung
singkat antar fasa sementara kemudian ranting basah tersebut tertiup angin dan
jatuh maka jaringan normal kembali.
2. Gangguan Permanen
Merupakan
gangguan
yang

tidak

hilang

apabila

tidak

ditindaklanjuti.Misalnya tumbangnya pohon akibat hujan angin dan mengenai


kawat 3 fasa 1 gawang. Apabila hal tersebut tidak ditindaklanjuti maka akan
terjadi pemadaman yang lama.
Gangguan yang sering terjadi pada jaringan tegangan menengah yaitu
gangguan hubung singkat.Gangguan hubung singkat yang terjadi pada sistem
tenaga listrik dapat diakibatkan oleh dua macam gangguan hubung singkat
yaitu gangguan hubung singkat ismetri dan gangguan hubung singkat tidak
simetri.
Gangguan hubung singkat simetri terjadi karena akibat yang dirasakan
fasa sama, baik gangguan hubung singkat 3 fasa (L-L-L) maupun gangguan
hubung singkat 3 fasa ke tanah (L-L-L-G), disebut gangguan simetri karena
apabila terjadi gangguan ini system tenaga listrik tetap seimbang.
Sedangkan gangguan hubung singkat tidak simetri antara lain gangguan
hubung singkat 1 fasake tanah (L-G), hubung singkat antar fasa (L-L), maupun
hubung singkat anttar fasa ke tanah (L-L-G). Gangguan tidak simetri ini
mengakibatkan system tenaga listrik menjadi tidak seimbang.
Tabel 3.7 Frekuensi gangguan yang terjadi pada saluran udara

36

Sumber: (Gonen 1988 : 545)

Gambar 3.6 a. hubung singkat 3 fasa ke tanah, b. hubung singkat antar fasa,
c. hubung singkat 2 fasa ke tanah, d. hubung singkat 1 fasa ke tanah.

Dengan adanya gangguan seperti sambaran petir yang mengenai jaringan,


ranting pohon yang menempel pada kabel jaringan dan benang layang-layang
yang menempel atau melilit kabel jaringan maka akan berdampak terjadinya halhal sebagai berikut.
a. Beban lebih
Pada saat terjadi gangguan maka sistem akan mengalami keadaan
kelebihan beban karena arus gangguan yang masuk ke sistem dan
mengakibatkan sistem menjadi tidak normal, jika dibiarkan berlangsung dapat
membahayakan peralatan sistem.
b. Hubung singkat
Pada saat hubung singkat akan menyebabkan gangguan yang bersifat
temporer maupun yang bersifat permanen. Gangguan permanen dapat terjadi
pada hubung singkat 3 phasa, 2 phasa ke tanah, hubung singkat antar phasa
maupun hubung singkat 1 phasa ke tanah. Sedangkan gangguan tempore terjadi
karena flash over antar penghantar dan tanah, antara penghantar dan tiang,
antara penghantar dan kawat tanah, dan lain-lain.
c. Tegangan lebih
37

Tegangan lebih dengan frekuensi daya, yaitu peristiwa kehilangan atau


penurunan beban karena switching, gangguan AVR, over speed karena
kehilangan beban.Selain itu, tegangan lebih terjadi akibat tegangan lebih
transient surya petir dan surya hubung / switching.
d. Hilangnya sumber tenaga
Hilangnya pembangkit biasanya diakibatkan oleh gangguan di unit
pembangkit, gangguan hubung singkat jaringan rele dan CB bekerja dan
jaringan terputus dari pembangkit.
3.3.4

Faktor Penyebab gangguan Jaringan Tegangan Menengah

Gangguan yang terjadi pada penyulang-penyulang tegangan menengah


hingga mengakibatkan PMT atau Recloser trip disebabkan oleh beberapa hal,
diantaranya oleh alam, pohon, peralatan, komponen, dan binatang.
a. Gangguan yang Disebabkan Oleh Alam
Gangguan yang disebabkan oleh alam terjadi karena buruknya cuaca
ataupun peristiwa alam seperti angin, hujan, petir, banjir dll. Angin yang
kencang dapat menyebabkan pohon bergoyang hingga bagian rantingnya
menyentuh penghantar. Saat ranting atau dahan pohon menyentuh penghantar,
terlebih jika pohon tersebut lembab, maka pohon tersebut akan bersifat
konduktif sehingga akan menghantarkan arus dari penghantar ke tanah
(ground). Hal ini akan menyebabkan gangguan berupa hubung singkat satu
fasa ke tanah. Gangguan yang disebabkan oleh pohon biasanya dialami oleh
jaringan yang letaknya di daerah hutan atau perkebunan, dimana terdapat
banyak pohon yang tinggi. Kejadian alam lain yang menjadi penyebab
terjadinya gangguan adalah sambaran petir. Karena sebagian besar jaringan
tegangan menengah menggunakan Saluran Udara Tegangan Menengah
(SUTM), dimana letak jaringan berada di lingkungan terbuka, maka rawan
akan sambaran petir. Jika terjadi sambaran atau surja petir, maka jaringan yang
dekat dengan petir tersebut akan teraliri arus yang sangat besar akibat induksi
dari petir. Arus yang sangat besar ini akan membuat Recloser atau PMT trip
karena telah melebihi arus setting-nya
b. Gangguan yang Disebabkan Oleh Pohon
Pohon juga menjadi salah satu

penyebab terjadinya gangguan.

Gangguan yang disebabkan oleh pohon terjadi karena pohon yang tumbang dan

38

menimpa jaring sehingga satu bagian pohon menempel pada bagian yang
bertegangan (penghantar) dan satu bagian lagi menempel di tanah (ground).Hal
yang demikian lah yang menyebabkan gangguan hubung singkat fasa ke tanah.

Gambar 3.7 Pohon Mengenai Jaringan

Oleh karena itu, sangat perlu mengetahui pohon-pohon yang tumbuh


dijalur jaringan.Dengan mengetahui pohon-pohon yang tumbuh di sekitar
jaringan, maka dapat dilakukan yang langkah lebih lanjut untuk mencegah
terjadinya gangguan akibat potensi dari pohon tersebut. Untuk mengetahui
jenis pohon apa saja yang tumbuh di sekitar jarngan, maka perlu dilakukan
pemetaan pohon.
c. Gangguan yang Disebabkan Oleh Peralatan JTM
Yang dimaksud dengan peralatan JTM dapat menyebabkan gangguan
pada jaringan adalah rusaknya peralatan JTM seperti FCO, arrester, dan
peralatan lain yang kerusakannya dapat menyebabkan PMT atau Recloser trip.
Saat terjadi gangguan di depan FCO, maka fuselink harus putus
sehingga membuka FCO. Karena arus gangguan yang terlalu besar, dan
dimungkinkan karena kualitas FCO yang kurang baik sehingga tidak dapat
menghilangkan arus gangguan, maka setelah FCO putus, arus gangguan yang
tersisa menuju ke Recloser atau PMT dan membuat trip.
Selain itu, bisa juga karena arus gangguan yang terlalu besar atau
kualitas FCO yang kurang baik, saat FCO dialiri arus gangguan, maka tidak
hanya FCO yang putus, arus gangguan tersebut juga mengakibatkan FCO rusak
secara konstruktif. Artinya, konstruksi dari FCO itu, isolatornya misalnya,
pecah.Pecahnya isolator ini membuat bagian atas isolator FCO yang
menyambung ke JTM menempel dan menyentuh crossarm atau bisa saja
menyentuh tiang dan berakibat hubung singkat fasa ke tanah.
39

d. Gangguan yang Disebabkan Oleh Komponen JTM


Yang dimaksud dengan komponen JTM dapat menyebabkan gangguan
antara lain seperti putusnya penghantar, penghantar jeprak/ngepral, isolator
pecah, dan jumper putus.
Jika penghantar salah satu fasa putus kemudian mengenai tanah akan
mengakibatkan hubung singkat fasa ke tanah.
Sedangkan jika ada penghantar jeprak/ngepral, maka bagian yang
jeprak tersebut akan berpotensi menimbulkan gangguan. Karena bagian
penghantar yang jeprak akan menyentuh penghantar lain sehingga terjadi
gangguan hubung singkat antarfasa.
Isolator pecah juga berpotensi menimbulkan gangguan. Karena isolator
yang pecah akan mengurangi sifat isolasinya. Pada suatu saat terjadi hujan
deras, karena keadaan isolator yang sudah tidak baik lagi, isolator pecah dan
lembab karena hujan, maka akan mudah sekali menimbulkan flashover.
Flashover ini akan merembet melalui isolator lalu ke crossarm sehingga
menyebabkan hubung singkat satu fasa ke tanah.

Gambar 3.8 Isolator retak dan Noda Hitam Bekas Flashover

Komponen JTM lain yang menyebabkan gangguan adalah jumper yang


putus. Jumper yang putus mengakibatkan gangguan hubung singkat antarfasa
(jika putusnya jumper lalu terkena penghantar fasa lain) atau hubung singkat
fasa ke tanah (jika putusnya jumper kemudian mengenai crossarm).

40

Gambar 3.9 Jumper Rantas

e. Gangguan yang Disebabkan Oleh Binatang


Binatang

juga

menjadi

salah

satu

penyebab

terjadinya

gangguan.Gangguan yang disebabkan oleh binatang ini biasanya dialami oleh


jaringan di lingkungan hutan atau perkebunan dimana terdapat banyak hewan
yang berkeliaran.
Misal, terdapat ular di sekitar jaringan. Jika ular yang berhasil naik
menuju ke jaringan dan salah satu bagian ular menyentuh penghantar fasa
sementara satu bagian yang lain menempel pada crossarm, maka pada suatu
hal tertentu sangat dimungkinkan ular ini bersifat konduktif sehingga akan
mengalirkan arus listrik dari penghantar fasa ke crossarm. Akibatnya, terjadi
hubung singkat fasa ke tanah.Sementara jika ular menempel di dua penghantar
fasanya, maka sangat berpotensi terjadi hubung singkat antar fasa.Tentu saja
tidak hanya ular, melainkan hewan-hewan lain pun juga berpotensi menjadi
penyebab gangguan pada jaringan distribusi.

Gambar 3.10 Burung Mengenai Jaringan

f. Penyebab Lain Terjadinya Gangguan


Selain kelima poin di atas, masih banyak penyebab lain yang
mengakibatkan terjadinya gangguan pada jaringan distribusi, yaitu layanglayang, orang menebang pohon, dan lain-lain.

41

Layang-layang yang menyangkut pada jaringan sangat berpotensi


menimbulkan gangguan. Hal ini terjadi karena layang-layang yang
menyangkut di jaringan, benang layang-layangnya menempel di kedua atau
ketiga penghantarnya. Jika terjadi hujan, dan benang layang-layangnya basah,
maka benang layang-layang tersebut akan bersifat konduktif dan menyebabkan
ganggguan.

Gambar 3.11 Layang-layang mengenai jaringan

3.4 Pemeliharaan Sistem Distribusi


Pemeliharaan merupakan suatu pekerjaan yang dimaksudkan untuk
mendapatkan jaminan bahwa suatu sistem/peralatan akan berfungsi secara
optimal, umur teknisnya meningkat dan aman baik bagi personil maupun bagi
masyarakat umum. Sesuai dengan Surat Edaran Direksi PT. PLN (Persero),
maksud diadakannya pelaksanaan kegiatan pemeliharan jaringan distribusi antara
lain adalah :
1. Menjaga agar peralatan / komponen dapat dioperasikan secara optimal
berdasarkan spesifikasinya sehingga sesuai dengan umur ekonomisnya.
2. Menjamin bahwa jaringan tetap berfungsi dengan baik untuk menyalurkan
energi listrik dari pusat listrik sampai ke sisi pelanggan.
3. Menjamin bahwa energi listrik yang diterima pelanggan selalu berada pada
tingkat keandalan dan mutu yang baik.
4. Mendapatkan jaminan bahwa sistem/peralatan distribusi aman baik bagi
personil maupun bagi masyarakat umum.
5. Untuk mendapatkan efektivitas yang maksimum dengan memperkecil waktu
tak jalan peralatan sehingga ongkos operasi yang menyertai diperkecil.
6. Menjaga kondisi peralatan atau sistem dengan baik, sehingga kualitas
produksi atau kualitas kerja dapat dipertahankan.
42

7. Mempertahankan nilai atau harga diri peralatan atau sistem, dengan


mencegah timbulnya kerusakan-kerusakan.
8. Untuk menjamin keselamatan bagi karyawan yang sedang bekerja dan
seluruh peralatan dari kemungkinan adanya bahaya akibat kerusakan dan
kegagalan suatu alat.
9. Untuk mempertahankan seluruh peralatan dengan efisiensi yang maksimum.
10. Tujuan akhirnya yaitu untuk mendapatkan suatu kombinasi yang ekonomis
antar berbagai faktor biaya dengan hasil kerja yang optimum.
Untuk melaksanakan pemeliharaan yang baik perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
a. Sistem harus direncanakan dengan baik dan benar memakai bahan/peralatan
yang berkualitas baik sesuai standar yang berlaku
b. Sistem distribusi yang baru dibangun harus diperiksa secara teliti, apabila
terdapat kerusakan kecil segera diperbaiki pada saat itu juga
c. Staf/petugas pemeliharaan harus terlatih dengan baik dan dengan jumlah
petugas yang cukup memadai
d. Mempunyai peralatan kerja yang cukup memadai untuk melaksanakan
pemeliharaan dalam keadaan bertegangan maupun tidak bertegangan.
e. Mempunyai buku/brosur peralatan pabrik pembuat peralatan tersebut dan
harus diberikan kepada petugas terutama pada saat pelaksanaan pemeliharaan
f. Gambar (peta) dan catatan pelaksanaan pemeliharaan dibuat dan dipelihara
untuk bahan pada pekerjaan pemeliharaan berikutnya
g. Jadwal yang telah dibuat sebaiknya dibahas ulang untuk melihat
kemungkinan penyempurnaan dalam pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan
h. Harus diamati tindakan pengamanan dan pelaksanaan pemeliharaan, serta
menggunakan perlatan keselamatan kerja yang baik dan benar
3.4.1 Jenis Pemeliharaan Sistem Distribusi
1 Berdasarkan waktu pelaksanaannya
- Pemeliharaan terencana (planned maintenance)
Dalam pelaksanaannya, pemeliharaan rutin ini terdiri dari dua
kategori pekerjaan, yaitu:
a. Pemeliharaan servis, pemeliharaan dengan jangka waktu pendek
meliputipekerjaan ringan kecil Contoh: membersihkan ROW jaringan
b. Pemeliharaan inspeksi, pemeliharaan jangka waktu panjang meliputi
pekerjaan penyetelan, perbaikan, dan penggantian peralatan dan
-

bagian-bagian dari sistem distribusi


Pemeliharaan tidak terencana (unplanned maintenance)
Pemeliharaan yang dilakukan langsung karena terjadinya gangguan

43

dari peralatan.
Berdasarkan metodanya
- Pemeliharaan berdasarkan waktu (time base maintenance)
- Pemeliharaan berdasarkan kondisi (on condition base maintenance)
- Pemeliharaan darurat/khusus (breakdown maintenance)
Bila macam-macam pemeliharaan tersebut digabungkan, maka pemeliharaan

dapat dibedakan menjadi:


a) Pemeliharaan Rutin
Disebut juga dengan pemeliharaan preventif, yaitu pemeliharaan yang
terencana berdasarkan waktu yang terjadwal untuk mencegah terjadinya
kerusakan peralatan yang lebih parah dan untuk mempertahankan unjuk kerja
jaringan agar tetap beroperasi dengan keandalan dan efisiensi yang tinggi.
Kegiatan pemeliharaan rutin meliputi:
Pemeriksaan/inspeksi rutin
Pemeriksaan prediktif
Perbaikan/pergantian peralatan
Perubahan/penyempurnaan jaringan
b) Pemeliharaan Korektif
Pemeliharaan korektif merupakan pemeliharaan yang terencana
dikarenakan faktor waktu dimana peralatan memerlukan perbaikan atau
pemeliharaan yang tidak terencana tetapi berdasarkan kondisi peralatan yang
menunjukkan gejala kerusakan ataupun sudah terjadi kerusakan semula dan
perbaikan untuk penyempurnaan, yaitu usaha untuk meningkatkan /
menyempurnakan jaringan dengan cara mengganti/mengubah jaringan agar
dicapai daya guna atau keandalan yang lebih baik dengan tidak mengubah

kapasitas semula
Contoh perbaikan kerusakan:
Penggantian trafo
Penggantian fuse-link pada FCO
Penggantian terminasi kabel trafo
Contoh perbaikan untuk penyempurnaan:

Rehabilitasi gardu distribusi


Penggantian konektor LLC menjadi CCO
c) Pemeliharaan Darurat
Pemeliharaan ini sifatnya mendadak, tidak terencana akibat gangguan
atau kerusakan sehingga perlu dilakukan pemeriksaan/ pengecekan perbaikan
maupun

penggantian

peralatan,

tetapi

masih

dalamn

kurun

waktu

pemeliharaan.
44

Contoh pemeliharaan darurat:


Perbaikan/penggantian instalasi gardu yang rusak akibat kebakaran
Perbaikan/penggantian instalasi gardu yang rusak akibat kebanjiran
Perbaikan/penggantian instalasi gardu yang rusak akibat huru-hara
3.5 Inspeksi Jaringan
Inspeksi merupakan suatu pekerjaan yang dimaksudkan untuk mendapatkan
suatu data dari sistem/peralatan jaringan distribusi yang dipakai sebagai bahan
perencanaan pemeliharaan dan perencanaan anggaran jaringan distribusi.
3.5.1 Tujuan Inspeksi Jaringan
Inspeksi jaringan bertujuan untuk:
1 Mengetahui secara dini kerusakan-kerusakan atau gejala kerusakan di jaringan
yang akan mengganggu kelangsungan pelayanan, membahayakan masyarakat
2

dan operator
Mengetahui adanya kelainan-kelainan di luar standar, yang terjadi di pelanggan
(seperti tegangan terlalu rendah, seringnya terjadi kedip) ataupun pada jaringan

PLN
Meneliti sebab-sebab terjadinya hal-hal seperti disebut dalam butir 1 dan 2 di
atas dan usulan perbaikannya
3.5.2 Metode Inspeksi Jaringan
Metode yang dilakukan dalam inspeksi jaringan di PT. PLN (Persero) Rayon

Semarang Timur adalah :


1 Metode Fisik
Metode ini melihat material secara bentuk fisik secara langsung,
menggunakan alat bantu teropong maupun kamera yang dapat memperbesar
2

visualisasi komponen maupun peralatan.


Metode Infrared
Metode ini menggunakan temperature

pada

material.

Cara

menggunakannya dengan cara material tersebut difoto setelah itu akan muncul
pada monitor. Material yangtidak normal bersuhu diatas 40.

Gambar 3.12 Thermovision Rise Pole

45

3.5.3 Klasifikasi Inspeksi Jaringan


Oleh karena luas dan kompleksnya keadaan jaringan distribusi dan
peralatan distribusi yang perlu diinspeksi, maka guna untuk mendukung
pemeliharaan tsb, inspeksi ini dapat dikelompokan menjadi :
a.

Inspeksi rutin (Preventive Inspection).

b.

Inspeksi korektif (Corrective Inspection).

c.

Inspeksi darurat (Emergency Inspection)

1. Inspeksi rutin
Jenis inspeksi yang direncanakan terus menerus secara peri-odik,
merupakan inspeksi rutin dan ini suatu usaha atau kegiat-an yang dimaksudkan
untuk mempertahankan kondisi sistem agar dalam keadaan baik dan daya guna
yang optimal.
Dalam prakteknya kegiatan inspeksi rutin dikelompokan dalam dua jenis
inspeksi yaitu :
-

Inspeksi rutin
Inspeksi rutin adalah pekerjaan pemeriksaan yang di-laksanakan
dengan cara pemeriksaan secara visual yang di-ikuti dengan pelaksanaan
pekerjaan pemeliharaan yang sesuai dengan saran saran (rekomondasi)
dari hasil inspeksi.Adapun hasil yang diharapkan dari pekerjaan inspeksi
rutin ini adalah dapat ditemukannya kelainan kelainan yang di-kawatirkan
dapat menyebabkan terjadinya gangguan se-belum periode inspeksi rutin

berikutnya diselenggarakan.
Inspeksi rutin sistematis
Inspeksi sistematis adalah pekerjaan pemeriksaan yang dimaksud
untuk menemukan kerusakan atau gejala kerusa-kan yang tidak ditemukan
pada waktu pelaksanaan inspeksi rutin yang kemudian disusun saran
saran untuk perbaikan. Pekerjaan dalam kegiatan pemeriksaan rutin
sistematis akan lebih luas jangkauanya dan akan lebih teliti, bisa sampai

bongkar pasang jaringan.


2. Inspeksi korektif
Inspeksi korektif (corrective Inspection) merupakan suatu pekerjaan
pemeriksaan yang dimaksudkan untuk memeriksa kerusakan atau untuk
mengadakan perubahan / penyempurnaan.Pemeriksaan kerusakan dalam hal ini

46

dimaksudkan suatu usaha untuk memeriksa kondisi sistem atau peralatan yang
mengalami gangguan / kerusakan sampai dalam keadaan semula.
Pekerjaan pekerjaan yang termasuk inspeksi korektif diantara-nya adalah
-

Pemeriksaan mof kabel atau sambungan kabel yang rusak.

Pemeriksaan JTM yang putus.

Pemeriksaan bushing trafo yang rusak.

Pemeriksaan tiang yang tertabrak / patah, dsb.

3. Inspeksi Darurat
Inspeksi darurat adalah pekerjaan pemeriksaan yang dimaksud-kan
untuk perbaikan kerusakan yang disebabkan oleh bencana alam seperti gempa
bumi banjir, angin ribut dan sebagainya yang sifatnya mendadak dan perlu
segera dilaksanakan pekerjaan dan tidak direncanakan.
3.5.4 Jadwal Inspeksi Jaringan
Salah satu usaha untuk meningkatkan mutu, daya guna dan keandalan
tenaga listrik yang telah tercantum dalam tujuan inspeksi adalah untuk
mendukung program pemeliharaan periodik dengan jadual tertentu.
Menurut siklusnya kegiatan pelaksanaan inspeksi distribusi dikelompokan
menjadi 4 (empat) kelompok yaitu:
A.

Inspeksi triwulanan.
Inspeksi Semesteran.
Inspeksi Tahunan.
Inspeksi 3 (tiga) tahunan.
Inspeksi triwulanan.
Inspeksi triwulanan atau tiga bulanan adalah suatu kegiatan dilapangan
yang dilaksanakan dalam waktu tiga bulan sekali dengan maksud untuk
mengadakan pemeriksaan kondisi sistem.
Dengan harapan langkah langkah yang harus dilaksanakan untuk
perbaikan peralatan sistem yang terganggu dapat ditentukan lebih awal,
sehingga kemungkinan terjadinya gangguan pada sistem tersebut dapat ditekan
sekecil mungkin atau ditiadakan.Dengan adanya keterbatasan dana untuk
program pemeliharaan, kegiatan pemeliharaan triwulanan ini biasanya dibatasi
untuk pemeliharaan sistem pada bagian bagian yang terpenting dan yang
rawan gangguan yang diantaranya adalah pada SUTM.

47

Dimana SUTM ini merupakan bagian sistem distribusi yang diperkirakan


paling rawan terhadap gangguan external yang diantaranya disebabkan oleh
pepohonan, benang layang layang yang mengenai jaringan tsb.
Salah satu usaha untuk meningkatkan keandalan dari SUTM adalah
melaksanakan pemeliharaan secara baik dan benar.
Kegiatan yang perlu dilakukan dalam inspeksi ini adalah :
-

Mengadakan inspeksi terhadap SUTM dimana SUTM mempunyai jarak

aman tertentu sesuai dengan peraturan yang diijinkan.


Mengadakan evaluasi terhadap hasil inspeksi yang telah dilaksanakan dan

segera mengadakan tindakan lebih lanjut.


B. Inspeksi Semesteran.
Inspeksi semesteran atau enam bulanan adalah suatu kegiatan yang
dilakukan di lapangan dengan maksud untuk mengetahui sedini mungkin
keadaan beban jaringan dan tegangan pada ujung jaringan suatu penyulang TR
(Tegangan Rendah).Dimana Inspeksi semesteran atau enam bulanan adalah
suatu kegiatan yang dilakukan di lapangan dengan maksud untuk mengetahui
sedini mungkin keadaan beban jaringan dan regulasi tegangan yang diijinkan
oleh PLN, pada saat ini adalah + 5 % dan 10 % pada sisi penerima dari
tegangan nominal.
Perbandingan beban untuk setiap phasa pada setiap penyulang TR tidak
kurang dari 90% : 100 % : 110 %, dimana hal ini untuk menjaga adanya
kemencengan tegangan yang terlalu besar pada saat terjadi gangguan putusnya
kawat netral (Nol) jaringan.
Kegiatan yang perlu dilakukan dalam pemeriksaan adalah :
-

Melaksanakan pengukuran beban (Cek Arusnya).


Melaksanakan pengukuran tegangan ujung (Cek teg diujung jaringan).
Mengevaluasi hasil pengukuran dan mengadakan tindak lanjut.

C. Inspeksi Tahunan.
Inspeksi tahunan merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk
mengadakan pemeriksaan peralatan sistem distribusi.
Kegiatan inspeksi tahunan ini biasanya dilaksanakan menurut tingkat
prioritas tertentu.Pekerjaan ini sifatnya untuk menunjang operasi secara
langsung atau dapat mengurangi adanya gangguan operasi sistem.

48

Pada prakteknya inspeksi tahunan dapat dilaksanakan dalam 2 (dua)


keadaan yaitu :
- Inspeksi tahunan keadaan bertegangan.
- Inspeksi tahunan keadaan bebas tegangan.
1. Inspeksi tahunan keadaan bertegangan.
Pekerjaan yang perlu dilakukan untuk inspeksi tahunan keadaan
bertegangan adalah mengadakan pemeriksaan secara visual dengan maksud
untuk menemukan hal hal yang mengka-watirkan (dicurigai)

dapat

menyebabkan gangguan pada operasi sistem, sebelum periode inspeksi


berikutnya dilakukan lagi.
Inspeksi semacam ini pada pelaksanaanya menggunakan chek list
untuk memudahkan para petugas memeriksa dan mendata hal hal yang
perlu diperhatikan .
2. Inspeksi tahunan keadaan bebas tegangan.
Pekerjaan inspeksi tahunan ini pada keadaan bebas tegangan adalah:
-

Pemeriksaan (GD, JTM, JTR, SR, fuse link, HRC fuse, dll).
Pengetesan / percobaan ( Proteksi, PS, lampu penerangan, peralatan
bantu dll).

3.5.5 Jarak Aman (Safety Distance)


Jarak aman adalah jarak antara bagian aktif/fase dari jaringan terhadap
benda-benda disekelilingnya baik secara mekanis atau elektromagnetis yang tidak
memberikan pengaruh membahayakan. Secara rinci Jarak aman jaringan terhadap
bangunan lain dapat dilihat pada Tabel 3.6 .
Khusus terhadap jaringan telekomunikasi, jarak aman minimal adalah 1 m
baik vertikal atau horizontal. Bila dibawah JTM terdapat JTR, jarak minimal
antara JTM dengan kabel JTR dibawahnya minimal 120 cm.
Tabel 3.6 Jarak aman SUTM
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Uraian
Terhadap permukaan jalan raya
Balkon rumah
Atap rumah
Dinding Bangunan
Antena TV/radio, menara
Pohon
Lintasan kereta api
Underbult TM - TM
Underbult TM - TR

Jarak Aman
6 meter
2,5 meter
2 meter
2 meter
2,5 meter
2,5 meter
2,5 meter dari atap kereta
1 meter
1 meter

49

Jarak gawang pemasangan penghantar udara :


1. Untuk daerah diluar pemukiman (JTM murni, atau dengan JTR Semi
Underbuild, atau SKUTM ), berjarak 60 80 m, andongan maksimum 1.00 m
2. Untuk daerah pemukiman (JTM murni, atau dengan JTR Underbuilad, atau
SKUTM), berjarak antara 35 50 m, andongan maksimum 1.00 m.

50