Anda di halaman 1dari 18

PEDOMAN PROGRAM KUSTA

PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI

DINAS KESEHATAN DAERAH

PUSKESMAS WONGSOREJO
Jalan Raya Situbondo No. 04 WONGSOREJO
BANYUWANGI Telp. 0333 461486

KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirohim
Assalamualaikum WR.WB

Segala puji bagi Allah SWT , Pedoman kegiatan Program Kusta Puskesmas Wongsorejo Kecamatan
Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi telah selesai disusun.
Pedoman ini dibuat untuk melaksanakan kegiatan program Kusta di Puskesmas Wongsorejo sebagai
unit penyelenggara pelayanan publik.
Selain itu, penyusunan pedoman ini bertujuan untuk memberikan petunjuk cara pelaksanaan program
Kusta di Puskesmas Wongsorejo bagi seluruh staf Puskesmas Wongsorejo.
Semoga panduan ini dapat bermanfaat bagi pengguna layanan Puskesmas Wongsorejo dan pihak
pihak lain yang berkepentingan.

Wassalam
Kepala UPT Puskesmas Wongsorejo

Ns.H.M.SHADIQ S.Kep,MM.Kes
NIP 19641110 198502 1 002

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan
C. sasaran
D. Ruang Lingkup Pedoman
E. Batasan Operasional

BAB II STANDART KETENAGAAN


A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
B. Distribusi ketenagaan
C. Jadwal Kegiatan
BAB III STANDART FASILITAS
A. Denah Ruang
B .Standart Fasilitas
BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN
A. Lingkup Kegiatan
B. Metode
C. Langkah Kegiatan
BAB V LOGISTIK
BAB VI KESELAMATAN SASARAN
BAB VII KESELAMATAN KERJA
BAB VIII PENGENDALIAN MUTU
BAB IX PENUTUP

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit Kusta merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh
kuman Mycobacterium leprae.Kusta dapat menimbulkan masalah yang sangat
kompleks.Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai
masalah sosial,ekonomi,budaya,keamanan dan ketahanan nasional.
Penyakit Kusta pada umumnya terdapat di negara negara yang sedang
berkembang,sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam
memberikan pelayanan yang memadai dalam bidang kesehatan,pendidikan dan
kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat.
Penyakit Kusta sampai saat ini masih ditakuti masyarakat,hal ini disebabkan
masih kurangnya pengetahuan / pengertian,kepercayaan yang keliu terhadap Kusta
dan cacat yang ditimbulkannya.

Dengan kemajuan tekhnologi dibidang promotif,pencegahan,pengobatan serta


pemulihan kesehatan dibidang penyakit Kusta,maka penyakit kuta sudah dapat diatasi
dan seharusnya tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.Akan tetapi
mengingat kompleksnya

masalah penyakit Kusta,maka diperlukan program

pengendalian secara terpadu dan menyeluruh melalui strategi yang sesuai dengan
endemisitas penyakit Kusta.Selain itu juga harus diperhatikan rehabilitasi medis &
rehabilitasi sosial ekonomi untuk meningkatkan kualitas hidup penderita dan mantan
penderita Kusta.
B. Tujuan
1) TUJUAN JANGKA PANJANG
a. Menurunkan transmisi penyakit Kusta pada tingkat tertentu sehingga Kusta tidak
menjadi masalah kesehatan masyarakat.
b. Mencegah kecacatan pada semua penderita barunyang ditemukan melalui pengobatan
dan perawatan yang benar.
c. Menghilangkan stigma sosial dalam masyarakat dengan mengubah pemahaman
masyarakat terhadap penyakit Kusta melalui penyuluhan secara intensif.
2) TUJUAN JANGKA PENDEK
a. Mengintensifkan penemuan dan diagnosis penderita didaerah endemik tinggi dan
kantong kantong Kusta di daerah endemik rendah.
b. Mengembangkan puskesmas dengan perawatan cacat yang adekuat dengan dukungan
sistem rujukan ke Rumah Sakit Umum & Rumah sakit Khusus untuk penderita yang
mengalami komplikasi dan membutuhkan rehabilitasi medis.
c. Melaksanakan pengelolaan program pengendalian Kusta dengan srategi pengendalian
Kusta sesuai endimisitas daerah dan didukung dengan kegiatan kegiatan
penunjangnya.
d. Menurunkan proporsi anak dan kecacatan tingkat 2 diantara penderita baru menjadi
kurang dari 5 %.
e. Memberikan pengobatan yang adekuat sehingga tercapai angka kesembuhan (RFT
Rate) lebih dari 90 %.
f. Menurunkan proporsi penderita cacat pada mata,tangan,kaki setelah RFT kurang dari
5 %.
Memberikan perawatan dan pelayanan rehabilitasi yang tepat kepada penyandang cacat
Kusta.
C. Sasaran
- Petugas Kusta
- Petugas poli atau dokter yang berkaitan dengan program Kusta

D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pelayanan Kusta adalah pelayanan di dalam gedung dan luar gedung.
Pelaksanaan pelayanan Kusta di jaringan Puskesmas Wongsorejo di sesuaikan dengan
sarana prasarana dan tenaga yang tersedia .Pelayanan Kusta di Puskesmas
Wongsorejo meliput ikegiatan yang dimulai dari pemeriksaan rasa raba sampai
dengan pemberian obat MDT sesuai dengan tipe penyakitnya.

E. Batasan Operasional
1) PENEMUAN PENDERITA SECARA PASIF
Penderita datang ke puskesmas atas kemauan sendiri atau saran orang lain.
2) PENEMUAN PENDERITA SECARA AKTIF
Dilaksanakan melalui :
a. Pemeriksaan kontak, meliputi:
Penemuan penderita baru di keluarga penderita
Kontak intensif dilakukan pada penderita yang dalam pengobatan
Penderita yang sudah RFT dan jika ada penderita baru.
b. School survey ( anak sekolah,masyarakat )
Penemuan penderita baru di sekolah, pada murid SD/MI kelas 1 baru.

BAB II
STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Pengelola program Kusta petugas yang telah mendapat pelatihan program Kusta.
Petugas pelaksana adalah petugas pelaksana yang telah memenuhi standar kualifikasi
sebagai tenaga pelaksana dan telah mendapat pelatihan sesuai dengan tugasnya.
No
1

Jenis

Kompetensi

KompetensiTambahan

Jumlah

Ketenagaan
Fungsional

( Ijazah)
S1

( Pelatihan )
Pelatihan BCLS

Keperawatan

Pelatihan Kusta

Perawat

Pelatihan pengobatan
rasional

B. Distribusi Ketenagaan
Petugas program Kusta 1 orang dengan standart minimal sudah melakukan pelatihan
tentang program Kusta.
C. Jadwal Kegiatan
- School Survey : dilakukan setiap 1x setahun
- Kontak Intensif : dilakukan setiap 1x setahun ,atau bila ada penderita Kusta
baru
- Penyuluhan Kusta : dilakukan setiap 2x setahun

BAB III
STANDAR FASILITAS
A. DENAH RUANG
Poli P2 Kusta di gedung puskesmas Wongsorejo, dan hanya terdiri dari 1 ruangan dimana
ruang pemeriksaan dan pengobatan menjadi satu. Tidak ada tempat tidur pasien.
Peralatan poli p2 Kusta adalah sejumlah alat pemeriksaan yang dipergunakan untuk
melaksanakan pelayanan di poli p2 Kusta.
B.Standart Fasilitas
a.Alat di p2 Kusta

1. Tensi meter
2. Stetoskop
3. Termometer
4. Timbangan Badan
b. Bahan Habis Pakai
1. Kapas
2. Handscoon
3. Masker
c. Perlengkapan
1. Tempat sampah medis yang dilengkapi dengan injakan pembuka dan penutup
2. Tempat sampah non medis tertutup
d. Mebeler
1. Kursi kerja
2. Lemari arsip
3. Meja tulis 1/2 biro
e. Pencatatan dan Pelaporan
1. Buku register pelayanan
2. Status penderita
3. Kartu monitoring
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN
A. Lingkup Kegiatan
1 Promosi Kusta
2 Pencegahan Kusta
3 Penemuan pasien Kusta
4 Pengobatan pasien Kusta
B. Metode
I.

DIAGNOSIS
Untuk menetapkan diagnosis penyakit Kusta perlu dicara tanda utama ( Cardinal
Sign ), yaitu :
a. Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa.
b. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf,akibat dari
peradangan kronis saraf tepi (neuritis perifer),gangguan fungsi bisa berupa :
1. Gangguan Fungsi sensoris : mati rasa

2. Gangguan fungsi motoris : kelemahan otot (parese) atau kelumpuruhan


(paralise)
3. Gangguan fungsi otonom.
c. Adanya Bakteri Tahan Asam (BTA) didalam kerokan jaringan kulit.
Seseorang dinyatakan sebagai penderita Kusta bilamana terdapat satu dari
tanda tanda utama diatas.
II. KLASIFIKASI
Dibagi menjadi 2 Tipe :
a) Paucibacillary (PB)
b) Multibacillary (MB)

TANDA UTAMA

PB

MB

Bercak Kusta

Jumlah 1 s/d 5

Jumlah > 5

Penebalan saraf tepi yang

Hanya satu saraf

Lebih dari satu saraf

BTA Negatif

BTA positif

disertai gangguan fungsi


( Gangguan fungsi bisa berupa
kurang / mati rasa atau kelemahan
otot yang dipersarafi oleh saraf
yang bersangkutan
Sediaan Apusan

III.

PEMERIKSAAN KLINIS

Untuk memeriksa seseorang yang dicurigai Kusta harus dilakukan :


1. Anamnesa
Pada anamnesa ditanyakan secara lengkap mengenai riwayat penyakitnya :
a) Kapan timbul bercak / keluhan yang ada?
b) Apakah ada anggota keluarga yang mempunyai keluhan yang sama (apakah ada
riwayat kontak) ?
c) Riwayat pengobatan sebelumnya ?
2. Pemeriksaan Fisik
a) Pemeriksaan Pandang
Perhatikan adakah bercak atau lesi di kulit,kelainan dan cacat pada tangan atau
kaki.
b) Pemeriksaan rasa raba

Gunakan sebuah kapas yang dilancipkan untuk memeriksa rasa rasa.Untuk


memeriksa anastesi pada telapak tangan dan kaki kurang tepat bila diperiksa
dengan kapas,gunakan bolpoint.
c) Pemeriksaan saraf
Raba dengan teliti saraf tepi berikut : saraf aurikularis magnus,saraf
ulnaris,s.radialais,s.peroneus,s.tibialis posterior.Perhatikan raut muka penderita
untuk melihat adakah nyeri pada saat diraba.
IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan BTA mikroskopis untuk menegakan diagnosa bila pemeriksaan rasa
raba hasilnya meragukan. Pemeriksaan BTA diambil dari kerokan jaringan yang ada
didekat telinga.
b. BTA dari kerokan jaringan setelah diambil oleh petugas laborat di kirim ke PRM
( Puskesmas Rujukan Mikroskopis ) untuk di periksa BTA

V.

PENGOBATAN

MDT (Multi Drug Therapy ) adalah kombinasi dua atau lebih obat anti Kusta,yang salah
satunya terdiri dari rifampisin sebagai anti Kusta yang sifatnya bakterisid kuat dengan obat
anti Kusta lain yang bisa bersifat bakteriostatik
Regimen MDT yang dianjurkan oleh WHO adalah :
1.Penderita Pauci baciler ( PB )

Dewasa :
Pengobatan bulanan : Hari pertama (dosis yang diminum didepan petugas)
2 kapsul Rifampisin @ 300 mg ( 600mg )
1 tablet Dapsone (DDS 100 mg )
Pengobatan harian : Hari ke-2 28 ( dibawa pulang )
1 Tablet Dapsone (DDS 100 mg )
1 Blister untuk 1 bulan
Lama pengobatan : 6 Blister diminum selama 6 9 bulan.

2.Penderita Multi Baciler ( MB )

Dewasa
Pengobatan Bulanan : Hari pertama ( Dosis yang diminum di depan petugas )
2 kapsul Rifampisin @ 300 mg ( 600 mg )
3 Kapsul Lamprene @ 100 mg ( 300 mg )
1 Tablet Dapsone ( DDs 100 mg )
Pengobatan Harian : Hari ke 2 28
1 Tablet Lamprene @ 50 mg
1 Tablet Dapsone ( DDS 100 mg )
1 Blister untuk 1 bulan.

Lama pengobatan : 12 blister diminum selama 12 18 bulan.


DOSIS MDT MENURUT UMUR
TIPE PB
Rifampisin

<5

5- 9

TAHUN
Berdasar

TAHUN
300

TAHUN
450 mg / bl

TAHUN
600 mg / bl

Minum didepan

kan BB

mg/bl
25 mg/hr

50 mg / hr

100 mg / hr

petugas
Minum didepan

25 mg/hr

50 mg / hr

100 mg / hr

petugas
Minum dirumah

DDS

TIPE MB
Rifampisin

<5

5- 9

TAHUN
Berdasar

TAHUN
300

kan BB

mg/bl
25 mg

DDS

10- 14

10-14
TAHUN
450 mg / bl
50 mg / hr

>15

>15

KETERANGAN

KETERANGAN

TAHUN
600 mg / bl

Minum didepan

100 mg / hr

petugas
Minum didepan

/hr
25 mg/hr

50 mg / hr

100 mg / hr

petugas
Minum dirumah

Clofazimine

100

150 mg/bl

300 mg/bl

Minum didepan

( Lamprene )

mg/bl
50 mg 2

50 mg setiap

50 mg/hr

petugas
Minum dirumah

2 hr

semingg
u
DOSIS MDT bagi Anak di bawah 10 Tahun :
Rifampisin
DDS
Clofazimine
VI.

: 10 15 mg / kg BB
: 1 2 mg / kg BB
: 1 mg / kg BB

REAKSI KUSTA
Reaksi Kusta merupakan suatu episode mendadak dalam perjalanan kronis penyakit Kusta
yang merupakan suatu reaksi kekebalan ( seluler respon ) atau reaksi antigen antibodi
( Humoral Respons ) dengan akibat merugikan penderita,terutama pada saraf tepi yang bisa
menyebabkan gangguan fungsi ( cacat ) yang ditandai dengan peradangan akut baik dikulit
maupun saraf tepi.
Faktor pencetus terjadinya reaksi Kusta misalnya :
a. Penderita dalam keadaan kondisi lemah.
b. Kehamilan & setelah melahirkan ( masa Nifas )

c.
d.
e.
f.

Sesudah mendapat imunisasi.


Infeksi ( seperti malaria,infeksi pada gigi,bisul,dll )
Stress fisik & mental.
Kurang gizi.

JENIS REAKSI :

REAKSI TIPE 1

GEJALA
1.KELAINAN

REAKSI RINGAN
Tambah aktif,menebal

REAKSI BERAT
Kelainan membengkak sampai

KULIT

merah,teraba panas dan nyeri

ada yang pecah , merah,teraba

tekan.Makula yang menebal dapat

panas & nyeri tekan.Ada

sampai membentuk plaque

kelainan kulit baru,tangan dan

Tidaka ada nyeri tekan saraf &

kaki membengkak,sendi sakit


Nyeri tekan, dan / atau

gangguan fungsi

gangguan fungsi,misalnya

2.SARAF TEPI

kelemahan otot

REAKSI TIPE 2

GEJALA
(1)
1.KELAINAN

REAKSI RINGAN
(2)
Nodul merah yang nyeri

REAKSI BERAT
(3)
Nodul,nyeri tekan,ada yang

KULIT

tekan,jumlah sedikit,biasanya

pecah (ulseratif),jumlah

2.KEADAAN

hilang sendiri dalam 2-3 hari


Tidak ada demam atau demam

banyak,berlangsung lama
Demam ringan sampai berat

UMUM
3.SARAF TEPI

ringan
Tidak ada nyeri raba ataupun

Ada nyeri raba,dan atau

4.ORGAN

gangguan fungsi
Tidak ada gangguan

gangguan fungsi
Terjadi peradangan pada organ

TUBUH

organ tubuh
Mata = Iridosiklitis
Testis = Epididyoorchitis
Ginjal = Nefritis
Sendi = Arthritis
Kelenjar limfe = Limfadenitis
Gangguan pada tulang,hidung &
tenggorokan

PENATALAKSAAN REAKSI
Untuk Reaksi Ringan :

1.Berobat jalan,istirahat dirumah.


2.Pemberian analgetik/antipiretik,obat penenang bila perlu.
3.Mencari dan menghilangkan faktor pencetus.
4.MDT tetap diberikan dengan dosis tidak diubah
Untuk Reaksi Berat :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Immobilisasi lokal / istirahat dirumah.


Pemberian analgesik,sedatif.
Reaksi tipe 1 & tipe 2 berat diobati dengan prednison sesuai protap
MDT tetap diberikan dengan dosis tidak berubah.
Mencari & menghilangkan faktor pencetus.
Bila ada indikasi rawat inap penderita dikirim ke RS.
Reaksi tipe 2 berat berulang diobati dengan prednison dan lamprene.

SKEMA PEMBERIAN PREDNISON


DEWASA
Reaksi tipe 1 dan tipe 2 berat
2 Minggu I
: 40 mg/hr ( 1 x 8 tab ) pagi hari setelah makan
2 Minggu II : 30 mg/hr ( 1 x 6 tab ) pagi hari setelah makan
2 Minggu III : 20 mg/hr ( 1 x 4 tab ) pagi hari setelah makan
2 Minggu IV : 15 mg/hr ( 1 x 3 tab ) pagi hari setelah makan
2 Minggu V : 10 mg/hr ( 1 x 2 tab ) pagi hari setelah makan
2 Minggu VI : 5 Mg/hr ( 1 x 1 tab ) pagi hari setelah makan
Kasus reaksi berat pada bumil & penderita dengan komplikasi penyakit lain harus
dirujuk ke Rumah Sakit.
ANAK
Untuk pengobatan reaksi berat pada anak harus dikonsultasikan ke dokter atau
dirujuk,karena steroid dapat mengganggu proses pertumbuhan.
Dosis maksimum prednison pada anak tidak boleh melebihi 1 mg/kgBB.
Minimal pengobatan 12 minggu/3 bulan.
VII. MANAJEMEN PROGRAM KUSTA
- Monitoring dan evaluasi program pengendalian Kusta
- Pengelolaan logistik program pengelian Kusta.
VIII. PENGENDALIAN KUSTA KOMPREHENSIF
- Kelompok rentan
- Kelompok rentan : Diabetes melitus, ibu hamil
- Kusta Anak
IX. MENGHITUNG DAN ANALISA INDIKATOR
Angka penemuan penderita baru
Jumlah penderita yang baru ditemukan pada periode x 100.000
Jumlah penduduk pada tahun yang sama
Angka kesembuhan ( RFT ) rate MB
Jumlah penderita baru MB yang menyelesaikan 12 dosis dlm 12-18X100%

Jumlah seluruh penderita baru MB yang mulai MDT pada periode kohor
yang sama
Angka kesembuhan RFT rate PB
Jumlah penderita PB yang menyelesaikan 6 dosis dalam 6-9 bulan x 100%
Jumlah seluruh penderita baru PB yang mulai MDT pada periode kohor
tahun yang sama.
Prevalensi dan angka prevalensi
Jumlah penderita Kusta terdaftar pada suatu saat tertentu x 10.000
Jumlah penduduk pada tahun yang sama
C. Langkah Kegiatan
- School Survey : penemuan penderita baru di sekolah
- Kontak intensif : penemuan penderita Kusta baru di keluarga

BAB V
LOGISTIK
A. Pengelolaan logistik
1. Perencanaan Kebutuhan Obat
Perencanaan Kebutuhan MDT Kusta dilakukan terpadu dengan perencanaan obat
program lainnya yang berpedoman pada :
- Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya
- Perkiraan jumlah penemuan pasien yang di rencanakan
- Sisa stok yang ada
- Perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi
2. Tingkat UPK ( Unit Pelayanan Kesehatan )

UPK menghitung kebutuhan tahunan, tribulan, dan bulanan sebagai dasar


permintaan ke Kabupaten / Kota.
B. Pengadaan Obat MDT Kusta
Pengadaan obat MDT menjadi tanggungjawab pusat mengingat obat MDT Kusta
merupakan obat yang sangat esensial .
C. Pemantauan Mutu obat MDT Kusta
Mutu obat MDT diperiksa melalui pemeriksaan pengamatan fisik obat meliputi :
-

Kebutuhan kemasan dan wadah


Penandaan / label termasuk persyaratan penyimpanan
Leaflet dalam bahasa Indonesia
Monor batch dan tanggal kadaluwarsa baik di kemasan dan box .

BAB VI
KESELAMATAN SASARAN PROGRAM

Keselamatan Pasien ( Patient Safety ) adalah suatu sistem dimana Puskesmas


membuat asuhan pasien lebih aman. Hal ini termasuk asesmen resiko, identifikasi dan
pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis
insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, implementasi solusi
untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang
disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil.

Tujuan penerapan keselamatan paisen adalah terciptanya budaya keselamatan pasien,


meningkatkan akuntabilitas Puskesmas terhadap pasien dan masyarakat, menurunkan
kejadian tidak diharapkan (KTD) di Puskesmas, terlaksananya program- program
pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian tidak diharapkan.

Pelayanan poli P2 Kusta memperhatikan keselamatan pasien dengan cara :


a.

Identifikasi Potensi
-

Kemungkinan kesalahan identifikasi tipe penyakit Kusta

Kemungkinan kesalahan penulisan nama pada kartu penderita

Kemungkinan pengulangan pemeriksaan POD pada penderita Kusta

Kemungkinan kesalahan pencatatan hasil pemeriksaan penderita Kusta

Kemungkinan kesalahan penyerahan obat MDT Kusta

b.

Pencegahan terjadinya kesalahan


-

Pelaksanaan prosedur identifikasi dan kesesuaian dengan identitas pasien.

Petugas dalam melakukan pelayanan harus sesuai dengan SOP.

Monitoring secara berkala oleh Tim Mutu Puskesmas Wongsorejo.

c.

Pelaporan
-

Setiap adanya kesalahan pelayanan poli P2Kusta dilaporkan kepada Tim


Mutu Puskesmas Wongsorejo.

Pengaduan dan keluhan pasien terkait dengan pelayanan poli P2 Kusta


dilaporkan kepada Tim Mutu Puskesmas Wongsorejo.

d.
-

Penanganan/tindak lanjut
Hasil identifikasi, temuan audit internal, pelaporan dan keluhan atau pengaduan
dibahas dan ditindaklanjuti oleh Tim Mutu dalam Rapat Tinjauan Manajemen

Hasil rapat dilakukan umpan balik kepada penanggung program Kusta.

BAB VII
KESELAMATAN KERJA
A.

Tujuan
-

Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya dapat melindungi


diri sendiri, pasien dan masyarakat dari penyebaran infeksi.

Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya mempunyai resiko


tinggi

terinfeksi

penyakit

menular

dilingkungan

tempat

kerjanya,

untuk

menghindarkan paparan tersebut, setiap petugas harus menerapkan prinsip


Universal Precaution.
B.

C.

Tindakan yang beresiko terpajan


-

Cuci tangan yang kurang benar.

Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.

Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai.


Prinsip Keselamatan Kerja

Prinsip utama prosedur Universal Precaution dalam kaitan keselamatan kerja adalah
menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan sterilisasi peralatan.
Ketiga prinsip tesebut dijabarkan yaitu :
- Cuci tangan guna mencegah infeksi silang
- Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna mencegah
kontak dengan kuman penyakit.
- Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
Indikator mutu yang digunakan di program P2 Kusta Puskesmas Wongsorejo dalam
adalah penemuan penderita Kusta baru

hasil 100%. Penemuan penderita Kusta baru

dimaksud adalah penemuan penderita Kusta dilakukan baik secara aktif maupun pasif.
Indikator mutu akan dipantau oleh Tim Mutu Puskesmas melalui monitoring dan evaluasi
pelaksanaan. Pencapaian indikator mutu dibahas dalam pertemuan tinjauan manajemen dan
dilaporkan kepada Kepala Puskesmas.

BAB IX
PENUTUP
Pedoman ini sebagai acuan bagi karyawan puskesmas dan lintas sector terkait
dalam pelaksanaan kegiatan program Kusta di UPT. Puskesmas Wongsorejo.
Keberhasilan kegiatan program Kusta merupakan keberhasilan upaya menekan angka
kecacatan akibat Penyakit yang dapat dicegah dengan penemuan penderita Kusta
baru sejak dini.