Anda di halaman 1dari 39

TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA BARU MENIKAH

I.
a.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan
keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masing-masing
yang merupakan bagian dari keluarga. Selain itu keluarga juga diartikan
ikatan/persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang
berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan
yang sudah hidup sendirian dengan atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau
adopsi, dan tinggal dalam sebuah rumah tangga (Friedman 1998).
Dari dua pengertian diatas kita ketahui pasangan suami istri yang baru
menikah yang belum mempunyai anak juga termasuk keluarga (keluarga baru
menikah).Banyak yang perlu kita ketahui dan kita kaji pada keluarga baru menikah.
Keluarga baru menikah perlu diberi asuhan keperawatan karena banyak masalah
yang muncul pada keluarga.
Pernikahan adalah hubungan yang sangat unik walaupun tidak ada aturan
yang menjamin pernikahan yang sukses. Beberapa pedoman bermanfaat untuk
membangun pernikahan yang bahagia adalah pertama, mereka harus memastikan
emosi mereka berdasarkan daripada ketertarikan fisik atau seksual. Kedua, pasangan
harus menggali motifasi keinginan untuk menikah. Ketiga, mereka harus berfokus
pada pengembangan komunikasi yang jelas. Keempat, mereka harus memahami pola
prilaku dan kebiasaan yang menggangu yang tidak mungkin berubah setelah
menikah. Terakhir, mereka harus menetapkan kompatibilitas dalam keyakinan dan
nilai yang penting.
Pertumbuhan dalam pernikahan memanjang lebih dari beberapa tahun.
Keberhasilan pemecahan masalah yang dihadapi yang terjadi dalam perkawinan
menimbulkan saling pengertian pada masing-masing pasangan pernikahan.
Hubungan pernikahan mencakup tahapan yang berbeda. Tahap permulaan
mulai saat pernikahan dan berlanjut sejalan dengan usaha pasangan untuk berfungsi
sebagai pasangan. Tahapan orientasi keluarga ditujukan pada aktivitas menanti
kelahiran anak dan mengasuh anak. Peranan orang tua harus dipahami dan
dipraktikan.

b.

Tujuan
Tujuan Umum :
Setelah diberikan Asuhan keperawatan pada keluarga baru menikah diharapkan
masalah-masalah yang muncul dapat teratasi dan tidak terjadi lagi masalah yang
sama pada keluarga dan keluarga mamapu mengatasi masalah kesehatan yang
dialami secara mandiri.
Tujuan Khusus
1. Mengenal masalah kesehatan keluarga
2.
Memutuskan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan keluarga.

3. Melakukan tindakan perawatan, kesehatan yang tepat kepada anggota keluarga yang
sakit, mempunyai gangguan fungsi tubuh, dan atau keluarga yang membutuhkan
bantuan, sesuai dengan kemampuan keluarga.
4. Memelihara dan memodifikasi lingkungan keluarga (fisik, psikis, dan sosial) sehingga
dapat meningkatkan kesehatan keluarga.
5. Memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat (misal, puskesmas, posyandu,
atau sarana kesehatan lain) untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai
kebutuhan keluarga.

II. TINJAUAN TEORI


a.

b.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Pengertian
Keluarga baru menikah adalah keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang
belum mempunyai
anak (baru menikah).
Perkawinan dari sepasang insan menandai bermulanya sebuah keluarga baru
dan perpindahan dari keluarga asal atau status lajang ke hubungan baru yang intim.
Tugas Perkembangan
Membentuk hubungan intim
Belajar hidup dengan pasangan
Memulai sebuah keluarga
Mengatur rumah tangga
Memutuskan dan bekerja menghadapi tujuan bersama
Menetapkan pedoman kekuasaan dan masalah pembuatan keputusan
Membuat standar untuk interaksi diluar keluarga
Membuka hubungan dengan orang lain untuk kehidupan sosial
Memilih nilai, moral, dan ideologi yang dapat diterima oleh keduanya
Mendiskusikan untuk mempunyai anak

c.

Karakteristik Keluarga Baru menikah


Terdiri dari dua orang yang diikat oleh hubungan perkawinan
Biasanya anggota keluarga tinggal bersama atau jika terpisah tetap memperhatikan
satu
sama lain
Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai
peran sendiri-sendiri
Mempunyai tujuan (menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan
perkembangan fisik, psikologis dan sosial anggota)

d.

Peran Informal dan Formal


Peran Formal :
Laki-laki sebagai suami (kepala keluarga)
Perempuan sebagai istri
Peran Informal :
Laki-laki sebagai ketua kegiatan di masyarakat
Perempuan sebagai anggota organisasi di masyarakat

e.

Masalah dan Konflik yang biasa timbul


Bahaya Fisik
- Penyakit
Pada keluarga baru menikah penyakit yang mungkin timbul adalah penyakit
menular seksual
Bahaya Psikologis
- Percekcokan dalam rumah tangga
Pada keluarga baru menikah butuh waktu untuk penyesuaian diri, dan sering
menimbulkan percekcokan atau perbedaan pendapat.
- gangguan penyesuaian dengan anggota keluarga pasangan
Bahaya Peran seksual
Ketidak mampuan keluarga (suami/istri) memenuhi kebutuhan sek pada kelurga
yang baru dibina
Bahaya dalam Konsep Diri
- Selalu ingin tampil cantik di hadapan pasangan
Bahaya Hubungan Keluarga
- gangguan penyesuain keuangan
Kondisi yang menyumbang terhadap kesulitan dalam penyesuaian
perkawinan
- Persiapan yang terbatas untuk perkawinan
Walaupun dalam kenyataan sekarang penyesuaian seksual lebih mudah,
ketimbang pada masa dulu. Karena banyak informasi tentang seks yang tersedia baik
dirumah, disekolah, di universitas dan di perguruan tinggi, dan ditempat-tempat
lain, kebanyakan pasangan suami istri juga menerima sedikit persiapan dibidang
ketrampilan domestik, mengasuh anak, dan manajemen uang.
- Peran dalam perkawinan
Kecenderungan terhadap perubahan peran dalam perkawinan bagi pria dan
wanita, dan konsep yang berbeda tentang peran ini yang menganut kelas sosial dan
kelompok religius yang berbeda penyesuaian dalam perkawinan sulit sekarang
daripada di masa ketika peran masih begitu ketet dianut.
- Kawin muda
Perkawinan dan kedudukan sebagai oarangtua sebelum oarang muda
menyelesaikan pendidikan mereka dan secara ekonomis independent membuat
mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mempunyai pengalaman yang
dipunyai teman-teman yang tidak kawin atau oarang-oarang yang telah mandiri
sebelum kawin. Hal ini mengakibatkan sikap iri hati dan menjadi halangan bagi
penyesuaian perkawinan.
- Konsep yang tidak realistis tentang perkawinan
Orang dewasa yang bekerja di sekolah dan perguruan tinggi, dengan
sedikit/tanpa pengaman kerja, cenderung mempunyai konsep yang tidak realistis
tentang makna perkawinan berkenaan pekerjaan, deperesi, pemberian uang, atau
perubahan pola hidup.
- Perkawinan campuran
Penyesuaian terhadap kedudukan sebagai orang tua dan dengan para saudara
dari piahak istri dan sebaliknya, jauh lebih sulit dalam perkawinan antar agama
daripada bila keduanya berasal dari latar belakang budaya yang sama.
- Pacaran yang dipersingkat

Periode atau masa pacaran lebih singkat sekarang atau ketimbang masa dulu,
dan karena itu pasangan hanya punya sedikit waktu untuk memecahkan banyak
masalah tentang penyesuaian sebelum mereka melangsungkan perkawinan
- Konsep perkawinan yang romantis
Banyak orang dewasa mempunyai konsep perkawinan yang romantis yang
berkembang pada masa remaja. Harapan yang berlebihan tentang tujuan dan hasil
perkawinan sering membawa kekecewaan yang menambah kesulitan penyesuaian
terhadap tugas dan tanggung jawab perkawinan.
- Kurangnya identitas
Apabila seseorang merasa bahwa keluarga, teman, dan rekannya
memperlakukannya sebagai suami janeatau apabila wanita merasa bahwa
kelompok sosial menganggap dirinya hanya sebagai ibu rumah tangga, walaupun
dia seorang wanita karir yang berhasil, ia bisa saja kehilangan identitas diri sebagai
individu yang sangant dijunjung dan dinilai tinggi sebelum perkawinan.
f.

Peran dan Fungsi Perawat


Pengenal kesehatan (konseling kesehatan, KB, pelayanan antenatal dan konseling
persalinan)
Perawat dapat membantu keluarga dalam mengenal penyimpangan dari keadaan
normal dengan menganalisa data secara objektif serta membuat keluarga sadar akan
akibatnya dalam perkembangan anggota keluarga
Pemberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang memiliki masalah kesehatan
adalah salah satu tugas dari keluarga. Namun demikian perawat harus mampu
memberikan kesempatan dan contoh bagi keluarga untuk mengembangkan
kemampuan mereka dalam melaksanakan tugas kesehatannya.
Koordinator pelayanan kesehatan keluarga
III.ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS

1.

Pengkajian
Pengkajian yang berhubungan dengan keluarga

Data umum : nama suami dan istri, alamat dan telepon, pekerjaan suami dan istri,
pendidikan suami dan istri, usia, tipe keluarga, suku bangsa, agama, status sosial
ekonomi keluarga, dan aktivitas rekreasi.

Tahap perkembangan keluarga baru menikah, tugas perkembangan keluarga yang


belum terpenuhi, riwayat kesehatan keluarga baru menikah, riwayat kesehatan
keluarga sebelumnya.

Data lingkungan
Karakteristik rumah, karakteristik tetangga dan komunitasnya, mubilitas geografi
keluarga, perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat, sistem
pendukung keluarga.
Struktur keluarga
Struktur peran, nilai atau norma keluarga, pola komunikasi kelaurga, struktur
kekuatan keluarga,
Fungsi keluarga

Fungsi ekonomi, fungsi mendapatkan status sosial, fungsi pendidikan, fungsi


sosialisasi, fungsi pemenuhan kesehatan, fungsi religius, fungsi rekreasi, fungsi
reproduksi, fungsi afeksi.

Stress dan koping keluarga


Stressor jangka pendek dan panjang, pemeriksaan kesehatan, harapan keluarga,
Pengkajian fokus
- Kapan pertemuan pasangan?
- Bagaimana hubungan sebelum menikah?
- Bagaimana pasangan ini memutuskan menikah?
- Adakah halangan terhadap perkawinan mereka?
- Bagaimana respon anggota keluarga terhadap perkawinan?
- Bagaimana kehidupan di lingkungan keluarga asal, termasuk orientasi keluarga dari
kedua orang tua?
- siapa orang lain yang tinggal serumah setelah perkawianan?
- bagaimana hubungan dengan saudara ipar?
- Bagaimana keadaan orang tua masing-masing dan hubungannya dengan orang tua
setelah perkawinan?
- Bagaimana rencana mempunyai anak?
- Bagaimana rencana penggunaan KB?
- Berapa lama waktu berkumpul setiap hari?
- Bagaimana rutinitas (secara individual : suami dan istri) setelah
perkawinan?
- Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga?
2.

Diagnosa Keperawatan
Masalah yang dapat digunakan untuk perumusan diagnosa keperawatan:
Masalah lingkungan
- kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah (higiene lingkungan)
- resiko terhadap cedera
- resiko terhadap infeksi
Masalah struktur komunikasi
- komunikasi keluarga disfungsional (percekcokan suami isteri)
- ganguan penyesuaian dengan pasangan
- ganguan penyesuaian dan komunikasi dengan keluarga pasangan
Masalah struktur peran
- potensial peningkatan menjadi orang tua
- perubahan penampilan peran
Masalah fungsi Afektif
- resiko terhadap tindakan kekerasan
- koping keluarga tidak efektif
Masalah fungsi Sosial
- kerusakan interaksi sosial
Masalah fungsi perawatan kesehatan
- resiko terhadap penularan penyakit (penyakit menular seksual)
Masalah koping
- ketidak mampuan dalam mengatasi masalah atau mengambil suatu keputusan

Diagnosa keperawatan
Resiko cedera berhubungan dengan kekerasan dalam rumah tangga
Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan ketidak mampuan bersosialisasi
dengan lingkungan disekitarnya
Perubahan penampilan peran berhubungan dengan keluarga yang baru dibina.
Potensial peningkatan menjadi orang tua
3.

Intervensi

Diagnosa 1
- Beri penjelasan pada keluarga khususnya suami tentang bahaya yang dapat timbul
dari kekerasan yang terjadi
- Anjurkan kepada keluarga untuk lebih mendekatkan diri pada agama
- Ajurkan kepada keluarga untuk saling membicarakan/terbuka jika ada masalah
Diagnosa 2
- Beri penjelasan pentingnya hubungan sosial dengan anggota masyarakat lainnya
kepada keluarga.
- Anjurkan kepada keluarga untuk membuka diri dengan anggota masyarakat
lainnya
- Anjurkan kepada keluarga untuk mengikuti kegiatan-kegiatan masyarakat seperti
PKK, karang taruna, dll.
Diagnosa 3
- Beri penjelasan kepada keluarga tentang peran baru yang dialami keluarga
- Berikan penjelasan pada suami dan istri untuk saling memahami
- Anjurkan kepada keluarga untuk mendiskusikan tentang tugas keluarga yang baru

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall.2001.Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Jakarta:
EGC.
Friedman, Marilyn M. 1998. Keperawatan Keluarga: Teori dan Praktik (Edisi 3).
Jakarta : EGC.
Suprajitno. 2004. Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC.
Perry and Potter. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan I: konsep, proses, dan
praktik Edisi 4 / Patricia A. Potter, Anne Griffin Perry ; alih bahsa, Yasmin Asih [et
all]; editor edisi bahasa Indonesia, Devi Yulianti, Monica Ester. Jakarta : EGC.
Suprajitno. 2004. Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC.
Pendahuluan
Asuhan keperawatan keluarga yaitu suatu rangkaian kegitatan yang diberi via praktek
keperawatan pada keluarga. Asuhan keperawatan keluarga digunakan untuk membantu
menyelesaikan masalah kesehatan keluarga dengan menggunakan pendekatan proses

keperawatan. Agar pelayanan kesehatan yang diberikan dapat diterima oleh keluarga,
maka perawat : Harus mengerti, memahami tipe dan struktur keluarga Tahu tingkat
pencapaian keluarga dalam melakukan fungsinya. Perlu paham setiap tahap
perkembangan keluarga dan tugas perkembangannya Pengkajian dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana keluarga memenuhi tugas perkembangnya. Pasangan baru
(Keluarga baru menikah):
Saat masing-masing individu laki-laki dan perempuan membentuk keluarga via
perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing-masing.
mempersiapkan keluarga yang baru.
Butuh penyesuaianan peran dan fungsi sehari-hari
Belajar hidup bersama, beradaptasi dengan kebiasaan sendiri dan pasangannya.
Anggota dari tiga keluarga yaitu keluarga suami, istri dan keluarga sendiri. Masingmasing menghadapi perpisahan dengan keluarga orangtuanya, mulai membina
hubungan baru dengan keluarga dan kelompok social pasangan
Yang perlu diputuskan : kapan waktu yang tepat untuk mendapatkan anak dan jumlah
yang diharapkan Tugas perkembangan keluarga baru menikah : 1. Membina hubungan
intim yang memuaskan. Akan menyiapkan kehidupan bersama yang baru Sumbersumber dari dua orang yang digabungkan. Peran berubah. Fungsi baru diterima.
Belajar hidup bersama sambil penuhi kebutuhan kepribadian yang mendasar. Saling
mensesuaikan diri terhadap hal yang kecil yang bersifat rutinitas Keberhasilan dalam
mengembangkan hubungan terjadi apabila kedua pasangan saling menyesuaikan diri
dan kecocokan dari kebutuhan dan minat pasangan. 2. Menghubungkan jaringan
persaudaraan secara harmonis. Pasangan menghadapi tugas memisahkan diri dari
keluarga asal dan mengupayakan hubungan dengan orang tua pasangan dan keluarga
besar lainnya. Loyalitas utama harus dirubah untuk kepentingan perkawinannya. 3.
Mendiskusikan rencana memiliki anak atau memilih KB. Masalah kesehatan yaitu
penyesuaian seksual dan peran perkawinan. Perawat Perawat dalam Keluarga berencana
Dalam keluarga berencana peran perawat adalah membantu pasangan untuk memilih
metoda kontrasepsi yang tepat untuk digunakan sesuai dengan kondisi, kecendrungan,
sosial budaya dan kepercayaan yang dianut oleh pasangan tersebut, oleh karena itu
proses keperawatan lebih diarahkan kepada membantu pasangan memilih metode
kontrasepsi itu sendiri. Kegagalan penggunaan metode kontrasespsi terjadi disebabkan
karena kurangnya pengetahuan wanita tersebut terhadap alat kontrasespsi itu sendiri
sehingga memberikan pengaruh terhadap kondisi fisiologis, psikologis, kehidupan sosilaL
dan budaya terhadap kehamilan tersebut. maka disinilah letak peran perawat untuk
memberikan pengetahuan yang tepat, sehingga hal di atas tidak terjadi. Pengkajian
Karena masalah kontrasepsi merupakan suatu hal yang sensitif bagi wanita, maka dalam
mengkaji hal ini perawat harus sangat memperhatikan privasi klien. Rendahkan suara
ketika mengkaji untuk menigkatkan rasa nyaman klien dan pertahankan rasa percaya diri
yang tinggi klien. Selain pengkajian umum (Identitas klien, Riwayat kesehatan, Riwayat
obgyn), pengkajian khusus yang perlu kita lakukan untuk memenuhi peran sebagai
edukator dalam pemilihan metode kontrasepsi yang tepat adalah : 1. Pengetahuan klien

tentang macam-macam metoda kontrasepsi Pengkajian ini dilakukan dengan


menanyakan kapan wanita tersebut berencana untuk memiliki anak. Kemudian tanyakan
metoda apa yang sedang direncanakan akan dipakai oleh klien. Bila klien menyatakan
satu jenis/metoda, perawat dapat menanyakan alasan penggunaan metoda tersebut.
pertanyaan-pertanyaan ini akan mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi klien
terkait dengan kontrasepsi yang digunakannya. 2. Pengetahuan tentang teknik
penggunaan metoda kontrasepsi Dalam melaksanakan perannya sebagai educator
perawat harus dapat menentukan tingkat pengetahuan klien tentang teknik penggunaan
kontrasepsi. Misalnya tanyakan tentang bagaimana klien tersebut memakai diafragma,
kapan dan di mana spermisida dioleskan atau berapa kali dalam sehari klien tersebut
harus mengkonsumsi pil KB dengan menggali tingkat pengetahuan klien, perawat dapat
menentukan bila ada kesalahan persepsi dalam penggunaan yang akan menyebabkan
tidak efektifnya alat kontrasepsi yang dipakai dan akan menyebabkan terjadinya
kehamilan yang tidak direncanakan. 3. Kenyamanan klien terhadap metoda kontrasepsi
yang sedang dipakai. Dalam mengkaji kenyamanan klien, dengarkan keluhan-keluhan
klien terhadap efek samping dari kontrasepsi yang digunakannya. Dengarkan juga
pernyataan klien tentang kenyamanannya menggunakan metoda kontrasepsi bulanan
seperti suntik hormone dari pada pil keluarga berencana yang harus di konsumsi setiap
hari. Keefektifan suatu metoda meningkat seiring dengan peningkatan kenyamanan klien
dalam menggunakan metoda tersebut. 4. Faktor-faktor pendukung penggunaan metode
yang tepat Jika klien berencana untuk mengganti metoda kontrasepsi diskusikan tentang
pilihan-pilihan yang cocok untuk digunakan. Kaji faktor-faktor yang dapat membantu
pemilihan metode terbaik seperti riwayat kesehatan dahulu klien yang merupakan
kontraindikasi dari metoda kontrasepsi, riwayat obstetric, budaya dan kepercayaan serta
keinginan untuk mencegah kehamilan. Adapun kontraindikasi penggunaan metoda
kontrasepsi yang berkaitan dengan riwayat kesehatan adalah: a. Kontrasepsi oral 1. Pil
keluarga berencana terpadu Riwayat TBC, kejang, kanker payudara, benjolan payudara,
telat haid, hamil, pendarahan abnormal, hepatitis, penyakit jantung, tromboplebitis.
Untuk wanita perokok, usia lebih dari 35th, pengidap DM, epilepsy, dan penderita
hipertensi tidak dianjurkan menggunakan pil keluarga berencana. 2. Mini Pil Mini pil ini
sebaiknya tidak digunakan pada wanita yang harus menghindari segala jenis metoda
hormonal, atau yang mejalani pengobatan kejang b. Kontrasepsi Hormonal 1. Hormone
Implant Kanker/benjolan keras di payudara, terlambat haid, hamil, perdarahan yang tidak
diketahui penyebabnya, penyakit jantung dan keinginan untuk hamil kurang dari lima
tahun. 2. Hormone Injeksi Suntikan terpadu tidak boleh diberikan pada wanita dalam
masa menyusui. c. Kontrasepsi Mekanik 1. Diafragma dan kap servik Diafragma dan kap
servik tidak dipakai pada wanita dengan riwayat alergi lateks dan riwayat toksik shock
syndrome. 2. IUD Hamil atau kemungkinan hamil, resiko tinggi terkena penyakit yang
menular lewat hubungan seks, riwayat infeksi alat reproduksi, infeksi sesudah
persalinan/aborsi, kehamilan ektopik, metroragia dismenorhea, anemia dan belum
pernah hamil, mola. d. Kontrasepsi Mantap Kontrasepsi ini tidak ada kontraindikasinya,
karena sifatnya permanen. Digunakan bagi pasangan yang sudah tidak ingin atau sudah
tidak memungkinkan untuk mempunyai anak Analisa Data Kurang pengetahuan tentang
keluarga berencana merupakan penyebab tersering dari gangguan fisik, psikologis dan
social dalam kaitannya dengan kehamilan yang tidak direncanakan. Diagnosa yang
mungkin berdasarkan pengkajian dan data adalah Resiko Perubahan Pemeliharaan
Kesehatan b.d Kurang Pengetahuan Terhadap Pemilihan dan Ketersediaan Metoda
Kontrasepsi. Sedangkan diagnosa keperawatan lain yang dapat timbul yaitu: 1. Resiko

konflik pengambilan keputusan b.d alternatif kontrasepsi 2. Rasa takut b.d efek samping
kontrasepsi 3. Resiko tinggi infeksi b.d kondisi aktif secara seksual dan penggunaan
metoda kontrasepsi 4. Resiko tinggi perubahan pola seksualitas b.d takut hamil 7.
Distress spiritual b.d ketidakcocokan keyakinan agama atau budaya dengan metoda
kontrasepsi yang dipilih Rencana Intervensi Diagnosa : Resiko Perubahan Pemeliharaan
Kesehatan b.d Kurang Pengetahuan Terhadap Pemilihan dan Ketersediaan Metoda
Kontrasepsi. Kriteria hasil Setelah dilakukan intervensi, pasangan akan : 1. Menjabarkan
dengan benar tentang cara penggunaan metoda kontrasepsi yang dipilih dan pemecahan
masalahnya. 2. Dapat menjelaskan tentang efek samping dan komplikasi dari metoda
kontrasepsi yang dipilih. 3. Melaporkan adanya kepuasan terhadap metoda kontrasepsi
yang dipilih. 4. Menggambarkan metoda lain yang dapat dipakai dan memilih salah satu
dari metoda tersebut bila pasangan inggin mengganti metode kontrasepsi.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA


DENGAN PASANGAN BARU

2.1. KELUARGA
A.DEFINISI

K
ELUARGA ADALAH UNIT TERKECIL MASYARAKAT, TERDIRI DARI SUAMI
ISTRI DAN ANAKNYA ATAU AYAH DAN ANAKNYA ATAU IBU DAN ANAKNYA.

(UU. NO 10, 1992). KELUARGA ADALAH KUMPULAN DUA ORANG / LEBIH


HIDUP BERSAMA DENGAN KETERIKATAN ATURAN DAN EMOSIONAL, DAN
SETIAP INDIVIDU PUNYA PERAN MASING-MASING (FRIEDMAN 1998).
WHALL (1986) DALAM ANALISIS KONSEP TENTANG KELUARGA SEBAGAI
UNIT YANG PERLU DIRAWAT, IA MENDEFINISIKAN KELUARGA SEBAGAI
KELOMPOK YANG MENGIDENTIFIKASIKAN DIRI DENGAN ANGGOTANYA
YANG TERDIRI DARI DUA INDIVIDU ATAU LEBIH YANG ASOSIASINYA
DICIRIKAN OLEH ISTILAH-ISTILAH KHUSUS, YANG BOLEH JADI TIDAK
DIIKAT OLEH HUBUNGAN DARAH ATAU HUKUM, TAPI YANG BERFUNGSI
SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA MEREKA MENGANGGAP DIRI MEREKA
SEBAGAI SEBUAH KELUARGA .
FAMILY SERVICE AMERICA (1984) MENDEFINISIKAN KELUARGA DALAM
SUATU CARA YANG KOMPREHENSIF, YAITU SEBAGAI DUA ORANG ATAU
LEBIH YANG DISATUKAN OLEH IKATAN-IKATAN KEBERSAMAAN DAN
KEINTIMAN.
HARIYANTO, 2005. KELUARGA MENUNJUK KEPADA DUA ORANG ATAU
LEBIH YANG DISATUKAN OLEH IKATAN-IKATAN KEBERSAMAAN DAN IKATAN
EMOSIONAL DAN YANG MENGIDENTIFIKASIKAN DIRI MEREKA SEBAGAI
BAGIAN DARI KELUARGA .
DAPAT DISIMPULKAN BAHWA KELUARGA ADALAH UNIT TERKECIL DARI
MASYARAKAT DUA ORANG / LEBIH, MEMILIKI IKATAN PERKAWINAN DAN
PERTALIAN DARAH, HIDUP DALAM SATU RUMAH TANGGA, BERINTERAKSI,
PUNYA PERAN MASING-MASING DAN MEMPERTAHANKAN SUATU BUDAYA.
CIRI-CIRI KELUARGA , ANTARA LAIN SEBAGAI BERIKUT : DIIKAT TALI
PERKAWINAN, ADA HUBUNGAN DARAH, ADA IKATAN BATIN, TANGGUNG
JAWAB MASINGMASING, ADA PENGAMBIL KEPUTUSAN, KERJASAMA
DIANTARA ANGGOTA KELUARGA , INTERAKSI, DAN TINGGAL DALAM SUATU
RUMAH
CIRI, CIRI STRUKTUR KELUARGA :
1. TERORGANISASI, BERGANTUNG SATU SAMA LAIN
2. ADA KETERBATASAN
3. PERBEDAAN DAN KEKHUSUSAN, PERAN DAN FUNGSI MASING-MASING.

B.
1.

2.

3.
4.
5.

FUNGSI KELUARGA:
FUNGSI AFEKTIF DAN KOPING KELUARGA MEMBERIKAN KENYAMANAN
EMOSIONAL ANGGOTA, MEMBANTU ANGGOTA DALAM MEMBENTUK
IDENTITAS DAN MEMPERTAHANKAN SAAT TERJADI STRESS.
FUNGSI SOSIALISASI KELUARGA SEBAGAI GURU, MENANAMKAN
KEPERCAYAAN, NILAI, SIKAP, DAN MEKANISME KOPING, MEMBERIKAN
FEEDBACK, DAN MEMBERIKAN PETUNJUK DALAM PEMECAHAN MASALAH.
FUNGSI REPRODUKSI KELUARGA MELAHIRKAN ANAK, MENUMBUHKEMBANGKAN ANAK DAN MENERUSKAN KETURUNAN.
FUNGSI EKONOMI KELUARGA MEMBERIKAN FINANSIAL UNTUK
ANGGOTA KELUARGA NYA DAN KEPENTINGAN DI MASYARAKAT.
FUNGSI FISIK, KELUARGA MEMBERIKAN KEAMANAN, KENYAMANAN
LINGKUNGAN YANG DIBUTUHKAN UNTUK PERTUMBUHAN,

PERKEMBANGAN DAN ISTIRAHAT TERMASUK UNTUK PENYEMBUHAN DARI


SAKIT.

2.2. KELUARGA DENGAN PASANGAN BARU MENIKAH

K
ELUARGA BARU DIMULAI SAAT MASING-MASING INDIVIDU LAKI-LAKI
( SUAMI) DAN PEREMPUAN (ISTRI) MEMBENTUK KELUARGA MELALUI
PERKAWINAN YANG SAH DAN MENINGGALKAN KELUARGA MASINGMASING. MENINGGALKAN KELUARGA BISA BERARTI PSIKOLOGIS KARENA
KENYATAANNYA BANYAK KELUARGA BARU YANG MASIH TINGGAL DENGAN
ORANG TUANYA.
DUA ORANG YANG MEMBENTUK KELUARGA BARU MEMBUTUHKAN
PENYESUAIAN PERAN DAN FUNGSI. MASING-MASING BELAJAR HIDUP
BERSAMA SERTA BERADAPTASI DENGAN KEBIASAAN SENDIRI DAN
PASANGANNYA, MISALNYA : MAKAN, TIDUR, BANGUN PAGI DAN
SEBAGAINYA. KELUARGA BARU INI MERUPAKAN ANGGOTA DARI TIGA
KELUARGA : KELUARGA SUAMI, KELUARGA ISTRI DAN KELUARGA
SENDIRI.

2.3 TUGAS TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA DENGAN


PASANGAN BARU MENIKAH

1.
2.
3.
4.

FASE INI DIMULAI DARI SAAT PERKAWINAN HINGGA SI ISTRI HAMIL. FASE
INI MERUPAKAN MASA TERSULIT DALAM KEHIDUPAN PERKAWINAN,
ANGKA PERCERAIAN TINGGI PADA BULAN-BULAN AWAL HINGGA TAHUN
PERTAMA PERKAWINAN. PASANGAN JUGA HARUS MELAKUKAN
PENYESUAIAN KEPUASAN (MUTUALLY SATISFACTORY ADJUSTMENT)
SEJAK AWAL PERKAWINAN KEADAAN AKAN MAKIN SULIT JIKA PASANGAN
JUGA HARUS MELAKUKAN PENYESUAIAN DI LUAR HUBUNGAN DENGAN
SUAMI/ISTERINYA, MISAL : MELANJUTKAN SEKOLAH, TUGAS LUAR KOTA,
MOBILITAS TINGGI, TERGANTUNG KPD ORANGTUA (TEMPAT TINGGAL,
FINANSIAL), HUBUNGAN DENGAN KELUARGA BESAR.
MAKA ADA BEBERAPA TUGAS PERKEMBANGAN YANG HARUS DIJALANI
OLEH PASANGAN PADA FASE PEMANTAPAN INI AGAR BISA MENJALANI
TAHAP INI DENGAN BAIK, ANTARA LAIN : (DUVALL, SOCIOLOGICAL
PERSPECTIVE, 1985)
MEMANTAPKAN TEMPAT TINGGAL
MEMANTAPKAN SISTEM MENDAPATKAN DAN MEMBELANJAKAN UANG
MEMANTAPKAN POLA SIAPA MENGERJAKAN APA, SIAPA BERTANGGUNG
JAWAB KEPADA SIAPA (PEMBAGIAN PERAN & TANGGUNG JAWAB)
MEMANTAPKAN KEPUASAN HUBUNGAN SEKSUAL

5. MEMANTAPKAN SISTEM KOMUNIKASI SECARA INTELEKTUAL DAN


EMOSIONAL
6. MEMANTAPKAN HUBUNGAN DENGAN KELUARGA BESAR
7. MEMANTAPKAN CARA BERINTERAKSI DENGAN TEMAN; KOLEGA DAN
ORGANISASI
8. MENGHADAPI KEMUNGKINAN KEHADIRAN ANAK DAN PERENCANAANNYA
9. MEMANTAPKAN FILOSOFI HIDUP SEBAGAI PASANGAN SUAMI ISTERI

TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA BARU MENIKAH (RODGERS


CIT FRIEDMAN) :
1. MEMBINA HUBUNGAN INTIM YANG MEMUASKAN.
- AKAN MENYIAPKAN KEHIDUPAN BERSAMA YANG BARU
- SUMBER- SUMBER DARI DUA ORANG YANG DIGABUNGKAN.
- PERAN BERUBAH.
- FUNGSI BARU DITERIMA.
- BELAJAR HIDUP BERSAMA SAMBIL PENUHI KEBUTUHAN KEPRIBADIAN
YANG MENDASAR.
- SALING MENSESUAIKAN DIRI TERHADAP HAL YANG KECIL YANG BERSIFAT
RUTINITAS
KEBERHASILAN DALAM MENGEMBANGKAN HUBUNGAN TERJADI APABILA
KEDUA PASANGAN SALING MENYESUAIKAN DIRI DAN KECOCOKAN DARI
KEBUTUHAN DAN MINAT PASANGAN.
2. MENGHUBUNGKAN JARINGAN PERSAUDARAAN SECARA HARMONIS ATAU
MEMBINA HUBUNGAN DENGAN KELUARGA LAIN, TEMAN DAN KELOMPOK
SOSIAL .
PASANGAN MENGHADAPI TUGAS MEMISAHKAN DIRI DARI KELUARGA ASAL
DAN MENGUPAYAKAN HUBUNGAN DENGAN ORANG TUA PASANGAN DAN
KELUARGA BESAR LAINNYA. LOYALITAS UTAMA HARUS DIRUBAH UNTUK
KEPENTINGAN PERKAWINANNYA.
3. MENDISKUSIKAN RENCANA MEMILIKI ANAK ATAU MEMILIH KB.
MASALAH LAIN YANG BANYAK TERJADI PADA KELUARGA PASANGAN
BARU, DAN SEBAIKNYA SEGERA DICARIKAN
JALAN KELUARNYA ADALAH:

TIDAK MENGHADAPI MASALAH UTANG


TERNYATA, MENURUT DATA DARI THENEST.COM, MASALAH KEUANGAN
ADALAH MASALAH PALING UTAMA YANG DIPERMASALAHKAN OLEH
PASANGAN. JIKA SUDAH MENIKAH, MAKA ADA BAIKNYA ANDA
MENGELUARKAN DAN MENGUTARAKAN SEMUA MASALAH PERUTANGAN
ANDA, TOH IA ADALAH PASANGAN ANDA, TAK ADA YANG PERLU DITUTUPTUTUPI, TETAPI PERLU DIHADAPI BERSAMA. KEMUDIAN, COBALAH
BERHITUNG DAN RENCANAKAN KEUANGAN ANDA UNTUK KE DEPANNYA.
JIKA PERLU, TEMUI AHLI PERENCANA KEUANGAN.

MENGASINGKAN DIRI DARI PERTEMANAN


TEMAN-TEMAN ADALAH KUNCI SUKSES DARI PERNIKAHAN. JADI,
JANGAN MENGASINGKAN DIRI DARI MEREKA. JIKA TEMAN-TEMAN

ANDA YANG LAJANG BERKUMPUL, PASTIKAN SEGALANYA SUDAH


DALAM KEADAAN AMAN DI RUMAH, LALU IKUTLAH PERGI
BERSAMA MEREKA, TENTU DENGAN SEIZIN SUAMI. HANYA
KARENA ANDA TIDAK IKUT-IKUTAN FLIRTING BERSAMA PRIA DI
KLUB BUKAN BERARTIANDA TIDAK BISA MENJADI TEMAN YANG
SUPORTIF.

TIDAK CUKUP SEKS


SEBANYAK 60 PERSEN PASANGAN BARU MENIKAH YANG
MENGIKUTI SURVEI MENGATAKAN BAHWA KEHIDUPAN SEKS
MEREKA BERANTAKAN. ALASAN TERBANYAK, SIBUK, TENTUNYA.
NAMUN, ITU BUKAN ALASAN YANG CUKUP UNTUK MEMADU KASIH
DI ATAS RANJANG BERSAMA PASANGANANDA, KAN? COBALAH
UNTUK MENGINISIASIKAN ACARA BERHUBUNGAN INTIM DENGAN
PASANGAN. BAHKAN, KALAU PERLU, BUAT JADWALNYA. JIKA ANDA
MULAI TERBIASA UNTUK MELAKUKANNYA, MAKA ANDA AKAN
MAKIN MENGINGINKANNYA, TAK TERTUTUP KEMUNGKINAN AKAN
MAKIN MENYUKAINYA JUGA.

TIDAK MENJAGA TUBUH


PERNAHKAH ANDA MENYADARI, BIASANYA ORANG-ORANG YANG
BARU SAJA MENIKAH AKAN TERLIHAT LEBIH "MAKMUR" DALAM
HAL BERAT BADAN? YA, ENTAH MENGAPA, INI SELALU TERJADI.
MUNGKIN KARENA KEBIASAAN MINUM ATAU MAKAN DI MALAM
HARI ATAU KARENA SIBUK BERLELAH-LELAHAN PADA MALAM HARI
SEHINGGA PADA PAGI HARINYA JADI LEBIH SEMANGAT UNTUK
SARAPAN DALAM JUMLAH BANYAK. WAH, INI MESTI DIWASPADAI.
SEBAIKNYA ANDA MULAI MEMPERBANYAK AGENDA UNTUK
BEROLAHRAGA BERSAMA PASANGAN. TAK INGIN, KAN, SI DIA
MERASA ANDA TAMPIL TAK SEGAR ATAU TERLIHAT LEBIH TAMBUN
DARI SEBELUM MENIKAH.

MERTUA DAN IPAR


LIMA PULUH PERSEN PASANGAN YANG DISURVEI
OLEH THENEST.COM MEMILIKI MASALAH DENGAN MERTUA DAN
IPAR MEREKA. COBALAH UNTUK MENGATUR EKSPEKTASI,
SEPERTI ANDA AKAN DATANG BERKUNJUNG BERSAMA PASANGAN,
MENGUNJUNGI KELUARGA ISTERI ATAU SUAMI ANDA SECARA
BERKALA.

PERTENGKARAN TAK PENTING


ANDA TAHU, KADANG HIDUP SEATAP DENGAN ORANG YANG ANDA
PIKIR SUDAH ANDA KENAL BISA JADI HAL YANG SANGAT
MEMUSINGKAN. COBALAH UNTUK TIDAK MUDAH TERPANCING

AMARAH. NAMUN, JIKA MEMANG EMOSI MARAH SUDAH


MEMUNCAK, UCAPKAN PERMISI, BILANG BAHWA ANDA BUTUH
WAKTU UNTUK SENDIRI DULU. TENANGKAN DIRI ANDA SEJENAK.
PASTIKAN ANDA DALAM KEADAAN TENANG DAN KEPALA DINGIN
SAAT INGIN MENYELESAIKAN MASALAH TADI. SAAT EMOSI,
PIKIRAN ANDA TIDAK TENANG DAN BISA SAJA MENGUCAPKAN
HAL-HAL YANG TAK ANDA MAKSUDKAN YANG BISA SAJA MALAH
MEMPERBURUK MASALAH.

TEROBSESI DENGAN BAYI


TENTU, INGIN MEMILIKI BAYI ADALAH LANGKAH BESAR BERIKUT
DALAM HIDUP SETELAH MENIKAH. NAMUN, TENANGLAH, JANGAN
TERBURU-BURU DAN MENJADI TEROBSESI UNTUK MEMILIKINYA
SEGERA. RATA-RATA, PASANGAN MEMILIKI BAYI DALAM JANGKA
WAKTU 3 TAHUN PERNIKAHAN MEREKA. JADI, MENGAPA TERBURUBURU? NIKMATI WAKTU ANDA BERSAMA PASANGAN, BERLIBUR
BERSAMA, MENIKMATI WAKTU TANPA PERLU PUSING MEMIKIRKAN
KEREPOTAN AKAN KEPERLUAN BAYI, DAN LAINNYA. TOH,
KETIKA ANDA DALAM KEADAAN RILEKS, KEMUNGKINAN UNTUK
HADIRNYA MOMONGAN JUSTRU LEBIH BESAR.

2.4. MASALAH KEPERAWATAN PADA KELUARGA DENGAN


PASANGAN BARU

S
ALAH SATU MASALAH YANG BISA TERJADI PADA KELUARGA DENGAN
PASANGAN BARU, ADALAH TIMBUL DARI TUGAS KELUARGA SEBAGAI
PASANGAN BARU, DIMANA PADA MAKALAH INI KELOMPOK
MENCONTOHKANNYA PADA TUGAS MENDISKUSIKAN UNTUK MEMILIKI
ANAK ATAU MEMILIH KB. PADA PASANGAN YANG MEMUTUSKAN UNTUK
MEMILIH KB, MAKA AKAN DAPAT MEMUNCULKAN BEBERAPA
PERMASALAHAN KEPERAWATAN.
DALAM KELUARGA BERENCANA PERAN PERAWAT ADALAH MEMBANTU
PASANGAN UNTUK MEMILIH METODA KONTRASEPSI YANG TEPAT UNTUK
DIGUNAKAN SESUAI DENGAN KONDISI, KECENDRUNGAN, SOSIAL
BUDAYA DAN KEPERCAYAAN YANG DIANUT OLEH PASANGAN TERSEBUT,
OLEH KARENA ITU PROSES KEPERAWATAN LEBIH DIARAHKAN KEPADA
MEMBANTU PASANGAN MEMILIH METODE KONTRASEPSI ITU SENDIRI.
KEGAGALAN PENGGUNAAN METODE KONTRASESPSI TERJADI
DISEBABKAN KARENA KURANGNYA PENGETAHUAN WANITA TERSEBUT
TERHADAP ALAT KONTRASESPSI ITU SENDIRI SEHINGGA MEMBERIKAN
PENGARUH TERHADAP KONDISI FISIOLOGIS, PSIKOLOGIS, KEHIDUPAN
SOSILAL DAN BUDAYA TERHADAP KEHAMILAN TERSEBUT. MAKA

DISINILAH LETAK PERAN PERAWAT UNTUK MEMBERIKAN PENGETAHUAN


YANG TEPAT, SEHINGGA HAL DI ATAS TIDAK TERJADI. PENGKAJIAN
KARENA MASALAH KONTRASEPSI MERUPAKAN SUATU HAL YANG

SENSITIF BAGI WANITA, MAKA DALAM MENGKAJI HAL INI PERAWAT HARUS
SANGAT MEMPERHATIKAN PRIVASI KLIEN.
SELAIN PENGKAJIAN UMUM (IDENTITAS KLIEN, RIWAYAT KESEHATAN,
RIWAYAT OBGYN), PENGKAJIAN KHUSUS YANG PERLU KITA LAKUKAN
UNTUK MEMENUHI PERAN SEBAGAI EDUKATOR DALAM PEMILIHAN
METODE KONTRASEPSI YANG TEPAT ADALAH :
1.
PENGETAHUAN KLIEN TENTANG MACAM-MACAM METODA KONTRASEPSI
PENGKAJIAN INI DILAKUKAN DENGAN MENANYAKAN KAPAN WANITA
TERSEBUT BERENCANA UNTUK MEMILIKI ANAK. KEMUDIAN TANYAKAN
METODA APA YANG SEDANG DIRENCANAKAN AKAN DIPAKAI OLEH KLIEN.
BILA KLIEN MENYATAKAN SATU JENIS/METODA, PERAWAT DAPAT
MENANYAKAN ALASAN PENGGUNAAN METODA TERSEBUT. PERTANYAANPERTANYAAN INI AKAN MENGIDENTIFIKASI MASALAH-MASALAH YANG
DIHADAPI KLIEN TERKAIT DENGAN KONTRASEPSI YANG DIGUNAKANNYA.
2.
PENGETAHUAN TENTANG TEKNIK PENGGUNAAN METODA KONTRASEPSI
DALAM MELAKSANAKAN PERANNYA SEBAGAI EDUCATOR PERAWAT
HARUS DAPAT MENENTUKAN TINGKAT PENGETAHUAN KLIEN TENTANG
TEKNIK PENGGUNAAN KONTRASEPSI. MISALNYA TANYAKAN TENTANG
BAGAIMANA KLIEN TERSEBUT MEMAKAI DIAFRAGMA, KAPAN DAN DI MANA
SPERMISIDA DIOLESKAN ATAU BERAPA KALI DALAM SEHARI KLIEN
TERSEBUT HARUS MENGKONSUMSI PIL KB DENGAN MENGGALI TINGKAT
PENGETAHUAN KLIEN, PERAWAT DAPAT MENENTUKAN BILA ADA
KESALAHAN PERSEPSI DALAM PENGGUNAAN YANG AKAN MENYEBABKAN
TIDAK EFEKTIFNYA ALAT KONTRASEPSI YANG DIPAKAI DAN AKAN
MENYEBABKAN TERJADINYA KEHAMILAN YANG TIDAK DIRENCANAKAN.
3.

KENYAMANAN KLIEN TERHADAP METODA KONTRASEPSI YANG SEDANG


DIPAKAI. DALAM MENGKAJI KENYAMANAN KLIEN, DENGARKAN KELUHANKELUHAN KLIEN TERHADAP EFEK SAMPING DARI KONTRASEPSI YANG
DIGUNAKANNYA. DENGARKAN JUGA PERNYATAAN KLIEN TENTANG
KENYAMANANNYA MENGGUNAKAN METODA KONTRASEPSI BULANAN
SEPERTI SUNTIK HORMONE DARI PADA PIL KELUARGA BERENCANA YANG
HARUS DI KONSUMSI SETIAP HARI. KEEFEKTIFAN SUATU METODA
MENINGKAT SEIRING DENGAN PENINGKATAN KENYAMANAN KLIEN DALAM
MENGGUNAKAN METODA TERSEBUT.

4.

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG PENGGUNAAN METODE YANG TEPAT JIKA


KLIEN BERENCANA UNTUK MENGGANTI METODA KONTRASEPSI
DISKUSIKAN TENTANG PILIHAN-PILIHAN YANG COCOK UNTUK DIGUNAKAN.
KAJI FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MEMBANTU PEMILIHAN METODE
TERBAIK SEPERTI RIWAYAT KESEHATAN DAHULU KLIEN YANG MERUPAKAN
KONTRAINDIKASI DARI METODA KONTRASEPSI, RIWAYAT OBSTETRIC,
BUDAYA DAN KEPERCAYAAN SERTA KEINGINAN UNTUK MENCEGAH
KEHAMILAN.

ADAPUN KONTRAINDIKASI PENGGUNAAN METODA KONTRASEPSI


YANG BERKAITAN DENGAN RIWAYAT KESEHATAN ADALAH :
A. KONTRASEPSI ORAL
1) PIL KELUARGA BERENCANA TERPADU
RIWAYAT TBC, KEJANG, KANKER PAYUDARA, BENJOLAN PAYUDARA,
TELAT HAID, HAMIL, PENDARAHAN ABNORMAL, HEPATITIS,
PENYAKIT JANTUNG, TROMBOPLEBITIS. UNTUK WANITA PEROKOK,
USIA LEBIH DARI 35TH, PENGIDAP DM, EPILEPSY, DAN PENDERITA
HIPERTENSI TIDAK DIANJURKAN MENGGUNAKAN PIL KELUARGA
BERENCANA.
2) MINI PIL
MINI PIL INI SEBAIKNYA TIDAK DIGUNAKAN PADA WANITA YANG
HARUS MENGHINDARI SEGALA JENIS METODA HORMONAL, ATAU
YANG MEJALANI PENGOBATAN KEJANG.
B. KONTRASEPSI HORMONAL
1) HORMONE IMPLANT
KANKER/BENJOLAN KERAS DI PAYUDARA, TERLAMBAT HAID,
HAMIL, PERDARAHAN YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA,
PENYAKIT JANTUNG DAN KEINGINAN UNTUK HAMIL KURANG DARI
LIMA TAHUN.
2) HORMONE INJEKSI
SUNTIKAN TERPADU TIDAK BOLEH DIBERIKAN PADA WANITA
DALAM MASA MENYUSUI.
C. KONTRASEPSI MEKANIK
1)
DIAFRAGMA DAN KAP SERVIK DIAFRAGMA DAN KAP SERVIK
TIDAK DIPAKAI PADA WANITA DENGAN RIWAYAT ALERGI LATEKS
DAN RIWAYAT TOKSIK SHOCK SYNDROME.
2)
IUD HAMIL ATAU KEMUNGKINAN HAMIL, RESIKO TINGGI
TERKENA PENYAKIT YANG MENULAR LEWAT HUBUNGAN SEKS,
RIWAYAT
INFEKSI
ALAT
REPRODUKSI,
INFEKSI
SESUDAH
PERSALINAN/ABORSI,
KEHAMILAN
EKTOPIK,
METRORAGIA
DISMENORHEA, ANEMIA DAN BELUM PERNAH HAMIL, MOLA.
D. KONTRASEPSI MANTAP
KONTRASEPSI INI TIDAK ADA KONTRAINDIKASINYA, KARENA SIFATNYA
PERMANEN. DIGUNAKAN BAGI PASANGAN YANG SUDAH TIDAK INGIN ATAU
SUDAH TIDAK MEMUNGKINKAN UNTUK MEMPUNYAI ANAK ANALISA DATA
KURANG PENGETAHUAN TENTANG KELUARGA BERENCANA MERUPAKAN
PENYEBAB TERSERING DARI GANGGUAN FISIK, PSIKOLOGIS DAN SOCIAL
DALAM KAITANNYA DENGAN KEHAMILAN YANG TIDAK DIRENCANAKAN.
2.4.1. PENGKAJIAN
TAHAP YG PERLU DILAKUKAN :
1. BINA HUBUNGAN SALING PERCAYA
2.PERKENALAN

3.JELASKAN TUJUAN KUNJUNGAN


4.BERFOKUS TERHADAP SIKLUS KEHIDUPAN KELUARGA
5.RIWAYAT KELUARGA SEJAK LAHIR
6.KAJI STRESS YANG MENIMPA KELUARGA DAN MASALAH YANG
ACTUAL POTENSIAL
7.PERKEMBANGAN KELUARGA SAAT INI
8.TANYAKAN PENGALAMAN-PENGALAMAN DAN TUGAS-TUGAS
UMUM, BAGAIMANA HASIL TERSEBUT
DICAPAI, DIRASAKAN.
9.TANYAKAN HUBUNGAN DI MASA LALU DAN SEKARANG DENGAN
ORIENTASI KELUARGA MEREKA DAN BENTUK KEHIDUPANNYA
MMEMBERI PERAWAT : PEMAHAMAN TENTANG MEREKA SELAMA
TAHUN-TAHUN PERTUMBUHAN MEREKA.
10.SEJAUH MANA KELUARGA MEMENUHI TUGAS
PERKEMBANGANNYA
11.GALI RIWAYAT KELUARGA : PERTEMUAN PERTAMA PASANGAN,
HUBUNGAN SEBELUM MENIKAH, HALANGAN-HALANGAN
TERHADAP PERKAWINANNYA, RESPON TERHADAP
PERKAWINANNYA.
2.4.2.DIAGNOSA KEPERAWATAN.
DIAGNOSA YANG MUNGKIN BERDASARKAN PENGKAJIAN DAN DATA
ADALAH :
RESIKO PERUBAHAN PEMELIHARAAN KESEHATAN BERHUBUNGAN
DENGAN
KURANG
PENGETAHUAN
TERHADAP
PEMILIHAN
DAN KETERSEDIAAN METODA KONTRASEPSI.
SEDANGKAN DIAGNOSA KEPERAWATAN LAIN YANG DAPAT TIMBUL
YAITU:
1.RESIKO KONFLIK PENGAMBILAN KEPUTUSAN B.D ALTERNATIF
KONTRASEPSI
2.RASA TAKUT B.D EFEK SAMPING KONTRASEPSI
3.RESIKO TINGGI INFEKSI B.D KONDISI AKTIF SECARA SEKSUAL
DAN PENGGUNAAN METODA KONTRASEPSI
4.RESIKO TINGGI PERUBAHAN POLA SEKSUALITAS B.D TAKUT
HAMIL
5.DISTRESS SPIRITUAL B.D KETIDAKCOCOKAN KEYAKINAN AGAMA
ATAU BUDAYA DENGAN METODA KONTRASEPSI YANG DIPILIH .
2.4.3. INTERVENSI KEPERAWATAN
RESIKO PERUBAHAN PEMELIHARAAN KESEHATAN BERHUBUNGAN
DENGAN KURANGPENGETAHUANTERHADAP PEMILIHAN
DAN KETERSEDIAAN METODA KONTRASEPSI.

KRITERIA HASIL :
SETELAH DILAKUKAN INTERVENSI, PASANGAN AKAN :

MENJABARKAN DENGAN BENAR TENTANG CARA PENGGUNAAN


METODA
KONTRASEPSI
YANG
DIPILIH
DAN
PEMECAHAN
MASALAHNYA
DAPAT MENJELASKAN TENTANG EFEK SAMPING DAN KOMPLIKASI
DARI METODA KONTRASEPSI YANG DIPILIH.
MELAPORKAN
ADANYA
KEPUASAN
TERHADAP
METODA
KONTRASEPSI YANG DIPILIH.
MENGGAMBARKAN METODA LAIN YANG DAPAT DIPAKAI DAN
MEMILIH SALAH SATU DARI METODA TERSEBUT BILA PASANGAN
INGGIN MENGGANTI METODE KONTRASEPSI.
INTERVENSI :
MENSTIMULASI KESADARAN ATAU PENERIMAAN KELUARGA
MENGENAI MASALAH DAN KEBUTUHAN KESEHATAN DENGAN CARA
MEMBERIKA INFORMASI, MENGIDENTIFIKASI KEBUTUHAN DAN
HARAPAN TENTANG KESEHATAN, DAN MENDORONG SIKAP EMOSI
YANG SEHAT TERHADAP MASALAH.

MENSTIMULASI
KELUARGA
UNTUK
MEMUTUSKAN
CARA
PERAWATAN YANG TEPAT DENGAN CARA MENGIDENTIFIKASI
KONSEKWENSI TIDAK MELAKUKAN TINDAKAN, MENGIDENTFIKASI
SUMBER

SUMBER
YANG
DIMILIKI
KELUARGA
DAN
MENDISKUSIKAN TENTANG KONSUKENSI TIAP TINDAKAN.

MEMBERIKAN KEPERCAYAAN DIRI DALAM MERAWAT ANGGOTA


KELUARGA YANG SAKAIT DENGAN CARA MENDEMONSTRASIKAN
CARA PERAWATAN, MENGGUNAKAN ALAT DAN FASILITAS YANG
ADA DI RUMAH DAN MENGAWASI KELUARGA MELAKUKAN
PERAWATAN .

INTERVENSI SECARA UMUM YANG BIAS DILAKUKAN PERAWAT


TUJUANNYA ADALAH UNTUK MEMBANTU KELUARGA DAN
ANGGOTANYA BERGERAK KE ARAH PENYELESAIAN TUGAS-TUGAS
PERKEMBANGAN INDIVIDU DAN KELUARGA.
PENGUASAAN SATU KUMPULAN TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN
KELUARGA MEMUNGINKAN KELUARGA BERGERAK MAJU KE ARAH
TAHAP PERKEMBANGAN BERIKUTNYA.
JIKA TUGAS-TUGAS PERKEMBANG KELUARGA TIDAK TERPENUHI
MAKA KELUARGA DISFUNGSIONAL.
MEMBERIKAN PENYULUHAN KEPADA KELUARGA MENGENAI
PROSES PERKEMBANGAN KELUARGA.
MEMBANTU KELUARGA MENCAPAI DAN MEMPERTAHANKAN
KESEIMBANGAN ANTARA KEBUTUHAN DAN PERTUMBUHAN
PRIBADI DARI ANGGOTA KELUARGA SECARA INDIVIDUAL DAN
FUNGSI
YANG
OPTIMUM
(
KEBUTUHAN
PERTUMBUHAN
KELUARGA).
MEMBIMBING ANTISIPASI & PENYULUHAN UNTUK MENCAPAI
TUJUAN PREVENSI PRIMER.

MEMBANTU KELUARGA MENGANTISIPASI


DAN MELEWATI
TRANSISI NORMATIF YANG BEDA DALAM KEHIDUPAN KELUARGA.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Asuhan keperawatan keluarga yaitu suatu rangkaian kegitatan yang diberi via
praktek keperawatan pada keluarga. Asuhan keperawatan keluarga digunakan untuk
membantu menyelesaikan masalah kesehatan keluarga dengan menggunakan pendekatan
proses keperawatan. Agar pelayanan kesehatan yang diberikan dapat diterima oleh
keluarga, maka perawat : Harus mengerti, memahami tipe dan struktur keluarga Tahu
tingkat pencapaian keluarga dalam melakukan fungsinya. Perlu paham setiap tahap
perkembangan keluarga dan tugas perkembangannya Pengkajian dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana keluarga memenuhi tugas perkembangnya. Pasangan baru
(Keluarga baru menikah):
Saat masing-masing individu laki-laki dan perempuan membentuk :
1.

Keluarga via perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing-masing.

2.

Mempersiapkan keluarga yang baru.

3.

Butuh penyesuaianan peran dan fungsi sehari-hari

4.

Belajar hidup bersama, beradaptasi dengan kebiasaan sendiri dan pasangannya.


Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah karena
adanya ikatan hubungan darah, perkawinan atau adopsi yang saling berinteraksi, memiliki
peran masing masing dan menciptakan dan mempertahankan suatu budaya (Bailon &
Maglaya).
Asuhan keperawatan keluarga yaitu suatu rangkaian kegitatan yang diberi via
praktek keperawatan pada keluarga. Asuhan keperawatan keluarga digunakan untuk
membantu menyelesaikan masalah kesehatan keluarga dengan menggunakan pendekatan
proses keperawatan. Agar pelayanan kesehatan yang diberikan dapat diterima oleh
keluarga, maka perawat :
1. Harus mengerti, memahami tipe dan struktur keluarga.
2. Tahu tingkat pencapaian keluarga dalam melakukan fungsinya.
3. Perlu paham setiap tahap perkembangan keluarga dan tugas perkembangannya

Pengkajian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keluarga memenuhi tugas


perkembangnya.Tahun-tahun pertama menikah merupakan tahun-tahun adaptasi. Itu

pendapat para pengamat dan komentator soal pernikahan dan keluarga. Orang umum
menganggapnya sebagai masa bulan madu, menandakan romatisme, kesan akan manisnya
hari-hari
yang
akan
dilalui.

B. Tujuan
1.

Tujuan Umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada keluarga pasangan baru menikah

2.

Tujuan Khusus
Untuk mengetahui pengertian kelurga pasangan baru menikah, tugas
perkembangan
keluarga pasangan baru menikah, pengkajian dan masalah pada keluarga pasangan
baru
menikah.

BAB II
PEMBAHASAN

A S U H A N K E P E R A W ATAN K E L U A R G A
MENIKAH DENGAN MASALAH KB

PASANGAN

BARU

A. Pengertian

Whall (1986) dalam analisis konsep tentang keluarga sebagai unit yang perlu
dirawat, ia mendefinisikan keluarga sebagai kelompok yang mengidentifikasikan diri dengan
anggotanya yang terdiri dari dua individu atau lebih yang asosiasinya dicirikan oleh istilahistilah khusus, yang boleh jadi tidak diikat oleh hubungan darah atau hukum, tapi yang
berfungsi sedemikian rupa sehingga mereka menganggap diri mereka sebagai sebuah
keluarga.

Family Service America (1984) mendefinisikan keluarga dalam suatu cara yang
komprehensif, yaitu sebagai dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan
kebersamaan dan keintiman.

Hariyanto, 2005. keluarga menunjuk kepada dua orang atau lebih yang disatukan
oleh ikatan-ikatan kebersamaan dan ikatan emosional dan yang mengidentifikasikan diri
mereka sebagai bagian dari keluarga.

Friedman 1998, Keluarga adalah kumpulan dua orang / lebih hidup bersama dg
keterikatan aturan dan emosional, dan setiap individu punya peran masing-masing.
Sedangkan Pasangan baru menikah adalah ketika seorang laki-laki dan perempuan
membentuk keluarga melalui pernikahan yang sah dan meninggalkan keluarga masingmasing.

B. Tahap tahap psangan baru menikah

Saat masing-masing individu laki-laki dan perempuan membentuk keluarga via


perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing-masing. Mempersiapkan
keluarga yang baru. Butuh penyesuaianan peran dan fungsi sehari-hari Belajar hidup
bersama, beradaptasi dengan kebiasaan sendiri dan pasangannya. Anggota dari tiga
keluarga yaitu keluarga suami, istri dan keluarga sendiri. Masing-masing
menghadapi
perpisahan dengan keluarga orangtuanya, mulai membina hubungan baru dengan

keluarga
dan kelompok social pasangan

Yang perlu diputuskan : kapan waktu yang tepat untuk mendapatkan anak dan
jumlah
yang diharapkan

C. Masalah yang biasa dilakukan oleh pasangan baru menikah


Tidak

menghadapi
masalah
utang
Ternyata, menurut data dari thenest.com, masalah keuangan adalah masalah
paling utama yang dipermasalahkan oleh pasangan. Jika sudah menikah, maka ada baiknya
Anda mengeluarkan dan mengutarakan semua masalah perutangan Anda, toh ia adalah
pasangan Anda, tak ada yang perlu ditutup-tutupi, tetapi perlu dihadapi bersama. Kemudian,
cobalah berhitung dan rencanakan keuangan Anda untuk ke depannya. Jika perlu, temui
ahli perencana keuangan.

Mengasingkan diri dari pertemanan


Teman-teman adalah kunci sukses dari pernikahan. Jadi, jangan mengasingkan
diri dari mereka. Jika teman-teman Anda yang lajang berkumpul, pastikan segalanya sudah
dalam keadaan aman di rumah, lalu ikutlah pergi bersama mereka, tentu dengan seizin
suami. Hanya karena Anda tidak ikut-ikutan flirting bersama pria di klub bukan berarti Anda
tidak bisa menjadi teman yang suportif.
Tidak cukup seks
Sebanyak 60 persen pasangan baru menikah yang mengikuti survei mengatakan
bahwa kehidupan seks mereka berantakan. Alasan terbanyak, sibuk, tentunya. Namun, itu
bukan alasan yang cukup untuk memadu kasih di atas ranjang bersama pasangan Anda,
kan? Cobalah untuk menginisiasikan acara berhubungan intim dengan pasangan. Bahkan,
kalau perlu, buat jadwalnya. Jika Anda mulai terbiasa untuk melakukannya, maka Anda akan
makin menginginkannya, tak tertutup kemungkinan akan makin menyukainya juga.
Tidak menjaga tubuh
Pernahkah Anda menyadari, biasanya orang-orang yang baru saja menikah akan
terlihat lebih "makmur" dalam hal berat badan? Ya, entah mengapa, ini selalu terjadi.
Mungkin karena kebiasaan minum atau makan di malam hari atau karena sibuk berlelahlelahan pada malam hari sehingga
pada pagi harinya jadi lebih semangat untuk sarapan dalam jumlah banyak. Wah, ini mesti
diwaspadai. Sebaiknya Anda mulai memperbanyak agenda untuk berolahraga bersama
pasangan. Tak ingin, kan, si dia merasa Anda tampil tak segar atau terlihat lebih tambun dari
sebelum menikah?
Mertua dan ipar

Lima puluh persen pasangan yang disurvei olehthenest.com memiliki masalah


dengan mertua dan ipar mereka. Cobalah untuk mengatur ekspektasi, seperti Anda akan
datang berkunjung bersama p```````````````` akhirnya, ini akan kembali menghantui Anda.
Pertengkaran tak penting
Anda tahu, kadang hidup seatap dengan orang yang Anda pikir sudah Anda
kenal bisa jadi hal yang sangat memusingkan. Cobalah untuk tidak mudah terpancing
amarah. Namun, jika memang emosi marah sudah memuncak, ucapkan permisi, bilang
bahwa Anda butuh waktu untuk sendiri dulu. Tenangkan diri Anda sejenak. Pastikan Anda
dalam keadaan tenang dan kepala dingin saat ingin menyelesaikan masalah tadi. Saat
emosi, pikiran Anda tidak tenang dan bisa saja mengucapkan hal-hal yang tak Anda
maksudkan yang bisa saja malah memperburuk masalah.
Terobsesi dengan bayi
Tentu, ingin memiliki bayi adalah langkah besar berikut dalam hidup setelah
menikah. Namun, tenanglah, jangan terburu-buru dan menjadi terobsesi untuk memilikinya
segera. Rata-rata, pasangan memiliki bayi dalam jangka waktu 3 tahun pernikahan mereka.
Jadi, mengapa terburu-buru? Nikmati waktu Anda bersama pasangan, berlibur bersama,
menikmati waktu tanpa perlu pusing memikirkan kerepotan akan keperluan bayi, dan
lainnya. Toh, ketika Anda dalam keadaan rileks, kemungkinan untuk hadirnya momongan
justru lebih besar.

D. Tugas Perkembangan
Anggota dari tiga keluarga yaitu keluarga suami, istri dan
Masing-masing
menghadapi perpisahan dengan keluarga keluarga sendiri. orangtuanya, mulai membina
hubungan baru dengan keluarga dan kelompok social pasangan
Yang perlu diputuskan : kapan waktu yang tepat untuk mendapatkan anak dan
jumlah yang diharapkan Tugas perkembangan keluarga baru menikah :
1.

Membina hubungan intim yang memuaskan.

Akan menyiapkan kehidupan bersama yang baru

Sumber- sumber dari dua orang yang digabungkan.

Peran berubah.

Fungsi baru diterima.

Belajar hidup bersama sambil penuhi kebutuhan kepribadian yang mendasar.

Saling mensesuaikan diri terhadap hal yang kecil yang bersifat rutinitas Keberhasilan
dalam mengembangkan hubungan terjadi apabila kedua pasangan saling
menyesuaikan diri dan kecocokan dari kebutuhan dan minat pasangan.

Menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis.


Pasangan menghadapi tugas memisahkan diri dari keluarga asal dan
mengupayakan hubungan dengan orang tua pasangan dan keluarga besar lainnya.
Loyalitas utama harus dirubah untuk kepentingan perkawinannya.
3.

Mendiskusikan rencana memiliki anak atau memilih KB.


Masalah kesehatan yaitu penyesuaian seksual dan peran perkawinan. Perawat
Perawat dalam Keluarga berencana Dalam keluarga berencana peran perawat adalah
membantu pasangan untuk memilih metoda kontrasepsi yang tepat untuk digunakan sesuai
dengan kondisi, kecendrungan, sosial budaya dan kepercayaan yang dianut oleh pasangan
tersebut, oleh karena itu proses keperawatan lebih diarahkan kepada membantu pasangan
memilih metode kontrasepsi itu sendiri.

Kegagalan penggunaan metode kontrasespsi terjadi disebabkan karena kurangnya


pengetahuan wanita tersebut terhadap alat kontrasespsi itu sendiri sehingga memberikan
pengaruh terhadap kondisi fisiologis, psikologis, kehidupan sosilaL dan budaya terhadap
kehamilan tersebut. maka disinilah letak peran perawat untuk memberikan pengetahuan
yang tepat, sehingga hal di atas tidak terjadi. Pengkajian Karena masalah kontrasepsi
merupakan suatu hal yang sensitif bagi wanita, maka dalam mengkaji hal ini perawat harus
sangat memperhatikan privasi klien. Rendahkan suara ketika mengkaji untuk menigkatkan
rasa nyaman klien dan pertahankan rasa percaya diri yang tinggi klien.
Selain pengkajian umum (Identitas klien, Riwayat kesehatan, Riwayat obgyn), pengkajian
khusus yang perlu kita lakukan untuk memenuhi peran sebagai edukator dalam pemilihan
metode kontrasepsi yang tepat adalah: Pengetahuan klien tentang macam-macam metoda
kontrasepsi
Pengkajian ini dilakukan dengan menanyakan kapan wanita tersebut berencana
untuk memiliki anak. Kemudian tanyakan metoda apa yang sedang direncanakan akan
dipakai oleh klien. Bila klien menyatakan satu jenis/metoda, perawat dapat menanyakan
alasan penggunaan metoda tersebut. pertanyaan-pertanyaan ini akan mengidentifikasi
masalah-masalah yang dihadapi klien terkait dengan kontrasepsi yang digunakannya.
2. Pengetahuan tentang teknik penggunaan metoda kontrasepsi
Dalam melaksanakan perannya sebagai educator perawat harus dapat menentukan
tingkat pengetahuan klien tentang teknik penggunaan kontrasepsi. Misalnya tanyakan
tentang bagaimana klien tersebut memakai diafragma, kapan dan di mana spermisida
dioleskan atau berapa kali dalam sehari klien tersebut harus mengkonsumsi pil KB dengan
menggali tingkat pengetahuan klien, perawat dapat menentukan bila ada kesalahan
persepsi dalam penggunaan yang akan menyebabkan tidak efektifnya alat kontrasepsi yang
dipakai dan akan menyebabkan terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan.
3. Kenyamanan klien terhadap metoda kontrasepsi yang sedang dipakai.
Dalam mengkaji kenyamanan klien, dengarkan keluhan-keluhan klien terhadap efek
samping dari kontrasepsi yang digunakannya. Dengarkan juga pernyataan klien tentang
kenyamanannya menggunakan metoda kontrasepsi bulanan seperti suntik hormone dari

pada pil keluarga berencana yang harus di konsumsi setiap hari. Keefektifan suatu metoda
meningkat seiring dengan peningkatan kenyamanan klien dalam menggunakan metoda
tersebut.
4. Faktor-faktor pendukung penggunaan metode yang tepat
Jika klien berencana untuk mengganti metoda kontrasepsi diskusikan tentang
pilihan-pilihan yang cocok untuk digunakan. Kaji faktor-faktor yang dapat membantu
pemilihan metode terbaik seperti riwayat kesehatan dahulu klien yang merupakan
kontraindikasi dari metoda kontrasepsi, riwayat obstetric, budaya dan kepercayaan serta
keinginan untuk mencegah kehamilan.

Adapun kontraindikasi penggunaan metoda kontrasepsi yang berkaitan dengan


riwayat
kesehatan
adalah
a. Kontrasepsi oral
1) Pil keluarga berencana terpadu
Riwayat TBC, kejang, kanker payudara, benjolan payudara, telat haid, hamil,
pendarahan abnormal, hepatitis, penyakit jantung, tromboplebitis. Untuk wanita perokok,
usia lebih dari 35th, pengidap DM, epilepsy, dan penderita hipertensi tidak dianjurkan
menggunakan pil keluarga berencana.
2) Mini Pil
Mini pil ini sebaiknya tidak digunakan pada wanita yang harus menghindari segala
jenis metoda hormonal, atau yang mejalani pengobatan kejang
b. Kontrasepsi Hormonal
1) Hormone Implant
Kanker/benjolan keras di payudara, terlambat haid, hamil, perdarahan yang tidak
diketahui penyebabnya, penyakit jantung dan keinginan untuk hamil kurang dari lima tahun.
2) Hormone Injeksi
Suntikan terpadu tidak boleh diberikan pada wanita dalam masa menyusui.
c. Kontrasepsi Mekanik
1) Diafragma dan kap servik Diafragma dan kap servik tidak dipakai pada wanita dengan
riwayat alergi lateks dan riwayat toksik shock syndrome.
2) IUD Hamil atau kemungkinan hamil, resiko tinggi terkena penyakit yang menular lewat
hubungan seks, riwayat infeksi alat reproduksi, infeksi sesudah persalinan/aborsi, kehamilan
ektopik, metroragia dismenorhea, anemia dan belum pernah hamil, mola.
d. Kontrasepsi Mantap

Kontrasepsi ini tidak ada kontraindikasinya, karena sifatnya permanen. Digunakan


bagi pasangan yang sudah tidak ingin atau sudah tidak memungkinkan untuk mempunyai
anak Analisa Data Kurang pengetahuan tentang keluarga berencana merupakan penyebab
tersering dari gangguan fisik, psikologis dan social dalam kaitannya dengan kehamilan yang
tidak direncanakan.

E. Pengkajian Keperawatan
Tahap yg perlu dilakukan :
1. Bhsp
2. Perkenalkan
3. Jelaskan tujuan kunjungan
4. Berfokus terhadap siklus kehidupan keluarga
5. Riwayat keluarga sejak lahir
6. Kaji stress yang menimpa keluarga dan masalah yang actual potensial
7. Perkembangan keluarga saat ini
8. Tanyakan pengalaman-pengalaman dan tugas-tugas umum, bagaimana hasil
tersebut
9. dicapai, dirasakan.
10. Tanyakan hubungan di masa lalu dan sekarang dengan orientasi keluarga mereka
dan bentuk kehidupannya Mmemberi Perawat : pemahaman tentang mereka
selama tahun-tahun pertumbuhan mereka.
11. Sejauh mana keluarga memenuhi tugas perkembangannya
12. Gali riwayat keluarga : pertemuan pertama pasangan, hubungan sebelum menikah,
halangan-halangan terhadap perkawinannya, respon terhadap perkawinannya,

F. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang mungkin berdasarkan pengkajian dan data adalah
Resiko Perubahan Pemeliharaan Kesehatan berhubungan dengan kurang
Pengetahuan Terhadap Pemilihan dan Ketersediaan Metoda Kontrasepsi. Sedangkan
diagnosa keperawatan lain yang dapat timbul yaitu:

1. Resiko konflik pengambilan keputusan b.d alternatif kontrasepsi


2. Rasa takut b.d efek samping kontrasepsi
3. Resiko tinggi infeksi b.d kondisi aktif secara seksual dan penggunaan metoda
kontrasepsi
4. Resiko tinggi perubahan pola seksualitas b.d takut hamil
5. Distress spiritual b.d ketidakcocokan keyakinan agama atau budaya dengan metoda
kontrasepsi yang dipilih Rencana Intervensi

G. Intervensi Keperawatan
1.

Resiko Perubahan Pemeliharaan Kesehatan berhubungan dengan


Kurang Pengetahuan Terhadap Pemilihan dan Ketersediaan Metoda Kontrasepsi.
1.

Kriteria hasil

Setelah dilakukan intervensi, pasangan akan :

Menjabarkan dengan benar tentang cara penggunaan metoda kontrasepsi yang


dipilih dan pemecahan masalahnya

Dapat menjelaskan tentang efek samping dan komplikasi dari metoda


kontrasepsi yang dipilih.

Melaporkan adanya kepuasan terhadap metoda kontrasepsi yang dipilih.


Menggambarkan metoda lain yang dapat dipakai dan memilih salah satu dari
metoda tersebut bila pasangan inggin mengganti metode kontrasepsi.

b. Intervensi
1) Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan
kesehatan dengan cara memberika informasi, mengidentifikasi kebutuhan dan harapan
tentang kesehatan, dan mendorong sikap emosi yang sehat terhadap masalah.
2) Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat dengan cara
mengidentifikasi konsekwensi tidak melakukan tindakan, mengidentfikasi sumber sumber
yang dimiliki keluarga dan mendiskusikan tentang konsukensi tiap tindakan.
3) Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakait dengan cara
mendemonstrasikan cara perawatan, menggunakan alat dan fasilitas yang ada di rumah
dan mengawasi keluarga melakukan perawatan
Intervensi secara umum yang bias dilakukan perawat

Tujuannya adalah untuk membantu keluarga dan anggotanya bergerak ke arah


penyelesaian tugas-tugas perkembangan individu dan keluarga.

Penguasaan satu kumpulan tugas-tugas perkembangan keluarga memunginkan keluarga


bergerak maju ke arah tahap perkembangan berikutnya.

Jika tugas-tugas perkembang keluarga tidak terpenuhi maka keluarga disfungsional.

Memberikan penyuluhan kepada keluarga mengenai proses perkembangan keluarga.

Membantu keluarga mencapai dan mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan dan


pertumbuhan pribadi dari anggota keluarga secara individual dan fungsi yang optimum
( kebutuhan pertumbuhan keluarga).
Membimbing antisipasi & penyuluhan untuk mencapai tujuan prevensi primer.
Membantu keluarga mengantisipasi dan melewati transisi normatif yang beda dalam
kehidupan keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

A G U S T I A N S YA H T R I A A N . 2 0 0 9 . A S U H A N K E P E R A W ATAN
KELUARGA
PASANGAN
BARUMENIKAH
DENGAN
MASALAH KB. NURSING IS A PERFECT PROFFESION.
( HTTP://NERS86.W ORDPRESS.COM DI AKSES PADA
24 OKTOBER 2010)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehidupan seksual merupakan bagian dari kehidupan manusia, sehingga kualitas
kehidupan seksual ikut menentukan kualitas hidup. Hubungan seksual yang sehat adalah
hubungan seksual yang dikehendaki, dapat dinikmati bersama pasangan suami dan istri dan
tidak menimbulkan akibat buruk baik fisik maupun psikis termasuk dalam hal ini pasangan lansia.
Dewasa lanjut (Late adult hood) atau lebih dikenal dengan istilah lansia adalah periode
dimana seseorang telah mencapai usia diatas 45 tahun. Pada periode ini masalah seksual
masih mendatangkan pandangan bias terutama pada wanita yang menikah, termasuk
didalamnya aspek sosio-ekonomi. Pada pria lansia masalah terbesar adalah masalah psikis dan
jasmani, sedangkan pada wanita lansia lebih didominasi oleh perasaan usia tua atau merasa
tua.
Pada penelitian di negara barat, pandangan bias tersebut jelas terlihat. Penelitian Kinsey
yang mengambil sampel ribuan orang, ternyata hanya mengambil 31 wanita dan 48 pria yang
berusia diatas 65 tahun. Penelitian Masters-Jonhson juga terutama mengambil sampel mereka
yang berusia antara 50-70 tahun, sedang penelitian Hite dengan 1066 sampel hanya
memasukkan 6 orang wanita berusia di atas 70 tahun (Alexander and Allison,1995).

BAB II
PEMBAHASAN

I.
A.

Perubahan anatomik pada sistem genetalia pada lansia


Wanita
Dengan berhentinya produksinya hormon estrogen, genitalia interna dan eksterna
berangsur-angsur mengalami atrofi.

1.

Vagina

Vagina mengalami kontraktur, panjang dan lebar vagina mengalami pengecilan.

Fornises menjadi dangkal, begitu pula serviks tidak lagi menonjol ke dalam vagina. Sejak
klimakterium, vagina berangsur-angsur mengalami atropi, meskipun pada wanita belum
pernah melahirkan. Kelenjar seks mengecil dan berhenti berfungsi. Mukosa genitalia
menipis begitu pula jaringan sub-mukosa tidak lagi mempertahankan elastisitasnya akibat
fibrosis.

Perubahan ini sampai batas tertentu dipengaruhi oleh keberlangsungan koitus, artinya
makin lama kegiatan tersebut dilakukan kurang laju pendangkalan atau pengecilan genitalia
eksterna.

2.

Uterus
Setelah klimaterium uterus mengalami atrofi, panjangnya menyusut dan dindingnya menipis,
miometrium menjadi sedikit dan lebih banyak jaringan fibrotik. Serviks menyusut tidak
menonjol, bahkan lama-lama akan merata dengan dinding jaringan.

3.

Ovarium
Setelah menopause, ukuran sel telur mengecil dan permukaannya menjadi keriput sebagai
akibat atrofi dari medula, bukan akibat dari ovulasi yang berulang sebelumnya, permukaan
ovarium menjadi rata lagi seperti anak oleh karena tidak terdapat folikel. Secara umum,
perubahan fisik genetalia interna dan eksterna dipengaruhi oleh fungsi ovarium. Bila ovarium
berhenti berfungsi, pada umumnya terjadi atrofi dan terjadi inaktivitas organ yang
pertumbuhannya oleh hormon estrogen dan progesteron.

4.

Payudara (Glandula Mamae)


Payudara akan menyusut dan menjadi datar, kecuali pada wanita yang gemuk, dimana
payudara tetap besar dan menggantung. Keadaan ini disebabkan oleh karena atrofi hanya
mempengaruhi
kelenjar
payudara
saja.
Kelenjar pituari anterior mempengaruhi secara histologik maupun fungsional, begitu pula
kelenjar tiroid dan adrenal menjadi keras dan mengkibatkan bentuk tubuh serupa
akromegali ringan. Bahu menjadi gemuk dan garis pinggang menghilang. Kadang timbul
pertumbuhan rambut pada wajah. Rambut ketiak, pubis mengurang, oleh karena
pertumbuhannya dipengaruhi oleh kelenjar adrenal dan bukan kelenjar ovarium. Rambut
kepala menjadi jarang. Kenaikan berat badan sering terjadi pada masa klimakterik.

B.
1.

Pria
Prostat
Pembesaran prostat merupakan kejadian yang sering pada pria lansia, gejala yang timbul
merupakan efek mekanik akibat pembesaran lobus medius yang kemudian seolah-olah
bertindak sebagai katup yang berbentuk bola (Ball Valve Effect). Disamping itu terdapat efek
dinamik dari otot polos yang merupakan 40% dari komponen kelenjar, kapsul dan leher
kantong kemih, otot polos ini dibawah pengaruh sistem alfa adrenergik. Timbulnya nodul
mikroskopik sudah terlihat pada usia 25-30 tahun dan terdapat pada 60% pria berusia 60
tahun, 90% pada pria berusia 85 tahun, tetapi hanya 50% yang menjadi BPH Makroskopik
dan dari itu hanya 50% berkembang menjadi BPH klinik yang menimbulkan problem medik.
Kadar dehidrosteron pada orang tua meningkat karena meningkatnya enzim 5 alfa
reduktase yang mengkonfersi tetosteron menjadi dehidro steron. Ini yang dianggap menjadi
pendorong hiperplasi kelenjar, otot dan stroma prostat. Sebenarnya selain proses menua
rangsangan androgen ikut berperan timbulnya BPH ini dapat dibuktikan pada pria yang di
kastrasi menjelang pubertas tidak akan menderita BPH pada usia lanjut.

2.

Testis
Penuaan pada pria tidak menyebabkan berkurangnya ukuran dan berat testis tetapi sel yang
memproduksi dan memberi nutrisi (sel Leydic) pada sperma berkurang jumlah dan
aktifitasnya sehingga sperma berkurang sampai 50% dan testoteron juga menurun. Hal ini
menyebabkan penuruna libido dan kegiatan sex yang jelas menurun adalah multipel
ejakulasi dan perpanjangan periode refrakter. Tetapi banyak golongan lansia tetap
menjalankan aktifitas sexsual sampai umur lanjut.

II. Perubahan fisiologik aktivitas seksual akibat proses penuaan bila ditinjau dari
pembagian tahapan seksual menurut Kaplan adalah berikut ini :
1. Fase desire
Dipengaruhi oleh penyakit, masalah hubungan dengan pasangan, harapan kultural,
kecemasan akan kemampuan seks. Hasrat pada lansia wanita mungkin menurun seiring
makin lanjutnya usia, tetapi bias bervariasi.Interval untuk meningkatkan hasrat seksual pada
lansia pria meningkat serta testoteron menurun secara bertahap sejak usia 55 tahun akan
mempengaruhi libido.
2. Fase arousal

Lansia wanita: pembesaran payudara berkurang; terjadi penurunan flushing, elastisitas


dinding vagina, lubrikasi vagina dan peregangan otot-otot; iritasi uretra dan kandung kemih.

Lansia pria : ereksi membutuhkan waktu lebih lama, dan kurang begitu kuat; penurunan
produksi sperma sejak usia 40tahun akibat penurunan testoteron; elevasi testis ke perineum
lebih lambat.

3. Fase orgasmik

Lansia wanita : tanggapan orgasme kurang intens disertai lebih sedikit konstraksil
kemampuan mendapatkan orgasme multipel berkurang.

Lansia pria : kemampuan mengontrol ejakulasi membaik; kekuatan dan jumlah konstraksi
otot berkurang; volume ejakulat menurun.

4. Fase pasca orgasmik


Mungkin terdapat periode refrakter dimana pembangkitan gairah sampai timbulnya fase
orgasme berikutnya lebih sukar terjadi. Disfungsi seksual pada lansia tidak hanya
disebabkan oleh perubahan fisiologik saja, terdapat banyak penyebab lainnya seperti:

Penyebab iatrogenik
Tingkah laku buruk beberapa klinisi, dokter, suster dan orang lain yang mungkin membuat
inadekuat konseling tentang efek prosedur operasi terhadap fungsi seksual.

Penyebab biologik dan kasus medis


Hampir semua kondisi kronis melemahkan baik itu berhubungan langsung atau tidak
dengan seks dan system reproduksi mungkin memacu disfungsi seksual psikogenik.

III. Di samping faktor perubahan fisik, faktor psikologi juga sering kali menyebabkan
penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia seperti :

1. Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia.
2. Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh tradisi dan
budaya.
3. Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.
4. Pasangan hidup telah meninggal.
5. Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya
misalnya cemas, depresi, pikun dsb.

IV. Beberapa hal yang dapat menyebabkan masalah kehidupan sosial antara lain :
1. Infark miokard
Mungkin mempunyai efek yang kecil pada fungsi seksual. Banyak pasien segan untuk
terlibat dalam hubungan seksual karena takut menyebabkan infark.
2. Pasca stroke
Masalah seksual mungkin timbul setelah perawatan di rumah sakit karena pasien
mengalami anxietas akibat perubahan gambaran diri, hilangnya kapasitas, takut akan
kehilangan cinta atau dukungan relasi serta pekerjaan atau rasa bersalah dan malu atas
situasi. Pola seksual termasuk kuantitas dan kualitas aktivitas seksual sebelum stroke
sangat penting untuk diketahui sebelum nasehat spesifik tentang aktivitas seksual
ditawarkan. Karena sistem saraf otonomik jarang mengalami kerusakan pada stroke, maka
respon seksual mungkin tidak terpengaruh.
Libido biasanya tidak terpengaruh secara langsung. Jika terjadi hemiplegi permanent maka
diperlukan penyesuaian pada aktivitas seksual. Perubahan penglihatan mungkin membatasi
pengenalan orang atau benda-benda, dalam beberapa kasus, pasien dan pasangannya
mungkin perlu belajar untuk menggunakan area yang tidak mengalami kerusakan.
Kelemahan motorik dapat menimbulkan kesulitan mekanik, namun dapat diatasi dengan
bantuan fisik atau tehnik bercinta alternatif. Kehilangan kemampuan berbicara mungkin
memerlukan sistem non-verbal untuk berkomunikasi.
3. Kanker
Masalah seksual tidak terbatas pada kanker yang mengenai organ-organ seksual. Baik
operasi maupun pengobatan mengubah citra diri dan dapat menyebabkan disfungsi seksual
(kekuatan dan libido) untuk sementara waktu saja, walaupun tidak ada kerusakan saraf.

4. Diabetes mellitus
Diabetes menyebabkan arteriosklerosis dan pada banyak kasus menyebabkan neuropati
autonomik. Hal ini mungkin menyebabkan disfungsi ereksi dan disfungsi vasokonstriksi yang
memberikan kontribusi untuk terjadinya disfungsi seksual.
5. Arthritis
Beberapa posisi bersenggama adalah menyakitkan dan kelemahan atau kontraktur fleksi
mungkin mengganggu apabila distimulasi secara memadai. Nyeri dan kaku mungkin
berkurang dengan pemanasan, latihan, analgetik sebelum aktivitas seksual.
6. Rokok dan alcohol
Pengkonsumsian alkohol dan rokok tembakau mengurangi fungsi seksual, khususnya bila
terjadi kerusakan hepar yang akan mempengaruhi metabolisme testoteron. Merokok juga

mungkin mengurangi vasokongesti respon seksual dan mempengaruhi kemampuan untuk


mengalami kenikmatan.
7. Penyakit paru obstruktif kronik
Ada penyakit paru obstruktif kronik, libido mungkin terpengaruh karena adanya kelelahan
umum, kebutuhan pernafasan selama aktivitas seksual mungkin dapat menyebabkan
dispnoe, yang mungkin dapat membahayakan jiwa.
8. Obat-obatan
Beberapa obat-obatan dapat menyebabkan terjadinya disfungsi seksual, antara lain
beberapa obat anti hipertensi, estrogen, anti psikotik, sedatif, dan lain-lain.

V. Upaya mengatasi permasalahan seksual pada lansia


Untuk mengatasi beberapa gangguan baik fisik maupun psikis termasuk masalah
seksual diperlukan penanganan yang serius dan terpadu. Proses penanganan ini
memerlukan waktu yang cukup lama tergantung dari keluhan dan kerjasama antara pasien
dengan konselor. Dari ketiga gangguan tersebut, masalah seksual merupakan masalah
yang penanganannya memerlukan kesabaran dan kehati-hatian, karena pada beberapa
masyarakat Indonesia terutama masyarakat pedesaan membicarakan masalah seksual
adalah masalah yang tabu.
Manajemen yang dilakukan tenaga kesehatan untuk mengatasi gangguan seksual
pada lansia adalah sebagai berikut :
1. Anamnesa Riwayat Seks

Gunakan bahasa yang saling menguntungkan dan memuaskan

Gunakan pertanyaan campuran antara terbuka dan teutup

Mendapatkan gambaran yang akurat tentang apa yang sebenarnya salah

Uraikan dengan panjang lebar permasaIahanya

Dapatkan latar belakang medis mencakup daftar lengkap tentang obat-obatan yang
dikonsumsi oieh pasien.

Pemeriksaan sebaiknya dilakukan dihadapan pasangannya. Anamnese harus rinci,


meliputi awitan, jenis maupun intensitas gangguan yang dirasakan. Juga anamnese tentang
ganguan sistemik maupun organik yang dirasakan. Penelaahan tentang gangguan
psikologik, kognitif harus dilakukan. Juga anamneses tentang obat-obatan. Pemeriksaan
fisik meliputi head to toe.

Pemeriksaan tambahan yang dilakukan meliputi keadaan jantung, haati, ginjal dan
paru-paru. Status endokrin dan metaboliuk meliputi keadaan gula darah, status gizi dan
status hormonal tertentu. Apabila keluhan mengenai disfungsi ereks pada pria, pemeriksaan
khas juga meliputi a.l pemeriksaan dengan snap gauge atau nocturnal penile tumescence
testing. (Hadi-Martono, 1996)
2. Pengobatan yang diberikan mencakup :

Konseling Psikoseksual

Therapi Hormon

Penyembuhan dengan obat-obatan

Peralatan Mekanis

Bedah Pembuluh

3. Bimbingan Psikososial
Bimbingan dan konseling sangat dipentingkan dalam rencana manajemen gangguan
seks dan dikombinasikan dengan penyembuhan pharmakologi.

4. Penyembuhan Hormon

Pada

pria

lansia :

Penggunaan

suplemen

testosteron

untuk

menyembuhkan

viropause/andropause pada pria (pemanasan dan ejakulasi).

Pada wanita lansia : Terapi pengganti hormon (HRT) dengan pemberian estrogen pada
klimakterium.

5. Penyembuhan dengan Obat

Yohimbine, Pemakaian Krim vasoaktif

Oral phentholamin

Tablet apomorphine sublingual

Sildenafil, suntik intra-carporal obat vasoaktif

Penempatan intra-uretral prostaglandin

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN MASALAH FUNGSI SEKSUAL

1. Pengkajian

a. Identitas Klien
1. Nama Klien
2. Umur
3. Agama
4. Suku
5. Pendidikan
6. Alamat
7. Pekerjaan
8. Agama dan kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan
9. Status social ekonomi keluarga

b. Dapatkan riwayat seksual:

Pola seksual biasanya

Kepuasan (individu, pasangan)

Pengetahuan seksual

Masalah (seksual, kesehatan)

Harapan

Suasana hati, tingkat energi

2. Diagnosa Keperawatan
1.

Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur tubuh/fungsi yang ditandai dengan
perubahan dalam mencapai kepuasan seksual.

Tujuan : Pasien dapat menerima perubahan struktur tubuh terutama pada fungsi seksual yang dialaminya
Kriteria hasil:
1.

Mengekspresikan kenyamanan

2.

Mengekspresikan kepercayaan diri

Intervensi:
1. Bantu pasien untuk mengekspresikan perubahan fungsi tubuh termasuk organ seksual seiring
dengan bertambahnya usia.
2. Diskusikan beberapa pilihan agar dicapai kenyamanan.
3. Berikan pendidikan kesehatan tentang penurunan fungsi seksual.
4. Motivasi klien untuk mengkonsumsi makanan yang rendah lemak, rendah kolestrol, dan berupa
diet vegetarian
5. Anjurkan klien untuk menggunakan krim vagina dan gel untuk mengurangi kekeringan dan rasa
gatal pada vagina, serta untuk megurangi rasa sakit pada saat berhubungan seksual

2. Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh.
Tujuan : Pasien dapat menerima perubahan bentuk salah satu angota tubuhnya secara positif
Kriteria hasil:
1.

2.

Pasien mau berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan tanpa rasa malu dan rendah
diri
Pasien yakin akan kemampuan yang dimiliki
Intervensi:

1. Kaji perasaan/persepsi pasien tentang perubahan gambaran diri berhubungan dengan


keadaan angota tubuhnya yang kurang berfungsi secara normal
2. Lakukan pendekatan dan bina hubungan saling percaya dengan pasien
3. Tunjukkan rasa empati, perhatian dan penerimaan pada pasien
4. Bantu pasien untuk mengadakan hubungan dengan orang lain
5. Beri kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan perasaan kehilangan
6. Beri dorongan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan diri dan hargai pemecahan
masalah yang konstruktif dari pasien.
3. Perubahan pola seksualitas berhubungan dengan efek penyakit akut dan kronis
Tujuan : Pasien dapat menerima perubahan pola seksualitas yang disebabkan masalah kesehatannya.
Kriteria Hasil :
1. Mengidentifikasi keterbatasannya pada aktivitas seksual yang disebabkan masalah
kesehatan

2.

Mengidentifikasi modifikasi kegiatan seksual yang pantas dalam respon terhadap


keterbatasannya
Interversi :

1. Kaji factor-faktor penyebab dan penunjang, yang meliputi

Kelelahan

Nyeri

Nafas pendek

Keterbatasan suplai oksigen

Imobilisasi

Kerusakan inervasi saraf

Perubahan hormone

Depresi

Kurangnya informasi yang tepat

2. Hilangkan atau kurangi factor-faktor penyebab bila mungkin. Ajarkan pentingnya mentaati
aturan medis yang dibuat untuk mengontrol gejala penyakit
3. Berikan informasi terbatas dan saran khusus

Berikan informasi yang tepat pada pasien dan pasangannya tentang keterbatasan fungsi
seksual yang disebabkan oleh keadaan sakit

Ajarkan modifikasi yang mungkin dalam kegiatan seksual untuk membantu penyesuaian
dengan keterbatasan akibat sakit (saran khusus)

DAFTAR PUSTAKA

http://abhique.blogspot.com/2009/10/konsep-keperawatan pada lnjut usia (lansia).html


http://abhique.blogspot.com/2009/10/rencana asuhan keperawatan pada lansia.html
Carpenito,Lynda Juall.2000.Diagnosa Keperawatan.EGC.Jakarta
Aspiani Reny Yuli,S.Kep.Ns.Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gerontik.2008.