Anda di halaman 1dari 15

See

discussions,
stats, and
author profiles for
https://www.researchgate.net/publication/283243475

PENGUJIAN
ARTICLE

this

publication

at:

AKTIVITAS ENZIM -AMILASE

OCTOBER

2015

READS

902

AUTHOR:
Wahyuni

Wahyuni

Bandung

Institute

PUBLICATION

of

Technology
0

CITATIONS

SEE PROFILE

Available
Wahyuni
Retrieved
25
2016

from:
Wahyuni
on:
March

KONVERSI ENZIMATIK

PENGUJIAN AKTIVITAS ENZIM -AMILASE

Wahyuni
13012112

Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri Institut
Teknologi Bandung
2

2015
Abstrak
Enzim -amilase merupakan salah satu jenis enzim yang banyak digunakan di industri, terutama
kemampuannya dalam menghidrolisis pati pada tahap likuifaksi. Tahap likuifaksi merupakan tahap
paling penting dalam proses produksi produk turunan pati berupa gula. Produk antara dari tahap
likuifaksi biasanya dihidrolisis lagi pada tahap selanjutnya, yaitu sakarifikasi, untuk menghasilkan
produk akhir berupa gula. Oleh sebab itu, pengujian aktivitas enzim -amilase sangat penting.
Pengujian aktivitas enzim -amilase dilakukan untuk mengetahui kemampuan hidrolisis enzim amilase sebelum akhirnya digunakan dalam skala besar di industri. Pengujian akan dilakukan
berdasarkan metode Fuwa menggunakan larutan iodin secara stop assay. Substrat berupa larutan
pati 20 mg/mL yang dilarutkan dalam buffer fosfat dicampurkan enzim -amilase Liquozyme
Supra untuk diinkubasikan pada temperatur 37oC selama 30 menit. Reagen pemberhenti reaksi
yang digunakan adalah HCl 1 N. Analisis data aktivitas enzim dilakukan berdasarkan tiga literatur.
Akurasi tertinggi diperoleh dari literatur Yoo, dkk.[1], yaitu sebesar 96% dengan aktivitas enzim
-amilase 800 U/mL.

Pendahuluan
Enzim amilase merupakan enzim yang mampu bertindak sebagai katalis dalam reaksi hidrolisis
pati oleh air membentuk gula. Gula merupakan produk konstituen utama dalam industri makanan
dan minuman [2]. Kemampuan enzim dalam memproduksi gula dipengaruhi terutama oleh
kemampuan enzim sebagai katalis proses produksi, yang dapat dikuantifikasi melalui pengujian
aktivtas enzim. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim. Oleh sebab itu,
pengujian aktivitas enzim sebaiknya dilakukan pada kondisi optimum sehingga hasil kuantifikasi
yang didapatkan lebih akurat.
Proses pengolahan pati menjadi gula sebenarnya dapat dilakukan dengan menggunakan dua jenis
katalis, yaitu katalis asam dan katalis enzim. Pengolahan pati degan bantuan katalis enzim terdiri
dari dua tahap, yaitu likuifaksi dan sakarifikasi. Pada tahap likuifaksi, enzim yang digunakan
adalah enzim -amilase. Enzim -amilase membantu proses hidrolisis pati (polisakarida) menjadi
oligosakarida, berupa limit dekstrin dan senyawa oligosakarida lainnya. Kemudian proses
pengolahan dilanjutkan dengan penambahan enzim lainnya selama proses sakarifikasi. Jenis enzim
yang ditambahkan selama proses sakarifikasi spesifik tergantung jenis dan karakteristik produk
gula yang ingin dihasilkan.
3

Enzim -Amilase
Enzim -amilase memiliki nama kimiawi, yaitu endo-1,4--D-glucan glucohydrolase, EC 3.2.1.1.
Enzim -amilase merupakan enzim ekstraseluler yang mampu memotong ikatan 1,4--Dglikosidik antara monomer glukosa pada rantai linier amilosa. Enzim ini dikategorikan sebagai
endoenzim karena pemotongan pati dilakukan secara acak dari dalam [3]. Enzim amilase disusun
oleh protein. Protein yang tersusun dalam enzim terdiri dari 3 domain, yaitu domain A, B, dan C
sesuai Gambar 1. Domain A yang ditandai dengan warna merah merupakan domain terbesar
berbentuk seperti super struktur barrel (/)g. Domain B yang ditandai dengan warna kuning.
Domain B menempel dengan domain A karena ikatan disulfida serta berada di antara domain A
dan C. Domain C yang ditandai dengan warna biru memiliki struktur lembaran yang terhubung
dengan domain A karena adanya rantai polipeptida sederhana. Sisi aktif enzim yang ditandai
dengan warna hijau merupakan rantai panjang, terletak di bagian akhir gugus karboksil domain A
dan B. Enzim juga dilengkapi dengan ion kalsium yang ditandai dengan bola biru dan ion klorida
yang ditandai dengan bola kuning. Ion kalsium berperan sebagai stabilisator dan activator
allosteric [4]. Beberapa enzim memiliki lebih dari satu bagian aktif untuk mengikat substrat
supaya enzim dapat mengikat substrat lain ketika sudah terikat dengan suatu substrat tertentu. Sifat
enzim inilah yang disebut sebagai allosteric [5]. Enzim amilase bersifat calsium metalloenzymes
sehingga tidak dapat berfungsi tanpa adanya ion kalsium [6].

Gambar 1. Struktur -amilase [4]

Sebagian besar enzim -amilase memotong karbohidrat rantai panjang baik secara endoamilase.
Akan tetapi, terdapat beberapa enzim -amilase yang memotong karbohidrat secara eksoamilase,
tergantung dari sumber enzim -amilase dihasilkan. Hasil penguraian oleh -amilase adalah
dekstrin, limit dextrin, oligosakarida, dan turunan siklodextrin [7]. Dextrin adalah campuran
oligosakarida kompleks yang memiliki rumus molekul C6H10O3. Dextrin merupakan produk antara
pati dan dekstrosa/glukosa. Limit dextrin adalah campuran oligosakarida dengan rantai lebih
pendek. Mekanisme hidrolisis pati menggunakan katalis enzim -amilase dapat dilihat pada
Gambar 2 dan 3.

Gambar 2. Mekanisme SN2 pemutusan ikatan -1,4-glikosidik oleh enzim -amilase [8]

Gambar 3. Hidrolisis pati oleh enzim -amilase [9] Catatan : () residu -D-glukosa pereduksi; ()
residu -D-glukosa nonpereduksi

Enzim -amilase yang menghasilkan dextrin secara endoamilase berasal dari saliva dan pankreas
manusia, pankreas babi, gandum, jamur (Aspergillus oryzae dan Rhizopus niveus), bakteri
termostabil (Bacillus subtilis, Bacillus licheniformis, Bacillus acidocaldarius, Clostridium, Dyctio
glomus thermophilum, dan Bacilus stearothermophillus), serta bakteri lainnya seperti
5

Streptococcus bovis. Enzim -amilase yang berasal dari bakteri termostabil cenderung lebih stabil
pada temperatur 10oC lebih tinggi dari temperatur kerja enzim -amilase yang dihasilkan bakteri
biasa seperti Bacillus amyloliquefaciens. Keberadaan ion kalsium tidak mempengaruhi sifat
termostabil enzim -amilase yang dihasilkan. [7]
Tabel 1. Karakteristik dan sumber enzim -amilase yang menghasilkan dextrin [7]
Sumber enzim
Berat molekular T stabil (oC)
pH stabil pH optimum
air ludah manusia
pankreas manusia
pankreas babi
gandum
Rhizopus
Bacillus (sakarifikasi)
Bacillus (likuifaksi)
Streptococcus

62000
56000
56000
41500
51000
47300
48900
79000

50
50
35
60-66
< 40
< 55
< 80
45

4-10
4-10
5-11
3,6-8,0
4,5-9,2
5,1-10,4
5-7

6,8-7,0
6,8-7,0
6,9
5,5
4,6-4,8
5,3
5,9
5,6

Tabel 2. Karakteristik dan sumber enzim -amilase termostabil [7]


Bakteri sumber enzim
Berat molekul
T optimum (oC) pH optimum pH stabil
B. stearothermophilus
B. licheniformis
B. subtilis
Thermophile V-2
B. acidocaldarius
Clostridium sp.
D. thermophilum

48000
62650
50000
66000
70000

65-73
90
95-98
70
70
80
85-90

5-6
7-9
6-8
6-7
3,5
4,0
5,0

6-11
7-10
5-11
9,2
4-5,5
2-7
-

Tabel 3. Karakteristik dan sumber enzim -amilase yang menghasilkan maltosa dan turunannya
[7]
Sumber enzim
Berat
T stabil
pH
T optimum
pH
produk
o
o
molekular
( C)
stabil
( C)
optimum
Streptomyces
55000
<40
3,5-6,5
45
5,6-6,0
maltotriosa
griseus
Pseudomonas
56000
35
6,045
8
maltotetraosa
stutzeri
10,5
Bacillus
22500
<60
8
76
5,0-8,0
maltopentaosa
licheniformis
Aerobacter
4800050
5,052
7,0
maltoheksaosa
aerogenes
65000
10,0
Bacillus
4800050
6,0-9,0
60
6,8
maltoheksaosa
circulans
67000

Enzim -amilase juga menghasilkan oligosakarida spesifik. Maltotriosa dihasilkan oleh enzim amilase secara eksoamilase dari Streptomyces griseus. Maltotetraosa dihasilkan oleh enzim amilase secara eksoamilase dari Pseudomonas stutzeri. Maltopentaosa dihasilkan oleh enzim amilase secara endoamilase dari Bacillus licheniformis. Sedangkan, maltoheksaosa dihasilkan oleh
enzim -amilase secara eksoamilase dari Aerobacter aerogenes dan secara endoamilase dari
Bacillus circulans. [7]

Pengujian Aktivitas Enzim -Amilase


Pengujian aktivitas enzim -amilase pada dasarnya dapat dilakukan melalui tiga pengamatan
utama, yaitu peningkatan kekuatan reduksi, penurunan intensitas warna biru, dan perubahan
densitas optis. Peningkatan kekuatan reduksi diamati dengan pengukuran produk berupa gula
pereduksi dari substrat pati. Penurunan intensitas warna biru senyawa kompleks iodin-pati terjadi
akibat jumlah substrat yang semakin berkurang akibat kinerja enzim untuk menghidrolisis pati.
Perubahan densitas optis terjadi akibat lepasnya substrat dari gugus kromogenik menuju pelarut.
[1]
Pengujian aktivitas enzim -amilase biasanya dilakukan pada kondisi optimum dengan susbtrat
amilosa. Pengujian aktivitas enzim biasanya dinyatakan dalam suatu unit tertentu yang spesifik
terhadap deskripsinya. Satu unit enzim internasional dinyatakan sebagai jumlah enzim yang
mampu berperan sebagai katalis untuk melakukan konversi 1 M substrat/menit pada kondisi
standar. Kondisi standar yang dimaksud meliputi konsentrasi substrat, pH optimum, tidak adanya
inhibitor, dan adanya aktivator. Pemakaian definisi unit enzim internasional sangat jarang
ditemukan pada pengujian aktivitas enzim -amilase. Membandingkan aktivitas enzim dalam unit
yang berbeda mustahil dilakukan karena setiap unit aktivitas enzim memiliki metode dan cara
perhitungan yang berbeda. [1]
Pengujian aktivitas enzim biasanya dilakukan untuk menentukan aktivitas enzim amilase yang
telah disimpan terlalu lama. Selain itu, juga dapat menentukan aktivitas enzim amilase hasil
recovery. Biasanya recovery enzim dilakukan menggunakan membran dengan teknologi reverse
osmosis dan elektrodeionisasi [2]. Elektrodeionisasi juga luas digunakan untuk penghilangan asam
[22]. Penentuan aktivitas enzim -amilase hasil recovery penting untuk diketahui karena proses
recovery menggunakan membran terkadang diiringi dengan adanya fenomena fouling. Fenomena
fouling dapat dicegah melalui backflushing untuk membran mikrofiltrasi [23] dan penggunaan

cleaning agent [24]. Selain recovery enzim, membran juga dapat digunakan untuk menghilangkan
turbiditas produk minuman seperti jus apel [25].

Tabel 4. Metode-metode pengujian aktivitas enzim -amilase


Metode
Sumber enzim
Literatur
Ceralpha
plant and microbial
[10]
Amylase sd / sprout
method
Novo assay

HPLC dan
spektrofotometri
Penggunaan reagen
kit dari Genzyme
Maltose
concentration
measurement
(reducing sugar)
Fuwa

Somogyi-Nelson
Hidrolisis p-nitrofenil
menjadi p-nitrofenol
Starch liquefying
method (iodin)
Measurement of
reducing group
UV determination of
degradation product
maltose and glucose
Determination with
Coloured Insoluble
Substrates
Measurement of the
Starch-Iodine
Complex
Measurement by
End-point
Determination on
Paper

cereal grains

[11]

Unit enzim
ceralpha unit, bisa
dikonversi ke UI
Amylase SD unit

Bacillus licheniformis dan


Bacillus
stearothermophilus
-

[12]

Novo unit (NU)

[13]

Somogyi unit/dl

[14]

Optical density

[15]

1 mol (red sgr)


maltose/min

Bacillus subtilis

[16, 17, 18,


19, 20]

Aspergillus oryzae
Aspergillus oryzae

[7]
[7]

Dextrinizing and
Saccharifying Power
(DP, SP)
-

bacterial (b licheniformis)

[7]

Lj unit/mL

human urine

[21]

U/l

serum and urine

[21]

U/l

[21]

U/l

[21]

U/l

[21]

U/l

Measurement after
Electrophoretic
Separation

urine

[21]

U/l

Tabel 5. Metode pengujian enzim disertai dengan definisi satuan aktivitas enzim -amilase [1]
Metode
Deskripsi
Definisi unit
Temperatur
Waktu
o
( C)
inkubasi
(menit)
Wohlgemuth Mengukur waktu
Jumlah (mL) pati (1%)
40-60
30
(iodine)
perubahan warna
yang dihidrolisis 1 mL
iodin tertentu
enzim
Fisher dan
Mengukur
1 mg gula pereduksi
65
3
(maltosa) yang
Stein
konsentrasi gula
dihasilkan dari pati
pereduksi
(reducing
menggunakan
1%
value)
reagen
dinitrosalicyclic acid
Bird dan
Mengukur
Jumlah enzim yang
25
10
penurunan
Hopkins
berhasilkan
kepudaran warna
(iodine)
menghidrolisis pati
senyawa kompleks
menjadi 1 mg maltosa
pati-iodin pada
panjang gelombang
620 nm
Insoluble
Menentukan
1 unit absorbansi
37
30
dyed amylose konsentrasi
menyatakan 0,06
oligosakarida yang
IU/mL -amilase
memiliki ikatan
kromogen dari
amilosa berwarna
yang tidak larut
Fuwa
Menggunakan
Jumlah amilosa (mg)
37
30
(iodine)
amilosa 0,2%
yang menyebabkan
sebagai substrat
penurunan intensitas
warna biru sebesar
10% pada panjang
gelombang 700 nm
SKB (iodine)
Jumlah enzim yang
37
60
mampu mengurai 5,26
mg pati untuk
mencapai nilai iodin
tertentu

Metodologi
Substrat berupa larutan pati dengan variasi konsentrasi 10 mg/mL dan 20 mg/mL sebanyak 5 mL
dilarutkan dalam buffer fosfat 5 mL. Kemudian enzim -amilase Liquozyme supra sebanyak 1 mL
ditambahkan ke dalam 7 mL campuran tersebut. Larutan kemudian diinkubasikan dalam inkubator
pada temperatur 37oC selama 30 menit. Reaksi dihentikan dengan penambahan HCl 1 N sebanyak
1 mL. Konsentrasi pati tersisa dalam larutan diukur secara tidak langsung melalui pengukuran
nilai absorbansi larutan yang telah dicampur larutan iodin 1 mL. Larutan iodin disiapkan dengan
melarutkan 5 gram KI dan 500 mg I dalam air 100 mL untuk diencerkan sebanyak 100 kali. Nilai
absorbansi diukur dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 620
nm. Konsentrasi yang terbaca kemudian ditentukan dari nilai absorbansi yang terbaca pada kurva
kalibrasi. Jika nilai absorbansi tidak terbaca pada kurva kalibrasi, maka sampel diencerkan hingga
nilai absorbansi terbaca pada kurva kalibrasi. Metodologi diadaptasi dari literatur [1, 16, 17, 18].
HASIL DAN PEMBAHASAN

Kurva Kalibrasi
Sebelum pengujian aktivitas enzim dilakukan, kurva kalibrasi dibuat terlebih dulu dengan cara
mengalurkan absorbansi dan konsentrasi pati tertentu yang diberi larutan iodin. Konsentrasi yang
dipilih memiliki absorbansi di bawah 3,5. Kurva kalibrasi hasil percobaan dapat dilihat pada
Gambar 2.
Nilai R2 dari kurva kalibrasi masih melebihi 0,95 yaitu 0,9689 sehingga kurva kalibrasi dianggap
layak dan mampu mewakili data dengan baik. Data yang diambil untuk membuat kurva kalibrasi
juga sudah mewakili, yaitu 8 data. Kurva kalibrasi ini kemudian akan digunakan untuk
menentukan jumlah pati yang tersisa pada bagian pengujian enzim.

10

8
7
6
5

Konsentrasi (mg/mL)
4
Konsentrasi = 1.8524 Absorbansi
R = 0.9689

Absorbansi

2
1
0
0

0.5

1.5

2.5

3.5

Gambar 2. Kurva kalibrasi absorbansi dan konsentrasi pati

Aktivitas Enzim -Amilase


Aktivitas enzim -amilase dilakukan dengan menggunakan larutan iodin melalui metode Fuwa.
Larutan iodin pada dasarnya berwarna kuning kecoklatan. Akan tetapi, larutan iodin dapat
membentuk senyawa kompleks berwarna biru dengan pati. Oleh sebab itu, absorbansi warna biru
yang terukur oleh spektrofotometer di akhir reaksi menunjukkan jumlah pati yang tidak
terhidrolisis oleh enzim. Dengan demikian, kemampuan enzim dalam hidrolisis pati dapat
diketahui dari jumlah pati tersisa dalam larutan. Enzim yang diuji aktivitasnya pada percobaan ini
adalah enzim -amilase Liquozyme Supra dan Fungamyl 800L.

11

Tabel 6. Dokumentasi sampel sebelum pengukuran nilai absorbansi


Sebelum pengenceran
Setelah pengenceran*
Sampel enzim
Liquozyme
Supra

*Pengenceran
dilakukan
sebanyak 2 kali

Sampel enzim
Fungamyl
800L

*Pengenceran
dilakukan
sebanyak 10 kali

Aktivitas enzim memiliki satuan yang berbeda tergantung deskripsi dan metode pengujiannya.
Hal ini menyebabkan besarnya aktivitas enzim hasil percobaan tidak dapat dibandingkan dengan
aktivitas enzim yang tertera pada data enzim produsen. Data aktivitas enzim produsen untuk enzim
-amilase Liquozyme Supra dan Fungamyl 800L berturut-turut sebesar 135 KNU/g dan 880
FAU/g. KNU menyatakan jumlah enzim yang dapat menghasilkan 6 mikro mol p-nitrofenol per
menit dari ethylidene-G7-p-nitrophenyl-maltoheptaoside sebanyak 1,86 mM pada kondisi standar,
yaitu pH=7,0 dan temperatur=37oC. Sedangkan FAU menyatakan jumlah enzim yang dapat
mengonversi 5,26 gram pati per jam pada kondisi standar, yaitu pH=4,7 dan temperatur=37 oC

12

selama 7-20 menit. Kondisi standar untuk jenis enzim yang sama mungkin saja berbeda karena
kondisi pengujian bersifat spesifik terhadap sumber enzim berasal.
Analisis perhitungan pengujian aktivitas enzim dilakukan mengikuti beberapa literatur untuk
dibandingkan sesuai Tabel 9. Metode Fuwa hanya mampu menguji kadar pati tersisa. Data
percobaan enzim -amilase Liquozyme Supra dan Fungamyl 800L pada Tabel 7 tidak berbeda
terlalu jauh dengan data literatur pada Tabel 8. Hal ini dapat ditinjau dari akurasi data pada Tabel 9
sebesar 59-96%.
Selain meninjau keandalan metode Fuwa dalam pengujian aktivitas enzim, data percobaan juga
dapat digunakan untuk meninjau kesesuaian kondisi pengujian aktivitas enzim. Dengan
melakukan perubahan konsentrasi substrat sebesar 10 mg/mL, terlihat bahwa data percobaan
aktivitas enzim pada Tabel 7 menjadi jauh berbeda dengan literatur pada Tabel 8. Hal ini
menunjukkan bahwa kondisi dan konsentrasi reagen yang digunakan dalam percobaan sebaiknya
dilakukan sesuai dengan literatur.
Tabel 7. Aktivitas enzim melalui metode Fuwa
Aktivitas enzim (substrat
pati 20 mg/mL)
Enzim
(U/mL)* (U/mL)** DP***
Liquozyme Supra
0.61
915.47
91.55
Fungamyl 800L
0.55
832.24
83.22

Aktivitas enzim (substrat


pati 10 mg/mL)
(U/mL)* (U/mL)** DP***
0.23
135.74
13.57
0.22
662.24
66.22

Keterangan : Percobaan dilakukan pada temperatur 37 oC dan pH 7, dengan waktu inkubasi selama 30
menit. Enzim Liquozyme Supra yang digunakan merupakan hasil fermentasi dari Bacillus licheniformis.
Sedangkan Fungamyl 800L merupakan hasil fermentasi dari jamur Aspergillus oryzae. Analisis
perhitungan dilakukan berdasarkan referensi literatur [17]*, [1]**, dan [16]***.

Tabel 8. Aktivitas enzim melalui metode Fuwa dari literatur


Aktivitas enzim
Kondi
(substrat pati
si pH
20 mg/mL)

Kondisi
Temperatur
(oC)

70 U/mL*

7-8

30

400 U/mL**

40

250 U/mL**

40

50 DP***

37

Iodin
0,2% I,
2% KI
0,5% I,
5% KI
0,5% I,
5% KI
0,2% I,
2% KI

Lama
inkubasi
(menit)

Panjang
Gelombang
(nm)

Sumber enzim

15

620

malt

15

620

10

620

30

700

Bacillus
amyloliquefaciens
Bacillus
licheniformis
malt

13

65 DP***

37

80 DP***

37

0,2% I,
2% KI
0,2% I,
2% KI

30

700

fungal amylase

30

700

sweet potato

Keterangan :
* Satu unit aktivitas enzim dinyatakan sebagai jumlah enzim yang mampu menyebabkan perubahan
intensitas warna biru larutan pati berkurang hingga 1%. [17]
(
)

** Satu unit aktivitas enzim akan menghasilkan 1 mg maltosa dari pati [1]

*** Satu unit Dextrinizing Power dihitung sebagai jumlah amilase yang mampu menurunkan intensitas
warna biru sebanyak 10% pada senyawa kompleks amilosa-iodin pada 37 oC dan pH 6 untuk -amilase
bakterial dan pH 5 untuk amilase lainnya. [16]

Tabel 9. Perhitungan akurasi data percobaan dengan literatur (substrat 20 mg/mL pati)
Jenis
Enzim

Aktivitas enzim data


percobaan
U/mL* U/mL** DP***

Liquozyme
0.61
915.47
91.55
Supra
Fungamyl
0.55
832.24
83.22
800L
Referensi : * [17]; ** [1]; *** [16].

Aktivitas enzim data


literatur modifikasi
U/mL* U/mL** DP***

Akurasi (%)

187

800

65

0.33

85.57

59.16

187

800

65

0.30

95.97

71.96

Kesimpulan
Pengujian aktivitas enzim -amilase dapat dilakukan melalui metode Fuwa. Analisis data aktivitas
enzim dengan akurasi tertinggi diperoleh dari literatur Yoo, dkk., [1], yaitu sebesar 96% dengan
aktivitas enzim -amilase 800 U/mL.

Daftar Pustaka
1.

2.

Yoo,
Y.J.;
Hong, J.;
Hatch, R.T.,
Comparison of -amylase activities from different
assay methods, Biotechnology and Bioengineering
XXX (1987), 141-151.
Widiasa, I.N.; Wenten, I.G.,"Combination of reverse
osmosis and electrodeionization for simultaneous
sugar recovery and salts removal from sugar
wastewater", Reaktor 11 (2007), 91-97.

3.

4.

Pandey, A.; Nigam, P.; Soccol, C.R.; Soccol,


V.T.; Singh, D.; Mohan, R., "Review:
advances in microbial amylases",
Biotechnol. Appl. Biochem. 31 (2000),
135 152.
Souza, P.M. de; Magalhaes, P. de O.,
"Application of microbial alpha-amylase in
industry - a review", Brazilian Journal of
Microbiology 41 (2010), 850-861.

14

5.
6.

7.

8.
9.

10.
11.
12.

13.
14.

Shuler, M.L.; Kargi, F., "Bioprocess engineering:


basic concepts", 2nd Ed., Prentice Hall PTR, 2002.
Stein, E.A.; Hsiu, J.; Fischer, E.H, "Alphaamylases
as calcium-metalloenzymes. I. Preparation of
calcium-free apoamylases by chelation and
electrodialysis", Biochemistry 3 (1964), 5661.
The Amylase Research Society of Japan,
Handbook of amylases and related enzymes,
Pergamon Press, 1988.
Bemiller, J.; Whistler, R., "Starch: chemistry and
technology", 3rd Ed., Elsevier Inc., 2009.
Horvathova, V.; Janecek, S.; Sturdik, E.,
"Amylolytic enzymes: their specificities, origins and
properties", Biologia, Bratislava, 55 (2000), 605615.
Megazyme, "Alpha-amylase assay procedure
(ceralpha method)", Megazyme International
Ireland, 2012.
Megazyme, "Alpha-amylase assay procedure
(amylase sd method)", Megazyme
International Ireland, 2015.
Carrol, J.O.; Swanson, T.R.; Trackman,P. C.,
Alpha-amylase
mixtures
for
starch liquefaction, EP 0252730 A2, 1988.
Ikenaka,
S.T.;
Omichi,
K.,
"Modified
oligosaccharides used as substrate for measuring
alpha-amylase activity", US Patent 4622295, 1986.
Blair, H.E., "An alpha-amylase assay method and
reagent kit", Europe Patent 0 171 960 A1, 1985.

15. Bisswanger, H., Practical enzymology, 2nd Ed.,


Wiley-Blackwell, 2011.
16. Fuwa, H., A new method for microdetermination of
amylase activity by the use of amylose as the
substrate, The Journal of Biochemistry 41 (1954),
584-603.
17. Yaldagard, M.; Mortazavi, S.A.; Tabatabaie,
F., Effect of ultrasonic power on the activity of
barleys alpha-amylase from post-sowing treate of

seeds, World Applied Sciences Journal 3


(2008), 91-95.
18. Xiao, Z.; Storms, R.; Tsang, A., "A
quantitative
starch-iodine
method
for
measuring alpha-amylase and glucoamylase
activities", Analytical Biochemistry 351
(2006),146148.
19. Vishnu, T.S.; Soniyamby, A.R.; Praveesh,
B.V.; Hema, T.A., "Production and
Optimization of Extracellular Amylase from
Soil Receiving Kitchen Waste Isolate Bacillus
sp. VS 04", World Applied Sciences Journal 29
(2014): 961-967.
20. Nurachman, Z.; Kono, A.; Radjasa, O.K.;
Natalia, D., "Identification a Novel RawStarchDegrading--Amylase from a Tropical Marine
Bacterium", American Journal of Biochemistry
and Biotechnology 6 (2010), 300-306.
21. Bergmeyer, H.U.; Gawehn, K., Methods of
enzymatic analysis volume 2, 2nd Ed.,
Academic Press, Inc., 1974.
22. Khoiruddin; Yunus, I.S.; Sucipto, J.; Wenten,
I.G., "Application of electrodeionization
(EDI) for humic acid removal", The 5th
AUN/SED Net Regional Conference on
Global Environment (2012), BandungIndonesia.
23. Wenten, I.G., "Mechanisms and control of
fouling in crossflow microfiltration", Elsevier
Science Ltd 95 (1995), 252-253.
24. Wenten, I.G.; Taylour, J.; Rasmussen, A.;
Jonsson, G., "Membrane cleaning after beer
clarification", EUR (1996), 188-195.
25. Wenten, I.G.; Koenhen D.M.; Roesink,
H.D.W.; Rasmussen, A.; Jonsson, G., "Method
for the removal of components causing
turbidity. from a fluid, by means of
microfiltration", US 5560828, 1996.

15

Anda mungkin juga menyukai