Anda di halaman 1dari 27

PRESENTASI KASUS

MIOPI

Diajukan Kepada :
Pembimbing : dr. Retno W, Sp.M

DisusunOleh :
Fransisca Aprilia Megdalena
H2A011022

FAKULTAS KEDOKTERAN MUHAMMADYAH SEMARANG


KEPANITERAAN KLINIK MATA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH AMBARAWA
PERIODE MEI- JUNI 2016

BAB I
PENDAHULUAN
Gangguan penglihatan tersebut sebagian sangat erat kaitannya dengan
refraksi. Mata dapat dianggap sebagai kamera, yang terdiri dari media refrakta
dengan retina sebagai filmnya. Media refrakta pada mata dari depan ke belakang
terdiri atas kornea, humor aqueus, lensa dan humor vitreus 1
Salah satu gangguan refraksi yaitu miopia. Miopia (rabun jauh) merupakan
suatu kondisi dimana obyek yang jauh terlihat kabur tetapi pada jarak yang dekat
obyek terlihat jelas. Pada miopia, mata memfokuskan sinar cahaya paralel (obyek
yang jauh) ke titik di depan retina. Keadaan ini biasanya dikoreksi dengan lensa
cekung (minus). Miopia diukur dengan daya dalam dioptri dan lensa cekung
diperlukan untuk memfokuskan cahaya ke retina 1
Miopia (minus) dapat diklasifikasikan sebagai miopia simpleks dan miopia
patologis. Miopia simpleks biasanya ringan dan miopia patalogis hampir selalu
progresif. Keadaan ini biasanya diturunkan orang tua pada anaknya. Miopia tinggi
adalah salah satu penyebab kebutaan pada usia dibawah 40 tahun. Miopia tinggi
adalah miopia dengan ukuran 6 dioptri atau lebih. Penderita dengan minus diatas
6 dioptri mempunyai risiko 3-4 kali lebih besar untuk terjadinya komplikasi pada
mata.1
Sekitar lima juta penduduk Inggris menderita rabun jauh dan 200.000
diantaranya menderita miopia tinggi. Pada beberapa orang, miopia tinggi dapat
menyebabkan kerusakan retina atau ablasio. Miopia tinggi juga berkaitan dengan
katarak dan glaukoma. Miopia tinggi atau miopia degeneratif kronik dapat terjadi
dalam suatu keluarga (bersifat familial). Sebuah penelitian yang dilakukan pada 15
keluarga di Hongkong yang kemungkinan genetik menderita miopia tinggi pada 2
generasi terakhir didapatkan hasil bahwa lokus autosomal dominan yang berkaitan
dengan miopia tinggi adalah kromosom 18p.2,3
Operasi laser untuk mengoreksi masalah penglihatan sudah dimulai sejak
awal tahun 1990an. Photorefractive Keratotomy (PRK) adalah salah satu tindakan
yang dilakukan untuk mengoreksi miopia ringan sampai sedang. Untuk miopia

tinggi digunakan metode

Laser in-situ keratomileusis (LASIK). Sebuah

penelitian yang yang dilakukan oleh Miquel H dan Ankara University dan
dipublikasikan pada bulan Januari 2008 oleh American Journal of Ophthalmology
menemukan bahwa operasi LASIK yang dilakukan pada pasien miopia >10
dioptri aman dan efektif untuk jangka lama. Penelitian yang dilakukan oleh
Lindstrom, Hardten dan Chu tentang LASIK untuk penanganan miopia ringan,
sedang dan tinggi mendapatkan hasil awal bahwa LASIK untuk penanganan
miopia ringan, sedang dan tinggi dengan atau tanpa astigmatisme memberikan
hasil yang memjanjikan, meskipun memerlukan follow yang lama.3

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi dan Fisiologi
Berikut ini akan dibahas tentang anatomi dan fisiologi dari media refrakta
yang meliputi kornea, humor aqueus, lensa dan humor vitreus. Semua media
refrakta ini bersifat jernih, memiliki permukaannya sendiri-sendiri, memiliki
kurvatura dan indeks berlainan, serta melekat satu sama lain sehingga merupakan
satu kesatuan yang jumlah kekuatan refraksi totalnya bukan merupakan jumlah
masing-masing komponennya 1

Gambar Anatomi Mata


1. Kornea
Kornea adalah jarigan transparan. Dari anterior ke posterior, kornea
mempunyai lima lapisan epitel, lapisan bowman, stroma, membrane
descement. Sumber-sumber nutrisi untuk kornea adalah pembuluhpembuluh darah limbus, humor aquous, dan air mata. Kornea
superficial juga mendapatkan sebagian besar oksigen dari atmosfer.
Saraf-saraf sensorik kornea didapat dari cabang pertama (opthalmicus)
nervus kranialis V (Trigeminus) Kornea ini merupakan suatu lensa

cembung dengan kekuatan refraksi (bias) sebesar +43 dioptri. Jika


kornea mengalami sembab karena satu dan lain hal, maka kornea
berubah sifat menjadi seperti prisma yang dapat menguraikan cahaya
sehingga penderita akan melihat halo 1
2. Humor aquous
Humor aquous diproduksi oleh corpus ciliare. Setelah memasuki
bilik mata belakang, melalui pupil dan masuk ke bilik mata depan,
kemudian ke perifer menuju sudut bilik mata depan. Indeks bias humor
aquous sama dengan kornea yaitu 1,33 sehingga cahaya yang masuk
dari kornea diteruskan begitu saja 1
3. Lensa
Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular, tak bewarna dan
hampir transparan sempurna. Tebalnya sekitar 4 mm dan diameternya
9 mm. Lensa tergantung pada zonula di belakang iris, zonula
menghubungkannya dengan corpus ciliare. Disebelah anterior lensa
terdapat humor aquous dan posteriornya adalah vitreous. Secara
fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu yaitu kenyal atau lentur
karena berperan dalam akomodasi untuk mencembung, jernih atau
transparan karena diperlukan untuk media penglihatan, dan terletak
ditempatnya 1
Lensa mata normal memiliki indeks refraksi sebesar 1,4 di bagian
sentral dan 1,36 di bagian tepi. Kekuatan bias lensa kira-kira +20
dioptri. Pada anak dan orang muda, lensa dapat berubah kekuatan
dioptrinya saat melihat dekat agar mampu menempatkan bayangan
pada retina. Makin tua seseorang maka makin berkurang kekuatan
penambahan dioptrinya dan kekuatan penambahan dioptri ini akan
hilang setelah usia 60 tahun. Kemampuan lensa untuk menambah
kekuatan refraksinya (kekuatan positifnya) disebut dengan daya
akomodasi 1
4. Humor vitreus
Vitreus adalah suatu badan gelatin yang jernih dan avaskular yang
membentuk dua pertiga volume dan berat mata. Vitreus mengisi
ruangan yang dibatasi oleh lensa, retina dan diskus optikus. Vitreus

mengandung air sekitar 99 %. Sisa 1% meliputi dua komponen,


kolagen dan asam hialuronat, yang memberi bentuk dan konsistensi
mirip gel pada vitreus karena kemampuannya mengikat banyak air
Humor vitreus (badan kaca) dikelilingi oleh membrane hyaloids.
Membrane hyaloidea melekat pada kapsul posterior lensa , zonula, pars
plana, retina dan papil nervus II. Badan kaca ini berfungsi untuk
memberi bentuk bola mata dan merupakan salah satu media refrakta
(media bias). Badan kaca memiliki indeks bias lebih kecil daripada
lensa sehingga cahaya kembali sedikit disebarkan 1
5. Retina
Retina adalah lembaran jaringan saraf berlapis yang tipis dan
semitransparan yang melapisi bagian dalam dua pertiga posterior
dinding bola mata. Retina membentang ke anterior hampir sejauh
corpus ciliare dan berakhir pada ora serrata dengan tepi tidak rata
Retina berfungsi menerima cahaya dan merubahnya jadi sinyal
elektrokimiawi, untuk selanjutnya meneruskan sinyal tersebut ke otak.
Retina terdiri dari 3 macam sel saraf (neuron) yang berestafet dalam
meneruskan impuls penglihtan. Sel-sel tersebut adalah sel-sel
fotoreseptor, sel horizontal dan sel bipolar, serta sel ganglion 1
B. Akomodasi
Mata mengubah-ubah daya bias untuk menetapkan fokus pada objek dekat
melalui proses yang disebut akomodasi. Pada keadaan normal cahaya tidak
berhingga akan terfokus pada retina, demikian pula bila benda jauh didekatkan
maka dengan adanya daya akomodasi benda dapat difokuskan pada retina atau
macula lutea. Dengan berakomodasi, maka benda pada jarak yang berbeda-beda
akan terfokus pada retina 2
Akomodasi merupakan suau proses ketika lensa merubah fokus untuk
melihat benda dekat. Pada proses terjadi perubahan bentuk lensa yang dihasilkan
oleh kinerja otot siliaris pada serabut zonular. Kelenturan lensa paling tinggi
dijumpai pada anak-anakdan dewasa muda, dan semakin menurun dengan
bertambahnya usia. Ketika lensa berakomodasi, kekuatan refraksi akan
bertambah. Perubahan kekuatan refraksi yang diakibatkan oleh akomodasi disebut
sebagai amplitudo akomodasi. Remaja pada umumnya memiliki amplitudo 12-16

dioptri, sedangkan orang dewasa pada usia 40 tahun sebesar 4-8 dioptri, dan
bahkan kurang dari 2 dioptri pada usia diatas 50 tahun 1
Kelainan Refraksi
Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media refrakta. Pada
orang normal susunan pembiasan oleh media refrakta dan panjangnya bola mata
demikian seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media refrakta
dibiaskan tepat pada macula lutea. Mata yang normal disebut sebagai emetropia
dan akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan mata
tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh.
Kekuatan refraksi terpusat di kornea sebesar 42 dioptri. Pada mata normal,
apabila saat melihat benda dengan jarak tak terhingga (>6 meter) maka bayangan
akan jatuh tepat pada retina (macula lutea). Jarak antara titik tengah kornea dan
macula lutea adalah 2,4 cm, jadi fokusnya 2,4 cm (Jika So= maka Si = f )
P

= 1/f
= 1/0,024 m
= 42 D

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada emetropia aksis mata


adalah 24 mm, fokus tepat di retina sehingga bayangan jelas saat melihat jauh.
Pada miopia aksis mata panjangnya lebih dari 24 mm, fokus jatuh di depan retina
sehingga cahaya yang sampai retina sudah menyebar dan bayangan di retina kabur
saat melihat jauh .1
C. Definisi Miopi
Miopia merupakan kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar yang
memasuki mata tanpa akomodasi, jatuh pada fokus yang berada di depan retina.
Dalam keadaan ini objek yang jauh tidak dapat dilihat secara teliti karena sinar
yang datang saling bersilangan pada badan kaca, ketika sinar tersebut sampai di
retina sinar-sinar ini menjadi divergen,membentuk lingkaran yang difus dengan
akibat bayangan yang kabur. 1,2

D. Etiologi
Penyebab miopia masih belum jelas penyebabnya, akan tetapi
keluarga yang mengalami miopia meningkatkan kejadian miopia dan hal
ini kemungkinan pengaruh karena genetik. Tetapi ada sumber lain yang
mengatakan bahwa menurut sebabnya, miopi dibedakan menjadi miopia
aksialis, miopia kurvatura, miopia indeks dan miopia posisi yang akan
dijelaskan sebagai berikut :
1.

Miopia aksial
Bertambah panjangnya diameter anteroposterior bola mata dari
normal. Pada orang dewasa panjang axial bola mata 22,6 mm.
Perubahan diameter anteroposterior bola mata 1 mm akan
menimbulkan perubahan refraksi sebesar 3 dioptri.

2. Miopia kurfatura
Kurfatura dari kornea bertambah kelengkungannya, misalnya pada
keratokonus dan kelainan kongenital. Kenaikan kelengkungan lensa
bisa juga menyebabkan miopia kurvatura, misalnya pada stadium
intumesen dari katarak. Perubahan kelengkungan kornea sebesar 1
mm akan menimbulkan perubahan refraksi sebesar 6 dioptri.
3. Miopia indeks refraksi

Peningkatan indeks bias media refraksi sering terjadi pada penderita


diabetes melitus yang kadar gula darahnya tidak terkontrol.
4. Perubahan posisi lensa
Perubahan posisi lensa kearah anterior setelah tindakan bedah
terutama glaukoma berhubungan dengan terjadinya miopia.
E. Faktor Resiko
Faktor resiko yang penting dari miopia adalah faktor keturunan. Orang tua
yang miopia cenderung memiliki anak miopia. Jika kedua orang tua miopia, maka
resiko anak mengalami miopia akan semakin besar. Prevalensi miopia 33-60%
pada anak dengan orang tua miopia, sedangkan pada anak yang memiliki salah
satu orang tua miopia prevalesensinya 23-40% dan hanya 6-15% anak mengalami
miopia yang tidak memiliki orang tua miopia.
Faktor selanjutnya adalah lingkungan yang dapat berpengaruh pada miopia
yaitu saat melakukan aktivitas melihat dekat seperti biasa dalam jumlah besar
dapat meningkatkan resiko miopia. Beberapa penelitian melaporkan bahwa
aktivitas melihat dekat meningkatkan resiko perkembangan dan keparahan
miopia. Ada hubungan miopia dengan waktu yang dihabiskan untuk membaca dan
dan melakukan aktivitas dekat yang lain, lamanya pendidikan, pekerjaan yang
membutuhkan penglihatan dekat. Disamping itu tingkat penerangan juga dianggap
sebagai fakor lingkungan yang mempengaruhi timbulnya miopia. Gangguan
penerangan dapat menimbulkan gangguan akomodasi mata, kontraksi otot siliar
secara terus-menerus akan menimbulkan kelelahan mata dan pada akhirnya
menimbulkan gangguan refraksi yaitu miopia 4
F. Epidemiologi
Prevalensi miopia bervariasi dengan usia dan faktor lainnya. Prevalensi
miopia ini dari suatu penelitian kohort di Amerika serikat dan negara-negara maju
meningkat pada usia sekolah sekitar 20-25% dan dewasa muda sekitar 25-35%.

Miopia sering berkembangantara usia 6 dan 9 dan meningkat sepanjang masa


remaja , dengan perubahan terbesar pada saat pubertas.

Sekitar 25% dari orang-orang yang berusia antara 20-30 tahun memiliki
bias kurang dari -1. Bentuk miopia ini terdiri dari miopia sederhana (usia sekolah
miopia) pada usia 10 - 12 tahun. Biasanya miopia tidak bertambah saat usia
20tahun dan refraksi jarang melebihi 6 dioptri. Namun, miopia progresif jinak
juga ada, yang kembali stabil setelah setelah usia 30. Kemudian miopia yang
patologis dimana gangguan ini sebagian besar keturunan dan berlangsung terus
menerus secara independen dari pengaruh eksternal. 4
G. Klasifikasi Miopia
Berdasarkan tinggi dioptrinya, dibedakan menjadi :
-

Miopia sangat ringan


Miopia ringan
Miopia sedang
Miopia tinggi
Miopia sangat tinggi

: sampai dengan 1 D
: 1-3 D
: 3-6 D
: 6-10 D
: lebih dari 10 D

Secara klinis dibedakan menjadi :


1. Miopia simpleks, miopia stasioner, miopia fisiologis
Timbul pada usia masih muda, kemudian berhenti. Dapat juga naik sedikit
pada waktu atau segera setelah pubertas, atau didapat kenaikan sedikit
sampai usia 20 tahun. Besar dioptrinya kurang dari -5 D, atau -6 D. Tajam
penglihatan dengan koreksi yang sesuai dapat mencapai keadaan normal.
2. Miopia progresif
Dapat ditemukan pada semua usia dan mulai sejak lahir. Kelainan
mencapai puncaknya waktu masih remaja, bertambah terus sampai usia 25
tahun atau lebih. Besar dioptrinya melebihi 6 D.
3. Miopia maligna

Miopia progresif yang lebih ekstrim. Miopia progresif dan miopia maligna
disebut juga miopia patologis atau degeneratif, karena disertai kelainan
degeneratif di koroid dan bagian lain dari mata.
H. Gejala Miopia
Tanda objektif :
Oleh karena orang miopia jarang melakukan akomodasi, maka jarang
miosis, jadi pupilnya midriasis. Mm.siliarisnya pun menjadi atrofi, menyebabkan
iris letaknya lebih ke dalam, sehingga bilik mata depan lebih dalam.
Pada miopia tinggi didapatkan :
-

bola mata yang mungkin lebih menonjol

bilik mata depan yang dalam

pupil yang relatif lebih lebar

iris tremulans yang menyertai cairnya badan kaca

kekeruhan badan kaca (obscurasio corpori vitrei)

kekeruhan di polus posterior lensa

stafiloma posterior, fundus tigroid di polus posterior retina

atrofi koroid berupa kresen miopia atau annular patch, di sekitar papil,
berwarna putih engan pigmentasi di pinggirnya

perdarahan, terutama di daerah makula, yang mungkin masuk ke dalam


badan kaca

proliferasi sel epitel pigmen di daerah makula (Forster Fuchs black spot)

predisposisi untuk ablasi retina

Pada miopia simpleks :


Didapatkan mata yang lebih menonjol, bilik mata depan yang dalam, pupil
yang relatif lebar, tetepi tidak disertai kelainan di bagian posterior mata. Mungkin
hanya terlihat kresen miopia yang tampak putih di sebelah temporal papil, sedikit
atrofi dari koroid yang superfisial, sehingga pembuluh darah koroid yang lebih
besar tampak lebih jelas membayang.

Tanda subjektif :
Oleh karena orang miopia kurang berakomodasi dibandingkan dengan
yang emetropia, maka ia senang melakukan pekerjaan-pekerjaan dekat tetapi
mengeluh tentang penglihatan jauh yang kabur. Pada miopia tinggi, terutama bila
disertai dengan astigmatisme, penderita tak saja mengeluh pada penglihatan jauh
tetapi juga pada penglihatan dekat oleh karena harus melakukan konvergensi
berlebihan, sebab pungtum remotum, yaitu titik terjauh yang dapat dilihat tanpa
akomodasi, letaknya dekat sekali, pada miopia S (-) 6D, titik ini terletak pada
jarak 100/6 = 16 sentimeter. Pada titik ini ia tidak berakomodasi, tetapi
berkonvergensi kuat sekali sehingga pada mata timbul astenovergens engan
keluhan : lekas capai, pusing, silau, ngantuk, melihat kilatan cahaya. Pada miopia
tinggi disertai mata menonjol, bilik mata yang dalam dan pupil yang lebar,
penderita mencoba menutup sebagian kelopak matanya, untuk mengurangi cahaya
yang masuk, sehingga ketajaman penglihatannya diperbaiki. Kadang-kadang
astenovergens menimbulkan rasa sakit, sehingga penderita tak mencobanya lagi,
dengan mengakibatkan strabismus divergens. Strabismus divergens dapat pula
timbul akibat penderita sedikit melakukan akomodasi, sehingga kurang pula
melakukan konvergensi.

I. Diagnosis
Diagnosis didapatkan dari gejala klnis dan pemeriksaan.Penentuan koreksi
refraktif dapat diperoleh dengan cara obyektif atau subyektif dan paling baik jika
kombinasi.
Refraksi obyektif dilakukan dengan retinoskopi. Seberkas cahaya yang
dikenal sebagai intercept diproyeksikan ke mata pasien untuk menghasilkan

pantulan berbentuk sama, reflex retinoskopik di pupil. Kesejajaran antara


intercept dan reflek retinoskopik menandakan ada kelainan sferis, atau terdapat
kelainan silindris tambahan dengan intercept yang bersesuaian dengan salah satu
meredian utama. Rotasi berkas yang diproyeksikan tersebut akan menentukan
mana diantara kelainan tersebut yang terjadi dan letak meridian utama lainnya
Reafraksi objektif dapat diperiksa dengan Auto refraktometer. 6
Refraksi subyektif jika pasien kooperatif maka hasilnya akan lebih akurat
dibandingkan refraksi obyektif. Cara ini bergantung pada respon penderita
terhadap perubahan kekuatan dan orientasi lensa, menggunakan refraksi obyektif
atau koreksi refraktif yang digunakan pada pasien saat itu sebagai titik awal.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara metode Trial and Error yaitu, jarak
pemeriksaan 6 atau 5 meter atau 20 feet, kemudian digunakan kartu snellen yang
diletakkan setinggi mata penderita dan mata diperiksa satu persatu, setelah itu
ditentukan visus atau tajam penglihatan masing-masing mata dan bila visus tidak
6/6 maka dikoreksi dengan lensa sferis negatif sampai didapatkan visus 6/6 .6
J.

Penatalaksanaan
Pengobatan penderita dengan miopia adalah dengan memberikan kacamata
sferis negatif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal dengan
visus 6/6. Sebagai contoh bila penderita dikoreksi dengan -3.00 memberikan
tajam penglihatan 6/6, dan demikian juga bila diberi -3.25 maka sebaiknya
diberikan lensa koreksi -3.0 agar utuk memberikan istirahat mata dengan baik.

Pemberian kacamata ini merupakan metode paling aman untuk memperbaiki


refraksi. Untuk mengurangi aberasi nonkromatik, lensa dibuat meniscus (kurva
terkoreksi)
Variasi koreksi yang dapat diberikan adalah sebagai berikut. 1
-

Untuk miopia ringan-sedang, diberikan koreksi penuh yang harus dipakai


terus menerus baik untuk penglihatan jauh maupun dekat. Untuk orang
dewasa, dimana kekuatan miopinya kira-kira sama dengan derajat
presbiopinya,
kacamatanya

mungkin

dapat

membaca

dengan

menanggalkan

Pada miopia tinggi, mungkin penglihatan jauh diberikan pengurangan


sedikit dari koreksi penuh (2/3 dari koreksi penuh) untuk mengurangi efek
prisma dari lensa yang tebal. Untuk penderita >40 tahun, harus dipikirkan
derajat presbiopinya sehingga diberikan kacamata dengan koreksi penuh
untuk jauh, untuk dekatnya dikurangi derajat presbiopinya.

Gambar 3. Koreksi miopia. 7


Koreksi dengan lensa kontak itu dengan cara pengurangan ukuran gambar
kurang dari dengan koreksi kacamata. Keuntungan ini secara klinis relevan
dengan miopia melebihi 3 dioptri.Semakin dekat "minus " lensa dengan mata ,
semakin lemah daya biasnyauntuk mencapai efek optik yang diinginkan .Lensa
Minus yang akan digunakan untuk memperbaiki miopia harus tidak lebih kuat
dari yang diperlukan. Meskipun akomodasi bisa mengkompensasi untuk koreksi
yang berlebihan, pasien biasanya tidak mentolerir hal ini dengan baik . Biasanya
akan timbul kelelahan matakarenaterjadi kontraksi dari otot ciliary yang
berlebihan dan atrofi .7
Lensa kontak ada dua macam yaitu lensa kontak lunak (soft lens) serta
lensa kontak keras (hard lens). Pengelompokan ini didasarkan pada bahan
penyusunnya. Lensa kontak

lunak

disusun

oleh

hydrogels,

HEMA

(hydroksimethyl metacrylate) dan vinyl copolymer sedangkan lensa kontak keras


disusun dari PMMA (polymethylmetacrylate). Keuntungan lensa kontak lunak
adalah nyaman, singkat masa adaptasi pemakaiannya, mudah memakainya,
dislokasi

lensa

yang

minimal,

dapat

dipakai

untuk sementara

waktu.

Kerugian lensa kontak lunak adalah memberikan ketajaman penglihatan yang


tidak maksimal, risiko terjadinya komplikasi, tidak mampu mengoreksi

astigmatisme, kurang awet serta perawatannya sulit, nutrisi untuk kornea dan
difusi oksigen kurang. Kontak lensa keras mempunyai keuntungan yaitu
memberikan koreksi visus yang baik, bisa dipakai dalam jangka waktu yang
lama (awet), difusi oksigen untuk kornea bagus dan jarang menimbulkan infeksi,
serta mampu mengoreksi astigmatisme kurang dari 2 dioptri. Kerugiannya
adalah memerlukan fitting yang lama, serta memberikan rasa yang kurang
nyaman . 8
Pemakaian lensa kontak harus sangat hati-hati karena memberikan
komplikasi pada kornea, tetapi komplikasi ini dikurangi dengan pemilihan
bahan yang mampu dilewati gas oksigen. Hal ini disebut Dk (gas Diffusion
Coefficient), semakin tinggi Dk-nya semakin besar bisa mengalirkan oksigen,
sehingga semakin baik bahan tersebut .8
Indikasi dari pemakaian lensa kontak adalah sebagai berikut:
-

Indikasi optik, termasuk untuk anisometropia, aphakia unilateral,


miopia yang berminus tinggi, keratokonus dan astigmatisma irreguler.
Lensa kontak dapat digunakan oleh setiap orang yang memiliki

kelainan refraksi mata dengan tujuan kosmetik.


Indikasi terapeutik, yang meliputi:
- Penyakit pada kornea, contohnya ulkus kornea non-healing,
keratopathi bullousa, keratitis filamentari, dan sindrom erosi

kornea yang rekuren.


Penyakit pada iris mata, contohnya aniridia, koloboma, albino

untuk menghindari kesilauan cahaya.


Pada pasien ambliopia, lensa kontak opak digunakan untuk

oklusi.
Bandage soft contact lenses digunakan untuk keratoplasti dan

perforasi mikrokornea.
Indikasi kosmetik, termasuk skar pada kornea mata yang menyilaukan
mata (lensa kontak warna), ptosis, lensa sklera kosmetik pada phthisis

bulbi.
Indikasi occupational, termasuk olahragawan, pilot, dan actor

Kontraindikasi pemakaian lensa kontak adalah sebagai berikut:

Pengguanaan lensa kontak dikontraindikasikan pada orang yang


memilikigangguan mental dan tidak ada gairah hidup, blepharitis
kronik dan styes rekuren, konjungtivitis kronis, dry-eye syndrome,
distrofi dan degenarasi kornea mata, penyakit yang rekuren seperti
episkleritis, skleritis, dan iridocyclitis. 8

Dalam kasus tertentu , penghapusan lensa kristal mungkindilakukan untuk


mengurangi daya bias padamiopia. Namun resikopada operasi inibisa
menyebabkan ablasi retina sehingga jarangdilakukan . Ada juga
kemungkinan menanamkan sebuah ruang anteriorlensa intraokular
( divergen lensa ), dimana lensa anterior inisecara alami untuk mengurangi
daya bias. 7
Penatalaksanaan lain yang dapat dilakukan adalah bedah refraktif
kornea atau bedah refraktif lensa yang akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Bedah refraktif kornea
Bedah refraktif kornea yaitu tindakan untuk merubah kurvatura
permukaan anterior kornea meliputi operasi Lasik, Excimer laser. 6
Keratotomi merupakan tindakkan meratakan kornea bagian sentral
melalui insisi radial hampi seluruh ketebalan kornea. Namun, sekarang
sudah jarang dilakukan.
Keratomileus ini pada tahun 1961 dilaporkan oleh Barraquer dari
Columbiabahwa

keratomileus

miopia-autograf

kornea

lamellar

diambil, dibentuk ulang dengan cryolate (didatarkan), dan dijahitkan


kembali pada tempatnya. Prosedur ini meskipun sekarang

jarang

dikerjakan, merupakan cikal bakal laser in situ keratomileousis


(LASIK)
Pada Laser in situ keratomileousis (LASIK), suatu mikrotom
bermotor atau laser femtosecond (all-laser LASIK, Intralasik)
digunakan untukmemotong lapisan tipis kornea berbentuk diskus, yang
kemudian dilipat ke belakang. Tindakan laser pada dasar stroma
menghasilkan pembentukan ulang (reshaping) kornea yang terprogram
dengan cermat sesuai keinginan, dan kemudian flap diposisikan
kembali.

Teknik-teknik

ablasi

permukaan

yaitu,

keratektomi

fotorefraktif (PRK), laser epithelial keratectomy (LASEK), dan epiLASIK. Pada PRK, hanya epitel kornea yang diangkat sebelum terapi
laser. Pada LASEK dan epi-LASIK, epitel diangkat dengan alcohol
encer kemudian mikrokeratom, dan diposisikan kembali setelah terapi
laser.
Dengan

menggunakan

pulsasi

multiple

dan

ukuran

titik

(penembak) yang berubah secara progresif untuk menguapkan lapis


demi lapis lapisan kornea yang tipis, pembentukan ulang kontur retina
dengan bantuan computer (fotorefraktif keratektomi [PRK]) dapat
memperbaikikelainan refraksi astigmatisme dan miopia sedang dengan
tepat dan tampaknya seperti permanen.
Untuk dapat menjalani prosedur LASIK perlu diperhatikan
beberapa hal, yaitu: 8
a. Ingin terbebas dari kacamata dan lensa kontak
b. Kelainan refraksi:
- Miopia sampai -1.00 sampai dengan - 13.00 dioptri.
- Hipermetropia + 1.00 sampai dengan + 4.00 dioptri.
- Astigmatisme 1.00 sampai dengan 5.00 dioptri
c. Usia minimal 18 tahun
d. Tidak sedang hamil atau menyusui
e. Tidak mempunyai riwayat penyakit autoimun
f. Mempunyai ukuran kacamata atau lensa kontak yang stabil
selama paling tidak 6 bulan
g. Tidak ada kelainan mata, yaitu infeksi, kelainan retina, katarak,
glaukoma dan ambliopia
h. Telah melepas lensa kontak (Soft contact lens) selama 14 hari atau
2 (dua) minggu dan 30 (tiga puluh) hari untuk lensa kontak (hard
contact lens)
Adapun kontraindikasi dari tindakan LASIK antara lain yaitu, usia
< 18 tahun / usia dibawah 18 tahun dikarenakan refraksi belum stabil,
sedang hamil atau menyusui, kelainan kornea atau kornea terlalu tipis,
riwayat penyakit glaucoma, penderita diabetes mellitus, mata kering,
penyakit autoimun, kolagen, pasien monocular, kelainan retina atau
katarak . 8
Bedah refraktif laser kebanyakan digunakan untuk miopia tetapi
dapat juga mengatasi astigmatisme atau hiperopia. Secara umum PRK

digunakan untuk miopia rendah, dan LASIK untuk miopia sedang,


sedangkan pengangkatan lensa jernih dianjurkan untuk miopia tinggi.
LASIK menghasilkan perbaikan yang paling cepat, baik penglihatan
maupun rasa nyaman.
Sebagian besar pasien yang telah melakukan prosedur atau
tindakan LASIK menunjukan hasil yang sangat memuaskan, akan
tetapi sebagaimana seperti pada semua prosedur atau tindakan medis
lainnya, kemungkinan adanya resiko akibat dari prosedur atau tindakan
LASIK dapat terjadi oleh sebagian kecil dari beberapa pasien antara
lain.8
a. Kelebihan/Kekurangan Koreksi (Over atau under correction).
Diketahui setelah pasca tindakan LASIK akibat dari kurang atau
berlebihan tindakan koreksi, hal ini dapat diperbaiki dengan
melakukan LASIK ulang / Re-LASIK (enhancement) setelah
kondisi mata stabil dalam kurun waktu lebih kurang 3 bulan
setelah tindakan.
b. Biasanya akan terjadi gejala mata kering. Hal ini akan
terjadiselama seminggu setelah tindakan dan akan hilang dengan
sendirinya. Pada sebagian kasus mungkin diperlukan semacam
lubrikan tetes mata.
c. Silau saat melihat pada malam hari. Hal ini umum bagi pasien
dengan pupil mata yang besar dan pasien dengan miopia yang
tinggi. Gangguan ini akan berkurang seiring dengan berjalannya
waktu. Komplikasi sangat jarang terjadi, dan keluhan sering
membaik setelah 1-3 bulan.
Komplikasi yang dapat terjadi pada tindakan operasi LASIK
antara lain yaitu hasil refraksi yang diluar dugaan, refraksi yang
fluktuaktif, astigmatisme irregular, regresi, masalah-masalah pada
epitel, flap dan pertautan, kekeruhan stroma, ektaisia kornea dan
infeksi.
Adapun kontraindikasi dari tindakan LASIK antara lain: 9

a. Usia < 18 tahun / usia dibawah 18 tahun dikarenakan refraksi


belum stabil.
b. Sedang hamil atau menyusui.
c. Kelainan kornea atau kornea terlalu tipis.
d. Riwayat penyakit glaukoma.
e. Penderita diabetes mellitus.
f. Mata kering
g. Penyakit : autoimun, kolagen
h. Pasien Monokular
2. Bedah refraktif lensa
Bedah refraktif lensa merupakan tindakan ekstraksi lensa jernih,
biasanya diikuti dengan implantasi intraokuler. 6
Pengangkatan lensa bening dan implan lensa fakik. Tindakan
pengangkatan lensa kristalina (pengangkatan lensa bening) banyak
dianjurkan untuk mengoreksi miopia tinggi dan presbiopia, tetapi
terdapat beberapa resiko bermakna, terutama ablation retina pada
miopia tinggi. Dilakukan pula insersi lensa intraocular tanpa
pengangkatan lensa kristalina (implant lensa fakik), tetapi sering
menimbulkan kerusakan endotel kornea dan memicu katarak
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada penderita miopia antara
lain yaitu , untuk orang muda supaya miopinya tidak bertambah aka
harus dijaga kesehatan umum dan matanya. Diusahakan cukup tidur,
pekerjaan dekat dikurangi, banyak bekerja diluar. Jangan membaca
terus menerus, kacamata harus sering dipakai, penerangan lampu yang
baik, dari atas dan belakang. Membaca dalam posisi kepala tegak,
jangan membungkuk. Selain itu pada miopia tinggi harus hati-hati
dalam berolahraga berat karena kemungkinan bisa terjadi ablation
retina
K. Komplikasi Miopia
Komplikasi lebih sering terjadi pada miopia tinggi. Komplikasi yang dapat
terjadi berupa:
-

Dinding mata yang lebih lemah, karena sklera lebih tipis.

Degenerasi miopik pada retina dan koroid. Retina lebih tipis sehingga
terdapat risiko tinggi terjadinya robekan pada retina.

Ablasi retina, lubang pada makula sering terjadi pada miopia tinggi.

Orang dengan miopia mempunyai kemungkinan lebih tinggi terjadi


glaukoma.

BAB III
LAPORAN KASUS
I

IDENTITAS PENDERITA
Nama

: Nn. Rasti Kana Andini

Umur

: 14 tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Dusun Sawangondang Rt 02/ Rw 06 Suwomono


Semarang

II

Pekerjaan

: Pelajar

Status Perkawinan

: Belum menikah

ANAMNESIS
(Anamnesis dilakukan pada tanggal 18 mei 2016 di ruang poli mata RSUD
Ambarawa)

Keluhan Utama

: Pandangan mata kabur saat melihat jauh

Riwayat Penyakit Sekarang :


Sejak 8 bulan yang lalu penderita merasakan kedua matanya
kabur dan terasa cepat lelah serta pegal jika melihat jauh. Selain itu pasien
juga mengeluhkan bahwa belakang kepala terasa berat. Pasien tidak
mengeluhkan mata merah (-), nyeri (-), nerocos (-), silau (-), gatal (-),
lodok (-). Riwayat membaca sambil tiduran (+),

bermain komputer

dengan jarak dekat (+) serta sering berlama-lama di depan televisi.


Riwayat Penyakit Dahulu :
-

Riwayat trauma pada daerah mata


Riwayat operasi mata disangkal
Riwayat memakai kacamata sebelumnya

:
:
:

disangkal
disangkal
disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Ayah dan ibu dari pasien tidak menggunakan kacamata plus maupun
minus sebelumnya.
III

PEMERIKSAAN
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis (Tanggal 18 mei 2016)
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda vital

: TD

: 110/70 mmHg

Nadi : 78x/menit
Pemeriksaan fisik

: Kepala/leher : tidak ada kelainan


Thoraks

Suhu: 36,80C
RR :20x/menit

Cor

: tidak ada kelainan

Paru : tidak ada kelainan


Abdomen

: tidak ada kelainan

Ekstremitas

: tidak ada kelainan

Status Oftalmologi (Tanggal 18 mei 2016)

OCULI DEXTRA (OD)

PEMERIKSAAN OCULISINISTRA (OS)

6/45

Visus

6/60

Koreksi

S 3,75

S 3,75

Visus 6/6

Visus 6/6

Gerak bola mata normal, enoftalmus Bulbus okuli

Gerak bola mata normal, enoftalmus

(-), eksoftalmus (-), strabismus (-)

(-), eksoftalmus (-), strabismus (-)

Edema (-), hiperemis(-),

Palpebra

Edema (-), hiperemis(-),

nyeri tekan (-),blefarospasme (-),

nyeri tekan (-),blefarospasme (-),

lagoftalmus (-)ektropion (-),

lagoftalmus (-)ektropion (-),

entropion (-)

entropion (-)

Edema (-),injeksi silier (-),

Konjungtiva

Edema (-),injeksi silier (-),

injeksi konjungtiva (-),

injeksi konjungtiva (-),

infiltrat (-),hiperemis (-)

infiltrat (-),hiperemis (-)

Putih

Sklera

Putih

Bulat, jernih,edema (-),

Kornea

Bulat, jernih,edema (-),

infiltrat (-),sikatriks (-)

infiltrat (-) ,sikatriks (-)

Jernih, dalam, hipopion (-), hifema

Camera Oculi

(-)

Anterior (COA)

Jernih, dalam,
hipopion (-), hifema (-),

Kripta(+), atrofi (-) coklat, edema(-), Iris

Kripta(+), atrofi (-) coklat, edema(-),

synekia (-)

synekia (-)

Bulat, Diameter 3mm

Pupil

refleks pupil L/TL: +/+

Bulat, Diameter 3mm


refleks pupil L/TL: +/+

Jernih

Lensa

Jernih

Papil dalam batas normal

Retina

Papil dalam batas normal,

IV

RESUME
Sejak 8 bulan yang lalu penderita merasakan kedua matanya kabur dan
terasa cepat lelah serta pegal jika melihat jauh. Selain itu pasien juga
mengeluhkan bahwa belakang kepala terasa berat. Pasien tidak
mengeluhkan mata merah (-), nyeri (-), nerocos (-), silau (-), gatal (-),

lodok (-). Riwayat membaca sambil tiduran (+),

bermain komputer

dengan jarak dekat (+) serta sering berlama-lama di depan televisi.


Pemeriksaan fisik :
Status generalis : dalam batas normal.

Status Oftalmologi :
OCULI DEXTRA (OD)

PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA (OS)

6/45

Visus

6/60

Koreksi

S 3,75

Bulbus okuli

Gerak bola mata normal,

S 3,75

Visus 6/6

Gerak bola mata normal,


enoftalmus (-), eksoftalmus (-),

enoftalmus (-), eksoftalmus (-),

strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-),

Visus 6/6

strabismus (-)
Palpebra

Edema (-), hiperemis(-),

nyeri tekan (-),blefarospasme (-),

nyeri tekan (-),blefarospasme

lagoftalmus (-)ektropion (-),

(-), lagoftalmus (-)ektropion (-),

entropion (-)

entropion (-)

Edema (-),injeksi silier (-),

Konjungtiva

Edema (-),injeksi silier (-),

injeksi konjungtiva (-),

injeksi konjungtiva (-),

infiltrat (-),hiperemis (-)

infiltrat (-),hiperemis (-)

Putih

Sklera

Putih

Bulat, jernih,edema (-),

Kornea

Bulat, jernih,edema (-),

arkus senilis (-), infiltrat (-),

arkus senilis (-), infiltrat (-),

sikatriks (-)

sikatriks (-)

Jernih, dalam, arkus senilis (-),

Camera Oculi

hipopion (-), hifema (-)

Anterior (COA)

Kripta(+), atrofi (-) coklat,

Iris

hipopion (-), hifema (-),


Kripta(+), atrofi (-) coklat,

edema(-), synekia (-)


Bulat, Diameter 3mm

Jernih, dalam, arkus senilis (-),

edema(-), synekia (-)


Pupil

refleks pupil L/TL: +/+

Bulat, Diameter 3mm


refleks pupil L/TL: +/+

Jernih

Lensa

Jernih

Jernih

Vitreus

Jernih

Papil dalam batas normal

Retina

Papil dalam batas normal,

V
VI
VII

DIAGNOSA KERJA
ODS : Miopia
TERAPI
Resep kacamata sesuai dengan koreksi.
PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad sanam
Quo ad functionam
Quo ad cosmeticam

VIII

OD
ad bonam
Dubia ad bonam
ad bonam
ad bonam

OS
ad bonam
Dubia ad bonam
ad bonam
ad bonam

EDUKASI
Menjelaskan pada penderita tentang penyakitnya.
Menjelaskan pada penderita bahwa penyakitnya tersebut bisa perbaiki
dengan memakai kacamata.

Menjelaskan kepada penderita bahwa tidak boleh membaca sambil


tiduran, tidak boleh menonton televisi terlalu dekat.
Menjelaskan kepada penderita tentang pentingnya memakai kacamata
Menjelaskan kepada penderita tentang komplikasi yang akan terjadi
bila tidak memakai kacamata.
Kontrol dalam pemeriksaan visus setiap 1 tahun sekali.

DAFTAR PUSTAKA
1. Hartono, Yudono RH, Utomo PT, Hernowo AS. Refraksi dalam: Ilmu
Penyakit Mata. Suhardjo, Hartono (eds). Yogyakarta: Bagian Ilmu
Penyakit Mata FK UGM,2007;185-7.
2. Ilyas, HS. 2005. Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Cetakan I. Balai Penerbit
FKUI, Jakarta.
3. Dennis SC, Lam, Pancy OS et al. Familial High Miopia Linkage to
Chromosome 18p. Hongkong: Department of Ophthalmology and Visual
Sciences Chinese University of Hongkong, China Ophthalmologica
2003;217:115-118.
4. Elsevier's Health Sciences. Study of high miopia patients ten years after
LASIK surgery. http://www.elvesierhealth.com./ [diakses tanggal 4 Maret
2012].
5. Goss DA, Grosvenor TP, Keller JT et al. 2010. Care of The Patient with
Myopia. Optometric Clinical Guidline. American Optometric Association.
Pp 7-8
6. Saleh TT, Suryani PT. 2006. Miopia In: Pedoman Diagnosis dan Terapi
BAG/SMF

Ilmu Penyakit Mata. Surabaya: Fakultas Kedokteran

Universitas Airlangga. Pp 173-175


7. Lang GK. 2000. Reffractive Errors. Opthalmology. New York : Thieme
Stuttgart. Pp 339-340
8. Irwana O, Rahman A, Faradilla N et al. 2009. Miopia Tinggi. Files of
DrsMed. Pekanbaru: Faculty of Medicine-University of Riau. Pp 8-13
9. Semarang Eye Centre. Tindakan Bedah LASIK. www.semarang-eyecentre.com/ [diakses tanggal 4 Maret 2012].