Anda di halaman 1dari 41

BAB 1

GAMBARAN UMUM
1.1

Umum
Kota Probolinggo adalah salah satu kota yang terletak di Propinsi Jawa Timur
diantara 38 Kabupaten/Kota lainnya. Kota Probolinggo merupakan daerah transit yang
menghubungkan kota-kota (sebelah timur kota): Banyuwangi, Jember, Bondowoso,
Situbondo, Lumajang, dengan kota-kota (sebelah barat kota): Pasuruan, Malang,
Surabaya.. Kota ini juga terdapat pelabuhan perikanan yang cukup besar. Letak Kota
Probolinggo berada pada 7o4341 - 7o4904 Lintang Selatan dan 113o10 - 113o15
Bujur Timur. Wilayah Kota Probolinggo terletak pada ketinggian 0 sampai kurang dari
50 meter dari atas permukaan air laut. Ketinggian tersebut dikelompokkan atas:
ketinggian 0-10 meter, 10-25 meter, dan 25-50 meter. Semakin ke wilayah selatan,
ketinggian dari permukaan laut relatif lebih besar. Namun secara keseluruhan, wilayah
Kota Probolinggo relatif berlereng datar (0,25%). Kondisi geologi Kota Probolinggo
umumnya dibentuk dari bahan induk batuan vulkanik, zaman quarter muda dan batuan
endapan (alluvium). Bahan induk alluvium terdapat pada wilayah bagian utara dan
tenggara. Sedangkan bahan induk hasil vulkanik terdapat pada bagian lainnya.
1.2

Luas dan Batas Wilayah Administratif


Luas Wilayah Kota Probolinggo adalah sebesar 56,667 Km2. Adapun batas
wilayah administrasi Kota Probolinggo meliputi :
1. Sebelah Utara
: Selat Madura
2. Sebelah Timur
: Kecamatan Dringu (Kabupaten Probolinggo)
3. Sebelah Selatan
: Kecamatan Leces, Wonomerto, Sumberasih
(Kabupaten Probolinggo)
4. Sebelah Barat
: Kecamatan Sumberasih (Kabupaten Probolinggo)
Kota Probolinggo terbagi menjadi 5 kecamatan dan 29 kelurahan yang terdiri dari
Kecamatan Mayangan terdapat 5 Kelurahan, Kecamatan Kademangan terdapat 6
Kelurahan, Kecamatan Wonoasih terdapat 6 Kelurahan, Kecamatan Kedopok terdapat 6
Kelurahan, dan Kecamatan Kanigaran terdapat 6 Kelurahan.
1.3
Keadaan Fisik
1.3.1 Keadaan Geologi
Morfologi di bagian utara merupakan dataran dengan ketinggian kurang dari 100
m di atas permukaan laut, sedangkan di bagian selatan terdapat perbukitanyang
merupakan bagian dari lereng Gunung Bromo, Gunung Tarub, dan Gunung Argapura
dengan ketinggian 300 - 2900 m di atas permukaan laut. Tatanan statigrafinya berurutan
dari yang muda terdiri dari beberapa satuan batuan yaitu Formasi Leprak berumur
Pleosen; Batuan Gunungapi Pandak dan Batuan Trobosan Andesit; Basal dan Gabro
Mikro berumur Plitosen Awal; Batuan Gunungapi Tengger, Tuff Rabano dan Batuan
Gunungapi Argapura berumur Plistosen Ahkir; Batugamping Koral, Endapan Rombakan
Cemara Tiga dan Aluvium berumur Holosen. Struktur geologi terdapat berupa sesar

normal dan sesar mendatar yang berarah umum barat laut - tenggara memotong batuan
berumur Pliasen - Holosen, sserta kelurusan berarah baratlaut - tenggara, utara - selatan
dan melingkar dengan garis tengah kurang lebih 8 Km.
1.3.2 Keadaan Topografi
Wilayah Kota Probolinggo terletak pada ketinggian 0 sampai kurang dari 50 meter
dia atas permukaan air laut. Apabila ketinggian tersebut dikelompokkan atas; ketinggian
0 -10 meter, ketinggian 10 -25 meter, ketinggian 25 -50 meter. Semakin ke wilayah
selatan, ketinggian dari permukaan laut semakin besar. Namun demikian seluruh wilayah
Kota Probolinggo relatif berlereng (0 2%). Hal ini mengakibatkan masalah erosi tanah
dan genangan cenderung terjadi di daerah ini.
1.3.3 Keadaan Hidrologi
Sungai-sungai utama yang terdapat di Kota Probolinggo adalah Sungai
Kedunggaleng, Umbul, Banger, Legundi, Kasbah dan Pancur. Dengan rata-rata panjang
aliran sungai mencapai 4,94 km, yang terpanjang alirannya adalah Sungai Banger dengan
panjang aliran mencapai 6,40 km dan yang terpendek alirannya adalah Sungai Pancur
dengan aliran hanya 3,20 km. Sungai tersebut mengalir sepanjang tahun dari arah selatan
ke utara sesuai dengan kelerengan wilayah. Air sungai dimanfaatkan untuk kebutuhan
pertanian dan perikanan, hal ini dimungkinkan karena sungai tersebut belum tercemar
oleh industri-industri besar yang memang tidak terdapat di Kota Probolinggo.
1.4

Keadaan Iklim dan Curah Hujan


Seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia, Kota Probolinggo mempunyai dua
musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Angin yang tidak mengandung uap
air bertiup dari Australia mengakibatkan musim kemarau. Sebaliknya arus angin yang
banyak mengandung uap air berhembus dari Asia dan Samudera Pasifik sehingga terjadi
musim hujan.
Dari pencatatan empat stasiun hujan yang ada di Kota Probolinggo, curah hujan
tertinggi sepanjang 2013 tercatat sebesar 457mm terjadi pada bulan Februari, sedangkan
hari hujan tertinggi sebanyak 20 hari hujan tercatat pada bulan Januari. Sedangkan curah
hujan terendah terjadi pada bulan Oktober. Curah hujan tahunan tertinggi di Kota
Probolinggo adalah sebesar 2057mm. Pada tahun 2013, hujan mulai turun di bulan
Oktober sebanyak 1 hari dengan curah hujan 3mm sebagai pertanda datangnya musim
hujan. Antara bulan Agustus sampai Oktober, terjadi musim kemarau, dimana selama
hampir tiga bulan hujan tidak turun di Kota Probolinggo. Dibandingkan tahun 2012,
kondisi iklim di Kota Probolinggo pada tahun 2013 lebih basah.
Daerah dengan curah hujan tertinggi terutama terjadi di wilayah selatan Kota
Proboinggo yang meliputi kecamatan Wonoasih dan sebagian kecamatan Kedopok.
Dimana jumlah hari hujan pada wilayah selatan selama tahun 2013 sebanyak 108 hari
hujan.
Rata-rata penyinaran matahari terlama selama 2013, terjadi pada bulan Agustus
sampai Oktober. Musim kering yang terjadi pada bulan Juli sampai dengan Oktober di

Kota Probolinggo berpengaruh terjadinya angin kering yang bertiup cukup kencang dari
arah tenggara ke barat laut, angina ini popular dengan sebutan Angin Gending.
1.5

Demografi
Jumlah penduduk Kota Probolinggo akhir tahun 2013 hasil registrasi penduduk,
menurut Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil tercatat sebesar 220.038 jiwa. Persentase
terbesar di Kecamatan Mayangan sebesar 27,3 persen, disusul Kanigaran 25,5 persen,
Kademangan sebesar 17,9 persen, Wonoasih sebesar 14,8 persen dan Kedopok sebesar
14,4 persen. Jumlah penduduk per kecamatan dan kelurahan dapat dilihat pada Tabel 1.1
Jumlah kelahiran yang tercatat pada tahun 2013 sebesar 2.843 jiwa, jumlah kematian
sebesar 1.980 jiwa dan penduduk migrasi yang masuk 3.860 orang, sedangkan yang
keluar 3.840 orang. Jumlah penduduk tiap kecamatan dapat dilihat di Tabel 1.1 dan
jumlah penduduk tiap kelurahan dapat dilihat di tabel Tabel 1.2, Tabel 1.3, Tabel 1.4,
Tabel 1.5 dan Tabel 1.6
Tabel 1.1 Jumlah Penduduk Kota Probolinggo
No

Kecamatan

1
2
3
4
5

Kademangan
Kedopok
Wonoasih
Kanigaran
Mayangan
Total

Luas
Wilayah
(km2)
12,754
13,624
10,981
10,653
8,655
56,667

Penduduk
(jiwa)

Kepadatan Penduduk
(jiwa/km2)

39488
31689
32645
56111
60095
220028

3096
2326
2973
5267
6943
3883

Sumber: Probolinggo Dalam Angka 2014


Tabel 1.2 Jumlah Penduduk Kecamatan Kademangan
No
1
2
3
4
5
6

Kelurahan
Triwung Kidul
Kademangan
Pohsangit Kidul
Pilang
Triwung Lor
Ketapang
Total

Luas
Wilayah
(km2)

Penduduk
(jiwa)

Kepadatan
Penduduk
(jiwa/km2)

1,763
2,130
1,665
3,068
2,077
2,051

7781
7446
4863
6272
6161
6965

4413
3496
2921
2044
2966
3396

12,754

39488

3096

Sumber: Kademangan Dalam Angka 2014


Tabel 1.3 Jumlah Penduduk Kecamatan Kedopok
No
1

Kelurahan
Sumber Wetan

Luas
Wilayah
(km2)

Penduduk
(jiwa)

Kepadatan
Penduduk
(jiwa/km2)

4,876

5529

1134

No
2
3
4
5
6

Kelurahan
Kareng Lor
Kedopok
Jrebeng Kulon
Jrebeng Wetan
Jrebeng Lor
Total

Luas
Wilayah
(km2)

Penduduk
(jiwa)

Kepadatan
Penduduk
(jiwa/km2)

2,345
1,102
1,530
0,905
2,866

4827
4091
4496
3941
8805

2058
3712
2939
4355
3072

13,624

31689

2326

Sumber: Kedopok Dalam Angka 2014


Tabel 1.4 Jumlah Penduduk Kecamatan Wonoasih
No
1
2
3
4
5
6

Kelurahan
Wonoasih
Jrebeng Kidul
Pakistaji
Kedunggaleng
Kedung Asem
Sumber Taman
Total

Luas
Wilayah
(km2)

Penduduk
(jiwa)

Kepadatan
Penduduk
(jiwa/km2)

0,843
1,970
1,855
1,298
3,145
1,870

3761
5029
4737
2648
7074
9396

4461
2553
2554
2040
2249
5025

10,981

32645

2973

Sumber: Wonoasih Dalam Angka 2014


Tabel 1.5 Jumlah Penduduk Kecamatan Kanigaran
No
1
2
3
4
5
6

Kelurahan
Curahgrinting
Kanigaran
Kebonsari Wetan
Sukoharjo
Kebonsari Kulon
Tisnonegaran
Total

Luas
Wilayah
(km2)

Penduduk
(jiwa)

Kepadatan
Penduduk
(jiwa/km2)

1,269
3,427
0,976
0,944
1,558
2,479

4309
18569
5449
6741
15477
5566

3396
5418
5583
7141
9934
2245

10,653

56111

5267

Sumber: Kanigaran Dalam Angka 2014


Tabel 1.6 Jumlah Penduduk Kecamatan Mayangan
No
1
2
3

Kelurahan
Wiroborang
Jati
Sukabumi

Luas
Wilayah
(km2)

Penduduk
(jiwa)

Kepadatan
Penduduk
(jiwa/km2)

1,191
1,246
1,487

6623
12629
10359

5561
10136
6966

4
5

Mangunharjo
Mayangan
Total

3,455
1,276
8,655

19673
10811
60095

5694
8473
6943

Sumber: Mayanagan Dalam Angka 2014


1.6

Sosial Masyarakat
Karakteristik sosial ini penduduk Kota Probolinggo dapat dilihat dari segi etnik
dan budaya masyarakatnya. Masyarakat Probolinggo dilihat dari sosial budaya sebagian
berasal dari budaya agraris (petani dan nelayan) dan berkembang menjadi masyarakat
urbanis. Sedangkan ditinjau dari suku, sebagian besar merupakan Suku Jawa dan Madura
yang terkenal ulet, lugas, terbuka, dan kuat dalam mengarungi kehidupan (berjiwa
wiraswasta tinggi). Selain itu perpaduan masyarakat dan budaya yang masih asli
dicerminkan dengan gotong royong, dan adat budaya khas, serta diwarnai dengan unsur
Islam. Hal ini dapat dipandang sebagai potensi masyarakat sehingga menjadi modal
dalam peningkatan sumber daya manusia sehingga terbentuk suatu masyarakat yang
handal dan berkembang dan mudah tanggap terhadap kemajuan. Lebih dari itu potensi
potensi yang ada menjadikan ketahanan sosial masyarakat akan mampu menangkal dan
menyaring kemungkinan adanya pengaruh budaya luar yang negatif. Salah satu wujud
kekhasan budaya masyarakat ialah lahirnya seni budaya khas daerah seperti seni tari, seni
suara, seni musik dan seni rupa. Hal ini selain memperkuat budaya masyarakat juga
menjadi aset yang bisa dikembangkan untuk wisata maupun industri.
1.7
Fasilitas Umum
1.7.1 Fasilitas Pendidikan
Ketersediaan fasilitas pendidikan baik sarana maupun prasarana akan sangat
menunjang dalam meningkatkan mutu pendidikan. Tabel 1.7 memuat data tentang jumlah
fasilitas pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak/raudhatul athfal sampai sekolah
menengah atas (SMU/MA dan SMK), yang bersumber dari Dinas Pendidikan Kota
Probolinggo. Jumlah fasilitas pendidikan Kota Probolinggo berjumlah 315. Pendidikan
yang dicatat adalah pendidikan formal berdasar kurikulum Kementrian Pendidikan
Nasional, termasuk pendidikan yang diselenggarakan oleh pondok pesantren dengan
memakai kurikulum Kementrian pendidikan Nasional seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI),
Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) dibawah naungan Kementrian
Agama. Jumlah sekolah dibawah ini mencakup sekolah negeri dan swasta.
Tabel 1.7 Jumlah Fasilitas Pendidikan Kota Probolinggo Tahun 2013
No
1
a
b
c
d
e

Kecamatan/Kelurahan
Kademangan
Triwung Kidul
Kademangan
Pohsangit Kidul
Pilang
Triwung Lor

Jumlah
63
15
18
6
7
6

No

Kecamatan/Kelurahan

Ketapang
f
2
Kedopok
Sumber Wetan
a
Kareng Lor
b
Kedopok
c
Jrebeng Kulon
d
Jrebeng Wetan
e
Jrebeng Lor
f
3
Wonoasih
Wonoasih
a
Jrebeng Kidul
b
Pakistaji
c
Kedunggaleng
d
Kedung Asem
e
Sumber Taman
f
Kanigaran
4
Curahgrinting
a
Kanigaran
b
Kebonsari Wetan
c
Sukoharjo
d
Kebonsari Kulon
e
Tisnonegaran
f
Mayangan
5
Wiroborang
a
Jati
b
Sukabumi
c
Mangunharjo
d
Mayangan
e
JUMLAH FASILITAS PENDIDIKAN
KOTA PROBOLINGGO

Jumlah
11
53
10
6
7
5
6
19
43
10
7
6
3
7
10
81
8
24
4
8
19
18
75
6
12
26
21
10
315

Sumber: Kecamatan Dalam Angka 2014


1.7.2 Fasilitas Kesehatan
Peningkatan pelayanan kesehatan tidak terlepas dari ketersediaan sarana dan
prasarana kesehatan yang memadai. Jumlah fasilitas kesehatan pada Kota Probolinggo
dapat dilihat pada Tabel 2.8.
Tabel 1.8 Jumlah Fasilitas Kesehatan Kota Probolinggo Tahun 2013
No
1
a
b

Kecamatan/Kelurahan
Kademangan
Triwung Kidul
Kademangan

Jumlah
7
1
1

No

Kecamatan/Kelurahan

Pohsangit Kidul
c
Pilang
d
Triwung Lor
e
Ketapang
f
2
Kedopok
Sumber Wetan
a
Kareng Lor
b
Kedopok
c
Jrebeng Kulon
d
Jrebeng Wetan
e
Jrebeng Lor
f
3
Wonoasih
Wonoasih
a
Jrebeng Kidul
b
Pakistaji
c
Kedunggaleng
d
Kedung Asem
e
Sumber Taman
f
Kanigaran
4
Curahgrinting
a
Kanigaran
b
Kebonsari Wetan
c
Sukoharjo
d
Kebonsari Kulon
e
Tisnonegaran
f
Mayangan
5
Wiroborang
a
Jati
b
Sukabumi
c
Mangunharjo
d
Mayangan
e
JUMLAH FASILITAS KESEHATAN
KOTA PROBOLINGGO

Jumlah
1
1
1
1
5
1
1
1
1
1
1
4
0
1
1
0
1
1
11
1
4
1
1
3
1
16
2
3
3
5
3
43

Sumber: Kecamatan Dalam Angka 2014


1.7.3 Fasilitas Peribadatan
Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Probolinggo,
penduduk Kota Probolinggo mayoritas beragama Islam 96,84 persen, Kristen Katolik
1,19 persen, Protestan 1,45 persen, Budha 0,46 persen dan Hindu 0,04 persen. Untuk
jumlah fasilitas peribadatan pada Kota Probolinggo dapat dilihat pada Tabel 2.9.

Tabel 1.9 Jumlah Fasilitas Peribadatan Kota Probolinggo Tahun 2013


No

Kecamatan/Kelurahan

1
Kademangan
Triwung Kidul
a
Kademangan
b
Pohsangit Kidul
c
Pilang
d
Triwung Lor
e
Ketapang
f
2
Kedopok
Sumber Wetan
a
Kareng Lor
b
Kedopok
c
Jrebeng Kulon
d
Jrebeng Wetan
e
Jrebeng Lor
f
3
Wonoasih
Wonoasih
a
Jrebeng Kidul
b
Pakistaji
c
Kedunggaleng
d
Kedung Asem
e
Sumber Taman
f
Kanigaran
4
Curahgrinting
a
Kanigaran
b
Kebonsari Wetan
c
Sukoharjo
d
Kebonsari Kulon
e
Tisnonegaran
f
Mayangan
5
Wiroborang
a
Jati
b
Sukabumi
c
Mangunharjo
d
Mayangan
e
JUMLAH FASILITAS
PERIBADATAN

Jumlah
217
66
57
18
22
19
35
199
46
39
28
33
24
29
208
26
34
41
25
43
39
264
30
79
39
28
50
38
199
18
42
26
73
40
1087

Sumber: Kecamatan Dalam Angka 2014


1.7.4 Industri
Berikut adalah jumlah industri tiap kelurahan dan kecamatan. Terdapat di Tabel
3.10 dibawah ini

Tabel 1.10 Jumlah Industri Kota Probolinggo Tahun 2013


No

Kecamatan/Kelurahan

1
Kademangan
Triwung Kidul
a
Kademangan
b
Pohsangit Kidul
c
Pilang
d
Triwung Lor
e
Ketapang
f
2
Kedopok
Sumber Wetan
a
Kareng Lor
b
Kedopok
c
Jrebeng Kulon
d
Jrebeng Wetan
e
Jrebeng Lor
f
3
Wonoasih
Wonoasih
a
Jrebeng Kidul
b
Pakistaji
c
Kedunggaleng
d
Kedung Asem
e
Sumber Taman
f
Kanigaran
4
Curahgrinting
a
Kanigaran
b
Kebonsari Wetan
c
Sukoharjo
d
Kebonsari Kulon
e
Tisnonegaran
f
Mayangan
5
Wiroborang
a
Jati
b
Sukabumi
c
Mangunharjo
d
Mayangan
e
JUMLAH INDUSTRI KOTA
PROBOLINGGO

Jumlah
105
21
20
13
17
16
18
84
15
13
11
12
10
23
86
10
13
13
7
19
25
149
11
49
14
18
41
15
159
18
33
27
52
29
583

Sumber: Probolinggo Dalam Angka 2014


1.8

Tata Guna Lahan

Struktur penggunaan tanah secara umum di Kota Probolinggo adalah


permukiman, perdagangan, industri, tanah pertanian. Secara keseluruhan penggunaan
tanah di Kota Probolinggo didominasi oleh tanah permukiman dan pertanian.
Secara umum penggunaan tanah di Kota Probolinggo tahun didominasi oleh lahan
pertanian dengan luas 2593,64 Ha atau 45,77% dari luas keseluruhan Kota Probolinggo
dengan lahan pertanian paling luas berada di Kecamatan Kedopok sebesar 860,98 Ha,
kemudian berikutnya adalah Kecamatan Kademangan dengan luas lahan pertanian
sebesar 667,21 Ha dan Kecamatan Wonoasih dengan luas lahan pertanian sebesar 514,48
Ha.
Penggunaan lahan paling dominan berikutnya setelah lahan pertanian adalah lahan
permukiman, yaitu sebesar 2.090,04 Ha atau 36,88% dari luas Kota Probolinggo.
Persebaran permukiman di Kota Probolinggo cukup merata di seluruh kecamatan, hal ini
dpat dilihat berdasarkan selisih luas lahan permukiman pada setiap kecamatan yang tidak
terlalu mencolok. Luas lahan permukiman paling besar berada di Kecamatan Kanigaran
yaitu sebesar 474,29 Ha, kemudian berikutnya adalah Kecamatan Wonoasih sebesar
412,24 Ha.
Penggunaan tanah lainnya seperti fasilitas pendidikan, perkantoran, perdagangan
maupun industri menjadi terlihat tidak signifikan jika dibandingkan dengan luas lahan
pertanian ataupun permukiman. Luas fasilitas permukiman, perkantoran, perdagangan
dan industri di Kota Probolinggo berturut-turut adalah sebesar 132,50 Ha (2,34% luas
wilayah Kota probolinggo), 108,91 Ha (1,92%), 20,64 Ha (0,36%), dan 90,08 Ha
(1,59%). Penggunaan lahan lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel 1.11.

Tabel 1.11 Luas dan Jenis Pengunaan Lahan (Ha) di Kota Probolinggo

1.9

Peta Wilayah

Gambar 1.1 Peta Administrasi Kota Probolinggo


1.10

Komponen Drainase
Pengelolaan komponen drainase di Kota Probolinggo dikelola oleh Sub Dinas
Cipta Karya Kota Probolinggo. Fungsi utama dari drainase perkotaan adalah membawa
aliran air dari hujan secepat mungkin untuk dibuang tanpa terjadi genangan pada waktu
musim hujan. Fungsi lainnya adalah mengalirkan air buangan domestik pada musim
kemarau yang pada umumnya debit buangan limbah domestik kecil sekali jika
dibandingkan dengan kapasitas salurannya.
Jaringan drainase yang terdapat di Kota Probolinggo adalah jaringan primer,
sekunder, dan tersier. Jaringan tersebut umumnya mengikuti pola jaringan jalan yang ada
di kawasan perencanaan. Selain itu beberapa saluran yang ada digunakan sebagai irigasi
ke sawah-sawah yang ada di Kota Probolinggo. Umumnya kondisi sistem drainase yang
ada, belum mampu sepenuhnya berfungsi sebagai sarana pembuangan air hujan, terutama
pada saat mengalirkan air hujan

dengan intensitas yang tinggi. Sedangkan untuk irigasi pertanian, penduduk di


kawasan perencanaan memanfaatkan sumur pompa untuk mendapatkan air bagi kegiatan
pertaniannya.
1.11

Kompilasi Data Curah Hujan Tahunan


Dari data curah hujan tahunan Kota Probolinggo, maka dapat direncanakan Sistem
Saluran drainase pada Kawasan Perkotaan Probolinggo. Saluran drainase ini berfungsi
untuk menyalurkan air hujan agar tidak mengakibatkan banjir di Kawasan Perkotaan
Probolinggo. Saluran drainase ini menyalurkan air hujan ke sungai yang terdapat di
Kawasan Perkotaan Probolinggo.
Data curah hujan tahunan Kawasan Perkotaan Probolinggo dianalisis melalui
empat stasiun pengamat curah hujan yang dimiliki oleh Kawasan Perkotaan Probolinggo.
Data curah hujan tahunan Kawasan Perkotaan Probolinggo dari hasil analisa enam stasiun
pengamat curah hujan di Kawasan Perkotaan Probolinggo dari tahun 1983-2012 yang
didapatkan dari data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dapat
dilampirkan pada tabel sebagai berikut:
Tabel 1.12 Data Curah Hujan Tahunan Kota Probolinggo
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

Tahun
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009

ST.1
125
112
130
156
147
138
148
143
152
164
145
140
148
156
137
166
139
152
165
150
146
148
123
161
147
144
118

ST.2
127
112
131
122
115
132
142
123
116
117
132
123
135
141
118
126
138
141
139
143
127
129
119
133
141
126

ST.3
145
140
153
153
147
154
148
158
126
158
153
163
149
163
160
154
167
141
159
148
156
160
147
161
170
155

ST.4
115
135
132
123
138
117
129
120
140
128
142
135
137
129
136
129
135
115
133
134
132
114
121
134
128
135

ST.6
109
111
113
107
125
106
124
118
109
113
121
128
117
132
120
113
107
129
139
117
158
123
122
124
119
120

No
28
29
30

Tahun
2010
2011
2012

ST.1
158
162
161

ST.2
140
135
119

ST.3
160
157
159

ST.4
130
119
124

ST.6
146
121
139

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Pengertian Drainase
Menurut Tim Penyusun Buku Ajar Magister, (2002), secara umum drainase
didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari usaha untuk mengalirkan air
yang berlebihan dalam suatu konteks pemanfaatan tertentu. Sedangkan drainase kota
merupakan sistem pengeringan dan pengaliran air dari wilayah perkotaan yang meliputi:
pemukiman, kawasan industri, perdagangan, dan fasilitas umum lainnya, sehingga air
tersebut tidak mengenangi kota atau menimbulkan dampak negatif lainnya.
Menurut Tim Penyusun Buku Ajar Magister, (2002), sistem drainase merupakan
suatu sistem pembuangan air yang menggenang pada suatu daerah dimana sistem
drainase ini berfungsi untuk mengalirkan kelebihan air hujan menuju ke badan air
penerima dengan aman, sehingga dapat mengendalikan terjadinya banjir. Sistem
drainase diperlukan untuk melakukan tindakan teknis dalam mengendalikan:
1. Kelebihan air hujan sehingga dapat dilakukan pengendalian terhadap
kemungkinankemungkinan adanya:
Banjir.
Genangan air pada lahan produktif.
Erosi pada lapisan tanah.
2. Masuknya air dari badan air penerima ke saluran drainase yang umumnya disebut
dengan air balik (back water).
3. Elevasi permukaan air tanah diusahakan pada lahan produktif agar lapisan tanah
di atasnya tidak tergenang.
2.2

Jenis-jenis Saluran Drainase


Menurut Tim Penyusun Buku Ajar Magister, (2002), saluran drainase dapat dibagi
menjadi beberapa jenis antara lain adalah sebagai berikut :
Menurut sejarah terbentuknya
Drainase alamiah ( Natural Drainage)
Yaitu drainase yang terbentuk secara alami dan tidak terdapat bangunanbangunan seperti pelimpah, pasangan batu/beton, gorong- gorong dan lainlain. Saluran ini terbentuk oleh gerusan air yang bergerak karena gravitasi.
Drainase Buatan
Yaitu drainase yang dibuat untuk tujuan tertentu dan memerlukan bangunan
bangunan tertentu seperti selokan pasangan batu/beton, goronggorong,
pipapipa dan sebagainya.
Menurut Konstruksinya
Saluran Terbuka
Yaitu saluran untuk drainase air hujan yang terletak di daerah yang
mempunyai luasan yang cukup atau untuk air yang bukan air hujan tidak
membahayakan kesehatan lingkungan.
Saluran tertutup

2.3

Yaitu saluran yang digunakan untuk aliran air kotor (mengganggu kesehatan)
atau untuk saluran yang terletak ditengah kota.
Selain jenis di atas, berbagai jenis saluran drainase yang lain adalah:
Saluran tahan erosi
Sebagian besar saluran yang diberi lapisan dan saluran-saluran yang bahanbahannya merupakan hasil rakitan pabrik dapat menahan erosi dengan baik
sehingga dianggap tahan erosi (non erodible). Saluran tanpa lapisan biasanya peka
erosi kecuali yang digali pada dasar yang keras misalnya pada sar yang terbuat
dari batu.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam perancangan adalah:
1.
Jenis bahan yang membentuk tubuh saluran, yang menentukan koefisien
kekasaran.
2.
Kecepatan minimum yang diijinkan untuk mencegah pengendapan bila air
mengangkut silt atau serpihan kasar lainnya.
3.
Kemiringan dasar saluran dan kemiringan dinding.
4.
Jagaan (freeboard)
5.
Penampang yang paling efisien, ditentukan secara hidrolika maupun
secara pendekatan.
Saluran peka erosi dengan penggerusan tanpa pengendapan.
Perilaku aliran dalam saluran peka erosi (erodible chanel) dipengaruhi oleh
berbagai faktor fisik dan oleh keadaan lapangan yang sangat kompleks dan tidak
menentu, sehingga perancangan yang tepat untuk saluran semacam ini pada
tingkat pengetahuan sekarang ini sesungguhnya belum sesuai dengan kenyataan.
Saluran Berumput
Adanya rumput atau tetumbuhan di saluran akan menimbulkan turbulensi yang
cukup besar yang berarti adanya kehilangan energi dan hambatan aliran. Namun
untk saluran lahan yang dipakai untuk pengairan, adanya lapisan rumput ini sering
dipandang menguntungkan dan disukai.
Rumput tersebut akan menstabilkan tubuh saluran, mengkonsolidasikan massa
tanah di dasar saluran dan mengontrol erosi permukaan dan gerakan butir-butir
tanah di sepanjang dasar saluran.

Pola Jaringan Drainase


Pola jaringan drainase dapat dikelompokkan menjadi beberapa bentuk, yaitu:
a) Siku
Untuk daerah yang mempunyai topografi sedikit lebih tinggi dari sungai. Dan
sungai sebagai saluran pembuangan akhir ditengah kota.

Gambar 2.1 Pola Jaringan Drainase Model Siku


b) Pararel
Saluran utama terletak sejajar dengan saluran cabang. Dengan saluran cabang
yang cukup banyak dan pendekpendek, apabila terjadi perkembangan kota, saluran
saluran akan dapat menyesuaikan diri.

Gambar 2.2 Pola Jaringan Drainase Model Paralel


c) Grid Iron
Untuk daerah dimana sungainya terletak dipinggir kota, sehingga saluransaluran
cabang dikumpulkan dulu pada saluran pengumpul.

Gambar 2.3 Pola Jaringan Drainase Model Grid Iron


d) Alamiah
Sesuai dengan keadaan alaminya, sesuai dengan kontur tanah dan letak sungainya
sebagai saluran pembuangan akhir.

Gambar 2.4 Pola Jaringan Drainase Model Alamiah


e) Radial
Untuk daerah berbukit, sehingga pola saluran memencar ke segala arah.

Gambar 2.5 Pola Jaringan Drainase Model Radial


f) Jaringjaring
Mempunyai saluransaluran pembuang yang mengikuti arah jalan raya dan cocok
untuk daerah dengan topografi datar.

Gambar 2.6 Pola Jaringan Drainase Model JaringJaring


2.4

Susunan dan Fungsi Saluran Drainase


Menurut Tim Penyusun Buku Ajar Magister, (2002), dalam pengertian jaringan
drainase, maka sesuai dengan fungsi dan sistem kerjanya, jenis saluran dapat dibedakan
sebagai berikut:
Interseptor drain.
Saluran interceptor adalah saluran yang berfungsi sebagai pencegah terjadinya
pembebanan aliran dari suatu daerah terhadap daerah lain dibawahnya dan saluran
ini dibangun pada bagian yang relatif sejajar dengan garis kontur. Oulet saluran
ini terletak di saluran collector atau langsung di natural drainage (drainase alami).
Collector drain.

Saluran collector adalah saluran yang berfungsi sebagai pengumpul debit yang
diperoleh dari drainase yang lebih kecil dan akhirnya dibuang ke saluran conveyor
(pembawa).
Conveyor drain.
Saluran conveyor adalah saluran yang berfungsi sebagai pembawa air buangan dari
suatu daerah ke lokasi pembuangan tanpa harus membayakan daerah yang dilalui.
Letaknya dibagian terendah lembah dari suatu daerah sehingga dapat berfungsi
sebagai pengumpul dari anak cabang saluran yang ada.

2.5

Tata Letak Sistem Jaringan Drainase


Suatu sistem drainase agar dapat berfungsi dengan baik, maka perlu diperhatikan
halhal sebagai berikut:
Pola arah aliran.
Arah aliran dapat ditentukan dengan melihat peta topografinya, yang merupakan
natural drainage system yang terbentuk secara alamiah, dan dapat mengetahui
toleransi lamanya genangan dari daerah rencana.
Situasi dan kondisi fisik kota.
Situasi dan kondisi fisik kota yang ada ataupun yang sedang direncanakan perlu
diketahui:
Sistem jaringan yang ada (drainase, irigasi, air minum, telepon dan lainlain).
Bottle neck yang mungkin ada.
Batasbatas derah pemilikan.
Letak dan jumlah prasarana yang ada.
Tingkat kebutuhan drainase yang diperlukan.
Gambaran prioritas daerah secara garis besar.
Semua hal diatas dimaksudkan agar dalam penyusunan tata letak sistem jaringan
drainase tidak terjadi pertentangan kepentingan. Penentuan tata letak dari jaringan
drainase bertujuan untuk mencapai sasaran sebagai berikut:
Sistem jaringan drainase dapat berfungsi sesuai tujuan.
Menekan dampak lingkungan negatif.
Dapat bertahan lama ditinjau dari segi konstruksi dan fungsinya.
Biaya pembangunan rendah.
2.6

Bentuk dan Jenis Saluran Drainase


Bentukbentuk dan jenis saluran yang dipilih, disesuaikan dengan lingkungan
setempat, karena itu digunakan tipe saluran air hujan sebagai berikut:
a. Saluran tertutup
Saluran ini dibuat dari beton tidak bertulang, berbentuk bulat (buis beton) dan
diterapkan pada daerah dengan lalu lintas pejalan kaki di daerah itu padat seperti
di daerah perdagangan, pusat pemerintahan dan jalan protokol. Sistem pengaliran
air dari jalan ke dalam saluran menggunakan street inlet. Pada jarak tertentu dibuat
suatu rumusan pemeriksaan atau manhole yang fungsinya selain sebagai sumuran

pemeriksaan juga sebagai bangunan terjunan (drop manhole), untuk tiap


perubahan dimensi saluran dan pertemuan saluran.
b. Saluran terbuka
Saluran ini terdiri dari dua bentuk dengan karakteristik berbeda, yaitu:
Saluran yang berbentuk segiempat dan modifikasinya.
Saluran ini dibuat dari pasangan batu kali atau batu belah dan diterapkan pada
daerah dengan ruang yang tersedia terbatas seperti pada lingkungan
permukiman penduduk, dimana ambang saluran dapat berfungsi sebagai inlet
dari air hujan yang turun pada tribury area.
Saluran yang berbentuk trapesium dan modifikasinya.
Saluran ini dibuat tanpa pergeseran, diterapkan pada daerah dengan
kepadatan dimana ruang yang tersedia masih luas seperti daerah pertanian
dan lapangan. Pada bagian tertentu, dilakukan pergeseran bila batas
kecepatan maksimum tidak terpenuhi.
Adapun beberapa macam bentuk saluran :
1) Trapesium
Menyalurkan limbah cair hujan dengan debit besar yang sifat alirannya terus
menerus dengan fluktuasi kecil dan digunakan apabila:

Selokan terbuka.

Tempat memungkinkan (cukup luas).

Gambar 2.7 Bentuk Saluran Trapesium


2) Segiempat
Menyalurkan limbah cair hujan dengan debit besar yang sifat alirannya terus
menerus dengan fluktuasi kecil pada lokasi jalur saluran tidak atau kurang tersedia
lahan yang cukup dan digunakan apabila:

Debit besar (Q).

Selokan terbuka.

Gambar 2.8 Bentuk Saluran Segiempat


3) Segitiga
Menyalurkan limbah air hujan dengan debit kecil, sampai nol dan banyak endapan
dan digunakan apabila:

Debit (Q) kecil.


Saluran terbuka.

Gambar 2.9 Bentuk Saluran Segitiga


2.7

Jalur Saluran
Jaringan sistem penyaluran air hujan yang direncanakan harus sesuai dengan
keadaan fisik daerah pelayanan dimana jalur saluran air hujan direncanakan sebagian
terletak di sebelah kiri dan kanan jalan, diusahakan agar tidak berada di tepi jalan,
melainkan berada jauh dan melintas jalan, agar permukiman yang berada di sepanjang
jalan tersebut, tidak terpaksa harus membuat jembatan persil karena terlalu mahal.
Kapasitas saluran dan perlengkapannya sesuai dengan beban keadaan medan serta sifat
sifat hidrolis dimana saluran dan perlengkapannya tersebut ditempatkan.
Dalam perencanaan penyaluran air hujan ini digunakan beberapa dasar
perencanaan, baik secara teknis maupun hidrolis. Perencanaan secara hidrolis antara lain
meliputi prinsipprinsip hidrolika dari suatu pengaliran dalam saluran perencanaan,
secara teknis meliputi segisegi teknik yang perlu diperhatikan dalam rencana penyaluran
sesuai dengan kondisi topografi daerah perencanaan.
2.8

Prinsip-Prinsip Pengaliran
Prinsipprinsip pokok dari perencanaan sistem penyaluran air hujan adalah
sedapat mungkin memanfaatkan jalur drainase alamiah sebagai badan air penerima.
Selain itu dikenal pula kaidahkaidah pengaliran adalah sebagai berikut:
a. Limpasan air hujan dari awal saluran (tribury) selama masih belum berbahaya,
dihemat agar ada kesempatan untuk infiltrasi sebesarbesarnya sehingga dapat
mengurangi debit limpasan ke bawah aliran dan sekaligus berfungsi sebagai
konversi air tanah pada daerah atas (upstream).
b. Saluran sebesar mungkin memberikan pengurangan debit limpasannya melalui
proses infiltrasi, untuk mengendalikan besarnya profil saluran (debit aliran).
c. Kecepatan aliran tidak boleh terlalu besar agar tidak terjadi penggerusan saluran,
demikian pula tidak boleh terlalu kecil agar tidak terjadi pengendapan atau
pengandalan pada saluran.
d. Profil saluran mampu menampung debit maksimum dari pengaliran sesuai dengan
PUH yang telah ditentukan. Demikian pula badan air penerimanya.
2.9

Analisis Hidrologi
Dalam perencanaan saluran drainase ini, maka analisa terhadap aspek hidrologi
merupakan hal yang sangat penting. Aspek hidrologi yang meliputi curah hujan,
melengkapi data hujan, uji konsistensi, uji homogenitas, penentuan curah hujan ratarata

daerah, analisa hujan harian maksimum, metode perhitungan distribusi hujan atau metode
perhitungan intensitas hujan dan perhitungan lengkung intensitas hujan.
2.9.1 Curah Hujan
Curah hujan adalah data hidrologi yang paling penting untuk dikumpulkan
sebelum perencanaan drainase perkotaan. Dalam perencanaan, data curah hujan
digunakan untuk:

Perhitungan dimensi saluran, baik yang tertutup maupun yang terbuka.

Perhitungan dimensi bangunan-bangunan saluran lintasan.

Perhitungan bentang jembatan-jembatan.

Perhitungan waduk pengendali banjir.


Proses perhitungan berdasarkan analisa hidrologi yang meliputi antara lain:
analisa data curah hujan dan perhitungan debit aliran. Setelah debit aliran diketahui maka
ditentukan dimensi saluran dan bangunanbangunannya berdasarkan rumusrumus
hidrolika.
2.9.2 Jaringan Stasiun Pengamat Curah Hujan
Untuk mendukung analisa data curah hujan diperlukan stasiun pengamat curah
hujan. Jumlah stasiun pengamat curah hujan harus disesuaikan dengan wilayah
penyebaran hujan dan topografi wilayahnya. Menurut WHO, dianjurkan mempunyai
kerapatan sebagai berikut:
Daerah datar beriklim sedang, mediterania dan daerah tropis.
Ideal
: 1 stasiun untuk 600 km2 900 km2
Praktis : 1 stasiun untuk 900 km2 3000 km2
Daerah pegunungan beriklim sedang, mediterania dan tropis.
Ideal
: 1 stasiun untuk 100 km2 250 km2
Praktis : 1 stasiun untuk 250 km2 1000km2
Daerah kering dan daerah kutub.
Satu stasiun untuk 1500 10.000km2 dan tergantung kelayakannya.
2.9.3 Melengkapi Data Hujan yang Hilang
Metodemetode yang dipakai untuk melengkapi data hujan yang hilang adalah:
a.
Cara aritmatika ratarata.
Jika selisih antara tinggi hujan tahunan normal dari tempat pengukuran yang
datanya kurang lengkap dibanding dengan tinggi hujan tahunan normal dari stasiun
pengukuran terdekat < 10%, maka data yang hilang dapat diambil dari harga ratarata
hitung dari data stasiun terdekat, dan dianjurkan terdapat lebih dari dua stasiun
pembanding. Cara aritmatika ratarata dapat dirumuskan sebagai berikut:
Rx = 1/n (R1 + R2 +... Rn)
Dimana :
R1, R2...Rn : harga curah hujan ratarata tahunan pada stasiun 1, stasiun 2
hingga stasiun ke n.
Rx
: curah hujan ratarata dari stasiun x yang datanya akan dilengkapi.

: jumlah stasiun pembanding.

b.

Cara rasio normal


Jika selisih antara tinggi hujan tahunan normal dari tempat pengukuran yang
datanya kurang lengkap dibanding dengan tinggi hujan tahunan normal dari stasiun
pengukuran terdekat > 10%, maka perlengkapan data hujan yang hilang dilakukan
menggunakan cara rasio atau pembanding normal yang dirumuskan sebagai berikut :
r
Rx r1 r2

........ n
n R1 R2
Rn
Dimana :
rx
: data hujan yang dicari.
Rx
: curah hujan ratarata tahunan pada stasiun x yang datanya akan
dilengkapi.
n
: jumlah stasiun pembanding.
r1...rn : curah hujan di stasiun 1, 2, 3 sampai ke n.
R1....Rn : curah hujan ratarata tahunan pada stasiun 1, 2, 3 sampai stasiun ke n.
rx

c.

Cara korelasi.
Cara ini digunakan untuk analisa hujan tahunan dengan menggunakan kurva yang
menggambarkan korelasi antara tinggi hujan pada stasiun yang datanya hilang dengan
stasiun index pada periode (tahun) yang sama.
2.9.4 Tes Konsistensi Data Hujan
Apabila dalam suatu pengamatan data hujan terdapat non homogenitas dan
tidaksesuaian (incostency) dapat menyebabkan penyimpangan pada hasil perhitungan.
Non Homogenitas dapat disebabkan:
1. Pemindahan stasiun pengamat ke tempat baru.
2. Perubahan jenis alat ukur.
3. Perubahan cara pengukuran.
4. Kesalahan observasi sejak tanggal tertentu.
5. Perubahan ekosistem akibat bencana (kebakaran, hujan, tanah longsor, dll).
6. Dan lain-lain.
Konsistensi data hujan diuji dengan cara Garis Massa Ganda (Double Mass Curve
Technique). Dengan metode ini dapat juga dilakukan koreksi datanya. Dasar metode ini
ialah membandingkan curah hujan tahunan akumulatif dari stasiun yang diikuti dengan
curah hujan tahunan akumulatif dari jaringan stasiun dasar.
Stasiun-stasiun dasar dipilih dari tempat-tempat berdekatan dengan stasiun
pengamatan, data-data stasiun dasar harus diuji konsistensinya dan kondisi meteorologis
yang sama dengan stasiun pengamatan. Jumlah stasiun dasar sedikitnya adalah 5 buah.
Data-data stasiun dasar harus diuji konsistensinya dan kondisi meteorologis yang
sama dengan stasiun pengamat. Data-data hujan disusun menurut urutan kronologis
mundur, dimulai dengan tahun terakhir. Rumus yang digunakan adalah:

tg TB

tg TL
Rk Fk R
Fk

Dimana:
Rk
= curah hujan koreksi di stasiun x.
R
= curah hujan asli.
Fk
= faktor koreksi.
2.9.5 Tes Homogenitas
Untuk menganalisa satu array data hujan diperlukan homogenitas data. Satu array
data hujan dikatakan homogen apabila plotting titik H(N,TR) berada pada kertas grafik
homogenitas bagian dalam. Harga TR didapatkan dari persamaan:
R
TR 10 xTR
R
TR merupakan ordinat, sedangkan absisnya adalah N. N adalah jumlah tahun pada
data hujan, dimana :
R10 = presipitasi tahunan dengan PUH 10 tahun.
R
= presipitasi tahunan rata-rata dengan 1 array data.
TR
= PUHnya R.
Untuk mencari R10 dan TR diperlukan persamaan regresi. Apabila plotting
H(N,TR) pada kertas grafik homogenitas berada di luar grafik, maka pemilihan array data
dapat diubah dengan memotong atau menambah jumlah data stasiun hujan sedemikian
hingga titik H(N,TR) berada pada bagian dalam grafik homogenitas. Adapun cara untuk
mengubah 1 array data adalah sebagai berikut:

Menambah jumlah data-datanya.

Menggeser mundur dengan jumlah data yang sama.

Mengurangi jumlah, namun cara ini tidak dianjurkan.


2.9.6 Analisis Curah Hujan Rata-rata
Untuk merencanakan suatu saluran drainase diperlukan data curah hujan. Curah
hujan diperlukan adalah curah hujan rata-rata diseluruh daerah yang bersangkutan. Jadi
bukan curah hujan pada suatu titik tertentu sehingga curah hujan ini disebut curah hujan
wilayah atau daerah dan dinyatakan dalam mm.
Curah hujan harus diperkirakan dari
beberapa titik atau stasiun pengamat curah hujan. Cara-cara perhitungan curah hujan
daerah pengamatan curah hujan curah dibeberapa titik adalah sebagai berikut:
1.
Cara Rata-rata Aritmatik.
Cara ini merupakan perhitungan rata-rata secara aljabar curah hujan didalam dan
di sekitar daerah yang bersangkutan. Cara ini biasanya digunakan untuk daerah datar dan
jumlah penakarnya banyak dan sifat curah hujannya dianggap uniform. Cara rata-rata
aritmatik dapat dirumuskan sebagai berikut:
R = 1/n (R1 + R2+ ...Rn)
Atau

1 n
Ri
n i 1

Dimana :
R1, R2, ... Rn : tinggi hujan masing-masing stasiun.
n
: jumlah stasiun penakar hujan.
2.

Cara Poligon Thiessen.


Jika titik pengamatan di dalam daearah itu tidak tersebar merata, maka cara
perhitungan curah hujan rata-rata dilakukan dengan memperhitungkan daerah pengaruh
tiap titik pengamatan. Cara ini dilakukan dengan memasukkan faktor pengaruh daerah
yang diwakili oleh stasiun penakar hujan yang disebut faktor pembobot atau koefisien
Thiessen.
Besarnya faktor pembobot (weighing factor) tergantung dari luas daerah pengaruh
yang diwakili oleh stasiun yang dibatasi oleh poligon-poligon yang memotong tegak
lurus ada tengah-tengah garis penghubung dua stasiun (tiap stasiun terletak pada poligon
yang tertutup).
A
A
A
A
R 1 R1 2 R2 3 R3 n Rn
A
A
A
A
n
1
R A1 R1
A 11
Dimana :
A1, A2, A3, ... An
: luas daerah yang mewakili stasiun pengamat.
R1, R2, R3, ... Rn
: curah hujan di tiap titik pengamatan.
R
: curah hujan rata-rata daerah.
Cara membuat poligon-poligon adalah sebagai berikut :
a. Hubungkan masing-masing stasiun dengan garis lurus sehingga membentuk
poligon segitiga.
b. Buat sumbu-sumbu pada poligon segitiga tersebut sehingga titik potong sumbu
akan membentuk poligon baru.
c. Poligon baru ini merupakan batas daerah pengaruh masing-msing stasiun penakar
hujan.

Gambar 2.10 Poligon Thiessen

Cara Thiessen ini lebih teliti dibandingkan cara aritmatik mean (rata-rata).
Namun, penentuan stasiun serta pemilihan ketinggian mempengaruhi ketelitian hasil.
3. Garis Isohyet
Isohyet adalah garis yang menunjukkan tempat kedudukan dari harga tinggi hujan
yang sama. Isohyet diperoleh dari interpolasi harga tinggi hujan lokal. Misalnya besarnya
isohyet sudah diperkirakan, maka besarnya hujan antara dua isohyet adalah:
1
R1,2 I1 I2
2
Pola isohyet berubah dengan harga-harga point rainfall yang tidak tetap, walaupun
letak stasiun penakar hujannya tetap. Untuk menghitung luas antara dua isohyet (A1,2)
dan luas daerah aliran (A) digunakan planimeter. Rumus hujan rata-rata daerah aliran
dapat dihitung sebagai berikut:
An , n 1 R n , n 1
A R
A R
A R
R 12 12 23 23 34 34
A
A
A
A
Dimana :
Ai, i+1
: luas daerah antara isohyet I1 dan Ii+1.
Ri, i+1
: tinggi hujan rata rata antara isohyet I1 dan I i+1.
2.9.7 Analisis Hujan Harian Maksimum
Untuk analisa curah hujan Harian Maksimum (HHM) dapat digunakan beberapa
metode sebagai berikut :
1.
Metode Gumbel.
Metode ini menyatakan bahwa distribusi dari harga ekstrim (maksimum atau
minimum) tahun yang dipilih dari n sampel akan mendekati suatu bentuk batas bila
ukuran sampel meningkat. Rumus yang digunakan adalah:

RT R
R
R
n & Yn
Yt

R
Yt Yn
n

: tinggi hujan rata-rata.


: standar deviasi.
: didapat dari Tabel reduced mean and standar deviation di
lampiran.
: didapat dari Tabel 6 Reduced Variate pada PUH t tahun.
Tabel 2.1 Reduced Variate (Yt) pada PUH t Tahun
PUH = t Tahun
Reduced Variate (Yt)
2

0,3665

1,4999

10

2,2502

25

3,1985

50

3,9019

PUH = t Tahun

Reduced Variate (Yt)

100

4,6001
Sumber: J, Nemec

Rentang keyakinan (Convidence Interval) untuk harga-harga RT.


R k t a S e
Dimana :
Rk
: rentang keyakinan (convidence interval, mm/jam).
T(a)
Se
: probability error (deviasi).
Untuk = 90 % t (a) = 1,64
= 80 % t (a) = 1,282
= 68 % t (a) = 1,000
b R
Se
N

b 1 1 1,3k 1,1 k 2

Yt Yn

Dimana :
N : jumlah data
2.

Metode Log Person Type III


Metode Log Person didasarkan pada perubahan data yang ada dalam bentuk
logaritmik. Langkah-langkah perhitungannya:
a. Menyusun data-data curah hujan (R) mulai dari harga yang terbesar sampai
dengan harga terkecil
b. Mengubah sejumlah N data curah hujan ke dalam bentuk logaritma Xi = log
Ri
c. Menghitung besarnya harga rata rata besaran tersebut, dengan persamaan:
xi
x
n
d. Menghitung besarnya harga deviasi rata ratadari besaran logaritma tersebut,
dengan persamaan sebagai berikut :

x x
i

N 1
e. Menghitung harga skew coefficient (koefisien asimetri) dari besaran logaritma di
atas:

Cs

N xi x 2
N 1N 2 x 2

Kadang-kadang harga Cs disesuaikan dengan besarnya N, sehingga persamaannya


menjadi:
CSH = Cs . (1 + 8,5 / N)
f. Berdasarkan harga skew cofficient (Cs) yang diperoleh dan harga periode ulang
(T) yang ditentukan, dapat diketahui nilai Kx dengan menggunakan tabel.
g. Menghitung besarnya harga logaritma dari masing masing data curah hujan
untuk suatu periode ulang T tertentu.

Xt X Kx x
h. Jadi perkiraan harga HHM untuk periode ulang T (tahun) adalah:
RT anti log XT atau RT 10XT

3.
a.
b.

c.
d.
e.
f.

Metode Iwai Kadoya


Disebut juga cara distribusi terbatas sepihak (one site finite distribtion).
Prinsipnya mengubah variabel (x) dari kurva kemungkinan kerapatan dari curah
hujan harian maksimum ke log X atau mengubah kurva distribusi asimetris
menjadi kurva distribusi normal.
Kemungkinan terlampauinya W (x) dengan asumsi data hidrologi distribusi log
normal.
Harga konstanta b > 0, sebagai harga minimum variabel kemungkian (x).
Agar kurva kerapatan tidak < harga minimum (-b), maka setiap sukunya diambil
x + b, dimana harga log (a + b) diperkirakan mempunyai distribusi normal.
Perhitungan cara Iwai Kadoya adalah variabel normal, dihitung dengan
persamaan:
xb
c log
x0 b
Dimana :
logxo b xo
adalah rata-rata dari:
logxi b
Langkah-langkah perhitungannya:
1)
Memperkirakan harga Xo:
1 n
log xo log xi
n i 1
2)
Memperkirakan harga b:
1 n
b bi
m i 1
Dimana : m n / 10
b

Xs Xt X0 2
2 X 0 X s X T

Keterangan :
Xs
: harga pengamatan dengan nomor urutan m dari yang terbesar
Xt
: harga pengamatan dengan nomor urutan m dari yang terkecil
n
: banyaknya data
n
: angka bulat
m
10
W (x) : kemungkinan terlampaui
: harga kemungkinan lebih sembarang
3)
Memperkirakan harga Xo:

1 n
xo log xo b log xi b
n i 1
4)

Memperkirakan harga C:
n
x b
2
log i
n 1 i 1 xo b

2n 2
2 2

x xo
n 1

1 n
Dimana : x 2 log xi b 2
n i 1
2

dengan menggunakan rumus x 2 dan xo maka 1/c dihitung dengan rumus:

1 2n 2
2

x xo
c n1
Harga yang sesuai dengan kemungkinan lebih sembarang (arbitrary excess
probability) didapat dari tabel dan besarnya curah hujan yang mungkin dihitung dengan
rumus berikut:
1
log x b log xo b
c
2.9.8 Analisis Distribusi Hujan
a. Metode Van Breen
Metode ini beranggapan bahwa besarnya atau lama durasi hujan harian adalah
terpusat selama 4 jam dengan hujan efektif sebesar 90 % dari hujan selama 24
jam.
Hubungan dengan rumus :

90% R24
4
I
= Intensitas hujan (mm/jam).
R24 = curah hujan harian maksimum (mm/24 jam).
Intensitas hujan yang didapat dari rumus diatas, kemudian diplotkan pada kurva
durasi intensitas hujan, dimana Van Breen mengambil bentuk kurva kota Jakarta
I

sebagai kurva basis, yang dapat dilihat pada Tabel 3.2. Kurva basis tersebut
memberikan kecenderungan bentuk kurva untuk daerah lain di Indonesia pada
umumnya.
Tabel 2.2 Intensitas Hujan Kota Jakarta
Intensitas Hujan (mm/jam)
Durasi (menit) Untuk Periode Ulang (tahun)
2
5
10
25
50
5
126 148 155 180 191
10
114 126 138 156 168
20
102 114 123 135 144
40
76
87
96 105 114
60
61
73
81
91 100
120
36
45
51
58
63
240
21
27
30
35
40
Sumber : BUDP
b)

Metode Bell
Untuk keperluan analisa frekuaensi hujan, haruslah tersedia data hujan selama
selang waktu yang cukup panjang. Bila data ini tak tersedia, bila diketahui
besarnya curah hujan 1 jam (60 menit) dengan periode ulang 10 tahun sebagai
dasar, maka suatu rumus empiris yang diberikan oleh Bell dapat dipakai untuk
menentukan curah hujan dari 5120 menit dengan periode ulang 2-100 tahun.
Hubungan ini diturunkan dari analisa curah hujan pada 157 stasiun dan tes statistik
yang dapat dipergunakan di seluruh dunia.
Rumusnya:

60menit
RTt 0,21 LnT 0,52 0,54 t 0 ,25 0,50 R10
tahun

Dimana :
R
: curah hujan (mm).
T
: Periode Ulang Hujan.
t
: durasi hujan (menit).
Perhitungan intensitas hujan menurut Bell, menggunakan persamaan sebagai
berikut:
I tt

c)

60 t mm

RT
t
jam

Metode Hasper Weduwen


Penurunan rumus diperoleh berdasarkan kecenderungan curah hujan harian
dikelompokkan atas dasar anggapan bahwa hujan mempunyai distribusi simetrsi
dengan durasi hujan (t) lebih kecil dari 1 jam dan durasi hujan antara 1 jam sampai
24 jam.
Perumusan dari metode Hasper-Weduwen adalah:
i.
1 t 24 , maka:

11.300 t Xt

t 3,12 100
ii.
0 t 1 , maka:
11.300 t Ri

t 3,12 100

1218 t 54

Ri XT
XT 1 t 1272 t
Dimana :
t
: durasi hujan (jam)
R, Ri : curah hujan Hasper - Weduwen (mm)
XT
: curah hujan harian maksimum yang terpilih (mm)
Untuk menentukan intensitas hujan menurut Hasper-Weduwen, digunakan
rumus:
R
I
t

2.9.9 Metode Perhitungan Intensitas Hujan


Langkah pertama dalam perencanaan bangunan air (saluran) adalah penentuan
besanya debit yang harus diperhitungkan. Besarnya debit (banjir) perencanaan ditentukan
oleh intensitas hujan yang terjadi.
Umumnya makin besar t, intensitas hujan makin kecil. Jika tidak ada waktu untuk
mengamati besarnya intensitas hujan atau alat tidak ada dapatlah ditempuh dengan caracara empiris:
1. Metode Talbot
a
I
tb
Dimana :

I t I 2 I 2 t I
a
N I 2 I 2
I I t N I 2 t
b
N I 2 I 2

2. Metode Ishiguro
a
I
tb
Dimana :

t I2 I2 t I
N I 2 I 2

I I t N I
b
N I I
2

Dimana:
I
: intensitas hujan (mm/jam).
t
: durasi hujan (menit).
a, b, n : konstanta.
N
: banyaknya data.
3. Metode Sherman
a
I n
t
Dimana :

log I log t log t. log I log t


N log t log t
log I log t n log t. log I
n
N log t log t
2

log a

Untuk pemilihan rumus intensitas hujan dari ketiga rumus diatas, maka harus
dicari selisih terkecil antara I asal dan I teoritis berdasarkan rumus diatas. Persamaan
intensitas dengan selisih terkecil itulah yang dipakai untuk perhitungan debit.
2.10

Dasar-dasar Perencanaan Drainase


Di dalam perencanaan sistem penyaluran air hujan ini, digunakan beberapa
parameter yang merupakan dasar perencanaan sistem. Dalam menentukan arah jalur
saluran air hujan yang direncanakan terdapat batasan-batasan sebagai berikut :
Arah aliran dalam saluran mengikuti garis ketinggian yang ada sehingga
diharapkan pengaliran secara gravitasi dan menghindari pemompaan.
Pemanfaatan sungai atau anak sungai sebagai badan air penerima dari outfall yang
direncanakan.
Menghindari banyaknya perlintasan saluran pada jalan, sehingga mengurangi
penggunaan gotong royong.
Faktor pembatas juga berhubungan dengan kondisi topografi setempat. Dari
kondisi ini dikembangkan suatu sistem dengan berbagai alternatif dengan
memperhitungkan segi teknis dan ekonomisnya. Pengembangan suatu sistem mempunyai
konsekuensi logis terhdap dampak perencanaan. Tetapi dengan sedikit mungkin
menghindari akibat sosial yang mungkin timbul, maka diharapkan dapat dicapai
perencanaan sistem seperti yang diinginkan.
2.10.1 Perhitungan Limpasan Air Hujan
Untuk perhitungan debit limpasan, digunakan metode rasional. Metode ini hanya
berlaku untuk menghitung limpasan hujan untuk daerah aliran sampai dengan 80 ha,
sedangkan untuk daerah yang lebih luas (> 80 ha) digunakan metode rasional yang
dimodifikasi.

Metode Rasional :

1
C.I . A
3,6

Metode Rasional yang dimodifikasi :


1
Q
Cs.I . A.C
3,6
Dimana :
Q : debit aliran (m3/det).
C : koefisien pengaliran, nilainya berbeda-beda sesuai dengan tata guna
lahan dan faktor-faktor yang berkaitan dengan aliran permukaan di dalam
sungai terutama kelembaban tanah. Harga C biasanya diambil untuk tanah
jenuh pada waktu permulaan hujan.
Cs
: koefisien penampungan atau storage coefficient.
2t
C s c 2t t
c
d
Q

I
: rata-rata intensitas hujan (mm/jam).
A
: luas daerah tangkap (km2).
Waktu yang diperlukan air hujan dalam saluran untuk mengalir sampai ke titik
pengamatan (td) ditentukan oleh karakteristik hidrolis di dalam saluran dimana rumus
pendekatannya adalah:
L
td
V
Dimana :
L
: panjang saluran (m).
V
: kecepatan aliran (m/det).
Untuk mencari nilai V dapat digunakan rumus kecepatan Manning sebagai
berikut:
2

1
V R3 S2
n
Dimana :
n
: harga kekasaran saluran
R
: radius hidrolis
S
: kemiringan medan atau slope (m/m).
Rumus Manning tersebut dianjurkan untuk dipakai dalam saluran buatan atau
dengan pasangan (lining). Untuk saluran alami, dianjurkan untuk memakai rumus
kecepatan de Chezy.
Koefisien pengaliran (c) merupakan jumlah hujan yang jatuh dengan mengalir
sebagai limpasan dari hujan, dalam permukaan tanah tertentu. Faktor-faktor yang
mempengaruhi harga koefisien pengaliran ini adalah adanya infiltrasi dan tampungan
hujan pada tanah, sehingga mempengaruhi jumlah air hujan yang mengalir.
Penerapan koefisien pengaliran (c) dalam pemakaian metode rasional, disesuaikan
dengan tata guna lahan dari rencana pengembangan tananh atau daerah setempat.Air

hujan yang jatuh di suatu tempat pada daerah aliran sungai memerlukan waktu untuk
mengalir sampai pada titik pengamatan.
Lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik pengamatan oleh air hujan
yang jatuh di tempat terjauh dari titik pengamatan disebut waktu konsentrasi atau time of
concentration (tc). Waktu konsentrasi merupakan penjumlahan antara waktu yang
dibutuhkan oleh air hujan yang jatuh di daerah pematusan untuk masuk kedalam saluran
(to) dengan waktu yang dibutuhkan oleh air yang masuk ke dalam saluran untuk mengalir
sampai ke titik pengamatan (td) sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut :
tc to t d
Waktu yang dibutuhkan oleh air hujan yang jatuh di daerah pematusan untuk
masuk ke dalam saluran (to), dipengaruhi oleh :
Kekasaran permukaan tanah yang dilewati dapat menghambat pengaliran
Kemiringan tanah mempengaruhi kecepatan pengaliran di atas permukan
Adanya lekukan pada tanah menghambat dan mengurangi jumlah air yang
mengalir
Ukuran luas daerah aliran dan karak dari street inlet juga berpengaruh terhadap
lamanya waktu pengaliran tersebut.
Dalam mencari besarnya to pada perhitungan kapasitas saluran dapat digunakan
beberapa rumus di bawah ini :
a. Berlaku untuk daerah pengaliran dengan t
to

3,26 Li c Lo
So

1
2

Dimana :
to
: waktu limpasan (menit).
c
: angka pengaliran.
Lo
: panjag limpasan (m).
So
: kemiringan medan / slope (m/m).
b. Berlaku untuk daerah dengan panjang tali air sampai dengan 1000 m

108n Lo

to

So

Dimana
to
: waktu limpasan (menit).
n
: harga kekasaran permukaan tanah.
Lo
: panjang limpasan (m).
So
: kemiringan medan atau slope (m/m).
c. Berlaku untuk umum, baik untuk limpasan maupun waktu konsentrasi
92 ,7 L
tc 0 ,1 0 , 2
A Sr
Dimana :
tc
: waktu konsentrasi (menit).

L
A
Sr
d.

: jumlah panjang (ekivalen) aliran (Km).


: luas daerah pengaliran kumulaitf (Ha).
: kemiringan atau slope rata rata (m/m).
Waktu untuk mengalir dalam saluran (td)

L
(detik)
atau
V
L 1
(menit)
td
V 60
Dimana :
L
: panjang saluran (m).
V
: kecepatan aliran (m/detik).
td

2.10.2 Perhitungan Dimensi Saluran


Rumus yang digunakan untuk perhitungan dimensi saluran adalah rumus
Manning, yaitu:
Q VA

F ch
A
bh
R
P b 2h
V

S
n

Q 1n A R

Dimana :

Q
V
n
A
R
S
F
c

: debit air yang disalurkan (m3/det).


: kecepatan rata-rata dalam saluran (m/det).
: koefisien kekasaran Manning.
: luas penampang basah (m2).
: jari-jari hidrolis (m).
: kemiringan dasar saluran (m/m).
: freeboard (m).
: koefisien, dengan syarat:

Q 0,6 m3/dt

c = 0,14
0,6 m3/dt Q 8 m3/dt

c = 0,14 0,2
Q 8m3/dt

c = 0,23
Sesuai dengan sifat bahan saluran yang dipakai untuk kota, maka beberapa harga
n tercantum seperti dalam Tabel berikut ini:
Tabel 2.3 Koefisien Kekasaran Manning
Jenis Saluran
n
Saluran galian

Saluran tanah

0,022

Saluran pada batuan, digali merata

0,035

Jenis Saluran

Saluran dengan lapisan


perkerasan

Lapisan beton seluruhnya

0,015

Lapisan beton pada kedua sisi saluran

0,020

Lapisan blok beton pracetak

0,017

Pasangan batu, diplester

0,020

Pasangan batu, diplester pada kedua sisi

0,022

saluran

Saluran alam

Pasangan batu, disiar

0,025

Pasangan batu kosong

0,030

Berumput

0,027

Semak-semak

0,050

Tidak berarutan, banyak semak dan


pohon, batang
Pohon banyak jatuh ke saluran

0,150

Sumber: Subarkah
2.10.3 Perhitungan Kecepatan Aliran
Penentuan kecepatan aliran air didalam saluran yang direncanakan didasarkan
pada kecepatan minimum yang memungkinkan saluran dapat self-cleansing dan
kecepatan maksimum yang diperbolehkan agar konstruksi saluran tetap aman. Tiap
kecepatan aliran didalam saluran diatur tergantung dengan bentuk dan tipe saluran yang
direncanakan. Berikut adalah batasan aliran dari tiap tipe dapat dilihat dalam Tabel 2.5.:
Tabel 2.4 Variasi Kecepatan dalam Saluran
Variasi
Tipe saluran

kecepatan
(m/det)

Bentuk bulat, buis beton

0,75 3,0

Bentuk persegi, pasangan batu kali

1,0 3,0

Bentuk trapesiodal

0,6 1,5

2.11

Bangunan Pelengkap
Bangunan pelengkap dimaksudkan sebagai sarana pelengkap dan pendukung
sistem penyaluran air hujan yang tujuan utamanya adalah melancarkan fungsi pengaliran
sesuai yang apa yang diharapkan dan diperhitungkan.
2.11.1 Gorong-gorong

Gorong-gorong merupakan bangunan perlintasan yang dibuat karena adanya


saluran yang melintasi jalan. Perencanaannya tetap didasarkan pada debit yang mengalir
pada gorong-gorong. Selain itu, faktor endapan lumpur yang mungkin timbul saat
pengaliran harus dihindari. Caranya adalah mengatur kecepatan pengaliran lebih atau
sama dengan kecepatan self-cleansing yaitu sebesar 1.5 2.0 m/dt. Untuk sistem aliran
penuh, dibutuhkan headloss yang besar sehingga disarankan untuk menggunakan prinsip
pengaliran terbuka. Gorong-gorong mempunyai dua jenis, yaitu:
Gorong-gorong jalan raya
Yaitu gorong-gorong yang melintas jalan raya. Dalam hal ini perhitungan harus
secermat mungkin agar mampu menahan rembesan air dan beban kendaraan yang
melewatinya.
Gorong-gorong silang
Gorong-gorong ini dibangun untuk mencegah ataupun menahan rembesan air
yang mengalir di daerah sekitarnya.
Perhitungan dimensi gorong-gorong dapat menggunakan rumus-rumus sebagai
berikut:
Panjang gorong-gorong = lebar jalan.
Kontrol bilangan Froud (Fr) < 0,5 untuk menghindari gejolak air (aliran dalam
kondisi laminer.
v
fr
1
g y 2
Dimana:
fr
= bilangan Froud.
v
= kecepatan dalam gorong-gorong (m/dt).
g
= percepatan gravitasi (m/dt2).
y
= kedalaman (m).
Kehilangan tinggi energi dalam gorong-gorong dapat dihitung dengan rumus:
Hfmasuk f1

Hf gesekan

2g

v2 L
C 2R

Hfkeluar f 2

2g

HfTotal Hfmasuk Hf gesekan Hfkeluar


Dimana:

Hf
f1
vg
v
g
L

= kehilangan tinggi energi (m).


= koefisien kehilangan energi akibat masuk = 0,4.
= kecepatan air dalam gorong-gorong (m/dt).
= kecepatan di dalam saluran (m/dt).
= percepatan gravitasi (m/dt2).
= panjang gorong-gorong (m).

C
f2
R
P
A

= koefisien Chezy.
= koefisien kehilangan energi akibat keluar = 0,1.
= jari-jari hidrolis (m) = P/A.
= keliling basah gorong-gorong (m).
= Luas penampang gorong-gorong (m2).

2.11.2 Sambungan Persil


Merupakan sambungan saluran air hujan dari rumah-rumah ke saluran air hujan
yang terletak di tepitepi jalan. Sambungan ini berupa saluran terbuka atau tertutup dan
dibuat terpisah dari saluran air buangan.
2.11.3 Street Inlet
Street inlet ini adalah lubang yang terletak di sisi jalan di bawah trotoar yang
berfungsi menyalurkan limpasan air hujan dalam jalan untuk dialirkan atau dilewatkan
menuju saluran. Perletakannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan:
Diletakkan pada tempat yang tidak mengganggu para pelintas jalan atau pejalan
kaki.
Ditempatkan pada daerah yang rendah dimana limpasan air hujan menuju ke arah
tersebut.
Air harus dapat secepat mungkin masuk ke dalam saluran air hujan.
Jumlah street inlet harus cukup untuk dapat menangkap limpasan air hujan pada
jalan yang bersangkutan, dengan spacing memakai rumus:
280
D
S
W
Dimana:
D
= distance atau jarak antar street inlet (m).
S
= kemiringan (%), D 50 m.
W
= lebar jalan (m).
2.11.4 Manhole
Manhole merupakan bangunan yang permukaan sama dengan permukaan
banguna yang dilengkapi.Manhole berukuran cukup besar agar dapat dimasuki orang
untuk melakukan perawatan. Fungsinya antara lain:

Sebagai bak kontrol, untuk pemeriksaan dan pemeliharaan saluran

Untuk memperbaiki saluran bila terjadi kerusakan

Sebagai ventilasi untuk keluar masuknya udara

Sebagai terjunan saluran tertutup


Penempatan manhole diutamakan pada titik dimana terletak street inlet, belokan,
pertemuan saluran dan di awal dan akhir saluran pada gorong-gorong.
2.11.5 Talang

Talang sebenarnya tidak beda jauh dengan jembatan. Bila jembatan menyalurkan
lalu lintas, maka talang berfungsi untuk menyalurkan air dan diletakkan diatas pangkalpangkal. Talang biasanya terbuat dari kayu, pasangan batu, baja atau beton bertulang.
Bangunan talang merupakan salah satu bangunan persilangan yang dibangun
untuk mengalirkan debit yang dibawa oleh saluran yang jalurnya terpotong oleh lembah
dengan bentang panjang atau terpotong oleh sungai. Bangunan talang berupa saluran
terbuka yang dipasang membentang dari tebing sisi hulu ke tebing sisi hilir. untuk
menyeberangkan debit. Aliran di dalam talang harus dalam kondisi yang stabil (Fr < 0.7)
atau dalam kondisi sub kritis.
Talang kayu biasanya hanya digunakan untuk saluran-saluran yang tidak penting
atau yang sifatnya sementara. Talang dari pasangan batu dibuat menjadi satu dengan
tembok-tembok pangkalnya.Talang dari beton bertulang dibuat cukup untuk memikul
beban karena berat air dan berat talang itu sendiri. Sedangkan talang baja dibuat dari besi
plat yang diletakkan pada suatu kerangka yang bekerja sebagai pemikulnya, dimana pilarpilarnya juga terbuat dari baja.
Kecepatan air dalam talang dari pasangan batu atau beton biasanya diambil tidak
lebih dari 1,5 2,5 m/dt dan untuk talang baja sampai 3,5 m/dt.
2.11.6 Shypon
Syphon merupakan bangunan pelengkap pada suatu sistem drainase yang
digunakan jika selisih antara permukaan kedua trace yang bersilangan kecil dan tidak
memungkinkan untuk membuat talang atau gorong-gorong.
Syphon adalah bangunan bertekanan dimana air yang mengalir didalamnya harus
memiliki tekanan yang cukup besar dan kecepatan yang tidak kecil sehiungga adanya
kehilangan tekanan dalam syphon tidak menghambat aliran air.
Bangunan siphon merupakan salah satu bangunan persilangan yang dibangun
untuk mengalirkan debit yang dibawa oleh saluran yang jalurnya terpotong oleh lembah
dengan bentang panjang atau terpotong oleh sungai. Bangunan siphon berupa saluran
tertutup yang dipasang mengikuti bentuk potongan melintang sungai atau lembah untuk
menyeberangkan debit dari sisi hulu ke sisi hilir. Bangunan siphon (berupa saluran
tertutup berpenampang lingkaran atau segi empat) dipasang dibawah dasar sungai, atau
bisa juga dipasang di atas permukaan tanah jika melintasi lembah (cekungan).
Konstruksi siphon jika penampang melintang berupa segi empat biasanya dibuat
dari beton bertulang (reinforced concrete), jika penampang melintang berupa lingkaran
biasanya dibuat dari baja. Untuk mencegah adanya sedimentasi pada saat debit di dalam
siphon mengecil, biasanya digunakan tipe pipa rangkap. Pada saat debit di dalam siphon
mengecil, jalur satu ditutup, jalur lainnya dibuka sehingga kecepatan aliran didalam
siphon tetap bisa mengangkut sediment ke hilirnya. Konstruksi siphon
harus dipilih pada lokasi yang panjang bentang sungainya minimum, agar biaya
konstruksinya hemat, serta kehilangan energinya kecil. Didalam perencanaan siphon ada
beberapa hal yang harus dipertimbangkan, antara lain : (untuk kasus siphon melintasi
dasar sungai)

1.

2.

3.

Siphon harus mampu menahan gaya uplift pada saat kondisi airnya kosong.
Penahan yang arahnya vertikal ke bawah yaitu gaya berat akibat berat sendiri
konstruksi siphon dan gaya berat akibat berat lapisan penutup siphon.
Siphon harus dibuat pada kedalaman yang cukup di bawah dasar sungai.
Pada kondisi ini konstruksi siphon harus aman terhadap bahaya gerusan tanah
dasar sungai (degradasi) maupun bahaya gerusan lokal akibat dasar sungai yang
terganggu. Jika konstruksi siphon berada terlalu dekat dengan permukaan dasar
sungai, maka tanah penutup di atas siphon kemungkinan akan terkikis. Untuk itu
konstruksi siphon harus dibuat pada kedalaman yang cukup terhadap dasar sungai.
Pada bagian dasar palung sungai, konstruksi siphon sebaiknya dalam posisi
horisontal dan panjangnya ke arah tebing sungai harus cukup, karena tebing
sungai keungkinan bisa juga terjadi erosi. , Sedangkan pada bagian lereng sungai
bisa dibuat miring. Lapisan penutup dasar sungai (di atas konstruksi siphon)
sebaiknya berupa pasangan gabion (bronjong).
Untuk mengurangi kehilangan energi maka lokasi siphon diusahakan pada
bentang sungai terpendek, serta memperkecil jumlah belokan pada konstruksi
siphon.
Kondisi yang paling berbahaya pada konstruksi siphon adalah pada saat siphon
dalam keadaan kosong. Pada saat kondisi ini gaya uplift yaitu gaya yang
disebabkan oleh tekanan hidrostatis dari bawah konstruksi siphon, menekan
konstruksi siphon ke arah atas. Gaya ini cenderung mengangkat konstruksi
siphon. Sedangkan untuk mengimbanginya diperlukan gaya.

2.11.7 Terjunan
Bangunan terjun dibangun untuk mengatasi kemiringan medan yang terlalu
curam, sementara kemiringan yang dibutuhkan oleh saluran tergolong landai. Bangunan
terjun biasanya dibangun pada daerah yang kondisi topografinya memiliki kelerengan
yang curam. Ada 4 bagian dari bangunan terjun yaitu:
Bagian pengontrol, berada di hulu sebelum terjunan, berfungsi untuk mencegah
penurunan muka air yang berlebihan.
Bagian pembawa, berfungsi sebagai penghubung antara elevasi bagian atas
dengan bagian bawah.
Peredam energi, berfungsi untuk mengurangi energi yang dikandung oleh aliran
sesudah mengalami terjunan sehingga tidak berpotensi merusak konstruksi
bangunan terjun.
Perlindungan dasar bagian hilir, berfungsi untuk melindungi dasar dan dinding
saluran dari gerusan air sesudah mengalami terjunan.
1. Bagian Pengontrol
Bagian ini terletak sebelah hulu (sebelum terjunan), dengan adanya bagian
pengontrol ini, maka penurunan muka air yang berlebihan bisa dicegah. Ada 2 alternatif
mekanisme untuk mengendalikan muka air di bagian hulu, yaitu :

Memperkecil luas penampang basah.


Memasang ambang (sill) dengan permukaan hulu miring.
Untuk saluran yang kandungan sedimennya tinggi disarankan tidak memasang
ambang (sill), karena akan mempercepat sedimentasi di saluran bagian hulu.
2. Bagian Pembawa
Bagian ini berupa terjunan dengan bentuk terjunan tegak (vertikal) atau terjunan
miring. Jika beda tinggi (tinggi terjunan) lebih dari 1.5 m, maka bagian pembawa berupa
terjunan miring, jika beda tinggi (tinggi terjunan) kurang dari 1.5 m maka dipakai
bangunan terjun tegak (vertikal).
3. Peredam Energi
Peredam energi berfungsi untuk mengurangi potensi kerusakan akibat energi yang
terkandung dalam aliran, sehingga tidak merusak konstruksi bangunan terjun. Tipe
peredam energi yang akan dipilih tergantung dari bilangan Froude yang terjadi di dalam
aliran. Bangunan terjun dibangun untuk mengatasi kemiringan medan yang terlalu curam,
sementara kemiringan yang dibutuhkan oleh saluran tergolong landai. Bangunan terjun
biasanya dibangun pada daerah yang kondisi topografinya memiliki kelerengan yang
curam.
2.12

Operasi dan Pemeliharaan


Tidak ada penanganan yang istimewa terhadap bangunan-bangunan drainase ini,
beberapa langkah operasi dan pemeliharaannya adalah:
Meletakkan bangunan drainase sesuai dengan rencana tata lahan kota, jadi selain
tidak merusak keindahan kota, juga tidak mengganggu masyarakat.
Membersihkan bangunan pelengkap drainase secara rutin, dan lain-lain.