Anda di halaman 1dari 26

Teori Agensi, Teori Signal Dan

Keputusan Pemilihan Metode Akuntansi


Review Jurnal Richard D. Morris (1987)
dan Jurnal-jurnal Lainnya
Oleh :
Amanah Hijriah
156020301011009
Rahma Nabila
156020301011006
Ardani Yhuwantoko
146020310011017

Jurnal Richard D. Morris (1987) :


Abstrak

Signallling dan agensi teori muncul dalam


literatur akuntansi sebagai teori yang saling
melengkapi. Jurnal ini menunjukkan bahwa
keduanya merupakan teori yang konsisten.
Asimetri informasi dalam teori signal
berimplikasi pada monitoring biaya dalam
agensi teori. Kualitas dalam teori signal
bisa didefinisikan dalam salah satu variabel
agensi teori; dan biaya signal terkait erat
dengan agensi teori.
Contohnya: kedua teori ini berkaitan
dengan melobi, pemilihan metode
akuntansi dan pemilihan auditor.

PENDAHULUAN

Agensi teori dan signalling teori merupakan teori yang saling melengkapi.
Agensi teori, yang menjelaskan permasalahan perusahaan yang disebabkan oleh pemisahan antara
pemilik (principle) dan manajemen (agen) diterapkan untuk menjelaskan teori dalam permasalahan
berikut:

pemilihan metode akuntansi,

Agensi Teori
(Jensen & Meckling:
1976).

pengungkapan sukarela,
penunjukkan auditor secara
sukarela
pengaruh perusahaan dalam
pembuatan standar akuntansi

teori signal yang sebenarnya dikembangkan untuk menjelaskan


permasalahan asimetri informasi pada pasar tenaga kerja
(Holthausen & Keftwich: 1983), telah diterapkan juga untuk :
kebijakan perusahaan dalam pembagian dividen
(Spence: 1974),
keputusan struktur modal (Bhattacharya:
1980),
pengungkapan secara sukarela (Ross:
1977),
retensi manajerial kepemilikan di saham baru
(Ross: 1979),
nilai wajar akuntansi (Leland & Pyle :1977)
dan
pemilihan auditor secara sukarela (Forker:
1984)

Artikel ini membahas logika keterkaitan antara signal dan


agensi teori. Pada kesimpulannya jurnal ini menunjukkan
bahwa keduanya sejalan dan konsisten, apabila agensi
teori terbukti benar, maka signalling teori juga benar
adanya.

PENYAJIAN
2.1 Teori Agensi
Dimana ada dua atau lebih orang (pihak), salah satu pihak
disebut agent (manajer) dan pihak lainnya disebut
principal (pemilik).
Principal mendelegasikan pertanggungjawaban atas
decision making kepada agent, hal ini dapat pula
dikatakan bahwa principal memberikan suatu amanah
kepada agent untuk melaksanakan tugas tertentu sesuai
dengan kontrak yang disepakati.
Wewenang dan tanggungjawab agent maupun principal
diatur dalam kontral kerja atas persetujuan bersama.
Scoot (2012) menyatakan untuk mengklasifikasikan agent
dan principal dengan membaginya kedalam dua jenis
yaitu dengan permainan non kooperatif dan kooperatif.

Untuk memperkecil asimetris informasi antara principal dan agen, maka pengelolaan
perusahaan harus diawasi dan dikendalikan untuk memastikan bahwa pengelolaan dilakukan
dengan penuh kepatuhan kepada berbagai peraturan dan ketentuan yang berlaku.
Upaya ini menimbulkan apa yang disebut sebagai agency costs, yang menurut teori ini harus
dikeluarkan sedemikian rupa sehingga biaya untuk mengurangi kerugian yang timbul karena
ketidakpatuhan setara dengan peningkatan biaya enforcement-nya.

Agency costs ini mencakup biaya untuk pengawasan oleh pemegang saham;
biaya yang dikeluarkan oleh manajemen untuk menghasilkan laporan yang
transparan, termasuk biaya audit yang independen dan pengendalian internal;
serta biaya yang disebabkan karena menurunnya nilai kepemilikan pemegang
saham sebagai bentuk bonding expenditures yang diberikan kepada
manajemen
Teori keagenan memprediksi bahwa perusahaan dengan rasio leverage yang lebih
tinggi akan mengungkapkan lebih banyak informasi, karena biaya keagenan
perusahaan dengan struktur modal seperti itu lebih tinggi (Jensen dan Meckling,
1976:354).

Jensen dan
Meckling (1976)
mengidentifikasi
kos keagenan
menjadi tiga
kelompok,

the monitoring expenditure by the


principal adalah kos pengawasan yang
harus dikeluarkan oleh pemilik,
the bonding cost adalah kos yang harus
dikeluarkan akibat pemonitoran yang
harus dikeluarkan principal kepada agent,
the residual loss adalah pengorbanan
akibat berkurangnya kemakmuran
principal karena perbedaan
keputusanantara principal dan agent.

2.2 Hubungan antara Teori Agensi


dan Manajemen Laba
Jensen dan Meckling (1976) mendefinisikan hubungan keagenan sebagai
sebuah kontrak antara satu orang atau lebih pemilik (prinsipal) yang menyewa
orang lain (agent) untuk melakukan beberapa jasa atas nama pemilik yang
meliputi pendelegasian wewenang pengambilan keputusan kepada agen.
Dalam hubungan antara agen dan prinsipal, akan timbul masalah jika terdapat
informasi yang asimetri (information asymetry). Scott (1997) menyatakan
apabila beberapa pihak yang terkait dalam transaksi bisnis lebih memiliki
informasi daripada pihak lainnya, maka kondisi tersebut dikatakan sebagai
asimetri informasi.
Salah satu disfunctional behaviour yang dilakukan agen adalah
pemanipulasian data dalam laporan keuangan agar sesuai dengan harapan
principal meskipun laporan tersebut tidak menggambarkan kondisi perusahaan
yang sebenarnya.

Hubungan antara Teori Keagenan dan Manajemen


Laba
Agensi Teori
Konflik
Kepentingan
Asimetri
Informasi
Manajemen Laba

Pemanipulasian data
dalam laporan keuangan
tersebut dapat berupa
praktek manajemen laba
(earning management).
Manajemen laba
merupakan proses yang
dilakukan manajer dalam
batasan general accepted
accounting principles,
yang sengaja mengarah
pada suatu tingkatan
yang diinginkan atas laba
yang dilaporkan (Assih,
2000).

Beberapa cara manajemen laba:


Taking a bath
Manajemen melakukan metode taking a bath dengan mengakui biayabiaya dan kerugian periode yang akan datang pada periode berjalan ketika
pada periode berjalan terjadi keadaan buruk yang tidak menguntungkan.
Income smoothing
Income smoothing merupakan praktik manajemen laba yang dilakukan
dengan menaikkan atau menurunkan laba, dengan tujuan untuk
mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan, sehingga perusahaan tampak
lebih stabil dan tidak beresiko.
Income minimization
Manajer melakukan praktik manajemen laba berupa income minimization
dengan mengakui secara lebih cepat biaya-biaya, seperti biaya
pemasaran, riset dan pengembangan, ketika perusahaan memperoleh
profit yang cukup besar dengan tujuan untuk mengurangi perhatian politis.
Income maximization
Income maximation merupakan upaya manajemen untuk memaksimalkan
laba yang dilaporkan.

Scott (1997) menyatakan terdapat beberapa faktor yang


mendorong manajer melakukan manajemen laba

1
2
3
4
5

Rencana bonus (bonus scheme). Manajer yang bekerja berdasarkan kontrak


bonus akan mengatur laba yang dilaporkan agar bonus yang diterima
maksimal serta dapat memperoleh bonus yang diinginkan di masa yang
akan datang.
Kontrak hutang (debt covenant). Perusahaan akan menaikkan laba agar
rasio debt to equity berada pada posisi yang diinginkan.
Motivasi politik (political motivation). Perusahaan-perusahaan selama
periode kemakmuran tinggi cenderung melakukan manajemen laba
dengan menurunkan laba untuk mengurangi visibilitasnya, agar dapat
memperoleh kemudahan dan fasilitas dari pemerintah.
Motivasi pajak (taxation motivation). Perusahaan lebih memilih metode
akuntansi yang dapat menghasilkan laba dilaporkan lebih rendah, sehingga
pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah juga menjadi lebih
rendah.
Perubahan Chief Executive Officer (CEO). CEO yang mendekati akhir
jabatannya cenderung melakukan income maximization untuk
meningkatkan bonus mereka. Keenam, penawaran saham perdana (IPO).
Perusahaan yang akan melakukan IPO cenderung melakukan income
increasing untuk menarik calon investor.

2.3 Teori Sinyal


(Signal Theory)

Teori Sinyal (Signal Theory)


menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk
memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal.

karena terdapat asimetri informasi antara


perusahaan dan pihak luar (Linandarini, 2010)

(penjelasan lanjutan)
Teori sinyal mengemukakan tentang bagaimana seharusnya
sebuah perusahaan memberikan sinyal-sinyal kepada
pengguna laporan keuangan.
Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan
oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik.

Menurut Sharpe (1997: 211) dan Ivana (2005:16), pengumuman


informasi akuntansi memberikan signal bahwa perusahaan
mempunyai prospek yang baik di masa mendatang (good news)
sehingga investor tertarik untuk melakukan perdagangan saham,
dengan demikian pasar akan bereaksi yang tercermin melalui
perubahan dalam volume perdagangan saham.

Perlakuan Sinyal
Perusahaan
Good News (jika perusahaan mempunyai prospek yang
baik di masa mendatang)
Bad News (jika perusahaan tidak memiliki prospek yang
bagus di masa mendatang).

Alat informasi untuk meberikan sinyal kepada pihak


luar adalah laporan tahunan.
Laporan tahunan dapat dibedakan menjadi dua:
Laporan Keuangan
Laporan non-keuangan

Fama (1970) membagi efisiensi pasar ke


dalam tiga bentuk utama berdasarkan
informasi sebagai berikut :

1. Efisiensi pasar bentuk lemah (weak form)


2. Efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semistrong form)
3. Efisiensi pasar bentuk kuat (strong form)

Sinyal yang disediakan manajemen harus mengandung informasi.


Maka perlu dilakukan pengujian kandungan informasi untuk
melihat reaksi dari suatu pengumuman.

Pasar dikatakan efisien bentuk setengah kuat jika abnormal return


yang timbul direaksi dan diserap pasar secara cepat untuk menuju
ke harga keseimbangan yang baru (Jogiyanto, 2000).
Dalam penelitian ini digunakan pengujian atas efisiensi pasar
bentuk setengah kuat untuk melihat kecepatan pasar atas
publikasi laporan keuangan yang mengandung praktek
manajemen laba.

2.4 Hubungan Agency Theory


dan Signaling Theory
Axiomatic
Aksioma adalah sebuah pernyataan dimana pernyataan
yang kita terima sebagai suatu kebenaran dan bersifat
umum, seta tanpa perlu adanya pembuktian dari kita.
Bisa juga dikatakan adalah sebuah ketentuan yang pasti
atau mutlak kebenarannya.
Morris (1987) mengajukan 4 kemungkinan hubungan
Agency theory (AT) dan Signalling Theory (ST):
(1) AT=ST tetapi dengan nama yang berbeda;
(2) AT bagian dari ST atau ST bagian dari AT;
(3) AT benar, ST mungkin benar;
(4) AT berkontradiksi dengan ST.

Prediction
Untuk menilai hubungan kedua teori ini, prediksi
membandingkan tidak bisa diterima karena dua alasan, yaitu:
Perbandingan dari prediksi tidak dapat
diandalkan jika axioma teori bertentangan,
karena teori ini memungkinkan untuk
bertentangan maupun sesuai satu sama
lain.

Dalam menguji prediksi dua teori, asumsi


merupakan teori yang dibangun penuh
dengan peraturan yang berlaku. Kini, teori
ini bukan teori sinyal maupun keagenan

Hubungan
antara teori
keagenan
dan teori
sinyal

Semua partisipan pasar bebas adalah


memiliki kekayaan
Semua perusahaan beroperasi dalam
waktu dua periode
Perusahaan memiliki modal eksternal
dan piutang
Terpisahnya modal dan piutang
supplier dan control manajer dalam
perusahaan
Setiap manajer memiliki fraksi modal
yang belum diselesaikan dari
perusahaannya
Setiap manajer dibayar dengan gaji,
penghasilan tambahan, laba
tembahan di perusahaan
Memonitor dan terikat pada nilai
perusahaan

Morris (1987) berpendapat bahwa Agency Theory dan


Signaling Theory dapat dihubungkan. Dalam
artikelnya, Morris menemukan bahwa ada konsistensi
logis antara keduanya yang memungkinkan untuk
penggabungan dua teori tersebut untuk
menyelesaikan masalah principal-agent dan pemilihan
kebijakan akuntansi.
Agency theory menjelaskan bahwa pemisahan antara
principal dan agent akan menyebabkan konflik saat
semua pihak mengambil keputusan berdasarkan
kepentingannya masing-masing. Dalam hal ini
principal akan mengeluarkan biaya agensi sebagai alat
monitor dan perencanaan agency cost.

Terdapat dua versi agency theory:

Akan selalu ada agency cost yang timbul karena


ada jumlah optimum biaya yang dikeluarkan
dibandingkan dengan manfaat dari biaya
tersebut;
Agency cost dapat mencapai nol karena adanya
kekuatan pasar. Signalling theory berkaitan
dengan masalah informasi asimetri. Asimetri ini
dapat berkurang jika pihak yang memiliki
informasi berlebih dapat memberikan signal
tanda-tanda ke pihak lain tentang informasinya.

Kesimpulan
Morris (1987) menyarankan untuk menggabungkan
kedua teori ini dalam memecahkan masalah corporate
lobbying, pemilihan kebijakan akuntansi dan seleksi
auditor secara sukarela. Dalam hal ini, Morris (1987)
tidak memberikan bentuk teori baru, namun sebatas pada
penggunaan dua teori secara komplementer. Apa yang
telah dilakukannya sebenarnya telah menegaskan asumsi
rasionalitas baik pada teori agensi maupun signaling.

Daftar Pustaka
Deegan, C. 2004. Financial Accounting Theory. McGraw Hill-Book
Company, Sidney.
Morris, R. D. (1987). Signaling, Agency Theory and Accounting Policy
Choice, Accounting and Business Research, Vol. 18, No. 69, pp 47-56.
Saputra, Tunggal Ika. Makalah Teori Akuntansi - Grand Theory.
http://tunggalikasaputra.-blogspot.co.id/2016/02/makalah-teori-akuntan
si-grand-theory.html
dilihat pada Juni 2016.
Scott, William R., 2003, Financial Accounting Theory, Third Edition,
University of Waterloo.
Wahyuningsih, Dwi Retno. Hubungan Praktik Manajemen Laba Dengan
Reaksi Pasar Atas Pengumuman Informasi Laba Perusahaan
Manufaktur Di Bursa Efek Jakarta. Tesis Universitas Diponegoro
Program Pascasarjana Program Studi Magister Sains 2007.