Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN HASIL PENGKAJIAN

STASE MANAJEMEN KEPERAWATAN DI BANGSAL AL-KAUTSAR


RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT II

Disusun Oleh:
KELOMPOK B
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

DEWI ERNA SUSILOWATI


DIAN CANDRA WIDYANINGGAR
FATIMA MUKADAR
ITA VUSFITA
SISKA OLIVIA MANUNGGAR
VINA GLAELI PRATIWI
YUSUF AL FARISI

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2015/2016
KATA PENGANTAR
1

Segala puji kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala inayah dan
kenikmatan yang senantiasa dicurahkan NYA pada kami berupa kesehatan, kekuatan, serta
kesempatan sehingga laporan ini dapat selesai dengan semestinya. Tidak lupa pula kami
haturkan shalawat serta salam kepada junjungan nabi Muhammad SAW yang telah membawa
kita dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang.
Adapun laporan ini berisi tentang kajian komunikasi efektif,informasi dan
edukasi di bangsal Ar-royan rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II yang
bertujuan sebagai bahan bacaan yang dapat bermanfaat bagi yang membacanya. Dalam
laporan ini kami menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisannya. Oleh
karena itu, diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca yang berguna
untuk kesempurnaan pada pembuatan laporan kami selanjutnya.

Yogyakarta, Februari 2016

Kelompok B

DAFTAR ISI
Kata Pengantar.........................................................................................................................2
Daftar Isi...................................................................................................................................3
2

BAB I.........................................................................................................................................4
BAB II........................................................................................................................................7
BAB III....................................................................................................................................21
BAB IV....................................................................................................................................22
BAB V......................................................................................................................................23
Daftar Pustaka........................................................................................................................24
LAMPIRAN............................................................................................................................25

BAB 1
A. Latar Belakang Masalah
Rumah sakit merupakan organisasi yang sangat komplek dan merupakan komponen
yang sangat penting dalam upaya peningkatan status kesehatan bagi masyarakat. Salah
satu fungsi rumah sakit adalah menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan,
yang merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan dengan tujuan memelihara
kesehatan masyarakat seoptimal mungkin.
Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Dalam
pelayanan kesehatan, keberadaan perawat merupakan posisi kunci, yang dibuktikan oleh
3

kenyataan bahwa 40-60% pelayanan rumah sakit merupakan pelayanan keperawatan dan
hampir semua pelayanan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit baik di rumah sakit
maupun tatanan pelayanan kesehatan lain dilakukan oleh perawat (Nursalam 2002).
Kontribusi pelayanan keperawatan terhadap pelayanan kesehatan, yang dilaksanakan
di sarana kesehatan sangat tergantung pada manajemen pelayanan perawatan. Manajemen
pelayanan keperawatan merupakan suatu proses perubahan atau transformasi dari sumber
daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan.
Manajemen keperawatan menurut Nursalam (2002), merupakan suatu pelayanan
keperawatan profesional dimana tim keperawatan dikelola dengan menjalankan empat
fungsi manajemen antara lain Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Keempat
fungsi tersebut saling berhubungan dan memerlukan keterampilan-keterampilan teknis,
hubungan antar manusia, konseptual yang mendukung asuhan keperwatan yang bermutu,
berdaya guna dan berhasil guna bagi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen
keperawatan perlu mendapat prioritas utama dalam pengembangan keperawatan di masa
depan, karena berkaitan dengan tuntutan profesi dan global bahwa setiap perkembangan
serta perubahan memerlukan pengelolaan secara profesional dengan memperhatikan setiap
perubahan yang terjadi.
Perawat sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan, dituntut untuk memiliki
kemampuan manajerial yang tangguh, sehingga pelayanan yang diberikan mampu
memuaskan kebutuhan klien. Kemampuan manajerial dapat dimiliki melalui berbagai
cara salah satunya dapat ditempuh dengan meningkatkan ketrampilan melalui bangku
kuliah yang harus melalui pembelajaran dilahan praktek.
Mahasiswa Keperawatan PSPN UMY dituntut untuk dapat mengaplikasikan secara
langsung pengetahuan manejerial di bangsal Al-Kautsar RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta Unit II dengan arahan pembimbing akademik dan pembimbing lapangan.
Adanya praktek manajemen keperawatan di lapangan, diharapkan mahasiswa mampu
menerapkan ilmu yang sudah didapat mampu mengelola ruang perawatan dengan
pendekatan proses manajemen.
Komunikasi adalah suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sejak
dalam kandungan pun, komunikasi telah ada dan akan terus berlangsung dalam proses
kehidupan. Komunikasi dapat terjadi apabila ada dua orang melakukan tindakan aksi dan
reaksi. Tindakan aksi dan reaksi ini disebut tindakan komunikasi. Hampir setiap saat kita
bertindak dan belajar dengan dan melalui komunikasi. Sebagian besar kegiatan
komunikasi yang kita lakukan berlangsung dalam situasi komunikasi interpesonal

(komunikasi antarpribadi). Situasi komunikasi antarpribadi ini bisa kita temui dalam
konteks kehidupan dua orang, keluarga, kelompok maupun organisasi.
Memberikan asuhan pasien adalah suatu upaya yang kompleks yang sangat
tergantung pada komunikasi dan informasi. Komunikasi tersebut kepada dan dengan
komunitas, pasien dan keluarganya serta dengan tenaga kesehatan profesional lainnya.
Kegagalan dalam berkomunikasi merupakan salah satu akar penyebab masalah yang
paling sering menyebabkan insiden keselamatan pasien.
Bangsal Al-Kautsar merupakan salah satu bangsal kelas III di RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta Unit II yang merupakan bangsal khusus pria. Bangsal ini
berdiri pada tanggal 1 Oktober 2014 yang terletak di lantai 2, terdiri dari 5 kamar. Dengan
rincian 4 kamar rawat dewasa dan 1 kamar ruang rawat anak. Seluruh kamar yang ada di
bangsal terdiri dari kamar nomor 253,254,255,256, dan 257. Dalam setiap kamar di
bangsal Al-Kautsar terdapat masing-masing 5 bed untuk pasien di ruang rawat. Sehingga,
kapasitas total di bangsal Al-Kautsar adalah untuk 25 pasien. Dalam memberikan asuhan
keperawatan, perawat di bangsal Al-Kautsar kedalam 3 shift, yaitu pagi, siang dan malam.
Dilihat dari struktur organisasinya, bangsal Al-Kautsar terdiri dari kepala ruang, perawat
primer, dan perawat pelaksana yang dikenal dengan struktur model asuhan keperawatan
profesional (MAKP) tim dimana seorang perawat profesional memimpin sekelompok
tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan klien melalui upaya
kooperatif dan kolaboratif.
B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Tempat praktek mahasiswa profesi Ners Angkatan XXIII Stase Manajemen
Keperawatan dilaksanakan di Bangsal Al Kautsar RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Unit II berlangsung mulai 18 Januari 2016 13 Februari 2016.
C. Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan laporan ini adalah sebagai berikut
1. Untuk mengetahui fungsi komunikasi,edukasi dan pemberian informasi efektif dalam
pemberian asuhan keperawatan.
2. Untuk mengetahui definisi, contoh penerapan, keuntungan, kelemahan dan keuntungan
metode primer, team,kasus dan primer modifikasi
3. Untuk mengumpulkan data yang ada di bangsal Al-Kautsar meliputi komunikasi
efektif dan pemberian informasi,edukasi terkait dengan asuhan keperawatan pasien.
4. Untuk mengidentifikasi masalah yang terjadi dan membuat prioritas masalah
5. Merencanakan alternatif pemecahan masalah
6. Melaksanakan dan mengevaluasi pelaksanaan perencanaan berdasarkan prioritas
masalah.
5

D. Manfaat
1. Bagi Rumah Sakit
Dapat memberikan data dan hasil yang diperoleh dijadikan sumber informasi dan
masukan dalam meningkatkan kualitas pelayanan Rumah Sakit.
2. Bagi Perawat Bangsal Al-Kautsar
Dapat menambah pengetahuan perawat dalam meningkatkan komunikasi,edukasi dan
pemberian edukasi sesuai standar akreditasi dalam pelayanan
3. Mahasiswa Profesi Keperawatan
Laporan ini diharapkan dapat membuat mahasiswa memahami cara menerapkan
manajemen keperawatan.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Konsep Dasar Manajemen Keperawatan
Manajemen keperawatan adalah proses penggunaan waktu yang efektif melalui
perencanaan dan pengaturan kinerja perawat klinis dengan sistem manajerial untuk
mengembangkan tujuan yang jelas dan realistis bagi pelayanan keperawatan, sesuai
dengan teori, sistematik, prinsip dan metode yang saling berkaitan dengan organisasi
keperawatan. Teori ini meliputi pengetahuan tentang misi dan tujuan dari institusi tetapi
masih membutuhkan pengembangan atau perbaikan keterampilan manjerial hingga ke
tingkat divisi keperawatan (Swanburg,2000)
Muninjaya (2004) menyatakan bahwa manajemen adalah ilmu atau seni tentang
bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien, efektif, dan rasional untuk mencapai
tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
B. Fungsi management
1. Fungsi perencanaan
Fungsi perencanaan merupakan tindakan dengan menerapkan sistem tujuan yang
spesifik untuk membuat strategi. Pembuatan visi dan misi merupakan hal yang utama
sehingga pelayanan yang ada di rumah sakit dapat berjalan sesuai dengan yang
6

diinginkan. Dengan adanya proses perencanaan dan pembuatan visi dan misi, maka
dapat

dijadikan

acuan

untuk

menemukan

langkah-langkah

yang

strategi

(Swanburg,2000). Huber (2006) menyatakan bahwa perencanaan merupakan fungsi


management yang digunakan untuk memilih prioritas, hasil, dan metode yang
digunakan untuk sebuah sistem.
Menurut Robins dan Coulter (2007), fungsi perencanaan mencakup proses
merumuskan sasaran, membangun strategi untuk mencapai sasaran yang telah
disepakati, dan mengembangkan perencanaan tersebut untuk memadukan dan
mengkoordinasikan sejumlah kegiatan.
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II sudah menerapkan fungsi
perencanaan yaitu pembuatan visi dan misi, filosopi keperawatan sebagai dasar bentuk
pelayanan keperawatan di RS. Filosopi tersebut adalah Keperawatan merupakan
bentuk pelayanan profesional dan amaliah ibadah, diberikan dengan memandang pasien
sebagai makhluk yang holistik, tanpa membedakan suku, kepercayaan, agama, status
sosial, dan ekonomi.
Dengan adanya proses perencanaan dan pembuatan visi dan misi maka akan
ditemukan langkah-langkah strategi untuk mencapai tujuan atau visi dan misi tersebut.
Sebagai kepala ruang, fungsi perencanaan yang bisa dilakukan yaitu mencakup proses
merumuskan sasaran baik membangun strategi jangka panjang maupun jangka pendek
untuk mencapai sasaran yang telah disepakati.
2. Fungsi pengorganisasian
Menurut Burgess dan Gillies (1988) dalam keperawatan pengorganisasian pelayanan
keperawatan dilaksanakan dengan cara:
a. Fungsional/penugasan
Yaitu pembagian tugas untuk perawat yang dilakukan oleh kepala ruang masingmasing perawat mempunyai tugas khusus.
b. Alokasi pasien (kasus)
Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatana untuk beberapa pasien/satu pasien
dilakukan oleh satu perawat pada saat jaga, untuk hari berikutnya tidak menjamin
dirawat oleh perawat yang sama.
c. Perawatan tim/grup/tim perawat
Yaitu sekelompok perawat merawat sekelompok pasien, dipimpin oleh perawat yang
mempunyai kualifikasi pendidikan dan berpengalaman (registerid nurse), ada ketua
tim dan anggota tim.
d. Pelayanan keperawatan utama
Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatan untuk satu perawat primer (primary
nurse) adalah registered nurse bertanggung jawab dari pasien masuk sampai pulang.
3. Fungsi Actuating
7

Menurut Douglas (1984) actuating adalah pengeluaran penugasan, pesanan dan


instruksi yang memungkinkan pekerja memahami apa yang diharapkan darinya dan
pedoman serta pandangan pekerja sehingga ia dapat berperan secara efektif dan efisien
untuk mencapai objektif organisasi. Pengarahan sering disebut sebagai fungsi
memimpin dari manajemen keperawatan. Ini meliputi proses pendelegasian,
pengawasan, koordinasi dan pengendalian implemenasi rencaa organisasi
4. Fungsi Controlling
Pengawasan adalah membandingkan hasil kinerja dengan standar dan mengambil
tindakan korektif bila kinerja yang didapat tidak sesuai dengan standar (Nursalam,
2002). Pengawasan melalui komunikasi adalah mengawasi dan berkomunikasi langsung
dengan ketua tim maupun pelaksana mengenai asuhan keperawatan yang diberikan
kepada klien.
Fungsi pengawasan mencakup 4 unsur yaitu:
a. Penetapan standar pelaksanaan
b. Penentuan ukuran-ukuran pelaksanaan
c. Pengukuran pelaksanaan nyata dibandingkan dengan standar yang ditetapkan.
d. Pengambilan tindakan koreksi
Fungsi pengawasan dan pengendalian merupakan fungsi terakhir dari proses
manajemen dan ada 3 macam pengawasan, yaitu:
a.

Pengendalian pendahuluan, yaitu pengendalian dipusatkan


pada permasalahan pencegahan timbulnya penyimpangan-penyimpangan dari
bawahan terhadap kinerja pemberi pelayanan keperawatan, baik sumber daya, SDM,
bahan dan alat.

b.

Concurent control, pengendalian berlangsung saat pekerjaan


berlangsung guna memastikan sasaran tercapai.

c.

Feedback control, pengendalian untuk mengontrol terhadap


hasil dari pekerjaan yang telah diselesaikan, bila ada penyimpangan akan merupakan
pelajaran untuk aktivitas yang sama di masa yang akan datang.

C. Metode Asuhan Keperawatan (MAKP)


1. Pengertian MAKP
Metode asuhan keperawatan merupakan metode penugasan dimana satu orang
perawat bertanggungjawab penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatanpasien
mulai dari pasien masuk sampai keluar rumah sakit. Metode ini mendorong praktek
kemandirian perawat, ada kejelasan antara pembuar rencana asuhan keperawatan dan
8

pelaksana. Bidang keperawatan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II


menerapkan asuhan keperawatan (MAKP) primer di unit rawat inap. Dalam metode
ini terdapat pembagian tugas antara perawat primer dan kepala ruang yaitu sebagai
berikut:
Tugas kepala ruang adalah sebagai berikut:
Sebagai konsultan dan pengendalian mutu perawat primer.
Orientasi dan merencanakan karyawan baru.
Menyusun jadwal dinas dan memberi penugasan pada perawat asisten.
Evaluasi kerja
Merencanakan atau menyelenggarakan peengembangan staf
Membuat 1-2 pasien untuk model agar dapat mengenal hambatan yang terjadi
Tugas perawat primer dalam MAKP primer:
Mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif.
Membuat tujuan dan rencana keperawatan.
Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama dia dinas.
Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh
disiplin lain maupun perawat lain.
Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai.
Menerima dan menyesuaikan rencana.
Menyiapkan penyuluhan untuk pulang.
Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak dengan lembaga sosial,
dimasyarakat.
Membuat jadwal perjanjian klinis.
Mengadakan kunjungan rumah.
2. Model Asuhan Keperawatan
a. Model Team
Metode team adalah pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh
sekelompok perawat. Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan
berpengalaman serta memiliki pengetahuan dalam bidangnya. Pembagian tugas
dalam kelompok dilakukan oleh pemimpin kelompok, selain itu pemimpin
kelompok bertangguang jawab dalam mengarahkan anggota team sebelum tugas
dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta membantu
anggota team dalam menyelesaikan tugas apabila mengalami kesulitan.
Selanjutnya pemimpin team melaporkan kepada kepala ruangan tentang kemajuan
pelayanan atau asuhan keperawatan klien.
9

Metode team adalah metode yang berdasarkan kelompok pada filosofi


keperawatan. Terdapat sekitar 6-7 perawat profesional dan perawat associate
bekerja sebagai suatu team, di supervisi oleh ketua team. Metode ini
mengggunakan team yang terdiri atas anggota yang berbeda-beda dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan
dibagi menajdi 2-3 team yang terdiri atas tenaga profesional, tehnikal dan
pembantu dalam satu kelompok kecil yang saling membantu.
b. Model Kasus
Metode kasus adalah pengorganisasian pelayanan atau asuhan keperawatan
untuk satu atau beberapa pasien oleh satu orang perawat pada saat bertugas atau
shift sampe pasien pulang. Dalam metode ini staf perawat ditugaskan oleh kepala
ruang untuk memberikan asuhan keperawatan langsung kepada pasien yang
ditugaskan contohnya diruangan isolasi atau ICU. Rasio pasien dan perawat
adalah 1:1. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda-beda untuk setiap
shiftnya dan tidak ada jaminan untuk dirawat oleh perawat yang sama pada hari
berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien untuk satu
perawat, dilaksanakan untuk perawatan private atau perawatan khusus seperti
isolasi dan intensive care.
c. Model Primer
Metode primer adalah metode dalam pemberian asuhan keperawatan yang
ditandai dengan keterikatan kuat dan terus-menerus antara pasien dan perawat
yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan mengkoordinasikan asuhan
keperawatan selama pasien dirawat. Metode penugasan ini dimana satu perawat
bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan mulai dari
pasien masuk sampai pasien pulang.
d. Model Primer Modifikasi
Metode primer modifikasi adalah metode gabungan antara metode penugasan
team dan metode perawatan primer. Metode ini menugaskan sekelompok perawat
merawat pasien dari awal masuk sampai pasien pulang. Menurut Ratna S.
Sudarsono (2000), menerapkan sistem model ini karena beberapa alasan yaitu :
Keperawatan primer tidak digunakan secara murni karena perawat primer

harus mempunyai latarbelakang pendidikan S1 keperawatan atau setara


Keperawatan tidak digunakan secara murni karena tanggung jawab asuhan

keperawatan pasien terfragmentasi pada berbagai team


Melalui kombinasi model-model tersebut diharapkan komunitas asuhan
keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada primer.
10

Disamping itu karena saat ini perawat yang ada di rumah sakit sebagian besar
adalah lulusan SPK, D3 atau sederajat. Maka akan mendapat bimbingan dari
perawat primer atau ketua team asuhan keperawatan.
Kesimpulan dari beberapa metode diatas adalah :
a. Metode team adalah perawat yang latar belakang berbeda-beda bertanggungjawab
terhadap sekelompok pasien.
b. Metode kasus adalah satu perawat merawat satu pasien ( total pasien care).
c. Metode primer adalah seorang perawat profesional bertanggung jawab
memberikan perawatan secara menyeluruh selama 24 jam pada 4-6 pasien dalam
satu unit sejak pasien masuk sampai pasien pulang.
d. Metode primer modifikasi adalah gabungan dari metode team dan metode primer.
D. Pendokumentasian Proses keperawatan
A. Asuhan Keperawatan
1. Pengertian
Asuhan keperawatan merupakan proses atau rangkaian kegiatan praktik
keperawatan langsung pada klien di berbagai tatanan pelayanan kesehatan yang
pelaksanaanya berdasarkan kaidah profesi keperawataan dan merupakan inti prktik
keperawatan (Ali, 2009)
Penerapan proses keperawatan dalam asuhan keperawatan untuk klien
merupakan salah satu wujud tanggung jawab dan tanggung gugat perawat terhadap
klien. Pada akhirnya, penerapan proses keperawatan ini akan meningkatan kualitas
layanan keperawatan pada klien (Asmandi, 2008)
Proses keperawatan adaalh suatu metode yang sistematis dan ilmiah yang
digunakan perawat untuk memenuhi kebutuhan klien dalam mencapai atau
mempertahankan keadaan biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang optimal,
melalui tahap pengkajian, indentifikasi diagnosis keperawatan, penentuan rencana
keperawatan, serta evaluasi tindakan keperawatan (Suarli & Bahtiar, 2009)
2.

Tujuan proses keperawatan


Menurut Asmadi (2008), proses keperawatan merupakan suatu upaya
pemecahan masalah yang bertujuan utamanya adalah membantu perawat
menangani klien secara komprehensif dengan dilandasi alasan ilmiah, ketrampilan
teknis, dan ketrampilan interpersonal. Penerapan proses keperawatan ini tidak
hanya ditunjukan untuk kepentingan klien, tetapi juga profesi keperawatan itu
sendiri.
11

Tujuan penerapan proses keperawatan bagi klien, antara lain:


a.
b.

Mempertahankan kesehatan klien.


Mencegah sakit yang lebih parah/peyebaran penyakit/komplikasi akibat
penyakit.

c.

Membantu pemulihan kondisi klien setelah sakit.

d.

Mengembalikan fungsi maksimal tubuh.

e.

Membantu klien terminal meninggal dengan tenang.


Tujuan Penerapan proses keperawatan bagi profesionalitas keperawatan,

antara lain:

3.

a.

Mempraktikkan metode pemecahan masalah dalam praktik keperawatan.

b.

Menggunakan standar praktik keperawatan.

c.

Memperoleh metode yang baku, rasional, dan sistematis.

d.

Memperoleh hasil asuhan keperawatan dengan effektifitas yang tinggi.

Komponen proses Keperawatan


a.

Pengkajian
Pengkajian merupkan tahap awal dari proses keperawatan. Semua data
akan dikumpulkan secara sistematis guna untuk menentukkan status kesehatan
klien saat ini. Pengkajian harus dilakuakan secara komprehensif terkait dengan
aspek biologis, psikologis, sosial, maupun spiritual. Pengakajian adalah untuk
mengumpulkan informasi dan membuat data dasar klien. Metode utama yang
dapat digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara, observasi, dan
pemeriksaan fisik serta diagnostik (Asmadi, 2008)

b.

Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menguraikan respon aktual
atau potensial klien terhadap masalah kesehatan. Respon aktual dan potensial
klien didapatkan dari data dasar pengkajian, tinjauan literature yang berkaitan,
catatan medis klien masa lalu, dan konsultasi profesional lain, yang semuanya
dikumpulkan selama pengkajian (Potter & Perry, 2005)

c.

Perencanaan
Tahap perencnaan memberikan kesempatan kepada perawat, klien,
keluarga, dan orang terdekat klien untuk merumuskan rencana tindakan guna
12

mengatasi masalah yang sedang dihadapi klien. Perencanaan ini merupakan


suatu petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat rencana tindakan
keperawatan yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan kebutuhannya
berdasarkan diagnosis keperawatan.
Tahap perencanaan dapat disebut sebagai inti atau pokok dari proses
keperawatan karena perencanaan merupakan kepeutusan awal yang memberi
tujuan yang akan dicapai (Asmadi, 2008)
d.

Implementasi
Implementasi yang merupakan komponen dari proses keperawatan adalah
kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari hasil asuhan keperawatan.
Dalam teori, implementasi dari rencana keperawatan mengikuti komponen
perencanaan dari proses keperawatan mengikuti komponen perencanaan dari
proses keperawatan. Namun demikian, dibanyak lingkungan perewatan
kesehatan, impelentasi mungkin dimulai secara langsung setelah pengkajian
(Potter & Perry, 2005)

e.

Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan
perbandingan yang sistenmatis yang terencana antara hasil akhir yang teramati
dan tujuan serta kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi
dilakukan secara berkesinabungan dengan melibatkan klien dan tenaga
kesehatan lainnya. Jika hasil evaluasi menunjukkan tercapainya tujuan dan
kriteria hasil, maka klien dapat keluar dari siklus proses keperawatan. Jika
sebaliknya, klien akan masuk kembali kedalam siklus tersebut mulai dari
pengkajian ulang (reassessment).

B. Konsep Dokumentasi Asuhan Keperawatan


1. Pengertian

13

Dokumentasi adalah bagian dari keseluruhan tanggung jawab perawat untuk


perawatan klien. Catatan klinis memfasilitasi pemberian perawatan, meningkatkan
kontinuitas perawatan, dan membantu mengkoordinasikan pengobatan dan evaluasi
klien (Lyer & Camp,2004)
Dokumentasi merupakan suatu catatan yang asli yang dapat dijadikan bukti
hukum, jika suatu saat ditemukan masalah yang berhubungan dengan kejadian
yang terdapat dalam catatan tersebut. Sedangkan dokumentasi keperawatan adalah
bukti pencatatan dan peloran perawat yang berguna untuk kepentingan klien,
perawat dan tim kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan dasar
komunikasi yang akurat dan lengkap secara tertulis (Hutahaean, 2010)
2.

Tujuan dan manfaat dokumentasi


Menurut Ali (2009), dokumentasi keperawatan bertujuan untuk :
a. Menghindari kesalahan, tumpang tindih dan ketidaklengkapan informasi dalam
asuhan keperawatan
b. Terbinanya koordinasi yang baik dan dinamis antara sesama atau dengan pihak
lain melalui dokumentasi keperawatan yang efektif
c. Meningkatkian efisiensi dan efektifitas keperawatan
d. Terjaminnya kualitas asuhan keperawatan
e. Terlindungnya perawat dari suatu keadaan yang memerlukan penerangan secara
hukum
f. Tersedianya data-data dalam penyelenggaraan penelitian karya tulis ilmiah,
pendidikan, dan penyusunan atau penyempurnaan asuhan keperawatan
g. Melindungi klien dari tindakan malpraktik
Ali (2009) juga menyatakan dokumentasi keperawatan sangat bermanfaat dalam
asuhan keperawatan yang profesional, antara lain:
a. Meningkatkan mutu asuhan keperawatan karena dokumentasi merupakan suatu
kesinabungan informasi asuhan keperawatan yang sistematis, terarah, dan dapat
dipertanggungjawabkan
b. Sebagai bahan pertanggungjawaban dan pertanggunggugatan didepan hukum
jika diperlukan
c. Sebagai alat pembinaan dan pertahanan akuntabilitas perawat dengan
keperawatan
d. Sebagai sarana komunikasi antara klien, perawat, dan profesi lain
14

e. Mengawasi, mengendalikan, dan menilai kualitas asuhan keperawatan yang


diberikan oleh perawat (sesuai kompetensi masing-masing perawat)
Potter & Perry (2005) juga menjelaskan tentang tujuan dalam pendokumentasian
yaitu sebagai berikut:
a. Komunikasi
Sebagai cara bagi tim kesehatan untuk mengkomunikasikan (menjelaskan)
perawatan klien termasuk perawatan individual, edukasi klien dan penggunaan
rujukan untuk rencana pemulangan.
b. Tagihan finansial
Dokumentasi dapat menjelaskan sejauh mana lembaga perawatan mendapatkan
ganti rugi (reimburse) atas pelayanan yang diberikan bagi klien
c. Edukasi

Dengan catatan ini peserta didik belajar tentang pola yang harus ditemui dengan
berbagai masalh kesehatan dan menjadi mampu untuk mengantisipasi tipe
perawatan yang dibutuhkan klien
d. Pengkajian
Catatan memberikan data yang digunakan perawatan untuk mengidentifikasi
dan mendukung diagnosa keperawatan dan merencanakan intervensi yang sesuai
e. Riset
Perawat dapat menggunakan catatan klien selama studi riset untuk
mengumpulkan informasi tentang faktor-faktor tertentu
f. Audit dan pemantauan
Tinjauan teratur tentang informasi pada catatan klien memberi darar untuk
evaluasi tentang kualitas dan ketetapan perawatan yang diberikan dalam suatu
instansi.
g. Dokumentasi legal
Pendokumentasian yang akurat adalahsalah satu pertahanan dari terbaik
terhadapa tuntutan yang berkaitan dengan asuhan keperawatan.

3. Komponen Dokumentasi
Menurut Handayaningsih (2009), ada beberapa komponen dari dokumentasi
yaitu sebagai berikut:
15

a. Komunikasi
Untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan seorang perawat perlu
memahami tehnik komunikasi yang benar. Dokumentasi merupakan komunikasi
secara tertulis sehingga perawt dituntut untuk dapat mendokumentasikan secra
benar. Keterampilan dokumentasi yang efektif memungkinkan perawat untuk
mengkomunikasikan kepada tenaga kesehatan lainnya dan menjelaskan apa saj
yang sudah, sedang, dan yang akan dikerjakan oleh perawat.
b. Proses keperawatan
Dokumentasi proses keperawatan mencakup pengkajian, identifikasi masalah,
perencanaan

tindakan,

dan

pelaksanaan

tindakan,

kemudian

perawat

mengevaluasi respon klien terhadap proses dan hasil tindakan keperawatan


secara subjektif maupun objektif
c. Standar Dokumentasi Keperawatan
Standar dokumentasi adalah suatu pernyataan tentang kualitas dan kuantitas
dokumentasi yang dipertimbangkan secara adekuat dalam situasi tertentu.
Dengan adanya standar dokumentasi memberikan informasi bahwa adanya suatu
ukuran terhadap dokumentasi keperawatan.
4. Prinsip- prinsip dokumentasi
Menurut Hutahaean (2010), pendokumentasian proses keperawatan perlu dilakukan
berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Dokumentasi harus dilakukan segera setelah selesai melakukan kegiatan
keperawatan, yaitu mulai dari pengkajian pertama, diagnose keperawatan,
rencana dan tindakan serta evaluasi keperawatan
b. Bila memungkinkan, catat setiap respon klien ataupun keluarga tentang
informasi atau data yang penting tentang keadaannya
c. Pastikan kebenaran setiap data yang akan dicatat
d. Data klien harus objektif dan bukan merupakan penafsiran perawat
e. Dokumentasikan dengan baik apabila terjadi perubahan kondisi atau munculnya
masalah baru, serta respon klien terhadap bimbingan perawat
f. Hindari dokumentasi yang baku, karena sifat individu atau klien adalah unik dan
setiap klien mempunyai masalah yang berbeda
g. Hindari penggunaan istilah penulisan yang tidak jelas dari setiap catatan yang
dicatat
16

h. Data harus ditulis secara sah dengan menggunakan tinta dan jangan
menggunakan pensil, agar tidak mudah dihapus
i. Untuk memperbaiki kesalahan dalam pencatatan atau salah tulis, sebaiknya data
yang salah dicoret dan diganti dengan data yang benar, kemudian tanda tangani
j. Untuk setiap dokumentasi, cantumkan waktu, tanda tangan, dan nama jelas
k. Wajib membaca setiap tulisan dari anggota tim kesehatan yang lain, sebelum
menulis data akhir yang akan dicatat
l. Dokumentasi harus dibuat dengan tepat, jelas dan lengkap.

BAB III
HASIL PENGKAJIAN DAN ANALISA DATA
1. Pengkajian
17

Pengkajian system manajemen di bangsal Ar-Royan dilakukan dengan analisa situasi


ruangan pada tanggal 21-23 Desember 2015 melalui metode:
a. Wawancara yang dilakukan dengan kepala ruang dan beberapa perawat pelaksana
b. Observasi yang dilakukan pada shift pagi, siang, malam melaui observasi dan
kondisi ruangan, pelayanan asuhan keperawatan, penyediaan saran dan prasaran,
system kerja, dan komunikasi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
c. Penyebaran kuesioner dilakukan pada tanggal 22 Desember 2015 kepada perawat
yang jaga pagi dan siang yang berjumlah 10 orang, pasien juga diberikan
kuesioner tentang tingkat kepuasan.
2. Analisa Data
a. Jumlah tenaga keperawatan dan beban kerja
Berdasarkan pengkajian yang dilakukan di Bangsal Ar-Royan pada tanggal 21-23
Desember 2015 didapatkan kondisi Sumber Daya Manusia (SDM) antara lain
adalah sebagai berikut:
NO

Jabatan

Pendidikan

Jumlah

Kepala Ruangan

S1 Keperawatan

1 Orang

PPJP

S1 Keperawatan

3 orang

Perawat Pelaksana

S1 Keperawatan

15

D3 Keperawatan
4.

PJ Shift

D3 Keperawatan

TOTAL

3 orang
22 orang

Jumlah tenaga keperawatan di Bangsal Ar-Royan

Beban Kerja dan Kebutuhan Tenaga Kerja


Pada suatu pelayanan professional, jumlah tenaga yang diperlukan tergantung
pada jumlah pasien dan tingkat ketergantungan. Analisis beban kerja berdasarkan
tingkat ketergantungan pasien di bangsal Ar-Royan dinilai dengan menggunakan
instrument ketergantungan pasien menurut teori Orem: Total, Partial, dan Minimal
Care.

18

Data pengkajian pada tanggal 21 Desember 2015 didaptkan rata-rata kondisi


tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan tenaga sebagai berikut:
Tingkat Ketergantungan

Jumlah Kebutuhan Tenaga

Tk.Ketergantungan Jumlah Pasien

Pagi

Siang

Malam

Minimal

5 orang

5X0,17= 0,85

5X0,14=0,7

5X0,07=0,35

Partial

8 orang

8X0,27=2,16

8X0,15=1,2

8X0,10=0,8

Total

2 orang

2X0,36=0,72

2X0,36=0,72

2X0,20=0,4

Jumlah

15 orang

3,73= 4 orang

2,62=3 orang

1,55=2 orang

Shift pagi 5 org

Shift siang 4 org

Shift mlm 3 org

Tabel perhitungan jumlah tenaga keperawatan


Shift Pagi

: 4 orang

Shift Siang

: 3 orang

Shift malam

: 2 orang

Total

: 9 orang

1. Menurut Gillies 25% libur/cuti (keperluan lain): 9X25% = 3 orang


2. Menurut Depkes 25% untuk tindakan tidak langsung= 12 orang X 25%= 3 orang
3. Sehingga total keseluruhan adalah 9+3+3=15 orang

Dengan Metode TIM maka tenaga kerja yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
Perawat Pelaksana

: 15

Perawat primer

:3

Karu

:1

Total

: 19 orang

Berdasarkan hasil perhitungan, maka kebutuhan tenaga perawat bangsal ArRoyan secara keseluruhan 19 orang, akan tetapi kebutuhan perawat yang shift pagi,
19

siang, dan malam untuk setiap harinya berjumlah 15 orang. Menurut hasil perhitungan
tersebut, jika dibandingkan dengan jumlah tenaga perawat yang ada di bangsal ArRoyan saat ini berjumlah 22 orang (termasuk karu). Sehingga perawat yang ada
dibangsal ar-Royan sudah dapat memenuhi standar perhitungan yang sesuai.
Hasil wawancara dengan perawat pelaksana mengatakan bahwa jumlah
perawat yang ada dibangsal ar-royan sudah mencukupi sesuai dengan kebutuhan.
Masing-masing perawat dapat melakukan tugas berdasrkan kebutuhan pasien. Bahkan
tindakan diluar keperawatan juga dapat dilakukan seperti mengambil obat ke depo
farmasi bahkan sampai menyiapkan obat injeksi,

melipat kasa, mengurus surat

keterangan kematian, dan mengurus surat jaminan.


b. Metode Pelayanan Keperawatan
1. Metode Asuhan Keperawatan yang dianjurkan oleh rumah sakit adalah metode
primer, namun berdasarkan observasi dan wawancara dengan beberapa perawat
pelaksana di Bangsal Ar-Royan, beberapa perawat juga melaksanakan tugas non
keperawatan seperti pendokumentasian resep dan mengurus surat kematian,
sehingga dalam pelaksanaannya ditemukan tenaga keperawatan fungsional.
2. Timbang terima (operan jaga)
Prosedur operan, selama ini telah dilakukan setiap shift jaga, meliputi: isi operan
(masalah keperawatan pasien lebih focus pada diagnose medis, terapi yang
diberikan, dan rencana terapi yang akan diberikan), diawali dengan berdoa yang
dipimpin oleh seorang perawat, kemduian kepala ruangan membagi tugas, lalu
pegawai malam melaporkan rawatan dan melihat langsung kondisi pasien.
Kegiatan operan ini dilakukan pada shift pagi, sedangkan shift sore dan malam
dilakukan dengan serah terima antara perawat.
Berdasarkan observasi yang kami lakukan , bahwa pelaksanaan operan kadang
tidak dilakukan dengan sempurna. Kepala ruang juga melakukan operan.
Membacakan Rekam medis pasien yang akan disampaikan kepada perawat yang
bertugas selanjutnya. Hal ini menunjukkan bahwa kepala ruang tidak menjalankan
sesuai dengan tugas yang sudah ditetapkan.
c. Pendokumentasian
Berdasarkan hasil obsevasi dari 15 RM di bangsal Ar-royan bahwa penulisan
dokumentasi asuhan keperawatan belum diisi secara lengkap terutama pada
format pengkajia assesment spritual, reassessment nyeri, monitoring vital sign,
20

topik edukasi, status nutrisi, holistic health care, SOAP, dan format discharge
planning. Dan catatan untuk tindakan keperawatan, fisioterapi dan dokter
digabungkan menjadi satu dibagian lembar yang sama. Hanya saja yang
membedakan nama dan paraf petugas. Perawat yang ada dibangsal ar-royan juga
mengaku bahwa format yang ada di RM terkadang membingkun sehingga
kebanyakan tidak diisi karena kemungkinan akan menimbulkan kesalahan.
Padahal berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa perawat, bahwa bangsal
Ar-Royan telah memiliki standart asuhan keperawatan dan standart oprasional
prosedur, dan telah disosialisasikan kepada semua perawat mengenai catatan
terintegrasi (RM).
Selain itu juga pengetahuan perawat tentang pendokumentasian masih
minimal, sehingga pendokumentasian tidak dilakukan dengan lengkap. Format
catatan tindakan keperawatan belum lengkap diisi sesuai dengan rencana tindakan
keperawatan. Dan data pengkajian dilakukan di awal saja. Kebanyakan perawat di
bangsal ar-royan tidak melakukan pengkajian ulang.

3. Prioritas masalah
Prioritas kegiatan diseleksi menggunakan pembobotan berdasarkan metode CARL
meliputi aspek :
A.
B.
C.
D.

C (Capability) : kemampuan mahasiswa untuk melaksanakan alternatif kegiatan


A ( Accesability) : kemudahan dalam melaksanakan alternatif kegiatan
R (Readiness) : kesiapan untuk melaksanakan alternatif kegiatan
L (Leverage) : daya ungkit alternatif kegiatan dalam menyelesaikan masalah

Masing masing aspek diberikan penilaian dengan rentang 1-4 dengan makna :
a. Nilai 1 = Tidak mampu
b. Nilai 2 = Cukup mampu
c. Nilai 3 = Mampu
d. Nilai 4 = Sangat mampu
Semakin tinggi nilai yang diperoleh maka kemungkinan kegiatannya yang dipilih
untuk mengatasi masalah semakin mungkin dilakukan
Format penentuan prioritas kegiatan sebagai berikut :
No Alternatif kegiatan

A
21

Score

Jumlah tenaga keperawatan


dan beban kerja perawat di
Bangsal Ar-Royan

Metode pelayanan
keperawatan di bangsal ArRoyan

Pendokumentasian asuhan
keperawatan yang belum
lengkap di Bangsal Ar-Royan

11

Berdasarkan hasil prioritas masalah didapatkan alternative kegiatan bahwa


pendokumentasian asuhan keperawatan di bangsal Ar-royan masih belum dilakukan
secara optimal. Hal ini karena ada beberapa perawat yang menyatakan bahwa format
asuhan keperawatan yang ada dibangsal terlalu sulit untuk dipahami sehingga banyak
format yang tidak diisi dan kurangnya penghargaan yang didapat dari hasil pencatatan
asuhan keperawatan serta kurangnya waktu untuk melakukan pendokumentasian.
Selain itu, perawat bangsal Ar-Royan juga tidak melakukan pengkajian ulang setelah
pasien dirawat di bangsal.
Padahal jika dibandingkan dengan teori bahwa mutu asuhan keperawatan
dapat tergambar dari dokumentasi proses keperawatan. Sehingga pendokumentasian
sangat penting dan berharga untuk dilakukan. Dimana pendokumentasian asuhan
keperawatan merupakan pencatatan, pelaporan, kegiatan dalam bentuk pemberian
pelayanan. Pendokumentasian yang tidak dilakukan dengan lengkap akan dapat
menurunkan mutu pelayanan dan secara legal perawat tidak mempunyai bukti tertulis
jika pasien menuntut tidak puas dengan pelayanan yang diberikan oleh suatu unit
kesehatan.
Berdasarkan jurnal yang berjudul Hubungan Karakteristik Perawat, Motivasi,
dan Supervisi dengan Kualitas Dokumentasi Proses Asuhan Keperawatan menyatakan
22

bahwa pendokumentasian yang lengkap dimulai dari tahap pengkajian, diagnosa


keperawatan, rencana tindakan, implementasi dan evaluasi sebagai metode ilmiah
peneyelesaian masalah keperawatan pada pasien untuk meningkatkan outcome pasien
(Aziz, 2001). Ciri dokumentasi keperawatan yang baik adalah berdasarkan fakta,
akurat, lengkap, ringkas, terorganisir, tepat waktu, dan bersifat mudah dibaca dan
dipahami (Potter & perry, 2009)
Akan tetapi dalam penulisan dokumentasi keperawatan, supervisi juga
mempunyai peranan penting untuk perbaikan kerja pendokuemntasian asuhan
keperawatan. Perhatian pimpinan dapat dilakukan dalam bentuk bimbingan dan
pengarahan dalam pelaksanaan tugas, ketersediaan waktu atasan untuk mendengarkan
saran-saran untuk dipertimbangkan, dan sikap terbuka dalam menerima keluhan staf
serta mencari solusi untuk memberi bantuan atas permasalahan tersebut. Selain itu
juga motivasi dapat mempengaruhi kinerja pengisian pendokumentasian asuhan
keperawatan, semakin tinggi motivasi seorang perawat, maka pendokumentasian
asuhan keperawatan akan semakin lengkap, begitupun juga sebaliknya, jika seorang
perawat memiliki motivasi yang rendah maka akan mempengaruhi dalam pengisian
pendokumentasian asuhan keperawatan.
Menurut Nursalam (2008), hakikat dokumentasi asuhan keperawatan adalah
terciptanya kegiatan-kegiatan keperawatan yang menjamin tumbuhnya pandangan,
sikap, cara berfikir, dan bertindak profesional pada setiap perawat. Pendekatan yang
sistematis dan logis dengan landasan ilmiah yang benar, serta melalui dokumentasi
proses keperawatan, semua kegiatan dapat diterapkan setelah adanya perbaikan.

23

BAB IV
PLAN OF ACTION (RENCANA KEGIATAN) PRAKTEK KLINIK MANAJEMEN KEPERAWATAN
DI RUANG AR-ROYAN RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT II

NO
1

MASALAH
Kurang optimalnya
pendokumentasian di
bangsal Ar-royan RS
PKU Muhammadiyah
Yogyakarta unit II

POKOK
URAIAN
KEGIATAN
KEGIATAN
Petunjuk
teknis 1. Studi literatur
pengisian assesment 2. Penyusunan
awal
asuhan
petunjuk teknis
keperawatan
pengisian
asessment awal
asuhan
keperawatan
3. Validity content
4. Implementasi

24

SASARAN

TARGET

Perawat-perawat
di bangsal Arroyan RS PKU
Muhammadiyah
Unit II Yogyakarta

21 DES 2015

WAKTU
PELAKSANAAN
21 DES-16 JAN
2015

PENANGGUNG
JAWAB
(1) Titin
(2) Dessy
(3) Wahyudi
(4) Riya
(5) Sapna
(6) Tyas
(7) Hudan

25

BAB V
PENUTUP
Berdasarkan data yang kami dapatkan dengan selebaran angket dari 10 orang perawat
di bangsal Ar-royan yang sedang melakukan shift pagi dan siang pada tanggal 24 Desember
2015 adalah sebagai berikut:
1. Data Karakterstik Perawat
a. Usia perawat di bangsal Ar-Royan rata-rata 20-30 tahun
b. Pendidikan Terakhir 20% S1 dan 80% D3
c. Masa kerja perawat yang ada di bangsal Ar-royan RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta Unit II rata-rata 1-5 tahun
2. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan
Dari 10 perawat yang ada di bangsal Ar-royan bahwa pengisian angket belum
dijawab secara benar mulai dari pengertian dokumentasi sampai dengan standar asuhan
keperawatan yang diterapkan. Kebanyakan perawat hanya mengisi selebaran angket
tersebut berdasarkan apa yang mereka lakukan dibangsal sesuai dengan kenyataan yang
diterapkan terhadap pasien yang dirawat.
Padahal jika kita ketahui perawat yang profesional akan bertanggungjawab untuk
mendokumentasikan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. Setiap petugas
rumah sakit yang melayani dan melakukan tindakan kepada pasien pada lembar catatan
sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya. Proses keperawatan adalah cara yang
sistematis yang dilakukan oleh perawat bersama pasien dalam menentukan kebutuhan
asuhan

keperawatan

dengan

melakukan

pengkajian,

menentukan

diagnosis,

merencanakan tindakan, melaksanakan tindakan keperawatan dan melakukan evaluasi


hasil asuhan keperawatan yang telah dilakukan dengan berfokus pada pasien,
berorientasi

pada

tujuan

pada

setiap

tahap

saling

ketergantungan

dan

berkesinambungan. Bila kelengkapan penulisan pada tahapan proses asuhan


keperawatan masih banyak yang kurang dan lengkap maka tujuan keperawatan belum
bisa dicapai dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

26

Aditama. (2003). Manajemen Administrasi Rumah Sakit.Jakarta:Penerbit Universitas


Indonesia (UI-Press)
Alimul, Aziz. (2004). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Ed.2, Jakarta: Salemba
Ali.Z (2001).Dasar-Dasar Keperawatan Profesional.Jakarta: Widya Medika
Direktorat Pelayanan Keperawatan.(2011).
Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta

Pedoman

Penyelenggara

Penlayanan

Hutahaen.(2010). Konsep dan Dokumentasi Proses Keperawatan:Jakarta


Lyer Patricia,W.&Camp Nancy (2004). Dokumentasi Keperawatan: Suatu Pendektan Proses
Keperawatan :Jakarta. EGC
Nursalam (2001).Proses dan Dokumentasi Keperawatan.Konsep dan Praktik.Salemba
Medika.Jakarta
Nursalam (2009).Management Keperawatan:Aplikasi dalam Praktik Keperwatan Profesional
Edisi 2.Jakarta: Salemba Medika
ORegan P et al. (2010). Complementary Therapies: A Challege For Nursing Practice.
Nursing Standars 24 (21):35-39
Potter & Perry (2005). Buku Ajar Fundamental KEperawatan Konsep, Proses, dan Praktik
Volume 1..Edisi 4. Jakarta:EGC
Swansburg et.all (2000). pengantar kepemimpinan dan management Keperawatan untuk
perawat klinis.Jakarta:EGC.

27

LAMPIRAN

28

29

ketersediaan fasilitas dan standart asuhan keperawatan


1 1 1
1
1 1
1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 13 4 15 16 17 8 9 20

21

22

23

JML
H

Nilai

0 0 0 0 1 1 1 1 1

16

69,6

0 0 0 0 1 1 1 1 1

15

65,2

0 0 1 1 1 1 1 1 1

16

69.6

1 0 0 0 1 1 1 1 1

16

69,6

1 0 1 1 1 1 1 0 1
1 0 1 1 1 1 1 1 1

1
1

1
1

0
0

0
1

1
1

1
0

1
1

1
1

0
0

1
1

1
1

0
1

1
1

0
11

16
19

69,6
82,6

0 0 1 0 1 1 1 0 1

15

65,2

1 0 1 0 1 1 1 0 1

11

14

60,8

fasilitas dan standar


askep

kateg
ori
baik
cukup
buruk
total

JMLH
1
9
0
10

%
10%
90%
0%
100%

30

KET
cuku
p
cuku
p
cuku
p
cuku
p
cuku
p
baik
cuku
p
cuku
p