Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Teras merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya erosi.

Teraseing sering digunakan pada daerah atau kawasan berbukit dan rawan longsor.
Dengan terasering dapat menghambat terkikisnya tanah oleh aliran air hujan.
Teras sering adalah suatu konsep yang digunakan untuk meletakkan tanaman
dengan system yang bertingkat-tingkat. Lahan yang paling cocok dan pas
digunakan untuk terassering adalah lahan yang bentuknya miring.
Lahan seperti ini biasanya ditemukan didaerah perbukitan. Bentuk tanah
atau lahan yang miring akan memudahkan kita untuk membuat konsep penataan ,
karewna tinggal menyusaikan derajat kemiringan tersebut, namun demikian bukan
berarti lahan yang bentuknya datar tidak bisa digunakan untuk membuat taman
seperti ini . Ada banyak keutungan jika menggunakan konsep seperti ini. Hanya
saja utuk daerah taman yang datar, lebih banyak membutuhkan lahan untuk
mengaplikasikan teras sering ini.
Lahan miring di daerah perbukitan dibuat undak-undak atau terasering.
Usaha ini dimaksudkan agar limpasan dari daerah puncak (atas) tidak mengalir
deras melewati lereng lahan. Seandainya aliran air sangat deras melewati lahan
miring maka lapisan tanahnya tererosi dan air tidak memiliki kesempatan meresap
ke dalam tanah. Akibatnya, lahan menjadi gundul dan gersang karena lapisan
tanah hilang dan air tanah menyusut. Jadi, terasering mencegah erosi tanah dan
memberi kesempatan air meresap ke dalam tanah hingga degradasi lahan pun bisa
dicegah.

Lahan yang ada di Indonesia tidak semuanya memiliki topografi yang


datar,melainkan ada lahan yang mempunyai topografi lereng, berbukit dan
miring.Sehingga dari masing masing lahan tersebut perlu adanya perlakuan
perlakuankhusus yang diberikan supaya usaha pertanian yang dilakukan pada
lahan tersebuttidak merusak kondisi lahan dan lingkungan yang ada. Maka dari itu
untuk kondisi lahan tersebut sering dilakukan perlakuan dengan pembuatan teras,
baik berupa teras bangku, teras kredit ataupun teras gulud.Dalam pembuatan teras
perlu dilakukan pengukuran tingkat kemiringanlahan, supaya nantinya dapat
mempermudah dalam penentuan ukuran luasanteras
1.2. Tujuan Praktikum
Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui cara menghitung jumlah teras yang
harus dibuat pada suatu lahan serta dapat membuat bermacam-macam teras.

II.

TINJAUAN PUSTAKA
Terassering adalah suatu konsep yang digunakan untuk meletakkan tanaman

dengan system yang bertingkat-tingkat. Lahan yang paling cocok dan pas
digunakan untuk terassering adalah lahan yang bentuknya miring. Lahan seperti
ini biasanya ditemukan didaerah perbukitan. Bentuk tanah atau lahan yang miring
akan memudahkan kita untuk membuat konsep penataan , karewna tinggal
menyusaikan derajat kemiringan tersebut, namun demikian bukan berarti lahan
yang bentuknya datar tidak bisa digunakan untuk membuat terassering . Ada
banyak keutungan jika menggunakan konsep seperti ini (Arsyad, S. 1986).
Tujuan utama pembuatan teras adalah untuk mengurangi panjang lereng,
sehinggadapat memperkecil aliran permukaan. Di samping itu pembuatan teras
juga memberi kesempatan air untuk meresap ke dalam tanah (infiltrasi), bahkan
ada teras yang sengajadibangun supaya tanah dapat meniyimpan air (Seta, 1991).
Membagi teras berdasarkan bentuk dan fungsinya ke dalam 3 macam teras,
yaitu (a) teras saluran (channel terrace), (b) teras bangku atau teras tangga (bench
terrace), (c) teras irigasi pengairan (irrigation terrace). Teras saluran terutama
dibangun untuk mengumpulkan air aliran permukaan pada saluran yang telah
dipersiapkan untuk kemudian disalurkan pada saluran induk jalannya air, sehingga
aliran permukaan tersebut tidak menyebabkan erosi (Utomo, 1989).
Efektivitas teras bangku akan meningkat bila ditanami tanaman penguat
teras pada bibir dan tampingan teras. Beberapa penelitian membuktikan bahwa
efektivitas teras bangku bertambah dengan penanaman rumput pada bibir teras.
Pada tanah Latosol (Oxisols) di Gunasari, besarnya erosi pada tahun pertama

hanya 1,2 t ha-1 dan pada tahun kedua menurun lagi sampai 0,4 t ha-1 apabila
teras bangku diperkuat dengan rumput bede (Brachiaria decumbens) (Haryati et
al., 1992). Hasil penelitian di Sitiung, selama musim pertanaman kedelai (Glycine
max) dan jagung (Zea mays), erosi hampir tidak terjadi dengan diaplikasikannya
teras bangku yang diperkuat dengan rumput bahia (Paspalum notatum) (Talaohu
et al., 1992). Dengan dilakukannya penanaman tanaman penguat teras, akan
didapat nilai tambah lainnya dari teras bangku, yaitu sebagai sumber pakan ternak
dan bahan organik tanah (Arief, 2001).

III.

METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1.

Waktu dan Tempat


Praktikum Pembagian Jenis Teras dan Perhitungan Jumlah Teras dilaksanakan

di Laboratorium Teknik Tanah dan Air Program Studi Teknik Pertanian Fakultas
Pertanian Universitas Syiah Kuala pada hari Rabu Tanggal 18 Mei 2016 pukul
12.00 WIB sampai dengan selesai.
3.2.

Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah penggaris, alat

tulis, dan data suatu lahan.


3.3.

Cara Kerja

Dijelaskan oleh asisten mengenai jenis-jenis teras dan fungsi masing-masing


teras. Dihitung jarak vertikal dengan berdasarkan lebar bangku, kemiringan lahan
semula dan kemiringan bidang tampingan yang diformulasikan dalam rumus.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Analisa Data

Dik : Panjang lereng 200 m


Kemiringan 20%
Erodibilitas 0.65
Daerah mudah tererosi : VI = 85 + 60 cm
Daerah tidak tererosi : VI = 105 + 60 cm
Jawab :
Erosi : VI = 8 (20) + 60 = 220 cm = 2.2 m
VI =

wt x s
100

wt =

VI x 100
s

Jumlah teras =

2.2 x 100
20

panjang lereng
lebar teras

= 11 m
200 m
11

= 18 teras

Tidak mudah tererosi : VI = 10 (20) + 60 = 260 cm = 2.6 m

Jumlah teras =
2. Dik : wb = 3 m
L = 150 m

200
13

VI =

wt x s
100

Wt =

VI x 100
s

= 15 teras

2.6 x 100
20

= 13 m

S = 30%
U = 1: 0.75

Dit : a. jarak vertikal


b. lebar teras dan lebar bidanmg tampingan
c. jumlah teras yang dapat dibuat
Jawab :
a. VI =

wt x s
100(s x u)

b. lebar teras : VI =

wt =

3 x 30
100(30 x 0.75)

90
77.5

= 1.16

wt x s
100
VI x 100
s

1.16 x 100
30

= 3.87

lebar bidang tampingan ( wr ) = wt wb = 3.87 3 = 0.87 m


c. Jumlah teras =

4.2.

panjang lereng
lebar teras

150
3.87

= 39 teras

Pembahasan

Teras adalah suatu konsep yang digunakan untuk meletakkan tanaman dengan
system yang bertingkat-tingkat. Lahan yang paling cocok dan pas digunakan
untuk terassering adalah lahan yang bentuknya miring. pembuatan teras adalah
untuk mengurangi panjang lereng, sehinggadapat memperkecil aliran permukaan.
Di samping itu pembuatan teras juga memberi kesempatan air untuk meresap ke
dalam tanah (infiltrasi).
Manfaat teras adalah mengurangi kecepatan aliran permukaan sehingga daya
kikis terhadap tanah dan erosi diperkecil, memperbesar peresapan air ke dalam
tanah dan menampung dan mengendalikan kecepatan dan arah aliran permukaan
menuju ke tempat yang lebih rendah secara aman.

Teras dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara. Berdasarkan fungsi, teras


diklasifikan lagi dalam dua jenis yaitu: (a) teras intersepsi (interception terrace)

dan (b) teras diversi (diversion terrace). Pada teras intersepsi aliran permukaan
ditahan oleh saluran yang memotong lereng. Sedangkan teras diversi berfungsi
untuk mengubah arah aliran sehingga tersebar ke seluruh lahan dan tidak
terkonsentrasi pada satu tempat. Berdasarkan bentuk, teras dibedakan ke dalam
beberapa bentuk diantaranya teras kredit, teras guludan, teras datar, teras bangku,
teras kebun dan teras individu.
Ada dua tipe utama, yaitu teras bangku (bench terrace) untuk mengurangi
kemiringan lereng dan teras berdasar lebar (broadbase terrace) yang ditujukan
untuk mengurangi atau menahan air pada lahan miring. Teras berdasar lebar ini
dibagi lagi dalam bentuk teras berlereng, teras datar, dan teras berdasar sempit.
Berdasarkan bentuk dan fungsinya ke dalam 3 macam teras, yaitu (a) teras
saluran (channel terrace), (b) teras bangku atau teras tangga (bench terrace), dan
(c) teras irigasi pengairan (irrigation terrace). Teras saluran terutama dibangun
untuk mengumpulkan air aliran permukaan pada saluran yang telah disiapkan
untuk kemudian disalurkan pada saluran induk jalannya air, sehingga aliran
permukaan tersebut tidak menyebabkan erosi. Teras bangku dibangun terutama
untuk mengurangi panjang lereng. Lalu, teras pengairan dibangun untuk
menampung air hujan sehingga dapat digunakan oleh tanaman, seperti pada petakpetak sawah tadah hujan.
3 tipe utama teras, yaitu (a) teras diversi (diversion terrace), (b) teras retensi
(retention terrace), dan teras bangku (bench terrace). Tujuan utama teras diversi
adalah untuk menahan aliran di permukaan dan menyalurkannya melaluilereng ke
saluran outlet yang aman. Teras retensi digunakan jika dibutuhkan konservasi air

dengan menahannya di lereng bukit. Sedangkan teras bangku dibuat

jika

lahan sampai kemiringan 30 % akan digunakan untuk kegiatan budidaya


pertanian.
Teras datar dibuat tepat menurut arah garis kontur dan pada tanah-tanah
yang permeabilitasnya cukup besar sehingga tidak terjadi penggenangan dan tidak
terjadi aliran air melalui tebing teras. Teras datar pada dasarnya berfungsi
menahan dan menyerap air, dan juga sangat efektif dalam konservasi air di daerah
beriklim agak kering pada lereng sekitar dua persen.
Tujuan pembuatan teras datar adalah untuk memperbaiki pengaliran air
dan pembasahan tanah, yaitu dengan pembuatan selokan menurut garis kontur.
Tanah galian ditimbun di tepi luar sehingga air dapat tertahan dan terkumpul. Di
atas pematang sebaiknya ditanami tanaman penguat teras berupa rumput makanan
ternak.
Teras kredit merupakan bangunan konservasi tanah berupa guludan tanah
atau batu sejajar kontur, bidang olah tidak diubah dari kelerengan tanah asli. Teras
kredit merupakan gabungan antara saluran dan guludan menjadi satu. Teras kredit
biasanya dibuat pada tempat dengan kemiringan lereng antara 3 sampai 10 persen,
dengan cara membuat jalur tanaman penguat teras (lamtoro, kaliandra, gamal)
yang ditanam mengikuti kontur. Jarak antara larikan 5 sampai 12 meter. Tanaman
pada larikan teras berfungsi untuk menahan butir-butir tanah akibat erosi dari
sebelah atas larikan. Lama kelamaan permukaan tanah bagian atas akan menurun,
sedangkan bagian bawah yang mendekat dengan jalur tanaman akan semakin

10

tinggi. Proses ini berlangsung terus-menerus sehingga bidang olah menjadi datar
atau mendekati datar.
Teras guludan adalah suatu teras yang membentuk guludan yang dibuat
melintang lereng dan biasanya dibuat pada lahan dengan kemiringan lereng 10
15 %. Sepanjang guludan sebelah dalam terbentuk saluran air yang landai
sehingga dapat menampung sedimen hasil erosi. Saluran tersebut juga berfungsi
untuk mengalirkan aliran permukaan dari bidang olah menuju saluran pembuang
air. Kemiringan dasar saluran 0,1%. Teras guludan hanya dibuat pada tanah yang
bertekstur lepas dan permeabilitas tinggi. Jarak antar teras guludan 10 meter tapi
pada tahap berikutnya di antara guludan dibuat guludan lain sebanyak 3 5 jalur
dengan ukuran lebih kecil.
Teras bangku adalah bangunan teras yang dibuat sedemikian rupa sehingga
bidang olah miring ke belakang (reverse back slope) dan dilengkapi dengan
bangunan pelengkap lainnya untuk menampung dan mengalirkan air permukaan
secara aman dan terkendali.
Teras kebun dibuat pada lahan-lahan dengan kemiringan lereng antara 30
50 % yang direncanakan untuk areal penanaman jenis tanaman perkebunan.
Pembuatan teras hanya dilakukan pada jalur tanaman sehingga pada areal tersebut
terdapat lahan yang tidak diteras dan biasanya ditutup oleh vegetasi penutup
tanah. Ukuran lebar jalur teras dan jarak antar jalur teras disesuaikan dengan jenis
komoditas. Dalam pembuatan teras kebun, lahan yang terletak di antara dua teras
yang berdampingan dibiarkan tidak diolah.

11

Teras individu dibuat pada lahan dengan kemiringan lereng antara 30 50


% yang direncanakan untuk areal penanaman tanaman perkebunan di daerah yang
curah hujannya terbatas dan penutupan tanahnya cukup baik sehingga
memungkinkan pembuatan teras individu. Teras dibuat berdiri sendiri untuk setiap
tanaman (pohon) sebagai tempat pembuatan lobang tanaman. Ukuran teras
individu disesuaikan dengan kebutuhan masing masing jenis komoditas. Cara
dan teknik pembuatan teras individu cukup sederhana yaitu dengan menggali
tanah pada tempat rencana lubang tanaman dan menimbunnya ke lereng sebelah
bawah sampai datar sehingga bentuknya seperti teras bangku yang terpisah. Tanah
di sekeliling teras individu tidak diolah (tetap berupa padang rumput) atau
ditanami dengan rumput atau tanaman penutup tanah.
Teras saluran atau lebih dikenal dengan rorak atau parit buntu adalah
teknik konservasi tanah dan air berupa pembuatan lubang-lubang buntu yang
dibuat untuk meresapkan air ke dalam tanah serta menampung sedimen-sedimen
dari bidang olah.
Teras batu adalah penggunaan batu untuk membuat dinding dengan jarak
yang sesuai di sepanjang garis kontur pada lahan miring. Tujuannya adalah: (a)
memanfaatkan batu-batu yang ada di permukaan tanah agar lahan dapat
dimanfaatkan sebagai bidang olah, (b) mengurangi kehilangan tanah dan air serta
untuk menangkap tanah yang meluncur dari bagian atas sehingga secara bertahap
dapat terbentuk teras bangku dan hillslide ditches, (c) mengurangi kemiringan
lahan untuk memberi bidang olah, konservasi tanah dan mekanisasi pertanian.

PENUTUP
5.1.

Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah :
1. Teras di buat untuk mengurangi panjang lereng, sehinggadapat
memperkecil aliran permukaan.
2. Berdasarkan fungsi, teras diklasifikan lagi dalam dua jenis yaitu teras
intersepsi dan teras diversi.
3. Berdasarkan bentuk, teras dibedakan menjadi teras kredit, teras guludan,
teras datar, teras bangku, teras kebun dan teras individu.
4. Tujuan teras diversi adalah untuk menahan aliran di permukaan dan
menyalurkannya melalui lereng ke saluran outlet yang aman.
5. Teras bangku dibuat jika lahan sampai kemiringan 30 % akan digunakan
untuk kegiatan budidaya pertanian.

5.2.

Saran
Seharusnya jadwal praktikum dipersiapkan lebih awal agar masa akhir

praktikum dan jadwal akhir kuliah bisa bersamaan.

12

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, S.1986. Konservasi Tanah dan Air. Institut Pertanian Bogor Press. \
Bogor.
Arief, A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Kanisius, Jakarta.
Utomo, W.W. 1983. Pengawetan Tanah. UNIBRAW. Malang
Seta, A.K. 1991. Konservasi Sumberdaya. Tanah dan Air; Cetakan ke-2.Kalam
Mulia.Jakarta.

13

Anda mungkin juga menyukai