Anda di halaman 1dari 7

9. Cara-cara Pemberantasan

A. Tindakan pencegahan

1)

Buanglah tinja di jamban yang saniter.

500

2) Lakukan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat untuk benar-benar memperhatikan kebersihan perorangan dan kebersihan lingkungan. Gunakan alas kaki di daerah endemis. 3) Sebelum memberikan terapi imunosupresif kepada seseorang, Pastikan bahwa orang tersebut tidak menderita strongyloidiasis. 4) Periksa semua najing, kucing, kera yang kontak dekat dengan manusia, obati binatang yang terinfeksi cacing ini.

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar

1) Laporan ke Dinas Kesehatan setempat: Penyakit ini tidak wajib dilaporkan, Kelas 5 (lihat tentang laporan penyakit menular).

2)

Isolasi: Tidak ada.

3)

Tindakan disinfeksi: Membuang feces secara saniter.

4)

Karantina: Tidak ada.

5)

Imunisasi terhadap kontak: Tidak ada.

6) Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi: Terhadap anggota keluarga penderita dan penghuni asrama dimana ada penderita dilakukan pemeriksaan Kalau-kalau ada yang terinfeksi. 7) Pengobatan spesifik: Karena adanya potensi untuk autoinfeksi dan penularan kepada orang lain, semua penderita tanpa melihat jumlah cacing yang

dikandungnya harus dilakukan pengobatan dengan ivermectin (Mectizan ® ), Thiabendazole (Mintezol ® ) atau albendazole (Zentel ® ). Perlu diberikan pengobatan ulang.

C. Penanggulangan wabah: Tidak diterapkan karena merupakan penyakit yang sporadis.

D. Implikasi bencana: Tidak ada.

E. Tindakan Internasional: Tidak ada.

SIFILIS

I.

SIFILIS (Lues)

ICDC-9 090-096; ICD-10 A50-A52

1.

Identifikasi Sifilis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi treponema yang bersifat akut dan kronis ditandai dengan lesi primer diikuti dengan erupsi sekunder pada kulit dan selaput lendir kemudian masuk kedalam periode laten diikuti dengan lesi pada kulit, lesi pada tulang, saluran pencernaan, sistem syaraf pusat dan sistem kardiovaskuler.

501

Lesi primer (Chancre = ulcus durum) biasanya muncul 3 minggu setelah terpajan. Lesi biasanya keras (indurasi), tidak sakit, berbentuk ulcus dengan mengeluarkan eksudat serosa ditempat masuknya mikroorganisme. Masuknyaa mikroorganisme kedalam darah terjadi sebelum lesi primer muncul, biasanya ditandai dengan terjadinya pembesaran kelenjar limfe (bubo) regional, tidak sakit, keras nonfluktuan. Infeksi juga dapat terjadi tanpa ditemukannya chancer (ulcus durum) yang jelas, misalnya kalau infeksi terjadi di rectum atau cervix. Walaupun tidak diberi pengobatan, ulcus akan menghilang sendiri setelah 4 – 6 minggu. Sepertiga dari kasus yang tidak diobati mengalami stadium generalisata, stadium dua, dimana muncul erupsi dikulit yang kadangkala disertai dengan gejala konstitusional tubuh. Timbul ruam makulo papuler bisanya pada telapak tangan dan telapak kaki diikuti dengan limfadenopati. Erupsi sekunder ini merupakan gejala klasik dari sifilis yang akan menghilang secara spontan dalam beberapa minggu atau sampai dua belas bulan kemudian. Penderita stadium erupsi sekunder ini, sepertiga dari mereka yang tidak diobati akan masuk kedalam fase laten selama berminggu minggu bahkan selama bertahun tahun. Pada awal fase laten sering muncul lesi infeksius yang berulang pada kulit dan selaput lendir. Terserangnya Susunan Syaraf Pusat (SSP) ditandai dengan gejala meningitis sifilitik akut dan berlanjut menjadi sifilis meningovaskuler dan akhirnya timbul paresis dan tabes dorsalis. Periode laten ini kadang kala berlangsung seumur hidup. Pada kejadian lain yang tidak dapat diramalkan, 5 – 20 tahun setelah infeksi terjadi lesi pada aorta yang sangat berbahaya (sifilis kardiovaskuler) atau gumma dapat muncul dikulit, saluran pencernaan tulang atau pada permukaan selaput lendir. Stadium awal sifilis jarang sekali menimbulkan kematian atau disabilitas yang serius, sedangkan stadium lanjut sifilis memperpendek umur, menurunkan kesehatan dan menurunkan produktivitas dan efisiensi kerja. Mereka yang terinfeksi sifilis dan pada saat yang sama juga terkena infeksi HIV cenderung akan menderita sifilis SSP; oleh karena itu setiap saat ada penderita HIV dengan gejala SSP harus dipikirkan kemungkinan yang bersangkutan menderita neurosifilis (neurolues). Infeksi pada janin terjadi pada ibu yang menderita sifilis stadium awal pada saat mengandung bayinya dan ini sering sekali terjadi sedangkan frekuensinya makin jarang pada ibu yang menderita stadium lanjut sifilis pada saat mengandung bayinya. Infeksi pada janin dapat berakibat terjadi aborsi, stillbirth, atau kematian bayi karena lahir prematur atau lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) atau mati karena menderita penyakit sistemik. Infeksi kongenital dapat berakibat munculnya manifestasi klinis yang muncul kemudian berupa gejala neurologis terserangnya SSP. Dan kadangkala infeksi kongenital dapat mengakibatkan berbagai kelainan fisik yang dapat menimbulkan stigmatisasi di masyarakat seperti gigi Hutchinson, saddlenose (hidung berbentuk pelana kuda), saber shins (tulang kering berbentuk pedang), keratitis interstitialis dan tuli. Sifilis kongenital kadang kala asimtomatik, terutama pada minggu-minggu pertama setelah lahir. Diagnosa sifilis dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan serologis terhadap darah dan liquor cerebrospinalis. Reaksi yang positif terhadap antigen nontreponemal (misalnya terhadap RPR (rapid plasma reagine) atau terhadap tes VDRL (Venereal Disease Research Laboratory) perlu dikonfirmasi lagi dengan pemeriksaan menggunakan antigen treponema (seperti FTA – Abs (Fluorescent treponemal antibody absorbed). Jika FTA Abs ini tersedia, bermanfaat untuk menyingkirkan hasil pemeriksaan yang “false-positive”. Untuk melakukan skrining pada bayi baru lahir penggunaan serum

502

lebih baik daripada darah tali pusat, karena darah tali pusat lebih sering memberi hasil “false-positive”. Diagnosa sifilis primer dan sekunder dapat ditegakkan dengan pemeriksaan mikroskopis dengan teknik lapangan gelap (dark field/dunkelfeld) atau dengan pemeriksaan fase kontras atau dengan teknik pengecatan antibodi FA dari eksudat yang diambil dari sampel atau aspirat kelenjar getah bening dengan catatan penderita belum diberi pengobatan antibiotika. Pemeriksaan serologis biasanya memberi hasil negatif pada awal stadium pertama walaupun pada saat itu Chancre (ulcus durum) masih ada. Pada saat masih ditemukan ada ulcus maka pemeriksaan mikroskopis menggunakan teknik lapangan gelap adalah yang paling baik lebih-lebih pada stadium awal sifilis primer yang biasanya memberikan hasil negatif pada pemeriksaan serologis. Catatan : Pada kepustakaan lama perkembangan sifilis (lues) dibagi kedalam 4 stadium :

- Stadium I

- Stadium II

- Stadium III

- Stadium IV

: adanya ulcus durum

: disebut stadium generalisata

: stadium gumma

: disebut juga stadium Neurolues

2. Penyebab penyakit : Treponema pallidum, subspesies pallidum, termasuk spirocheta.

3. Distribusi penyakit Sifilis tersebar diseluruh dunia; di AS yang paling sering terkena infeksi adalah golongan usia muda berusia antara 20 – 29 tahun, yang aktif secara seksual. Adanya perbedaan prevalensi penyakit pada ras yang berbeda lebih disebabkan oleh faktor sosial daripada faktor faktor biologis. Sifilis juga lebih tinggi prevalensinya didaerah perkotaan dibandingkan dengan didaerah pedesaan dan juga pada ras dan kultur tertentu. Laki-laki lebih sering terinfeksi daripada wanita. Pada tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an, prevalensi tinggi dijumpai pada kelompok homoseksual laki-laki dan pada tahun 1983 menurun secara drastis.

Dibanyak wilayah di AS, terutama di daerah perkotaan dan di daerah pedesaan bagian selatan kejadian sifilis dan sifilis kongenital yang dilaporkan meningkat sejak tahun 1986 dan berlanjut sampai dengan tahun 1990 dan kemudian menurun sesudah itu. Peningkatan ini terjadi terutama dikalangan masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah dan dikalangan anak-anak muda. Faktor risiko yang melatar belakangi peningkatan prevalensi sifilis pada kelompok ini antara lain pemakaian obat obat terlarang, prostitusi, AIDS dan hubungan seks pertama kali pada usia muda. Tahun 1991, sejak tahun 1985 merupakan tahun pertama kali kasus sifilis yang dilaporkan menurun drastis, penyebabnya tidak diketahui dengan jelas. Penyakit kelamin pada usia muda dan sifilis kongenital meningkat secara bermakna hampir diseluruh dunia sejak tahun 1957.

4. Reservoir: - Manusia

5. Cara-cara Penularan Cara penularan sifilis adalah dengan cara kontak langsung yaitu kontak dengan eksudat infeksius dari lesi awal kulit atau selaput lendir pada saat melakukan hubungan seksual dengan penderita sifilis.

503

Lesi bisa terlihat jelas ataupun tidak terlihat dengan jelas. Pemajanan hampir seluruhnya terjadi karena hubungan seksual. Penularan karena mencium atau pada saat menimang bayi dengan sifilis kongenital jarang sekali terjadi. Infeksi transplasental terjadi pada saat janin berada didalam kandungan ibu yang menderita sifilis. Transmisi melalui darah donor bisa terjadi jika donor menderita sifilis pada stadium awal. Penularan melalui barang-barang yang tercemar secara teoritis bisa terjadi namun kenyataannya boleh dikatakan tidak pernah terjadi. Petugas kesehatan pernah dilaporkan mengalami lesi primer pada tangan mereka setelah melakukan pemeriksaan penderita sifilis dengan lesi infeksius.

6. Periode inkubasi: Dari 10 hari sampai 3 minggu, biasanya 3 minggu.

7. Masa Penularan Penularan dapat terjadi jika ada lesi mukokutaneus yang basah pada penderita sifilis primer dan sekunder. Namun jika dilihat dari kemampuannya menularkan kepada orang lain, maka perbedaan antara stadium pertama dan stadium kedua yang infeksius dengan stadium laten yang non infeksius adalah bersifat arbitrari, oleh karena lesi pada penderita sifilis stadium pertama dan kedua bisa saja tidak kelihatan.

Lesi pada sifilis stadium dua bisa muncul berulang dengan frekuensi menurun 4 tahun setelah infeksi. Namun penularan jarang sekali terjadi satu tahun setelah infeksi. Dengan demikian di AS penderita sifilis dianggap tidak menular lagi setahun setelah infeksi. Transmisi sifilis dari ibu ke janin kemungkinan terjadi pada ibu yang menderita sifilis stadium awal namun infeksi dapat saja berlangsung selama stadium laten.

Bayi yang menderita sifilis mempunyai lesi mukokutaneus basah yang muncul lebih menyebar dibagian tubuh lain dibandingkan dengan penderita sifilis dewasa. Lesi basah ini merupakan sumber infeksi yang sangat potensial.

8. Kekebalan dan Kerentanan terpajan pallidium Semua orang akan dan rentan terkena kadang terhadap infeksi. kala terbentuk infeksi Setelah sifilis, infeksi antibodi walaupun biasanya heterologus hanya terbentuk 30% terhadap saja antibodi dari treponema mereka terhadap yang lain. T. Antibodi Adanya infeksi tidak HIV terbentuk menurunkan kalau dilakukan kemampuan pengobatan penderita awal melawan pada T. stadium pallidum. satu dan dua.

9. Cara – cara Pemberantasan

A. Upaya pencegahan Secara umum tindakan-tindakan pencegahan berikut ini dapat diterapkan pada semua jenis PMS (penyakit menular seksual); seperti sifilis, infeksi HIV, chancroid, lymphogranuloma venereum, granuloma inguinale, gonorrhea, infeksi virus herpes simplex, infeksi papillomavirus pada genitalia manusia (genital warts), trichomoniasis, bakteriae vaginosis, hepatitis B yang ditularkan lewat hubungan seksl, infeksi-infeksi chlamydial dan genital mycoplasma. Upaya deteksi dini dan pengobatan dini pada penderita sifilis menular dan kontak mereka sebaiknya tidak mengabaikan pencarian penderita sifilis laten tanpa gejala untuk mencegah kambuhnya penyakit dan mencegah kecacatan yang disebabkan manifestasi klinis yang muncul terlambat.

504

1) Didik masyarakat tentang cara-cara umum menjaga kesehatan, berikan petunjuk

tentang kesehatan dan hubungan seks yang sehat. Jelaskan manfaat tentang menunda aktivitas seksual sampai pada usia matang secara seksual demikian juga jelaskan pentingnya perkawinan monogami dan mengurangi jumlah pasangan seksual. Pemeriksaan serologi sifilis sebaiknya dilakukan untuk semua kasus PMS dan sebagai prosedur rutin pada perawatan antenatal. Sifilis kongenital dicegah dengan melakukan pemeriksaan serologis pada kehamilan dini dan diulang lagi pada kehamilan tua dan pada saat partus pada populasi dengan prevalensi tinggi; berikan pengobatan kepada mereka yang hasil pemeriksaan serologisnya positif. Lindungi masyarakat dari infeksi sifilis dengan cara mencegah dan mengendalikan

2)

PMS pada para pekerja seks komersial (PSK) dan pelanggan mereka melalui penyuluhan tentang bahayanya memiliki banyak pasangan seksual dan hindari hubungan seksual dengan orang yang tidak dikenal. Dari penyuluhan tentang tindakan profilaksis untuk mencegah infeksi sebelum, pada waktu dan sesudah pemajanan. Terutama sekali ajarkan tentang cara-cara menggunakan kondom yang tepat dan konsisten. 3) Sediakan fasilitas pelayanan kesehatan untuk diagnosa dini dan pengobatan dini PMS. Jelaskan tentang manfaat fasilitas ini melalui penyuluhan kesehatan masyarakat dan jelaskan juga tentang gejala-gejala PMS dan cara-cara penyebarannya; bentuk fasilitas pelayanan kesehatan ini hendaknya sesuai dengan budaya setempat dan mudah diakses dan dapat diterima oleh masyarakat, tanpa mempertimbangkan status sosial ekonomi seseorang. Buatlah program penemuan kasus secara intensif termasuk kegiatan melakukan anamnesis penderita, motifikasi pasangan seksual mereka. Lakukan pemeriksaan serologis ulang untk sifilis diwilayah dimana prevalensi PMS nya tinggi. Lakukan pemeriksaan serologis lain untuk mengesampingkan kemungkinan infeksi PMS lainnya atau infeksi HIV.

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya

1) Laporan ke Dinas Kesehatan setempat: Kasus sifilis infeksius dini dan sifilis kongenital wajib dilaporkan hampir di semua wilayah negara bagian dan bervariasi di berbagai negera, Kelas 2A (lihat laporan penyakit menular), dihampir semua negara bagian laboratorium-laboratorium diwajibkan melapor jika menemukan

spesimen yang memberikan hasil serologis reaktif dan pemeriksaan mikroskopis lapangan gelap positif. Kerahasiaan penderita harus dijaga. 2) Isolasi: untuk pasien-pasien rawat inap, tindakan kewaspadaan universal untuk darah dan sekret harus dilakukan. Penderita harus menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seksual sampai pengobatan lengkap dan semua lesi menghilang; untuk menghindari reinfeksi, mereka harus menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seksual dengan pasangan-pasangan sebelumnya sampai pasangan tersebut selesai di periksa dan diobati. 3) Disinfeksi serentak: Tidak ada jika penderita mendapat pengobatan yang cukup mamadai; hati-hati dan hindari kontak dengan discharge yang keluar dari lesi terbuka dan dengan benda-benda yang terkontaminasi.

4)

Karantina: Tidak ada

5)

Imunisasi pada kontak: Tidak ada

505

6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: ciri dasar dari program pemberantasan sifilis adalah anamnesis yang dilakukan terhadap penderita untuk mengetahui pasangan seks mereka darimana mereka tertulari dan untuk mencari orang yang tertulari oleh penderita itu sendiri. Pewawancara yang terlatih akan memberikan hasil yang lebih baik. Tingkat stadium penyakit yang diderita sangat menentukan kriteria notifikasi dari pasangan seks mereka misalnya : a) untuk sifilis primer, seluruh pasangan seks mereka selama 3 bulan sebelum timbul gejala harus dicari; b) untuk sifilis sekunder yang dicari adalah seluruh kontak selama 6 bulan sebelum timbul gejala klinis; c) sedangkan untuk sifilis laten fase awal kontak yang ditelusuri adalah pasangan seks selama setahun dengan catatan jika saat stadium primer dan stadium sekunder tidak diketahui; d) untuk sifilis lanjut dan sifilis laten lanjut, seluruh pasangan sah dan anak-anak yang lahir dari ibu yang terinfeksi harus dicari; e) untuk sifilis kongenital, seluruh anggota terdekat penderita harus ditelusuri. Sebagai tindak lanjut dari investigasi, seluruh pasangan seksual dari penderita sifilis stadium awal selama 90 hari sebelum diagnosa ditegakkan harus diberikan pengobatan. Penderita sifilis dan pasangan seks mereka dianjurkan untuk mendapatkan konseling dan pemeriksaan HIV. Bayi yang lahir dari ibu sero positif harus diberi pengobatan dengan penisilin jika ibunya tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat pada bulan terakhir kehamilan. 7) Pengobatan spesifik: Obat spesifik adalah Long acting penisilin G (benzathin penicillin), sebesar 2,4 juta unit diberikan segera setelah penderita didiagnosa sebagai penderita sifilis primer, sekunder atau sifilis laten awal; hal ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa telah dilakukan pengobatan yang efektif walaupun penderita tidak kembali lagi. Obat alternatif yang dapat diberikan untuk penderita yang alergi terhadap penisilin adalah: doksisiklin PO, 100 mg dua kali sehari selama 14 hari atau tetrasiklin PO (per oral) empat kali sehari selama 14 hari.

Pengobatan alternatif untuk pasien-pasien alergi pinisilin tanpa kehamilan:

doxycycline PO, 100 mg dua kali sehari untuk 14 hari atau tetrasiklin PO, 500 mg empat kali sehari untuk 14 hari Pemeriksaan serologis perlu dilakukan untuk menilai hasil pengobatan; pemeriksaan serologis dilakukan 3 bulan dan 6 bulan setelah pengobatan dan diulang lagi beberapa saat setelah itu jika diperlukan. Penderita sifilis yang juga menderita HIV, pemeriksaan serologis dilakukan berulang pada bulan 1, 2, 3 setelah pengobatan dan setelah itu dilakukan lagi dengan interval 3 bulan. Jika terjadi peningkatan titer sebesar 4 kali atau lebih, berikan pengobatan ulang. Tiga bulan setelah pengobatan sifilis primer atau sifilis sekunder, tidak terjadi penurunan titer antibodi dibawah 4 kali kenaikan, menandakan bahwa pengobatan yang diberikan gagal. Dosis perlu ditingkatkan dan diberikan dalam jangka waktu yang lebih panjang pada sifilis stadium lanjut (yaitu benzathin penicilin G sebesar 7.2 juta unit keseluruhan diberikan IM dengan interval satu minggu). Perlu dipertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan liquor cerebrospinalis (LCS) bagi penderita yang diduga mempunyai risiko terkena neurolues; dan bagi mereka yang gagal pengobatan, bagi mereka yang terinfeksi HIV dan bagi mereka yang menunjukkan gejala neurologis.

506

Untuk neurolues, diberikan penisilin G kristal dalam larutan aqua sebanyak 18 – 24 juta unit sehari, diberikan 3 –4 juta unit setiap 4 jam intravena selama 10 – 14 hari. Sebagai terapi alternatif dapat diberikan procaine penicillin sebesar 2 – 4 juta unit setiap hari IM ditambah dengan probenecid PO, 500mg, 4 kali sehari, dua duanya diberikan selama 10 – 14 hari. Kebersihan pengobatan dievaluasi dengan pemeriksaan serologis dan pemeriksaan LCS setiap 6 bulan sampai hitung sel normal. Wanita hamil yang sensitif terhadap derivat penisilin baik yang major maupun minor perlu dilakukan tes kulit (skin test), jika antigennya ada. Untuk ibu hamil yang sensitif terhadap penisilin dapat diberikan eritromisin dengan risiko tingkat kegagalannya tinggi. Penderita yang alergi terhadap penisilin dapat dilakukan desensitisasi, kemudian dapat diberikan penisilin dengan dosis sesuai dengan stadium penyakitnya. Untuk sifilis kongenital awal, penisilin G kristal yang dilarutkan dalam aqua diberikan sebanyak 50.000 unit/kgbb/dosis, diberikan IV atau IM setiap 12 jam sekali pada usia satu minggu dilanjutkan setiap 8 jam selama 10-14 hari kemudian. Untuk sifilis kongenital lanjut dimana hasil pemeriksaan LCS normal dan tidak ada gejala-gejala neurologis, bayi dapat diobati seperti pengobatan sifilis laten. Jika hasil pemeriksaan LCS tidak normal maka dilakukan pengobatan seperti pada neurolues yaitu : 200.000 unit/kgbb/dosis penisilin G kristal yang dilarutkan dalam aqua setiap 6 jam diberikan selama 10 – 14 hari.

C. Upaya penanggulangan wabah: Pada waktu KLB, lakukan tindakan intensifikasi seperti yang diuraikan pada bagian 9A dan 9B diatas.

D. Implikasi bencana: Tidak ada

E. Tindakan Internasional :

1) Lakukan pemeriksaan terhadap kelompok-kelompok remaja dan kelompok dewasa

muda yang pindah dari wilayah dengan prevalensi infeksi treponema tinggi 2) Mentaati perjanjian-perjanjian internasional (misalnya perjanjian Brussels) yang menyatakan bahwa semua penderita harus dicatat, adakan fasilitas diagnosa dan pengobatan, lakukan wawancara kontak terhadap awak kapal dipelabuhan- pelabuhan laut.

3)

Sediakan fasilitas pertukaran informsai cepat secara internasional tentang kontak

4)

Manfaatkan Pusat Kerja sama WHO

II. SIFILIS ENDEMIK NON VENEREAL (Bejel, Njovera)

ICD-9 104.0; ICD-10 A65

1.

Identifikasi Merupakan penyakit akut dengan distribusi geografis terbatas ditandai dengan munculnya erupsi pada kulit dan selaput lendir biasanya tanpa adanya lesi primer. Lesi pertama yang biasanya muncul adalah berupa lesi pada mukosa mulut menyerupai selaput (mucous patches), kemudian muncul lesi berbentuk papula basah pada lipatan kulit dan lesi kering dibagian tubuh lain dan ekstremitas.