Anda di halaman 1dari 32

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

CEDERA KEPALA BERAT


I. KONSEP KLINIS
A. PENGERTIAN
Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau
tanpa disertai perdarahan interstitial dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya
kontinuitas otak (Muttaqin 2008).
Menurut Brain Injury Assosiation of America, 2006. Cedera kepala adalah suatu
kerusakan pada kepala bukan bersifat congenital ataupun degenerative, tetapi
disebabkan serangan/benturan fisik dari luar yang dapat mengurangi atau mengubah
kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi
fisik. Cedera kepala atau trauma kepala adalah gangguan fungsi normal otak karena
trauma baik trauma tumpul maupun trauma tajam. Defisit neorologis terjadi karena
robeknya substansia alba, iskemia dan pengaruh massa karena hemoragig, serta edema
cereblal disekitar jaringan otak. (B.Batticaca, 2008).
Cedera kepala adalah cedera yang meliputi trauma kulit kepala,tengkorak dan otak.
Cedera kepala paling sering dan penyakit neurologik yangserius diantara penyakit
neurologik dan merupakan proporsi epidemic sebagai hasil kecelakaan jalan raya
(Smeltzer & Bare 2001).
B. ANATOMI FISIOLOGI

Tulang tengkorak yang tebal dan keras membantu melindungi otak,tetapi meskipun
memiliki helm alami, otak sangat peka terhadap berbagai jenis cedera.
Otak bisa terluka meskipun tidak terdapat luka yang menembus tengkorak.
berbagai cedera bisa disebabkan oleh percepatan mendadak yang memungkinkan
terjadinya benturan atau karena perlambatan mendadak yang terjadi jika kepala

membentur objek yang tidak bergerak. Kerusakan otak bisa terjadi pada titik benturan
dan

pada

sisi

yang

berlawanan.

Cedera kepala yang berat dapat merobek, meremukkan atau menghancurkan saraf,
pembuluh darah dan jaringan di dalam atau di sekeliling otak. Bisa terjadi kerusakan
pada jalur saraf, perdarahan atau pembengkakan hebat.
Perdarahan, pembengkakan dan penimbunan cairan (edema) memiliki efek yang sama
yang ditimbulkan oleh pertumbuhan massa di dalam tengkorak. Karena tengkorak
tidak dapat bertambah luas, maka peningkatan tekanan bisa merusak atau
menghancurkan

jaringan

otak.

Karena posisinya di dalam tengkorak, maka tekanan cenderung mendorong otak ke


bawah. Otak sebelah atas bisa terdorong ke dalam lubang yang menghubungkan otak
dengan batang otak, keadaan ini disebut herniasi. Sejenis herniasi serupa bisa
mendorong otak kecil dan batang otak melalui lubang di dasar tengkorak (foramen
magnum) ke dalam medula spinalis. Herniasi ini bisa berakibat fatal karena batang
otak mengendalikan fungsi vital (denyut jantung dan pernafasan).

Meninges
Meninges adalah selubung jaringan ikat non sarafi yang membungkus otak dan
medulla spinalis yang barisi liquor cerebrospinal dan berfungsi sebagai schock
absorber. Meninges terdiri dari tiga lapisan dari luar kedalam yaitu : duramater,
arachnoidea dan piamater.
a. Duramater
Merupakan selaput padat, keras dan tidak elastis. Duramater pembungkus medulla
spinalis terdiri atas satu lembar, sedangkan duramater otak terdiri atas dua lembar
yaitu lamina endostealis yang merupakan jaringan ikat fibrosa cranium, dan

lamina meningealis. Membentuk lipatan / duplikatur dibeberapa tempat, yaitu


dilinea mediana diantara kedua hehemispherium cerebri disebut falx cerebri ,
berbentuk segitiga yang merupakan lanjutan kekaudal dari falx cerebri disebut
Falx cerebelli, berbentuk tenda yang merupakan atap dari fossa cranii posterior
memisahkan cerebrum dengan cerebellum disebut tentorium cerebelli, dan
lembaran yang menutupi sella tursica merupakan pembungkus hipophysis disebut
diafragma sellae. Diantara dua lembar duramater, dibeberapa tempat membentuk
ruangan disebut sinus ( venosus ) duramatris.
Sinus duramatis menerima aliran dari vv. Cerebri, vv. Diploicae, dan vv. Emissari.
Ada dua macam sinus duramatis yang tunggal dan yang berpasangan. Sinus
duramater yang tunggal adalah : sinus sagitalis superior, sinus sagitalis inferior,
sinus rectus, dan sinus occipitalis. Sinus sagitalis superior menerima darah dari vv.
Cerebri,vv. Diploicae, dan vv. Emissari.Sinus sagitalis inferior menerima darah
dari facies medialis otak. Sinus rectus terletak diantara falx cerebri dan tentorium
cerebelli, merupakan lanjutan dari v. cerebri magna, dengan sinus sagitalis
superior membentuk confluens sinuum. Sinus occipitalis mulai dari foramen
magnum, bergabung dengan confluens sinuum.
Sinus duramater yang berpasangan yaitu sinus tranversus, sinus cavernosus, sinus
sigmoideus dan sinus petrosus superior dan inferior. Sinus tranversus menerima
darah dari sinus sagitalis superior dan sinus rectus, kemudian mengalir ke v.
jugularis interna. Sinus sigmoideus merupakan lanjutan sinus tranversus berbentuk
huruf S. Sinus petrosus superior dan inferior menerima darah dari sinus cavernosus
dan mengalirkan masing masing ke sinus traaanversus dan v. jugularis interna.
b. Aracnoidea
Membran halus disebelah dalam duramater, tidak masuk kedalam sulcus / fissura
kecuali fissura longitudinalis. Dari aracnoidea banyak muncul trabecula halus
menuju kepiamater membentuk bangunan seperti sarang laba laba.
Diantara aracnoidea dan piamater terdapat ruang spatium subaracnoidale, yang
dibeberapa tempat melebar membentuk cisterna. Sedangkan celah sempit diantara
duramater dan aracnoidea disebut spatium subdurale, celah sempit diluar
duramater disebut spatium epidurale.
Dari aracnoidea juga muncul jonjot jonjot yang mengadakan invaginasi ke
duramater disebut granulasio aracnoidales terutama didaerah sinus sagitalis yang
berfungsi klep satu arah memungkinkan lalunya bahan bahan dari LCS ke sinus
venosus.
c. Piamater
Piamater melekat erat pada otak dan medulla spinalis, mengikuti setiap lekukan,
mengandung vasa kecil. Ditempat tertentu bersama dengan ependyma membentuk

tela choroidea. Piamater berperan sebagai barrier terhadap masuknya senyawa


yang

membahayakan.

C. EPIDEMIOLOGI
Di Amerika cedera kepala merupakan penyebab kematian terbanyak usia 15 44 tahun
dan merupakan penyebab kematian ketiga untuk keseluruhan. Di negara berkembang
seperti Indonesia, seiring dengan kemajuan teknologi dan pembangunan frekuensinya
cenderung makin meningkat. Cedera kepala berperan pada hampir separuh dari seluruh
kematian akibat trauma, mengingat bahwa kepala merupakan bagian yang tersering dan
rentan terlibat dalam suatu kecelakaan.
"Gegar otak tampaknya meningkatkan penyakit Alzheimer atau demensia di kemudian
hari,"cetus Dr Kristine Yaffe,pimpinan penelitian yang berasal dari University of
California, profesor dan direktur Klinik Gangguan Memori di San Francisco VA
Medical Center, seperti dikutip Straits Times, Senin (18/7/2011).
Penelitian yang dilaporkan di Konfrensi Asosiasi Alzheimer Internasional di Perancis,
tantangan tampilan saat ini yang hanya cedera otak sedang atau berat mempengaruhi
orang untuk menderita demensia.
Di Surabaya, kasus cedera otak akibat kecelakaan masih terbilang tinggi. Data RSUD
Dr. Soetomo Surabaya menunjukkan sepanjang tahun 2010 tercatat kasus cedera otak
mencapai 1503 kasus. Ini baru satu rumah sakit, belum lagi ditambah dengan data dari
wilayah lain di Surabaya dan rumah sakit luar kota.
Ahli bedah syaraf RSUD dr. Soetomo ini mengatakan, tingginya angka kecelakaan
saat ini dipengaruhi banyak hal, selain kurangnya kedisiplinan pengendara dalam
berlalu lintas, kemacetan dan situasi angkutan umum yang kurang menjamin keamanan
juga menjadi alasan banyak orang

cenderung memilih sepeda motor sebagai

kendaraan alternatif irit BBM. Menjamurnya kemudahan layanan kredit sepeda motor,
juga turut memicu bertambahnya jumlah pengendara sepeda motor.
D. ETIOLOGI
1. Trauma oleh benda tajam
Menyebabkan cedera setempat dan menimbulkan cedera lokal
2. Trauma oleh benda tumpul menyebabkan kerusakan substansi otak
3. Kerusakan terjadi ketika energi/kekuatan diteruskan ke substansi otak energi
diserap lapisan pelindung yaitu rambut kulit kepala dan tengkorak
4. Kecelakaan lalu lintas
5. Kecelakaan kerja
6. Trauma pada olah raga
7. Kejatuhan benda keras
8. Luka tembak
E. KLASIFIKASI

Berat ringannya cedera kepala bukan didasarkan berat ringannya gejala yang muncul
setelah cedera kepala. Ada beberapa klasifikasi yang dipakai dalam menentukan derajat
cedera kepaka. Cedera kepala diklasifikasikan dalam berbagi aspek ,secara praktis
dikenal 3 deskripsi klasifikasi yaitu berdasarkan
1. Mekanisme Cedera kepala
Berdasarkan mekanisme, cedera kepala dibagi atas cedera kepala tumpul dan cedera
kepala tembus. Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan mobilmotor, jatuh atau pukulan benda tumpul. Cedera kepala tembus disebabkan oleh
peluru atau tusukan. Adanya penetrasi selaput durameter menentukan apakah suatu
cedera termasuk cedera tembus atau cedera tumpul.
2. Beratnya Cedera
Glascow coma scale ( GCS) digunakan untuk menilai secara kuantitatif kelainan
neurologis dan dipakai secara umum dalam deskripsi beratnya penderita cedera
kepala
a. Cedera Kepala Ringan (CKR).
GCS 13 15, dapat terjadi kehilangan kesadaran ( pingsan ) kurang dari 30
menit atau mengalami amnesia retrograde. Tidak ada fraktur tengkorak, tidak
ada kontusio cerebral maupun hematoma
b. Cedera Kepala Sedang ( CKS)
GCS 9 12, kehilangan kesadaran atau amnesia retrograd lebih dari 30 menit
tetapi kurang dari 24 jam. Dapat mengalami fraktur tengkorak.

c. Cedera Kepala Berat (CKB)


GCS lebih kecil atau sama dengan 8, kehilangan kesadaran dan atau terjadi
amnesia lebih dari 24 jam. Dapat mengalami kontusio cerebral, laserasi atau
hematoma intracranial.
Skala Koma Glasgow
No
1

RESPON
Membuka Mata :

NILAI

-Spontan

-Terhadap rangsangan suara

-Terhadap nyeri

-Tidak ada
Verbal :

-Orientasi baik

-Orientasi terganggu

-Kata-kata tidak jelas

-Suara tidak jelas

-Tidak ada respon


Motorik :

- Mampu bergerak

-Melokalisasi nyeri

-Fleksi menarik

-Fleksi abnormal

-Ekstensi

-Tidak ada respon

1
3-15

Total

3. Morfologi Cedera
Secara Morfologi cedera kepala dibagi atas :
a. Fraktur kranium
Fraktur kranium dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak, dan dapat
terbentuk garis atau bintang dan dapat pula terbuka atau tertutup. Fraktur dasar
tengkorak biasanya merupakan pemeriksaan CT Scan untuk memperjelas garis
frakturnya. Adanya tanda-tanda klinis fraktur dasar tengkorak menjadikan
petunjuk kecurigaan untuk melakukan pemeriksaan lebih rinci.
Tanda-tanda tersebut antara lain :

Ekimosis periorbital ( Raccoon eye sign)


Ekimosis retro aurikuler (Battle`sign )
Kebocoran CSS ( rhonorrea, ottorhea) dan
Parese nervus facialis ( N VII )

Sebagai patokan umum bila terdapat fraktur tulang yang menekan ke dalam,
lebih tebal dari tulang kalvaria, biasanya memeerlukan tindakan pembedahan.
b. Lesi Intrakranial
Lesi ini diklasifikasikan dalam lesi local dan lesi difus, walaupun kedua jenis
lesi sering terjadi bersamaan.
Termasuk lesi lesi local ;

Perdarahan Epidural
Perdarahan Subdural
Kontusio (perdarahan intra cerebral)

Cedera otak difus umumnya menunjukkan gambaran CT Scan yang normal,


namun keadaan klinis neurologis penderita sangat buruk bahkan dapat dalam
keadaan koma. Berdasarkan pada dalamnya koma dan lamanya koma, maka
cedera otak difus dikelompokkan menurut kontusio ringan, kontusio klasik, dan
Cedera Aksona Difus ( CAD).

1) Perdarahan Epidural
Hematoma epidural terletak diantara dura dan calvaria. Umumnya terjadi
pada regon temporal atau temporopariental akibat pecahnya arteri
meningea media ( Sudiharto 1998). Manifestasi klinik berupa gangguan
kesadaran sebentar dan dengan bekas gejala (interval lucid) beberapa jam.
Keadaan ini disusul oleh gangguan kesadaran progresif disertai kelainan
neurologist unilateral. Kemudian gejala neurology timbul secara progresif
berupa pupil anisokor, hemiparese, papil edema dan gejala herniasi
transcentorial.
Perdarahan epidural difossa posterior dengan perdarahan berasal dari sinus
lateral, jika terjadi dioksiput akan menimbulkan gangguan kesadaran, nyeri
kepala, muntah ataksia serebral dan paresis nervi kranialis. Cirri
perdarahan epidural berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa cembung
2) Perdarahan subdural
Perdarahan subdural lebih sering terjadi daripada perdarahan
epidural( kira-kira 30 % dari cedera kepala berat). Perdarahan ini sering
terjadi akibat robeknya vena-vena jembatan yang terletak antara kortek
cerebri dan sinus venous tempat vena tadi bermuara, namun dapat terjadi
juga akibat laserasi pembuluh arteri pada permukaan otak. Perdarahan
subdural biasanya menutupi seluruh permukaan hemisfer otak dan
kerusakan otak dibawahnya lebih berat dan prognosisnya jauh lebih buruk
daripada perdarahan epidural.
3) Kontusio dan perdarahan intracerebral
Kontusio cerebral sangat sering terjadi di frontal dan lobus temporal, walau
terjadi juga pada setiap bagian otak, termasuk batang otak dan cerebellum.
Kontusio cerebri dapat saja terjadi dalam waktu beberapa hari atau jam
mengalami evolusi membentuk perdarahan intracerebral. Apabila lesi
4)

meluas dan terjadi penyimpangan neurologist lebih lanjut


Cedera Difus
Cedera otak difus merupakan kelanjutan kerusakan otak akibat akselerasi
dan deselerasi, dan ini merupakan bentuk yang lebih sering terjadi pada
cedera kepala.
Komosio Cerebro ringan akibat cedera dimana kesadaran tetap tidak
terganggu, namun terjadi disfungsi neurologist yang bersifat sementara
dalam berbagai derajat. Cedera ini sering terjadi, namun karena ringan
sering kali tidak diperhatikan, bentuk yang paling ringan dari kontusio ini
adalah keadaan bingung dan disorientasi tanpa amnesia retrograd, amnesia
integrad ( keadaan amnesia pada peristiwa sebelum dan sesudah cedera)
Komusio cedera klasik adalah cedera yang mengakibatkan menurunya atau
hilangnya kesadaran. Keadaan ini selalu disertai dengan amnesia pasca

trauma dan lamanya amnesia ini merupakan ukuran beratnya cedera.


Hilangnya kesadaran biasanya berlangsung beberapa waktu lamanya dan
reversible. Dalam definisi klasik penderita ini akan sadar kembali dalam
waktu kurang dari 6 jam. Banyak penderita dengan komosio cerebri klasik
pulih kembali tanpa cacat neurologist, namun pada beberapa penderita
dapat timbul deficit neurogis untuk beberapa waktu. Defisit neurologist itu
misalnya : kesulitan mengingat, pusing ,mual, amnesia dan depresi serta
gejala lainnya. Gejala-gejala ini dikenal sebagai sindroma pasca komosio
yang dapat cukup berat. Cedera Aksonal difus ( Diffuse Axonal Injuri,DAI)
adalah dimana penderita mengalami coma pasca cedera yang berlangsung
lama dan tidak diakibatkan oleh suatu lesi masa atau serangan iskemi.
Biasanya penderita dalam keadaan koma yang dalam dan tetap koma
selama beberapa waktu, penderita sering menunjukkan gejala dekortikasi
atau deserebasi dan bila pulih sering tetap dalam keadaan cacat berat,
itupun bila bertahan hidup. Penderita sering menunjukkan gejala disfungsi
otonom seperti hipotensi, hiperhidrosis dan hiperpireksia dan dulu diduga
akibat cedera batang otak primer.
F. PATOFISIOLOGI
Otak bisa terluka meskipun tidak terdapat luka yang menembus tengkorak.
berbagai cedera bisa disebabkan oleh percepatan mendadak yang memungkinkan
terjadinya benturan atau karena perlambatan mendadak yang terjadi jika kepala
membentur objek yang tidak bergerak. Kerusakan otak bisa terjadi pada titik benturan
dan pada sisi yang berlawanan.
Cedera kepala yang berat dapat merobek, meremukkan atau menghancurkan saraf,
pembuluh darah dan jaringan di dalam atau di sekeliling otak. Bisa terjadi kerusakan
pada jalur saraf, perdarahan atau pembengkakan hebat. Perdarahan, pembengkakan dan
penimbunan cairan (edema) memiliki efek yang sama yang ditimbulkan oleh
pertumbuhan massa di dalam tengkorak. Karena tengkorak tidak dapat bertambah luas,
maka peningkatan tekanan bisa merusak atau menghancurkan jaringan otak.
Karena posisinya di dalam tengkorak, maka tekanan cenderung mendorong otak ke
bawah. Otak sebelah atas bisa terdorong ke dalam lubang yang menghubungkan otak
dengan batang otak, keadaan ini disebut herniasi. Sejenis herniasi serupa bisa
mendorong otak kecil dan batang otak melalui lubang di dasar tengkorak (foramen
magnum) ke dalam medula spinalis. Herniasi ini bisa berakibat fatal karena batang
otak mengendalikan fungsi vital (denyut jantung dan pernafasan).
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi.
Energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses

oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke
otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan
kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20
mg %, karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari
seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70
% akan terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi cerebral.
Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen
melalui proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah.
Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat
akibat metabolisme anaerob.
Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolik. Dalam keadaan normal cerebral blood
flow (CBF) adalah 50 60 ml / menit / 100 gr. jaringan otak, yang merupakan 15 %
dari cardiac output. Trauma kepala meyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup
aktivitas atypical-myocardial, perubahan tekanan vaskuler dan udem paru. Perubahan
otonom pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P dan disritmia,
fibrilasi atrium dan vebtrikel, takikardia.
Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana
penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi .
Pengaruh persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol
otak tidak begitu besar.
G. MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinik dari cedera kepala tergantung dari berat ringannya cedera kepala.
1. Perubahan kesadaran adalah merupakan indicator yang paling sensitive yang dapat
dilihat dengan penggunaan GCS ( Glascow Coma Scale)
2. Peningkatan TIK yang mempunyai trias Klasik seperti :
Nyeri kepala karena regangan dura dan pembuluh darah; papil edema yang
disebabkan oleh tekanan dan pembengkakan diskus optikus; muntah seringkali

proyektil
Penurunan tingkat kesadaran, nyeri kepala, muntah, hemiparesa.
Dilatasi pupil ipsilateral, pernapasan dalam dan cepat kemudian dangkal,

irreguler,
Penurunan nadi, peningkatan suhu.
Kebingungan
Pucat
Mual dan muntah
Pusing kepala
Terdapat hematoma
Kecemasan
Bila fraktur, mungkin adanya ciran serebrospinal yang keluar dari hidung
(rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila fraktur tulang temporal.

Akibat dari trauma otak ini akan bergantung :


1. Kekuatan benturan
Makin besar kekuatan makin parah kerusakan, bila kekautan itu diteruskan pada
substansi otak, maka akan terjadi kerusakan sepanjang jalan yang dilewati karena
jaringan lunak menjadi sasaran kekuatan itu.
2. Akselerasi dan deselerasi
Akselerasi adalah benda

bergerak

mengenai

kepala

yang

diam.

Deselerasi adalah kepala membentur benda yang diam. Keduanya mungkin terjadi
secara bersamaan bila terdapat gerakan kepala tiba tiba tanpa kontak langsung.
Kekuatan ini menyebabkan isi dalam tengkorak yang keras bergerak dan otak akan
membentur permukaan dalam tengkorak pada otak yang berlawanan.
3. Kup dan kontra kup
Cedera cup mengakibatkan kebanyakan kerusakan yang relatif dekat daerah yang
terbentur, sedangkan kerusakan cedera kontra cup berlawanan pada sisi desakan
benturan.
4. Lokasi benturan
Bagian otak yang paling besar kemungkinannya menderita cedera kepala terbesar
adalah bagian anterior dari lobus frantalis dan temporalis, bagian posterior lobus
aksipitalis dan bagian atas mesensefalon.
5. Rotasi
Pengubahan posisi rotasi pada kepala menyebabkan trauma regangan dan robekan
pada substansi alba dan batang otak.
6. Fractur impresi
Fractur impresi sebabkan oleh suatu keluaran yang mendorong fragmen tentang
turun menekan otak yang lebih dalam ketebalan tulang otak itu sendiri, akibat
fraktur ini dapat menimbulkan kontak cairan serebraspimal (CSS) dalam ruang
sobarachnoid dalam sinus kemungkinan cairan serebraspinoa (CSS) akan mengalir
ke hidung, telinga, menyebabkan masuknya bakteri yang mengkontaminasi cairan
spinal

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. CT Scan: tanpa/dengan kontras) mengidentifikasi adanya hemoragik, menentukan
ukuran ventrikuler, pergeseran jaringan otak.
Indikasi CT Scan adalah :
a. Nyeri kepala menetap atau muntah muntah yang tidak menghilang setelah
pemberian obat obatan analgesia/anti muntah.
b. Adanya kejang kejang, jenis kejang fokal lebih bermakna terdapat lesi
intrakranial dibandingkan dengan kejang general.

c. Penurunan GCS lebih 1 point dimana faktor faktor ekstracranial telah


disingkirkan (karena penurunan GCS dapat terjadi karena misal terjadi shock,
febris, dll).
d. Adanya lateralisasi.
e. Adanya fraktur impresi dengan lateralisasi yang tidak sesuai, misal fraktur
depresi temporal kanan tapi terdapat hemiparese/plegi kanan.
f. Luka tembus akibat benda tajam dan peluru.
g. Perawatan selama 3 hari tidak ada perubahan yang membaik dari GCS.
h. Bradikardia (Denyut nadi kurang 60 X / menit).
2. Angiografi serebral: menunjukkan kelainan sirkulasi serebral, seperti pergeseran
jaringan otak akibat edema, perdarahan, trauma.
3. X-Ray: mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur garis
(perdarahan / edema), fragmen tulang.
Tidak semua penderita dengan cidera kepala diindikasikan untuk pemeriksaan
kepala karena masalah biaya dan kegunaan yang sekarang makin dittinggalkan. Jadi
indikasi meliputi jejas lebih dari 5 cm, Luka tembus (tembak/tajam), Adanya corpus
alineum, Deformitas kepala (dari inspeksi dan palpasi), Nyeri kepala yang menetap,
Gejala fokal neurologis, Gangguan kesadaran (Bajamal A.H ,1999). Sebagai
indikasi foto polos kepala meliputi jangan mendiagnose foto kepala normal jika foto
tersebut tidak memenuhi syarat, Pada kecurigaan adanya fraktur depresi maka
dillakukan foto polos posisi AP/lateral dan oblique.
4. Analisa Gas Darah: medeteksi ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenasi) jika
terjadi peningkatan tekanan intrakranial.
5. Elektrolit: untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan
tekanan intrakranial
6. Foto cervical bila ada tanda-tanda fraktur cervical

I. KOMPLIKASI
1. Patah tulang tengkorak
Patah tulang tengkorak merupakan suatu retakan pada tulang tengkorak.
Patah tulang tengkorak bisa melukai arteri dan vena, yang kemudian mengalirkan
darahnya ke dalam rongga di sekeliling jaringan otak. Patah tulang di dasar
tengkorak bisa merobek meningens (selaput otak). Cairan serebrospinal (cairan
yang beredar diantara otak dan meningens) bisa merembes ke hidung atau telinga.
Bakteri kadang memasuki tulang tengkorak melalui patah tulang tersebut, dan
menyebabkan

infeksi

serta

kerusakan

hebat

pada

otak.

Sebagian besar patah tulang tengkorak tidak memerlukan pembedahan, kecuali jika
pecahan tulang menekan otak atau posisinya bergeser.

2. Konkusio
Konkusio adalah hilangnya kesadaran (dan kadang ingatan) sekejap, setelah
terjadinya cedera pada otak yang tidak menyebabkan kerusakan fisik yang nyata.
Konkusio menyebabkan kelainan fungsi otak tetapi tidak menyebabkan kerusakan
struktural yang nyata. Hal ini bahkan bisa terjadi setelah cedera kepala yang ringan,
tergantung kepada goncangan yang menimpa otak di dalam tulang tengkorak.

Konkusio bisa menyebabkan kebingungan, sakit kepala dan rasa mengantuk yang
abnormal; sebagian besar penderita mengalami penyembuhan total dalam beberapa
jam

atau

hari.

Beberapa

penderita

merasakan

pusing,

kesulitan

dalam

berkonsentrasi, menjadi pelupa, depresi, emosi atau perasaannya berkurang dan


kecemasan.
Gejala-gejala ini bisa berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu,
jarang lebih dari beberapa minggu. penderita bisa mengalami kesulitan dalam
bekerja, belajar dan bersosialisasi. keadaan ini disebut sindroma pasca konkusio.
3. Gegar otak & robekan otak
Gegar otak (kontusio serebri) merupakan memar pada otak, yang biasanya
disebabkan oleh pukulan langsung dan kuat ke kepala. Robekan otak adalah
robekan pada jaringan otak, yang seringkali disertai oleh luka di kepala yang nyata
dan patah tulang tengkorak.
Gegar otak dan robekan

otak

lebih

serius

daripada

konkusio.

MRI menunjukkan kerusakan fisik pada otak yang bisa ringan atau bisa
menyebabkan kelemahan pada satu sisi tubuh yang diserati dengan kebingungan
atau

bahkan

koma.

Jika otak membengkak, maka bisa terjadi kerusakan lebih lanjut pada jaringan otak;
pembengkakan

yang

sangat

hebat

bisa

menyebabkan

herniasi

otak.

4. Perdarahan intrakranial
Perdarahan intrakranial (hematoma intrakranial) adalah penimbunan darah di dalam
otak atau diantara otak dengan tulang tengkorak. Hematoma intrakranial bisa terjadi
karena cedera atau stroke.
Hematoma yang luas akan menekan otak, menyebabkan pembengkakan dan pada
akhirnya menghancurkan jaringan otak. Hematoma yang luas juga akan
menyebabkan otak bagian atas atau batang otak mengalami herniasi. Pada

perdarahan intrakranial bisa terjadi penurunan kesadaran sampai koma, kelumpuhan


pada salah satu atau kedua sisi tubuh, gangguan pernafasan atau gangguan jantung,
atau

bahkan

kematian.

Bisa juga terjadi kebingungan dan hilang ingatan, terutama pada usia lanjut.
Hematoma epidural berasal dari perdarahan di arteri yang terletak diantara
meningens dan tulang tengkorak. Hal ini terjadi karena patah tulang tengkorak telah
merobek arteri. darah di dalam arteri memiliki tekanan lebih tinggi sehingga lebih
cepat memancar.
Gejala berupa sakit kepala hebat bisa segera timbul tetapi bisa juga baru muncul
beberapa jam kemudian. sakit kepala kadang menghilang, tetapi beberapa jam
kemudian muncul lagi dan lebih parah dari sebelumnya. Selanjutnya bisa terjadi
peningkatan kebingungan, rasa ngantuk, kelumpuhan, pingsan dan koma.

5. Kerusakan pada bagian otak tertentu


Kerusakan pada lapisan otak paling atas (korteks serebri biasanya akan
mempengaruhi kemampuan berfikir, emosi dan perilaku seseorang. Daerah tertentu
pada korteks serebri biasanya bertanggungjawab atas perilaku tertentu, lokasi yang
pasti dan beratnya cedera menentukan jenis kelainan yang terjadi.

6. Kerusakan lobus frontalis


Lobus frontalis pada korteks serebri terutama mengendalikan keahlian motorik
(misalnya menulis, memainkan alat musik atau mengikat tali sepatu). Lobus
frontalis juga mengatur ekspresi wajah dan isyarat tangan. Daerah tertentu pada
lobus frontalis bertanggungjawab terhadap aktivitas motor tertentu pada sisi tubuh
yang

berlawanan.

Efek perilaku dari kerusakan lobus frontalis bervariasi, tergantung kepada ukuran
dan lokasi kerusakan fisik yang terjadi. Kerusakan yang kecil, jika hanya mengelai
satu sisi otak, biasanya tidak menyebabkan perubahan perilaku yang nyata,
meskipun kadang menyebabkan kejang.
Kerusakan luas yang mengarah ke bagian belakang lobus frontalis bisa
menyebabkan apati, ceroboh, lalai dan kadang inkontinensia. Kerusakan luas yang
mengarah ke bagian depan atau samping lobus frontalis menyebabkan perhatian
penderita mudah teralihkan, kegembiraan yang berlebihan, suka menentang, kasar
dan kejam; penderita mengabaikan akibat yang terjadi akibat perilakunya.
7. Kerusakan lobus parietalis
Lobus parietalis pada korteks serebri menggabungkan kesan dari bentuk, tekstur dan
berat badan ke dalam persepsi umum. Sejumlah kecil kemampuan matematikan dan
bahasa berasal dari daerah ini. Lobus parietalis juga membantu mengarahkan posisi
pada ruang di sekitarnya dan merasakan posisi dari bagian tubuhnya.
Kerusakan kecil di bagian depan lobus parietalis menyebabkan mati rasa pada sisi
tubuh yang berlawanan. Kerusakan yang agak luas bisa menyebabkan hilangnya
kemampuan untuk melakukan serangkaian pekerjaan (keadaan ini disebut apraksia)
dan untuk menentukan arah kiri-kanan.

Kerusakan yang luas bisa mempengaruhi kemampuan penderita dalam mengenali


bagian tubuhnya atau ruang di sekitarnya atau bahkan bisa mempengaruhi ingatan
akan bentuk yang sebelumnya dikenal dengan baik (misalnya bentuk kubus atau jam
dinding). Penderita bisa menjadi linglung atau mengigau dan tidak mampu
berpakaian maupun melakukan pekerjaan sehari-hari lainnya.
8. Kerusakan lobus temporalis
Lobus temporalis mengolah kejadian yang baru saja terjadi menjadi dan
mengingatnya sebagai memori jangka panjang. Lobus temporalis juga memahami
suara dan gambaran, menyimpan memori dan mengingatnya kembali serta
menghasilkan

jalur

emosional.

Kerusakan pada lobus temporalis sebelah kanan menyebabkan terganggunya ingatan


akan suara dan bentuk. Kerusakan pada lobus temporalis sebelah kiri menyebabkan
gangguan pemahaman bahasa yang berasal dari luar maupun dari dalam dan
menghambat penderita dalam mengekspresikan bahasanya.
Penderita dengan lobus temporalis sebelah kanan yang non-dominan, akan
mengalami perubahan kepribadian seperti tidak suka bercanda, tingkat kefanatikan
agama yang tidak biasa, obsesif dan kehilangan gairah seksual.

J. PENATALAKSANAAN
Secara umum :
1. Tindakan terhadap peningkatan TIK
a. Pemantauan TIK dengan ketat.
b. Oksigenasi adekuat
c. Pemberian manitol
d. Penggunaan steroid
e. Peninggatan tempat tidur pada bagian kepala
f. Bedah neuro
2. Tindakan pendukung lain
a. Dukung ventilasi
b. Pencegahan kejang
c. Pemeliharaan cairan, elektrolit dan keseimbangan nutrisi.
d. Terapi antikonvulsan
e. CPZ untuk menenangkan pasien
f. NGT
a. Penanganan pertama kasus cidera kepala di UGD
Pertolongan pertama dari penderita dengan cidera kepala mengikuti standart yang
telah ditetapkan dalam ATLS (Advanced Trauma Life Support) yang meliputi,
anamnesa sampai pemeriksaan fisik secara seksama dan stimultan pemeriksaan
fisik meliputi Airway, Breathing, Circulasi, Disability (ATLS ,1997).

Pada pemeriksaan airway usahakan jalan nafas stabil, dengan cara kepala miring,
buka mulut, bersihkan muntahkan darah, adanya benda asing. Perhatikan tulang
leher, Immobilisasi, Cegah gerakan hiperekstensi, Hiperfleksi ataupun rotasi.
Indikasi sosial yang dipertimbangkan pada pasien yang dirawat dirumah sakit
tidak ada yang mengawasi di rumah jika di pulangkan,Tempat tinggal jauh dengan
rumah sakit oleh karena jika terjadi masalah akan menyulitkan penderita. Pada saat
penderita di pulangkan harus di beri advice (lembaran penjelasan) apabila terdapat
gejala seperti ini harus segera ke rumah sakit misalnya : mual muntah, sakit
kepala yang menetap, terjadi penurunan kesadaran, Penderita mengalami kejang
kejang, Gelisah. Pengawasan dirumah harus dilakukan terus menerus selama
kerang lebih 2 x 24 jam dengan cara membangunkan tiap 2 jam (Bajamal AH ,
1999).
b. Perawatan dirumah sakit
Perawatan di rumah sakit bila GCS 13 15 meliputi :
Infus dengan cairan normoosmotik (kecuali Dextrose oleh karena dextrose
cepat dimetabolisme menjadi H2O + CO2 sehingga dapat menimbulkan
edema serebri) Di RS Dr Soetomo surabaya digunakan D5% salin kira

kira 1500 2000 cc/24 jam untuk orang dewasa.


Diberikan analgesia/antimuntah secara intravena, jika tidak muntah dicoba

minum sedikit sedikit (pada penderita yang tetap sadar).


Mobilisasi dilakukan sedini mungkin, dimulai dengan memberikan bantal
selama 6 jam kemudian setengah duduk pada 12 jam kemudian duduk penuh

dan dilatih berdiri (dapat dilakukan pada penderita dengan GCS 15).
Jika memungkinkan dapat diberikan obat neorotropik, seperti : Citicholine,

dengan dosis 3 X 250 mg/hari sampai minimal 5 hari.


Minimal penderita MRS selama 2 X 24 jam karena komplikasi dini dari cidera
kepala paling sering terjadi 6 jam setelah cidera dan berangsur angsur
berkurang sampai 48 jam pertama.

c. Perawatan di rumah sakit bila GCS < 13


Posisi terlentang kepala miring kekiri dengan diberi bantal tipis (head up 15
30) hal ini untuk memperbaiki venous return sehingga tekanan intra kranial

turun.
Beri masker oksigen 6 8 liter/menit.
Atasi hipotensi, usahakan tekanan sistolok diatas 100 mmHg, jika tidak ada

perbaikan dapat diberikan vasopressor.


Pasang infus D5% saline 1500 2000 cc/24 jam atau 25 30
CC/KgBB/24jam.

Pada penderita dengan GCS < 9 atau diperkirakan akan memerlukan


perawatan yang lebih lama maka hendaknya dipasang maagslang ukuran kecil
(12 Fr) untuk memberikan makanan yang dimulai pada hari I dihubungkan
dengan 500 cc Dextrose 5%. Gunanya pemberian sedini mungkin adalah
untuk menghindari atrophi villi usus, menetralisasikan asam lambung yang
biasanya pH nya sangat tinggi (stress ulcer), menambah energi yang tetap
dibutuhkan sehingga tidak terjadi metabolisme yang negatip, pemberian
makanan melalui pipa lambung ini akan ditingkatkan secara perlahan lahan
sampai didapatkan volume 2000 cc/24 jam dengan kalori 2000 Kkal.
Keuntungan lain dari pemberian makanan peroral lebih cepat pada penderita
tidak sadar antara lain mengurangi translokasi kuman di dinding usus halus

dan usus besar, Mencegah normal flora usus masuk kedalam system portal.
Sedini mungkin penderita dilakukan mobilisasi untuk menghindari terjadinya
statik pneumonia atau dekubitus dengan cara melakukan miring kekiri dan

kanan setiap 2 jam.


Pada penderita yang gelisah harus dicari dulu penyebabnya tidak boleh
langsung

diberikan

obat

penenang

seperti

diazepam

karena

dapat

menyebabkan masking efek terhadap kesadarannya dan terjadinya depresi


pernapasan. Pada penderita gelisah dapat terjadi karena nyeri oleh karena
fraktur, Kandung seni yang penuh, Tempat tidur yang kotor, Penderita mulai
sadar, Penurunan kesadaran, Shock, Febris.
d. Penanganan pasien Di Unit Perawatan Intensif (UPI/ICU)
Kelompok ini terdiri dari penderita yang tidak mampu mengikuti perintah
sederhana bahkan setelah stabilisasi kardiopulmonal. Walau definisi tersebut
memasukan cedera otak dalam spektrum yang luas, ia mengidentifikasikan
kelompok dari penderita yang berada pada risiko maksimal atas morbiditas dan
mortalitas. Pendekatan 'tunggu dan lihat' sangat mencelakakan dan diagnosis serta
tindakan tepat adalah paling penting.
Pengelolaan pasien dibagi 4 tingkatan:
(1) stabilisasi kardiopulmoner,
(2) pemeriksaan umum,
(3) pemeriksaan neurologis,
(4) prosedur diagnostik
1. Stabilisasi cardiopulmoner
Cedera otak sering diperburuk oleh kerusakan sekunder. Miller melaporkan
pasien dengan cedera otak berat yang dinilai saat masuk UGD, 30% dalam

hipoksemik (PO2 <65 mmHg), 13% dengan hipotensif (TD sistolik <
95mmHg,dan 12% dengan anemik (hematokrit < 30%).
Diperlihatkan bahwa hipotensi saat masuk (TD sistolik <90 mmHg) adalah
satu dari tiga faktor pada pasien dengan cedera kepala berat dengan CT scan
normal (dua lainnya adalah usia > 40 tahun dan posturing motor) yang, bila
ditemukan saat masuk, berhubungan dengan akan terjadinya peningkatan
TIK. TIK tinggi berhubungan dengan outcome yang lebih buruk. Karenanya
wajib untuk menstabilkan kardiopulmoner segera.
a. Jalan Nafas
Yang sering bersamaan dengan konkusi adalah terhentinya nafas untuk
sementara. Apnea yang lama sering menjadi penyebab kematian yang
segera pada suatu kecelakaan. Bila pernafasan buatan segera dilakukan,
dapat dicapai outcome yang baik. Apnea, atelektasis, aspirasi dan
sindroma distres respirasi akuta (ARDS) sering bersamaan dengan cedera
kepala berat, dan karenanya satu-satunya aspek yang paling penting dalam
pengelolaan segera pasien tersebut adalah mempertahankan jalan nafas
yang baik. Setiap pasien dengan cedera kepala berat harus diintubasi
segera. Kecermatan harus diperhatikan dalam menjamin letak yang benar
dari tube endotrakhea, bukan esofageal. Jarang, bila perlu dilakukan
trakheostomi emergensi, terutama pada pasien dengan cedera maksilofasial
berat dimana intubasi dihindari karena pembengkakan berat jaringan lunak
serta
adanya
distorsi
anatomi.
Dalam usaha mempertahankan jalan nafas, saluran mulut dan nasal harus
bersih dari semua benda asing, sekresi, darah dan muntah. Sekali tube
endotrakheal pada tempatnya, balon harus digembungkan untuk
mencegah atau mengurangi aspirasi, dan pengisapan seksama saluran
trakheal harus dilakukan.
b. Tekanan Darah
Pada pasien cedera kepala sering di temukan Hipotensi dan hipoksia.Bila
jalan nafas sudah diperbaiki, nadi dan tekanan darah pasien diperiksa dan
siapkan jalur vena. Minimum dua jalur vena (gunakan Jelcos 14 atau
16) harus terpasang baik. Umumnya digunakan kateter vena
infraklavikular perkutaneus subklavian atau jugular, walau kadang-kadang
pembukaan vena safena atau brakhial diperlukan untuk mendapat jalur
vena yang memadai. Pada titik ini, darah bisa diambil untuk pemeriksaan
rutin, skrining koagulasi, kadar alkohol serum, contoh untuk bank darah
serta
gas
darah
arterial.
Bila pasien hipotensif, sangat penting untuk memperbaikinya sesegera
mungkin. Hipotensi biasanya tidak karena cedera kepala semata, kecuali
pada fase terminal dimana sudah terjadi kegagalan medullari. Jauh lebih
umum, hipotensi adalah pertanda kehilangan darah banyak,yang mana bisa
tampak atau tersembunyi, atau keduanya.
Pada pasien cedera dengan hipotensif, pertama harus dipikirkan cedera
cord spinal yang terjadi (dengan kuadriplegia atau paraplegia) serta

kontusi atau tamponade kardiak dan pneumotoraks tension sebagai


penyebabnya. Selama upaya mencari penyebab hipotensi, penggantian
volume harus dimulai dengan menggunakan salin normal atau plasmanat.
Transfusi darah harus dilakukan sesegera mungkin bila tekanan darah
tidak bereaksi memadai terhadap penggantian cairan atau bila kadar
hemoglobin kurang dari 10 gm% (HCT 30%). Darah kelompok O Rh
negatif mungkin bisa digunakan selama belum tersedianya darah yang
telah dibanding silang. Pentingnya parasentesis abdominal rutin pada
pasien
koma
dengan
hipotensif
sudah
terbukti.
Harus ditekankan bahwa pemeriksaan neurologis tidak berarti sepanjang
pasien dalam hipotensif. Pasien yang tidak responsif terhadap stimulasi
saat hipotensif, sering kembali kepemeriksaan neurologis yang mendekati
normal segera setelah tekanan darah diperbaiki.
c. Kateter
Kateter Foley ( 16-18 French untuk dewasa) diinsersikan dengan hati-hati
dan urine dikirimkan untuk pemeriksaan urinalisis dan skrining toksik
(bila tersedia). Hematuria gross mengarah pada cedera renal dan
iniindikasi untuk IVP emergensi. Hematuria ringan mungkin sekunder
atas kateterisasi traumatika, kontusi renal atau jarang-jarang aneurisma
aortik dissekting. Perhatian khusus harus diberikan atas catatan masukan
dan keluaran cairan, terutama pada anak dan orang tua. Sebagai tambahan
untuk menjamin keseimbangan cairan, setiap catatan membantu
penaksiran kehilangan darah serta pengamatan perfusi renal.
Setelah stabilitas pulmonal tercapai pada pasien yang mengalami cedera
kepala berat, maka di lanjutkan pada tahap berikutnya yaitu
2. Pemeriksaan Umum
Selama proses penstabilan kardiopulmoner, dilakukan pemeriksaan umum
secara cepat untuk mencari cedera lain. Lebih dari 50% pasien cedera kepala
berat disertai cedera sistemik major lainnya, memerlukan penanganan oleh
spesialis lain. Perhatian khusus diberikan pada : Cedera kepala dan leher:
laserasi, tempat perdarahan, otorrhea, rhinorrhea, mata racoon (ekkhimosis
periorbital).
Cedera toraks: fraktura iga, pneumotoraks
atau hemotoraks,
tamponade kardiak, (dengan bunyi jantung lemah, distensi vena jugular,
dan hipotensi), aspirasi, atau ARDS.
Cedera abdominal: terutama laserasi hati, limpa atau ginjal. Perdarahan
biasanya berakibat tenderness, guarding atau distensi abdominal. Namun
tanda-tanda ini mungkin tidak muncul dini dan mungkin tersembunyi
pada pasien koma. Adanya bising usus biasanya pertanda tenang.
Cedera pelvik: Cedera pada pasien yang tidak koma bisa ditetapkan
secara klinis. Konfirmasi radiologis biasanya diperlukan. Pemeriksaan
rektal mungkin berguna. Cedera pelvik sering bersamaan dengan
kehilangan darah tersembunyi dalam jumlah besar.
Cedera tulang belakang: Trauma kepala dan tulang belakang mungkin
bersamaan, dan kombinasi tersebut harus selalu dicari walau kejadiannya
hanya 2 hingga 5% dari pasien cederaCedera ekstremitas: Mungkin terjadi
kerusakan tulang atau jaringan lunak (otot, saraf, pembuluh darah).
Fraktura pada pasien gelisah harus dibidai segera untuk mencegah
kerusakan saraf dan pembuluh bersangkutan. Tindakan definitif pada

kebanyakan pasien cedera ekstremitas dapat ditunda hingga setelah


tindakan terhadap masalah yang mengancam nyawa. kepala berat. Tulang
belakang leher paling sering dikenai.
3. Pemeriksaan Neurologis
Segera setelah status kardiopulmoner distabilkan, pemeriksaan neurologis cepat
dan terarah dilaksanakan. Walau berbagai faktor dapat menghalangi penilaian
akurat dari status neurologis pasien pada saat tersebut (hipotensi, hipoksia, atau
intoksikasi), data yang berharga dapat diperoleh. Antara alert penuh dan koma
dalam, terjadi perubahan kesadaran yang sinambung hingga sulit untuk
melakukan penilaian secara objektif. Sebagai dikemukakan didepan, untuk
keperluan ini SKG digunakan secara luas.
Bila pasien menunjukkan respons yang bervariasi terhadap stimulasi, atau
responsnya berbeda pada setiap sisi, tampilan respons yang terbaik lebih
merupakan indikator prognostik yang lebih akurat dibanding respons yang
terburuk. Untuk mengikuti kecenderungan arah perjalanan penyakit, lebih baik
melaporkan baik respons terbaik maupun terburuk. Dengan kata lain,
respons motor sisi kiri dan kanan dicatat terpisah. Sebagai stimulus nyeri
standar adalah penekanan dalam terhadap bed kuku.
Pemeriksaan tidak hanya terbatas pada parameter ketidaksadaran yang
digunakan dalam SKG (kemampuan membuka mata, respons motor serta
respons verbal), namun hal yang sama pentingnya dalam menaksir pasien
dengan gangguan kesadaran adalah usia, tanda-tanda vital, res- pons pupil, dan
gerakan mata. SKG memberikan grading sederhana dari arousal dan kapasitas
fungsional korteks serebral, dan respons pupil serta gerakan mata digunakan
untuk menilai fungsi batang otak. Usia lanjut, hipotensi, dan hipoksia
semuanya mempengaruhi buruknya outcome. Semua faktor tersebut
berpengaruh dalam penentuan prognosis pada cedera kepala berat.
4. Prosedur Diagnostik
Segera setelah keadaan kardiorespiratori distabilkan dan pemeriksaan
neurologis pendahuluan dilengkapkan, segera ditentukan adanya lesi massa
intrakranial. Pasien diintubasi dan diparalisakan memakai pankuronium
(Pavulon) atau obat sejenis dan dipasang ventilasi mekanik. Manuver ini
mencegah pasien menggeliat atau bergerak, yang berarti mencegah terjadinya
peninggian TIK dan secara nyata menambah kualitas pemeriksaan diagnostik.
CT scanning mengungguli semua tes yang lebih kuno. Namun tes lain
digunakan juga baik sebagai pengganti CT scanning, atau tes angiografi untuk
melengkapi data tertentu.
K. PENGOBATAN
1. Amantadine
Pasien dengan cedera otak parah yang diberi amantadine menjadi lebih cepat
sembuh daripada mereka yang diberi obat dummy. Setelah pengobatan selama
empat minggu, pasien yang diberi amantadine telah mampu memberi jawaban yatidak, mengikuti perintah atau menggunakan sendok dan sikat rambut.
Studi terhadap 184 pasien cedera otak di AS, Jerman dan Denmark juga
menemukan, lebih sedikit pasien yang mendapat amantadine tetap dalam keadaan

vegetatif (17 persen) dibandingkan mereka yang diberi obat dummy sebanyak 32
persen. Amantadine mulai banyak digunakan untuk mengobati cedera otak
beberapa tahun belakangan. Namun belum pernah ada penelitian yang
menunjukkan khasiat obat ini secara spesifik.

II.

KONSEP ASUHAN KEPERWATAN


1. Pengkajian
a. Riwayat kesehatan: waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian,
status kesadaran saat kejadian, pertolongan yang diberikan segera setelah
kejadian.
b. Pemeriksaan fisik
Sistem respirasi : suara nafas, pola nafas (kusmaull, cheyene stokes, biot,

hiperventilasi, ataksik)
Kardiovaskuler : pengaruh perdarahan organ atau pengaruh PTIK
Sistem saraf :
Kesadaran GCS.
Fungsi saraf kranial trauma yang mengenai/meluas ke batang

otak akan melibatkan penurunan fungsi saraf kranial.


Fungsi sensori-motor adakah kelumpuhan, rasa baal, nyeri,
gangguan diskriminasi suhu, anestesi, hipestesia, hiperalgesia,

riwayat kejang.
c. Sistem pencernaan
Bagaimana sensori adanya makanan di mulut, refleks menelan,
kemampuan mengunyah, adanya refleks batuk, mudah tersedak. Jika
pasien sadar tanyakan pola makan?
Waspadai fungsi ADH, aldosteron : retensi natrium dan cairan.
Retensi urine, konstipasi, inkontinensia.
d. Kemampuan bergerak : kerusakan area motorik hemiparesis/plegia,
gangguan gerak volunter, ROM, kekuatan otot.
e. Kemampuan komunikasi : kerusakan pada hemisfer dominan disfagia atau
afasia akibat kerusakan saraf hipoglosus dan saraf fasialis.
f. Psikososial data ini penting untuk mengetahui dukungan yang didapat pasien
dari keluarga.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul adalah:
1. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan
peningkatan tekanan intrakranial.
2. Nyeri berhubungan dengan trauma kepala.
3. Resiko tidak efektifnya bersihan jalan nafas dan berhubungan dengan gagal
nafas, adanya sekresi, dan meningkatnya tekanan intrakranial.
4. Ketidak seimbangan nutrisi kurang kebutuhan tubuh b. d ketidakmampuan
pemasukan makanan atau mencerna makanan dan atau mengabsorbsi zat-zat
gizi karena faktor biologis.

5. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan mual dan muntah.


6. Resiko injuri berhubungan dengan menurunnya kesadaran atau meningkatnya
tekanan intrakranial.
7. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi.
8. Devisit perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan menurunnya
kesadaran.
9. Resiko infeksi b.d trauma, tindakan invasife, immunosupresif, kerusakan
jaringan
10. Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit dan perawatannya b/d kurang
paparan

terhadap informasi, keterbatasan kognitif

3. Intervensi Keperawatan
a. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan
peningkatan tekanan intrakranial.
Tujuan:

Perfusi jaringan serebral adekuat yang ditandai dengan tidak ada


pusing hebat, kesadaran tidak menurun, dan tidak terdapat tandatanda peningkatan tekanan intrakranial.

Intervensi :

Tinggikan posisi kepala 15 30 derajat dengan posisi midline

untuk menurunkan tekanan vena jugularis.


Hindari hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya
peningkatan tekanan intrakranial: fleksi atau hiperekstensi
pada leher, rotasi kepala, valsava meneuver, rangsangan nyeri,
prosedur (peningkatan lendir atau suction, perkusi).
tekanan pada vena leher.
pembalikan posisi dari samping ke samping

(dapat

menyebabkan kompresi pada vena leher).


Bila akan memiringkan pasien, harus menghindari adanya tekukan

pada anggota badan, fleksi (harus bersamaan).


Pemberian obat-obatan untuk mengurangi edema atau tekanan

intrakranial sesuai program.


Pemberian terapi cairan intravena dan antisipasi kelebihan cairan

karena dapat meningkatkan edema serebral.


Monitor intake dan out put.
Lakukan kateterisasi bila ada indikasi.

Lakukan pemasangan NGT bila indikasi untuk mencegah aspirasi


dan pemenuhan nutrisi.

b. Nyeri berhubungan dengan trauma kepala.


Tujuan:

Pasien akan merasa nyaman yang ditandai dengan tidak mengeluh


nyeri, dan tanda-tanda vital dalam batas normal.

Intervensi:

Kaji keluhan nyeri dengan menggunakan skala nyeri, catat lokasi


nyeri, lamanya, serangannya, peningkatan nadi, nafas cepat atau

lambat, berkeringat dingin.


Mengatur posisi sesuai kebutuhan anak untuk mengurangi nyeri.
Pemberian obat analgetik sesuai dengan program.
Ciptakan lingkungan yang nyaman termasuk tempat tidur.
Berikan sentuhan terapeutik, lakukan distraksi dan relaksasi.

c. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya injuri.


Tujuan:

Pasien akan terbebas dari infeksi yang ditandai dengan tidak


ditemukan tanda-tanda infeksi: suhu tubuh dalam batas normal,
tidak ada pus dari luka, leukosit dalam batas normal.

Intervensi:

Kaji adanya drainage pada area luka.


Monitor tanda-tanda vital: suhu tubuh.
Lakukan perawatan luka dengan steril dan hati-hati.
Kaji tanda dan gejala adanya meningitis, termasuk kaku kuduk,
iritabel, sakit kepala, demam, muntah dan kenjang.

d. Resiko tidak efektifnya jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas berhubungan
dengan gagal nafas, adanya sekresi, gangguan fungsi pergerakan, dan
meningkatnya tekanan intrakranial.
Tujuan:

Pola nafas dan bersihan jalan nafas efektif yang ditandai dengan
tidak ada sesak atau kesukaran bernafas, jalan nafas bersih, dan
pernafasan dalam batas normal.

Intervensi:

Kaji Airway, Breathing, Circulasi.


Kaji, apakah ada fraktur cervical dan vertebra. Bila ada hindari
memposisikan kepala ekstensi dan hati-hati dalam mengatur posisi

bila ada cedera vertebra.


Pastikan jalan nafas tetap terbuka dan kaji adanya sekret. Bila ada

sekret segera lakukan pengisapan lendir.


Kaji status pernafasan kedalamannya, usaha dalam bernafas.
Bila tidak ada fraktur servikal berikan posisi kepala sedikit
ekstensi dan tinggikan 15 30 derajat.

Pemberian oksigen sesuai program

e. Resiko kurangnnya volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah.


Tujuan:

Tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan volume cayran atau


dehidrasi yang ditandai dengan membran mukosa lembab,
integritas kulit baik, dan nilai elektrolit dalam batas normal.

Intervensi:

Kaji intake dan out put.


Kaji tanda-tanda dehidrasi: turgor

dan
ubun-ubun atau mata cekung dan out put urine.
Berikan cairan intra vena sesuai program.

kulit, membran mukosa,

f. Resiko injuri berhubungan dengan menurunnya kesadaran atau meningkatnya


tekanan intrakranial.
Tujuan
: Pasien terbebas dari injuri.
Intervensi:
Kaji status neurologis: perubahan kesadaran, kurangnya respon
terhadap nyeri, menurunnya refleks, perubahan pupil, aktivitas

pergerakan menurun, dan kejang.


Kaji tingkat kesadaran dengan GCS
Monitor tanda-tanda vital setiap jam atau sesuai dengan protokol.
Berikan analgetik sesuai program.

g. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi.


Tujuan:
Tidak ditemukan tanda-tanda gangguan integritas kulit yang
ditandai dengan kulit tetap utuh.
Intervensi:

Lakukan latihan pergerakan (ROM).


Pertahankan posisi postur tubuh yang sesuai.
Lakukan back rub setelah mandi di area yang potensial
menimbulkan lecet dan pelan-pelan agar tidak menimbulkan nyeri.

h. Devisit perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan menurunnya


kesadaran.
Tujuan:

Kebutuhan sehari-hari anak terpenuhi yang ditandai dengan berat


badan stabil atau tidak menunjukkan penurunan berat badan,
tempat tidur bersih, tubuh anak bersih, tidak ada iritasi pada kulit,
buang air besar dan kecil dapat dibantu.

Intervensi:

Bantu anak dalam memenuhi kebutuhan aktivitas, makan


minum, mengenakan pakaian, BAK dan BAB, membersihkan

tempat tidur, dan kebersihan perseorangan.


Berikan makanan via parenteral bila ada indikasi.
Perawatan kateter bila terpasang.
Kaji adanya konstipasi, bila perlu pemakaian pelembek tinja untuk

memudahkan BAB.
Libatkan orang tua dalam perawatan pemenuhan kebutuhan
sehari-hari

dan

demonstrasikan,

seperti

bagaimana

cara

memandikan anak.
i. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma
kepala.
Tujuan:

Anak dan orang tua akan menunjukkan rasa cemas berkurang


yang ditandai dengan tidak gelisah dan orang tua dapat
mengekspresikan perasaan tentang kondisi dan aktif dalam
perawatan anak.

Intervensi:

Jelaskan klien tentang prosedur yang akan dilakukan, dan

tujuannya.
Anjurkan orang tua untuk selalu berada di samping anak.
Ajarkan anak dan orang tua untuk mengekspresikan perasaan.
Gunakan komunikasi terapeutik.
DAFTAR PUSTAKA

1. Cecily LB & Linda AS. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi 3. Jakarta: EGC;
2000.
2. Doenges, Marilynn E.1999. Rencana Asuhan Keperawatan ed-3. Jakarta : EGC
3. Muttaqin, Arif.2008. Buku Ajar asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
sistem persarafan. Jakarta : Salemba Medika
4. Smeltzer, Suzanne C.2010. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol 3 ed-8.
Jakarta : EGC
5. Suriadi & Rita Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi I. Jakarta: CV
Sagung Seto
6. Suzanne CS & Brenda GB. 1999. Buku Ajar Medikal Bedah. Edisi 8. Volume 3.
Jakarta: EGC.
7. Syafudin,AMK. 2003. Anatomi fisiologi untuk mahasiswa keperawtan, Edisi
3.Jakarta: EGC.

8. http://dentingberdetak.blogspot.com/2011/07/askep-klien-dengan-traumakepala.html
9. http://ppni-klaten.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=68:cedera-kepala&catid=38:ppni-akcategory&Itemid=66
10. http://kosmo.vivanews.com/news/read/293055-riset-obat-flu-percepat-pemulihancedera-otak
11. http://ainicahayamata.wordpress.com/nursing-only/keperawatan-medikal-bedahkmb/askep-cedera-kepala/
12. http://www.scribd.com/doc/20357839/Cedera-Kepala
13. http://asuhan-keperawatan-yuli.blogspot.com/2009/11/laporan-pendahuluan-cederakepala.html

B
e
n
t
u
r
a
n
K
e
p
a
l
a
Trauma
Cedera jaringan otak
sekitar tertekan
H
e
m
a
t
o
m
a
O
Va
si T
Perfusi jaringan
cerebral tidak
Efektif

me
A
lir
a
n
d
ar
a
h
k
e
ot
a
k
m
e

Robekan
jaringan

NYERI AKUT

nurun

Perubahan
Metabolisme Anaerob

ATP menurun

Resiko
Infeksi

Energi <
Hipoksia
Fatigue

Defisit
Perawatan Diri

Edema Jaringan Otak


penurunan kesadaran

Kerusakan pertukaran gas


Kekacauan pola bahasa
T
Nafas Dangkal

Pola nafas tidak


efektif

TIK meningkat :
- Mual
baik
- Muntah

Nutrisi
Kurang

Gangguan
Persepsi
Sensori

Gangguan
Kominikasi Verbal