Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Batuan adalah semua bahan yang menyusun kerak bumi dan merupakan suatu agregat
(kumpulan) mineral mineral yang telah menghablur. Tanah dan bahan lepas lainnya yang
merupakan hasil pelapukan fisika kimia maupun bilogi serta proses erosi tidak termasuk
batuan, tetapi disebut dengan Aluvial deposit. Salah satu jenis batuan yang kita kenal
adalah batuan sedimen
Pemakaian batuan pada dasarnya tergantung pada kekhususannya. Tekstur batuan mengacu
pada kenampakan butir-butir mineral yang ada di dalamnya, yang meliputi tingkat
kristalisasi, ukuran butir, bentuk butir, granularitas, dan hubungan antar butir (fabric). Jika
warna batuan berhubungan erat dengan komposisi kimia dan mineralogi, maka tekstur
berhubungan dengan sejarah pembentukan dan keterdapatannya. Tekstur merupakan hasil
dari rangkaian proses sebelum,dan sesudah kristalisasi.
Oleh karena itu pembuatan makalah ini kami lakukan sebagai suatu langkah atau pemberian
solusi bagi para mahasiswa untuk dapat mengetahui apa itu batuan sedimen, bagaimana
batuan sedimen tersebut terbentuk, klasifikasi batuan sedimen, dan tipe dasar
sedimen. Dengan adanya makalah ini, pengetahuan kita bertambah.

batuan

I.2 Rumusan Masalah


Batuan Sedimen Merupakan batuan yang paling banyak tersingkap di permukaan bumi
mencakup 75%

dan

terdiri atas berbagai macam jenis berdasarkan proses

pembentukanya.
I.2 Maksud dan Tujuan
Maksud
Maksud pembuatan tugas makalah ini mahasiswa dapat membedakan batuan sedimen
Non-klastik terutama batuan sedimen golongan evaporit dan silika berdasarkan
literatur yang ada.
Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui genesa, komposisi,
struktur sedimen dan

karakteristik dari batuan sedimen Non-klastik golongan

evaporit dan silika berdasar studi terkait petrologi batuan sedimen.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Batuan Sedimen

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil pemadatan endapan yang
berupa bahan lepas.

Menurut ( Pettijohn, 1975 ) batuan sedimen adalah batuan yang

terbentuk dari akumulasi material hasil perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atau
hasil aktivitas kimia maupun organisme, yang di endapkan lapis demi lapis pada permukaan
bumi yang kemudian mengalami pembatuan. Menurut Tucker (1991), 70 % batuan di
permukaan bumi berupa batuan sedimen. Tetapi batuan itu hanya 2 % dari volume seluruh
kerak bumi. Ini berarti batuan sedimen tersebar sangat luas di permukaan bumi, tetapi
ketebalannya relatif tipis.
Volume batuan sedimen dan termasuk batuan metasedimen hanya mengandung 5%
yang diketahui di litosfera dengan ketebalan 10 mil di luar tepian benua, dimana batuan beku
metabeku mengandung 95%. Sementara itu, kenampakan di permukaan bumi, batuan-batuan
sedimen menempati luas bumi sebesar 75%, sedangkan singkapa dari batuan beku sebesar
25% saja. Batuan sedimen dimulai dari lapisan yang tipis sekali sampai yang tebal sekali.
Ketebalan batuan sedimen antara 0 sampai 13 kilometer, hanya 2,2 kilometer ketebalan yang
tersingkap dibagian benua. Bentuk yang besar lainnya tidak terlihat, setiap singkapan
memiliki ketebalan yang berbeda dan singkapan umum yang terlihat ketebalannya hanya 1,8
kilometer. Di dasar lautan dipenuhim oleh sedimen dari pantai ke pantai. Ketebalan dari
lapisan itu selalu tidak pasti karena setiap saat selalu bertambah ketebalannya. Ketebalan
yang dimiliki bervariasi dari yang lebih tipis dari 0,2 kilometer sampai lebih dari 3 kilometer,
sedangkan ketebalan rata-rata sekitar 1 kilometer (Endarto, 2005 ).
Batuan sedimen banyak sekali jenisnya dan tersebar sangat luas dengan ketebalan
antara beberapa centimetersampai beberapa kilometer. Juga ukuran butirnya dari sangat halus
sampai sangat kasar dan beberapa proses yang penting lagi yang termasuk kedalam batuan
sedimen. Disbanding dengan batuan beku, batuan sedimen hanya merupakan tutupan kecil
dari kerak bumi. Batuan sedimen hanya 5% dari seluruh batuan-batuan yang terdapat dikerak

bumi. Dari jumlah 5% ini,batu lempung adalah 80%, batupasir 5% dan batu gamping kirakira 80% (Pettijohn, 1975).
Sedimen tidak hanya bersumber dari darat saja tetapi dapat juga dari yang terakumulasi di
tepi-tepi cekungan yang melengser kebawah akibat gaya gravitasi. Meskipun secara teoritis
dibawah permukaan air tidak terjadi erosi, namun masih ada energy air, gelombang dan arus
bawah permukaan yang mengikis terumbu-terumbu karang di laut dan hasil kikisannya
terendapkan di sekitarnya. Material sedimen dapat berupa :
1. Fragmen dan mineral-mineral dari batuan yang sudah ada. Misalnya kerikil di sungai,
pasir di pantai dan lumpur di laut atau di danau.
2. Material organik, seperti terumbu koral di laut, sisa-sisa cangkang organism air dan
vegetasi di rawa-rawa.
3. Hasil penguapan dan proses kimia seperti garam di danau payau dankalsim karbonat
di aut dangkal.

II.2 Proses Sedimentasi


Batuan yang berasal dari hasil rombakan berbagai jenis batuan adalah batuan
sedimen. Batuan sedimen ini terbentuk dengan proses pertama tentunya adalah pecahnya atau
terabrasinya batuan sumber yang kemudian hasil pecahannya tertransportasi dan mengendap
di suatu area tertentu. Proses-proses tersebut telah lazim disebut sebagai proses-proses
sedimentasi. Proses sedimentasi pada batuan sedimen klastik terdiri dari 2 proses, yakni
proses sedimentasi secara mekanik dan proses sedimentasi secara kimiawi.
1. Proses sedimentasi mekanik
Proses sedimentasi secara mekanik merupakan proses dimana butir-butir sedimen
tertransportasi hingga diendapkan di suatu tempat. Proses ini dipengaruhi oleh banyak hal
dari luar. Transportasi butir-butir sedimen dapat dipengaruhi oleh air, gravitasi, angin, dan es.
Dalam cairan, terdapat dua macam aliran, yakni laminar (yang tidak menghasilkan
transportasi butir-butir sedimen) dan turbulent (yang menghasilkan transportasi dan
pengendapan butir-butir sedimen). Arus turbulen ini membuat partikel atau butiran-butiran
sedimen mengendap secara suspensi, sehingga butiran-butiran yang diendapkan merupakan
butiran sedimen berbutir halus (pasir hingga lempung). Proses sedimentasi yang dipengaruhi
oleh gravitasi dibagi menjadi 4, yakni yang dipengaruhi oleh arus turbidit, grain flows, aliran
sedimen cair, dan debris flows.

a. Arus turbiditi dipengaruhi oleh aliran air dan juga gravitasi. Ciri utama pengendpan
oleh arus ini adalah butiran lebih kasar akan berada di bagian bawah pengendapan dan
semakin halus ke bagian atas pengendapan.
b. Grain flows biasanya terjadi saat sedimen yang memiliki kemas dan sorting yang
sangat baik jatuh pada slope di bawah gravitasi. Biasanya sedimennya membentuk
reverse grading.
c. Liquified sediment flows merupakan hasil dari proses liquefaction.
d. Debris flows, volume sedimen melebihi volume ar, dan menyebabka aliran dengan
viskositas tinggi. Dengan sedikit turbulens, sorting dari partikel mengecil dan
akhirnya menghasilkan endapan dengan sorting buruk.
2. Proses sedimentasi kimiawi
Proses sedimentasi secara kimiawi terjadi saat pori-pori yang berisi fluida menembus
atau mengisi pori-pori batuan. Hal ini juga berhubungan dnegan reaksi mineral pada batuan
tersebut terhadap cairan yang masuk tersebut. Berikut ini merupakan beberapa proses
kimiawi dari diagenesis batuan sedimen klastik:
a. Dissolution (pelarutan), mineral melarut dan membentuk porositas sekunder.
b. Cementation (sementasi), pengendpan mineral yang merupakan semen dari batuan,
semen tersebut diendapkan pada saat proses primer maupun sekunder.
c. Authigenesis, munulnya mineral baru yang tumbuh pada pori-pori batuan
d. Recrystallization, perubahan struktur kristal, namun kompsisi mineralnya tetap sama.
e.

Mineral yang biasa terkristalisasi adalah kalsit.


Replacement, melarutnya satu mineral yang kemudian terdapat mineral lain yang

terbentuk dan menggantikan mineral tersebut


f. Compaction (kompaksi)
g. Bioturbation (bioturbasi), proses sedimentasi oleh hewan (makhluk hidup)

Dalam proses sedimentasi itu sendiri terdapat yang disebut dengan diagenesis. Diagenesis
memiliki tahapan-tahapan sebagai berikut:
a. Eoldiagenesis : tahap ini merupakan tahap awal dari pengendapan sedimen. Dimana
terjadi pembebanan, yang menyebabkan adanya kompaksi pada tiap lapisan
sedimennya. Pada tahap ini proses kompaksi mendominasi
b. Mesodiagenesis = earlydiagenesis
c. Latelydiagenesis : tahap mesogenesis ini terjadi setelah melewati tahap eoldiagenesis.
Pada tahap ini, kompaksi yang sangat kuat disertai dnegan proses burial,
menyebabkan kenaikan suhu dan tekanan yang memicu terjadinya dissolution. Pada
tahap ini proses yang mendominasi adalah proses dissolution (pelarutan). Sampai

dengan proses ini, dikategorikan sebagai earlydiagenesis. Apabila setelah proses


pelarutan, masih terjadi burial, maka akan terjadi sementasi di sekitar butiran-butiran
sedimen. (inilah yang disebut dnegan latelydigenesis). Apabila kompaksi terus
berlanjut, hingga pada suhu 150 derajat celcius. Proses diagenesis akan berhenti dan
digantikan menjadi proses metamorfisme.
d. Telodiagenesis : sedangkan jika setelah tahapan mesodiagenesis terjadi pengangkatan,
dalam proses pengangkatan ini, keberadaan berbagai jenis air (air meteorik, air tanah,
dll) mempengaruhi susunan komposisi kimia batuan, sehingga memungkinkan
terjadinya authigenesis (pengisian mineral baru).

II.3 Jenis Batuan Sedimen

II.3.1 Batuan Sedimen Klastik

Batuan sedimen klastik merupakan batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan
kembali detritus atau pecahan batuan asal. Batuan asal dapat berupa batuan beku, metamorf
dan sedimen itu sendiri. Batuan sedimen diendapkan dengan proses mekanis, terbagi dalam
dua golongan besar dan pembagian ini berdasarkan ukuran besar butirnya. Cara terbentuknya
batuan tersebut berdasarkan proses pengendapan baik yang terbentuk dilingkungan darat
maupun dilingkungan laut. Batuan yang ukurannya besar seperti breksi dapat terjadi
pengendapan langsung dari ledakan gunungapi dan di endapkan disekitar gunung tersebut
dan dapat juga diendapkan dilingkungan sungai dan batuan batupasir bisa terjadi
dilingkungan laut, sungai dan danau. Semua batuan diatas tersebut termasuk ke dalam
golongan detritus kasar. Sementara itu, golongan detritus halus terdiri dari batuan lanau,
serpih dan batua lempung dan napal. Batuan yang termasuk golongan ini pada umumnya di
endapkan di lingkungan laut dari laut dangkal sampai laut dalam.
Fragmentasi batuan asal tersebut dimulai dari pelapukan mekanis maupun secara
kimiawi, kemudian tererosi dan tertransportasi menuju suatu cekungan pengendapan. Setelah
pengendapan berlangsung sedimen mengalami diagenesa yakni, prosess- proses yang
berlangsung pada temperatur rendah di dalam suatu sedimen, selama dan sesudah litifikasi.
Contohnya; Breksi, Konglomerat, Standsstone (batu pasir), dan lain-lain.

Batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan kembali detritus atau pecahan
batuan asal. Batuan asal dapat berupa batuan beku, metamorf dan sedimen itu sendiri.
(Pettjohn, 1975). Batuan sedimen diendapkan dengan proses mekanis, terbagi dalam dua
golongan besar dan pembagian ini berdasarkan ukuran besar butirnya. Cara terbentuknya
batuan tersebut berdasarkan proses pengendapan baik yang terbentuk dilingkungan darat
maupun dilingkungan laut. Batuan yang ukurannya besar seperti breksi dapat terjadi
pengendapan langsung dari ledakan gunungapi dan di endapkan disekitar gunung tersebut
dan dapat juga diendapkan dilingkungan sungai dan batuan batu pasir bisa terjadi
dilingkungan laut, sungai dan danau. Semua batuan diatas tersebut termasuk ke dalam
golongan detritus kasar. Sementara itu, golongan detritus halus terdiri dari batuan lanau,
serpih dan batua lempung dan napal. Batuan yang termasuk golongan ini pada umumnya di
endapkan di lingkungan laut dari laut dangkal sampai laut dalam (Pettjohn, 1975).
Fragmentasi batuan asal tersebut dimulaiu darin pelapukan mekanis maupun secara kimiawi,
kemudian tererosi dan tertransportasi menuju suatu cekungan pengendapan (Pettjohn, 1975).
Setelah pengendapan berlangsung sedimen mengalami diagenesa yakni, proses
proses-proses yang berlangsung pada temperatur rendah di dalam suatu sedimen, selama dan
sesudah litifikasi. Hal ini merupakan proses yang mengubah suatu sedimen menjadi batuan
keras ( Pettjohn, 1975).
Proses diagenesa antara lain :
a. Kompaksi Sedimen
Yaitu termampatnya butir sedimen satu terhadap yang lain akibat tekanan dari berat
beban di atasnya. Disini volume sedimen berkurang dan hubungan antar butir yang satu
dengan yang lain menjadi rapat.
b. Sementasi
Yaitu turunnya material-material di ruang antar butir sedimen dan secara kimiawi
mengikat butir-butir sedimen dengan yang lain. Sementasi makin efektif bila derajat
kelurusan larutan pada ruang butir makin besar.
c.

Rekristalisasi
Yaitu pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan kimia yang berasal dari
pelarutan material sedimen selama diagenesa atu sebelumnya. Rekristalisasi sangat
umum terjadi pada pembentukan batuan karbonat.

d. Autigenesis
Yaitu terbentuknya mineral baru di lingkungan diagenesa, sehingga adanya mineral
tersebut merupakan partikel baru dlam suatu sedimen. Mineral autigenik ini yang umum
diketahui sebagai berikut : karbonat, silica, klorita, gypsum dan lain-lain.
e. Metasomatisme
Yaitu pergantian material sedimen oleh berbagai mineral autigenik, tanpa pengurangan
volume asal.

1.3.2 Batuan Sedimen Non-Klastik


Batuan Sedimen Non-Klastik adalah Batuan sedimen yang terbentuk dari hasil reaksi
kimia atau bisa juga dari kegiatan organisme. Reaksi kimia yang dimaksud adalah kristalisasi
langsung atau reaksi organik. Batuan Sedimen Non Klastik ini merupakan batuan sedimen
yang terbentuk oleh organisme atau dari suatu proses kimiawi. Dalam pengertian lain, Batuan
Sedimen Non Klastik adalah batuan sedimen yang terbentuk dari kegiatan atau aktifitas
organik dan kimiawi. Dan dia tidak tertransportasi seperti halnya Batuan Sedimen Klastik.
Batuan Sedimen Non Klastik Batuan sedimen yang terbentuk dari hasil reaksi kimia
atau bisa juga dari kegiatan organisme. Reaksi kimia yang dimaksud adalah kristalisasi
langsung atau reaksi organik (Pettjohn, 1975).
Menurut R.P. Koesoemadinata, 1980 batuan sedimen dibedakan menjadi enam
golongan yaitu :
1 Golongan Detritus Kasar
2 Golongan Detritus Halus
3 Golongan Karbonat
4 Golongan Silika
5 Golongan Evaporit
6 Golongan Batubara
7 Batuan Organik

Klasifikasi Batuan Sedimen Non-Klastik (Koesoemadinata, 1980)


BAB II PEMBAHASAN
III.1 Golongan Evaporit
Proses terjadinya batuan sedimen ini harus ada air yang memiliki larutan kimia yang
cukup pekat. Pada umumnya batuan ini terbentuk di lingkungan danau atau laut yang
tertutup, sehingga sangat memungkinkan terjadi pengayaan unsur unsur tertentu. Dan faktor
yang penting juga adalah tingginya penguapan maka akan terbentuk suatu endapan dari

10

larutan tersebut. Batuan batuan yang termasuk kedalam batuan ini adalah gip, anhidrit, batu
garam.
Batuan evaporit atau sedimen evaporit terbentuk sebagai hasil proses penguapan
(evaporation) air laut. Proses penguapan air laut menjadi uap mengakibatkan tertinggalnya
bahan kimia yang pada akhirnya akan menghablur apabila hampir semua kandungan air
manjadi uap. Proses pembentukan garam dilakukan dengan cara ini. Proses penguapan ini
memerlukan sinar matahari yang cukup lama.
1. Batuan garam (Rock salt) yang berupa halite (NaCl).
batu garam atau yang sering dikenal sebagai rock salt dan termasuk ke dalam batuan
sediment. Batu garam ini terbentuk dari kumpulan mineral yang sering disebut halite.
Mineral halite mempunyai rumus kimia NaCl. Akan tetapi batu garam bisa juga
mengandung pengotor-pengotor dan umumnya yang berasosiasi dengan batu garam
tersebut adalah anhydrite (CaSO4), gypsum (CaSO4.2H2O), dan juga sylvite (KCl).
Terbentuknya batu garam ini umumnya akibat dari penguapan air yang mengandung
garam seperti air laut yang banyak mengandung ion-ion Na+ (Sodium) dan Cl(Cloride). Batu garam ini umumnya terbentuk di daerah danau yang mengering akibat
penguapan, teluk-teluk yang relative tertutup, daerah estuarine yang ada di daerah arid,
daerah-daerah di dekat laut seperti lagoon dan lain-lain.

Gambar.II.1.1 Batu garam


Jenis : Sedimen non klastik
Warna

: putih s/d putih kecoklatan

Tekstur

: Batu garam terbentuk dari mineral halit yang mengalami pelapukan kimia

11

yang kemudian tersedimentasi. Batuan ini terdapat di daerah pantai.


Struktur

: Konkresi,berbutir tak beraturan dan porus karena pelarutan.

Perusahaan penambang : Salt Detroit dan Manufacturing Company


3. Batuan gipsum (Rock gypsum) yang berupa gypsum (CaSO4.2H20)
Gypsum terbentuk dalam kondisi berbagai kemurnian dan ketebalan yang bervariasi.
Gypsum merupakan garam yang pertama kali mengendap akibat proses evaporasi air laut
diikuti oleh anhidrit dan halit, ketika salinitas makin bertambah. Menurut para ahli,
endapan gipsum terjadi pada zaman Permian. Endapan gipsum biasanya terdapat di
danau, laut, mata air panas, dan jalur endapan belerang yang berasal dari gunung api.

Gambar III.1.2 Batu Gypsum


Gypsum umumnya berwarna putih, kelabu, cokelat, kuning, dan transparan. Hal ini
tergantung mineral pengotor yang berasosiasi dengan gypsum. Gypsum umumnya
memiliki sifat lunak dan pejal dengan skala Mohs 1,5 2. Densitas Berat jenis gypsum
antara 2,31 2,35, kelarutan dalam air 1,8 gr/liter pada 0 C yang meningkat
menjadi 2,1 gr/liter pada 40 C, tapi menurun lagi ketika suhu semakin tinggi.
Gypsum memiliki pecahan yang baik, antara 66o sampai dengan 114o dan belahannya
adalah jenis choncoidal. Gypsum memiliki kilap sutra hingga kilap lilin, tergantung dari
jenisnya. Gores gypsum berwarna putih, memiliki derajat ketransparanan dari jenis

12

transparan hingga translucent, serta memiliki sifat menolak magnet atau disebut
diamagnetit.
3. Travertine yang terdiri dari calcium carbonate (CaCO3),
merupakan batuan karbonat. Batuan travertin umumnya terbentuk dalam gua
batugamping dan juga di kawasan air panas (hot springs).

Gambar II.1.3 Travertine

III.2 Golongan Silika


Proses terbentuknya batuan ini adalah gabungan antara proses organik dan kimiawi
untuk lebih menyempurnakannya. Termasuk golongan ini rijang (chert), radiolarian dan tanah
diatom. Batuan golongan ini tersebarnya hanya sedikit dan terbatas sekali.
Batuan ini terbentuk daripada proses kimia, iaitu daripada bahan kimia yang larut
dalam air (terutamanya air laut). Bahan kimia ini termendap hasil daripada proses kimia
(contohnya proses perwapan membentuk hablur garam), atau dengan bantuan proses biologi
(seperti pembesaran cangkang oleh hidupan yang mengambil bahan kimia yang ada dalam
air). Dalam keadaan tertentu, proses yang terlibat sangat kompleks, dan sukar untuk
dibezakan antara bahan yang terbentuk hasil daripada proses kimia, atau proses biologi (yang
juga melbatkan proses kimia secara tak langsung). Jadi lebih sesuai kedua-dua jenis sedimen
ini diletak dalam satu klas yang sama (sedimen endapan kimia / biokimia).
Batuan sedimen silika tersusun dari mineral silika (SiO2). Batuan ini terhasil dari
proses kimiawi dan atau biokimia, dan berasal dari kumpulan organisme yang berkomposisi
silika seperti diatomae, radiolaria dan sponges. Kadang-kadang batuan karbonat dapat

13

menjadi batuan bersilika apabila terjadi reaksi kimia, dimana mineral silika mengganti
kalsium karbonat. Kelompok batuan silika adalah:
Diatomite, terlihat seperti kapur (chalk), tetapi tidak bereaksi dengan asam. Berasal
dari organisme planktonic yang dikenal dengan diatoms (Diatomaceous Earth).
Rijang (Chert), adalah batuan sedimen silikaan berbutir halus. Batuan keras, kompak
yang terbentuk oleh kristal kuarsa berukuran lanau (mikrokuarsa) dan kalsedon, sebuah
bentuk silika yang terbuat dari serat memancar dengan panjang beberapa puluh hingga
ratusan mikrometer. Lapisan rijang terbentuk sebagai sedimen primer atau oleh proses
diagenesis.
Di atas lantai laut dan danau, kerangka silikaan dari organisme mikroskopik
terakumulasi membentuk ooze silikaan. Organisme ini adalah diatom, terdapat di danau dan
mungkin juga terakumulasi dalam kondisi laut, meskipun radiolaria lebih umum sebagai
komponen utama ooze silikaan di laut. Radiolaria adalah zooplankton (hewan mikroskopik
dengan gaya hidup planktonik) dan diatom adalah fitoplankton (tanaman mengambang bebas
dan alga).
Jika terkonsolidasi, ooze ini akan membentuk lapisan rijang. Silika opalin diatom dan
radiolaria adalah metastabil dan terekristalisasi membentuk silika kalsedon atau mikrokuarsa.
Rijang yang terbentuk dari ooze sering berlapis tipis dengan lapisan yang disebabkan oleh
variasi jumlah material berukuran lempung yang ada. Rijang ini sangat umum dalam
lingkungan laut dalam.
Beberapa rijang adalah hasil diagenesis, terbentuk oleh penggantian mineral lain oleh
air kaya silika yang mengalir melalui batuan. Umumnya mengganti batugamping (contoh
sebagai batuapi / flint dalam kapur) dan terkadang terjadi dalam batulumpur. Rijang ini dalam
bentuk nodul-nodul atau lapisan irreguler dan dari sini dengan mudah dapat dibedakan dari
rijang primer. Jasper adalah rijang dengan pewarnaan merah yang kuat karena adanya
hematit.

14

Gambar II.1 Batu Rijang

KESIMPULAN
Proses terjadinya Batuan Evaporit harus ada air yang memiliki larutan kimia yang
cukup pekat. Pada umumnya batuan ini terbentuk di lingkungan danau atau laut yang
tertutup, sehingga sangat memungkinkan terjadi pengayaan unsur unsur tertentu. Dan faktor
yang penting juga adalah tingginya penguapan maka akan terbentuk suatu endapan dari
larutan tersebut. Batuan batuan yang termasuk kedalam batuan ini adalah gip, anhidrit, batu
garam.
Batuan evaporit atau sedimen evaporit terbentuk sebagai hasil proses penguapan
(evaporation) air laut. Proses penguapan air laut menjadi uap mengakibatkan tertinggalnya
bahan kimia yang pada akhirnya akan menghablur apabila hampir semua kandungan air
manjadi uap. Proses pembentukan garam dilakukan dengan cara ini. Proses penguapan ini
memerlukan sinar matahari yang cukup lama.
Batuan Silika terbentuk dari gabungan antara proses organik dan kimiawi untuk lebih
menyempurnakannya. Termasuk golongan ini rijang (chert), radiolarian dan tanah diatom.
Batuan golongan ini tersebarnya hanya sedikit dan terbatas sekali.
Batuan sedimen silika tersusun dari mineral silika (SiO2). Batuan ini terhasil dari
proses kimiawi dan atau biokimia, dan berasal dari kumpulan organisme yang berkomposisi
silika seperti diatomae, radiolaria dan sponges. Kadang-kadang batuan karbonat dapat
menjadi batuan bersilika apabila terjadi reaksi kimia, dimana mineral silika mengganti
kalsium karbonat.

15

DAFTAR ISI
1. http://samuelmodeon.blogspot.co.id/2011/11/batuan-sedimen-non-klastik-silika.html
2. http://3.bp.blogspot.com/9oZ1ETnt6vs/VNcg_tDUS8I/AAAAAAAAADA/j7UkLEL
_CXk/s1600/Rijang%2B(chert).jpg
3. https://en.wikipedia.org/wiki/Chert
4. https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Fur_island_diatomaceous_earth.JPG
5. https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f4/Fur_island_diatomaceous_eart
h.JPG
6. https://basdargeophysics.files.wordpress.com/2012/04/gol-basedimen.jpg
7. https://basdargeophysics.wordpress.com/2012/04/17/batuan-sedimen/
8. https://gypsum123.wordpress.com/2010/03/08/sekilas-tentang-gypsum-2/
9. http://wienblank.blogspot.co.id/2012/01/saltstone-dan-pemanfaatannya.html
10. http://rizqigeos.blogspot.co.id/2013/05/batuan-sedimen.html
11. https://miningundana07.wordpress.com/2009/10/08/batuan-sedimen-non-klastik/
12. https://www.scribd.com/doc/23040810/BATUAN-SEDIMEN