Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
LAPORAN KASUS

IDENTIFIKASI
Nama

: S

Jenis kelamin

: Laki-laki

Usia

: 11 tahun

Alamat

Pekerjaan

: Pelajar SMP

Status perkawinan

: Belum kawin

Agama

: Islam

Tanggal dirawat

: 5 April 2013

ANAMNESIS
Keluhan Utama
Nyeri perut kanan bawah yang timbul sejak 2 jam yang lalu.
Riwayat Perjalanan Penyakit
8 jam sebelumnya pasien mengeluh rasa tidak enak di ulu hati. Mual dan muntah (+)
frekuensi 1 kali, isi apa yang dimakan. BAB dan BAK biasa. Demam (-).
2 jam yang lalu pasien merasa nyeri perut kanan bawah yang hilang timbul. Demam
(-), nafsu makan menurun, muntah (-), mual (+) . BAB (-), BAK biasa.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien didiagnosis menderita demam tifoid sekitar 1 bulan lalu.
Riwayat Sosial Ekonomi
Ayah pasien bekerja swasta sedangkan ibu pasien ibu rumah tangga. Status sosial
ekonomi sedang.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Keadaan umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: compos mentis

BB

: 20 kg

Tekanan darah

: 100/60 mmHg

Nadi

: 112 x/ menit, teratur,

Pernapasan

: 24 x/ menit

Temperatur

: 37 C

Keadaan Spesifik
Kulit
Warna sawo matang, efloresensi (-), scar (-), pigmentasi normal, ikterus (-), sianosis (-),
spider nevi (-), temperatur kulit panas, pertumbuhan rambut normal, telapak tangan dan
kaki pucat (-), pertumbuhan rambut normal.
KGB
Kelenjar getah bening di submandibula, leher, axila, dan inguinal tidak teraba.
Kepala
Bentuk oval, simetris, ekspresi tampak sakit, warna rambut hitam, rambut mudah rontok
(-), deformitas (-).
Mata
Eksophtalmus (-), endophtalmus (-), edema palpebra (-), konjungtiva palpebra pucat (-),
sklera ikterik (-), pupil isokor, reflek cahaya (+), pergerakan mata ke segala arah baik.
Hidung
Bagian luar hidung tak ada kelainan, septum dan tulang-tulang dalam perabaan baik,
selaput lendir dalam batas normal dan epistaksis (-).

Telinga
Kedua meatus akustikus eksternus normal dan pendengaran baik.
Mulut
Sariawan (-), pembesaran tonsil (-), gusi berdarah (-), lidah pucat (-), lidah kotor (-),
atrofi papil (-), stomatitis (-), rhagaden (-), bau pernapasan khas (-).
Leher
Pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), JVP (5-2) cmH 2O,
hipertrofi muskulus sternokleidomastoideus (-), kaku kuduk (-)
Thorax
Bentuk dada normal, retraksi (-), nyeri tekan (-), nyeri ketok (-), krepitasi (-)
Paru:
Inspeksi : statis-dinamis simetris kanan dan kiri
Palpasi : stemfremitus kanan sama dengan kiri
Perkusi : sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : vesikuler normal, ronki (-), wheezing (-)
Jantung:
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis tidak teraba
Perkusi : batas atas ICS II, batas kanan linea sternalis dekstra, batas kiri LMC
sinistra
Auskultasi : HR 112 x/ menit, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : datar
Palpasi

: lemas, nyeri tekan titik mc Burney (+), rovsing sign (+), psoas sign
(+), defanse muskular (-), hepar/lien tidak teraba, massa tidak teraba.

Perkusi

: timpani,

Auskultasi

: bising usus (+) menurun.

Genital

: tidak ada kelainan

Ekstremitas
Ekstremitas atas :

nyeri sendi (-), gerakan bebas, edema (-), jaringan parut (-),
pigmentasi normal, telapak tangan pucat (-), jari tabuh (-), turgor
normal.

Ekstremitas bawah : nyeri sendi (-), gerakan bebas, edema (-), jaringan parut (-),
pigmentasi normal, telapak kaki pucat (-), jari tabuh (-), turgor
normal.
ALVARADO SCORE
o Appendicities point pain
o Leukositosis
o Vomitus
o Anorexia
o Rebound Tenderness Phenomenone
o Abdominal migration pain
o Degree of celcius (39C)
o Observation of Hemogram (neutrofil Segmen > 72%)
Total point

2
?
1
1
1
1
1
?
7

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan
RESUME
S, laki-laki, 11 tahun, datang pada tanggal 5 April 2013 dengan keluhan utama nyeri
perut kanan bawah yang timbul sejak 2 jam yang lalu. 8 jam sebelumnya pasien
mengeluh rasa tidak enak di ulu hati. Mual dan muntah (+) frekuensi 1 kali, isi apa yang
dimakan. BAB dan BAK biasa. Demam (-). 2 jam yang lalu pasien merasa nyeri perut
kanan bawah yang hilang timbul. Demam (-), nafsu makan menurun, muntah (-), mual
(+), BAB (-), BAK biasa.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran
compos mentis, Tekanan darah 100/60 mmHg, Nadi 112 x/ menit, teratur, Pernapasan
24 x/ menit, T 37 C. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan abdomen datar, lemas,
nyeri tekan titik mc Burney (+), rovsing sign (+), psoas sign (+), defanse muskular (-),,

hepar/lien tidak teraba, massa tidak teraba. bising usus (+) menurun. Pemeriksaan
kepala, leher, thorax, genitalia dan ekstremitas tidak ada kelainan.
DIAGNOSIS
Appendisitis Akut
PENATALAKSANAAN

IVFD RL gtt XX/menit

Paracetamol tab 3x1/2 tab peroral

Inj. Ranitidin 2 50 mg IV

Inj. Ceftriaxon 2x1 gr IV

Rujuk

PROGNOSIS
Dubia ad bonam
FOLLOW UP
Tanggal
S

5 April 2013 (08.00 WIB)


nyeri perut kanan bawah yang hilang timbul.
Demam (-), nafsu makan menurun, muntah
(-), mual (+), BAB (-), BAK biasa.

O: Keadaan umum
Kesadaran

Compos mentis

Tekanan darah

100/60 mmHg

Nadi

112 x/menit

Pernapasan

24 x/ menit

Temperatur

370C

Keadaan spesifik
Konjungtiva palpebra pucat (-)
Sklera ikterik (-)
Paru

Vesikuler (+) normal, ronki (-), wheezing (-)

Jantung

HR 112 x/ menit, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

I : datar
P : lemas, nyeri tekan titik mc Burney (+),
rovsing sign (+), psoas sign

(+), defanse

muskular (-), hepar/lien tidak teraba, massa


tidak teraba.
P : timpani,
A : bising usus (+) menurun.
Genitalia

Tidak ada kelainan

Ekstremitas
A
P

Tidak ada kelainan


Appendisitis akut

IVFD RL gtt XX/menit

Inj. Ranitidin 2 50 mg IV

Inj. Ceftriaxon 2x1 gr IV

paracetamol tab 3x1/2 tab peroral

R/ Rujuk ke RSUD Kayu Agung


informed consent : keluarga pasien
menolak untuk dirujuk

Tanggal
S

5 April 2013 (12.00 WIB)


nyeri perut kanan bawah yang hilang timbul
berkurang,

Demam

(+),

nafsu

makan

menurun, muntah (-), mual (+).


O: Keadaan umum
Kesadaran

Compos mentis

Tekanan darah

100/60 mmHg

Nadi

112 x/menit

Pernapasan

24 x/ menit

Temperatur

390C

Keadaan spesifik
Konjungtiva palpebra pucat (-)
Sklera ikterik (-)
Paru

Vesikuler (+) normal, ronki (-), wheezing (-)

Jantung

HR 112 x/ menit, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

I : datar
P : lemas, nyeri tekan titik mc Burney (-),
rovsing sign (-), psoas sign (-), defanse
muskular (-), hepar/lien tidak teraba, massa
tidak teraba.
P : timpani,
A : bising usus (+) menurun.

Genitalia

Tidak ada kelainan

Ekstremitas
A
P

Tidak ada kelainan


Appendisitis akut
Keluarga pasien meminta untuk pulang
paksa

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pendahuluan
Appendisitis adalah peradangan appendiks vermiformis 1. Apendiks disebut juga
umbai cacing. Peradangan akut apendiks memerlukan tindakan bedah segera untuk
mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya.

2.2

Anatomi1,2
Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangya kira-kira 10 cm
(beranjak 3-15 cm), dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian
proksimal dan lebar di bagian distal. Pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar
pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya.
Pada 65% kasus, apendiks terletak intraperitoneal.

Pada kasus selebihnya

apendiks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, di belakang colon


asendens atau di tepi lateral colon asendens. Gejala klinik apendisitis ditentukan
oleh letak apendiks.
Persarafan parasimpatis berasal dari cabang
n.vagus yang mengikuti a. Mesenterica superior
dan a. Apendicularis, sedangkan persarafan
simpatis berasal dari n.toracalis X. Karena itu
nyeri visceral pada apendistis bermula disekitar
umbilicus.
Perdarahan apendiks berasal dari a.apendicularis
yang merupak arteri tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya trombosis
pada infeksi, apendiks akan mengalami ganggren.
2.3

Fisiologi1
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml perhari.

Lendir itu secara normal

dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir kedalam lumen. Hambatan


aliran di muara apendiks berperan pada patogenensis apendisitis.
Pada appendiks terdapat IgA yang dihasilkan oleh GALT. Imunoglobulin itu
sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun pengangkatan apendiks
tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan limfe disini kecil
sekali jika dibandingkan dengan jumlah disaluran cerna dan seluruh tubuh.
2.4

Apendisitis Akut
A. Epidemiologi

Appendicitis dapat menyerang orang dalam berbagai umur Insiden


appendisitis akut pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali
pada usia 20-30 tahun, insiden pada laki-laki lebih tinggi.
B. Etiologi
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Apendisitis dapat terjadi karena
berbagai macam penyebab, antara lain obstruksi oleh fecalith, gallstone, tumor,
tekukan appendiks (kinking) karena mesoappendiks yang pendek dan adhesi
dengan sekitarnya atau bahkan oleh cacing (Oxyurus vermicularis), akan tetapi
paling sering disebabkan obstruksi oleh fecalith. Namun, appendiks juga dapat
disebabkan oleh infeksi hematogen dari tempat lain pada 10-20% kasus.
Penelitian epidemiologi menunjukan peran kebiasaan makan makanan
randah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi
akan menaikkan tekanan intrasekal sehingga berakibat timbulnya sumbatan
fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa.
Hal ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut.
C. Patogenesis dan patofisiologi
Ada 4 faktor yang mempengaruhi terjadinya appendicitis yakni adanya isi
lumen, derajat sumbatan yang terus menerus, sekresi mukus yang terus menerus,
serta sifat inelastik (tak lentur) dari mukosa appendiks. Appendiks mensekresi
mukus sekitar 1-2 ml/heri, sedangkan kapasitas appeniks adalah sekitar 3-5 ml
/hr. Karena itu, Nyeri Mc Burney akan muncul setelah terjadi sumbatan.
Pada fase awal apendisitis, mukosa mengalami inflamasi terlebih dahulu.
Inflamasi ini akan meluas ke lapisan submukosa, termasuk juga lapisan
muskularis dan lapisan serosa pada waktu 24-48 jam pertama. Usaha pertahanan
tubuh adalah membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan
omentum, usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk massa periapendikular
yang dikenal dengan istilah infiltrat apendisitis.

Di dalamnya dapat terjadi

nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi.

Jika tidak

terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan masa apendikuler akan menjadi
tenang untuk selanjunya akan mengurai diri secara lambat.

10

Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna tetapi akan
terbentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan
sekitarnya. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang di perut kanan
bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan
sebagai mengalami eksaserbasi akut.

13

D. Gambaran Klinis
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala yang khas yang didasari oleh
radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai
maupun tidak oleh rangsang peritoneum lokal. Gejala klasik apendisitis
merupakan nyeri visceral di daerah epigastium di sekita umbilikus. Keluhan ini
sering disertai mual dan kadang ada muntah. Umumnya nafsu makan menurun.
Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik Mc.Burney,
disini nyeri akan dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga
merupakan nyeri somatik setempat. Kadang tidak ada nyeri epigastrium tetapi
terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan pencahar. Tindakan
itu dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Bila
terdapat perangsangan peritoneum biasanya pasien mengeluh sakit perut bila
berjalan atau batuk.
Bila apendiks terletak retrosekal di luar rongga perut, karena letaknya
terlindung sekum maka tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan
tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan
atau nyeri timbul saat berjalan, karena kontraksi otot polos psoas mayor yang
menegang dari dorsal.1
Apendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat menimbulkan
gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rectum hingga peristaltik meningkat.
Pengosongan rectum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang. Jika
apendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi
kencing, karena rangsangan dindingnya. Pada beberapa keadaan, apendisitis
agak sulit di diagnosis sehingga tidak ditangani pada waktunya dan terjadi
komplikasi.1
Gejala appendisitis akut pada anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering
hanya rewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa
nyerinya. Dalam beberapa jam kemudian akan timbul muntah-muntah sehingga
anak menjadi lemah dan letargi. Karena gejalanya yang tidak khas, seringkali
appendisitis diketahui setelah perforasi.
E. Pemeriksaan

14

Demam biasanya ringan, dengan suhu sekitar 37,5-38,5 C. Bila suhu lebih
tinggi, mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa terjadi perbedaan suhu aksilar dan
rectal sampai 1 C. Pada inspeksi abdomen tidak ditemukan gambaran spesifik.
Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi.
Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses apendicular.
Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan, bisa
disertai nyeri lepas. Defans muskuler menunjukan adanya rangsangan
peritoneum parietal. Nyeri tekan perut kanan bawah ini merupakan kunci
diagnosis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri di perut kanan
bawah yang disebut tanda Rovsing. Pada apendisitis retrosekal atau retroileal
diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri. Peristaltik usus
sering normal, peristaltik usus dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis
generalisata akibat apendisitis perforata. Pemeriksaan colok dubur menyebabkan
nyeri bila daerah infeksi bisa dicapai dengan jari telunjuk, misalnya pada
apendisitis pelvika.
Pada apendisitis pelvika tanda perut sering meragukan, maka kunci diagnosis
adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Pemeriksaan uji psoas dan
uji obturator merupakan pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui
letak apendiks. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan psos lewat hiperekstensi
atau fleksi aktif. Bila apendiks yang meradang menempel di m.psoas, tindakan
tersebut akan menimbulkan nyeri. Uji obturator digunakan untuk melihat apakah
apendiks yang meradang kontak dengan m.obturator internus yang merupakan
dinding panggul kecil. Dengan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada
posisi terlentang, apendisitis pelvika akan menimbulkan nyeri.
F. Diagnosis
Appendisitis akut dapat didiagnosis secara klinis dengan anamnesis dan
pemeriksaan fisik (physical examination). Diagnosis harus dilakukan sesegera
mungkin sehingga appendix dapat segera diangkat bila ternyata terjadi
appendisitis. Menurut Wienn et all (2002) diagnosis appendisitis dapat dinilai
berdasarkan ALVARADO SCORE di bawah ini.

15

ALVARADO SCORE
o
o
o
o
o
o
o
o

Appendicities point pain


Leukositosis
Vomitus
Anorexia
Rebound Tenderness Phenomenone
Abdominal migration pain
Degree of celcius (39C)
Observation of Hemogram (neutrofil Segmen > 72%)
Total point

2
2
1
1
1
1
1
1
10

Pasien dinyatakan appendisitis akut bila skor > 7. Jika skor 5-6 dinyatakan
kemungkinan appendisitis, sedangkan skor 1-4 dipertimbangkan diagnosis
appendisitis.
G. Diagnosis Banding
-

Gastroenteritis
Pada gastroenteritis gejala nyeri perut didahului adanya diare, mual dan
muntah. Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Sering ditemukan
hiperperistaltik usus. Demam dan leukositosis kurang menonjol.

Urolitiasis pielum/ureter kanan


Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan
merupakan gejala yang khas, terdapat eritrosituria.

Pelvic inflamatory disease


Suhu biasanya lebih tinggi dari apendisitis dan nyeri perut bagian bawah
perut lebih difuse.

Divertikulitis Meckel
Penyakit ini merupakan kelainan yang memiliki gejala yang sangat mirip
dengan apendisitis akut, hanya letaknya yang lebih ke medial.

H. Penatalaksanaan Apendisitis
Pada appendisitis perlu segera dilakukan appendiktomi. Berdasarkan hasil
alvarado score, manajemen appendisitis dapat dibagi sebagai berikut:
Skor 1-4 : observasi
Skor 5-6 : pemberian antibiotik

16

Skor 7-10 : perlu dilakukan operasi segera.


I. Komplikasi
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa
perforasi bebas maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami
pendindingan sehingga berupa masa yang terdiri dari kumpulan apendiks, sekum
dan lekuk usus.
Massa periapendikuler
Massa apendiks terjadi bila apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi
ditutupi pendindingan oleh omentum dan atau kerluk usus.

Pada massa

periapendikuler yang pendindinganya belum sempurna, dapat terjadi penyebaran


pus ke seluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti peritonitis purulenta
generalisata. Pada massa periapendikuler yang terfiksir dan pendindingannya
sempurna, pada orang dewasa dirawat dahulu dan diberi antibiotik sambil
diawasi suhu tubuh, ukuran massa, serta luasnya peritonitis. Bila sudah tidak ada
demam, massa periapendikuler hilang dan leukosit normal, penderita boleh
pulang dan apendiktomi elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar
perdarahan akibat perlengketen dapat ditekan sekecil mungkin. Bila terjadi
perforasi akan terbentuk abses apendiks. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu
dan frekuensi nadi, bertambahnya nyeri,dan pembengkakan masa serta
leukositosis.
Riwayat klasik apendisitis akut, diikuti adanya massa di regio iliaka
kanan yang nyeri disertai demam mengarahkan diagnosis ke massa atau abses
periapendikuler. Kadang keadaan ini sulit dibedakan dari ca rektum,penyakit
crohn dan amuboma.
Pengelolaan. Apnediktomi di rencanakan pada infiltrat periapendikuler
tanpa pus yang telah ditenangkan.

Sebelumnya pasien diberi antibiotik

kombinasi yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. Baru setalah keadaan
tenang, yaitu sekitar 6-8 minggu, kemudian dilakukan apendiktomi. Kalau sudah
menjadi abses dianjurkan drainase saja. Apendiktomi dikerjakan setelah 6-8
minggu kemudian. Jika ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun dan hasil

17

pemeriksaan tidak menunjukkan tanda radang atau abses, dapat dipertimbangkan


membatalkan tindakan bedah.
Apendisitis perforata
Adanya fekalit di dalam lumen, umur ( orang tua atau anak muda), dan
keterlambatan diagnosis merupakan faktor yang berperan dalam terjadinya
perforasi apendiks. Insiden perforasi 60% pada usia diatas 60 tahun. Faktor yang
mempengaruhi tingginya insidens perforasi pada orang tua adalah gejalanya
yang samar, keterlambatan berobat, adanya perubahan anatomi apendiks berupa
penyampitan lumen dan arteriosklerosis. Insidens tinggi pada anak disebabkan
oleh dinding apendiks yang masih tipis, dan kurang komunikatif sehingga
memperpanjang waktu diagnosis dan proses pendindingan kurang sempurna,
akibat perforasi berlangsung cepat dan omentum anak belum berkembang.
Diagnosis. Perforasi apendiks akan mengakibatkan peritonitis purulenta yang
ditandai dengan demam tinggi, nyeri makin hebat serta meliputi seluruh perut
dan perut menjadi tegang dan kembung. Nyeri tekan dan defans muskuler di
seluruh perut mungkin dengan pungtum maksimum di regio iliaka kanan,
peristaltik usus menurun sampai menghilang karena ileus paralitik kecuali di
regio iliaka kanan, abses rongga peritoneum bisa terjadi bilamana pus yang
menyebar bisa dilokalisir di suatu tempat. Paling sering adalah abses rongga
pelvis dan subdiafragma.
Penaggulangan. Perbaikan keadaan umum dengan infus, antibiotik untuk kuman
gram negatif dan positif serta kuman anaerob dan pipa nasogastrik perlu
dilakukan pembedahan. Perlu dilakukan laparotomi dengan incisi yang panjang,
supaya dapat dilakukan pencucian rongga peritoneum dari pus maupun
pengeluaran fibrin secara adekuat secara mudah dan pula dapat dilakukan
pembersihan kantong nanah secara baik.

Karena ada kemungkinan terjadi

infeksi luka operasi, perlu dianjurkan pemasangan penyalir subfasia, kulit


dibiarkan terbuka untuk kemudian dijahit bila sudah dipastikan tidak ada infeksi.

18

BAB III
Analisis Kasus
Pasien mengeluh nyeri perut kanan bawah beberapa saat sebelum datang ke
Puskesmas Tugujaya. Nyeri timbul mendadak, hilang timbul dimana sebelumnya pasien
mengeluh adanya mual dan muntah. Demam tidak ada. Riwayat mencret, BAB lendir

19

dan berwarna merah dan trauma tidak ada. Keluhan nyeri perut kanan bawah mendadak
pada

anak-anak

menimbulkan

beberapa

differensial

diagnosis

diantaranya

gastroenteritis, appendisitis akut, intusussepsi, trauma dll.


Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan adanya tanda-tanda yang mendukung ke
arah diagnosis appendisiis akut. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang
dinilai dengan menggunakan penilaian ALVARADO score dengan hasil sbb :
o Appendicities point pain
2
o Leukositosis
o Vomitus
1
o Anorexia
1
o Rebound Tenderness Phenomenone
1
o Abdominal migration pain
1
o Degree of celcius (39C)
1
o Observation of Hemogram (neutrofil Segmen > 72%) Total point
7
Interpretasi : appendisitis akut
Pemeriksaan nyeri tekan pada Mc Burney (+), rovsing sign (+) dan psoas sign
(+). Hal ini semakin menguatkan diagnosis ke arah appendisitis akut. Tidak adanya
riwayat BAB lendir berwarna merah dan riwayat trauma menyingkirkan kemungkinan
akut abdomen akibat trauma dan intusussepsi
Appendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks oleh
hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat
peradangan sebelumnya atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang
diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak,
namun elasisitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan
peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat
aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri dan ulserasi mukosa. Pada
saat inilah terjadi appendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Pada
pasien ini, juga ditemukan mual dan muntah.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut
akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri akan menembus
dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga
menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan appendisitis
supuratif akut. Pada pasien ini nyeri perut kuadran bawah sudah mulai dirasakan. Hal
ini diperkuat dengan rovsing sign (+), nyeri lepas(+) dan psoas sign(+)
Pengobatan untuk pasien ini yaitu stabilisasi pasien berupa pemberian IVFD RL
gtt XX/menit (mikro). Selain itu diberikan pula Paracetamol tab 3x1/2 tab peroral

20

sebagai antipiretik, Inj. Ranitidin 2 50 mg IV untuk mual dan muntah, serta Inj.
Ceftriaxon 2x1 gr IV.
Pasein direncanakan secepatnya dirujuk untuk menjalani operasi, namun sayang
setelah diinformed consent, pasien menolak untuk dirujuk dan meminta untuk pulang
paksa. Pada appendisitis yang dibiarkan lebih dari 48 jam dapat terjadi dua
kemungkinan, yakni perforasi atau terbentuknya appendisitis infiltrat. Bila aliran arteri
terganggu, akan terjadi infark dinding appendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium
ini disebut dengan appendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah,
akan terjadi appendisits perforasi.
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omenum dan usus yang berdekatan
akan bergerak ke arah appendiks hingga timbul seuatu masa lokal yang disebut infiltrat
apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada
anak-anak, keadaan omentum lebih pendek dan appendiks lebih panjang, dinding
appendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih
kurang sehingga memungkinkan terjadinya perforasi. Sehingga pada pasien ini
prognosisnya menjadi dubia ad bonam.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat R, Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. Jakarta: EGC. 2004
2. Sari, D.K, dkk. 2005. Chirurgica. Appendicitis. Hal IV.35-IV.43
3. Mansjoer A, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Apendisitis. Hal 307313. Editor: Mansjoer A; Jakarta; Media Aesculapius.