Anda di halaman 1dari 35

Delta & Estuary

Calvin Markus Simangunsong


270110120050
Kelas B

Delta yaitu tanah datar hasil pengendapan yang dibentuk oleh


sungai, muara sungai, dimana timbunan sedimen tersebut
mengakibatkan propagradasi yang tidak teratur pada garis pantai
(Coleman, 1968; Scott & Fischer, 1969). Sungai akan
mengendapkan bebannya di daratan jika tidak mampu lagi
mengangkutnya. Ini dapat terjadi pada lekuk lereng, sisi dalam
meander, pertemuan antara dua aliran sungai, dan pada
perubahan graden. Tetapi endapan juga terjadi jika sungai masuk
ke dalam danau atau laut, maka akan terbentuk delta.

Syarat syarat untuk terbentuknya suatu delta,


antara lain :
a) Ada sungai yang menuju ke laut atau danau
b) Lautnya dangkal
c) Gelombang atau arus laut yang ada sangat kecil
d) Tidak ada gerakan tektonik yang menyebabkan
penurunan dasar laut atau danau di tempat
muara sungai tersebut
e) Arus pasang surut tidak kuat
f) Dari waktu ke waktu material batuan yang
diendapkan di laut atau danau cukup besar.

Klasifikasi
Delta

Pembentukan delta dikontrol oleh interaksi yang rumit


antara berbagai faktor yang berasal dan bersifat fluviatil,
proses di laut dan kondisi lingkungan pengendapan. Faktorfaktor tersebut adalah :
Climate (iklim)
Water (air)
Sediment supply
Process mount river
Wave (geolombang laut)
Tide (pasang surut)
Current (arus)
Wind (angin)
Luas shelf
Lereng (slope)
Tektonik
Geometri cekungan penerima (receiving basin)

Menurut Galloway (1975)dan Boggs (1987) ada beberapa


proses saja yang tergolong sangat penting dalam mengontrol
bentuk geometri delta, proses internal yang bersifat progradasi
delta (progradational framework) dan kecenderungan arah
penyebaran (trend) delta. Proses-proses tersebutdipengaruhi
oleh beberapa faktor, diantaranyaadalah :
Jumlah pasokan sedimen (Fluvial)
Tingkat energi gelombang(Wave)
Tingkat energi pasang surut (Tide)
Ketiga faktor inilah yang nantinya akan sangat berperan
dalam penggolongan delta ke dalam tiga tipe dasar delta yang
sangat fundamental yaitu
(1) Fluvial-dominated
(2) Tide-dominated
(3) Wave-dominated
Adanya dominasi diantara salah satu faktor pengontrol
tersebut akan mempengaruhi geometri delta yang terbentuk.

Menurut Curray (1969) delta memiliki beberapa


bentuk yang umum, yaitu :
1. Birdfoot : Bentuk delta yang menyerupai kaki
burung
2. Lobate : Bentuk delta seperti cuping
3. Cuspate : Bentuk delta yang menyerupai huruf
(v)
4. Arcuate : Bentuk delta yang membundar
5. Estuarine : Bentuk delta tidak dapat berkembang
dengan sempurna

Klasifikasi Delta menurut Galloway (1975) Vide


Serra (1985)

Selain klasifikasi menurut Galloway, juga terdapat klasifikasi


menurut Fisher (1969). Dalam klasifikasi ini, Fisher
menyimpulkan bahwa proses pembentukan delta dipengaruhi
oleh dua faktor pengontrol utama yaitu :
A. Proses fluvial atau pasokan sedimen dari sungai
B. Proses gelombang yang berasal dari laut (marine processes).
Berdasarkan dominasi salah satu faktor tersebut, Fisher
dalam klasifikasinya membagi delta menjadi dua kelompok
yaitu:
C. Delta yang bersifat high constructive, apabila proses fluvial
dan
pasokan
sedimen
yang
dominan
mengontrol
pembentukan delta. Biasanya memiliki bentuk geometri
delta strandplan dan cuspate.
D. Delta yang bersifat high desctructive apabila proses asal laut
yang lebih dominan. Biasanya memiliki bentuk geometri
delta lobate dan engolate.

Klasifikasi Delta menurut Fisher (1969)

Sub-lingkungan Pengendapan
Pada Delta

Secara
morfology
delta
dibagi
menjadi
beberapa
sublingkungan antara lain:
a. Delta Plain
Plain merupakan bagian delta yang bersifat subaerial yang
terdiri dari channel yang sudah ditinggalkan. Delta plain
merupakan bagian daratan dari delta dan terdiri atas endapan
sungai yang lebih dominan daripada endapan laut dan
membentuk suatu daratan rawa-rawa yang didominasi oleh
material sedimen berbutir halus, seperti serpih organik dan
batubara.
Delta Plain merupakan bagian delta yang berada pada
bagian lowland yang tersusun atas active channel dan
abandoned channel yang dipisahkan oleh lingkungan perairan
dangkal dan merupakan permukaan yang muncul atau hampir
muncul.Delta Plain dicirikan oleh suatu distributaries dan
interdistributaries area. Proses sedimentasi utama di delta
plain adalah arus sungai, walaupun arus tidal juga muncul.

Pada dasarnya Delta Plain dibagi menjadi dua, yaitu :


1. Upper Delta Plain
Merupakan bagian delta yang berada di atas area pengaruh pasang
surut (tidal) dan laut yang signifikan (pengaruh laut sangat
kecil).Pada bagian ini terletak diatas area tidal atau laut dan
endapannya secara umum terdiri dari :
a. Endapan distributary channel
Terdiri dari endapan braided dan meandering, levee dan endapan
point bar. Endapan distributary channel ditandai dengan adanya
bidang erosi pada bagian dasar urutan fasies dan menunjukkan
kecenderungan menghalus ke atas. Struktur sedimen yang
umumnya dijumpai adalah cross bedding, ripple cross stratification,
scour and fill dan lensa-lensa lempung.Endapan point bar terbentuk
apabila terputus dari channel-ya.Sedangkan levee alami berasosiasi
dengan distributary channel sebagai tanggul alam yang
memisahkan dengan interdistributary channel. Sedimen pada
bagian ini berupa pasir halus dan rombakan material organik serta
lempung yang terbentuk sebagai hasil luapan material selama
terjadi banjir.

b. Lacustrine delta fill dan endapan interdistributary


flood plain.
Endapan interdistributary channel merupakan
endapan yang terdapat diantara distributary channel.
Lingkungan ini mempunyai kecepatan arus paling
kecil, dangkal, tidak berelief dan proses akumulasi
sedimen lambat. Pada interdistributary channel dan
flood plain area terbentuk suatu endapan yang
berukuran lanau sampai lempung yang sangat
dominan. Struktur sedimennya adalah laminasi yang
sejajar dan burrowing structure endapan pasir yang
bersifat lokal, tipis dan kadang hadir sebagai
pengaruh gelombang.Merupakan bagian delta yang
berada di atas area pengaruh pasang surut (tidal) dan
laut yang signifikan (pengaruh laut sangat kecil).

2. Lower Delta Plain


Lower delta plain terletak pada daerah
dimana terjadi interaksi antara sungai dengan
laut, yaitu dari low tidemark sampai batas
kehadiran yang dipengaruhi pasang-surut.
Pada lingkungan ini endapannya meliputi
endapan pengisi teluk (bay fill deposit)
meliputi interdistributary bay, tanggul alam,
rawa dan crevasse slay, serta endapan
pengisi distributary yang ditinggalkan.

Contoh facies upper delta plain

b.Delta Front
Delta front merupakan sublingkungan
dengan energi tinggi, dimana sedimen secara
konstan dirombak oleh arus pasang surut
(tidal), arus laut sepanjang pantai (marine
longshore current) dan aksi gelombang
(kedalaman 10 meter atau kurang). Secara
general delta front memiliki karakteristik
litologi menghalus ke arah laut. Dimana mulai
dari awal delta front terbentuk batuan coarse
seperti konglomerat dan menghalus ke pasir
kasar sampai ke lempung.

Endapan pada delta front meliputi :


1. Sheet Sand Delta Front
2. Distributary Mouth Bar
3. Endapan River-Mouth Tidal
4. Near shore
5. Longshore
6. Endapan stream mouth bar

Menurut Coleman (1969) dan Fisher (1969) dalam


Galloway (1990), lingkungan pengendapan delta front
dapat dibagi menjadi beberapa sub-lingkungan dengan
karakteristik asosiasi fasies yang berbeda, yaitu:
1. Subaqueous Levees, yaitu kenampakan fasies
endapan delta front yang berasosiasi dengan active
channel mouth bar. Fasies ini sulit diidentifikasi dan
dibedakan dengan fasies lainnya pada endapan delta
masa lampau.
2. Channel, yaitu ditandai dengan adanya bidang erosi
pada bagian dasar urutan fasies dan menghalus ke
atas. Struktur sedimen yang umumnya dijumpai adalah
cross bedding, ripple cross stratification, scoure and fill.

3.

Distributary
Mouth
Bar,
yaitupada
lingkungan ini terjadi pengendapan dengan
kecepatan yang paling tinggi dalam sistem
pengendapan
delta.
Sedimen
umumnya
tersusun atas pasir yang diendapkan melalui
prosesfluvial. Strukur sedimen yang dapat
dijumpai antara lain: current ripple, cross
bedding dan massive graded bedding.
4. Distal Bar Pada distal bar, yaitu urutan fasies
cenderung menghalus ke atas, umumnya
tersusun atas pasir halus. Struktur sedimen
yang umumnya dijumpai antara lain: laminasi,
perlapisan silang siur tipe through.

c. Prodelta

Prodelta merupakan sub-lingkungan transisi antara


delta front dan endapan normal marine shelf yang
berada di luar delta front. Prodelta merupakan
kelanjutan delta front ke arah laut dengan perubahan
litologi dari batupasir bar ke endapan batulempung
dan selalu ditandai oleh zona lempungan tanpa pasir.
Struktur sedimen masif, laminasi, dan burrowing
structure. Seringkali dijumpai cangkang organisme
bentonik yang tersebar luas, mengindikasikan tidak
adanya pengaruh fluvial (Davis, 1983). Endapan
prodelta terdiri dari marine dan lacustrine mud yang
terakumulasi dilandas laut (seaward). Endapan ini
berada di bawah efek gelombang, pasang surut dan
arus sungai.

Morfologi Delta Mahakam secara


keseluruhan (Modifikasi Allen & Chamber,
1976)

D. Facies Delta
Tipe suksesi facies pada lingkungan delta terbagi
atas dua, yaitu Dominated Marine (Prodelta dan
Delta Front) dan Dominated Non-marine(Delta
Plain). Pada dasarnya, kebayakan pembentukan
delta lebih banyak dipengaruhi oleh river andwavedominated settings.

Estuari

Estuari atau estuaria adalah badan air setengah tertutup


di wilayah pesisir, dengan satu sungai atau lebih yang
mengalir masuk ke dalamnya, serta terhubung bebas dengan
laut terbuka. Kebanyakan muara sungai ke laut membentuk
estuari, namun tidak demikian jika bermuara ke danau,
waduk, atau ke sungai yang lebih besar.
Estuari merupakan suatu mintakat peralihan (zona
transisi) antara lingkungan sungai dengan lingkungan laut,
dan dengan demikian, dipengaruhi baik oleh karakter sungai
yang membentuknya (misalnya banyaknya air tawar dan
sedimentasi yang dibawanya), maupun oleh karakter lautan
di sisi yang lain (misalnya pasang surut, pola gelombang,
kadar garam, serta arus laut). Masuknya baik air tawar
maupun air laut ke estuari merupakan faktor yang
meningkatkan kesuburan perairan, dan menjadikan estuari
sebagai salah satu habitat alami yang paling produktif di
dunia.

Klasifikasi berdasarkan
Geomorfologi
1. Lembah sungai yang tenggelam
Tipe estuari ini kebanyakan mulai terbentuk antara
15.000 dan 6.000 tahun yang silam, ketika tudung es
mencair dan permukaan laut naik menggenangi muaramuara sungai purba. Di samping itu, proses penurunan
lahan di wilayah pesisir turut menyumbang pada proses ini.
Tipe ini terutama terbentuk di muara sungai-sungai yang
melalui wilayah yang pesisirnya lebar, membentuk daerah
estuari sempit dan relatif dangkal di arah daratan, dan
melebar dan mendalam ke arah laut. Rasio lebar perairan
terhadap dalamnya termasuk besar, dengan kedalaman
perairan jarang-jarang melebihi 30 m (98 ft). Salah satu
contohnya adalah muara Sungai Hudson di Amerika Serikat.

Estuari Sungai Hudson di New York

2. Tipe laguna
Estuari tipe ini hampir terisolasi oleh karena adanya beting penghalang di
arah lautnya, baik berupa pulau ataupun tanjung penghalang. Dengan
demikian, laguna estuari ini hanya terhubung dengan laut terbuka melalui
satu atau beberapa celah yang relatif sempit, tempat keluar masuknya air.
Tipe ini biasanya terbentuk di wilayah yang pantainya landai, pada tepi benua
yang secara tektonik stabil, di tepi laut pinggiran yang ombaknya tidak terlalu
besar.
Beting-beting penghalang itu dapat terbentuk oleh beberapa hal, misalnya:
1. Beting pasir yang terbentuk dari pasir dasar laut yang terangkat dan
diendapkan oleh gelombang laut; biasanya berupa beting memanjang
sejajar dengan garis pantai.
2. Beting lumpur sedimen yang dibawa sungai, namun tertahan oleh
gelombang dan arus laut, dan diendapkan di sebelah muka muara.
3. Beting karang yang berasal dari batu atau tanah pantai yang tererosi
ketika terjadi penggenangan oleh air laut yang menaik, sehingga
membentuk semacam teluk kecil; beting batu itu adalah sisa-sisa yang
tidak turut tererosi.
4. Beting tanah atau pasir yang berasal dari ujung (tanjung kecil) yang
tererosi pinggirannya, namun bertambah panjang karena tambahan
endapan di ujungnya akibat arus laut dan gelombang.

Estuari Teluk Mississippi terlindungi oleh pulau-pulau penghalang

3. Tipe fjord
Estuari tipe fjord ini terbentuk di muara sungai yang
berlembah dalam karena tererosi oleh aliran es (gletser).
Secara khas estuari semacam ini mempunyai lembah
dengan penampang serupa huruf-U, bertebing curam,
dengan dasar yang berbatu-batu dan berkontur khas
akibat terkikis aliran gletser. Di hulunya, estuari ini bisa
jadi sangat dalam, dapat melebihi 300 m (980 ft). Namun
ujungnya dangkal karena endapan serpih batu-batuan
acap membentuk gigir (semacam beting atau gosong) di
bawah air. Apabila gigir ini sangat dangkal, dapat
menghalangi pertukaran air (tawar dengan laut)
sedemikian sehingga air sangat sedikit bertukar, dan airair di bawah garis kedalaman gigir boleh dikatakan
sangat jarang bersirkulasi, atau stagnan dalam jangka
yang panjang.

4. Tipe Pengaruh Tektonik


Adalah
estuari
yang
terbentuk
karena
pergerakan tanah yang disebabkan oleh aktivitas
patahan tektonik, vulkanisme, atau tanah longsor.
Tipe ini sangat sedikit ditemukan; salah satunya
adalah estuari di Teluk San Francisco, yang
terbentuk oleh pergerakan sesar San Andreas.

Klasifikasi berdasarkan
Sirkulasi Air
1. Estuari Baji Garam
Estuari tipe ini terbentuk di muara sungai-sungai besar, di mana aliran air tawar
dari daratan mengatasi masuknya air laut, sementara pengaruh pasang laut tak
begitu kentara. Lapisan air tawar dari sungai mengalir di atas lapisan air laut,
dengan ketebalan yang semakin menipis dengan semakin jauh jaraknya ke tengah
laut. Sebaliknya, di dasar perairan air laut bergerak ke daratan, dengan ujung yang
tipis menuju pangkal estuari; penampang dari sisi serupa dengan baji yang
menusuk ke daratan di bawah permukaan air. Tipe ini juga disebut sebagai estuari
berstratifikasi sempurna, karena adanya lapisan-lapisan yang jelas dari air tawar, air
laut, dan lapisan campuran di antara keduanya.
2. Estuari Berstratifikasi Sebagian
Pada tempat-tempat di mana air pasang kurang lebih seimbang dengan aliran air
tawar di muara sungai, turbulensi yang diakibatkannya telah mendorong
percampuran yang lebih merata di kolom-kolom air. Sehingga stratifikasi kadar
garam di air lebih terjadi secara horizontal daripada vertikal; di mana kadar garam
atau salinitas ini bertambah dengan semakin jauhnya jarak dari mulut sungai. Tipe
ini adalah yang paling umum didapati, dan juga dikenal sebagai estuari campuran
sebagian. Contohnya adalah estuari Teluk Chesapeake di Amerika Serikat.

3. Estuari Homogen vertikal


Percampuran air laut akibat pasang surut berlangsung sedemikian
kuatnya, mengatasi keluaran air tawar dari sungai, dan mengakibatkan
stratifikasi vertikal hilang sama sekali. Demikian pula, akibat kuatnya
percampuran itu hampir tak ada lagi batas yang tegas antara air tawar
dengan air asin di estuari, semua menjadi gradual sifatnya; dan karenanya
juga disebut estuari campuran sempurna.
4. Estuari Inversi
Estuari ini terbentuk di wilayah beriklim kering, di mana laju penguapan
air (evaporasi) mengatasi aliran masuk air tawar. Aliran air tawar dan air laut
sama-sama masuk dan menguap di tengah estuari, di mana terbentuk zona
bersalinitas maksimum. Air dengan kadar garam tertinggi itu kemudian
tenggelam dan mengalir keluar ke laut di lapisan bawah.Dengan demikian
terbentuk pola stratifikasi salinitas dan aliran air yang berkebalikan dengan
estuari baji garam, sehingga disebut estuari inversi atau estuari negatif.
5. Estuari Berkala
Estuari ini berubah-ubah sifat dan tipenya secara dramatis, bergantung pada
masuknya air tawar ke dalam sistem, yang dipengaruhi oleh iklim dan
musim. Estuari ini dapat berubah dari sepenuhnya bersifat laut menjadi tipetipe yang lain.