Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH PRESENTASI KASUS

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN


STROMA NODOSA NON TOKSIK (SNNT)
Tugas ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktek Klinik Keperawatan Medikal Bedah II
Pembimbing : Martono, SKp,. Ns., MPd

Disusun oleh :
Rovi Choiriyah M

(P27220014100)

Syarah Prantianna P (P27220014106)


Wulansari Maharani

(P 27220014

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2015/2016

LAPORAN PENDAHULUAN
A. Pengertian
Struma adalah tumor (pembesaran) pada kelenjar tiroid, biasanya dianggap
membesar

bila

kelenjar

tiroid

lebih

dari

dua

kali

ukuran

normal

(Daniel,2008).Menurut Johan (2006) Struma adalah pembesaran kelenjar gondok


yang disebabkan oleh penambahan jaringan kelenjar gondok yang menghasilkan
hormon tiroid dalam jumlah banyak sehingga menimbulkan keluhan seperti
berdebar-debar, keluar keringat, gemetaran, bicara jadi gagap, berat badan
menurun, mata membesar, penyakit ini dinamakan hipertiroid.Menurut AME
(2006) Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara
klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidesme.
Menurut Djokomoeljanto (2006) Struma nodosa non toksik adalah
pembesaran dari kelenjar tiroid yang berbatas jelas tanpa gejala-gejala hipertiroid,
penyebab paling banyak dari struma nodosa non toksik adalah kekurangan iodium.
Menurut Solymosi (2007) Struma nodosa non toxic adalah pembesaran kelenjar
tyroid akibat kekurangan iodium yang kronik. Kesimpulan dari beberapa pengertian
diatas stroma nodosa non toxic adalah pembesaran kelenjar tiroid akibat
kekurangan iodium dan tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidesme.

B. Etiologi
Menurut Djokomoeljanto (2006) penyebab stroma nodosa non toksik adalah
1. Defisiensi iodium
2. Autoimmun thyroiditis :hashimoto atau postpartum thyroiditis
3. Kelebihan iodium (efek wolff-chaikoff) atau ingesti lithium, dengan penurunan
pelepasan hormon tiroid.
4. Stimulasi reseptor TSH oleh TSH dari tumor hipofisi, resistensi, dan tiroidstimulating immunoglobulin.
5. Inborri errors metabolisme yang menyebabkan kerusakan dalam biosynthesis
hormon tiroid.
6. Terpapar radiasi
7. Penyakit deposisi
8. Resistensi hormon tyroid
9. Tiroiditid sub akut
10. Agen-agen infeksi dan keganasan tiroid

C. Klasifikasi

Menurut Jamson (2005) klasifikasi stroma adalah


1. Berdasarkan fisiologis
a. Eutiroidisme
Eutiroidisme adalah suatu keadaan hipertrofi pada kelenjar tiroid yang
disebabkan stimulasi kelenjar tiroid yang berada di bawah normal
sedangkan kelenjar hipofisis menghasilkan TSH dalam jumlah yang
meningkat. Goiter atau struma semacm ini biasanya tidak menimbulkan
gejala kecuali pembesaran pada leher yang jika terjadi secara berlebihan
dapat mengakibatkan kompresi trakea.
b. Hipotiroidisme
Hipotiroidisme adalah kelainan struktural atau fungsional kelenjar tiroid
sehingga sintesis dari hormon tiroid menjadi berkurang. Kegagalan dari
kelenjaruntuk mempertahankan kadar plasma yang cukup dari hormon.
Beberapa pasien hipotiroidisme mempunyai kelenjar yang mengalami atrofi
atau tidak mempunyai kelenjar tiroid akibat pembedahan atau ablasi
radioisotop atau akibat destruksi oleh antibodi autoimun yang beredar
dalam sirkulasi.Gejala hipotiroidisme adalah penambahan berat badan,
sensitif terhadap udara dingin, dementia, sulit berkonsentrasi, gerakan
lamban, konstipasi, kulit kasar, rambut rontok, mensturasi berlebihan,
pendengaran terganggu dan penurunan kemampuan bicara.
c. Hipertiroidisme
Dikenal juga sebagai tirotoksikosis atau Graves yang dapat didefenisikan
sebagai respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik
hormon tiroid yang berlebihan. Keadaan ini dapat timbul spontan atau
adanya sejenis antibodi dalam darah yang merangsang kelenjar tiroid,
sehingga tidak hanya produksi hormon yang berlebihan tetapi ukuran
kelenjar tiroid menjadi besar. Gejala hipertiroidisme berupa berat badan
menurun, nafsu makan meningkat, keringat berlebihan, kelelahan, leboh
suka udara dingin, sesak napas. Selain itu juga terdapat gejala jantung
berdebar-debar,

tremor

pada

tungkai

bagian

atas,

mata

melotot

(eksoftalamus), diare, haid tidak teratur, rambut rontok, dan atrofi otot.
2. Berdasarkan klinis
a. Struma toksik
Struma toksik dapat dibedakan atas dua yaitu struma diffusa toksik dan
struma nodusa toksik. Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah kepada
perubahan bentuk anatomi dimana struma diffusa toksik akan menyebar

luas ke jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan medis sementara nodusa
akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik teraba satu atau lebih
benjolan (struma multinoduler toksik).
b. Struma non toksik
Struma non toksik sama halnya dengan struma toksik yang dibagi menjadi
struma diffusa non toksik dan struma nodusa non toksik. Struma non toksik
disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik. Struma ini disebut
sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter koloid yang sering
ditemukan di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung yodium
dan goitrogen yang menghambat sintesa hormon oleh zat kimia.

D. Anatomi Fisiologi
Menurut Jomson (2005) Kelenjar tiroid terletak di bagian bawah leher,
terdiri dari 2 lobus yang dihubungkan oleh ismus yang menutupi cincin trakea 2
dan 3. Setiap lobus tiroid berukuran panjang 2,5-4 cm, lebar 1,5-2 cm dan tebal 11,5 cm. Berat kelenjar tiroid dipengaruhi oleh berat badan dan asupan yodium.
Pada orang dewasa berat normalnya antara 10-20 gram.
Pada sisi posterior melekat erat pada fasia pratrakea dan laring melalui
kapsul fibrosa, sehingga akan ikut bergerak kea rah cranial sewaktu menelan.Pada
sebelah anterior kelenjar tiroid menempel otot pretrakealis (m. sternotiroid dan m.
sternohioid) kanan dan kiri yang bertemu pada midline. Pada sebelah yang lebih
superficial dan sedikit lateral ditutupi oleh fasia kolli profunda dan superfisialis
yang membungkus m. sternokleidomastoideus dan vena jugularis eksterna. Sisi
lateral berbatasan dengan a. karotis komunis, v. jugularis interna, trunkus
simpatikus dan arteri tiroidea inferior. Dari a. Subklavia dan a. Tiroidea ima berasal
dari a. Braktuosefalik salah satu cabang arkus aorta (Solymosi, 2007).
Aliran darah dalam kelenjar tiroid berkisar 4-6 ml/gram/menit, kira-kira 50
kali lebih banyak dibanding aliran darah di bagian tubuh lainnya. Pada keadaan
hipertiroidisme, aliran darah ini akan meningkat sehingga dengan stetoskop
terdengar bising aliran darah dengan jelas di ujung bawah kelenjar.Setiap folikel
tiroid diselubungi oleh jala-jala kapiler dan limfatik, sedangkan system venanya
berasal dari pleksus parafolikuler yang menyatu di permukaan membentuk vena

tiroidea superior, lateral dan inferior.Secara anatomis dari dua pasang kelenjar
paratiroid, sepasang kelenjar paratiroid menempel di belakang lobus superior tiroid
dan sepasang lagi

di lobus medius.Pembuluh getah bening kelenjar tiroid

berhubungan secara bebas dengan pleksus trakealis. Selanjutnya dari pleksus ini ke
arah nodus pralaring yang tepat berada di atas ismus menuju ke kelenjar getah
bening brakiosefalik dan sebagian ada yang langsung ke duktus torasikus.
Hubungan getah bening ini penting untuk menduga penyebaran keganasan yang
berasal dari kelenjar tiroid (Johan, 2006).

Gambar : Anatomi tiroid, Sumber : Wijayahadi (2000).

Gambar : Anatomi potongan melintang, Sumber : Wijayahadi (2000)

Fisiologi kelenjar tiroid menurut Djokomoeljanto (2006), Kelenjar tiroid


menghasilkan hormon tiroid utama, yaitu tiroksin (T4). Bentuk aktif ini adalah
triyodotironin (T3), yang sebagian besar berasal dari konversi hormon T4 di perifer,
dan sebagian kecil langsung dibentuk oleh kelenjar tiroid. Yodida anorganik yang
diserap dari saluran cerna merupakan bahan baku hormon tiroid. Zat ini dipekatkan
kadarnya menjadi 30-40 kali yang afinitasnya sangat tinggi di jaringan tiroid.
Yodida anorganik mengalami oksidasi menjadi bentuk organik dan selanjutnya
menjadi

bagian

dari

tirosin

yang

terdapat

dalam

tiroglobulin

sebagai

monoyodotirosin (MIT) atau diyodotirosin (DIT). Senyawa atau konjugasi DIT


dengan MIT atau dengan DIT yang lain akan menghasilkan T3 atau T4, yang
disimpan dalam koloid kelenjar tiroid. Sebagian besar T4 dilepaskan ke sirkulasi,
sedangkan sisanya tetap di dalam kelenjar yang kemudian mengalami deyodinasi
untuk selanjutnya menjalani daur ulang. Dalam sirkulasi, hormon tiroid terikat pada
protein, yaitu globulin pengikat tiroid (thyroid binding globulin, TBG) atau
prealbumin pengikat tiroksin (thyroxine binding prealbumine, TBPA). Sekresi
hormon tiroid dikendalikan oleh suatu hormon stimulator tiroid (thyroid stimulating
hormone, TSH) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Kelenjar
hipofisis secara langsung dipengaruhi dan diatur aktivitasnya oleh kadar hormon
tiroid dalam sirkulasi yang bertindak sebagai negative feedback terhadap lobus
anterior hipofisis, dan terhadap sekresi thyrotropine releasing hormone (TRH) dari
hipotalamus.Pada kelenjar tiroid juga didapatkan sel parafolikuler, yang
menghasilkan kalsitonin. Kalsitonin adalah suatu polipeptida yang turut mengatur
metabolisme

kalsium,

yaitu

menurunkan

kadar kalsium

serum,

melalui

pengaruhnya terhadap tulang.


Jadi, kesimpulan pembentukan hormon tiroksin melalui beberapa langkah,
yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Iodide trapping
Iodium masuk ke dalam tiroid dan mengalami oksidasi
Iodinasi tirosin
Perangkaian iodotironil
Hidrolisis
Tiroksin dan triodotirosin
MIT dan DIT

8. Tirosin akan dibentuk menjadi tiroglobulin oleh retikulum endoplasma dan


kompleks golgi.

Gambar : Sintesis dan sekresi hormon tiroid,


Sumber : Wijayahadi (2000).

E. Patofisiologi
Menurut Solymosi (2007), Struma terjadi karena kegagalan sintesa hormon
yang berhubungan dengan pengurangan hormon T3 dan T4. Pengurangan ini
mencegah inhibisi umpan balik TSH yang normal. Kadar TSH yang meningkat
akan menyebabkan peningkatan massa tyroid. Pembesaran tyroid dapat
menimbulkan hyperplasia tetapi tidak semua menunjukkan kadar TSH. Hipotesis
lainmenyatakan bahwa struma disebabkan karena stimulus kelenjar tyroid oleh
growth imunoglobulin, struma dapat berupa defus atau noduler dan nodul
disebabkan oleh adenoma, karsinoma, atau proses inflamasi. Pembesran tyroid
yang tidak berhubungan dengan hypertiroidisme, malignasi atau inflamasi sering
kali terjadi pada wanita yang timbul pada saat pubertas atau selama kahamilan
disebut dengan simpel goiter. Pada tiap orang dapat dijumpai masa dimana
kebutuhan terhadap tiroxin bertambah terutama masa pertumbuhan, menstruasi
pubertas, kehamilan, laktasu, menopause, infeksi dan stress. Pada masa tersebut

akan menimbulkan modularitas kelenjar tiroid serta kelainan arsitektur yang dapat
berlanjut pada berkurangnya aliran darah.

F. Pathway
G. Tanda dan Gejala
Menurut Djokomoeljanto (2006), beberapa penderita stroma nodosa non toksik
tidak memiliki gejala sama sekali. Jika struma cukup besar akan menekan area
trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus
tertekan sehingga terjadi gangguan menelan dan gangguan lain seperti,
1. Peningkatan jantung seperti berdebar-debar
2. Gelisah
3. Berkeringat
4. Tidak tahan cuaca dingin
5. Kelelahan
H. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk struma nodosa menurut Solymosi (2007),
antara lain :
1. Pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan tes fungsi hormon T4 atau T3, dan
TSH
2. Pemeriksaan radiologi
a. Foto rontgen
Dapat memperjelas adanya deviasi trakea, atau pembesran struma yang
pada umumnya secara klinis sudah bisa diduga, foto rontgen pada leher
lateral diperlukan untuk evaluasi kondisi jalan nafas.
b. Pemeriksaan USG, manfaat USG dalam pemeriksaan tiroid, yaitu :
1) Untuk menentukan jumlah nodul
2) Dapat membedakan antara lesi tiroid padat dan kestik
3) Dapat mengukur volume dari nodul tiroid
4) Untuk mengetahui lokasi dengan tepat benjolan tiroid yang akan
dilakukan biopsi terarah
5) Pemeriksaan sidik tiroid, hasil pemeriksaan dengan radioisotop adalah
tentang ukuran
3. Biopsi aspirasi jarum halus (Fine Needle Aspiration Biopsy), dilakukan khusus
pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan.

I. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan struma menurut Jamson (2005), dibedakan menjadi tiga,
yaitu :

1. Penatalaksanaan konservatif
a. Pemberiantiroksin dan obat

anti-tiroid,

tiroksin

digunakan

untuk

menyusutkan ukuran struma pertumbuhan sel kanker dipengaruhi hormon


TSH. Oleh karena itu untuk menekan TSH serendah mungkin diberikan
hormon tiroksin (T4) ini yang diberikan untuk mengatasi hipotiroidisme
yang terjadi sesudah operasi pengankatan kelenjar tiroid.
b. Terapi yodium radioaktif, memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi
pada kelenjar tiroid sehingga menghasilkan ablasi jaringan. Pasien yang
tidak mau dioperasi maka pemberian yodium radioaktis dapat mengurangi
gondok sekitar 50%.
2. Penatalaksanaan operatif
Tiroidektomi, tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengankat kelenjar
tiroid adalah tiroidektomi, meliputi subtotal ataupun total. Tiroidektomi
subtotal akan menyisakan jaringan atau pengankatan 5/6 kelenjar tiroid,
sedangkan tiroidektomi total yaitu pengankatan jaringan seluruh lobus
termasuk istmus.
3. Penatalaksanaan keperawatan
a. Manajemen atau penatalaksanaan nyeri
b. Penatalaksanaan nutrisi
c. Penatalaksanaan mobilisasi

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1. Identitas pasien
2. Identitas penanggung jawab
3. Keluhan utama
Keluhan utama adalah nyeri post op
4. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Dikarenakan nyeri merupakan pengalaman interpersonal, perawat harus
menanyakan secara langsung kepada pasien dengan teknik PQRST.
b. Riwayat penyakit dahulu
Apakah pasien sebelumnya pernah mengalami sakit seperti ini atau tidak,
atau mengalami trauma muskuloskeletal lainnya.
c. Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit keturunan maupun
menular seperti DM, hipertensi, asma, hepatitis, TBC dll, yang dapat
mempengaruhi proses penyembuhan penyakit.
5. Pengkajian pola fungsional
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
b. Pola nutri dan metabolisme
c. Pola eliminasi
d. Pola aktivitas dan latihan
e. Pola istirahat dan tidur
f. Pola perseptual dan kognitif
g. Pola seksual dan reproduksi
h. Pola persepsi diri dan konsep diri
i. Pola peran dan hubungan
j. Pola management koping stress
k. Pola nilai dan keyakinan

6. Pemeriksaan fisik
a. KU
b. Tanda-tanda vital : TD, N, RR, dan S
c. Pemeriksaan head to toe
1) Kepala
2) Mata
3) Hidung
4) Telinga
5) Mulut dan gigi
6) Leher
7) Ekstermitas atas dan bawah
8) Dada
9) Abdomen

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d agen injuri fisik (luka post operasi).
2. Gangguan komunikasi verbal b.d cedera pita suara atau kerusakan laring,
edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan.
3. Resiko infeksi b.d adanya port de entri kuman atau bakteri

C. Intervensi Keperawatan
No.
Dx
1.

Tujuan dan KH
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ...X24 jam
diharapkan nyeri pasien
berkurang dengan KH :
a. Skala nyeri 1-3
b. Pasien mampu mengontrol
nyeri
c. TTV dalam batas normal

Intervensi
a. Kaji TTV dan KU
pasien terhadap

Rasional
a. Mengetahui cara
efektif mengatasi

nyeri
b. Kaji nyeri secara

nyeri
b. Mengetahui tingkat

komprehensif
c. Ajarkan teknik

nyeri pasien
c. Mengurangi nyeri

relaksasi nafas
dalam
d. Atur posisi tidur
pasien pada posisi
senyaman mungkin
e. Edukasi tentang
aktivitas yang dapat

dan memberikan
rasa nyaman
d. Memposisikan
pasien dalam posisi
nyaman
e. Memberi alternatif
menurnkan nyeri

mengangkat dan
menurunkan nyeri
f. Kolaborasi dengan

f. Mengurangi nyeri
pasien

dokter pemberian
2.

Setelah dialakukan tindakan


keperawatan selama ...X24 jam

analgetik
a. Kaji fungsi bicara
periodik

a. Membantu
memenuhi

diharapkan gangguan

kebutuhan pasien

komunikasi verbal

dikarenakan suara

berhubungan dengan cidera

serak dan salut

pitasuara dapat teratasi dengan

tenggorokan akibat

KH :

edema jaringan atau

Paien mampu berkomunikasi

b. Pertahankan

untuk pemenuhan

komunikasi yang

kebutuhanya.

sederhana, beri
pertanyaan yang
hanya memerlukan
jawaban ya tau tidak
c. Memberikan metode

kerusakan karena
pembedahan pada
syaraf laringeal.
b. Menurunkan
kebutuhan berespon,
mengurangi bicara

komunikasi
alternatif yang
sesuai, seperti papan
tulis, kertas tulis
d. Antisipasi
kebutuhan sebaik
mungkin
e. Pertahankan
lingkungan yang
tenang

c. Memfasilitasi
ekspresi yang
dibutuhkan
d. Menurunnya asietas
dan kebutuhan
pasien untuk
berkomunikasi
e. Menurunkan
kerasnya suara yang
harus diucapkan
pasien untuk

3.

Setelah dilakukan tindakan

a. Kaji TTV pasien

keperawatan selama ...X24 jam

didengar
a. Mengetahui
peningkatan suhu

diharapkan tidak adanya tanda

b. Kaji adanya tanda

dan gejala infeksi dengan KH :


a. Pasien terbebas dari tanda

dan gejala infeksi

sebagai tanda infeksi


b. Mengetahui akan
timbulanya infeksi

dan gejala infeksi


b. Angka lekosit dalam rentan
normal 4.000-10.000 u/L
c. TTV dalam batas normal

pada luka (sebagai


komplikasi yang
c. Lakukan perawatan
luka dengan teknik
aseptik tiap 2x

mungkin timbul
pada luka)
c. Mempercepat proses
penyembuhan luka

sehari
d. Anjurkan pasien
untuk meningkatkan
intake nutrisi TKTP
e. Edukasi pasien dan
keluarga untuk

dan mencegah
terjadinya infeksi
d. Meningkatkan status
imunitas pasien
e. Mencegah terjadinya

menjaga personal
hygiene
f. Kolaborasi dengan

pertumbuhan kuman
f. Mencegah terjadinya

dokter dalam

infeksi

pemberian antibiotik

DAFTAR PUSTAKA
AME/AACE Guideline. 2006. American Assosiation of Clinical Endocrinologis and
Assosiation Medici Endocrinologi, Medikal Guidelnus For Clinical Pratice For the
Diagnosis and Management of Thyroid Nodule. Endocrine Practice Vol 12 No.1 .
Mei/24/2016
Daniel. 2008. Jeli dan Practice Menghadapi Kelainan Tiroid. Jakarta
Gordon. 2011. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, ed.3. Jakarta : EGC
Jonson, L. 2005. Disease of Tyroid Gland. Harrisons Principels of Internal Medicine, 16th
edition, Mc graw-Hill Medical Publishing Division.
Johan, S.M. 2006. Nodul Tiroid. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III, Edisi IV.
Jakarta
: FKUI

Djokomoeljanto, R. 2006. Kelenjar Tiroid, Hipotiroidyme, Buku Ajar Penyakit Dalam,


Jilid III, Jakarta : FKUI
Solymosi.2007. Therapy For Nontoxic Nodular Golter 16 Th edition, Mc graw-Hil
Medical
Publishing Devision.