Anda di halaman 1dari 19

TAMBANG TERBUKA

(SURFACE MINING)

A. Sistem Penambangan Terbuka


Suatu bagan alir dari satu siklus operasi tipikal tambang terbuka dapat dilihat
pada gambar di bawah ini.

B. Persiapan Tambang Terbuka

Persiapan

tambang

adalah

pekerjaan

yang

dilakukan

untuk

menyingkap endapan mineral untuk siap ditambang. Proses yang termasuk


disini adalah semua tahapan yang diperlukan untuk suatu tambang menuju ke
penjadwalan produksi yang lengkap, antara lain perencanaan, perancangan,
konstruksi dan lain-lain. Persiapan tambang mengikuti pada umumnya studi
kelayakan pada tahap I dan II yang dikembangkan sejauh mungkin dan
informasi yang lebih baik tersedia selama tahapan beruntut dari proyek.
Dari titik pandang fisik di pembukaan tambang, sifat utama persiapan
adalah melengkapi jalan menuju ke endapan bijih yang memungkinkan para
pekerja, peralatan, power, supplier, air dan udara dapat melaluinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pekerjaan persiapan tambang
antara lain :
1. Faktor lokasi dan iklim
2. Faktor Geologi dan Alamiah
a. Tanah dan topografi.
b. Relasi spasial (ukuran, bentuk, attitude dan lain-lain) dari badan bijih
termasuk kedalaman.
c. Konsiderasi geologi, mineralogi, petrografi, struktur, genesa badan
bijih, gradien temperatur batuan, kehadiran air clan lain-lain.
d. Sifat mekanika batuan: kekuatan, modulus elastik, kekerasan,
abrasiveness, dan lain-lain.
e. Sifat-sifat kimia dan metalurgi (akibat penyimpanan, proses dan laih lain),

3. Faktor Sosial - Ekonomi - Politik - Lingkungan


Sangat tergantung pada faktor luar. Faktor-faktor ini antara lain
a. Demografi clan keterampilan penduduk setempat.
b. Finansial dan pemasaran.
c. Kestabilan politik setempat

C. Rancangan dan Perencanaan Tambang Terbuka


tambang terbuka adalah perencanaan open pit. Ada tiga faktor utama yang
mempengaruhi perencanaan ini (Soderberg dan Rausch, 1968; Atkinson,1983
dalam Hartman, 1987) yaitu:
1. Faktor alamiah dan geologi :
kondisi geologi, jenis bijih, kondisi hidrologi, topografi, dan karakteristik
metalurgi.
2. Faktor ekonomi :
kadar bijih, tonase bijih, nisbah pengupasan, kadar rata-rata (terendah),
biaya operasi, biaya investasi, keuntungan yang diinginkan, tingkat
produksi, dan kondisi pemasaran.
3. Faktor teknologi :
peralatan, pit slope, tinggi jenjang, kemiringan jalan, batas properti dan
batas pit.

D. Metoda Penambangan

Pemilihan metoda penambangan didasarkan

pada

keuntungan

terbesar yang akan diperoleh,sert a mempunyai perolehan t ambang yang


terbaik dengan memperhat ikan karakt erist ik unik d i daerah yang akan
ditambang (meliputi : alamiah, geologi, lingkungan, dll).
Fakt or- faktor yang

mempengaruhi pemilihan

sist em penambangan

adalah sebagai berikut :


1. Karakteristik spasial dari endapan
Fakt or-faktor ini bisa jad i merupakan det erminan terpent ing,
sebab sangat mempengaruhi dalam pemilihan suat u daerah akan dit
ambang dengan t ambang terbuka at au baw ah t anah, laju produksi,
pemilihan metoda penanganan material dan lay-out tambang dari cebakan.
a. Ukuran (dimensi : tebal dan penyebaran)

b. Bentuk (tabular, lentikular, massiv, at au irregular)


c. Attitude (inklinasi dan dip)
d. Kedalaman (nilai : rat a-rata dan ekstrim, nisbah pengupasan-SR)

2. Kondisi Geologi dan Hidrogeologi


Karakteristik geologi dari mineral dan bat uan induknya sangat
mempengaruhi pemilihan met oda penambangan,

khususnya dalam

pemilihan ant ara met oda selekt if at au t idak. Hidrologi mempengaruhi


sistem drainase dan pompa yang diperlukan. Sedangkan mineralogi
mempengaruhi cara pengolahan mineral.
a. Mineralogi dan pet rografi (sulfida dan oksida)
b. Komposisi k imia dan kualit as (bahan t ambang primer dan produk
samping by-product)
c. Struktur geologi (lipat an, patahan, diskontiniu, intrusi)

d. Bidang lemah (kekar, ret akan, cleavage dalam endapan bijih / cleats
dalam batubara)
e. Keseragaman, alterasi, oksidasi, erosi (zona dan batas)
f. Air tanah dan hidrologi

3. Sifat-sifat Geoteknik (mekanika tanah dan batuan)


unt uk bijih dan bat uan sekelilingnya. Sifat mekanis dari mat erial
endapan dan bat uan sekit arnya

merupakan

fakt or

kunci

dalam

pemilihan peralat an pada tambang terbuka

4. Konsiderasi Ekonomi
Fakt or-faktor ini akan mempengaruhi hasil, invest asi, aliran k as,
masa pengembalian dan keuntungan
a. Cadangan (tonase dan kadar / kualitas)
b. Laju produksi (produksi per satuan waktu)
c. Umur tambang

d. Produktivitas (produksi per satuan

pekerja dan waktu, missal

ton/karyaw an-shift)
e. Perbandingan ongkos penambangan unt uk metode penambangan
yang cocok
f.
5. Faktor Teknologi
a. Perolehan t ambang (mine recovery)
b. Dilusi (jumlah w aste yang dihasilkan dengan bijih / batubara)
c. Ke-fleksibelitas-an metode dengan perubahan kondisi

d. Selektivitas metode untuk batubara dan w aste


e. Konsentrasi at au dispersi dari pekerjaan
f. Modal, pekerja, dan int ensitas mekanisasi
6. Faktor Lingkungan
a. Kontrol bawah tanah
b. Penurunan permukaan tanah (subsidence)
c. Kontrol atmosfer (Kontrol atmosfir (kontrol kualitas, kontrol panas dan
kelembaban, serta untuk tambang bawah tanah : ventilasi,)
d. Kekuatan Pekerja
Obyektif dasar di dalam pemilihan suatu metode penambangan
suatu endapan mineral tertentu adalah merancang suatu sistem
eksploitasi yang paling cocok di bawah suatu lingkungan yang aktual
(Hamrin, 1982 dalam Hartman, 1987). Sering kali pengalaman
memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan. Akan
tetapi, pencapaian solusi optimal biasanya difasilitasi dengan
menggunakan evaluasi kuantitatif dan kerekayasaan, mencakup teknik
penelitian operasi (operation research), ditambah dengan komputerisasi
pemrosesan data dan informasi. Evaluasi kerekayasaan dapat dibagi
dalam tiga tingkatan, yaitu :
Studi konseptual (conceptual study)
Studi kerekayasaan (engineering study)
Studi desain detail (detailed design study)

E. Jenis Metode Penambangan Terbuka

Tambang terbuka adalah metoda penambangan yang segala aktivitas


penambangannya dilakukan di atas atau relatif dekat dengan permukaan
bumi, dan tempat kerjanya berhubungan langsung dengan udara bebas.
Klasifikasi metoda penambangan terbuka menurut Hartman (1987) adalah :
2. Mekanis
a. Open pit mining : Metal, non metal
b. Quarry

: Non metal

2. Aqueous
a. Placer
-

Hydraulicking : Metal, non metal

Dedging

: Metal non metal

b. Solution
-

Borehole mining

: non metal

Leaching

: metal

Menurut Robert S Lewis tambang terbuka dibagi menjadi :


1. Placer mining
2. Open cut mining

Menurut L J Thomas Tambang terbuka dibagi menjadi :


1. Surface mining
2. Alluvial mining
3. Mineral sands mining
4. General open pit mining
5. Surface mining machinary
6. Open cut mining of bedded deposit
7. Open pit mining of massive deposit
8. Abandoned pit

9. Non-entry mining

Menurut K A Sweet Tambang terbuka dibagi menjadi :


4. Placer mining
-

Panning and slu

Hydraulicking

Dredging

5. Open pit
-

Single bench

Multiple bench

Strip mining

Quarry mining

6. Glory hole

F. Keuntungan dan Kerugian tambang Kerugian

1. Keuntungan tambang terbuka


b. Ongkos penambangan per ton atau per BCM bijih lebih murah karena
tidak

perlu

adanya

penyanggaan,

ventilasi

dan

pencahayaan

(illumination)
c. Kondisi kerjanya lebih baik, karena berhubungan langsung dengan
udara luar dan sinar matahari
d. Penggunaan alat-alat mekanis dengan ukuran besar dapat lebih leluasa,
sehingga produksinya bisa lebih besar
e. Pemakaian bahan peledak dapat lebih efisien, leluasa dan hasilnya
lebih baik, karena :
-

Adanya bidang bebas (free face) yang lebih banyak

Gas-gas beracun yang dapat ditimbulkan oleh peledakan dapat


dihembus angin dengan cepat (tidak terakumulasi)

f. Perolehan tambang (mining recovery) lebih besar, karena batas


endapan dapat dilihat dengan jelas relatif lebih aman, karena bahaya

yang mungkin timbul terutama akibat kelongsoran, sedangkan pada


tambang bawah tanah selain
g. kelongsoran juga disebabkan oleh adanya gas-gas beracun, kebakaran
dll
h. Pengawasan dan pengamatan mutu bijih (grade control) lebih mudah

2. Kerugian tambang terbuka


a. Para pekerja akan langsung dipengaruhi oleh keadaan cuaca, dimana
hujan yang lebat at au suhu tinggi akan mengakibatkan efisiensi kerja
menurun
b. Kedalaman penggalian terbatas, karena semakin dalam penggalian
akan semakin banyak overburden harus dipindahkan
c. Timbul masalah dalam mencari tempat pembuangan tanah penutup
yang jumlahnya cukup banyak
d. Alat-alat mekanis letaknya tersebar
e. Pencemaran lingkungan hidup relatif lebih besar

G. Satuan Operasi Penambangan Terbuka

Selama tahap persiapan dan eksploitasi dari semua tambang jika


material batuan dan tanah, bijih atau buangan dit ambang dari bumi, dicatat
bahwa ada satuan operasi yang digunakan. Satuan operasi penambangan
adalah langkah dasar yang digunakan untuk memproduksi mineral dari
endapan, bersama dengan langkah tambahan yang terlibat. Langlkah- langkah
ini yang mengkontribusi secara langsung ke ekstraksi mineral disebut operasi
produksi, termasuk siklus produksi dari operasi. Sedangkan langkah-langkah
tambahan yang mendukung siklus produksi disebut operasi tambahan.
Siklus produksi menggunakan satuan operasi yang secara normal
didalam dua fungsi : pemecahan batuan dan penanganan material. Pemecahan
batuan meliputi berbagai mekanika, tetapi untuk batuan dilengkapi dengan
pemboran dan peledakan. Penanganan material meliputi pemuatan atau

pengalihan dan transportasi material (t ransportasi horisontal), dengan option


kerekan. Jadi siklus produksi dasar di dalam tambang terdiri dari satuansatuan operasi.
Siklus produksi = Pemboran + Peledakan + Pemuatan + Pengangkutan

Jika operasi produksi cenderung untuk memisahkan dan bersiklus


secara alamiah, sedangkan kecenderungan tambang yang

modern adalah

mengeliminasi at au mengkombinasikan fungsi-fungsi dalam menambahkan


kekontinuitasan. Sebagai contoh tanah dapat digali dengan suatu alat gali
tanpa memerlukan pemboran dan peledakan. Jika penggemburan (loosening)
diperlukan, kegiatan dapat dilengkapi penggaruan (ripping) tanpa peledakan
sebelum pemuatan.
Siklus operasi pada tambang terbuka dibedakan terutama oleh skala
peralatan. Pada tambang terbuka yang modern, misalnya lubang tembak
dengan diameter beberapa inchi dilakukan dengan mesin bor putar atau
tumbuk untuk penempatan bahan peledak jika batuan keras yang akan digali.

1. Penetrasi dan Pemboran Batuan


a. Rock Breakage
Pelepasan atau pembebasan batuan dari massa batuan induknya disebut
pemecahan batuan (rock breakage). Hal ini dapat dilakukan
menggunakan api, air bertekanan tinggi, tekanan, maupun bahan
peledak. Pada umumnya, ada dua tipe operasi pemecahan batuan yang
dilakukan ditunjukkan dalam industri pertambangan, yaitu penetrasi
batuan (rock penetration : drilling, cutting, boring, dll) dan fragmentasi
batuan (rock fragmentation). Dalam penetrasi batuan (pemboran,
cutting dll) pada suatu lubang bor biasanya dilakukan secara mekanik
dan kadang-kadang termik atau hidrolik. Tujuan dari penetrasi batuan
antara lain untuk :
-

Penempatan bahan peledak atau keperluan lain y ang memerlukan

lubang berukuran kecil


-

Membuat bukaan tambang atau terowongan (tunnel) final.

Mengekstraksi produk mineral sesuai ukuran dan bentuk yang


diijinkan (batu dimensi).

Berlawanan dengan penetrasi batuan, fragmentasi batuan bertujuan


untuk menggemburkan dan memuat menjadi fragmen-fragmen suatu
massa batuan, secara konvensional dengan energi kimia, pada
peledakan tetapi ditambah secara mekanik hidrolik dan aplikasi baru
dari energi. Penetrasi batuan dapat diklasifik asikan pada beberapa
basis. Termasuk dalam hal ini ukuran lubang, metoda mounting, tipe
dari power. Pembagian / skema yang akan digunakan pada tulisan ini
adalah berdasarkan bentuk dari penggempuran batuan atau jenis energi
yang digunakan untuk melakukan penetrasi. Klasifikasi ini bersifat
umum, dapat diaplikasikan pada seluruh jenis tambang dan mencakup
seluruh bentuk penetrasi.

b. Pemboran (Drilling)
Pemboran dapat dilakukan untuk bermacam-macam tujuan :
penempatan bahan peledak; pemercontohan (merupakan metoda
sampling utama dalam eksplorasi); dalam tahan developmen :
penirisan, test fondasi dan lain-lain; dan dalam tahap eksplotasi untuk
penempatan baut batuan dan kabel batuan (dalam batubara pemboran
lebih banyak dibuat untuk pemasangan baut batuan - bolting daripada
untuk peledakan). Jika dihubungkan dengan peledakan, penggunaan
terbesar adalah sebagai pemboran produksi.
Komponen Operasi dari Sistem Pemboran
Ada 4 komponen fungsional utama. Fungsi ini dihubungkan dengan
penggunaan energi oleh sistem pemboran di dalam melawan batuan
dengan cara sebagai berikut :
-

Mesin

bor,

sumber

energi

adalah

penggerak

utarna,

mengkonversikan energi dari bentuk asal (fluida, elektrik,

pnuematik, atau penggerak mesin combustion) ke energi mekanik


untuk mengfungsikan sistem.
-

Batang bor (rod) mengtransmisikan energi dari penggerak utama


ke mata bor (bit).

Mata bor (bit) adalah pengguna energi didalam sistem, menyerang


batuan secara makanik untuk melakukan penetrasi.

Sirkulasi fluida untuk membersihkan lubang bor,

mengontrol

debu, mendinginkan bit dan kadang-kadang mengstabilkan lubang


bor.
Ketiga komponen pertama adalah komponen fisik yang
mengontrol proses penetrasi, sedangkan komponen ke empat adalah
mendukung penetrasi melalui pengangkatan cuttings. Mekanisme
penetrasi, dapat dikategorikan kedalam 2 golongan secara mekanik
yaitu rotasi dan tumbukan (percussion) atau selanjutnya kombinasi
keduanya. Gambaran dari aksi pemboran untuk masing-masing
kategori dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

c. Pemotongan (Cutting)
Jika pemotongan merupakan bagian integral dari siklu s produksi, hal
itu dilakukan dengan mesin yang dirancang sesuai dengan karakteristik
batuan / mineral yang diinginkan. Pada saat in i, pemotongan (cutting)
dilakukan pada dua aplikasi utama, yaitu :
a. Batubara dan mineral non-metal yang lebih lunak (tambang bawah
b. tanah); jenisnya : Chain cutting machine, shortwall (fixed bar) atau
universal (movable-bar).Batuan dimensi (tambang terbuka)

Channeling machine, percussion atau flame jet

Saw, wire, atau rotary

Tujuan dari kegiatan cutting adalah menghasilkan kerf yang dapat


mengurangi atau mengelimin r peledakan. Aksi penetrasi dasar dalam
pemotongan batuan atau batubara sama dengan pemboran.
d. Penggalian Mekanik
Aplikasi penggalian secara mekanis pada tambang terbuka a.l.:
-

Penggaru (Ripper)
Tanah yang sangat kompak, batubara, atau batuan yang lunak atau
telah mengalami pelapukan.

Auger dan highwall miners


Batubara

Bucket Wheel Excavator (BWE) & cutting-head excavators Tanah


dan batubara.

Mesin Gali Mangkuk mekanis (MGM - Mechanical dredges)


Endapan aluvial / placer, koral dan tanah (di baw ah air).

Sebagai perbandingan, penggalian secara mekanis pada tambang


bawah tanah dilakukan sebagai berikut :
2. Continous miner dan longwall shearer
Batubara atau batuan non-logam yang lunak
3. Boom-type miner (roadheader) dan Tunnel-boring, raise-boring,
serta shaft-sinking machine Batuan lunak sampai sedang-keras.

2. Pemuatan dan Penggalian


Semua satuan operasi yang terlihat dalam penggalian atau pemindahan
tanah / batuan selama penambangan disebut penanganan material (material
handling). Pada siklus operasi, dua operasi utama adalah pemuatan dan
transportasi, dan jika transportasi vertikal d iperlukan, kerekan (hoisting)
akan menjadi operasi opsi ketiga. Penanganan material pada tambang
mekanisasi modern berpusat pada peralatan. Skala peralatan pada tambang
terbuka semakin bertambah besar. Batas atas ukuran truk meningkat

menjadi 300 ton, 170 m untuk dragline, 140 m untuk shovel dan 8400 m
untuk bucket wheel excavator.
Secara garis besar, ada empat faktor yang pemilihan alat ekskavasi (Pfileider,
1973a, Martin et al, 1982 dalam Hartman, 1987), yaitu :
1. Faktor performansi (unjuk kerja)
Faktor ini berhubungan langsung dengan produktifitas mesin, dan
meliputi : kecepatan putar, tenaga yang tersedia, jarak penggalian,
kapasitas bucket, kecepatan tempuh, dan reliabilitas.
2. Faktor desain
Mencakup

kecakapan

pekerja,

teknologi

yang

digunakan,

jenis

pengawasan dan tenaga (power) yang tersedia.


3. Faktor penunjang (Support)
4. Faktor biaya

Keuntungan dan kerugian beberapa alat angkut dirangkum pada tabel di


bawah ini.
H. Penambangan Terbuka
Penambangan endapan bijih, batubara atau batuan yang dilakukan di
permukaan dikenal sebagai tambang terbuka. Jadi metoda ini prinsipnya
berdasarkan pada "permukaan". Metoda ekstraksi mekanik yang menggunakan
proses mekanik pada lingkungan yang kering dapat dibedakan atas
1. Open-pit mining
2. Kuari
3. Opencast mining
4. Auger mining
Secara luas, metoda open pit dan open cast menggunakan siklus
operasi penambangan yang konvensional; pemecahan batuan dengan
pemboran dan peledakan, diikuti operasi penanganan material penggalian,
pemuatan dan pengangkutan.
Pada Kuari dan auger, peledakan merupakan kegiatan yang selalu
melekat bersamanya. Pada open pit mining, tanah penutup dikupas dan

ditransportasikan ke suatu daerah pembuangan yang tidak ada endapan


mineral dibaw ahnya, sedangkan open cast mining yang hampir sama
metodanya dengan open pit mining, tetapi berbeda pada satu hal yaitu : tanah
penutup tidak dibuang ke daerah pembuangan tetapi diangkut langsung ke
daerah yang berbatasan dan telah ditambang. Penambangan material disin i
terdiri dari penggalian dan pengangkutan (= casting), yang pada umumnya
dikombinasikan oleh suatu alat saja.
Kuari hampir sama dengan open pit, tetapi jenjangnya pendek dan
hampir vertikal. Meskipun kuari selama ini diterapkan untuk bahan galian
logam, namun lebih disukai bila membatasi kuari untuk operasi batu
berdimensi. Jadi batu gamping yang di-crusher dihasilkan oleh open pit mine
sedangkan batu gamping berdimensi dihasilkan oleh kuari.
Ilustrasi Penambangan secara kuari seperti gambar dibawah ini :

Auger mining adalah suatu metoda untuk permukaan yang berdinding


tinggi atau outcrop recovery dari batubara dengan pemboran atau penggalian
bukaan ke dalam lapisan, diantara lapisan penutup. Meskipun tanah penutup
tidak dipindahkan, dan batubara diekstraksi oleh suatu auger atau suatu mesin
bawah tanah, pekerja tetap berada dipermukaan.
Hydraulicking Secara geologi, suatu endapan placer adalah suatu

konsent rasi mekanik dari mineral berat, yang dapat menjadi suatu endapan
bijih jika menguntungkan dari segi nilainya. Pada umumnya endapan ini
adalah emas, intan, timah (cassiterite), titanium (rutile), platina, tungsten
(scheelite), kromit, magnetit dan phospat. Placer diklasif ikasikan o leh media
sebagai aluvial (continental detrital), eolian (angin), marin dan glacial. Dari
segi lokasi, endapan ini dikategorikan sebagai residual (aluvial), jenjang
(samping bukit), stream (fluvial), pantai, buried atau padang pasir.
Kualitas

yang

berbeda

dari

endapan

placer

sehingga

memungkinkan dikategorikan sebagai ekstraksi aqueous adalah (Daily,


1968):
a. Material di tempat memungkinkan terdesintegrasi o leh aksi tekanan
air (atau aksi mekanik ditambah hidrolik)
b. Ketersediaan / supply air pada head yang diperlukan
c. Ketersediaan ruang untuk penempatan waste
d. Konsentrasi berat adalah mineral yang berharga, memungkinkan ke
pengolahan mineral sederhana
e. Pada umumnya, gradient alamiah dan rendah sudah memungkinkan
transportasi hidrolik dari mineral.
f. Dapat mematuhi peraturan-peraturan lingkungan yang berhubungan
dengan air dan pembuangan waste.
Penambangan secara hydraulicking dapat dilihat seperti gambar dibawah
ini :

Tinggi jenjang yang disemprot pada umumnya berkisar antara 5 - 15 m,


tetapi dapat mencapai 60 m (MORRISON clan RUSSELL, 1973).
Salah satu rancangan monitor dapat dilihat sebagai berikut
Diameter nozzle : 40 - 150 mm
Tekanan head : 30 - 140 atau 300 - 1400 Wa
Kecepatan alir volume : 30 - 250 Ildetik
Kecepatan waterjet :
Pasir 0. 15 m/detik
Kerikil (gravel) 1.5 m/detik
Boulders 3.0 m/detik
Dredging Dredging adalah mesin tambang menerus yang
ditemukan pertamakali. Dredging adalah penggalian baw ah air dari
endapan placer.
Dredges dapat dikiasifikasikan sebagai berikut (TURNER, 1975)
a. Mekanik
-

Bucket line (endless chain of buckets revolving along ladder).

Bucket-wheel suction (buckets discharge in suction pipeline).

Dripper (showel, grapple, or dragfine mounted on barge).

b. Hidraulik
-

Suction (open intake suction line)

Cutter head excavation by rotating cutter on suction line)

Gambar dredging Hydraulick

Gambar dredging

Borehole extraction Bila produksi bijih konvensional menjadi lebih


sulit dan lebih mahal, maka daya tarik solution mining sebagai metoda
eksploitasi meningkat. Solution mining adalah salah satu metoda ekstraksi
aqueous dimana mineral diperoleh biasanya di tempat dengan dilarutkan,
dicairkan, dilu luhkan atau slurrying meskipun beberapa persiapan atau
eksploitasi di bawah tanah, tetapi hampir semua operasi dilakukan di
permukaan.
Pada borehole mining, air diinjeksikan melalui lubang bor ke
dalam formasi mineral yang kemudian dilarutkan, dicairkan at au sluffies
menjadi mineral berharga dan d ipompakan ke permukaan melalui lubang
bor. Kadang-kadang suatu reagen ditambahkan ke air, yang membentuk
leaching kimia.
Contoh mineral yang dapat dieksploitasi dengan borehole mining adalah :
Evaporit (garam, potash, dan trona dengan dissolusi, belerang dengan
melting (frasch process), phospat, kaolin, oil sand; batubara, gilsonite,
uranium dengan slurrying (percobaan) dan uranium dan liquate dengan
leaching kimia.

Daf tar pustaka


1. Prodjosumanto, Partanto. 1984. Diktat kuliah Pengantar Teknologi Mineral :
Bandung
2. Howard L.Hartman. 1987. Introduction Mining Engineering.