Anda di halaman 1dari 15

ORDO SQUAMATA: SUBORDO LACERTILIA DAN SERPENTES

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok

: Anastasia Sintanora Elizabeth


: B1J013144
:I
:2

LAPORAN PRAKTIKUM HERPETOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kata Reptilia berasal dari kata reptum yang berarti melata. Reptilia
merupakan kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas
dengan paru-paru. Ciri umum kelas ini yang membedakannya dengan kelas yang lain
adalah seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi
seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau sub-ordo tertentu
dapat mengelupas atau melakukan pergantian kulit secara total yaitu pada anggota
sub-ordo Ophidia dan pengelupasan kulit sebagian pada anggota sub-ordo Lacertilia.
Pada Ordo Chelonia dan Crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami
pergantian atau pengelupasan. Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit
(Zug, 1993).
Classis Reptilia terdiri dari empat ordo yaitu Testudinata, Rhynchochephalia
atau Tuatara, Squamata, dan Crocodilia. Sub kelas dari Testudinata adalah
Pleurodira, Cryptodira, Paracrytodira. Sub ordo dari Squamata adalah sauria (kadal)
dan serpentes (ular). Sub ordo dari Crocodilia adalah gavial, alligator, dan
crocodilidae (Pope, 1956). Oleh karena itu, untuk membuat suatu sistem klasifikasi
diperlukan adanya pengamatan morfologi. Berdasarkan pengamatan morfologis
dapat

diukur

parameter

morfologinya

sehingga

dapat

dilakukan

pengindentifikasiannya dan berakhir dengan pembuatan kunci determinasi dari reptil.


Pada praktikum kali ini, ordo yang akan diamati adalah ordo Squamata.
Squamata merupakan kelompok Reptilia terbesar dengan jumlah spesies terbanyak.
Habitat anggotanya mulai dari bawah tanah hingga pepohonan, dari gurun hingga ke
laut, dan dari ekuator sampai Arctic. Anggotanya biasanya tetrapoda akan tetapi pada
subordo Serpentes atau Ophidia dan sedikit anggota dari Lacertilia yang tungkainya
mereduksi (Zug, 1993).
Secara umum memiliki ciri-ciri antara lain tubuhnya ditutupi oleh sisik yang
terbuat dari bahan tanduk. Sisik ini mengalami pergantian secara periodik yang
disebut molting. Sebelum mengelupas, stratum germinativum membentuk lapisan
kutikula baru di bawah lapisan yang lama. Pada Subordo Ophidia, kulit/sisiknya
terkelupas secara keseluruhan, sedangkan pada Subordo Lacertilia, sisiknya
terkelupas sebagian. Bentuk dan susunan sisik-sisik ini penting sekali sebagai dasar

klasifikasi karena polanya cenderung tetap. Pada ular sisik ventral melebar ke arah
transversal, sedangkan pada tokek sisik mereduksi menjadi tonjolan atau tuberkulum;
memiliki tulang kuadrat; memiliki ekstrimitas. Kecuali pada Subordo Ophidia,
Subordo Amphisbaenia, dan beberapa spesies Ordo Lacertilia; berkembang biak
secara ovovivipar atau ovipar dengan vertilisasi internal; persebarannya sangat luas,
hampir terdapat di seluruh dunia kecuali Arktik, Antartika, Irlandia, Selandia Baru,
dan beberapa pulau di Oceania. Ciri lain dari Squamata adalah tidak adanya gigi
vomer, tidak ada hubungan antara pterygoid dan vomer, columella pipih, dan
hemipenis yang berkembang dengan baik (Zug, 1993).
B. Tujuan
Tujuan praktikum acara Classis Reptilia: Ordo Squamata, antara lain :
1. Mengenal beberapa anggota ordo Squamata.
2. Mempelajari karakter penting dalam identifikasi anggota ordo Squamata.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


Reptilia adalah hewan yang mempunyai kulit yang kering, ditutupi oleh sisik,
mempunyai dua pasang ekstermitas luar yang dilengkapi dengan jari-jari dan
berakhir dengan cakar. Reptilia tidak mempunyai banyak kelenjar pada kulitnya,
kelenjar pada reptilian terdapat pada rongga mulutnya. Sedangkan pada squamata,

satu-satunya spesies yang mempunyai kelenjar racun adalah Heloderma suspectum.


Pada crocodilia dan chelonian lidah tidak bisa dijulurkan, hanya berada pada dasar
mulut dan hanya digunakan untuk membantu menelan. Pada squamata, lidah bagian
depan sempit dan bias ditarik ke bagian belakang. Ujung lidah mempunyai fungsi
sensori untuk merasakan bau. Sedangkan pada serpentes, lidah sempit dan bertakik
dalam yang pada bagian ujungnya bertindak sebagai organ sensori untuk merasakan
bau, suhu dan partikel zat yang ada pada udara (Tim Taksonomi Hewan Vertebrata,
2010).
Reptilia merupakan kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya
bernafas dengan paru-paru. Ciri umum kelas ini yang membedakan dengan kelas
yang lain adalah seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini
menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau sub
ordo tertentu mengalami pergantian kulit. Pergantian kulit secara total terjadi pada
anggota sub-ordo Ophidia dan pada anggota sub-ordo Lacertilia pergantian kulit
terjadi secara sebagian. Sedangkan pada ordo Testudinata dan Crocodilia sisiknya
hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada reptil
memiliki sedikit sekali kelenjar kulit (Jasin, 1992).
Ordo Squamata terdiri dari tiga subordo yaitu Lacertilia (bangsa kadal),
Amphisbenia (bangsa kadal cacing), dan Serpentes (bangsa ular). Lacertilia
merupakan salah satu subordo yang paling primitf dariketiganya dan yang paling
berbeda oleh karena memiliki tungkai yang berkembang baik, namun demikian ada
juga kadal yang tungkainya mengalami penyusutan ukuran atau bahkan hilang sama
sekali, sehingga bentuk penampilannya mirip dengan ular (Bateman & Fleming,
2009).
Anggota subordo Lacertilia umumnya termasuk dalam kelompok hewan
pentadactylus dan bercakar, dengan struktur sisik yang bervariasi. Subordo Lacertilia
juga memiliki karakteristik yang beragam, salah satu faktor pembedanya yaitu pola
pergerakan yang dapat dilihat berdasarkan perilaku dan habitatnya sehari-hari.
Bronchocela jubata merupakan salah satu spesies anggota Lacertilia, yang memiliki
pola pergerakan meililitkan ekornya di batang atau ranting pohon baik pada saat
mencari makan bahkan untuk menghindar dari musuh (Soesilo, 2009 dalam Amalina,
2015).
Ular termasuk dalam ordo Squamata, subordo Serpentes. Ular merupakan
reptilia berdarah dingin yang dikelompokkan bersama amfibi kedalam dunia

herpetofauna yang artinya hewan melata. Ular bisa kita jumpai dari dataran rendah,
dataran tinggi, baik di dalam tanah, pohon, air tawar, air payau sampai perairan air
laut kecuali daerah dengan suhu rendah seperti kutub (Herbert et al., 2012).
Tahapan identifikasi dan klasifikasi secara umum menurut Jasin (2002) yaitu:
1. Identifikasi, yaitu tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomi individu
yang beraneka ragam dan memasukkannya dalam suatu takson. Prosedur
identifikasi

berdasarkan

pemikiran

yang

bersifat

deduktif.

Identifikasi

berhubungan dengan ciri-ciri taksonomi dalam jumlah sedikit (idealnya satu ciri),
yang akan membawa spesimen ke dalam satu urutan kunci identifikasi.
2. Determinasi, yaitu membandingkan suatu hewan dengan hewan lain yang sudah
dikenal sebelumnya (dicocokkan atau disamakan). Dalam dunia ini, tidak ada dua
benda yang identik atau sama persis, maka istilah determinasi dianggap lebih tepat
daripada istilah identifikasi.
3. Klasifikasi, yaitu penataan hewan-hewan ke dalam kelompok yang didasarkan
atas kesamaan dan hubungan mereka. Prosedur klasifikasi bersifat induktif,
berhubungan dengan upaya mengevaluasi sejumlah besar ciri-ciri (idealnya
seluruh ciri-ciri yang dimiliki).
4. Verifikasi, yaitu untuk memperjelas hasil temuan yang diteliti.

BAB III. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara Classis Reptilia: Subordo
Lacertilia yaitu bak preparat, loop, buku panduan identifikasi, kamera, dan alat tulis.

Bahan yang digunakan yaitu beberapa spesimen anggota subordo Lacertilia


diantaranya Gehyra mutilata, Varanus nebulosus, Calotes versicolor, dan alkohol
70%.
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum Classis Reptilia: Subordo Lacertilia
antara lain:
1. Spesimen diletakkan pada baki, kemudian diambil beberapa foto (dorsal,
ventral).
2. Spesimen diukur SVL dan diamati beberapa karakter, antara lain: postur tubuh,
corak warna (spesimen hidup), karakter kepala, tungkai jari. Karakter spesifik
seperti keeping karapaks dan plastron, sisik kepala, keratinisasi rahang, dll dan
diidentifikasi menggunakan buku identifikasi.
3. Semua data dicatat pada log book.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Kunci Identifikasi Subordo Lacertilia Tingkat Famili
Tulang karakter melekat pada tengkorak, bagian ujungnya bebas. Lengkung
temporal ada atau tidak ada. Dua belahan rahang bawah bersatu dibagian muka. Gigi
pipih, tidak tertanam dalam alveoli (tipe acrodont atau pleurodont). Lubang anal
melintang. Alat kelamin pipih sepasang.
1a. Tubuh besar dan kuat mencapai panjang 2 m, lidah panjang bifida dan dapat
ditarik masuk dalam parung dasarnya................................................ Varamidae
1b. Tubuh lebih kecil...................................................................................................2
2a. Bagian dorsal kepala tertutup bintil atau sisik kecil. Lidah licin atau dengaj
papilla yang panjang..............................................................................................3
2b. Bagian dorsal kepala tertutup oleh sisik yang relatif besar dan simetris. Bagian
lidah tertutup papilla pendek yang tersusun imbricate atau ada lipatan-lipatan....4
3a. Bagian badan pipih lateral, ditutupi oleh bintil atau sisik. Tipe gigi pleurodont.
Lidah pendek dan terdapat lekukan dangkal pada ujungnya..............Gekkonidae
4a. Sisik ventral berbeda dengan sisik dorsal. Ada lubang femoral pada pangkal
paha.....................................................................................................Lacertidae
4b. Badan ditutupi cicik cycloid yang tersusun imbricate dan berbentuk sama
(simetris). Tidak ada lubang preanal maupun femoral....................... Scincidae

Gambar 4.1 Calotes versicolor

Gambar 4.2 Gehyra mutilata

Gambar 4.3 Varanus nebulosus

Tabel 4.1
No
1.

Hasil identifikasi sisik kepala subordo Serpentes.

Spesies

Keterangan

7
2

Ular Cobra
Naja naja sputatrix
Keterangan
1. Rostral (1)
2. Internasal (sepasang)
3. Postnasal (sepasang)
4. Prefrontal (sepasang)
5. Frontal (1)
6. Supraocular (sepasang)
7. Parietal (sepasang)
8. Preocular (sepasang)
9. Postocular (3 pasang)
10. Mental (1)
11. Postmental (sepasang)
12. Chin shield (2 pasang)
13. Supra labial (8)
14. Infra labial (9)
15. Temporal (2 pasang)
16. Anal (single)
17. Subcaudal (divided)
18. Dorsal (19)

Gonyosoma oxycephalum
1. Rostral (1)
2. Prenasal (sepasang)
3. Postnasal (sepasang)
4. Internasal (sepasang)
5. Prefrontal (sepasang)
6. Frontal (1)
7. Supraocular (sepasang)
8. Parietal (sepasang)
9. Preocular (sepasang)
10. Postocular (3 pasang)
11. Mental (1)
12. Postmental (sepasang)
13. Chin shield (1 pasang)
14. Supra labial (9 pasang)
15. Infra labial (11 pasang)
16. Temporal (2 pasang)
17. Anal (divided)
18. Subcaudal (divided)
19. Dorsal (25)

15

Ular weling

7
98

11

10

Bungarus candidus

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

Supralabial (7 pasang)
Infralabial (5 pasang)
Prenasal (sepasang)
Supraokular (sepasang)
Preokular (sepasang)
Postokular (sepasang)
Parietal (sepasang)
Frontal (1)
Prefrontal (sepasang)
Internasal (sepasang)
Rostral (1)
Mental (1)
Postmental (1)
Chin shield (2pasang)
Sisik dorsal (15)
Anal (single)

B. Pembahasan
Praktikum kali ini membahas karakter beberapa anggota Classis Reptilia dari
Ordo Squamata dan subordo Lacertilida dan subordo Serpentes untuk tujuan
identifikasi dan klasifikasi. Terdapat 3 spesimen yang berasal dari subordo Lacertilia
yang digunakan pada praktikum ini, diataranya adalah Varanus nebulosus dari
familia Varanidae, Calotes versicolor dari familia Gekkonidae, dan Gehyra mutilate
dari familia Agamidae.
Cecak atau cicak adalah hewan reptil yang biasa merayap di dinding atau
pohon. Cecak berwarna abu-abu, tetapi ada pula yang berwarna coklat kehitamhitaman. Cecak biasanya berukuran sekitar 10 centimeter. Cecak bersama dengan
tokek dan sebangsanya tergolong ke dalam suku Gekkonidae. Anggota Familia
Gekkonidae merupakan kelompok hewan melata yang lebih dikenal sebagai cicak

dan tokek. Seperti halnya kadal pada umumnya, anggota Familia Gekkonidae
memiliki dua pasang tungkai, tympanum, dan tulang dada. Hewan ini dapat dijumpai
di berbagai habitat yang berbeda dari daerah hutan hingga ke perumahan. Cicak atau
cecak merupakan reptil yang biasa merayap di dinding atau pepohonan. Cecak
terkenal sebagai pemanjat yang ulung. Binatang ini mampu memanjat dinding tegak
lurus, bahkan memanjat dan merayap di atap. Kemampuan ini dimiliki karena cecak
memiliki bulu-bulu halus yang mampu melekat pada permukaan apapun pada
keempat kakinya. Tak hanya itu, ekornya juga berfungsi sebagai penyeimbang pada
saat cecak memanjat permukaan yang tegak lurus (Pough et al., 1998).
Pada saat cecak terpeleset, ujung ekornya akan mendorong permukaan
sehingga kepala dan bagian atas tubuh cecak tidak menjauh dari permukaan dinding.
Dalam keadaan normal ekor ini akan menempel pada permukaan sehingga memberi
cecak waktu sekitar detik untuk melepas pegangan pada permukaan dan
melangkah ke depan. Namun bila semua usaha gagal dan harus terjatuh, ekor ini
akan menjadi penyeimbang sehingga posisi jatuh cecak selalu dengan keempat
kakinya terlebih dahulu yang menyentuh tanah. Cecak gula (Gehyra mutilata),
bertubuh lebih kecil, dengan kepala membulat dan warna kulit transparan serupa
daging. Cecak ini kerap ditemui di sekitar dapur, kamar mandi dan lemari makan,
mencari butir-butir nasi atau gula yang menjadi kesukaannya. Sering pula ditemukan
tenggelam di gelas kopi kita (Hoesel, 1959).
Bunglon adalah sejenis reptil yang termasuk ke dalam familia Agamidae.
Kadal lain yang masih sesuku adalah cecak terbang (Draco spp.) dan soa-soa
(Hydrosaurus spp.). Familia ini memiliki ciri badan pipih, tubuhnya ditutup sisik
bentuk bintil atau yang tersusun seperti genting, demikian pula dengan kepalanya
penuh tertutup sisik. Lidahnya pendek, tebal, sedikit berlekuk di ujung serta bervilli.
Jari-jarinya kadang bergerigi atau berlunas, tipe gigi acrodont. Pada Draco volans
memiliki pelebaran tulang rusuk dengan lipatan kulit. Habitatnya di pohon dan
semak (Pough et al., 1998). Sedangkan, Varanus nebulosus berbeda dengan Varanus
salvator. Biawak bertubuh kuat dengan ekor yang kuat juga. Hewan ini termasuk
dari famili Varanidae yaitu memiliki ciri antara lain sisik tubuh tumpul dan kasar.
Kepala panjang dan rata dengan leher yang panjang. Lidah panjang dan bercabang
dua, secara konstan terjulur keluar. Ekornya pajang dan ramping serta mudah
terputus. Jari-jari kakinya berkembang baik dan dilengkapi dengan cakar (Arida &
Setyawatiningsih, 2015).

Selanjutnya, terdapat 3 spesimen yang berasal dari subordo Serpentes (ular).


Subordo Serpentes dikenal dengan keunikannya yaitu merupakan Reptilia yang
seluruh anggotanya tidak berkaki (kaki mereduksi) dari ciri-ciri ini dapat diketahui
bahwa semua jenis ular termasuk dalam subordo ini. Ciri lain dari subordo ini adalah
seluruh anggoanya tidak memiliki kelopak mata. Sedangkan fungsi pelindung mata
digantikan oleh sisik yang transparan yang menutupinya. Berbeda dengan anggota
Ordo Squamata yang lain, pertemuan tulang rahang bawahnya dihubungkan dengan
elastic ligament. Ular dibedakan menjadi dua jenis, yaitu venomous/berbisa dan non
venomous/tidak berbisa. Salah satu contoh ular berbisa adalah ular kobra. Menurut
Wallach (2009) dari 28 spesies ular kobra yang ada di dunia, dua di antaranya
ditemukan di Indonesia, yaitu Naja sputatrix (Southern Indonesian Spitting Cobra)
dan Naja sumatrana (Equatorial Spitting Cobra). Naja naja sputatrix (Sismami et
al., 2014).
Subordo serpentes dikenal dengan keunikannya yaitu merupakan Reptilia
yang seluruh anggotanya tidak bertungkai (tungkai mereduksi) dari ciri-ciri ini dapat
diketahui bahwa semua jenis ular termasuk dalam subordo ini. Dikarenakan ada juga
Lacertilia yang tak bertungkai, untuk membedakannya secara morfologi dapat dilihat
dengan adanya kelopak mata dan lubang telinga. Sedangkan fungsi pelindung mata
digantikan oleh sisik transparan yang menutupinya. Berbeda dengan anggota Ordo
Squamata yang lain, pertemuan tulang rahang bawahnya dihubungkan dengan
ligamen elastis (Zug, 1993).
Keunikan lain yang dimiliki oleh subordo ini adalah seluruh organ tubuhnya
termodifikasi memanjang. Dengan paru-paru yang asimetris, paru-paru kiri
umumnya vestigial atau mereduksi. Memiliki organ perasa sentuhan (tactile organ)
dan reseptor yang disebut Organ Jacobson ada pula pada beberapa jenis yang
dilengkapi dengan Thermosensor. Ada sebagian familia yang memiliki gigi bisa yang
fungsinya utamanya untuk melumpuhkan mangsa dengan jalan mengalirkan bisa ke
dalam aliran darah mangsa (Zug, 1993).
Ada 4 tipe gigi yang dimiliki Subordo Serpentes, yaitu :
1. Aglypha : tidak memiliki gigi bisa. Contohnya pada Familia Pythonidae, dan
Boidae.
2. Proteroglypha : memiliki gigi bisa yang terdapat di deretan gigi muka (bagian
depan). Contohnya pada Familia Elapidae dan Colubridae.

3. Solenoglypha : memiliki gigi bisa yang bisa dilipat sedemikian rupa pada saat
tidak dibutuhkan. Contohnya pada Familia Viperidae.
4. Ophistoglypha : memiliki gigi bisanya yang terdapat di deretan gigi
belakangnya. Contohnya pada Familia Hydrophiidae.
Ular yang diidentifikasi pada praktikum kali ini antara lain Bungarus
candidus, Gonyosoma oxycephalum, dan Naja naja sputatrix. Ular ini berbeda
dengan Bungarus fasciaus, ular ini tidak memiliki tulang vertebral yang ditinggikan
sehingga tidak terlihat memiliki bentuk tubuh segitiga. Ular ini memiliki tubuh
berbentuk silindris dengan 19-31 buah belang-belang berbentuk oval pada warna
dasar putih, belang tersebut tidak mengelilingi tubuhnya melainkan hanya pada
bagian atas tubuhnya, perutnya berwarna putih polos, buntutnya runcing, memiliki 79 belang tidak seperti Ular Welang yang berbentuk serupa kepalanya. Ular ini terlihat
lebih menyukai mendiami daerah yang memiliki dataran rata, dapat ditemukan di
hutan, perkebunan dan daerah pertanian, biasa ditemukan di keitnggian hanya hingga
1200 m (OShea & Halliday, 2001).
Naja naja sputatrix atau ular kobra betina mempunyai ukuran tubuh lebih
besar dibandingkan dengan ular jantan (Boeadi et al., 1998). Ular kobra memiliki
ukuran panjang antara 3055 cm (Sismami et al., 2014). Naja naja sputatrix
memiliki venom yang paling mematikan karena memiliki enzim fosfolipase A 2,
enzim-enzim, polipeptida cardiotoxin, dan neurotoxin. Ular bajing (Gonyosoma
oxycephalum) atau ular bamban adalah sejenis ular berwarna hijau yang besar dan
gesit tangkas, pemanjat pohon dari suku Colubridae.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Ordo Squamata yang diidentifikasi meliputi subordo Lacertilia dan Serpentes.
Contoh anggota Lacertilia ialah Calotes versicolor, Gehyra mutilata, dan Varanus
nebulosus. Anggota dari serpentes yang diamati ialah Gonyosoma oxycephalum,
Naja naja sputatrix dan Bungarus candidus.
2. Karakter yang digunakan untuk identifikasi ordo Squamata antara lain tipe gigi,
bentuk kepala, dan sisik-sisik tubuh.
B. Saran

Saran untuk praktikum kali ini yakni sebaiknya dalam mengidentifikasi


anggota subordo Lacertilia dan subordo Serpentes disediakan buku pedoman yang
memadai.

DAFTAR REFERENSI
Amalina, W. 2015. Perbandingan Struktur Anatomi Cerebellum pada Bunglon Jawa.
Kadal, dan Klarap. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Sains dan Teknologi UIN
Sunan Kalijaga.
Arida, E. & S.C. Setyawatiningsih. 2015. On the occurrence of Varanus nebulosus
(Gray, 1831) (Squamata: Varanidae) on Riau Archipelago, Indonesia.
Zootaxa, 3919 (1), pp. 197-200.
Bateman, P.W. & Fleming, P.A. 2009. To Cut a Long Tail Short: A review of Lizard
Caudal Autotomy Studies Carried Out Over the Last 20 Years. Journal of
Zoology. London: The Zoological Society.
Boeadi, Shine R, Sugardijto J, Amir M, Sinaga M H. 1998. Biology of the
Commercially- Harvested Rat Snake (Ptyas mucosus) and Cobra (Naja
sputatrix) in Central Java. Mertensiella, 9, pp. 99-104.
Herbert, A.L.T. Rompis, & I.W. Batan. 2012. Jenis Ular dan Sebarannya di
Kecamatan Kuta Selatan Badung Bali. Indonesia Medicus Veterinus, 1 (1),
pp. 55-70.
Hoesel, J.K.P. (1959). Ophidia Javanica. Bogor: Pertjetakan Archipel.
Jasin, M. 1992. Zoologi Invertebrata untuk Perguruan Tinggi. Surabaya: Sinar
Wijaya.
Jasin, M. 2002. Sistematika Hewan Invertebrata dan Vertebrata. Surabaya: Sinar
Wijaya.
OShea, M. dan T. Halliday. 2001. Reptiles and Amphibians. London: Dorling
Kindersley.
Pope, C.H. 1956. The Reptile World. London: Routledge and Kegal Paul Ltd.
Sismani, D.A., I.B. Oka, & N.S. Dharmawan. 2014. Infeksi Cacing pada Ular Kobra
(Naja sputatrix) di Bali. Jurnal Veteriner, 15 (3), pp. 401-405.
Tim Taksonomi Hewan Vertebrata. 2010. Taksonomi Hewan Vertebrata. Padang:
Universitas Andalas.
Wallach V, Wuster W, Broadley G D. 2009. In praise of subgenera: taxonomic status
of cobras of the genus Naja Laurenti (Serpentes: Elapidae). England
Zootaxa, 2236, pp. 2636.
Zug, George R. 1993. Herpetology: an Introductory Biology of Ampibians and
Reptiles. London: Academic Press.

Anda mungkin juga menyukai