Anda di halaman 1dari 46

PENGANTAR PENDIDIKAN

Diktat

Oleh:

Imam Gunawan, S.Pd., M.Pd

PENGANTAR PENDIDIKAN Diktat Oleh : Imam Gunawan, S.Pd., M.Pd UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN JURUSAN

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN Januari 2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmad dan nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Diktat Matakuliah Pengantar Pendidikan. Pendidikan merupakan proses pendewasaan manusia. Manusia dalam segala aktivitasnya tidak terlepas dari pendidikan, baik itu pendidikan yang dilaksanakan dilingkungan keluarga, masyarakat, ataupun sekolah. Sehingga sudah sewajarnya pegiat pendidikan harus mengetahui hakikat pendidikan dan segala macam hal yang mempengaruhinya. Diktat ini terbagi menjadi empat bab, yakni Bab I Konsep Dasar Pendidikan, membahas tentang pengertian pendidikan, pengertian mendidik, dan empat pilar pendidikan. Bab II Landasan Pendidikan, membahas tentang landasan filosofis, landasan ekonomi, landasan historis, landasan psikologis, landasan ilmu pengetahuan dan teknologi, landasan sosiologi, landasan kultural, landasan geografi, dan landasan antropologi. Bab III Asas-asas Pendidikan, membahas tentang pengertian asas pendidikan, asas tut wuri handayani, asas belajar sepanjang hayat, dan asas kemandirian belajar. Bab IV Pendidikan Pranatal, membahas tentang pengertian pendidikan pranatal, prinsip pendidikan pranatal, syarat pendidik (orang tua) dan peserta didik (anak dalam kandungan), program pendidikan anak dalam kandungan, metode pendidikan pranatal, dan langkah-langkah pendidikan pranatal. Akhirnya diktat ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi pembaca dan berkontribusi konstruktif bagi perkembangan ilmu pendidikan.

Malang, Januari 2016

Imam Gunawan, S.Pd., M.Pd

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

BAB I

KONSEP DASAR PENDIDIKAN

A. Pengertian Pendidikan

1

B. Pengertian Mendidik

5

C. Empat Pilar Pendidikan

8

BAB II

LANDASAN PENDIDIKAN

A. Landasan Filosofis

11

B. Landasan Ekonomi

13

C. Landasan Historis

14

D. Landasan Psikologis

14

E. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

19

F. Landasan Sosiologi

21

G. Landasan Kultural

22

H. Landasan Geografi

22

I. Landasan Antropologi

23

BAB III

ASAS-ASAS PENDIDIKAN

A. Pengertian Asas Pendidikan

25

B. Asas Tut Wuri Handayani

26

C. Asas Belajar Sepanjang Hayat

28

D. Asas Kemandirian Belajar

31

BAB IV

PENDIDIKAN PRANATAL

A. Pengertian Pendidikan Pranatal

33

B. Prinsip Pendidikan Pranatal

34

C. Syarat Pendidik (Orang Tua) dan Peserta Didik (Anak

dalam Kandungan)

35

D. Program Pendidikan Anak dalam Kandungan

36

E. Metode Pendidikan Pranatal

37

F. Langkah-langkah Pendidikan Pranatal

38

DAFTAR RUJUKAN

42

ii

BAB I KONSEP DASAR PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan sarana utama untuk menyukseskan pembangunan nasional, karena dengan pendidikan diharapkan dapat mencetak sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang dibutuhkan dalam pembangunan. Titik berat pembangunan pendidikan terletak pada peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan serta perluasan kesempatan belajar. Pendidikan juga merupakan hal mutlak yang harus dipenuhi dalam upaya meningkatkan taraf hidup suatu bangsa agar tidak sampai menjadi bangsa yang terbelakang dan tertinggal dengan bangsa lain. Pendidikan merupakan kunci dalam meningkatkan kualitas bangsa.

A. PENGERTIAN PENDIDIKAN

Pendidikan berasal dari Bahasa Yunani yakni paedagogie dan peadagogiek. Paedagogie berarti pendidikan, sedangkan paedagogiek berarti ilmu pendidikan. Jika berdasarkan arti keduanya yang dijadikan sumber pengertian pendidikan, maka paedos yang berarti anak dan agoge yang berarti membimbing, sehingga hampir sama dengan ilmu pendidikan yang berarti ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan/atau merenung tentang gejala-gejala perbuatan mendidik (Soebahar, 2002). Pendidikan berasal dari kata didik, lalu kata ini mendapatkan awalan me sehingga menjadi mendidik yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran (Kamus Bahasa Indonesia, 2008:352). Pendidikan merupakan suatu proses sosial budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Secara lebih luas pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat mendapat keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Pidarta, 2009). Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

1

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Hakikat pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang bermartabat, memiliki ilmu dan bermanfaat. Pendidikan memiliki peranan penting dalam menjaga keberlangsungan pembangunan bangsa, baik pendidikan formal maupun nonformal. Peran pendidikan tidak sebatas memberikan pengetahuan dan keahlian pada tiap individu untuk dapat bekerja sebagai agen perubahan ekonomi yang baik bagi masyarakat. Pendidikan juga menanamkan tata nilai yang serba luhur atau akhlak mulia, norma-norma, cita- cita, tingkah laku, dan aspirasi, selalu berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan kepentingan pembangunan bangsa, khususnya pembangunan SDM. Melihat urgensi dan kompleksnya masalah pendidikan, maka maju mundurnya suatu pendidikan tidak bisa hanya diletakkan pada pundak pemerintah semata.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjadi instrumen penting dalam paradigma baru sistem pendidikan nasional, baik dari sisi penyelenggaraan maupun tenaga pendidik. Implementasi Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan, antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan pemerintah ini memberikan arah tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas telah mengamanatkan bahwa paradigma baru pendidikan nasional, antara lain bahwa tujuan dasar pendidikan tidak lagi sebatas mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga menyelenggarakan pendidikan secara demokratis, yang menempatkan peran serta masyarakat dalam proses pendidikan di Indonesia. Pendidikan dengan demikian diselenggarakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat serta dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta mereka dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan. Berdasarkan uraian

2

tersebut dapat diketahui bahwa penyelenggaraan pendidikan dipengaruhi oleh aspek- aspek lain. Jadi pendidikan itu merupakan tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan pemerintah, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Anak di dalam lingkungan keluarga belajar berbicara, mencintai, berpikir, merasakan, bermain, dan menghormati, tanpa campur tangan guru. Peran serta masyarakat dapat diwujudkan dengan upayakan pengawasan, penciptaan suasana yang kondusif bagi pendidikan. Masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi langsung memberikan pemikiran tentang bagaimana seharusnya dan ke mana anak didik akan dibawa. Tetapi ini harus dikaji lagi dalam tataran strategis, kata mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan hakikat pendidikan, mempunyai tiga komponen arti yang sangat penting, yaitu cerdas, hidup, dan bangsa. Cerdas berarti memiliki ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang nyata atau riil. Cerdas bermakna kreatif dan inovatif serta membawa pada kebenaran dan siap mengaplikasikan ilmunya. Mengikuti sebuah proses pendidikan seharusnya identik dengan mencari kebenaran. Tentang hidup, hidup adalah rahmat Tuhan yang diberikan kepada makhluknya. Hidup memiliki filosofi untuk menghargai kehidupan dengan yang melakukan hal-hal yang terbaik untuk kehidupan itu sendiri. Tentang bangsa, manusia selain makhluk individu juga makhluk sosial yang merupakan komponen penting dari suatu organisasi masarakat. Sosok manusia yang agung, tetapi tidak mau menyumbangkan apa-apa bagi masyarakat, bukanlah yang diajarkan agama dan pendidikan. Pendidikan merupakan sarana utama untuk menyukseskan pembangunan nasional, karena dengan pendidikan diharapkan dapat mencetak SDM berkualitas yang dibutuhkan dalam pembangunan. Titik berat pembangunan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan serta perluasan kesempatan belajar pada jenjang pendidikan dasar. Pendidikan juga merupakan hal mutlak yang harus dipenuhi dalam upaya meningkatkan taraf hidup suatu bangsa agar tidak sampai menjadi bangsa yang terbelakang dan tertinggal dengan bangsa lain. Pendidikan saat ini telah direduksikan sebagai pembentukan intelektual semata, sehingga menyebabkan terjadinya kedangkalan budaya dan hilangnya

3

identitas lokal dan nasional (Tilaar, 2004). Perubahan yang global dengan

liberalisasi pendidikan sehingga menuntut lembaga pendidikan untuk mampu

menghasilkan kualitas peserta didik yang dapat bersaing secara kompetitif agar

dapat diterima pasar. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan pasar ini pada akhirnya

akan mendorong lembaga pendidikan menjadi lebih bercirikan knowledge based

economy institution. Pendidikan yang hanya berorientasi untuk mencetak generasi

yang bisa diterima pasar secara ekonomis hanya akan mampu mencetak peserta

didik yang berpikir dan bertindak global sehingga mereka tidak memiliki kecerdasan

emosional yang akhirnya bermuara pada terjadinya krisis moral dari peserta didik.

Dewey (2001:6) mengemukakan:

Education, in its broadest sense, is the means of this social continuity of life. Every one of the constituent elements of a social group, in a modern city as in a savage tribe, is born immature, helpless, with out language, beliefs, ideas, or social standards. Each individual, each unit who is the carrier of the life experience of his group, in time passes away. Yet the life of the group goes on.

Pengertian pendidikan secara luas berarti kelanjutan kehidupan sosial.

Masing-masing dari unsur memilih kelompok sosial, lahir belum matang, tidak

berdaya, dengan keluar bahasa, kepercayaan, ide, atau standar sosial. Tiap individu

dan setiap satuan yang membawa pengalaman hidup kelompok masing-masing dan

pada waktu tertentu melampaui batas pengalaman sehingga individu terus dapat

hidup dengan kelompoknya. Berdasarkan uraian tersebut pendidikan berfungsi

membekali pengalaman dan keterampilan kepada peserta didik untuk dapat

mengembangkan kemampuannya untuk mempertahankan hidupnya. Keadaan

masyarakat yang majemuk akibat perubahan jaman menuntut peserta didik dapat

aktif dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitarnya.

Hal ini sesuai dengan pendapat Oliva (2009) yang mengemukakan bahwa

curriculum can be conceived in a narrow way (as subjects taught) or in a broad way

as all the experiences of learners, both in school and out, directed by the school.

Disimpulkan bahwa kurikulum dalam artian sempit merupakan sebagai pokok

mengajar dan arti luas sebagai semua pengalaman belajar, baik dalam dan keluar

sekolah, di bawah pengawasan sekolah sehingga pelajaran berupaya menciptakan

pengalaman belajar bagi siswa perlu mendapat prioritas yang utama dalam kegiatan

pembelajaran.

4

Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menyatakan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

B. PENGERTIAN MENDIDIK

Pendidikan menempati ruang yang amat penting bagi proses pembangunan di berbagai bidang. Pendidikan merupakan hal yang sangat fundamental dalam meningkatkan kualitas kehidupan manusia dan menjamin perkembangan sosial maupun ekonomi sebuah bangsa. Berarti mendidik bermaksud membuat manusia menjadi lebih sempurna, membuat manusia meningkatkan hidupnya dari kehidupan alamiah menjadi berbudaya. Mendidik adalah membudayakan manusia. Budaya adalah segala hasil pikiran, perasaan, kemauan, dan karya manusia secara individual atau kelompok untuk meningkatkan hidup dan kehidupan manusia atau cara hidup

yang telah dikembangkan oleh masyarakat. Manan (1989) mengemukakan ada lima komponen utama kebudayaan, yaitu:

gagasan, ideologi, norma, teknologi, dan benda. Pendidikan membuat orang berbudaya. Makin tinggi kebudayaan, makin tinggi pula pendidikan atau cara mendidiknya. Selain mendidik dikatakan membudayakan manusia, mendidik juga dikatakan memanusiakan anak manusia. Anak manusia akan menjadi manusia hanya bila ia menerima pendidikan, dan inilah arti pendidikan secara umum. Langeveld (1961) menyatakan mendidik adalah memberi pertolongan secara sadar dan sengaja kepada seorang anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya menuju ke arah kedewasaan, dalam arti dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab susila atas segala tindakannya menurut pilihannya sendiri. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat mendapat keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-

5

tingginya. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran sehingga peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan masyarakat, bangsa dan negara. Sehingga pendidikan harus membentuk karakter peserta didik. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan bagi peserta didik di masa yang akan datang. Anak dengan ilmu pengetahuan diharapkan akan dapat hidup lebih baik, apabila ilmu itu dikuasai, dimiliki, dan diamalkan oleh manusia. Sekecil apapun ilmu yang dimiliki seseorang, akan bermanfaat apabila ia amalkan dan sebaliknya sebesar apapun ilmu yang dimiliki apabila tidak diamalkan pasti ilmu itu tidak ada gunanya. Oleh karena itu, pendidikan harus diajarkan mulai anak masih kecil dan bahkan mulai dari dalam kandungan oleh orang tuanya dan kewajiban orang tua untuk melakukan hal tersebut di atas. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mendidik adalah membudayakan anak manusia, anak manusia akan menjadi manusia bila mendapat pendidikan dan pendidikan akan memanusiakan manusia. Ahmad (2006:6) berpendapat bahwa kewajiban orang tua untuk memberikan pendidikan (terutama pendidikan agama) yang ditanamkan kepada anak-anaknya. Lebih lanjut Ahmad (2006:6) menyatakan berdasarkan hasil penelitian, anak yang masih dalam kandungan yang usia kandungannya tiga bulan sudah dapat diajari, yaitu diawali dengan perilaku, misalnya sikap orang tua yang berdoa untuk mendoakan anaknya, karena pada usia kandungan tersebut calon bayi sudah memiliki ruh dan jasmani yang sudah mulai sempurna. Hakikat pendidikan adalah proses manusia untuk menjadi sempurna atau insan kamil. Hakikat tersebut menunjukkan pendidikan sebagai proses menuju kesempurnaan dan bukan puncak kesempurnaan, karena kesempurnaan itu hanyalah ada pada Tuhan. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan hanya bisa dinilai dengan standar pancaindera manusia yang tingkat paling maksimal. Tujuan dari pendidikan adalah membangun kepribadian yang terdiri dari pola pikir dan pola jiwa bagi umat, yaitu dengan cara menanamkan karakter secara komprehensif, seperti pemikiran dan

6

perilaku ke dalam akal dan jiwa anak didik. Dan juga mendidik generasi penerus untuk menjadi orang yang baik di setiap elemen kehidupan, baik ilmu agama maupun ilmu terapan dari sains dan teknologi. Pendidikan keluarga merupakan gerbang utama dan yang pertama membukakan pengetahuan atas segala sesuatu yang dipahami oleh anak-anak. Keluarga memiliki andil yang lebih besar dalam menanamkan prinsip keimanan yang kokoh sebagai dasar bagi anak untuk menjalani aktivitas hidupnya. Keluarga sebagai keteladanan bagi generasi baru. Pendidikan harus berorientasi pada terbentuknya karakter peserta didik. Setiap tahap pendidikan dievaluasi dan dipantau dengan seksama, sehingga menjadi jelas apa yang menjadi potensi positif seseorang yang harus dikembangkan dan apa yang menjadi faktor negatif seseorang yang perlu disikapi. Akar dari karakter ada dalam berpikir dan cara merasa seseorang. Sebagaimana diketahui manusia terdiri atas tiga unsur pembangun, yaitu:

(1) hati, berkaitan dengan bagaimana dia merasa; (2) pikiran, berkaitan dengan bagaimana dia berpikir; dan (3) fisik, berkaitan dengan bagaimana dia bersikap. Proses pembentukan itu tidak berjalan seadanya, namun ada kaidah-kaidah tertentu yang harus diperhatikan. Beberapa kaidah pembentukan karakter adalah: (1) kaidah kebertahapan, yakni proses pembentukan dan pengembangan karakter harus dilakukan secara bertahap, karena peserta didik tidak bisa berubah secara tiba-tiba dan instan; (2) kaidah kesinambungan, yakni seberapa pun kecilnya porsi latihan, tetapi harus ada kesinambungannya, proses yang berkesinambungan inilah yang nantinya membentuk rasa dan warna berpikir peserta didik yang lama-lama akan menjadi kebiasaan dan seterusnya menjadi karakter pribadinya yang khas; (3) kaidah momentum, yakni menggunakan suatu momentum peristiwa untuk fungsi pendidikan dan latihan, misalnya puasa untuk mengembangkan sifat sabar, kemauan yang kuat, dan kedermawanan; (4) kaidah motivasi instrinsik, karakter yang kuat akan membentuk manusia sempurna jika dorongan yang menyertainya benar-benar lahir dari dalam diri sendiri, sehingga proses merasakan sendiri, melakukan sendiri adalah penting; dan (5) kaidah pembimbingan, pembentukan karakter ini tidak bisa dilakukan tanpa pembimbing (orang tua dan guru). Kedudukan seorang pembimbing adalah memantau dan mengevaluasi perkembangan peserta didik. Kaidah-kaidah

7

tersebut harus diperhatikan oleh guru dan orang tua agar anak didik nantinya memiliki karakter yang baik.

C. EMPAT PILAR PENDIDIKAN

Upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa tidak ada cara lain kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan. Berangkat dari pemikiran itu Unesco mencanangkan empat pilar pendidikan sekarang dan masa depan yaitu: (1) learning

to know; (2) learning to do; (3) learning to be; dan (4) learning to life together. Berikut akan diuraikan empat pilar pendidikan menurut Unesco.

1. Learning to know

Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha untuk mencari agar mengetahui informasi yang dibutuhkan dan berguna bagi kehidupan. Penguasaan yang dalam dan luas akan bidang ilmu tertentu, termasuk di dalamnya learning to

how. Untuk mengimplementasikan learning to know (belajar untuk mengetahui), guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan sebagai kawan berdialog bagi para siswanya dalam rangka mengembangkan penguasaan pengetahuan siswa.

2. Learning to do

Pendidikan juga merupakan proses belajar untuk bisa melakukan sesuatu (learning to do). Proses belajar menghasilkan perubahan dalam ranah kognitif, peningkatan kompetensi, serta pemilihan dan penerimaan secara sadar terhadap nilai, sikap, penghargaan, perasaan, serta kemauan untuk berbuat atau merespons suatu stimulus. Pendidikan membekali manusia tidak sekedar untuk mengetahui, tetapi lebih jauh untuk terampil berbuat atau mengerjakan sesuatu sehingga menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan. Belajar untuk mengaplikasi ilmu, bekerja sama dalam team, belajar memecahkan masalah dalam berbagai

situasi.

Sekolah sebagai wadah masyarakat belajar seyogyanya memfasilitasi siswanya untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimiliki, serta bakat dan minatnya agar learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dapat terealisasi. Walau sesungguhnya bakat dan minat anak dipengaruhi faktor keturunan namun

8

tumbuh dan berkembangnya bakat dan minat juga bergantung pada lingkungan. Seperti diketahui bersama bahwa keterampilan merupakan sarana untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan semata.

3. Learning to be

Pilar ketiga yang dicanangkan Unesco adalah learning to be (belajar untuk menjadi seseorang). Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari proses menjadi diri sendiri (learning to be). Hal ini erat sekali kaitannya dengan

bakat, minat, perkembangan fisik, kejiwaan, dan tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Misalnya bagi siswa yang agresif, akan menemukan jati dirinya bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Dan sebaliknya bagi siswa yang pasif, peran guru sebagai kompas penunjuk arah sekaligus menjadi fasilitator sangat diperlukan untuk menumbuhkembangkan potensi diri siswa secara utuh dan maksimal. Menjadi diri sendiri diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya merupakan proses pencapaian aktualisasi diri. Belajar untuk dapat mandiri, menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama.

4. Learning to life together

Belajar memahami dan menghargai orang lain, sejarah mereka dan nilai-nilai agamanya. Terjadinya proses learning to life together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama), pada pilar keempat ini, kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi, dan menerima perlu dikembangkan di sekolah. Kondisi seperti inilah yang memungkinkan tumbuhnya sikap saling pengertian antara ras, suku, dan agama. Siswa sebagai individu dengan kemampuan yang dimiliki, sebagai hasil dari proses pendidikan, dapat dijadikan sebagai bekal untuk

mampu berperan dalam lingkungan di mana individu tersebut berada, dan sekaligus mampu menempatkan diri sesuai dengan perannya. Pemahaman tentang peran diri dan orang lain dalam kelompok belajar merupakan bekal dalam bersosialisasi di masyarakat (learning to life together). Orang juga akan mampu menempatkan posisi dengan benar di kehidupan bermasyarakat.

9

Pendidikan dengan mengaplikasikan pilar-pilar tersebut, diharapkan pendidikan yang berlangsung di seluruh dunia termasuk Indonesia dapat menjadi lebih baik, namun yang menjadi masalah adalah dunia pendidikan di Indonesia yang saat ini masih minim fasilitas, terlebih lagi di daerah-daerah terpencil, belum meratanya fasilitas pendidikan, tentunya akan menjadi halangan bagi siswa untuk mengembangkan diri mereka. Untuk itu semua, pendidikan di Indonesia harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian, dan moral. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian, pada gilirannya akan menjadikan masyarakat Indonesia masyarakat yang bermartabat di mata masyarakat dunia.

10

BAB II LANDASAN PENDIDIKAN

Landasan adalah dasar tempat berpijak atau tempat dimulainya suatu perbuatan. Wojowasito (1972:161) menyatakan landasan dapat diartikan sebagai alas, ataupun dapat diartikan sebagai fondasi, dasar, pedoman, dan sumber. Pendidikan adalah sesuatu yang universal dan berlangsung terus tidak terputus dari generasi ke generasi. Pendidikan dapat juga didefinisikan sebagai pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan, sekelompok orang yang ditransfer dari generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Upaya memanusiakan manusia melalui pendidikan itu diselenggarakan sesuai dengan pandangan hidup dan dalam latar sosial-kebudayaan setiap masyarakat tertentu. Pendidikan itu diselenggarakan berlandaskan filsafat hidup serta sosiokultural setiap masyarakat, termasuk di Indonesia. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 menyatakan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

A. LANDASAN FILOSOFIS

Landasan filosofis adalah landasan yang bersifat filsafat. Filsafat berasal dari bahasa Yunani, yakni phelein yang artinya mencintai, dan sophos atau sophis yang berarti hikmah, arif, atau bijaksana. Landasan filsafat merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau hakikat pendidikan, karena filsafat merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat, sedangkan pendidikan berusaha mewujudkan citra itu. Filsafat pendidikan berupaya menjawab secara kritis dan mendasar berbagai pertanyaan pokok sekitar pendidikan, seperti pertanyaan apa yang dimaksud dengan pendidikan, bagaimana penerapan sesuatu dalam pendidikan, untuk siapa pendidikan itu, dan sebagainya seputar pendidikan.

11

Peranan filsafat dalam bidang pendidikan berkaitan dengan hasil kajian tentang: (1) keberadaan dan kedudukan manusia sebagai makhluk di dunia ini; (2) masyarakat dan kebudayaannya; (3) keterbatasan manusia sebagai makhluk hidup yang banyak menghadapi tantangan; dan (4) perlunya landasan pemikiran dalam filsafat pendidikan (Ardhana, 1986). Aliran-aliran filsafat yang berkembang dan mempengaruhi pendidikan atau melahirkan aliran filsafat pendidikan antara lain: (1) yang menekankan teori kehikmatan, yaitu thruth, beauty, dan goodness; (2) idealisme adalah aliran yang menegaskan bahwa hakikat kenyataannya adalah ide sebagai gagasan kejiwaan; (3) realisme adalah aliran yang menekankan pada pengakuan adanya kenyataan hakiki yang objektif, di luar manusia; (4) perenialisme adalah aliran yang memiliki asumsi bahwa kebudayaan lama menjadi acuan pendidikan; (5) esensialisme adalah aliran filsafat yang menerapkan prinsip idealisme dan realisme; dan (6) pragmatisme dan progesivisme adalah aliran filsafat yang menganggap segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang pendidikan tradisional. Selanjutnya perlu dikemukakan secara ringkas dalam filsafat pendidikan terdapat empat mazhab yang besar pengaruhnya dalam pemikiran dan penyelenggaran pendidikan, yaitu: (1) esensialisme adalah mazhab yang menitikberatkan peranan prinsip idealisme dengan tidak meleburkan prinsip- prinsipnya; (2) perenialisme adalah mazhab yang menekankan teori kehikmatan, yaitu thruth (pengetahuan yang benar), beauty (keindahan), dan goodness (kebaikan); (3) pragmatisme dan progresivisme atau gerakan pendidikan progresif mengembangkan teori pendidikan yang mendasarkan diri pada beberapa prinsip, antara lain kebebasan anak, pengalaman untuk merangsang minat belajar, guru sebagai peneliti dan pembimbing belajar, laboratorium sebagai eksperimen; dan (4) rekonstruksionisme adalah suatu kelanjutan yang logis dari cara berpikir progresif dalam pendidikan. Selain itu pendidikan Indonesia juga memiliki landasan Pancasila dalam perwujudannya. Hal ini dipertegas dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 2 yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sedangkan Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1978 tentang

12

Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) menegaskan pula bahwa Pancasila itu adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar Negara Republik Indonesia.

B. LANDASAN EKONOMI

Asumsi yang dikembangkan pemerintah menetapkan pembangunan di bidang ekonomi pada pembangunan jangka panjang adalah karena: (1) ekonomi memegang peranan penting dalam kehidupan manusia; dan (2) agar tidak kalah bersaing dalam era globalisasi saat ini. Sehingga mengakibatkan munculnya berbagai usaha baru, pabrik-pabrik baru, badan-badan perdagangan baru, dan badan- badan jasa yang baru, jumlah konglomerat bertambah banyak, pertumbuhan ekonomi menjadi tinggi, dan penghasilan negara bertambah. Kondisi ekonomi mempengaruhi bidang pendidikan, seperti berakibat banyak orang kaya secara sukarela mau menjadi bapak angkat agar anak-anak tidak mampu bisa bersekolah, terlaksananya sistem ganda dalam pendidikan yaitu kerja sama antara sekolah dengan pihak usahawan dalam proses belajar-mengajar para siswa, dalam rangka mengembangkan keterampilan siswa, dan munculnya sejumlah sekolah unggul yang didirikan oleh orang-orang kaya atau konglomerat atau kumpulan dari mereka yang

bertebaran di seluruh Indonesia. Sekolah ini lebih unggul dalam prasarana dan sarana pendidikan, dan juga dalam menggaji pendidik-pendidiknya. Akan tetapi karena kebanyakan kebijakan dan peraturan yang dibuat banyak sekali menimbulkan ketidakharmonisan antarpengusaha dalam menjalankan roda ekonomi yang menimbulkan krisis ekonomi berkepanjangan, maka di era globalisasi sekarang ini keterpurukan ekonomi Indonesia perlu dirumuskan kebijakan dan peraturan yang baru dan memperbaiki perekonomian bangsa, sehingga rakyat yang menderita dapat dengan segera menikmati hasil perekonomian yang mapan di masa yang akan datang baik perekonomian yang bersifat makro dan mikro. Antara pendidikan dan ekonomi saling pengaruh mempengaruhi. Jika ekonomi suatu negara maju, maka pendidikan akan maju, dan begitu pula sebaliknya. Kondisi ekonomi yang baik pada suatu negara akan mempengaruhi rakyatnya dalam mendapatkan akses pendidikan. Peluang rakyat untuk menempuh pendidikan semakin luas manakala kondisi ekonomi stabil dan baik, yakni selalu tumbuh ekonominya.

13

C.

LANDASAN HISTORIS

Landasan historis pendidikan adalah cita-cita dan praktik-praktik pendidikan masa lampau. Jika dilihat dari kondisi sosial budaya, pendidikan masa lampau Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga tonggak sejarah, yaitu: (1) pendidikan tradisional, yakni penyelenggaraan pendidikan di nusantara yang dipengaruhi oleh agama-agama besar di dunia Hindu, Budha, Islam, dan Nasrani; (2) pendidikan kolonial barat, yakni penyelenggaraan pendidikan di nusantara yang dipengaruhi oleh pemerintahan kolonial barat, teutama kolonial Belanda; dan (3) pendidikan kolonial Jepang, yakni penyelenggaraan pendidikan di nusantara yang dipengaruhi oleh pemerintahan kolnial Jepang dalam zaman Perang Dunia II. Pada zaman ini adalah agar generasi muda dapat mencari nafkah, membela diri, hidup bermasyarakat, taat terhadap adab dan terhadap nilai-nilai religi (kepercayaan) yang mereka yakini. Karena kebudayaan masyarakat masih bersahaja, pada zaman ini belum ada lembaga pendidikan formal.

D. LANDASAN PSIKOLOGIS

Landasan psikologis dalam pendidikan mengkaji hal yang berkaitan dengan aspek kejiwaan pendidik dan peserta didik. Psikologi pendidikan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psiologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan. Misalnya pengetahuan tentang aspek aspek pribadi, urutan, dan ciri-ciri pertumbuhan setiap aspek, dan konsep tentang cara-cara paling tepat untuk mengembangkannya. Untuk itu psikologi menyediakan sejumlah informasi tentang kehidupan pribadi manusia pada umumnya serta berkaitan dengan aspek pribadi. Landasan psikologis pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya, serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan. Kajian psikologi yang erat hubungannya dengan pendidikan adalah yang berkaitan dengan kecerdasan, berpikir, dan belajar (Tirtarahardja,

2005:106).

14

1.

Perkembangan Individu dan Faktor yang Mempengaruhinya

Perkembangan adalah proses terjadinya perubahan pada manusia, baik secara fisik maupun secara mental sejak berada di dalam kandungan sampai manusia tersebut meninggal. Proses perkembangan pada manusia terjadi dikarenakan manusia mengalami kematangan dan proses belajar dari waktu ke waktu. Kematangan adalah perubahan yang terjadi pada individu dikarenakan adanya pertumbuhan fisik dan biologis, misalnya seorang anak yang beranjak menjadi dewasa akan mengalami perubahan pada fisik dan mentalnya. Sedangkan belajar adalah sebuah proses yang berkesinambungan dari sebuah pengalaman yang akan membuat suatu individu berubah dari tidak tahu menjadi tahu (kognitif), dari tidak mau menjadi mau (afektif) dan dari tidak bisa menjadi bisa (psikomotorik), misalnya seseorang anak yang belajar mengendarai sepeda akan terlebih dahulu diberi pengarahan oleh orang tuanya lalu anak tersebut mencoba untuk mengendarai

sepeda hingga menjadi bisa. Proses kematangan dan belajar akan sangat menentukan kesiapan belajar pada seseorang, misalnya seseorang yang proses kematangan dan belajarnya baik akan memiliki kesiapan belajar yang jauh lebih baik dengan seseorang yang proses kematangan dan belajarnya buruk. Manusia dalam perkembangannya mengalami perubahan dalam berbagai aspek yang ada pada manusia dan aspekaspek tersebut saling berhubungan danberkaitan. Aspek aspek dalam perkembanga tersebut diantaranya adalah aspek fisik, mental, emosional, dan sosial. Semua manusia pasti akan mengalami perkembangan dengan tingkat perkembangan yang berbeda, ada yang berkembang dengan cepat dan ada pula yang berkembang dengan lambat. Namun demikian dalam proses perkembangan terdapat nilai-nilai universal yang dimiliki oleh semua orang yaitu prinsip-prinsip perkembangan. Prinsip perkembangan adalah: (1) perkembangan terjadi secara terus menerus hingga manusia meninggal dunia; (2) kecepatan perkembangan setiap individu berbeda-beda; (3) semua aspek perkembangan saling berkaitan dan berhubungan satu sama lainnya; (4) arah perkembangan individu dapat diprediksi; dan (5) perkembangan terjadi secara bertahap dan tiap tahapan mempunyai karakteristik tertentu. Ada tiga teori perkembangan manusia, yaitu nativisme, empirisme, dan konvergensi.

15

Teori nativisme adalah teori yang berasumsi bahwa setiap individu dilahirkan ke dunia dengan membawa faktor-faktor turunan dari orang tuanya dan faktor tersebut yang menjadi faktor penentu perkembangan individu. Tokoh teori ini adalah Schoupenhauer dan Arnold Gessel. Implikasi teori nativisme terhadap pendidikan yaitu kurang memberikan kemungkinan bagi pendidik untuk mengubah kepribadian peserta didik. Teori empirisme adalah teori yang berasumsi bahwa setiap individu yang terlahir ke dunia adalah dalam keadaan bersih, sedangkan faktor penentu perkembangan individu tersebut adalah lingkungan dan pengalaman. Tokoh teori ini adalah John Lock dan J. B. Watson. Implikasinya teori empirisme terhadap pendidikan yaitu dapat memberikan kemungkinan sepenuhnya bagi pendidik untuk dapat membentuk kepribadian peserta didik. Teori konvergensi adalah teori yang berasumsi bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor keturunan dan faktor lingkungan serta pengalaman, atau dengan kata lain teori ini adalah gabungan dari teori empirisme dan teori nativisme. Tokoh teori ini adalah Wiliam Stern dan Robert J. Havighurst. Implikasinya teori konvergensi terhadap pendidikan yaitu dapat memberikan kemungkinan kepada pendidik untuk membentuk kepribadian individu sesuai yang diharapkan akan tetapi tetap memperhatikan faktor faktor heriditas yang ada pada individu.

2. Tahapan dan Tugas Perkembangan Serta Implikasinya terhadap Perlakuan Pendidik Asumsi bahwa anak adalah orang dewasa dalam skala kecil (anak adalah orang dewasa mini) telah ditinggalkan orang sejak lama, sebagaimana diketahui bahwa masa anak-anak adalah suatu tahap yang berbeda dengan orang dewasa. Anak menjadi dewasa melalui suatu proses pertumbuhan bertahap mengenai keadaan fisik, sosial, emosional, moral, dan mentalnya. Seraya mereka berkembang, mereka mempunyai cara-cara memahami bereaksi, dan mempersepsi yang sesuai dengan usianya. Inilah yang oleh ahli psikologi disebut tahap perkembangan. Havighurst (1957) membagi perkembangan individu menjadi empat tahap, yaitu: (1) masa bayi dan kanak-kanak kecil (antara 0 s.d. 6 tahun); (2) masa kanak-kanak

16

(antara 6 s.d. 12 tahun); (3) masa remaja atau adoselen (antara 12 s.d. 18 tahun); dan (4) masa dewasa (lebih dari 18 tahun). Selain itu, Havighurst (1957) mendeskripsikan tugas-tugas perkembangan (development task) yang harus diselesaikan pada setiap tahap perkembangan. Tugas perkembangan masa bayi dan kanak-kanak kecil (antara 0 s.d. 6 tahun), yaitu: (1) belajar berjalan; (2) belajar makan makanan yang padat; (3) belajar berbicara / berkata-kata; (3) belajar mengontrol pembuangan kotoran tubuh; (4) belajar tentang perbedaan kelamin dan kesopanan / kelakuan yang sesuai dengan jenis kelaminnya; (5) mencapai stabilitas fisiologis / jasmaniah; (6) pembentukan konsep sederhana tentang kenyataan sosial dan kenyataan fisik; (7) belajar berhubungan diri secara emosional dengan orang tua saudara saudaranya, dan orang lain; dan (8) belajar membedakan yang benar dan yang salah dan pengembangan kesadaran diri / kata hati. Tugas perkembangan masa masa kanak-kanak (antara 6 s.d. 12 tahun), yaitu:

(1) belajar keterampilan fisik yang perlu untuk permainan sehari-hari; (2) pembentukan kesatuan sikap terhadap dirinya sebagai suatu organisme yang tumbuh; (3) belajar bermain dengan teman-teman mainnya; (4) belajar memahami peranan peranan kepriaan atau kewanitaan; (5) pengembangan kemahiran dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung; (6) pengembangn konsep-konsep yang perlu untuk kehidupan sehari-hari; (7) pengembangn kesadaran diri moralitas dan suatu skala nilai-nilai; (8) pengembangan kebebasan pribadi; dan (9) pengembangan sikap-sikap terhadap kelompok sosial dan lembaga. Tugas perkembangan masa remaja / adoselen (antara 12 s.d. 18 tahun), yaitu:

(1) mencapai peranan sosial dan hubungan yang lebih matang sebagai laki-laki / perempuan serta kebebasan emosional dari orang tua; (2) memperoleh jaminan kebebasan ekonomi dengan memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan; (3) mempersiapkan diri untuk berkeluarga; dan (4) mengembangkan kecakapan intelektual serta tingkah laku yang bertanggung jawab dalam masyarakat. Tugas perkembangan pada masa dewasa (lebih dari 18 tahun) terbagi dalam tiga fase, yaitu: (1) masa dewasa awal; (2) masa dewasa tengah umur; dan (3) masa perkembangan usia lanjut. Tugas masa dewasa awal adalah: (1) memilih pasangan hidup dan belajar hidup bersama; (2) memulai berkeluarga; dan (3) mulai

17

menduduki suatu jabatan / pekerjaan. Tugas masa dewasa tengah umur adalah (1) mencapai tanggung jawab sosial dan warga negara yang dewasa; (2) membantu anak belasan tahun menjadi dewasa; (3) menghubungkan diri sendiri kepada suami / isteri sebagai suatu pribadi; dan (4) menyesuaikan diri kepada orang tua yang semakin tua. Tugas perkembangan usia lanjut adalah: (1) menyesuaikan diri pada kekuatan dan kesehatan jasmani; (2) menyesuaikan diri pada saat pensiun dan pendapatan yang semakin berkurang; dan (3) menyesuaikan diri terhadap kematian, terutama banyak beribadah.

3. Implikasi Pendidikan terhadap pendidikan

Perlakuan individu didasarkan pada tingkat perkembangan kognitif peserta didik. Motivasi berasal dari dalam diri individu (intrinsik) yang timbul berdasarkan pengetahuan yang telah dikuasai peserta didik. Tujuan kurikuler difokuskan untuk mengembangkan keseluruhan kemampuan kognitif, bahasa, dan motorik dengan interaksi sosial yang berfungsi sebagai alat untuk mengembangkan kecerdasan. Bentuk pengelolaan kelas berpusat pada peserta didik dengan guru sebagai. Fasillitator mengefektifkan mengajar dengan cara mengutamakan program pendidikan yang berupa pengetahuan-pengetahuan terpadu secara hierarkis. Partisipasi peserta didik sangat dominan guna meningkatkan sisi kognitif peserta didik. Kegiatan belajar peserta didik mengutamakan belajar untuk memahami dengan cara insight learning. Tujuan umum dalam pendidikan adalah untuk mengembangkan sisi kognitif secara optimal dan kemampuan menggunakan kecerdasan secara bijaksana. Teori belajar humanisme berasumsi bahwa belajar adalah fungsi seluruh kepribadian suatu individu dikarenakan suatu individu merupakan pribadi utuh yang mempunyai kebebasan memilih untuk menentukan kehidupannya, juga memiliki keinginan untuk mengetahui sesuatu, juga memiliki keinginan untuk bereksplorasi dan mengasimilasi pengalaman pengalamannya. Tokoh teori ini adalah Carl Rogers. Perlakuan terhadap individu didasarkan akan kebutuhan individual dan kepribadian peserta didik. Motivasi belajar berasal dari dalam diri (intrinsik), karena adanya keinginan untuk mengetahui. Metode belajar menggunakan metode pendekatan terpadu dengan menekankan kepada ilmu-ilmu sosial. Tujuan kurikuler

18

mengutamakan pada perkembangan dari segi sosial, keterampilan berkomunikasi, dan kemampuan untuk peka terhadap kebutuhan individu dan orang lain. Bentuk pengelolaan kelas berpusat pada peserta didik yang mempunyai kebebasan memilih dan guru hanya berperan untuk membantu. Untuk mengefektifkan mengajar maka pengajaran disusun dalam bentuk topik-topik terpadu berdasarkan pada kebutuhan peserta didik. Partisipasi peserta didik sangat dominan. Kegiatan belajar peserta didik mengutamakan belajar melalui pemahaman dan pengertian bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan. Tujuan umum pendidikan adalah untuk memaksimalkan kemampuan diri dan pemahaman.

E. LANDASAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

Pendidikan dan teknologi mempunyai kaitan yang sangat erat. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) menjadi bagian utama dalam isi pengajaran. Sehingga dengan kata lain, pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan pengembangan teknologi. Dari sisi lain, setiap perkembangan iptek harus segera diakomodasi oleh pendidikan, yakni dengan segera memasukkan hasil pengembangan iptek kedalam isi bahan ajar. Pengetahuan (knowledge) adalah segala sesuatu yang dipereroleh berbagai cara pengindraan terhadap fakta, penalaran (rasio), intuisi, dan wahyu. Pengetahuan meliputi berbagai cabang ilmu seperti ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam; humaniora (seni, filsafat, bahasa); serta wahyu keagamaan atau yang sejenisnya. Dari segi tujuan pokoknya, sering pula dibedakan ilmu dasar dan ilmu terapan. Ilmu dasar biasanya digunakan untuk mengembangkan ilmu itu sendiri, sedangkan ilmu terapan digunakan untuk mengatasi masalah dan memajukan kesejahteraan manusia. Hasil dari ilmu terapan itu dialihragamkan menjadi bahan, alat, atau prosedur kerja, kegiatan ini biasa disebut pengembangan. Tindak lanjut dan hasil kegiatan pengembangan itulah disebut teknologi.

Pengetahuan yang memenuhi kriteria dari segi ontologis, epistemologis, dan aksiologis secara konsekuen biasa disebut ilmu pengetahuan (science). Berdasarkan kajian ilmu pengatahuan, dapat diketahui bahwa landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis merupakan kajian filsafat ilmu.

19

1.

Landasan Ontologis

Berkaitan dengan objek ilmu yang ditelaah oleh ilmu adalah: apa yang ingin diketahui oleh ilmu dan bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut? Seperti diketahui, ilmu membatasi objeknya pada fakta atau kejadian yng bersifat empiris, yang dapat ditangkap oleh alat indra, baik secara langsung maupun dengan bantuan

alat lain.

2. Landasan Epistemologis

Berkaitan dengan segenap proses untuk memperoleh pengetahuan ilmiah, yakni bagaimana prosedurnya? Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui proses tertentu yang disebut metode keilmuan. Nilai kegunaan ilmu pengetahuan dan teknologi hendaknya terkait dengan peningkatan kesejahteraan lahir dan batin, kemajuan peradaban, serta ketangguhan dan daya saing sebagai bangsa, serta tidak bertentangan dengn nilai agama dan budaya bangsa.

3. Landasan Aksiologis

Berkaitan dengan manfaat atau kegunaan pengetahuan ilmiah itu, yaitu:

untuk apa pengetahuan ilmiah itu dipergunakan? Ilmu telah berjasa mengubah wajah dunia dalam berbagai bidang serta memajukan kesejahteraan manusia. Namun manusia juga menyaksikan ilmu digunakan untuk mengancam martabat dan kebudayaan manusia. Oleh karena itu, ilmu itu dianggap netral, ilmu itu bebas dari nilai baik atau buruk, dan sangat tergantung dari nilai moral ilmuan tersebut. Dengan kata lain manusia yang harus menentukan apakah ilmunya bermanfaat bagi manusia dan dirinya atau sebaliknya. Manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi yang melandasi pendidikan harus mampu memberikan kesejahteraan lahir dan batin setinggi-tingginya, mendorong pemanfaatan pengembangan sesuai tuntutan zaman, menjamin penggunaanya secara bertanggung jawab, member dukungn nila-nilai agama dan nilai luhur budaya bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas sumber daya manusia. Seperti yang telah dikemukakan pengetahuan yang memenuhi ketiga landasan di atas yang disebut ilmu atau ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, istilah ilmu atau ilmu pengetahuan dapat dimaknai kumpulan

informasi, cara memperoleh informasi, dan manfaat dari informasi.

20

Iptek merupakan salah satu hasil usaha manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Berkat perkembangan iptek, hubungan kekuasaan manusia dan alam dapat dikatakan terbalik, alam kini berada di bawah kekuasaan manusia. Seperti, sekarang banyak alat-alat canggih yang telah diciptakan oleh manusia untuk mencegah terjadinya bencan alam. Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah, harus mampu mengakomodasikan dan mengantisipasikan perkembangan iptek. Bahan ajar sebaiknya hasil perkembangan iptek mutakhir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi, maupun cara memperolah informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat. Seperti diketahui, beberapa dekade ini di sekolah telah digalakkan pelaksanaan cara belajar siswa aktif dengan pendekatan ketrampilan proses. Beberapa keterampilan sudah diajarkan mulai dari sekolah dasar, seperti observsi, perhitugan, pengukuran, klasifikasi, mencari hubungan ruang/waktu, pembuatan hipotesis, perancanaan penelitian, pengendalian variabel, interpretasi data, kesimpulan sementara, peramalan, penerapan, dan komunikasi.

F. LANDASAN SOSIOLOGI

Sosiologi pendidikan merupakan proses interaksi antara dua individu yang meliputi hubungan aspek masyarakat dengan sIstem pendidikan, hubungan kemanusiaan di sekolah dan pengaruh sekolah komunitas. Indonesia termasuk negara pluralisme yang memiliki banyak ras, suku / etnis, dan kekayaan budaya yang bermacam-macam. Pendidikan dengan landasan sosiologis, bertujuan untuk memperkokoh masing-masing kebudayaan tanpa terjadi perpecahan. Bahkan keberagaman itu dipandang sebagai potensi atau pengembangan kemanusiaan dan justru antara satu dengan yang lain ditujukan agar saling mengayomi dan melengkapi. Kajian sosiologi tentang pendidikan pada prinsipnya mencangkup semua jalur pendidikan. Salah satunya adalah proses interaksi dalam lingkungan keluarga. Karena penanaman nilai moral dan keterampilan berawal sejak dini di mana anak didik itu berada. Selain itu kelompok sebaya juga mempengaruhi perkembangan pada diri anak, karena dapat menciptakan solidaritas yang sangat kuat dan kelompok sebayalah yang memberikan model, identitas serta dukungan pada anak didik. Masyarakat sebagai kesatuan hidup memiliki ciri-ciri utama, antara lain: (1) ada interaksi warga-warganya; (2) pola tingkah lakunya diatur dalam adat istiadat,

21

norma hukum, dan aturan-aturan yang khas; dan (3) ada rasa identitas yang kuat terhadap kelompoknya merupakan pangkal dari perasaan bangga sebagai patrioisme, nasionalisme, dan kesetiakawanan sosial. Dengan lingkungan yang baik, dapat mewujudkan manusia Indonesia yang baik pula.

G. LANDASAN KULTURAL

Kebudayaan adalah hasil cipta dan karsa manusia berupa norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan, tingkah laku, dan teknologi yang dipelajari dan dimiliki oleh semua anggota masyarakat tertentu. Kebudayaan dalam arti luas dapat berwujud: (1) ideal seperti ide, gagasan, dan nilai; (2) kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat; dan (3) fisik yakni benda hasil karya manusia (Koentjaraningrat, 1975:15-22). Kebudayaan dan pendidikan memiliki hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan atau dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baik secara formal maupun informal. Anggota masyarakat berusaha mengalami perubahan-perubahan yang sesuai dengan perkembangan zaman sehingga terbentuklah suatu tingkah laku, nilai-nilai, norma-norma, baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Usaha-usaha menuju pola-

pola ini disebut transformasi kebudayaan. Lembaga sosial yang lazim digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi kebudayaan adalah lembaga pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga. Hal ini dipertegas dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

H. LANDASAN GEOGRAFI

Geografi berasal dari Yunani yaitu kata geo yang artinya bumi, dan graphein yang berarti lukisan atau gambaran. Jadi istilah georafi adalah gambaran tentang bumi. Harshome menyatakan bahwa geografi adalah sebagai diferensiasi areal fenomena-fenomena yang bertautan di muka bumi dalam arti pentingnya bagi manusia (Suharyono, 1994:12). Lebih lanjut Harshome mengemukakan sasaran

22

utama geografi adalah the uniquely verying character of the earthsurface (Suharyono, 1994:12). Sedangkan menurut Bintaro (1997:9) geografi merupakan ilmu pengetahuan yang mencitrakan, menerangkan sifat-sifat bumi, menganalisa gejala-gejala alam dan penduduk, serta mempelajari corak yang khas mengenai kehidupan dan berusaha mencari fungsi dari unsur-unsur bumi dalam ruang dan waktu.

Pendidikan geografis mencakup prinsip-prinsip geografis (yang meliputi prinsip penyebaran, prinsip interelasi, prinsip korologi, dan prinsip deskripsi), dan menjelaskan tentang konsep-konsep geografis (yang terdiri dari konsep lokasi, konsep jarak, konsep keterjangkauan, konsep morfologi, konsep pola, konsep aglomerasi, konsep nilai kegunaan, konsep interpendensi / interaksi, konsep diferensiasi areal, dan konsep keterkaitan keruangan), serta mengkaji tentang- tentang geografis (seperti pendekatan keruangan, pendekatan kelingkungan, dan pendekatan wilayah).

I. LANDASAN ANTROPOLOGI Antropologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Terbentuklah ilmu antropologi dengan melalui beberapa fase. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya. Antropologi berasal dari kata anthropos yang berarti manusia, dan logos yang berarti ilmu. Mengenai penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa landasan antropologi pendidikan merupakan landasan pendidikan yang mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Antropoli adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusa.

23

Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia. Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan. Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara berperilaku, tradisi-tradisi, dan nilai- nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.

24

BAB III ASAS-ASAS PENDIDIKAN

Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematik-sistemik selalu bertolak dengan sejumlah landasan serta mengindahkan sejumlah landasan serta mengindahkan sejumlah asas-asas tertentu. Asas merupakan hal yang sangat penting karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap pengembangan manusia dan masyarakat suatu bangsa tertentu. Dengan wawasan dan kajian yang tepat serta dengan menerapkan asas-asas pendidikan yang tepat pula, maka akan dapat member peluang yang besar dalam merancang dan menyelenggarakan program pendidikan yang berwawasan. Sehingga akan memeberikan perspektif yang lebih luas dalam pendidikan, baik dalam aspek konseptual maupun operasional.

A. PENGERTIAN ASAS PENDIDIKAN

Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Pandangan tentang hakikat manusia merupakan tumpuan berpikir utama yang sangat penting dalam pendidikan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah bahwa manusia itu dapat dididik dan dapat mendidik diri sendiri. Seperti diketahui, manusia yang dilahirkan hampir tanpa daya dan sangat tergantung pada orang lain (orang tuanya, terutama ibunya) namun memiliki potensi yang hampir tanpa batas untuk dikembangkan. Bayi itu melalui pendidikan dapat dikembangkan menjadi calon pakar yang dapat merancang dan membuat pesawat angkasa luar yang dapat menjelajah ruang angkasa dan mampu merekayasa genetika yang memicu revolusi hijau dengan berbagai bibit unggul ataupun sebaliknya mampu membuat bom yang dapat menghancurkan manusia dan kebudayaannya. Khusus untuk pendidikan di Indonesia terdapat sejumlah asas yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan. Asas-asas tersebut bersumber baik dari kecenderungan umum pendidikan di dunia maupun yang bersumber dari pemikiran dan pengalaman sepanjang sejarah upaya pendidikan di Indonesia. Diantara berbagai asas tersebut, tiga buah asas akan dikaji lebih lanjut dalam paparan ini. Ketiga asas itu adalah: (1) asas tut wuri handayani; (2) asas belajar

25

sepanjang hayat; dan (3) asas kemandirian dalam belajar. Ketiga asas itu dipandang sangat relevan dengan upaya pendidikan baik masa kini maupun masa depan. Oleh karena itu, setiap tenaga kependidikan harus memahami dengan tepat ketiga asas tersebut agar dapat menerapkannya dengan semestinya dalam penyelenggaraan pendidikan sehari-hari.

B. ASAS TUT WURI HANDAYANI

Asas tut wuri handayani, yang sekarang menjadi semboyan Kemdikbud, pada awalnya merupakan salah satu dari Asas 1922, yakni tujuh buah asas dari Perguruan Nasional Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara. Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sistem among dari perguruan itu. Asas ataupun semboyan tut wuri handayani yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dewantara mendapat tanggapan positif dari R. M. P. Sostrokartono (filsuf dan ahli bahasa) dengan menambahkan dua semboyan untuk melengkapinya, yakni ing ngarso sung tulada dan ing madya mangun karsa (Joni, 1989). Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas, yakni: (1) ing ngarsa sung tulada; (2) ing madya mangun karsa; dan (3) tut wuri handayani. Agar diperoleh latar keberlakukan awal dari asas tut wuri handayani, perlu

dikemukakan tujuh asas Perguruan Nasional Taman Siswa tersebut. Seperti diketahui Perguruan Nasional Taman Siswa yang lahir pada 3 Juli 1922 berdiri berdiri di atas tujuh asas yang merupakan asas perjuangan untuk menghadapi pemerintahan kolonial Belanda serta sekaligus untuk mempertahankan

kelangsungan hidup dan sifat yang nasional dan demokrasi. Ketujuh asas tersebut yang secara singkat disebut Asas 1922 adalah:

1. Bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dalam perikehidupan umum.

2. Bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah, yang dalam arti lahir dan batin dapat memerdekakan diri.

3. Bahwa pengajaran harus bersumber atau berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.

4. Bahwa pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau seluruh rakyat.

26

5. Bahwa untuk mengajar kemerdekaan hidup yang sepenuh-penuhnya lahir maupun batin hendaklah diusahakan dengan kekuatan sendiri, dan menolak bantuan apa pun dan dari siapa pun yang mengikat, baik berupa ikatan lahir maupun batin.

6. Bahwa sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak harus membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan.

7. Bahwa dalam mendidik anak-anak perlu adanya keikhlasan lahir dan batin untuk mengorbankan segala kepentingan pribadi demi keselamatan dan kebahagiaan anaka-anak.

Asas tut wuri handayani merupakan inti dari asas pertama (butir 1) yang menegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri (zelf- veschikkingsrecht) dengan mengingat tertibnya persatuan dalm perikehidupan umum. Dari asasnya yang pertama ini dijelaskan bahwa tujuan yang hendak dicapai oleh taman siswa adalah kehidupan yang tentram dan damai (tata dan tentram, orde on verde). Kehidupan yang yang tertib dan damai hendaknya dicapai menurut asas dasar kodrat alam sebagai sifat lahir dan manifestasi kekuasaan tuhan. Asas ini pulalah yang mendorong Taman Siswa untuk mengganti sistem pendidikan cara lama yang menggunakan perintah, paksaan, dan hukuman dengan sistem khas taman siswa, yang didasarkan pada perkembangan kodrati. Dari asas ini pulalah lahir sistem among, di mana guru mendapat sebutan pamong, yaitu sebagai pemimpin yang berdiri di belakang dengan bersemboyan tut wuri handayani, yaitu tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan kepada anak didik ntuk berjalan sendiri, dan tidak terus menerus dicampuri, diperintah, atau dipaksa. Pamong hanya wajib menyingkirkan segala sesuatu yang merintangi jalannya anak, serta hanya bertindak aktif dan mencampuri tingkah laku atau perbuatan anak apabila mereka sendiri tidak bisa menghindarkan diri dari berbagai rintangan atau ancaman keselamatan atau gerak majunya. Jadi sistem among adalah cara pendidikan yang dipakai dalam sistem taman siswa dengan maksud mewajibkan para guru supaya mengingati dan mementingkan kodrat-iradatnya para siswa dengan tidak melupakan segala keadaan yang mengelilingnya.

27

Dua semboyan lainya, sebagai bagian tak terpisahkan dari tut wuri handayani, pada hakikatnya bertolak dari wawasan tentang anak yang sama, yakni tidak ada unsur perintah, paksaan, atau hukuman. Tidak ada campur tangan yang dapat mengurangi kebebasan anaka untuk berjalan sendiri dengan kekuatan sendiri dengan kekuatan sendiri. Dari sisi lain, pendidik setiap saat siap memberi uluran tangan apabila diperlukan oleh anak. Ing ngarsa sung tulada (di depan memberi contoh) adalah hal yang baik mengingat kebutuhan anak maupun pertimbangan guru. Ing madya mangun karsa (di tengah membangkitkan kehendak) diterapkan dalam situasi kurang bergairah atau ragu-ragu untuk mengambil keputusan atau tindakan, sehingga perlu diupayakan untuk membangkitkan atau memperkuat motivasi. Ketiga semboyan tersebut sebagai satu kesatuan asas (ing ngarsa sung tulada, ing madya amangun karsa, tut wuri handayani) telah menjadi asas penting dalam pendidikan Indonesia.

C. ASAS BELAJAR SEPANJANG HAYAT

Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Pendidikan seumur hidup merupakan a concept yang new significance of an old idea tetapi universally acceptable definition is difficult. Sedangkan Cropley (1979) menetapkan suatu definisi kerja yakni pendidikan seumur hidup adalah pendidikan yang harus:

(1) meliputi seluruh setiap individu; (2) mengarah kepada pembentukan, pembaruan, peningkatan, dan penyempurnaan secara sistematis pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat meningkatkan kondisi hidupnya; (3) tujuan akhirnya adalah mengembangkan penyadaran diri (self fulfillment) setiap individu; (4) meningkatkan kemampuan dan motivasi untuk belajar mandiri; dan (5) mengakui kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mungkin terjadi, termasuk yang formal, nonformal, dan informal. Istilah pendidikan seumur hidup erat kaitannya dan

kadang-kadang digunakan saling bergantian dengan makna yang sama dengan istilah belajar sepanjang hayat. Kedua istilah ini memang tak dapat dipisahkan, tetapi dapat dibedakan. Seperti diketahui, penekanan istilah belajar adalah perubahan perilaku (kognitif, afektif, dan psikomotor) yang relatif tetap karena pengaruh pengalaman. Sedangkan

28

istilah pendidikan menekankan pada usaha sadar dan sistematis untuk penciptaan suatu lingkungan yang memungkinkan pengaruh pengalaman tersebut lebih efisien dan efektif, dengan kata lain, lingkungan yang membelajarkan subjek didik (Cropley, 1979:10). Proses belajar mengajar di sekolah dalam latar pendidikan seumur hidup, sebaiknya mengemban sekurang-kurangnya dua misi, yakni: (1) membelajarkan peserta didik dengan efisien dan efektif dan serentak dengan itu; (2) meningkatkan kemauan dan kemampuan belajar mandiri sebagai basis dari belajar sepanjang hayat. Ditinjau dari pendidikan sekolah, masalahnya adalah bagaimana merancang dan mengimplementasikan suatu program belajar mengajar sehingga terwujudnya belajar sepanjang hayat dengan kata lain terbentuk manusia dan masyarakat yang mau dan mampu terus menerus belajar. Hameyer menyatakan kurikulum yang dapat mendukung terwujudnya belajar sepanjang hayat harus dirancang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi (Unila, 2014). Dua dimensi tersebut adalah:

1. Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan

kesinambungan persekolahan, harus pula terkait dengan kehidupan peserta didik di masa depan. Termasuk dalam dimensi vertikal antara lain pengkajian tentang:

a. Keterkaitan antara kurikulum dengan masa depan peserta didik, termasuk relevansi bahan ajaran dengan masa depan dana pengintregasian masalah kehidupan nyata ke dalam kurikulum.

b. Kurikulum dan perubahan sosial-kebudayaan. Kurikulum sebaiknya memungkinkan antisipasi terhadap perubahan sosial kebudayaan itu, karena peserta didik justru akan hidup dalam sosial kebudayaan yang telah berubah setelah menamatkan sekolahnya.

c. The forecasting curriculum yakni perancangan kurikulum berdasarkan suatu prognosis, baik tentang perilaku peserta didik, pada saat menamatkan sekolahnya, pada saat ia hidup dalam sistem yang sedang berlaku maupun pada saat ia hidup dalam sistem yang telah berubah di masa depan.

29

d.

Keterpaduan bahan ajaran dan pengorganisasian pengetahuan terutama dalam kaitannya dengan struktur pengetahuan yang sedang dipelajari dengan penguasaan kerangka dasar untuk memperoleh keterpaduan ide bidang studi.

e.

Penyiapan untuk memikul tanggung jawab, baik tentang dirinya sendiri maupun dalam bidang sosial atau pekerjaan agar kelak dapat membangun dirinya sendiri dan bersama-sama membangun masyarakatnya.

f.

Pengintegrasian dengan pengalaman yang telah dimiliki peserta didik, yakni pengalaman di keluarga untuk pendidikan dasar dan demikian seterusnya.

g.

Untuk mempertahankan motivasi belajar secara permanen, peserta didik harus dapat melihat kemanfaatan yang akan didapatnya dengan tetap mengikuti pendidikan itu, seperti kesempatan yang terbuka baginya, mobilitas pekerjaan, pengembangan kepribadiannya, dan sebagainya.

2.

Dimensi horizontal dari kurikulum sekolah

Dimensi horizontal dari kurikulum sekolah yakni keterkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah. Termasuk dalam dimensi horizontal antara lain:

a. Kurikulum sekolah merefleksi kehidupan di luar sekolah. Kehidupan di luar sekolah menjadi objek refleksi teoritis di dalam bahan ajaran di sekolah, sehingga peserta didik lebih memahami kesalahan-kesalahan pokok yang terhambat di luar sekolah.

b. Memperluas kegiatan belajar di luar sekolah. Kehidupan di luar sekolah dijadikan tempat kajian empiris, sehingga kegiatan belajar mengajar terjadi di dalam dan di luar sekolah.

c. Melibatkan orang tua dan masyarakat dalam kegiatan belajar mengajar, baik sebagai narasumber dalam kegiatan belajar sekolah maupun dalam kegiatan belajar di luar sekolah.

Perancangan dan implementasi kurikulum yang memperhatikan kedua dimensi itu akan mengakrabkan peserta didik dengan berbagai sumber belajar yang ada di sekitarnya. Kemampuan dan kemauan menggunakan sumber belajar yang tersedia itu akan memberi peluang terwujudnya belajar sepanjang hayat. Dan masyarakat yang mempunyai warga yang belajar sepanjang hayat akan menjadi

30

suatu masyarakat yang gemar belajar (learning society). Dengan kata lain, akan terwujudlah gagasan pendidikan seumur hidup seperti yang tercermin di dalam sistem pendidikan nasional Indonesia.

D. ASAS KEMANDIRIAN BELAJAR Baik asas tut wuri handayani maupun belajar sepanjang hayat secara langsung erat kaitannya dengan asas kemandirian dalam belajar. Asas tut wuri handayani pada umumnya bertolak dari asumsi kemampuan siswa untuk mandiri, termasuk mandiri dalam belajar dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu siap untuk ulur tangan apabila diperlukan. Selanjutnya, asas belajar sepanjang hayat hanya dapat diwujudkan apabila didasarkan pada asumsi bahwa peserta didik mau dan mampu mandiri dalam belajar, karena tidak mungkin seseorang belajar sepanjang hayatnya apabila selalu tergantung dari bantuan guru ataupun orang lain. Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator dan motivator, disamping peran-peran lain:

informator, organisator, dan sebagainya. Sebagai fasilitator, guru diharapkan menyediakan dan mengatur berbagai sumber belajar sedemikian sehingga memudahkan peserta didik berinteraksi dengan sumber-sumber tersebut. Sedangkan sebagi motivator, guru mengupayakan timbulnya prakarsa peserta didik untuk memanfaatkan sumber belajar itu. Pengembangan kemandirian dalam belajar ini sebaiknya dimulai dalam kegiatan intrakurikuler, yang dikembangkan dan dimantapkan selanjutnya dalam kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Atau, untuk latar perguruan tinggi dimulai dalam kegiatan tatap muka dan dikembangkan serta dimantapkan dalam kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri. Kegiatan tatap muka atau intrakurikuler terutama berfungsi membentuk konsep-konsep dasar dan cara-cara pemanfaatan berbagai sumber belajar, yang akan menjadi dasar pengembangan kemandirian dalam belajar didalam bentuk-bentuk kegiatan terstruktur dan mandiri atau kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Terdapat beberapa strategi belajar mengajar atau kegiatan belajar mengajar yang dapat memberi peluang pengembangan kemandirian dalam belajar. Cara

31

belajar siswa aktif merupakan salah satu pendekatan yang memberi peluang karena siswa dituntut mengambil prakarsa dan memikul tanggung jawab tertentu dalam belajar mengajar di sekolah, misalnya melalui lembaga kerja. Di samping itu, beberapa jenis kegiatan mandiri akan sangat bermanfaat dalam mengembangkan kemandirian dalam belajar, seperti belajar melalui modul, paket belajar, pengajaran berprogram, dan sebagainya. Keseluruhan upaya itu akan dapat terlaksana sebagaimana mestinya apabila setiap lembaga pendidikan, utamanya sekolah, didukung oleh suatu pusat sumber belajar (PSB) yang memadai. Seperti diketahui, PSB memberi peluang tersedianya berbagai jenis sumber belajar, disamping bahan pustaka di perpusatakaan seperti rekaman eletronik, ruang-ruang belajar (tutorial) sebagai mitra kelas, dan sebaginya. Dengan dukungan PSB, asas kemandirian dalam belajar akan lebih dimantapkan dan dikembangkan.

32

BAB IV PENDIDIKAN PRANATAL

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 menyatakan pendidikan ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Proses pengembangan potensi peserta didik dipengaruhi juga kondisi seorang manusia pada saat dalam kandungan. Pranatal mempunyai pengertian sebelum kelahiran atau masa ketika anak masih berada di dalam rahim ibunya atau masa ketika anak belum lahir.

A. PENGERTIAN PENDIDIKAN PRANATAL

Pendidikan pranatal adalah usaha sadar dan terencana dari orang tua untuk mendidik anak yang masih berada dalam kandungan ibunya, meliputi berbagai aspek kehidupan, yaitu memberikan stimulasi edukatif terhadap janin dengan langkah-langkah tertentu tentang materi pelajaran yang dipilih oleh orang tuanya. Usaha sadar ini khusus ditujukan kepada dan dipikul khusus oleh kedua orang tua karena anak dalam kandungan belum mungkin dididik apalagi diajar, kecuali oleh orang tuanya sendiri. Pendidikan pranatal dimulai sejak pemilihan calon isteri atau calon suami, karena gen yang baik akan diwariskan kepada keturunannya. Pertimbangan pemilihan pasangan yang baik adalah akhlak dan agama seseorang. Beberapa penelitian yang dilakukan oleh ahli dalam bidang perkembangan pranatal menunjukkan bahwa pada saat kandungan berusia lima bulan, anak dalam kandungan dapat mendengar dan merasakan sensasi tepukan pada perut ibunya dan dapat merasakan perbedaan antara gelap dan terang. Van deCarr (2004:3) berdasarkan hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa bayi dalam kandungan: (1) terdapat suatu masa kritis dalam perkembangan bayi ketika stimulasi otak dan latihan intelektual dapat meningkatkan kemampuan bayi, yaitu dimulai dari usia lima bulan dalam kandungan berlanjut sampai usia anak dua tahun; (2) stimulasi pranatal dapat membantu mengembangkan orientasi dan

33

keefektifan bayi dalam mengatasi dunia luar setelah ia dilahirkan; (3) bayi yang mendapatkan stimulasi pranatal lebih mampu mengontrol gerakan dan lebih siap menjelajahi dan mempelajari lingkungan setelah dilahirkan; dan (4) para orang tua yang telah berpartisipasi dalam program pendidikan pranatal menggambarkan anak mereka lebih tenang, waspada, dan bahagia. Craig ahli kandung dari University of Alabama menyatakan program stimulasi dini meningkatkan nilai tes kecerdasan 15% s.d. 30% dalam pelajaran utama pada semua anak yang diteliti sejak bayi sampai usia 15 tahun (Van deCarr (2004:4). Program dan langkah-langkah pendidikan anak dalam kandungan hendaknya diarahkan pada tujuan: (1) merefleksikan nilai-nilai ajaran agama, sosial, budaya, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki orang tuanya dan sekaligus mengajak bersama anak dalam kandungan melakukan refleksi nilai-nilai tersebut; (2) melatih kecenderungan anak dalam kandungan tentang nilai tersebut di atas dan sekaligus melatih ketrampilan amaliah sesuai dengan yang diajarkan setelah ia dilahirkan hingga dewasa kelak; (3) melatih kekuatan dan potensi fisik dan psikis anak dalam kandungan; (4) membangun prakesadaran bahasa dan komunikasi antara anak dalam kandungan dengan orang tuanya atau orang lain di luar rahim; dan (5) meningkatkan rentang konsentrasi, kepekaan, dan kecerdasan anak dalam kandungan.

B. PRINSIP PENDIDIKAN PRANATAL

Prinsip dasar yang menjadi landasan filosofi dan prosedur program dan langkah kegiatan pendidikan pranatal yaitu prinsip kerja sama, ikatan cinta kasih pralahir, tauhid dan ibadah, stimulasi pralahir, kesadaran pralahir, kecerdasan bayi, membiasakan perbuatan baik, serta keterlibatan ayah dan anggota keluarga yang lain. Program pendidikan pralahir, baik melalui stimulasi edukatif atau melalui latihan pendidikan yang bermuatan rasa cinta, kasih sayang, dan kerja sama yang harmonis akan membantu anak pralahir untuk belajar memberi dan menerima kasih

sayang dan kerja sama interaktif. Prinsip tauhid dan ibadah berupa latihan edukasi yang berpangkal dari keesaan Tuhan dan contoh kebiasaan beribadah bagi anak yang berada dalam kandungan akan membuat anak tetap beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, aktif dan sensitif terhadap pelaksanaan menjalankan perintah-Nya. Ketika

34

usia kandungan mencapai dua puluh minggu, maka instrumen indera anak dalam kandungan sudah potensial menerima stimulasi dan sensasi dari luar rahim. Stimulasi sistematis bagi otak dan perkembangan saraf dan latihan edukatif pralahir akan membantu bayi menambah kapasitas belajar setelah dilahirkan. International Congress of Free and Prenatal Psycology menyatakan setiap bayi pralahir mempunyai hak untuk: (1) mengalami perkembangan pralahir tanpa gangguan, ketika janin telah menjadi sesuatu yang berjiwa; (2) mendapatkan gizi yang memadai untuk membangun akal dan tubuh yang sehat; (3) dilindungi dari racun dan toksin yang dapat menghambat perkembangan saraf dan fisik; (3) mendapatkan lingkungan yang sehat di dalam rahim, bebas trauma fisik atau tingkat kebisingan, cahaya, atau stimulasi berlebihan yang membahayakan; dan (5) diterima sebagai individu yang hidup dan sadar sebelum dilahirkan (Islam, 2004:24). Latihan pendidikan anak pralahir merupakan sensasi dan stimulasi untuk menarik minat anak dalam kandungan, sehingga anak dapat memberikan tanggapan atau respons yang akan meningkatkan daya kecerdasan otak dan sensitif pada suasana ilmiah. Contoh perbuatan baik bagi anak dalam kandungan dilakukan dengan memberikan sensasi positif yang lembut penuh kasih sayang, misalnya berbicara sopan dan penuh hormat kepada anak dalam kandungan sehingga kebiasaan ini akan memudahkan anak mengaplikasikannya. Keterlibatan ayah, kakak, dan anggota keluarga yang lain sangat penting untuk perkembangan sosial bayi, dan meningkatkan ketrampilan bayi dalam berkomunikasi saat ia lahir, tumbuh, dan berkembang dewasa nanti.

C. SYARAT PENDIDIK (ORANG TUA) DAN PESERTA DIDIK (ANAK

DALAM KANDUNGAN) Orang tua yang akan mendidik anak dalam kandungan hendaknya mengupayakan kualifikasi persyaratan yakni: (1) menyadari penuh bahwa anak dalam kandungan adalah individu yang hidup sempurna dan memiliki hak hidup yang membutuhkan bimbingan dan asuhan maksimal; (2) memiliki orientasi kependidikan dan kesadaran aktualisasi nilai-nilai ajaran agama, sosial, budaya, dan ilmu pengetahuan; (3) memahami konsep dan tujuan pendidikan anak dalam kandungan; (4) mengetahui dan menguasai isi muatan bidang materi yang akan

35

diajarkan kepada anaknya; (5) memahami dan menguasai metode dan cara latihan pendidikan anak dalam kandungan secara utuh dan menyeluruh; (6) menyadari bahwa setiap stimulasi edukatif selalu dapat direspons positif oleh anak dalam kandungan; dan (7) pendidik tidak terganggu fisik dan jiwanya. Sedangkan syarat peserta didik (anak dalam kandungan) adalah: (1) janin yang sudah matang sebagai bayi yang hidup dan tumbuh secara normal; (2) anak telah berusia lima bulan dari saat pembuahan (untuk tahap proses aplikasi pendidikan); (3) anak tidak terganggu fisik dan psikisnya; dan (4) anak dalam kandungan sudah dapat diketahui posisi dan jenis kelaminnya.

D. PROGRAM PENDIDIKAN ANAK DALAM KANDUNGAN

Untuk tercapainya tujuan pendidikan pralahir maka diperlukan program pendidikan yang meliputi:

1. Program pemberian nutrisi berupa makanan halal dan bergizi yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, berbagai vitamin, mineral, dan cukup air. Selama masa hamil seorang ibu harus memilih makanan atas pertimbangan kesehatan dan bukan keinginan selera makan (Pasuhuk, 1981:19).

2. Program lingkungan sehat. Kajian riset dari Imperial College London membuktikan zat phtalates yang terdapat dalam hairspay menyebabkan bayi laki-laki mengalami hypospadias (posisi lubang saluran kemih tidak nomal). Saat kehamilan sebaiknya ibu berusaha menghindari menghirup udara yang tercemar polutan, menghindari produk yang mengandung bahan baku berbahaya, menggunakan air yang higienis, menghindari temperatur ekstrem, menjauhi suara bising, mendengarkan musik yang disukai atau qira’atul qur’an, menghindari stres, dan mengurangi ekspos cahaya fluorescent (Banjarmasin Pos, 2008:1).

3. Program ikatan keluarga. Jalinan keluarga yang harmonis antar anggota

keluarga akan menciptakan kerukunan, ketenteraman, keamanan, kenyamanan, ketenangan dan kedamaian, untuk menciptakan orientasi anak dalam kandungan guna memiliki kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi setelah ia lahir, tumbuh dan berkembang dewasa.

36

4.

Program kelahiran orientatif. Program yang menstimulus kesadaran mempersiapkan kelahiran bagi keselamatan ibu dan bayinya. Program ini bertujuan mengoptimalisasikan peran suci seorang ibu dalam melindungi bayinya saat proses persalinan berlangsung, sehingga dapat mengurangi rasa sakit.

E.

METODE PENDIDIKAN PRANATAL

Pidarta (1997:191) menyatakan sesuai dengan psikologi perkembangan pada setiap individu, maka pendidik harus menentukan arah pendidikan, menentukan metode, menyiapkan materi pelajaran, dan menyiapkan pengalaman belajar yang

sesuai. Hakikat metode mendidik anak dalam kandungan adalah dengan memberikan stimulasi atau sensasi utuk memicu respons sensasi balik dari anak dalam kandungan (Baihaqi, 2001:56). Untuk anak dalam kandungan metode yang digunakan meliputi:

1. Metode doa dimulai sejak pemilihan calon suami dan isteri dilanjutkan setelah menikah yaitu sebelum proses pembuahan, ketika suami istri akan berhubungan badan dan berlangsung terus sepanjang kehamilan, dengan mengikut sertakan anak berdoa bersama ayah ibunya sejak usia kandungan 18 minggu

2. Metode ibadah yang dilakukan ibu akan dapat melatih kebiasaan aplikasi ibadah, serta menguatkan mental, spiritual, dan keimanan anak. Aktifitas ibadah ibu sebaiknya sambil mengajak anak dalam kandungannya.

3. Metode membaca dan menghafal yaitu ibu membaca materi pelajaran berulang- ulang hingga hafal, dapat dibantu visualisasi kata yang akan dihafal, disertai gerakan yang mengajak anak ikut membaca dan menghafal.

4. Metode instruktif dimaksudkan untuk memberi instruksi kepada bayi melakukan suatu perbuatan yang kreatif dan mandiri.

5. Metode dialog yakni seluruh anggota keluarga berperan mengajak bayi

berdialog sehingga bayi berlatih berinteraksi sejak dini agar tumbuh rasa percaya diri.

6. Metode aktivitas bersama dimaksudkan agar bayi diajak ikut serta dalam aktivitas normal harian ibu seperti memasak, senam, jalan-jalan dan lain-lain.

37

7.

Metode bermain dan bernyanyi dimaksudkan untuk menyambut aksi yang dilakukan bayi sehingga bayi merasa senang dan nyaman. Metode ini dilakukan dengan cara sederhana misalnya ketika bayi menendang dinding perut ibu, maka ibu merespon dengan mengelus perut di tempat bayi menendang dan mengajak anak dalam kandungan untuk bermain bersama ibu. Lakukan beberapa kali dan diakhiri dengan ibu menyanyikan lagu gembira.

8.

Metode kondusif alamiah dimaksudkan agar bayi mengenali kondisi cuaca, dan suara radikal dari alam, misalnya gelap, terang, panas, dingin, hujan, petir dan lain-lain, sehingga bayi tidak lagi terkejut karena telah mengenalinya dan mampu bersikap tenang menghadapinya.

F.

LANGKAH-LANGKAH PENDIDIKAN PRANATAL

Langkah dalam mengajarkan sesuatu sangat penting dalam proses belajar mengajar. Menentukan urutan merupakan suatu seni yang berangsur-angsur meningkat menjadi suatu teknologi (Nasution, 2005:57). Langkah-langkah pendidikan pranatal yaitu:

1. Tahap Persiapan

Tahap persiapan dimulai dengan pemilihan pasangan calon suami atau isteri melalui metode doa dan shalat istikharah. Setelah menikah calon ayah dan ibu merencanakan cita-cita suci yaitu keinginan untuk mempunyai anak, sehingga pada saat berhubungan biologis harus dipersiapkan fisik dan mental calon ayah dan ibu dengan bersungguh-sungguh berdoa (munajat) kepada Tuhan dan menjalankan ibadah agar dapat memperoleh anak yang baik, saleh, dan sehat.

2. Tahap Aplikasi Pendidikan

Setelah dapat dipastikan bahwa kehamilan terjadi, maka proses aplikasi pendidikan mulai dilakukan dengan menyusun sedemikian rupa rancangan program latihan sesuai dengan tahapan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental anak dalam kandungan. Menyambut penuh syukur dan ucapan selamat datang yang tulus kepada bayi adalah respon positif yang akan mempengaruhi kejiwaan ibu dan bayi (Mustofa, 2006:29). Seorang wanita tidak boleh menahan rasa sakit yang besar terhadap alasan keduniaan yang remeh dan hendaknya tidak mengubah iklim keluarga menjadi padam dan dingin (Mazhahiri, 2002:81).

38

Seorang suami wajib menolong memelihara suasana rumah tangga sedemikian rupa sehingga meningkatkan kesehatan tubuh dan mental seluruh anggota keluarga. Langkah pertama dari tahap aplikasi pendidikan, bertujuan untuk menarik sensasi atau perhatian indera anak pada usia kandungan 20 minggu (5 bulan) sampai dengan 28 minggu (7 bulan). Pada bulan keempat dan kelima janin memanjang dengan cepat dan pada akhir paruh pertama kehidupan dalam rahim, dapat mendengar suara dari luar rahim, panjangnya sekitar 15 cm beratnya kurang dari 500 gram (Panghiyangani, 2007:78). Selama triwulan ke dua kehamilan, berbagai organ janin memperoleh fungsi fisiologisnya yang sedikit demi sedikit bertambah efisien (Ebrahim, 2005:18). Materi pelajaran dapat berupa kata-kata sensasional seperti kata “bangun” dan “jalan”. Langkah pendidikan dilakukan yaitu ketika anak mulai menendang-nendang kecil dan bergerak sendiri. Langkah kedua bertujuan membangun prakesadaran ucapan, kata-kata, dan bahasa yaitu periode usia kandungan 28 minggu s.d. 31 minggu. Latihan bahasa dilakukan 2 s.d. 5 kali sehari antara 2 s.d. 4 kata utama, dilakukan bersamaan dengan sensasi dan ucapan kata dengan cara. Temukan posisi pantat bayi, ucapkan salam dan sambil menepuk katakan “nak Ibu tepuk pantatmu”, “tepuk”, “tepuk”. Ulangi kegiatan tersebut 2 s.d. 3 kali sehari. Lakukan hal yang sama untuk kata utama yang lain dengan menyesuaikan kata utama dengan sensasi yang dilakukan.

Tabel 3.1 Daftar Kata Utama

Sentuhan

Gerakan

Bunyi-bunyian

Biologis

Tepuk

Berdiri

Musik

Batuk

Usap

Duduk

Keras

Bersin

Tekan

Ayun

Bising

Cegukan

Belai

Guncang

 

Tangis

Ketuk

Goyang

 

Tawa

Penglihatan

Temperatur

Perbuatan Bayi

Hentikan Tindakan

Terang

Dingin

Tendang

Tidak

Gelap

Panas

Dorong

 
   

Putar

 

Janin pada periode ini diberikan juga materi pelajaran tentang ibadah, akidah, akhlak, keilmuan, dan seni. Cara berkomunikasi dengan bayi adalah dengan menemukan posisi kepala bayi dan menggunakan corong kertas yang digulung lalu

39

ditempelkan ke dinding perut ibu kemudian diperdengarkan materi yang akan diberikan kepada bayi. Jika orang tua menginginkan kelahiran dan kehadiran seorang anak yang memiliki potensi luar biasa terhadap salah satu disiplin ilmu atau kecerdasan atau kepandaian tertentu pada saat anak dewasa, maka tentukan tendensi khusus materi dan metodenya secara terpilih dan kontinu. Langkah ketiga bertujuan meningkatkan konsentrasi dan kecerdasan anak dalam kandungan dengan materi bahasa dengan pemakaian kata-kata yang lebih kompleks, ibadah, akhlak, keilmuan, seni dan olah raga, mulai periode 31 minggu kehamilan sampai menjelang proses kelahiran. Stimulasi edukatif diberikan secara leluasa, fleksibel, dan kondisional sesuai kondisi ibu. Van deCarr (2004:156-162) menyatakan bahwa menjelang saat kelahiran dilakukan pemberian materi pelajaran gerak jalan bayi dan senam pernapasan yang dilakukan ibu. Gerak jalan bayi dilakukan dengan:

a. Ketika bayi tidak hanya menendang tetapi mulai berputar, maka ibu berusaha menemukan posisi pantat bayi lalu mengatakan: “nak, jalan, jalan, terus jalan”, sambil menepuk dinding perut pada posisi pantat bayi.

b. Mengatakan “nak, dorong, dorong, dorong, terus dorong, terus dorong, dan terus dorong”, sambil menekan perut pada posisi pantat bayi.

c. Mengatakan “ Nak, jalan, jalan, dorong, dorong, lompat, dorong, lompat, terus dorong, lalu lompat, jalan” sambil menekan perut pada posisi pantat bayi.

Setelah latihan gerak jalan bayi, ibu melanjutkan dengan senam pernapasan

yakni:

a. Ibu menarik napas dalam-dalam dan menahan napas tersebut di dada.

b. Mengalirkan napas ke perut, menahan napas sampai 20 s.d. 30 detik.

c. Mengeluarkan napas secara perlahan, mengulangi olah napas tersebut sekali lagi.

d. Mengambil napas dalam-dalam, menahan di dada lalu mengalirkan ke perut, menahan sebentar, lalu mengalirkan ke rahim melalui lubang serviks dan menahan selama 10 s.d. 20 detik.

e. Mengeluarkan nafas secara perlahan, dan mengulangi kegiatan (d dan e) 2 s.d. 3 kali setiap sesi.

40

3.

Tahap Pendidikan Pascakelahiran

Langkah pertama seorang ayah terhadap anak setelah kelahirannya adalah memberikan nama yang baik kepadanya (Hujjati, 2008:175). Nama yang kurang baik akan memberikan pukulan berat bagi kepribadian dan harga diri anak yang dapat menyebabkan anak merasa tidak terhormat berada di tengah orang lain di masa depan. Kewajiban seorang ibu yang utama setelah bayi lahir adalah memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif selama 6 bulan dan dapat tetap menyusui sampai usia anak 2 tahun (Suharjo, 1997:94).

41

DAFTAR RUJUKAN

Ahmad, K. I. 2 Juni 2006. Pendidikan Anak. Banjarmasin Pos, hlm. 6.

Ardhana, W. 1986. Dasar-dasar Kependidikan. Malang: IKIP MALANG.

Baihaqi, A. K. 1996. Mendidik Anak Dalam Kandungan. Jakarta: Srigunting.

Banjarmasin Pos. 1 Desember 2008. Hairspray Rusak Janin, hlm 1.

Bintaro. 1997. Suatu Tinjauan Filsafat Geografi. Makalah disajikan dalam Seminar Peningkatan Relevansi Metode Penelitian Geografi, Jurusan Geografi FKIP IKIP Semarang, Semarang, 24 Oktober.

Cropley, A. J. 1979. Lifelong Education: A Stocktaking. Hamburg: UNESCO Institute for Education.

Dewey, J. 2001. Democracy and Education. Pennsylvania: Pennsylvania State University.

Ebrahim, G. J. 2005. Perawatan Anak. Yogyakarta: Essensia Medica.

Havighurst, R. J. 1957. Educating Gifted Children. Chicago: University of Chicago Press.

Hujjati, M. B. 2008. Mendidik Anak Sejak Kandungan. Jakarta: CV Cahaya.

Islam, U. N. 2004. Mendidik Anak dalam Kandungan. Jakarta: PT Gema Insani.

Joni, T. R. 1989. Mereka Masa Depan, Sekarang Tantangan bagi Pendidikan dalam Menyongsong Abad Informasi. Makalah disajikan dalam Ceramah Ilmiah Upacara Dies Natalis XXXV, Lustrum VII IKIP Malang, Malang, 18 Oktober.

Kamus Bahasa Indonesia. 2008. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Ketetapan

MPR

Nomor

II/MPR/1978

tentang

Pedoman

Penghayatan

dan

Pengamalan

Pancasila,

(Online),

diakses

5

November 2011).

Koentjaraningrat.

Djambatan.

1975.

Manusia

dan

Kebudayaan

di

Indonesia.

Jakarta:

Langeveld, M. J. 1961. Menuju ke Pemikiran Filsafat. Jakarta: PT Pembangunan.

Manan, I. 1989. Dasar-dasar Sosial Budaya Pendidikan. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud.

42

Mazhahiri, H. 2002. Pintar Mendidik Anak. Jakarta: Lentera.

Mustofa A. Y. 2006. Panduan Mengajar Bayi Anda Membaca Al Quran Sejak dalam Kandungan. Ambarawa: Assalam.

Nasution. 2005. Teknologi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Oliva, P. F. 2009. Developing the Curriculum. Boston: Pearson Education, Inc.

Panghiyangani, R. 2007. Sistem Reproduksi dan Embriologi. Banjarbaru: Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat.

Pasuhuk,

W.

F.

1981.

Bagaimana

Indonesia Publishing House.

Merawat

dan

Mengasuh

Bayi.

Bandung:

Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, (Online). (http://www.kemdikbud, diakses 23 Oktober 2014).

Pidarta, M. 1997. Landasan Kependidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Pidarta, M. 2009. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Soebahar, A. H. 2002. Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Suharjo. 1997. Pemberian Makanan pada Bayi dan Anak. Yogyakarta: Kanisius.

Suharyono, M. A. 1994. Pengantar Filsafat Geografi. Jakarta: Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdikbud.

Tilaar, A. R. 2004. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Tirtahardja, U., dan LaSulo, S. L. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2004. Bandung: Citra Umbara.

Unila.

2014.

Asas-asas Pendidikan, (Online),

/files/2014/

/ASAS-ASAS-PENDIDIKAN.ppt,

diakses 2 November 2014).

Van deCarr, F. R. 2004. Cara Baru Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan. Terjemahan oleh Alwiyah Abdurrahman. Bandung: Kaifa.

Wojowasito. S. 1972. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Malang: Shinta Dharma.

43