Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah, tetapi bukannya

tanpa risiko dan merupakan beban tersendiri bagi seorang wanita. Sebagian ibu
hamil akan menghadapi kegawatan dengan derajat ringan sampai berat yang dapat
memberikan bahaya terjadinya kecacatan bahkan kematian bagi ibu dan bayinya.
Komplikasi yang sering terjadi adalah perdarahan pasca persalinan, uri tertinggal,
partus tidak maju/ partus lama serta infeksi.1
Angka kematian di Indonesia masih tinggi bila dibanding dengan Negara
di Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia. Banyak faktor yang
mempengaruhi tingginya angka kematian ibu dan bayi, diantaranya status
kesehatan ibu, keadaan sosial ekonomi dan budaya.2
World Health Organization (WHO) melaporkan pada ahun 2005 terdapat
536.000 wanita hamil meninngal akibat komplikasi kehamilan dan persalinan
diseluruh dunia. Angka kematian ibu (AKI) di Sub-Sahara Afrika 270/100.000
kelahiran hidup, di Asia Selatan 188/100.000 kelahiran hidup dan di Asia
Tenggara 35/100.000.Berdasarkan laporan WHO pada tahun 2005, di Indonesia
angka kematian ibu tergolong tinggi yaitu 420/100.000 kelahiran hidup
dibandingkan dengan Negara ASEAN. AKI di Singapura 14/100.000 kelahiran
hidup dan Malaysia62/100.000 kelahiran hidup dan di Thailand 110/100.000
kelahiran hidup.1,2
Persalinan tidak maju dapat menyebabkan infeksi, kehabisan tenaga,
dehidrasi pada ibu, kadang dapat terjadi atonia uteri yang dapat menyebabkan
perdarah post partum. Menurut DEPKES tahun 2004 sebanyak 4,3% yaitu 12.176
dari 281.050 persalinantidak maju yang dirawat di seluruh rumah sakit di
Indonesia. Dari hasil penelitian Mulidah dkk di RSUD Purworejo tahun 2000-

2001 diperoleh proporsi partus tidak maju 15,5% yaitu 82 kasus dari 529
persalinan. Hasil penelitian Rusydi di RSUP Palembang tahun 2000-2004
diperoleh proporsi partus tidak maju 3,3% yaitu 350 kasus dari 10.593 persalinan.
Di RSU Kisaran proporsi partus tidak maju 42,1% yaitu 118 kasus dari 280
kedaruratan obstetrik.1
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup ke
dunia luar dari rahim melalui jalan lahir atau dengan usaha lain. Persalinan tidak
maju suatu persalinan dengan his yang adekuat namun tidak menunjukkan
kemajuan pada pembukaan serviks serta turunnya kepala dan putar paksi selama 2
jam terakhir. Penyebab persalinan tidak maju antara lain adalah kelainan letak
janin, kelainan panggul, kelainan his, pimpinan partus yang salah, janin besar atau
ada kelainan kongenital, primitua, perut gantung, grandmulti dan ketuban pecah
dini. Penatalaksanaan pada persalinan tidak maju (PTM) salah satunya dengan
melakukan sectio caesaria.3
Pengaruh persalinan tidak maju pada bayi antara lain adalah perubahanperubahan tulang-tulang kranium dan kulit kepala serta kematian janin. Pada
kasus persalinan tidak maju akan ditemukan tanda-tanda kelelahan fisik dan
mental yang dapat diobservasi dengan :dehidrasi dan ketoasidosis (ketonuria, nadi
cepat, mulut kering), demam, nyeri abdomen.3
Persalinan pada primi biasanya lebih lama 5-6 jam dari pada multi.Bila
persalinan berlangsung lama, dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi baik
terhadap ibu maupun terhadap anak, dapat meningkatkan angka kematian ibu dan
anak.3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi
Persalinan tidak maju yaitu persalinan dengan his yang adekuat namun

tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan serviks serta turunnya kepala dan
putar paksi selama 2 jam terakhir.3
Menurut American College of Obstetricians and Ginecologist, agar
dikatakan partus tak maju harus memenuhi syarat fase laten telah selesai, dengan
serviks membuka 4cm atau lebih, dan sudah terjadi pola kontraksi uterus sebesar
200 satuan atau lebih dalam periode 10 menit selama 2 jam tanpa perubahan pada
serviks.3

2.2

Etiologi
Sebab-sebab terjadinya partus tak maju ini adalah multikomplek, dan tentu

saja bergantung pada pengawasan selagi hamil, pertolongan persalinan yang baik
dan penatalaksanaannya.7
2.2.1 Kelainan Tenaga (Kelainan His)
His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan
kerintangan pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap persalinan, tidak
dapat diatasi sehingga mengalami hambatan.4
Jenis-jenis kelainan His:8
1. Inersia Uteri
Disini his bersifat biasa dalam arti bahwa fundus berkontraksi lebih kuat dan
lebih dahulu daripada bagian-bagian lain, peranan fundustetap menonjol.

Kelainannya terletak dalam kontraksi uterus lebih aman, singkat dan jarang
dari pada biasa.
2. His yang terlalu kuat
His yang terlalu kuat dan terlalu efesien menyebabkan persalinan selesai
dalam waktu yang singkat. Partus yang sudah selesai kurang dari tiga jam
disebut partus presipitatus. Bahaya dari partus presipitatus bagi ibu adalah
perlukaan

jalan

lahir,

khususnya

servix

uteri,

vagina,

dan

perineum.Sedangkan pada bayi biasa mengalami pendarahan dalam


tengkorak karena bagian tersebut mengalami tekanan kuat dalam waktu
yang singkat.
3. Incoordinate uterine action
Tonus otot meningkat, juga diluar his, dan kontraksinya tidak berlangsung
seperti biasanya karena tidak ada sinkronisasi bagian-bagiannya.
2.2.2 Kelainan Janin
Persalinan dapat mengalami gangguan atau kemacetan karena kelainan
dalam letak atau dalam bentuk janin.4
2.2.3 Kelainan Jalan Lahir
Kelainan dalam ukuran atau bentuk jalan lahir bisa menghalangi kemajuan
persalinan atau menyebabkan kemacetan.4
2.3

Tanda-Tanda Persalinan Tidak Maju

2.3.1

Pada ibu7 :

a. Gelisah
b. Letih
c. Suhu badan meningkat
d. Berkeringat
e. Nadi cepat
f. Pernafasan cepat

g. Sering dijumpai oedema vulva, oedema serviks, kadangcairan ketuban


berbau,terdapat mekonium
2.3.2

Janin7 :

a. DJJ cepat, hebat, tidak teratur bahkan negatif


b. Air ketuban terdapat mekoneum kental kehijau-hijauan, cairan berbau
c. Caput succedenium yang besar
d. Moulage kepala yang hebat
e. Kematian janin dalam kandungan
2.4 Penyebab Persalinan Tidak Maju
1. Disproporsi sefalopelvik (pelvis sempit atau janin besar)
Keadaan panggul merupakan faktor penting dalam kelangsungan
persalinan, tetapi yang penting ialah hubungan antara kepala janin dengan panggul
ibu. Besarnya kepala janin dalam perbandingan luasnya panggul ibu menentukan
apakah ada disproporsi sefalopelvik atau tidak.4
Disproporsi sefalopelvik adalah ketidakmampuan janin untuk melewati
panggul. Panggul yang sedikit sempit dapat diatasi dengan kontraksi uterus yang
efisien, letak, presentasi, kedudukan janin yang menguntungkan dan kemampuan
kepala janin untuk mengadakan molase. Sebaliknya kontraksi uterus yang jelek,
kedudukan abnormal, ketidakmampuan kepala untuk mengadakan molase dapat
menyebabkan persalinan normal tidak mungkin.4
Kehamilan pada ibu dengan tinggi badan < 145 cm dapat terjadi
disproporsi sefalopelvik, kondisi luas panggul ibu tidak sebanding dengan kepala
bayi, sehingga pembukaannya berjalan lambat dan akan menimbulkan komplikasi
obstetri.4
Disproporsi sefalopelvik terjadi jika kepala janin lebih besar dari pelvis,
hal ini akan menimbulkan kesulitan atau janin tidak mungkin melewati pelvis

dengan selamat. Bisa juga terjadi akibat pelvis sempit dengan ukuran kepala janin
normal, atau pelvis normal dengan janin besar atau kombinasi antara bayi besar
dan pelvis sempit.4
Disproporsi sefalopelvik tidak dapat didiagnosis sebelum usia kehamilan
37 minggu karena sebelum usia kehamilan tersebut kepala belum mencapai
ukuran lahir normal.
Disproporsi sefalopelvik dapat terjadi 4:
a. Marginal (ini berarti bahwa masalah bisa diatasi selama persalinan,
relaksasi sendi-sendi pelvis dan molase kranium kepala janin dapat
memungkinkan berlangsungnya kelahiran pervaginam).
b. Moderat (sekitar setengah dari pasien-pasien pada kelompok lanjutan ini
memerlukan kelahiran dengan tindakan operasi).
c. Definit (ini berarti pelvis sempit, bentuk kepala abnormal atau janin
mempunyai ukuran besar yang abnormal, misalnya hidrosefalus, operasi
diperlukan pada kelahiran ini).
2. Presentasi yang abnormal
Hal ini bisa terjadi pada dahi, bahu, muka dengan dagu posterior dan
kepala yang sulit lahir pada presentasi bokong.
a.

Presentasi Dahi
Presentasi dahi adalah keadaan dimana kepala janin ditengah antara
fleksi maksimal dan defleksi maksimal, sehingga dahi merupakan bagian
terendah. Presentasi dahi terjadi karena ketidakseimbangan kepala dengan
panggul, saat persalinan kepala janin tidak dapat turun ke dalam rongga
panggul sehingga persalinan menjadi lambat dan sulit.5
Presentasi dahi tidak dapat dilahirkan dengan kondisi normal kecuali
bila bayi kecil atau pelvis luas, persalinan dilakukan dengan tindakan
caesarea. IR presentasi dahi 0,2% kelahiran pervaginam, lebih sering pada
primigravida.5

b.

Presentasi Bahu
Bahu merupakan bagian terbawah janin dan abdomen cenderung
melebar dari satu sisi kesisi yang lain sehingga tidak teraba bagian terbawah
anak pada pintu atas panggul menjelang persalinan. Bila pasien berada pada
persalinan lanjut setelah ketuban pecah, bahu dapat terjepit kuat di bagian atas
pelvis dengan satu tangan atau lengan keluar dari vagina.4
Presentasi bahu terjadi bila poros yang panjang dari janin tegak lurus
atau pada sudut akut panjangnya poros ibu, sebagaimana yang terjadi pada
letak melintang.Presentasi bahu disebabkan paritas tinggi dengan dinding
abdomen dan otot uterus kendur, prematuritas, obstruksi panggul.4

c.

Presentasi Muka
Pada presentasi muka, kepala mengalami hiperekstensi sehingga
oksiput menempel pada punggung janin dan dagu merupakan bagian terendah.
Presentasi muka terjadi karena ekstensi pada kepala, bila pelvis sempit atau
janin sangat besar. Pada wanita multipara, terjadinya presentasi muka karena
abdomen

yang

menggantung

yang

menyebabkan

punggung

janin

menggantung ke depan atau ke lateral, seringkali mengarah kearah oksiput.4


Presentasi muka tidak ada faktor penyebab yang dapat dikenal,
mungkin terkait dengan paritas tinggi tetapi 34% presentasi muka terjadi pada
primigravida. 4
3. Abnormalitas pada janin
Hal ini sering terjadi bila ada kelainan pada janin misalnya : Hidrosefalus,
pertumbuhan janin lebih besar dari 4.000 gram, bahu yang lebar dan kembar
siam.4

4. Abnormalitas sistem reproduksi

Abnormalitas sistem reproduksi misalnya tumor pelvis, stenosis vagina


kongenital, perineum kaku dan tumor vagina.4
2.5 Komplikasi Ptm Terhadap Ibu & Janin
Persalinan tidak maju dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi salah
satu atau keduanya sekaligus.4
2.5.1

Efek Pada Ibu

1.

Infeksi Intrapartum
Infeksi adalah bahaya yang serius yang mengancam ibu dan janinnya pada

partus tak maju, terutama bila disertai pecahnya ketuban. Bakteri didalam cairan
amnion menembus amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion
sehingga terjadi bakteremia dan sepsis pada ibu dan janin. Pneumonia pada janin,
akibat aspirasi cairan amnion yang terinfeksi, adalah konsekuensi serius lainnya.
Pemeriksaan serviks dengan jari tangan akan memasukkan bakteri vagina ke
dalam uterus. Pemeriksaan ini harus dibatasi selama persalinan, terutama apabila
dicurigai terjadi persalinan tak maju.4
2.

Ruptur Uteri
Penipisan abnormal segmen bawah uterus menimbulkan bahaya serius

selama partus tak maju, terutama pada ibu dengan paritas tinggi dan pada mereka
dengan riwayat seksio sesarea. Apabila disproporsi antara kepala janin dan
panggul sedemikian besar sehingga kepala tidak cakap (engaged) dan tidak terjadi
penurunan, segmen bawah uterus menjadi sangat terenggang kemudian dapat
menyebabkan ruptura. Pada kasus ini, mungkin terbentuk cincin retraksi patologis
yang dapat diraba sebagai sebuah kista transversal atau oblik yang berjalan
melintang di uterus antara simfisis dan umbilikus. Apabila dijumpai keadaan ini,
diindikasikan persalinan perabdominam segera.4
3.

Cincin Retraksi Patologis

Walaupun sangat jarang, dapat timbul konstriksi atau cincin lokal uterus
pada persalinan yang berkepanjangan. Tipe yang paling sering adalah cincin
retraksi patologis Bandl, yaitu pembentukan cincin retraksi normal yang
berlebihan. Cincin ini sering timbul akibat persalinan yang terhambat, disertai
peregangan dan penipisan berlebihan segmen bawah uterus. Pada situasi semacam
ini cincin dapat terlihat jelas sebagai suatu indentasi abdomen dan menandakan
ancaman akan rupturnya segmen bawah uterus. Konstriksi uterus lokal jarang
dijumpai saat ini karena terhambatnya persalinan secara berkepanjangan tidak lagi
dibiarkan. Konstriksi lokal ini kadang-kadang masih terjadi sebagai konstriksi jam
pasir (hourglass constriction) uterus setelah lahirnnya kembar pertama. Pada
keadaan ini, konstriksi tersebut kadang-kadang dapat dilemaskan dengan anestesi
umum yang sesuai dan janin dilahirkan secara normal, tetapi kadang-kadang
seksio sesarea yang dilakukan dengan segera menghasilkan prognosis yang lebih
baik bagi kembar kedua.4
4. Pembentukan Fistula
Apabila bagian terbawah janin menekan kuat ke pintu atas panggul, tetapi
tidak maju untuk jangka waktu yang cukup lama, bagian jalan lahir yang terletak
di antaranya dan dinding panggul dapat mengalami tekanan yang berlebihan.
Karena gangguan sirkulasi, dapat terjadi nekrosis yang akan jelas dalam beberapa
hari setelah melahirkan dengan munculnya fistula vesikovaginal, vesikoservikal,
atau rektovaginal. Umumnya nekrosis akibat penekanan ini pada persalinan kala
dua yang berkepanjangan. Dahulu, saat tindakan operasi ditunda selama mungkin,
penyulit ini sering dijumpai, tetapi saat ini jarang terjadi kecuali di negara-negara
yang belum berkembang.4
5. Cedera Otot-otot Dasar Panggul
Suatu anggapan yang telah lama dipegang adalah bahwa cedera otot-otot
dasar panggul atau persarafan atau fasia penghubungnya merupakan konsekuensi
yang tidak terelakan pada persalinan pervaginam, terutama apabila persalinannya
sulit. Saat kelahiran bayi, dasar panggul mendapat tekanan langsung dari kepala

10

janin serta tekanan ke bawah akibat upaya mengejan ibu. Gaya-gaya ini
meregangkan dan melebarkan dasar panggul sehingga terjadi perubahan
fungsional dan anatomik otot, saraf, dan jaringan ikat. Terdapat semakin besar
kekhawatiran bahwa efek-efek pada otot dasar panggul selama melahirkan ini
akan menyebabkan inkontinensia urin dan alvi serta prolaps organ panggul.
Karena kekhawatiran ini, dalam sebuah jajak pendapat baru-baru ini terhadap ahli
kebidanan perempuan inggris, 30 persen menyatakan kecendrungan melakukan
seksio sesarea daripada persalinan pervaginam dan menyebutkan alasan pilihan
mereka yaitu menghindari cedera dasar panggul.4
Sepanjang sejarah obstetri, intervensi yang ditujukan untuk mencegah
cedera dasar panggul telah lama dilakukan. Sebagai contoh, pada tahun 1920
DeLee menyarankan persalinan dengan forseps profilaktik untuk mengurangi
peregangan terhadap otot dan saraf pada persalinan kala dua dan untuk
melindungi dasar panggul serta fasia di dekatnya dari peregangan berlebihan.
Namin, kemajuan dalam bidang obstetri pada abad ke-20 umumnya difokuskan
untuk memperbaiki prognosis neonatus serta morbiditas dan mortalitas ibu akibat
preeklamsia, infeksi, dan perdarahan obstetri.4
Contoh klasik cedera melahirkan adalah robekan sfingter ani yang terjadi
saat persalinan pervaginam. Robekan ini terjadi pada 3 sampai 6 persen persalinan
dan sekitar separuh dari mereka kemudian mengeluhkan adanya inkontinensia alvi
atau gas. Walaupun proses persalinan jelas berperan penting dalam cedera dasara
panggul, insiden, dan jenis cedera yang dilaporkan sangat bervariasi antara
beberapa penelitian. Saat ini masih terdapat ketidakjelasan mengenai insiden
cedera dasar panggul akibat proses melahirkan dan informasi tentang peran relatif
proses obstetrik yang mendahuluinya masih terbatas.4
2.5.2

Efek Pada Janin


Partus tidak maju itu sendiri dapat merugikan. Apabila panggul sempit dan

juga terjadi ketuban pecah lama serta infeksi intrauterus, resiko janin dan ibu akan
muncul. Infeksi intrapartum bukan saja merupakan penyulit yang serius pada ibu,
tetapi juga merupakan penyebab penting kematian janin dan neonatus. Hal ini
disebabkan bakteri di dalam cairan amnion menembus selaput amnion dan

11

menginvasi dseidua serta pembuluh korion, sehingga terjadi bakterimia pada ibu
dan janin. Pneumonia janin, akibat aspirasi cairan amnion yang terinfeksi, adalah
konsekuensi serius lainnnya.4
1. Kaput Suksedaneum
Apabila panggul sempit, sewaktu persalinan sering terjadi kaput
suksedaneum yang besar di bagian terbawah kepala janin. Kaput ini dapat
berukuran cukup besar dan menyebabkan kesalahan diagnostik yang serius. Kaput
dapat hampir mencapai dasar panggul sementara kepala sendiri belum cakap.
Dokter yang kurang berpengalaman dapat melakukan upaya secara prematur dan
tidak bijak untuk melakukan ekstraksi forseps. Biasanya kaput suksedanum,
bahkan yang besar sekalipun, akan menghilang dalam beberapa hari.4
2. Molase Kepala Janin
Akibat tekanan janin his yang kuat, lempeng-lempeng tulang tengkorak
saling bertumpang tindih satu sama lain di sutura-sutura besar, suatu proses yang
disebut molase (molding, moulage). Biasanya batas median tulang parietal yang
berkontak dengan promontorium bertumpang tindih dengan tulang disebelahnya;
hal yang sama terjadi pada tulang-tulang frontal. Namun, tulang oksiptal
terdorong ke bawah tulang parietal. Perubahan-perubahan ini sering terjadi tanpa
menimbulkan kerugian yang nyata. Di lain pihak, apabila distorsi yang terjadi
mencolok, molase dapat menyebabkan robekan tentorium, laserasi pembuluh
darah janin, dan perdarahan intrakranial pada janin.4
Sorbe dan Dahlgren mengukur diameter kepala janin saat lahir dan
membandingkannya dengan pengukuran yang dilakukan 3 hari kemudian. Molase
paling besar terjadi pada diameter suboksipitobregmatika dan besarnya rata-rata
0,3 cm dengan kisaran sampai 1,5 cm. Diameter biparietal tidak dipengaruhi oleh
molase kepala janin. Faktor-faktor yang berkaitan dengan molase adalah
nuliparitas, stimulasi persalinan dengan oksitosin, dan pengeluaran janin dengan
eksreaksi rahim vakum. Melaporkan suatu mekanisme penguncian (locking
mechanism) saat tepi-tepi bebas tulang kranium saling terdorong ke arah yang
lainnya, mencegah molase lebih lanjut dan mungkin melindungi otak janin.

12

Mereka juga mengamati bahwa molase kepala janin yang parah dapat terjadi
sebelum persalinan. Holland melihat bahwa molase yang parah dapat
menyebabkan perdarahan subdural fatal akibat robeknya septum durameter,
terutama tentorium serebeli. Robekan semacam ini dijumpai baik pada persalinan
dengan komplikasi maupun persalinan normal.4
Bersamaan dengan molase, tulang parietal, yang berkontak dengan
promontorium, memperlihatkan tanda-tanda mendapat tekanan besar, kadangkadang bahkan menjadi datar. Akomodasi lebih mudah terjadi apabila tulangtulang kepala belum mengalami osifikasi sempurna. Proses penting ini mungkin
dapat menjadi salah satu penjelasan adanya perbedaan dalam proses persalinan
dari dua kasus yang tampak serupa dengan ukuran-ukuran panggul dan kepala
identik. Pada satu kasus, kepala lebih lunak dan mudah mengalami molase
sehingga janin dapat lahir spontan. Pada yang lain, kepala yang mengalami
osifikasi tahap lanjut tetap mempertahankan bentuknya sehingga terjadi distosia.4
Tanda-tanda khas penekanan dapat terbentuk di kulit kepala, pada bagian
kepala yang melewati promontorium. Dari lokasi tanda-tanda tersebut, kita sering
dapat memastikan gerakan yang dialami kepala sewaktu melewati pintu atas
panggul. Walaupun jarang, tanda-tanda serupa timbul di bagian kepala yang
pernah berkontak dengan simfisis pubis. Tanda-tanda ini biasanya lenyap dalam
beberapa hari.4
Fraktur tengkorak kadang-kadang dijumpai, biasanya setelah dilakukan
upaya paksa pada persalinan. Fraktur ini juga dapat terjadi pada persalinan
spontan atau bahkan seksio sesarea. Fraktur mungkin tampak sebagai alur dangkal
atau cekungan berbentuk sendok tepat di posterior sutura koronaria. Alur dangkal
relatif sering dijumpai, tetapi karena hanya mengenai lempeng tulang eksternal,
fraktur ini tidak berbahaya. Namun, yang berbentuk sendok, apabila tidak
diperbaiki secara bedah dapat menyebabkan kematian neonatus karena fraktur ini
meluas mengenai seluruh ketebalan tengkorak dan membentuk tonjolan-tonjolan
permukaan dalam yang melukai otak. Pada kasus ini, bagian tengkorak yang
cekung sebaiknya dielevasi atau dhilangkan.4
3.

Kematian Janin

13

Hal ini dialami karena gangguan perfusi pembuluh darah ke janin.


2.6

Penatalaksanaan

2.6.1

Persalinan pervaginam

1. Kelainan Kontraksi Uterus


Membuat kontraksi uterus adekuat, dikatakan kontraksi uterus yang adekuat
(4x dalam 10 menit dan lamanya lebih dari 40 detik)
2.6.2

Persalinan perabdominal

1. Chefalo Pelvic Disporpotion (CPD)


CPD terjadi karena bayi terlalu besar atau pelvis kecil. Bila dalam
persalinan terjadi CPD akan kita dapatkan persalinan yang macet. Dalam hal ini
pemilihan cara persalinan yaitu degan persalinan perbadominal (SC).
2. Malposisi Letak Janin
Bila tejadi malposi atu malpresentasi pada janin secara umum6 :

Lakukan evaluasi cepat kondisi ibu (TTV)


Lakukan evaluasi kondisi janin DJJ, bila air ketuban pecah lihat warna air
ketuban :
o Bila didapatkan mekoneum awasi yang ketat atau intervensi
o Tidakada cairan ketuban pada saat ketuban pecah menandakan
adanya pengurangan jumlah air ketuban yang ada hubungannya

dengan gawat janin.


Pemberian bantuan secara umum pada ibu inpartu akan memperbaiki

kontraksi atau kemajuan persalinan


Lakukan penilaian kemajuan persalinan memakai partograf
Bila terjadi partus lama lakukan penatalaksanaan secar spesifik sesuai
dengan keadaan malposisi yang didapatkan.

14

BAB 3
KESIMPULAN

15

Persalinan tidak maju yaitu persalinan dengan his yang adekuat namun
tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan serviks serta turunnya kepala dan
putar paksi selama 2 jam terakhir.1
Tanda persalinan tidak maju pada ibu yaitu (gelisah, letih,sSuhu badan
meningkat, berkeringat, nadi cepat. pernapasan cepat, oedem vulva, oedem
serviks, dan cairan ketuban berbau terdapat mekoneum).
Kemudian tanda persalinan tidak maju pada janin yaitu ( Djj cepat, air
ketuban terdapat mekoneum kental kehijau-hijauan, cairan berbau, caput
succedenium yang besar, moulage kepala yang hebat, kematian janin dalam
kandungan ).
Jika sudah dijumpai kasus tersebut maka penanganan yang pada umumnya
adalah dilakukannya tindakan seksio sesarea untuk mengurangi resiko terjadinya
komplikasi baik pada ibu maupun janin.
Pada teori tanda PTM Pada ibu : gelisah, letih, suhu badan meningkat,
berkeringat, nadi cepat, pernafasan cepat, sering dijumpai oedema vulva, oedema
serviks, kadang cairan ketuban berbau ,terdapat mekoneum.

16

DAFTAR PUSTAKA
1. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19884/5/chapter%2520l.
pdf (diakses pada tanggal 14 Februari 2016).
2. http://eprints.undip.ac.id/32091/1/1.pdf (diakses pada tanggal 15 Februari
2016)
3. Komplikasi Persalinan. Universitas Sumatera Utara. www.scribd.com.
(diakses 15 Februari 2016)
4. Prawiroharjo, S. 2012 Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka . Depkes RI. Jakarta.
5. Uswah.2012.Persalinanlama.
http://uswahmidwife.blogspot.com/2012/02/persalinan-lama.html
Diakses 16 Februari 2016)
6. Putra, A.D., Moegni, E.M. 2006. Lesi Prakanker Serviks. Dalam: Aziz,
M.F., Andrijono, Saifuddin, A.B. Buku Acuan Nasional Onkologi
Ginekologi. Edisi 1. Jakarta.
7. Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis obstetric. Edisi 2, jilid 1. EGC.
Jakarta.384-386.
8. Prawiroharjo, S. 2009. Ilmu Kebidanan. Edisi 4, Cetakan 2.Jakarta: PT
Bina Pustaka. 564-566.