Anda di halaman 1dari 100

ISSN 1979–715X

ISSN 1979–715X JURNAL EKONOMI DAN KEBIJAKA N JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI UNNES Volume 2, Nomor

JURNAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI UNNES

Volume 2, Nomor 2, September 2009

DAFTAR ISI

Dampak Perubahan Upah terhadap Output dan Kesempatan Kerja Industri Manufaktur di Jawa Tengah Imam Juhari dan Hastarini Dwi Atmanti

91 –- 103

Disparitas dan Spesialisasi Industri Manufaktur Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Kusumantoro

104 – 113

Anatomi Makro Ekonomi Regional: Studi Kasus di Propinsi DIY Ahmad Ma’ruf

114 – 125

Neoliberalisme: Antara Mitos dan Harapan Etty Soesilowati

126 – 134

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kerawanan Pangan Rumah Tangga Miskin di Desa Wiru Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang Mardiana Ratna Sari dan Bambang Prishardoyo

135 – 143

Perencanaan Pengembangan Sektor Pertanian Sub Sektor Tanaman Pangan di Kabupaten Kulonprogo Fafurida

144 – 155

Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Investasi PMA di Batam Muhammad Zaenuddin

156 – 166

Identifikasi Potensi Ekonomi Daerah Boyolali, Karanganyar, dan Sragen Kartika Hendra Titisari

167 – 182

INDEK

183

PENGANTAR REDAKSI

ÉΟŠÏm§9$# Ç⎯≈uΗ÷q§9$# «!$# ÉΟó¡Î0

Puji syukur redaksi JEJAK panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena kali ini redaksi mampu hadir kembali dengan menyajikan berbagai artikel di bidang ekonomi pembangunan pada khususnya. Pada edisi ini JEJAK volume 2 nomor 2 kali ini tetap konsisten terbit dengan 8 artikel hasil penelitian, dan dari 8 artikel tersebut, 4 artikel (50 persen) merupakan artikel dari luar Institusi FE UNNES. Artinya, JEJAK makin tetap terus digemari oleh khalayak akademika di luar FE UNNES.

Artikel pertama mencoba mengkaji dampak perubahan upah terhadap output dan kesempatan kerja industri manufaktur di Jawa Tengah, yang ditulis oleh Imam Juhari dan Hastarini Dwi Atmanti. Berkaitan tentang kajian industri, artikel kedua yang ditulis oleh Kusumantoro juga menganalisis tentang industri manufaktur terutama tentang disparitas dan spesialisasi industri manufaktur pada Kabupaten dan Kota di Jawa Tengan. Artikel ketiga dan keempat menganalisis tentang makro ekonomi dan sistem perekonomian, yakni yang ditulis oleh Ahmad Ma’ruf menganalisis tentang Ekonomi regional dan yang ditulis oleh Etty Soesilowati menganalisis tentang sistem neoliberalisme antara mitos dan harapan.

Selanjutnya, artikel lain cenderung menganalisis tentang persoalan perencanaan dan kebijakan ekonomi di daerah. Artikel tersebut antara lain membahas tetang; faktor-faktor yang mempengaruhi kerawanan pangan rumah tangga miskin di Kabupaten Semarang yang ditulis oleh Mardiana Ratna Sari dan Bambang Prishardoyo, serta artikel tentang perencanaan pengembangan sektor pertanian pada sub sektor tanaman pangan di Kabupaten Kulonprogo yang ditulis oleh Fafurida. Selanjutnya, analisis tentang faktor-faktor yang mempenga- ruhi kebijakan investasi PMA di Batam telah ditulis oleh Muhammad Zaenuddin, dan identifikasi potensi ekonomi daerah Boyolali, Karanganyar dan Sragen ditulis oleh kartika Hendra Titisari.

Demikian isi artikel dalam edisi kali ini, akhir kata Redaksi mengucapkan banyak terima kasih kepada para penulis dan mitra bestari atas kerjasama yang baik selama ini. Harapan Redaksi, semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi para pembaca yang budiman.

Wassalamualaikum wr. Wb.

Semarang, September 2009

Pimpinan Redaksi

DAMPAK PERUBAHAN UPAH TERHADAP OUTPUT DAN KESEMPATAN KERJA INDUSTRI MANUFAKTUR DI JAWA TENGAH

Imam Juhari 1 Hastarini Dwi Atmanti 2

Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang email:hastarini@yahoo.com

ABSTRACT

The study arms to analyze the impact of changes in wages manufacturing sector’s output and employment in the manufacturing sector in Central Java Province, and to analyze the manufacturing sector linkages with other sectors, both connections to the forward and backward linkages in Central Java Province. To analyze the manufacturing sector linkages analysis used backward and forward linkages. While to analyze the impact of a wage increase manufacturing sector’s output and employment, the first step taken is to determine the amount of wage increase manufacturing sector which then serve as a shock. The second step is to analyze the influence of wage increases shock on output and employment in the manufacturing sector in Central Java Province. In this study use Input Output tables of Central Java in 2004. The result showed that 35 sub sectors in manufacturing industry sector based on I_O tables of Central Java in 2004, 25 sub sectors have relevance to a larger rear. The increase in wages in manufacturing sector in 2005 led to the manufacturing industry sector in Central Java to increase its output of 2,879,359.31 million dollars. The increase in output that occurs later will have an impact on increasing employment opportunities in manufacturing sector of 43,529 inhabitants. Keywords: impact of rising wages, the manufacturing industry.

PENDAHULUAN 12

Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Pulau Jawa dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada tahun 2005 sebesar 143.051.213,88 juta rupiah (BPS Jawa Tengah, 2006). Pada tahun 2001 sampai 2005 sektor yang paling besar kontribusinya adalah sektor industri. Pada tahun 2005 kontribusi sektor industri sebesar 32,23% dari total PDRB Jawa Tengah, diikuti sektor perdagangan dan sektor pertanian dengan kontribusi masing-masing sebesar 21,01% dan 20,92%.

Sesuai dengan Tabel 1 di bawah, output yang dihasilkan oleh sub sektor pada sektor industri manufaktur pada tahun 2001 sampai dengan 2005 relatif fluktuatif. Secara total terjadi kenaikan nilai output sektor industri manufaktur pada tahun 2005 dibandingkan tahun sebelumnya, nilai output sektor industri manufaktur pada tahun 2005 mencapai Rp65.350.215,00. Untuk masing-masing sub sektor industri manufaktur, sub sektor yang mengalami kenaikan nilai output pada tahun 2005 dibandingkan

1 ) Alumnus Sarjana Ekonomi FE UNDIP 2 ) Staf Pengajar Jurusan Ekonomi Pembangunan FE UNNDIP

tahun sebelumnya, adalah subsektor tekstil, subsek- tor kertas dan kimia, subsektor non logam dan logam, sedangkan untuk subsektor makanan dan subsektor lain, nilai outputnya cenderung turun. Subsektor tekstil merupakan subsektor yang memiliki nilai output paling tinggi yaitu sebesar Rp19.036.925 pada tahun 2005.

Peran setiap sektor dalam pertumbuhan eko- nomi regional tentu akan berdampak pada keadaan ketenagakerjaan. Setiap sektor ekonomi akan dapat menyerap tenaga kerja dalam perekonomian regional tersebut. Penyerapan tenaga kerja yang cukup tinggi berarti terjadi peningkatan kesejahteraan di dalam masyarakat. Tabel 2 menggambarkan banyaknya tenaga kerja yang ada di sektor industri manufaktur menurut subsektor industri manufaktur. Jumlah tena- ga kerja yang bekerja pada sektor industri manufak- tur periode tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 relatif fluktuatif. Untuk tahun 2005 jumlah total tenaga kerja yang bekerja pada sektor industri manufaktur sebesar 62.0849 jiwa, kondisi ini meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 555.231 jiwa. Subsektor pada sektor industri manufaktur yang mengalami kenaikan jumlah tenaga kerja yang bekerja pada

Tabel 1. Nilai Output Industri Manufaktur Per Sub Sektor Di Jawa Tengah 2001-2005 (Juta Rupiah)

Sub Sektor

2001

2002

2003

2004

2005

Makanan Tekstil Kertas & Kimia Mineral Non Logam & Logam Lainnya

19.021.010

20.874.748

19.775.980

18.784.910

17.165.547

17.275.078

19.554.761

17.211.850

19.024.495

19.036.925

10.357.772

9.812.779

7.649.218

12.738.769

15.017.682

3.211.367

2.730.092

3.475.153

4.788.399

5.751.792

9.600.340

7.442.670

8.839.266

8.561.863

8.378.267

Total

59.465.569

60.415.052

56.951.468

63.898.439

65.350.215

Sumber: Jawa Tengah Dalam Angka, 2007

Tabel 2. Tenaga Kerja yang Bekerja pada Industri Manufaktur per Subsektor di Jawa Tengah tahun 2001-2005

Sub Sektor

2001

2002

2003

2004

2005

Makanan Tekstil Kertas & Kimia Mineral Non Logam & Logam Lainnya

154.701

154.578

155.090

149.313

161.924

217.786

214.933

205.044

200.235

243.368

92.770

98.915

89.386

79.892

83.086

24.308

13.489

22.296

20.204

19.950

114.342

104.514

103.542

105.587

112.521

Total

603.907

586.429

575.358

555.231

620.849

Sumber: Jawa Tengah Dalam Angka, 2007

tahun 2005 adalah subsektor makanan, subsektor tekstil, subsektor kertas dan kimia dan subsektor lainnya. Sedangkan, subsektor yang mengalami penurunan jumlah tenaga kerja yang bekerja adalah subsektor mineral non logam dan logam.

Tabel-3 menunjukkan, bahwa produktivitas tenaga kerja di masing-masing subsektor industri manufaktur. Produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai (keluaran) dengan keselu- ruhan sumber daya (masukan) yang dipergunakan persatuan waktu. Produktivitas masing-masing faktor produksi dapat dilakukan secara bersama-sama maupun sendiri (Payaman, 2001: 38-39).

Untuk negara berkembang seperti Indonesia, tingkat produktivitas kerja buruh secara umum masih rendah. Sistem pengupahan memiliki fungsi sosial

dan ekonomi. Melalui fungsi sosial berarti bahwa sis- tem pengupahan itu harus dapat menjamin kehi- dupan yang layak bagi pekerja dan keluarganya. Melalui fungsi ekonomi berarti bahwa upah yang diterima oleh setiap pekerja harus cukup atau meme- nuhi kebutuhan hidup minimalnya supaya produktivi- tas kerjanya dapat ditingkatkan. (Payaman J. Siman- juntak, 1982: 23). Tetapi di sisi lain peningkatan upah akan mengakibatkan penurunan permintaan tenaga kerja, dan peningkatan upah yang terlalu tinggi akan meningkatkan beban bagi pengusaha, kondisi ini memungkinkan pengusaha akan mengurangi para pekerjanya.

Usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak terlepas dari usaha peningkatan upah pekerja dalam sektor ekonomi. Bagi pekerja upah merupakan

Tabel 3. Produktivitas Tenaga Kerja Sektor Manufaktur Menurut Subsektor di Jawa Tengah tahun 2001-2005

Sub Sektor

2001

2002

2003

2004

2005

Makanan Tekstil Kertas & Kimia Mineral Non Logam & Logam Lainnya

122.953

135.043

127.513

125.809

106.010

79.321

90.981

83.942

95.011

78.223

111.650

99.204

85.575

159.450

180.749

132.112

202.394

155.864

237.003

288.310

83.962

71.212

85.369

81.088

74.460

Sumber: BPS Data Diolah, 2007

salah satu sarana untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya secara langsung, karena kenaikan upah akan berdampak langsung pada meningkatnya pendapatan nominal mereka.

Pokok masalah yang perlu dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana dampak perubahan upah terhadap output dan kesempatan kerja pada sektor industri manufaktur di Propinsi Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak perubahan upah sektor indutri manufaktur terhadap output dan kesempatan kerja pada sektor industri manufaktur di Provinsi Jawa Tengah serta untuk menganalisis keterkaitan sektor industri manu- faktur dengan sektor-sektor lainnya, baik keterkaitan ke depan maupun keterkaitan ke belakang, sehingga penelitian ini dapat mengetahui sektor mana yang dapat dijadikan sebagai prioritas dalam pemba- ngunan ekonomi.

LANDASAN TEORI

Teori Permintaan Tenaga Kerja

Permintaan tenaga kerja timbul sebagai akibat dari permintaan konsumen atas barang dan jasa, sehingga permintaan tenaga kerja merupakan per- mintaan turunan (derived demand) (Payaman, 2001:

89). Menurut Arfida BR. (2003: 62) menyatakan pengaruh output terhadap permintaan tenaga kerja dimulai dari penurunan upah pasar. Turunnya upah pasar, biaya produksi perusahaan akan mengalami penurunan. Dalam pasar persaingan sempurna, jika diasumsikan harga produk konstan, maka penurunan biaya ini akan menaikkan kuantitas output yang memaksimalkan keuntungan. Untuk alasan tersebut perusahaan akan memperluas penggunaan tenaga kerja.

Sementara itu, upah diartikan sebagai pemba- yaran ke atas jasa-jasa fisik maupun mental yang disediakan oleh tenaga kerja kepada para pengu- saha. Upah dibedakan menjadi dua pengertian upah:

upah uang dan upah riil. Upah uang adalah jumlah uang yang diterima pekerja dari pengusaha sebagai pembayaran atas tenaga mental maupun fisik para pekerja yang digunakan dalam proses produksi. Upah riil adalah tingkat upah pekerja yang diukur dari sudut kemampuan upah tersebut membeli barang dan jasa yang diperlukan untuk memenuhi kebu-

tuhan para pekerja (Sadono, 1985: 297-298). Upah yang diterima pekerja merupakan pendapatan bagi pekerja dan keluarganya sebagai balas jasa atau imbalan atas pekerjaan yang dilakukan dalam proses produksi. Bagi perusahaan upah merupakan biaya dari pengggunaan faktor produksi sebagai input dari proses produksi, dengan demikian besar kecilnya upah akan berpengaruh terhadap biaya produksi perusahaan.

Selanjutnya, Arfida BR (2003: 159-161) menye- butkan beberapa alasan penyebab dinamiknya upah adalah sebagai berikut:

1. Produktivitas

Karena produktivitas merupakan sumber yang dapat menambah pendapatan perusahaan, maka bila produktivitas naik maka upah juga cenderung naik.

2. Besarnya penjualan

Penjualan adalah sumber pendapatan usaha yang menentukan kemampuan membayar.

3. Laju inflasi

Bagi sebuah rumah tangga, daya beli merupakan unsur yang penting dari upah yang diterima dan bukan upah nominalnya. Oleh sebab itu, laju inflasi yang digunakan untuk mendeflasi upah nominal menjadi upah riil sangat penting.

4. Sikap pengusaha

Kecepatan perubahan tingkat upah tergantung sikap pengusaha dalam menghadapi hal-hal yang dapat mengakibatkan upah berubah.

5. Institusional

Undang-undang mengharuskan perusahaan be- sar untuk mengadakan kesepakatan kerja ber- sama dengan serikat pekerja yang memang diinginkan oleh anggotanya. Oleh karena itu dalam perusahaan di mana ada serikat pekerja tingkat upahnya diharapkan lebih dinamis mengikuti perkembangan dari pada perusahaan tanpa serikat pekerja

Produktivitas tenaga kerja didefinisikan sebagai rasio antara output yang dihasilkan oleh seorang individu dengan jam kerja yang digunakan untuk memperoleh upah (McConnel dan Brue, 1995 dalam Wildan Syafitri, 2003: 26). Sadono Sukirno (2002:

356) menyatakan produktivitas sebagai produksi

yang diciptakan oleh seorang pekerja pada suatu waktu tertentu. Upah riil yang diterima tenaga kerja sangat tergantung pada produktivitas tenaga kerja tersebut.

Hubungan upah dan produktivitas juga dijelas- kan melalui teori produktivitas marjinal. Teori ini men- jelaskan bahwa pengusaha tetap akan menambah pekerja hingga jumlah tertentu yaitu nilai produk- tivitas masih cukup atau lebih baik untuk membiayai upah pekerja tersebut. Pada praktiknya teori ini lebih memperhitungkan tingkat produktivitas pekerja. Pengusaha akan menambah pekerja hanya sampai tingkat tertentu, yaitu pertambahan produktivitas marjinal sama dengan upah yang diberikan kepada mereka (Roger, 2000: 569-571).

Produktivitas dan Kesempatan Kerja

Menurut Mc Eachern , A. William (2000: 497), produktivitas adalah rasio antara ukuran output tertentu terhadap ukuran input tertentu, seperti misalnya output per jam tenaga kerja. Produktivitas sendiri menurut Payaman J. Simanjuntak (2001: 38) merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan per satuan waktu. Produktivitas tenaga kerja juga memberikan pengertian tingkat kemampuan tenaga kerja dalam menghasilkan produk (Wildan, 2003: 26).

Selanjutnya, Payaman, (2001: 95) menyatakan pertambahan produktivitas kerja dapat mempenga- ruhi kesempatan kerja, di mana akan terjadi peru- bahan permintaan tenaga kerja dalam jangka pan- jang melalui:

1. Peningkatan produktivitas kerja dengan jumlah hasil produksi yang sama diperlukan tenaga kerja dengan jumlah yang lebih sedikit.

2. Peningkatan produktivitas tenaga kerja yang diperoleh atas keberhasilan penurunan biaya produksi per unit, sehingga dapat menurunkan harga jual, kemudian diikuti dengan bertambah- nya permintaan akan produksi tersebut. Akhir- nya mendorong pertambahan akan produksi yang hal ini akan menambah permintaan tenaga kerja.

3. Upah pekerja bertambah besar sehubungan dengan peningkatan produktivitas kerja. Hal ini akan meningkatkan pendapatan dan daya beli

pekerja, sehingga permintaan akan barang- barang konsumsi bertambah juga. Kondisi ini pada akhirnya akan mendorong peningkatan produksi barang. Sehingga hal ini akan mening- katkan permintaan tenaga kerja.

Penawaran Tenaga Kerja

Penawaran terhadap pekerja adalah hubungan antara tingkat upah dan jumlah satuan pekerja yang disetujui oleh pensuplai untuk ditawarkan. Secara khusus kurva penawaran tenaga kerja yang dimak- sud adalah menggambarkan berbagai kemungkinan tingkat upah dan jumlah maksimum satuan pekerja yang ditawarkan oleh pensuplai pekerja pada waktu tertentu ( Aris, 1990: 27).

Arfida BR. (2003: 64) menyebutkan jumlah tenaga kerja keseluruhan yang disediakan suatu perekonomian tergantung pada (1) jumlah penduduk, (2) persentase jumlah penduduk yang memilih masuk dalam angkatan kerja, dan (3) jumlah jam kerja yang ditawarkan oleh angkatan kerja. Lebih lanjut, masing-masing dari ketiga komponen ini dari jumlah tenaga kerja keseluruhan yang ditawarkan tergantung pada upah pasar.

Payaman, (2001: 102) menyatakan besarnya waktu yang disediakan atau dialokasikan oleh suatu keluarga untuk keperluan bekerja merupakan fungsi dari tingkat upah. Pada tingkat upah tertentu penye- diaan waktu bekerja dari keluarga bertambah bila tingkat upah bertambah. Setelah mencapai tingkat upah tertentu, pertambahan upah lebih lanjut justru mengurangi waktu yang disediakan oleh keluarga untuk keperluan bekerja. Hal ini disebut backward bending supply curve, atau kurva penawaran yang membelok (mundur).

Kurva penawaran tenaga kerja yang membalik ke belakang terjadi jika efek pendapatan kenaikan upah lebih besar dari pada efek subtitusi kenaikan upah. Bila efek subtitusi akibat kenaikan upah lebih besar dari pada efek pendapatan, jumlah tenaga kerja yang ditawarkan naik bersamaan kenaikan upah. Di atas tingkat upah tertentu, efek pendapatan lebih besar dari pada efek subtitusi. Di atas tingkat upah tersebut, kurva penawaran bengkok ke bela- kang, kenaikan upah lebih lanjut mengurangi jumlah tenaga kerja yang ditawarkan (Mc Eachern, 2000:

221).

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini digunakan model input- output statis, di mana di dalam model input-output leontief statis kegiatan ekonomi dibagi dalam n sektor dan menggambarkan adanya aliran input yang digunakan dan output yang dihasilkan untuk masing- masing sektor. Output yang dihasilkan oleh masing- masing sektor akan digunakan untuk input antara permintaan akhir.

Jika dituliskan dalam rumus sebagai berikut:

X i =

n

j

z

ij

+ Y

i

(1)

Dimana: X i : output yang dihasilkan oleh sektor i z ij : output yang dihasilkan oleh sektor i yang digunakan oleh sektor j sebagai

input antara Y i : permintaan akhir

sektor i

terhadap

output

Dari persamaan (1) tersebut dapat dijabarkan dalam model leontief:

X 1 = z 11 + z 12 + ………. + z 1n + Y 1

X 2 = z 21 + z 22 + ………. + z 2n + Y 2

X n = z n1 + z n2 + ………. + z nn + Y n

(2)

Besarnya koefiensi input langsung terhadap output atau sering disebut koefisien teknologi adalah:

a ij =

z

ij

X

j

atau,

(3)

a ij adalah jumlah input sektor i yang diperlukan se- bagai bahan baku (input) untuk menghasilkan satu unit output di sektor j.

Setelah mendapatkan koefisien teknologi a ij , maka persamaan (2) dapat ditulis sebagai berikut:

z ij = a ij X j

X 1 = a 11 X 1 + a 12 X 2 + ………. +a 1n X n +Y 1

X 2 = a 21 X 1 + a 22 X 2 + ………. +a 2n X n +Y 2

(4)

Persamaan (4) dapat ditulis dalam bentuk notasi matriks yang lebih sederhana sebagai:

X n = a n1 X 1 + a n2 X 2 + ………. +a nn X n +Y n

X = (I-A) -1 Y

dimana:

X : Vektor total output

A : Matrik koefisien teknologi

I : Matrik identitas (n x n)

(I-A) -1 : Matrik inverse loentief Y : Permintaan akhir

Analisis Perubahan Output

Untuk menganalisis dampak perubahan upah minimum terhadap output digunakan model input output dengan pendekatan supply side. Dalam analisis ini input primer menjadi faktor eksogen. Artinya pertumbuhan perekonomian baik secara sektoral maupun total, dipengaruhi oleh perubahan pada input primer (Firmansyah, 2006: 41). Dalam model input-output dengan pendekatan supply bentuk persamaannya adalah secara kolom yaitu:

X

j

=

n

i

z

ij

+

V

j

(6)

Dalam bentuk aljabar dapat ditulis:

X 1 = z 11 + z 21 + ………. z n1 + V 1

X 2 = z 12 + z 22 + ………. z n2 + V 2

X n = z 1n + z 2n + ………. z nn + V n

(7)

Dan nilai koefisien output a ij adalah:

r

a ij

=

z

ij

X j

atau

r

A

ˆ

= ( X ) 1 Z

(8)

dimana Z adalah matriks transaksi yang memiliki unsur z ij

ˆ

sehingga

(9)

dengan menggunakan persamaan (8) dan persama- an (7) dengan analogi yang sama dengan persa- maan (4) maka didapatkan hasil:

(10)

X menunjukkan bahwa X adalah vektor baris, yang merupakan transpose dari X vektor kolom seperti sebelumnya.

r

Z = ( X ) A

r

X = V (I – A ) 1

r

A

V

: Output koefisien

: Vektor input primer

(I – A ) 1 : Matrik output inverse

Jika tingkat upah dinotasikan (w), maka perubahan

output yang (5) ditimbulkan sebagai akibat perubahan (w) adalah :

(11)

r

ΔX = Δw (I – A ) 1

Analisis Perubahan Kesempatan Kerja

Karena terjadi perubahan input karena adanya perubahan tingkat upah, akan mengakibatkan peru- bahan total input, maka perubahan total input tersebut akan menyebabkan berubahnya total output.

Secara langsung atau tidak langsung perubahan total output akan menyebabkan perubahan permintaan akhir. Perubahan permintaan akhir karena peru- bahan output dapat ditulis:

(12)

(13)

(14)

Persamaan (14) dapat digunakan untuk meng- gambarkan perubahan output karena adanya kenaikan upah yang menyebabkan perubahan kesempatan kerja, hal pertama yang dilakukan adalah dengan menyusun matrik koefisien tenaga kerja. Koefisien tenaga kerja ini menunjukkan hubungan antara tenaga kerja dengan output yaitu banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu satuan output, secara matematik dapat ditulis:

r

X = (I – A ) 1 Y

r

ΔX = (I – A ) 1 ΔY

ΔY = ΔX T (I – A)

n i =

i

L

i

X

(15)

n i : Koefisien tenaga kerja L i : Jumlah tenaga kerja sektoral X i : Jumlah output sektoral

Apabila sudah diketahui koefisien tenaga ker- janya, maka dapat dilakukan perhitungan perubahan kesempatan kerja dengan menggunakan persamaan:

(16)

ΔL i = n i ΔX i

ΔL i : Tambahan Kesempatan Kerja : Koefisien tenaga kerja ΔX i : Tambahan Output Sektoral

n i

Semakin tinggi koefisien tenaga kerja di suatu sektor menunjukkan semakin tinggi pula daya serap tenaga kerja di sektor yang bersangkutan, karena semakin banyak tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output. Sebaliknya sektor yang semakin rendah koefisien kesempatan kerjanya menunjukkan semakin rendah pula daya serap tenaga kerja.

Analisis Keterkaitan

Selain menganalisis dampak perubahan upah minimum terhadap output dan kesempatan kerja, penelitian ini juga menganalisis keterkaitan sektor industri pengolahan dengan sektor lainnya. Analisis keterkaitan ini terdiri dari keterkaitan ke belakang

langsung, keterkaitan ke belakang total, keterkaitan

ke depan langsung, dan keterkaitan ke depan total.

Keterkaitan ke belakang langsung merupakan penjumlahan kolom dari matrik koefisien input atau koefisien teknologi A, karena dari matriks tersebut secara kolom menunjukkan proporsi asal input suatu sektor dari sektor-sektor lainnya (Firmansyah, 2006:

48). Formula matematisnya adalah :

n

B d j = a

i = 1

ij

(17)

di mana a ij adalah koefisien input yang merupakan

elemen dari koefisien input.

Keterkaitan ke belakang total adalah penjum- lahan dari elemen matrik kebalikan input atau matrik kebalikan leontief (Firmansyah, 2006: 48). Dengan persamaan matematis:

n

B d+id j =

i = 1

a

ij

(18)

dimana α ij adalah elemen matrik kebalikan input.

Keterkaitan ke depan langsung merupakan pen- jumlahan baris dari matrik koefisien output A , kare- na dari matrik tersebut secara baris menunjukkan proporsi distribusi output suatu sektor kepada sektor lainnya (Firmansyah, 2006: 50). Pesamaan matema- tisnya adalah:

r

n

F d i =

j = 1

v

a

ij

r adalah koefisien output yang merupakan

dimana

elemen dari koefisien output.

Keterkaitan ke depan total adalah penjumlahan baris matrik kebalikan output (Firmansyah, 2006: 50). Dengan persamaan matematis:

a ij

F d+id i =

n

j = 1

r

α

ij

(20)

dimana

r adalah elemen matrik kebalikan output.

α ij

(19)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keterkaitan antar sektor

Terjadinya peningkatan kapasitas produksi di suatu sektor, biasanya akan selalu menimbulkan dua dampak sekaligus yaitu: (a) dampak terhadap permintaan barang dan jasa yang diperlukan sebagai input dan (b) dampak terhadap penyediaan barang dan jasa hasil produksi yang dimanfaatkan sebagai input oleh sektor lain. Dampak dari suatu kegiatan produksi terhadap permintaan barang dan jasa input yang diperoleh dari produksi sektor lain disebut sebagai keterkaitan ke belakang (backward linkages). Sedangkan, dampak yang ditimbulkan karena penyediaan hasil produksi suatu sektor terhadap penggunaan input oleh sektor lain disebut sebagai keterkaitan ke depan (forward linkage). (Budiman, 2004: 107).

Dalam penelitian ini menggunakan Tabel Input- Output Jawa Tengah Tahun 2004 klasifikasi 89 sektor yang kemudian diagregasi menjadi 43 sektor. Sektor 1 sampai dengan sektor 28 diagregasi menjadi sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan. Sektor 29 sampai dengan sektor 32 diagregasi menjadi sektor pertambangan dan peng- galian. Sektor industri manufaktur tidak diagregasi karena merupakan sektor yang akan dianalisis. Sektor 68 dan sektor 69 diagregasi menjadi sektor listrik, gas dan air minum. Sektor 70 dan sektor 71 diagregasi menjadi sektor bangunan. Sektor 72 sampai dengan sektor 74 diagregasi menjadi sektor perdagangan, restoran dan perhotelan. Sektor 75 sampai dengan sektor 80 diagregasi menjadi sektor pengangkutan dan komunikasi. Sektor 81 sampai dengan 83 diagregasi menjadi sektor keuangan, persewaaan dan jasa perusahaan. Sektor 84 sampai dengan 89 diagregasi menjadi sektor jasa-jasa.

Untuk sektor industri manufaktur terdiri dari :

industri/ pengolahan dan pengawetan makanan, industri minyak dan lemak, industri penggilingan padi, industri tepung terigu dan tepung lainnya, industri roti dan kue kering lainnya, industri kopi giling dan kupasan, industri makanan lainnya, industri bumbu masak dan penyedap makanan, industri makanan ternak, industri gula tebu dan gula kelapa, industri minuman, industri rokok, industri pengolahan tembakau selain rokok, industri pemintalan, industri tekstil, industri tekstil jadi dan tekstil lainnya, industri

pakaian jadi, industri kulit dan alas kaki, industri kayu dan bahan bangunan dari kayu, industri perabot rumah tangga dari kayu, industri kertas dan barang dari kertas, penerbitan dan percetakan, industri farmasi dan jamu tradisional, industri kimia dan pupuk, industri pengilangan minyak, industri karet dan barang dari karet, industri plastik dan barang dari plastik, industri barang mineral bukan logam, industri semen, industri kapur dan barang dari semen, industri dasar baja dan besi, industri logam bukan besi dan barang dari logam, industri mesin-mesin dan perlengkapan listrik, industri alat angkutan dan perbaikannya, industri barang lainnya.

Keterkaitan langsung ke belakang antar sektor

Keterkaitan langsung ke belakang diperoleh dengan cara menjumlahkan kolom semua elemen- elemen dari koefisien input. Diasumsikan koefisien teknologi adalah sama, maka keterkaitan langsung ke belakang pada sektor industri manufaktur untuk tahun 2004 dapat diketahui. Hasil penelitian menun- jukkan 35 sub sektor yang ada pada sektor industri manufaktur berdasarkan Tabel Input-Output Jawa Tengah tahun 2004, 25 sub sektor memiliki keter- kaitan ke belakang yang lebih besar. Artinya bahwa lebih banyak sub sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang yang lebih besar dibandingkan dengan keterkaitan ke depan. Kondisi ini berarti bahwa sub sektor tersebut banyak meminta output dari sub sektor lainnya sebagai input antara.

Pada sektor industri manufaktur (sektor 3-37), lebih banyak sektor yang memiliki keterkaitan langsung ke belakang yang lebih tinggi dibandingkan dengan keterkaitan langsung ke depan. Sektor yang memiliki keterkaitan langsung ke belakang yang lebih tinggi dari pada keterkaitan langsung ke depan adalah sektor: industri/ pengolahan dan pengawetan makanan (sektor 3), industri minyak dan lemak (sektor 4), industri penggilingan padi (sektor 5), industri tepung terigu dan tepung lainnya (sektor 6), industri roti dan kue kering lainnya (sektor 7), industri kopi giling dan kupasan (sektor 8), industri makanan lainnya (sektor 9), industri bumbu masak dan penyedap makanan (sektor 10), industri gula tebu dan gula kelapa (sektor 12), industri minuman (sektor 13), industri rokok (sektor 14), industri tekstil (sektor 17), industri tekstil jadi dan tekstil lainnya (sektor 18),

industri pakaian jadi (sektor 19), industri kulit dan alas kaki (sektor 20), industri kayu dan bahan bangunan dari kayu (sektor 21), industri perabot rumah tangga dari kayu (sektor 22), industri kertas dan barang dari kertas (sektor 23), industri farmasi dan jamu tradisional (sektor 25), industri karet dan barang dari karet (sektor 28), industri plastik dan barang dari plastik (sektor 29), industri barang mineral bukan logam (sektor 30), industri mesin- mesin dan perlengkapan listrik (sektor 35), industri alat angkutan dan perbaikannya (sektor 36), industri barang lainnya (sektor 37).

Hasil penelitian ini diketahui sektor yang memi- liki keterkaitan langsung ke belakang paling tinggi adalah sektor industri penggilingan padi (sektor 5), hasil yang sama ditunjukkan oleh Saptiningsih (2005) dimana dari penelitian yang dilakukan diketahui bahwa sektor industri penggilingan padi memiliki keterkaitan ke belakang yang tinggi. Pada sektor tersebut menunjukkan angka keterkaitan ke belakang lebih besar dari angka keterkaitan ke depan, menurut Budiman Efdy (2004) hal ini berarti bahwa sektor tersebut banyak meminta output dari sektor-sektor lainnya sebagai input antara atau dengan kata lain menunjukkan ketergantungan sektor ini terhadap input yang berasal dari sektor lain. Jika dilihat angka keterkaitan ke belakang yang hampir mendekati nilai 1 menunjukkan bahwa industri penggilingan padi berpotensi untuk ikut memajukan perkembangan sektor lainnya.

Berdasarkan koefisien input maka dapat diketa- hui bahwa sektor tersebut banyak meminta output dari sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan (sektor 1) sebagai input antara. Sektor lain yang memiliki keterkaitan langsung ke belakang cukup tinggi adalah sektor industri roti dan kue kering lainnya (sektor 7), Selanjutnya, dengan melihat koe- fisien input dapat diketahui bahwa sektor ini banyak meminta output dari industri tepung terigu dan tepung lainnya (sektor 6).

Penggunaan input antara pada sektor industri manufaktur lainnya adalah sebagai berikut: Industri/ pengolahan dan pengawetan makanan (sektor 3), industri minyak dan lemak (sektor 4), industri kopi giling dan kupasan (sektor 8), sektor industri makan- an lainnya (sektor 9), industri gula tebu dan gula kelapa (sektor 12), Industri farmasi dan jamu tradisional (sektor 25), industri karet dan barang dari

karet (sektor 28) industri mesin-mesin dan perleng- kapan listrik (sektor 35) dan industri alat angkutan dan perbaikannya (sektor 36) banyak meminta output dari sektor sendiri.

Industri tepung terigu dan tepung lainnya (sek- tor 6), industri bumbu masak dan penyedap makanan (sektor 10) banyak meminta output dari industri penggilingan padi (sektor 5), industri rokok (sektor 14), industri kayu dan bahan bangunan dari kayu (sektor 21), industri kertas dan barang dari kertas (sektor 23), industri barang mineral bukan logam (sektor 30) banyak meminta output dari industri pengilangan minyak (sektor 27).

Industri minuman (sektor 13) banyak meminta output dari industri gula tebu dan gula kelapa (sektor 12). Industri tekstil (sektor 17) dan industri tekstil jadi dan tekstil lainnya (sektor 18) banyak meminta output dari industri pemintalan (sektor 16). Industri pakaian jadi (sektor 19) banyak meminta output dari industri tekstil (sektor 17). Industri kulit dan alas kaki (sektor 20) banyak meminta output dari industri/ pengolahan dan pengawetan makanan (sektor 3). Industri pera- bot rumah tangga dari kayu (sektor 22) banyak meminta output dari industri kayu dan bahan bangunan dari kayu (sektor 21). Industri plastik dan barang dari plastik (sektor 29) banyak meminta output dari industri kimia dan pupuk (sektor 26) industri barang lainnya (sektor 37) banyak meminta output dari industri tekstil (sektor 17).

Keterkaitan langsung ke depan antar sektor

Keterkaitan langsung ke depan diperoleh dengan cara penjumlahan baris pada setiap elemen- elemen dari koefisien output. Diasumsikan koefisien teknologi adalah sama, maka keterkaitan langsung ke belakang pada sektor industri manufaktur untuk tahun 2004 dapat diketahui.

Pada sektor industri manufaktur sektor yang memiliki keterkaitan langsung ke depan yang lebih tinggi adalah sebagai berikut: industri makanan ternak (sektor 11), industri pengolahan tembakau selain rokok (sektor 15), industri pemintalan (sektor 16), penerbitan dan percetakan (sektor 24), industri kimia dan pupuk (sektor 26), industri pengilangan minyak (sektor 27), industri semen (sektor 31), industri kapur dan barang dari semen (sektor 32), industri dasar baja dan besi (sektor 33), industri

logam bukan besi dan barang dari logam ( sektor

34).

Menurut Chalimah (2004) sektor yang memiliki keterkaitan ke depan yang tinggi menunjukkan bahwa output dari sektor tersebut berperan besar dalam penyediaan input antara bagi sektor lainnya.

Hasil penelitian ini diketahui pula bahwa sektor yang paling banyak meminta output dari sektor 32 adalah sektor bangunan (sektor 39). Output industri makanan ternak (sektor 11) paling banyak diminati oleh sektor 11 itu sendiri. Industri pengolahan tem- bakau selain rokok (sektor 15) output-nya paling banyak diminta oleh sektor industri rokok (sektor 14).

Untuk sektor lainnya adalah sebagai berikut:

industri pemintalan (sektor 16) outputnya paling banyak diminta oleh industri tekstil (sektor 17). Penerbitan dan percetakan (sektor 24), industri pengilangan minyak (sektor 27) output-nya paling banyak diminta oleh sektor industri rokok (sektor 14). Industri kimia dan pupuk (sektor 26) output-nya paling banyak diminta oleh industri plastik dan barang dari plastik (sektor 29). Industri semen (sektor 31) output-nya paling banyak diminta oleh sektor bangunan (sektor 39). Industri dasar baja dan besi (sektor 33) output-nya paling banyak diminta oleh industri logam bukan besi dan barang dari logam (sektor 34). Industri logam bukan besi dan barang dari logam (sektor 34) output-nya paling banyak diminta oleh Industri perabot rumah tangga dari kayu (sektor 22).

Keterkaitan Total ke Belakang Antar Sektor

Keterkaitan total baik ke belakang yang dimiliki sektor industri manufaktur nilainya masing-masing diperoleh dengan menjumlahkan kolom elemen- elemen koefisien input matrik inverse. Semakin besar nilai keterkaitan total ke belakang suatu sektor menunjukkan sektor tersebut dapat dijadikan sektor prioritas untuk dikembangkan. Hal ini berarti peran sektor sektor tersebut dalam mengembangkan seluruh sektor ekonomi relatif baik, namun output yang dihasilkan, perannya dalam menunjang sektor- sektor ekonomi kurang begitu baik.

Sektor-sektor yang memiliki keterkaitan total ke belakang yang lebih tinggi dari pada keterkaitan total ke depan pada sektor industri manufaktur (sektor 3- 37) adalah: industri/ pengolahan dan pengawetan

makanan (sektor 3), industri minyak dan lemak (sektor 4), industri penggilingan padi (sektor 5), industri tepung terigu dan tepung lainnya (sektor 6), industri roti dan kue kering lainnya (sektor 7), industri makanan lainnya (sektor 9), industri bumbu masak dan penyedap makanan (sektor 10), industri gula tebu dan gula kelapa (sektor 12), industri minuman (sektor 13), industri rokok (sektor 14), industri tekstil (sektor 17), industri tekstil jadi dan tekstil lainnya (sektor 18), industri pakaian jadi (sektor 19), industri kulit dan alas kaki (sektor 20), industri kayu dan bahan bangunan dari kayu (sektor 21), industri perabot rumah tangga dari kayu (sektor 22), industri kertas dan barang dari kertas (sektor 23), industri farmasi dan jamu tradisional (sektor 25), industri karet dan barang dari karet (sektor 28), industri plastik dan barang dari plastik (sektor 29), industri barang mineral bukan logam (sektor 30), industri mesin-mesin dan perlengkapan listrik (sektor 35), industri alat angkutan dan perbaikannya (sektor 36), industri barang lainnya (sektor 37). Hal ini berarti peran sektor sektor tersebut dalam mengembangkan seluruh sektor ekonomi relatif baik, namun output yang dihasilkan, perannya dalam menunjang sektor- sektor ekonomi kurang begitu baik.

Keterkaitan total ke depan antar sektor

Keterkaitan total ke depan yang dimiliki sektor industri manufaktur di dapat dengan cara menjum- lahkan baris elemen-elemen koefisien output matrik inverse. Semakin besar nilai keterkaitan total ke depan suatu sektor menunjukkan sektor tersebut dapat dijadikan sektor prioritas untuk dikembangkan.

Dari hasil perhitungan terlihat bahwa sektor yang memiliki angka keterkaitan total ke depan atau keterkaitan total ke belakang yang lebih besar akan dapat dijadikan sebagai sektor yang baik untuk diprioritaskan atau dikembangkan.

Berdasarkan perhitungan memperlihatkan bah- wa industri kulit dan alas kaki (sektor 20) mempunyai keterkaitan total ke belakang yang paling tinggi diantara sektor lainnya, dengan kriteria ini dapat dikatakan bahwa peningkatan output 1 unit uang di sektor 20 akan berdampak lebih besar terhadap perekonomian dibandingkan dampak yang disebab- kan oleh peningkatan 1 unit uang output masing- masing sektor lainnya.

Sektor lain yang memiliki angka keterkaitan total ke belakang tinggi adalah: industri roti dan kue kering lainnya (sektor 7), industri minyak dan lemak (sektor 4), industri penggilingan padi (sektor 5), industri bumbu masak dan penyedap makanan (sektor 10), masing-masing memiliki angka keter- kaitan total ke belakang diatas 2. Sedangkan pene- litian yang dilakukan oleh Chalimah (2004) diketahui sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang tinggi adalah: industri tekstil, industri penggilingan padi dan industri pengilangan minyak.

Untuk sektor sektor yang memiliki keterkaitan total ke depan lebih tinggi dari pada keterkaitan total ke belakang adalah: industri kopi giling dan kupasan (sektor 8), industri makanan ternak (sektor 11), industri pengolahan tembakau selain rokok (sektor 15), industri pemintalan (sektor 16), penerbitan dan percetakan (sektor 24), industri kimia dan pupuk (sektor 26), industri pengilangan minyak (sektor 27). industri semen (sektor 31), industri kapur dan barang dari semen (sektor 32), industri dasar baja dan besi (sektor 33), industri logam bukan besi dan barang dari logam ( sektor 34). Hal ini berarti sektor-sektor tersebut output yang dihasilkan banyak diminati oleh sektor-sektor lainnya.

Industri makanan ternak (sektor 11) merupakan sektor yang memiliki keterkaitan total ke depannya paling tinggi, hal ini menunjukkan output yang dihasilkan banyak diminati oleh sektor lainnya. Melalui kriteria ini, dapat dikatakan bahwa pening- katan output 1 unit uang di industri makanan ternak (sektor 11) akan berdampak lebih besar terhadap perekonomian dibandingkan dampak yang disebab- kan oleh peningkatan 1 unit uang output masing- masing sektor lainnya. Peningkatan output industri makanan ternak (sektor 11), maka ketersediaan produknya yang dapat dijadikan input oleh sektor- sektor dalam perekonomian (termasuk sektor 11 sendiri) juga meningkat, sehingga sektor-sektor yang menggunakan produk industri makanan ternak (sek- tor 11) baik secara langsung maupun tidak langsung sebagai input mereka juga akan meningkat produk- sinya. Angka 3,208536 berarti bahwa peningkatan 1 unit uang output industri makanan ternak (sektor 11) akan meningkatkan output perekonomian (termasuk sektor 11 sendiri) sebesar 3.208536 unit uang baik secara langsung maupun tidak langusng, melalui jalur peningkatan output industri makanan ternak

(sektor 11) yang digunakan sebagai input oleh sektor lain.

Sektor lain yang memiliki angka keterkaitan total ke depan adalah: industri pemintalan (sektor 16), industri dasar baja dan besi (sektor 33), industri kapur dan barang dari semen (sektor 32), industri pengolahan tembakau selain rokok (sektor 15), masing-masing memiliki angka keterkaitan total ke belakang diatas 2. Sedangkan penilitian yang dilaku- kan oleh Chalimah (2004) diketahui sektor yang memiliki keterkaitan ke depan tinggi adalah: industri pemintalan, industri kimia dan pupuk, industri pengi- langan minyak.

Dari hasil perhitungan tersebut terlihat bahwa sektor yang memiliki angka keterkaitan total ke depan atau keterkaitan total ke belakang yang lebih besar akan dapat dijadikan sebagai sektor yang baik untuk diprioritaskan atau dikembangkan.

Dampak Upah Terhadap Output

Dengan pendekatan supply side dan dengan

r

menggunakan rumus: ΔX =Δw (I – A ) 1 akan diketa- hui berapa perubahan output yang terjadi akibat dari perubahan kenaikan tingkat upah pada sektor industri manufaktur, dengan asumsi sektor lain tidak ikut menaikkan atau menurunkan upah, dan peru- bahan terhadap input primer lainnya juga tidak mengalami perubahan.

Pendekatan supply side menunjukkan bagai- mana output yang dihasilkan di distribusikan kepada sektor lain, yang bagi sektor tersebut merupakan permintaan antara sedangkan bagi sektor lain adalah sebagai input antara. Semakin besar tingkat upah dinaikkan akan semakin besar pula perubahan out- put yang terjadi. Hal ini sesuai dengan asumsi yang dibuat dalam penyusunan Tabel Input- Output, yang diantaranya tidak ada subtitusi atau dengan kata lain elastisitas subtitusinya sama dengan nol, dan penambahan input secara proposional dengan tingkat %tase yang sama terhadap output.

Berdasarkan perhitungan menunjukkan kenaik- an upah pada sektor industri manufaktur secara umum akan menyebabkan perubahan output sektor industri manufaktur sebesar 2.879.359,31 juta rupiah.

Pada sektor industri manufaktur (sektor 3-37) yang paling besar perubahan output-nya akibat

kenaikan upah adalah industri rokok (sektor 14), kenaikan upah yang terjadi menyebabkan perubahan output sebesar 381.835,09 juta rupiah. Sektor lain yang perubahan output-nya cukup besar adalah industri gula tebu dan gula kelapa (sektor 12) peru- bahan output sebesar 342.114,94 juta rupiah, industri tekstil (sektor 17) perubahan output sebesar 297.529,56 juta rupiah, industri pengilangan minyak (sektor 27) sebesar 286.843,10 juta rupiah. Sektor yang paling kecil perubahan output akibat kenaikkan upah adalah industri dasar baja dan besi sebesar 3.335,38 juta rupiah

Untuk sektor industri manufaktur (sektor 3-37) lainnya, perubahan output adalah sebagai berikut:

industri/ pengolahan dan pengawetan makanan (sektor 3) perubahan output sebesar 63.823,76 juta rupiah, industri minyak dan lemak (sektor 4) peru- bahan output sebesar 88.620,13 juta rupiah, industri penggilingan padi (sektor 5) perubahan output sebesar 186.773,79 juta rupiah, industri tepung terigu dan tepung lainnya (sektor 6) perubahan output sebesar 29.013,90 juta rupiah, industri roti dan kue kering lainnya (sektor 7) perubahan output sebesar 72.812,91 juta rupiah, industri kopi giling dan kupasan (sektor 8) perubahan output sebesar 35.496,69 juta rupiah, industri makanan lainnya (sektor 9) perubahan output sebesar 139.141,92 juta rupiah, industri bumbu masak dan penyedap makanan (sektor 10) perubahan output sebesar 14.977,68 juta rupiah, industri makanan ternak (sektor 11) perubahan output sebesar 47.050,38 juta rupiah, industri minuman (sektor 13) perubahan output sebesar 57.277,93 juta rupiah.

Industri pengolahan tembakau selain rokok (sektor 15) perubahan output sebesar 19.067,23 juta rupiah, industri pemintalan (sektor 16) perubahan output sebesar 21.200,72 juta rupiah, industri tekstil jadi dan tekstil lainnya (sektor 18) perubahan output sebesar 14.859,94 juta rupiah, industri pakaian jadi (sektor 19) perubahan output sebesar 73.366,72 juta rupiah, industri kulit dan alas kaki (sektor 20) perubahan output sebesar 199.455,41 juta rupiah, industri kayu dan bahan bangunan dari kayu (sektor 21) perubahan output sebesar 135.035,25 juta rupiah, industri perabot rumah tangga dari kayu (sektor 22) perubahan output sebesar 153.038,53 juta rupiah, industri kertas dan barang dari kertas (sektor 23) perubahan output sebesar 7.453,64 juta

rupiah, penerbitan dan percetakan (sektor 24) peru- bahan output sebesar 7.322,36 juta rupiah, industri farmasi dan jamu tradisional (sektor 25) perubahan output sebesar 45.695,59 juta rupiah, industri kimia dan pupuk (sektor 26) perubahan output sebesar 17.716,62 juta rupiah.

Industri karet dan barang dari karet (sektor 28) perubahan output sebesar 20.158,21 juta rupiah, industri plastik dan barang dari plastik (sektor 29) perubahan output sebesar 12.616,57 juta rupiah, industri barang mineral bukan logam (sektor 30) perubahan output sebesar 26.005,11 juta rupiah, industri semen (sektor 31) perubahan output sebesar 7.817,28 juta rupiah, industri kapur dan barang dari semen (sektor 32) perubahan output sebesar 6.427,06 juta rupiah, industri logam bukan besi dan barang dari logam (sektor 34) perubahan output sebesar 8.072,99 juta rupiah, industri mesin-mesin dan perlengkapan listrik (sektor 35) perubahan out- put sebesar juta rupiah 26.773,53juta rupiah, industri alat angkutan dan perbaikannya (sektor 36) peru- bahan output sebesar 22.060,42 juta rupiah, industri barang lainnya (sektor 37) perubahan output sebesar 8.568,95 juta rupiah.

Dampak upah terhadap kesempatan kerja

Dengan adanya kenaikan upah pada sektor industri manufaktur pada tahun 2005 akan menye- babkan perubahan output, untuk memenuhi peru- bahan output yang tercapai akan membutuhkan tenaga kerja untuk mengerjakannya. Untuk keper- luan tersebut, maka akan dicari koefisien tenaga kerja dari masing-masing sektor. Besarnya koefisien tenaga kerja ini menunjukkan suatu bilangan dari jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk meng- hasilkan satu unit keluaran (output)

Berdasarkan rumus (15) maka koefisien tenaga kerja dapat diperoleh. Koefisien tenaga kerja sektoral merupakan indikator untuk melihat daya serap tenaga kerja di masing-masing sektor.

Berdasarkan perhitungan dapat diketahui bah- wa kenaikan upah pada sektor indutri manufaktur tahun 2005 menyebabkan bertambahnya output yang kemudian akan berdampak pada kesempatan kerja, yaitu bertambahnya kesempatan kerja di sektor industri manufaktur sebesar 43,529 jiwa.

Semakin tinggi koefisien tenaga kerja di suatu sektor menunjukkan semakin banyak tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output. Sebaliknya sektor yang semakin rendah koefisien tenaga kerjanya menunjukkan semakin rendah pula daya serap tenaga kerjanya. Koefisien tenaga kerja yang tinggi pada umumnya terjadi di sektor yang padat karya, sedangkan koefisien tenaga kerja yang rendah umumnya terjadi di sektor padat modal yang proses produksinya dilakukan dengan teknologi tinggi. Kesempatan kerja dianalogikan merupakan daya serap tenaga kerja (kebutuhan tenaga kerja), jika semakin tinggi daya serap tenaga kerja suatu sektor maka kesempatan kerja akan semakin tinggi.

Di sektor industri manufaktur (sektor 3-37) yang paling besar penciptaan kesempatan kerjanya akibat kenaikan upah pada industri manufaktur adalah industri perabot rumah tangga dari kayu (sektor 22) yaitu 6.358 jiwa. Sektor lain yang mampu mencipta- kan kesempatan kerja cukup tinggi adalah industri kayu dan bahan bangunan dari kayu (sektor 21) dan industri tekstil (sektor 17), yang masing- masing mampu menciptakan kesempatan kerja sebesar 4.538 jiwa dan 4.220 jiwa. Sedangkan sektor yang paling kecil penciptaan kesempatan kerjanya adalah industri dasar baja dan besi (sektor 33) yaitu sebesar 14 jiwa.

Untuk sektor industri manufaktur (sektor 3-37) lainnya, pertambahan kesempatan kerja adalah sebagai berikut: industri/ pengolahan dan penga- wetan makanan (sektor 3) pertambahan kesempatan kerja sebesar 556 jiwa, industri minyak dan lemak (sektor 4) pertambahan kesempatan kerja sebesar 1.100 jiwa, industri penggilingan padi (sektor 5) pertambahan kesempatan kerja sebesar 1.663 jiwa, industri tepung terigu dan tepung lainnya (sektor 6) pertambahan kesempatan kerja sebesar 423 jiwa, industri roti dan kue kering lainnya (sektor 7) pertambahan kesempatan kerja sebesar 1.057 jiwa, industri kopi giling dan kupasan (sektor 8) pertam- bahan kesempatan kerja sebesar 582 jiwa, industri makanan lainnya (sektor 9) pertambahan kesem- patan kerja sebesar 1.870 jiwa, industri bumbu masak dan penyedap makanan (sektor 10) pertam- bahan kesempatan kerja sebesar 202 jiwa, industri makanan ternak (sektor 11) pertambahan kesem- patan kerja sebesar 322 jiwa, industri gula tebu dan

gula kelapa (sektor 12) pertambahan kesempatan kerja sebesar 3.895jiwa, industri minuman (sektor 13) pertambahan kesempatan kerja sebesar 1.088 jiwa, industri rokok (sektor 14) pertambahan kesem- patan kerja sebesar 3.173 jiwa, industri pengolahan tembakau selain rokok (sektor 15) pertambahan kesempatan kerja sebesar 710 jiwa, industri pemin- talan (sektor 16) pertambahan kesempatan kerja sebesar 146 jiwa.

Industri tekstil jadi dan tekstil lainnya (sektor 18) pertambahan kesempatan kerja sebesar 288 jiwa, industri pakaian jadi (sektor 19) pertambahan kesempatan kerja sebesar 1.861 jiwa, industri kulit dan alas kaki (sektor 20) pertambahan kesempatan kerja sebesar 3.755 jiwa, industri kertas dan barang dari kertas (sektor 23) pertambahan kesempatan kerja sebesar 144 jiwa, penerbitan dan percetakan (sektor 24) pertambahan kesempatan kerja sebesar 255 jiwa, industri farmasi dan jamu tradisional (sektor 25) pertambahan kesempatan kerja sebesar 1.284 jiwa, industri kimia dan pupuk (sektor 26) pertam- bahan kesempatan kerja sebesar 348 jiwa, industri pengilangan minyak (sektor 27) pertambahan kesem- patan kerja sebesar 423 jiwa, industri karet dan barang dari karet (sektor 28) pertambahan kesem- patan kerja sebesar 354 jiwa, industri plastik dan barang dari plastik (sektor 29) pertambahan kesem- patan kerja sebesar 319 jiwa, industri barang mineral bukan logam (sektor 30) pertambahan kesempatan kerja sebesar 708 jiwa.

Industri semen (sektor 31) pertambahan kesem- patan kerja sebesar 61 jiwa, industri kapur dan ba- rang dari semen (sektor 32) pertambahan kesem- patan kerja sebesar 300 jiwa, industri logam bukan besi dan barang dari logam (sektor 34) pertambahan kesempatan kerja sebesar 64 jiwa, industri mesin- mesin dan perlengkapan listrik (sektor 35) pertam- bahan kesempatan kerja sebesar 489 jiwa, industri alat angkutan dan perbaikannya (sektor 36) pertam- bahan kesempatan kerja sebesar 736 jiwa, industri barang lainnya (sektor 37) pertambahan kesempatan kerja sebesar 223 jiwa.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

1. Berdasarkan analisis keterkaitan, menunjukkan bahwa pada sektor industri manufaktur (sektor 3-

37), lebih banyak sektor yang memiliki keterkaitan langsung ke belakang dibandingkan dengan keterkaitan langsung ke depan. Demikian juga yang terjadi pada angka keterkaitan total industri manufaktur terhadap sektor-sektor ekonomi kese- luruhan, lebih banyak sektor yang memiliki keter- kaitan total ke belakang dibandingkan dengan angka keterkaitan total ke depan. Artinya sektor- sektor industri manufaktur lebih banyak berperan dalam input multipliernya.

2. Sektor yang paling besar perubahan output-nya akibat kenaikan upah adalah industri rokok (sektor 14), kenaikan upah yang terjadi menyebabkan perubahan output sebesar 381.835,09 juta rupiah.

3. Untuk memenuhi perubahan output yang terjadi, maka dibutuhkan tambahan tenaga kerja untuk mengerjakannya. Dengan pendekatan supply side, dapat diketahui seberapa besar daya serap tenaga kerja pada masing-masing sektor. Kenaikan upah pada sektor industri manufaktur tahun 2005 menyebabkan bertambahnya output yang kemudian berdampak pada kesempatan kerja, yaitu bertambahnya kesempatan kerja di sektor industri manufaktur sebesar 43,529 jiwa. Kenaikan kesempatan kerja paling tinggi dicapai oleh industri perabot rumah tangga dari kayu (sektor 22) yaitu 6.358 jiwa.

4. Kenaikan upah tahun 2005 pada industri manu- faktur terbukti secara empiris mampu mening- katkan output dan kesempatan kerja di sektor industri manufaktur selama asumsi-asumsi yang menyertai tidak dilanggar, yaitu teknologi diang- gap tetap, tidak ada subtitusi , constant return to scale.

Saran

Berdasarkan hasil analsisis dan keseimpuan tersebut di atas, maka disarankan kepada pemerin- tah daerah untuk menjadikan sektor tersebut sebagai prioritas dalam pembangunan ekonomi. Selain itu, perlu didukung pula dengan kebijakan pada bidang pertanian yang baik dan yang lebih ramah terhadap lingkungan agar kelestarian alam tetap terjaga, karena keadaan alam sangat berpengaruh terhadap kelangsungan sektor pertanian dan industri.

DAFTAR PUSTAKA

Arfida BR., 2003, ”Ekonomi Sumber Daya Manusia”, Jakarta: Ghalia Indonesia,

Aris Ananta, 1990, ”Ekonomi Sumber Daya Manu- sia”, Jakarta: Lembaga Demografi UI.

Badan

Jawa

Pusat

Statistik

(BPS),

2003-2007,

Tengah Dalam Angka

Statistik,

Jawa Tengah 2004

Badan

Pusat

2005, Tabel Input-Output

Budiman Efdy W., 2004, “Dampak Kenaikan Upah Mimimum Pada Harga, Output, dan Kesem- patan Kerja serta Keterkaitannya Dengan Sektor Lain”, Tesis S2, Program Pasca Sarjana UNDIP Semarang, Tidak Dipublikasikan

Chalimah, 2004, “Analisis Input-Output sebagai Kerangka Strategi Pembangunan Industri Peng- olahan di Jawa Tengah”, Jurnal Dinamika Sosial Budaya, Vol.6, No.1

Firmansyah, 2006, “Operasi Matrix dan Analisis Input-Output (I–O) untuk Ekonomi”, Semarang:

BP UNDIP.

McEachern,

A.

William,

2000,

Ekonomi

Mikro

Pendekatan Kontemporer”, Penterjemah Sigit Triandaru, Jakarta: Salemba Empat

Miller, Roger LeRoy., dan Roger E. Meiners, 2000, “Teori Mikro Ekonomi Intermediet”, Penterjemah Haris M., Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Payaman J. Simanjuntak, 2001, ”Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia”, Jakarta: LPFE UI.

Payaman J. Simanjuntak, 1982, “Perkembangan Teori di Bidang Sumber Daya Manusia: Sumber Daya Manusia Kesempatan Kerja dan Pembangunan Ekonom”, Jakarta, LPFE-UI

Sadono Sukirno, 2002, ”Pengantar Teori Mikroeko- nomi”, Jakarta: Raja Grafindo Persada

Saptiningsih, 2005, ”Dampak Pengadaan Stok Beras Nasional oleh Pemerintah terhadap Output dan Kesempatan Kerja Indonesia”, (Penetapan HPP-Inpres No. 2 Tahun 2005 pada multiplier Tabel Input-Output 2000), Skipsi S1 pada FE UNDIP Semarang, Tidak Dipublikasikan

Wildan Syafitri, 2003, ”Analisa Produktifitas Tenaga Kerja Sektor Manufaktur di Indonesia”, Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia, Vol. 3

No.2.

DISPARITAS DAN SPESIALISASI INDUSTRI MANUFAKTUR KABUPATEN / KOTA DI JAWA TENGAH

Kusumantoro

Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang email; paktoro@plasa.com

ABSTRACT

The aim of this research is measure disparity and identification of specialization industry in the local region of central java province. This research use the local government data from BPS (Badan Pusat Statistik) from 2001 until 2006. Analizis of this research is index theil and regional specialization Index. The result of manufacture industry disparity in local government central java province show different level in the Theil entropy index. Identification result of local industry in the central java province show that industry activity is food industry (ISIC 15), garment Industry (ISIC 17), Manufacture industry (ISIC 20) and chemical industry (ISIC 24). The specialization in the same area, usualy have the same industry. Semarang region (Semarang and kudus) is specilized in garment industry (ISIC 18) and publiser (ISIC 22). Surakarta region (Sukoharjo and Karanganyar) is textile, garment and chemical specialization industry (ISIC 24) Keywords: disparity, industry specialized, Index Theil.

PENDAHULUAN

Pembangunan ekonomi dalam konteks regional (tata ruang atau spasial), pada dasarnya sama dengan pembangunan nasional secara keseluruhan. Inti dari pembangunan regional maupun nasional adalah untuk mengatasi permasalahan kemiskinan, pengangguran, ketidakmerataan dan sebagainya. Pokok permasalahan tersebut dapat dipecahkan melalui proses pembangunan dengan menentukan tingkat-tingkat tertentu, seperti pertumbuhan ekono- mi, kemiskinan, pengangguran dan lain-lain. Apabila pembangunan secara regional tersebut rata-rata baik, maka pembangunan dalam tingkat nasional juga baik, maka indikator tersebut merupakan dasar pangkal tolak dalam rangka menyusun skala prioritas kebijakan ekonomi nasional.

Dalam rangka mengembangkan potensi dae- rah, maka daerah harus mengembangkan sektor- sektor perekonomian sesuai dengan keunggulannya. Pengembangan sektor unggulan ini diharapkan bahwa sektor tersebut dapat menjadi produk yang menghasilkan keuntungan yang tinggi karena sektor tersebut biasanya mempunyai permintaan pada tingkat nasional atau permintaan ekspor yang tinggi. Daya saing suatu daerah akan terlihat melalui proses perdagangan antar daerah (inter-regional) maupun internasional. Kemudian dalam jangka panjang,

diharapkan sektor-sektor yang memiliki daya saing yang tinggi akan menjadi spesialisasi daerah.

Kebijakan pembangunan sektoral yang strategis adalah kebijakan pembangunan di sektor industri. Bahkan secara umum dapat dinyatakan bahwa hampir semua propinsi cenderung mengutamakan sektor industri. Sektor ini dipandang sebagai sektor yang memiliki tingkat produktivitas tinggi, sehingga dengan keunggulannya akan didapat nilai tambah tinggi. Oleh karena itu, tujuan menciptakan kesejah- teraan ekonomi masyarakat dapat lebih cepat terwujud dengan mengembangkan sektor ini. Sektor industri yang dipandang strategis adalah industri manufaktur, di mana industri tersebut dipandang sebagai pendorong atau penggerak utama pereko- nomian daerah. Sektor manufaktur menjadi media untuk memanfaatkan sumber daya alam yang melim- pah sehingga akan menyerap tenaga kerja yang besar.

Berdasarkan kontribusinya kepada PDRB, sek- tor industri di Propinsi Jawa Tengah menunjukkan kinerja yang baik. Namun tidak semua kabupaten/ kota di Propoinsi Jawa Tengah mempunyai kondisi tersebut. Dilihat dari distribusi tenaga kerja dan nilai tambah, hanya kabupaten/kota tertentu yang men- dominasi yaitu Kota Semarang, Kabupaten Sema- rang, Kabupaten Kudus, Kabupaten Sukoharjo,

Kabupaten Karanganyar. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Kuncoro (2002) bahwa di Jawa Tengah konsentrasi spasial industri hanya ada di daerah Semarang dan sekitarnya yang meliputi Kota dan Kabupaten Semarang, Kabupaten Kudus dan Sura- karta sekitarnya yang meliputi Kabupaten Karang- anyar, Kabupaten Sukoharjo. Kenyataan diatas menunjukkan masih adanya disparitas atau ketidak- merataan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain.

Analisis disparitas ini dianggap penting karena dengan analisis ini dapat diketahui seberapa besar tingkat pembangunan yang telah dicapai. Di samping itu, dengan analisis disparitas dapat mengetahui perbandingan tingkat pertumbuhan ekonomi dari masing-masing daerah, sehingga dapat diketahui daerah yang sudah berkembang dan daerah yang belum berkembang. Maka dari itu dapat dicari solusi atau upaya pengembangan daerah yang dianggap masih kurang berkembang.

Upaya mengembangkan ekonomi daerah khu- susnya sektor industri dapat dilakukan dengan mengetahui spesialisasi industri manufaktur daerah. Spesialisasi industri manufaktur daerah yang tumbuh atau berbentuk dari daya saing yang tinggi akan menyebabkan berkembangnya sektor tersebut. Pertumbuhan sektor spesialisasi meyebabkan output yang semakin tinggi dan kesempatan kerja yang semakin luas. Apabila hal tersebut terus berlang- sung, maka dengan sendirinya tujuan pembangunan regional dan nasional akan tercapai. Spesialisasi industri manufaktur pada umumnya berkaitan dengan keunggulan komparatif daerah di dalam biaya produksinya. Penentu ongkos produksi tidak lain adalah harga input yang digunakan dalam proses industri. Maka suatu daerah akan berspesialisasi pada suatu industri dimana harga input lebih rendah. Oleh karena itu, sumber daya yang ada di daerah akan sangat menentukan spesialisasi tersebut, apakah menghasilkan yang berbasis sumber daya alam, kapital, sumber daya manusia dan teknologi.

LANDASAN TEORI

Teori Pembangunan Ekonomi Regional

Perbedaan sumber daya yang dimiliki dari masing-masing daerah menyebabkan tingkat pem-

bangunan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain berbeda. Sebagai akibatnya akan timbul perbedaan kesejahteraan di berbagai daerah. Perbe- daan kesejahteraan tersebut dapat dibagi menjadi dua macam yaitu terdapat perbedaan kesejahteraan yang tidak begitu nyata atau tidak mencolok dikedua atau berbagai daerah. Kemudian yang kedua, yaitu bahwa dalam suatu wilayah pendapatan masing- masing daerah atau tingkat kesejahteraan antar dae- rah sangat berbeda sekali. Dengan adanya perbe- daan tingkat pembangunan antara daerah akan mengakibatkan perbedaan tingkat kesejahteraan an- tar daerah, sehingga apabila hal ini tidak diperhatikan akan menimbulkan dampak yang kurang mengun- tungkan bagi suatu wilayah/negara.

Adanya heterogenitas dan beragam karakteris- tik suatu wilayah menyebabkan kecenderungan ter- jadinya ketimpangan antar daerah dan antar sektor ekonomi suatu daerah. Ketimpangan pembangunan antara daerah yang datu dengan daerah yang lain pasti terjadi di setiap wilayah. Hal ini terjadi karena perbedaan sumber daya yang dimiliki antar daerah. Namun yang terpenting adalah adanya upaya untuk mengurangi ketimpangan antara daerah yang satu dengan yang lain dalam suatu wilayah. Bertitik tolak dari kenyataan itu, Ardani (1992) mengemukakan bahwa ketimpangan/kesenjangan antar daerah merupakan konsekuensi logis dari pembangunan dan merupakan suatu tahap perubahan dalam pem- bangunan itu sendiri.

Ketimpangan Regional

Masalah ketimpangan ekonomi antar daerah tidak hanya tampak pada wajah ketimpangan Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa, tetapi juga terjadi di daerah lain. Berbagai program telah dikembangkan untuk menjembatani ketimpangan antar daerah yang sudah dilakukan, namun belum mencapai hasil yang optimal. Alokasi penganggaran pembangunan seba- gai instrumen untuk mengurangi ketimpangan ekonomi tersebut tampaknya perlu lebih diperhatikan lagi di masa mendatang.

Strategi alokasi anggaran itu harus mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menjadi alat mengurangi kesenjangan atau ketimpangan regional. Ketimpangan ini disebabkan oleh ketidakmerataan anugerah awal diantara

pelaku-pelaku ekonomi dan pelaksanaan pemba- ngunan yang lebih bertumpu pada aspek pertum- buhan (Dumairy, 1996:66).

Dengan kata lain, sumber daya alam yang dimiliki antar daerah misalnya modal, keahlian/ ketrampilan, teknologi, bakat atau potensi antar daerah tidak sama. Ketidaksetaraan anugerah awal dapat berakibat pada pembangunan menjadi tidak seimbang di mana ada pelaku ekonomi yang tumbuh cepat dalam pembangunan dan ada pelaku ekonomi yang lambat dalam pembangunan. Hal ini meru- pakan permasalahan yang pada gilirannya timbul masalah ketimpangan di berbagai aspek terutama ketimpangan regional.

Ukuran Ketimpangan Regional

a. Indeks Williamson: ∑ ( Υ ) 2 f i /n Υ i − Vw
a. Indeks Williamson:
∑ (
Υ
)
2
f i /n
Υ i −
Vw =
Υ

Keterangan :

Vw

= Indeks Ketimpangan Regional Williamson

Yi

= Pendapatan perkapita di daerah i

Y

= Pendapatan perkapita rata-rata seluruh daerah

fi

= Jumlah penduduk di daerah i

n

= Jumlah penduduk wilayah seluryh daerah

uji

sebagai berikut.

Hasil

Indeks

Williamson

menunjukkan

kriteria

Mendekati 0-0,34 termasuk tingkat kesenjangan

rendah Antara 0,35-0,80 termasuk timgkat kesenjangan sedang

Di

atas

0,80

termasuk

tingkat

kesenjangan

sangat tinggi

Dengan berbagai cara yang berbeda, untuk me- mahami tingkat ketimpangan atau kemerataan regional dapat dilakukan dengan analisis performan- ce ekonomi antar daerah dengan mengklasifikasi- kannya berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita regionalnya. Atas dasar dua variabel tersebut, dengan menggunakan nilai rata- ratanya, pembangunan ekonomi daerah dapat dikelompokan menjadi empat yaitu: daerah yang memiliki tingkat pendapatan rendah dan pertum-

buhan ekonomi rendah (low income low growth), daerah yang memiliki tingkat pendapatan perkapita rendah dan pertumbuhan ekonomi tinggi (low income high growth), daerah yang memiliki tingkat penda- patan perkapita tinggi dan pertumbuhan ekonomi tinggi high income low growth), daerah yang memiliki tingkat pendapatan perkapita tinggi dan pertumbuhan ekonomi tinggi (high income high growth).

Dengan cara yang sama masih ada pendekatan lain yang dapat digunakan untuk memahami struktur pertumbuhan ekonomi sebagai analisis. Melalui analisis ini dapat diperoleh empat klasifikasi daerah yang masing-masing memiliki karakteristik pertum- buhan ekonomi yang berbeda yaitu: Daerah bertum- buh cepat (rapid growth region), Daerah tertekan (retarded region), Daerah sedang bertumbuh (growing region), Daerah relatif tertinggal (backward region). (Sjahfrizal, 1997)

b. Indeks Theil

Indeks Entropi Theil (Theil entropy index of inequality) pada dasarnya merupakan aplikasi konsep teori informasi dalam mengukur kesenjangan ekonomi dan konsentrasi industri. Kelemahan utama indeks lain yang mengukur konsentrasi/dispersi secara spasial adalah bahwa mereka hanya menya- jikan satu nilai tunggal pada satu titik waktu. Telah lama diketahui bahwa setiap indeks didesain untuk berbagai tujuan dan berdasarkan beberapa asumsi penting.

Tidak seperti indeks-indeks yang lain, indeks theil memungkinkan kita untuk membuat perban- dingan selama waktu tertentu dan menyediakan secara rinci dalam sub-unit geografis yang lebih kecil, yang pertama akan berguna untuk mengana- lisis kecenderungan konsentrasi geografis selama periode tertentu, sedang yang kedua juga penting ketika kita mendiskripsikan yang lebih rinci mengenai kesenjangan spasial, sebagai contoh kesenjangan antar daerah dalam suatu negara dan antar sub-unit daerah dalam suatu kawasan (Kuncoro, 2002).

Indeks Entropi Theil menawarkan beberapa kelebihan dibandingkan dengan indeks konsentrasi spasial yang lain. Keunggulan utama ini adalah bahwa pada suatu titik waktu, indeks ini menye- diakan ukuran derajat konsentrasi (dispersi) distribusi spasial pada sejumlah daerah dan sub-daerah dalam

suatu negara. Barangkali karakteristik yang paling signifikan dari indeks entropi adalah bahwa indeks ini dapat membedakan kesenjangan “antar daerah” (between-region inequality) dan kesenjangan ”dalam satu daerah” (within-region-region inequality). Lebih Khusus lagi dalam konteks Indonesia, indeks tersebut dapat dinyatakan dalam:

N

I(y) =

Di mana:

i = 1

Y log

i

Y

i

N

(1)

I(y) = Indeks ketimpangan regional keseluruhan atas kesenjangan spasial Indonesia;

Y i

= Pangsa propinsi i terhadap total tenaga kerja industri manufaktur Indonesia;

N

= Jumlah keseluruhan provinsi yang ada di Indonesia.

Untuk mengukur kesenjangan spasial antar pulau di Indonesia, kita dapat memilah persamaan 1 ke dalam:

I(y) =

R

= 1

r

Di mana:

Y log

r

 

Y

r

+

R

Y

y

1

log

y

1

r

N

r

/N

 

r

=

1

r

i

ε

1

Y

r

N

r

/ Y

(2)

Yr

= Pangsa semua di dalam pulau;

Nr

= Jumlah di dalam Propinsi dalam pulau;

R

= Jumlah keseluruhan pulau-pulau utama di Indonesia.

Bagian pertama dalam persamaan 2 adalah meng- ukur derajat kesenjangan tenaga kerja menurut pangsa pulau di Indonesia, sedangkan bagian kedua mengukur derajat perbedaan dalam pangsa provinsi dalam masing-masing pulau yang di beri bobot dengan pangsa keseluruhan pulau di Indonesia. Indeks entropy termasuk dekomposisi ke dalam kesenjangan spasial antar pulau dan dalam satu pulau. Nilai indeks entropy yang lebih rendah berarti menunjukkan adanya kesenjangan yang rendah, dan sebaliknya (Kuncoro, 2002).

c. Indeks Gini / Koefisien Gini

Pengukuran tingkat ketimpangan atau ketidak- merataan pendapatan yang relatif sangat sederhana pada suatu negara dapat diperoleh dengan meng- hitung rasio bidang yang terletak antara garis

diagonal dan kurva Lorentz dibagi dengan luas separuh bidang dimana kurva Lorentz itu berada. Pada gambar 1, rasio yang dimaksud adalah perban- dingan bidang A terhadap total segitiga BCG. Rasio inilah yang dikenal sebagai rasio konsentrasi Gini (Gini concentration ratio) yang seringkali disingkat dengan istilah Koefisien Gini (Gini coefficient). Koefisien Gini adalah kurva yang mengukur ketidak-

merataan atau ketimpangan (pendapatan/kesejah- teraan) agregat (secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna). Walaupun kemungkinannya sangat kecil bahwa tingkat peme- rataan akan mencapai angka 0 dan juga kecil kemungkinannya tingkat ketimpangan akan menca- pai angka 1.

D GARIS Persentase PEMERATAAN pendapatan KURVA LORENZ B Persentase penduduk C
D
GARIS
Persentase
PEMERATAAN
pendapatan
KURVA LORENZ
B
Persentase penduduk
C

Gambar 1: Perkiraan Koefisien Gini

Pada prakteknya, angka ketimpangan untuk negara-negara yang ketimpangan pandapatan di kalangan penduduknya dikenal tajam berkisar antara 0,50 hingga 0,70, sedangkan untuk negara-negara yang distribusi pendapatannya dikenal relatif paling baik (paling merata), berkisar antara 0,20 sampai 0,35. Koefisien Gini merupakan informasi yang bermanfaat untuk menunjukkan tingkat dan peru- bahan distribusi pendapatan berdasarkan bentuk- bentuk kurva Lorentz yang ada di masa lalu dan saat ini (Todaro, 2000).

Teori Basis Ekonomi

Teori basis ekonomi (economic base theory) menyatakan bahwa faktor penentu utama pertum- buhan ekonomi suatu daerah adalah berkaitan

dengan permintaan akan barang dan jasa dari luar daerah, seperti penggunaan sumber daya lokal yakni tenaga kerja dan bahan baku yang menghasilkan kekayaan daerah dan dapat menciptakan peluang kerja (job creation). Teori basis ekonomi dapat juga digunakan untuk mengidentifikasikan dan menentu- kan apakah suatu sektor atau industri merupakan sektor/industri basic atau non basic. Untuk menen- tukan suatu sektor basic atau non basic melalui pendekatan Location Quotient (Arsyad, 1999).

Location Quotient (LQ) adalah teknik yang untuk mengidentifikasi atau mengukur konsentrasi industri perekonomian lokal dibandingkan dengan perekonomian yang lebih luas. Nilai LQ>1 artinya perekonomian lokal atau daerah mempunyai spe- sialisasi atas industri tersebut dibandingkan pereko- nomian yang lebih luas. Sebaliknya nilai LQ<1 maka suatu daerah tidak memiliki spesialisasi atas suatu industri (Blakely, 2002), (Hayter, 2000), (Hoover,

1971).

Semakin tinggi permintaan barang dan jasa dari suatu daerah tertentu, maka akan semakin tinggi pula pendapatan yang diperoleh dari daerah terse- but. Oleh karena itu, setiap daerah harus berusaha untuk mengembangkan spesialisasinya agar dapat memperoleh pendapatan yang tinggi dari pening- katan penjualan barang dan jasa ke luar daerah. Selain itu dengan adanya peningkatan permintaan barang dan jasa ini, maka dengan sendirinya setiap daerah akan dapat menciptakan lapangan kerja.

Penelitian Terdahulu

Yunita (2006) melakukan penelitian di Jawa Tengah tentang disparitas industri dengan tahun pengamatan 2001–2003. Alat analisis yang diguna- kan Indeks Theil, Indeks Spesialisasi Regional dan Koefisien Lokasi Gini. Hasil penelitiannnya Di Jawa Tengah terjadi ketimpangan tenaga kerja Industri Manufaktur.

Suharto (2002) melakukan penelitian di Indone- sia tentang disparitas industri dengan tahun pengamatan 1993–1996. Alat analisis yang diguna- kan Indeks Theil, Indeks Spesialisasi Regional, Koefisien Lokasi Gini dan koefisien Gini. Hasil penelitiannnya berdasarkan indeks Theil menunjuk- kan ketimpangan antar pulau utama mendominasi

ketimpangan total di Indonesia. Ketimpangan antar pulau menyumbang rata-rata lebih dari 95%.

Soepono (2001) melakukan penelitian di Kabu- paten Badung Provinsi Bali dengan tahun peng- amatan 1999. Alat analisis yang digunakan Location Quotient. Hasil penelitiannnya dengan menggunakan alat analisis LQ, menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh sektor listrik, gas dan air, bangunan, per- dagangan/hotel, pengangkutan, keuangan/asuransi dan jasa kemasyarakatan merupakan sektor basis. Sektor pertanian, tambang dan penggalian serta industri adalah sektor-sektor non basis.

Kerangka Pemikiran

industri adalah sektor-sektor non basis. Kerangka Pemikiran Gambar 2: Kerangka Pemikiran Penelitian METODE PENELITIAN
industri adalah sektor-sektor non basis. Kerangka Pemikiran Gambar 2: Kerangka Pemikiran Penelitian METODE PENELITIAN
industri adalah sektor-sektor non basis. Kerangka Pemikiran Gambar 2: Kerangka Pemikiran Penelitian METODE PENELITIAN
industri adalah sektor-sektor non basis. Kerangka Pemikiran Gambar 2: Kerangka Pemikiran Penelitian METODE PENELITIAN
industri adalah sektor-sektor non basis. Kerangka Pemikiran Gambar 2: Kerangka Pemikiran Penelitian METODE PENELITIAN

Gambar 2: Kerangka Pemikiran Penelitian

METODE PENELITIAN

Jenis Data dan Sumber Data

Data yang dipergunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder, yang bersumber dari Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) khususnya data tahun 2001 sampai dengan tahun 2006. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah tenaga kerja, jumlah perusahaan, nilai tambah sektor manufaktur besar dan sedang Kabupaten/Kota di Jawa Tengah dengan menggunakan data industri manufaktur ISIC dua digit.

Definisi Operasional Variabel

1. Tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja yang terserap oleh industri manufaktur besar dan sedang dengan pengelompokan ISIC 2 digit.

2. Jumlah perusahaan industri manufaktur adalah jumlah perusahaan industri manufaktur yang dikelompokkan menurut kelompok industri di kabupaten/kota.

3. Industri manufaktur besar dan sedang adalah industri manufaktur yang memiliki jumlah tenaga kerja antara 20–99 dan yang lebih besar atau sama dengan 100 orang .

4. Nilai tambah adalah selisih antara nilai output dikurangi nilai input.

Alat Analisis

Alat analisis yang digunakan untuk estimasi dan pengukuran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Indeks Ketimpangan Regional (Indeks Theil)

Alat analisis ini untuk mengukur ketimpangan regional antar kabupaten/kota pada sektor industri manufaktur di Jawa Tengah. Secara umum diakui bahwa perdagangan mendorong terjadinya konsen- trasi aktivitas industri manufaktur secara geografis (Kuncoro, 2001). Krugman (1991) juga mengemu- kakan bahwa secara sistematis terjadi pemusatan aktivitas manufaktur secara spasial, sehingga spe- sialisasi membawa implikasi ketimpangan distribusi aktivitas manufaktur secara spasial. Untuk mengukur ketimpangan sektor manufaktur (pola konsentrasi) regional digunakan indeks ketimpangan Theil dengan rumusan sebagai berikut (Kuncoro, 2002: 89)

N

I(y) = Y log

i

i = 1

Di mana:

Y

i

N

(3)

I(y) =

Kabupaten/Kota seluruh Jawa Tengah, Y i = Pangsa penyerapan tenaga kerja sektor

manufaktur Kabupaten/Kota terhadap Ja- wa Tengah,

N = Jumlah Kabupaten/Kota di Jawa Tengah.

Indeks ketimpangan regional untuk seluruh

Indeks ketimpangan Theil dapat didekomposisi sesuai tujuannya. Dalam kasus ini digunakan untuk mendeteksi ketimpangan di dalam Karesidenan maupun antar Karesidenan, sehingga indeks dekom- posisi sebagai berikut:

R

I(y) =

r

=

1

Y log

r

Y

r

R

/ Y

+

Y

r

r

=

1

i

ε

1

y

1

y

1

N

r

/N

Y

r

N

r

log

r

(4)

(Mudrajad Kuncoro, 2002: 89)

Dimana:

Yr = Pangsa

tenaga

kerja

semua

kota di dalam Karesidenan

Kabupaten/

Nr = Jumlah Kabupaten/kota di dalam Karesi- denan

di

R = Jumlah

keseluruhan

Kabupaten/kota

Propinsi Jawa Tengah.

Bagian pertama dalam persamaan 4 (bagian kiri/first term), mengukur derajat ketimpangan antar karesidenan, sedangkan bagian kedua (persamaan sebelah kanan/second term) mengukur derajat ketimpangan antar kabupaten di dalam karesidenan. Nilai indeks semakin rendah berarti ketimpangan yang rendah atau sebaliknya.

a. Indeks Spesialisasi Regional

Untuk mengidentifikasi spesialisasi industri manufaktur besar dan sedang digunakan indeks spesialisasi regional. Indeks ini lazim digunakan dalam melihat spesialisasi regional. Pada dasarnya indeks ini merupakan alat ukur yang disebut analisis location quotient (LQ). Jika indeks spesialisasi regio- nal nilai lebih dari satu (>1), berarti sektor /industri tersebut memiliki daya saing dibanding industri sejenis pada wilayah yang dijadikan pembanding, misalnya provinsi terhadap negara dan sebagainya.

indeks tersebut adalah sebagai berikut:

Rij = [Eij/Σi Eij] / | Σj Eij/Σi Σj Eij) (5)

Dimana:

Rij = Koefisien spesialisasi reigonal; Eij = Kesempatan kerja di kelompok industri manufaktur i di daerah j; Σi Eij = Total kesempatan kerja sektor manu- faktur di daerah j; Σj Eij = Total kesempatan kerja dikelompok in- dustri manufaktur i di seluruh Jawa

Tengah. Σi Σj Eij = Total kesempatan kerja sektor manufak- tur di seluruh Jawa Tengah.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Disparitas Industri Manufaktur Besar dan Sedang

Tahun 2001 yang menduduki tiga peringkat atas masing-masing kota Semarang (13,58%), kabupaten Kudus (11,71%) dan kabupaten Sema- rang (9,20%). Tahun 2003, kota Semarang dan kabupaten Kudus dan Kabupaten Semarang tidak bergeser pada posisinya masing 13,89% dan 12,41% pada peringkat pertama dan kedua. Peringkat ketiga diduduki oleh kabupaten Semarang (8,92%).Tahun 2006 posisi tiga besar tidak bergeser dari tahun– tahun sebelumnya masing-masing 12,75%, 12,13%, 9,97% untuk kota Semarang, kabupaten Kudus, kabupaten Semarang. Gambaran distribusi IBM di Propinsi Jawa Tengah dilihat dari tenaga kerja dapat dikatakan terkonsentrasi pada tiga kabupaten/kota yaitu kota Semarang, kabupaten Kudus dan kabupaten Semarang (gambar 1)

Aspek lain untuk melihat distribusi IBM adalah sumbangan nilai tambah (value added) dari kebe- radaan sektor manufaktur tersebut. Nilai tambah adalah selisih dari nilai output sektor manufaktur dikurangi dengan biaya inputnya (bahan baku). Ditinjau dari sumbangan nilai tambah sektor manu- faktur besar dan menengah , juga terjadi pemusatan di daerah-daerah tertentu.

Tahun 2001, tiga besar penyumbang nilai tambah untuk IBM di Propinsi Jawa Tengah adalah kota Kudus (18,47%), kota Semarang (14,90%), kabupaten Sragen (14,86%). Tahun 2003, ada perubahan untuk kabupaten/kota yang semula nilai tambahnya tertinggi namun secara prosentase berkurang, yang disebabkan telah diberlakukannya otonomi daerah meskipun tidak semua kabupaten/ kota sumbangan nilai tambahnya turun. Hal yang menarik pada tahun 2003, kabupaten Sragen justru mengalami penurunan nilai tambah yang semula 14,86% menjadi 1,75%. Penurunan ini diperoleh dari sub sektor barang galian bukan logam dan industri kayu, bambu, rotan dan sejenisnya yang mengalami penurunan drastis. Posisi ketiga kabupaten Sragen yang mengalami penurunan digantikan oleh kabu- paten Semarang, pada tahun 2006 Kabupaten Kudus

mengalami penurunan yang sangat drastis terutama nilai tambah untuk industri tekstil, pakaian jadi dan kulit. Kabupaten Kudus persentase nilai tambah IBM menjadi 13,47% menduduki urutan kedua. Urutan pertama, kota Semarang mengalami kenaikan men- jadi 25,38%. Kenaikan nilai tambah kota Semarang disebabkan sub sektor andalan yaitu industri makanan, minuman, pakaian jadi, dan juga kontribusi industri kertas dan barang dari kertas, percetakan (gambar 2). Kabupaten Kudus dan kota Semarang tampak menonjol dibandingkan kabupaten/kota lainnya.

Distribusi Industri Manufaktur di Jawa Tengah dengan menggunakan Indeks Theil dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Indeks Kesenjangan Industri Manufaktur di Jawa Tengah

Tahun

Antar Karesiden ( 2 )

Dlm Karesidenan ( 3 )

Total

Pangsa

(

1

)

( 4 )

( 5 )

2001

2,06

0,15

2,21

0,93

2003

2,20

0,18

2,39

0,92

2006

2,03

0,19

2,22

0,91

Sumber: Data sekunder diolah

Dari Tabel 1 dapat disimpulkan bahwa kesen- jangan antar karesidenan lebih dominan, yaitu menyumbang sekitar 93% dari total kesenjangan dibandingkan kesenjangan dalam karesidenan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan Kuncoro (2002) yang menghasilkan kesimpulan kesenjangan industri antar pulau di Indonesia lebih tinggi dibandingkan kesenjangan dalam pulau (antar Propinsi). Nilai indeks kesenjangan antar karesi- denan berkisar antara 2,03 sampai dengan 2,20. Kesenjangan antar karesidenan yang besar, merupa- kan indikasi terkonsentrasinya aktivitas manufaktur di karesidenan–karesidenan tertentu.

Berdasarkan nilai indeks Theil, untuk kesen- jangan dalam karesidenan (tabel 2), karesidenan Semarang mempunyai nilai terbesar dibandingkan karesidenan lainnya. Hal ini disebabkan Kabupaten/ kota yang berada di karesiden Semarang dilihat pangsa distribusi tenaga kerja industri mafaktur terhadap total tenaga kerja industri manufaktur Jawa Tengah telah terjadi kesenjangan.

16 15 2001 2003 2006 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5
16
15
2001
2003
2006
14
13
12
11
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
Prosentase

Sumber : BPS, Survey IBM, diolah

Kabupaten / Kota

Gambar 1. Distribusi IBM Menurut Tenaga Kerja di Propinsi Jawa Tengah 2001 - 2006

28 27 26 25 24 23 22 2001 21 20 19 2003 18 17 16
28
27
26
25
24
23
22
2001
21
20
19
2003
18
17
16
2006
15
14
13
12
11
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
Prosentase
14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Prosentase

Kabupaten / Kota

Sumber : BPS, Survey IBM, data diolah

Gambar 2 Distribusi IBM Menurut Nilai tambah di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2001 - 2006

Tabel 2. Kesenjangan Industri Manufaktur dalam Karesidenan

Tahun

Banyumas

Kedu

Surakarta

Pati

Semarang

Pekalongan

2001

0,0046

0,0064

0,0313

0,0435

0,0576

0,0099

2003

0,0064

0,0054

0,0325

0,0480

0,0545

0,0348

2005

0,0064

0,0035

0,0278

0,0462

0,0599

0,0412

Sumber: Data sekunder (diolah)

Spesialisasi

Industri

Manufaktur

Besar

dan

Sedang

Spesialisasi industri pada kabupaten/kota di Propinsi Jawa Tengah tahun 2001–2006 dihitung dengan menggunakan indeks spesialisasi regional seperti pada persamaan-1. Gambaran spesialisasi industri kabupaten/kota menunjukkan di mana aktivitas ekonomi yang menonjol dari sudut tenaga kerja didominasi oleh industri makanan, minuman (ISIC 15), industri tekstil (ISIC 17), industri kayu, barang-barang dari kayu dan anyaman (ISIC 20) serta industri kimia dan barang-barang dari bahan kimia (ISIC 24). Hasil penelitian ini sejalan dengan Kuncoro (2002) bahwa di Jawa Tengah, Semarang Extended Industrial Areas (EIA) dan Surakarta EIA memiliki pola struktur industri yang relatif sama. Industri tekstil-pakaian-sepatu dan industri makanan di kedua daerah ini memainkan peranan penting. Perbedaannya yaitu bahwa pangsa tenaga kerja industri kayu dan furnitur lebih menonjol di Semarang EIA, sedang pangsa industri kimia lebih substansial di Surakarta EIA.

Temuan lain dari indeks tersebut adalah masih ada beberapa industri yang sangat jarang sekali menjadi spesialisasi industri daerah yaitu industri batu bara, pengilangan minyak bumi, nuklir (ISIC 23), logam dasar (ISIC 27) dan radio, televisi dan pera- latan komunikasi (ISIC 32) dan kendaraan bermotor (ISIC 34).

Tahun 2001 yang menjadi daerah industri adalah kabupaten Kudus, kabupaten Semarang, kabupaten Karanganyar dan kota Semarang. Kabupaten Kudus mempunyai spesialisasi pada sub sektor industri tembakau (ISIC 16), industri kertas (ISIC 21) ,industri penerbitan, percetakan (ISIC 22), dan industri radio, televisi (ISIC 32). Sedangkan Kota Semarang mempunyai spesialisasi pada industri industri penerbitan, percetakan (ISIC 22), dan industri logam dasar (ISIC 27). Tahun 2003 yang menjadi daerah industri pertama, kota Semarang

dengan spesialisasi pada industri kimia (ISIC 24), industri logam dasar (ISIC 27) dan industri barang dari logam (ISIC 28), industri pakaian jadi (ISIC 18), industri kulit (ISIC 19), industri kertas (ISIC 21) dan alat-alat angkutan (ISIC 35). Kedua, kabupaten Kudus dengan spesialisasi pada industri tembakau (ISIC 16) dan industri kertas (ISIC 21), industri penerbitan (ISIC 22) serta industri radio, televisi (ISIC 32). Hal ini karena didukung oleh perusahaan- perusahaan besar seperti PT Pura Barutama yang bergerak di industri kertas dan percetakan, PT Djarum Kudus di industri rokok dan Pabrik radio dan televisi yang produknya berlabel Polytron.

Daerah industri berikutnya adalah Kabupaten Sukoharjo memiliki spesialisasi industri tekstil (ISIC 17), pakaian jadi (ISIC 18) industri kertas (ISIC 21) dan industri kimia (ISIC 24). Keempat, kabupaten Semarang dengan spesialisasi pada industri tekstil (ISIC 17) dan industri daur ulang (ISIC 37). Tahun 2006 untuk spesialisasi di daerah industri selain kabupaten Karanganyar tidak banyak perubahan. Kabupaten Karanganyar mempunyai spesialisasi pada industri tekstil (ISIC 17), industri kimia (ISIC 24) pada tahun 2003, industrinya mengalami penurunan dalam hal nilai tambahnya sehingga tidak masuk kategori daerah industri sesuai kriteria. Hasil pene- muan lainnya adalah spesialisasi daerah industri yang letaknya berdekatan mempunyai kesamaan.

SIMPULAN

Disparitas industri manufaktur besar dan sedang pada kabupaten/kota di Jawa Tengah menunjukkan ketidakmerataan baik dilihat dari grafis maupun dengan indeks Theil. Hasil identifikasi spesialisasi industri pada kabupaten/kota di Propinsi Jawa Tengah menunjukkan bahwa aktivitas industri yang menonjol adalah industri makanan, minuman (ISIC 15), industri tekstil (ISIC 17), industri kayu, barang-barang dari kayu dan anyaman (ISIC 20) serta industri kimia dan barang-barang dari bahan

kimia (ISIC 24). Spesialisasi industri di daerah industri yang lokasinya berdekatan mempunyai kesamaan spesialisasi. Kota Semarang dan sekitar- nya (Kabupaten Semarang dan Kudus) mempunyai spesialisasi industri pakaian jadi (ISIC 18) dan penerbitan, percetakan (ISIC 22). Kota Surakarta sekitarnya (Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar) mempunyai spesialisasi industri tekstil (ISIC 17), pakaian jadi (ISIC 18) dan kimia (ISIC 24).

DAFTAR PUSTAKA

Ardani, Amirudin, 1992, Analysis of Regional Growth and Disparity: The Impact Analysis of the Inpres Project on Indonesian Development, Diserta- tion, Unpublised, The Faculty of The University of Pennsylvania.

Arsyad, Lincolin, 1999, Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah, Yogyakarta:

BPFE

Badan

2006, Survey Industri Besar dan Menengah tahunan.

Blakely, Edward, 2002, Planning Local Economic Development Theory and Practice, New Delhi:

Pusat

Statistik,

Statistik

Indonesia

2001–

Sage Publication

Dumairy, 1996, Perekonomian Indonesia, Jakarta:

Erlangga

Hayter, Roger, 2000, The Dynamics of Industrial Location: The Factory, The Firm and The Production System, Chichester: John Wiley & Son.

Hoover, Edgar, M, 1971, “An Introduction to Regional Economics, New York: Alfred A, Knopf, Inc.

Isard, W, 1975, Introduction to Regional Science, Prentice- Hall, inc. Englewood, New Jersey

Krugman, P, 1980, “Scale Economies, Product Diffe- rentiation and The Pattern of Trade”, American Economic Review, 70, 950–9.

Krugman, P, 1991, Geography and Trade, Mass, Cambridge: MIT Press.

Kuncoro, ,M , 2002, Analisis Spasial dan Regional , Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia, Yogyakarta: AMP YKPN

Syafrizal, 1997, “Pertumbuhan Ekonomi dan Ketim- pangan Regional Wilayah Indonesia Bagian Barat ”, Prisma, 3 Maret.

Shields, Martin, 2003, “Tool 3 Use Location Quo- tients to Identify Local Strengths, Opportunities and industry Clusters“ Cardi Cornell. www.cardi.cornelll.edu/.

Suharto, 2002, “Disparitas dan Pola Spesialisasi Kesempatan Kerja Industri Manufaktur Regional Indonesia”, Tesis, Program Studi IESP PPS- UGM Yogyakarta, Tidak dipublikasikan.

Todaro, Michael P, 2000, Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Jakarta: Erlangga.

Information

Theil,

Henry,

1967,

Economic

sand

Theory, Amsterdam: North Holland Publishing Company.

Tulus T H Tambunan, 2001, Transformasi Ekonomi di Indonesia, Teori dan Penemuan Empiris, Jakarta: Salemba Empat.

Yunita, Vina, 2006, “Disparitas dan Pola Spesialisasi Kesempatan Kerja Industri Manufaktur di Jawa Tengah”, Skripsi, STIE Stikubank, Semarang, Tidak dipublikasikan.

ANATOMI MAKRO EKONOMI REGIONAL:

STUDI KASUS PROVINSI DIY

Ahmad Ma’ruf

Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta email: macrov_jogja@yahoo.com

ABSTRACT

The purpose of this study is to determine the level of economic growth, a description of the structure of regional economy, and analysis of economic sectors of potential, the level of investment and economic stability in DIY (Yogyakarta as Special Region). The results of this study can be used as input and evaluation of regional development planning. The data used in the form of secondary data are analyzed by descriptive statistics and quantitative analysis. Analysis tool with the Shift Share Analysis (SS), Analysis of Location Quotient (LQ) which consists of the static location quotient (SLQ) and dynamic location quotient (DLQ), and analysis of Incremental Capital Output Ratio (ICOR). The study concludes DIY macroeconomic dynamics is in line with the national economic pattern, economic growth, inflation, investment, exports and imports and consumption. Sectors that have the largest contribution are trade, hotels and restaurants, whereas the potential to be developed is the agricultural sector, processing industries and services. Keywords: economic growth, potential sectors, economic stability.

PENDAHULUAN

Sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam melaksanakan pembangunan yang mengarah ke desentralisasi, maka proses pembangunan di daerah hendaknya disesuaikan dengan potensi, kondisi dan kemampuan masing-masing daerah, di samping tidak terlepas dari kondisi makro ekonomi nasional dan dinamika ekonomi internasional. Potensi, kondisi dan kemampuan ekonomi regional untuk perenca- naan pembangunan dapat dipetakan melalui analisis kondisi makro ekonomi dan proyeksinya di masa datang.

Pokok masalahnya adalah bahwa telaah atas keseluruhan aspek (anatomi) makro ekonomi dapat menunjukkan seberapa jauh keberhasilan pemba- ngunan ekonomi di suatu daerah, dalam studi ini mengambil kasus Provinsi DIY. Pemahaman atas kondisi makro ekonomi tersebut secara mendalam dapat digunakan sebagai referensi kebijakan pemba- ngunan suatu daerah. Beberapa indikator yang digunakan dalam telaah ini antara lain: pertumbuhan ekonomi yang tercermin dalam pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) baik dari sisi produksi maupun pengeluaran; pergeseran struktur ekonomi daerah dan perkembangan investasi. Sementara itu, untuk mengetahui kondisi stabilitas

perekonomian daerah digunakan perkembangan laju inflasi.

Maksud dari analisis anatomi makro ekonomi regional, studi kasus di Provinsi DIY ini adalah untuk mengetahui deskripsi ekonomi DIY secara makro yang dapat digunakan sebagai input dalam perenca- naan pembangunan daerah. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi, deskripsi struktur perekonomian daerah, dan analisis sektor-sektor ekonomi yang potensial, tingkat inves- tasi dan kondisi stabilitas perekonomian di DIY.

LANDASAN TEORI

Teori Pertumbuhan Adam Smith

Adam Smith menjelaskan proses pertumbuhan ekonomi berdasarkan penentu utamanya yaitu per- tumbuhan keluaran produksi total. Sistem produksi dibagi menjadi tiga bagian yaitu; sumber daya alam, sumber daya manusia, dan stok kapital. Sumber da- ya alam yang tersedia merupakan wadah mendasar dari kegiatan produksi. Sementara itu, sumber daya manusia dianggap sebagai unsur yang pasif. Jumlah penduduk akan menyesuaikan diri dengan kebutuh- an akan tenaga kerja yang ada. Berapa pun jumlah tenaga kerja yang diperlukan dalam proses produksi

akan tersedia melalui proses peningkatan atau penu- runan jumlah penduduk. Sementara itu, stok kapital bersifat aktif dalam menentukan tingkat keluaran produksi.

Selanjutnya, peranan akumulasi kapital dalam proses pertumbuhan dijelaskan melalui teori spesia- lisasi dan pembagian kerja. Smith berpendapat bahwa stok kapital (K) mempunyai dua pengaruh terhadap tingkat keluaran produksi total (Q). Penga- ruh pertama, pengaruh langsung yaitu K mempenga- ruhi Q secara langsung karena pertambahan K yang diikuti pertambahan tenaga kerja akan meningkatkan Q. Pengaruh kedua, pengaruh tidak langsung berupa peningkatan produktivitas per kapita melalui tingkat spesialisasi dan pembagian kerja yang lebih tinggi. Semakin besar stok kapital, semakin besar kemung- kinan dilakukannya spesialisasi dan pembagian kerja sehingga produktivitas per pekerja pun semakin meningkat.

Teori Pertumbuhan David Ricardo

Beberapa asumsi yang digunakan Ricardo untuk menjelaskan teorinya adalah jumlah faktor produksi (tanah) tidak bisa bertambah (terbatas jumlahnya). Peningkatan (penurunan) tenaga kerja ditentukan oleh tinggi-rendahnya upah minimal atau tingkat upah alamiah (natural wage). Akumulasi kapital terjadi apabila tingkat keuntungan yang diper- oleh pemilik kapital berada di atas tingkat keun- tungan minimal. Adanya kemajuan teknologi. Sektor pertanian menjadi sektor dominan.

Ketersediaan jumlah tanah yang terbatas ber- akibat pada menurunnya produk marginal yang dihasilkan oleh masyarakat (sebagai salah satu masukan produksi). Konsep ini disebut sebagai law of diminishing return. Tingkat keluaran produksi ditentukan oleh jumlah faktor produksi yang tersedia yakni K 0 , L 0 , dan T 0 . Kemajuan teknologi dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja maupun produktivitas kapital. Kemajuan teknologi merupakan cara untuk menghambat law of diminishing return.

Teori Pertumbuhan Schumpeter

Schumpeter berpendapat bahwa penggerak perkembangan ekonomi adalah suatu proses yang dikenal dengan istilah inovasi. Terdapat perbedaan

pengertian antara pertumbuhan ekonomi dan pengembangan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan peningkatan keluaran produksi masya- rakat yang disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi masyarakat tanpa adanya perubahan teknologi. Perkembangan ekonomi merupakan kenaikan keluaran produksi yang disebabkan oleh adanya inovasi yang dilakukan oleh para wiraswasta. Inovasi menyangkut perbaikan kualitatif dari sistem ekonomi yang mencakup penemuan produk baru dan pembukaan pasar baru.

Inovasi mempunyai tiga aspek penting, yaitu diperkenalkannya teknologi baru; inovasi menimbul- kan keuntungan lebih yang merupakan sumber dana penting bagi akumulasi kapital; inovasi akan diikuti oleh adanya proses imitasi yaitu adanya pengusaha- pengusaha yang meniru teknologi baru (yang diper- kenalkan). Selain itu, ada lima macam kegiatan yang dapat digolongkan sebagai inovasi, yaitu: diperkenal- kannya produk baru yang sebelumnya tidak ada; diperkenalkannya cara berproduksi baru; pembukaan daerah-daerah pasar baru; penemuan sumber-sum- ber bahan mentah baru; dan perubahan organisasi industri yang dapat meningkatkan efisiensi industri.

Teori Pertumbuhan Harrod-Domar

Setiap perekonomian perlu mencadangkan sebagian tertentu dari pendapatan nasionalnya untuk menambah atau menggantikan barang-barang modal yang telah mengalami penyusutan atau kerusakan. Untuk memahami pentingnya peran cadangan modal digunakan analisis rasio keluaran terhadap kapital (Capital-output ratio). Capital-output ratio diasumsi- kan sebagai k, national saving ratio sebagai s yang merupakan presentase dari keluaran nasional yang ditabung. Jumlah investasi dapat ditentukan oleh jumlah tabungan total (S). Dari beberapa asumsi tersebut disusun sebuah model pertumbuhan eko- nomi sebagai berikut: S=sY dan I=K. Di mana tabungan nasional jumlah tertentu (s), pendapatan nasional (Y), dan perubahan stok modal (K). Karena K/Y=k atau K/Y=k adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR) maka, K=kY.

Hubungan antara K (stok kapital) dan Y (keluaran potensial) adalah proposional. Apabila dalam suatu tahun terdapat investasi sebesar I maka

stok kapital pada akhir tahun tersebut akan bertam- bah sebesar ΔK=I. Penambahan kapasitas ini akan meningkatkan keluaran produksi potensial sebesar ΔY=1/k . ΔK=1/k.I. Persamaan tersebut merupakan versi sederhana dari teori pertumbuhan ekonomi Harrod-Domar yang menyatakan bahwa tingkat pertumbuhan GNP (Y/Y) ditentukan oleh national saving ratio (s) dan capital output ratio (k). Persama- an tersebut menyatakan bahwa tanpa adanya inter- vensi pemerintah, tingkat pertumbuhan pendapatan nasional akan berbanding lurus dengan rasio tabungan dan berbanding terbalik dengan capital- output ratio dari suatu perekonomian.

Teori Pertumbuhan Solow-Swan

Pemikiran tentang fungsi produksi yang dikembangkan oleh Solow–Swan merupakan bentuk pemikiran aliran Neoklasik. Dalam model/pemikiran tersebut mengasumsikan adanya constant return to scale, diminishing return untuk masing-masing masukan produksi dan adanya elastisitas substitusi antar masukan produksi. Investasi dan pertumbuhan penduduk tidak dapat, dengan sendirinya, mening- katkan pertumbuhan pendapatan per kapita secara berkelanjutan. Adanya faktor penemuan teknologi baru yang dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Perkembangan teknologi tersebut berasal dari luar model sehingga teori Solow–Swan dikenal dengan exogeneous growth model.

Dengan mengabaikan adanya teknologi, bentuk fungsi produksi adalah sebagai berikut Y=F (K, L). Fungsi produksi tersebut disebut Neoklasikal apabila memenuhi tiga kriteria, yaitu: semua K>0 dan L>0, F (K,L) adalah positif, dan menganut diminishing marginal products terhadap masing-masing masukan produksi. Fungsi produksi sederhana yang dianggap representatif menggambarkan kondisi aktual pereko- nomian adalah fungsi produksi Cobb–Douglas dengan spesifikasi sebagai berikut: Y=AK α L 1-α Dimana A>0 merupakan level teknologi dan α merupakan konstanta dengan 0<α<1.

Teori Pertumbuhan Endogeneous

Pemikir teori ini adalah Lucas-Romer. Lucas dan Romer tidak puas dengan teori dan penjelasan Solow–Swan mengenai kemajuan teknologi dan

pertumbuhan ekonomi. Menurut Lucas dan Romer, inovasi teknologi merupakan akumulasi dari penge- tahuan. Akumulasi pengetahuan ini kemudian terang- kum dalam human capital. Teori baru ini dikenal dengan endogeneous growth theory.

Baik teori exogeneous maupun endogeneous menyetujui bahwa pada titik waktu tertentu, dengan adanya kemajuan teknologi, keluaran produksi sangat terkait dengan masukan produksi dalam suatu fungsi produksi. Aspek penting dalam teori ini adalah tidak adanya diminishing return of capital. Spesifikasi fungsi produksinya adalah sebagai beri- kut: Y=AK. Di mana K merupakan konstanta positif level teknologi. Tidak adanya konsep diminishing return ini memang tidak realistik. Hal tersebut menjadi mungkin jika diasumsikan K ke dalam konsep human capital. Keluaran produksi per kapita adalah sebesar y=Ak, nilai rata-rata dan marginal dari kapital adalah konstan pada level A>0. Endogeneous growth theory merumuskan bahwa rata-rata pertumbuhan ditentukan atau berasal dari ekuilibrium yang tercipta dari dalam model. Selain itu, teori ini juga berusaha menangkap adanya kemajuan teknologi ke dalam model, menganggapnya sebagai faktor endogen.

METODE PENELITIAN

Data yang digunakan dalam studi anatomi makro ekonomi regional, studi kasus Provinsi DIY ini adalah data sekunder, khususnya yang bersumber dari Bapeda Provinsi DIY, BPS Provinsi DIY dan Bank Indonesia Yogyakarta. Periode data yang digunakan sebagai deskripsi makro ekonomi Provinsi DIY yaitu tahun 2003–2008. Data sekunder meliputi data-data ekonomi makro dan keuangan Provinsi DIY.

Analisis Shift Share (SS)

Tujuan analisis SS adalah untuk menentukan kinerja atau produktifitas kerja perekonomian daerah dibandingkan dengan perekonomian nasional. Teknik ini membandingkan laju pertumbuhan sektor-sektor di daerah dengan laju pertumbuhan perekonomian nasional serta sektor-sektornya, dan mengamati penyimpangan-penyimpangan dari perbandingan yang dilakukan. Bila penyimpangannya positif, maka

daerah

kompetitif.

Analisis SS memberikan data tentang kinerja perekonomian dalam tiga bidang yang berhubungan satu sama lain yaitu membagi pertumbuhan sebagai perubahan (D) suatu variabel daerah, pendapatan atau output selama kurun waktu tertentu menjadi pengaruh: pertumbuhan nasional (N), bauran industri/industri mix (M) dan keunggulan kompetitif (C). Dengan demikian pengaruh pertumbuhan nasional disebut pengaruh pangsa (share), pengaruh bauran industri/industri mix disebut proporsional shift dan pengaruh keunggulan kompetitif disebut regional share atau differential shift. Sedangkan, bentuk umum persamaan dari komponen-komponen Shift- Share sebagaimana dikemukakan oleh (Soepomo, 1993) adalah sebagai berikut; untuk industri atau sektor i di wilayah j yaitu:

suatu

keunggulan

sektor

dalam

memiliki

D ij = N ij + M ij + C ij

Jika analisis ini ditetapkan dengan menggunakan sektor ekonomi/lapangan usaha, maka:

D ij = E * ij – E ij,

N ij = E ij * r n

M ij = E ij (r in – r n )

C ij = E ij (r ij – r in )

Di mana r ij , r in dan r n mewakili laju pertumbuhan daerah dan laju pertumbuhan nasional, E ij =PDRB sektor i di wilayah j, E in =PDB sektor i di tingkat nasional dan E n =PDB Nasional. Kesemuanya diukur menurut tahun dasar, sedangkan tanda superscript ( * ) menunjukkan keluaran produksi pada tahun akhir analisis.

Analisis Location Quotient (SLQ dan DLQ)

Metode location quotient (LQ) dibedakan men- jadi dua, yaitu: static location quotient (SLQ sering disebut LQ) dan dynamic location quotient (DLQ). Menurut Kadariah (1985), dasar pemikiran dari penggunaan teknik LQ yang dilandasi teori ekonomi basis mempunyai makna sebagai berikut. Karena, industri basis itu menghasilkan barang dan jasa baik untuk pasar di daerah maupun untuk pasar di luar daerah, maka penjualan hasil ke luar daerah akan mendatangkan pendapatan ke dalam daerah itu.

Arus pendapatan itu menyebabkan kenaikan kon- sumsi maupun investasi, yang pada akhirnya me- naikkan pendapatan daerah dan kesempatan kerja.

SLQ dirumuskan sebagai berikut:

SLQ =

qi qr Qi Qn
qi
qr
Qi Qn

di

mana:

SLQ j

= Koefisien Static Location Quotient

Qi

= Keluaran sektor i nasional

qi

= Keluaran sektor i regional (Provinsi DIY)

Qn

= Keluaran total nasional

qr

= Keluaran total regional (Provinsi DIY)

Berdasarkan formula di atas dapat dijelaskan bahwa jika koefisien LQ>1, maka sektor tersebut cenderung akan mengekspor keluaran produksinya ke wilayah lain, atau mungkin ekspor ke luar negeri. Sedangkan jika nilai koefisien LQ<1, ini berarti sektor tersebut cenderung mengimpor dari wilayah lain atau dari luar negeri.

Dynamic Location Quotient (DLQ) adalah modi- fikasi dari SLQ, dengan mengakomodasi faktor laju pertumbuhan keluaran sektor ekonomi dari waktu ke waktu. Nilai DLQ dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (dimodifikasi dari Saharuddin, 2006):

DLQ

ij

=

+

g ) /(1

ij

+

g )

j

t

=

IPPS

ij

+

G ) /(1

i

+

G)

IPPS

i

(1

(1

Di mana :

DLQ ij

g

g

ij

j

Gi

G

t

= Indeks potensi sektor i di regional

= Laju pertumbuhan sektor i di regional

= Rata-rata laju pertumbuhan sektor di

regional

= Laju pertumbuhan sektor i di nasional

= Rata-rata laju pertumbuhan sektor di

nasional

= Selisih tahun akhir dan tahun awal

IPPS ij =

Indeks Potensi Pengembangan sektor i

di

regional

IPPS i =

Indeks Potensi Pengembangan sektor i

di nasional

Nilai DLQ yang dihasilkan dapat diartikan seba- gai berikut: jika DLQ>1, maka potensi perkembangan sektor i di suatu regional lebih cepat dibandingkan sektor yang sama di nasional. Namun, jika DLQ<1, maka potensi perkembangan sektor i di regional lebih

rendah dibandingkan nasional secara keseluruhan. Gabungan antara nilai SLQ dan DLQ dijadikan kri- teria dalam menentukan apakah sektor ekonomi tersebut tergolong unggulan, prospektif, andalan, dan kurang prospektif.

Incremental Capital Output Ratio (ICOR)

Nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) mengindikasikan seberapa besar penggunaan tam- bahan modal atau investasi untuk menghasilkan output atau keluaran perekonomian, sehingga angka ICOR dapat dijadikan indikator efektivitas tambahan modal atau investasi. Sebagai petunjuk dapat digunakan pedoman umum bahwa semakin tinggi angka ICOR, maka semakin tidak efisien penggu- naan tambahan modal/investasi tersebut. Formula perhitungan ICOR adalah sebagai berikut:

ICOR =

I/ PDRB.100%

Δ PDRB

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dinamika Makro Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu aspek dalam manajemen makro ekonomi. Penca- paian pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan terus- menerus merupakan kondisi ideal yang diharapkan semua pelaku ekonomi. Kondisi ekonomi bersifat fluktuatif sehingga semua pelaku ekonomi terutama pemerintah perlu melakukan berbagai antisipasi melalui kebijakan fiskal dan moneter.

Dinamika perekonomian Indonesia tidak terlepas dari perkembangan ekonomi global serta berbagai kemajuan dalam perbaikan, iklim investasi, infrastruktur, produktivitas dan daya saing (sisi penawaran) dalam negeri. Berbagai fenomena yang berasal dari luar negeri selain berdampak pada pere- konomian Indonesia juga berdampak pada pereko- nomian daerah Provinsi DIY. Dilihat dari pola perge- rakan pertumbuhan ekonomi antara Indonesia dan Provinsi DIY mengindikasikan arah yang sama. Hal ini akan menjadi salah satu sinyal bagi Provinsi DIY untuk melakukan antisipasi apabila kondisi ekonomi nasional (Indonesia) pada situasi yang kurang stabil atau kurang kondusif.

Selama tahun 2005–2008, pertumbuhan ekono- mi Indonesia dan Provinsi DIY cenderung fluktuatif. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tertinggi dan teren- dah masing-masing adalah sebesar 6,28% (2007) dan 5,5% (2006). Sementara itu, pertumbuhan eko- nomi Provinsi DIY tertinggi dan terendah masing- masing yaitu 5,2% (2008) dan 3,7% (2006).

Nilai PDRB riil DIY selama tahun 2005-2008 cenderung meningkat. Nilai PDRB tertinggi dan terendah masing-masing sebesar Rp19.209.746 juta (2008) dan Rp16.910.877 juta (2005). Pada periode tersebut sektor ekonomi yang mempunyai nilai PDRB tertinggi adalah sektor perdagangan, hotel dan res- toran. Sementara itu, sektor ekonomi yang mempu- nyai nilai PDRB terendah adalah sektor penggalian. Kecenderungan kenaikan nilai PDRB Provinsi DIY lebih ditopang oleh empat sektor ekonomi utama, yaitu: sektor perdagangan-hotel-restoran, pertanian, jasa-jasa dan industri pengolahan.

Pertumbuhan PDRB sektoral Provinsi DIY berdasarkan lapangan usaha selama tahun 2005– 2008 tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sektor konstruksi sebesar 13,28%. Pada tahun 2008, pertumbuhan sektor konstruksi menunjukkan arah yang berkebalikan -3,45%. Kondisi ini cukup realistis karena pada tahun 2006 di Provinsi DIY terjadi peningkatan aktivitas yang cukup signifikan untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur, terutama rumah penduduk dan perkantoran, sebagai akibat gempa bumi. Aktivitas tersebut pada tahun 2008 sudah tidak ada lagi sehingga pertumbuhan sektor konstruksi cenderung minus.

Secara keseluruhan perekonomian DIY ber- kembang menuju kondisi yang lebih baik meskipun masih dihadapkan pada sejumlah permasalahan yang bersumber baik dari sisi eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, pengaruh krisis global mulai terasa dampaknya terhadap kinerja ekspor DIY yang terindikasi dari berkurangnya order komoditas ekspor dari DIY yang berampak pada pengurangan tenaga kerja (Bank Indonesia Yogyakarta, 2009).

Sementara itu, sektor industri pengolahan mem- punyai nilai tambah riil sebesar Rp2.566 miliar, tumbuh 1,52%, cenderung melambat dibandingkan dengan tahun 2007 (1,89%). Penyebab perlambatan pertumbuhan sektor ini adalah naiknya harga produk sebagai implikasi kenaikan harga bahan baku

industri seperti kedelai, tepung terigu, minyak goreng dan bahan baku susu sehingga sebagian produsen menaikkan harga jualnya. Selain itu juga mulai dira- sakannya dampak krisis global memasuki paruh kedua tahun 2008 yang telah menyebabkan penu- runan nilai ekspor dari DIY. Namun demikian, kredit perbankan kepada industri pengolahan meningkat menjadi Rp757,92 miliar (12,34%) dibandingkan tahun 2007 yaitu sebesar Rp676,45 miliar.

Nilai tambah sektor pengangkutan dan komu- nikasi mencapai Rp1.999 miliar pada tahun 2008, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Andil sektor ini terhadap pertumbuhan naik dari 0,65% menjadi 0,68%. Nilai tambah di sektor ini teru- tama berasal dari nilai tambah di subsektor trans- portasi searah dengan sektor bangunan yang meng- alami penurunan sebesar 35,21%. Hal ini dipra- kirakan disebabkan oleh masih tingginya suku bunga kredit perbankan.

Kegiatan investasi ada kecenderungan kenaik- an realisasi maupun rencana investasi yang mencer- minkan bahwa prospek perekonomian DIY yang positif. Industri yang paling diminati adalah industri tekstil dan makanan. Peringkat berikutnya adalah sektor perhotelan dengan pangsa sebesar 35,64%, sektor jasa lainnya sebesar 14,61%, sektor pengang- kutan sebesar 2,01%, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 1,48%. Secara umum, minat investor lebih tertuju pada sektor-sektor unggulan di DIY yang merefleksikan struktur PDRB.

Perkembangan perekonomian nasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kinerja yang

Tabel 1. Kontribusi

PDRB

Sektoral

Provinsi

Konstan 2000), 2005–2008 (%)

semakin baik meski masih dibayangi oleh ketidak- pastian harga komoditi internasional, gejolak harga minyak mentah dunia, dan dampak krisis subprime mortgage (Departemen Keuangan RI (2009)). Faktor internal yang menjadi tantangan pokok dalam tahun 2009 antara lain: (1) masih relatif tingginya penduduk miskin; (2) terbatasnya akses dan dana dalam sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin; (3) relatif rendahnya kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat; dan (4) masih lemahnya daya tarik investasi dan sektor riil.

Secara tidak langsung, kondisi ekonomi terkini Indonesia dimungkinkan berdampak pada peran/kon- tribusi ekonomi sektoral Provinsi DIY. Ada empat sektor utama penyumbang PDRB Provinsi DIY, yaitu:

sektor perdagangan-hotel-restoran, pertanian, jasa- jasa dan industri pengolahan. Kontribusi keempat sektor utama tersebut masing-masing adalah 20,36%-20,50% (sektor perdagangan, hotel dan restoran), 18,22%-18,86% (sektor pertanian), 16,79%-16,91% (sektor jasa-jasa) dan 13,82%- 14,57% (sektor industri pengolahan). Sementara sektor yang mempunyai kontribusi relatif rendah adalah sektor listrik dan air bersih (0,87%–0,93%) dan sektor penggalian (0,70%–0,76%).

Dari sisi permintaan, peningkatan pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh konsumsi baik konsumsi rumah tangga maupun konsumsi peme- rintah, dan investasi. Hal ini tercermin dari nilai komponen konsumsi rumah tangga yang meningkat dari Rp8.132 miliar pada tahun 2007 menjadi Rp8.397 pada tahun laporan atau tumbuh 3,25%

DIY

berdasarkan

Lapangan

Usaha

(Harga

Lapangan Usaha

2005

2006

2007

2008

1. Pertanian 2. Penggalian 3. Industri Pengolahan 4. Listrik & Air Bersih 5. Konstruksi 6. Perdagangan, Hotel & Restoran 7. Pengangkutan & Komunikasi 8. Keu, Real Estat & Jasa Perusahaan 9. Jasa-Jasa

18,84

18,86

18,22

18,74

0,72

0,72

0,76

0,70

14,57

14,15

13,82

13,83

0,91

0,87

0,91

0,93

8,25

9,01

9,47

8,71

20,37

20,36

20,50

20,38

9,90

10,05

10,25

10,38

9,60

9,08

9,27

9,54

16,85

16,91

16,80

16,79

PDRB

100,00

100,00

100,00

100,00

Sumber: BPS Provinsi DIY dan Bapeda Provinsi DIY, Beberapa tahun (diolah).

dengan andil terhadap angka pertumbuhan 1,45%. Faktor yang mempengaruhi peningkatan konsumsi rumah tangga antara lain adalah peningkatan daya beli dan masih tingginya dukungan pembiayaan konsumsi.

Investasi tumbuh 4,27% yang dipengaruhi oleh permintaan dalam negeri yang masih cukup kuat dan masih kuatnya permintaan luar negeri. Sementara itu, dilihat dari strukturnya, komposisi sisi permintaan PDRB DIY tahun 2008 tidak mengalami banyak perubahan, konsumsi rumah tangga tetap memiliki pangsa terbesar (43,71%), diikuti komponen inves- tasi sebesar 27,13%, komponen konsumsi Pemerin- tah sebesar 19,84% dan komponen lainnya sebesar

9,32%.

Pada tahun 2008 nilai riil konsumsi rumah tangga tercatat sebesar Rp 8.397 miliar, atau tumbuh 3,25%, lebih tinggi dibandingkan dengan pertum- buhan yang terjadi pada tahun 2007 (2,17%). Faktor yang mempengaruhi tingginya konsumsi rumah tangga adalah masih tetap baiknya daya beli searah dengan peningkatan penghasilan masyarakat, baik karena kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS), maupun perbaikan kinerja di sisi sektoral (termasuk tercermin dari peningkatan Nilai Tukar Petani/NTP). Untuk keseluruhan tahun, rata-rata peningkatan NTP 2008 lebih tinggi dari 2007. Beberapa indikator pening- katan konsumsi rumah tangga antara lain tercermin dari meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor baik mobil maupun sepeda motor, konsumsi listrik rumah tangga dan penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penghasilan (PPh). Kenaikan pertumbuhan komponen konsumsi rumah tangga diikuti oleh kenaikan andilnya terhadap pertumbuhan PDRB dari 0,98% pada tahun 2007 menjadi 1,45% dalam tahun laporan.

Sementara itu, pangsa konsumsi rumah tangga terhadap total PDRB DIY pada tahun laporan tercatat sebesar 43,71%, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 44,49%. Nilai riil inves- tasi pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB) di DIY pada tahun 2008 tercatat sebesar Rp5.221 miliar, atau tumbuh 4,27%, lebih tinggi dibanding tahun 2007 (2,74%). Faktor yang mempe- ngaruhi masih relatif lebih tingginya pertumbuhan investasi di DIY antara lain adalah permintaan dalam negeri dan luar negeri relatif stabil sampai dengan

Triwulan III-2008, walaupun memasuki Triwulan IV- 2008 mulai melambat.

Komponen investasi masih memberikan andil yang cukup tinggi terhadap total pertumbuhan eko- nomi DIY yakni sebesar 1,17%, meningkat dibanding periode sebelumnya. Investasi pada tahun 2008 terutama berasal dari masuknya investor luar negeri dengan jenis usaha yang dilakukan antara lain; pembangunan instalasi penangkap gas metan dan pembangunan pabrik pupuk kompos. Perkembangan investasi juga didukung oleh realisasi belanja modal Pemerintah yang cukup tinggi yaitu sebesar 90,94%.

Pada kegiatan ekspor, berdasarkan negara tujuan, Amerika masih menempati peringkat tertinggi ekspor Indonesia. Ekspor ke Amerika memiliki pang- sa 42% dari dari total ekspor atau senilai US$54,71 juta, turun 1,5% dibandingkan periode sebelumnya US$55,23 juta. Disusul negara Korea Selatan, Perancis dan Jepang masing-masing dengan pangsa 6,30% (US$8,20 juta), 6,11% (US$7,96 juta) dan 5,45% (US$7,10 juta). Dari tahun ke tahun pangsa ekspor negara Amerika Serikat terus mengalami penurunan.

Menurut komoditasnya, ekspor pakaian jadi tekstil sebesar US$33,89 juta menguasai pangsa terbesar 26,02% dari total ekspor DIY. Disusul Mebel Kayu dengan nilai US$24,28 juta dengan pangsa 18,64% dari total ekspor DIY, selanjutnya sarung tangan kulit US$16,93 juta dengan pangsa 13,00% dari total ekspor DIY.

Perkembangan impor DIY pada tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar 18,97% atau men- capai US$50,71 juta dibandingkan periode sebelum- nya sebesar US$42,62 juta. Peningkatan nilai impor ini terutama bersumber dari impor mesin foto kopi dengan nilai mencapai US$8,012 juta. Secara kese- luruhan, pangsa komoditas impor terbesar masih berupa mesin (31,11%) dengan nilai US$15,77 juta, selanjutnya bahan baku susu (19,76%) dengan nilai US$10,02 juta, kemudian tekstil berada diposisi ketiga dengan pangsa 19,14% senilai US$9,7 juta.

Perkembangan nilai PDRB Provinsi DIY menu- rut penggunaan diketahui bahwa komponen yang mempunyai tingkat pertumbuhan tertinggi adalah pengeluaran konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba (LSN) yang mencapai 20,14% (2006), 16,61% (2007) dan 15,29% (2008). Komponen konsumsi lain yang

juga relatif besar tingkat pertumbuhannya adalah pengeluaran konsumsi pemerintah yaitu sebesar 7,60% (2006), 7,51% (2007) dan 11,89% (2008). Menurut BI (2009), tingginya peningkatan konsumsi pemerintah disebabkan oleh penyelesaian pekerjaan restrukturisasi pasca gempa.

Untuk mengetahui peran masing-masing kom- ponen pengeluaran baik PDRB Provinsi DIY dapat dihitung besarnya tingkat kontribusi masing-masing komponen tersebut. Secara konsisten pengeluaran konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi yang terbesar terhadap pembentukan PDRB Provinsi DIY. Pada tahun 2005, 2006, 2007 dan 2008 dengan nilai kontribusi komponen tersebut masing-masing adalah sebesar 46,41%, 45,39%, 44,46%, dan 44,45%. Tiga komponen pengeluaran lain yang juga memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap PDRB Provinsi DIY adalah ekspor-impor barang dan jasa serta PMTDB.

Kontribusi komponen pengeluaran PDRB Provinsi DIY tidak terlalu jauh dengan pengeluaran PDB Indonesia. Nilai kontribusi komponen penge- luaran konsumsi umah tangga terhadap PDB Indonesia pada tahun 2005, 2006, 2007 dan 2008 masing-masing, yaitu sebesar 59,62%, 58,30%, 57,61% dan 57,21%. Pola ini sebenarnya sudah menjadi pola tetap dalam pembentukan perekono- mian Indonesia. Artinya, bahwa perekonomian Indonesia lebih ditopang pada pola perilaku konsumsi masyarakatnya.

Analisis Shift-Share, SLQ dan DLQ

Kondisi sektoral dalam perekonomian Provinsi DIY dalam studi ini dianalisis dengan menggunakan tiga metode, yaitu metode Shift-Share (SS), Static Location Quotient (SLQ) dan Dynamic Location Quotient (DLQ). Hasil analisis shift-share berdasar-

Tabel 2. Kontribusi PDRB Provinsi DIY Berdasarkan Penggunaan (Harga Konstan 2000), 2005–2008 (%)

Jenis Penggunaan

2005

2006

2007

2008

1. Pengeluaran Konsumsi RT

46,41

45,39

44,46

44,45

2. Pengeluaran Konsumsi LSN

1,45

1,68

1,88

2,06

3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah

18,09

18,77

19,34

20,61

4. Pembentukan Modal Tetap Bruto

26,46

27,74

27,32

25,68

5. Perubahan Stok

5,91

7,28

7,90

8,33

6. Ekspor Barang dan Jasa

44,16

41,79

42,05

42,94

7. Dikurangi Impor Barang dan Jasa

42,47

42,64

42,95

44,06

PDRB

100,00

100,00

100,00

100,00

Sumber: BPS Provinsi DIY dan Bapeda Provinsi DIY, Beberapa tahun (diolah).

Tabel 3. Nilai Shift-Share, SLQ dan DLQ PDRB Provinsi DIY Tahun 2003–2008

Lapangan Usaha

Shift-Share (SS)

SLQ

DLQ

1. Pertanian

2,31

1,29

1,04

2. Penggalian

16,25

0,08

1,71

3. Industri pengolahan

-304,22

0,53

0,66

4. Listrik dan air bersih

-11,15

1,35

0,80

5. Konstruksi

130,63

1,37

1,42

6. Perdagangan, hotel & restoran

-342,99

1,23

0,73

7. Pengangkutan & komunikasi

-528,45

1,65

0,38

8. Keuangan, real estat & jasa perusahaan

-148,17

1,02

0,74

9. Jasa-jasa

-326,45

1,88

0,69

Sumber: BPS Provinsi DIY (2003–2007); Berita Resmi Statistik BPS Provinsi DIY (2008); Bank Indonesia (2007), diolah.

kan PDRB Provinsi DIY tahun 2003 - 2008 dapat diketahui bahwa sektor konstruksi, penggalian dan pertanian relatif lebih kompetitif dibandingkan enam sektor lainnya yang memiliki nilai negatif.

Hasil analisis SLQ, sesuai dengan Tabel-3 di atas, nampak bahwa hanya dua sektor yang bukan merupakan sektor basis di Provinsi DIY. Dengan nilai SLQ kurang dari 1, yaitu pada sektor penggalian dan sektor industri pengolahan (0,08 dan 0,53) dapat diartikan bahwa kedua sektor ini relatif kurang ber- peran dalam perekonomian Provinsi DIY. Sedang- kan, tujuh sektor lain, yaitu: sektor jasa-jasa; peng- angkutan dan komunikasi; konstruksi; listrik, gas dan air bersih; pertanian; perdagangan, hotel dan res- toran; dan keuangan, persewaan, dan jasa perusa- haan merupakan sektor basis dalam perekonomian Provinsi DIY. Nilai SLQ sektor-sektor tersebut menunjukkan bahwa sektor tersebut cenderung mengekspor produknya ke wilayah lain.

Hasil analisis DLQ berdasarkan PDRB Provinsi DIY periode 2003–2008 menunjukkan hasil yang sejalan dengan hasil analisis shift-share. Nilai DLQ di atas satu dihasilkan oleh sektor penggalian, kons- truksi dan pertanian dengan nilai berturut-turut ada- lah 1,71; 1,42; 1,04. Artinya, potensi perkembangan ketiga sektor tersebut lebih baik dibandingkan sektor yang sama di tingkat nasional.

Penggabungan hasil analisis SLQ dan DLQ dapat menghasilkan pengelompokan sektor-sektor dalam perekonomian Provinsi DIY ke dalam empat kategori, yaitu unggulan, prospektif, andalan dan kurang prospektif (lihat Tabel-4). Sektor pertanian

dan konstruksi merupakan sektor unggulan. Terdapat lima sektor yang termasuk prospektif yaitu: sektor listrik dan air bersih; perdagangan, hotel & restoran; pengangkutan & komunikasi; keuangan, persewaan & jasa perusahaan; dan jasa-jasa.

Sebagai sektor andalan adalah sektor pengga- lian. Sementara itu, berdasarkan hasil perhitungan SLQ dan DLQ, sektor pengolahan merupakan sektor yang kurang prospektif. Namun demikian, ada be- berapa catatan penting terkait sektor industri pengo- lahan Provinsi DIY yang tidak bisa dikesampingkan, yaitu: a) Kontribusi sektor industri pengolahan terhadap perekonomian Provinsi DIY terbesar ke empat setelah sektor perdagangan-hotel-restoran, sektor pertanian dan sektor jasa-jasa. Kontribusi sek- tor industri pengolahan mencapai rata-rata 14,49% (2003–2007) dan Penyerapan tenaga kerja sektor ini dalam kurun waktu yang sama rata-rata mencapai 13,47% (peringkat keempat terbesar).

Perhitungan Tipologi Klasen pada tabel-5, dilakukan dengan mengelompokkan sektor PDRB dengan melihat proporsi dan pertumbuhan terhadap reratanya. Data yang digunakan adalah rerata dan proporsi PDRB sektoral dari tahun 2003 sampai 2008. Dari pengelompokan tersebut dapat diperoleh hasil sebagai berikut: Sektor prima adalah perda- gangan, hotel dan restoran; Sektor potensial adalah pertanian; industri pengolahan; dan jasa-jasa; Sektor berkembang/tumbuh adalah listrik dan air bersih; konstruksi; pengangkutan & komunikasi; dan keu- angan., persewaan & jasa perusahaan; dan sektor terbelakang/kurang potensial adalah penggalian.

Tabel 4. Pemetaan Sektor Ekonomi di Provinsi DIY Berdasarkan Analisis SLQ dan DLQ Tahun 2003 – 2008

DLQ

>1

<1

SLQ

 

Unggulan:</