Anda di halaman 1dari 18

INSTALASI LISTRIK

Dasar Instalasi Listrik


Listrik dihantarkan oleh kabel yang berfungsi sebagai konduktor. Kabel yang
digunakan beragam jenis dan ukurannya, biasanya disesuaikan dengan penggunaan
dan tingkat tegangan yang perlu dihantarkan.

Gbr. Jenis-jenis kabel

Gbr. Tipe kabel (lanjutan)


Selanjutnya, kabel di beri warna untuk membedakan bagi penggunanya
dalam instalasi listrik.

Daya listrik umum nya dipasok dari Pembangkit Tenaga Listrik melalui
jaringan kabel tegangan tinggi (TT, di atas 20.000 volt), yang kemudian diturunkan
menjadi tegangan menengah (TM, antara 1000-20.000 volt) dan tegangan rendah
(TR, di bawah 1000 volt) oleh transformator yang ditempatkan pada gardu-gardu
listrik.

Gbr. Pasokan listrik ke bangunan


Daya listrik dipasok ke dalam bangunan yang disalurkn melalui kabel bawah
tanah untuk bangunan tinggi atau kabel udara dari tiang listrik untuk bangunan
rendah/menengah.

Gbr. Pasokan listrik dengan kabel bawah tanah.

Gbr. Pasokan listrik dengan kabel udara.

Gbr. Instalasi kabel di atas plafon.

Gbr. Instalasi kabel pada pelat lantai.

Gbr. Pemasangan pipa kabel.

Gbr. Jenis saluran kabel.

Pipa logam digunakan, karena :


1) Dapat melindungi konduktor (kabel) dari bahaya korosi dan benturan.
2) Menyediakan perlindungan terhadap bahaya api, pada saat kebakaran atau
suhu yang terlalu tinggi.
3) Dapat merupakan penyokong kabel.
4) Dapat menjadi saluran pengebumian untuk sistem kabel.
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Pipa alumunium digunakan, karena :


Beratnya lebih ringan dibandingkan dengan pipa logam lainnya.
Lebih murah untuk pipa dan pemasangannya.
Lebih tahan terhadap korosi
Tidak perlu dicat
Tidak terpengaruh magnit
Penurunan tegangan listriknya kecil

Pipa plastic lebih murah di bandingkan pipa logam dan pipa aluminium,
namun perlu memenuhi kriteria:
1) Untuk penggunaan dalam ruangan, pipa perlu kuat dan tahan api
2) Untuk penggunaan dalam tanah, pipa perlu kuat dan tahan api

3) Untuk penggunaan diluar ruangan, disamping pipa perlu kuat dan tahan api,
pipa juga harus taha terhadap cuaca (tahan terhadap panas matahari, hujan,
dan lain-lain).
Tegangan yang digunakan untuk keperluan bangunan tinggi biasanya 220/230
volt (3 fase)

Gbr. Tegangan 220/230 volt. Tiga fase empat kabel


Di samping itu penggunaan tegangan 220 volt (1 fase) juga sering dijumpai
pada bangunan tinggi.

Gbr. Tegangan 220/380 volt. Satu fase tiga kabel

Pada arus listrik satu fase, daya listrik dapat dihitung dengan:

P biasa disebut sebagai daya aktif (real power), sedang EI atau sering
dinyatakan dalam VA adalah daya semu.
Untuk menghitung konduktor, rumus diatas dapat diubah menjadi:

Sedang untuk menghitung penampang konduktor (kabel penghantar)


digunakan rumus:

Nilai u (voltage drop) diperoleh dari selisih antara tegangan kirim (


dan tegangan terima (

Eg

Es

):

Nilai u ini berkisar antara 1 1,5% nilai

Es .

Untuk kabel-kabel transmisi daya dimana mengalir tegangan yang cukup


tinggi, nilai u dihitung berdasarkan:

Selanjutnya, untuk arus listrik tiga fase,

Atau

Jadi, untuk luas penampang konduktor diperoleh:

INSTALASI DALAM BANGUNAN


Pada umumnya jaringan kabel dalam bangunan dibuat dalam bentuk diagram
sat ugaris (single line diagram), baik untuk jaringan kabel listrik, telepon, tata
suara, maupun jaringan computer.
a. Jaringan Kabel Listrik
Secara sederhana gambar di bawah menunjukan skematik dari instalasi
jaringan listrik, baik yang berasal dari PLN maupun dari pembangkit cadangan
listrik (genset- generator set) yang disiapkan manakala pasokan daya listrik
untuk bangunan yang berasal dari PLN terganggu.
Pada panel daya listrik, umumnya dibagi dalam kelompok : daya listrik untuk
stop kontak, daya listrik untuk penerangan dan daya listrik untuk
perlengkapan/peralatan bangunan (pemanas air, lemari es, dan mesin fotocopy,
dan lain-lain).

Gbr. Diagram tipikal pasokan listrik

Gbr. Panel distribusi daya listrik


Jika aliran listrik PLN terhenti, maka pasokan daya listrik diambil dari
pembangkit listrik cadangan (Genset-Generator Set), yang digerakan dengan
bantuan mesin diesel. Genset diletakan dalam ruangan yang kedap suara, agar
suara yang ditimbulkan oleh mesin diesel tidak mengganggu aktivitas dalam
bangunan.

Gbr. Tipikal pemasangan pembangkit listrik cadangan

Instalasi Tenaga Listrik Siaga


(Standby Power)
Dalam situasi serba kekuranga tenaga listrik PLN, perlu disiapkan instalasi
tenaga listrik siaga/standby generator, yang untuk beberapa proyek diadakan
100% standby power seperti rumah sakit, hotel.
Umumnya, tenaga listrik siaga diadakan untuk menggerakan sedikitnya 2 lift,
penerangan umum, ventilasi mekanis, sehingga diperlukan sedikitnya 25%
standby power.

Kecuali diesel generator set, diperlukan pula UPS (Uninterrupted Power


Supply) untuk ruang computer, ruang operasi rumah sakit, telekom, pencahayaan
ruang tangga darurat, fan untuk udara tekan ruang tangga darurat dan lain-lain.
Battery kering yang digunakan lazimnya nickel-cadmium. Untuk kontinuitas
supply tenaga listrik, dipakai instalasi bateray yang besar+static inverter, ialah
alat untuk merubah arus DC/searah menjadi AC/bolak-balik.

b. Jaringan Kabel Telepon


Penggunaan jumlah telepon pada suatu bangunan pada umumnya tidak diketahui
secara tepat dan oleh karenanya perlu dirancang secara terpadu dengan
perancangan jaringan utilitas lainnya. Meskipun pada saat tahap rancangan
jumlah telepon sudah diketahui, pada kenyataan nya masih sering terjadi
penambahan jumlah dan perubahan jaringan layanan telepon. Untuk maksud ini,
maka perncangan jumlah saluran telepon didasarkan pada prakiraan per satuan
luas lantai yang akan mempengaruhi alokasi kebutuhan untuk kebutuhan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Layanan penerimaan telepon, berikut panel utama telepon.


Saluran vertical (riser), pipa saluran, dan panel distribusi.
Lemari untuk perlengkapan telekomunikasi.
Lokasi tempat penambahan sambungan.
Ruang peralatan untuk perlengkapan khusus telekomunikasi.
System distribusi, termasuk pipa jaringan, kotak sambungan di lantai, dan
lain-lain.

Untuk dapat berfungsinya sistem telekomunikasi dalam bangunan, diperlukan


salurantelepon dari Telkom, yang mempunyai fasilitas hubungan keluar local
(dalam kota), hubungan keluar interlokal (DDD Domestic Direct Dialling) atau
hubungan keluar internasional (IDD International Direct Dialling).
System dalam bangunan dimulai dari saluran telekomunikasi didalam
bangunan, diperlukan saluran telepon dari Telkom ke fasilitas PABX (private
automatic branch exchange) ,selanjutnya dihubungkan ke kotak hubung induk
(MDF Main Distribution Frame ) melalui kabel distribusi (DC distribution
cable) jaringan telepon disebarkan kekontak terminal (JB-junction Box) yng ada
pada tiap tiap lantai bangunan. Dari kontak terminal ini jaringan telepon di
teruskan ke setiap pesawat telepon (gambar 9.22.)
Instalasi jaringan telepon menggunakan kabel berisolasi plastic yang
dimaksukkan dalam pipa PVC.
Untuk menghitung jumlah saluran Telkom yang dibutuhkan, pertama kali
diperkirakanlah jumlah extension yang akan dipasang (S E). selanjutnya dibuat
perkiraan jumlah pembicaraan Selma satu hari (P). dengan asumsi selang jam

kerja per hari adalah h jam, maka jumlah kemungkinan pembicaraan tiap pesawat
rata-rata per jam adalah:

Kemudian jumlah pembicaraan total dalam satu jam:

Dengan menggunakan fungsi Gauss, maka diperoleh:

Sehingga jumlah pemicaraan pada jam sibuk adalah:

Dari rumus diatas dapat dihitung jumlah rata-rata tiap jam pada jam sibuk, yaitu:

Jadi pembicaraan rata-rata adalah:

Bila tiap kali pembicaraan memiliki selang waktu t detik (biasanya dibatasi 180
detik), maka berdasarkan rumus Erlang diperoleh jumlah lalu lintas telepon (trafik):

Dengan menggunakan tabel erlang maka dapat diperoleh jumlah sambungan telepon
yang diperlukan untuk bangunan tersebut. Dan dengan demikian dapat pula
ditentukan kapasitas dan jenis PABX yang akan digunakan.

Gbr. Jaringan instalasi komunikasi dalam bangunan

c. Jaringan Kabel Tata Suara


Jaringan tata suara pada gedung biasanya digabungkan dengan system keamanan,
system tanda bahaya, dan system pengatur waktu terpusat.
System tata suara biasanya diintegrasikan dengan system tanda bahaya,
sehingga bila terjadi kondisi darurat (kebakaran), system tanda bahaya
mendapatkan prioritas sinyal (signal) dari system tata suara untuk membunyikan
tanda bahaya (sirene) atau program panduan evakuasi ke seluruh bangunan.

System tata suara untuk daerah lobby, koridor, arena parker, dan ruang
administrasi selain digunakan untuk keperluan panduan evakuasi, digunakan pula
untuk pemanggilan (paging) atau untuk keperluan program music.

Gbr. Jaringan instalasi tata suara

Agar tingkat suara/informasi dan sumber suara (loud speaker) dapat jelas didengar
oleh manusia normal, maka diperoleh persyaratan yang dirumuskan sebagai berukut
N+M= 10 log P +
dimana: N
M

SPL 1

20 log R

adalah kebisingan (noise) ruangan (dB)


adalah margin (dB)

adalah daya dari sumber suara (speaker) dalam Watt pada jarak 1

adalah jarak sumber suara dari pendengar (meter)

meter

SPL1

Speaker diperoleh dari spesifikasi teknis speaker, dan data ini digunakan

untuk menentukan daya speaker yang digunakan.


Jika nilai

SPL1 , N , M dan R

speaker diketahui, maka dapat ditentukan

daya speaker yang diperlukan.


d. Jaringan Kabel Komputer/Data/Multimedia
Adanya server computer memungkinkan disajikan pelayanan yang beragam
dalam suatu bangunan, antara lain: untuk keperluan ruang kerja (work station)
dengan penggunaan computer personal (PC Personal Computer), untuk layanan
jaringan local (LAN Local Area Network) dengan beberapa terminal dan
printer, untuk telecopier dan facsimile, untuk dihubungkan dengan pesawat
telepon ataupun untuk pengendalian lingkungan dan keselamatan.

Gbr. Konfigurasi layanan jaringan computer

Selanjutnya, dengan bantuan modem, V-sat< atau antenna microwave, system


computer/data/multimedia pada suatu bangunan dihubungkan dengan jaringan
external melalui provider atau fasilitas satelit.