Anda di halaman 1dari 21

WTO (WORLD TRADE ORGANIZATION)

Makalah ini untuk memenuhi tugas Perdagangan Internasional

Dosen:
Dr.Ir. Trisna Insan Noor, DEA

Disusun Oleh:
Kelompok 1
Agribisnis A
Perwira Saragi

1506101200

Carmelita Astrini

150610120119

Mentari NA

150610140083

Dewi

150610140062

Keke Pratiwi

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala
limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis telah dapat menyelesaikan penulisan makalah
berjudul WTO (World Trade Organization).
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah
ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat untuk semua pihak dan
mendapat ridho Allah SWT bagi pengembangan pertanian di masa sekarang dan masa yang
akan datang.

Jatinangor, Maret 2016

Penulis

DAFTAR ISI
BAB
Halaman
KATA PENGANTAR.........................................................................................
ii
DAFTAR ISI........................................................................................................
iii
I

PENDAHULUAN...................................................................................
1.1 Latar Belakang....................................................................................
1.2 Tujuan ................................................................................................

1
1
2

II

ISI................................................................................................................
2.1 Sejarah WTO.........................................................................................
2.2 Tipe Organisasi.....................................................................................
2.3 Jenis Keanggotaan................................................................................

3
3
4
7

2.4 Struktur Organisasi................................................................................

2.5 Tujuan....................................................................................................

2.6 Peran

WTO

di

Bidang

Regional

yang

Digeluti..................................................................................................
2.7 Kebijakan Perdagangan Internasional...................................................

10
12

2.8 Pengaruh Kebijakan Perdagan Internasional WTO Terhadap


III

Perekonomian Indonesia........................................................................
PENUTUP...................................................................................................
3.1 Kesimpulan ...........................................................................................

15
18
18

3.2 Saran......................................................................................................

18

DAFTAR PUSTAKA

19

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Dalam membahas politik internasional, isu globalisasi sering dikaitkan dengan
pembangunan dan kemiskinan. Globalisasi yang menciptakan dunia yang tanpa
batas (borderless) ini dapat dilihat dalam berbagai bentuk, misalnya dengan
perdagangan bebas. Tanpa batas disini bukan berarti tidak ada kebijakan yang
mengatur, melainkan tanpa batas adalah melakukan kerjasama dengan negara lain di
bidang perdagangan dengan negara satu yang jauh atau bahkan berbeda regional
kawasan. Saat ini sebagian besar negara di dunia melakukan perdagangan bebas, di
mana tarif dan hambatan lain dikurangi bahkan dihapuskan, serta dinaungi oleh
organisasi internasional bernama World Trade Organization (WTO). Organisasi ini
memiliki aturan-aturan tertentu yang bersifat mengikat dan harus dipatuhi oleh
seluruh negara anggotanya.
Globalisasi melalui perdagangan bebas saat ini menjadi isu yang hangat
diperbincangkan, terutama dari segi dampaknya. Perdagangan bebas menjadi wacana
utama selepas Perang Dunia I dan II karena dianggap dapat meningkatkan
perdamaian

dunia

dan

menyejahterakan

masyarakat.

Pada

kenyataannya,

perdagangan bebas yang diwadahi oleh WTO memang menguntungkan beberapa


pihak,

tetapi

masih

ada

aktor

lain

yang

mengalami

kesulitan

dalam

mempraktikkannya, bahkan terkena efek negatif berupa kemiskinan.


WTO ternyata didalamnya tidak hanya negara maju saja yang menjadi anggota,
melainkan negara berkembang juga menjadi anggota. Namun seperti yang kita
ketahui, negara berkembang selalu hidup dibalik naungan negara maju, sementara
negara maju tidak terlalu tergantung dengan negara berkembang, dan negara
berkembang lah yang sudah pasti membutuhkan negara maju untuk kelangsungan
hidup suatu negara yang bergantung.
Seperti contoh kebijakan impor negara berkembang melalui kuota terhadap
negara maju. Dimana hal ini akan menimbulkan kecenderungan impor yang terus
menerus oleh negara berkembang. Hal ini tentu bagus untuk negara maju, karena

mereka tetap bisa menjaga pasarnya. Sebaliknya hal ini akan berdampak pada negara
berkembang, karena negara berkembang akan menggantungkan kehidupan dan
kebutuhan negaranya pada impor yang terus-terusan, tanpa bisa mengembangkan
ekspornya. Indonesia merupakan negara berkembang dan tentu saja tidak menutup
kemungkinan Indonesia akan bergantung kepada negara maju untuk kelangsungan
hidupnya. Didalam paper ini penulis akan mencoba menjawab pertanyaan yang akan
di sebutkan di rumusan masalah dibawah ini.
1.2.

Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui tentang WTO, kebijakankebijakan apa saja yang diterapkan oleh WTO sebagai organisasi perdagangan
internasional

dan

bagaimana

kebijakan-kebijakan

perekonomian Indonesia.

tersebut

mempengaruhi

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.

Sejarah WTO
World Trade Organization (WTO) adalah suatu organisasi perdagangan antar
bangsa bangsa dengan kekuasaan regulasi, judicial, review dan pengayoman yang
didirikan berdasarkan Uruguay Round dari General Agreement on Tariffs and Trade
(GATT), dengan maksud untuk mencapai suatu perdagangan dunia yang lebih tertib,
lancar, bebas, liberal, transparan dan prediktif dengan sengketa yang dapat
diselesaikan secara adil.
Sejarah WTO sebenarnya dimulai dari GATT, yang mana GATT sering
mengadakan putaran-putaran perundingan yang membahas perdagangan dunia. Pada
saat Putaran Kedelapan (the Uruguay Round) yang dilakukan di Punta del Este,
Uruguay disepakati untuk membentuk organisasi perdagangan dunia yang disebut
dengan WTO tersebut. Putaran Uruguay yang semula dimaksudkan untuk jangka
waktu 4 tahun, ternyata menghabiskan waktu tidak kurang dari 7 tahun, yakni yang
berakhir pada tanggal 15 Desember 1993 kemudian ditandatangani oleh 125 negara
anggotanya pada tanggal 15 Desember 1994 di Marrakesh, Marocco.
Paket agreement yang dihasilkan oleh Putaran Uruguay ini terdiri dari 2 (dua)
bagian, yaitu sebagai berikut:
1. The Final Act, yang terdiri dari dokumen dengan jumlah halaman lebih kurang
500 (lima ratus) halaman yang meresmikan berdirinya World Trade Organization
(WTO) dan mengamendir aturan-aturan General Agreement on Tariffs and Trade
(GATT) yang sudah ada, dan,
2. Annexed to the Final Act, yang terdiri tidak kurang dari 22.500 (dua puluh dua
ribu lima ratus) halaman, yang merupakan individual national schedule terhadap
akses pasar yang berkenaan dengan barang, jasa dan pertanian.
Sebagaimana diketahui bahwa WTO resminya berdiri pada tanggal 1 Januari
1995 berdasarkan Rekomendasi Uruguay Round yang kemudian diresmikan melalui
Perjanjian Marrakesh, semula dimaksudkan sebagai suatu sekretariat untuk mengatur
GATT yang bermarkas di Geneva, Swiss. Salah satu kelebihan WTO adalah memiliki

badan penyelesai sengketa (Dispute Settlement Body) yang akan mengadili sengketa
di antara para anggotanya dan memberikan sanksi bagi negara anggotanya yang tidak
mengindahkan putusannya. Di samping itu, salah satu kekhasan WTO adalah
pengambilan putusannya yang dilakukan dengan musyawarah untuk mufakat
(konsensus) dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Indonesia sebagai salah satu negara yang ada di dunia telah meratifikasi
pendirian WTO melalui Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan
Agreement Establishing The World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan
Organisasi Perdagangan Dunia) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994
Nomor 57). Ratifikasi tersebut menandakan bahwa Indonesia menyetujui
pembentukan WTO dan menggabungkan diri, sehingga terikat dengan aturan-aturan
perdagangan WTO.
2.2.

Tipe Organisasi
WTO adalah suatu organisasi internasional publik yang berdasarkan prinsip
universal.
World Trade Organization (WTO) atau Organisasi Perdagangan Dunia
merupakan satu-satunya badan internasional yang secara khusus mengatur masalah
perdagangan antar negara. Sistem perdagangan multilateral WTO diatur melalui
suatu persetujuan yang berisi aturan-aturan dasar perdagangan internasional sebagai
hasil perundingan yang telah ditandatangani oleh negara-negara anggota. Persetujuan
tersebut merupakan kontrak antar negara-anggota yang mengikat pemerintah untuk
mematuhinya

dalam

pelaksanaan

kebijakan

perdagangannya.

Walaupun

ditandatangani oleh pemerintah, tujuan utamanya adalah untuk membantu para


produsen barang dan jasa, eksportir dan importir dalam kegiatan perdagangan.
WTO (World Trade Organization) dikatakan sebagai lintas batas nasional dalam
perdagangan internasional antar negara dalam hal ekspor impor antara produsen dan
konsumen bisa juga dengan perusahaan-perusahaan internasional (MNC). WTO
mempunyai mandat yang luar biasa dalam mengelola ekonomi global untuk
kepentingan perusahaan multinasional (MNC) serta negara maju, Mandat WTO
adalah menciptakan dan menjalankan peraturan perdagangan bebas menuju dunia
tanpa batas negara. Akibatnya WTO mempunyai kekuasaan tidak hanya judisial

tetapi juga legislatif. Artinya, hukum dan kebijakan nasional haruslah bersesuaian
dengan perjanjian WTO, dan bila belum sesuai harus segera diubah.
WTO adalah organisasi yang berbasiskan aturan-aturan main atau rules yang
merupakan hasil perundingan. Aturan tersebut disebut juga perjanjian atau
kesepakatan (agreements). Di atas kertas, perjanjian tersebut haruslah dihasilkan dari
serangkaian perundingan yang yang dilakukan oleh semua Negara anggota, dan
mencerminkan kebutuhan anggota. Realitanya, perundingan dan penyusunan naskah
awal kesepakatan ditentukan oleh faktor lain, yaitu kekuatan politik negara-negara
anggota. Di dalam WTO dikenal ada power block yang disebut quad terdiri dari
Uni Eropa, Jepang, AS dan Canada. Walaupun pengambilan keputusan berdasarkan
konsensus tetapi kekuasaan riel ada di tangan Negara-negara besar tersebut. Salah
satu delegasi dari negara berkembang mengatakan, dalam proses menuju KTM Doha
pada tahun 2001 misalnya negara-negara berkembang diberi teks-teks, yang isinya
muncul tiba-tiba dalam naskah awal tanpa ada perundingan sebelumnya. Tetapi di
KTM Doha keadaannya lebih buruk, teks-teks bisa muncul tiba-tiba tanpa ada yang
memasukkannya, dan pada hari terakhir sekeretariat WTO mengatakan inilah hasil
teks terakhir. Arus barang, investasi dan jasa dibiarkan bebas tetapi arus teknologi
dan tenaga kerja dibatasi, sementara dua hal terakhir diperlukan oleh negara sedang
berkembang. Perjanjian WTO dianggap paling tinggi derajatnya oleh negara
sehingga menegasikan semua perjanjian internasional lain, termasuk perjanjian
lingkungan hidup. Demikian pula peran pemerintahan serta negara di tingkat lokal
dan nasional dikalahkan oleh peran pasar dan perdagangan. Disiplin didalam WTO
mengikat secara hukum terhadap pemerintah yang sekarang maupun pemerintah di
masa depan. Jadi meskipun sebuah partai politik oposisi kemudian menang, ia tidak
bisa menjalankan kebijakan baru yang bertentangan dengan aturan-aturan WTO.
Dengan demikian suatu negara tidak lagi mempunyai banyak pilihan kebijakan
ekonomi.
Prinsip sistem perdagangan yang diterapkan oleh WTO bertujuan untuk
melancarkan perdagangan antar negara anggota dengan meminimalisir adanya
hambatan perdagangan antar negara. Prinsip-prinsip yang diterapkan WTO antara
lain adalah :

Non-diskriminasi yang memiliki dua komponen utama yang tertanam dalam


aturan WTO atas barang, jasa, dan kekayaan intelektual. Pertama mensyaratkan
bahwa anggota WTO harus menerapkan kondisi yang sama pada perdagangan
dengan

semua

anggota

WTO

lainnya.

Kedua,

National-treatment

yang

mengharuskan barang impor harus diperlakukan kurang lebih sama dengan barang
produksi dalam negeri.
Reciprocity yang mencerminkan keinginan untuk membatasi penyalahgunaan
yang mungkin timbul karena non-diskriminasi dan untuk menghindari adanya freerider. Konsesi timbal balik berniat untuk memastikan bahwa perdagangan saling
menguntungkan akan terwujud.
Binding and Enforceable Commitments. Komitmen tarif yang dibuat oleh
anggota WTO dalam negosiasi perdagangan multilateral. Suatu negara dapat
mengubah perjanjian, tetapi hanya setelah renegosiasi dengan mitra dagangnya, yang
bisa berarti terdapat konsekuensi. Jika renegosiasi tidak berhasil, negara dapat
menggunakan prosedur penyelesaian sengketa WTO.
Transparancy dimana para anggota WTO disyaratkan untuk mempublikasikan
peraturan perdagangan mereka, yang memungkinkan lembaga- lembaga WTO untuk
meninjau keputusan administratif yang mempengaruhi perdagangan, permintaan
informasi oleh anggota lain, dan untuk memberitahukan perubahan dalam kebijakan
perdagangan ke WTO. Sistem WTO mencoba untuk meningkatkan prediktabilitas
dan stabilitas, mengecilkan penggunaan kuota dan lainnya.
Safety Valves dalam keadaan tertentu, pemerintah dapat membatasi
perdagangan. Perjanjian WTO mengizinkan anggota untuk mengambil langkahlangkah memproteksi. 1)Pemerintah memiliki hak untuk bertindak ketika kompetisi
semakin kuat dan menekan pesaing domestik, 2) memastikan persaingan sehat; hak
untuk mengenakan bea impor yang telah disubsidi dan anti dumping, 3) ketentuan
yang memungkinkan intervensi dalam perdagangan untuk alasan ekonomi.

2.3.

Jenis Keanggotaan

Jenis keanggotaan WTO:

Anggota WTO hampir meliputi seluruh negara di dunia, tidak hanya terdiri
dari negara-negara. --- separate custom teritory juga, contoh: Hongkong, ChinaTaipei, Macau-China.

Negara-negara anggota WTO mewakili 92 % populasi global dan 95% dari


total perdagangan dunia.

2.4.

Sampai saat ini anggota WTO berjumlah 157.

Sekitar anggota WTO adalah negara berkembang.


Struktur Organisasi
Struktur Organisasi WTO terdiri dari General Council yang dibawahnya

terdapat beberapa Dewan dan Komite pendukung yang mempunyai tugas dan
wewenang berbeda dalam bidangnya. General Council memiliki badan pendukung
berikut yang mengawasi komite di daerah yang berbeda: Council for Trade Good,
Council for Trade Related Aspec of Intellectual Property Council for Trade in
Services, Trade Negotiations Comittes. General Council memiliki komite yang
berbeda, kelompok kerja, dan pihak-pihak yang bekerja diantaranya adalah
Perdagangan dan Lingkungan, Perdagangan dan Pembangunan (Sub-komite pada
Least Developed Countries), Perjanjian Perdagangan Regional, Neraca Pembayaran
dan Anggaran, Keuangan dan Administrasi.
Proses menjadi anggota WTO berbeda untuk setiap negara pemohon, dan
tergantung pada tahap negara pembangunan ekonomi dan rezim perdagangan saat
ini. Proses ini memakan waktu sekitar lima tahun tetapi dapat berlangsung lebih lama
jika negara tersebut kurang dari berkomitmen penuh untuk proses atau jika isu-isu
politik ikut campur. Negosiasi aksesi terpendek adalah bahwa Republik Kyrgyz,
sedangkan terpanjang adalah bahwa Rusia, yang, setelah pertama kali ingin
bergabung pada tahun 1993 dan menjadi anggota WTO pada tanggal 22 Agustus
2012.Top of Form WTO memiliki 159 anggota dan 25 pemerintah pengamat.
Anggota WTO tidak harus berdaulat penuh tetapi mereka harus menjadi wilayah
pabean dengan otonomi penuh dalam pelaksanaan hubungan eksternal secara
komersial seperti Hong Kong
2.5.

Tujuan

Tujuan umum dari WTO adalah liberalisasi ekonomi untuk memfasilitasi


perdagangan yang diikuti dengan upaya-upaya reduksi untuk penghapusan setiap hal
yang memungkinkan menjadi penghambat perdagangan dalam barang dan jasa. Bagi
setiap negara anggota yang melakukan tindakan penolakan atau mengabaikan
kesepakatan-kesepakatan dalam perjanjian (tidak patuh) akan dikenakan tindakan
hukum (sanksi) yang ditetapkan dalam mekanisme penyelesaian sengketa (Dispute
Settlement Mechanism,-DSM). Selain itu Pembentukan WTO dan tujuan kebijakan
WTO sudah ditetapkan dalam pembukaan persetujuan WTO dimana tujuan tersebut
untuk meningkatkan standar hidup, menjamin pekerjaan penuh dan besar dan terus
berkembang volume pendapatan rill dan permintaan yang efektif, dan memperluas
produksi perdagangan barang dan jasa.
Tujuan khusus dari WTO adalah:
1. Untuk implementasi dari perjanjian WTO, dimana sebagai fasilitas dari
implementasi, administrasi, dan pelaksanaan dari perjanjian WTO serta
perjanjian multilateral dan plurateral.
2. Forum untuk perundingan peradagangan, dengan memberkan sebuah forum
untuk melakukan perundingan diantara anggota, dan merundingkan menyangkut
masalah dalam WTO maupun diluar WTO.
3. Sebagai penyelesaian sengketa, yatu sebagai administrasi dalam system
penyelesaian sengketa WTO.
4. Mengawasi Kebijakan Perdagangan, yaitu sebagai mekanisme tinjauan dalam
kebijakan perdagangan (trade policy review mechanism),
5. Melakukan pengelolaan terhadap pemahaman pada aturan dan mengatur
prosedur penyelesaian sengketa (sebagai Dispute Settlement Understanding atau
DSU).
6. Melakukan kerjasama dengan organisasi lainnya, yaitu dengan melakukan
kerjasama dengan organisasi-organisasi Internasional dan organisasi-organisasi
non pemerintah.

2.6.

Peran WTO di Bidang Regional yang Digeluti


Sejak didirikan tahun 1995, WTO menjadi salah satu organisasi internasional
yang memiliki peran vital di dunia terutama di dalam bidang perdagangan
internasional. WTO menjadi satu satunya organisasi internasional yang khusus

menangani perdagangan internasional di dunia yang juga mencakup wilayah regional


di suatu kawasan. Jika melihat secara historis, perdagangan internasional bermula
dari suatu perjanjian bilateral atau multilateral dimana perjanjian tersebut
kemungkinan terjadi di suatu wilayah regional yang menjadi objek kajian WTO. Hal
tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya adalah kedekatan 2 negara atau
lebih yang terletak wilayah regional yang sama.
Secara garis besar, peran WTO dalam sebuah wilayah regional ataupun dunia
terdiri beberapa pokok, yaitu :
-

Sebagai forum untuk mempertemukan aktor politik internasional atau negara


yang memiliki kepentingan di bidang perdagangan. WTO sebagai organisasi
internasional berperan sebagai tempat/forum bagi negara negara untuk
mempererat hubungan kerja sama maupun memiliki kepentingan di bidang
perdagangan. Tidak hanya itu, WTO juga menjadi tempat untuk membuat
agenda, kebijakan, maupun perjanjian sebagai sarana dalam melaksanakan
perdagangan internasional. Di wilayah regional, contoh nyata peran WTO adalah
WTO berperan dalam pembentukan perjanjian ASEAN Free Trade Area (AFTA)

sebagai tempat pembentukan dan pihak yang menyetujui.


Sebagai alat atau pintu gerbang bagi negara untuk memperluas akses pasar dan
promosi produk dalam negeri suatu negara. Disini dapat digaris bawahi akses
pasar bukan hanya WTO sebagai tempat iklan namun WTO juga berperan
sebagai pihak yang menghilangkan sekat sekat/pengahalang perdagangan
yang dapat berupa diskriminasi produk, pengenaan tarif berlebihan, maupun
pembatasan kuota diantara kedua negara. Sebagai contoh di wilayah regional,
berkat Konferensi Tingkat Menteri (KTM) di Doha yang menghasilkan
keputusan Non Agriculture Market Access (NAMA) yang berisi dikuranginya
atau dihapuskannya tarif atas produk non pertanian sehingga ekspor produk
non - pertanian negara di ASEAN mengalami peningkatan yang signifikan

terutama Indonesia.
Sebagai sosok vital yang memainkan peran sebagai pengatur dan membuat
aturan aturan tentang perdagangan internasional dimana aturan aturan
tersebut menjadi sebuah kontrak diantara anggota WTO yang harus dipatuhi dan

dilaksanakan guna lancarnya pelaksanaan perdagangan internasional. Sebagai


-

contoh di wilayah regional, yaitu pemberlakuan peraturan AFTA di ASEAN.


Sebagai mediator dari sengketa perdagangan internasional antara 2 negara atau
lebih. Disini WTO menjadi subjek politik internasional yang memainkan peran
sebagai penengah dari sengketa 2 negara atau lebih yang menyangkut
perdagangan internasional dimana WTO berwenang untuk mengeluarkan sebuah
keputusan atau aturan yang nantinya harus dijalankan oleh pihak pihak yang
bersengketa sebagai jalan keluar. Sebagai contoh di wilayah regional Asia
Pasifik, WTO membantu penyelesaian sengketa impor apel yang dilakukan oleh
Australia dari Selandia Baru. Dalam kasus tersebut, Australia menganggap apel
dari Selandia Baru mengandung zat yang berbahaya dan memicu timbul
penyakit sehingga Australia menerapkan larangan impor terhadap produk apel
Selandia Baru. Selandia Baru meninjau kembali produknya yang ternyata secara
ilmiah tidak mengandung zat apa yang dituduhkan sehingga Selandia Baru pun
mengangkat kasus ini ke WTO karena Selandia Baru menderita kerugian yang
cukup banyak. Setelah melalui proses yang lama, WTO pun akhirnya mengambil
keputusan untuk memenangkan Selandia Baru karena mendapati Australia tidak
konsisten dalam menjalankan Agreement on the Application of Sanitary and
Phytosanitary Measures (SPS Agreement) dan riset riset yang dilakukan oleh
Australia terhadap produk apel Selandia Baru tidak sesuai dengan kualifikasi
yang ditetapkan WTO tentang pencegahan masuk dan menyebarnya penyakit
melalui tanaman dan hewan.

2.7.

Indonesia di WTO
Keterlibatan dan posisi Indonesia dalam proses perundingan DDA didasarkan
pada kepentingan nasional dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi dan
pengentasan kemiskinan. Dalam kaitan ini, untuk memperkuat posisi runding
Indonesia bergabung dengan beberapa koalisi. Koalisi-koalisi tersebut antara lain G33, G-20, NAMA-11, yang kurang lebih memiliki kepentingan yang sama. Indonesia
terlibat aktif dalam kelompok-kelompok tersebut dalam merumuskan posisi bersama
yang mengedepankan pencapaiandevelopment objectives dari DDA. Indonesia juga
senantiasa terlibat aktif di isu-isu yang menjadi kepentingan utama Indonesia, seperti

10

pembangunan, kekayaan intelektual, lingkungan hidup, dan pembentukan aturan


WTO yang mengatur perdagangan multilateral.
Indonesia selaku koordinator G-33 juga terus melaksanakan komitmen dan
peran kepemimpinannya dengan mengadakan serangkaian pertemuan tingkat pejabat
teknis dan Duta Besar/Head of Delegations, Senior Official Meeting dan Pertemuan
Tingkat Menteri; baik secara rutin di Jenewa maupun di luar Jenewa. Hal ini
bertujuan demi tercapainya kesepakatan yang memberikan ruang bagi negara
berkembang untuk melindungi petani kecil dan miskin. Sebagai koalisi negara
berkembang, G-33 tumbuh menjadi kelompok yang memiliki pengaruh besar dalam
perundingan pertanian; anggotanya saat ini bertambah menjadi 46 negara.
Indonesia menilai bahwa apa yang sudah disepakati sampai saat ini (draf
modalitas pertanian dan NAMA) merupakan basis yang kuat bagi perundingan
selanjutnya yang sudah mencapai tahap akhir. Dalam kaitan ini, adanya upaya untuk
meninjau kembali kesepakatan umum yang sudah dicapai diharapkan tidak akan
mengubah keseimbangan yang ada dan backtracking kemajuan yang sudah berhasil
dicapai.
Negara-negara anggota diharapkan bersikap pragmatis dan secepatnya
menyelesaikan Putaran Doha berdasarkan tingkat ambisi danbalance yang ada saat
ini. Selanjutnya, diharapkan negara-negara anggota ini membicarakan ambisi
baru pasca-Doha,

walaupun

adanya

dorongan

dari

negara

maju

untuk

meningkatkan level of ambition akses pasar Putaran Doha melebihi Draf Modalitas
tanggal 6 Desember 2008.
Indonesia memiliki kepentingan untuk tetap aktif mendorong komitmen WTO
untuk melanjutkan perundingan Doha. Indonesia terbuka atas cara-cara baru untuk
menyelesaikan

perundingan

dengan

tetap

mengedepankan

prinsip single

undertaking dan mengutamakan pembangunan bagi negara berkembang dan LDCs.

2.8.

Kebijakan Perdagangan Internasional


WTO adalah organisasi yang berbasiskan aturan-aturan main atau rules yang
merupakan hasil perundingan. WTO berbeda dengan GATT yang menyusun aturan

11

main di bidang perdagangan internasional, tetapi bukan merupakan sebuah institusi;


sementara pada metamorfosisnya WTO adalah sebuah institusi dengan aturan yang
jelas serta daya penegakan yang kuat.
Dengan disahkannya WTO, maka semua kesepakatan perjanjian GATT
kemudian diatur di dalam WTO ditambah dengan isu-isu baru yang sebelumnya
tidak diatur, seperti perjanjian TRIPs (Hak atas Kekayaan Intelektual yang terkait
dengan perdagangan) atau aturan investasi (TRIMs).
Perjanjian WTO mengikat secara hukum. Negara anggota yang tidak mematuhi
perjanjian bisa diadukan oleh negara anggota lainnya karena merugikan mitra
dagangnya, serta menghadapi sanksi perdagangan yang diberlakukan oleh WTO.
Oleh karena itu sistem WTO dapat sangat berkuasa terhadap anggotanya dan mampu
memaksakan aturan-aturannya, karena anggota terikat secara legal (legally-binding)
dan keputusannya irreversible artinya tidak bisa ditarik kembali.
Di atas kertas, perjanjian tersebut haruslah dihasilkan dari serangkaian
perundingan yang yang dilakukan oleh seluruh negara anggota dan mencerminkan
kebutuhan anggota. Realitanya, perundingan dan penyusunan naskah awal
kesepakatan ditentukan oleh faktor lain, yaitu kekuatan politik negara-negara
anggota. Di dalam WTO dikenal ada power block yang disebut quad terdiri dari
Uni Eropa, Jepang, AS dan Canada.
Walaupun pengambilan keputusan berdasarkan konsensus tetapi kekuasaan riel
ada di tangan negara-negara besar tersebut. Salah satu delegasi dari negara
berkembang mengatakan, dalam proses menuju KTM Doha pada tahun 2001
misalnya negara-negara berkembang diberi teks-teks, yang isinya muncul tiba-tiba
dalam naskah awal tanpa ada perundingan sebelumnya. Tetapi di KTM Doha
keadaannya lebih buruk, teks-teks bisa muncul tiba-tiba tanpa ada yang
memasukkannya dan pada hari terakhir sekeretariat WTO mengatakan inilah hasil
teks terakhir.
Arus barang, investasi dan jasa dibiarkan bebas tetapi arus teknologi dan
tenaga kerja dibatasi, sementara dua hal terakhir diperlukan oleh negara sedang
berkembang. Perjanjian WTO dianggap paling tinggi derajatnya oleh negara
sehingga menegasikan semua

perjanjian internasional lain, termasuk perjanjian

12

lingkungan hidup. Demikian pula peran pemerintahan serta negara di tingkat lokal
dan nasional dikalahkan oleh peran pasar dan perdagangan.
Disiplin didalam WTO mengikat secara hukum terhadap pemerintah yang
sekarang maupun pemerintah di masa depan. Jadi meskipun sebuah partai politik
oposisi kemudian menang, ia tidak bisa menjalankan kebijakan baru yang
bertentangan dengan aturan-aturan WTO. Dengan demikian suatu negara tidak lagi
mempunyai banyak pilihan kebijakan ekonomi. Prinsip sistem perdagangan yang
diterapkan oleh WTO bertujuan untuk melancarkan perdagangan antar negara
anggota dengan meminimalisir adanya hambatan perdagangan antar negara. Prinsipprinsip yang diterapkan WTO antara lain adalah
1. Non-diskriminasi
Memiliki dua komponen utama yang tertanam dalam aturan WTO atas barang,
jasa, dan kekayaan intelektual. Pertama mensyaratkan bahwa anggota WTO
harus menerapkan kondisi yang sama pada perdagangan dengan semua anggota
WTO lainnya. Kedua,
2. National-treatment
Mengharuskan barang impor harus diperlakukan kurang lebih sama dengan
barang produksi dalam negeri.
3. Reciprocity
Mencerminkan keinginan untuk membatasi penyalahgunaan yang mungkin
timbul karena non-diskriminasi dan untuk menghindari adanya
4. Free-rider
Konsesi timbal balik yang berniat untuk memastikan bahwa perdagangan saling
menguntungkan akan terwujud.
5. Binding and Enforceable Commitments
Komitmen tarif yang dibuat oleh anggota WTO dalam negosiasi perdagangan
multilateral. Suatu negara dapat mengubah

perjanjian, tetapi hanya setelah

renegosiasi dengan mitra dagangnya, yang bisa berarti terdapat konsekuensi.


Jika renegosiasi tidak berhasil, negara dapat menggunakan

prosedur

penyelesaian sengketa WTO.


6. Transparancy
Dimana para anggota WTO disyaratkan untuk mempublikasikan peraturan
perdagangan mereka, yang memungkinkan lembaga- lembaga WTO untuk
meninjau keputusan administratif yang mempengaruhi perdagangan, permintaan
informasi oleh anggota lain, dan untuk memberitahukan perubahan dalam

13

kebijakan perdagangan ke WTO. Sistem WTO mencoba untuk meningkatkan


prediktabilitas dan stabilitas, mengecilkan penggunaan kuota dan lainnya.
7. Safety Valves
dalam keadaan tertentu, pemerintah dapat membatasi perdagangan. Perjanjian
WTO mengizinkan anggota untuk mengambil langkah-langkah memproteksi.
1) Pemerintah memiliki hak untuk bertindak ketika kompetisi semakin kuat dan
menekan pesaing domestik
2) Memastikan persaingan sehat; hak untuk mengenakan bea impor yang telah
disubsidi dan anti dumping
3) Ketentuan yang memungkinkan intervensi dalam perdagangan untuk alasan
ekonomi.
Perjanjian dagang dalam WTO adalah hasil dari Putaran Uruguay yaitu teks
berbahasa hukum dagang yang terdiri dari 60 perjanjian, lampiran, dan berbagai
keputusan. Secara singkat, perjanjian-perjanjian terdiri atas empat bagian, yaitu

Perjanjian payung (kesepakatan mengenai pendirian WTO),


Perjanjian untuk setiap tiga isu besar yaitu barang (goods), services, dan hak atas

kekayaan intelektual;
Penyelesaian sengketa;
Kajian ulang atas kebijakan dagang Negara-negara anggota (Trade Policy
Reviews).

Tiga isu besar yang berada di bawah WTO adalah:


1.

Perjanjian Umum tentang Barang tariff dan barang (General agreement on


Tariifs and Trade/GATT) yang merupakan perjanjian umum mengenai
liberalisasi barang. Terdiri dari beberapa perjanjian lagi di bawahnya seperti
pertanian, inspeksi perkapalan, pengaturan anti dumping; tekstil dan produk
tekstil.

2.

Perjanjian Umum Perdagangan Jasa-jasa (General Agreement on Trade in


Services/GATS). Dalam perluasan akses pasar sector jasa, setiap Negara
menyusun komitmen liberalisasi dan jadwal pelaksanaan untuk seberapa
banyak pemasok jasa dari luar dapat memberikan jasanya di lokal. (lebih detail
lihat informasi dasar mengenai Jasa).

3.

Hak atas Kekayaan Intelektual yang Terkait dengan Perdagangan (TradeRelated Aspects of Intellectual Property Rights/TRIPS).

14

2.9.

Pengaruh Kebijakan Perdagangan Internasional WTO Terhadap


Perekonomian Indonesia
Indonesia telah menjadi anggota dari Organisasi Perdagangan Dunia atau
WTO. Ada manfaat yang dapat dirasakan oleh Indonesia sebagai anggota dari WTO
dan adapula kerugian mengikuti organisasi ini, terlebih Indonesia masih merupakan
negara berkembang yang belum kuat stabilitas perekonomiannya.
Indonesia negara berkembang, tentu saja merasakan dampak yang diakibatkan
oleh kebijakan. Ada tarif ekspor yang dibuat oleh WTO, itu akan berdampak pada
kuota ekspor yang akan dilakukan Indonesia, disatu sisi dengan memberi kebijakan
tarif akan menjauhkan dari setiap negara dari persaingan yang tidak sehat. Namun
jangan salah bahwa Indonesia pernah dihadapakan dengan negara Amerika yang kita
ketahui adalah negara maju dan kuat disegala sektor, Indonesia yang diberi kebijakan
kuota oleh Amerika dan kebijakan Amerika tentang tembakau. Kebijakan Kuota itu
di rana holtikultura yang dianggap Indonesia justru memberatkan, sama juga dengan
kebijakan Amerika yang tentang tembakau seperti dijelaskan diatas.
Oleh karena itu Indonesia harus melawan segala kebijakan yang dirasa
memang memberatkan, tidak mungkin juga Indonesia meninggalkan keanggotaan
WTO karena Indonesia sendiri juga diuntungkan sebagai negara berkembang untuk
mengembangkan sektor perekonomiannya.
Disisi lain keuntungan dalam sistem perdagangan WTO yang juga dapat
dirasakan oleh Indonesia antara lain dapat dikelompokkan dalam 10 hal penting,
yaitu :
1. Sistem perdagangan multilateral WTO mendorong terciptanya perdamaian
2. Persengketaan antarnegara dapat ditangani secara konstruktif
3. Peraturan-peraturan yang sesuai dengan sistem multilateral akan memudahkan
perdagangan antarnegara
4. Sistem perdagangan multilateral mendorong pengurangan tarif dan hambatan
non-tarif, sehingga biaya hidup menjadi lebih murah.
5. Sistem perdagangan multilateral memberikan banyak pilihan atas produk dengan
kualitas berbeda kepada konsumen
6. Sistem perdagangan multilateral meningkatkan pendapatan
7. Sistem perdagangan multilateral mendorong pertumbuhan ekonomi
8. Prinsip-prinsip dasar sistem perdagangan WTO yang nondiskriminasi, bila
secara konsisten diterapkan akan mendorong perdagangan berjalan lebih efisien

15

9. Pemerintah negara-negara anggota akan terlindungi dari praktik-praktik


persaingan dagang antarnegara yang tidak sehat
10. Sistem pedagangan multilateral mendorong terciptanya pemerintahan yang
bersih
Dilihat dari penerapan prinsip-prinsip nondiskriminasi, yang menguntungkan
bagi Indonesia misalnya ketika negara kita hendak mengimpor sesuatu ke negara
lain, maka berdasarkan prinsip MFN bea masuk yang akan dikenakan terhadap
komoditi dari Indonesia adalah sama dengan yang diberlakukan terhadap komoditi
dari negara lainnya, dan hal ini menguntungkan bagi negara kita.
Sebaliknya, penerapan prinsip National Treatment bisa saja merugikan
Indonesia, dimana berdasarkan prinsip ini harus diberlakukan sama antara barang
dalam negeri dengan barang dari luar negeri. Apabila Indonesia tidak siap untuk
bersaing dengan barang-barang impor yang masuk, maka barang produksi dalam
negeri tentu saja akan kalah oleh barang-barang yang masuk dari luar negeri tersebut.
Selain itu, Pemerintah Indonesia berdasarkan prinsip ini tidak boleh membedakan
perlakuan terhadap pengusaha dalam negeri dengan perlakuan terhadap pengusaha
dari luar negeri. Meskipun ada pengecualian untuk negara yang sedang berkembang
seperti Indonesia, dimana prinsip-prinsip nondiskriminasi dalam WTO ini boleh
dikesampingkan hanya dalam jangka waktu 10 tahun saja. Dalam jangka waktu itu
negara-negara berkembang yang mengesampingkan prinsip-prinsip WTO diberikan
kesempatan untuk menata perekonomiannya agar dapat bersaing dalam pasar bebas.
Penerapan prinsip ini juga dapat menurunkan pendapatan negara dari bea masuk
barang impor, karena tidak boleh ada pembedaan tarif bagi barang dari negara
manapun. Setelah jangka waktu 10 tahun itu, Pemerintah disuatu negara berkembang
tidak dapat lagi memberikan perlakuan khusus seperti pemberian subsidi bagi
pengusaha dalam negeri, karena dengan Masuknya Indonesia ke WTO berarti
Indonesia harus patuh pada semua aturan-aturannya.

16

BAB III
PENUTUP

3.1.

Kesimpulan

3.2.

Saran

17

DAFTAR PUSTAKA
(http://www.wto.org/english/thewto_e/whatis_e/tif_e/org7_e.htm diakses 29 Maret
2016)
(http://komahi.umy.ac.id/2010/12/sistem-perdagangan-internasional-dalam.html
diakses 29 Maret 2016)
(http://www.pp-frontmahasiswanasional.org/2013/11/wto-adalah-metamorposis-dariito.html diakses 29 Maret 2016)
(http://www.academia.edu/4704765/The_origins_of_the_WTO diakses 29 Maret
2016)
(nano.staff.umy.ac.id/files/2012/04/Ek-Inter3.pdf diakses 29 Maret 2016)
(http://igj.or.id/indonesia-dan-akses-pasar-non-pertanian-wto/ diakses pada diakses
29 Maret 2016)
(http://www.tempo.co/read/news/2010/08/10/090270147/90-Tahun-BersengketaWTO-Menangkan-Selandia-Baru diakses 29 Maret 2016)
(http://mahendraputra.net/wp-content/uploads/2012/02/BAHAN-KULIAH-

HUKUM-PERNIAGAAN-INTERNASIONAL-7.pdf diakses 29 Maret 2016)


(http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/505/jbptunikompp-gdl-erikanaing-25222-5-

unikom_e-i.pdf diakses 29 Maret 2016)


Kemenlu
RI.
2014.
World
Trade
Organization
(WTO).
(http://www.kemlu.go.id/id/kebijakan/kerjasama-multilateral/Pages/WorldTrade-Organization-(WTO).aspx diakses 29 Maret 2016)
(https://binchoutan.files.wordpress.com/2008/05/wto-dan-pengaruhnya-terhadap-

indonesia.pdf diakses 30 Maret 2016)

18