Anda di halaman 1dari 12

AKUNTANSI KEUNGAN LANJUTAN

LIKUIDASI
KOMISI II
ANGGOTA:
YOGA DARMAWAN I PUTU (1315351009)
ARI DEWANTO I GEDE (1315351039)
ANGGI PRAMISWARI DEWA AYU (1315351053)
ANDINI PERMATA SARI (1315351159)

DEFINISI LIKUIDASI DAN PERBEDAANNYA DENGAN


DISOLUSI

Likuidasi adalah berhentinya kegiatan operasi perusahaan (pembubaran


usaha) secara keseluruhan dengan menjual sebagian atau seluruh aktiva
perusahaan, membayar semua utang pajak, kewajiban pada pihak ketiga dan
sisanya dibagikan kepada para sekutu sesuai dengan rasio laba / rugi.

Masuknya sekutu baru atau pengunduran diri sekutu lama atau meninggalnya
sekutu lama akan mengakibatkan disolusi (pembubaran) persekutuan. Tetapi
disolusi tidak selalu terjadi dengan berhentinya operasi persekutuan atau
berhentinya usaha dan akuntansi persekutuan. Disolusi persekutuan menurut
Undang-undang adalah "perubahan pada hubungan sekutu ketika ada sekutu
yang tidak lagi terlibat dalam menjalankan usaha yang berbeda dengan
penyelesaian (winding up) usaha tersebut (Bagian 29 Undang-undang).

PROSES LIKUIDASI

Pada umumnya likuidasi persekutuan menyangkut hal-hal:


- Mengkonversi aktiva nonkas menjadi kas.
- Mengakui keuntungan dan kerugian dan biaya likuidasi yang timbul selama masa likuidasi.
- Menyelesaikan seluruh kewajiban.
- Mendistribusikan kas kepada sekutu berdasarkan saldo akhir kas mereka.

Penjelasan umum mengenai proses likuidasi mengasumsikan bahwa persekutuan mampu membayar hutang-hutangnya,
dengan kata lain aktiva yang dimiliki melebihi kewajiban.

Aturan dalam mendistribusikan aktiva dalam likuidasi persekutuan dibuat bertingkat sesuai prioritas:
- Jumlah yang dipinjam dari kreditur yang bukan sekutu
- Jumlah yang dipinjam dari sekutu selain untuk modal dan laba
- Jumlah yang harus diberikan kepada sekutu sesuai kepemilikannya
Seluruh saldo laba atau rugi dan prive harus ditutup ke perkiraan modal sebelum distribusi dilakukan. Kekayaan
persekutuan tidak boleh didistribusikan kepada sekutu yang memiliki saldo modal negative. Maka dari itu saldo
pinjaman sekutu harus ditutup dengan saldo modal untuk menentukan jumlah yang dibagikan kepada sekutu. Ketika
jumlah yang akan dibagikan kepada sekutu tertentu telah ditentukan, saldo pinjaman sekutu itu harus dikurangi
sebelum perkiraan modalnya dikurangi.

LIKUIDASI PERSEKUTUAN SEDERHANA

Likuidasi persekutuan yang sederhana mengkonversi seluruh aktiva sekutu


menjadi kas dan mendistribusikan kas kepada sekutu pada penyelesaian akhir
persekutuan. Jumlah kas yang didistribusikan kepada sekutu sama dengan
saldo modal masing-masing setelah seluruh kerugian yang terjadi dari
likuidasi diakui. Kerugian selama likuidasi dibebankan langsung ke perkiraan
modal. Rasio pembagian laba dan rugi digunakan selama likuidasi kecuali jika
perjanjian persekutuan menyebutkan metode pembagian laba dan rugi yang
lain selama likuidasi. Jika dalam perjanjian menyebutkan penyisihan untuk
gaji dan bunga, maka rasio pembagian sisal aba dan rugi yang digunakan
selama likuidasi. Ini dikarenakan keuntungan dan kerugian atas likuidasi
merupakan penyesuaian atas laba sebelumnya yang akan dibagikan dengan
rasio pembagian laba sisa, jika telah diakui sebelum disolusi.

SALDO MODAL DEBIT DALAM


PERSEKUTUAN YANG LIKUID
Dalam melikuidasi persekutuan yang likuid, sumber dana yang tersedia dipakai untuk membayar kreditur
dan sisanya dibagikan untuk sekutu. Tetapi proses likuidasi bisa saja menghasilkan kerugian yang
menyebabkan perkiraan modal sekutu menjadi bersaldo debit. Jika ini terjadi, sekutu yang memiliki
saldo debit tersebut mempunyai kewajiban terhadap sekutu yang modalnya bersaldo kredit, dan mereka
diminta untuk menggunakan harta pribadi mereka untuk menyelesaikan kewajibannya. Apabila sekutu
yang memiliki saldo debit tidak memiliki harta ppribadi, maka sekutu yang masih memilikii kekayaan
diasumsikan rugi sebesar saldo debit. Kerugian ini dibagi berdasarkan rasio pembagian laba dan rugi.
Apabila Jaya secara pribadi mampu membayar untuk menutupi saldo debitnya, maka ia harus membayar
sebesar Rp 3.000.000 kepada persekutuan. Pembayarannya akan menaikkan kas menjadi Rp 28.000.000,
yang nantinya akan didistribusikan kepada Joko dan Joni pada akhir likuidasi. Jika Jaya tidak mampu
membayar untuk menutupi saldo debitnya, maka jumlah itu dianggap rugi dan dibebankan ke Joko dan
Joni menurut rasio pembagian laba dan rugi. Rugi yang dibebankan ke Joko adalah sebesar Rp 2.000.000
(Rp 3000.000 X 0,4/0,6), dan untuk Joni sebesar Rp 1.000.000 (Rp 3.000.000 X 0,2/0,6). Dalam hal ini,
kas sebesar Rp 25.000.000 dibagikan kepada Joko sejumlah Rp 14.000.000 dan Joni sejumlah Rp
11.000.000.

PEMBAYARAN AMAN UNTUK SEKUTU


Ukuran pembayaran yang aman untuk sekutu didasarkan pada asumsi berikut ini:
1. Seluruh sekutu secara pribadi tidak likuid (sekutu tidak mampu membayar
kepada perusahaan), 2. Seluruh aktiva nonkas menunjukkan kemungkinan rugi
(aktiva nonkas harus dipertimbangkan rugi untuk tujuan untuk menentukan
pembayaran yang aman). Selain itu, ketika mengkalkulasi pembayaran yang
aman persekutuan juga memegang sejumlah tertentu kas untuk menutupi biaya
likuidasi, kewajiban, yang belum tercatat dan kontijensi lainnya.

PENERAPAN SCHEDULE PEMBAYARAN


AMAN
Asumsikan persekutuan Budi, Mina, dan Nani sedang dalam proses likuidasi, dan
saldo perkiraan mereka adalah sebagai berikut:

Seluruh kewajiban selain kepada sekutu telah dibayar, dan para sekutu
memperkirakan penjualan tanah dan bangunan akan memakan waktu beberapa
bulan. Maka dari itu, mereka sepakat bahwa seluruh kas yang ada di tangan, di
luar Rp 10.000.000 untuk menutup biaya dan kontijensi, harus diidstribusikan
secepatnya. Dengan informasi ini, skedul pembayaran aman dipersiapkan untuk
menentukan jumlah kas yang bias didistribusikan secara aman untuk tiap sekutu.
Skedul pembayaran aman untuk Budi, Mina dan Nani diberikan pada table
berikut.

LIKUIDASI BERTAHAP

Likuidasi bertahap merupakan suatu likuidasi yang secara umum memerlukan beberapa bulan dalam
penyelesaiannya dan mencakup pembayaran secara periodik, cicilan/bertahap, kepada para sekutunya
selama masa likuidasi. Likuidasi bertahap mencakup distribusi kas kepada para sekutu sebelum likuidasi
aset sepenuhnya dilakukan. Berikut panduan yang dapat digunakan untuk membantu akuntan dalam
menentukan pembayaran bertahap yang aman kepada para sekutu :

Tidak mendistribusikan kas kepada para sekutu hingga seluruh kewajiban dan beban likuidasi aktual
maupun potensial telah dibayarkan atau telah dicadangkan seperlunya.

Antisipasilah kemungkinan yang terburuk, atau yang paling membatasi sebelum menentukan jumlah
uang tunai yang dapat diterima oleh masing-masing sekutu :

Asumsikan bahwa seluruh aset nonkas yang tersisa akan dihapuskan sebagai kerugian, yaitu bahwa tidak ada lagi
yang dapat direalisasikan dari penghapusan aset.

Asumsikan bahwa defisit timbul pada akun modal para sekutu akan didistribusikan kepada sekutu yang tersisa,
asumsi bahwa defisit tersebut tidak akan dihapuskan oleh kontribusi modal tambahan para sekutu.

Setelah akuntan mengasumsikan kasus terburuk yang dapat terjadi, maka sisa saldo kredit pada akun
modal menunjukkan distribusi aset dan kas yang aman yang dapat didistribusikan kepada masingmasing sekutu dalam jumlah yang terkait.

Untuk menentukan pembayaran kas yang aman yang hendak dilakukan kepada para sekutu,
pihak akuntan harus membuat beberapa asumsi mengenai likuidasi aset tersisa di masa
depan. Sebelum melakukan distribusi kas kepada para sekutu, akuntan menyusun skedul
pembayaran aman kepada para sekutu dengan menggunakan asumsi kasus terburuk.
Skedul ini dimulai dengan saldo modal dan pinjaman secara logika menggunakan akun-akun
modal yang berasal dari persamaan akuntansi : Aset Kewajiban = Saldo Modal Sekutu.
Skedul pembayaran aman kepada para sekutu ini mencakup seluruh informasi yang
diperlukan agar para sekutu mengetahui berapa besar kas yang akan diterima pada setiap
tanggal distribusi kas.
Asumsi kasus terburuk berupa kerugian total atas aset nonkas dan beban likuidasi,
menimbulkan total pembebanan yang harus didistribusikan terhadap akun modal para
sekutu. Jika asumsi ini menghasilkan perkiraan defisit dalam akun modal salah satu sekutu,
maka itu bukan defisit aktual yang harus ditutup. Hal tersebut hanyalah hasil dari
penerapan asumsi kasus terburuk.

RENCANA DISTRIBUSI KAS

Rencana
Distribusi Kas

Pada awal proses likuidasi, adalah umum bagi para akuntan untuk menyusun rencana distribusi kas, yang
memberikan gambaran kepada para sekutu mengenai pembayaran kas bertahap yang akan diterima oleh masing
masing pada saat tersedia kas dalam persekutuan. Distribusi bertahap aktual ditentukan dengan menggunakkan
laporan realisasi dan likuidasi, yang dilengkapi dengan skedul pembayaran aman kepada para sekutu sebagaimana
yang ditunjukkan pada bagian akhir bab ini. Rencana distribusi kas merupakan proyeksi pro forma penggunaan kas,
apabila telah tersedia uang tunai.
Kemampuan Menanggung Kerugian
Konsep dasar rencana distribusi kas pada awal proses likuidasi adalah kemampuan menanggung kerugian. LAP
seorang sekutu diartikan sebagai kerugian maksimum yang dapat terjadi dalam persekutuan sebelum saldo akun
modal dan pinjaman sekutu dilunasi. Kemampuan menanggung kerugian merupakan fungsi dari dua elemen, yaitu :
Sebagai contoh, pada 1 Mei 20X5 Aldi memiliki saldo kredit akun modal sebesar Rp 34.000.000 dan 40% dari
bagian laba dan rugi Persekutuan ABC LAP Aldi adalah :
Ini berarti bahwa kerugian dalam penghapusan aset nonkas atau beban likuidasi tambahan sebesar Rp
85.000.000 akan menghapuskan saldo kredit dalam akun modal Aldi dengan perhitungan sebagai berikut.
Rp. 85.000.000 x 0,40 = Rp. 34.000.000

SEKUTU DAN PERSEKUTUAN YANG TIDAK LIKUID

Untuk sekutu yang tidak likuid aturan yang berlaku untuk mengklaim harta dari
sekutu yang :
1. Jumlah terutang kepada kreditur luar.
2. Jumlah terutang kepada kreditur persekutuan.
3. Jumlah terutang kepada sekutu dari kontribusi.
Persekutuan Likuid-Satu atau Lebih Sekutu tidak Likuid
Dalam likuidasi persekutuan, kreditur persekutuan mendapatkan penggantian
atas klaim mereka dari harta persekutuan. Persekutuan harus hati-hati untuk
tidsak mendistribusikan harta persekutuan kepada sekutu yang tidak likuid
karena kreditur pribadi mereka mengklaim aktiva persekutuan atas
ketidaksanggupan sekutu membayar hutangnya.

PERSEKUTUAN TIDAK LIKUID


Ketika persekutuan tidak likuid, kas yang tersedia setelah seluruh aktiva nonkas
dikonversi menjadi kas tidak akan cukup untuk membayar kreditur persekutuan.
Kreditur persekutuan akan mendapatkan penggantian sebagian dari aktiva
persekutuan dan mendesak sekutu untuk menggunakan harta pribadi untuk
menutupi sisa klaim. Walaupun kreditur pribadi mempunyai klaim lebih dulu atas
harta pribadi, kreditur persekutuan dapat mencari penggantian atas klaim
mereka dari aktiva pribadi sekutu yang secara pribadi likuid. Sekutu yang
membayar lebih dari bagian kewajibannya dalam persekutuan tentu saja
mempunyai klaim atas sekutu yang memiliki saldo modal debit.