Anda di halaman 1dari 26

UJIAN AKHIR SEMESTER

AKUNTANSI SYARIAH

ARNOLD ARZELAN
RICKY HARYANTO
RIZKI

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

S1 ALIH PROGRAM AKUNTANSI


2015

AKUNTANSI MUDHARABAH
A. Pengertian Akad Mudharabah
Secara teknis mudharabah adalah akad kerja sama usaha
antara pemilik dana dan pengelola dana untuk melakukan
kegiatan usaha, laba dibagi atas dasar nisbah bagi hasil menurut
kesepakatan kedua belah pihak, sedangkan bila terjadi kerugian
akan ditanggung oleh si pemilik dana kecuali disebabkan oleh
misconduct, negligence dan violation oleh pengelola dana.
Akad mudharabah merupakan suatu transaksi pendanaan
atau investasi yang berdasarkan kepercayaan, yaitu kepercayaan
dari pemilik dana kepada pengelola dana. Kepercayaan ini
penting dalam akad mudharabah karena pemilik dana tidak boleh
ikut campur dalam manajemen perusahaan atau proyek yang
dibiayai dengan pemilik dana tersebut, kecuali sebatas
memberikan saran dan melakukan pengawasan pada pengelola
dana.
Keuntungan yang dibagikan pun tidak boleh menggunakan
niali proyeksi, akan tetap harus menggunakan nilai realisasi
keuntungan, yang mengacu pada laporan hasil usaha yang secara
periodic disusun oleh pengelola dana dan diserahkan kepada
pemilik dana.
Pada prinsipnya mudharabah tidak boleh ada jamina atas
modal, namun demikian agar pengelola dana tidak melakukan
penyimpangan, pemilik dana dapat meminta jaminan dari
pengelola dana atau pihak ketiga. Tentu saja jaminan ini hanya

dapat dicairkan apabila pengelola dana terbukti melakukan


kesalahan yang disengaja, lalai, atau melakukan pelanggaran

terhadap hal hal yang disepakati bersama dalam akad.


Hikmah
dari
system
mudharabah
adalah
dapat
memeberikan keringanan kepada manusia. Terkadang ada
sebgaian orang yang memiliki harta, tetapi tidak mampu untuk
membuatnya menjadi produktif dan sebaliknya. Dengan akad
mudharabah, kedua belah pihak dapat mengambil manfaat dari
kerja sama yang terbentuk.

Skema Mudharabah

Keterangan :
1) Pemilik dana dan pengelola dana menyepakati akad
mudharabah
2) Proyek usaha sesuai akad mudharabah dikelola pengelola dana

3) Proyek usaha menghasilkan laba atau rugi


4) Jika untung, dibagi sesuai nisbah
5) Jika rugi, ditanggung pemilik dana
B. Karakteristik Akad Mudharabah
Pembagian risiko dalam akad mudharabah yaitu :
Pemilik dana memiliki resiko dalam bentuk finansial
Pengelola dana memiliki resiko dalam bentuk non finansial

Sedangkan dalam pembagian keuntungannya, yaitu :


Menggunakan nisbah yang disepakati
Menggunakan nilai realisasi keuntungan, yang mengacu
pada laporan hasil usaha
periodik yang disusun oleh
pengelola dana
C. Jenis Mudharabah
Dalam
PSAK
105
tentang
akuntansi
mudharabah,
mudharabah diklasifikasikan ke dalam 3 jenis, di antaranya :
1. Mudharabah Mutlaqah
Mudharabah mutlaqah adalah jenis mudharabah di mana
pemilik dana memberikan kebebasan kepada pengelola dana
dalam pengelolaan investasinya. Mudharabah ini disebut juga
investasi tidak terikat. Jenis mudharabah ini tidak ditentukan
masa berlakunya, di daerah mana usaha tersebut akan dilakukan,
tidak ditentukan line of trade, line of industry, atau line of service
yang akan dikerjakan. Namun, kebebasan ini bukan kebebasan
yang tak terbatas sama sekali. Modal yang ditanamkan tetap
tidak boleh digunakan untuk membiayai proyel atau investasi
yang dilarang oleh Islam. Jadi, prinsip mudharabah mutlaqah ini
lebih memberikan keleluasaan bagi bank.

2. Mudharabah Muqayyadah
Mudharabah Muqayyadah adalah jenis mudharabah dimana
pemilik dana memberikan batasan kepada pengelola dana
mengenai lokasi, cara, dan atau objek investasi/sektor usaha.
Contoh :
- Tidak mencampurkan dana pemilik dana dengan dana
lainnya
- Tidak menginvestasikan dananya pada transaksi penjualan
cicilan
- Mengharuskan pengelola dana untuk melakukan investasi
sendiri tanpa melalui pihak ketiga

3. Mudharabah Musytarakah
Mudharabah Musytarakah merupakan perpaduan antara
akad mudharabah dan akad musyarakah) dimana pengelola dana
menyertakan modal dananya dalam kerja sama investasi.
Diawal kerjasama, akad yang disepakati adalah akad
mudharabah dengan modal 100% dari pemilik dana. Setelah
berjalannya operasi usaha dengan pertimbangan tertentu dan
kesepakatan dengan pemilik dana, pengelola dana ikut
menanamkan modalnya dalam usaha tersebut.
D. Rukun dan Ketentuan Syariah Mudharabah
Rukun dari akad mudharabah ada empat, yaitu :
1) Pelaku (Pemilik Modal dan Pelaksana Usaha);
Dalam akad mudharabah, minimal harus ada dua pelaku. Pihak
pertama bertindak sebagai pemilik modal (shahibul maal),
sedangkan pihak kedua bertindak sebagai pelaksana usaha
(mudharib atau amil). Pelaku dalam akad mudharabah harus
cakap hukum.

2) Objek Mudharabah (Modal dan Kerja);


Pemilik
modal
menyerahkan
modalnya
sebagai
objek
mudharabah, sedangkan pelaksana usaha menyerahkan kerjanya
sebagai objek mudharabah. Modal yang diserahkan dapat
berbentuk uang atau barang yang dirinci berapa nilai uangnya.
Sedangkan kerja yang diserahkan dapat berbentuk keahlian,
keterampilan, selling skill, management skill, dan lain-lain
3) Persetujuan Kedua Belah Pihak (Ijab Qabul);
Para ulama fiqih mensyaratkan tiga hal dalam melakukan ijab dan
kabul agar memiliki akibat hukum, yaitu: pertama, Jalaul mana,
yaitu tujuan yang terkandung dalam pernyataan itu jelas,
sehingga dapat dipahami jenis akad yang dikehendaki; kedua,
Tawafud, yaitu adanya kesesuaian antara ijab dan qabul; ketiga,
Jazmul Iradataini, yaitu antara ijab dan kabul menunjukkan
kehendak para pihak secara pasti, tidak ragu, dan tidak
terpaksa.25 Persetujuan kedua belah merupakan konsekuensi dari
prinsip an-taradhin minkum (sama-sama rela). Kedua belah pihak
harus secara rela bersepakat untuk mengikatkan diri dalam akad
mudharabah. Pemilik dana setuju dengan perannya untuk
mengkontribusikan dana. Sedangkan pelaksana usaha setuju
dengan perannya untuk mengkontribusikan kerja.
4) Nisbah Keuntungan
Nisbah keuntungan merupakan rukun yang khas dalam akad
mudharabah. nisbah ini mencerminkan imbalan yang berhak
diterima oleh kedua pihak yang ber-mudharabah. Mudharib
mendapatkan imbalan atas kerjanya, sedangkan shahibul maal
berhak mendapatkan imbalan atas penyertaan modalnya. Nisbah
keuntungan inilah yang akan mencegah terjadinya perselisihan
antara kedua belah pihak mengenai cara pembagian
keuntungan.26 Salah satu segi penting dalam mudharabah
adalah pembagian keuntungan diantara dua pihak harus secara

proporsional dan tidak dapat memberikan keuntungan sekaligus


atau yang pasti kepada pemilik modal (shahibul maal).
E. Prinsip Pembagian Hasil Usaha
Pembagian hasil usaha mudharabah dapat dilakukan
berdasarkan prinsip bagi hasil (revenue sharing) atau bagi laba
(profit sharing). Jika berdasarkan prinsip bagi hasil, maka dasar
pembagian hasil usaha adalah laba bruto (gross profit) bukan
total pendapatan usaha (omzet). Sedangkan dalam prinsip bagi
laba, dasar pembagian adalah laba neto (net profit) yaitu laba
bruto dikurangi beban yang berkaitan dengan pengelolaan modal
mudharabah.
F. Bagi Hasil untuk akad Mudharabah Musytarakah (PSAK
105 par 34)
Hasil investasi dibagi antara pengelola dana dan pemilik dana
sesuai nisbah yang disepakati, selanjutnya bagian hasil investasi
setelah dikurangi untuk pengelola dana tersebut dibagi antara
pengelola dana (sebagai musytarik) dengan pemilik dana sesuai
dengan porsi modal masing-masing; atau
Hasil investasi dibagi antara pengelola dana (sebagai
musytarik) dan pemilik dana sesuai dengan porsi modal masingmasing, selanjutnya bagian hasil investasi setelah dikurangi untuk
pengelola dana (sebagai musytarik) tersebut dibagi antara
pengelola dana dengan pemilikdana sesuai dengan nisbah yang
disepakati.
G. Berakhirnya Akad Mudharabah
Lamanya kerja sama dalam mudharabah tidak tentu dan
tidak terbatas, tetapi semua pihak berhak untuk menentukan
jangka waktu kontrak kerja sama dengan memberitahukan pihak
lainnya. Akad mudharabah dapat berakhir karena:
1. Dalam hal mudharabah tersebut dibatasi waktunya.

2. Salah satu pihak memutuskan mengundurkan diri.


3. Salah satu pihak meninggal dunia atau hilang akal.
4. Pengelola dana tidak menjalankan amanahnya sebagai
pengelola usaha untuk mencapai tujuan sebagaimana dituangkan
dalam akad.
5. Modal sudah tidak ada.
H. Perlakuan Akuntansi (PSAK 105) Untuk Pemilik Dana
Dana mudharabah yang disalurkan oleh pemilik dana diakui
sebagai investasi mudharabah pada saat pembayaran kas atau
penyerahan aset nonkas kepada pengelola dana. Pengukuran
investasi mudharabah adalah sebagai berikut:
a) investasi mudharabah dalam bentuk kas diukur sebesar
jumlah yang dibayarkan;
b) investasi mudharabah dalam bentuk aset nonkas diukur
sebesar nilai wajar aset nonkas pada saat penyerahan:
- jika nilai wajar lebih tinggi daripada nilai tercatatnya
diakui, maka selisihnya diakui sebagai keuntungan
tangguhan dan diamortisasi sesuai jangka waktu akad
mudharabah.
- jika nilai wajar lebih rendah daripada nilai tercatatnya,
maka selisihnya diakui sebagai kerugian;

I. Perlakuan Akuntansi (PSAK 105) Untuk Pengelola Dana


Lembaga Keuangan Syariah (LKS) merupakan pihak
pengelola dana (mudharib) yang berkewajiban untuk mengemban
amanah nasabah deposan (shohibul maal) dengan selalu
memegang prinsip kehati hatian dan mempertanggungjawabkan
pengelolaan dana tersebut. Paragraf 25 PSAK 105 menjelaskan
bahwa:

Dana yang diterima dalam akad Mudharabah diakui sebagai


dana syirkah temporer sebesar jumlah kas atau nilai wajar asset
non kas yang diterima. Pada akhir periode akuntansi, dana
syirkah temporer diukur sebesar nilai tercatat.
Dana syirkah temporer, sebagai pengganti Investasi Tidak
Terikat (PSAK 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah)
mengakomodasi danamudharabah mutlaqah. LKS (Perbankan
Syariah, BMT dan Koperasi Syariah) memiliki keleluasaan untuk
menyalurkan dana ke sektor sektor yang dinilai menguntungkan
dimana masing masing memiliki produk tabungan dan deposito
dengan nisbah yang bervariasi menurut jangka waktu
pengendapannya. Namun hal ini tidak bersifat kaku karena nisbah
dapat dinegosiasikan dengan nasabah, LKS harus menjelaskan
prinsip dan perhitungan bagi hasil yang digunakan pada awal
akad.
J. Pengungkapan
Berdasarkan PSAK 105 paragraf 38 dan PAPSI (2006) terdapat
beberapa hal yang harus diungkap dalam transaksi mudharabah.
Beberapa hal tersebut adalah sebagai berikut :
1. Isi kesepakatan utama usaha mudharabah (PSAK 105
paragaraf 38a)
2. Rincian jumlah investasi mudharabah berdasarkan jenisnya
(PSAK 105 paragraf 38b)
3. Jumlah investasi mudharabah yang diberikan kepada pihak
yang mempunyai hubungan istimewa (PAPSI, 2006)
4. Jumlah investasi mudharabah yang telah direstrukturisasi
dan
informasi
lain
tentang
mudharabah
yang
direstrukturisasi selam periode berjalan (PAPSI, 2006)
5. Metode yang digunakan untuk menentukan penyisihan
khusus dan umum (PAPSI, 2006)

6. Kebijakan manajemen dan pelaksanaan pengendalian resiko


portofolio investasi mudharabah (PAPSI, 2006)
7. Besarnya
investasi
mudharabah
bermasalah
dan
penyisihannya untuk setiap sektor ekonomi (PAPSI, 2006)
8. Kebijakan
dan
metode
yang
dipergunakan
penanganan mudharabah bermasalah (PAPSI, 2006)

dalam

9. Ikhtisar investasi mudharabah yang dihapus buku (PAPSI,


2006)
10.
Kerugian atas penurunan nilai investasi mudharabah
(apabila ada) (PAPSI, 2006)
K. Contoh Soal
Perusahaan A dan B melakukan akad mudharabah. Perusahaan A
mendanai dan perusahaan B yang mengelola dalam jangka waktu
3 tahun.
Data:
1. Jumlah modal diberikan oleh perusahaan A sebesar Rp
500.000.000. dimana Rp 200.000.000 dalam bentuk kas dan Rp
300.000.000 dalam bentu peralatan konveksi. Pada saat
penyerahan peralatan konveksi, nilai buku peralatan konfeksi
lebih tinggi dari nilai wajar sebesar Rp 20.000.000
2. Bagi hasil dibagikan dengan metode Net Profit Sharing, 20%
untuk perusahaan A dan 80% untuk perusahaan B. realisasi laba
rugi bersih :
Tahun 1 rugi = Rp 10.000.000
Tahun 2 laba = Rp 120.000.000
Tahun 3 laba = Rp 140.000.000

Pencatatan akuntansi pada pemilik dana :


1.
Penyerahan investasi mudharabah:

Investasi mudharabah
Kas
200.000.000
Peralatan konveksi
300.000.000
Kerugian penurunan nilai aset
Investasi mudharabah
20.000.000

500.000.000

20.000.000

2. Penerimaan bagi hasil :


Kerugian mudharabah
Penyisihan kerugian mudharabah
10.000.000
Penyisihan kerugian mudharabah
Investasi mudharabah
2.000.000

10.000.000

2.000.000

Kas

24.000.000

Pendapatan bagi hasil mudharabah


24.000.000
Kas

28.000.000

Pendapatan bagi hasil mudharabah


28.000.000
Pencatatan akuntansi pada pengola dana :
1. Penerimaan dana syirkah temporer
Kas
200.000.000
Peralatan konveksi
300.000.000
Dana syirkah temporer
500.000.000

2. Pembagian bagi hasil


Dana syirkah temporer
Ikhtisar Rugi Laba
10.000.000

10.000.000

Bagi hasil yang dibagikan


Kas
24.000.000

24.000.000

Bagi hasil yang dibagikan


Kas
28.000.000

28.000.000

3. Pengembalian di akhir akad


Dana syirkah temporer
Kas
490.000.000

490.000.000

AKUNTANSI MUSYARAKAH
A.

PENGERTIAN MUSYARAKAH
Musyarakah adalah akad kerja sama diantara pemilik modal

yang

mencampurkan

modal

mereka

untuk

tujuan

mencari keuntungan. Menurut PSAK 106 Musyarakah adalah


Akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha
tertentu, dimana masing masing pihak memberikan kontribusi
dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi berdasarkan
porsi kontribusi dana. Dana tersebut meliputi kas atau asset
nonkas yang diperkenankan oleh syariah. Mitra dibagi menjadi
dua yaitu mitra Aktif dan Pasif:
a.Mitra aktif adalah mitra yang mengelola usaha musyarakah,
baik mengelola sendiri atau menunjuk pihak lain atas nama
mitra tersebut.
b.Mitra Pasif adalah mitra yang tidak ikut mengelola usaha
musyarakah.
Dalam musyarakah baik mitra aktif/pasif dan bank samasama menyediakan modal untuk meambiayai suatu usaha
tertentu, baik yang sudah berjalan maupun baru. Selanjutnya
mitra dapat mengembalikan modal tersebut berikut bagi hasil
yang telah disepakati secara bertahap atau sekaligus pada
bank. Pembiayaan musyarakah dapat diberikan dalam bentuk
kas,setara kas,atau aktiva non kas,termasuk aktiva tidak
berwujud,seperti lisensi dan hak paten.

Karena setiap mitra tidak dapat menjamin modal mitra


lainnya,maka setiap mitra dapat meminta mitra lainnya untuk
menyediakan jaminan atas kelalaian atau kesalahan yang
disengaja.Beberapa hal yang menunjukan adanya kesalahan
yang disengaja ialah: pelanggaran terhadap akad antara lain
penyalahgunaan

dana

pembiayaan,manipulasi

biaya

dan

pendapatan operasianal,pelaksanaan yang tidak sesuai dengan


perinsif syariah. Jika tidak adanya kesepakatan antara pihak
yang bersangkutan kesalahan yang disengaja harus dibuktikan
berdasarkan

badan

arbitrase

atau

pengadilan.

Laba

musyarakah dibagi diantara para mitra,baik secara proporsional


sesuai besarnya modal yang disetorkan (baik berupa kas
maupun aktiva lainnya) atau sesuai nisbah yang disepakti oleh
semua mitra. Sedangkan rugi dibebankan secara proporsinya
sesuai dengan besarnya modal yang disetorkan.
Musyarakah dapat bersifat musyarakah permanen maupun
menurun.
1.Musyarakah permanen adalah musyarakah dengan ketentuan
bagian dana setiap mitra ditentukan sesuai akad dan
jumlahnya tetap hingga akhir masa akad.
2.Musyarakah menurun (musyarakah mutanaqisha) adalah
musyarakah dengan ketentuan bagian dana salah satu mitra
akan

dialihkan

secara

bertahap

kepada

mitra

lainnya

sehingga bagian dananya akan menurun dan pada akhir


masa akad mitra lain tersebut akan menjadi pemilik penuh
usaha tersebut.
B. RUKUN MUSYARAKAH

1. Pihak yang berakad


2. Obyek akad/proyek atau usaha (modal dan kerja)
3. Shigat/Ijab Qabil
Dewan

Syariah

Nasional

menetapkan

aturan

tentang

pembiayan musyarakah sebagaimana tercantum dalam patwa


Dewan Syariah Nasional nomor 08/DSN-MUI/IV/2000 tertanggal
13 April 2000 (Himpunan Fatawa,Edisi kedua,hal 55-56) sebagai
berikut:
1.Pernyataan ijab dan kabul harus dinyatakan oleh para pihak
untuk menunjukan kehendak mereka dalam mengadakan
kontrak (akad),dengan memperhatikan hal-hal berikut:
Penawaran

dan penerimaan harus secara eksplisit


menunjukan tujuan kontrak
Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak
Akad dituangkan secara tertulis
2.Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum dan
memperhatikan hal-hal berikut:
Kompeten

dalam memberikan atau diberikan kekuasaan

perwakilan

Setiap
mitra
harus
menyediakan
dana
dan
pekerjaan,dan setiap mitra melaksanakan kerja sebagai
wakil

Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset


musyarakah dalam proses bisnisnormal

Setiap mitra memberi wewenang kepada mitra lain


untuk mengelola aset dan masing-masing dianggap telah
diberi wewenag untuk melakukan aktifitas musyarakah
dengan
memeperhatikan
kepentingan
mitranya,tanpa
melakukan kelalaian dan kesalahan yang disengaja.

Seorang mitra tidak diizinkan mencairkan dana untuk


kepentingan pribadi.

3.Obyek akad (modal,kerja,keuntungan dan kerugian)


a)Modal
Modal yang diberikan harus uang tunai,emas,perak atau
yang lainnya sama. Modal dapat terdiri dari aset
perdagangan.seperti
barang-barang,property
dan
sebagainya. Jika modal berbentuk aset,harus lebih dahulu
dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra.
Para
pihak tidak boleh meminjam, meminjamkan,
menyumbangkan
atau
menghadiahkan
modal
musyarakah kepada pihak lain,kecuali atas dasar
kesepakatan.
Pada prinsipnya, dalam pembiayaan musyarakah tidak
ada jaminan, namun untuk menghindari terjadinya
penyimpangan, LKS dapat meminta jaminan.
b)
Kerja
Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar
pelaksanaan musyarakah; akan tetapi kesamaan porsi
kerja bukan merupakan syarat. Seorang mitra boleh
melaksanakan kerja lebih banyak dari yang lainnya, dan
dalam hal ini ia boleh menuntut bagian keuntungan
tambahan bagi dirinya.
Setiap mitra melaksanakan keraja dalam musyarkah atas
nama pribadi dan wakil dari mitranya. Kedudukan masingmasing dalam organisasi kerja harus dijelaskan dalam
kontrak.
c)Keuntungan
Keuntungan harus dikuantifikasikan dengan jelas untuk
menghindarkan perbedaan dan sengketa pada waktu
alokasi keuntungan atau ketika penghentian musyarakah.
Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secar
proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada

jumalh yang ditentukan diawal yang ditetepkan bagi


seorang mitra.
Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika keuntungan
melebihi jumlah tertentu,kelebihan atau prosentase
diberikan kepadanya.

4.Biaya opersional dan persengketaan


a.Biaya operasional dibebankan pada modal bersama
b.Jika salah satu pihak tidak melaksanakan kewajibannya
atau jika terjadi perselisihan diantara para pihak, maka
penyelesainnya dilakukan melalui badan arbitrase syariah
setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
C.

PENGAKUAN DAN PENGUKURAN

Untuk pertanggungjawaban pengelolaan usaha musyarakah


dan sebagai dasar penentuan bagi hasil, maka mitra aktif atau
pihak yang mengelola usaha musyarakah harus membuat
catatan akuntansi yang terpisah untuk usaha musyarakah
tersebut.
1) Akuntansi Untuk Mitra Aktif
Pada Saat Akad
Investasi musyarakah diakui pada saat penyerahan kas atau
aset nonkas untuk usaha musyarakah.
Pengukuran investasi musyarakah:
a)Dalam bentuk kas dinilai sebesar jumlah yang diserahkan;
dan
b)
Dalam bentuk aset nonkas dinilai sebesar nilai wajar
dan jika terdapat selisih antara nilai wajar dan nilai buku
aset nonkas, maka selisih tersebut diakui sebagai selisih
penilaian aset musyarakah dalam ekuitas. Selisih penilaian

aset musyarakah tersebut diamortisasi selama masa akad


musyarakah.
Penerimaan dana musyarakah dari mitra pasif (misalnya,
bank syariah) diakui sebagai investasi musyarakah dan di sisi
lain sebagai dana syirkah temporer sebesar:
a)Dana dalam bentuk kas dinilai sebesar jumlah yang
diterima; dan
b)
Dana dalam bentuk aset nonkas dinilai sebesar nilai
wajar dan disusutkan selama masa akad atau selama umur
ekonomis jika aset tersebut tidak akan dikembalikan
kepada mitra pasif.
Selama Akad
Bagian

mitra

aktif

atas

investasi

musyarakah

dengan

pengembalian dana mitra pasif di akhir akad dinilai sebesar:


a)Jumlah kas yang diserahkan untuk usaha musyarakah pada
awal akad dikurangi dengan kerugian (jika ada); atau
b)
Nilai wajar aset musyarakah nonkas pada

saat

penyerahan untuk usaha musyarakah setelah dikurangi


penyusutan dan kerugian (jika ada).
Bagian mitra aktif atas investasi musyarakah menurun
(dengan pengembalian dana mitra pasif secara bertahap)
dinilai sebesar jumlah kas atau nilai wajar asset nonkas yang
diserahkan

untuk

usaha

musyarakah

pada

awal

akad

ditambah dengan jumlah dana syirkah


temporer yang telah dikembalikan kepada mitra pasif, dan
dikurangi kerugian (jika ada).
Akhir Akad

Pada saat akad diakhiri, investasi musyarakah yang belum


dikembalikan kepada mitra pasif diakui sebagai kewajiban.
Pengakuan Hasil Usaha
Pendapatan usaha musyarakah yang menjadi hak mitra
aktif diakui sebesar haknya sesuai dengan kesepakatan
atas

pendapatan

usaha

musyarakah.

Sedangkan

pendapatan usaha untuk mitra pasif diakui sebagai hak


pihak mitra pasif atas bagi hasil dan kewajiban.
Kerugian investasi musyarakah diakui sesuai dengan porsi
dana masing-masing mitra dan mengurangi nilai aset
musyarakah.
Jika kerugian akibat kelalaian atau kesalahan mitra aktif
atau pengelola usaha, maka kerugian tersebut ditanggung
oleh mitra aktif atau pengelola usaha musyarakah.
Pengakuan pendapatan usaha musyarakah dalam praktik
dapat

diketahui

berdasarkan

laporan

bagi

hasil

atas

realisasi pendapatan usaha dari catatan akuntansi mitra


aktif atau pengelola usaha yang dilakukan secara terpisah.
2) Akuntansi Untuk Mitra Pasif
Pada Saat Akad
Investasi musyarakah diakui pada saat pembayaran kas atau
penyerahan aset nonkas kepada mitra aktif.
Pengukuran investasi musyarakah:
a)Dalam bentuk kas dinilai sebesar jumlah yang dibayarkan;
dan

b)

Dalam bentuk aset nonkas dinilai sebesar nilai wajar

dan jika terdapat selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat
aset nonkas, maka selisih tersebut diakui sebagai:
(i) keuntungan tangguhan dan diamortisasi selama masa
akad; atau
(ii) kerugian pada saat terjadinya
Investasi musyarakah nonkas yang diukur dengan nilai wajar
aset yang diserahkan akan berkurang nilainya sebesar beban
penyusutan atas aset yang diserahkan, dikurangi dengan
amortisasi keuntungan tangguhan (jika ada). Biaya yang
terjadi

akibat

akad

musyarakah

(misalnya,

biaya

studi

kelayakan) tidak dapat diakui sebagai bagian investasi


musyarakah kecuali ada persetujuan dari seluruh mitra.
Selama Akad
Bagian

mitra

pasif

atas

investasi

musyarakah

dengan

pengembalian dana mitra pasif di akhir akad dinilai sebesar:


a)Jumlah kas yang dibayarkan untuk usaha musyarakah pada
awal akad dikurangi dengan kerugian (jika ada); atau
b)
Nilai wajar aset musyarakah nonkas pada

saat

penyerahan untuk usaha musyarakah setelah dikurangi


penyusutan dan kerugian (jika ada).
Bagian mitra pasif atas investasi musyarakah menurun
(dengan pengembalian dana mitra pasif secara bertahap)
dinilai sebesar jumlah kas yang dibayarkan untuk usaha
musyarakah pada awal akad dikurangi jumlah pengembalian
dari mitra aktif dan kerugian (jika ada).
Akhir Akad

Pada saat akad diakhiri, investasi musyarakah yang belum


dikembalikan oleh mitra aktif diakui sebagai piutang.
Pengakuan Hasil Usaha
Pendapatan usaha investasi musyarakah diakui sebesar
bagian mitra pasif sesuai kesepakatan. Sedangkan kerugian
investasi musyarakah diakui sesuai dengan porsi dana.
D.

PENYAJIAN

Mitra aktif menyajikan hal-hal sebagai berikut yang terkait


dengan usaha musyarakah dalam laporan keuangan:
a)Kas atau aset nonkas yang disisihkan oleh mitra aktif dan
yang diterima dari mitra pasif disajikan sebagai investasi
musyarakah;
b) Aset musyarakah yang diterima dari mitra pasif disajikan
sebagai unsur dana syirkah temporer untuk;
c)Selisih penilaian aset musyarakah, bila ada, disajikan sebagai
unsur ekuitas.
Mitra pasif menyajikan hal-hal sebagai berikut yang terkait
dengan usaha musyarakah dalam laporan keuangan:
a)Kas atau aset nonkas yang diserahkan kepada mitraaktif
disajikan sebagai investasi musyarakah;
b) Keuntungan tangguhan dari selisih penilaian asetnonkas
yang diserahkan pada nilai wajar disajikan sebagai pos lawan
(contra account) dari investasi musyarakah.
E.
CONTOH KASUS
Perusahaan A dan Perusahaan B melakukan akad musyarakah,
dimana perusahaan sebagai mitra pasif dan perusahaan B

sebagai mitra aktif. Mereka bersepakat malakukan usaha


sebanyak 5 tahun. Modal yang dibutuhkan Rp 1.200.000.000.
Data :
1.Jumlah setoran diberikan oleh perusahaan A sebsar 75% dari
seluruh modal yang dibutuhkan. Setoran dalam bentuk
peralatan konveksi telah diperoleh dengan harga sebesar Rp
320.000.000. Pada saat penyerahan lebih rendah sebesar Rp
20.000.000, sisanya tunai.
2.Bagi hasil dibagikan dengan metode Net Profit Sharing, bagi
hasil dilakukan dengan nisbah sama rata antara mitra pasif
dengan mitra aktif. Realisasi laba/rugi bersih dalam lima
tahun usaha konveksi sebagai berikut :
Tahun 1 rugi = Rp 180.000.000
Tahun 2 laba = Rp 200.000.000
Tahun 3 laba = Rp 240.000.000
Tahun 4 laba = Rp 220.000.000
Tahun 5 laba = Rp 280.000.000
Maka pencatatan akuntansi pada Mitra Pasif :
1. Pada saat akad :
Investasi musyarakah
Kerugian penurunan nilai asset

900.000.000
20.000.000

Kas
600.000.000
Peralatan
konveksi
2. Selama akad :

320.000.000

Kerugian investasi musyarakah


135.000.000
Investasi musyarakah
135.000.000
Kas

100.000.000
Pendapatan

musyarakah

bagi

hasil

100.000.000

Kas
120.000.000
Pendapatan
musyarakah

bagi

hasil

120.000.000

Kas
110.000.000
Pendapatan
musyarakah

bagi

hasil

110.000.000

Kas

140.000.000
Pendapatan

musyarakah

bagi

hasil

140.000.000

3. Pada akhir akad :


Kas

750.000.000

Kerugian investasi musyarakah

15.000.000

Investasi
musyarakah

765.000.000

Pencatatan akuntansi pada Mitra Aktif :


1. Pada saat akad:
Kas

600.000.000

Peralatan konveksi

300.000.000

Investasi musyarakah

300.000.000

Dana
temporer

syirkah
1.200.000.000

2. Selama akad :
Kerugian investasi musyarakah
45.000.000
Dana syirkah temporer
135.000.000
Kerugian yang belum dialokasikan
180.000.000
Pendapatan yang belum dialokasikan
200.000.000
Kas
100.000.000
Pendapatan
musyarakah

bagi
100.000.000

Pendapatan yang belum dialokasikan


240.000.000
Kas
120.000.000

hasil

Pendapatan
musyarakah

bagi

hasil

120.000.000

Pendapatan yang belum dialokasikan


220.000.000
Kas
110.000.000
Pendapatan

bagi

musyarakah

hasil

110.000.000

Pendapatan yang belum dialokasikan


280.000.000
Kas
140.000.000
Pendapatan
musyarakah

bagi
140.000.000

3. Pada akhir akad :


Dana syirkah temporer
Kas
750.000.000

750.000.000

hasil

DAFTAR PUSTAKA
http://megagitapratiwi.blogspot.co.id/2012/06/jurnalakuntansi-syariah.html
https://datakata.wordpress.com/2014/12/07/akuntansitransaksi-mudharabah-akuntansi-syariah/
Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia
(PSAK No 105 Akuntansi Mudharabah)
Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia
(PSAK No 106 Akuntansi Musyarakah)
http://megagitapratiwi.blogspot.co.id/2012/06/jurnalakuntansi-syariah.html