Anda di halaman 1dari 27

4

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Batubara
Batubara adalah suatu batuan sedimen organik yang berasal dari
penguraian sisa-sisa berbagai tumbuhan yang mati pada daerah rawa/sungai,
kemudian terendapkan di dalam cekungan selama jutaan tahun lamanya yang
mengalami proses biokimia dan geokimia yang dipengaruhi oleh suhu, tekanan,
dan waktu sampai akhirnya mengalami proses pembatuan (litification) dan
proses pembatubaraan (coalification). Istilah batubara merupakan terjemahan
dari bahasa inggris yaitu coal. Batubara terdiri atas unsur-unsur utama, yaitu
karbon, hidrogen, dan oksigen, serta unsur-unsur tambahan seperti belerang dan
nitrogen.

Gambar 2.1 Batubara (PT. Kalimantan Prima Persada)


Analisis unsur memberikan rumus formula empiris
C137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit.
4

seperti

Gambar 2.2 Rumus bangun batubara (USGS, 2012)

2.2 Sistem Penambangan


Sistem penambangan adalah suatu cara atau teknik yang dilakukan
untuk membebaskan atau mengambil endapan bahan galian yang mempunyai
arti ekonomis dari batuan induknya untuk diolah lebih lanjut sehingga dapat
memberikan keuntungan yang besar dengan memperhatikan keamanan dan
keselamatan kerja yang terbaik serta meminimalisasi dampak lingkungan yang
dapat ditimbulkan. Tahapan kegiatan penambangan batubara adalah sebagai
berikut:
1. Pembukaan Lokasi Penambangan dan Pembersihan Lahan

(Land

Clearing)
Pembukaan lahan adalah tahap awal kegiatan penambangan, lahan
yang semula hutan untuk mempersiapkan tempat kegiatan penambangan
dan mempermudah kegiatan penambangan perlu dibersihkan dari semaksemak, pohon-pohon, rawa-rawa dan binatang buas dengan terlebih dahulu
menebang pohon-pohon besar. Kemudian dengan menggunakan bulldozer,

yang naik diatas bukit mendorong kayu-kayu, semak-semak ke bawah.


Pembersihan lahan dilakukan dengan bertahap dengan luas tertentu sesuai
dengan kemajuan penambangan yang telah direncanakan.
2. Pengupasan Tanah Pucuk (Pre Stripping Topsoil)
Setelah pembukaan dan pembersihan lahan, kegiatan selanjutnya
adalah pengupasan lapisan tanah pucuk atau topsoil yang sangat kaya akan
unsur hara. Biasanya ketebalan tanah pucuk adalah 10 sampai 30 cm.
Pengupasan tanah pucuk ini bertujuan untuk menemukan lapisan penutup
batubara dan menyimpan tanah subur (topsoil)ainiauntuk keperluan
reklamasi di kemudian hari. Untuk kegiatan ini diperlukan alat mekanis
yaitu Bulldozer Caterpillar D8R dan, Excavator backhoe Volvo EC 460
BLc sebagai alat gali.
3. Pengupasan Lapisan Tanah Penutup ( Overburden )
Pengupasanmtanahapenutupadilakukanadenganatigadcara,dyaitu:

Direct Digging
Pengupasan tanah penutup dapat dilakukan dengan penggalian
langsung oleh Excavator backhoe. Penggalian langsung ini hanya

untuk material tanah penutup yang sangat lunak sampai lunak.


Riping dan Dozing
Pengupasan tanah penutup dilakukan dengan ripper untuk menggali
hingga tanah terbongkar dan dozzer untuk mendorong tanah penutup
yang relatif lunak.

Drilling dan Blasting


Dalam pengupasan tanah penutup kadang didapat material yang keras
sehingga perlu untuk diledakkan. Cara ini pun bisa dipakai jika kedua
cara di atas sudah tidak efektif lagi.

4. Penimbunan Tanah Penutup ke Disposal


Setelah tanah penutup dikupas maka perlu suatu tempat untuk lokasi
penumpukan yang biasa disebut disposal. Untuk pengangkutan dari pit ke
area disposal digunakan Heavy Dump Truck Komatsu 785, dan Heavy
Dump Truck Komatsu 465.
5. Pengupasan dan Pengangkutan Batubara
Batubara dikupas setelah lapisan tanah penutup di atasnya diambil.
Untuk mendapatkan batubara yang bersih dari pengotor dan batubara halus,
maka lapisan batubara biasanya disisakan sekitar 30 cm dengan
menggunakan alat gali ukuran kecil yaitu Excavator backhoe.
6. Pengolahan Batubara
Sebelum sampai di crusher batubara akan ditimbang terlebih dahulu
dan ukurannya akan disetarakan sesuai permintaan customer menggunakan
crusher.
7. Pengapalan
Batubara yang telah di crushing pada primary crusher dimasukkan di
stockpile atau langsung dimasukkan menggunakan conveyor ke tongkang
yang kemudian akan ditarik oleh kapal motor. Tongkang membawa
batubara untuk disalurkan ke konsumen domestik dan mancanegara.

8.

Reklamasi
Revegetasi
memperbaiki

dan

lahan

Reklamasi
bekas

adalah

tambang

suatu

atau

kegiatan

lahan

terbuka,

untuk
dan

pengelolaannya sesudah selesainya penambangan. Reklamasi dan


Revegetasi bertujuan memperbaiki lahan bekas tambang untuk pelestarian
lingkungan

dan

penanggulangan

resiko

akibat

dampak

dari

pertambangan. Jadi Revegetasi dan Reklamasi adalah bagian integral dari


rencana keseluruhan operasional pertambangan secara terpadu dimulai
Perencanaan,

exsploetasi

sampai

penggunaan

lahan

baru

pasca

penambangan. Tujuan akhir dari rencana reklamasi adalah untuk


menyakinkan

bahwa

lahan

bekas

tambang

dikembalikan

pada

penggunaan yang produktif (Kartosudjono, 1994).


2.3 Dump Truck
Dump truck adalah alat angkut yang memiliki kemampuan bergerak
cepat, kapasitas besar dan biaya operasinya relatif murah, dan dapat
menyesuaikan dengan alat mekanis yang lainnya. Pemilihan jenis dump truck
dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, diantaranya dari segi biaya, produksi dan
alat jenis alat gali muat yang digunakan serta kondisi tempat kerja. Pada
kegiatan penambangan, dump truck dapat digunakan yang berukuran besar
ataupun kecil, tergantung dari kebutuhannya.
Beberapa keuntungan apabila menggunakan

dump truck

kapasitasnya kecil antara lain :


1. Lebih mudah menggerakan ke kanan dan ke kiri.
2. Lebih cepat dan ringan, tidak lekas merusak ban dan jalan.

yang

3. Apabila ada sebuah yang rusak, maka kemerosotan produksi kecil.


4. Lebih mudah menyesuaikan kepada kapasitas alat gali muatnya.
Kerugian apabila menggunakan dump truck berkapasitas kecil ialah
lebih banyak memerlukan driver, maintenance, ataupun spare parts untuk
kapasitas yang sama.
2.3.1

Macam-Macam Dump Truck


Pembagian jenis dump truck dapat dibedakan atas beberapa hal,
antara lain:
1. Berdasarkan roda penggeraknya, dump truck dibedakan menjadi 4
macam, yaitu :

Front wheel drive dump truck, yaitu dump truck dengan roda
depan sebagai pengerak utamanya. Dump truck jenis ini lambat
dan lekas aus bannya.

Rear wheel drive dump truck, yaitu dump truck dengan roda
belakang sebagai penggerak utamanya.

Four wheel drive dump truck, yaitu dump truck jenis ini
menggunakan roda depan dan belakang sebagai penggeraknya.

Double rear wheel drive dump truck, yaitu dump truck jenis rear
wheel drive yang memiliki jumlah roda belakang dua kali lipat.

2. Berdasarkan cara dumping atau cara membuang muatannya, dump


truck dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :

Dump truck metode dumping End dump, yaitu dump


truck dengan cara dumping ke belakang.

Dump truck metode dumping Side dump, yaitu dump


truck dengan cara dumping ke samping.

Dump truck metode dumping Bottom dump, yaitu dump


truck dengan cara dumping ke bawah (Prodjosumarto,1989).

10

2.3.2

Cycle Time
Setiap alat berat yang bekerja akan mempunyai kemampuan
memindah material per siklus. Siklus kerja adalah proses gerakan dari
suatu alat dari gerakan mulanya sampai kembali lagi pada gerakan
mula tersebut. Adapun waktu yang diperlukan untuk melakukan satu
siklus kegiatan di atas disebut waktu siklus/edar atau cycle time
(Nurhakim, 2004).
Adapun untuk waktu edar alat angkut antara lain :

Manuver di Front

Waktu isi (Loading)

Waktu pengangkutan berisi (Hauling)

Manuver di Disposal

Menumpahkan material (Dumping)

Waktu kembali

Besar kecilnya nilai cycle time alat angkut dipengaruhi oleh :


a. Kondisi Fisik Alat
Kemampuan kerja alat angkut juga dipengaruhi oleh
kondisinya. Apabila alat angkut dalam kondisi yang masih baru,
maka kegiatan pengangkutan akan berjalan lebih cepat. Alat angkut
harus dijaga dan dirawat agar selalu dalam kondisi prima dan
bekerja terus sesuai dengan kemampuannya dengan resiko sekecil
mungkin. Perawatan secara rutin terhadap mesin dan berjadwal
hendaklah dilakukan serta penanganan kerusakan pada alat-alat
mekanis harus secepatnya agar tidak mengganggu produksi kerja.
b. Jarak Angkut

11

Adalah jarak yang ditempuh oleh alat angkut dari lokasi


penambangan ke daerah tujuan. Semakin jauh jarak yang ditempuh
maka akan semakin besar waktu yang diperlukan untuk mencapai
lokasi tersebut sehingga akan mempengaruhi kemampuan produksi
alat tesebut.
c. Keadaan Alam
Keadaan alam yang paling menentukan kerja alat angkut jenis
dump truck ialah kondisi jalan angkut. Apabila jalan mulus dan
grade (kemiringannya) tidak besar, maka kerja alat angkut akan
baik, sebaliknya apabila jalan angkut becek, licin, atau
begelombang serta tanjakan yang curam, maka kerja alat angkut
akan semakin lama akibatnya akan membuat cycle time-nya
menjadi besar. (Prodjosumarto, 1989)

2.4 Geometri Jalan Tambang


Geometri jalan merupakan bagian dari perencanaan yang lebih
ditekankan pada perencanaan bentuk fisik sehingga dapat memenuhi fungsi
dasar jalan yaitu memberikan pelayanan yang optimum pada arus lalu
lintas yang beroperasi di atasnya, karena tujuan dari perencanaan geometri
jalan adalah mengahasilkan infrastruktur yang aman, efisiensi pelayanan
arus

lalu

lintasan

memaksimalkan

rasio

tingkat

penggunaan/biaya

pelaksanaan. Ruang, bentuk dan ukuran jalan dikatakan baik, jika dapat

12

memberikan rasa aman dan nyaman kepada pemakai jalan. Geometri jalan
tambang meliputi beberapa hal, yaitu :
2.4.1

Lebar Jalan
Panjang jalan angkut tambang ditentukan dari seberapa jauh titik
pengangkutan yang akan dilakukan, seperti jarak diantara muka kerja
tambang dengan stockpile atau jarak diantara muka kerja tambang
dengan disposal.
Jalan

angkut

yang

lebar

diharapkan

pengangkutan lancar dan aman. Lebar

dapat

membuat

jalan harus diperhitungkan

dengan cermat. Perhitungan lebar jalan lurus dan belok (tikungan)


berbeda, karena pada posisi membelok kendaraan membutuhkan ruang
gerak lebih lebar akibat jejak ban depan dan belakang yang
ditinggalkan di atas jalan melebar.
1. Lebar jalan angkut pada kondisi lurus
Lebar jalan minimum pada jalan lurus dengan lajur ganda
atau lebih, menurut AASHO (American Association of State
Highway Official) Manual Rural High Way Design, harus ditambah
dengan setengah lebar alat angkut pada bagian tepi kiri, kanan jalan,
dan jarak antar kendaraan. Dari ketentuan tersebut dapat digunakan
cara sederhana untuk menentukan lebar jalan angkut minimum,
yaitu menggunakan rule of thumb atau angka perkiraan seperti

13

terlihat pada Tabel 3.1, dengan pengertian bahwa lebar alat angkut
sama dengan lebar lajur (Suwandhi, 2004: 2).
Tabel 2.1 Lebar Jalan Angkut Minimum
Jumlah Jalur Truck

Perhitungan

Lebar Jalan Angkut Min


(m)
2
3,5
5
6,5

1
1 + (2 x )
2
2 + (3 x )
3
3 + (4 x )
4
4 + (5 x )
Sumber : Suwandhi, 2004
Dari kolom perhitungan pada Tabel 3.1 dapat ditetapkan rumus lebar jalan
angkut minimum pada jalan lurus yang dirumuskan sebagai berikut:
Lmin n.Wt ( n 1).(0,5.Wt )

Keterangan:

Lmin

= lebar jalan angkut minimum (m)

Wt
n

= lebar alat (m)


= jumlah jalur

Gambar 2.3 Lebar Jalan Angkut Dua Jalur Pada Jalan Lurus

2. Lebar Jalan Pada Tikungan


Lebar jalan angkut pada tikungan selalu dibuat lebih besar
dari pada jalan lurus. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi

14

adanya penyimpangan lebar alat angkut yang disebabkan oleh sudut


yang dibentuk oleh roda depan dengan badan truk saat melintasi
tikungan (Gambar 3.2) Untuk jalur ganda, lebar jalan minimum
pada tikungan dihitung dengan mendasarkan :
a. Lebar jejak roda
b. Lebar juntai atau tonjolan (overhang) alat angkut bagian depan
dan belakang pada saat membelok
c. Jarak antar alat angkut saat bersimpangan
d. Jarak alat angkut terhadap tepi jalan (Suwandhi, 2004: 3).

Gambar 2.4 Lebar Jalan Angkut Dua Jalur Pada Belokan


Persamaan yang digunakan untuk menghitung lebar jalan angkut
minimum pada tikungan yaitu:
W nU Fa Fb Z C
C Z 0,5U Fa Fb
dimana :

W = lebar jalan angkut pada tikungan, (m)


U

= jarak jejak roda, (m)

Fa = lebar juntai depan, (m)


Fb = lebar juntai belakang, (m)
Z

= lebar bagian tepi jalan, (m)

15

= jarak antara alat angkut saat bersimpangan, (m)

3. Jari jari dan Superelevasi (kemiringan jalan pada tikungan)


Jari-jari tikungan jalan angkut berhubungan dengan konstruksi alat
angkut yang digunakan, khususnya jarak horizontal antara poros roda
depan dan belakang. Gambar 3.3 memperlihatkan jari-jari lingkaran yang
dijalani oleh roda belakang dan roda depan berpotongan di pusat C
dengan besar sudut sama dengan sudut penyimpangan roda depan
(Suwandhi, 2004: 4).

Gambar 2.5 Sudut Maksimum Penyimpangan Kendaraan


Berdasarkan gambar di atas jari-jari tikungan dapat dihitung dengan
rumus sebgai berikut:
R

Keterangan:

R
W

Namun, rumus di

W
sin

= jari-jari tikungan jalan angkut (m)


= jarak poros roda depan dan belakang (m)
= sudut penyimpangan roda depan ( o)
atas merupakan perhitungan matematis untuk

mendapatkan lengkungan belokan jalan tanpa mempertimbangkan faktorfaktor kecepatan alat angkut, gesekan roda ban dengan permukaan jalan
dan

superelevasi.

Untuk

jari-jari

tikungan

minimum

apabila

16

mempertimbangkan kecepatan alat angkut, gesekan roda dengan


permukaan jalan dan superelevasi dapat dilihat pada tabel 2.2.
Tabel 2.2 Jari-Jari Tikungan Minimum Untuk emak = 10%

Sumber : Suwandhi, 2004


Superelevasi merupakan kemiringan jalan pada tikungan yang
terbentuk oleh batas antara tepi jalan terluar dengan tepi jalan terdalam
karena perbedaan ketinggian. Fungsi super-elevasi untuk mengatasi gaya
sentrifugal kendaraan pada saat membelok. Setiap kendaraan yang
melewati tikungan akan mengalami gaya sentrifugal (gaya dorong
keluar), gaya tersebut harus dapat diimbangi oleh gaya sentripetal agar
dump truck tidak terbalik. Gaya sentripetal ditimbulkan oleh superelevasi, semakin besar nilai super-elevasi yang dibuat akan semakin besar
kecepatan kendaraan untuk melewati tikungan.

Gambar 2.6 Superelevasi


Untuk dapat menghitung besarnya nilai super-elevasi dapat digunakan
rumus sebagai berikut:

17

ef

Keterangan:

V2
127 R

= super-elevasi

= koefisien gesekan samping

= kecepatan kendaraan (km/jam)

= radius tikungan (m)

Tabel 2.3 Kecepatan Rencana Terhadap Superelevasi


VR
20

30

40

50

60

80

1/125

1/150

(Km/jam)
e (m/mm) 1/50 1/75 1/100 1/115

Sumber: Direktorat Jenderal Bina Marga, 1997 Dalam Suwandhi, 2004


Untuk mengatasi gaya sentrifugal yang bekerja pada alat angkut
yang sedang melewati tikungan jalan ada dua cara yang dapat dilakukan,
yaitu : pertama; dengan mengurangi kecepatan dan cara ke dua adalah
membuat kemiringan ke arah titik pusat jari-jari tikungan. Yang mana
kemiringan ini berfungsi untuk menjaga alat angkut tidak terguling saat
melewati tikungan dengan kecepatan tertentu. Cara pertama sangat tidk
efisien karena waktu hilang yang ditimbulkan akan besar, oleh karena itu
cara kedua dianggap lebih baik.Apabila suatu kendaraan bergerak dengan
kecepatan tetap pada datar atau miring dengan lintasan berbentuk
lengkung seperti lingkaran, maka pada kendaraan tersebut bekerja gaya

18

sentrifugal mendorong kendaraan secara radial keluar dari jalur jalannya,


berarah tegak lurus terhadap kecepatan (lihat gambar 2.4). Untuk dapat
mempertahankan kendaraan tersebut tetap pada jalurnya, maka perlu
adanya gaya yang dapat mengimbangi gaya tersebut sehingga terjadi suatu
keseimbangan.

Sumber : Silvia Sukirman,1994

Gambar 2.6 Gaya Sentrifugal Pada Tikungan

Untuk menghitung besarnya gaya sentrifugal dapat digunakan


rumus (Silvia Sukirman, 1994):

Fsf =

Dimana :

G V2
g R

19

Fsf

= Gaya Sentrifugal

= Berat Kendaraan

= Gaya grafitasi bumi

= Kecepatan kendaraan

= Jari-jari lengkung lintasan

Untuk menentukan angka koefisien gesek samping berdasarkan kecepatan


kendaraan yang beroperasi dapat menggunakan tabel 2.4.
Tabel 2.4. Rekomendasi Aashto Untuk Koefisien Gesekan Samping
Kecepatan rencana (mph)
Kecepatan
rencana
(km/jam)
Koefisien

20
32

30
48

40
64

50
80

60
97

70
113

80
129

0,17

0,16

0,15

0,14

0,12

0,10

0,08

Sumber : Oglesby, 1990

2.4.2

Kemiringan Jalan Angkut dan Grade Resistance


Kemiringan jalan angkut dapat berupa jalan menanjak ataupun
jalan menurun, yang disebabkan perbedaan

ketinggian pada jalur

jalan. Kemiringan jalan berhubungan langsung dengan kemampuan


alat angkut, baik dalam pengereman maupun dalam mengatasi
tanjakan. Kemampuan dalam mengatasi tanjakan untuk setiap alat
angkut tidak sama, tergantung pada jenis alat angkut itu sendiri. Sudut

20

kemiringan jalan biasanya dinyatakan dalam persen, yaitu beda tinggi


setiap seratus satuan panjang jarak mendatar.
Tahanan kemiringan (grade resistance) ialah besarnya gaya
berat yang melawan atau membantu gerak kendaraan karena
kemiringan jalur jalan yang dilaluinya. Tahanan kemiringan tergantung
dua faktor, yaitu :
1. Besarnya kemiringan yang biasanya dinyatakan dalam persen.
2. Berat kendaraan itu sendiri yang dinyatakan dalam ton.
Besarnya tahanan kemiringan rata-rata dinyatakan dalam 20 lbs
dari rimpull untuk tiap gross ton berat kendaraan beserta isinya pada
kemiringan 1 %. Kemiringan suatu jalan biasanya dinyatakan dalam
persentase, dimana kemiringan 1 % merupakan kemiringan permukaan
yang menanjak atau menurun 1 meter secara vertikal dalam jarak
horizontal 100 meter. Kemiringan dapat dihitung dengan menggunakan
rumus sebagai berikut Gambar 2.5 (Partanto, 1993).
h
Grade (%) =

x 100 %

Dimana :

h : Beda tinggi antara dua titik yang diukur (meter)

21

x : Jarak datar antara dua titik yang diukur (meter)

x
Sumber : Partanto Prodjosumarto, 1993

Gambar 2.7 Perhitungan Kemiringan Jalan

2.4.3 Cross Slope


Cross slope adalah sudut yang dibentuk oleh dua sisi permukaan
jalan terhadap bidang horizontal. Pada umumnya jalan angkut
mempunyai bentuk penampang melintang cembung. Jalan angkut
tambang dibuat demikian dengan tujuan untuk memperlancar
penyaliran. Apabila turun hujan, maka air yang ada pada permukaan
jalan akan segera mengalir ke tepi jalan angkut, tidak tergenang pada
badan jalan. Hal ini penting karena air yang menggenang pada
permukaan jalan angkut akan membahayakan kendaraan yang lewat
dan mempercepat kerusakan jalan.

Gambar 2.9 Cross Slope

22

Nilai cross slope yang umum yang direkomendasikan


20 sampai 40 mm/m, diukur dari jarak bagian tepi jalan ke bagian
tengah atau pusat jalan dan disesuaikan dengan kondisi yang ada.
Permukaan tepi-tepi jalan dalam kondisi kering tidak terlalu miring
dapat diwujudkan, maka pembebanan ban akan relatif datar dan tingkat
kepenatan pengemudi dapat dikurangi (Suwandhi, 2004: 12).

2.4.4 Tahanan Gulir (Rolling Resistance = RR)


Tahanan Gulir adalah jumlah segala gaya-gaya luar yang
berlawanan dengan arah gerak kendaraan yang berjalan di atas jalur
jalan atau permukaan tanah. Bagian kendaraan yang mengalami
tahanan gulir adalah bagian luar dari ban.
Tahanan gulir antara lain tergantung pada :
- Keadaan jalan , yaitu kekerasan dan kemulusan permukaannya;
semakin keras dan mulus jalan tersebut maka semakin kecil tahanan
gulirnya.
- Keadaan bagian kendaraan yang berhuubungan langsung dengan
permukaan jalan:
Kalau memakai ban karet yang akan berpengaruh adalah :
ukuran ban, tekanan ban dan keadaan permukaan ban.
Jika memakai crawler track, maka keadaan dan macam track
kurang berpengaruh adalah keadaan jalannya.
Besarnya tahanan gulir dinyatakan dalam lbs dari rimpull yang
diperlukan untuk menggerakan tiap gross ton berat kendaraan beserta
isinya pada jalur jalan mendatar dengan kondisi jalan tertentu.
Beberapa angka rata-rata tahanan gulir untuk bermacammacam keadaan jalan untuk ban karet, dapat dilihat pada tabel berikut.

23

Tabel 2.5 Angka Rata-Rata Tahanan Gulir Untuk Berbagai Macam Jalan
Macam Jalan
hard, smooth surface, well maintened
firm but flexible surface, well
maintened
dirt road, average construction road, little
maintenance
dirt road, soft or rutted
deep, muddy surface, or loose sand
Sumber : Prodjosumarto, 1989

RR Untuk Ban
Karet
lb/ton
40
65
100
150
250-400

Oleh karena itu, jika tahanan gulir suatu jalan untuk kendaraan
tertentu ingin diketahui secara tepat maka dapat dihitung dengan
persamaan dari gambar berikut :

Gambar 2.10 Penentuan Tahanan Gulir


Jadi persamaannya adalah : F . r = N . a
dimana F merupakan angka tahanan gulir dengan satuan lb/ton berat
kendaraan.
Secara praktis RR dapat dihitung dengan rumus :
RR

= CRR x 20 lb/ton

CRR

= 2% + (0,6% x tiap cm terbenamnya roda)

24

2.5

Aspek Keselamatan Jalan Angkut


Beberapa aspek keselamatan sepanjang jalan angkut yang akan
diuraikan meliputi :
1. jarak pandang dan jarak berhenti yang aman,
2. rambu-rambu pada jalan angkut,
3. lampu penerangan, dan
4. jalur pengelak untuk menghindari kecelakaan (Suwandhi, 2004: 20).
2.5.1

Jarak Pandang dan Jarak Berhenti yang Aman


Jarak pandang adalah jarak antar pengemudi dengan daerah yang
dapat dilihat olehnya. Jarak pandang aman (safe sight distance) adalah
jarak yang diperlukan pengemudi untuk melihat bebas ke depan pada
suatu tikungan, baik ke arah vertikal maupun horizontal. Jarak
pandang yang aman

diperlukan oleh pengemudi (operator) untuk

melihat ke depan secara bebas pada suatu tikungan. Jika pengemudi


melihat suatu penghalang yang membahayakan, pengemudi dapat
melakukan antisipasi untuk menghindari bahaya tersebut dengan aman.
Jarak pandang minimum sama dengan jarak berhenti. Jarak pandang
terdiri dari jarak pandang henti (Jh) dan jarak pandang mendahului
(Jd).
Jarak pandang henti adalah jarak minimum yang diperlukan oleh
setiap pengemudi untuk menghentikan kendaraannya dengan aman
begitu melihat adanya halangan di depan. Ketinggian mata pengemudi
berkisar antara 4,00-4,90 m, sedangkan tinggi penghalang yang dapat
menimbulkan kecelakaan berkisar antara 0,15-0,20 m diukur dari
permukaan jalan. Jarak pandang henti berkaitan erat dengan kecepatan
kendaraan, gesekan ban dengan jalan, waktu tanggap dan gravitasi dan
dapat diformulasikan sebagai berikut:

25

Jh 0,278 VR.T

VR
254 ( fp L)

Keterangan :
VR

= kecepatan rencana (km/jam)

= waktu tanggap, ditetapkan 2,5 detik

Fp

= koefisien gesek memanjang antara ban dengan perkerasan

jalan, menurut AASHTO =0,28-0,45; menurut Bina Marga =0,35-0,55


L

= kemiringan jalan (%)


Tabel 2.5 Jarak Pandang Henti Minimum

VR km/jam
120
Jh minimum (m) 250

100
175

80 60
120 75

50 40
55 40

30
27

20
16

Sumber : Suwandhi, 2004


a. Jarak Pandang Lengkung Horizontal
Jarak Pandang Lengkung Horizontal adalah jarak bebas
pandangan pengemudi dari halangan benda-benda di sisi jalan (daerah
bebas samping) untuk dapat melihat kendaraan yang berlawanan arah
maupun yang berada di depannya di daerah tikungan. Daerah bebas
samping adalah ruang untuk menjamin kebebasan pandang di tikungan
sehingga Jh terpenuhi.

Jarak pandang

Garis pandang

daerah pembersihan
penghalang pandangan

Gambar 2.10 Jarak Pandang Horizontal

26

Daerah bebas samping dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:


Jika Jh Lt

Jika Jh Lt

Keterangan : R

28,65

E R 1 Cos

R'

28,65 Jh
28,65 Jh

Jh Lt
E R 1 Cos
Sin

R'
2
R'

= jari-jari tikungan (m)

= jari-jari sumbu lajur dalam (m)

Jh

= jarak pandang henti (m)

Lt

= panjang tikungan (m)

b. Jarak Pandang Lengkung Vertikal


Jarak Pandang Lengkung Vertikal adalah jarak dimana
pengemudi dapat memandang dengan bebas kendaraan yang
berlawanan arah maupun di depannya pada saat tanjakan. Lengkung
vertikal direncanakan untuk mengubah secara bertahap perubahan dari
dua macam kemiringan arah memanjang jalan pada setiap lokasi yang
diperlukan. Hal ini dimaksudkan untuk menyediakan jarak pandang
henti yang cukup demi keamanan dan kenyamanan. Lengkung vertikal
terdiri dari dua jenis, yaitu lengkung cembung dan lengkung cekung.
Ilustrasi jarak pandang lengkung vertikal dapat dilihat pada gambar
berikut.

27

Gambar 2.11 Jarak Berhenti Lengkung Vertikal


1. Lengkung Vertikal Cembung
Pada tabel 3.10 memperlihatkan ketentuan tinggi untuk lengkung
cembung menurut Bina Marga.
Tabel 3.10 Ketentuan Tinggi Untuk Jarak Pandang
Untuk Jarak
Pandang

Tinggi mata (h1)


M

Tinggi objek (h2)


M

Henti (Jh)

1,05

0,15

Mendahului (Jd)

1,05

1,05

Sumber : Suwandhi, 2004


Berikut ini merupakan persamaan untuk menentukan panjang
lengkung parabola pada lengkung vertikal cembung yaitu sebagai
berikut:
L

Jika Jh < L,

A . Jh 2
399

L 2Jh

399

Jika Jh > Lt,


Keterangan :
L = panjang lengkung parabola (m)
A = perbedaan kemiringan dua titik pengamatan (m)
Jh = jarak pandang henti (m)

28

2. Lengkung Vertikal Cekung


Tidak ada dasar yang dapat digunakan untuk menentukan panjang
lengkung cekung vertikal (L), akan tetapi ada empat kriteria sebagai
pertimbangan yang dapat digunakan, yaitu:

Jarak sinar lampu besar kendaraan


Kenyamanan pengemudi
Ketentuan drainase
Penampilan secara umum. (Suwandhi, 2004: 20-23)

2.6 Fasilitas-fasilitas Pendukung Kelancaran dan Keselamatan


Ada beberapa hal yang juga memiliki peran penting dalam menunjang
operasi pengangkutan yang lancar dan aman bagi pengemudi, yaitu :
2.6.1

Rambu-rambu pada jalan Tambang


Untuk menjamin keamanan sehubungan dengan
dipergunakannya suatu jalan angkut, maka perlu kiranya dipasang
rambu-rambu sepanjang jalan angkut tersebut. Pemasangan ramburambu ini diutamakan pada tempat-tempat yang diperkirakan cukup
rawan dan berbahaya. Adapun rambu-rambu yang dipasang antara lain:
1. Tanda belokan
2. Tanda persimpangan jalan
3. Peringatan adanya tanjakan maupun jalan menurun

2.6.2

Lampu Penerangan

29

Lampu penerangan mutlak harus dipasang apabila jalan angkut


digunakan pada malam hari. Biasanya pemasangan sarana penerangan
dilakukan berdasarkan interval jarak dan tingkat bahayanya. Lampulampu tersebut dipasang antara lain pada :
1. Belokan
2. Persimpangan jalan
3. Tanjakan atau turunan tajam
4. Jalan yang berbatasan langsung dengan tebing
2.6.3

Safety Berm (tanggul pengaman)


Untuk menghindari kecelakaan yang mungkin terjadi karena
kendaraan selip atau kerusakan rem atau karena sebab lain, maka pada
jalan angkut tersebut perlu dibuat tanggul jalan di kedua sisinya. Hal ini
terutama bila jalan berbatasan langsung dengan daerah curam, sehingga
bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan alat angkut tidak terperosok ke
daerah yang curam.

2.6.4

Penirisan dan Gorong-gorong (culvert)


Jalan tambang harus diberi penirisan maupun gorong-gorong,
karena air yang mengalir pada permukaan jalan angkut seperti becek,
berlumpur atau licin. Ukuran sistem penirisan tergantung pada besarnya
curah hujan, luas daerah pengaruh hujan, keadaan atau sifat fisik dan
mekanik material dan tempat membuang air. Penirisan di kiri-kanan

30

jalan angkut sebaiknya dilengkapi dengan saluran penirisan dengan


ukuran yang sesuai dengan jumlah curah hujannya.

Anda mungkin juga menyukai