Anda di halaman 1dari 23

UJIAN KOMPETENSI 1

AUDIT KEUANGAN DAERAH

Oleh:
AGUS REZA PAHLEVI
NIM F1314126

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016

Pengerjaan tugas berikut ini berdasarkan pada Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Kabupaten Muaran Enim Tahun Anggaran 2007 (terlampir).
Soal 1
1. Dasar Hukum Pemeriksaan
a. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
b.
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
c. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung
d.

Jawab Keuangan Negara


Undang-undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan

Sumber: Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Muaran
Enim TA 2007, halaman 55
Tujuan Pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan adalah untuk memberikan opini atas tingkat kewajaran informasi keuangan
yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada kriteria:
a. Kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
b.
Kecukupan pengungkapan (adequate disclosure)
c. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan
d.
Efektivitas sistem pengendalian intern.
Lembaga auditornya adalah Badan Pemeriksa Keuangan.
Badan Pemeriksa Keuangan merupakan lembaga negara yang bertugas untuk memeriksa
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945.
BPK memiliki tugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan
oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank Indonesia, Badan
Usaha Milik Negara, Badan Layanan Umum, Badan Usaha Milik Daerah, dan lembaga atau badan
lain yang mengelola keuangan negara.
2. Temuan yang didapat oleh Badan Pemeriksa Keuangan terkait pemeriksaan atas Laporan
Keuangan Pemerintah Kabupaten Muaran Enim TA 2007 yaitu:
a. Temuan I
Pada akhir tahun anggaran 2007, Pemerintah Kabupaten Muara Enim memindahkan dana
dari Rekening Kas Daerah ke Rekening di luar Kas Daerah (Rekening Pencairan SPMU)
sebesar Rp15.361.596.848,00 dan telah diakui sebagai Belanja Modal. Sisa dana dalam
Rekening Pencairan SPMU tersebut sebesar Rp4.575.745.414,30 disetor kembali pada TA
2008 ke Rekening Kas Daerah.
Rekonstruksi Program Audit
1) Lakukan updating dokumentasi sistem atas siklus Pembayaran Belanja Modal

2) Berdasarkan updating tersebut, lakukan pemahaman entitas serta penilaian SPI


terkait penyusunan akun-akun terkait siklus Belanja Modal.
a. Lakukan walkthrough atas mekanisme pengadaan, pemeriksaan dan penerimaan
barang serta pembayaran belanja..
b. Teliti apakah terdapat pemisahan fungsi berkaitan dengan proses otorisasi,
pengadaan, penerimaan barang, pemeriksaan barang, pengeluaran kas dan
akuntansi untuk terkait siklus belanja barang yang menghasilkan persediaan baik
desain maupun implementasinya, dengan melakukan analisis terhadap SOTK
entitas.
c. Teliti secara uji petik apakah realisasi pembayaran Belanja Modal telah
diotorisasi oleh pejabat yang berwenang dan telah diverifikasi keakuratannya.
d. Teliti apakah terdapat buku besar/buku besar/pembantu/buku pembantu/daftar/
rekapitulasi atau catatan lainnya terkait realisasi Belanja barang yang
menghasilkan persediaan.
e. Teliti apakah terdapat prosedur rekonsiliasi terkait realisasi pembayaran belanja
modal
f. Simpulkan hasil penilaian SPI apakah dapat menjamin kelengkapan, pisah batas
dan akurasi laporan keuangan pada masing-masing tingkat pelaporan.
g. Jika terdapat indikasi kelemahan sistem, dapatkan informasi apakah terdapat
prosedur alternatif yang dilaksanakan dalam penyusunan laporan keuangan.
Lakukan penilaian apakah prosedur tersebut cukup memadai.
3) Tetapkan tingkat risiko deteksi dan susun prosedur pengujian substantif sesuai
strategi pemeriksaan yang ditetapkan
4) Pastikan Dokumen Sumber pencatatan Belanja Modal telah diverifikasi oleh
petugas/pejabat yang berwenang sebelum diinput dalam SAS, SAIBA dan aplikasi
persediaan
5) Lakukan pengujian apakah realisasi belanja modal telah dilakukan sesuai dengan
Perpres Pengadaan Barang dan Jasa, PMK tentang Standar Biaya, dan peraturan
terkait lainnya
6) Lakukan pengujian apakah pengadaan barang dan jasa melalui kontrak pengadaan
barang dan jasa telah dipenuhi sesuai dengan yang diatur di dalam kontrak
7) Lakukan reviu analitis atas perubahan realisasi Belanja Modal, Saldo Belanja
Dibayar Dimuka, dan Belanja Yang Masih Harus Dibayar dibandingkantahun
sebelumnya dan Aset Tetap

8) Pelajari SAP terkait belanja modal. Pastikan belanja modaltelah diakui, dinilai,
dicatat, dan diungkapkan sebagaimana yang datur dalam SAP
9) Buat LS dan SS untuk belanja modal pastikan seluruh jurnal penyesuaian dan
reklasifikasi telah dimasukkan dalam LS dan SS (bila ada)
10) Pastikan angka dalam LS dan SS sesuai dengan angka yang ada di face laporan
keuangan dan merupakan penjumlahan belanja modal seluruh satker yang ada di
K/L tersebut
11) Dapatkan dokumen DIPA dan POK untuk belanja modal. Pastikan realisasi belanja
modal telah sesuai dengan DIPA dan POK dan tidak ada kesalahan penganggaran
maupun kesalahan pencairan anggaran belanja modal yag direalisasikan untuk
belanja barang
12) Teliti apakah terdapat buku besar/buku besar/pembantu/buku pembantu /daftar/
rekapitulasi atau catatan lainnya terkait pencatatan Belanja Modal dan Belanja
Modal Dibayar Dimuka.
13) Teliti apakah terhadap transaksi yang perlu dilakukan penyesuaian pada akhir tahun
tersebut telah dibuat memo penyesuaian
14) Pastikan realisasi tersebut telah sesuai dengan Perpres tentang pengadaan barang
dan jasa dan langkah-langkah dalam menghadapi akhir tahun anggaran.
b.

Temuan II
Dalam pelaksanaan belanja tahun anggaran 2007 terdapat realisasi Belanja Barang dan
Jasa yang tidak menggambarkan transaksi/peristiwa yang mendasarinya. Dalam realisasi
Belanja Barang dan Jasa tersebut ditemukan pengeluaran Belanja Stimulan sebesar
Rp1.700.000.000,00 yang berupa belanja bantuan langsung kepada masyarakat dan
disalurkan dalam bentuk dana modal bergulir.
Rekonstruksi Program Audit
1) Lakukan updating dokumentasi sistem atas siklus Pembayaran Belanja Barang dan
Jasa
2) Berdasarkan updating tersebut, lakukan pemahaman entitas serta penilaian SPI
terkait penyusunan akun-akun terkait siklus Belanja Barang yang tidak
menghasilkan persediaan.
a. Lakukan walkthrough atas mekanisme pencairan belanja jasa, belanja
pemeliharaan dan belanja perjalanan dinas.
b. Teliti apakah terdapat pemisahan fungsi berkaitan dengan pengeluaran kas dan
akuntansi terkait siklus belanja barang yang tidak menghasilkan persediaan baik

desain maupun implementasinya, dengan melakukan analisis terhadap SOTK


entitas.
c. Teliti secara uji petik apakah realisasi pembayaran Belanja Barang telah
diotorisasi oleh pejabat yang berwenang dan telah diverifikasi keakuratannya.
d. Teliti apakah terdapat buku besar/buku besar/pembantu/buku pembantu/daftar/
rekapitulasi atau catatan lainnya terkait realisasi Belanja barang yang tidak
menghasilkan persediaan.
e. Teliti apakah terdapat prosedur rekonsiliasi terkait realisasi pembayaran belanja
barang.
f. Simpulkan hasil penilaian SPI apakah dapat menjamin kelengkapan, pisah batas
dan akurasi laporan keuangan pada masing-masing tingkat pelaporan.
g. Jika terdapat indikasi kelemahan sistem, dapatkan informasi apakah terdapat
prosedur alternatif yang dilaksanakan dalam penyusunan laporan keuangan.
Lakukan penilaian apakah prosedur tersebut cukup memadai.
3) Tetapkan tingkat risiko deteksi dan susun prosedur pengujian substantif sesuai
strategi pemeriksaan yang ditetapkan
4) Pastikan Dokumen Sumber pencatatan Belanja Barang yang tidak menghasilkan
Persediaan telah diverifikasi oleh petugas/pejabat yang berwenang sebelum diinput
dalam SAS, SAIBA dan aplikasi persediaan
5) Lakukan pengujian untuk menentukan apakah panitia pengadaan, ULP, PPK, dan
Panitia Penerima Hasil Pekerjaan memiliki kompetensi yang baik dan
melaksanakan tugasnya
6) Dapatkan dokumen SP2D atas belanja barang
7) Lakukan pengujian apakah realisasi belanja barang telah dilakukan sesuai dengan
Perpres Pengadaan Barang dan Jasa, PMK tentang Standar Biaya, dan peraturan
terkait lainnya
8) Lakukan pengujian apakah pengadaan barang dan jasa melalui kontrak pengadaan
barang dan jasa telah dipenuhi sesuai dengan yang diatur di dalam kontrak
9) Lakukan reviu analitis atas perubahan realisasi Belanja Barang, Saldo Belanja
Dibayar Dimuka, dan Belanja Yang Masih Harus Dibayar dibandingkan tahun
sebelumnya.
10) Pelajari SAP terkait belanja barang dan jasa, Beban Dibayar Dimuka, dan Beban
Yang Masih Harus Dibayar. Pastikan akun-akun tersebut telah diakui, dinilai,
dicatat, dan diungkapkan sebagaimana yang datur dalam SAP

11) Buat LS dan SS untuk realisasi belanja barang dan jasa, beban pada LO, Beban
Dibayar Dimuka, dan Beban Yang Masih Harus Dibayar pastikan seluruh jurnal
penyesuaian dan reklasifikasi telah dimasukkan dalam LS dan SS (bila ada)
12) Pastikan angka dalam LS dan SS sesuai dengan angka yang ada di face laporan
keuangan dan merupakan penjumlahan belanja barang dan jasa, Beban Dibayar
Dimuka, dan Beban yang Masih Harus Dibayar seluruh Satker K/L
13) Dapatkan dokumen DIPA dan POK untuk belanja barang. Pastikan realisasi belanja
barang telah sesuai dengan DIPA dan POK dan tidak ada kesalahan penganggaran
maupun kesalahan pencairan anggaran belanja barang yag direalisasikan untuk
belanja modal
14) Dapatkan rincian transaksi SP2D Belanja Barang dalam aplikasi SAIBA untuk
menentukan belanja barang yang akan dijadikan sampling
15) Lakukan konfirmasi ke pihak ketiga yang terkait dengan pengadaan jasa
16) Lakukan pengujian atas transaksi pada tanggal pelaporan apakah terdapat
penyesuaian. Apabila terdapat penyesuaian, pastikan penyesuaian atas beban jasa
tersebut didukung dengan memo penyesuaian yang telah diotorisasi pejabat
berwenang. Lakukan simulasi atas perhitungan akuntansi atas penyesuaian tersebut
3. Penentuan Tingkat Materialitas
Pertimbangan atas tingkat materialitas meliputi kegiatan:
(1)
Penetapan Tingkat Materialitas Individual (Individual Materiality/IM), dan
(2)
Penetapan Materialitas Agregat (Agregat Materiality/AM)
IM merupakan tingkat materialitas pada keseluruhan laporan keuangan, sementara AM merupakan
materialitas pada tingkat transaksi akun.
Untuk pemeriksaan LKPD tahun 2007, IM ditetapkan sebesar 0,5-2% dari total realisasi belanja.
Sedangkan AM ditetapkan sebesar 2% dari IM. Penetapan IM dari aset, kewajiban, atau ekuitas
kurang tepat, karena sampai saat ini neraca daerah belum dapat diandalkan secara memadai dan
belum diyakini kewajarannya.
Kebijakan tentang tingkat materialitas diterapkan pada pemeriksaan tahun anggaran yang
bersangkutan. Semakin banyak permasalahan signifikan yang ditemukan BPK dalam pemeriksaan
sebelumnya, baik dari pemeriksaan kinerja, pemeriksaan PDTT, maupun pemeriksaan
interim/pendahuluan maka skor semakin kecil. Pertimbangan kualitatif/kondisi yang ditemukan
pada saat pemeriksaan terinci didasarkan pada hasil temuan pada pemeriksaan terdahulu.
4.
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah Muara Enim
Tahun Anggaran 2007
Hasil Prosedur Analitis

Direviu oleh:
Disetujui oleh:

No.

FaktorFaktor
yang
Mempengaru
hi

K
r
i
t
e
r
Opini terakhir
Skor 3 jika opini tahun
Tahun
sebelumnya WTP, skor 2
sebelumnya
jika opini tahun
sebelumnya WDP, dan
skor 1 jika opini tahun
sebelumnya TW atau
TMP
Hasil
Semakin
banyak
pemeriksaan
permasalahan signifikan
yang ditemukan BPK
Tahun
dalam
pemeriksaan
anggaran
sebelumnya, baik dari
yang
pemeriksaan
kinerja,
diperiksa
pemeriksaan
PDTT,
maupun
pemeriksaan
interim/
pendahuluan
maka
skor
semakin
kecil.
a. Skor 1 jika terdapat
temuan
ketidakpatuhan yang
berdampak luas;
b. Skor 2 menjadi jika
terdapat
temuan
ketidakpatuhan yang
dampaknya terbatas
atau tidak dilakukan
pemeriksaan pada
tahun tidak efektif
Efektivitas tindak Semakin
Lanjut
penyelesaian
tindak
lanjut, maka skor akan
semakin kecil.

a. Skor 1 jika
persentase
penyelesaian
tindak lanjut atas
rekomendasi
<50%;
b. Skor 2 jika
persentase
penyelesaian tindak
lanjut atas
rekomendasi>50%
dan
<75%; dan
c. Skor 3 jika
persentase

Pertimba
ngan
Kualitatif/Kondi
si yang
Ditemukan
pada Saat
Opini tahun lalu WTP

Dari hasil pemeriksaan


terdahulu, terdapat
temuan namun tidak
signifikan.

Persentase penyelesaian
Tindak lanjut atas
rekomendasi >75%.

Skor
Penilaian

No.

FaktorFaktor
yan
g
Mempengar
uhi
Integritas

Kriter
ia

Penilaian Integritas
personil
personil
Kunci
Kunci
mempertimbangkan
rekam jejak personil
kunci, serta sosialisasi
dan penegakan
peraturan disiplin
pegawai, serta tingkat
kepedulian personil
kunci terhadap
kelancaran proses
pemeriksaan. Semakin
diragukan integritas
Efektivitas atas Semakin tidak efektif
Sistem
SPI
Pengendali
maka skor akan
an Intern
semakin kecil
a. Skor 1 jika SPI
tidak efektif;
b. Skor 2 jika SPI
belum sepenuhnya
efektif;dan
c.
Skor
jika SPI telah
Metode3penilaian
efektivitas
SPI mengacu pada
Lampiran

Pertimbangan
Kualitatif/Kondisi
yang Ditemukan
pada Saat
Pemeriksaan Terinci

Skor
Penilaian

Saat
pemeriksaan
interim diketahui bahwa
Banyak
pejabat
entitas
yang
tidak
ditempat
dan
tidak
dapat
menjelaskan
permasalahan
yang
terjadi
di
lingkungannya,
dan
Pejabat
Kunci
tidak
sesuai
dengan
kompetensinya

Berdasarkan
hasil
pengujian
Pengendalian diketahui
bahwa SPI belum
sepenuhnya efektif
diimplementasikan.

No.

FaktorKriter
Faktor
ia
yan
g
Mempengar
uhi
Potensi
adanya a. Skor 1 jika
kecurangan
terdapat
(fraud)
informasi adanya
dalamdua
potensi
tahunanggara
kecurangan (fraud)
n terakhir
yang merupakan
kasus yang
ditangani oleh
aparat penegak
hukum (kepolisian,
kejaksaan,KPK).
b. Skor 2 jika terdapat
informasi adanya
potensi kecurangan
(fraud),yang
bersumber dari
informasimedia
masa dan
pengaduan
masyarakat yang
dapat
dipertanggungjawa
bkan, tetapi bukan
merupakan kasus
yang ditangani
oleh aparat
penegak hukum
(kepolisian,
kejaksaan, KPK).
c. Skor 3 jika tidak
terdapat informasi
adanya potensi
kecurangan(fraud),
baik yang
bersumber dari
informasi media
massa, pengaduan
Jumlamasyarakat,
h

Pertimbangan
Kualitatif/Kondisi
yang Ditemukan
pada Saat
Pemeriksaan Terinci

Skor
Penilaian

Berdasarkan
pemeriksaan
sebelumnya baik dari
APIP, BPK dan BPKP
terdapat
informasi
adanya
potensi
kecurangan (fraud).

14

Kesimpulan:
Berdasarkan Pertimbangan Kualitatif/Kuantitatif yang Ditemukan pada
Saat Pemeriksaan Interim pemeriksa menetapkan planning materiality
tingkat laporan senilai 3,50%.
Perhitungan Rate Materialitas Awal (PM)

Hasil
Penilai
an
Tingka
t
6

10

11

12

13

14

10

15

11

16

12

17

13

18

No.

%
KontribusiRisiko
LevelEntitasTerh
adap PM
10,00
%
17,50
%
25,00
%
32,50
%
40,00
%
47,50
%
55,00
%
62,50
%
70,00
%
77,50
%
85,00
%
92,50
%
100,00
%

%AR
5%
5%
5%
5%
5%
5%
5%
5%
5
%
5%
5%
5%
5%

RatePM
0,50
%
0,88
%
1,25
%
1,63
%
2,00
%
2,38
%
2,75
%
3,13
%
3,50
%
3,88
%
4,25
%
4,63
%
5,00
%

5. Kertas Kerja Pemeriksa tentang Program Audit untuk melakukan pemahaman dan
pengujian Sistem Pengendalian Intern:
Program Audit
Nama Obyek Yang Diperiksa

Pemerintah Kabupaten Muara


Enim

Kegiatan Yang Diperiksa

Audit atas Laporan Keuangan


Pemerintah Kabupaten Muara Enim

Periode Yang Diperiksa

N
o.

Uraian/Tujuan
dan
Prosedur Pemeriksaan

Rencana

Realisasi
Ket.

Dilaksana
kan Oleh

Pemahaman dan
Pengujian Sistem
Pengendalian Intern

1 Tujuan Audit
Untuk
mengumpulkan
informasi
umum
dalam
rangka pemahaman dan
pengujian
Sistem
Pengendalian Intern pada
Pemerintah
Kabupaten
Muara Enim TA 2007

2 Langkah Kerja:
1. Penyusunan Perencanaan
tugas
2.
Mempelajari
Materi / Bahan yang
berkaitan dengan Sistem
Pengendalian Intern.
3.
Memahami
lingkungan pengendalian
4.
Memahami desain
kebijakan dan prosedur
masing-masing
komponen SPI
5.
Mengevaluasi
penerapan kebijakan dan
prosedur
6.
Review pengalaman
dengan
klien
dalam
penugasan
audit
sebelumnya

TA. 2007

PT, KT
dan AT

Anggara
n Waktu

Dilaksana
kan Oleh

Anggara
n Waktu

Ref.
KKP

7.

Melakukan
konfirmasi ke pihak-pihak
terkait,
wawancara
dengan
pejabat
dan
pegawai terkait
8.
Memperoleh
data/dokumen
dan
peraturan terkait SPI
9.
Inspeksi
dokumen
dan catatan
10.
Observasi aktivitas
dan kegiatan SPI di
Pemerintah
Kabupaten
Muara Enim
11.
Meneliti Kecukupan
bukti dan lakukan telaah
atas bukti-bukti tersebut/
terkait
12.
Melengkapi KKA dan
data
yang
masih
diperlukan sehubungan
dengan Penyusunan LHP
13.
Membuat
Kesimpulan
hasil
pemeriksaan
14.
Pembuatan Laporah
Hasil Pemeriksaan.

Palembang, 10 Maret
2008

Pengendali Teknis

Ketua Tim

Joko Susilo Bambang Widodo

Yusuf Budiyono

Dalam buku Kajian: Indikator dan Penilaian Efektivitas Penyelenggaraan Sistem


Pengendalian Intern Pemerintah yang dikeluarkan oleh Puslitbangwas BPKP, kriteria yang
disarankan untuk digunakan dalam menguji efektivitas Sistem Pengendalian Intern meliputi
atribut-atribut

dokumentasi,

kesadaran/pemahaman,

sikap

dan

pengendalian, serta monitoring, berikut indikator-indikator jabarannya.

Soal 2

tindakan,

prosedur

Terdapat dua lembaga yang menjadi ujung tombak dalam menjalankan tugas
pemeriksaan dan pengawasan keuangan negara, yakni Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Perbedaan utama kedua lembaga
tersebut adalah BPK melakukan tugas pemeriksaan keuangan dan merupakan lembaga
eksternal pemerintah, sedangkan BPKP melakukan tugas pengawasan keuangan dan
merupakan lembaga internal pemerintah.
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
Dalam Undang-Undang No. 15 Tahun 2006, yang dimaksud dengan Badan Pemeriksa
Keuangan adalah lembaga negara yang bertugas untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945. BPK memiliki tugas memeriksa pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga
Negara lainnya, Bank Indonesia, Badan Usaha Milik Negara, Badan Layanan Umum, Badan
Usaha Milik Daerah, dan lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan negara. BPK
menyerahkan hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara
kepada DPR, DPD, dan DPRD sesuai dengan kewenangannya.
Untuk menunjang tugasnya, BPK RI didukung dengan seperangkat Undang-Undang di
bidang Keuangan Negara, yaitu;
1. UU No.17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara
2. UU No.1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara
3. UU No.15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara
Visi BPK: Menjadi lembaga pemeriksa keuangan negara yang kredibel dengan menjunjung
tinggi nilai-nilai dasar untuk berperan aktif dalam mendorong terwujudnya tata kelola
keuangan negara yang akuntabel dan transparan.
Misi BPK:
1. Memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara;
2. Memberikan pendapat untuk meningkatkan mutu pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan negara; dan
3. Berperan aktif dalam menemukan dan mencegah segala bentuk penyalahgunaan dan
penyelewengan keuangan negara.

Melalui pelaksanaan misinya, BPK berupaya untuk mencapai tujuan-tujuan strategis sebagai
berikut:
1. Mendorong terwujudnya pengelolaan keuangan negara yang tertib, taat pada
peraturan

perundang-undangan,

ekonomis,

efisien,

efektif,

transparan,

dan

bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan;


2. Mewujudkan pemeriksaan yang bermutu untuk menghasilkan laporan hasil
pemeriksaan yang bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan;
dan
3. Mewujudkan birokrasi yang modern di BPK.
Dalam melaksanakan misinya BPK menjaga nilai-nilai dasar sebagai berikut:
1. Independensi
Menjunjung tinggi independensi, baik secara kelembagaan, organisasi, maupun
individu. Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan, kami bebas
dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi, ekstern, dan/atau
organisasi yang dapat mempengaruhi independensi.
2. Integritas
Membangun nilai integritas dengan bersikap jujur, obyektif, dan tegas dalam
menerapkan prinsip, nilai, dan keputusan.
3. Profesionalisme
Membangun nilai profesionalisme dengan menerapkan prinsip kehati-hatian,
ketelitian, dan kecermatan, serta berpedoman kepada standar yang berlaku.
Berdirinya Badan Pemeriksa Keuangan ditandai dengan ditetapkannya Surat Penetapan
Pemerintah No.11/OEM tanggal 28 Desember 1946 tentang pembentukan Badan Pemeriksa
Keuangan, pada tanggal 1 Januari 1947 yang berkedudukan sementara dikota Magelang.
Pada waktu itu Badan Pemeriksa Keuangan hanya mempunyai 9 orang pegawai dan sebagai
Ketua Badan Pemeriksa Keuangan pertama adalah R. Soerasno. Untuk memulai tugasnya,
Badan Pemeriksa Keuangan dengan suratnya tanggal 12 April 1947 No.94-1 telah
mengumumkan kepada semua instansi di Wilayah Republik Indonesia mengenai tugas dan
kewajibannya dalam memeriksa tanggung jawab tentang Keuangan Negara.
Dalam era Reformasi sekarang ini, Badan Pemeriksa Keuangan telah mendapatkan
dukungan konstitusional dari MPR RI dalam Sidang Tahunan Tahun 2002 yang memperkuat
kedudukan BPK RI sebagai lembaga pemeriksa eksternal di bidang Keuangan Negara, yaitu
dengan dikeluarkannya TAP MPR No.VI/MPR/2002 yang antara lain menegaskan kembali
kedudukan Badan Pemeriksa Keuangan sebagai satu-satunya lembaga pemeriksa eksternal

keuangan negara dan peranannya perlu lebih dimantapkan sebagai lembaga yang independen
dan profesional.

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)


BPKP merupakan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang bertanggung
jawab langsung kepada Presiden dan berwenang melakukan pengawasan intern terhadap
akuntabilitas keuangan negara atas kegiatan yang meliputi: kegiatan yang bersifat lintas
sektoral; kegiatan kebendaharaan umum negara; dan kegiatan lain berdasarkan penugasan
dari Presiden, hal ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 dan
Peraturan Presiden Nomor 192 Tahun 2014.
Visi BPKP: Auditor Internal Pemerintah RI Berkelas Dunia untuk Meningkatkan
Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan Nasional
Misi BPKP:
1. Menyelenggarakan pengawasan intern terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan
dan pembangunan nasional guna mendukung tata kelola pemerintahan dan korporasi
yang bersih dan efektif,
2. Membina penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah yang efektif, dan
3. Mengembangkan kapabilitas pengawasan intern pemerintah yang profesional dan
kompeten.
Nilai-nilai BPKP:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Profesional
Integritas
Orientasi Pengguna
Nurani dan Akal Sehat
Independen
Responsibel

Kegiatan BPKP dikelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu:


1.
2.
3.
4.

Audit
Konsultasi, asistensi dan evaluasi
Pemberantasan KKN, dan
Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan
Sejarah Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) tidak dapat

dilepaskan dari sejarah panjang perkembangan lembaga pengawasan sejak sebelum era

kemerdekaan. Dengan besluit Nomor 44 tanggal 31 Oktober 1936 secara eksplisit ditetapkan
bahwa Djawatan Akuntan Negara (Regering Accountantsdienst) bertugas melakukan
penelitian terhadap pembukuan dari berbagai perusahaan negara dan jawatan tertentu.
Dengan demikian, dapat dikatakan aparat pengawasan pertama di Indonesia adalah Djawatan
Akuntan Negara (DAN). Secara struktural DAN yang bertugas mengawasi pengelolaan
perusahaan negara berada di bawah Thesauri Jenderal pada Kementerian Keuangan.
Dengan Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 1961 tentang Instruksi bagi Kepala
Djawatan Akuntan Negara (DAN), kedudukan DAN dilepas dari Thesauri Jenderal dan
ditingkatkan kedudukannya langsung di bawah Menteri Keuangan. DAN merupakan alat
pemerintah yang bertugas melakukan semua pekerjaan akuntan bagi pemerintah atas semua
departemen, jawatan, dan instansi di bawah kekuasaannya. Sementara itu fungsi pengawasan
anggaran dilaksanakan oleh Thesauri Jenderal. Selanjutnya dengan Keputusan Presiden
Nomor 239 Tahun 1966 dibentuklah Direktorat Djendral Pengawasan Keuangan Negara
(DDPKN) pada Departemen Keuangan. Tugas DDPKN (dikenal kemudian sebagai DJPKN)
meliputi pengawasan anggaran dan pengawasan badan usaha/jawatan, yang semula menjadi
tugas DAN dan Thesauri Jenderal. DJPKN mempunyai tugas melaksanakan pengawasan
seluruh pelaksanaan anggaran negara, anggaran daerah, dan badan usaha milik negara/daerah.
Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 70 Tahun 1971 ini, khusus pada Departemen
Keuangan, tugas Inspektorat Jendral dalam bidang pengawasan keuangan negara dilakukan
oleh DJPKN.
Dengan diterbitkan Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983 tanggal 30 Mei 1983.
DJPKN ditransformasikan menjadi BPKP, sebuah lembaga pemerintah non departemen
(LPND) yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Salah satu
pertimbangan dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983 tentang BPKP
adalah diperlukannya badan atau lembaga pengawasan yang dapat melaksanakan fungsinya
secara leluasa tanpa mengalami kemungkinan hambatan dari unit organisasi pemerintah yang
menjadi obyek pemeriksaannya. Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983 tersebut
menunjukkan bahwa Pemerintah telah meletakkan struktur organisasi BPKP sesuai dengan
proporsinya dalam konstelasi lembaga-lembaga Pemerintah yang ada. BPKP dengan
kedudukannya yang terlepas dari semua departemen atau lembaga sudah barang tentu dapat
melaksanakan fungsinya secara lebih baik dan obyektif.

Tahun 2001 dikeluarkan Keputusan Presiden Nomor 103 tentang Kedudukan, Tugas,
Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non
Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah,terakhir dengan Peraturan Presiden No
64 tahun 2005. Dalam Pasal 52 disebutkan, BPKP mempunyai tugas melaksanakan tugas
pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sesuai arahan Presiden RI tanggal 11 Desember 2006, BPKP melakukan reposisi dan
revitalisasi fungsi yang kedua kalinya. Reposisi dan revitalisasi BPKP diikuti dengan
penajaman visi, misi, dan strategi. Visi BPKP yang baru adalah "Auditor Intern Pemerintah
yang Proaktif dan Terpercaya dalam Mentransformasikan Manajemen Pemerintahan Menuju
Pemerintahan yang Baik dan Bersih".
Pada akhir 2014, sekaligus awal pemerintahan Jokowi, peran BPKP ditegaskan lagi
melalui Peraturan Presiden Nomor 192 Tahun 2014 tentang Badan Pengawasan Keuangan
dan Pembangunan. BPKP berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden
dengan tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan keuangan
negara/ daerah dan pembangunan nasional. Selain itu Presiden juga mengeluarkan Instruksi
Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2014 tentang Peningkatan Kualitas Sistem
Pengendalian Intern dan Keandalan Penyelenggaraan Fungsi Pengawasan Intern Dalam
Rangka Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat dengan menugaskan Kepala Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk melakukan pengawasan dalam rangka
meningkatkan penerimaan negara/daerah serta efisiensi dan efektivitas anggaran pengeluaran
negara/ daerah, meliputi:
a.
b.

audit dan evaluasi terhadap pengelolaan penerimaan pajak, bea dan cukai;
audit dan evaluasi terhadap pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak pada

c.
d.
e.

Instansi Pemerintah, Badan Hukum lain, dan Wajib Bayar;


audit dan evaluasi terhadap pengelolaan Pendapatan Asli Daerah;
audit dan evaluasi terhadap pemanfaatan aset negara/ daerah;
audit dan evaluasi terhadap program/kegiatan strategis di bidang kemaritiman,

f.
g.

ketahanan energi, ketahanan pangan, infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan;


audit dan evaluasi terhadap pembiayaan pembangunan nasional/daerah;
evaluasi terhadap penerapan sistem pengendalian intern dan sistem
pengendalian kecurangan yang dapatmencegah, mendeteksi, dan menangkal

h.

korupsi;
audit investigatif terhadap penyimpangan yang berindikasi merugikan
keuangan negara/daerah untuk memberikan dampak pencegahan yang efektif;

i.

audit dalam rangka penghitungan kerugian keuangan negara/daerah dan


pemberian keterangan ahli sesuai dengan peraturan perundangan.

Gambaran Akuntabilitas Laporan Keuangan Entitas Pemerintah


Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan pemeriksaan keuangan sesuai dengan
Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara. Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan
keuangan yang bertujuan memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance)
bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar dalam semua hal material, sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif
selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Pemeriksaan keuangan yang
dilakukan oleh BPK salah satunya adalah pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah (LKPD).
Hasil pemeriksaan keuangan disajikan dalam tiga bagian, yaitu laporan hasil
pemeriksaan atas laporan keuangan yang memuat opini, laporan pemeriksaan atas SPI, dan
laporan hasil pemeriksaan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Hasil
pemeriksaan BPK dituangkan dalam LHP yang memuat sejumlah temuan.
Terhadap 456 LKPD Tahun 2013, BPK memberikan opini WTP atas 153 LKPD, opini
WDP atas 276 LKPD, opini TW atas 9 LKPD, dan opini TMP atas 18 LKPD. Sedangkan atas
1 LKPD Tahun 2012, BPK memberikan opini TMP.
Pada Semester I Tahun 2014, BPK telah memeriksa 456 LKPD Tahun 2013. Jumlah
pemerintah daerah sampai dengan Semester I Tahun 2014 adalah 529, yaitu: pemerintah
provinsi 34 (termasuk daerah otonomi baru (DOB) Provinsi Kalimantan Utara), pemerintah
kabupaten 402 (termasuk 4 DOB yaitu Kabupaten Pesisir Barat (Provinsi Lampung),
Kabupaten Pangandaran (Provinsi Jawa Barat), Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten
Pegunungan Arfak (Provinsi Papua Barat)), dan pemerintah kota 93. Adapun pemerintah
daerah yang wajib menyusun LK Tahun 2013 hanya sebanyak 524 pemerintah daerah tingkat
provinsi/kabupaten/kota dan sebanyak 68 LK terlambat atau belum diserahkan oleh
pemerintah daerah kepada BPK. BPK juga telah menyelesaikan LHP LKPD Kabupaten
Kepulauan Aru Tahun 2012 pada Provinsi Maluku.
Hasil pemeriksaan BPK atas 456 LKPD mengungkap permasalahan terkait
pengalihan kewenangan pemungutan dan pelimpahan piutang PBB-P2 yang terjadi pada 106
pemerintah daerah. Permasalahan pengalihan kewenangan pemungutan PBB-P2 tersebut,

antara lain: keterbatasan SDM baik dalam hal jumlah maupun kompetensi untuk melakukan
pungutan PBB-P2, pemerintah daerah belum melakukan verifikasi/validasi data piutang PBBP2 hasil penyerahan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah belum mencatat piutang PBBP2 yang telah dilimpahkan oleh pemerintah pusat di neraca, peraturan dan SOP terkait PBBP2 belum tersedia, perbedaan saldo piutang yang tercatat dalam Berita Acara Penyerahan
PBB-P2, dan aplikasi SISMIOP dan penyerahan piutang PBB-P2 dari pemerintah pusat
kepada pemerintah daerah dilaksanakan setelah 31 Desember 2013.
Dilihat dari tingkat pemerintahannya LKPD Tahun 2013 yang diperiksa terdiri atas:
29 LK Pemerintah Provinsi, 339 LK Pemerintah Kabupaten, dan 88 LK Pemerintah Kota. Di
tingkat provinsi, opini LKPD yang paling dominan adalah WTP, yaitu sebanyak 15 LKPD
atau sebesar 52%. Di tingkat kabupaten/kota opini LKPD yang paling dominan adalah WDP,
yaitu 214 LKPD atau sebesar 63% di tingkat kabupaten dan sebanyak 50 LKPD atau sebesar
57% di tingkat kota.
IHPS I tahun 2015 memuat hasil pemeriksaan atas 518 objek pemeriksaan pada
pemerintah daerah (pemda) dan BUMD (77,78% dari total 666 objek pemeriksaan). Hasil
pemeriksaan tersebut meliputi 504 (97,30%) hasil pemeriksaan keuangan, 3 (0,58%) hasil
pemeriksaan kinerja dan 11 (2,12%) hasil PDTT.
Hasil pemeriksaan tersebut mengungkapkan 8.019 temuan (78,97% dari 10.154
temuan) yang memuat 12.170 permasalahan (78,85% dari 15.434 permasalahan).
Permasalahan itu meliputi 6.034 (49,58%) kelemahan sistem pengendalian intern dan 6.136
(50,42%) ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan senilai Rp14,39
triliun.
Pemeriksaan LKPD Tahun 2014 dilakukan atas 504 (93,51%) LKPD dari 539
pemerintah daerah yang wajib menyusun laporan keuangan (LK). Pemeriksaan LKPD
tersebut meliputi pemeriksaan atas 34 LK Pemerintah Provinsi, 379 LK Pemerintah
Kabupaten, dan 91 LK Pemerintah Kota. Dengan demikian, terdapat 35 LKPD yang
terlambat disampaikan untuk diperiksa BPK. Hal ini mengalami perkembangan dari tahun
sebelumnya (IHPS I Tahun 2014) yang memuat 456 (87,02%) LHP LKPD dari 524
pemerintah daerah yang wajib menyusun LKPD Tahun 2013.
Dari 504 LKPD yang telah diperiksa pada semester I tahun 2015, terdapat 12 LKPD
dari daerah pemekaran yang baru kali pertama disusun. Ke-12 daerah pemekaran itu adalah
Kabupaten Musi Rawas Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Kabupaten Pesisir
Barat, Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Utara,

Kabupaten Banggai Laut, Kabupaten Morowali Utara, Kabupaten Konawe Kepulauan,


Kabupaten Kolaka Timur, Kabupaten Mamuju Tengah, dan Kabupaten Pulau Taliabu. Selain
itu, terdapat 3 pemerintah daerah pemekaran yang terlambat menyampaikan laporan
keuangan yaitu Kabupaten Malaka, Kabupaten Manokwari Selatan, dan Kabupaten
Pegunungan Arfak.
Dari pemeriksaan 504 LKPD, BPK memberikan opini WTP atas 251 (49,80%)
LKPD, termasuk LKPD Provinsi Kalimantan Utara yang baru kali pertama menyusun LK,
opini WDP atas 230 (45,64%) LKPD, opini TW atas 4 (0,79%) LKPD, dan opini TMP atas
19 (3,77%) LKPD. Capaian LKPD ini di bawah target RPJMN 2010-2014 yang menetapkan
opini WTP atas seluruh LKPD pada tahun 2014. BPK menambahkan paragraf penjelasan
terhadap LK pemda dengan opini WTP antara lain terkait dengan penyimpangan SAP yang
tidak material atas penyajian akun-akun dalam laporan keuangan dan adanya penerapan
akuntansi berbasis akrual untuk yang pertama kali.
Dari 230 LKPD yang memperoleh opini WDP, 4 di antaranya merupakan daerah yang
baru kali pertama menyusun laporan keuangan, yaitu Kabupaten Pangandaran (Jawa Barat),
Kabupaten Konawe Kepulauan dan Kabupaten Kolaka Timur (Sulawesi Tenggara), serta
Kabupaten Mamuju Tengah (Sulawesi Barat).
Dari 19 LKPD yang memperoleh opini TMP, 6 di antaranya merupakan daerah yang
baru kali pertama menyusun laporan keuangan, yaitu Kabupaten Musi Rawas Utara dan
Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (Sumatera Selatan), Kabupaten Pesisir Barat
(Lampung), Kabupaten Mahakam Ulu (Kalimantan Timur), Kabupaten Banggai Laut dan
Kabupaten Morowali Utara (Sulawesi Tengah).
Secara keseluruhan, pada semester I tahun 2014 pemerintah provinsi memiliki
persentase LKPD yang memperoleh opini WTP paling tinggi, yaitu 76,47% dibandingkan
dengan pemerintah kota dan kabupaten, yaitu 61,54% dan 44,59%.
Berdasarkan tingkat pemerintahan, terjadi peningkatan opini WTP dari tahun
sebelumnya. Pada pemerintah provinsi, terjadi peningkatan opini WTP dari 48,48% ke
76,47%, untuk pemerintah kabupaten terjadi peningkatan dari 26,38% ke 44,59%, dan untuk
pemerintah kota terjadi peningkatan dari 37,63% ke 61,54%.
Perkembangan opini pada 504 LKPD 2014 dibandingkan dengan tahun sebelumnya
mengalami peningkatan yang cukup signifikan (Tabel2.2). Hal tersebut ditunjukkan adanya
kenaikan opini pada 130 LKPD atau sebesar 25,79%.
Sebanyak 104 LKPD mengalami kenaikan dari WDP menjadi WTP, dan sebanyak 26
LKPD mengalami kenaikan opini dari TW atau TMP menjadi WDP atau WTP. Meski terjadi

kenaikan opini LKPD sebesar 25,79%, terdapat 20 LKPD (3,97% dari total LKPD yang
diperiksa) memperoleh penurunan opini. Pada saat yang sama, persentase opini WDP
mengalami penurunan dari 59,35% menjadi 45,64%.
Penurunan opini LKPD yang terjadi antara lain dari WTP menjadi WDP pada 12
LKPD, yaitu Kabupaten Batang Hari, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung
Jabung Timur (Jambi), Kota Padang Panjang (Sumatera Barat), Kabupaten Lebong dan
Kabupaten Muko-Muko (Bengkulu), Kabupaten Bangka dan Kabupaten Bangka Tengah
(Kepulauan Bangka Belitung), Kota Semarang (Jawa Tengah), Provinsi Jawa Timur,
Kabupaten Bangkalan, dan Kota Probolinggo (Jawa Timur).
Sementara itu, terdapat 5 LKPD yang mengalami penurunan opini dari WDP ke TMP,
yaitu Kabupaten Batu-Bara (Sumatera Utara), Kabupaten Bangka Selatan (Kepulauan
Bangka Belitung), Kabupaten Subang (Jawa Barat), Kabupaten Pandeglang (Banten), dan
Kabupaten Yahukimo (Papua). Dua entitas yang mengalami penurunan opini dari WDP ke
TW yaitu Kabupaten Seluma (Bengkulu) dan Kabupaten Belitung Timur (Kepulauan Bangka
Belitung).
Pada umumnya penurunan opini disebabkan entitas tidak menerapkan SAP seperti
tahun sebelumnya. Ketidaksesuaian dengan SAP tersebut antara lain meliputi penyajian aset
dan belanja yang tidak didukung dengan bukti.
Adapun, peningkatan opini dari WDP menjadi WTP pada 104 LKPD disebabkan
entitas bersangkutan melaksanakan perbaikan atas kelemahan dalam LKPD tahun
sebelumnya. Perbaikan itu antara lain:

Penyempurnaan sistem pengelolaan barang dan jasa, belanja pegawai, belanja hibah

dan bantuan sosial.


Penyusunan bukti realisasi belanja modal.
Kejelasan nilai dan status penyertaan modal pemerintah daerah serta kelengkapan

bukti pendukung atas penyertaan modal pemerintah daerah.


Penyempurnaan sistem pencatatan dan pengelolaan kas piutang, persediaan, investasi

nonpermanen, aset tetap, aset lain-lain dan utang perhitungan fihak ketiga (PFK).
Penyaluran bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten dan kota.
Penyusunan konsolidasi laporan keuangan badan layanan umum daerah.
Untuk kenaikan opini TW atau TMP menjadi WDP atau WTP atas 26 LKPD, entitas

telah melaksanakan perbaikan atas kelemahan LKPD tahun sebelumnya. Perbaikan itu antara
lain:

Penatausahaan kas dan bukti-bukti pertanggungjawabannya.


Penertiban rekening SKPD yang tidak terdaftar di Bendahara Umum Daerah (BUD).

Pencatatan dan inventarisasi fisik persediaan (stock opname).


Pengelolaan dan inventarisasi atas aset tetap.
Penyajian saldo piutang berdasarkan dokumen pendukung pencatatan piutang yang

memadai.
Pencatatan nilai investasi permanen sesuai SAP.
Pencatatan dan rekonsiliasi penerimaan dan pengeluaran PFK.
Peningkatan pengendalian atas kelengkapan dokumen pertanggungjawaban belanja

daerah.
Pencatatan dan penyajian pendapatan dan belanja yang bersumber dari Badan

Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.


Penerbitan Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak (SKTJM) dan telah

memperoleh putusan hukum dari Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.


Penyetoran uang ke kas daerah dan rekonsiliasi kas antara DPKAD dengan SKPD.
Adapun, 249 LKPD yang masih mendapatkan opini WDP atau TMP, pada umumnya

masih memiliki kelemahan pelaporan keuangan sesuai SAP. Kelemahan tersebut antara lain:
Kas
Kas digunakan untuk kegiatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, kas di
bendahara pengeluaran tidak dalam penguasaan bendahara, kas pada akhir tahun
belum disetorkan ke kas daerah, dan kas disajikan tidak sesuai dengan definisi kas
menurut SAP. Permasalahan tersebut terjadi pada 64 entitas.
Piutang
Penyajian saldo piutang pajak dan retribusi per 31 Desember 2014 tidak didukung
dengan dokumen data wajib pajak dan wajib retribusi dan belum menggambarkan
nilai bersih yang dapat direalisasikan. Selain itu, terdapat permasalahan piutang pajak
bumi dan bangunan perkotaan dan perdesaan yang tidak didukung dengan perincian
per wajib pajak. Kelemahan lainnya, Bagian Lancar Tuntutan Perbendaharaan dan
Tuntutan Ganti Rugi tidak didukung dengan SKTJM. Permasalahan tersebut terjadi
pada 39 entitas.
Persediaan
Tidak dilakukan inventarisasi fisik (stock opname) persediaan dan penyajian
persediaan tidak didukung dengan kartu persediaan, sehingga tidak dapat dilakukan
penelusuran atas mutasi persediaan. Permasalahan tersebut terjadi pada 37 entitas.
Investasi
Saldo investasi nonpermanen dana bergulir belum disajikan dengan metode nilai
bersih yang dapat direalisasikan (net realizable value/ NRV). Sementara itu, penyajian
saldo investasi permanen penyertaan modal pemerintah tidak memiliki bukti yang
jelas dan kuat. Bentuk penyaluran dana pemerintah daerah yang tidak jelas dijadikan

tambahan penyertaan modal atau pinjaman. Permasalahan tersebut terjadi pada 65


entitas.
Aset Tetap dan Aset Lainnya
Aset tetap tidak diketahui keberadaannya atau dikuasai pihak lain, tidak didukung
dengan bukti kepemilikan, penghapusan dan penyusutannya tidak sesuai ketentuan.
Selain itu, pelaporan aset tetap tidak didukung dengan pencatatan dalam kartu
inventaris barang (KIB) dan tidak ada rekonsiliasi serta tidak dilakukan inventarisasi
yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa pengamanan aset tetap secara
administrasi, hukum dan fisik juga belum dilakukan secara memadai. Permasalahan
ini terjadi pada 230 entitas.
Belanja
Pada belanja barang dan jasa, pertanggungjawaban pelaksanaan belanja perjalanan
dinas tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Pada belanja modal, pelaksanaan
pekerjaan tidak sesuai dengan ketentuan yang mengakibatkan indikasi kerugian
negara. Sementara itu, pada belanja subsidi dan bantuan sosial, realisasi belanja tidak
sesuai dengan usulan dan tidak didukung laporan pertanggungjawaban. Permasalahan
tersebut terjadi pada 73 entitas.
Akun Lainnya
Akun lainnya yang menyebabkan LKPD tidak memperoleh opini WTP adalah adanya
kelemahan dalam pengelolaan Utang PFK dan pendapatan daerah.
Selain opini atas LKPD tersebut, hasil pemeriksaan BPK juga mengungkapkan
permasalahan SPI dan ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan.