Anda di halaman 1dari 2

Selayang Pandang

Konsep Model Pelaporan Sustainability Reporting (SR)


Model pelaporan Sustainability telah menjadi tren sejak lima tahun terakhir 1992-2012
dengan pencapaian tertinggi 95% perusahaan di Indonesia menggunakan model ini yang
dipresentasikan Andreas lako pada workshop Fair Value Accounting dan Integrated Reporting
juni 2013. Evolusi model pelaporan menjadi sangat urgen ketika mengingat informasi yang
disajikan akan mempengaruhi posisi perusahaan dimata stakeholders. Sustainability
reporting dalam bingkai legitimacy theory dilakukan semata-mata untuk menaati aturan, untuk
mencapai keunggulan kompetitif, untuk memenuhi ketentuan kontrak pinjaman, untuk
memenuhi ekspektasi masyarakat, untuk melegitimasi tindakan perusahaan, serta untuk menarik
investor (Basamalah dan Jermias 2005 dalam Sayekti dan Wondabio 2007). Reputasi dan
legitimacy merupakan pandangan kapitalisme namun, jika ditelaah lebih jauh keduanya menjadi
selaras bila disinergikan dengan kegiatan perusahaan melakukan pemeliharaan terhadap
lingkungan, sosial dan ekonomi (triple Bottom-Line) dalam jangka panjang.
Sustainability Reporting adalah pelaporan yang dilakukan oleh perusahaan untuk
mengukur, mengungkapkan (disclose), serta upaya untuk menjadi perusahaan yang akuntabel
bagi seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) untuk tujuan kinerja perusahaan menuju
pembangunan yang berkelanjutan.Sustainability Reporting mengacu pada konsep keberlanjutan
peusahaan, keberlanjutan pembangunan maupun keberlanjutan dari sisi akuntansinya. Namun,
disisi lain sustainability reporting terdapat kekurangan; karena tidak menyajikan informasi
tentang strategi, tatakelola dan remunerasi, kinerja dan prospek suatu organisasi (jangka pendek,
menengah dan panjang). Akibatnya, informasi dalam sustainability reporting tidak utuh dan
tidak lengkap untuk pertimbangan keputusan para stakeholder (Andreas Lako, dalam workshop
Fair Value Accounting dan Integrated Reporting juni 2013).
Pokok-Pokok yang tersaji dalam sustainability reporting :
1. Company profile
2. Environment management
3. Operational and economic performance
4. Community empowerment
5. Occupational Safety and health
6. Human resources
7. Responsiility of product impact
8. Corporate governance
9. Response form from Sustainability Reporting
10. Cross-reference of GRI

1.

2.

3.
4.

5.

Proses penyajian Sustainability Reporting dilakukan melalui 5 (lima) mekanisme


(effendi, 2014) yaitu :
Penyusunan kebijakan perusahaan. Dalam hal ini, perusahaan membuat kebijakan yang
berkaitan dengansustainability development, kemudian mempublikasikan kebijakan tersebut
beserta dampaknya.
Tekanan pada rantai pemasok (supply chain). Harapan masyarakat pada perusahaan untuk
memberikan produk dan jasa yang ramah lingkungan juga memberikan tekanan pada perusahaan
untuk menetapkan standar kinerja dan sustainability reporting kepada para pemasok dan mata
rantainya.
Keterlibatan Stakeholder
Voluntary codes. Dalam mekanisme ini, masyarakat meminta perusahaan untuk mengembangkan
aspek-aspek kinerja sustainability dan meminta perusahaan untuk membuat laporan pelaksanaan
sustainability. Apabila perusahaan belum melaksanakan, maka perusahaan harus memberikan
penjelasan.
Mekanisme lain adalah rating dan benchmaking, pajak dan subsidi, izin-izin yang dapat
diperdagangkan, serta kewajiban dan larangan.