Anda di halaman 1dari 4

PENGERTIAN SYARIAH, FIQIH, HUKUM ISLAM

OLEH KELOMPOK I
HASTRIANI AWALUDDIN
WIDYASTUTI LATAMANG
RIDHA WARDANI
B3
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2016

A.

Pengertian Syariah

Secara Etimologis, Syariat berasal dari kata syaraa yasrau syaran yang artinya
membuat peraturan, menerangkan, menjelaskan , merencanakan atau menggariskan. Kata syariat
merupakan bentuk kata kerja (fiil), sedangkan bentuk kata bendanya (isim) ialah syariat yang
berarti hokum, peraturan atau undang-undang. Segala sesuatu itu dikatakan atau disebuta syariI
karena sesuatu itu telah sesuai dengan peraturan, sah atau legal.
Jadi, Syariat adalah hukum atau peraturan yang datang dari Allah SWT, baik melalui Al-quran,
sunnah NabiNya, maupun ikutan dari keduanya. Jika aturan itu bukan datang dari Allah SWT,
maka ia tidaklah disebut syariat.
Menurut istilah, syariat adalah hukum-hukum dan tata aturan allah yang ditetapkan bagi hambaNya.Bahkan ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan syariat adalah

Aturan yang di syariatkan oleh Allah atau dasar peratura yang di syariatkan oleh
Allah agar manusia mengamil dengannya di dalam berhubungan dengan Tuhannya,
berhubungan dengan sesama muslim, berhubungan dengan sesame manusia, berhubungan
dengan keadaan dan juga kehidupan.
Sifat-sifat Syariat :
1. Umum
2. Universal
3. Orisinil dan Abadi
4. Mudah dan tidak memberatkan
5. Seimbang antara kepentingan dunia dan akhirat
Pembagian Syariat Islam:
Hukum yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw. untuk segenap manusia dibagi
menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Ilmu Tauhid
2. Ilmu Akhlak

3. Ilmu Fiqh

B.

Pengertian Fiqih

Fiqh secara etimologi berarti pemahaman yang mendalam dan membutuhkan pengerahan
potensi akal.Sedangkan secara terminologi fiqh merupakan bagian dari syariah Islamiyah, yaitu
pengetahuan tentang hukum syariah Islamiyah yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang
telah dewasa dan berakal sehat (mukallaf) dan diambil dari dalil yang terinci.
Fiqih menurut bahasa artinya pemahaman yang mendalam ( ) dan membutuhkan pada
adanya pengarahan potensi akal , sebagaimana firman allah swt. Dan sabda nabi muhammad
saw, yaitu :
1.

Al-quran : surat al-taubah : 122

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.
2.
Al-hadits, HR. Bukhori, muslim, ahmad ibn hanbal, turmudzi dan ibnu majah
sebagai berikut

jika allah menginginkan suatu kebaikan bagi seseorang , dia akan memberikan suatu
pemahaman keagamaan (yang mendalam) kepadanya
pengertian fiqh menurut istilah adalah sebagaimana yang elah dikemukakan oleh para fuqoha
ialah:
1.

Abdul Wahab Kholaf


Fiqh ialah ilmu tentang hukum syara yang bersifat praktis (amaliyah) yang diperoleh
melalui dalil-dalilnya yang terperinci.
2.

Wahbah Az-Zuhaili

Fiqh ialah himpunan hukum syara yang bersifat praktis (amaliyah) yang diperoleh
melalui dalil-dalilnya yang terperinci.
Fiqh Islam terbagi menjadi enam bagian:
1. Bagian Ibadah
2.

Bagian Ahwal Syakhshiyah (al-ahwaalu asy-syakhsyiyyatu)

3. Bagian Muamalah (hukum perdata)


4. Bagian Hudud dan Tazir (hukum pidana
5. Bagian Murafaat (hukum acara)
6. Bagian Sirra wa Maghazi (hukum perang)

C.Pengertian Hukum Islam


Secara etimologi kata ini berarti ( al-qadha) yang bermakna memutuskan,
memimpin, memerintah, menetapkan dan menjatuhkan hukuman, Al-Fairuz Abady menyatakan
bahwa kata ( al- hukmu) dengan dhamah berarti ( al-qadha) yaitu mengadili, bentuk
jama'nya adalah ( al-ahkam)
Al-Hukmu secara bahasa adalah mencegah, sedangkan secara istilah adalah segala sesuatu yang
menunjukan padanya kehendak syar'i yang berkaitan dengan amalan-amalan orang yang sudah
dewasa (mukallaf) baik berupa tuntutan kewajiban, pilihan dan hukum wadh'i.
Pembagian Hukum Islam:
1. Hukum Taqlifi adalah hukum yang mengandung perintah, larangan, atau memberi
pilihan terhadap seorang mukalap, sedangkan hukum wadhi berupa penjelasan hubungan
suatu peristiwa dengan hukum taqlifi.
2. Hukum wadhi berupa penjelasan hubungan suatu peristiwa dengan hukum taqlifi.
Hukum wadhi menjelaskan bahwa waktu matahari tergelincir di tengah hari menjadi
sebab tanda bagi wajibnya seseorang menunaikan shalat dzuhur.